Anda di halaman 1dari 14

LAPORAN PRAKTIKUM FISIOLOGI TUMBUHAN

PENGARUH INTENSITAS DAN KUALITAS CAHAYA TERHADAP LAJU FOTOSINTESIS

Di susun oleh : Febrilida Aryani (A1D011002)

Dosen Pengampu: Dra. Yennita, M.Si

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BIOLOGI FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS BENGKULU 2013

JUDUL : Pengaruh Intensitas dan Kualitas Cahaya Terhadap Laju Fotosintesis

BAB I. Tujuan
1. Melihat pengaruh perbedaan intensitas cahaya terhadap aktivitas fotosintesis dengan mengukur volume O2 yang di hasilkan. 2. Melihat pengaruh perbedaan kualitas cahaya terhadap aktivitas fotosintesis dengan mengukur volume O2 yang di hasilkan.

BAB II. Landasan Teori


Salah satu proses kehidupan pada tanaman adalah fotosintesis yang merupakan proses kimia untuk menghasilkan energi, dimana karbon dioksida (CO2) dan air (H2O) diubah menjadi karbohidrat dengan bantuan energi cahaya. Fotosintesis merupakan cara fiksasi karbon karena karbon bebas dari CO2diikat (difiksasi) menjadi gula sebagai molekul energi. Secara sederhana, reaksi yang terjadi dalam proses fotosintesis ialah sebagai berikut : Energicahaya 6 CO2 + 6H2O Klorofil Karbohidrat (C6H12O6) digunakan dalam pembentukan senyawa organik yang lain seperti selulosa dan bisa juga digunakan sebagai bahan bakar. Fotosintesis ini terjadi pada daun. Daun menangkap cahaya menggunakan klorofil yang merupakan pigmen hijau pada tumbuhan. Klorofil berada dalam kloroplas, dimana proses fotosintesis terjadi, tepatnya pada bagian stroma. (Pertamawati, 2010) C6 H12 O6 + 6O2

Proses fotosintesis memerlukan cahaya yang ditunjukan dengan adanya pengaruh intensitas cahaya terhadap laju fotosintesis. Pada intensitas cahaya yang besar akan mempengaruhi keseluruhan reaksi fotosintesis. Dalam keadaan intensitas cahaya rendah maka laju fotosintesis juga akan rendah. Keadaan seperti ini disebut faktor pembatas, dalam hal ini cahaya menjadi faktor pembatas. (Thomas 1965)

Cahaya menjadi faktor pembaatas fotosintesis pada intensitas cahaya rendah. Dibawah intensitas cahaya tertentu kenaikan intensitas cahaya tidak mempengaruhi produksi oksigen. Keadaan ini disebut sebagai jenuh cahaya pada kondisi percobaan. Ada kemungkinan keadaan jenuh cahaya terjadi karena CO menjadi faktor pembatas. Jika demikian maka kenaikan CO akan menghilangkan pengaruh intensitas cahaya sebagai faktor pembatas selanjutnya akan meningkatkan laju fotosintesis. (Salisbury dan Ross, 1995)

Jika intensitas cahaya atau konsentrasi CO2 menjadi faktor pembatas fotosintesis maka suhu tidak akan mempengaruhi fotosintesis atau sangat sedikit sekali mempengaruhi karena reaksi fotokimia tidak peka terhadap suhu (Q10= 0,1) dan difusi mempunyai Q10=1,5. Laju fotosintesis bersifat bersifat tanggap terhadap suhu jika cayaha bukan merupakan faktor pembatas. Pada reaksi selanjutnya yaitu reaksi enzimatik kenaikan suhu akan mempengaruhi laju dan keseluruhan proses fotosintesis. Selain faktor-faktor luar seperti suhu, intensitas cahaya dan CO2 yang mempengaruhi fotosintesis, faktor dalam yang juga penting mempengaruhi faktor ini adalah konsentrasi klorofil, defisit air dan konsentrasi enzim. Selain faktor-faktor di atas, panjang gelombang cahaya juga mempengaruhi kecepatan fotosintesis. Pada umumnya fotosintesis berlangsung pada panjang gelombang kurang lebih 360 720 nm. Di luar rentang panjang gelombang ini maka intensitas fotosintesis akan menurun bahkan pada panjang gelombang yang terlalu tinggi dan terlalu rendah fotosintesis tidak bisa terjadi. Berdasarkan panjang gelombangnya, cahaya yang baik untuk proses fotosintesis adalah warna polikromatik ( 360-720 nm) dan warna merah (610-700 nm). Warna polikromatik ini tersusun oleh berbagai macam warna sehingga memiliki rentang panjang gelombang yang besar dan baik untuk proses fotosintesis. Semakin kecil panjang gelombangnya maka energinya semakin besar. Sehingga dalam proses fotosintesis ini dibutuhkan energi yang sesuai. Apabila energinya terlalu besar, sperti gelombang sinar-X (10-100 nm) maka akan merusak kloroifil. (Lakitan 1996)

Laju fotosintesis akan berjalan maksimum bila terdapat banyak cahaya. Dalam percobaan terlihat bahwa eksplan (bahan tanam) yang ditumbuhkan dalam intensitas cahaya yang tinggi daunnya berwarna lebih hijau daripada eksplan yang ditumbuhkan dalam intensias cahaya yang rendah, selain itu daun eksplan yang ditumbuhkan dalam intensitas

cahaya tinggi lebih berat daripada daun eksplan (bahan tanam) yang ditumbuhkan dalam intensitas cahaya rendah. (Pertamawati, 2010)

Pada dasarnya, rangkaian reaksi fotosintesis dapat dibagi menjadi dua bagian utama reaksi terang (karena memerlukan cahaya) dan reaksi gelap(tidak memerlukan cahaya tetapi memerlukan karbon dioksida). 1.) Reaksi terang Reaksi terang adalah proses untuk menghasilkan ATP dan reduksi NADPH2. Reaksi ini memerlukan molekul air. Proses diawali dengan penangkapan foton oleh pigmen sebagai antena. Pigmen klorofil menyerap lebih banyak cahaya terlihat pada warna biru (400-450 nanometer) dan merah (650-700 nanometer) dibandingkan hijau (500600 nanometer). Cahaya hijau ini akan dipantulkan dan ditangkap oleh mata kita sehingga menimbulkan sensasi bahwa daun berwarna hijau. Fotosintesis akan menghasilkan lebih banyak energi pada gelombang cahaya dengan panjang tertentu. Hal ini karena panjang gelombang yang pendek menyimpan lebih banyak energi. Di dalam daun, cahaya akan diserap oleh molekul klorofil untuk dikumpulkan pada pusatpusat reaksi. Tumbuhan memiliki dua jenis pigmen yang berfungsi aktif sebagai pusat reaksi atau fotosistem yaitu fotosistem II dan fotosistem I. Fotosistem II terdiri dari molekul klorofil yang menyerap cahaya dengan panjang gelombang 680 nanometer, sedangkan fotosistem I 700 nanometer. Kedua fotosistem ini akan bekerja secara simultan dalam fotosintesis, seperti dua baterai dalam senter yang bekerja saling memperkuat. Fotosintesis dimulai ketika cahaya mengionisasi molekul klorofil pada fotosistem II, membuatnya melepaskan elektron yang akan ditransfer sepanjang rantai transpor elektron. Energi dari elektron ini digunakan untuk fotofosforilasi yang menghasilkan ATP, satuanpertukaran energi dalam sel. Reaksi ini menyebabkan fotosistem II mengalami defisit atau kekurangan elektron yang harus segera diganti. Pada tumbuhan dan alga, kekurangan elektron ini dipenuhi oleh elektron dari hasil ionisasi air yang terjadi bersamaan dengan ionisasi klorofil. Hasil ionisasi air ini adalah elektron dan oksigen. Oksigen dari proses fotosintesis hanya dihasilkan dari air, bukan dari karbon dioksida. Pendapat ini pertama kali diungkapkan oleh C.B. van Neil yang mempelajari bakteri fotosintetik pada tahun 1930-an. Bakteri fotosintetik, selain sianobakteri, menggunakan tidak menghasilkan oksigen karena menggunakan ionisasi sulfida atau hidrogen. Pada saat yang sama dengan ionisasi fotosistem II, cahaya juga

mengionisasi fotosistem I, melepaskan elektron yang ditransfer sepanjang rantai transpor elektron yang akhirnya mereduksi NADP menjadi NADPH.

2.) Reaksi gelap ATP dan NADPH yang dihasilkan dalam proses fotosintesis memicu berbagai proses biokimia. Pada tumbuhan proses biokimia yang terpicu adalah siklus Calvin yang mengikat karbon dioksida untuk membentuk ribulosa (dan kemudian menjadi gula seperti glukosa). Reaksi ini disebut reaksi gelap karena tidak bergantung pada ada tidaknya cahaya sehingga dapat terjadi meskipun dalam keadaan gelap (tanpa cahaya). Hingga sekarang fotosintesis masih terus dipelajari karena masih ada sejumlah tahap yang belum bisa dijelaskan, meskipun sudah sangat banyak yang diketahui tentang proses vital ini. Proses fotosintesis sangat kompleks karena melibatkan semua cabang ilmu pengetahuan alam utama, seperti fisika, kimia, maupun biologi sendiri.Pada tumbuhan, organ utama tempat berlangsungnya fotosintesis adalah daun. Namun secara umum, semua sel yang memiliki kloroplas berpotensi untuk melangsungkan reaksi ini. Di organel inilah tempat berlangsungnya fotosintesis, tepatnya pada bagian stroma. Hasil fotosintesis (disebut fotosintat) biasanya dikirim ke jaringan-jaringan terdekat terlebih dahulu. (Kimball, 2002)

Cahaya matahari merupakan sumber utama energi bagi kehidupan, tanpa adanya cahaya matahari kehidupan tidak akan ada. Bagi pertumbuhan tanaman ternyata pengaruh cahaya selain ditentukan oleh kualitasnya ternyata ditentukan intensitasnya. Intensitas cahaya berpengaruh nyata terhadap sifat morfologi tanaman. Tanaman yang mendapatkan cahaya matahari dengan intensitas yang tinggi menyebabkan lilit batang tumbuh lebih cepat, susunan pembuluh kayu lebih sempurna, internodianya lebih pendek, daun lebih tebal, tetapi ukurannya lebih kecil dibanding dengan tanaman yang terlindung. Beberapa efek dari cahaya matahari yang penuh (yang melebihi) kebutuhan optimum dapat menyebabkan layu, fotosistesi lambat, laju respirasi meningkat tetapi cenderung mempertinggi daya tahan tanaman. Intensitas cahaya yang tinggi di daerah tropis tidak seluruhnya dapat digunakan oleh tanaman. Energi cahaya matahari yang digunakan oleh tanaman dalam proses fotosintesis berkisar antar 0,52,0 % dari jumlah total energi yang tersedia. Sehingga hasil fotosintesis berkurang. Apabila intensitas cahaya kurang dari batas optimum yang dibutuhkan

oleh tanaman, yang tergantung pada jenis tanaman hal ini juga berlaku terhadap jenis-jenis anggrek. (Frank dan Cleon. 1995)

Cahaya bagi tumbuhan hijau akan dimanfaatkan dalam proses fotosintesis pada reaksi terang yang akan menghasilkan energi dan hasil sampingan berupa O2 (gelembung udara) . Dalam percobaan ini bertujuan untuk mengamati seberapa besar pengaruh intensitas cahaya terhadap jumlah oksigen yang dihasilkan, hal ini dikarenakan oksigen dapat diamati secara kasat mata dan dapat dengan mudah dihitung volumenya. Namun jika dalam percobaan dikaitkan dengan faktor suhu, maka yang akan menjadi faktor pembatas adalah intensitas cahaya, jika dalam jumlah kecil akan menimbulkan pengaruh terhadap jumlah oksigen yang dikeluarkan. (Thomas JB 1965)

Tumbuhan memiliki 2 jenis pigmen yang aktif sebagai fotosistem, yaitu fotosistem I dan fotosistem II. Fotosistem II terdiri dari molekul klorofil yang menyerap cahaya dengan panjang gelombang 680 nm, sedangkan fotosistem I 700 nm. Kedua fotosistem ini akan bekerjasama dalam fotosintesis. Fotosintesis dimulai saat cahaya mengeksitasi klorofil pada fotosistem II, sehingga melepaskan elektron yang kemudian ditransfer pada rantai transpor elektron. Energi dari elektron akan dipakai untuk proses fotofosforilasi yang menghasilkan ATP. Reaksi ini mengakibatkan fotosistem II menjadi kekurangan elektron. Kekurangan elektron ini dipenuhi oleh elektron dari hasil ionisasi air yang terjadi bersamaan dengan ionisasi klorofil. Hasil dari ionisasi air ini adalah elektron dan O2. Oksigen dari proses fotosintesis hanya terbentuk dari ionisai air, bukan dari karbon dioksida. Pada waktu yang bersamaan dengan ionisasi fotosistem II, cahaya juga mengionisasi fotosistem I, melepaskan elektron yang dikirim melalui rantai transpor elektron yang akan mereduksi NADP+ menjadi NADPH. Dari semua radiasi matahari yang dipancarkan, hanya panjang gelombang tertentu yang dimanfaatkan tumbuhan untuk proses fotosintesis, yaitu panjang gelombang yang berada pada kisaran cahaya tampak (380-700 nm). Cahaya tampak terbagi atas cahaya merah (610-700 nm), hijau kuning (510-600 nm), biru (410-500 nm) dan violet (<400 nm). Masingmasing jenis cahaya berbeda pengaruhnya terhadap fotosintesis. Hal ini terkait pada sifat pigmen penangkap cahaya yang bekerja dalam fotosintesis. Pigmen yang terdapat pada membran grana menyerap cahaya yang memiliki panjang gelombang tertentu. Pigmen yang

berbeda menyerap cahaya pada panjang gelombang yang berbeda. Kloroplast mengandung beberapa pigmen. Sebagai contoh, klorofil a terutama menyerap cahaya biru-violet dan merah. Klorofil b menyerap cahaya biru dan oranye dan memantulkan cahaya kuning-hijau. Klorofil a berperan langsung dalam reaksi terang, sedangkan klorofil b tidak secara langsung berperan dalam reaksi terang. (Pertamawati, 2010)

Hydrilla merupakan tumbuhan air makrofit yang mempunyai akar, monoecious atau dioecious, termasuk tanaman tahunan serta musimam yang hidup pada kondisi tidak menguntungkan sebagai rumput, turion, atau tuber. Ukuran batang hydrilla bervariasi mulai dari yang hanya beberapa centimeter hingga yang berukuran beberapa meter. Daun tumbuhan ini berpasangan dan berseberangan. Pada umumnya berwarna hijau, tetapi terkadang terdapat sedikit bintik atau garis coklat kemerahan. Tulang daunnya nyata dan terkadang terdapat ruang uniseluler pada permukaan abaxialnya . Hydrilla bereproduksi secara vegetatif dan terkadang dengan menggunakan biji. Tumbuhan ini dapat bertahan hidup sebagai pleustophyta atau tumbuhan yang mengapung bebas jika akarnya terlepas atau rusah dari bagian bawah. Hydrilla juga dapat menyimpan propagul vegetatif di dasar air untuk meregenerasi dirinya, tak lama setelah tanaman induknya mati. Oleh karena itu, hydrilla terlihat menyebar lebih luas dibandingkan dengan tumbuhan lainnya, hal inilah yang menyebabkan dikenalnya efek payung. Biomassa terbesar dari tumbuhan ini berada pada permukaan air, dan sangat berbeda dengan tumbuhan lain, dan hanya Hydrilla lah yang dapat memberikan bukti nyata terjadinya fotosintesis daripada tumbuhan aquatik lainnya. (Tjitrosomo, 1983)

BAB III. Prosedur Kerja


3.1 Alat dan Bahan Alat : 1. Tabung reaksi 7 buah 2. Bak 3. Gelas piala 4. Gelas ukur

5. Kertas warna trasparan (merah, kuning, hijau, biru) 6. Spidol 7. Pipet tetes Bahan : 1. Tanaman Hydrilla sp 2. Air kolam

Cara Kerja : 1. Pengaruh Kualitas Cahaya Terhadap Laju Fotosintesis a. Potong pangkal batang tanaman Hydrilla sp, masukkan dua potong dengan panjang dan ukuran yang sama ke dalam 3 tabung reaksi, dengan posisi pangkal Hydrilla sp pada mulut tabung reaksi. b. Isi masing-masing tabung reaksi dengan air kolam, dan tempelkan pada gelas piala sebagai alas dan lingkungan tabung reaksi. Pada saat memasukan air ke dalam tabung reaksi harus berhati-hati agar tidak ada gelembung udara yang terbentuk dalam tabung reaksi tersebut. c. Satu gelas piala diletakkan di tempat terbuka (luar ruangan), satu gelas piala letakkan di tempat teduh, dan satu gelas piala diletakkan di tempat gelap (dalam ruangan). Biarkan sampai 5 jam. d. Setelah 5 jam, pukul-pukul dinding tabung agar gelembung udara terlepas dari tanaman dan terkumpul. Tandai batas gelembung udara yang terbentuk pada bagian ujung tabung dengan menggunakan spidol. e. Keluarkan semua isi tabung, keringkan dan masukan air kedalam tabung reaksi dengan menggunakan pipet berskala sampai batas tanda yang dibuat. Jumlah air yang dimasukan merupakan volume O2 fotosintesis oleh Hydrilla sp selama 5 jam. Lalu bandingkan antara luar ruangan (cahaya langsung) dengan yang di dalam ruangan (cahaya tak langsung).

2. Pengaruh Kualitas Cahaya Terhadap Laju Fotosintesis a. Potong pangkal tanaman batang Hydrilla sp, kemudian masukkan dua potong dengan panjang dan ukuran yang sama ke dalam 4 tabung reaksi. Dengan posisi pangkal Hydrilla sp diatas mulut tabung reaksi. b. Isi masing-masing dengan air kolam, dan tempelkan pada gelas piala sebagai alas dan lingkungan tabung reaksi. Hal yang harus diperhatikan pada saat memasukan air ke

dalam tabung reaksi agar tidak ada gelembung udara yang terbentuk dalam tabung reaksi tersebut. Letakan di luar ruangan dan tutup dengan kertas warna transparan (merah, kuning, hijau, biru). Biarkan sampai 5 jam. c. Setelah selama 5 jam, pukul-pukul dinding tabung agar gelembung udara terlepas dari tanaman dan terkumpul. Tandai batas gelembung udara yang terbentuk pada bagian ujung tabung dengan menggunakan spidol. d. Keluarkan semua isi tabung, keringkan dan masukan air kedalam tabung reaksi dengan menggunakan pipet berskala sampai batas tanda spidol yang dihasilkan. Jumlah air yang dimasukan merupakan volume O2 fotosintesis oleh Hydrilla sp. selama 5 jam. Lalu bandingkan jumlah volume O2 antara masing-masing kertas penutupnya.

BAB IV. Hasil Pengamatan dan Pembahasan


4.1 Hasil Percobaan 1. Tabel Pengamatan Intensitas Cahaya Terhadap Laju Fotosintesis No 1 2 3 Tempat Pengamatan Tempat Terang Tempat Teduh Tempat Gelap Jumlah O2 yang dihasilkan (ml) 0,5 0 0

2. Tabel Pengamatan Kualitas Cahaya Terhadap Laju Fotosintesis No 1 2 3 4 Tempat pengamatan Di bawah Kertas Merah Di bawah Kertas Kuning Di bawah Kertas Hijau Di bawah Kertas Biru Jumlah O2 yang dihasilkan (ml) 0, 2 0, 1 0, 1 0,4

4.2 Pembahasan 4.2.1 Pengaruh Kualitas Cahaya Terhadap Laju Fotosintesis Pengamatan kali ini dilakukan untuk mengetahui bagaimana pengaruh intensitas cahaya terhadap laju fotosintesis. Dimana dalam praktikum ini digunakan bahan tanaman

berupa Hydrilla sp. yang untuk mengetahui pengaruh tersebut maka diberikan perlakuan berupa ditempatkan pada tempat yang gelap, tempat teduh dan tempat yang terkena sinar matahari secara langsung masing-masing di biarkan selama 5 jam baru kemudian di amati. Berdasarkan pengamatan yang dilakukan pada pengamatan ini dilihat bagaimana pengaruh suhu dan intensitas cahaya terhadap laju fotosintesis. Dari data yang diperoleh telah sesuai dengan literature, yaitu memperlihatkan bahwa tempat yang terkena sinar matahari langsung memilki laju fotosintesis yang lebih tinggi jika dibandingkan dengan yang diletakkan pada tempat yang teduh. Hal ini terlihat dari jumlah gelembung O2 yang dihasilkan dari proses fototsintesis tersebut, dari sampel yang di letakkan di tempat terang yaitu yaitu 0,5 ml. Sementara yang diletakkan di tempat teduh 0 ml (tidak ada gelmbung O2 yang dihasilkan) dan di tempat gelap juga 0 ml (tidak ada gelmbung O2 yang dihasilkan). Hal ini dikarenakan kondisi yang kurang cahaya, memungkinkan laju fotosintesis berjalan tidak optimal, sehingga tidak dihasilkan gelembung. Gas oksigen ini terbentuk karena proses fotolisis dimana air diuraikan menjadi gas oksigen berupa gelembung-gelembung dengan persamaan reaksi yang menunjukkan penguraian air membentuk gas oksigen 2H2O 4H+ O2 (gas). Namun pada percobaan di tempat teduh dan tempat gelap, praktikum kelompok kami gagal. Seharusnya dengan adanya perbedaan intensitas cahaya maka akan ada perubahan pada gelembung udara yang dihasilkan oleh Hydrilla sp walaupun jumlahnya kecil. Namun dari hasil yang kami dapatkan tidak ada sama sekali gelembung udara yang terbentuk. Kegagalan ini dapat disebabkan karena adanya pengamatan yang kurang teliti pada pengamatan gelembung atau pun pada saat merangkai bahan dan alat serta pelaksanaan percobaan tidak sesuai dengan langkah kerja yang benar sehingga tidak didapatkan hasil yang akurat. Dari hasil pengamatan tersebut dapat ditemukan bahwa intensitas cahaya

mempengaruhi laju fotosintesis. Cahaya sangat berperan dalam proses fotosintesis. Hal ini dapat kita lihat dengan adanya peningkatan jumlah gelembung udara yang dihasilkan dimana O2 merupakan hasil dari fotosintesis yang dikeluarkan oleh tumbuhan. Hal ini menunjukkan bahwa meningkatnya intensitas cahaya akan mempengaruhi laju fotosintesis, yaitu meningkatnya intensitas cahaya ini meningkatkan laju fotosintesis. Namun perlu di ketahui juga bahwa intensitas cahaya yang sangat tinggi juga akan mempengaruhi laju fotosintesis dimana akan berhenti karena stomata akan tertutup sehingga fiksasi karbondioksida tidak terjadi dan oksigen pun tak dapat keluar. Intensitas cahaya yang optimum sangat baik untuk

fotosintesis, sebaliknya jika intensitas yang terlalu besar ataupun terlalu rendah maka dapat menghambat berlangsungnya proses fotosintesis.

4.2.2 Pengaruh Kualitas Cahaya Terhadap Laju Fotosintesis Di dalam praktikum ini mengggunakan Hydrilla sp. sebagai bahan pengamatan, karena Hydrilla sp. hidup di air, dan Hydrilla sp. merupakan tumbuhan monokotil.

Batang Hydrilla sp. ramping dan lunak, sehingga memudahkan untuk di potongnya tanaman tersebut di dalam media. Hydrilla sp. sendiri juga tumbuhan hijau, jadi Hydrilla sp. memiliki klorofil yang berguna untuk fotosintesis. Di dalam pengamatan setelah 5 jam pada warna merah 0,2 ml gelembung, warna kuning 0,1 ml gelembung, warna hijau 0,1 ml gelembung, dan warna biru terdapat 0,4 ml gelembung, dimana gelembung tersebut adalah oksigen yang merupakan hasil fotosintesis. Dari hasil pengamatan kelompok kami gagal, karena didapatkan warna biru lebih banyak gelembungnya dari pada warna merah. Seharusnya warna merah paling banyak gelembungnya karena panjang gelombang pada warna merah paling besar yaitu sekitar 650700 nm. Pada pengamatan warna biru terdapat paling banyak gelembung yaitu 0,4 ml gelembung. Seharusnya gelembung yang terbentuk pada warna biru (dengan panjang gelombang 400-450 nm) ini lebih sedikit di banding warna merah dan kuning karena warna biru warnanya redup. Namun warna biru masih tetap di serap dengan baik oleh pigmen klorofil. Sedangkan pada warna merah, dan kuning warnanya terang, semakin terang atau semakin besar panjang gelombang semakin banyak gelembungnya. Pada warna hijau terdapat 0,1 ml gelembung, karena pada tumbuhan warna hijau tidak diserap, melainkan memantulkan warna hijau (dengan panjang gelombang 500-600 nm). Kesalahan ini terjadi karena beberapa factor yang memungkinkan. Salah satunya yaitu karena faktor dari Hydrilla sp. itu sendiri yang sudah dalam bentuk potongan- potongan, sehingga sistem organnya ada yang rusak. Atau juga karena perangkaian alat dan bahan serta pelaksanaan percobaan tidak sesuai dengan langkah kerja yang benar sehingga tidak di dapat hasil yang akurat. Menurut literatur sifat perlakuan yang sangat baik adalah fotosintesis yang menggunakan warna merah, karena akan ada banyak gelembung oksigen yang terbentuk. Semakin terang atau semakin besar panjang gelombang semakin banyak gelembungnya. Pigmen klorofil menyerap lebih banyak cahaya terlihat pada warna biru (400-450 nanometer) dan merah (650-700 nanometer) dibandingkan hijau (500-600 nanometer). Cahaya hijau ini akan dipantulkan dan ditangkap oleh mata kita sehingga menimbulkan sensasi bahwa daun berwarna hijau.

BAB V. Kesimpulan dan Saran


5.1 Kesimpulan Meningkatnya intensitas cahaya akan mempengaruhi laju fotosintesis, yaitu semakin meningkatnya intensitas cahaya ini semakin meningkatkan laju fotosintesis. Namun perlu di ketahui, intensitas cahaya yang optimum sangat baik untuk fotosintesis, sebaliknya jika intensitas yang terlalu besar ataupun terlalu rendah maka dapat menghambat berlangsungnya proses fotosintesis. Pigmen klorofil menyerap lebih banyak cahaya terlihat pada warna biru (400-450 nanometer) dan merah (650-700 nanometer) dibandingkan hijau (500-600

nanometer). Gelembung O2 yang terbentuk pada warna biru lebih sedikit di banding warna merah dan kuning karena warna biru warnanya redup. Sedangkan pada warna merah, dan kuning warnanya terang, semakin terang atau semakin besar panjang gelombang semakin banyak gelembungnya. Untuk cahaya warna hijau akan dipantulkan.

5.2 Saran Pada percobaan ini memerlukan pengamatan yang harus benar-benar diperhatikan, sehingga praktikan harus teliti pada saat memperhatikan gelembung udara yang dihasilkan dari proses fotosintesis. Sebaiknya pada saat memasukkan Hydrilla sp. dan air kolam ke tabung reaksi dan beker glass, semua bagiannya benar-benar terendam oleh air sehingga tidak terbentuk gelembung di awal, sehingga saat pengamatan gelembung oksigen yang dihasilkan dari proses fotosintesis menjadi lebih akurat.

DAFTAR PUSTAKA
Frank dan Cleon W Ross. 1995. Fisiologi Tumbuhan. Bandung : ITB Bandung. Kimball, John. 2002. Biologi Jilid 1 Edisi Kelima. Jakarta : Erlangga. Lakitan, Benyamin. 1995. Dasar-Dasar Fisiologi Tumbuhan. Jakarta : PT. Raja Grafindo Persada.

Pertamawati. 2010. Pengaruh Fotosintesis Terhadap Pertumbuhan Tanaman Dalam Lingkungan Fotoautotrof Secara Invitro. Jakarta : Sains dan Teknologi Indonesia Salisbury F B , Ross C W.1995. Fisiologi Tumbuhan Jilid 2. Bandung : ITB Press Thomas J B. 1965. Primary Photoprocesses in Biology. Amesterdam : Nort-Holland Publishing Company. Tjitrosomo, S. S. 1983. Botani Umum 2. Bandung : Angkasa.

LAMPIRAN

Foto Percobaan Lampiran