Anda di halaman 1dari 13

KOMPETISI Nur Tsurayya (1508100017) Salim Ar-Rokhman (15981000) Ainis Shofa Marwah (1508100041) Umi Solikhah(150810045) Zainul Muttaqin

(1508100063) Laboratorium Ekologi Jurusan Biologi Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Institut Teknologi Sepuluh Nopember 2010 ABSTRAK Praktikum kompetisi bertujuan untuk mengetahui pengaruh kompetisi terhadap pertumbuhan tanaman. Pertama kali, biji direndam selama 24 jam dengan menggunakan air hangat untuk memecah fase dormansi. Biji dikecambahkan dahulu pada gelas plastik yang dialasi kapas atau nampan plastik pada media tanah. Setelah tumbuh dua daun pertama, semai dipindahkan ke polibag yang telah diisi pupuk (komposisi sama, diupayakan mengetahui kandungan). Kemudian bibit atau kecambah yang telah siap tanam pada polibag, dengan kombinasi perlakuan: 5 polibag masing masing terdiri atas 2 tanaman sejenis, 5 polibag masing masing terdiri atas 2 tanaman berbeda jenis. Selanjutnya diukur pertumbuhan vegetatifnya (tinggi tanaman dan panjang lebar dauan) 2 kali seminggu selama tiga minggu lalu dibuat grafik yang menggambarkan pola kompetisinya. Praktikum kompetisi intra spesies menggunakan spesies Pheseolus Radiatus, sedangkan untuk kompetisi inter spesies menggunakan spesies . Kata kunci : kompetisi, intraspesific, dormansi, Pheseolus Radiatus ABSTRACT Practicum competition aims to determine the effect of competition on plant growth. The first time, the seeds were soaked for 24 hours with warm water to break dormancy phase. Dikecambahkan seed advances in plastic cups coated with cotton or plastic trays in the soil media. After growing the first two leaves, the seedlings were transferred to polybags filled with fertilizer (same composition, find out the contents). Then seeds or seedlings are ready for planting in polybags, with combined treatment: five each poly bag - each consisting of two similar plants, five each poly bag - each consisting of two different plant species. Furthermore vegetatifnya growth is

measured (plant height and length dauan) twice a week for three weeks and then made graphs that illustrate the pattern of competition. Practicum intra-species competition using species Pheseolus radiatus, while for inter-species competition using species. Keyword : competition, intraspesific, dormancy, Pheseolus Radiatus

PENDAHULUAN Kompetisi Kompetisi adalah interakksi antar individu yang muncul akibat kesamaan kebutuhan akan sumberdaya yang bersifat terbatas, sehingga membatasi kemampuan bertahan (survival), pertumbuhan dan reproduksi individu penyaing (Begon et al . 1990), sedangkan menurut Molles (2002) kompettisi didefinisikan sebagai interaksi antar individu dapat yang terjadi berakibat antar pada pengurangan kemampuan hidup mereka. Kompetisi individu (intraspesifik) dan antar individu pada satu spesies yang sama atau interspesifik (Krebs, 2002). Kompetisi tumbuhan yang dapat saling didefenisikan memperebutkan sebagai salah satu bentuk interaksi antar sumber daya alam yang tersedia terbatas pada

lahan dan waktu sama yang menimbulkan dampak negatif terhadap pertumbuhan dan hasil salah satu jenis tumbuhan atau lebih. Sumber daya alam tersebut, contohnya air, hara, cahaya, CO2, dan ruang tumbuh (Kastono, 2005). Definisi kompetisi sebagai interaksi antara dua atau banyak individu apabila suplai sumber yang diperlukan terbatas, dalam dan hubungannya permintaan dengan permintaan yang organisme atau kualitas sumber bervariasi terhadap jika sumber berkualitas tinggi lebih banyak.organisme mungkin bersaing masing-masing berusaha untuk mencapai sumber yang paling baik di sepanjang gradien kualitas atau apabila dua individu mencoba menempati tempat yang sama secara simultan. Sumber yang dipersaingkan oleh individu adalah untuk hidup dan bereproduksi, contohnya

makanan, oksigen, dan cahaya (Noughton, 1990). Secara teoritis ,apabila dalam suatu populasi yang terdiri dari dua spesies , maka akan terjadi interaksi diantara keduanya. Bentuk interaksi tersebut dapat bermacammacam,salah satunya adalah kompetisi. Kompetisi dalam arti yang luas ditujukan pada interaksi antara dua organisme yang memperebutkan sesuatu yang sama. Kompetisi antar spesies merupakan suatu interaksi antar dua atau lebih populasi spesies yang mempengaruhi pertumbuhannya dan hidupnya secar merugikan. Bentuk dari kompetisi menimbulkan dapat adanya bermacam-macam. dalam kompetisi secara pemisahan Kecenderungan

meskipun sumber daya tersebut tersedia secara tidak terbatas. Biasanya proses ini diiringai dengan pengeluaran senyawa kimia (allelochemical) yang berpengaruh negatif pada individu lain (Lamberg, 1998;kerbs, 2002;Molles, 2002). Alelopati (menghambat adalah efek negatif dan perkecembahan

pertumbuhan) yang ditimbulkan oleh suatu tanaman pada tanaman lain yang ada disekitarnya melalaui pelepasan senyawa kimia yang berasal dari proses metabolism sekunder (Muller-Dombois & Ellenberg, 1974; Soerianegara & Indrawan, 1980; Lamberrs, 1998; Muller, 1990 yang dikutip oleh Hierro & Callawai, 2003). Namun tidak semua alelopati bersifat negatif, ada beberapa senyawa alelopati yang bersifat positif baik secara langsung ataupun tidak langsung (Lambers et al. 1998; Kerbs, 2002; Ferguson & Rathinasabapathi, 2003; Broz & Vivanco, 2006). Kompetisi dibedakan menjadi empat macam, yaitu: Kompetisi intraspesifik yakni persaingan antara organisme yang sama dalam lahan yang yakni sama. Kompetisi antara interspesifik persaingan

ekologi, species yang berdekatan atau yang serupa dan hal tersebut di kenal sebagai azaz pengecualian kompetitif (competitive exclusion principles) (Ewusie,1990). Kompetisi dalam suatu komunitas dibagi Kompetisi competition), menjadi sumber yaitu dua: daya yaitu (resources dalam

competition atau scramble atau exploitative kompetisi memanfaatkan secara bersama-sama sumber daya yang terbatas Inferensi (inference competition atau contest competition), yaitu usaha pencarian sumber daya yang menyebabkan kerugian pada individu lain,

organisme yang beda spesies dalam lahan yang sama. Interplant competition yakni persaingan antar dua tanaman berbeda atau bersamaan spesiesnya (dapat pula terjadi

pada intra maupun interplant competition) (Kastono, 2005). Adanya lebih dari satu spesies dalam suatu habitat menaikkan ketahanan lingkungan kapan pun spesies lain bersaing secara serius dengan spesies pertama untuk beberapa sumber penting, hambatan pertumbuhan terjadi dalam kedua spesies. Hokum Gause menyatakan bahwa tidak ada spesies dapat secara tak terbatas menghuni ceruk yang sama secara serentak. Salah satu dari spesies-spesies itu akan hilang atau setiap spesies menjadi makin bertambah efisien dalam memanfaatkan atau mengolah bagian dari ceruk tersebut dengan demikian keduanya akan mencapai keseimbangan. Dalam situasi terakhir, persaingan interspesifik berkurang karena setiap spesies menghuni suatu ceruk mikro yang terpisah (Michael, 1994). Persaingan diantara tumbuhan secara tidak langsung terbawa oleh modifikasi lingkungan. Di dalam tanah, system-sistem akan bersaing untuk air dan bahan makanan, dan karena mereka tak bergerak, ruang menjadi faktor yang penting. Di atas tanah, tumbuhan yang lebih tinggi mengurangi jumlah sinar yang mencapai tumbuhan yang lebih rendah dan serta memodifikasi aliran udara suhu, pada kelembapan

permukaan

tanah

(Michael, secara akan umum di

1994). berarti antara

Kompetisi bersaing. adanya saling

Kompetisi

menghasilkan

bermusuhan

organisme yang menggunakan sumber alam yang sam tetapi jumlahnya terbatas. Sebuah penelitian menunjukkan pentingnys persaingan dan bagaimana mekanismenya terjadi, yang dipimpin oleh Grant Harris (1967). Harris mempelajari pertumbuhan dan ketahanan kedua species selama satu tahun ,dimulai pada saat keduanya masih benih .Ditemukan bahwa kehadiran sejenis rumput dalam jumlah besar dan yang akan menurunkan sejenis pada pertumbuhan ketahanan dominan

gandum.Tanaman

padang rumput ini adalah sejenis gandum (Agrophyron spicatum) yang hidup musiman. Kemudian yang hidup tahunan adalah sejenis rumput (Bromus tectorum) yang kebetulan diperkenalkan pada wilayah tersebut dari eropa.Sejak saat itu pertanian dan peternakan memberikan kelimpahan pada sejenis rumput ( Kartawinata,1986) Kompetisi intraspesifik terjadi karena adanya lebih dari satu spesies dalam suatu habitat menaikkan ketahanan lingkungan kapan pun spesies lain bersaing secara serius dengan spesies pertama untuk beberapa sumber penting, hambatan pertumbuhan

terjadi dalam kedua spesies. Hukum Gause menyatakan bahwa tidak ada spesies dapat secara tak terbatas menghuni wilayah yang sama secara serentak. Salah satu dari spesiesspesies itu akan hilang atau setiap spesies menjadi makin bertambah efisien dalam memanfaatkan atau mengolah bagian dari wilayah tersebut dengan demikian keduanya akan mencapai keseimbangan. Dalam situasi terakhir, persaingan interspesifik berkurang karena setiap spesies menghuni suatu ceruk mikro yang terpisah. Persaingan diantara tumbuhan secara tidak langsung terbawa oleh modifikasi lingkungan. Di dalam tanah, sistem-sistem akan bersaing untuk air dan bahan makanan, dan karena mereka tak bergerak, ruang menjadi faktor yang penting. Di atas tanah, tumbuhan yang lebih tinggi mengurangi jumlah sinar yang mencapai tumbuhan yang lebih rendah dan memodifikasi suhu, kelembapan serta aliran udara pada permukaan tanah. Pada intinya kompetisi interspesifik dipengaruhi oleh faktor abiotik juga (Michael, 1994). Kompetisi pembatas yang memiliki menimbulkan berbagai kerugian-

Setiap lahan berkapasitas tertentu di dalam mendukung perutmbuhan berbagai pertanaman atau tumbuhan yang tunbuh yang tumbuh di permukaannya, jumlah bahan organik yang dapat dihasilkan oleh lahan itu tetap walaupun kompetisi tumbuhannya berbeda (Kastono, 2005). 2. Persaingan memperebutkan air. Jika ketersediaan air dalam suatu lahan menjadi terbatas, maka persaingan juga akan meningkat. Air diserap dari dalam suatu lahan menjadi terbatas, maka persaingan semakin tinggi. Kemudian sebagian air diupkan (transpirasi) dan hanya sekitar satu persen saja yang dipakai untuk proses fotosintesis (Kastono, 2005). 3. Persaingan memperebutkan cahaya. Apabila persediaan air dan hara telah cukup dan pertumbuhan berbagai tumbuhan subur, maka faktor pembatas selanjutnya adalah cahaya matahari yang redup (pada musim penghujan) berbegai pertanaman tersebut untuk memperoleh cahaya matahari. Tumbuhan yang berhasil bersaing mendapat cahaya adalah tanaman yang lebih dahulu tumbuh, oleh karena itu tumbuhan itu lebih tua, lebih tinggi dan lebih rimbun tajuknya. Tumbuhan lain yang lebih pendek, muda dan kurang tajuknya dinaungi oleh tumbuhan yang terdahulu serta pertumbuhannya akan terhambat (Kastono, 2005).

kerugian dalam produksi baik kualitas dan kuantitas. Ada beberapa faktor pembatas kompetisi, antara lain: 1. Persaingan memperebutkan hara.

Letakkan bibit / kecambah yang telah siap Pemasalahan adalah Dan praktikum kompetisi tanam pada polibag, dengan kombinasi perlakuan :
1.

bagaimana mengetahui pengaruh praktikum ini bertujuan untuk

kompetisi terhadap pertumbuhan tanaman. mengetahui pengaruh kompetisi terhadap pertumbuhan tanaman. METODOLOGI Alat Alat-alat yang diperlukan dalam praktikum kompetisi adalah, polibag (ukuran 5 kg ), alat ukur (meteran dan neraca ), gelas plastik dan kapas. Bahan Bahan-bahan yang diperlukan dalam praktikum seragam ). Cara Kerja Biji dilakukan sebelum perendaman dikecambahkan selama 24 jam biji tanaman, pupuk dasar (diusahakan yang mengetahui kandungan dan

5 polibag masing masing terdiri atas 2 tanaman sejenis 5 polibag masing masing terdiri atas 2 tanaman berbeda jenis

2.

Ukurlah pertumbuhan vegetatifnya (tinggi tanaman dan panjang lebar daun) 2 kali setiap satu minggunya. Buat grafik yang menggambarkan pola kompetisinya.

PEMBAHASAN Grafik Kompetisi Intra spesifik 1. Tinggi tanaman polibag 1

sebelum digunakan ( dengan menggunakan air hangat ) untuk memecah fase dormansi. Biji dikecambahkan dahulu pada gelas plastik yang dialasi kapas / nampan plastik pada media tanah. Setelah tumbuh dua dau pertama, semai dipindahkan ke polibag yang telah diisi pupuk (komposisi sama, diupayakan mengetahui kandungan).

Pada grafik tinggi tanaman polibag satu, diketahui bahwa tanaman 2. Tinggi tanaman polibag 2

6. Panjang daun polibag 3

7. Jumlah tanaman polibag 1

3. Tinggi tanaman polibag 3

8. Jumlah tanaman polibag 2

4. Panjang daun polibag 1

9. Jumlah daun polibag 3 5. Panjang daun polibag 2

4. Tinggi tanaman kangkung 1 dan Grafik Kompetisi Inter spesifik 1. Tinggi tanaman kangkung 1 dan sawi 1 polibag 1 sawi 1 polibag 2

5. Tinggi tanaman kangkung 2 dan sawi 2 polibag 2 2. Tinggi tanaman kangkung 2 dan sawi 2 polibag 1

6. Tinggi tanaman kangkung 3 dan sawi 3 polibag 2 3. Tinggi tanaman kangkung 3 dan sawi 3 polibag 1

7. Tinggi tanaman kangkung 1 dan sawi 1 polibag 3

8. Tinggi tanaman kangkung 2 dan sawi 2 polibag 3

11. Panjang daun tanaman kangkung 2 dan sawi 2 polibag 1

9. Tinggi tanaman kangkung 3 dan sawi 3 polibag 3 12. Panjang daun tanaman kangkung 3 dan sawi 3 polibag 1

10. Panjang daun tanaman kangkung 1 dan sawi 1 polibag 1

13. Panjang daun tanaman kangkung 1 dan sawi 1 polibag 2

16. Panjang daun tanaman kangkung 1 dan sawi 1 polibag 3

14. Panjang daun tanaman kangkung 2 dan sawi 2 polibag 2

17. Panjang daun tanaman kangkung 2 dan sawi 2 polibag 3

15. Panjang daun tanaman kangkung 3 dan sawi 3 polibag 2

18. Panjang daun tanaman kangkung 3 dan sawi 3 polibag 3

19. Jumlah daun tanaman kangkung 1 dan sawi 1 polibag 1

22. Jumlah daun tanaman kangkung 1 dan sawi 1 polibag 2

20. Jumlah daun tanaman kangkung 2 dan sawi 2 polibag 1

23. Jumlah daun tanaman kangkung 2 dan sawi 2 polibag 2

21. Jumlah daun tanaman kangkung 3 dan sawi 3 polibag 1

24. Jumlah daun tanaman kangkung 3

dan sawi 3 polibag 2

25. Jumlah daun tanaman kangkung 1 dan sawi 1 polibag 3 Budiastuti. DAFTAR PUSTAKA 2009. Foliar Triaconthanol

Application and Plant Spacing on Mungbean. UI Press : Jakarta. Ewusie. 1990. Pengantar Ekologi Tropika. ITB Kartawinata. 26. Jumlah daun tanaman kangkung 2 dan sawi 2 polibag 3 Kastono. Bandung. 2005. Ilmu Gulma, Pertanian. Jurusan UGM: : 1986. Bandung. Pengantar

Ekologi. Remadja karya CV :

Budidaya Yogyakarta. Michael. 1994.

Metode Ekologi Lapangan

untuk dan

Penyelidikan

Laboratorium. UI Press : Jakarta. 27. Jumlah daun tanaman kangkung 3 dan sawi 3 polibag 3 Naughton. 1998. Ekologi Umum, edisi kedua. UGM Press : Yogyakarta. Odum. Ekologi. 1993. UGM Dasar-dasar Press:

Yogyakarta.