Anda di halaman 1dari 14

PEMERIKSAAN KLINIS SISTEM SYARAF HEWAN KESAYANGAN

Pemeriksaan klinis pada sistem saraf merupakan serangkaian tindakan pengamatan dan
pengujian yang dialakukan untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan berikut
Apakah terdapat lesi pada sistem syaraf?
Dimanakah lokalisasi dari lesi tersebut (focal atau multi focal)?
Seberapa parah lesi tersebut?
Apakah penyakit itu semakin buruk, semakin baik atau tidak mengalami perkembangan
sama sekali?
Perlengkapan yang dibutuhkan untuk melakukan pemeriksaan klinis sistem saraf
diantaranya adalah pelight, hamar perkusi dan sepasang hemostatic forcep. Sebuah form standar
tertentu dapat digunakan sebagai patokan dalam penarikan diagnosa.
A. Pengamatan awal dan persyarafan daerah kepala
1. Pengamatan awal
Cara berdiri, posisi kepala, kordinasi dan persarafan daerah kepala dapat secara
langsung diamati. Hewan akan meunjukan perilaku membau dan makan ketika sistem
saraf CN1 bekerja dengan baik dan akan menghindari benda-benda asing jika CN2
bekerja dan dengan mengamati reaksi hewan terhadap suara dapat diamati
kemampuan mendengar dari hewan.

Gambar 1. Pengamatan awal


2. Respon berkedip
Untuk mengamati respon berkedip, majukan tangan ke arah mata. Sebuah
kediapan akan tampak yang mengindikasikan CN2 dan syaraf wajah CN7 dan
koneksi keduanya dan batang otak berfungsi.
Gambar. 2. pengujian reflex berkedip
3. Reflek pupil terhadap cahaya
Menyinari cahaya kearah salah satu mata akan menyebabkan konstriksi dari pupil
tersebut (reflek pupil langsung) dan juga mata yang lain (reflek pupil tidak langsung).
Uji ini mengevaluasi CN2 , syaraf oculomotor (CN3), dan koneksinya dengan batang
otak.

Gambar 3. Refleks pupil terhadap cahaya


4. Examinasi pupil, kelopak dan posisi bola mata
Ukuran pupil dan kesimetrisanya, posisi kelopak, dan kelopak ketiga dipengaruhi
CN2,CN3 dan inervasi simpatesis ke daerah mata. Perhatikan pergerakan dan posisi
dari bola mata untuk mengevaluasi fungsi dari syaraf yang menginervasi dan otot
penggerak bola mata (oculomtor CN3, trochlear CN4 dan abducens CN6) dan
asosiasinya dengan batang otak.
Gambar 4. Eksaminasi pupil kelopa dan posisi kelopak
5. Strabismus posisional
Ketika hidung diangkat, posisi bola mata seharusnya seimbang apabila CN3,
CN4, CN6 dan saraf vestibular (CN8) dan koneksinya dengan otak bekerja dengan
baik.

Gambar 5. Pemeriksaan strabismus

6. Otot temporal/masseter
Palpasi otot-otot tersebut untuk mendetetksi atropi. Atropi otot mengindikasikan
lesi pada baigan motor dari syaraf trigeminal (CN5) dan asosiasinya dengan batang
otak dan otot itu sendiri.
Gambar 6. Otot maseter
7. Ketegangan rahang dan jarak geraknya
Buka rahang untuk mengevaluasi ketegangan otot dan rentang jarak geraknya.
Ketegangan otot yang tidak sesuai mengindikasikan lesi pada bagian motor dari CN5
dan asosiasinya dengan batang otak.

Gambar 7. Ketengangan rahang dan jarak geraknya

8. Reflex palpebral, aural dan buccal


Sentuh dan palpasi daerah bibir untuk mengevaluasi pergerakan dari struktur ini
dan percabangan dari persyarafan cabang dari CN5, motr CN7 dan koneksi caudal
batang otak.
Gambar 8. Pemeriksaan reflek palpebral aural dan bucal
9. Nystagmus
Gerakan kepala ke kiri dan kanan, atas dan bawah. Dua atau tiga pergerakan
ritmikal dari bola mata akan dapat teramati pada saat mata digerakan (nystagmus).
Uji ini untuk mengamati fungsi dari CN8 dan struktur caudal batang otak dan
cerebellum.

Gambar 9. Pemeriksaan nystagmus


10. Menelan
Buat anjing menelan dengan palpasi (eksternal maupun internal) dari faring untuk
mengamati glosopharingeal nerves (CN9) dan nervus vagus (CN10).
Gambar 10. Pemeriksaan reflex menelan
11. Otot trapezius
Palpasi otot trapezius untuk mendeteksi atropi. Jika terdapat atropi, pasien
dicurigai mengalami lesi pada CN11 atau caudal brainstream.

Gambar 11. Pemeriksaan otot trapezius


12. Lidah
Amati lidah untuk mendeteksi pergerakan normal dan kekuatan lidah dan palpasi
untuk mendeteksi atropi atau hipertropi untuk megevaluasi CN12 dan caudal
brainstem.

B. Pemeriksaan Gaya Berjalan


1. Hemistad dan hemiwalk
Amati cara berjalan saat berjalan (walking), trooting, dan gallop dan saat
menggerakan hewan ke kiri dan kekanan. Hemistanding atau hemiswalking
(berdiri atau berjalan dengan salah satu sisi tubuh dapat dilakukan untuk
membandingkan kekuatan dari kaki pada masing masing sisi tubuh. Penekanan
pada punggung dapat dilakukan untuk menentukan ketahanan terhadap tekanan
ini.

C. Respon Postural
1. Wheelbarrow thoracic limbs dan wheelbarrow pelvic limbs
Sanggah hewan saat berdiri dan berjalan, mula mula pada thoracic limbs
dan kemudian pada pelvix limb. Examinasi wheelbarrow dapat mendeteksi
adanya gangguan pada koordinasi, kekuatan ekstremitas pada kedua sisi.
2. Hopping
Dengan disanggah, posisikan hewan dalam keadaan berdiri dengan 1 kaki pada
masingmasing ke empat kaki untuk mendeteksi adanya inkoordinasi pada masing-
masing dari keempat kaki

D. Respon Spinal
Komponen anatomis dari setiap reflex spinal adalah sistem syaraf perifer spesifik,
segmen spinal cord, syaraf perifer motoral, dan otot. Setiap komponen harus
berfungsi dengan baik agar reflex spinal dapat berlangsung. Dengan adanya gangguan
atau bahkan ketiadaan reflex spinal mengindikasikan lesi pada daerah spesifik dari
reflex spina yang diuji. Gangguan tersebut seringkali mengindikasikan adanya lesi
pada suatu daerah di antara otak dan reflex spinal yang diuji.

E. Reflex thoracic limb


1. Reflex bicep
Tempatkan jari pada tendon bicep dan perkusi jari tersebut. Dapat diamati
adanya flexion yang sepintas yang mengindikasikan flexi bicep yang normal.
Reaksi ini timbul pada anjing yang memiliki persarafan bicep normal.
Gambar 12. Pengujian reflex bicep
2. Reflex Tricep
Tempatkan jari pada tendon tricep dan percusi jari tersebut. Dapat diamati
adanya ekstensi singkat pada siku yang mengindikasikan reflex tricep normal.
Respons ini terkadang timbul sebagai respons yang halus pada anjing dan
kucing yang sehat.

Gambar 13. Pengujian reflex tricep


3. Reflex otot extensor carpi radialis
Perkusi otot otot extensor carpi radialis secara langsung. Ekstensi singkat pada
daerah carpus mengindikasikan reflex normal otot extensor carpi radialis.

Gambar 14. Pengujian reflex otot extensor carpi radialis


4. Reflex withdrawal
Tekan bagian digitus dengan menggunakan pingset atau jari. Flexi dari
seluruh thoracic limbs mengindikasikan reflex withdrawal yang normal. Rasa
sakit yang timbul dapat diamati dengan melihat apakah hewan menoleh,
berteriak atau meraung.

Gambar 15. Pengujian reflex withdrawal


5. Reflex extensor silang (crossed)
Ketika dilakukan pengujian terhadap reflex withdrawl, seharusnya tidak
timbul reflex yang berarti pada kaki yang berlawanan; extensi yang timbul
demikian merupakan reflex ektensor silang dan mengindikasikan lesi diantara
otak dan C5.

Gambar 16. Ppengujian relfleks extensor silang

F. Reflex Pelvic Limb


1. Reflex patellar
Perkusi tendon patellar dan amati adanya ekstensi yang singkat pada sendi stifle
yang mengindikasikanrefleks normal patellar.
Gambar 17. Pengamatan refleks patellar
2. Relfeks otot gastrocnemius
Jepit otot gastrocnemius diantara jempol dan jari telunjuk dan perkusi jari
jempol.amati adanya ekstensi yang mengindikasikan reflex normal otot
gastrocnemius.

Gambar 18. Refleks otot gastrocnemius


3. Reflex otot cranial tibial
Perkusi otot cranial tibial secara langsung dan amati adanya flexi singkat yang
mengindikasikan refleks normal otot cranial tibial.

Gambar 19. pengujian refleks otot cranial tibial


4. Reflex saraf panggul
Tempatkan jari di atas syaraf panggul dan perkusi jari tersebut. Ekstensi singkat
pada pinggul, sendi stifle dan hock mengindikasikan reflex normal syaraf panggul.

Gambar 20. Pengujian refleks syaraf panggul


5. Reflex withdrawal
Tekan bagian digitus dengan menggunakan pingset atau jari. Flexi dari seluruh
pelvic limbs mengindikasikan reflex withdrawal yang normal. Rasa sakit yang timbul
dapat diamati dengan melihat apakah hewan menoleh,berteriak atau meraung.

Gambar 22. Pengujian refleks withdrawal pelvic limb


6. Reflex extensor silang (crossed)
Ketika dilakukan pengujian terhadap reflex withdrawl, seharusnya tidak timbul
reflex yang berarti pada kaki yang berlawanan; extensi yang timbul demikian
merupakan reflex ektensor silang dan mengindikasikan lesi diantara otak dan C5.
Gambar 23. Pengujian refleks extensor silang pelvic limb
7. Reflex anal
Tekan daerah perianal dengan menggunakan jari atau pinset dan amati adanya
kontraksi pada area spinchter anal yang mengindikasikan reflex anal yang normal.
Apabila ekor secara bersamaan tertarik ke bawah mengindikasikan refleks
anal/caudal yang normal. Refleks yang sama juga dapat diinduksi dengan palpasi
rectal.

Gambar 24.pengujian refleks anal

G. Pemeriksaan Lain
1. Tanda babinskis (babinskisign)
Menggesekan ujung hamar perkusi secara proximal pada region metacarpal dan
metarsal akan menginduksi fleksi singkat pada digiti. Extensi pada digiti ini
mengindikasikan babinskis sign positive dan mengindikasikan adanya lesi pada
suatu daerah diantara otak dan C5 (thoracic limb) atau antara otak dan L5 (pelvic
limb).
Gambar 25. Uji babinskis sign
2. Atrophy otot paha (limb)
Atrophy otot paha dapat dideteksi dengan palpasi dan observasi. Otot yang
mengalami atropi mengindikasikan lesi pada syaraf spesifik pada otot tersebut.

Gambar 26. Pegamatan atropi otot paha (limb)


3. Palpasi otot cervical
Palpasi otot cervical untuk mendeteksi adanya rasa sakit (ditandai dengan spasm
otot, meraung atau berteriak).

Gambar 27. Pengamatan otot cervical


4. Rentang gerak leher
Rentang gerak leher yang terbatas dapat mengindikasikan leher yang sedang
dalam kondisi dalam sensasi rasa sakit dan dapat menginduksi spasm otot, meraung,
atau berteriak.
Gambar 28. Pengamatan Rentang gerak leher
5. Back pain
Back pain atau rasa sakit pada punggung dapat diinduksi dengan palpasi otot
paravertebral; rasa sakit dapat menginduksi spasm otot, meraung, atau berteriak.

Gambar 29. Pengamatan back pain


6. Respons otot cutaneus trunci (panniculus)
Pencubit/meremas kulit dengan hemostatic forcep dan mengamati kontraksi otot
cutaneus trunci mengindikasikan respon otot cutaneus trunci yang normal. Sensasti
permukaan dapat diamati ketika hewan menoleh, berteriak atau meraung.

Gambar 30. Pemeriksaan respon otot cutaneus trunci (panniculus)