Anda di halaman 1dari 8

MATERI INISIASI KETIGA

Teori-Teori Pendukung Pengembangan SDM

Bapak/Ibu mahasiswa UT yang berbahagia. Ada 2 sub pokok bahasan dalam Topik Teori-
Teori Pendukung Pengembangan SDM, yaitu Disiplin Ilmu dalam Pengembangan SDM dan
Teori Inti Disiplin Pengembangan SDM. Uraian dalam materi inisiasi ini sepenuhnya saya
ambil dari Buku Materi Pokok/ Modul EKM4366 Modul 4. Untuk itu jika Anda kurang dapat
memahami apa yang disampaikan dalam materi inisiasi ini, silakan Anda melihat dalam
modul terkait. Setelah mengikuti tutorial ini Anda diharapkan dapat menjelaskan disiplin
ilmu dalam pengembangan SDM dan dapat menjelaskan Teori Sistem, Teori Psikologi, dan
Teori Modal Manusia dalam pengembangan SDM.

DISIPLIN ILMU DALAM PENGEMBANGAN SDM


Pengertian Ilmu
Saudara mahasiswa yang budiman. Dalam upaya untuk memajukan organisasi dan individu
dalam organisasi yang bersangkutan, pimpinan organisasi pada umumnya akan menerapkan
program pengembangan SDM. Dalam prakteknya, implementasi program pengembangan
SDM akan bersinggungan dengan berbagai ilmu yang merupakan bagian integral dari ilmu
pengembangan SDM itu sendiri. Berbagai ilmu tersebut diantaranya adalah ilmu psikologi,
ekonomi, biologi, dan sistem. Pertanyaan kemudian yang muncul adalah apakah ilmu itu?
Di dalam BMP Pengembangan SDM dijelaskan bahwa ilmu adalah kerangka dari
pengetahuan yang terdiri dari tiga komponen berbeda yang saling menyatu, yaitu fondasi,
teori, dan metodologi. Fondasi membentuk teori, teori membentuk suatu metodologi
(Warfield dalam yusuf, 2013). Dalam BMP tersebut juga djelaskan bahwa, pada awalnya
ilmu terbentuk dari berbagai kumpulan fakta, kejadian, peristiwa, dan pengalaman seseorang
atau sekelompok orang yang direkam atau dicatat sehingga menjadi data (data atas fakta,
kejadian, peristiwa, dan pengalaman). Berdasarkan data tersebut selanjutnya disusunlah
rumusan-rumusan, dan atas dasar rumusan-rumusan yang telah disusun secara sistematis
kemudian diformulasikan menjadi konsep. Atas dasar konsep tersebut kemudian dilakukan
penelitian-penelitian sehingga terbentuklah sebuah teori. Dan berdasarkan teori tersebut
melalui perjalanan waktu yang panjang akhirnya menjadi disiplin ilmu.

Perjalanan Ilmu Pengembangan SDM


Ditinjau dari riwayat perkembangan Ilmu Pengembangan SDM, telah terjadi pergeseran
pemahaman tentang pengembangan SDM baik oleh ahli pengembangan SDM maupun
praktisi pengembangan SDM. Terminologi Pengembangan SDM sendiri baru diperkenalkan
pada Tahun 1969 oleh Leonard Nadler di Miami Conference of the American Society of
Training and Development (ASTD). Sedangkan definisi pengembangan SDM baru diberikan
pada Tahun 1970, ketika ada sejumlah orang yang memasuki bidang/lapangan pengembangan
SDM. Problematika kemudian terjadi ketika perspektif internasional memberikan
interpretasi dan peran yang bervariasi terhadap Pengembangan SDM dari satu negara ke
negara lain.

Oleh karena itu, Frank (1988) kemudian melakukan penelitian terhadap teori yang
mendasari pengembangan SDM dalam rangka untuk membedakannya dengan bidang yang
lain. Frank mengidentifikasi tiga asumsi yang mendasari pengembangan SDM:
1. Pengembangan SDM didasarkan pada riset dan teori bidang pendidikan orang dewasa
yang berbeda dengan pembelajaran yang terjadi pada masa kecil. Pembelajaran pada
orang dewasa di dasarkan pada penciptaan kondisi yang memadai dimana orang dewasa
dapat belajar dan oleh karenanya dapat mengubah perilakunya.
2. Pengembangan SDM menaruh perhatian pada peningkatan kinerja di dalam lingkungan
kerja, bukan perhatian pada peningkatan kesehatan orang atau hubungan individu
karyawan dengan keluarganya.
3. Pengembangan SDM memanfaatkan teori perubahan dan bagaimana berhubungan dengan
organisasi. Perubahan memengaruhi individu, kelompok, dan organisasi, dan
Pengembangan SDM perhatiannya pada perubahan individu.

Selain pergeseran dalam terminologi dan peran pengembangan SDM, pergeseran juga terjadi
dalam pendekatan atau sudut padang terhadap SDM itu sendiri. Dalam buku BMP dijelaskan
bahwa pada awalnya SDM hanya dipandang sebagai faktor produksi setara dengan faktor
produksi yang lain seperti, uang, metode, bahan baku, dan mesin. Dengan semakin
berkembangnya disiplin ilmu yang lain, khususnya ilmu sosiologi dan psikologi, maka pada
akhirnya perspektif SDM sebagai alat produksi tersebut telah bergeser ke arah perspektif
SDM sebagai kekayaan organisasi.
Berdasarkan uraian singkat di atas, tampak bahwa perkembangan ilmu Pengembangan
SDM tidak terlepas dari perkembangan ilmu lain, seperti ilmu psikologi, sosiologi, dan
pendidikan (juga ilmu-ilmu yang lain tentunya). Namun, dalam BMP hanya akan dibahas 4
teori inti pengembangan SDM, yaitu Teori Ilmu Ekonomi, Teori Ilmu Psikologi, Teori Sistem,
dan Teori Human Capital.

Pengembangan SDM merupakan Disiplin Ilmu atau Bukan?


Dalam menjawab pertanyaan tersebut, pada BMP EKMA4366 dijelaskan bahwa ada 17
disiplin ilmu yang terdapat dalam pengembangan SDM. Selanjutnya dijelaskan bahwa,
meskipun ada 17 ilmu dalam pengembangan SDM namun bukan berarti bahwa
pengembangan SDM merupakan rangkuman dari ketujuh belas ilmu tersebut. Hanya
sebagian teori atau konsep saja dari ketujuh belas ilmu itu yang digunakan sebagai alat
analisis (a tool of analysis) dalam pengembangan SDM. Oleh karena itu dapat dikatakan
bahwa Pengembangan SDM adalah disiplin ilmu yang menggunakan teori atau konsep dari
ilmu lain yang dirangkum melalui teori sistem (system theory).

Berkaitan dengan teori sistem ini Galagan (1986) mengistilahkan dengan istilah disiplin
omnivora. Dia mengatakan:
selama bertahun-tahun menggabungkan hampir semua teori maupun praktek yang akan
melayani tujuan pembelajaran dalam konteks kerja. Seperti amuba, yaitu menelan dan
mengambil makanan dari apa yang dianggap bijaksana dalam ilmu sosial dan perilaku,
dalam teori pembelajaran dan bisnis.

Setelah mengamati perdebatan tentang pengembangan SDM, Jacobs (1990) menarik


kesimpulan bahwa pengembangan SDM paralel dengan disiplin ilmu lain dengan
menyatakan:
Pengembangan Sumber Daya Manusia adalah mencakup baik area praktek profesional
maupun batang tubuh ilmu pengetahuan baru interdisipliner. Keterkaitan kedua aspek ini
membuat Pengembangan Sumber Daya Manusia mirip dengan kebanyakan profesi terapan
lainnya, yang sebagian besar telah muncul untuk memenuhi beberapa kebutuhan penting
sosial atau organisasi. Setelah praktek pengembangan SDM dijalankan, timbul kebutuhan
untuk memformalkan pengetahuan yang diperoleh dalam praktek tersebut ke dalam beberapa
struktur logis. Kegiatan tersebut membantu melegitimasi profesi dan meningkatkan
keandalan praktik..

Integrasi Teori
Para mahasiswa peserta Tuton yang berbahagia. Dalam BMP EKMA4366 dinyatakan bahwa
ruang lingkup teori pengembangan SDM meliputi kinerja organisasi, proses kerja, kinerja
kelompok, dan kinerja individu. Untuk pembahasan dan pengambilan keputusan dalam
lingkup pengembangan SDM, ada 3 teori inti yang dibingkai dalam etika. Sebagaimana
dikemukan oleh Swanson (1998) bahwa pengembangan SDM harus mengintegrasikan teori
utama yang mencakup psikologi, ekonomi, dan sistem menjadi keseluruhan teori
pengembangan SDM dan model bagi keperluan praktis.

Orgaisasi-Proses Kerja-Kinerja
Individu & Kinerja Kelompok

TEORI PSDM

ETIK

Dari Gambar di atas dapat dilihat bahwa Etika merupakan landasan yang membikai Teori
Ekonomi, Teori Sistem, dan Teori Psikologi sebagai dasar tegaknya Teori Pengambangan
SDM. Teori ekonomi memberikan dasar sistem kalkulasi dalam organisasi. Teori sistem
memadukan hubungan-hubungan bagian dan tujuan untuk memaksimalkan pencapaian
tujuan. Teori psikologi berusaha mengaitkan manusia dengan produktivitas kerja.

TEORI INTI DISIPLIN PENGEMBANGAN SDM


Saudara mahasiswa yang budiman. Sesuai dengan penjelasan dalam BMP EKMA4366,
dijelaskan bahwa ada 3 teori inti yang mendasari disiplin ilmu pengembangan SDM. Ketiga
teori tersebut adalah Teori Ekonomi, Teori Psikologi, dan Teori Sistem. Secara singkat ketiga
teori tersebut dijelaskan sebagai berikut.

Teori Ekonomi
Didalam ilmu ekonomi dikenal dengan teori kelangkaan. Yaitu bahwa sumber daya alam dan
sumber daya lainnya jumlahnya terbatas. Selain terbatas sumber daya alam juga tidak dapat
diperbaharui (kalaupun bisa memakan waktu yang lama). Di sisi lain kebutuhan manusia
adalah (relatif) tidak terbatas. Oleh karena itu, dalam teori ekonomi ini akan dibahas tentang
bagaimana mengalokasikan sumber daya yang terbatas tersebut untuk memenuhi kebutuhan
manusia yang cenderung tidak terbatas. Termasuk dalam pembahasan ilmu ekonomi tersebut
adalah bagaimana mendistribusikan sumber daya alam tersebut dengan tetap menjaga
kelestariannya.

Menurut Swanson dan Holton III (2001), ada tiga aspek dari teori ekonomi ini yang menjadi
dasar teori pengembangan SDM. Ketiga aspek tersebut sebagai berikut.
1. Teori Kelangkaan Sumber Daya
Menurut teori ini ada keterbatasan jumlah sumber daya yang kita miliki, seperti uang,
material, dan waktu. Oleh karena itu ketika merancang suatu program pengembangan
SDM, misalnya, harus diperhatikan nilai pengorbanan dari sumber daya yang kita miliki
itu (harus dihitung opportunity cost nya) agar memperoleh nilai tambah yang optimal.
Artinya, organisasi harus bekerja secara efisien dan efektif untuk menghindari
penggunaan sumber daya yang sia-sia.

2. Teori Sumber Daya Berkelanjutan


Dibanding dengan teori kelangkaan sumber daya, teori ini berorientasi ke masa depan
dalam jangka panjang. Artinya, dalam menggunakan sumber daya yang terbatas tersebut
harus diperhatikan kelestariannya, sehingga dapat digunakan/dipertahankan
penggunaannya dalam jangka panjang. Oleh karena itu, manusia harus mengerahkan
semua kecerdasan dan kepandaiannya, melalui pengembangan berbagai teknologi untuk
dapat mempertahankan selama mungkin sumber daya yang dimilikinya. Dalam konteks
inilah, maka manusia tidak lagi dipandang hanya sebagai faktor produksi semata.

3. Teori Modal Manusia


Pengertian modal manusia (human capital) bukan berarti menempatkan karyawan
sebagai modal seperti mesin atau material, tetapi membantu pengambil keputusan
organisasi untuk memfokuskan pada pembangunan manusia/karyawan melalui investasi
dalam pendidikan dan pelatihan. Intinya adalah pengembangan kualitas SDM organisasi
agar dapat menjadi keunggulan kompetisi organisasi.

Pimpinan organisasi harus menyadari bahwa semua produk yang dihasilkan oleh
organisasi dapat ditiru oleh pihak pesaing, tapi yang namanya kepandaian, bakat, atau
keterampilan karyawan tidak bisa ditiru. Karena itu sifat adalah unik.

Teori Psikologi
Passmore (1997) mendefinisikan psikologi sebagai ilmu tentang kelakuan atau perilaku dan
proses mental dari manusia dan hewan. Oleh karena itu, dalam implementasinya pada teori
pengembangan SDM fokus perhatiannya ditekankan pada aspek perilaku manusia dalam
organisasi. Teori-teori yang berasal dari disiplin psikologi ini merupakan modal dasar penting
dalam memengaruhi kondisi psikologis karyawan dalam rangka meningkatkan produktivitas
kerja. Ada tiga perspektif dari teori psikologi ini yang diimplementasikan dalam teori
pengembangan SDM. Ketiga perspektif tersebut sebagai berikut.

1. Psikologi Gestalt
Menurut perspektif teori psikologi Gestalt bahwa manusia tidak melihat rangsangan atau
stimulus secara sepotong-sepotong, tetapi melihatnya sebagai satu kesatuan yang utuh.
Teori ini meyakini bahwa setiap orang mendapatkan sesuatu dari pengalamannya pada
dunia dalam arti luas. Oleh karena itu dalam implementasinya pada teori pengembangan
SDM, pimpinan organisasi harus dapat menjelaskan apa tujuan dan kontribusi individu,
proses kerja, dan harapan pimpinan terhadap karyawan.
2. Psikologi Perilaku
Psikologi perilaku menunjukkan bahwa perilaku dapat dipelajari. Berdasarkan teori ini
kita dapat menangkap dan mengartikan sebuah perilaku. Perilaku merupakan respon
satu-satunya yang dapat ditunjukkan secara nyata oleh seseorang tentang kapasitasnya,
pengalamannya, maupun kemampuan yang dimilikinya. Ada empat model teori psikologi
perilaku, yaitu stimulus-response model (S-R Model); challenge-response model (C-R
Model); motivation-behavior model (M-B Model); dan valence, expectancy,
instrumentality=motivation model (VEI=M Model).

3. Psikologi Kognitif
Psikologi kognitif disebut juga purposive-behaviourism. Teori ini merupakan
penggabungan dari teori psikologi Gestalt dan teori psikologi perilaku. Menurut teori ini,
perilaku manusia pada dasarnya diarahkan oleh sebuah tujuan. Artinya, perilaku
seseorang sebagaimana yang kita lihat merupakan sesuatu yang disengaja karena
diarahkan untuk mencapai tujuan. Hal yang terkait dengan psikologi kognitif dan
tercakup dalam purposive behaviourism adalah perbedaan pengendalian, moda kawasan
berpikir, peta berpikir, belajar berdasarkan analogi, menghilangkan kecanggungan dalam
belajar, penyusunan struktur, proses informasi, memori jangka pendek dan panjang, dan
kepandaian yang dibuat. Dalam implementasinya pada teori pengembangan SDM, ketika
mengembangkan program pengembangan SDM pimpinan organisasi harus
mengembangkan harmonisasi antara tujuan organisasi yang ingin dicapai dengan tujuan
individu-individu karyawan.

Teori Sistem
Menurut Yura dan Walsh (1978), berdasarkan teori sistem maka suatu teori harus dapat
menjelaskan tentang definisi, tujuan, isi, dan proses serta mana yang menjadi sistem dan
mana yang menjadi subsistem. Dengan demikian jika pengembangan SDM dianggap sebagai
suatu teori, maka ia harus dapat menjelaskan tentang definisi, tujuan, isi, dan proses serta
mana yang menjadi sistem dan mana yang menjadi subsistem dari pengembangan SDM. Ada
tiga perspektif dalam teori sistem, yaitu teori sistem umum (General System Theory), teori
kekacauan (chaos theory), dan teori masa depan (Future Theory).