Anda di halaman 1dari 8

BAB 1

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Salah satu isu penting yang muncul menjelang berakhirnya abad ke-20 adalah
persoalan gender. Isu tentang gender ini telah menjadi bahasan yang memasuki setiap
analisis social, menjadi pokok bahasan dalam wacana perdebatan mengenai perubahan
social dan juga menjadi topik utama dalam perbincangan mengenai pembangunan dan
perubahan sosial.
Bahkan beberapa waktu terakhir ini, berbagai tulisan baik di media massa maupun
buku-buku, atau kegiatan-kegiatan seperti seminar, diskusi, dan sebagainya banyak
membahas tentang protes dan gugatan yang terkait dengan ketidakadilan dan diskriminasi
terhadap kaum perempuan. Ketidakadilan dan diskriminasi tersebut terjadi hampir di
semua tingkatan dan sektor, mulai dari tingkat internasional, negara, keagamaan, social
(kemasyarakatan), budaya, ekonomi, sampai pada tingkat rumah tangga.
Gender memasuki dua dasawarsa terakhir telah menjadi bahasa yang memasuki setiap
analisis sosial menjadi pokok bahasan dalam wacana perdebatan mengenai perubahan
sosial serta menjadi topik penting dalam setiap perbincangan mengenai pembangunan.
Namun apa sesungguhnya yang dimaksud dengan gender dan mengapa dikaitkan dengan
usaha emansipasi kaum perempuan? Untuk itu diperlukan penjelasan mengenai konsep
gender.
Pemahaman dan pembeda antara konsep seks dan gender sangatlah diperlukan dalam
melakukan analisa untuk memahami persoalan ketidakadilan sosial yang menimpa kaum
perempuan. Hal ini karena ada kaitan erat antara perbedaan gender (gender differences)
dan ketidakadilan gender dengan struktur ketidakadilan masyarakat secara lebih luas.

1.2 Rumusan Masalah


1. Apakah perbedaan dari jenis kelamin dan gender?
2. Bagaimana cara penyosialisasikan tentang gender?
3. Bagaimana stratifikasi dalam gender?
4. Bagaimana hubungan antara kekuasaan dan gender?

1
1.3 Tujuan Penelitian
1. Mengetahui perbedaan antara jenis kelamin dan gender.
2. Mengetahui bagaimana saja cara penyosialisasian tentang gender.
3. Mengetahui tentang stratifikasi-stratifikasi dalam gender.
4. Mengetahui hubungan antara kekuasaan dangender.

1.4 Pembatasan Masalah


Penulis membatasi pembahasan tentang gender pada makalahini hanya sampai pada
penjelasan bagaimanakah hubungan antara kekuasaan dan gender.

2
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Perbedaan Jenis Kelamin dan Gender

Istilah gender pada awalnya dikembangkan sebagai suatu analisis ilmu sosial oleh
Aan Oakley (1972), dan sejak saat itu menurutnya gender lantas dianggap sebagai alat
analisis yang baik untuk memahami persoalan diskriminasi terhadap kaum perempuan
secara umum.
Gender berbeda dengan jenis kelamin (seks). Konsep seks atau jenis kelamin
mengacu pada perbedaan biologis pada perempuan dan laki-laki; pada perbedaan antara
tubuh laki-laki dan perempuan. Dengan demikian manakala kita berbicara tentang
perbedaan jenis kelamin maka kita akan membahas perbedaan biologis yang umumnya
dijumpai antara kaum laki-laki dan perempuan, seperti perbedaan pada bentuk, tinggi
serta berat badan, pada struktur organ reproduksi dan fungsinya, pada suara, dan
sebagainya.
Sedangkan gender adalah suatu istilah yang digunakan untuk menggambarkan
perbedaan antara laki-laki dan perempuan secara sosial. Gender adalah konsep hubungan
sosial yang membedakan fungsi dan peran antara laki-laki dan perempuan. Perbedaan
fungsi dan peran antara laki-laki dan perempuan itu tidak ditentukan karena keduanya
terdapat perbedaan biologis dan kodrat, melainkan dibedakan menurut kedudukan,
fungsi, dan peranan masing-masing dalam berbagai bidang kehidupan dan pembangunan.

2.2 Gender dan Sosialisasi

Sebagaimana dikemukakan oleh Kerstan (1995), gender tidak bersifat biologis


melainkan dikonstruksikan secara sosial. Gender tidak dibawa sejak lahir melainkan
dipelajari melalui sosialisasi. Oleh sebab itu menurutnya gender dapat berubah.
Sebagaimana halnya dalam sosialisasi pada umumnya, maka dalam sosialisasi gender
agen penting yang berperan pun terdiri atas keluarga, kelompok bermain, dan media
massa.

3
Macam-macam agen sosialisasi gender:

1. Keluarga.
2. Kelompok bermain.
3. Sekolah.
4. Media massa.

2.3 Gender dan Stratifikasi

Adanya stratifikasi gender telah mendorong lahirnya gerakan sosial dikalangan


kaum perempuan, yang bertujuan membela dan memperluas hak-hak kaum perempuan.
Gerakan ini dinamakan feminism, yang menurut Giddens telah bermula di Prancis pada
abad 18 dan kemudian menyebar ke negara-negara lain di benua Eropa, Amerika, Afrika,
dan Asia. Dibidang politik gerakan ini terpusat pada perjuangan persamaan hak pilih
dengan laki-laki dan telah menghasilkan diberikannya persamaan hak pilih di banyak
Negara.
1. Gender dan Pendidikan.
Dalam berbagai masyarakat maupun dalam kalangan tertentu dalam
masyarakat dapat kita jumpai nilai dan aturan agama ataupun adat kebiasaan yang
tidak mendukung dan bahkan melarang keikutsertaan anak perempuan dalam
pendidikan formal. Ada nilai yang mengemukakan bahwa perempuan tidak perlu
sekolah tinggi-tinggi karena pada akhirnya akan ke dapur juga, ada yang
mengatakan bahwa perempuan harus menempuh pendidikan yang oleh orang tuanya
dianggap sesuai dengan kodrat perempuan, dan ada yang berpandangan bahwa
seorang gadis sebaiknya menikah diwaktu muda agar tidak menjadi perawan tua.
Atas dasar nilai dan aturan demikian ada masyarakat yang mengizinkan
perempuan bersekolah tetapi hanya sampai jenjang tertentu saja atau dalam jenis atau
jalur pendidikan tertentu saja.
Sejalan dengan ekspansi pendidikan yang melanda masyarakat dunia sejak
awal abad yang lalu, maka angka partisipasi perempuan dalam segala jenjang dan
kesenjangan kesempatan pendidikan antara laki-laki masih tetap menandai dunia
pendidikan, dan pendidikan bagi semua orang masih merupakan suatu harapan yang
masih jauh dari kenyataan di lapangan.

4
2. Gender dan Pekerjaan.
Apabila orang membahas pekerjaan yang dilakukan oleh perempuan,
mungkin yang dibayangkan hanyalah pekerjaan yang dijumpai di ranah publik:
seperti pabrik dan kantor, pekerjaan dalam perekonomian formal. Orang sering
melupakan bahwa di rumahnyapun perempuan sering melakukan berbagai kegiatan
yang menghasilkan dana seperti melakukan perdagangan eceran, memproduksi atau
memproses hasil pertanian dan sebagainya.
Salah satu masalah yang dihadapi kaum perempuan diberbagai masyarakat
adalah adanya diskriminasi terhadap kaum perempuan (sex discrimination) dibidang
pekerjaan. Kasus ekstrem adalah aturan yang melarang perempuan untuk bekerja di
ranah publik. Ada juga masyarakat yang menerapkan berbagai macam diskriminasi
di bidang pekerjaan seperti dalam hal rekrutmen, pelatihan, magang, atau pemutusan
hubungan kerja.
Suatu bentuk diskriminasi yang sering dialami pekerja perempuan ialah
diskriminasi terhadap orang hamil (pregnancy discrimination), diskriminasi terhadap
orang hamil tersebut dapat berbentuk penolakan untuk mempekerjakannya,
pemutusan hubungan kerja, keharusan cuti dan sanksi lain.
3. Gender dan Penghasilan.
Diberbagai masyarakat lain pekerja laki-laki memperoleh upah lebih tinggi
daripada upah pekerja perempuan walaupun pekerjaan yang dilakukan sama. Gejala
semacam ini dinamakan diskriminasi upah berdasarkan jenis kelamin.
Macionis mencatat bahwa menurut data Departemen Tenaga Kerja AS. 80%
dari pekerjaan yang dinamakannya pekerjaan kerah merah jambu seperti pekerjaan
sekretaris, juru tik, dan stenograf dipegang oleh perempuan. Masalah yang dihadapi
para pekerja perempuan ini adalah bahwa upah yang mereka terima dinilai terlalu
rendah, yang mengakibatkan mereka sering terjerat yang oleh Moore dan Sinclair
(1995) dinamakan perangkap kemiskinan.

2.4 Gender dan Kekuasaan.


1. Gender dan Politik.
Hak perempuan untuk memilih dan dipilih. Kalau selama beberapa
dasawarsa ini telah kita saksikan keikutsertaan kaum perempuan di Negara kita
dalam pemilihan umum untuk memilih anggota DPR, maupun dalam pemilihan

5
untuk memilih kepala desa, maka tentu kita tidak membayangkan bahwa dimasa
dulu kaum perempuan kita mempunyai hak pilih.
Berkat perjuangan mereka semenjak pertengahan abad ke-19, maka sejak
1893 barulah kaum perempuan diberbagai negara Barat mulai meraih hak pilih.
Data yang disajikan Giddens misalnya menunjukkan bahwa antara tahun 1893
dan 1928 hak pilih diraih kaum perempuan di 18 negara di Eropa, Amerika Utara
serta di Australia dan Selandia Baru. Mulai tahun 1929 hak pilih mulai diraih pula
disejumlah negara dikawasan Asia, Afrika, Dan Amerika Latin. Dari data
tersebut nampak pula bahwa di sejumlah Negara Eropa seperti Prancis,
Yugoslavia, dan Yunani kaum perempuan baru mengenal hak pilih setelah
berakhirnya Perang Dunia II.
2. Gender dan Keluarga.
Dalam banyak rumah tangga kita menemukan ketimpangan antara
kekuasaan suami dan istri. Hal itu tidak mengherankan, karena dalam berbagai
masyarakat masih banyak menganut pandangan lama bahwa tempat seorang
perempuan adalah di ruman dan di belakang suaminya.
Para ahli telah menggunakan berbagai indikator untuk mengukur
pembagian kerja dan kekuasaan suami istri dalam rumah tangga. Salah satu cara
adalah merinci pekerjaan rumah tangga apa saja dan dilakukan oleh siapa.

6
BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Gender adalah sebuah hal yang membicarakan tentang bagaimana seorang
wanita dan laki-laki berperan, bukan membicarakan tentang perbedaan jenis
kelamin. Terdapat macam-macam agen penyosialisasian gender antara lain,
kelompok, teman bermain, keluarga dan media massa. Di dalam gender juga
terdapat stratifikasi, stratifikasi dalam gender dibedakan melalui pendidikan,
pekerjaan, penghasilan. Selain itu, ada juga istilah kekuasaan dalam gender yaitu
kekuasaan dalam hal politik dan keluarga.

3.2 Saran
Seharusnya masyarakat lebih memahami tentang gender. Banyak diantara
masyarakat yang masih salah dalam memahami apa yang dimaksudkan dalam
pembahasan gender, mereka masih berpikiran bahwa ketika kita membicarakan
gender kita membicarakan tenanag bagaimana perbedaan jenis kelamin antara
wanita dan laki-laki. Jadi, seharusnya harus ada penyosialisasian lebih tentang
gender.

7
Daftar Pustaka

J.Dwi Narwoko dan Bagong suyanto. 2004. Sosiologi: teks pengantar dan terapan edisi ke-3.
Jakarta: Kencana
Sunarto, Kamanto. 2004. Pengantar sosiologi (edisi revisi). Jakarta: Lembaga Penerbit
Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia.