Anda di halaman 1dari 4

Merdeka.

com - Hari ini, otoritas Bursa Efek Indonesia (BEI) melakukan penghentian
perdagangan sementara atau suspensi terhadap saham anak usaha Bakrie bidang
properti yakni PT Bakrieland Development Tbk (ELTY).
Penghentian ini dilakukan setelah otoritas pasar modal mendapat laporan mengenai
adanya permohonan pailit terkait kewajiban pembayaran utang (PKPU) sebesar USD
155 juta atau setara Rp 1,55 triliun.

Pailit adalah suatu proses di mana seorang peminjam uang atau debitur tidak mampu
lagi membayar kewajiban pembayaran. Keputusan pailit ini dikeluarkan oleh pengadilan
niaga. Paska dinyatakan pailit maka harta debitur dapat dibagikan kepada para pemberi
utang sesuai dengan peraturan perundangan yang berlaku.

Permohonan utang sering terjadi pada dunia usaha sebagai salah satu cara
memperoleh dana segar untuk pengembangan bisnis. Pada bisnis keluarga Bakrie,
pengajuan pailit bukan kali ini saja terjadi.

Tercatat terdapat setidaknya lima perusahaan milik konglomerat Bakrie yang digugat
pailit oleh pemberi pinjaman. Berikut merdeka.com mencoba merangkum kelima
perusahaan tersebut.
CONTOH KASUS

PT Bakrieland Development Tbk (dahulu PT Elang Realty Tbk) (ELTY) didirikan dengan
nama PT Purilestari Indah Pratama pada tanggal 12 Juni 1990 dan memulai kegiatan usaha
komersialnya pada tahun 1990. Kantor pusat ELTY berlokasi di Gedung Wisma Bakrie 1 Lantai 6
dan 7, Jalan H.R. Rasuna Said Kav. B1, Jakarta Selatan.

Berdasarkan Anggaran Dasar Perusahaan, ruang lingkup kegiatan ELTY adalah bergerak
dalam bidang pembangunan, perdagangan dan jasa, termasuk usaha jasa manajemen dan
penyertaan pada Entitas yang berhubungan dengan usaha real estat dan properti, serta dalam
bidang infrastruktur. PT Bakrieland Development Tbk adalah sebuah perusahaan pengembang
kawasan terpadu yang bergerak dalam pembangunan properti dan proyek-proyek terkait
properti di Indonesia, dengan kapitalisasi pasar mencapai Rp. 1,43 Triliun di Bursa Efek Indonesia
Per 31 Desember 2008. Saat ini, ELTY dan anak usaha memiliki properti yang terletak di Jakarta,
Bogor, Malang, Sukabumi, Bekasi, Lampung, Batam, Balikpapan, Tangerang dan Bali.

Pada tanggal 2 september 2013 PT Bakrieland Development Tbk tengah menghadapi


tuntutan hukum dari The Bank of New York Mellon (BNYM) cabang London. BNYM mengajukan
gugatannya ke Pengadilan Niaga Jakarta Pusat. BNYM mengajukan gugatan atas PKPU
(Permohonan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang) sebagai upaya merestrukturisasi utang
yang dipikul perusahaan tersebut. Jika PKPU ini disepakati bersama antara kreditur dan debitur,
restrukturisasi akan terlaksana. Namun sebaliknya, jika kesepakatan gagal dan kreditur tidak bisa
menerima alasan perlunya restrukturisasi utang, debitur akan dinyatakan pailit. Permohonan
PKPU itu sendiri sudah diajukan sejak tanggal 2 September 2013 yang lalu. PKPU ini dilakukan
terkait dengan utang obligasi senilai US$155 juta yang dimiliki Bakrieland. Utang tersebut terbit
tanggal 23 Maret 2010 dengan BNYM sebagai trustee para pemegang obligasi.

Untuk menangani masalah ini, manajemen Bakrieland sudah menyusun coordinating


committee untuk menangani rencana restrukturisasi, berupa rencana perpanjangan utang
selama 3 tahun yang terhitung saat kreditur mengajukan put option (pembayaran lebih awal).
Jika pembicaraan gagal, Bakrieland akan memulai dari awal dan mencicil utangnya. Namun,
pembicaraan kedua pihak hingga akhir Agustus lalu mengalami deadlock. Sebenarnya obligasi
ini akan jatuh tempo 23 Maret 2015 nanti, tetapi Bakrieland memiliki pilihan untuk melunasi
obligasi lebih cepat.

Bank of New York cabang London sendiri adalah trustee bagi pemegang obligasi yang
diterbitkan anak usaha Bakrieland.

Apabila PT Bakrieland Development Tbk melunasi utangnya kepada Bank Of New York.
PT Bakrieland Development Tbk akhirnya menjaminkan tanah seluas 6000 Ha kepada
bondholders. Hal ini dilakukan setelah pihak Bank Of New York meminta pelunasan utang
senilai US$ 115 juta jika dirupiahkan mencapai sekitar Rp. 1,311T yang sebelumnya jatuh
tempo di 2015 medatang dilaksanakan lebih cepat yaitu pada tahun 2013, pada saat itu PT
Bakrieland Development Tbk tidak mampu melunasi utangnya akhirnya Pihak Bakrieland
mengajukan keberatan, dan kemudian dilaksanakan proses negosiasi dalam rangka
restrukturisasi utang dalam jangka waktu 2 bulan kedepan.

Selama proses ini, Bakrieland menyetujui untuk menjaminkan tanah dengan luas
6000Ha di sentul sebagai jaminan atas proses restrukturisasi utang ini. perseroan juga akan
melakukan upaya maksimal untuk menjaga nilai aset ini hingga proses restrukturisasi utang
ini diselesaikan.

Namun pada akhir tahun 2013 PT Bakrieland Development Tbk akhirnya melepas
asetnya yaitu tanah seluas 6000Ha kepada bondholders untuk melunasi hutang kepada
pihak Bank Of New York. Nilai pasar wajar tanah tersebut pada saat pengambil alihan adalah
Rp. 80 Milyar, PT Bakrieland Development Tbk mencatat nilai pemerolehan tanah tersebut
sebesar Rp. 56 Milyar maka jurnalnya adalah;

a) Keuntungan atau kerugian PT Bakrieland Development Tbk atas pelepasan tanah


Nilai pasar wajar tanah Rp. 900.000.000.000
Nilai pemerolehan tanah (Rp. 576.000.000.000)
Keuntungan atas pelepasan tanah Rp. 324.000.000.000
b) Keuntungan atau kerugian PT Bakrieland Development Tbk atas penyelesaian
utang Bank
Nilai utang Bank Rp. 1.311.000.000.000
Nilai pasar wajar tanah yang diserahkan (Rp. 900.000.000.000)
Keuntungan atas penyelesaian utang Rp. 411.000.000.000
c) Ayat jurnal di pihak PT Bakrieland Development Tbk untuk mencatat
penyelesaian utang Bank
Utang Bank 1.311.000.000.000
Tanah 576.000.000.000
Keuntungan atas pelepasan tanah 324.000.000.000
Keuntungan atas penyelesaian utang 411.000.000.000

Dari jurnal diatas maka yang akan dilaporkan pada Laporan Keuangan yaitu;
PT BAKRIELAND DEVELOPMENT Tbk

LAPORAN LABA/RUGI

Per 31 Desember 2013

Laba sebelum pos luar biasa

Pos luar biasa RP. xxx

Keuntungan Atas Restrukturisasi Rp. xxx

Laba Bersih xxx

PT BAKRIELAND DEVELOPMENT Tbk

NERACA

Per 31 Desember 2013

AKTIVA PASSIVA
Hutang:

Hutang jangka pendek:


Hutang usaha Rp. xxx
Hutang bank jangka pendek xxx
Hutang jangka panjang:
Hutang bank Rp. xxx
Total Hutang xxx

Ekuitas: