Anda di halaman 1dari 19

Definisi Penginderaan Jauh :

Penginderaan Jauh atau PJ atau Inderaja, menurut :

1. Lilesand and Keifer


Ilmu, teknik dan seni untuk mendapatkan informasi tentang obyek, wilayah atau gejala dengan cara
menganalisis data yang diperoleh dari suatu alat tanpa berhubungan langsung dengan obyek, wilayah
atau gejala yang sedang dikaji.

2. Lindgren
Teknik yang dikembangkan untuk memperoleh dan menganalisis informasi tentang bumi. Informasi
tersebut berbentuk radiasi elektromagnetik yang dipantulkan dari permukaan bumi.

3. Menurut Sabins
Penginderaan jauh adalah suatu ilmu untuk memperoleh, mengolah dan menginterpretasi citra yang
telah direkam yang berasal dari interaksi antara gelombang elektromagnetik dengan suatu obyek.

Skema Proses Penginderaan Jauh

Komponen Penginderaan Jauh


1. Sumber Tenaga

Sumber tenaga dalam proses inderaja terdiri atas :


Fungsi tenaga adalah untuk menyinari obyek permukaan bumi dan memantulkannya pada sensor
a. Tenaga Alamiah, yaitu sinar matahari
b. Tenaga Buatan, yang berupa gelombang mikro
Jumlah tenaga yang diterima oleh obyek di setiap tempat berbeda-beda, hal ini dipengaruhi oleh beberapa faktor, antara
lain :

Waktu penyinaran, jumlah energi yang diterima oleh obyek pada saat matahari tegak lurus (siang hari) lebih besar
daripada saat posisi miring (sore hari). Makin banyak enegri yang diterima obyek, makin cerah warna obyek tersebut.

Sudut datang sinar matahari mempengaruhi jumlah energi yang diterima bumi
Bentuk permukaan bumi, permukaan bumi yang bertopografi halus dan memiliki warna cerah pada
permukaannya lebih banyakmemantulkan sinar matahari dibandingkan permukaan yang bertopografi kasar dan
berwarna gelap. Sehingga daerah bertopografi halus dan cerah terlihat lebih terang dan jelas
Keadaan Cuaca, kondisi cuaca pada saat pemotretan mempengaruhi kemampuan sumber tenaga dalam memancarkan
dan memantulkan. Misalnya kondisi udara yang berkabut menyebabkan hasil inderaja menjadi tidak begitu jelas atau
bahkan tidak terlihat.

1. Atmosfer
Lapisan udara yang terdiri atas berbagai jenis gas, seperti O2, CO2, nitrogen, hidrogen dan helium. Molekul-molekul gas
yang terdapat di dalam atmosfer tersebut dapat menyerap, memantulkan dan melewatkan radiasi elektromagnetik.

Di dalam inderaja terdapat istilah Jendela Atmosfer, yaitu bagian spektrum elektromagnetik yang dapat mencapai bumi.
Keadaan di atmosfer dapat menjadi penghalang pancaran sumber tenaga yang mencapai ke permukaan bumi.

2. Interaksi antara tenaga dan obyek


Interaksi antara tenaga dan obyek dapat dilihat dari rona yang dihasilkan oleh foto udara. Tiap-tiap obyek memiliki
karakterisitik yang berbeda dalam memantulkan atau memancarkan tenaga ke sensor.
Obyek yang mempunyai daya pantul tinggi akan terilhat cerah pada citra, sedangkan obyek yang daya pantulnya
rendah akan terlihat gelap pada citra.
Contoh : permukaan puncak gunung yang tertutup oleh salju mempunyai daya pantul tinggi yang terlihat lebih cerah,
daripada permukaan puncak gunung yang tertutup oleh lahar dingin.

3. Sensor dan Wahana


a. Sensor
Merupakan alat pemantau yang dipasang pada wahana, baik pesawat maupun satelit. Sensor dapat dibedakan
menjadi dua :
Sensor Fotografik, merekam obyek melalui proses kimiawi. Sensor ini menghasilkan foto. Sensor yang dipasang
pada pesawat menghasilkan citra foto (foto udara), sensor yang dipasang pada satelit menghasilkan citra satelit
(foto satelit)
Sensor Elektronik, bekerja secara elektrik dalam bentuk sinyal. Sinyal elektrik ini direkam dalam pada pita
magnetic yang kemudian dapat diproses menjadi data visual atau data digital dengan menggunakan komputer.
Kemudian lebih dikenal dengan sebutan citra.

4. Wahana
Adalah kendaraan/media yang digunakan untuk membawa sensor guna mendapatkan inderaja. Berdasarkan ketinggian
persedaran dan tempat pemantauannya di angkasa, wahana dapat dibedakan menjadi tiga kelompok :
Pesawat terbang rendah sampai menengah yang ketinggian peredarannya antara 1.000 9.000 meter di atas
permukaan bumi
Pesawat terbang tinggi, yaitu pesawat yang ketinggian peredarannya lebih dari 18.000 meter di atas permukaan bumi
Satelit, wahana yang peredarannya antara 400 km 900 km diluar atmosfer bumi.

Satelit, wahana dengan peredaran di luar angkasa


5. Perolehan Data
Data yang diperoleh dari inderaja ada 2 jenis :
Data manual, didapatkan melalui kegiatan interpretasi citra. Guna melakukan interpretasi citra secara manual
diperlukan alat bantu bernama stereoskop, stereoskop dapat digunakan untuk melihat obyek dalam bentuk tiga
dimensi.

Stereoskop Cermin, salah satu jenis alat yang digunakan untuk melakukan interpretasi citra

Data numerik (digital), diperoleh melalui penggunaan software khusus penginderaan jauh yang diterapkan pada
komputer.

6. Pengguna Data
Pengguna data merupakan komponen akhir yang penting dalam sistem inderaja, yaitu orang atau lembaga yang
memanfaatkan hasil inderaja. Jika tidak ada pengguna, maka data inderaja tidak ada manfaatnya. Salah satu lembaga yang
menggunakan data inderaja misalnya adalah :
Bidang militer
Bidang kependudukan
Bidang pemetaan
Bidang Meteorologi dan Klimatologi
INTERPRETASI CITRA
Interpretasi citra :
adalah kegiatan menafsir, mengkaji, mengidentifikasi, dan mengenali obyek pada citra, selanjutya menilai arti penting dari
obyek tersebut

Kegiatan memperoleh data inderja dari interpretasi citra ini dilakukan dengan menggunakan alat bantu, yaiatu Stereoskop.
Alat ini berfungsi untuk memunculkan gambar 3D dari 2 buah foto udara 2D yang diletakkan secara bertampalan. Dua buah
foto udara tersebut merupakan wilayah yang sama namun sudut pemotretannya berbeda.
Stereoskop Alat yang digunakan untuk melakukan kegiatan Interpretasi Citra

Langkah-langkah umum yang dilakukan untuk memperoleh data penginderaan jauh agar dapat dimanfaatkan oleh berbagai
bidang adalah :
1. Deteksi
Pada tahap ini dilakukan kegiatan mendeteksi obyek yang terekam pada foto udara maupun foto satelit
2. Identifikasi
Mengidentifikai obyek berdasarkan ciri-ciri spektral, spasial dan temporal.
3. Pengenalan
Pengenalan obyek yang dilakukan dengan tujuan untuk mengklasifikasikan obyek yang tampak pada citra berdasarkan
pengetahuan tertentu
4. Analisis
Analisis bertujuan untuk mengelompokkan obyek yang mempunyai ciri-ciri yang sama
5. Deduksi
Merupakan kegiatan pemrosesan citra berdasarkan obyek yang terdapat pada citra ke arah yang lebih khusus.
6. Klasifikasi
Meliputi deskripsi dan pembatasan (deliniasi) dari obyek yang terdapat pada citra
7. Idealisasi
Penyajian data hasil interpretasi citra ke dalam bentuk peta yang siap pakai.

UNSUR-UNSUR INTERPRETASI CITRA


Dalam melakukan kegiatan interpretasi citra, ada beberapa unsur yang digunakan sebagai pedoman dalam melakukan
deteksi, identifikasi untuk mengenali sebuah obyek. Unsur-unsur tersebut jika disusun secara hirarki menurut tingkat
kesulitan interpretasi akan terlihat seperti pada gambar di bawah ini :

Hirarki Interpretasi Citra

A. INTERPRETASI CITRA
Interpretasi citra merupakan kegiatan menaksir, mengkaji, mengidentifikasi, dan mengenali obyek pada citra,
selanjutnya menilai arti penting dari obyek tersebut. Dalam interpretasi citra terdapat dua kegiatan utama yaitu
pengenalan obyek dan pemanfaatan informasi. Langkah-langkah yang biasanya dilakukan untuk memperoleh data
pengindraan jauh adalah menditeksi dan menganalisis obyek pada citra sehingga dapat bermanfaat bagi berbagai citra.
Pengenalan obyek merupakan bagian penting dalam interpretasi citra. Prinsip pengenalan obyek pada citra didasarkan
pada penyelidikan karakteristik obyek yang terdapat pada citra. Berbagai karakteristik untuk mengenali obyek pada citra
disebut unsure interpretasi citra, sebagai berikut:

1. Rona dan Warna


Rona ialah tingkat kegelapan atau tingkat kecerahan obyek pada citra, sedangkan warna ialah wujud yang tampak
oleh mata dengan menggunakan spektrum sempit, lebih sempit dari spektrum tampak.

2. Bentuk
Merupakan variabel kualitatif yang memberikan konfigurasi atau kerangka suatu obyek. Kita bisa adanya objek
stadion sepakbola pada suatu foto udara dari adanya bentuk persegi panjang. demikian pula kita bisa mengenali
gunung api dari bentuknya yang cembung. Sekolahan berbentuk I, L, U, atau kotak.

3. Ukuran
Ukuran merupakan ciri objek yang antara lain berupa jarak, luas, tinggi lereng dan volume. Ukuran objek pada citra
berupa skala, karena itu dalam memanfaatkan ukuran sebagai interpretasi citra, harus selalu diingat
skalanya.. Contoh: Lapangan olah raga sepakbola dicirikan oleh bentuk (segi empat) dan ukuran yang tetap, yakni
sekitar (80 m - 100 m).

4. Tekstur
Tekstur adalah frekwensi perubahan rona pada citra. Ada juga yang mengatakan bahwa tekstur adalah pengulangan
pada rona kelompok objek yang terlalu kecil untuk dibedakan secara individual. Tekstur dinyatakan dengan: kasar,
halus, dan sedang. Misalnya: Hutan bertekstur kasar, belukar bertekstur sedang dan semak bertekstur halus.
5. Pola
Pola atau susunan keruangan merupakan ciri yang menandai bagi banyak objek bentukan manusia dan bagi beberapa
objek alamiah. Contoh:Pola aliran sungai menandai struktur geologis. Pola aliran trelis menandai struktur lipatan.
Permukiman transmigrasi dikenali dengan pola yang teratur, yaitu ukuran rumah dan jaraknya seragam, dan selalu
menghadap ke jalan. Kebun karet, kebun kelapa, kebun kopi mudah dibedakan dari hutan atau vegetasi lainnya
dengan polanya yang teratur, yaitu dari pola serta jarak tanamnya.

6. Bayangan
Bayangan bersifat menyembunyikan detail atau objek yang berada di daerah gelap. Meskipun demikian, bayangan
juga dapat merupakan kunci pengenalan yang penting bagi beberapa objek yang justru dengan adanya bayangan
menjadi lebih jelas.
Contoh: Lereng terjal tampak lebih jelas dengan adanya bayangan, begitu juga cerobong asap dan menara, tampak
lebih jelas dengan adanya bayangan.

7. Situs
Situs adalah letak suatu objek terhadap objek lain di sekitarnya. Misalnya permukiman pada umumnya memanjang
pada pinggir beting pantai, tanggul alam atau sepanjang tepi jalan. Juga persawahan, banyak terdapat di daerah
dataran rendah, dan sebagainya.

8. Asosiasi
Asosiasi adalah keterkaitan antara objek yang satu dengan objek yang lainnya.Contoh: Stasiun kereta api berasosiasi
dengan jalan kereta api yang jumlahnya lebih dari satu (bercabang), bandara berasosiasi dengan bandara.

Unsur Rona dan Warna Pada Interpretasi Citra


Rona dan Warna merupakan unsur interpretasi citra yang digunakan untuk mengenali obyek dengan tingkat kesulitan
termudah. Artinya hanya dengan menggunakan unsur rona dan warna ini maka suatu obyek dalam sebuah citra/foto udara
dapat dikenali.

1. Rona
Rona adalah tingkat kecerahan/kegelapan suatu obyek yang terdapat pada citra. Rona pada foto udara pankromatik
merupakan atribut bagi obyek yang berinteraksi dengan seluruh spektrum tampak yang sering disebut dengan sinar
putih. Rona merupakan tingkatan dari putih ke hitam atau selanjutnya.

Terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi rona pada citra, yaitu:


a. Karakteristik obyek
Karakterisitik obyek yang mempengaruhi rona antara lain :
Permukaan kasar cenderung menimbulkan rona gelap pada citra karena sinar yang datang mengalami hamburan
hingga mengurangi pantulan sinarnya.
Warna obyek yang gelap cenderung menghasilkan rona yang gelap
Obyek yang basah/lembab cenderung menghasilakn rona gelap
Pantulan obyek, misalnya perairan akan menghasilkan rona yang gelap. Sedangkan perbukitan kapur akan
menhasilkan rona yang terang.

b. Bahan yang digunakan


Jenis filem yang digunakan juga mempengaruhi rona pada citra, hal dikarenakan setiap film juga mempunyai dan
kepekaan kualitas tersendiri.

c. Pemrosesan Emulsi
Proses emulsi dapat menghasikan cetakan dengan hasil redup (mat), setengah redup (semi mat) dan cetakan gilap
(glossy). Cetakan glossy menghasilkan rona yang cenderung terang sebaliknya cetakan redup menghasilkan rona yang
cenderung gelap.

d. Cuaca
Kondisi udara di atmosfer dapat menyebabkan citra terlihat memiliki rona yang terang/gelap. Jika kondisi udara di
atmosfer sangat lembab dan berkabut akan menyebabkan rona pada citra cenderung gelap

e. Letak Obyek dan waktu pemotretan


Letak obyek berkaitan dengan lintang dan bujur. Letak lintang menentukan besarnya sudut datang sinar matahari.
Waktu pemotretan juga mempengaruhi sudut datang sinar matahari. Waktu pemotretan pada siang hari cenderung
akan menghasilkan rona yang lebih terang dibandingkan dengan pemotretan pada sore/pagi hari.

2. Warna
Warna adalah ujud tampak mata dengan menggunakan spektrum sempit, lebih sempit dari spektrum tampak. Berbeda
dengan rona yang hanya menyajikan tingkat kegelapan dalam wujud hitam putih, warna menunjukkan tingkat kegelapan
yang lebih beraneka. Contoh penggunaan unsur warna dapat dilihat pada gambar berikut :

Unsur Bentuk Pada Interpretasi Citra


Bentuk merupakan variabel kualitatif yang mencerminkan konfigurasi atau kerangka obyek. Bentuk merupakan atribut yang
jelas dan khas sehingga banyak obyek-obyek di permukaan bumi dapat langsung dikenali pada saat interpretasi citra melalui
unsur bentuk saja.

Ada dua istilah mengenai bentuk, yaitu :

1. Shape (bentuk umum/luar)


Merupakan bentuk secara umum atau dapat dikatakan bentuk sekilas dari suatu obyek. Bentuk umum melihat ciri khas
suatu obyek secara umum, misal :
Gunung dengan type strato berbentuk kerucut jika foto udara yang digunakan berskala kecil.

2. Form (bentuk rinci)


Form merupakan bentuk yang bersifat lebih rinci, maksudnya dalam bentuk umum suatu obyek masih ada bentuknya
yang terlihat lebih rinci, misal :
Jika gunung berapi dengan tipe strato diamati dengan menggunakan foto udara yang berskala lebih besar maka kelihatan
bahwa sebenarnya bentuknya tidak mutlak kerucut, tetapi masih ada bentuk-bentuk lain yang lebih rinci. Contoh bentuk
rinci :

pada lereng gunung tersebut terdapat aliran sungai yang memanjang menuruni lereng.
terdapat patahan-patahan sehingga membentuk puncak-puncak kecil, jurang dan lembah.

Baik bentuk luar maupun bentuk rinci keduanya merupakan unsur interpretasi yang penting. Banyak bentuk yang
mempunyai ciri khas sehingga mempermudah pengenalan obyeknya pada citra. Contoh-contoh obyek yang dapat dikenali
menurut bentuknya misalnya :

1. Gedung sekolah pada umumnya memiliki bentuk seperti huruf I, L, U dan persegi panjang atau kotak.
2. Tajuk pohon palma berbentuk bintang, tajuk pohon kerucut berbentuk kerucut dan tajuk pohohn bambu seperti buu-
bulu.
3. Bekas Meander sungai yang terpotong dapat dikenali sebagai dataran rendah yang berbentuk tapal kuda dan kadang
berisi air yang menjadi danau tapal kuda (danau oxbow).
4. Lapangan sepakbola yang memiliki lintasan lari berbentuk elips, sedangkan yang tidak memiliki lintasan lari akan
berbentuk persegi panjang.
5. Masjid dapat dikenali dari bentuknya yang relatif persegi atau bentuk khas pada kubahnya.

Unsur Ukuran Pada Interpretasi Citra


Ukuran adalah atribut obyek yang meliputi jarak, luas, volume, ketinggian tempat dan kemiringan lereng. Ukuran merupakan
faktor pengenal yang dapat digunakan untuk membedakan obyek-obyek sejenis yang terdapat pada foto udara sehingga
dapat dikatakan bahwa ukuran sangat mencirikan suatu obyek. Obyek pada foto udara dapat diketahui ukurannya dengan
membandingkan dengan skala yang terdapat pada foto udara.
Beberapa obyek yang dapat dikenali dari ukuran-ukuran yang berbeda misalnya :

1. Ukuran bangunan untuk pemukiman memiliki ukuran yang berbeda dengan ukuran bangunan sekolah, perkantoran dan
pabrik. Permukiman pendudukan memiliki ukuran yang lebih kecil dari bangunan sekolah dan perkantoran.
2. Nilai kayu selain ditentukan menurut jenis kayunya juga dapat volumenya. Volume kayu dapat ditaksir dari ketinggian
pohon, diameter batang pohon, luas hutan serta kepadatan pohonnya.
3. Lapangan olahraga selain berbentuk segi empat juga dapat dibedakan dari ukurannya. Misalnya :
- Lapangan sepakbola memiliki ukuran yang luas, sekitar 100 m X 80 m
- Lapangan tenis memiliki ukuran kecil, sekitar 15 m X 30 m
-

Unsur Tekstur Pada Interpretasi Citra


Tekstur adalah frekwensi perubahan rona pada citra, atau pengulangan rona kelompok obyek yang terlalu kecil untuk dapat
dibedakan secara individual. Tekstur seding dinyatakan dengan kasar, belang-belang, sedang dan halus.

Suatu obyek dalam foto udara memiliki perbedaan tekstur dapat dilihat dari :
1. permukaan buminya tidak rata atau tidak
2. keadaaan dan keberadaan obyek lain di atas permukaan bumi misal pepohonan, perairan, permukiman dll.

Beberapa contoh pengenalan obyek berdasarkan teksturnya adalah :


1. Hutan bertekstur kasar, belukar bertekstur sedang dan semak bertektur halus.
2. Lahan kosong bertekstur halus, lahan tebu bertekstur sedang, kumpulan pepohonan bertekstur kasar.
3. Permukaan air yang tenang bertekstur halus, sedikit beriak bertekstur sedang, berombak besar bertekstur kasar.

Unsur Pola Pada Interpretasi Citra


Pola adalah kecenderungan bentuk suatu obyek yang. Tingkat kerumitan pola lebih tinggi dari pada tingkat kerumitan
bentuk, ukuran dan tekstur. Pola atau susunan keruangan merupakan ciri yang menandai bagi banyak obyek bentukan
manusia dan bagi beberapa obyek alamiah.

Beberapa contoh obyek dipermukaan bumi yang dapat dikenali dengan menggunakan unsur pola misalnya :
1. Pola Aliran Sungai
Beberapa contoh pola aliran sungai yang dapat kita amati misalnya :

a. Aliran sungai konsekuen


Adalah sungai yang memeiliki arah aliran yang sesuai dengan kemiringan batuan daerah yang dilewatinya.
Pola aliran sungai konsekuen
b. Aliran sungai radial sentrifugal
Adalah pola aliran sungai dalam bentuk menjari yang arah alirannya meninggalkan titik pusat. Pola aliran sungai ini
biasanya terdapat di daerah vulkan atau puncak yang berbentuk kerucut

Pola Aliran Radial Sentrifugal : arah aliran menjauhi/meninggalkan titik pusat.

c. Aliran sungai radial sentripetal


Adalah pola aliran sungai dalam bentuk menjari yang arah alirannya menuju ke titik pusat. Pola aliran sungai ini
biasanya terdapat di daerah ledokan/basin atau aliran sungai yang masuk ke danau.

Pola Aliran Radial Sentripetal : arah aliran menuju ke titik pusat.

2. Permukiman
Perumahan rakyat yang disediakan khusus oleh suatu proyek baik pemerintah atau swasta memiliki pola yang teratur,
biasanya memiliki jarak dan ukuran seragam. Sedangkan rumah yang di bangun oleh penduduk cenderung memiliki pola
tidak beraturan, dengan bentuk dan jarak yang tidak seragam.

Perumahan Teratur, ukuran dan jarak antar rumah cenderung sama jika dibandingkan dengan perumahan di atasnya.

3. Pola tanam pada tanaman di lahan perkebunan.


Kebun kelapa, kebun karet, kebun kopi, kebun kelapa sawit dapat dibedakan dari hutan atau vegetasi lainnya dengan
polanya yang teratur, yaitu dari pola dan jarak tanamannya.

Perkebunan kelapa sawit terlihat teratur pada pola tanam dan jarak antar tanamannya.

Unsur Bayangan Pada Interpretasi Citra


Bayangan bersifat menyembunyikan detail atau obyek yang berada di daerah gelap. Obyek atau gejala yang terletak di daerah
bayangan biasanya hanya tampak samar-samar atau bahkan tidak tampak sama sekali. Meskipun bayangan membatasi
gambaran penuh suatu obyek pada foto udara, kadang justru menjadi kunci penting dalam interpretasi terutama untuk
mengenali suatu obyek yang justru kelihatan lebih tampak/jelas dengan melihat bayangannya.

Beberapa contoh obyek yang dapat dikenali dari bayangannya misalnya :


1. Jalan layang
Jalan layang dapat dikenali dari posisinya yang lebih tinggi dari jalan lain disekitarnya sehingga pancaran sinar matahari
akan menghasilkan bayangan jalan layang tersebut.

Jembatan layang jelas terlihat dari bayangannya.

2. Jembatan
Jembatan dapat dikenali dari bayangannya yang memotong sebuah sungai.

Bayangan jembatan terlihat pada aliran sungai di bawahnya

3. Tembok stadion dan gawang terlihat lebih tampak dari bayangannya.


4. Cerobong asap, tangki minyak dan bak air.
Cerobong asap, tangki minyak dan bak air yang dipasang pada sebuah pabrik terlihat lebih tinggi dari bayangannya.

5. Menara.
Menara suatu bangunan terlihat jelas dari bayangannya

Menara dan bangunan besar terlihat lebih jelas pada bayangannya

Monumen Nasional (Monas) terlihat lebih jelas pada foto udara karena ada bayangannya yang tampak.

Bayangan Monumen Nasional (monas)

6. Lereng terjal tampak lebih jelas dengan adanya bayangan.


Bayangan yang terbentuk pada suatu obyek sangat dipengaruhi oleh arah datang sinar matahari dan letak lintang.
Apabila pemotretan dilakukan pada pagi hari, bayangan obyek akan terletak di sebelah barat.
Posisi bayangan obyek yang dipotret pada pagi hari dan pada bulan-bulan tertentu di Equator.

Apabila pemotretan dilakukan pada sore hari, bayangan obyek akan terletak di sebelah timur.

Posisi bayangan obyek pada foto udara yang dipotret pada sore hari dan bulan-bulan tertentu di Equator.

Gerak semu matahari juga akan menyebabkan letak bayangan berbeda meskipun sama-sama dipotret pada pagi atau
sore hari. Gerak semu matahari menyebabkan matahari seolah-olah mengalami perpindahan letaknya di garis paralel
bumi pada bulan-bulan tertentu.
Bayangan dapat digunakan untuk menentukan orientasi/arah mata angin pada foto udara.

Unsur Situs Pada Interpretasi Citra


Situs adalah tempat kedudukan suatu obyek dengan obyek lain di sekitarnya. Situs bukan merupakan ciri obyek secara
langsung tetapi dalam kaitannya dengan lingkungan sekitar.

Situs dapat diartikan sebagai berikut :

1. Letak suatu obyek terhadap obyek lain di sekitarnya (Estes dan Simonet, 1975). Van Zuidam menjelaskan pengertian ini
dengan situasi atau situs geografi, yang diartikan sebagai tempat kedudukan atau letak suatu obyek terhadap obyek lain
di sekitarnya. Misal pengaruh letak iklim terhadap interpretasi citra untuk geomorfologi
2. Letak suatu obyek terhadap bentang darat (Estes dan Simonet, 1975), seperti misalnya situs suatu obyek di rawa, di
puncak bukit yang kering dan di sepanjang tepi sungai. Van Zuidam menjelaskan pengertian ini dengan situs topografi,
yaitu letak suatu obyek dengan obyek lain di sekitarnya.

Beberapa contoh kenampakan obyek yang dapat dikenali dengan menggunakan unsur situs misalnya :

Situs permukiman memanjang/linear umumnya sejajar dengan bentukan alam dan budaya tertentu, misalnya :
1. Pola permukiman memanjang sejajar dengan jalan
2. Pola permukiman memanjang sejajar dengan garis pantai
3. Pola permukiman memanjang sejajar dengan sungai

Situs permukiman radial/melingkar biasanya karena mengelilingi suatu bentukan alam/budaya, misalnya :
1. Pola permukiman radial mengelilingi puncak gunung
2. Pola pemukiman radial mengelilingi danau
3. Pola permukiman radial mengelilingi fasilitas pemerintahan dll.

a. Situs kebun kopi terletak di tanah miring karena tanaman kopi menghendaki pengatusan yang baik.
b. Lahan pertanian berpetak dalam bentuk persegi dan cenderung lurus biasanya terdapat di daerah dataran,
sedangkan lahan pertanian dalam bentuk persegi, cenderung membengkok dan berteras-teras biasanya terdapat
di daerah miring.
c. Tajuk pohon yang berbentuk bintang mencirikan pohon palma, bila tumbuhnya menggerombol dan berada di
daerah air payau maka mungkin sekali pohon nipah.

Unsur Asosiasi Pada Interpretasi Citra


Asosiasi diartikan sebagai keterkaitan antara obyek satu dengan obyek lain. Karena adanya keterkaitan itu, maka terlihatnya
suatu obyek sering merupakan petunjuk bagi obyek lain.

Keterkaitan suatu obyek dengan obyek lain dapat dimaksudkan sebagai berikut :
Sebuah obyek A dapat dikenali karena adanya obyek B yang mempunyai kaitan/hubungan dengan obyek A.
Dengan kata lain obyek B merupakan petunjuk bagi obyek A.
Obyek B dapat merupakan bagian dari obyek A, atau merupakan ciri-ciri khusus obyek A.
Obyek B belum tentu ciri-ciri khusus obyek A, tetapi sangat berhubungan dengan obyek A.

Beberapa contoh obyek dalam citra yang dapat dikenali melalui interpretasi mengggunakan unsur asosiasi misalnya :
1. Lapangan Sepakbola
Sebuah obyek dikenali sebagai lapangan sepakbola jika lapangan tersebut memiliki gawang pada dua sisi lapangannya.
Jika tidak terlihat adanya gawang maka obyek tersebut belum tentu merupakan lapangan sepakbola, bisa lapangan lain.
Obyek gawang dapat dikatakan sebagai ciri-ciri khas dari lapangan sepakbola.

2. Stasiun Kereta Api


Sebuah bangunan dengan bentuk memanjang dikenali sebagai stasiun kereta api jika pada sekitar bangunan tersebut
terdapat rel kereta api lebih dari satu jalur. Rel bukan merupakan ciri-ciri bangunan stasiun tetapi sangat
berhubungan dengan keberadaan stasiun.
Selain jumlah rel, bangunan stasiun kereta api dapat juga di asosiasikan dengan adanya gerbong-gerbong yang
diparkir karena belum/tidak beroperasi.

3. Terminal Bis
Sebuah obyek dikenali sebagai terminal bis jika pada lahan bagian dalam terminal tersebut berupa lahan parkir yang
dipenuhi oleh bus/kendaraan angkutan umum. Lahan parkir di bagian dalam merupakan ciri-ciri terminal, sedangkan
bus/angkutan umum yang sedang diparkir bukan ciri-ciri terminal tetapi keduanya sangat berkaitan dengan bangunan
terminal itu sendiri.

4. Bandara/Lapangan Terbang
Sebuah obyek dikenali sebagai bandara/lapangan terbang jika di sekitar landasan terdapat hanggar dan area parkir untuk
pesawat.

5. Bangunan Sekolah
Sebuah bangunan dikenali sebagai sekolah jika di sekitar/dalam kompleks bangunan tersebut memiliki lapangan untuk
kegiatan olahraga seperti lapangan basket, tenis, voli atau badminton.

Konvergensi Bukti Pada Interpretasi Citra


Konvergensi bukti dapat diartikan penggunaan kombinasi unsur-unsur interpretasi sebagai pengumpulan dan pemilahan
bukti untuk menyimpulkan suatu obyek yang terdapat pada citra.

Di dalam mengenali obyek pada citra hendaknya tidak hanya menggunakan satu unsur interpretasi saja, tetapi dianjurkan
untuk menggunakan unsur sebanyak mungkin. Semakin banyak menggunakan kombinasi unsur-unsur interpretasi, semakin
menciut lingkupnya ke arah titik simpul tertentu. Jadi konvergensi bukti dapat pula dikatakan sebagai bukti-bukti yang
mengarah pada simpul-simpul tertentu.

Salah satu contoh penerapan konvergensi bukti dalam mengenali obyek pada citra misalnya dalam mengenali pohon.

Unsur-unsur yang digunakan dalam identifikasi misalnya :


1. Bentuk
Pada sebuah citra terlihat kumpulan pepohonan dengan bentuk tajuknya seperti bintang. Dengan melihat bentuk tajuk
dapat diidentifikasi pohon tersebut adalah pohon jenis palme, tetapi ini masih belum rinci karena pohon jenis palma
banyak contohnya misalnya kelapa, kelapa sawit, sagu, enau dan nipah

2. Pola
Dengan menambahkan unsur pola maka dari hasil pengamatan diketahui pohon tersebut memiliki pola tanam yang tidak
teratur. Dari kelima jenis pohon yang disebutkan tadi kemudian diklasifikasi :
Kelapa sawit dan kelapa mempunyai pola tanam yang teratur karena kedua tanaman ini banyak dibudidayakan oleh
manusia.
Enau, sagu dan nipah mempunyai pola yang tidak teratur karena pohon ini banyak yang tumbuh secara alamiah dan
tidak dibudidayakan oleh manusia

Dari data tersebut makan identifikasi mengerucut pada pohon sagu, enau dan nipah saja

3. Ukuran
Penggunaan unsur ukuran digunakan untuk melihat berap tinggi pohon tersebut melalui interpretasi citra. Jika pohon
yang terdapat pada citra mempunyai tinggi 10 meter atau lebih maka kemungkinannya tinggal 2 yaitu pohon nipah dan
sagu.

4. Situs
Penggunaan unsur situs digunakan untuk mengamati lingkungan sekitar pohon tersebut. Jika dari hasil pengamatan
diketahui pohon tersebut terdapat di daerah bertanah becek dan berair payau, maka kemungkinan obyek tersebut
menciut ke satu titik simpul. Tumbuhan tersebut tidak lain adalah sagu, karena enau merupakan tumbuhan darat yang
tidak terdapat di daerah air payau.

Manfaat Penginderaan Jauh


Tujuan utama dari penginderaan jauh adalah untuk mengumpulkan data seumber daya alam dan lingkungan. Penginderaan
jauh makin banyak dimanfaatkan karena berbagai macam alasan sebagai berikut :
Citra dapat dibuat secara cepat meskipun pada daerah yang sulit ditempuh melalui daratan, contohnya hutan, rawa
danpegunungan.
Citra menggambarkan obyek dipermukaan bumi dengan wujud dan letak objek mirip dengan sebenarnya, gambar relatif
lengkap, liputan daerah yang luas dan sifat gambar yang permanen
Citra tertentu dapat memberikan gambar tiga dimensi jika dilihat dengan menggunakan stereoskop. Gambar tiga dimensi
itu sangat menguntungkan karena menjyajikan model obyek yang jelas, relief lebih jelas, memungkinkan pengukuran
beda tinggi, pengukuran lereng dan pengukuran volume.
Citra dapat menggambarkan benda yang tidak tampak sehingga dimungkinkan pengenalan obyeknya. Sebagai contoh
adalah terjadinya kebocoran pipa bawah tanah.
Citra sebagai satu-satunya cara untuk pemetaan daerah bencana.
Inderaja memiliki peran yang sangat besar dalam sistem informasi data dan pengelolaannya. Peran tersebut antara
lainuntuk mendeteksi perubahan data dan pengembangan model di berbagai kepentingan.

Penerapan Teknologi Inderaja Di Bidang Kependudukan


Pengeinderaan jauh menghasilkan data yang ringkas tentang lingkungan yan berkenaan dengan bumi. Salah satu aplikasi
yang nyata dari pemanfaatan hasil pengeinderaan jauh dalam bidang kependudukan adalah untuk memetakan distribusi
spasial penduduk.

Selain pemetaan distribusi spasial kependudukan, data inderaja juga dapat dimanfaatkan untuk meneliti dampak keberadaan
manusia dalam lingkungan hidup.

Oleh karena ukuran penduduk terlalu kecil, pola distribusinya hanya dapat diinterpretasi secara tidak langsung, yaitu
berdasarkan pola permukiman penduduk atau bukti lain yang tampak. Pola permukiman penduduk itu sendiri dapat
diketahui dengan menginterpretasikan bentuk lahan dan penggunaanya.

Penerapan Teknologi Inderaja Di Bidang Meteorologi dan Klimatologi


Pemanfaatan aplikasi penginderaan jauh untuk bidang meteorologi dan klimatologi memiliki acuan yang sangat luas. Data
yang dihasilkan oleh inderaja penting untuk diterapkan guna mengetahui keadaan lingkungan atmosfer. Guna memperoleh
data lingkungan tentang atmosfer melalui inderaja, wahana yang diperlukan adalah satelit. Di antara satelit-satelit yang
digunakan untuk informasi lingkungan atmosfer misalnya Synchronous Meteoroligical Satellite (SMS) yang diluncurkan pada
tanggal 17 Mei 1974. Generasi ke-tiga dari satelit tersebut diganti namanya menjadi Geosyncronous Operational
Environment Satellite (GOES) yang diluncurkan pada 16 Oktober 1975.

Aplikasi penginderaan jauh untuk bidang meteorologi dan klimatologi antara lain sebagai berikut :
Melakukan perekaman terhadap pola awan guna mengetahui bidang pergerakan tekanan udara.
Melakukan perekaman terhadap tingkat per-awanan dan kandungan air di udara untuk mengetahui keadaaan cuaca dan
iklim.

Penerapan Teknologi Inderaja Di Bidang Pemetaan


Pemanfaatan foto udara/citra hasil penginderaan untuk kegiatan pemetaan merupakan kegiatan yang umum dilakukan pada
saat sekarang. Kegiatan pemetaan menggunakan foto udara lebih mudah dilakukan daripada pemetaan secara manual.
Beberapa keunggulan pemetaan menggunakan teknologi inderaja antara lain :
Hasil inderaja dapat digunakan untuk memetakan daerah yang sangat luas dengan cepat, pemetaan manual biasanya
hanya digunakan untuk memetakan daerah yang sangat sempit.
Berbiaya lebih murah.
Dapat memetakan bermacam-macam peta tematik sekaligus
Proses pembuatan lebih cepat

Salah satu contoh pemanfaatan teknologi inderaja untuk kegiatan di bidang pemetaan misalnya untuk pemetaan daerah
rawan genangan air di wilayah Jakarta. Untuk membuat peta ini diperlukan lebih dahulu foto udara wilayah Jakarta untuk di
interpretasi lebih lanjut.

Tahapan dalam pemetaan menggunakan hasil inderaja ini dengan membuat pola dengan menggunakan data inderaja yang di
awali dengan penggabungan foto udara dalam bentuk mozaik guna membatasi wilayah yang akan dipetakan.

Dari foto udara wilayah Jakarta misalnya di interpretasi pada tempat-tempat yang :
Memiliki ketinggian lebih rendah/sama dari permukaan air laut.
Berbentuk cekungan/basin.
Terletak di bantaran/pinggiran sungai.
Permukiman padat
Tidak memiliki lahan terbuka.
Tidak memiliki daerah resapan air

Wilayah yang diinterpretasi tersebut kemudian dideliniasi untuk membedakan dengan wilayah yang tidak rawan tergenang.
Hasil deliniasi kemudian dapat dibuat dan diproses lebih lanjut menjadi peta daerah rawan genangan air.

Teknik Interpretasi Citra


Teknik Interpretasi Citra adalah cara-cara khusus untuk melaksanakan metode penginderaan jauh secara ilmiah. Teknik ini
terdiri atas cara-cara interpretasi dengan mempertimbangkan kemudahan pelaksanaan interpretasi, akurasi hasil
interpretasi atau jumlah informasi yang diperoleh.

Cara-cara interpretasi citra terdiri atas :


1. Data Acuan
Merupakan kumpulan data pendukung untuk kegiatan interpretasi. Data ini bersifat melengkapi data yang terdapat pada
citra. Contoh data acuan ini dapat berupa :
Data pustaka/kepustakaan
Peta
Hasil kerja lapangan dll

Data acuan berguna untuk membantu proses interpretasi, analisis dan verifikasi hasilnya.

2. Kunci Interpretasi
Kunci interpretasi pada citra umumnya berupa potongan citra yang telah di interpretasi, diyakinkan kebenarannya, dan
diberi keterangan berupa jenis obyek yang digambarkan, unsur interpretasi, serta keterangan tentang citra meliputi :
jenis citra yang digunakan
skala citra
waktu perekaman
lokasi yang diinterpretasi

3. Penanganan Data
Data yang tersimpan dalam citra perlu dijaga agar tidak menimbulkan goresan atau terhapus, sehingga perlu penanganan
yang hati-hati pada setiap citra.

4. Pengamatan Stereoskopis
Adalah suatu kegiatan menafsir citra dengan menggunakan alat bantu yang dinamakan stereoskop. Salah satu syarat
dapat dilakukan pengamatan stereoskopis adalah adanya daerah yang bertampalan pada sebuah foto udara. Pengamatan
stereoskopis pada citra yang bertampalan akan menimbulkan gambaran tiga dimensi. Jenis citra yang umum untuk
pengamatan stereoskopis adalah foto udara.

5. Metode Pengkajian
Adalah suatu cara yang bersistem dalam menelaah atau melakukan penyelidikan terhadap obyek.

6. Penerapan Konsep
Data inderaja diperoleh dengan menerapkan konsep multi, yang terdiri atas konsep multispektrum, multitingkat,
multitemporal, multiarah, multipolarisasi dan multidisiplin.

Data Acuan Pada Interpretasi Citra


Citra menyajikan gambaran yang lengkap miri dengan wujud dan letak sebenarnya. Akan tetapi dalam melakukan
interpretasi suatu obyek/fenomena / gejala pada citra masih diperlukan data lain yang lebih meyakinkan hasil interpretasi.
Data yang diperoleh selain dari kegiatan interpretasi ini disebut dengan data acuan. Data acuan pada kegiatan interpretasi
citra digunakan untuk membantu proses interpretasi, analisis dan verifikasi

Data acuan dapat berupa :


Data kepustakaan
Data peta
Data statistik
Data hasil kerja lapangan dan lain-lain
Meskipun citra menyajikan gambaran lengkap, pada umumnya masih perlu dilakukan kegiatan lapangan (observasi ).
Observasi dilakukan untuk menguji atau meyakinkan kebenaran hasil interpretasi yang telah dilakukan. Observasi atau uji
medan (field check) perlu dilakukan terutama pada tempat-tempat yang interpretasinya meragukan.

Hasil interpretasi yang memerlukan uji medan antara lain dipengaruhi oelh faktor-faktor berikut :
Kualitas citra meliputi skala, resolusi dan informasi yang harus diinterpretasi
Jenis Interpretasi atau analisisnya
Tingkat ketelitian yang diharapkan
Pengalaman dan pengetahuan pengguna dalam melakukan interpretasi
Kondisi medan
Ketersediaan data acuan

Kunci Interpretasi
Kunci interpretasi citra pada umunya dapat berupa potongan citra yang telah diinterpretasi, diyakinkan kebenarannya, dan
diberi keterangan sebelumnya. Keterangan pada kunci interpretasi ini dapat berupa :
Jenis obyek yang digambarkan
Unsur interpretasi yang digunakan
Keterangan tentang citra meliputi jenis, skala, waktu pemotretan dan lokasi daerahnya

Atas dasar ruang lingkupnya kunci interpretasi terdiri dari :


1. Kunci Individual (item key)
Adalah kunci interpretasi citra yang digunakan untuk obyek individual. Misalnya rumah.
2. Kunci Subyek (subject key)
Adalah kunci interpretasi citra yang digunakan untuk identifikasi obyek-obyek atau kondisi penting dalam suatu
subyek/kategori tertentu. Misalnya perumahan penduduk, perumahan umum.

3. Kunci Regional (regional key)


Adalah himpunan kunci individu atau kunci subyek untuk identifikasi obyek-obyek atau wilayah tertentu. Misalnya
wilayah administratif dan daerah aliran sungai (DAS)

4. Kunci Analog (analogue key)


Adalah kunci subyek atau kunci regional suatu daerah yang tidak terjangkau secara terestrial, tetapi dipersiapkan untuk
daerah lain yang serupa. Misalnya hutan Hutan di Kalimantan untuk interpretasi hutan Papua. Namun cara ini tidak
dianjurkan kecuali untuk keadaan darurat.

Atas dasar lainnya terdiri dari :


1. Kunci Langsung (direct key)
Adalah kunci interpretasi yang disiapkan untuk obyek atau kondisi yang tampak langsung. Misalnya bentuk lahan, pola
aliran permukaan.

2. Kunci Asosiatif (associative key)


Adalah kunci interpretasi yang digunakan untuk deduksi informasi yang tidak tampak langsung pada citra. Misalnya
tingkat bahaya erosi dan penaksiran jumlah penduduk.

Penanganan Data Interpretasi Citra


Penanganan Data Interpretasi Citra (data handling) :

Cara yang digunakan untuk mengelola hasil interpretasi penginderaan jauh. Data hasil interpretasi penginderaan jauh dapat
berupa :
1. Potongan-potongan citra yang diinterpretasi
2. Kertas/plastik transparansi yang digunakan untuk interpretasi

Tujuan dari penanganan data interpretasi citra adalah untuk memelihara citra atau plastik transparansi agar tidak tergores
atau bahkan mengalami kerusakan sehingga menyebabkan citra tersebut tidak dapat digunakan lagi untuk kegiatan
interpretasi.

Cara penanganan data (data handling) interpretasi citra misalnya :


1. Menyusun citra tiap satuan perekaman atau pemotretan secara numerik dan menghadap ke atas
2. Mengurutkan tumpukan citra sesuai dengan urutan interpretasi yang akan dilaksanakan dan memberikan penyekat di
antaranya
3. Meletakkan tumpukan citra hingga membentuk jalur terbang membentang dari arah kiri ke kanan terhadap pengamat
4. Meletakkan citra yang akan digunakan sebagai pembanding di sebelah citra yang akan diinterpretasi
5. Pada saat citra dikaji, tumpukkan menghadap ke bawah dalam urutannya

Pengamatan Stereoskopis
Pengamatan Stereoskopis
Adalah suatu kegiatan interpretasi citra/ foto udara dengan menggunakan alat bantu yang bernama stereoskop. Pada
kegiatan pengamatan ini stereoskop berfungsi untuk menampilkan gambar 3 dimensi.

Gambar 3 dimesi dari citra yang diinterpretasi akan memudahkan pengamatan. Bidang 3 dimensi menunjukkan obyek yang
mempunyai unsur ukuran lebar, panjang dan tinggi. Bidang 3 dimensi memungkinkan dilakukan pengamatan terhadap beda
tinggi dan kemiringan lereng suatu obyek.
Foto udara pada umumnya lebih banyak menampilan gambar 2 dimensi, terutama pada foto udara tegaklurus. Untuk dapat
menampilkan bentuk 3 dimensi dari foto udara yang diamati, ada beberapa syarat yang harus dipenuhi yaitu :
1. Terdapat daerah bertampalan pada foto udara. Setiap foto udara/citra yang akan diinterpretasi harus merupakan foto
udara/citra yang berurutan garis terbangnya dan mempunyai daerah tampalan (pada foto 1 ada sebagian wilayah yang
sama dengan foto 2)
2. Untuk dapat diinterpretasi dengan jelas maka lebar daerah yang bertampalan kira-kira 1/3 2/3 dalam sebuah
foto/citra.

Prinsip kerja stereoskop adalah sebagai berikut :


1. Mata 1 (mata kanan) mengamati citra sebelah kanan
2. Mata 2 (mata kiri) mengamati citra sebelah kiri
3. Stereoskop menyatukan daerah bertampalan sehingga seolah-olah hanya mengamati 1 citra saja
4. Daerah bertampalan menghasilkan gambar 3 dimensi yang dapat digunakan untuk mengamati unsur ketinggian dan
kemiringan.

Konsep Multi Pada Kegiatan Interpretasi Citra


Konsep multi adalah cara memperoleh data dan menganalisis penginderaan jauh yang meliputi 6 konsep, yaitu :

1. Multi Spektrum
Merupakan cara memperoleh dan menganalisis data penginderaan jauh dengan memanfaatkan banyaknya warna.

2. Multi Tingkat
Merupakan cara memperoleh dan menganalisis data penginderaan jauh dengan memanfaatkan perbedaan
ketinggian terbang atau orbit wahana pada saat melakukan inderaja

3. Multi Polarisasi
Merupakan cara memperoleh dan menganalisis data inderaja dengan memanfaatkan bidang obyek yang terekam
oleh sensor, apakah mengikuti bidang horisontal atau vertikal

4. Multi Arah
Merupakan cara memperoleh dan menganalisis data penginderaan jauah dengan memanfaatkan sensor yang dapat
diatur ke segala arah untuk meningkatkan kemampuan pengadaan data inderaja, terutama di daerah tropik yang
banyak tertutup awan.

5. Multi Temporal
Merupakan cara memperoleh dan menganalisis data penginderaan jauh dengan memanfaatkan waktu perekaman
yang berbeda. Obyek yang tergambar dalam citra menggambarkan kondisi dan waktu perekaman yang berbeda-
beda.

6. Multi Disiplin
Data yang terdapat dalam citra dapat dimanfaatkan oleh berbagai bidang keilmuan.

Metode Pengkajian Interpretasi Citra


Pekerjaan Interpretasi Citra dimulai dari kegiatan mengkaji suatu obyek pada citra sesuai dengan tujuan interpretasi.

Metode Pengkajian :
Suatu cara bersistem dalam menelaah atau melakukan penyelidikan terhadap obyek pada citra.
Kegiatan Interpretasi citra mengikuti metode tertentu yaitu :

Pengamatan mulai dari obyek umum ke obyek khusus


Pengamatan mulai dari obyek yang sudah diketahui ke obyek yang belum diketahui.

Metode pengkajian dalam kegiatan interpretasi citra secara umum menggunakan 2 macam metode, antara lain :
1. Fishing Expedition
Metode pengkajian obyek pada citra dengan cara melakukan pengamatan ke seluruh wilayah dan disertai dengan
pengambilan data. Kegiatan ini mirip dengan orang yang memancing, seluruh daerah perairan dijelajahi untuk mencari
ada tidaknya ikan. Sehingga metode ini kemudian disebut dengan metode Fishing Expedition atau Ekspedisi
Memancing

2. Logical Search
Pada metode ini pengamatan terhadap seluruh wilayah pada citra dilakukan tetapi pengambilan data hanya dilakukan
secara selektif pada daerah-daerah tertentu yang sesuai dengan tujuan interpretasi.

Citra Penginderaan Jauh


Citra :gambaran suatu gejala atau objek hasil rekaman dari sebuah sensor, baik dengan cara optik, elektrooptik maupun
elektronik.

Citra merupakan salah satu jenis data hasil penginderaan jauh yang berupa data visual/gambar. Citra sering disebut dengan
Image atau Imagery. Hasil penginderaan jauh selain citra misalnya adalah data digital atau data angka/numerik.

Citra dibedakan menjadi 2 jenis, yaitu :


1. Citra Foto (photographic image)
yaitu citra yang yang dihasilkan dari perekaman obyek di permukaan bumi yang menggunakan sensor kamera fotografik.
2. Citra Nonfoto (nonphotographic image)
yaitu citra yang dihasilkan dari perekaman obyek di permukaan bumi yang menggunakan sensor nonkamera yang
merekam dengan cara memindai/scanning

Beberapa perbedaan antara citra foto dengan cira nonfoto antara lain :

No Variabel pembeda Citra Foto Citra Non Foto

1 Sensor Kamera - Non kamera, atas


dasar pemindaian-
Kamera yang
detektornya bukan
film

2 Detektor Film Pita magentik,


termistor, foto
konduktif, foto
voltaik

3 Proses perekaman Fotografik/kimiawi Elektronik

4 Mekanisme Serentak Parsial


perekaman

5 Spektrum Tampak dan Tampak


Elektromagnetik perluasannya perluasannya, termal
serta gelombang
mikro

CITRA FOTO HASIL PENGINDERAAN JAUH


Citra Foto
adalah gambaran suatu gejala di permukaan bumi sebagai hasil pemotretan/perekaman menggunakan kamera.

Cita foto dibedakan atas dasar spektrum elektromagnetik yang digunakan, posisi sumbu kamera, sudut lipatan kamera, jenis
kamera, warna yang digunakan, dan sistem wahananya.

A. Citra foto berdasarkan warna yang digunakan


1. Citra Foto Warna Asli

2. Citra Foto Warna Semu

B. Citra foto berdasarkan posisi sumbu kamera


a. Citra Foto Vertikal, yaitu citra foto yang dibuat dengan posisi sumbu tegak lurus terhadap permukaan bumi
b. Citra Foto Condong, yaitu citra foto yang dibuat dengan posisi sumbu kamera miring, dengan sudut kemiringan
kamera lebih dari 100. Adadua jenis foto condong yaitu :
- Citra foto agak condong, yaitu jika cakrawala tidak tergambar pada foto
- Citra foto sangat condong, yaitu jika cakrawala tergambar pada foto.

C. Citra foto berdasarkan sudut lipatan kamera


Jenis kamera Sudut Liputan Jenis Foto

Sudut kecil(narrow angle) < 600 Sudut kecil

Sudut normal(normal angle) 600 750 Sudut normal/sudut standar

Sudut lebar(wide angle) 750 1000 Sudut lebar

Sudut sangat lebar(super-


> 1000 Sudut sangat lebar
wide angle)

D. Citra foto berdasarkan jenis kamera yang digunakan


a. Citra foto tunggal, citra foto yang dibuat dengan kamera tunggal
b. Citra foto jamak, citra foto yang dibuat pada saat yang sama dan menggambarkan obyek liputan yang sama. Foto
jamak dapat dibuat dengan 3 cara :
Multikamera, menggunakan beberapa kamera yang diarahkan secara bersamaan ke satu obyek.
Multilensa, menggunakan satu kamera yang memiliki banyak lensa
Kamera tunggal berlensa tunggal dengan pengurai warna

E. Citra foto berdasarkan sistem wahananya

a. Citra Foto Udara, yaitu citra foto yang dibuat dengan menggunakan wahan yang bergerak di udara misalnya pesawat
terbang, helikopter dll
b. Citra Foto Satelit, yaitu citra foto yang dibuat dengan menggunakan wahana satelit yang bergerak di luar angkasa.

F. Citra foto berdasarkan Spektrum Elektromagnetik yang digunakan


a. Citra Foto Ultraviolet, yaitu citra foto yang dibuat dengan menggunakan spektrum Ultraviolet
b. Citra Foto Otokromatik, yaitu citra foto yang dibuat dengan menggunakan spektrum tampak dari warna biru hingga
sebagian warna hijau
c. Citra Foto Pankromatik, yaitu cira foto yang dibuat dengan menggunakan seluruh spektrum tampak
d. Citra Foto Inframerah Asli, yaitu citra foto yang dibuat dengan menggunakan spektrum infamerah
e. Citra Foto Inframerah Modifikasi, yaitu citra foto yang dibuat dengan menggunakan spektrum inframerah dan
sebagian spektrum tampak dari warna merah dan sebagian hijau.

Citra Nonfoto Hasil Penginderaan Jauh


adalah gambar atau citra tentang suatu obyek dipermukaan bumi yang dihasilkan oleh sensor bukan kamera dengan cara
memindai (scanning).

Prinsip memindai adalah merekam obyek di permukaan bumi dengan mekanisme parsial. Obyek dipermukaan bumi terbagi
dalam sub area berupa garis yang membentuk area seluruhnya. Mekanisme perekaman baris perbaris pada sub area inilah
yang di sebut perekaman secara parsial.

Citra Nonfoto dibedakan atas dasar :

1. Citra Nonfoto berdasarkan spektrum elektromagnetik yang digunakan


a. Citra Radar
Citra yang dibuat dengan menggunakan spektrum gelombang mikro dan sumber tenaga buatan
b. Citra Inframerah Termal
Citra yang dibuat dengan menggunakan spektrum inframerah termal
c. Citra Gelombang Mikro
Citra yang dibuat dengan menggunakan spektrum gelombang mikro

2. Citra Nonfoto berdasarkan sensor yang digunakan


a. Citra Tunggal
Citra yang dibuat dengan menggunakan sensor tunggal
b. Citra Multispektral
Citra yang dibuat dengan menggunakan sensor saluran jamak

3. Citra Nonfoto berdasarkan wahana yang digunakan


a. Citra Dirgantara
Citra yang dibuat dengan menggunakan wahana yang beroperasi di udara atau dirgantara
b. Citra Satelit
Citra yang dibuat dengan menggunakan wahana yang beroperasi di antariksa/luar angkasa.

Manfaat Citra Penginderaan Jauh


1. Dibidang meteorologi, citra dapat dugunakan untuk membantu menganalisis cuaca dan peramalan /prediksi dengan
menentukan daerah bertekanan tinggi , daerah bertekenan rendah, darah hujan, daerah badai siklon, dan lain-lain.
2. Dibidang hidrologi, citra dapat digunakan untuk membantu menganalisis perairan darat sehingga memudahkan
perencanaan penggunaan daerah sehubungan dengan ketersediaan air.
3. Karena memberikan informasi tentang keadaan lahan, citra dapat digunakan untuk membantu perencanaan tata guna
tanah, misalnya untuk pemukiman, perindustrian, areal pertanian, areal hutan.
4. Melalui jenis citra tertentu dan dengan menggunakan stereoskop, dari citra itu, dapat diperoleh gambaran 3 dimensi.
Gambaran ini sangat menguntungkan dlam berbagai hal, antara lain :
Menyajikan model medan secara jelas
Keadaan relief lebih jelas
Memungkinkan pengukuran perbedaan ketinggian tempat
Memungkinkan volume benda yang ada, misalnya volume kayu
Memungkinkan pengukuran lereng guna menentukan kelas lahan.

5. Karekteristik objek yang todak tampak dimungkinkan dapat dikenali berdasarkan perbedaan suhu, misalnya objek yang
direkam dengan cara inframerah termal.
6. Citra dapat memberi petunjuk untuk pemetaan daerah bencana alam secara cepat pada saat terjadi bencana, misalnya
pemetaan, daerah gempa bumi, daerah banjir, daerah yang terkena angin ribut /letusan gunung berapi.
7. Citra merupakan alat yang baik untuk memantau perubahan yang terjadi di suatu daerah , seperti pembukaan hutan,
pemekaran kota, perubahan kualitas lingkungan.
8. Citra juga dapat digunakan utnu meramalkan keadaan dimasa yang akan datang dan sekaligus untuk mencegah
kemungkinan-kemungkinan kejadian dimasa-masa mendatang.
9. Bagi para peneliti, khususnya peneliti dibidang geografi sehingga memudahkan untuk embuat suatu hubungan antara
fenomena yang satu dengan fenomena yang lain serta mengambil suatu keputusan. Selain itu, citra juga dapat digunakan
untuk menjelaskan keruangan baik secara parsial maupun secara kompleks.

D. Keunggulan citra penginderaan jauh


1. Citra dapat dibuat secara cepat walaupun link daerah sulit dijelajahi. Hal ini sangat penting untuk pemetaan suatu
daerah. Jika dilakukan secara manual, pemetaan itu memerlukan waktu + 50 tahun. Misalnya dengan citra sangat
dimungkinkan selesai dalam waktu satu tahun.
2. Daerah jangkauan sangat luas.
3. Dengan demikian, citra dapat menghemat tenaga dan biaya
4. Ketelitian citra dapat dihandalkan, khususnya daerah terestrial/daratan.

Tujuan utama penginderaan jauh adalah merekam obyek untuk mengumpulkan data sumberdaya alam dan lingkungan.
A. Alasan pemanfaatan citra penginderaan jauh.
Pengindraan jauh banyak dimanfaatkan dalam kehidupan sehari-hari, antara lain karena alasan berikut:
1. citra mengambarka obyek di permukaan bumi dengan wujud dan letak obyek mirip sebenarnya, gambar relative
lengkap, liputan daerah yang luas, dan sifat gambar yang permanent.
2. citra tertentu dapat memberikan gambar tiga dimensi jika dilihat dengan menggunakan stereoskop. Gambar tiga
dimensi sangat menguntungkan antara lain karena menyajian model medan/obyek yang jelas, relief lebih jelas,
memungkinkan pengukuran lereng dan volume.
3. citra dapat menggambarkan benda yang tidak tampak sehingga dimungkinkan pengenalan obyeknya. Sebagai
contoh terjadinya kebocoran pipa bawah tanah.
4. citra dapat dibuat secara cepat meskipun pada daerah yang sulit di tempuh melalui daratan misalnya daerah rawa,
hutan , dan pegunungan.
5. citra merupakan satu-satunya cara un tuk pemetaan daerah rawan bencana.

Tujuan utama penginderaan jauh adalah merekam obyek untuk mengumpulkan data sumberdaya alam dan lingkungan.
A. Alasan pemanfaatan citra penginderaan jauh.
Pengindraan jauh banyak dimanfaatkan dalam kehidupan sehari-hari, antara lain karena alasan berikut:
1. citra mengambarka obyek di permukaan bumi dengan wujud dan letak obyek mirip sebenarnya, gambar relative
lengkap, liputan daerah yang luas, dan sifat gambar yang permanent.
2. citra tertentu dapat memberikan gambar tiga dimensi jika dilihat dengan menggunakan stereoskop. Gambar tiga
dimensi sangat menguntungkan antara lain karena menyajian model medan/obyek yang jelas, relief lebih jelas,
memungkinkan pengukuran lereng dan volume.
3. citra dapat menggambarkan benda yang tidak tampak sehingga dimungkinkan pengenalan obyeknya. Sebagai
contoh terjadinya kebocoran pipa bawah tanah.
4. citra dapat dibuat secara cepat meskipun pada daerah yang sulit di tempuh melalui daratan misalnya daerah rawa,
hutan , dan pegunungan.
5. citra merupakan satu-satunya cara un tuk pemetaan daerah rawan bencana.

B. Contoh Pemanfaatan Citra Penginderaan Jauh


Pemanfaatan citra penginderaan jauh tergantung pada manusia sebagai pengguna yang mengolah data dari citra, baik
citra foto maupun nonfoto yang dihasilkan dan tujuan pengolahan datanya.
1. Citra Foto
Foto Pankromatik Hitam Putih
Film pankromatik peka terhadap panjang gelombang 0,36 m 0,72 m), kepekaannya hamper sama dengan mata
manusiakarena kesan ronanya sama dengan mata yang memandang obyek aslinya. Keunggulan foto pankromatik
hitam putih menurut Cowell dan Lo (1976), adalah:

1) Kesan rona obyek serupa dengankesan mata yang memandang


2) Resolusi spasialnya halus, sehingga memungkinkan pengenalan obyek yang berukuran kecil dikarenakan tenaga
kuantum yang besarpada panjang gelombangnya.
3) Stabilitas dimensionalnya tinggi, karena pemotretannya dilakukan dengan menggunakan kamera metric..
4) Film pankromatik hitam putih telah lama dikembangkan sehingga orang telah terbiasa menggunakannya.

Penggunaan foto pankromatik hitam putih:


- Foto udara skala 1:15.000-1:40.000 sebagai dasar pemetaan tanah di AS.
- Di bidang kehutanan foto udara pankromatik banyak digunakan untuk identifikasi spesies pohon, perkiraan kayu,
dan luas perkembangan hutan, pada foto udara skala 1:600, hamper semua spesies dapat diikenali berdasarkan
karakteristik morfologinya.
- Terapannya untuk sumberdaya air antara lain untuk mendeteksi pencemaran air, evaluasi kerusakan oleh banjir,
agihan air permukaan,dll.
- Terapannya dalam perencanaan kota dan wilayah, foto udara digunakan untuk penafsiran jumlah dan agihan
penduduk, studi lalulintas, studi kualitas permukiman, jalur transportasi, dan pemilihan letak bangunan penting.

2. Citra Nonfoto
Contoh penggunaan Citra satelit berdasarkan karakteristiknya:
a) Landsat
Landsat 5, diluncurkan pada 1 Maret 1984, sekarang ini masih beroperasi pada orbit polar, membawa sensor
TM (Thematic Mapper), yang mempunyai resolusi spasial 30 x 30 m pada band 1, 2, 3, 4, 5 dan 7. Sensor
Thematic Mapper mengamati obyek-obyek di permukaan bumi dalam 7 band spektral, yaitu band 1, 2 dan 3
adalah sinar tampak (visible), band 4, 5 dan 7 adalah infra merah dekat, infra merah menengah, dan band 6
adalah infra merah termal yang mempunyai resolusi spasial 120 x 120 m. Luas liputan satuan citra adalah 175 x
185 km pada permukaan bumi. Landsat 5 mempunyai kemampuan untuk meliput daerah yang sama pada
permukaan bumi pada setiap 16 hari, pada ketinggian orbit 705 km (Sitanggang, 1999 dalam Ratnasari, 2000).

Sistem Landsat merupakan milik Amerika Serikat yang mempunyai tiga instrument pencitraan, yaitu RBV
(Return Beam Vidicon), MSS (multispectral Scanner) dan TM (Thematic Mapper). (Jaya, 2002)
- RBV:Merupakan instrumen semacam televisi yang mengambil citra snapshot dari permukaan bumi
sepanjang track lapangan satelit pada setiap selang waktu tertentu.
- MSS: Merupakan suatu alat scanning mekanik yang merekam data dengan cara men-scanning permukaan
bumi dalam jalur atau baris tertentu
- TM : Juga merupakan alat scanning mekanis yang mempunyai resolusi spectral, spatial dan radiometric.
-
Terdapat banyak aplikasi dari data Landsat TM: pemetaan penutupan lahan, pemetaan penggunaan lahan,
pemetaan tanah, pemetaan geologi, pemetaan suhu permukaan laut dan lain-lain. Untuk pemetaan penutupan
dan penggunaan lahan data Landsat TM lebih dipilih daripada data SPOT multispektral karena terdapat band
infra merah menengah. Landsat TM adalah satu-satunya satelit non-meteorologi yang mempunyai band
inframerah termal.
Data termal diperlukan untuk studi proses-proses energi pada permukaan bumi seperti variabilitas suhu
tanaman dalam areal yang diirigasi.

b) IKONOS
Sejak diluncurkan pada September 1999, Citra Satelit Bumi Space Imagings IKONOS menyediakan data
citra yang akurat, dimana menjadi standar untuk produk-produk data satelit komersoal yang beresolusi tinggi.
IKONOS memproduksi citra 1-meter hitam dan putih (pankromatik) dan citra 4-meter multispektral (red, blue,
green dan near-infrared) yang dapat dikombinasikan dengan berbagai cara untuk mengakomodasikan secara
luas aplikasi citra beresolusi tinggi (Space Imaging, 2004)
Diluncurkan pada September 1999, IKONOS dimiliki dan dioperasikan oleh Space Imaging. Disamping
mempunyai kemampuan merekam citra multispetral pada resolusi 4 meter, IKONOS dapat juga merekam obyek-
obyek sekecil satu meter pada hitam dan putih. Dengan kombinasi sifat-sifat multispektral pada citra 4-meter
dengan detail-detail data pada 1-meter, Citra IKONOS diproses untuk menghasilkan 1-meter produk-produk
berwarna.
IKONOS adalah satelit komersial beresolusi tinggi pertama yang ditempatkan di ruang angkasa. IKONOS
dimiliki oleh Sapce Imaging, sebuah perusahaan Observasi Bumi Amerika Serikat. Satelit komersial beresolusi
tinggi lainnya yang diketahui: Orbview-3 (OrbImage), Quickbird (EarthWatch) dan EROS-A1 (West Indian
Space). IKONOS diluncurkan pada September 1999 dan pengumpulan data secara regular dilakukan sejak Maret
2000.
Karakteristik IKONOS:
Data IKONOS dapat digunakan untuk pemetaan topografi dari skala kecil hingga menengah, tidak hanya
menghasilkan peta baru, tetapi juga memperbaharui peta topografi yang sudah ada. Penggunaan potensial lain
IKONOS adalah precision agriculture; hal ini digambarkan pada pengaturan band multispektra, dimana
mencakup band infra merah dekat (near-infrared). Selain itu, citra Ikonos baik untuk perencanaan wilayah
karena resolusi spasialnya mencapai 1 meter.

c) Quickbird
Setelah kegagalan EarlyBird, satelit Quickbird diluncurkan tahun 2000 oleh DigitalGlobe. Namun, kembali
gagal. Akhirnya Quickbird-2 berhasil diluncurkan 2002 dan dengan resolusi spasial lebih tinggi, yaitu 2,4 meter
(multispektral) dan 60 sentimeter (pankromatik). Citra Quickbird beresolusi spasial paling tinggi dibanding
citra satelit komersial lain.
Selain resolusi spasial sangat tinggi, keempat sistem pencitraan satelit memiliki kemiripan cara merekam,
ukuran luas liputan, wilayah saluran spektral yang digunakan, serta lisensi pemanfaatan yang ketat. Keempat
sistem menggunakan linear array CCD-biasa disebut pushbroom scanner. Scanner ini berupa CCD yang disusun
linier dan bergerak maju seiring gerakan orbit satelit.
Jangkauan liputan satelit resolusi tinggi seperti Quickbird sempit (kurang dari 20 km) karena beresolusi
tinggi dan posisi orbitnya rendah, 400-600 km di atas Bumi. Berdasarkan pengalaman penulis, dengan luas
liputan 16,5 x 16,5 km, data Quickbird untuk 4 saluran ditambah 1 saluran pankromatik telah menghabiskan
tempat 1,8 gigabyte. Data sebesar ini disimpan dalam 1 file tanpa kompresi pada resolusi radiometrik 16 bit per
pixel.
Semua sistem menghasilkan dua macam data: multispektral pada empat saluran spektral (biru, hijau,
merah, dan inframerah dekat atau B, H, M, dan IMD), serta pankromatik (PAN) yang beroperasi di wilayah
gelombang tampak mata dan perluasannya. Semua saluran pankromatik, karena lebar spektrumnya mampu
menghasilkan resolusi spasial jauh lebih tinggi daripada saluran-saluran multispektral.
Resolusi spasial tinggi ditujukan untuk mendukung aplikasi kekotaan, seperti pengenalan pola
permukiman, perkembangan dan perluasan daerah terbangun. Saluran-saluran spektral B, H, M, IMD, dan PAN
cenderung dipilih, karena telah terbukti efektif dalam menyajikan variasi fenomena yang terkait dengan kota.
Kondisi vegetasi tampak jelas pada komposisi warna semu (false color), yang tersusun atas saluran-saluran B, H,
IMD ataupun H, M, IMD yang masing-masing ditandai dengan urutan warna biru, hijau, dan merah. Pada citra
komposit warna ini, vegetasi dengan berbagai tingkat kerapatan tampak bergradasi kemerahan.
Kehadiran Quickbird dan Ikonos telah melahirkan eforia baru pada praktisi inderaja yang jenuh dengan
penggunaan metode baku analisis citra berbasis Landsat dan SPOT. Klasifikasi multispektral standar
berdasarkan resolusi spasial sekitar 20-30 meter seringkali dianggap kurang halus untuk kajian wilayah
pertanian dan urban di Jawa. Model-model dengan knowledge-based techniques (KBT) yang berbasis Landsat
dan SPOT umumnya tidak tersedia dalam menu baku di perangkat lunak komersial, dan lebih sulit dioperasikan.
Quickbird menjawab kebutuhan itu. Resolusi 60 cm bila dipadukan dengan saluran multispektralnya akan
menghasilkan pan-sharped image, yang mampu menonjolkan variasi obyek hingga marka jalan dan tembok
penjara. Citra ini mudah sekali diinterpretasi secara visual. Meski demikian, para pakar inderaja saat ini masih
bergulat dengan pengembangan metode ekstraksi informasi otomatis berbasis citra resolusi tinggi seperti
Quickbird. Resolusi spasial yang sangat tinggi pada Quickbird telah melahirkan masalah baru dalam inderaja
digital, di mana respons spektral obyek tidak berhubungan langsung dengan karakter obyek secara utuh,
melainkan bagian-bagiannya. Bayangkan citra multispektral SPOT-5 beresolusi 10 meter, maka dengan relatif
mudah jaringan jalan dapat kita klasifikasi secara otomatis ke dalam kategori-kategori jalan aspal, jalan beton,
dan jalan tanah, karena jalan-jalan selebar sekitar 5 hingga 12 meter akan dikenali sebagai piksel-piksel
dengan nilai tertentu. Namun, pada resolusi 60 cm, jalan selebar 15 meter akan terisi dengan pedagang kakilima,
marka jalan, pengendara motor, dan bahkan koran yang tergeletak di tengah jalan. (Danoedoro, 2004)

d) NOAA
Data AVHRR terutama digunakan peramalan cuaca harian dimana memberikan data yang lebih detail
daripada Meteosat. Selain itu, juga dapat diterapkan secara luas pada banyak lahan dan perairan. Data AVHRR
data digunakan untuk membuat Peta Suhu Permukaan Laut (Sea Surface Temperature maps/SST Maps), dimana
dapat digunakan pada monitoring iklim, studi El Nino, deteksi badai, deteksi arus laut untuk memandu kapal-
kapal pada dasar laut dengan ikan berlimpah, dan lain-lain. Peta Tutupan Awan (Cloud Cover Maps) yang
berasal dari data AVHRR, digunakan untuk edtimasi curah hujan, dimana dapat menjadi input dalam model
pertumbuhan tanaman. Selain itu, hasil pengolahan lain dari data AVHRR adalah Normalized Difference
Vegetation Index Maps (NDVI). Peta ini memberikan indikasi tentang kuantitas biomassa (tons/ha). Data NDVI,
digunakan oleh FAO untuk Sistem Peringatan Dini Keamanan Pangan (Food Security Early Warning System
(FEWS). Data AVHRR sangat tepat untuk memetakan dan memonitor penggunaan lahan regional dan
memperkirakan keseimbangan energi (energy balance) pada areal pertanian (Janssen dan Hurneeman, 2001).