Anda di halaman 1dari 26

LAPORAN PENDAHULUAN DAN ASUHAN KEPERAWATAN

PENYAKIT MENULAR SEKS


Dosen Pembimbing :
Ns.Shinta Wahyusari, S. Kep

Disusun Oleh
LIANA MUNAWAROH
2010.01.093

PROGAM STUDY S1 KEPERAWATAN


STIKES HAFSHAWATY ZAINUL HASAN GENGGONG
PAJARAKAN - PROBOLINGGO
2012

1
KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, yang telah melimpahkan
Rahmat dan Hidayah-Nya sehingga kami dapat menyelesaikan tugas dalam
pembuatan makalah dengan judul PENYAKIT MENULAR SEKS di STIKES
Hafshawaty Zainul Hasan Genggong.
Makalah ini disusun guna memenuhi salah satu tugas dari Ibu Dosen
STIKES Hafshawaty Zainul Hasan Genggong. Dan pada kesempatan ini kami
mengucapkan terima kasih kepada Dosen atas penjelasannya yang telah banyak
membantu dalam pembuatan makalah ini.
Kami menyadari bahwa makalah yang tersusun ini belumlah sempurna,
maka dari itu apabila ada kesalahan atau kekurangan, kami mohon maaf dan
mengharap segala saran dan kritik demi sempurnanya penyusunan makalah yang
selanjutnya.
Akhirnya hanya kepada Tuhan Yang Maha Esa semata, kami berharap
semoga penyusunan makalah ini dapat bermanfaat bagi para pembaca khususnya
penulis sendiri. Amin

Genggong,12 Maret
2013

Penyusun

2
DAFTAR PUSTAKA

Halaman Judul
Kata Pengantar...................................................................................................i
Daftar Isi............................................................................................................ii
BAB I TINJAUAN PUSTAKA.........................................................................1
1.1 Definisi...............................................................................................1
1.2 Insiden................................................................................................1
1.3 Etiologi...............................................................................................2
1.4 Patofisiologi........................................................................................3
1.5 Manifestasi Klinis...............................................................................3
1.6 Pemeriksaan Penunjang......................................................................8
1.7 Penatalaksanaan..................................................................................9
1.8 Komplikasi.........................................................................................13
BAB II ASUHAN KEPERAWATAN................................................................15
2.1 Pengkajian..........................................................................................15
2.2 Diangnosa Keperawatan.....................................................................17
2.3 Intervensi Keperawatan......................................................................17
BAB III PENUTUP...........................................................................................22
3.1 Kesimpulan.........................................................................................22
3.2 Saran...................................................................................................22
DAFTAR PUSTAKA.........................................................................................23

3
BAB I
TINJAUAN PUSTAKA

1.1 Definisi
PMS atau Penyakit Menular Seks adalah suatu gangguan atau penyakit
yang ditularkan dari satu orang ke orang lain melalui kontak hubungan seksual.
IMS yang sering terjadi adalah Gonorhoe, Sifilis, Herpes, namun yang paling
terbesar diantaranya adalah AIDS, kaena mengakibatkan sepenuhnya pada
kematian pada penderitanya. AIDS tidak bisa diobati dengn antibiotik (Zohra dan
Rahardjo, 1999).
Menurut Aprilianingrum (2002), Penyakit Menular Seksual (PMS)
didefinisikan sebagai penyakit yang disebabkan karena adanya invasi organisme
virus, bakteri, parasit dan kutu kelamin yang sebagian besar menular melalui
hubungan seksual, baik yang berlainan jenis ataupun sesama jenis.
Infeksi yang ditularkan lewat hubungan seksual, atau Penyakit kelamin
menular adalah penyakit yang cara penularanyya melalui hubungan kelamin. Yang
ditularkan dari satu orang ke orang lain saaat berhubungan badan. Tempat
terjangkitnya penyakit tersebut tidak semata-mata pada alat kelamin saja, tetapi
dapat terjadi diberbagai tempat diluar alat kelamin.yang tergolong dari penyakkit
ini adalah : sifilis, gonore, ulkus mola, linfegranuloma venereum, granuloma
inguinale.
PMS menjadi pembicaraan yang begitu penting setelah muncul kasus
penyakit AIDS yang menelan banyak korban meninggal dunia, dan sampai
sekarang pengobatan yang paling manjur masih belum ditemukan. Apalagi
komplikasi dari PMS (termasuk AIDS) bisa dibilang banyak dan akibatnya pun
cukup fatal.

1.2 Insiden
Penyakit Menular Seksual (PMS) atau Penyakit Kelamin (venereal
diseases) telah lama dikenal dan beberapa di antaranya sangat populer di
Indonesia, yaitu sifilis dan kencing nanah. Dengan semakin majunya peradaban
dan ilmu pengetahuan, makin banyak pula ditemukan penyakit-penyakit baru, dan

4
istilah venereal diseases berubah menjadi sexually transmitted diseases atau
infeksi menular seksual (IMS).
Angka kejadian Penyakit Menular Seksual (PMS) saat ini cenderung
meningkat di Indonesia. Penyebarannya sulit ditelusuri sumbernya, sebab tidak
pernah dilakukan registrasi terhadap penderita yang ditemukan. Jumlah penderita
yang sempat terdata hanya sebagian kecil dari jumlah penderita sesungguhnya.
Kecenderungan kian meningkatnya penyebaran penyakit kelamin ini
akibat perilaku seksual yang berganti-ganti pasangan, berkorelasi pula dengan
kecenderungan semakin meningkatnya angka PSK yang tertular IMS, setelah
ditutupnya lokalisasi dan sulitnya pemerintah melakukan kontrol karena tidak ada
lagi kewenangan. Dilain pihak hubungan seksual pra nikah dan diluar nikah cukup
tinggi, sehingga penularan IMS dari para PSK tersebut akan dengan cepat
meningkatkan jumlah penderita.
Dampak PMS sangat luas dan kompleks antara lain dampak medis, sosio
ekonomis maupun psikologis. Dampak medis antara lain berupa kematian,
timbulnya kanker ganas, kebutaan, janin mati dalam kandungan, cacad bawaan,
berat badan bayi lahir rendah, kelainan sistem kardiovaskuler, kelainan susunan
saraf pusat, penyakit radang panggul dan kemandulan. PMS juga akan
meningkatkan risiko menularkan maupun tertular HIV, sehingga meningkatnya
prevalensi IMS akan meningkatkan pula prevalensi infeksi HIV. Kota Bandung
dengan penderita HIV/AIDS kumulatif mencapai 351 orang (1991 2004),
merupakan kota tertinggi di Jawa Barat (37,5%). Sementara Jawa Barat sendiri
merupakan provinsi kedua setelah Papua.

1.3 Etiologi
Penyebab dari PMS ada 3 yaitu bakteri, virus dan protozoa.
1. Bakteri
a) Neisseria Gonorrhoeae
b) Clamydia Trachomatis
c) Mycoplasma Homonis
d) Haemmophilus Vaginalis
e) Donavania Granulomatis

5
2. Virus
a) Herpes Simpleks Virus
b) Hepatitis B Virus
c) Human Papiloma Virus
d) Human T Lymphotropic
3. Protozoa
a) Trichomonas Vaginalis

1.4 Patofisiologi
Terlampir

1.5 Manifestasi Klinis


Manifestasi klinis HIV
Ada beberapa Tahapan ketika mulai terinfeksi virus HIV sampai
timbul gejala AIDS:
1. Tahap 1: Periode Jendela
1. HIV masuk ke dalam tubuh, sampai terbentuknya
antibody terhadap HIV dalam darah
2. Tidak ada tanda2 khusus, penderita HIV tampak sehat
dan merasa sehat
3. Test HIV belum bisa mendeteksi keberadaan virus ini
4. Tahap ini disebut periode jendela, umumnya berkisar 2
minggu 6 bulan
2. Tahap 2: HIV Positif (tanpa gejala) rata-rata selama 5-10 tahun:
1. HIV berkembang biak dalam tubuh
2. Tidak ada tanda-tanda khusus, penderita HIV tampak
sehat dan merasa sehat
3. Test HIV sudah dapat mendeteksi status HIV seseorang,
karena telah terbentuk antibody terhadap HIV
4. Umumnya tetap tampak sehat selama 5-10 tahun,
tergantung daya tahan tubuhnya (rata-rata 8 tahun (di
negara berkembang lebih pendek)

6
3. Tahap 3: HIV Positif (muncul gejala)
1. Sistem kekebalan tubuh semakin turun
2. Mulai muncul gejala infeksi oportunistik, misalnya:
pembengkakan kelenjar limfa di seluruh tubuh, diare
terus menerus, flu, dll
3. Umumnya berlangsung selama lebih dari 1 bulan,
tergantung daya tahan tubuhnya
4. Tahap 4: AIDS
1. Kondisi sistem kekebalan tubuh sangat lemah
2. Berbagai penyakit lain (infeksi oportunistik) semakin
parah
Demam
Malaise
Keletihan
Keringat malam
Penurunan BB
Diare kronik
Limfadenopati umum
Kamdidiasis oral
Manifestasi klinis Sifilis
1. Sifilis primer
Berlangsung selama 10 - 90 hari sesudah infeksi ditandai
oleh Chancre sifilis dan adenitis regional. Papula tidak nyeri
tampak pada tempat sesudah masuknya Treponema pallidum.
Papula segera berkembang menjadi ulkus bersih, tidak nyeri
dengan tepi menonjol yang disebut chancre. Infeksinya sebagai lesi
primer akan terlihat ulserasi (chancre) yang soliter, tidak nyeri,
mengeras, dan terutama terdapat di daerah genitalia disertai dengan
pembesaran kelenjar regional yang tidak nyeri. Chancre biasanya
pada genitalia berisi Treponema pallidum yang hidup dan sangat
menular, chancre extragenitalia dapat juga ditemukan pada tempat
masuknya sifilis primer. Chancre biasanya bisa sembuh dengan

7
sendirinya dalam 4 6 minggu dan setelah sembuh menimbulkan
jaringan parut. Penderita yang tidak diobati infeksinya berkembang
ke manifestasi sifilis sekunder.
2 . Sifilis Sekunder
Terjadi sifilis sekunder, 210 minggu setelah chancre
sembuh. Manifestasi sifilis sekunder terkait dengan spiroketa dan
meliputi ruam, mukola papuler non pruritus, yang dapat terjadi
diseluruh tubuh yang meliputi telapak tangan dan telapak kaki;
Lesi pustuler dapat juga berkembang pada daerah yang lembab di
sekitar anus dan vagina, terjadi kondilomata lata (plak seperti
veruka, abuabu putih sampai eritematosa). Dan plak putih disebut
(Mukous patkes) dapat ditemukan pada membran mukosa, gejala
yang ditimbulkan dari sifilis sekunder adalah penyakit seperti flu
seperti demam ringan, nyeri kepala, malaise, anoreksia, penurunan
berat badan, nyeri tenggorokan, mialgia, dan artralgia serta
limfadenopati menyeluruh sering ada. Manifestasi ginjal, hati, dan
mata dapat ditemukan juga, meningitis terjadi 30% penderita.
Sifilis sekunder dimanifestasikan oleh pleositosis dan kenaikan
cairan protein serebrospinal (CSS), tetapi penderita tidak dapat
menunjukkan gejala neurologis sifilis laten.
Relapsing sifilis.
Kekambuhan penyakit sifilis terjadi karena pengobatan
yang tidak tepat dosis dan jenisnya. Pada waktu terjadi
kekambuhan gejala gejala klinik dapat timbul kembali, tetapi
mungkin juga tanpa gejala hanya perubahan serologinya yaitu dari
reaksi STS (Serologis Test for Syfilis) yang negatif menjadi
positif. Gejala yang timbul kembali sama dengan gejala klinik pada
stadium sifilis sekunder.
Relapsing sifilis yang ada terdiri dari :
1. Sifilis laten
Fase tenang yang terdapat antara hilangnya gejala klinik
sifilis sekunder dan tersier, ini berlangsung selama 1 tahun pertama

8
masa laten (laten awal). Tidak terjadi kekambuhan sesudah tahun
pertama disertai sifilis lambat yang tidak mungkin bergejala.
Sifilis laten yang infektif dapat ditularkan selama 4 tahun pertama
sedang sifilis laten yang tidak menular berlangsung setelah 4 tahun
tersebut. Sifilis laten selama berlangsung tidak dijumpai gejala
klinik hanya reaksi STS positif.
2. Sifilis tersier
Sifilis lanjut ini dapat terjadi bertahun tahun sejak
sesudah gejala sekunder menghilang. Pada stadium ini penderita
dapat mulai menunjukkan manifestasi penyakit tersier yang
meliputi neurologis, kardiovaskuler dan lesi gummatosa, pada kulit
dapat terjadi lesi berupa nodul, noduloulseratif atau gumma.
Gumma selain mengenai kulit dapat mengenai semua bagian tubuh
sehingga dapat terjadi aneurisma aorta, insufisiensi aorta, aortitis
dan kelainan pada susunan syaraf pusat (neurosifilis ).
c. Sifilis kongenital
Sifilis kongenital yang terjadi akibat penularan dari ibu
hamil yang menderita sifilis kepada anaknya melalui plasenta. Ibu
hamil dengan sifilis dengan pengobatan tidak tepat atau tidak
diobati akan mengakibatkan sifilis kongenital pada bayinya. Infeksi
intrauterin dengan sifilis mengakibatkan anak lahir mati, infantille
congenital sifilis atau sifilis timbul sesudah anak menjadi besar dan
bahkan sesudah dewasa. Pada infantil kongenital sifilis bayi
mempunyai lesi lesi mukokutan. Kondiloma, pelunakan tulang
tulang panjang, paralisis dan rinitis yang persisten. Sedangkan jika
sifilis timbul sesudah anak menjadi besar atau dewasa maka
kelainan yang timbul pada umumnya menyangkut susunan syaraf
pusat misalnya parasis atau tabes, atrofi nervous optikus dan tuli
akibat kelainan syaraf nervous kedelapan, juga interstitial keratitis,
stig mata tulang dan gigi, saddel nose, saber shin ( tulang kering
terbentuk seperti pedang ) dan kadang kadang gigi Hutchinson
dapat dijumpai. Prognosis sifilis kongenital tergantung beratnya

9
infeksi tetapi kelainan yang sudah terjadi akibat neurosifilis
biasanya sudah bisa disembuhkan. (Soedarto, 1990)
Manifestasi klinis Gonorhea
Pada pria:
1. Gejala awal gonore biasanya timbul dalam waktu 10-14
hari setelah terinfeksi
2. Gejalanya berawal sebagai rasa tidak enak pada uretra
kemudian diikuti nyeri ketika berkemih.
3. Disuria yang timbul mendadak, rasa buang air kecil disertai
dengan keluarnya lendir mukoid dari uretra.
4. Retensi urin akibat inflamasi prostat
5. Keluarnya nanah dari penis akibat infeksi menarik dari
uretra anterior ke uretra posterior.
Pada wanita:
1. Gejala awal biasanya timbul dalam waktu 7-21 hari setelah
terinfeksi.
2. Penderita seringkali tidak merasakan gejala selama
beberapa minggu atau bulan (asimtomatis).
3. Jika timbul gejala, biasanya bersifat ringan. Namun,
beberapa penderita menunjukkan gejala yang berat seperti
desakan untuk berkemih, sering berkemih, sakit punggung
belakang, nyeri abdomen serta panggul
4. Nyeri ketika berkemih.
5. Keluarnya cairan dari vagina.
6. Demam
7. Infeksi dapat menyerang leher rahim, rahim, indung telur,
uretra, dan rektum serta menyebabkan nyeri pinggul yang
dalam ketika berhubungan seksual.
8. Wanita dan pria homoseksual yang melakukan hubunga
seks melalui anus, dapat menderita gonore di rektumnya.
Penderita akan merasa tidak nyaman disekitar anusnya dan
dari rektumnya keluar cairan. Daerah disekitar anus tampak

10
merah dan kasar serta tinja terbungkus oleh lendir dan
nanah.
1.6 Pemeriksaan Penunjang
1. Pemeriksaan bahan genetalia
Beberapa tujuan pengambilan bahan pemeriksaan laboratorium pada
genitalia khususnya vagina untuk tujuan mengetahui adanya sebab penyakit
infeksi ( STD) maupun adanya perubahan sel ephitel sebagai pengamatan
adanya karsinoma.
Pengambilan dilakukan secara steril dan tepat sasaran sangat
mendukung diagnosa.Pengambilan bahan untuk penyakit infeksi akibat
STD atau PMS yg diduga siphillis.Bersihkan genital dengan PZ Steril
Ambil Reistz serum dengan pinset atau Ose steril.Oleskan Reitz serum
pada obyek glas tutup dengan cover glas periksa pada Dark Field
Mikroskope untuk menukan Treponema palidum.Oleskan Reitz serum pada
obyek glas di warnai dengan cat gram untuk mengetahui adanya Strepto
bacil atau Haemophylus una dusrcey yang gram negatip ( warna merah )
2. Pengambilan bahan pada vagina menyebabkan urethritis
Pada Urethra di ambil skreet atau exudat dari urethra dengan Ose atau
Swab Dari Servix uteri vagina dibuka dengan spekulum steril untuk melihat
servix sekret diambil dengan swab atau ose kemudian oleskan pada obyek
glas.
3. Pemeriksaan Sitopatologi Servix Uteri
Sitologi servix sangat sederhana , tidak berbahaya , merupakan
metode yang non invasif untuk mendeteksi perubahan pre kanker pada
servix.Pemeriksaan sitologi servix sudah menjadi program nasional untuk
deteksi dini kanker servix dan mengurangi angka kematian yang
diakibatkan dari PMS.
4. Pemeriksaan Darah Lengkap
Mengetahui jumlah dari sel darah merah dan sel darah putih dalam
tubuh, yang dapat menunjukkan tentang adanya infeksi.

11
1.7 Penatalaksanaan
Kebanyakan PMS dapat diobati, namun ada beberapa yang tidak bisa
diobati secara tuntas seperti HIV/AIDS dan herpes kelamin.
Jika kita terkena PMS, satu-satunya cara adalah berobat ke dokter atau
tenaga kesehatan. Jangan mengobati diri sendiri. Selain itu, pasangan kita juga
harus diobati agar tidak saling menularkan kembali penyakit tersebut.
Penatalaksanaan HIV
Belum ada penyembuhan bagi AIDS, sehingga pencegahan infeksi
HIV perlu dilakukan. Pencegahan berarti tdk kontak dgn cairan tubuh yang
tercemar HIV.
1. Pengendalian Infeksi Opurtunistik
Bertujuan menghilangkan,mengendalikan, dan pemulihan
infeksi opurtunistik,nasokomial, atau sepsis. Tidakan pengendalian
infeksi yang aman untuk mencegah kontaminasi bakteri dan
komplikasi penyebab sepsis harus dipertahankan bagi pasien
dilingkungan perawatan kritis.
2. Terapi AZT (Azidotimidin)
Disetujui FDA (1987) untuk penggunaan obat antiviral AZT
yang efektif terhadap AIDS, obat ini menghambat replikasi
antiviral Human Immunodeficiency Virus (HIV) dengan
menghambat enzim pembalik traskriptase. AZT tersedia untuk
pasien AIDS yang jumlah sel T4 nya <>3 . Sekarang, AZT tersedia
untuk pasien dengan Human Immunodeficiency Virus (HIV)
positif asimptomatik dan sel T4 > 500 mm3
3.Terapi Antiviral Baru
Beberapa antiviral baru yang meningkatkan aktivitas
system imun dengan menghambat replikasi virus / memutuskan
rantai reproduksi virus pada prosesnya. Obat-obat ini adalah :
Didanosine
Ribavirin
Diedoxycytidine
Recombinant CD 4 dapat larut

12
4.Vaksin dan Rekonstruksi Virus
Upaya rekonstruksi imun dan vaksin dengan agen tersebut
seperti interferon, maka perawat unit khusus perawatan kritis dapat
menggunakan keahlian dibidang proses keperawatan dan penelitian
untuk menunjang pemahaman dan keberhasilan terapi AIDS.
Pendidikan untuk menghindari alcohol dan obat terlarang,
makan-makanan sehat, hindari stress, gizi yang
kurang,alcohol dan obat-obatan yang mengganggu fungsi
imun.
Menghindari infeksi lain, karena infeksi itu dapat
mengaktifkan sel T dan mempercepat reflikasi Human
Immunodeficiency Virus (HIV).
Penatalaksanaan Sifilis
1. Medikamentosa
Sifilis Primer dan Sekunder:
Penisilin benzalin 6 dosis 4,8 juta unit injeksi
intramuskular (2,4 juta unit / kali) dan diberikan satu
kali seminggu, atau.
Penisilin prokain dalam aqua dengan dosis 600.000 unit
injeksi inframuskular sehari selama 10 hari, atau
Penisilin prokain + 2 % aluminium monostearat, dosis
4,8 juta unit, diberikan 2,4 juta unit / kali sebanyak 2
kali seminggu.
Sifilis Laten
Penisilin Benzatin 6 dosis total 7,2 juta unit, atau
Penisilin 6 prokain dalam aqua dengan dosis total 12
juta unit (600.000 unit sehari) atau
Penisilin prokain + 2 % aluminium monostearat, dosis
total 7,2 juta unit (diberikan 1,2 juta unit / kali, 2 kali
seminggu).
Sifilis Stactom III
Penisilin benzatin 6 dosis total 9,6 juta unit, atau

13
Penisilin 6 prokain dalam aqua denga dosis total 18 juta
unit (600.000 unit sehari) atau
Penisilin prokain 2 % aluminium monostearat, dosis
total 9,6 juta unit (dibeirkan 1,2 juta unit / kali, 2 kali
seminggu).
Untuk pasien sifilis I dan II yang alergi terhadap penisilin,
dapat diberikan :
Tetrasiklin 5000 mg per oral 4 kali sehari selama 15
hari, atau
Eritromisin 500 mg per oral 4 kali sehari selama 15
hari, atau.
Untuk pasien sifilis laten lanjut (71 tahun) yang alergi terhadap
penisilin, dapat dierikan :
Tetrasiklin 500 mg per oral 4 kali sehari selama 30 hari,
atau
Eritrmisin 500 mg per oral 4 kali sehari selama 30 hari
Obat ini tidak boleh dibeirkan kepada wanita hamil, menyusui, dan anak-
anak.
2. Pemantauan Serologik dilakukan pada bulan I, II, VI, dan XII
tahun pertama dan setiap 6 bulan per tahun kedua.
3. Non medikamentosa
Memberikan pendidikan kepada px dengan menjelaskan hal-hal
sebagai berikut :
Bahaya PKTS dan Komplikasinya
Pentingnya mematuhi pengobatan yang diberikan.
Cara penularan PKTS dan perlunya pengobatan untuk
pasangan seks tetapnya.
Hindari hubungan seksual sebelum sembuh, dan
memakai kondom jika tak dapat menghindarkan lagi.
Cara-cara menghindari infeksi PKTS di masa datang

14
Penatalaksanaan Gonorhea
1. Medikamentosa
a. Walaupun semua gonokokus sebelumnya
sangansensitif terhadap penicilin, banyak strain
yang sekarang relatif resisten. Terapi penicillin,
amoksisilin, dan tetrasiklin masih tetap merupakan
pengobatan pilihan.
b. Untuk sebagian besar infeksi, penicillin G dalam
aqua 4,8 unit ditambah 1 gr probonesid per- oral
sebelum penyuntikan penicillin merupakan
pengobatan yang memadai.Sebagai penghambat
dari penyebaran bakteri Neisseria Gonorhea.
Kontraindikasinya ialah alergi penisilin.
c. Spectinomycin berguna untuk penyakit gonokokus
yang resisten dan penderita yang peka terhadap
penicillin. Dosis: 2 gr IM untuk pria dan 4 gr untuk
wanita.
d. Pengobatan jangka panjang diperlukan untuk
endokarditis dan meningitis gonokokus.
2. Non-medikamentosa
Memberikan pendidikan kepada klien dengan
menjelaskan tentang:
a. Bahaya penyakit menular seksual
b. Pentingnya mematuhi pengobatan yang diberikan
c. Cara penularan PMS dan perlunya pengobatan
untuk pasangan seks tetapnya
d. Hindari hubungan seksual sebelum sembuh dan
memakai kondom jika tidak dapat dihindari.
e. Cara-cara menghindari infeksi PMS di masa yang
akan datang

15
1.8 Komplikasi
1. Radang panggul
Pada infeksi saluran reproduksi perempuan, karena letaknya yang
di dalam rongga panggul, komplikasi ini terjadi karena infeksi sudah
menjalar ke organ-organ dalam panggul di sekitarnya. Biasanya tanda-
tandanya perut bagian bawah terasa nyeri sekali dan ada riwayat keputihan
yang sudah lama tidak sembuh-sembuh.
2. Infertilitas
Infertilitas atau kemandulan terjadi jika PMS tidak di tangani
dengan baik sehingga dapat menginfeksi pada organ reproduksi.Infeksi
tersebut akan menjalar ke ovarium atau testis yang dapat mempengaruhi
kwalitas sperma dan sel telur.
3. Kehamilan ektopik
Kehamilan ektopik sering disebut juga dengan kehamilan di luar
kandungan/rahim, yaitu dalam rongga rahim tetapi ada di tempat lain,
misalnya di saluran telur, rongga perut, dan lain-lain. Yang berbahaya dari
kehamilan ektopik ini adalah terjadinya perdarahan ketika produk
kehamilan tersebut terganggu.
4. Keguguran
Keguguran juga menjadi salah satu komplikasi bagi ibu yang
sedang hamil yang terkena PMS karena penyakit ini bisa menembus
plasenta sehingga menginfeksi bayi. Selain itu, bisa mengalami kematian
pada bayi ketika dilahirkan, atau bayi jadi tertular penyakit ketika
melewati jalan lahir.
5. Kanker servik
Banyak penelitian yang membuktikan bahwa kalau infeksi menular
seksual ini dibiarkan lama-lama, bisa memicu timbulnya sel-sel
kanker.Kanker yang paling dekat adalah kanker mulut rahim atau servik.
6.AIDS
AIDS (Acquired Immunodeficiency Syndrome). AIDS sering
muncul sebagai komplikasi dari infeksi penyakit menular seksual yang
disebabkan oleh HIV (Human Immunodeficiency Virus). HIV yang

16
menginfeksi tubuh kita akan menurunkan sistem kekebalan tubuh sehingga
mudah terkena infeksi oportunistik, misal jamur kulit, ISPA, PMS, dan
lain-lain.
7. Epididimitis dan prostatitis
Kalau PMS pada pria dibiarkan, akan mudah sekali menjalar ke
organ reproduksi bagian dalam, di antaranya ke prostat dan saluran
epididimis dalam testis.Kalau terjadi gangguan pada prostat atau testis, ini
akan terjadi peradangan sebagai respons terhadap adanya infeksi. Proses
infeksi ini, jika tetap dibiarkan dapat merusak fungsi organ-organ tersebut.
8.Striktur uretra
Striktur uretra adalah istilah medis ketika dinding saluran kencing
telah rusak karena terkena infeksi PMS. Pertama yang terjadi adalah
adanya luka pada dinding saluran kencing, selanjutnya dinding yang
terluka tersebut dapat menempel dengan dinding di depannya atau
menimbulkan jaringan parut pada saluran itu.Saluran kencing menjadi
lebih sempit bahkan menutup sama sekali sehingga sangat mengganggu
kencing. Jika ini terjadi, akan terasa sangat sakit dan cukup sulit
disembuhkan.

17
BAB II
ASUHAN KEPERAWATAN

2.1 Pengkajian
1. Biodata
Identitas klien meliputi nama, usia, jenis kelamin, alamat, no
telepon, status pernikahan, agama, suku, pendidikan, pekerjaan, No RM,
Tgl masuk, Tgl pengkajian, sumber informasi, nama klg dekat yg bisa
dihubungi, status, alamat, no telepon, pendidikan, pekerjaan.
2. Keluhan Utama
Gejala yang sering menyebabkan penderita datang ke tempat
pelayanan kesehatan adalah nyeri pada lesi yang timbul.
3. Riwayat kesehatan saat ini
Pada beberapa kasus,timbul lesi atau vesikel perkelompok pada
penderita yang mengalami demam atau penyakit yang disertai peningkatan
suhu tubuh atau pada penderita yang mengalami trauma fisik maupun
psikis.
Penderita merasakan nyeri yang hebat, terutama pada aera kulit yang
mengalami peradangan berat dan vesikulasi hebat.
4. Riwayat kesehatan terdahulu
Sering diderita kembali oleh klien yang pernah mengalami penyakit
PMS atau memiliki riwayat penyakit seperti ini.
5. Riwayat kesehatan keluarga
Ada anggota keluarga atau teman dekat yang terinfeksi virus ini.
6. Aktifitas Daily Living
1. Pola persepsi dan manajemen kesehatan
Biasanya pasien tidak menyadari bahwa ia telah menderita penyakit
gonorhea. Dia akan menyadari setelah penyakit tersebut telah parah.
2. Pola nutrisi dan metabolik
Biasanya kebutuhan nutrisi tidak terganggu, namun apabila infeksi
terjadi pada tenggrokan maka pasien akan merasakan nyeri pada
tenggorokannya sehingga ia akan sulit makan.

18
3. Pola eliminasi
Penderita akan mengalami gejala seperti desakan untuk berkemih, nyeri
ketika berkemih dan keluar cairan pada alat kelamin. Kaji frekwensi,
warna dan bau urin.
4. Pola latihan /aktivitas
Tanyakan bagaiman pola aktivitas klien. Biasanya aktivitas klien tidak
begitu terganggu.
5. Pola istirahat tidur
Tanyakan bagaimana pola tidur klien, apakah klien merasa terganggu
dengan nyeri yang dirasakannya.
6. Pola persepsi kognitif
Biasanya pola ini tidak terganggu, namun apabila terjadi infeksi pada
mata pasien maka kita harus mengkaji peradangan pada konjunctiva
pasien.
7. Pola persepsi diri
Tanyakan kepada klien bagaimana ia memandang penyakit yang
dideritanya. Apakah klien bisa menerima dengan baik kondisi yang ia
alami saat ini. Tanyakan apakah sering merasa marah, cemas, takut,
depresi, karena terjadi perubahan pada diri pasien. Biasanya klien
merasa cemas dan takut terhadap penyakitnya.
8. Pola Koping dan toleransi stress
Kaji bagaimana pola koping klien, bagaimana tingkat stres klien,
apakah stres yang dialami mengganggu pola lain seperti pola tidur, pola
makan dan lain-lain. Tanyakan apa yang dilakukan klien dalam
menghadapi masalah dan apakah tindakan tersebut efektif untuk
mengatasi masalah tersebut atau tidak. Apakah ada orang lain tempat
berbagi dan apakah orang tersebut ada sampai sekarang. Apakah ada
penggunaan obat untuk penghilang stress
9. Pola peran hubungan
Bagaimana peran klien dalam keluarga dan masyarakat. Apakah
hubungan klien dengan keluarga dan masyarakat. Apakah klien mampu
bergaul dengan masyarakat dengan baik. Tanyakan tentang sistem

19
pendukung dalam kehidupan klien seperti: pasangan, teman, dll.
Biasanya klien merasa kesepian dan takut tidak diterima dalam
lingkungannya.
10. Pola reproduksi seksual
Perawat perlu mengkaji bagaimana pola reproduksi seksual klien.
Berapa jumlah anak klien. Tanyakan masalah seksual klien yang
berhubungan dengan penyakitnya. Riwayat perilaku berisiko tinggi
yakni mengadakan hubungan seksual dengan pasangan yang mengidap
PMS, pasangan seksual multiple, aktifitas seksual yang tidak terlindung,
dan sek anal.Menurunnya libido, terlalu sakit untuk melakukan
seks.Penggunaan kondom yang tidak konsisten.
11. Pola keyakinan
Tanyakan apa keyakinan atau agama klien, bagaimana aktivitas ibadah
klien, apakah klien taat beibadah. Tanyakan apakah ada pengaruh agama
dalam kehidupan.

2.2 Diangnosa Keperawatan


1. Nyeri berhungan dengan peningkatan suhu tubuh
2. Ansietas berhubungan dengan kencing nanah
3. Gangguan eliminasi urine berhungan dengan retensi urine
4. Hipertermi berhubungan dengan peningkatan suhu tubuh
5. Kurang pengetahuan berhubungan dengan minimnya info tentang proses
penyakit.

2.3 Intervensi Keperawatan


1. Diagnosa Keperawatan:
Nyeri Akut berhubungan dengan luka di kulit dan di jaringan.
Tujuan :
Setelah di lakukan asuhan keperawatan selama 2 x 24 jam nyeri
berkurang atau terkontrol
Kriteria evaluasi :
Klien mengungkapkan nyeri hilang / berkurang.

20
Menunjukkan mekanisme koping spesifik untuk nyeri dan metode
untuk mengontrol nyeri secara benar .
Klien menyampaikan bahwa orang lain memvalidasi adanya nyeri.

Intervensi Rasional
Mandiri
1. 1.Kaji dan pantau tanda-tanda vital. 1.Peningkatan tanda-tanda vital
2. 2.Kaji dan catat dari karakteristik menandakan adanya nyeri.
nyeri dan skala nyeri. 2.Skala (0-10) dan karakteristik dari nyeri
menentukan intervensi selanjutnya.
3.Ajarkan tehnik relaksasi dan 3.Nafas dalam dan pengalihan nyeri
distraksi saat timbul dapat mengurangi nyeri
3. atau mengontrol nyeri
4. 4.Pantau bintik- bintik kemerahan 4.Dengan memantau bintik bintik
pada daerah genetalia pasien kemerahan pada genetalia pasien,
5. 5.Ciptakan lingkungan yang tenang maka perawat dapat mengetahui
dan nyaman tingkat perkembangan kesembuhan
6. Kolaborasi pasien.
6.kolaborasi pemberian analgetik dan 5.Dengan menciptakan lingkungam
antibiotic ( asam mefenamat, yang tenang dan nyaman, maka pasien
penisilin,tetrasiklin, asiclovir) akan dapat beristirahat dengan tenang.
6. Dengan melakukan kolaborasi
dengan pemberian analgetik akan
dapat mengurangi tingkat nyeri pasien.

2. Diagnosa Keperawatan:

21
Ansietas berhubungan dengan luka yang tak kunjung sembuh dan
proses penyakit.
Tujuan :
Setelah di lakukan asuhan keperawatan selama 1 x 24 jam pasien
tidak merasakan kecemasan atau kecemasan pasien dapat
berkurang.
Kriteria evaluasi :
Klien mampu mengungkapkan perasaanya pada orang lain.
Menunjukkan mekanisme koping spesifik pada lingkungan sekitar
Klien menyampaikan bahwa dirinya tidak ada kecemasan yang di
rasakan.
Intervensi Rasional
Mandiri
1.Jamin pasien tentang kerahasiaan 1.Memberikan penentraman hati lebih
dalam batasan situasi tertentu. lanjut dan kesempatan bagi pasien untuk
2.Pertahankan hubungan yang memecahkan masalah pada situasi yang
sering dengan pasien. Berbicara dan diantisipasi.
berhubungan dengan pasien. 2.Menjamin bahwa pasien tidak akan
3.Batasi penggunaan baju pelindung sendiri atau ditelantarkan, menunjuk rasa
dan masker. menghargai dan menerima orang
4.Berikan lingkungan terbuka tersebut, membantu meningkatkan rasa
dimana pasien akan merasa aman percaya.
untuk mendiskusikan perasaan atau 3.Meningkatkan harga diri dan
menahan diri untuk berbicara. kepercayaan pasien terhadap penyakit
5.Ijinkan pasien untuk yang di derita.
mengekpresikan rasa marah, takut, 4.Membantu pasien untuk merasa
putus asa tanpa konfrontasi. Berikan diterima pada kondisi sekarang tanpa
informasi bahwa perasaannya perasaan dihakimi dan meningkatkan
adalah normal dan perlu perasaan harga diri dan control.
diekspresikan. 5.Penerimaan perasaan akan membuat
6.Identifikasi dan dorong interaksi pasien dapat menerima situasi.
pasien dengan system pendukung. 6.Membantu pasien untuk menerima
Dorong pengungkapan / interaksi keadaan dengan ikhlas

22
dengan keluarga / orang terdekat
Kolaborasi 7.Mungkin perlu bantuan lebih lanjut
7.Rujuk pada psikiatri (mis. Perawat dalam berhadapan dengan diagnosa /
spesialis klinis, psikiater, pekerja prognosis, terutama jika timbul pikiran
social) untuk bunuh diri.

2.Diagnosa Keperawatan:
Kurang pengetahuan berhubungan dengan minimnya info tentang
gonorhea dan prognosis dari penyakit.
Tujuan :
Setelah di lakukan asuhan keperawatan selama 1 x 24 jam pasien
mampu menjelasakan tentang PMS.
Kriteria evaluasi :
Klien mampu menjelaskan tentang tanda dan gejala dari PMS
Klien mampu menjelaskan tentang pencegahan dan pengobatan
dari PMS

Intervensi Rasional
1.Tinjau ulang proses penyakit dan 1.Memberikan pengetahuan dasar dimana
apa yang menjadi harapan di masa pasien dapat membuat pilihan
depan. berdasarkan informasi.
2.Tentukan tingkat ketergantungan 2.Membantu merencanakan jumlah
dan kondisi fisik. perawatran dan kebutuhan
3.Catat tingkat perawatan dan penatalaksanaan gejala dan juga
dukungan yang tersedia dari kebutuhan akan sumber tambahan.
keluarga / orang terdekat dan 3.Mengoreksi mitos dan kesalahan
kebutuhan akan pemberi perawatan konsepsi, meningkatkan keamanan bagi
lainnya. pasien / orang lain.
4.Tinjau ulang cara penularan 4.Mengurangi penularan penyakit,
penyakit. meningkatkan kesehatan pada masa
5.Instruksikan pasien dan memberi berkurangnya kemampuan system imun
perawatan mengenai control infeksi untuk mengontrol tingkat flora.
mis. 6.Tehnik membersihkan 5.Mukosa oral dapat dengan cepat

23
tangan bagi semua orang (pasien, menunjukkan komplikasi hebat dan
keluarga dan pemberi perawatan) progresif.Penelitian menunjukkan bahwa
7.Pastikan bahwa pasien / orang 65% dari pasien penderita AIDS memiliki
terdekat dapat menunjukkan bebrapa gejala oral. Oleh karena itu
perawatan oral dan gigi yang baik. pencegahan dan intervensi awal adalah
Tinjau ulang prosedur sesuai penting.
petunjuk. Dorong perawatan gigi 6.Meningkatkan kerja sama dengan /
regular. peningkatan kemungkinan untuk sukses
8.Dorong aktivitas / latihan pada dengan aturan terapeutik.
tingkat yang dapat ditoleransikan si 7.Mencegah / mengurangi kepenatan,
pasien. meningkatkan kemampuan.
9.Tekankan perlunya melanjutkan 8.Merangsang pelepasan endorphin pada
perawatan kesehatan dan evaluasi. otak, meningkatkan rasa sehjahtera.
9.Memberi kesempatan untuk mengubah
aturan untuk memenuhi kebutuhan
perubahan / individual.

BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan

24
PMS (penyakit menular seksual) merupakan penyakit yang terjadi pada
umumnya. Terjadi pada alat kelamin dan ditularkan melalui hubungan seksual.
Harus diperhatikan bahwa PMS menyerang sekitar alat kelamin, tapi gejalanya
dapat muncul dan menyerang mata., mulut, saluran pencernaan, hati, otak, dan
organ tubuh lainnya. Tidak semua PMS menunjukkan gejala. Terkadang PMS
tidak menunjukkan gejala sama sekali , sehingga kita tidak tahu kalau kita sudah
terinfeksi. PMS dapat bersifat asymptomatic (tidak memiliki gejala) baik pada
pria maupun pada wanita. Beberapa PMS baru menunjukkan tanda-tanda dan
gejala berminggu-minggu, berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun setelah
terinfeksi.
Pada wanita, PMS bahkan tidak terdeteksi. Walaupun seseorang tidak
menunjukkan gejal-gejala terinfeksi PMS, dan tidak mengetahui bahwa mereka
terkena PMS, mereka tetap bisa menulari orang lain. Orang terinfeksi HIV
biasanya tidak menunjukkan gejala setelah bertahun-tahun terinfeksi. Tidak ada
seorangpun dapat menentukan apakah betul atau tidak seseorang terinfeksi hanya
berdasarkan penampilannya saja. Walaupun orang tersebut mungkin terlihat sehat,
mereka masih bisa menularkan HIV kepada orang lain. Kadang orang yang suda
terinfeksi HIV tidak sadar bahwa mereka mengidap virus tersebut, karena mereka
merasa sehat dan bisa tetap aktif. Hanya tes laboratorium yang dapat
menunjukkan seseorang telah terinfeksiHIV atau tidak.
3.2 Saran
Penyakit menular seksual merupakan penyakit yang ditularkan melalui
hubungan seksual, oleh karenanya hal yang paling amp[uh untuk menghindari
terjadinya penyakit menular adalah tidak hubungan seksual di luar nikah dan
bergnti-ganti pasangan dalam hubungan seksual.
Semoga makalah ini bermanfaat bagi para pembaca semuanya. Makalah
ini dibuat untuk memberikan gambaran kepada para pembaca tentang penyakit
yang ditularkan melalui hubungan seksual dan bahayanya bagi kesehatan
manusia, khususnya kesehatan reproduksi.
DAFTAR PUSTAKA

Marilyn, E. Doenges.1999. Rencana Asuhan Keperawatan. EGC; Jakarta

25
Ratna Mardiana. 2010. Mengenal, mencegah, dan mengobati penularan penyakit
dari infeksi. Yogyakarta . Citra Pustaka.

Qomariah SN. Penyakit Menular Seksual. 2007. (diakses dari website


www.kesrepro.com, pada tanggal 7 Maret) 15:50

Wishnuwardhani SD. Penyakit dan Kelainan yang Tidak Langsung Berhubungan


dengan Kehamilan: Penyakit Menular dalam Ilmu Kebidanan. Edisi III.
Editor: Wiknjosastro H, Saifuddin AB, Rachimhadhi T. Jakarta: Yayasan
Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo, 2005.

www. Pdf.34567//penyakit menular seksual. Tanggal 7 Maret 2013. 15;50

26