Anda di halaman 1dari 3

TUGAS MANAJEMEN KEUANGAN PUBLIK

RANGKUMAN BAB 20
SUBSIDI LISTRIK

Dosen Terkait :
Abdul Halim, Prof., Dr., M.B.A., Ak., CA.

Disusun Oleh :
Made Ari Widiartini 15/381960/EK/20541

FAKULTAS EKONOMIKA DAN BISNIS


UNIVERSITAS GADJAH MADA
2017
Pendahuluan
Subsidi merupakan pembayaran yang dilakukan pemerintah kepada perusahaan atau rumah
tangga untuk mencapai tujuan tertentu yang membuat mereka dapat memproduksi atau mengonsumsi
suatu produk dalam kuantitas yang lebih besar atau pada harga yang lebih murah. Subsidi listrik
merupakan selisih negatif antara harga jual tenaga listrik rata-rata dari masing-masing golongan
dikurangi biaya pokok penyediaan tenaga listrik dikalikan volume penjualan untuk setiap golongan
tarif.
Perhitungan Dan Pembayaran Subsidi Listrik
Pelaksanaan subsidi listrik oleh pemerintah pusat dapat dibedakan menjadi 2 era :
a. Era sebelum tahun 2007
Pada tahun 2002, subsidi listrik memiliki batasan umum yaitu : (1) golongan tarif S-1, S-2, R-1,
1-1, dan B-1 diberikan untuk pelanggan dengan daya terpasang sampai dengan 450 Volt
Ampere; (2) besarnya subsidi adalah selisih negatif antara hasil penjualan listrik rata-rata
dikurangi HPP rata-rata tegangan rendah dikalikan volume penjualan untuk setiap golongan
tarif. Pada tahun 2005 subsidi listrik diperluas dengan batasan umum yaitu (1) subsidi listrik
diberikan kepada pelanggan dengan golongan tarif yang harga jual tenaga listrik rata-ratanya
lebih rendah dari BPP tenaga listrik pada tegangan di golongan tarif tersebut; (2) besarnya
subsidi listrik dihitung dari selisih negatif antara harga jual tenaga listrik rata-rata dari masing-
masing golongan tarif dikurangi PP pada tegangan di masing-masing golongan tarif tersebut
dikalikan volume penjualan untuk setiap golongan tarif. Pada era ini, perhitungan subsidi belum
mempertimangkan adanya margin agar PLN dapat mengembangkan kemampuan investasi
jangka panjangnya.
b. Era setelah tahun 2007
Pada tahun 2007, batasan umum subsidi listrik yaitu : (1) subsidi listrik diberikan kepada
pelanggan dengan golongan tarif yang harga jual tenaga listrik rata-ratanya lebih rendah dari
BPP tenaga listrik pada tegangan di golongan tarif tersebut; (2) subsidi listrik dihitung dari
selisih kurang antara harga jual tenaga listrik rata-rata dari masing-masing golongan tarif
dikurangi BPP pada tegangan di masing-masing golongan tarif ditambah margin dikalikan
volume penjualan untuk setiap golongan tarif; (3) penentuan margin berdasarkan usul dari
menteri ESDM dengan mempertimbangkan usulan dari Menteri Negara BUMN. Pada era ini
telah mulai diperkenalkan adanya margin.

Berdasarkan subsidi listrik dalam satu tahun anggaran secara final ditetapkan berdasarkan
laporan hasil audit yang disampaikan oleh auditor kepada Menteri Keuangan. Apabila terdapat
selisih kurang pembayaran subsidi listrik antara yang telah dibayar kepada PLN dengan hasil audit,
jumlah selisih kurang dimaksud setelah mendapat persetujuan dari Menteri Keuangan dapat
diusulkan untuk dianggarkan dalam APBN tahun anggaran berikutnya atau APBN perubahan.
Apabila terdapat selisih lebih pembayaran subsidi listrik, PLN harus segera menyetorkan kelebihan
pembayaran tersebut ke rekening kas umum negara Nomor 502.000000 di Bank Indonesia sebagai
penerimaan negara bukan pajak sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
Kebutuhan pendapatan merupakan batas pendapatan untuk membiayai penyediaan tenaga
listrik yang dibutuhkan oleh PLN. Kebutuhan pendapatan terdiri dari : (1) kebutuhan pendapatan
operasi yaitu batas pendapatan kegiatan operasi berdasarkan biaya-biaya operasi yang menjadi
beban PLN; (2) kebutuhan pendapatan investasi yaitu batas pendapatan kegiatan investasi
berdasarkan biaya investasi dan margin untuk PLN dalam rangka penyediaan tenaga listrik.
Komponen Kebutuhan Pendapatan
Kebutuhan pendapatan operasi terdiri dari : (1) biaya pembangkitan : biaya bahan bakar,
biaya pembelian tenaga listrik, biaya sewa pembangkit tenaga listrik, dan biaya pendukung
pembangkitan; (2) biaya transmisi : biaya kepegawaian, biaya honorarium, biaya pemakaian
material, biaya jasa borongan, biaya perjalanan dinas, biaya teknologi informasi, biaya asuransi,
biaya sewa aset, biaya administrasi transmisi lainnya; (3) biaya distribusi dan penjualan : biaya baca
meter, biaya pengelolaan pelanggan, biaya penagihan rekening, biaya penertiban pemakaian tenaga
listrik, biaya administrasi distribusi dan penjualan lainnya; (4) biaya fungsional perusaahaan: biaya
bunga pinjaman kredit modal kerja, biaya lindung mulai, biaya CSU, biaya pajak badan, dan biaya
fungsional perusahaan lainnya.
Kebutuhan pendapatan investasi terdiri dari (1) biaya untuk memenuhi kewajiban
pembiayaan dan (2) biaya untuk menambah kapasitan usaha dan menjaga kinerja aset.
Kesimpulan
Faktor-faktor makroekonomi yang mempengaruhi biaya pokok penyediaan listrik untuk
harga energi primer adalah Indonesian Crude Petroleum, batu bara dunia, gas, dan panas bumi;
inflasi Indonesia dan dunia; kurs rupiah terhadap dolar AS. Sedangkan faktor-faktor industri listrik
yang memengaruhi biaya pokok penyediaan listrik adalah alpha Pertamina untuk bahan bakar
minyak; pajak pertambahan nilai BBM; susut jaringan tegangan tinggi, tegangan menengah, dan
tegangan rendah; tingkat margin dari BPP; tingkat pertumbuhan permintaan listrik.
Sumber: Halim, Abdul. 2016. Manajemen Keuangan Sektor Publik. Jakarta: Salemba Empat.