Anda di halaman 1dari 13

MAKALAH IKATAN KIMIA

“KARAKTER SENYAWA KOVALEN DAN KARAKTERISTIK


IKATAN ION”

DISUSUN OLEH :

KELOMPOK 5

ANJALIKA SARI (E1M015004)

BAIQ WULAN DAYANTI (E1M015016)

ERLINA FEBLIA (E1M105025)

SUHRATUL AINI (E1M105067)

WAINDA SARDIKA DEWI (E1M015069)

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS MATARAM

2017
BAB I

PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG
Dari 90 buah unsur alam dan dan diatambah dengan belasan unsur buatan dapat
membentuk senyawa dalam jumlah yang tak hingga. Proses terbentuknya senyawa karena
adanya gaya tarik menarik yang disebut ikatan kimia. Jadi, ikatan kimia adalah daya tarik
menarik antara atom yang menyebabkan suatu senyawa kimia dapat bersatu. Kekuatan
daya tarik menarik ini menetukan sifat-sifat kimia dari suatu zat, dan cara ikatan kimia
berubah jika suatu zat bereaksi digunakan untuk mengetahui jumlah energi yang dilepas
atau direabsorpsi selama terjadinya reaksi (Brady, 2003).
Ikatan kimia dapat dibagi menjadi dua kategori besar, yaitu ikatan ion dan ikatan
kovalen. Disebut terbentuk ikatan ion jika terjadinya perpindahan elektron di antara atom
untuk membentuk partikel yang bermuatan listrik dan mempunyai gaya tarik menarik.
Daya tarik menarik diantara ion-ion yang bermuatan berlawanan merupakan suatu ikatan
ion. Sedangkan ikatan kovalen terbentuk dari terbaginya (sharing) elektron diantara atom-
atom. Dengan perkataan lain, daya tarik menarik inti atom pada elektron yang terbagi
diantara elektron itu merupakan suatu ikatan kovalen (Brady, 2003).
Suatu ikatan ion dapat terbentuk melalui proses serah terima elektron. Supaya
jumlah elektron yang diberikan suatu atom sama dengan yang diterima elektron lain, maka
koefisien reaksinya harus disamakan. Suatu ikatan kovalen terbentuk terjadi karena
pemakaian pasangan elektron secara bersama oleh 2 atom yang berikatan. Ikatan kovalen
terjadi antara unsur non logam dengan unsur nonlogam.
B. RUMUSAN MASALAH
1. Apa itu ikatan kovalen ?
2. Apa itu ikatan ionik ?
3. Bagaimana perbedaan dari senyawa ionik dan senyawa kovalen ?
4. Bagaimana karakter dari senyawa kovalen dan karakteristik ikatan ion ?
C. TUJUAN
1. Untuk mengetahui apa itu ikatan kovalen
2. Untuk mengetahui apa itu ikatan ionik
3. Untuk mengetahui bagaimana perbedaan dari senyawa ionik dan senyawa kovalen
4. Untuk mengetahui karakter dari senyawa kovalen dan mengetahui karakteristik ikatan
ion

1
BAB II

PEMBAHASAN

D. PENJELASAN
1.1 IKATAN KOVALEN
Ikatan kovalen adalah ikatan yang terjadi karena pemakaian pasangan elektron
secara bersama oleh 2 atom yang berikatan. Ikatan kovalen terjadi akibat
ketidakmampuan salah 1 atom yang akan berikatan untuk melepaskan elektron
(terjadi pada atom-atom non logam). Ikatan kovalen terbentuk dari atom-atom unsur
yang memiliki afinitas elektron tinggi serta beda keelektronegatifannya lebih kecil
dibandingkan ikatan ion. Atom non logam cenderung untuk menerima elektron
sehingga jika tiap-tiap atom non logam berikatan maka ikatan yang terbentuk dapat
dilakukan dengan cara mempersekutukan elektronnya dan akhirnya terbentuk
pasangan elektron yang dipakai secara bersama. Pembentukan ikatan kovalen
dengan cara pemakaian bersama pasangan elektron tersebut harus sesuai dengan
konfigurasi elektron pada unsur gas mulia yaitu 8 elektron (kecuali He berjumlah 2
elektron).

Ada 3 jenis ikatan kovalen :

 Ikatan Kovalen Tunggal


Contoh :

Ikatan yang terjadi antara atom H dengan atom H membentuk molekul H2

Konfigurasi elektronnya :

1H =1

Ke-2 atom H yang berikatan memerlukan 1 elektron tambahan agar


diperoleh konfigurasi elektron yang stabil (sesuai dengan konfigurasi elektron
He).

Untuk itu, ke-2 atom H saling meminjamkan 1 elektronnya sehingga


terdapat sepasang elektron yang dipakai bersama.

H  H  H 
H

2
Rumus struktur = H  H

Rumus kimia = H2

 Ikatan Kovalen Rangkap Dua


Contoh :

Ikatan yang terjadi antara atom O dengan O membentuk molekul O2

Konfigurasi elektronnya :

8O= 2, 6

Atom O memiliki 6 elektron valensi, maka agar diperoleh konfigurasi


elektron yang stabil tiap-tiap atom O memerlukan tambahan elektron sebanyak 2.

Ke-2 atom O saling meminjamkan 2 elektronnya, sehingga ke-2 atom O


tersebut akan menggunakan 2 pasang elektron secara bersama.

   
 
O   O  O  O

   

Rumus struktur : OO

Rumus kimia : O2

 Ikatan Kovalen Rangkap Tiga


Contoh :

Ikatan yang terjadi antara atom N dengan N membentuk molekul N2

Konfigurasi elektronnya :

7N = 2, 5

Atom N memiliki 5 elektron valensi, maka agar diperoleh konfigurasi


elektron yang stabil tiap-tiap atom N memerlukan tambahan elektron sebanyak 3.

3
Ke-2 atom N saling meminjamkan 3 elektronnya, sehingga ke-2 atom N
tersebut akan menggunakan 3 pasang elektron secara bersama.

** oo ** oo

***

ooo

***
ooo
N + N N N

Rumus struktur : NN

Rumus kimia : N2

 Ikatan Kovalen Koordinasi / Koordinat / Dativ / Semipolar


Adalah ikatan yang terbentuk dengan cara penggunaan bersama
pasangan elektron yang berasal dari salah 1 atom yang berikatan [Pasangan
Elektron Bebas (PEB)], sedangkan atom yang lain hanya menerima pasangan
elektron yang digunakan bersama.
Pasangan elektron ikatan (PEI) yang menyatakan ikatan dativ
digambarkan dengan tanda anak panah kecil yang arahnya dari atom donor
menuju akseptor pasangan elektron.

Dalam rumus struktur, ikatan kovalen koordinasi ditulis dengan/


digambarkan dengan anak panah menuju ke atom yang menerima.

Tanda anak panah menyatakan sumber pasangan elektron yang dipakai


bersama.

Contoh :

Pembentukkan senyawa SO3

ikatan koordinasi O
S + 3 O S O
O
ikatan kovalen

4
Ikatan Kovalen Polar

Suatu ikatan kovalen disebut sebagai ikatan kovalen polar jika pasangan
elektron ikat yang digunakan bersama cenderung untuk tertarik ke salah satu
atom yang terlibat dalam ikatan. Kepolaran ikatan tersebut disebabkan oleh
perbedaan keelektronegatifan antara tiap atom yang terlibat dalam ikatan.
Semakin besar perbedaan keelektronegatifan, kepolaran ikatan yang terjadi akan
semakin besar pula.

Contoh senyawa yang mengandung ikatan kovalen polar adalah HCl.


Dalam senyawa HCl, pasangan elektron lebih mudah tertarik ke atom Cl, karena
atom Cl lebih elektronegatif daripada atom H. Kondisi ini menciptakan dua kutub
dalam molekul HCl. Atom yang memiliki harga keelektronegatifan yang lebih
besar akan menjadi kutub negatif, dan atom yang memiliki harga
keelektronegatifan lebih rendah akan menjadi kutub positif.

Kepolaran senyawa atau molekul dapat dilihat dari harga momen bipolar
yang dimilikinya. Semakin besar harga momen bipolar dari suatu senyawa atau
molekul, senyawa atau molekul tersebut akan menjadi semakin polar.

Ikatan Kovalen Nonpolar

Suatu ikatan kovalen dapat disebut sebagai ikatan kovalen nonpolar jika
pasangan elektron ikat yang digunakan bersama tertarik sama kuat ke setiap atom
yang berikatan.

Untuk molekul yang mengandung dua atom, kepolaran dari molekul


tersebut dapat ditentukan sebagai berikut:

1. Jika kedua atom tersebut sama = ikatan yang terbentuk adalah ikatan kovalen
nonpolar, sebagai contoh N2, F2, O2, dll
2. Jika kedua atom tersebut berbeda = ikatan yang terbentuk adalah ikatan
kovalen polar, sebagai contoh HCl, HBr, H2O, dan NH3

Untuk molekul yang mengandung tiga atau lebih atom, kepolaran molekul
tersebut dapat ditentukan sebagai berikut :

5
1. Jika atom pusat tidak memiliki pasangan elektron bebas, bentuk molekulnya
akan menjadi simetris, jadi pasangan elektron akan tertarik secara simetris ke
semua atom. Sehingga, ikatan yang terjadi adalah kovalen nonpolar. Contoh:
CCl4
2. Jika atom pusat memiliki pasangan elektron bebas, bentuk molekulnya akan
menjadi tidak simetris, jadi pasangan elektron akan cenderung tertarik ke atom
pusat. Sehingga, ikatan yang terjadi adalah ikatan kovalen polar. Contoh: H2O,
NH3

1.2 IKATAN IONIK


Ikatan ionik terjadi jika atom unsur yang memiliki energi ionisasi kecil/rendah
melepaskan elektron valensinya (membentuk kation) dan atom unsur lain yang
mempunyai afinitas elektron besar/tinggi menangkap/menerima elektron tersebut
(membentuk anion).
Kedua ion tersebut kemudian saling berikatan dengan gaya elektrostatis (sesuai
hukum Coulomb).
Unsur yang cenderung melepaskan elektron adalah unsur logam sedangkan
unsur yang cenderung menerima elektron adalah unsur non logam.

Contoh :

Ikatan antara 11 Na dengan 17 Cl

Konfigurasi elektronnya :

11 Na = 2, 8, 1

17 Cl = 2, 8, 7

- Atom Na melepaskan 1 elektron valensinya sehingga konfigurasi elektronnya


sama dengan gas mulia.
- Atom Cl menerima 1 elektron pada kulit terluarnya sehingga konfigurasi
elektronnya sama dengan gas mulia.
- Antara ion Na+ dengan Cl  terjadi gaya tarik-menarik elektrostatis sehingga
terbentuk senyawa ion NaCl.

6
Senyawa yang mempunyai ikatan ion antara lain :

- Golongan alkali (IA) [kecuali atom H] dengan golongan halogen (VIIA)


Contoh : NaF, KI, CsF

- Golongan alkali (IA) [kecuali atom H] dengan golongan oksigen (VIA)


Contoh : Na2S, Rb2S,Na2O

- Golongan alkali tanah (IIA) dengan golongan oksigen (VIA)

1.3 PERBEDAAN SENYAWA IONIK DAN SENYAWA KOVALEN


Sifat senyawa kovalen
1. Kebanyakan menunjukkan titik leleh rendah <3500C
2. Umumnya cairan atau gas pada suhu kamar
3. Umumnya larut dalam pelarut non-polar, sedikit yang larut dalam air
4. Sedikit yang menghantar listrik
5. Umumnya terbakar
6. Banyak yang berbau (Ralph H, 1987).
Sifat senyawa ionik
1. Titik lebur dan titik didih, daya tarik antara ion positif dan negatif dalam
senyawa ion cukup besar, satu ion berikatan dengan beberapa ion yang
muatannya berlawanan. Akibatnya, titik lebur dan titik didih senyawa ion lebih
tinggi.
2. Kelarutan, pada umumnya senyawa ion larut dalam pelarut polar ( seperti air dan
amonia ), karena sebagian molekul pelarut menghadapkan kutub negatifnya ke
ion positif, dan sebagian lagi menghadapkan kutub positifnya ke ion negatif,
akhirnya ion terpisah satu sama lain )
3. Hantaran listrik, hantaran listrik terjadi bila medium mengandung partikel
bermuatan yang dapat bergerak bebas, seperti elektron dalam sebatang logam,
senyawa ion berwujud padat, tidak menghantarkan listrik, karena ion posittif dan
negatif terikat kuat satu sama lain. Akan tetapi cairan senyawa ion akan
menghantarkan lisrik karena ion – ionnya menjadi lepas dan bebas. Senyawa ion
juga dapat menghantarkan listrik, bila larut dalam pelarut polar ( senyawa
misalnya air ) karena terionisasi .

7
4. Kekerasan, Karena kuatnya ikatan antara ion positif dan negatif, maka senyawa
ion berupa padatan keras dan berbentuk kristal, permukaan kristal itu tidak mudah
digores atau digeser ( Syukri, 1999 ).
Perbandingan sifat fisik yang paling menonjol antara senyawa kovalen dan
senyawa ion adalah titik leleh, kelarutan, penghantaran listrik. Perbedaan ketiga
perbedaan ini antara lain disebabkan oleh kekuatan ikatan ion. Perbandingan
beberapa sifat senyawa kovalen dan ion :
Tabel 1. perbandingan sifat senyawa kovalen dan senyawa ion.
No Senyawa kovalen Senyawa ion
1 Kebanyakan Kebanyakan
menunjukkan titik leleh menunjukkan titik leleh
rendah (<350oC). tinggi (>350oC, sering
sampai 1000oC).
2 Umumnya cairan atau Semuanya dalah
gas pada suhu kamar. padatan pada suhu
kamar.
3 Umumnya larut dalam Umumnya larut dalam
pelarut non-polar, air dan beberapa larut
sedikit yang larut dalam dalam pelarut non-
air. polar.
4 Sedikit yang Umumnya menghantar
menghantar listrik. listrik.
5 Umumnya terbakar. Hampir tidak terbakar.
6 Banyak yang berbau. Hanya sedikit yang
berbau.

1.4 KARAKTER SENYAWA KOVALEN DAN KARAKTERISTIK IKATAN


ION

Penggolongan senyawa Ionik

Berdasarkan jenis ion-ion yang ada dalam senyawa ionik, senyawa ionik dapat
dibagi menjadi empat, yaitu :
a. Senyawa ionik sederhana

8
Misalnya : NaCl, KCl, MgCl2 , Na2O , K2O, dan MgO
b. Senyawa ionik yang mengandung kation sederhana dan anion poliatomik
Misalnya : K2SO4, NaNO3 , K2 [HgI4] , dan K3 [Fe (CN)6]
c. Senyawa ionik yang mengandung kation poliatomik dan anion sederhana
Misalnya : NH4Cl , N(CH3)4 Br , dan [Ag (NH3)2 Cl]
d. Senyawa ionik yang mengandung kation dan anion poliatomik
Misalnya : NH4NO3 , (NH4)2SO4 , [Co(NH3)6] [Cr(CN)6].

Karakter Ionik Senyawa Biner


Tidak ada senyawa ionik yang karakter ioniknya 100%. Menurut Pauling, untuk
senyawa biner yang tersusun atas atom-atom A dan B dengan keelektronegatifan atom
B lebih besar dibandingkan keelektronegatifan atom A karakter ioniknya dapat
diperkirakan sebagai berikut :

Karkter ionik = )2

Keterangan :
XA = Kelektronegatifan atom A
XB = Kelektronegatifan atom B

Berdasarkan perbedaan keelektronegatifan atom-atom senyawa biner presentase


karakter ioniknya seperti tabel berikut :

Tabel 3.1 Karakteristik Ionik Pada Senyawa Biner


Perbedaan Persentase Perbedaan Persentase
keelektronegatifan karakter ionic keelektronegatifan karakter ionik
0,1 0,5 1,7 51
0,2 1 1,8 55
0,3 2 1,9 59
0,4 4 2,0 63
0,5 6 2,1 67
0,6 9 2,2 70
0,7 12 2,3 74

9
0,8 15 2,4 76
0,9 19 2,5 79
1,0 22 2,6 82
1,1 26 2,7 84
1,2 30 2,8 86
1,3 34 2,9 88
1,4 39 3,0 89
1,5 43 3,1 91
1,6 47 3,2 92

Senyawa biner dengan persentase karakteristikioniknya lebih besar dari 50% dapat
dianggap sebagai senyawa ionik. Apabila karakter ioniknya lebih kecil dari 50% dapat
dianggap sebagai senyawa kovalen polar. Berdasarkan data pada tabel diatas dapat
disimpulkan bahwa suatu senyawa biner dapat dianggap merupakansenyawa ionik apabila
perbedaan keelektronegatifan antara 2 atom penyusun senyawa biner tersebut 1,7 atau
lebih. Perlu diingat bahwa senyawa ionik terjadi antara unsur logam dengan unsur non
logam melalui serah terima elektron. Seperti kita ketahui bahwa HF memiliki beda
keelektronegatifan sebesar 1,8 akan tetapi bukan merupakan senyawa ionik, melainkan
senyawa kovalen polar. Hal ini dikarenakan atom H dan atom F sama-sama merupakan
unsur non logam. Sehigga tidak terjadi serah terima elektron dalam pembentukan
senyawanya.

Tidak ada senyawa ionik yang karakter ioniknya 100%.


Bila perbedaan keelektronegatifan > 1,7 ===> seny. ionik
Bila perbedaan keelektronegatifan < 1,7 ===> seny. Kovalen polar

10
BAB III

PENUTUP

E. KESIMPULAN
Ikatan kovalen adalah ikatan yang terjadi karena pemakaian pasangan elektron
secara bersama oleh 2 atom yang berikatan. Ikatan kovalen terjadi akibat ketidakmampuan
salah 1 atom yang akan berikatan untuk melepaskan elektron (terjadi pada atom-atom non
logam). Ikatan kovalen terbentuk dari atom-atom unsur yang memiliki afinitas elektron
tinggi serta beda keelektronegatifannya lebih kecil dibandingkan ikatan ion. Sedangkan
Ikatan ionik terjadi jika atom unsur yang memiliki energi ionisasi kecil/rendah melepaskan
elektron valensinya (membentuk kation) dan atom unsur lain yang mempunyai afinitas
elektron besar/tinggi menangkap/menerima elektron tersebut (membentuk anion).
Tidak ada senyawa ionik yang karakter ioniknya 100%. Menurut Pauling, untuk
senyawa biner yang tersusun atas atom-atom A dan B dengan keelektronegatifan atom B
lebih besar dibandingkan keelektronegatifan atom A karakter ioniknya dapat diperkirakan
dengan suatu rumus. Senyawa biner dengan persentase karakteristikioniknya lebih besar
dari 50% dapat dianggap sebagai senyawa ionik. Apabila karakter ioniknya lebih kecil dari
50% dapat dianggap sebagai senyawa kovalen polar.

F. SARAN
Makalah ini jauh dari kata sempurna, oleh karena itu kami membutuhkan masukan
positif dari pembaca, terimakasih.

11
DAFTAR PUSTAKA

Brady. 2003. Kimia Universitas Asas dan Struktur Jilid 1. Jakarta : Binarupa Aksara.

Deepublish.

Diakses pada tanggal 26 November 2017

Effendy.2008. Ikatan Ionik dan Cacat –Cacat Pada Kristal Ionik Edisi 2. Malang : Bayu
Media Publishing.

http://sulae.blogspot.com
Keenan, C. W, dkk. 1998. Kimia untuk Universitas. Jakarta : Erlangga.

Prasetiawan, Widi. 2008. Kimia Dasar 1. Jakarta : Cerdas Pustaka Publisher.

Purba,M. 2006. Kimia SMA. Jakarta : Erlangga.

Saputro, Agung N.C. 2015. Buku Ajar : Konsep Dasar Kimia Koordinasi. Yogyakarta :

Staf Pengajar Jurusan Kimia. 1998. Kimia Dasar I. F-Mipa Kimia. Bogor : IPB Press.

Sulaiman. 2008. Ikatan Kovalen dan Ikatan ion.

Syukri, S. 1999. Kimia Dasar 1. Penerbit ITB. Bandung.

12