Anda di halaman 1dari 13

SATUAN ACARA PENYULUHAN (SAP)

HEMODIALISIS DAN DIET BAGI PASIEN YANG MENJALANI


HEMODIALISIS DI RUANG HEMODIALISA RSUD dr. R. KOESMA
TUBAN

Disusun oleh:

1. Indria Rachma Rarasati 17.07.3.149.036


2. Nur Widhiastutik 17.07.3.149.059
3. M. Fuad Firmansyah 17.07.3.149.048
4. Rizki Veronica 17.07.3.149.068
5. Wahyuning Sri R. 17.07.3.149.091

PROGRAM PENDIDIKAN PROFESI (NERS)

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN NAHDLATUL ULAMA TUBAN

2017/2018
SATUAN ACARA PENYULUHAN (SAP)
HEMODIALISIS DAN DIET BAGI PASIEN YANG MENJALANI
HEMODIALISIS

Hari : Jum’at
Tanggal : 06 Oktober 2017
Waktu : 30 Menit
Tempat : Ruangan Hemodialisa RSUD RSUD dr.R.KOESMA
TUBAN
Sasaran : Keluarga Pasien
Topik kegiatan : Penyuluhan Tentang tindakan hemodialisa dan diet bagi
pasien yang menjalani hemodialisa.

A. LATAR BELAKANG
Penyakit gagal ginjal kronik utamanya diderita oleh pasien – pasien yang telah
mengalami usia lanjut. Pasien – pasien yang menjalani hemodialisa, tidak cukup
dilakukan sekali saja, ada yang menjalani hemodialisa secara regular / rutin tiap
minggu. Bahkan, ada pula yang menjalani hemodialisa sampai dua kali dalam tiap
minggunya. Hal ini tentu saja akan menimbulkan berbagai dampak dan
komplikasi yang dialami oleh pasien.

Pasien yang menjalani hemodialisa tentu saja memiliki rasa cemas dan
khawatir mengenai tindakan tersebut. Oleh karena itu, sebelum menjalani proses
hemodialisa ada hal – hal yang perlu diketahui oleh setiap pasien agar kecemasan
yang dialami pasien – pasien tersebut minimal dapat berkurang. Sebagai perawat
diharapkan memberikan informasi dan pengarahan – pengarahan, serta motivasi
terhadap pasien yang menjalani hemodialisa.

Untuk meningkatkan kualitas hidup pasien dengan hemodialisis diperlukan


penatalaksanaan lain seperti management dit. Anggota keluarga memiliki potensi
untuk menjadi pendorong utama koping. Selain itu, lingkungan keluarga cepat
menjadi faktor yang kritis pada pengarahan individu terhadap sebuah krisis
(Hough, 1991). Oleh karena itu dibutuhkan pendidikan kesehatan kepada keluarga
pasien yang menunggu pasien selama menjalani terapi hemodialisis mengenai diit
pada pasien dengan hemodialisis.

B. TUJUAN
1. Tujuan instruksional umum
Setelah mengikuti proses penyuluhan diharapkan peserta mengetahui tentang
pengetahuan tindakan hemodialisa dan diit pada pasien dengan hemodialisa.
2. Tujuan instruksional khusus
Setelah mendapatkan penyuluhan diharapkan sasaran penyuluhan mampu:
1) Memahami dan menjelaskan pengertian hemodialisa
2) Memahami dan menjelaskan tujuan, indikasi dan kontra indikasi serta
komplikasi pada pasien hemodialisis
3) Memahami dan mampu menjelaskan pentingnya diit pada pasien
hemodialisis.
4) Memahami dan mampu menyebutkan macam-macam diit pada pasien
hemodialisis.
5) Memahami dan mampu memberikan contoh makanan yang dianjurkan
dan tidak dianjurkan bagi pasien hemodialisis.

C. SASARAN PENYULUHAN
Keluarga pasien hemodialisis yang menunggu pasien selama menjalani
hemodialisis.

D. MATERI (Terlampir)
1. Definisi hemodialisis
2. Konsep Dialisis
3. Tujuan hemodialisis
4. Indikasi dan kontraindikasi hemodialisis
5. Komplikasi hemodialisis
6. Diet untuk pasien hemodialisis
7. Pentingnya diet bagi pasien hemodialisis
8. Macam-macam diet pada pasien hemodialisis
E. STRATEGI PEMBELAJARAN
No Tahap Kegiatan Penyuluh Kegiatan Peserta

1. Moderator mengucapkan 1. Sasaran menjawab


salam kepada sasaran salam
2. Moderator merkenalkan 2. Sasaran menyimak
kelompok pada sasaran
3. Moderator menyampaikan 3. Sasaran menyimak
Pendahuluan
1 topic penyuluhan, tujuan 4. Menerima leaflet
5 menit
penyuluhan dan
menjelaskan waktu
pelaksanaan.
4. Fasilitator membagikan
leaflet

1. Penyaji menyampaikan 1. Mendengarkan dan


Penyajian dan
materi memperhatikan
2 tanya jawab
2. Memberikan kesempatan 2. Bertanya dan
15 menit
pada peserta untuk berdiskusi
bertanya

1. Menyimpulkan hasil 1. Memperhatikan


penyuluhan
2. Moderator melakukan 2. Menjawab pertanyaan
Penutup evaluasi secara verbal/ lisan
3
5 menit dengan memberikan
beberapa pertanyaan tentang
materi yang sudah dibahas.
3. Mengakhiri dengan
mengucapkan salam 3. Menjawab salam
F. METODE
1. Ceramah
2. Diskusi

G. MEDIA
1. LCD Proyektor
2. Leaflet
3. Laptop

H. RENCANA EVALUASI KEGIATAN


1. Evaluasi Struktur :
a. Satuan acara penyuluhan (SAP) sudah siap
b. 80% alat dan bahan yang diperlukan sudah tersedia
2. Evaluasi Proses
a. Kegiatan berlangsung tepat waktu
b. Peserta yang hadir 90 % dari total peserta
c. 90 % peserta berada ditempat sesuai waktu yang telah ditentukan
d. 90% peserta tetap mengikuti kegiata penyuluhan sampai selesai
e. 70% peserta yang aktif bertanya dari total
3. Evaluasi Hasil
a. Peserta dapat menyebutkan definisi hemodialisis
b. Peserta dapat menyebutkan komplikasi hemodialisis
c. Peserta dapat menjelaskan pentingnya diit pasien hemodialisis
d. Peserta dapat menyebutkan contoh makanan yang dianjurkan dan tidak
dianjurkan untuk dikonsumsi pasien hemodialisis
Lampiran
A. Pengertian
Hemodialisa merupakan suatu proses yang digunakan untuk mengeluarkan
cairan dan produk limbah dalam tubuh kita, ginjal tidak mampu melaksanakan
proses tersebut (Brunner& Sunddarth, 2001).
Salah satu terapi yang diberikan pada pasien dengan gagl ginjal kronis
adalah hemodialisa. Tujuan terapi dialisa adalah untuk mempertahankan
kehidupan dan kesejahteraan pasien sampai fungsi ginjal pulih kembali (Brunner
& Suddarth, 2001).
Hemodialisis berasal dari kata “hemo” artinya darah, dan “dialisis ”
artinya pemisahan zat-zat terlarut. Hemodialisis berarti proses pembersihan darah
dari zat-zat sampah, melalui proses penyaringan di luar tubuh. Hemodialisis
menggunakan ginjal buatan berupa mesin dialisis. Hemodialisis dikenal secara
awam dengan istilah ‘cuci darah’.

B. Konsep Proses Dialisa


Pada hemodialisis darah dikeluarkan dari tubuh penderita dan diedarkan
dalam sebuah mesin di luar tubuh, sehingga cara ini memerlukan jalan keluar-
masuk aliran darah. Untuk itu dibuat jalur buatan di antara
pembuluh arteri dan vena atau disebut fistula arteriovenosa melalui pembedahan.
Lalu dengan selang darah dari fistula, darah dialirkan dan dipompa ke dalam
mesin dialisis. Untuk mencegah pembekuan darah selama proses pencucian, maka
diberikan obat antibeku yaitu Heparin.
Sebenarnya proses pencucian darah dilakukan oleh tabung di luar mesin
yang bernama dialiser. Di dalam dialiser, terjadi proses pencucian, mirip dengan
yang berlangsung di dalam ginjal. Pada dialiser terdapat 2 kompartemen serta
sebuah selaput di tengahnya. Mesin digunakan sebagai pencatat dan pengontrol
aliran darah, suhu, dan tekanan. Aliran darah masuk ke salah satu kompartemen
dialiser. Pada kompartemen lainnya dialirkan dialisat, yaitu suatu carian yang
memiliki komposisi kimia menyerupai cairan tubuh normal. Kedua kompartemen
dipisahkan oleh selaput semipermeabel yang mencegah dialisat mengalir secara
berlawanan arah. Zat-zat sampah, zat racun, dan air yang ada dalam darah dapat
berpindah melalui selaput semipermeabel menuju dialisat. Itu karena, selama
penyaringan darah, terjadi peristiwa difusi dan ultrafiltrasi. Ukuran molekul sel-
sel dan protein darah lebih besar dari zat sampah dan racun, sehingga tidak ikut
menembus selaput semipermeabel. Darah yang telah tersaring menjadi bersih dan
dikembalikan ke dalam tubuh penderita. Dialisat yang menjadi kotor karena
mengandung zat racun dan sampah, lalu dialirkan keluar ke penampungan dialisat.
Difusi adalah peristiwa berpindahnya suatu zat dalam campuran, dari
bagian pekat ke bagian yang lebih encer. Difusi dapat terjadi bila ada perbedaan
kadar zat terlarut dalam darah dan dalam dialisat. Dialisat berisi komponen seperti
larutan garam dan glukosa yang dibutuhkan tubuh. Jika tubuh kekurangan zat
tersebut saat proses hemodialisis, maka difusi zat-zat tersebut akan terjadi dari
dialisat ke darah.
Ultrafiltrasi merupakan proses berpindahnya air dan zat terlarut karena
perbedaan tekanan hidrostatis dalam darah dan dialisat. Tekanan darah yang lebih
tinggi dari dialisat memaksa air melewati selaput semipermeabel. Air mempunyai
molekul sangat kecil sehingga pergerakan air melewati selaput diikuti juga oleh
zat sampah dengan molekul kecil.
Kedua peristiwa tersebut terjadi secara bersamaan. Setelah proses penyaringan
dalam dialiser selesai, maka akan didapatkan darah yang bersih. Darah itu
kemudian akan dialirkan kembali ke dalam tubuh.
Rata-rata tiap orang memerlukan waktu 9 hingga 12 jam dalam seminggu
untuk menyaring seluruh darah dalam tubuh. Tabi biasanya akan dibagi menjadi
tiga kali pertemuan selama seminggu, jadi 3 - 5 jam tiap penyaringan. Tapi hal ini
tergantung juga pada tingkat kerusakan ginjalnya.
Menurut PERNEFRI (2003) waktu atau lamanya hemodialisa disesuaikan
dengan kebutuhan individu. Tiap hemodialisa dilakukan 4–5 jam dengan
frekuensi 2 kali seminggu. Hemodialisa idealnya dilakukan 10–15 jam/minggu
dengan QB 200–300 mL/menit. Sedangkan menurut Corwin (2000) hemodialisa
memerlukan waktu 3–5 jam dan dilakukan 3 kali seminggu. Pada akhir interval 2–
3 hari diantara hemodialisa, keseimbangan garam, air, dan pH sudah tidak normal
lagi. Hemodialisa ikut berperan menyebabkan anemia karena sebagian sel darah
merah rusak dalam proses hemodialisa. Price dan Wilson (1995) menjelaskan
bahwa dialisat pada suhu tubuh akan meningkatkan kecepatan difusi, tetapi suhu
yang terlalu tinggi menyebabkan hemolisis sel-sel darah merah sehingga dapat
menyebabkan pasien meninggal. Robekan pada membran dializer yang
mengakibatkan kebocoran kecil atau masif dapat dideteksi oleh fotosel pada aliran
keluar dialisat. Hemodialisa rumatan biasanya dilakukan tiga kali seminggu, dan
lama pengobatan berkisar dari 4 sampai 6 jam, tergantung dari jenis sistem dialisa
yang digunakan dan keadaan pasien.

C. Tujuan Hemodialis
Menurut Havens dan Terra (2005) tujuan dari pengobatan hemodialisa
antara lain :
1. Menggantikan fungsi ginjal dalam fungsi ekskresi, yaitu membuang sisa-sisa
metabolisme dalam tubuh, seperti ureum, kreatinin, dan sisa metabolisme
yang lain.
2. Menggantikan fungsi ginjal dalam mengeluarkan cairan tubuh yang
seharusnya dikeluarkan sebagai urin saat ginjal sehat.
3. Meningkatkan kualitas hidup pasien yang menderita penurunan fungsi ginjal.
4. Menggantikan fungsi ginjal sambil menunggu program pengobatan yang lain.

D. Indikasi dan Kontraindikasi


1. Indikasi
Price dan Wilson (1995) menerangkan bahwa tidak ada petunjuk yang
jelas berdasarkan kadar kreatinin darah untuk menentukan kapan pengobatan
harus dimulai. Kebanyakan ahli ginjal mengambil keputusan berdasarkan
kesehatan penderita yang terus diikuti dengan cermat sebagai penderita rawat
jalan. Pengobatan biasanya dimulai apabila penderita sudah tidak sanggup lagi
bekerja purna waktu, menderita neuropati perifer atau memperlihatkan gejala
klinis lainnya. Pengobatan biasanya juga dapat dimulai jika kadar kreatinin serum
diatas 6 mg/100 ml pada pria , 4 mg/100 ml pada wanita dan glomeluro filtration
rate (GFR) kurang dari 4 ml/menit. Penderita tidak boleh dibiarkan terus menerus
berbaring ditempat tidur atau sakit berat sampai kegiatan sehari-hari tidak
dilakukan lagi.
Menurut konsensus Perhimpunan Nefrologi Indonesia (PERNEFRI)
(2003) secara ideal semua pasien dengan Laju Filtrasi Goal (LFG) kurang dari 15
mL/menit, LFG kurang dari 10 mL/menit dengan gejala uremia/malnutrisi dan
LFG kurang dari 5 mL/menit walaupun tanpa gejala dapat menjalani dialisis.
Selain indikasi tersebut juga disebutkan adanya indikasi khusus yaitu apabila
terdapat komplikasi akut seperti oedem paru, hiperkalemia, asidosis metabolik
berulang, dan nefropatik diabetik.
Kemudian Thiser dan Wilcox (1997) menyebutkan bahwa hemodialisa
biasanya dimulai ketika bersihan kreatinin menurun dibawah 10 mL/menit, ini
sebanding dengan kadar kreatinin serum 8–10 mg/dL. Pasien yang terdapat
gejala-gejala uremia dan secara mental dapat membahayakan dirinya juga
dianjurkan dilakukan hemodialisa. Selanjutnya Thiser dan Wilcox (1997) juga
menyebutkan bahwa indikasi relatif dari hemodialisa adalah azotemia simtomatis
berupa ensefalopati, dan toksin yang dapat didialisis. Sedangkan indikasi khusus
adalah perikarditis uremia, hiperkalemia, kelebihan cairan yang tidak responsif
dengan diuretik (oedem pulmonum), dan asidosis yang tidak dapat diatasi.
2. Kontra Indikasi
Menurut Thiser dan Wilcox (1997) kontra indikasi dari hemodialisa adalah
hipotensi yang tidak responsif terhadap presor, penyakit stadium terminal, dan
sindrom otak organik. Sedangkan menurut PERNEFRI (2003) kontra indikasi dari
hemodialisa adalah tidak mungkin didapatkan akses vaskuler pada hemodialisa,
akses vaskuler sulit, instabilitas hemodinamik dan koagulasi. Kontra indikasi
hemodialisa yang lain diantaranya adalah penyakit alzheimer, demensia multi
infark, sindrom hepatorenal, sirosis hati lanjut dengan ensefalopati dan keganasan
lanjut (PERNEFRI, 2003).
E. Komplikasi Hemodialisa
Menurut Tisher dan Wilcox (1997) serta Havens dan Terra (2005) selama
tindakan hemodialisa sering sekali ditemukan komplikasi yang terjadi, antara lain
:
1. Kram otot
Kram otot pada umumnya terjadi pada separuh waktu berjalannya
hemodialisa sampai mendekati waktu berakhirnya hemodialisa. Kram otot
seringkali terjadi pada ultrafiltrasi (penarikan cairan) yang cepat dengan
volume yang tinggi.
2. Hipotensi
Terjadinya hipotensi dimungkinkan karena pemakaian dialisat asetat,
rendahnya dialisat natrium, penyakit jantung aterosklerotik, neuropati
otonomik, dan kelebihan tambahan berat cairan.
3. Aritmia
Hipoksia, hipotensi, penghentian obat antiaritmia selama dialisa, penurunan
kalsium, magnesium, kalium, dan bikarbonat serum yang cepat berpengaruh
terhadap aritmia pada pasien hemodialisa.
4. Sindrom ketidakseimbangan dialisa
Sindrom ketidakseimbangan dialisa dipercaya secara primer dapat
diakibatkan dari osmol-osmol lain dari otak dan bersihan urea yang kurang
cepat dibandingkan dari darah, yang mengakibatkan suatu gradien osmotik
diantara kompartemen-kompartemen ini. Gradien osmotik ini menyebabkan
perpindahan air ke dalam otak yang menyebabkan oedem serebri. Sindrom ini
tidak lazim dan biasanya terjadi pada pasien yang menjalani hemodialisa
pertama dengan azotemia berat.
5. Hipoksemia
Hipoksemia selama hemodialisa merupakan hal penting yang perlu dimonitor
pada pasien yang mengalami gangguan fungsi kardiopulmonar.
6. Perdarahan
Uremia menyebabkan ganguan fungsi trombosit. Fungsi trombosit dapat
dinilai dengan mengukur waktu perdarahan. Penggunaan heparin selama
hemodialisa juga merupakan faktor risiko terjadinya perdarahan.
7. Ganguan pencernaan
Gangguan pencernaan yang sering terjadi adalah mual dan muntah yang
disebabkan karena hipoglikemia. Gangguan pencernaan sering disertai
dengan sakit kepala.
8. Infeksi atau peradangan bisa terjadi pada akses vaskuler.
Pembekuan darah bisa disebabkan karena dosis pemberian heparin yang tidak
adekuat ataupun kecepatan putaran darah yang lambat.

F Diet untuk Pasien Hemodialisa


Seseorang yang sudah mengalami gagal ginjal harus menjaga pola
makannya karena banyak makanan yang justru bisa memperparah kondisi
penyakitnya. Penderita sakit ginjal tidak bisa mengonsumsi buah dan sayur
sesukanya, dengan jumlah yang sama seperti orang sehat. Harus dipahami bahwa
ada sayur dan buah yang berpotensi memperparah kondisi kesehatan penderita.
Oleh karena itu, penderita gagal ginjal harus benar-benar mengetahui kandungan
buah dan sayur yang mereka konsumsi. “Penderita gagal ginjal sebaiknya
mengurangi konsumsi buah-buahan karena sebagian buah-buahan berkadar
Kalium (potassium) tinggi. Kadar kalium yang sangat tinggi (hiperkalemia) dapat
menyebabkan irama jantung terganggu. Penderita harus bisa membatasi jumlah
konsumsi buah setiap harinya. Misalnya buah apel, penderita ginjal hanya bisa
mengonsumsi setengahnya saja. Namun yang juga harus diingat, jika kondisi
penderita ginjal sudah tidak bisa lagi berkemih, maka sebaiknya hentikan
konsumsi buah dan sayur hingga lancar berkemih.

Sementara itu, bagi penderita yang belum menjalani cuci darah. dianjurkan
untuk melakukan diet rendah protein 40-45 gram/hari. Hal ini tentunya tergantung
fungsi ginjal penderita yang dapat diketahui dengan pemeriksaan laboratorium.
Jika fungsi ginjal kurang dari 15 persen, maka pertu melakukan cuci darah.

Lain lagi pada penderita gagal ginjal yang sudah lama alias menahun atau
kronis. Penderita gagal ginjal kronis harus menjalani diet ketat dengan beberapa
tujuan yaitu untuk mengatur keseimbangan cairan dan elektrolit dalam tubuh dan
untuk menjaga agar penderita dapat beraktivitas seperti orang normal. Prinsip diet
bagi penderita gagal ginjal kronis adalah:
1. Diet lunak atau biasa.
2. Sebagai sumber karbohidrat: gula pasir, selai, sirup, dan permen.
3. Cukup energi dan rendah protein
4. Sebagai sumber protein, diutamakan protein hewani, misalnya: susu, sapi,
daging, dan ikan. Banyaknya sesuai dengan kegagalan fungsi ginjal penderita.
5. Sebagai sumber lemak, diutamakan lemak tidak jenuh, dengan kebutuhan
sekitar 25 persen dari total energi yang diperlukan.
6. Untuk kebutuhan air, dianjurkan sesuai dengan jumlah urine 24 jam; sekitar
500 mililiter melalui minuman dan makanan.
7. Untuk kebutuhan kalium dan natrium dengan keadaan penderita.
8. Untuk kebutuhan kalori, sekitar 35 Kkal/Kg berat badan/hari.
9. Membatasi asupan garam dapur jika ada hipertensi(darah tinggi) atau edema
(bengkak).
10. Dianjurkan juga mengonsumsi agar-agar karena selain mengandung sumber
energi juga mengandung serat yang larut.
Makanan yang sebaiknya dibatasi bagi penderita gagal ginjal kronik antara
lain:
1. Sumber karbohidrat seperti: nasi, jagung, kentang, makaroni, pasta,
hevermout, ubi.
2. Protein hewani, seperti: daging kambing, ayam, ikan, hati, keju, udang, telur.
3. Sayuran dan buah-buahan tinggi kalium, seperti: apel, alpukat, jeruk, pisang,
pepaya dan daun pepaya, seledri, kembang kol, peterseli, buncis.

G. Pentingnya Diit pada Pasien Hemodialisis


Diet merupakan faktor penting bagi pasien yang menjalani hemodialisa mengingat
adanya efek uremia. Apabila ginjal tidak mampu mengekskresikan produk
akhir metabolisme, substansiyang bersifat asam ini akan menumpuk dalam serum
pasien dan bekerja sebagai racun. Gejala yang terjadi akibat penumpukan tersebut secara
kolektif dikenal dengan gejala uremik dan akanmempengaruhi setiap sistem tubuh. Lebih
banyak toksin yang menumpuk, lebih berat gejala yang timbul.
Diet rendah protein akan mengurangi penumpukan limbah nitrogen dan de
ngan demikian mikian meminimalkan gejala. Penumpukan cairan juga dapat
terjadi dan dapat mengakibatkan gagal jantung kongestifserta edema paru. Dengan
demikian pembatasan cairan juga merupakan bagian dari resep diet untuk pasien
ini. Dengan penggunaan hemodialisa yang efektif, asupan makanan pasien dapat
diperbaiki meskipun biasanya memerlukan beberapa penyesuaian atau
pembatasan pada asupan protein, natrium, kalium dan cairan.

DAFTAR PUSTAKA

Brunner & sunddarth.2001.Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah. Jakarta :


EGC
Rendi, clevo M. 2012. Asuhan Keperawatan Medikah Bedah Dan Penyakit Dalam.
Jogjakarta:Noha Medika
http://b11nk.wordpress.com/hemodialisa/ jam 19.35
http://www.minuman-sehat.com/penyakit-dan-obatnya/obat-untuk-ginjal/diet-
bagi-penderita-gagal-ginjal.html Di unduh hari senin jam 21.00
http://www.scribd.com/doc/94003823/Sap Diunduh Hari senin Jam 24.00