Anda di halaman 1dari 15

Selasa, 17 Juli 2012

DIET PENYAKIT LAMBUNG

Tujuan, syarat, indikasi pemberian, cara memesan diet, makanan yang boleh
dikonsumsi atau tidak.

Indikasi :
Diberikan kepada penderita tukak lambung (sakit maag). Dapat juga diberikan pada penderita
radang lambung (gastritis), diare, typhus abdominalis

Tujuan Diet :
1. menetralkan kelebihan asam lambung
2. memberikan makanan yang cukup
3. meringankan fungsi lambung

Prinsip Diet :
1. Mudah cerna, makanan lunak atau cair
2. Tidak merangsang
3. Porsi kecil dan diberikan sering

Bahan makanan yang diperbolehkan :


1. Sumber Karbohidrat : beras dibuat bubur atau nasi tim, kentang direbus atau dipure,
macaroni biskuit dan tepung-tepungan yang dibuat bubur atau tepung.
2. Sumber protein :
a. Nabati : tempe, tahu, oncom dipotong kecil-kecil, dihaluskan atau dilumatkan, kacang-
kacangan (kacang ijo, kacang kedele direbus sampai lunak).
b. Hewani : daging sapi tak berlemak, hati, ikan,ayam dicincang
3. Susu dan hasil olahannya : susu segar, susu
full cream, susu skim, keju
4. Sayur yang tak berserat dan tidak menimbulkan gas : bayam, buncis, labu kuning, labu
siam, wortel, tauge, kacang panjang
5. Buah-buahan yang tidak asam dan tidak beralkohol : pisang, pepaya, alpukat
6. Lemak : gunakan santan encer dan minyak untukmenumis
7. Minuman yang tidak asam, tidak mengandung soda dan alkohol : sari buah yang tidak
asam

Bahan makanan yang dihindari :


1. Sumber karbohidrat : nasi keras, ketan, bulgur jagung, cantel, ubi
talas
2. Sumber protein Hewani : daging berlemak, ikan asin, ikan pindang
3. Sayuran yang banyak mengandung serat dan gas : kol, sawi dan
nagka
4. Buah yang dikeringkan dan buah-buahan asam dan mengandung alkohol : kurma, kismis,
pisang sale, asinan buah, asam, jeruk siam, nanas, duku, rambutan dan durian
5. Lemak : santan kental dan goreng-gorengan
6. Minuman yang mengandung soda dan alkohol :kopi dan softdrink,
tape
7. Bumbu yang tajam : cuka, cabe, merica yang yang terlalu banyak

Cara mengatur diet :


1. Kurangi makanan pedas, asam, mengandung gas terlalu
panas/dingin
2. Sumber karbohidrat : nasi keras, ketan, bulgur,jagung, cantel, ubi
talas
3. Makan harus teratur, lambung tidak boleh kosong lebih dari 3 jam
4. Makan dalam porsi kecil tetapi sedikit dan frekuensi sering. Dianjurkan 6 kali atau lebih
dalam sehari
5. Makan secara perlahan dengan cara yang santai
6. Cara memasak sebaiknya direbus, dikukus, ditim, atau
dipanggang/bakar

Hal-hal yang perlu diperhatikan :


1. Hindari merokok (perokok pasif)
2. Hindari stress
3. Hati-hati memberikan obat/suplemen yang bersifat asam dan merangsang keluarnya asam
lam bung : vitamin C, Zat besai, asam salisilat, acetosal, kortikosteroid dan obat-obat anti
rematik.

Contoh Jumlah Pembagian Makanan Sehari Sekitar 1700 Kkal


:
Energi 1625,0 Kkal Lemak 45,1 gram
Protein 49,5 gram Karbohidrat 255,2 gram

PEMBAGIAN MAKANAN SEHARI


Jam makan Berat (Gram) URT
Makan Pagi
Beras / Penukar 50 3/8 gelas
Lauk Hewani 25 1/2 ptg
Lauk Nabati 25 1/2 ptg
Sayuran 100 1 gelas
Buah - - ptg
Minyak 10 1 sdm
Gula 10 10 1 sdm

Jam 10.00
Snack 50 1 bh

Makan Siang
Beras / Penukar 50 3/8 gelas
Lauk Hewani 25 1/2 ptg
Lauk Nabati 25 1/2 ptg
Sayuran 100 1 gelas
Buah 100 1 ptg
Minyak 10 1 sdm
Gula 15 15 1 1/2 sdm
Jam 16.00
Snack 50 1 bh

Makan Malam
Beras / Penukar 50 3/8 gelas
Lauk Hewani 25 1/2 ptg
Lauk Nabati 25 1/2 ptg
Sayuran 100 1 gelas
Buah 100 1 ptg
Minyak 10 1 sdm
Gula 15 1 1/2 sdm

Contoh Menu
Makan Pagi : Nasi Tim
Semur bola-bola daging
Pepes tahu
Tumis tauge dan kc panjang

Jam 10.00 : Nagasari

Makan Siang : Nasi Tim


Rolade daging ayam
Tahu bumbu kuning
Bening Bayam
Pepaya

Jam 16.00 : Puding maizena

Makan Malam : Nasi Tim


Telur Ceplok Air
Tim tempe
Tumis labu siam dan wortel
Pisang

http://giziwebster.blogspot.com/2012/07/diet-penyakit-lambung.html
DIIT PADA PENYAKIT LAMBUNG
Posted on October 14, 2009 by Yayan_Akhyar | 1 Comment

Rate This

GAMBARAN UMUM

—–Penyakit lambung atau gastrointestinal meliputi gastritis akut dan kronik, ulkus peptikum,
pasca operasi lambung yang sering diikuti dengan ”dumping sindrome” dan kanker lambung.
Ganguan gastrointestinal sering dihubungkan dengan emosi atau psikoneurosis dan/atau
makan terlalu cepat karena kurang dikunyah sertta terlalu banyak merokok.

—–Gangguan pada lambung umumnya berupa sindrom dispepsia, yaitu kumpulan gejala
yang terdiri dari mual, muntah, nyeri epigastrium, kembung, nafsu makan berkurang, dan
rasa cepat kenyang.

—–

TUJUAN DIIT

—–Tujuan diet penyakit lambung adalah untukmemberikan makanan dan cairan secukupnya
yang tidak memberatkan lambung serta mencegah dan menetralkan sekresi asam lambungg
yang berlebihan.

—–

SYARAT DIIT

 Mudah dicerna, porsi kecil dan sering diberikan


 Energi dan protein cukup,sesuai dengan kemampuan pasien unutuk menerimanya.
 Lemak rendah, yaitu 10-15% dari kebutuhan energi total yang ditingkatkan secara
bertahaphingga sesuai dengan kebutuhan.
 Rendah serat, terutama serat yang tadak larut air yang ditingkatkan secara bertahap.
 Cairan cukup, terutama bila ada muntah
 Tidak mengandung bahan makanan atau bumbu yang tajam, baik secara termis, mekanis,
,maupun kimia (dusesuaikan dengan daya terima perorangan)
 Laktosa rendah bila ada gejala intoleransi laktosa; umumnya tidak dianjurkan minum susu
terlalu banyak.
 Makan secara perlahan dilingkungan yang tenang
 Pada fase akut dapat diberikan makanan parenteral saja selama 24-48 jam untuk memberi
istirahat pada lambung.

—–

MACAM DIIT dan INDIKASI PEMBERIAN

Diit Lambung I

 Diet lambung ini diberikan kepada pasien gastritis akut, ulkus peptikum, paska perdarahan,
dan tifus abdominalis berat.
 Makanan diberikan dalam bentuk saring dan merupakan perpindahan dari Diet pasca
hematemesis-melena, atau setelah fase akut teratasi.
 Makanan diberikan setiap 3 jam selama 1-2 hari saja karena membosankan serta kurang
energi, zat besi, tiamin, dan vitamin C.

—–

Diet Lambung II

 Diet lambung II diberikan sebagai perpindahan dari diet lambung I, kepada pasien dengan
ulkus peptikum atau gastritis kronis dan tifus abdominalis ringan.
 Makanan berbebtuk lunak, porsi kecil serta diberikan berupa 3 kali makanan lengkap dan 2-3
kali makanan selingan.
 Makanan ini cukup energi, protein, vitamin C, tetapi kurang toamin.

—–

Diet Lambung III

 Diet lambung III diberikan sebagai perpindahan dari diet lambung II pada pasien dengan
ulkus peptikum, gastritis kronik, atau tifus abdominalis yang hampir sembuh.
 Makanan berbentuk lunak atau biasa bergantung pada toleransi pasien
 Makanan inii cukup energi dan zat gizi lainnya.

http://yayanakhyar.wordpress.com/2009/10/14/diit-pada-penyakit-lambung/

 Diet Penyakit Lambung

Penyakit lambung atau gastrointestinal meliputi maag/gastritis akut dan kronis,


ulkus peptikum (tukak lambung), setelah operasi lambung, tifus abdominalis dan
kanker lambung. Tujuan diet penyakit lambung adalah untuk memberikan makanan
dan cairan secukupnya agar tidak memberatkan kerja lambung serta mencegah dan
menetralkan sekresi asam lambung yang berlebihan. Diet penyakit lambung terbagi
dalam 3 kelompok, yaitu :

a. Diet lambung I : untuk kasus berat. Makanan yang diberikan dalam bentuk
makanan saring dan diberikan setiap 3 jam.

b. Diet lambung II : untuk kasus ringan. Makanan diberikan dalam bentuk makanan
lunak.

Makanan yang dianjurkan untuk diet lambung I dan II adalah :

 Sumber karbohidrat : Beras dibubur atau ditim, kentang dipure, makaroni


direbus, roti di panggang, biskuit, krekers, mie, bihun, tepung-tepungan dibuat
bubur, atau puding.
 Sumber protein hewani : Daging sapi empuk, hati, ikan, ayam digiling atau
dicincang, dan direbus, disemur, ditim, dipanggang, telur ayam direbus,
didadar, ditim, diceplok air, dan dicampur ke dalam makanan seperti susu.
 Sumber protein nabati : Tahu, tempe direbus, ditim, ditumis, kacang hijau di
rebus dan dihaluskan.
 Sayuran : pilih yang rendah serat dan tidak menimbulkan gas seperti bayam,
bit, labu siam, labu kuning, wortel, tomat direbus, dan ditumis.
 Buah-buahan : Pepaya, pisang, jeruk manis, sari buah, pir dan peach.
 Lemak : margarin dan mentega, minyak untuk menumis, dan santan encer.
 Minuman : air putih biasa, jika mungkin pilih air alkali
 Bumbu : gula, garam, vetsin, kunci, kencur, jahe, kunyit, terasi, laos, salam,
sereh.

Makanan yang tidak dianjurkan untuk diet lambung I dan II yaitu:

 Sumber karbohidrat : Beras ketan, beras tumbuk, roti whole wheat, jagung,
ubi, singkong, talas, cake, dodol, dan berbagai kue yang terlalu manis dan
berlemak tinggi.
 Sumber protein hewani : Daging, ikan, ayam yang diawetkan, digoreng,
daging babi, telur diceplok atau digoreng.
 Sumber protein nabati : Tahu, tempe digoreng, kacang tanah, kacang merah,
kacang tolo.
 Sayuran : Sayuran mentah, sayuran berserat tinggi, dan menimbulkan gas
seperti daun singkong, kacang panjang, kol, lobak, sawi, dan asparagus.
 Buah-buahan : Buah yang tinggi serat dan/atau dapat menimbulkan gas
seperti jambu biji, nanas, apel, kedondong, durian, nangka, buah yang
dikeringkan.
 Lemak : Lemak hewan dan santan kental
 Minuman : yang mengandung soda dan alkohol sperti kopi, ice cream.
 Bumbu : Lombok, bawang, merica, cuka, dan bumbu-bumbu yang tajam
lainnya.

Diet lambung III : diberikan pada penderita gangguan saluran cerna atas yang
hampir sembuh. Makanan berbentuk lunak atau biasa.
Makanan yang dianjurkan :

 Sumber karbohidrat : Beras ditim, nasi, kentang direbus, dipure, mie,


makaroni, bihun, direbus, roti, biskuit, krekers, tepung-tepungan dibuat puding
atau dibubur.
 Sumber protein hewani : Daging sapi empuk, hati, ikan, ayam direbus,
disemur, ditim, dipanggang, telur ayam direbus, ditim, didadar, diceplok
dengan air, dan dicampur ke dalam makanan; susu.
 Sumber protein nabati : Tahu, tempe direbus, ditim, ditumis, kacang hijau
direbus.
 Sayuran : Sayuran yang tidak banyak serat dan yang tidak menimbulkan gas
seperti bayam, kacang panjang, bit, labu siam, wortel, tomat, labu kuning,
direbus, ditumis, disetup, atau diberi santan.
 Buah-buahan : pepaya, pisang, sawo, jeruk manis, sari buah, buah dalam
kaleng.
 Lemak : Margarin, minyak, santan encer
 Minuman : sirup, teh encer
 Bumbu : garam, gula, dalam jumlah terbatas, jahe, kunyit, kunci, kencur, laos,
salam, sereh, terasi.

Makanan yang tidak dianjurkan:

 Karbohidrat : Beras ketan, beras tumbuk, roti whole wheat, jagung, ubi,
singkong, talas, kentang di goreng, dodol.
 Protein hewani : Daging, ikan, ayam yang dikaleng, dikeringkan, diasap,
diberi bumbu-bumbu tajam, daging babi, telur goreng.
 Protein nabati : Tahu, tempe digoreng, kacang tanah, kacang merah, kacang
tolo
 Sayuran : Sayuran yang dikeringkan
 Buah-buahan : Buah yang tinggi serat dan/atau dapat menimbulkan gas
seperti jambu biji, nenas, kedondong, durian, nangka dan buah yang
dikeringkan.
 Lemak : Lemak hewan, santan kental
 Minuman : Kopi, teh kental, minuman yang mengandung soda dan alkohol,
ice cream
 Bumbu : Lombok, merica, cuka dan bumbu lainnya yang tajam

http://www.mausehat.com/diet-atasi-masalah-saluran-cerna/
Senyum & Semangat

Tak ada satu kata pun yang sia-sia dari mulutmu, semua berarti jika kau mensyukurinya.....
Jangan pernah merasa sendiri.... Karena Allah itu lebih dekat daripada urat nadi kita......
Tetaplah yakin dan berbaik sangka..... Karena kau akan selalu bersama dengan apa yang
paling engkau cintai....

Minggu, 13 November 2011


DIET PENYAKIT LAMBUNG

DIET PENYAKIT LAMBUNG


1. PATOFISIOLOGI PENYAKIT LAMBUNG ATAU GASTROINTESTINAL

Menurut Almatsier (2001), saluran cerna adalah system yang sangat kompleks dan merupakan
saluran yang berfungsi untuk mencerna makanan, mengabsorbsi zat gizi dan mengeksresi sisa-sisa
pencernaan. Gangguan pada lambung umumnya berupa sindroma dyspepsia, yaitu kumpulan gejala
yaitu kumpulan gejala yaitu mual, muntah, nyeri epigastum, kembung, nafsu makan berkurang dan
rasa cepat kenyang. Penyakit-penyakit saluran cerna yang terjadi antara lain demam tifoid, gastro
enteritis akut (GEA) dan gastritis.

a. Gastritis
Gastritis adalah inflamasi / peradangan mukosa gaster / lambung. Ada dua kalsifikasi
gastritis, yaitu:

1. Gastritis akut erosif : peradangan permukaan mukosa gaster yang akut dengan kerusakan –
kerusakan erosi. Disebut erosif apabila kerusakan yang terjadi tidak lebihdalam dari pada
mukosa muskularis.
Etiologi :

Etiologi :a. Obat aspirin b. Bahan kimiac. Rokok d. Alkohole. Stres fisik ( luka bakar, sepsis,
trauma pembedahan, dll )f. Stres psikologisg. Refluk isi usus. h Endotoksin

2. Gastritis Kronik : inflamasi mukosa gaster yang menahun yang dapat


disebabkanoleh ulkus yang benignan atau malignan dan bisa juga yang
disebabkanoleh Helycobakteri pylori.
Helicobacter pylori merupakan bakteri gram negatif. Organisme ini menyerang sel
permukaan gaster, memperberat timbulnya desquamasi sel dan muncullah respon radang kronis
pada gaster yaitu : destruksi kelenjar dan metaplasia.

Metaplasia adalah salah satu mekanisme pertahanan tubuh terhadap iritasi, yaitu dengan
mengganti sel mukosa gaster, misalnya dengan sel desquamosa yang lebih kuat. Karena sel
desquamosa lebih kuat maka elastisitasnya juga berkurang. Pada saat mencerna makanan,
lambung melakukan gerakan peristaltik tetapi karena sel penggantinya tidak elastis maka akan
timbul kekakuan yang pada akhirnya menimbulkan rasa nyeri. Metaplasia ini juga menyebabkan
hilangnya sel mukosa pada lapisan lambung, sehingga akan menyebabkan kerusakan pembuluh
darah lapisan mukosa. Kerusakan pembuluh darah ini akan menimbulkan perdarahan.[1]

Ada dua klasifikasi gastritis kronik. Yaitu :


a. Gastritis kronis type A
Terjadi akibat perubahan sel parietal yang menimbulkan atrofi dan
infiltrasiseluler, hal ini sering dihubungkan dengan penyakit
autoimun sepertianemia pernisiosa.
b. Gastritis kronis type B
Penyakit ini dihubungkan dengan Helycobacteri Pylori, faktor diet
yangsembrono, merokok, minum alkohol dan refluk isi usus.
b. Ulkus Peptikum

Ulkus peptikum merupakan keadaan di mana kontinuitas mukosa lambung terputus dan
meluas sampai di bawah epitel. Kerusakan mukosa yang tidak meluas sampai ke bawah epitel
disebut erosi, walaupun seringkali dianggap juga sebagai tukak(misalnya tukak karena
stress). Tukak kronik berbeda denga tukak akut, karena memiliki jaringan parut pada dasar
tukak. Menurut definisi, tukak peptik dapat ditemukan pada setiap bagian saluran cerna yang
terkena getah asam lambung, yaitu esofagus, lambung, duodenum, dan setelah
gastroduodenal, juga jejunum. Walaupun aktivitas pencernaan peptic oleh getah lambung
merupakan factor etiologi yang penting, terdapat bukti bahwa ini hanya merupakan salah satu
factor dari banyak factor yang berperan dalam patogenesis tukak peptic.
Penyebab terjadinya ulkus peptikum belum jelas tetapi banyak teori yang
menerangkan terjadinya ulkus peptikum diantaranya adalah :

1. Resistensi mukosa terhadap asam getah lambung ulkus kronis terjadi karena adanya
sekresi asam lambung yang berlebihan.

2. Kerusakan pada susunan saraf pusat seperti neoplasma dan hipertensi maligna
menyebabkan chusing,erosi akut dan ulkus lambung,esofagus,duodenum.

3. Kondisi fisiologis seseorang berpengaruh pada munculnya ulkus lambung.pada beberapa


orang yang ambisius dan beban stress yang tinggi serta hidup tidak teratur beresiko
menderita peptic ulcer ( alexander dalam Hadi 1995 )

4. Infark pada dinding lambung karena asam lambung.infark tersebut menjadi jaringan
trombus dan meninggalkan ulkus pada dinding lambung.

5. Faktor hormonal berpengaruh menimbulkan ulkus lambung seperti pada penyakit


addison’s,pasien mengkonsumsi obat kortison untuk dosis maitenens menambah
timbulnya ulkus lambung.

6. Obat-obatan yang menyebabkan terjadinya ulkus lambung.obat-obatan golongan NSAIDS


seperti aspirin,ibuprofen,naproxen dan diklofenak sering menyebabkan kelainan mukosa
lambung.

Ulkus lambung disebabkan oleh rusaknya pertahanan mukosa lambung. Mukosa


lambung terdiri atas 3 tipe sistem pertahanan:

1. Lapisan preepitel, memproduksi mucus yang mengandung bikarbonat.

2. Lapisan epitel, merupakan garis pertahanan kedua setelah preepitel dengan memproduksi
mucus yang memelihara PH intrasel dan produksi bikarbonat.

3. Lapisan subepitel, membentuk sistem mikrovaskuler.

Asam asetil salisilat(aspirin), alkohol dan indomethasin (indoci) merusak pertahanan


mukosa lambung. Pertahanan mukosa yang rusak akan menyebabkan asam klorida dan
pepsin dapat merusak lapisan epitel. Lapisan epitel tidak mampu memproduksi prostaglandin
yang merangsang sekresi bikarbonat sehingga bikarbonat berkurang dan suasana di lambung
menjadi sangat asam. Penurunan jumlah prostaglandin diduga juga akibat kehadiran
helicobacter pylori. Injuri mukosa gaster oleh H. Pylori menyebabkan ketidakseimbangan
antara produksi asam atau pepsin dengan produksi mukus, bikarbonat, dan aliran darah. H
pylori merupakan basil gram negatif, berkolonisasi pada lapisan gel mukosa padahal lapisan
tersebutlah yang melindungi mukosa dari berbagai kerusakan. Helicobacter pilori masuk
kedalam lapisan mukosa antrum dan melekat kuat pada permukaan epitel. Lokasi bakteri ini
akan melindunginya dari sistem imun tubuh dan keasaman lambung. Kemudian ia
mengeluarkan enzim urease yang menghasilkan amoniak dan meningkatkan pH sekitar
mikroorganisme tersebut. Sel D pada antrum lambung dirusak oleh bakteri tersebut dan
somatostatin menurun, kemudian sel G terstimulasi oleh hipergastrinemia tersebut dan
menyebabkan sel parietal lambung meningkatkan sekresi HCL. Kerusakan pada mukosa juga
menyebabkan gangguan aliran darah, spingter pilorus tidak berfungsi normal atau tidak
berespon terhadap sekretin atau kolesistokinin, suatu subtrat yang meningkatkan tekanan
dilambung dan mencegah refluk. tanpa fungsi normal spingter pilorus, asam-asam empedu
akan masuk ke lambung. Adanya asam empedu dan klorida yang berlebihan di lambung
menyebabkan difusi balik ion hidrogen, memacu terjadinya inflamasi pada mukosa dan
timbulnya ulkus. Berlebihnya produksi HCL akan mengiritasi lapisan epitel usus di
duodenum sehingga dapat teriritasi dan memicu terjadinya metaplasia perubahan epitel tipe
intestin menjadi epitel tipe gaster. H pylori dapat berkolonisasi di duodenum dan memicu
kerusakan lebih lanjut serta ulserasi.

c. Tifus Abdominalis
Typhus Abdominalis (demam tifoid, enteric fever) ialah penyakit infeksi akut yang
biasanya mengenai saluran pencernaan dengan gejala demam yang lebih dari satu minggu,
gangguan pada pencernaan dan gangguan kesadaran. Demam tifoid adalah infeksi demam
sistemik akut yang nyata pada fogosit mononuclear dan membutuhkan tatanama yang
terpisah.
2. SYARAT DIET PENYAKIT LAMBUNG

Syarat diet penyakit lambung terdiri dari:

a) Mudah cerna, porsi kecil, dan sering diberikan

Tujuan diet penyakit lambung adalah untuk memberikan makanan dan cairan secukupnya yang
tidak memberatkan lambung. Jika pasien penyakit lambung mengkonsumsi makanan dalam
jumlah banyak, maka hal ini dapat memberatkan lambung karena alat pencernaan termasuk
lambung selain mendorong makanan menuju usus halus juga secara periodic memeras isinya
sepanjang saluran, sehingga memungkinkan getah pencernaan bersentuhan baik dengan isi
saluran cerna. Semakin banyak makanan yang masuk maka lambung mendorong dan memeras
isinya atau akan melakukan gerak peristaltic semakin lama.

b) Energi dan protein cukup

Energi

Sumber energy utama adalah karbohidrat. Karbohidrat yang diperoleh mempunyai kandungan
zat pati dan zat gula(malthosa-sukrosa-laktosa). Denganadanya amylase (=ptialin) yang
bercampur dengan makanan didalam mulut,pati dengan bantuan air ludah /saliva akan diubah
menjadi dekstrin. Dengan terdapatnya asam klorida (HCl) yang diproduksi lambung, sebelum
makanan bereaksi asam, pati sebesar mungkin akan diubah menjadi disakharida. Jadi, konsumsi
karbohidrat yang tinggi akan meningkatkan produksi asam lambung.Adanya peningkatan asam
lambung yang berlebihan menghasilkan gelembung-gelembung gas di dalam lambung sehingga
seseorang merasakan kembung. Hal ini tentu akan memperparah kondisi penderita.

Protein

Salah satu fungsi asam lambung adalah mengaktifkan beberapa enzim yang terdapat dalam
getahlambung, misalnya pepsinogendiubah menjadi pepsin. Enzimini aktif memecah protein
dalam bolus menjadi proteosa danpepton yang mempunyai ukuran molekul lebih kecil. Jika
penderita penyakit lambung atau gastrointestinal mengkonsumsi protein dalam jumlah besar
maka sekresi enzim pepsin akan meningkat dimana secara otomatis produksi asam lambung juga
akan meningkat. Itulah sebabnya diet untuk penyakit lambung konsumsi proteinnya tidak boleh
terlalu tinggi atau cukup sesuai kebutuhan agar sekresi asam lambungnya tidak meningkat
sehingga tidak memperparah keadaan penderita.

c) Lemak rendah, 10-15% dari kebutuhan energi total

Makanan yang masuk ke dalam lambung akan bercampur dengan getah lambung yang
bersifat asam. Melalui gerakan kontraksi lambung, makanan akan dicerna hingga menjadi cair
(chymus). Walaupun pencernaan lemak di lambung sangat terbatas karena proses emulsifikasi
lemak tidak terjadi di lambung. Namun, proses pencernaan lipid pertama kali dilakukan di
lambung. Lambung mensekresikan getah lambung yaitu cairan jernih bewarna kuning pucat yang
mengandung HCL 0,2-0,5% dengan pH sekitar 1,0. Getah lambung terdiri atas 97-99% air.
Sisanya berupa musin (lendir) serta garam anorganik dan enzim pencernaan yaitu, pepsin renin
serta lipase. Enzim lipase inilah yang akan mencerna makanan yang mengandung lemak.

Panas lambung merupakan faktor penting untuk mencairkan massa lemak yang berasal dari
makanan dan proses emulsifikasinya terjadidengan bantuan kontraksi peristaltik. Lambung
menyekresikan lipase lambung (lipase gastrik) yang pada manusia merupakan lipase
prodeudenal utama. Lipase lingualdan gastrik memulai pencernaan lemak dengan menghidrolisis
triasilgliserol yang mengandung asam lemak rantai pendek, sedangdan pada umumnya asam
lemak tak jenuh rantai panjang untuk membentuk terutama asam lemak bebas dan 1,2-
diasilgliserol dengan ikatan sn-3 ester sebagai tempat hidrolisis utamanya. Enzim ini hancur pada
pH rendah, tetapi bekerja aktif setelah makan karena kerja pendaparan yang dimiliki protein
makanan di dalam lambung. Nilai optimum pH yang dimiliki cukup luas yaitu sekitar 3,0-6,0.

Lipase prodeudenal berperan penting selama periode neonatal, yaitu pada saat aktivitas
lipase pankreas masih rendah sementara lemak susu harus dicerna. Akibat waktu retensi selama
2-4 jam di dalam lambung, sekitar 30% triasilgliserol makanan dapat diserap pada selang waktu
tersebut, sebaian besar pada satu jam pertama. Lemak susu mengandung asam lemak rantai
sedang dan pendek yang cenderung mengalami esterifikasi pada posisi sn-3. Oleh sebab itu,
lemak susu merupakan substrat yang baik bagi enzim lipase gastrik. Asam lemak hidrofilik rantai
pendek dan sedang yang dilepas akan diserap melalui dinding lambung dan masuk ke vena
porta, sementara asam lemak rantai panjang larut di dalam droplet lemak dan terus melintas ke
duodenum.

Enzim lipase yang berperan dalam proses pencernaan lemak di lambung merupakan salah
satu komponen getah atau asam lambung. Jika orang yang menderita penyakit lambung
mengkonsumsi lemak tinggi, akan merangsang peningkatan produksi asam lambung. Padahal
tujuan diet penyakit lambung adalah untuk memberikan makanan dan cairan secukupnya yang
tidak memberatkan lambung dan mencegah dan menetralkan sekresi asam lambung yang
berlebihan. Pada penyakit lambung yang mensekresi asam lambung yang berlebihan, maka
makanan yang dikonsumsi haruslah makanan yang tidak merangsang lambung memproduksi
asam lambung lebih banyak. Lemak merupakan jenis makanan yang sulit dicerna yang dapat
memperlambat pengosongan lambung. Karena hal ini dapat menyebabkan peningkatan
peregangan di lambung yang akhirnya dapat meningkatkan asam lambung. Adanya peningkatan
asam lambung yang berlebihan menghasilkan gelembung-gelembung gas di dalam lambung
sehingga seseorang merasakan kembung. Itulah sebabnya mengapa orang yang sedang
melakukan diet penyakit lambung harus mengkonsumsi rendah lemak karena konsumsi lemak
yang tinggi akan merangsang produksi asam lambung yang tinggi juga dimana hal ini dapat
memperparah kondisi yang dialami penderita.

Selain itu, lemak akan memperlambat pergerakan makanan, gas, dan cairan ke saluran cerna
bawah yang mengakibatkan kembung. Itulah sebabnya pada diet penyakit lambung konsumsi
lemak rendah agar tidak memperparah rasa kembung yang dialami oleh penderita penyakit
lambung karena gangguan pada lambung umumnya berupa sindrom dyspepsia dimana salah
satu gejalanya adalah kembung.

d) Rendah serat, terutama serat tidak larut air

Pada penderita penyakit lambung yang umumnya mengalami sindrom dyspepsia, dianjurkan
untuk konsumsi rendah serat karena serat yang digunakan untuk mengatasi sembelit juga dapat
menyebabkan kembung tanpa adanya peningkatan jumlah gas, namun adanya kembung ini
disebabkan oleh melambatnya aliran gas ke usus kecil akibat serat.

Konsumsi rendah serat berdasarkan syarat diet penyakit lambung bertujuan untuk
memcepat pengosongan lambung. Dalam keadaan pasien dengan penyakit lambung
memnugkinkan bahwa lambung sebagai organ pencernaan mengalami luka atau ulkus. Hal ini
mengharuskan adanya percepatan pengosongan lambung agar lambung dapat istirahat lebih
lama dari proses pencernaan, sehingga dibutuhkan diet rendah serat karena konsumsi tinggi
serat dapat memperlambat pengosongan lambung.

e) Tidak mengandung bahan makanan atau bumbu yang tajam

Makanan yang berbumbu tajam dapat merangsang pengeluaran asam lambung berlebih.
Peningkatan asam lambung yang berlebihan menghasilkan gelembung-gelembung gas di dalam
lambung sehingga seseorang merasakan kembung. Itulah sebabnya mengapa orang yang sedang
melakukan diet penyakit lambung harus menghindari makanan yang berbumbu tajam agar tidak
memperparah keadaan yang dialaminya.

f) Laktosa rendah bila ada gejala intoleransi laktosa, umumnya tidak dianjurkan minum susu terlalu
banyak.

Lactose intolerance disebabkan oleh kurangnya enzim lactase yang dibutuhkan tubuh
untuk mencerna lactose (gula susu). Lactose yang tak tercerna akan bertahan di usus dan
mengalami fermentasi sehingga dapat menimbulkan rasa kembung. Itulah sebabnya pada
penderita penyakit lambung yang umumnya merasa kembung, dianjurkan untuk
mengkonsumsi rendah laktosa agar tidak memperparah kondisi yang sedang dialaminya.
3. MAKANAN SARING
Makanan saring adalah makanan semi padat yang mempunyai tekstur lebih halus daripada
makanan lunak, sehingga lebih mudah ditelan dan dicerna. Diet saring mempunyai efek
signifikan pada keasaman lambung atau penyembuhan ulkus. Makanan saring banyak
mengandung air sehingga proses pencernaannya lebih mudah dan tidak membutuhkan
kontraksi lambung yang kuat sehingga kerja lambung menjadi tidak berat.

DAFTAR PUSTAKA

Almatsier, Sunita. 2001. Prinsip Dasar Ilmu Gizi. Jakarta. PT. Gramedia Pustaka
Utama.
Corwin, Elizabeth J. 2000. Buku Saku pathofisiologi.EGC;
J a k a r t a Doengoes,
Marilynn,E. 2000. Rencana Asuhan Keperawatan Edisi 3,Jakarta : EGC
Mansjoer, Arief dkk.1999.Kapita Selekta Kedokteran.Edisi 3.Jilid I .Jakarta
F.K.U.I