Anda di halaman 1dari 58

PANDUAN

PENYELENGGARAAN PENDIDIKAN INKLUSIF DI MADRASAH

Tim Penyusun:
Dr. Achmad Syahid
Erwan Hermawan
Akmal
Kulsum
Maskanah
Lailil Qomariyah
Retno Dewi Utami
Iin Aulia
Emilia Kristiyanti
Nunu Nurdyana

DIREKTORAT KURIKULUM SARANA KELEMBAGAAN KESISWAAN MADRASAH


DIREKTORAT JENDERAL PENDIDIKAN ISLAM
KEMENTERIAN AGAMA REPUBLIK INDONESIA
2017
KATA PENGANTAR

Alhamdulillah. Segala puji dan syukur kita panjatkan ke hadirat Allah SWT atas karunia
dan nikmat kepada kita semua, sehingga penyusunan Panduan Teknis
Penyelenggaraan Pendidikan Inklusif di Madrasah ini dapat diselesaikan dengan baik.
Panduan ini merupakan salah satu bentuk perhatian Kementerian Agama guna
meningkatkan akses, mutu, daya saing dan relevansi pendidikan di madrasah,
termasuk yang menyelenggarakan pendidikan inklusif.
Panduan Teknis Penyelenggaraan Pendidikan Inklusif di Madrasah ini disusun
berdasarkan kebutuhan, untuk menjadi acuan bagi penyelenggaraan pendidikan inklusif
yang di beberapa madrasah di berbagai propinsi berlangsung sejak 2008. Panduan
teknis ini mengarahkan apa, siapa, mengapa, di mana, kapan dan bagaimana
pelaksanaan penyelenggaraan pendidikan inklusif oleh beberapa madrasah tersebut
dilaksanakan. Landasan normatif yang bersumber dari al-Qur’an dan Sunnah, landasan
filosofis, dan yuridis dijadikan dasar, di mana konsep implementasi dan manual
pelaksanaan yang termaktub dalam panduan ini terkokeksi dengan pengalaman
madarasah dan praktik baik penyelenggaraan pendidikan inklusif di berbagai negara.
Panduan Teknis Penyelenggaraan Pendidikan Inklusif di Madrasah ini dapat dibarengi
dengan berbagai kegiatan pengembangan diri secara berkelanjutan oleh pejabat
kementerian agama pusat, provinsi hingga kabupaten/kota; kepala madrasah; guru;
pengawas, tenaga kependikan, dan komite madrasah. Peran profesional orang tua
sangat diharapkan, di samping peran perguruan tinggi, sumber belajar, dunia usaha
dan dunia industri, lembaga swadaya masyarakat, dan tokoh masyarakat. Sinergi
kesemuanya merupakan penguatan bagi para madrasah penyelenggara pendidikan
inklusif untuk dapat melakukan peningkatan akses, mutu, relevansi dan daya saing
pendidikan inklusif secara mandiri namun sinergis secara berkelanjutan. Berdasarkan
data-data hasil pengawasan, evaluasi dan supervisi terhadap penyelenggara
pendidikan inklusif di madrasah, juga perkembangan kesadaran dunia terhadap konsep
dan pelaksanaan pendidikan untuk semua yang semakin membaik, maka kebijakan
tentang penyelenggaraan pendidikan inklusif yang hingga saat kini ditetapkan sebagai
pelaksana penting untuk diimbaskan kepada madrasah-madrasah lain yang berada di
sekitarnya sebagai pengalaman yang berharga.
Penyelenggara pendidikan inklusif di madrasah merupakan suatu hal yang sulit
diselenggarakan kecuali melalui upaya sinergis berbagai pihak, yaitu Kementerian
Agama pusat, provinsi, kabupaten/kota, para kepala madrasah, dan semua pihak
terkait. Karena itu, partisipasi dan dukungan dari semua pihak merupakan suatu
peluang bagi kita semua untuk mewujudkan pendidikan inklusif yang meningkat akses,
mutu, relevansi dan daya saingnya secara merata. Semoga apa yang diatur dalam
panduan teknis ini dapat dilaksanakan secara efektif melalui peran serta semua pihak.

Jakarta, 6 September 2017


Direktur Jenderal Pendidikan Islam

Prof. Dr. Phil. Kamaruddin Amin, MA


NIP 196901051996031003
HALAMAN PENGHARGAAN
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR………………………………………….……………………….i
HALAMAN PENGHARGAAN……………………………………….……………….ii
BAB I. PENDAHULUAN
A. Latar Belakang…………………………………………………………………………
B. Landasan Normatif, Filosofis, Empiris dan Yuridis…………………………………
C. Ruang Lingkup…………………………………………………………………………
D. Sasaran………………………………………………………………………………….

BAB II. KONSEP PENDIDIKAN INKLUSIF DAN KEBERAGAMAN PESERTA DIDIK


A. Konsep Pendidikan Inklusif……………………………………………………………
B. Keberagaman Peserta Didik……………………………………………………………

BAB III. MADRASAH PENYELENGGARA PENDIDIKAN INKLUSIF


A. Perencanaan Penyelenggaraan Pendidikan Inklusif di Madrasah
1. Analisa Kekuatan, Kelemahan, Peluang, dan Tantangan (KEKEPAN)
Madrasah…………………………………………………………………………….
2. Identifikasi, Asesmen, dan Pengembangan Program Pembelajaran yang
Inklusif………………………………………………………………………………….
B. Akomodasi yang layak dan Aksesibilitas bagi Peserta Didik Dengan Disabilitas
1. Manajemen Kelas……………………………………………………………………
2. Aksesibilitas Kelas dan Lingkungan Madrasah…………………………………..
C. Adaptasi Kurikulum dan Penilaian
1. Adaptasi Rencana Program Pembelajaran (RPP)……………………………….
2. Program Pembelajaran Individual (PPI)……………………………………………
D. Kerjasama Internal dan Eksternal
1. Kerjasama antar Komponen Madrasah……………………………………………
2. Kerjasama dengan Stakeholder Pendidikan Inklusif di luar Madrasah………..
BAB IV. SUPERVISI MADRASAH PENYELENGGARA PENDIDIKAN INKLUSIF
A. Prosedural Standard Pembinaan, Pengawasan, dan Evaluasi oleh Kepala
Madrasah………………………………………………………………………………….
B. Prosedural Standard Pembinaan, Pengawasan, dan Evaluasi oleh Pengawas
Madrasah………………………………………………………………………………….
BAB V. PENUTUP

LAMPIRAN
Lampiran 1
Instrumen Identifikasi Peserta Didik Berkebutuhan Khusus………………………….
Lampiran 2
Contoh Instrumen Asesmen Sosial-Emosi………………………………………………
Lampiran 3
Contoh Instrumen Asesmen Fungsional…………………………………………………
Lampiran 4
Contoh Profil Peserta Didik Berkebutuhan Khusus…………………………………….
Lampiran 5
Contoh Adaptasi Silabus Pembelajaran…………………………………………………
Lampiran 6
Contoh Adaptasi RPP……………………………………………………………………….
Lampiran 7
Contoh Program Pembelajaran Individual (PPI)…………………………………………
Lampiran 8
Contoh RKAM yang Inklusif………………………………………………………………..
Lampiran 9
Contoh Instrumen Supervisi Kegiatan Pembelajaran…………………………………….
Lampiran 10
Contoh Instrumen Supervisi Standar Penilaian…………………………………………...
DAFTAR ISTILAH………………………………………………………………………………...
PROFIL PENULIS………………………………………………………………………………..
DAFTAR PUSTAKA…………………………………………….……………………………….
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
“Setiap orang menjadi guru, setiap rumah menjadi sekolah” merupakan kata bijak
yang disampaikan oleh Bapak pendidikan Indonesia, Ki Hajar Dewantara. Kata-kata
tersebut sarat dengan makna bahwa kita hendaknya dapat memastikan pendidikan
dapat dirasakan oleh semua orang tanpa hambatan.
Di dalam keluarga, pengasuhan seorang ibu adalah yang utama. Sebagaimana
kalimat: “Al-ummu madrasat al-ula, iza a’dadtaha a’dadta sya’ban thayyib al-a’raq.”
Maknanya: ibu adalah sekolah utama [bagi putera-puterinya], bilamana engkau
mempersiapkannya [dengan baik sejak dini], maka engkau telah mempersiapkan
generasi terbaik.
Ungkapan di atas sejalan dengan pernyataan Undang-Undang Dasar 1945 terkait
dengan hak pendidikan bagi setiap warga negara Indonesia. Dibutuhkan komitmen
dan strategi yang tepat untuk mewujudkan cita-cita luhur bangsa Indonesia melalui
pendidikan.

Indonesia menganut dualisme sistem pendidikan, pendidikan umum di sekolah


diselenggarakan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, sedangkan
pendidikan keagamaan seperti madrasah, pesantren, dll., diselenggarakan oleh
Kementerian Agama. Dengan sistem ini, Kementerian Agama yang bertanggung
jawab atas penyelenggaraan pendidikan keagamaan di madrasah memiliki
komitmen guna memastikan bahwa layanan pendidikannya dapat dirasakan oleh
semua anak tanpa kecuali. Penyelenggaraan sistem pendidikan inklusif di madrasah
diharapkan Kementerian Agama dapat menjangkau dan menyentuh semua anak
Indonesia. Pendidikan inklusif merupakan penyelenggaraan pendidikan yang
membuka akses pendidikan bagi semua peserta didik dengan cara meniadakan
hambatan-hambatan yang dapat menghalangi peserta didik memperoleh pendidikan
serta memastikan bahwa layanan pendidikan yang terlaksana telah sesuai dengan
kebutuhan masing-masing peserta didik.

Untuk memastikan penyelenggaraan pendidikan inklusif di madrasah, baik


madrasah sebagai lembaga pendidikan maupun lembaga penyelenggara pendidikan
yakni Kementerian Agama dan yayasan milik masyarakat, harus memiliki
kemampuan agar dapat mengakomodir keberagaman peserta didik. Langkah
pertama yang dapat dilakukan oleh Kementerian Agama untuk memastikan layanan
pendidikan inklusif ini terjadi adalah dengan menerbitkan panduan penyelenggaraan
pendidikan inklusif di madrasah. Panduan ini merupakan acuan yang digunakan
oleh madrasah di berbagai jenis dan jenjang untuk memastikan bahwa
penyelenggaraan pendidikan inklusif dapat terlaksana dengan baik.

Sebagaimana telah disampaikan di atas, meskipun pendidikan inklusif merupakan


layanan pendidikan yang diperuntukan untuk semua peserta didik tanpa kecuali,
akan tetapi panduan ini lebih menitikberatkan pada peserta didik penyandang
disabilitas. Saat ini penyandang disabilitas merupakan penerima manfaat utama dari
sistim penyelenggaraan pendidikan inklusif mengingat kelompok penyandang
disabilitas adalah kelompok yang memiliki tantangan terbesar untuk dapat ikut serta
dalam pendidikan. Pemerintah Indonesia baru saja melahirkan Undang-Undang
Nomor 8 Tahun 2016 tentang Penyandang Disabilitas guna menjamin pemenuhan
hak penyandang disabilitas termasuk di dalamnya hak untuk mendapatkan
pendidikan.

B. Landasan Normatif, Filosofis, Empiris dan Yuridis


Terkait pelaksanaan pendidikan inklusif di madrasah, beberapa landasan dapat
dipergunakan sebagai dasar oleh Kementerian Agama.
a. Landasan Normatif
Masyarakat Indonesia adalah mayoritas beragama Islam. Dalam menjalankan
kehidupan sehari-hari, termasuk dunia pendidikan, selalu mengacu kepada
ajaran yang bersumber dari al-Qur’an dan al-Hadits.
Allah SWT berfirman dalam surah Al-‘Alaq ayat 1-5:

1. Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang Menciptakan,


2. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah.
3. Bacalah, dan Tuhanmulah yang Maha pemurah,
4. yang mengajar (manusia) dengan perantaran kalam [1589],
5. Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.

[1589] Maksudnya: Allah mengajar manusia dengan perantaraan tulis baca.

Demikian juga surah ‘Abasa ayat 1-16:


1. Dia (Muhammad) bermuka masam dan berpaling,
2. karena telah datang seorang buta kepadanya.
3. tahukah kamu barangkali ia ingin membersihkan dirinya (dari dosa),
4. atau Dia (ingin) mendapatkan pengajaran, lalu pengajaran itu memberi
manfaat kepadanya?
5. Adapun orang yang merasa dirinya serba cukup,
6. Maka kamu melayaninya.
7. Padahal tidak ada (celaan) atasmu kalau Dia tidak membersihkan diri
(beriman).
8. dan Adapun orang yang datang kepadamu dengan bersegera (untuk
mendapatkan pengajaran),
9. sedang ia takut kepada (Allah),
10. Maka kamu mengabaikannya.
11. sekali-kali jangan (demikian)! Sesungguhnya ajaran-ajaran Tuhan itu adalah
suatu peringatan,
12. Maka Barangsiapa yang menghendaki, tentulah ia memperhatikannya.
13. di dalam kitab-kitab yang dimuliakan,
14. yang ditinggikan lagi disucikan,
15. di tangan para penulis (malaikat),
16. yang mulia lagi berbakti.
Yang dimaksud orang buta pada ayat 2 di atas bernama Abdullah bin Ummi
Maktum. Dia datang kepada Rasulullah S.A.W. meminta ajaran-ajaran tentang
Islam; lalu Rasulullah s.a.w. bermuka masam dan berpaling daripadanya, karena
beliau sedang menghadapi pembesar Quraisy dengan pengharapan agar
pembesar-pembesar tersebut mau masuk Islam. Maka turunlah surat ini sebagi
teguran kepada Rasulullah S.A.W. bahwa setiap orang tanpa terkecuali harus
mendapatkan layanan pendidikan. Tidak memandang usia, mulai dari usia
kandungan sampai dengan liang lahat. Hal ini sesuai hadist yang diriwayatkan

Bayhaqi berbunyi:
Sementara yang dimaksud ayat 5 di atas yaitu pembesar-pembesar Quraisy
yang sedang dihadapi Rasulullah S.A.W. yang diharapkannya dapat masuk
Islam.
Menuntut ilmu pengetahuan merupakan kewajiban seluruh kaum muslim, tanpa
pandang usia dan jenis kelamin.

“Mencari ilmu wajib bagi kaum Muslimin dan muslimah”.


Kaum muslim juga mengikuti seruan Nabi Muhammad:

“Tuntutlah ilmu walaupun ke negeri China”.


Dengan demikian, perjalanan menuntut ilmu dianggap sakral, tak kenal lelah,
dan dilakukan untuk melengkapi dan menyelesaikan pendidikan seseorang.
Menuntut ilmu di dalam Islam disebut sebagai rihlah thalab al-‘ilm.

b. Landasan Filosofis
Islam dikenal sebagai agama “agama buku”, al-Qur’an juga menyebut dirinya
buku (kitab). Literasi sangat ditekankan, bahkan merupakan kata pertama yang
diucapkan Malaikat Jibril pada sekitar 610 M kepada Nabi Muhammad adalah
iqra’!. Menurut Al-Attas (1979), pendidikan Islam didasarkan pada basis ontologis
bahwa dunia itu sendiri tanpa nilai (valueless). Al-Qur’an memberi perspektif
normatif sedangkan Sunnah Nabi Muhammad SAW melalui pola dan model
menerapkan Islam rahmatan li al-‘alamin dalam membaca dan mengelola
kehidupan dunia yang sarat dengan godaan setan. Untuk itu, tumbuh kembang
anak memerlukan pendidikan, pelatihan, dan pembiasaan terus menerus, sejak
dalam kandungan hingga ke liang lahat.
Dalam Islam, Al-Attas (1979) dan Gulen (1989) menyebut, pendidikan ditujukan
untuk mengembangkan tiga dimensi individu dalam diri manusia, dimensi pikir
(aqliah), dimensi dzikir (qalb) dan dimensi tubuh (jasadiah). Pembelajaran bukan
hanya berupa transfer ilmu pengetahuan (transfer of knowledge) tetapi agar anak
didik memiliki kekuatan kepribadian dan moralitas yang baik (al-akhlak al-
karimah).
Tantangan yang dihadapi pendidikan Islam bukan hanya dunia modern dan
wajah ilmu pengetahuan yang sekuler, tetapi juga bagaimana madrasah
menghasilkan alumni setara dengan mutu alumni Timur Tengah guna mencapai
abad keemasan Islam (De Bellaigue, 2017). Oleh karena itu, Subhan (2013)
menulis bahwa sejak 1976 madrasah di bawah Kementerian Agama
mengajarkan ilmu agama dengan ilmu non agama, meracik antara dimensi iman
(faith) dengan akal (reason). Apa yang disebut “rational sciences” (al-‘ulum al-
‘aqliyya) atau “the sciences of the ancient” (al-‘ulum al-awa’il atau al-’ulum al-
qadimiyyah) juga diajarkan di madrasah. Ilmu ini terdiri dari tujuh pelajaran
penting: 1) logic (al-mantiq) yang menjadi dasar semua ilmu; 2) arithmetic (al-
arithmatiqi) yang di dalamnya terkandung accounting (hisab); 3) geometry (al-
handasa); 4) astronomy (al-hay’a); 5) music (al-musiki) yang membahas nada,
intonasi dan definisi angka, dll; 6) “the natural sciences” (al-tabi‘iyyat) which was
concerned with the theory of bodies at rest and in motion — human, animal,
plant, mineral and heavenly, important subdivisions of which were medicine (al-
tibb) and agriculture (al-falaha); and 7) metaphysic (‘ilm al-ilahiyyat) (Masood:
2009). Meski variasi pendidikan agama di Indonesia tinggi, umumnya madrasah
(diniyah, sekolah umum berciri keagamaan) di samping mengajarkan ilmu
agama juga mengajarkan ilmu umum seperti ilmu pengetahuan alam dan ilmu
pengetahuan sosial.

c. Landasan Empiris
Sejarah mencatat, madrasah pertama kali berdiri di Sumatra, adalah Madrasah
Adabiyah yang didirikan oleh Abdullah Ahmad pada tahun 1908. Pada jaman
penjajahan Belanda madrasah didirikan untuk semua warga masyarakat tanpa
kecuali, terutama mereka yang tidak bisa masuk Sekolah Rakyat atau Sekolah
Belanda. (https://amirsunankalijogo.wordpress.com/2011/06/18/sejarah-
madrasah-di-indonesia/).
Penyelenggaraan pendidikan inklusif di madrasah di bawah Kementerian Agama
berlangsung sejak 2008, namun baru pada 2013, Kementerian Agama memulai
mengembangkan kebijakan penyelenggaraan pendidikan inklusif di madrasah.
Pada 2015-2016 tercatat 22 madrasah dari provinsi Jawa Timur, Jawa Tengah,
Sulawesi Selatan, Nusa Tenggara Barat (NTB) dan Banten yang ditetapkan
sebagai penyelenggaraan pendidikan inklusif.
Dari madrasah–madrasah yang ditunjuk sebagai penyelenggara pendidikan
inklusif diperoleh data bahwa terdapat peserta didik berkebutuhan khusus, baik
yang masuk sebelum adanya penunjukan sebagai madrasah piloting maupun
yang mendaftarkan diri setelah adanya penunjukan.
Madrasah memiliki pengalaman praktis bagaimana menyelenggarakan
pendidikan inklusi. Bersambut dengan pengalaman tersebut maka kemudian
muncul dorongan baik dari internal Kementerian Agama maupun dari pihak luar
agar Kementerian Agama dapat melakukan perluasan program penyelenggaraan
pendidikan inklusif di madrasah, sebab faktanya keberadaan peserta didik
berkebutuhan khusus (PDBK) itu tidak hanya terdapat di 22 madrasah yang
menjadi piloting saja, namun di madrasah–madrasah lainnya juga ada yang
sudah menerima PDBK. Sebagai contoh MTs Negeri 19 Jakarta, di mana sejak
tahun 2015 mereka telah menerima PDBK dengan hambatan penglihatan dan
hambatan gerak. Dengan segala keterbatasan pengetahuan tentang PBDK para
guru berupaya untuk memberikan pelayanan terbaik kepada peserta didiknya
yang berkebutuhan khusus dan hingga saat ini (tahun ajaran 2017) MTs Negeri
19 Jakarta total telah menerima 6 peserta didik berkebutuhan khusus dengan
rincian, hambatan penglihatan 3 peserta didik, hambatan gerak 2 peserta didik
dan 1 peserta didik dengan hambatan intelektual.
Tanggungjawab atas kepercayaan dari masyarakat yang telah mendaftarkan
putra-putrinya yang memiliki kebutuhan khusus diakui kepala MTs Negeri 19
Jakarta sebagai alasan utama mereka menyelenggarakan pendidikan secara
inklusif, untuk mengupayakan peningkatan layanan kepada peserta didiknya
yang berkebutuhan khusus MTs Negeri 19 Jakarta bekerjasama dengan
lembaga professional untuk meningkatkan kapasitas para guru, salah satunya
dengan mengadakan diklat mandiri untuk penulisan braile.

d. Landasan Yuridis
International
1. Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia 1948 (Declaration of Human Rights);
2. Konvensi Hak Anak 1989 (Convention on the rights of the Child);
3. Deklarasi Dunia tentang Pendidikan untuk Semua (Education for All)-
Jomtien, Thailand, 1990;
4. Resolusi PBB Nomor 48/96 tahun 1993: Peraturan Standar tentang
Persamaan Kesempatan bagi Penyandang Disabilitas;
5. Salamanca Statement and Framework for Action on Special Needs Education
(UNESCO), Spanyol, 1994;
6. Konvensi Hak-hak Penyandang Disabilitas (Resolusi PBB 61/106, 13
Desember 2006);
7. Konvensi International tentang Hak-Hak Asasi Penyandang Disabilitas yang
telah diratifikasi oleh Pemerintah Indonesia melalui Undang-Undang Nomor
19 Tahun 2011 (UNCRPD);
8. Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDG’s), Tujuan nomor 4;

Nasional
9. Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945;
10. Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan
Nasional;
11. Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perlidungan Anak;
12. Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2016 tentang Penyandang Disabilitas.
13. Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2010 tentang Pengelolaan dan
Penyelenggaraan Pendidikan sebagaimana telah diubah dengan Peraturan
Pemerintah Nomor 66 Tahun 2010 tentang Perubahan Atas Peraturan
Pemerintah Nomor 17 Tahun 2010 tentang Pengelolaan dan
Penyelenggaraan Pendidikan;
14. Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional
Pendidikan sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Pemerintah Nomor
32 Tahun 2013 tentang Perubahan Atas Peraturan Pemerintah Nomor 19
Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan sebagaimana telah diubah
dengan Peraturan Pemerintah Nomor 13 Tahun 2015 tentang Standar
Nasional Pendidikan;
15. Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 30 Tahun 2006 tentang Pedoman
Teknis Fasilitas dan Akseibilitas pada Bangunan Gedung dan Lingkungan;
16. Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 70 Tahun 2009 tentang
Pendidikan Inklusif Bagi Peserta Didik yang Memiliki Kelainan dan Memiliki
Potensi Kecerdasan dan/atau Bakat Istimewa;
17. Peraturan Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Nomor
6 Tahun 2015 tentang Sistem Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan
Anak;
18. Peraturan Menteri Agama Nomor 10 Tahun 2010 tentang Organisasi dan
Tata Kerja Kementrian Agama sebagaimana telah beberapa kali diubah
terakhir dengan Peraturan Menteri Agama Nomor 16 Tahun 2015;
19. Peraturan Menteri Agama Nomor 90 Tahun 2013 tentang Penyelenggaraan
Pendidikan Madrasah sebagaimana telah diubah dengan PMA Nomor 60
Tahun 2015;
20. Surat Keputusan Direktur Jenderal Pendidikan Islam Nomor 3211 Tahun
2016 tentang Penetapan 22 Madrasah Inklusif;
21. Surat Edaran Dirjen Pendidikan Dasar dan Menengah Kemendikbud no
1040/D6/KR/2017 tanggal 20 Februari 2017 tentang Hal Penilaian Hasil
Belajar Bagi Peserta Didik Berkebutuhan Khusus;
22. Surat Edaran Dirjen Pendidikan Dasar dan Menegah Kemendikbud No.
2951/D.D6/HK/2017 Tanggal 2 Mei 2017 tentang Hal Izajah bagi Peserta
Didik Berkebutuhan Khusus di Satuan Pendidikan Umum.

C. Ruang Lingkup
Panduan ini merupakan acuan dalam pelaksanaan penyelenggaraan pendidikan
inklusif di madrasah dari mulai tingkat RA s/d MA.
Sebagai bagian dari institusi pendidikan madrasah penyelenggara pendidikan
inklusif harus mampu mengakomodasi keberagaman peserta didik dengan
memberikan layanan pembelajaran berdasarkan pada kebutuhan peserta didik.
Dengan demikian madrasah merupakan bagian alat bagi pemerintah untuk
menjamin pemenuhan hak dasar pendidikan bagi semua, melalui penyediaan
layanan dan data yang akurat khususnya PDBK.

D. Sasaran
Sasaran dari hadirnya panduan madrasah penyelenggara pendidikan inklusif ini
adalah:
1. Pejabat pengambil kebijakan di Kementerian Agama Pusat, Kantor Wilayah
Kementerian Agama Propinsi dan Kantor Kementerian Agama Kabupaten/Kota
2. Seluruh penyelenggara pendidikan madrasah dari tingkat RA (PAUD), MI, MTs
(Menengah), MA/K (Tingkat Atas), baik pemerintah maupun masyarakat.
3. Seluruh kepala madrasah dari tingkat RA (PAUD), MI, MTs (Menengah), MA/K
(Tingkat Atas), sebagai satuan pendidikan.
4. Guru dan Tenaga Kependidikan di Madrasah dari tingkat RA (PAUD), MI, MTs
(Menengah), MA/K (Tingkat Atas).
5. Orang tua/wali.
6. Komite Madrasah;
7. Pengawas Madrasah;
8. Ulama dan tokoh masyarakat.
9. Masyarakat.
BAB II
PENDIDIKAN INKLUSIF DAN KEBERAGAMAN PESERTA DIDIK

A. Konsep Pendidikan Inklusif


Pengertian Pendidikan Inklusif
Pendidikan inklusif memiliki makna yang lebih jauh dari sekadar memasukkan anak
penyandang disabilitas di institusi pendidikan. Pendidikan inklusif harus dimaknai
sebagai penerimaan tanpa syarat semua anak dalam sistem pendidikan umum.
Namun demikian, menurut Ainscow and Susie Miles (2009: 1), praktik di beberapa
negara masih menunjukan bahwa pendidikan inklusif masih kerap diterjemahkan
sebagai sebuah pendekatan yang dilakukan untuk memberikan layanan hanya bagi
peserta didik dengan disabilitas pada sistem pendidikan umum. Padahal sejatinya
pendidikan inklusif merupakan sistem pendidikan yang memastikan semua anak
tanpa terkecuali memperoleh layanan sesuai dengan kebutuhan dan potensinya.
Pendidikan inklusif bukanlah sistem pendidikan integrasi yang ‘berganti baju’ dan
juga berbeda dengan sistem pendidikan segregasi.

Perbedaan pendidikan segregasi, pendidikan integrasi, dan pendidikan inklusif:


Aspek Segregasi Integrasi Inklusif
Sasaran Peserta didik Peserta didik dengan Seluruh peserta
dengan disabilitas yang telah didik yang beragam
disabilitas memenuhi persyaratan
madrasah umum
Lokasi Sekolah luar Madrasah dan tidak ada Madrasah dengan
pembelajaran biasa yang penyesuaian dilakukan lingkungan yang
terpisah dari oleh madrasah tersebut aksesibilitas untuk
sekolah umum guna mengakomodir semua peserta
kebutuhan peserta didik. didik sesuai
dengan kebutuhan
masing-masing.
Kurikulum Kurikulum SLB Kurikulum Madrasah Kurikulum
Umum (tidak ada Madrasah Umum,
adaptasi/modifikasi). dilakukan
Peserta didik adaptasi/modifikasi
menyesuaikan diri yang
dengan kurikulum yang menyesuaikan
ada. dengan kebutuhan
peserta didik

1. Prinsip pendidikan inklusif


Pendidikan inklusif menganut empat prinsip penyelenggaran. Prinsip tersebut
harus selalu diperhatikan oleh pendidik dan tenaga kependidikan di madrasah
antara lain:
1) Pendidikan dan tenaga kependidikan perlu memastikan bahwa peserta didik
berkebutuhan khusus dapat hadir (presence) bersama peserta didik lainnya
dalam satu lokasi yang sama;
2) Pendidik, tenaga kependidikan, dan peserta didik lainnya mengakui dan
menerima peserta didik berkebutuhan khusus (aknowledgment);
3) Peserta didik berkebutuhan khusus yang berada di sekolah tersebut dapat
berrpartisipasi aktif dalam proses pembelajaran di kelas bersama dengan
peserta didik lainnya (participation); dan
4) Peserta didik berkebutuhan khusus dapat mengembangkan potensi mereka
sehinga mereka dapat mencapai hasil yang maksimal secara akademik
maupun non-akademik (achievement).

Madrasah penyelenggara pendidikan inklusif harus memusatkan perencanaan


pendidikan pada peserta didik sehingga apapun yang direncanakan dan
dikerjakan oleh pendidik dan tenaga kependidikan selalu berdasarkan pada
karakter belajar peserta didik.

Pendidikan inklusif di suatu negara dibangun oleh 3 (tiga) pilar yang saling
mempengaruhi satu dengan yang lain, yaitu: (1) budaya; (2) kebijakan; (3)
praktik.

(2) (3)

(1)
Budaya pendidikan inklusif di Indonesia dikenal melalui semboyan ‘Bhinneka
Tunggal Ika’ yang memiliki arti berbeda-beda tetapi tetap satu juga. Semboyan
ini menunjukkan bahwa Indonesia adalah bangsa yang telah lama mengenal dan
menjunjung tinggi nilai-nilai inklusifitas. Budaya inklusif yang telah terbangun,
saat ini semakin diperkuat dengan produk kebijakan yang mendukung
terselenggaranya pendidikan inklusif yang dimulai dari tingkat sekolah,
masyarakat, lokal (kabupaten/kota dan provinsi) hingga nasional. Namun,
budaya dan kebijakan-kebijakan yang telah terbangun masih menyisakan
pekerjaan rumah. Yaitu bagaimana semua pihak terutama pendidika dan tenaga
kependidikan dapat memastikan bahwa praktik pembelajaran pada madrasah
sebagai satuan pendidikan itu melibatkan peran keluarga, sejalan dengan
budaya masyarakat setempat dan kebijakan pendidikan inklusif yang ada.

B. Keberagaman Peserta Didik


Pada penyelenggaraan pendidikan inklusif kita mengenal istilah peserta didik
berkebutuhan khusus (students with special needs) atau PDBK dan peserta didik
lainnya. Istilah peserta didik berkebutuhan khusus bukan merupakan pengganti
istilah peserta didik dengan disabilitas. Istilah peserta didik berkebutuhan khusus
bermakna lebih luas dan positif. Istilah peseta didik berkebutuhan khusus dan
peserta didik lainnya menggambarkan keberagaman peserta didik di madrasah.
Adapun kebutuhan khusus peserta didik dapat disebabkan oleh perbedaan suku,
agama, Gender, bahasa, keadaan sosial-ekonomi, dan keadaan fisik.
Kebutuhan
khusus yang
berasal dari
lingkungan
Berdasarkan
Penyebab

Kebutuhan
khusus yang
berasal dari diri
sendiri
PDBK

Peserta
Didik
(PD) Berdasarkan
Sifat
Non
PDBK

Permanen Temporer
Dari skema di atas dapat dijelaskan bahwa, berdasarkan sifatnya, kebutuhan
khusus dibagi menjadi (1) kebutuhan khusus permanen dan (2) kebutuhan khusus
sementara/temporer. Kebutuhan khusus permanen adalah kebutuhan yang melekat
dan terus ada pada peserta didik, misalnya peserta didik dengan hambatan
pendengaran akan kesulitan dalam berkomunikasi. Namun kebutuhan khususnya
akan teratasi pada saat ia dan lingkungan sekitarnya dapat menggunakan media
komunikasi nonverbal, bahasa isyaratan, dan media komunikasi tulisan. Kebutuhan
khusus yang bersifat temporer, yaitu peserta didik yang memiliki hambatan belajar
tertentu di dalam kelas, misalnya peserta didik mengalami hambatan membaca
karena peserta didik tersebut belum memahami bahasa atau huruf yang digunakan.
Contoh, peserta didik baru kelas 1 Sekolah Dasar yang berkomunikasi sehari-hari
menggunakan bahasa Sunda atau Jawa atau bahasa daerah lainnya selama
mereka berada di rumah, namun saat ia belajar di sekolah terutama ketika belajar
membaca permulaan, mengunakan bahasa Indonesia. Keadaan seperti itu dapat
menyebabkan munculnya kesulitan dalam belajar membaca permulaan dalam
bahasa Indonesia bagi peserta didik tersebut. Oleh karena itu, ia memerlukan
layanan pendidikan yang disesuaikan sehingga kebutuhan khususnya dapat
diminimalisasi atau bahkan dihilangkan. Apabila hambatan belajar membaca akibat
alasan di atas tidak mendapatkan bantuan yang tepat maka ada kemungkinan
peserta didik tersebut akan menjadi peserta didik yang memiliki kebutuhan khusus
permanen.
Dilihat dari penyebabnya, kebutuhan khusus dapat dibagi dua: yakni (1) kebutuhan
khusus yang berasal dari internal/diri sendiri dan (2) kebutuhan khusus akibat dari
eksternal/lingkungan. Salah satu penyebab munculnya kebutuhan khusus dari diri
sendiri adalah disabilitas. Sedangkan kebutuhan khusus yang berasal dari
lingkungan, misalnya, anak mengalami kesulitan belajar karena tidak dapat
konsentrasi dengan baik. Salah satu penyebabnya misalnya suasana tempat belajar
yang tidak nyaman.
Selain itu, kebutuhan khusus dapat pula dibedakan menjadi (1) kebutuhan khusus
umum; kebutuhan khusus yang secara umum dapat terjadi pada siapapun,
misalnya, karena lapar menyebabkan peserta didik tidak dapat berkonsentrasi; (2)
kebutuhan khusus individu, kebutuhan yang sangat khas yang dimiliki oleh masing-
masing peserta didik, misalnya seseorang tidak dapat belajar tanpa sambil
mendengarkan musik; dan (3) kebutuhan khusus kekecualian, kebutuhan khusus
kekecualian adalah kebutuhan khusus yang ada akibat disabilitas, misalnya
kebutuhan membaca dengan menggunakan huruf braille bagi peserta didik dengan
hambatan penglihatan.
BAB III
MADRASAH PENYELENGGARA PENDIDIKAN INKLUSIF

A. Perencanaan Penyelenggaraan Pendidikan Inklusif di Madrasah


Penyusunan rencana penyelenggaraan pendidikan inklusif di Madrasah dapat di
bagi menjadi dua komponen besar, yaitu (1) manajemen madrasah sebagai satuan
pendidikan; (2) anak/peserta didik. Dari sisi manajemen madrasah perlu dilakukan
analisa terhadap kekuatan, kelemahan, peluang, dan tantangan (KEKEPAN)
madrasah. Sedangkan dari sisi peserta didik maka perlu dilaksanakan proses
identifikasi, asesmen, dan pengembangan program pembelajaran yang inklusif.
1. Analisa Kekuatan, Kelemahan, Peluang, dan Tantangan (KEKEPAN) Madrasah.
Pada sisi kelembagaan, madrasah diharapkan dapat melaksanakan Analisa
KEKEPAN sebagai langkah awal penyelenggaraan pendidikan inklusif.

Analisa KEKEPAN sangat diperlukan oleh madrasah dalam pelaksanaan


pendidikan inklusif sebagai tolok ukur untuk memaksimalkan kekuatan,
meminimalkan kelemahan, mereduksi ancaman dan membangun peluang.
Dengan analisis KEKEPAN diharapkan madrasah mampu menyeimbangkan
antara kondisi internal yang direpresentasikan oleh kekuatan dan kelemahan
dengan kesempatan dan ancaman dari lingkungan eksternal yang ada dengan
teliti.

Pada saat melakukan analisis KEKEPAN, madrasah hendaknya mengaitkanya


dengan 8 standar nasional pendidikan (PP No. 19 Tahun 2005 Tentang Standar
Nasional Pendidikan sebagaimana diubah terakhir dengan PP No. 13 Tahun
2015). Analisa KEKEPAN dilaksanakan dalam rangka Evaluasi Diri Madrasah
(PP X) Tahapan analisis KEKEPAN adalah sebagai berikut:
a) Menemukenali kelemahan (internal) dan ancaman (eksternal) yang paling
penting untuk diatasi secara umum pada semua komponen pendidikan terkait
penyelenggaraan pendidikan inklusif.
b) Menemukenali kekuatan (internal) dan peluang (eksternal) yang diperkirakan
cocok untuk mengatasi kelemahan dan ancaman yang telah diidentifikasi
pada langkah pertama terkait penyelenggaraan pendidikan inklusif.
c) Melakukan analisis KEKEPAN lanjutan setelah diketahui kekuatan,
kelemahan, peluang dan ancaman terkait penyelenggaraan pendidikan
inklusif.
d) Merumuskan strategi-strategi yang direkomendasikan untuk menangani
kelemahan dan ancaman, termasuk pemecahan masalah, perbaikan dan
pengembangan penyelenggaraan pendidikan inklusif terkati dengan 8 standar
nasional pendidikan.
Setelah madrasah berhasil menyusun dokumen hasil analisis KEKEPAN, maka
madrasah dapat mulai menerjemahkannya dalam bentuk kebutuhan
pembelajaran dan program kerja yang dituangkan dalam Rencana Kegiatan dan
Anggaran Madrasah (RKAM) Penyelenggara Pendidikan Inklusif.
Beberapa tahapan yang harus diperhatikan dalam menyusun RKAM
penyelenggara pendidikan inklusif (PP X Tentang Penyelenggaraan Madrasah),
di antaranya:
RKAM yang dirumuskan harus mengakomodir kebutuhan PDBK berdasarakan
hasil identifitasi, asesmen yang tertuang dalam profil anak. Pendanaan
Madrasah terkait penyelenngaraan pendidikan inklsuif dapat bersumber dari
pemerintah pusat, pemerintah daerah, partisipasi masyarakat dan sumber
lainnya yang diperbolehkan oleh regulasi. Setelah RKAM dirumuskan
selanjutnya Madrasah dapat memasukan ke dalam form RKAM sebagai program
kerja kepala madrasah yang lebih ringkas sebagai pedoman alokasi Belanja
Madrasah selama satu tahun ke depan.
2. Identifikasi, Asesmen, dan Pengembangan Program Pembelajaran yang Inklusif
Prosedur identifikasi, asesmen, dan pengembangan program pembelajaran yang
inklusif dapat digambarkan sebagai berikut:

Peserta didik
lainnya

Identifikasi

PDBK

Asesmen

Profil Peserta
Didik

Program

Adaptasi Rencana Pelaksanaan Program Pembelajaran


Pembelajaran (RPP) Individual (PPI)

Pembelajaran Secara Pembelajaran Secara


Akademik klasikal dan Akademik atau klasikal atau
dan/atau Non individual Non Akademik individual
Akademik
Identifikasi
a. Pengertian
Identifikasi merupakan proses untuk menemukan dan mengenali
keberagaman anak/peserta didik. Pada tahap identifikasi, kita belum sampai
menjawab hal-hal yang terkait dengan tantangan dan potensi dari peserta
didik.

b. Untuk apa identifikasi dilakukan?


Memahami adanya keberagaman pada peserta didik dengan cara
menemukenali peserta didik berdasarkan ciri-ciri yang ada.

c. Siapa sasaran dari kegiatan identifikasi?


1) Peserta didik baru
2) Peserta didik yang sudah melaksanakan pembelajaran

d. Kapan identifikasi dilakukan?


1) Pada proses Penerimaan Peserta Didik Baru, atau
2) Menjelang proses Kegiatan Belajar Mengajar

e. Bagaimana proses identifikasi dilakukan?


1) Pengamatan (observasi).
2) Wawancara (interview) pada anak bersangkutan, pendampingnya, dan
orangtuanya.
3) Dokumentasi, yakni dokumen yang berupa hasil pemeriksaan psikolog,
surat keterangan dokter, psikiater, atau ahli lainnya.

f. Apa saja alat untuk melakukan identifikasi?


Alat identifikasi dapat berupa lembar cek list atau panduan pengamatan,
panduan wawancara atau angket.

g. Identifikasi dapat dilakukan oleh?


1) Kepala Madrasah
2) Guru kelas dan/ guru mata pelajaran
3) Guru pembimbing khusus dan/guru bimbingan dan konseling
4) Orang tua
5) Tenaga profesional (dokter, psikiater, psikolog, pekerja sosial, dan terapis)
apabila dibutuhkan

Asesmen
a. Pengertian
Asesmen pendidikan adalah usaha atau proses untuk mendapatkan informasi
mengenai kelebihan, kekurangan, dan kebutuhan peserta didik dengan
berbagai alat dan teknik.

b. Manfaat asesmen
1) Penentuan (determining eligibility).
2) Perencanaan pembelajaran (program planning).
3) Memonitor kemajuan peserta didik (monitoring student programme).
4) Evaluasi program (evaluation of program).

c. Siapa sasaran kegiatan asesmen?


1) Peserta didik berkebutuhan khusus di madrasah.
2) Peserta didik berkebutuhan khusus yang akan ke madrasah.

d. Kapan asesmen dilakukan?


1) Setelah melakukan identifikasi pada awal masuk madrasah.
2) Setiap selesai proses pembelajaran dalam kurun waktu satu semester.

e. Aspek pada asesmen meliputi:


1) Faktor akademik, sekurang-kurangnya meliputi 3 aspek yaitu kemampuan
membaca, menulis, dan berhitung.
2) Faktor kemandirian.
3) Faktor kesehatan.
4) Faktor sosial emosi.
5) Faktor keluarga.

f. Teknik asesmen dapat berupa:


1) Tes formal, apabila asesmen yang dilakukan menggunakan alat yang
sudah baku dan pelaksanaannya harus mengikuti satu struktur kegiatan
tertentu. Contohnya untuk mengetahui ketajaman penglihatan
menggunakan snellen chart, untuk mengetahui ketajaman pendengaran
menggunakan audiometer, dan untuk mengetahui kecerdasan
menggunakan tes intelegensi.
2) Tes non formal, apabila asesmen dilakukan oleh orang yang terlatih
dengan menggunakan serangkaian alat asesmen yang tidak baku.
Contohnya instrumen yang dibuat oleh guru sebagai pedoman observasi,
pedoman wawancara, pedoman analisis.

g. Siapa yang melakukan asesmen?


1) Guru Pembimbing Khusus
2) Guru kelas
3) Guru mata pelajaran
4) Guru Bimbingan dan Konseling
5) Tenaga profesional terkait

Hasil identifikasi dan asesmen akan dipergunakan sebagai dasar dari


pengembangan profil peserta didik.

Profil Peserta Didik


Profil peserta didik merupakan gambaran terkait tantangan atau kekurangan
peserta didik serta potensi yang masih dapat dikembangkan. Dalam penyusunan
profil, kita dapat mengembangkan sesuai dengan data yang kita peroleh dari
proses identifikasi dan asesmen. Profil peserta didik yang baik haruslah
menggambarkan data-data peserta didik yang menerangkan tentang faktor
akademik, kemandirian, kesehatan, sosial-emosi, dan keluarga serta langkah-
langkah yang perlu diambil selanjutnya.

CONTOH PROFIL PESERTA DIDIK

A. Data Peserta Didik

Nama : ………………………
Usia : …………………….
Jenis kelamin : ……………………..
Kelas : …………………….

B. Hasil Asesmen
1. Faktor akademik
 Mampu membaca gambar bangun datar
 Mampu menghitung perkalian dan pembagian dengan baik
 Sering menghilangkan kata pada saat menjawab soal cerita
 Tulisan sulit dibaca
 Ada kemauan untuk belajar
 Kemampuan diatas rata-rata (IQ: 103)

2. Faktor kemandirian
 Bangun tidur masih dibangunkan
 Makan masih sering disuapi
 Menyiapkan kebutuhan sekolah masih perlu dibantu
 Senang bermain dengan teman
 Bila ada PR anak mau mengerjakan, namun harus selalu dibantu.
3. Faktor kesehatan
 Kelahiran normal, jarang sakit
 Kebersihan diri cukup, tidak berkaca mata

4. Faktor sosial – emosi


 Tidak pernah mengadu pada orang tua
 Anak senang bermain dengan teman dan keluarga.
 Senang bermain playstation
 Anak sering diam jika tidak bisa mengerjakan apa yang dia
inginkan

5. Faktor keluarga
 Tinggal bersama orang tua, kakek, nenek, 2 (dua) bersaudara
dalam satu rumah.
 Ayahnya bekerja di kontraktor.
 Orang tua sangat peduli dan perhatian terhadap perkembangan
anak
C. Analisa Hasil Asesmen
1. Masalah belajar yang dihadapi: selalu ada kata yang tertinggal saat
menulis kalimat.
2. Penyebab masalah belajar yang dihadapi: kesalahan persepsi
3. Rekomendasi pembelajaran: melakukan adaptasi pada media dan
strategi pembelajaran.

Setelah profil dibuat maka dilanjutkan dengan pengembangan program-program


pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan peserta didik. Program
pembelajaran tersebut dapat terkait dengan hal-hal yang bersifat akademik
maupun non akademik.

Langkah selanjutnya adalah melakukan modifikasi rencana program


pembelajaran (RPP) dan/atau program pembelajaran individual bagi peserta
didik yang disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing peserta didik terutama
bagi peserta didik dengan disabilitas.

B. Akomodasi yang layak dan Aksesibilitas bagi Peserta Didik Dengan Disabilitas
1. Manajemen Kelas
Akomodasi yang layak dan aksesibilitas yang dapat diberikan oleh madrasah
berdasarkan hasil identifikasi dan asesmen pesert didik dengan disiblitas.
Menurut Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2016 tentang Penyandang Disabilitas,
akomodasi yang layak adalah modifikasi dan penyesuaian yang tepat dan
diperlukan untuk menjamin penikmatan atau pelaksanaan semua hak asasi
manusia dan kebebasan fundamental untuk penyandang disabilitas berdasarkan
kesetaraan sedangkan aksesibilitas adalah kemudahan yang disediakan untuk
penyandang disabilitas guna mewujudkan kesamaan kesempatan.

Penentuan akomodasi yang layak dan aksesibilitas hendaknya didasarkan pada


hasil identifikasi dan asesmen yang tertuang pada profil peserta didik. Pada
intinya masing-masing peserta didik akan membutuhkan akomodasi yang
berbeda satu dengan lainnya meskipun aksesibilitas yang diberikan bisa saja
sama antara satu dengan yang lain.

Akomodasi yang layak dapat diterjemahkan dalam bentuk manajemen kelas


yang inklusif. Manajemen kelas yang inklusif berarti penyediaan sarana dan
prasarana yang telah diadaptasi sesuai potensi peserta didik termasuk peserta
dengan disabilitas. Manajemen kelas mencakup penyesuaian lay-out ruang
kelas, pengadaan saran pembelajaran (media dan alat bantu), dan penggunaan
kurikulum yang sesuai dengan potensi peserta didik termasuk peserta didik
dengan disabilitas. Pembahasan terperinci tentang kurikulum adaptif akan
dibahas bagian 4 dari bab ini.

Ciri-ciri kelas yang inklusif di madrasah adalah sebagai berikut:


 Pengaturan duduk peserta didik di dalam kelas yang sudah menyesuaikan
dengan potensi dan karakter belajar masing-masing. Contoh pengaturan
duduk peserta didik di kelas inklusif:
Catatan :
GP: Gangguan
perilaku
TG: Tunagrahita
TR: Tunarungu
TN: Tunanetra
TD: Tunadaksa
LV: Low Vision

Kegiatan pembelajaran yang melibatkan kerjasama antara pendidik, tenaga


kependidikan, dan semua peserta didik
 Telah terdapat Silabus dan Rencana Pembelajaran yang adaptif
disesuaikan dengan potensi dan kebutuhan peserta didik.
 Lingkungan pembelajaran yang aman, menarik, dan menyenangkan bagi
seluruh peserta didik.
Tujuan melakukan manajemen kelas yang inklusif:
 Mengisi 3 ranah pendidikan yang seimbang, yaitu nilai-nilai sikap,
pengetahuan dan keterampilan.
 Melatih warga kelas untuk melakukan penyesuaian sosial.
 Menerapkan pendidikan nilai-nilai budi pekerti.
 Meniadakan hambatan peserta didik dalam beraktifitas dan berpartisipasi
dalam belajar.
 Mengembangkan kemampuan pendidik;
2. Aksesibilitas Kelas dan Lingkungan Madrasah
Aksesibilitas adalah kemudahan yang disediakan untuk penyandang disabilitas
guna mewujudkan kesamaan kesempatan. Aksesibilitas harus terjadi di ruang
kelas dan lingkungan madrasah.
a) Ruang kelas yang aksesibel adalah ruang kelas yang mudah dijangkau dan
aman bagi semua peserta didik termasuk peserta didik dengan disabilitas.

b) Lingkungan Madrasah yang aksesibel harus memperhatikan unsur-unsur


sebagai berikut:

Jalan
Jalan menuju sekolah memiliki lebar minimal 1,6 m untuk memudahkan
pengguna jalan dari kedua arah yang berbeda dilengkapi dengan kelandaian
(curb cuts) di setiap ujung jalan dan pemandu jalur taktil (guiding block)
atau disesuaikan dengan kebutuhan peserta didik.

Jalur taktil

Halaman Madrasah
Halaman madrasah dengan pintu pagar yang mudah dibuka dan ringan,
jembatan sekolah yang tertutup tanpa lubang-lubang di tengah, lantai yang
rata atau dilengkapi dengan kelandaian.

contoh pintu pagar


Contoh penutup saluran air

Pintu
semua ruangan menggunakan pintu dengan ukuran lebar bukaan minimal
80cm, dengan pegangan tidak berbentuk bulat dan mudah dijangkau.khusus
untuk pintu toilet sebaiknya menggunakan pintu geser.

Perpustakaan
Ruang perpustakaan dengan ketinggian rak buku yang mudah dijangkau oleh
seluruh peserta didik.

https://www.google.co.id/search?q=

Laboratorium
Laboratorium dengan ketinggian rak peralatan yang mudah dijangkau oleh
semua peserta didik, penempatan zat-zat kimia yang berbahaya diletakan
pada tempat yang aman.
Arena Olahraga
Arena Olah raga harus rata, tidak ada lubang serta genangan air.

Arena Bermain
Arena bermain dan taman sekolah, lapangan yang rata, letak pohon yang
tidak mengganggu anak untuk gerak, di sekeliling tiang bendera harus ada
pembatas.

Ruang UKS
Ruang UKS, lantai yang rata dan tidak licin, penempatan peralatan yang
mudah dijangkau.

,
Toilet
Letak tombol penyiram air, letak kloset, ketinggian bak pencuci tangan (max:
85 Cm, letak kran air mudah dijangkau oleh semua peserta didik (kran air
diupayakan menggunakan system pengungkit/tidak diputar).

Tangga
Kemiringan tangga tidak curam kurang dari 600 , memiliki pijakan yang sama
besar serta memiliki pegangan dikedua sisi, terdapat petunjuk taktil yang
berwarna terang di mulut tangga.
Contoh tangga dengan kemiringan kurang dari 600

http://yogya.antaranews.com/berita/327751/

Contoh tangga dengan menggunakan petunjuk taktil (panah merah)

Bidang miring atau Lerengan


Adanya bidang miring atau lerengan yang memiliki spesipikasi sebagai
berikut:
 Kemiringan maksimal 7
 Lebar minimal 95 Cm
 Tepian pengaman (tinggi: 10 Cm, Lebar: 15 Cm)

Penyebrangan jalan
Penyebrangan jalan menuju sekolah, sebaiknya dapat mengeluarkan suara
atau disesuaikan dengan kebutuhan dan menggunakan rambu-rambu yang
jelas guna membantu peserta didik dengan hambatan pendengaran.

https://news.detik.com/jawabarat/2761043

Wastafel
Ketinggian wastafle disesuaikan dengan pengguna kursi roda (max: 85 Cm)
Menggunakan kran dengan sistem pengungkit

Ruang Sumber
 Pintu harus terbuka keluar dan mudah dibuka dan ditutup untuk pengguna
kursi roda
 Material pintu ringan
 Arah bukaan pintu keluar
 Tinggi handle pintu max 90Cm
 Handle pintu tidak berbentuk bulat
 Ruangan harus mudah diakses oleh pengguna kursi roda
 Lantai datar/tidak berundak
 Lebar pintu min 90Cm

C. Adaptasi Kurikulum dan Penilaian


Adaptasi Kurikulum
Kurikulum adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi, dan
bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan
kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu. Madrasah
penyelenggara pendidikan inklusif menggunakan kurikulum tingkat satuan
pendidikan yang mengakomodasi kebutuhan dan kemampuan peserta didik sesuai
dengan bakat, minat, dan potensinya. Dalam pembelajaran perlu
mempertimbangkan prinsip-prinsip pembelajaran yang disesuaikan dengan
karakteristik belajar peserta didik. Untuk mengimplementasikannya perlu adanya
kurikulum yang fleksibel yaitu adanya penyesuaian-penyesuaian pada komponen
kurikulum seperti pada tujuan, isi atau materi, proses, dan evaluasi atau penilaian.
Pengembangan kurikulum untuk peserta didik berkebutuhan khusus dikenal dengan
adanya model duplikasi (sama/meniru/menggandakan), modifikasi (mengubah untuk
disesuaikan), substitusi (mengganti), dan omisi (menghilangkan).
Model Adaptasi Kurikulum di Madrasah Inklusif

Duplikasi Modifikasi Substitusi Omisi


Tujuan
Materi
Proses
Evaluasi

1. Adaptasi Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP)


Perencanaan pembelajaran dirancang dalam bentuk Silabus dan Rencana
Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) yang mengacu pada Standar Isi, yang di
dalamnya terdapat Standar Kompetensi Lulusan (SKL), Kompetensi Inti (KI) dan
Kompetensi Dasar (KD). Perencanaan pembelajaran meliputi penyusunan
rencana pelaksanaan pembelajaran dan penyiapan media dan sumber belajar,
perangkat penilaian pembelajaran, dan skenario pembelajaran. Penyusunan
Silabus dan RPP disesuaikan pendekatan pembelajaran yang digunakan.

Silabus merupakan acuan penyusunan kerangka pembelajaran untuk setiap


bahan kajian mata pelajaran. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) adalah
rencana kegiatan pembelajaran tatap muka untuk satu pertemuan atau lebih.
RPP dikembangkan dari silabus untuk mengarahkan kegiatan pembelajaran
peserta didik dalam upaya mencapai Standar Kompetensi Lulusan (SKL),
Kompetensi Inti (KI) dan Kompetensi Dasar (KD). Setiap pendidik pada satuan
pendidikan berkewajiban menyusun RPP secara lengkap dan sistematis agar
pembelajaran berlangsung secara interaktif, inspiratif, menyenangkan,
menantang, efisien, memotivasi peserta didik untuk berpartisipasi aktif, serta
memberikan ruang yang cukup bagi prakarsa, kreativitas, dan kemandirian
sesuai dengan bakat, minat, dan perkembangan fisik serta psikologis peserta
didik. RPP disusun berdasarkan Standar Kompetensi Lulusan (SKL), Kompetensi
Inti (KI) dan KD atau subtema yang dilaksanakan 14 kali pertemuan atau lebih.

Untuk memberikan layanan pembelajaran peserta didik berkebutuhan khusus


sehingga prinsip pendidikan inklusif dapat dilaksanakan yang ditandai dengan
hadir bersama-sama dalam pembelajaran, berpartisipasi bersama-sama dan
capaian bersama-sama maka dikembangkan adaptasi Rencana Pelaksanaan
Pembelajaran.
a) Model duplikasi
Duplikasi artinya meniru atau menggandakan. Duplikasi kurikulum adalah
cara pengembangan kurikulum bagi peserta didik berkebutuhan khusus
dengan menggunakan kurikulum standar nasional yang berlaku bagi peserta
didik lainnya. Model duplikasi dapat diterapkan pada empat komponen utama
kurikulum, yaitu tujuan, isi, proses, dan evaluasi.
Duplikasi tujuan berarti tujuan-tujuan pembelajaran yang diberlakukan
kepada peserta didik regular juga diberlakukan kepada peserta didik
berkebutuhan khusus. Dengan kata lain, SKL, Kompetensi Inti KI, KD dan
Indikator keberhasilan yang berlaku bagi peserta didik lainnya juga berlaku
bagi peserta didik berkebutuhan khusus.

Duplikasi isi/materi berarti materi-materi pembelajaran yang diberlakukan


kepada peserta didik pada lainnya, juga diberlakukan secara sama kepada
peserta didik berkebutuhan khusus. Peserta didik berkebutuhan khusus
memperoleh informasi, materi, pokok bahasan atau sub pokok bahasan yang
sama seperti yang disajikan kepada peserta didik lainnya.

Duplikasi proses berarti peserta didik berkebutuhan khusus menjalani


kegiatan atau pengalaman belajar mengajar yang sama dengan peserta didik
regular, mencakup kesamaan dalam metode mengajar, lingkungan/seting
belajar, waktu belajar, media belajar, atau sumber belajar.

Duplikasi evaluasi berarti peserta didik berkebutuhan khusus menjalani


proses evaluasi/penilaian yang sama seperti yang diberlakukan kepada
peserta didik lainnya, mencakup kesamaan dalam soal-soal ujian, waktu
evaluasi, teknik/cara evaluasi, atau kesamaan dalam tempat/lingkungan
evaluasi dilaksanakan.

b) Model modifikasi
Modifikasi artinya merubah untuk disesuaikan. Modifikasi kurikulum bagi
peserta didik berkebutuhan khusus dikembangkan dengan cara merubah
kurikulum standar nasional yang berlaku bagi peserta didik lainnya untuk
disesuaikan dengan kemampuan peserta didik berkebutuhan khusus.
Dengan demikian, peserta didik berkebutuhan khusus menjalani kurikulum
yang sesuai dengan kebutuhan dan kemampuannya. Modifikasi terjadi pada
empat komponen utama pembelajaran, yaitu: tujuan, materi, proses, dan
evaluasi.

Modifikasi tujuan berarti tujuan pembelajaran kurikulum standar nasional


dirubah untuk disesuaikan dengan kondisi peserta didik berkebutuhan
khusus. Konsekuensinya peserta didik berkebutuhan khusus akan memiliki
rumusan kompetensi sendiri yang berbeda dengan peserta didik lainnya, baik
yang berkaitan dengan SKL, KI, KD, maupun indikator.

Modifikasi isi materi berarti merubah materi pembelajaran peserta didik


lainnya untuk disesuaikan dengan kebutuhan peserta didik berkebutuhan
khusus. Dengan demikian peserta didik berkebutuhan khusus mendapatkan
sajian materi sesuai dengan kemampuannya. Modifikasi materi meliputi
keluasan, kedalaman, dan/atau tingkat kesulitan. Artinya peserta didik
berkebutuhan khusus mendapatkan materi pembelajaran yang tingkat
kedalaman, keluasan, dan kesulitannya berbeda (lebih rendah) dari materi
yang diberikan kepada peserta didik lainnya. Modifikasi proses berarti
kegiatan pembelajaran bagi peserta didik berkebutuhan khusus berbeda
dengan kegiatan pembelajaran peserta didik lainnya. Metode atau strategi
pembelajaran yang diterapkan pada peserta didik lainnya tidak diterapkan
kepada peserta didik berkebutuhan khusus. Jadi, mereka memperoleh
strategi pembelajaran khusus yang sesuai dengan kemampuannya.

Modifikasi proses dalam kegiatan pembelajaran, meliputi penggunaan


metode mengajar, lingkungan/seting belajar, waktu, media, sumber belajar,
dan lain-lain.

Modifikasi evaluasi berarti merubah sistem evaluasi/penilaian untuk


disesuaikan dengan kondisi peserta didik berkebutuhan khusus. Dengan kata
lain peserta didik berkebutuhan khusus menjalani sistem evaluasi/penilaian
yang berbeda dengan peserta didik lainnya. Perubahan bisa berkaitan
dengan perubahan dalam soal-soal ujian, perubahan dalam waktu evaluasi,
teknik/cara evaluasi atau tempat evaluasi. Perubahan kriteria kelulusan dan
sistem kenaikan kelas, termasuk bagian-bagian modifikasi evaluasi.

c) Model substitusi
Substitusi berarti mengganti. Substitusi kurikulum bagi peserta didik
berkebutuhan khusus berarti mengganti isi kurikulum standar nasional
dengan materi yang lain. Penggantian dilakukan karena isi kurikulum nasional
tidak memungkinkan diberlakukan kepada anak berkebutuhan khusus, tetapi
masih bisa diganti dengan hal lain yang kurang lebih sepadan (memiliki nilai
sama). Substitusi bisa terjadi pada tujuan pembelajaran, materi, proses, atau
evaluasi.

d) Model omisi
Omisi artinya menghilangkan. Model kurikulum omisi berarti menghilangkan
sebagian/keseluruhan isi kurikulum standar nasional karena tidak mungkin
diberikan kepada peserta didik berkebutuhan khusus. Dengan kata lain omisi
berarti isi sebagian/keseluruhan kurikulum standar nasional tidak diberikan
kepada peserta didik berkebutuhan khusus karena terlalu sulit/tidak sesuai.

2. Program Pembelajaran Individual (PPI)


Program pembelajaran individual dikenal dengan the individualized education
program (IEP) yang diprakarsai oleh Samuel Gridley Howe pada tahun 1871
(Friend & Bursuck (2006). Pendidikan ini merupakan salah satu bentuk layanan
pendidikan khusus bagi PDBK. Di lingkungan Kementerian Pendidikan dan
Kebudayaan, bentuk pembelajaran ini sudah diperkenalkan di Indonesia sejak
tahun 1992, yang merupakan satu rancangan pembelajaran bagi anak
berkebutuhan khusus agar mereka mendapatkan pelayanan sesuai
kebutuhannya dengan lebih memfokuskan pada kemampuan dan kelemahan
kompetensi peserta didik. Mercer (1995) mengemukakan bahwa “program
pembelajaran individual menunjuk pada suatu program pembelajaran dimana
peserta didik bekerja dengan tugas-tugas yang sesuai dengan kondisi dan
motivasinya”. Hal ini disebabkan karena perbedaan antara individu pada PDBK
sangat beragam, sehingga layanan pendidikannya lebih diarahkan pada layanan
yang bersifat individual, walaupun demikian layanan yang bersifat klasikal dalam
batas tertentu masih diperlukan. Progrm pembelajaran individual harus
merupakan program yang dinamis, artinya sensitif terhadap berbagai perubahan
dan kemajuan peserta didik, yang diarahkan pada hasil akhir yaitu kemandirian
yang sangat berguna bagi kehidupannya, mampu berperilaku sesuai dengan
lingkungannya atau berperilaku adaptif.

Fungsi program pembelajaran individual yaitu:


a) untuk memberi arah pengajaran; dengan mengetahui kekuatan, kelemahan
dan minat siswa maka program yang diindividualisasikan terarah pada tujuan
atas dasar kebutuhan dan sesuai dengan tahap kemampuannya saat ini.
b) menjamin setiap PDBK memiliki suatu program yang diindividualkan untuk
mempertemukan kebutuhan khas mereka dan mengkomunikasikan program
tersebut kepada orang-orang yang berkepentingan.
c) meningkatkan keterampilan guru dalam melakukan asesmen tentang
karakteristik kebutuhan belajar tiap anak dan melakukan usaha
mempertemukan dengan kebutuhan-kebutuhan siswa.
d) meningkatkan potensi untuk komunikasi antar/dengan anggota tim,
khususnya keterlibatan orang tua, sehingga sering bertemu dan saling
mendukung untuk keberhasilan PDBK dalam pendidikan.
Merumuskan tujuan PPI (Program Pembelajaran Individual) harus
memperhatikan empat kriteria yaitu:
1) dapat diukur, bahwa pernyataan harus menggunakan kata kerja
operasional (seperti: menyebutkan, menjelaskan, mendefinisikan,
mengidentifikasi, menulis dll) dan tidak menimbulkan penafsiran ganda
(memahami, mengetahui, mengerti)
2) positif, bahwa tujuan itu harus membawa perubahan ke arah positif
(misalnya “siswa dapat merespon waktu dengan tepat” bukan “siswa
dapat bertahan menutup mulut”)
3) orientasi pada peserta didik, merumuskan apa yang dipelajari bukan apa
yang siswa pikirkan (misalnya peserta didik dapat menanggapi secara
lisan pertanyaan dengan dua-tiga frase)
4) relevan, sesuai dengan kebutuhan individu.
a) Sasaran belajar jangka pendek (short-term objectives), sasaran belajar
jangka pendek/tujuan jangka pendek harus dikonsep dan dikembangkan
melalui analisa tugas, dipakai sebagai acuan dalam proses pembelajaran
guna mencapai kemampuan yang lebih spesifik. Sasaran belajar ini harus
dapat diamati, dapat diukur, berpusat pada siswa, positif dan hendaknya
mencerminkan pengajaran antara tingkat kecakapan dan tujuan akhir.
b) Deskripsi pelayanan (description of services), meliputi: guru yang mengajar,
isi program pengajaran, kegiatan pembelajaran, dan alat yang dipergunakan.
c) Tanggal pelayanan (dates of service), dalam PPI (Program Pembelajaran
Individual) harus terdapat tanggal kapan pengajaran mulai dilaksanakan dan
antisipasi lamanya pelayanan.
d) Penilaian (evaluation), terbagi dalam dua bagian yaitu: a). penilaian untuk
menentukan tingkat kecakapan sisiwa saat ini, menjelaskan kekuatan dan
kelemahan siswa (assesment), b). Menilai keberhasilan siswa dalam
mencapai tujuan jangka pendek yang telah ditetapkan. Prosedur penilaian
dapat dilakukan dengan lisan, tulisan atau perbuatan. Metodenya dapat
melalui tes atau observasi

Penilaian
Penilaian hasil belajar bagi peserta didik berkebutuhan khusus perlu adanya
penyesuaian dengan jenis hambatan peserta didik. Penyesuaian tersebut meliputi:
a) Penyesuaian waktu
Penyesuaian waktu adalah penambahan waktu yang dibutuhkan oleh peserta
didik berkebutuhan khusus dalam mengerjakan ulangan, ujian, tes, dan tugas
lain yang berhubungan dengan penilaian hasil belajar. Contohnya peserta didik
dengan hambatan penglihatan memerlukan waktu lebih lama dalam
mengerjakan ujian, baik dibacakan oleh orang lain maupun dengan membaca
sendiri dengan menggunakan huruf braile. Bagi peserta didik dengan hambatan
motorik tangan akan memerlukan waktu yang lebih lama ketika menuliskan
jawaban sebuah tes.

b) Penyesuaian cara
Penyesuaian cara adalah pesnyesuaian cara yang dilakukan oleh pendidik
dalam memberikan ulangan, ujian, tes, dan tugas lain yang berhubungan dengan
penilaian hasil belajar bagi peserta didik berkebutuhan khusus. Contohnya
peserta didik dengan hambatan motorik tangan, hampir tidak mungkin
mengerjakan soal-soal ujian yang jawabannya diminta secara tertulis, maka ujian
dapat dilakukan secara lisan. Bagi peserta didik hambatan pendengaran,
penilaian keterampilan mendengarkan dapat dikompensasikan dengan
keterampilan membaca.

c) Penyesuaian isi
Penyesuaian isi adalah penyesuaian tingkat kesulitan bahan dan penggunaan
Bahasa dalam butir soal yang dilakukan oleh pendidik dalam memberikan
ulangan, ujian, tes, dan tugas lain yang berhubungan dengan penilaian hasil
belajar bagi peserta didik berkebutuhan khusus. Contohnya peserta didik autis
yang low function, sangat sulit untuk mengikuti pelajaran yang tingkat
kesulitannya sama seperti anak lainnya pada tingkat kelas yang sama. Oleh
karena itu tingkat kesulitan materi ujian disesuaikan dengan kemampuan
masing-masing peserta didik.

Model Penilaian di Madrasah Inklusif

No Jenis Kurikulum Peserta Didik Penilaian


1 Kurikulum standar Peserta didik umum dan 1. Tanpa adaptasi
nasional berkebutuhan khusus 2. Modifikasi sesuai
yang memiliki potensi dengan jenis hambatan
kecerdasan rerata dan peserta didik
diatas rerata
2 Kurikulum adaptif Peserta didik Disesuaikan dengan
berkebutuhan khusus jenis dan tingkat
yang memiliki potensi kemampuan
kecerdasan di bawah
rerata

Pengukuran capaian kompetensi hasil belajar peserta didik melalui Ujian Nasional
(UN), Ujian Akhir Madrasah Berstandar Nasional (UAMBN), Ujian Sekolah
Berstandar Nasional (USBN), dan Ujian Madrasah pada madrasah inklusif sebagai
berikut :
1. Pada dasarnya penilaian hasil belajar bagi peserta didik berkebutuhan khusus
yang menempuh pendidikan di madrasah inklusif mengikuti ketentuan yang
berlaku di MI, MTs, dan MA/MAK.
2. Peserta didik berkebutuhan khusus MTs dan MA/MAK dapat mengikuti UN,
UAMBN, dan USBN sesuai ketentuan yang berlaku pada madrasah.
3. Peserta didik berkebutuhan khusus MTs dan MA/MAK yang tidak mengikuti UN,
UAMBN, dan USBN wajib mengikuti UM dengan naskah soal yang dimodifikasi.
4. Peserta didik berkebutuhan khusus MA/MAK yang mengikuti UN diutamakan
bagi peserta didik yang akan melanjutkan ke perguruan tinggi (Permendikbud
Nomor 3 Tahun 2017 tentang Penilaian Hasil Belajar oleh Pemerintah dan
Penilaian Hasil belajar oleh Satuan Pendidikan pasal 6 dan Surat Edaran
Direktur Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah Kementerian Pendidikan
dan Kebudayaan Nomor 1040/D6/KR/2017 tanggal 20 Februari 2017 hal
Penilaian Hasil Belajar Bagi Peserta Didik Berkebutuhan Khusus).

Ijazah peserta didik berkebutuhan khusus yang menempuh pendidikan pada


madrasah inklusif sebagai berikut:
a) Peserta didik berkebutuhan khusus yang dinyatakan lulus dari madrasah inklusif
memperoleh ijazah yang dikeluarkan satuan pendidikan dimana peserta didik
belajar.
b) Blanko ijazah bagi peserta didik berkebutuhan khusus sama dengan peserta
didik lainnya.
c) Ijazah yang diperoleh peserta didik berkebutuhan khusus dapat digunakan untuk
melanjutkan ke satuan pendidikan dan jenjang yang lebih tinggi.
d) Untuk mengantisipasi pertanyaan masyarakat dan atau lembaga pengguna
terkait dengan kekhususan peserta didik, maka kepala madrasah membuat
surat keterangan bahwa peserta didik tersebut adalah peserta didik
berkebutuhan khusus dengan mencantumkan hambatan sebagai keterangan
tambahan dari ijazah dimaksud (Permendikbud No. 14 Tahun 2017 tentang
Ijazah dan Sertifikat Hasil Ujian Nasional pasal 4 dan Surat Edaran Direktur
Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah Nomor 2951/D.D6/HK/2017 tanggal
2 Mei 2017 hal Ijazah Bagi Peserta Didik Berkebutuhan Khusus di Satuan
Pendidikan Umum).

D. Kerjasama antar Stakeholder Pendidikan Inklusif di Madrasah (Internal dan


Ekternal)
Stakeholder Pendidikan Inklusif adalah pihak-pihak yang terlibat dan berperan
penting dalam pembentukan dan pelaksanaan pendidikan inklusif ke dalam sistem
pendidikan nasional. Pihak-pihak yang dimaksud dapat mewakili kelompok atau
individu yang bertanggung jawab dalam ketertarikan kegiatan pendidikan untuk
saling memberikan penjelasan dan pendampingan untuk sebuah perubahan
lingkungan inklusif yang terbuka dan ramah pembelajaran bagi setiap anak.
1. Kerjasama Internal Madrasah (Stakeholder Pendidikan Inklusif di dalam
Madrasah)
Kelompok atau individu yang mewakili stakeholder di madrasah sebagai satuan
pendidikan penyelenggara pendidikan inklusif meliputi: pemerintah dan
masyarakat (yayasan) penyelenggara pendidikan madrasah; Kepala Madrasah;
Guru; Peserta didik/PDBK; Orang tua; Komite Madrasah; Pengawas Madrasah.

Pendidik
(Guru)

Tenaga
Peserta Kependidikan
Didik (PDBK (Kepala
dan Non- Madrasah ,
PDBK) Pengawas, TU
Madrasah dsb)
yang
Inklusif

Orangtua Komite
Madrasah

a) Peran peserta didik (PDBK dan Non-PDBK)


 Menciptakan dan menumbuhkan sikap toleransi;
 Saling memacu untuk berprestasi lebih baik;
 Saling menumbuhkan motivasi dan rasa percaya diri dalam belajar;
 Saling mengupayakan bantuan dalam belajar;
 Meningkatkan kualitas belajar semua peserta didik di dalam kelas yang
beragam.

b) Peran orangtua (menekankan pada profesional parenting; atau motherhood)


 Menjadi pengajar yang paling efektif karena sangat mengenal sifat dan
perilaku anaknya;
 Mengikuti perkembangan belajar anaknya;
 Melengkapi layanan pendukung belajar di rumah.
c) Peran guru
 Mengelola pembelajaran yang berpusat pada peserta didik dalam kelas
yang beragam;
 Menciptakan lingkungan kelas yang inklusif;
 Menangani kebutuhan pembelajaran peserta didik secara akomodatif;
 Merencanakan, melaksanakan, dan menilai program pembelajaran
sejalan dengan landasan pendidikan yang berasaskan demokrasi,
berkeadilan, dan tanpa diskriminasi.

d) Peran tenaga kependidikan (kepala madrasah, pengawas madrasah, TU dll)


 Memimpin penyelenggaraan madrasah;
 Mengontrol dan mengkoordinasi perencanaan, pelaksanaan, dan
penilaian program pembelajaran;
 Memfasilitasi kemudahan demi terciptanya lingkungan inklusif dan ramah
pembelajaran;
 Meningkatkan mutu ketrampilan guru dalam pengelolaan kelas;
 Menciptakan lingkungan madrasah yang inklusif;
 Mengelola madrasah sehingga dapat berjalan dengan baik.
 Memberikan masukan guna meningkatkan mutu pendidikan madrasah;
 Mengontrol pelaksanaan kebijakan di tingkat madrasah serta pelaksanaan
regulasi dan kebijakan pendidikan di tingkat kabupaten/kota, provinsi,
nasional, dan internasional.

e) Komite Madrasah
 Memberikan masukan guna meningkatkan mutu pendidikan madrasah ;
 Membantu madrasah dalam penyediaan sarana dan prasarana serta
layanan pendukung pembelajaran.

2. Kerjasama Ekternal (Stakeholder Pendidikan Inklusif di luar Madrasah).


Kelompok atau individu yang mewakili stakeholder di luar Madrasah
penyelenggara pendidikan inklusif meliputi: Pusat sumber (SLB); Profesional;
OPD; Masyarakat.
Perguru
an
tinggi Pemerinta
Badan h
Intern (Kab/kota,
ational Provinsi,
Nasional )

Organisa Masyarakat/
si Madrasah DUDI (dunia
yang usaha dan
Masayar Inklusif dunia
akat Sipil indrustri)

Pemer Profesi
intah onal

Pusat
Sumber

a) Pusat Sumber
 Memberikan konsultasi dan layanan pendukung bagi madrasah
penyelenggara pendidikan inklusif;
 Melakukan pelatihan dan pendampingan bagi guru dan warga madrasah
lainnya di madrasah penyelenggara pendidikan inklusif;
 Menjadi sumber belajar.

b) Masyarakat/DUDI (dunia usaha dan dunia indrustri)


 Mengupayakan dan menempatkan peserta didik berkebutuhan khusus
untuk mendapatkan hak atas pendidikan;
 Melakukan kontrol sosial terhadap kebijakan pemerintah;
 Menjadi sumber informasi dan sumber belajar;
 Menggerakkan anggota masyarakat untuk terlibat membantu
pembelajaran di madrasah;
 Memberikan bantuan dana kepada madrasah untuk mendukung
penyelenggaraan pendidikan inklusif di madrasah;
 Menerima peserta didik berkebutuhan khusus yang sudah lulus untuk
dapat bekerja sesuai dengan potensi yang dimilikinya.
c) Perguruan tinggi
 Merupakan mitra pemerintah dalam merancang kebijakan;
 Menghasilkan tenaga pendidik yang berkualitas;
 Menyediakan layanan pendukung;
 Memberikan pelatihan dan pendampingan bagi madrasah dan warga
madrasah lainnya di madrasah penyelenggara pendidikan inklusif;
 Menjadi sumber informasi dan sumber belajar.

d) Profesional (dokter, psikolog, therapist, dll)


 Membuat rujukan;
 Melakukan konsultasi;
 Mendapatkan terapi dan bimbingan belajar sehubungan dengan kurikulum
tambahan/khusus yang tidak termuat dalam kurikulum madrasah;
 Memberikan pelatihan dan pendampingan bagi guru dan orangtua dalam
penanganan belajar peserta didik berkebutuhan khusus.

e) Pemerintah
 Menentukan standar pelayanan minimal
 Mengambil kebijakan
 Melakukan pembiayaan
 Menerbitkan pedoman dan panduan
 Memberikan pelatihan dan sosialisasi
 Melakukan monitoring dan evaluasi
 Mengggunakan data pelaksanaan pendidikan inklusif di madrasah
sebagai dasar pengambilan keputusan.

f) Organisasi masyarakat sipil (yayasan, LSM dll), OPD (organisasi penyandang


disabilitas) dan organisasi keagamaan
 Sumber informasi
 Advokasi
 Peningkatan kapasitas sumber daya manusia
 Pembiayaan
 Kampanye publik
 Penelitian dan pengembangan
 Melakukan identifikasi

g) Badan Internasional
 Advokasi kebijakan
 Peningkatan kapasitas sumber daya manusia
 Kampanye publik
 Pertukaran pengetahuan
 Penelitian dan pengembangan
BAB IV
PEMBINAAN, PENGAWASAN, DAN EVALUASI MADRASAH PENYELENGGARA
PENDIDIKAN INKLUSIF
A. Prosedural Standard Pembinaan, Pengawasan, dan Evaluasi oleh Kepala Madrasah

Perencanaan

Tindakan Perbaikan
Pelaksanaan

Umpan
Balik Monitoring
dan Evaluasi

Kepala Madrasah sebagai motor penggerak peningkatan kinerja guru dituntut


memiliki visi, misi, dan wawasan yang luas serta kemampuan profesional yang
memadai dalam perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan dan pengawasan
penyelenggaraan pendidikan. Selain itu kepala madrasah dituntut untuk memiliki
kemampuan dalam membangun kerjasama yang harmonis dengan berbagai pihak
yang terkait dengan program pendidikan di madrasah. Kemampuan kepala
madrasah tentunya akan turut mempengaruhi kinerja guru dalam melaksanakan
tugas. Salah satu indikator kinerja kepala madrasah adalah dinilai berdasarkan atas
pelaksanaan tugas dan perannya. Salah satu di antara peran kepala madrasah yang
sangat penting adalah sebagai manajer, administrator dan supervisor dalam upaya
meningkatkan kinerja guru.
Dalam penyelenggaraan pendidikan inklusif, peranan kepala madrasah sangat
besar, bukti bahwa peran tersebut sangat besar adalah mengingat bahwa setiap
guru yang akan menyampaikan materi pelajaran terlebih dahulu membuat program
pengajaran harian untuk diteliti dan disahkan oleh kepala madrasah. Sehingga
seorang kepala madrasah dapat mengetahui keterlaksanaan proses pembelajaran
yang inklusif. Apabila seorang kepala madrasah komitmen untuk melaksanakan
penyelenggaraan pendidikan inklusif di madrasahnya, maka penyelenggaraan
pendidikan inklusif akan terlaksana dengan baik.
Kepala madrasah harus mampu melaksanakan perannya sebagai manajer,
administrator, supervisor, leader, inovator dan motivator. Perspektif ke depan
menunjukkan bahwa kepala madrasah juga harus mampu berperan sebagai figur
dan mediator, bagi perkembangan masyarakat dan lingkungan. Dengan demikian
pekerjaan kepala madrasah semakin hari semakin meningkat dan akan semakin
meningkat sesuai dengan perkembangan pendidikan yang diharapkan. Dalam
mengembangkan pendidikan inklusif, seorang kepala madrasah harus
mengupayakan adanya integrasi pendidikan inklusif pada setiap program dan
kegiatan madrasah.
Berdasarkan fungsinya, kepala madrasah adalah (1) perumus tujuan kerja dan
pembuat kebijaksanaan madrasah yang disebut pemimpin atau pengelola
pendidikan, (2) pengatur tata kerja madrasah, yang mencakup mengatur pembagian
tugas dan wewenang serta mengatur petugas pelaksana dan menyelenggarakan
kegiatan, dan (3) pensupervisi kegiatan madrasah, meliputi: mengatur kegiatan,
mengarahkan pelaksanaan kegiatan, mengevaluasi pelaksanaan kegiatan serta
membimbing dan meningkatkan kemampuan pelaksana.
Beberapa standar pembinaan, pengawasan dan evaluasi oleh kepala madrasah
dalam mengembangkan pendidikan inklusif yang terintegrasi dalam tupoksi sebagai
seorang kepala madrasah antara lain:
1. Kepala madrasah sebagai manager
Manajemen pada hakikatnya adalah suatu proses merencanakan,
mengorganisasikan, melaksanakan, memimpin dan mengendalikan usaha
anggota organisasi serta mendayagunakan seluruh sumber daya organisasi
untuk mencapai tujuan yang ditetapkan (Wahyusumidjo, 2001:12 dalam
Mulyasa, 2007). Disebut sebagai suatu proses, karena semua manajer dengan
ketangkasan dan keterampilan yang dimiliki mengusahakan dan
mendayagunakan berbagai kegiatan yang saling berkaitan untuk mencapai
tujuan.
Manajemen merupakan proses pencapaian tujuan melalui pendayagunaan
sumber daya manusia dan material secara efisien. Weihrich & Koontz (2005: 4)
menyatakan: management is the process of designing andmaintaining an
environmentin which individuals, working together in groups, efficiently
accomplish selected aims. Pendapat ini menyatakan bahwa manajemen
merupakan proses merancang dan memelihara lingkungan individu-individu yang
bekerja sama dalam kelompok secara efisien untuk mencapai tujuan tertentu.
Dalam pendapat yang hampir sama, Hersey and Blanchard (1982: 3)
menyatakan, management as working with and throught individuals and groups
to accomplish organizational goals.
Sebagai manajer, kepala madrasah mau dan mampu mendayagunakan sumber
daya madrasah dalam rangka mewujudkan visi, misi, dan mencapai tujuannya.
Seorang kepala madrasah penyelenggara pendidikan inklusif, memiliki otoritas
yang besar untuk mendayagunakan semua sumber daya madrasah untuk
mewujudkan sebuah madrasah yang inkusif. Kepala madrasah mampu
menghadapi berbagai persoalan di madrasah, berpikir secara analitik,
konseptual, harus senantiasa berusaha menjadi juru penengah dalam
memecahkan berbagai masalah, dan mengambil keputusan yang memuaskan
stakeholders madrasah. Kepala madrasah mendorong keterlibatan seluruh
tenaga kependidikan dalam setiap kegiatan di madrasah (partisipatif).
Sesuai kriteria penilaian kinerja kepala madrasah, maka kepala madrasah perlu
memiliki kemampuan dalam melaksanakan tugas kepemimpinannya dengan baik
yang diwujudkan dalam kemampuan menyusun program, organisasi personalia,
memberdayakan tenaga kependidikan, dan menberdayakan sumber daya
madrasah secara optimal dalam rangka melakukan peran dan fungsinya sebagai
manajer, kepala madrasah harus memiliki strategi yang tepat untuk
memberdayakan tenaga kependidikan melalui kerjasama yang kooparatif,
memberikan kesempatan kepada tenaga kependidikan untuk meningkatkan
profesinya dan mendorong keterlibatan seluruh tenaga kependidikan dalam
berbagai kegiatan yang menunjang program penyelenggaraan pendidikan
inklusif di madrasah.

2. Kepala madrasah sebagai administrator


Kepala madrasah sebagai administrator memiliki hubungan erat dengan
berbagai aktivitas pengelolaan administrasi yang bersifat pencatatan,
penyusunan, dan pendokumenan seluruh program madrasah. Secara spesifik,
kepala madrasah perlu memiliki kemampuan untuk mengelola kurikulum,
mengelola administrasi kearsipan, dan administrasi keuangan. Kegiatan tersebut
perlu dilakukan secara efektif dan efisien agar dapat menunjang produktivitas
madrasah. Untuk itu, kepala madrasah harus mampu menjabarkan kemampuan
di atas ke dalam tugas-tugas operasional. Dalam berbagai kegiatan administrasi,
maka membuat perencanaan mutlak diperlukan. Perencanaan yang akan dibuat
oleh kepala madrasah bergantung pada berbagai faktor, di antaranya banyaknya
sumber daya manusia yang dimiliki, dana yang tersedia dan jangka waktu yang
dibutuhkan untuk pelaksanaan rencana tersebut. Perencanaan yang dilakukan
antara lain menyusun program kerja tahunan madrasah yang mencakup program
pengajaran, kepesertadidikan, kepegawaian, keuangan dan perencanaan
fasilitas yang diperlukan. Perencanaan ini dituangkan ke dalam rencana tahunan
madrasah yang dijabarkan dalam program semester. Di samping itu, fungsi
kepala madrasah selaku administrator juga mencakup kegiatan penataan
struktur organisasi, koordinasi kegiatan madrasah dan mengatur kepegawaian di
madrasah.
Kepala madrasah penyelenggara pendidikan inklusif sebagai administrator
bertanggung jawab terhadap kelancaran pelaksanaan pendidikan dan
pengajaran yang inklusif di madrasahnya. Hal tersebut mencakup seluruh
kegiatan madrasah, seperti; proses belajar-mengajar yang melayani kebutuhan
seluruh peserta didik, menerima semua perbedaan peserta didik termasuk yang
berkebutuhan khusus (ABK), mengarahkan semua personalia madrasah untuk
mengakomodir semua keberagaman peserta didik, menyiapkan sarana
prasarana/ aksesibilitas untuk semua anak, ketatausahaan dan keuangan serta
mengatur hubungan madrasah dengan masyarakat. Selain itu juga, kepala
madrasah bertanggung jawab terhadap keadaan lingkungan madrasahnya.

3. Kepala madrasah sebagai supervisor


Untuk mengetahui sejauh mana guru mampu melaksanakan pembelajaran,
secara berkala kepala madrasah perlu melaksanakan kegiatan supervisi, yang
dapat dilakukan melalui kegiatan kunjungan kelas untuk mengamati proses
pembelajaran secara langsung, terutama dalam pemilihan dan penggunaan
metode, media yang digunakan dan keterlibatan peserta didik dalam proses
pembelajaran (Mulyasa, 2004). Dari hasil supervisi ini, dapat diketahui
kelemahan sekaligus keunggulan guru dalam melaksanakan pembelajaran,
tingkat penguasaan kompetensi guru yang bersangkutan, selanjutnya
diupayakan solusi, pembinaan dan tindak lanjut tertentu sehingga guru dapat
memperbaiki kekurangan yang ada sekaligus mempertahankan keunggulannya
dalam melaksanakan pembelajaran. Secara umum supervisi berarti upaya
bantuan yang diberikan kepada guru dalam melaksanakan tugas profesionalnya,
agar guru mampu membantu para peserta didiknya dalam belajar untuk menjadi
lebih baik dari sebelumnya.
Jones dkk. sebagaimana disampaikan Danim (2002) mengemukakan bahwa
menghadapi kurikulum yang berisi perubahan-perubahan yang cukup besar
dalam tujuan, isi, metode dan evaluasi pengajarannya, sudah sewajarnya kalau
para guru mengharapkan saran dan bimbingan dari kepala madrasah mereka.
Ungkapan ini, mengandung makna bahwa kepala madrasah harus betul-betul
menguasai tentang kurikulum madrasah. Mustahil seorang kepala madrasah
dapat memberikan saran dan bimbingan kepada guru, sementara dia sendiri
tidak menguasainya dengan baik.
Supervisi merupakan suatu teknis pelayanan profesional dengan tujuan utama
mempelajari dan memperbaiki bersama-sama dalam membimbing dan
mempengaruhi pertumbuhan anak. Supervisi berusaha untuk memperbaiki
situasi-situasi belajar mengajar, menumbuhkan kreativitas guru, memberi
dukungan dan mengikutsertakan guru dalam kegiatan madrasah, sehingga
menumbuhkan rasa memiliki bagi guru. Adapun personel yang menjalankan
kegiatan supervisi disebut supervisor. Dengan demikian administrasi dan
supervisi merupakan sebagian dari proses pendidikan yang tidak bisa
ditinggalkan, namun masih banyak yang memahami bahwa administrasi
termasuk yang sering menghambat dalam proses belajar mengajar.
Supervisi dalam pendidikan telah lama dikenal namun tidak semua orang dalam
dunia pendidikan mengerti apa hakekat supervisi itu sendiri. Supervisi
disamakan dengan pekerjaan mengawasi, supervisi lebih banyak mengawasi
daripada berbagai ide pengalaman. Sebagai supervisor, kepala madrasah
melakukansupervisi pekerjaan yang dilakukan oleh tenaga kependidikan.
Menurut Sahertian (2004: 19) bahwa supervisi merupakan suatu proses yang
dirancang secara khusus untuk membantu para guru dan supervisor mempelajari
tugas sehari-hari di madrasah, agar dapat menggunakan pengetahuan dan
kemampuannya untuk memberikan layanan yang lebih baik pada orang tua
peserta didik dan madrasah, serta berupaya menjadikan madrasah sebagai
komunitas belajar yang lebih efektif. Jika supervisi dilaksanakan oleh kepala
madrasah, maka ia harus mampu melakukan berbagai pengawasan dan
pengendalian untuk meningkatkan kinerja tenaga kependidikan. Pengawasan
dan pengendalian ini merupakan kontrol agar kegiatan pendidikan di madrasah
terarah pada tujuan yang telah ditetapkan.

4. Kepala madrasah sebagai leader


Madrasah merupakan salah satu bentuk organisasi pendidikan. Kepala
madrasah merupakan pemimpin pendidikan di madrasah. Kepemimpinan
pendidikan bisa diartikan sebagai suatu usaha untuk menggerakkan orang-orang
yang ada dalam organisasi pendidikan untuk mencapai tujuan pendidikan. Dalam
organisasi pendidikan yang menjadi pemimpin pendidikan adalah kepala
madrasah. Sebagai pemimpin pendidikan, kepala madrasah memiliki sejumlah
tugas dan tanggung jawab yang cukup berat. Untuk bisa menjalankan fungsinya
secara optimal, kepala madrasah perlu menerapkan gaya kepemimpinan yang
tepat. Peranan utama kepemimpinan kepala madrasah tersebut, nampak pada
pernyataan-pernyataan yang dikemukakan para ahli kepemimpinan. Knezevich
yang dikutip Indrafachrudi (2006) mengemukakan bahwa kepemimpinan adalah
sumber energi utama ketercapaian tujuan suatu organisasi. Di sisi lain, Owens
(dalam Indrafachrudi, 2006) juga menegaskan bahwa kualitas kepemimpinan
merupakan sarana utama untuk mencapai tujuan organisasi. Untuk itu, agar
kepala madrasah bisa melaksanakan tugasnya secara efektif, mutlak harus bisa
menerapkan kepemimpinan yang baik.
Dalam usaha mensukseskan pendidikan inklusif di madrasah yang dipimpinnya,
seorang kepala madrasah juga mempunyai peran yangsangat besar. Seorang
kepala madrasah harus bertanggung jawab terhadap pelaksanaan dan
keberhasilan pendidikan inklusif yang dipimpinnya. Bentuk tanggung jawab dan
upaya mencapai keberhasilan tersebut dapat dilihat dari program-program yang
dibuat, realisasi, dan evaluasi yang dilakukan mengenai pendidikan inklusi ini.
Mencermati program dan mengetahui peleksanaan ini menjadi penting karena
adanya kasus-kasus yang sering terjadi, madrasah menggunakan label inklusif
namun dalam realisasinya jauh dari fakta. Bahkan anak berkebutuhan khusus
hanya menjadi objek di madrasah tersebut. Untuk itulah peran kepemimpinan
kepala madrasah dalam menerima keberadaan anak berkebutuhan khusus
sebagai suatu perbedaan dan harus mendapatkan perhatian dan layanan di
madrasah inklusi harus selalu ditingkatkan dan diupayakan. Tanpa adanya
keteladanan kepemimpinan kepala madrasah maka program pendidikan inklusif
di madrasah tersebut akan sulit direalisaikan bahwa madrasah tersebut
memang ramah dan menerima adanya keragaman perbedaan peserta didik.
.

B. Prosedural Standard Pembinaan, Pengawasan, dan Evaluasi oleh Pengawas


Madrasah

PROGRAM
PENGAWASAN

TINDAK LANJUT PENILAIAN

PENGAWAS
LAPORAN MADRASAH PEMBINAAN

EVALUASI PEMANTAUAN

ANALISIS HASIL
PENGAWASAN

Pengawas adalah guru pegawai negeri sipil yang diangkat dalam jabatan pengawas
madrasah (PP 74 tahun 2008). Pengawasan adalah kegiatan pengawas madrasah
dalam menyusun program pengawasan, melaksanakan program pengawasan,
evaluasi hasil pelaksanaan program, dan melaksanakan pembimbingan dan
pelatihan profesional guru.
Pengawas memiliki peran yang signifikan dan strategis dalam proses dan hasil
pendidikan yang bermutu di madrasah. Dalam konteks ini peran pengawas
madrasah meliputi pemantauan, supervisi, evaluasi, pelaporan dan tindak lanjut
pengawas yang harus dilakukan secara teratur dan berkesinambungan (PP 19
Tahun 2005, pasal 55). Peran pengawas setidaknya sebagai teladan bagi madrasah
dan sebagai rekan kerja yang serasi dengan pihak madrasah dalam memajukan
madrasah binaannya.
Selanjutnya menurut Peraturan Pemerintah Nomor 74 Tahun 2008 Pasal 15 ayat (4)
beban kerja guru yang diangkat dalam jabatan pengawas satuan pendidikan adalah
melakukan tugas pembimbingan dan pelatihan profesional guru dan tugas
pengawasan, yang meliputi pengawasan akademik dan manajerial. Tugas
pengawasan pengawasan akademik pengawas madrasah melakukan pembinaan,
pemantauan dan penilaian pada guru agar dapat meningkatkan kualitas proses
pembelajarannya, sedangkan dalam tugas pengawasan manajerial pengawas
madrasah melakukan pembinanaan, pemantauan dan penilaian kepala madrasah
agar dapat mempertinggi kualitas administrasi dan pengelolaan madrasah untuk
terciptanya madrasah yang efektif. Hal ini menunjukkan bahwa pengawas madrasah
memiliki peran yang penting dalam meningkatkan kualitas pendidikan di madrasah,
khususnya dalam melaksanakan kegiatan supervisi akademik yang
berkaitan dengan peningkatan proses pembelajaran, sebagimana bunyi salah satu
tulisan dari Asosiasi Supervisi dan Pengembangan Kurikulum di Amerika yang
menyebutkan bahwa:
“Almost all writers agree that the primary focus in educational supervision is and
should be the improvement of teaching and learning. The term instructional
supervision is widely used in the literature of embody all effort to those ends. Some
writers use the term instructional supervision synonymously with general
supervision.”

Pengawas madrasah juga merupakan salah satu komponen dalam peningkatan


mutu pendidikan karena kegiatan pengawasan yang dilakukan menyentuh upaya-
upaya perbaikan proses pembelajaran yang dilaksanakan oleh guru dan perbaikan
manajemen madrasah yang dilakukan oleh kepala madrasah. Upaya perbaikan
proses pembelajaran ini berdampak signifikan pada peningkatan hasil pembelajaran
jika pengawas madrasah melakukan dengan supervisi akademik yang efektif.
Kinerja pengawas madrasah dalam melaksanakan tugasnya dipengaruhi oleh
kompetensi yang dimilikinya. Kompetensi ini bisa dianggap sebagai bentuk-bentuk
pengetahuan, keterampilan dan sikap yang diperlihatkan oleh pengawas madrasah
ketika melaksanakan tugasnya.
Pada madrasah penyelenggara pendidikan inklusif, seorang pengawas mempunyai
tanggung jawab untuk mengawasi jalannya semua program madrasah dan
mengontrol jalannya pelaksanaan pendidikan inklusif dalam setiap program dan
kegiatan yang dilaksanakan oleh madrasah. Beberapa hal yang penting untuk
diperhatikan oleh seorang pengawas pada madrasah penyelenggara pendidikan
inklusif adalah sebagai berikut:
1. Pengawas madrasah mutlak harus punya pengetahuan yang benar tentang
konsep pendidikan inklusif dalam kerangka sistem pendidikan nasional;
2. Memberikan penjelasan danpendampingan kepada guru dan kepala madrasah
terkait dengan regulasi dan kebijakan madrasah penyelengara pendidikan
inklusif;
3. Mengawasi berjalannya program madrasah yang inklusif;
4. Memberikan masukan guna meningkatkan mutu pendidikan madrasah;
5. Mengontrol pelaksanaan kebijakan pendidikan inklusif di tingkat madrasah serta
pelaksanaan regulasi dan kebijakan pendidikan di tingkat kabupaten/kota,
provinsi, nasional, dan internasional.

Dalam melaksanakan tugas pengawasan akademik pada madrasah penyelenggara


pendidikan inklusif, pengawas madrasah melakukan pembinaan, pemantauan dan
penilaian pada guru dengan memperhatikan beberapa hal, diantaranya:
a) Memantau apakah guru telah mengetahui latar belakang dan kebutuhan masing-
masing peserta didiknya melalui identifikasi dan assesment.
b) Memastikan bahwa perencanaan pembelajaran yang dimiliki oleh guru telah
mengakomodir semua kebutuhan peserta didiknya.
c) Memantau dan menilai apakah dalam pelaksanaan pembelajaran semua peserta
didik telah ikut berpartisipasi dalam setiap proses pembelajaran.
d) Apakah guru telah menyiapkan lingkungan belajar yang menarik, menyenangkan
dan memudahkan.
e) Apakah guru telah menghargai setiap capaian peserta didiknya.

Sedangkan dalam melaksanakan tugas pengawasan manajerial pada madrasah


penyelenggara pendidikan inklusif, pengawas madrasah melakukan pembinaan,
pemantauan dan penilaian pada kepala madrasah dengan memperhatikan
beberapa hal, antara lain:
a) Kurikulum madrasah sudah mengakomodir kemampuan dan kebutuhan peserta
didik sesuai dengan bakat dan minatnya.
b) Kepala madrasah memfasilitasi kemudahan demi terciptanya lingkungan inklusif
dan ramah pembelajaran.
c) Kebijakan anggaran madrasah telah mempertimbangkan kebutuhan setiap
peserta didik.
d) Madrasah memiliki aksesibilitas untuk mempermudah setiap peserta didik.

Untuk mengetahui tingkat inklusisfitas sebuah satuan pendidikan, seorang penilai


melaksanakan evaluasi dengan menggunakan instrumen penilaian yang dikeluarkan
oleh pemerintah atau menggunakan instrumen supervisi pengawas. Model lain yang
dapat menjadi alternatif adalah dengan menggunakan indeks inklusi yang
dikembangkan oleh Aisncow. Menggunakan indeks inklusi versi Ainscow lebih
fleksibel karena instrumen yang dikembangkan dapat disesuaikan dengan kondisi
madrasah yang dinilai.Hal ini juga dimaksudkan untuk mempermudah
penyempurnaan kelemahan-kelemahan yang ditemui dalam pengembangan
madrasah yang inklusif. Karena alur peniliaian yang dikembangkan terdiri dari 4
elemen yaitu kerangka dasar, tinjauan kerja, telaah material dan Proses indeks.

1. Kerangka dasar
Kerangka dasar adalah ide-ide bagaimana mengembangkan pendidikan inklusif
di madrasah. Ide-ide yang dimaksud adalah “
a. Inklusifitas (inclusion)
b. Hambatan-hambatan terhadap pembelajaran dan partipasi (barries to
learning and participation)
c. Sumber-sumber daya yang mendukung pembelajaran dan partisipasi
(resources to support learning and participation)
d. Dukungan untuk keberagaman Peserta Didik (Support for Diversity)
2. Tinjauan kerangka kerja
Tinjauan kerangka kerja dijabarkan menjadi 3 dimensi pokok yaitu :
a. Menciptakan budaya inklusif
b. Membuat kebijakan inklusif
c. Membangun praktik inklusif
Ketiga dimensi tersebut kemudian dijabarkan ke dalam sub- sub dimensi
sebagaimana tabel berikut :

Dimensi Sub-dimensi
A.Menciptakan Budaya A.1.Membangun Komunitas
Inklusif
A.2. Membangun nilai-nilai inklusi
B. Membuat Kebijakan B.1.Mengembangkan sekolah untuk semua
Inklusif
B.2.Mengorganisasikan berbagai bentuk
dukungan atas keberagaman

C. Membangun Praktik C.1.Mengharmonisasikan pembelajaran


Inklusif

C.2. Memobilisasi Sumber-sumber daya

3. Telaah Material
Proses telaah material adalah perumusan indikator dan pertanyaan yang
dikembangkan berdasarkan tiga dimensi yaitu dimensi budaya, kebijakan dan
praktik inklusifitas. Hal ini dimaksudkan untuk membantu madrasah agar dapat
memahami kondisi inklusifitas pada semua aspek di madrasah. Dan proses
telaah ini dapat mengidentifikasi prioritas pengembangan madrasah karena
perumusan indikator dan pertanyaan disesuaikan dengan kondisi madrasah.
Contoh proses telaah terampir.
4. Proses indeks
Tahap 1
Memulai Indeks

Tahap 2
Menyelidiki Kondisi
Madrasah

Tahap 5 Tahap 3
Membuat rencana
Telaah Proses Indeks
pengembangan Madrasah
inklusif

Tahap 4

Melaksanakan rencana
prioritas
Proses memulai indeks diawali dengan menyiapkan seluruh instrumen yang
akan digunakan untuk menyelidiki madrasah yang akan diniliai. Instrumen yang
disiapkan adalah daftar indikator yang dilengkapi dengan interval nilai.
(terlampir). Penilai menyiapkan daftar pertanyaan kepada responden untuk
menentukan nilai pada setiap indikator tersebut.

Proses selanjutnya adalah melakukan penyelidikan di madrasah dengan


menggunakan instrumen berupa questioner yang telah disiapkan kepada
beberapa responden yang berkompoten untuk mendapatkan jawaban yang
sesungguhnya sesuai dengan kondisi madrasah. Hasil penyelidikan selanjutnya
diolah untuk menentukan nilai indeks inklusi. Nilai indeks inklusi untuk
pencapaian keseluruhan pengembangan pendidikan inklusif di sebuah madrasah
didapatkan dengan cara :

Nilai indeks = Jumlah nilai perolehan

Jumlah nilai maksimal

Ket : Nilai perolehan adalah jumlah nilai pencapaain dari semua responden
Nilai maksimal adalah jumlah nilai tertinggi semua respoden

Selanjutnya untuk mengetahui nilai dari masing-masing dimensi didapatkan


dengan cara yang sama yaitu menentukan nilai masing-masing dimensi dari
seluruh responden. Paparan nilai tersebut dapat menggambarkan indikator yang
paling lemah dan kuat dalam penerapan pendidikan inklusi di madrasah.
Berdasar dari hasil penilaian tersebut, dapatlah menjadi acuan untuk
penyusunan program pengembangan inklusi di madrasah tersebut.
BAB V
PENUTUP
Panduan merupakan sumber yang menyajikan informasi dan memberikan tuntunan
kepada pembaca untuk dapat melakukan apa yang diinginkan oleh pembuat kebijakan.
Panduan penyelenggaraan penididikan inklusif di madrasah dimaksudkan untuk
memberikan wawasan kepada madrasah agar dapat menyelenggarakan pendidikan
inklusif secara benar sesuai konsep dan kebijakan dari pemerintah dalam hal ini
Kementerian Agama Republik Indonesia. Atau dengan kata lain panduan ini merupakan
media bagi Kementerian Agama untuk memberikan arahan dan bimbingan kepada
madrasah dalam menyelenggarakan pendidikan secara inklusif.

Panduan ini diharapkan dapat menjadi sumber informasi dan menumbuhkan inovasi
ditingkat madrasah dalam upaya memberikan layanan pendidikan yang berkualitas
kepada setiap peserta didik tanpa terkecuali sesuai dengan prisip-prinsip inklusifitas
yang menempatkan kehadiran bersama, pemerimaan, partisipasi dan capaian sebagai
acuan.
DAFTAR PUSTAKA

Ainscow, Mel and Miles, Susie, Developing Inclusive Education Systems: How Can We
Move Policies Forward. UK: University of Manchester, UK, 2009
Tim Penyusun, Al-Qur’an dan terjemahnya. Jakarta: Kementerian Agama RI, 1999
Al-Bukhari, Shahih al-Bukhari, edited Mika'il al-Almany, 2009
Association for Supervision and Curriculum Development-ASCD, 1987
Al-Attas, Syed Muhammad Naquib, Aims and Objectives of Islamic Education. Jeddah:
Hodder & Stoughton, King Abdul Aziz University, 1979
Danim, Sudarwan. Menjadi Peneliti Kualitatif, Bandung: Pustaka Setia, 2002
Deklarasi Dunia tentang Pendidikan untuk Semua (Education for All)- Jomtien,
Thailand, 1990;
Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia 1948 (Declaration of Human Rights);
De Bellaigue, Christopher, The Islamic Enlightenment: The Modern Struggle Between
Faith and Reason. London: Pinguin, 2017
Tim Penyusun, Pengembangan Kurikulum dan Sistem Penilaian Berbasis Kompetensi:
Sosialisais KSPBK. Jakarta: Direktorat Pendidikan Menengah Umum, 2003
Friend, M. & W. D. Bursuck. Including Students with Special Needs. Boston: Pearson,
2006
Hersey, P., & Blanchard, K. Management of organizational behavior: Utilizing human
resources (4th ed.). Englewood Cliffs, NJ: Prentice Hall, 1982
Indrafachrudi, Soekarto, Bagaimana Memimpin Sekolah Yang Efektif. Bogor: Ghalia
Indonesia, 2006
Konvensi Hak Anak 1989 (Convention on the rights of the Child);
Konvensi Hak-hak Penyandang Disabilitas (Resolusi PBB 61/106, 13 Desember 2006);
Konvensi International tentang Hak-Hak Asasi Penyandang Disabilitas yang telah
diratifikasi oleh Pemerintah Indonesia melalui Undang-Undang Nomor 19
Tahun 2011 (UNCRPD);
Masood, Ehsan, Science and Islam: A History (London: Icon Books, 2009)
Mercer, Neil. The Guided Construction of Knowledge: talk amongst teachers and
learners. Clevedon: Multilingual Matters, 1995
Mulyasa, H. E. Menjadi Kepala Sekolah Profesional. Bandung: Remaja Rosda karya,
2007
Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan,
terutama Pasal 55
Peraturan Pemerintah Nomor 74 Tahun 2008 tentang Guru
Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan
sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Pemerintah Nomor 32 Tahun
2013 tentang Perubahan Atas Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005
tentang Standar Nasional Pendidikan sebagaimana telah diubah dengan
Peraturan Pemerintah Nomor 13 Tahun 2015 tentang Standar Nasional
Pendidikan;
Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2010 tentang Pengelolaan dan
Penyelenggaraan Pendidikan sebagaimana telah diubah dengan Peraturan
Pemerintah Nomor 66 Tahun 2010 tentang Perubahan Atas Peraturan
Pemerintah Nomor 17 Tahun 2010 tentang Pengelolaan dan
Penyelenggaraan Pendidikan;
Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 30 Tahun 2006 tentang Pedoman Teknis
Fasilitas dan Akseibilitas pada Bangunan Gedung dan Lingkungan;
Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 70 Tahun 2009 tentang Pendidikan
Inklusif Bagi Peserta Didik yang Memiliki Kelainan dan Memiliki Potensi
Kecerdasan dan/atau Bakat Istimewa;
Peraturan Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Nomor 6 Tahun
2015 tentang Sistem Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak;
Peraturan Menteri Agama Nomor 10 Tahun 2010 tentang Organisasi dan Tata Kerja
Kementrian Agama sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir dengan
Peraturan Menteri Agama Nomor 16 Tahun 2015;
Peraturan Menteri Agama Nomor 90 Tahun 2013 tentang Penyelenggaraan Pendidikan
Madrasah sebagaimana telah diubah dengan PMA Nomor 60 Tahun 2015;
Permendikbud Nomor 3 Tahun 2017 tentang Penilaian Hasil Belajar oleh Pemerintah
dan Penilaian Hasil belajar oleh Satuan Pendidikan pasal 6
Permendikbud No. 14 Tahun 2017 tentang Ijazah dan Sertifikat Hasil Ujian Nasional
pasal 4
Resolusi PBB Nomor 48/96 tahun 1993: Peraturan Standar tentang Persamaan
Kesempatan bagi Penyandang Disabilitas;
Salamanca Statement and Framework for Action on Special Needs Education
(UNESCO), Spanyol, 1994;
Sahertian, Konsep Dasar dan Teknik Supervisi Pendidikan Dalam Rangka
Pengembangan Sumber Daya Manusia. Jakarta: Aneka Cipta, 2004
Subhan, Arief, Lembaga Pendidikan Islam di Indonesia Abad Ke-20: Pergumulan
Antara Modernisasi dan Identitas (Jakarta: UIN Jakarta Press, 2009)
Surat Edaran Direktur Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah Kementerian
Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 1040/D6/KR/2017 tanggal 20 Februari
2017 hal Penilaian Hasil Belajar Bagi Peserta Didik Berkebutuhan Khusus
Surat Edaran Direktur Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah Nomor
2951/D.D6/HK/2017 tanggal 2 Mei 2017 hal Ijazah Bagi Peserta Didik
Berkebutuhan Khusus di Satuan Pendidikan Umum
Surat Keputusan Direktur Jenderal Pendidikan Islam Nomor 3211 Tahun 2016 tentang
Penetapan 22 Madrasah Inklusif;
Surat Edaran Dirjen Pendidikan Dasar dan Menengah Kemendikbud no
1040/D6/KR/2017 tanggal 20 Februari 2017 tentang Hal Penilaian Hasil
Belajar Bagi Peserta Didik Berkebutuhan Khusus;
Surat Edaran Dirjen Pendidikan Dasar dan Menegah Kemendikbud No.
2951/D.D6/HK/2017 Tanggal 2 Mei 2017 tentang Hal Izajah bagi Peserta
Didik Berkebutuhan Khusus di Satuan Pendidikan Umum.
Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDG’s), Tujuan nomor 4
Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945;
Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional;
Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perlidungan Anak;
Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2016 tentang Penyandang Disabilitas.
Wahjosumidjo, Kepemimpinan dan Motivasi. Jakarta: Ghalia Indonesia, 2007
Weihrich, H & Koontz, H, Management: A Global Perspective. 11th edn. Singapore:
McGraw Hill, 2005