Anda di halaman 1dari 17

BAB I

PENDAHULUAN
I. Latar Belakang
Penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) adalah penyakit yang
disebabkan oleh infeksi virus Dengue ditularkan kepada manusia melalui
gigitan nyamuk Aedes aegypti, ditandai dengan demam mendadak, sakit
kepala, nyeri belakang bola mata, mual dan manifestasi pendarahan seperti
rumple lead positive, ptekie, mimisan atau gusi berdarah.
Sampai saat ini DBD masih menjadi masalah kesehatan bagi
masyarakat dan menimbulkan dampak sosial maupun ekonomi. Kerugian
sosial yang terjadi antara lain karena menimbulkan kepanikan dalam
keluarga, kematian anggota keluarga dan berkurangnya usia harapan hidup
masyarakat. Dampak ekonomi langsung adalah biaya pengobatan yang
cukup mahal, sedangkan dampak tidak langsung adalah kehilangan waktu
kerja dan biaya lain yang dikeluarkan selain pengobatan seperti transportasi
dan akomodasi selama perawatan di rumah sakit.
Sejak pertama kali ditemukan penyakit DBD di Indonesia pada tahun
1986 di dua wilayah yaitu Surabaya dan Jakarta, jumlah kasus cenderung
meningkat dan daerah penyebarannyapun juga bertambah luas. Pada tahun
2010 penyakit DBD telah tersebar di seluruh provinsi di Indonesia dan di
sekitar 400 kab/kota.
Jika pada awal masuknya DBD ke Indonesia angka kematian yang
ditimbulkan sangat tinggi, namun dengan berbagai kegiatan pengendalian
yang telah dilakukan angka kematian tersebut dapat ditekan hingga di bawah
1% sejak tahun 2009. Namun demikian angka kesakitan DBD tetap tinggi,
jika tahun 2004 tercatat Insiden Rate (IR) DBD sebesar 37.01 per 100.000
penduduk maka pada tahun 2009 menjadi 68,22 per 100.000 penduduk. IR
tersebut cenderung meningkat tetapi pada tahun 2011 IR DBD menurun
sangat tajam menjadi 27,67 per 100.000 penduduk. Situasi ini diharapkan
tetap dipertahankan pada tahun 2012 dan di tahun-tahun mendatang, dengan
mengoptimalkan segala daya dan upaya pengendalian DBD.
Banyak faktor yang turut berperan terhadap peningkatan kasus DBD
dan KLB yang sulit atau tidak dapat dikendalikan seperti kepadatan
penduduk yang terus meningkat, sejalan dengan pembangunan kawasan
pemukiman, urbanisasi yang tidak terkendali, lancarnya transportasi (darat,
laut dan udara), perilaku masyarakat yang kurang sadar terhadap kebersihan
lingkungan, serta perubahan iklim (climate change).
Pengendalian penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) telah diatur
dalam Keputusan Menteri Kesehatan : KEPMENKES nomor 581/MENKES/
SK/VII/1992 tentang pemberantasan penyakit Demam Berdarah dan
KEPMENKES nomor 92 tahun 1994 tentang perubahan atas lampiran
KEPMENKES nomor 581/MENKES/SK/1992, yang dititikberatkan pada
upaya pencegahan dengan gerakan pemberantasan sarang nyamuk (PSN)
selain penatalaksanaan penderita DBD dengan memperkuat kapasitas rumah
sakit, memperkuat surveilans epidemiologi dan pencegahan Kejadian Luar
Biasa (KLB) DBD.
Sejalan dengan RPJMN 2010-2014 Kementerian Kesehatan telah
menetapkan visi yaitu mesyarakat sehat yang mandiri dan berkeadilan serta
misi diantaranya adalah meningkatkan derajat kesehatan masyarakat melalui
pemberdayaan masyarakat termasuk swasta dan masyarakat madani dalam
pengendalian penyakit dan penyehatan lingkungan, serta lebih
mengedepankan upaya preventif dan promotif daripada kuratif dan
rehabilitatif. Aplikasi dalam pengendalian DBD yaitu dengan pembentukan
Juru Pemantau Jentik atau yang dikenal dengan Jumantik yang anggotanya
adalah kader dari masyarakat.
1
Mengingat obat untuk membunuh virus Dengue hingga saat ini belum
ditemukan dan vaksin untuk mencegah penularan DBD masih dalam tahap uji
coba, maka cara yang dapat dilakukan sampai saat ini adalah dengan
memberantas nyamuk penular (vektor). Pemberantasan vektor ini dapat
dilakukan pada saat masih berupa jentik atau nyamuk dewasa.
Pada periode 1969-1980 pemberantasan vektor menggunakan
insektisida dengan fogging, sejak tahun 1988 selain fogging juga dilakukan
larvasidasi untuk membunuh jentik nyamuk yang dilakukan sebelum musim
penularan di daerah endemis DBD. Sejak tahun 1990 dilaksanakan upaya
pemutusan rantai penularan secara terpadu penanggulangan fokus yaitu
penyuluhan, larvasidasi dan fogging fokus.
Untuk memberdayakan masyarakat dalam melakukan tindakan PSN
dengan 3M plus yaitu menguras dan menutup tempat penampungan air serta
memanfaat kembali barang-barang bekas serta upaya pengendalian vektor
lainnya, telah dilakukan dengan mengikutsertakan lintas program dan lintas
sektor terkait diantaranya adalah Pusat Promosi Kesehatan, Kemenkes,
Kementerian Dalam Negeri dan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.
Tindak lanjut dari komitmen bersama tersebut berupa :
1. Surat Edaran Mendagri No 443.42/115/Bandes perihal operasional
Keputusan Menteri Kesehatan No 581 tahun 1992.
2. Surat Edaran Tim Pembina UKS Tingkat Pusat No 80/TPUKS 00/X/1993
tentang Pembinaan UKS dalam upaya pencegahan penyakit DBD
3. Surat Edaran Tim Penggerak PKK Pusat No 500/SKR/PKK.PST/1994
tentang Penyuluhan dan Motivasi Gerakan PSN DBD
4. SK Mendagri No 31-VI tahun 1994 tentang pembentukan Kelompok
Operasional Pemberantasan Penyakit DBD.
5. Keputusan Menteri Kesehatan RI No 1529/MENKES/SK/X/2010 tentang
Pedoman Umum Pengembangan Desa dan Kelurahan Siaga Aktif yang
didalamnya tercantum pemberantasan jentik nyamuk sebagai salah satu
10 langkah PHBS.
6. Komitmen bersama 33 pemimpin daerah dalam peringatan ASEAN
Dengue Day pada tanggal 15 Juni 2011 tentang upaya pengendalian
DBD.
7. Peraturan Menteri Kesehatan RI No.2269/MENKES/PER/XI/2011 tentang
Pedoman Pembinaan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS)
8. Surat Edaran Menteri Dalam Negeri RI No 140/1508/SJ tahun 2011
tentang Pedoman Pelaksanaan Pembentukan Kelompok Kerja
Operasional dan Forum Desa dan Kelurahan Siaga Aktif di Daerah.

Pembentukan Jumantik dalam rangka pengendalian DBD telah


terbukti berhasil menurunkan jumlah kasus di beberapa daerah seperti Kota
Mojokerto dengan gerakan Jum’at Berseri + PSN 60 menit dan provinsi DKI
Jakarta yang terkenal dengan gerakan Jum’at Bersih + PSN 30 menit. Angka
Kesakitan (IR) DBD di kota Mojokerto pada tahun 2006 sebesar 227/100.000
penduduk dan secara bertahap terus menurun sejak adanya kader jumantik
dan Gerakan Jum’at Berseri + 60 menit PSN. Jika pada tahun 2010 IR DBD
sebesar 27/100.000 penduduk maka tahun 2011 menurun kembali hingga
mencapai 6,7/100.000 penduduk, dengan angka Bebas Jentik (ABJ) 97,25%.
Jika daerah tersebut diatas berhasil menurunkan Angka Kesakitan
(IR) DBD, maka masih banyak daerah lain di Indonesia yang belum
melaksanakan kegiatan pemberdayaan mesyarakat melalui kader Jumantik
dan sering dilaporkan terjadi KLB. Permasalahan utama terjadinya KLB
karena belum berhasilnya upaya penggerakan peran serta masyarakat dalam
PSN DBD.

2
Oleh karena itu untuk meningkatkan keberhasilan pengendalian DBD
dan mencegah terjadinya peningkatan kasus atau KLB, tetap diperlukan
adanya Juru Pemantau Jentik (Jumantik) untuk melakukan pengawasan dan
penyuluhan kepada masyarakat agar melakukan PSN DBD dengan 3M plus.

II. Tujuan
A. Tujuan Umum
Melalui Juru Pemantau Jentik (Jumantik) untuk menurunkan
populasi nyamuk penular DBD serta jentiknya dengan meningkatkan
peran serta masyarakat dalam pemberantasan sarang nyamuk dengan
gerakan 3M plus.

B. Tujuan Khusus
a. Untuk meningkatkan peran serta masyarakat dalam pemberantasan
sarang nyamuk
b. Untuk memotivasi masyarakat dalam memperhatikan tempat yang
berpotensi untuk perkembangbiakan nyamuk DBD
c. Untuk mengetahui kepadatan jentik nyamuk penular DBD secara
berkala dan terus menerus sebagai indikator keberhasilan PSN DBD
oleh masyarakat.

3
BAB II
PENGENALAN DEMAM BERDARAH DENGUE

1. Demam Berdarah Dengue (BDB) adalah penyakit yang ditandai dengan : (1)
demam tinggi mendadak, tanpa sebab yang jelas, berlangsung terus menerus
selama 2-7 hari ; (2) Manifestasi pendarahan (petekie, purpura, pendarahan
konjungtiva, epistaksis, ekimosis, pendarahan mukosa, epitsaksis, pendarahan
gusi, hematemasis, melena, hematuri) termasuk uji Tourniquet (Rumple
Leede) positif; (3) Trombositopeni (jumlah trombosit ≤ 100.000/µ1); (4)
Hemokonsentrasi (peningkatan hematokrit ≥ 20%); dan (5) disertai dengan
atau tanpa pembesaran hati (hepatomegali)
2. DBD pada umumnya menyerang anak-anak, tetapi dalam dekade terakhir ini
terlihat adanya kecenderungan kenaikan proporsi pada kelompok umur
dewasa.
3. Penyebab DBD adalah virus dengue yang sampai sekarang dikenal 4 serotipe
(Dengue-1, Dengue-2, Dengue-3, dan Dengue-4 ), termasuk dalam group B
Arthroped Borne Virus (Arbovirus). Keempat serotipe virus ini telah ditemukan
di berbagai daerah di Indonesia. Hasil penelitian di Indonesia menunjukkan
bahwa Dengue-3 sangat berkaitan dengan kasus DBD berat dan merupakan
serotipe yang paling luas distribusinya disusul oleh Dengue-2, Dengue-1 dan
Dengue-4.
4. Masa inkubasi DBD biasanya berkisar antara 4-7 hari.
5. Penularan DBD umumnya melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti meskipun
dapat juga ditularkan oleh Aedes albopictus yang biasanya hidup di kebun-
kebun. Nyamuk penular DBD ini terdapat hampir di seluruh pelosok Indonesia,
kecuali di tempat-tempat dengan ketinggian lebih dari 1000 meter di atas
permukaan laut.
6. Akibat penularan virus dengue :
a. Orang yang terinveksi virus dengue, maka dalam tubuhnya akan terbentuk
zat anti (antibodi) yang spesifik sesuai dengan tipe virus dengue masuk.
Gejala dan tanda yang timbul ditentukan oleh reaksi antara zat anti yang
ada dalam tubuh dengan antigen yang ada dalam virus dengue yang baru
masuk.
b. Orang yang terinfeksi virus dengue untuk pertama kali, umumnya hanya
menderita demam dengue (DD) atau demam yang ringan dengan gejala
dan tanda-tanda yang tidak spesifik atau bahkan tidak memperhatikan
tanda-tanda sakit sama sekali (asimptomatis). Penderita DD biasanya akan
sembuh sendiri dalam waktu 5 hari pengobatan.
7. Tanda dan Gejala Penyakit
a. Demam
Penyakit ini didahului oleh demam tinggi yang mendadak, terus menerus
berlangsung 2-7 hari. Panas dapat turun pada hari ke-3 yang kemudian
naik lagi, dan pada hari ke-6 atau ke-7 panas mendadak turun.
b. Tanda-tanda pendarahan
Pendarahan ini terjadi di semua organ. Bentuk pendarahan dapat hanya
berupa Uji Tourniquet (Rumple Leede) positif atau dalam bentuk satu atau
lebih manifestasi pendarahan sebagai berikut : Petekie, Purpura, Ekimosis,
Pendarahan Konjungtiva, Epistaksis, Pendarahan Gusi, Hematemesis,
Melena. Dan Hematuri.
8. Tersangka Demam Berdarah Dengue
Dinyatakan tersangka Demam Berdarah Dengue apabila : demam tinggi
mendadak, tanpa sebab yang jelas, berlangsung terus – menerus selama2-7
hari disertai manifestasi perdarahan(sekurang-kurangnya uji Tourniquet positif)
dan /atau trombositpenia (jumlah trombosit ≤ 100.000/µl)

4
9. Diagnosis Klinis Demam berdarah Dengue
Diagnosis DBD ditegakkan berdasarkan kriteria diagnosis menurut WHO terdiri
kriteria klinis dan laboratories. Penggunaan kriteria ini dimaksudkan untuk
mengurangi diagnosis yang berlebihan (over diagnosis).

Kriteria klinis :
a. Demam tinggi mendadak, tanpa sebab yang jelas, berlangsung terus
menerus selama 2-7 hari.
b. Terdapat manifestasi pendarahan, sekurang-kurangya uji Tourniquet
(Rumple Leede) positif
c. Pembesaran hati
d. Syok

Kriteria laboratois :

a. Trombositopenia (jumlah trombosit ≤ 100.000/µl)


b. Hemokosentrasi, dapat dilihat dari peningkatan hematokrit ≥ 20%.

5
BAB III
PEMERIKSAAN PENDERITA DEMAM BERDARAH DENGUE

Penderita yang datang dengan gejala/tanda DBD maka dilakukan


pemeriksaan sebagai berikut :
1. Anamnesis (wawancara) dengan penderita atau keluarga penderita tentang
keluhan yang dirasakan, sehubungan dengan gejala DBD
2. Observasi kulit dan konjungtiva untuk mengetahui tanda pendarahan.
Observasi kulit meliputi wajah, lengan, tungkai, dada, perut dan paha.
3. Pemeriksaan keadaan umum dan tanda-tanda vital (kesadaran, tekanan
darah, nadi dan suhu).
4. Penekanan pada ulu hati (epigastrium). Adanya rasa sakit/nyeri pada ulu hati
dapat disebabkan karena adanya perdarahan di lambung.
5. Perabaan hati
6. Uji Tourniquet (Rumple Leede)
7. Pemeriksaan laboratorium
a. Pemeriksaan Laboratorium klinik
1) Pemeriksaan Trobosit
Pemeriksaan trombosit antara lain dapat dilakukan dengan cara :
a) Semi kuantitatif (tidak langsung)
b) Langsung (Rees-Ecker)
c) Cara lainnya sesuai kemajuan teknologi
2) Pemeriksaan Hematokrit
Pemeriksaan hematokrit antara lain dengan mikro-hematokrit centrifuge
Nilai normal hematokrit
Anak-anak : 33 – 38 vol%
Dewasa laki-laki : 40 – 48 vol %
Dewasa Perempuan : 37 – 43 vol %
Utuk puskesmas misalnya yang tidak alat untuk pemeriksaan Ht, dapat
dipertimbangkan estimasi nilai Ht = 3 x kadar hb.
3) Pemeriksaan kadar Hemoglobin
Pemeriksaan kadar Hemoglobin antara lain dengan cara :
a) Pemeriksaan adar Hb dengan menggunakan Karolimeter foto
elektrik (Klett-Summerson).
b) Pemeriksaan hemoglobin metode Sahli
c) Cara lainnya sesuai dengan kemajuan teknologi
Contoh nilai normal hemoglobin (Hb):
Anak-anak : 11- 12,5 gr/100 ml darah
Pria Dewasa : 13 -16 gr /100 ml darah
Wanita Dewasa : 12 – 14 gr/100 ml darah
4) Pemeriksaan Serologis
Saat ini diuji serologis yang biasa dipakai untuk menentukan adanya
infeksi virus dengue, yaitu uji hemaglutinasi Inhibisi (HI) dan ELISA
(IgM/IgG).

6
BAB IV
TATALAKSANA DEMAM BERDARAH DENGUE

A. TATALAKSANA DEMAM BERDARAH DENGUE PADA ANAK


Mengingat pada saat awal pasien datang, belum selalu dapat
ditegakkan diagnosis DBD dengan tepat, maka sebagai pedoman tatalaksana
awal dapat dibagi dalam beberapa bagan, yaitu : Tatalaksana tersangka DBD
(Bagan 1 dan Bagan 2), Tatalaksana penderita DBD Derajat I dan II (Bagan 3),
dan Tatalaksana penderita DBD derajat III dan derajat IV (sindrom syok
dengue/SSD) (Bagan 4).

1. Tatalaksana Tersangka DBD (Rawat Jalan)

Pertama-tama ditentukan terlebih dahulu:


a. Adakah tanda kedaruratan yaitu tanda syok (gelisah, nafas cepat, bibir
biru, tangan dan kaki dingin, kulit lembab), mutah terus menerus, kejang,
kesadaran menurun, muntah darah, berak darah, maka pasien perlu
dirawat/ dirujuk.
b. Apabila tidak dijumpai tanda kedaruratan, periksa uji Tourniquet dan
hitung trobosit.
1) Bila uji Tourniquet positif dan jumlah trobosit ≤ 100.000/µl, penderita
dirawat/ dirujuk
2) Bila uji Tourniquet negatif dengan trombosit ≥ 100.000/µl atau
normal pasien boleh pulang dengan pesan untuk datang kembali
setiap hari sampai suhu badan turun. Pasien dianjurkan minum
banyak, seperti : air teh, susu, sirup oralit, jus buah, dan lain-lain.
Sebaiknya hindari cairan yang berwarna coklat dan merah. Berikan
obat antiperetik golongan parasetamol jangan golongan sarisilat.
Apabila selama dirumah demam tidak turun pada hari sakit ketiga,
evaluasi tanda klinis adakah tanda – tanda syok, yaitu anak menjadi
gelisah ujung kaki/tangan dingin, sakit perut berak hitam, kencing
berkurang, bila perlu periksa Hb, Ht, dan trombosit apabila terdapat
tanda syok atau terdapat peningkatan Ht dan / atau penurunan
trombosit , segera kembali ke rumah sakit.

2. Tatalaksana Tersangka DBD (Rawat Inap)


Pasien dengan keluhan demam 2-7 hari, disertai uji Tourniquet positif
atau perdarahan spontan , dan trombositpenia ringan dapat dikelola seperti
tertera pada bagan 2.
Apabila pasien masih dapat minum, berikan minum sbanyak 1-2
liter/hari atau 1 sendok makan setiap 5 menit. Obat antiperetik
(parasetamol) diberikan bila suhu > 38 0c. pada anak dengan riwayat kejang
dapat diberikan obat anti konvulsif.
Apabila pasien tidak dapat minum atau muntah terus-menerus,
sebaiknya diberikan infus NaCI 0,45% : dekstrosa 5% (1:#) dipasang
dengan tetesan rumatan sesuai berat badan. Disamping itu perlu dilakukan
pemeriksaan Hb, Ht tiap 6 jam dan trobosit setiap 6-12 jam.
Apabila pada tindak lanjut telah terjadi perbaikan klinis an
laboratorium pasien dapat dipulangkan, tetapi bila kadar Ht cenderung
naikdan trombosit menurun, maka infuse cairan diganti dengan ringer laktat
dan tetesan disesuaikan seperti Bagan 2.

7
BAB V

PERTOLONGAN PERTAMA PENDERITA


DEMAM BERDARAH DENGUE OLEH MASYARAKAT
Pada awal perjalanan DBD gejala dan tidak spesifik , oleh karena itu
masyarakat / keluarga dharapkan waspada jika terdapat gejala dan tanda yang
mungkin merupakan awal perjalanan penyakit tersebut.
Pada awal perjalanan DBD gejala dan tidak spesifik , oleh karena itu
masyarakat / keluarga dharapkan waspada jika terdapat gejala dan tanda yang
mungkin merupakan awal perjalanan penyakit tersebut. Gejala dan awal DBD
dapat berupa panas tinggi tanpa sebab jelas yang timbul mendadak, terus-
menerus selama 2-7 hari, badan lemah/lesu, nyeri ulu hati, tampak bintik-bintik
pada kulit seperti bekas gigitan nyamuk disebabkan pecahnya pembuluh darah
kapiler dikulit. Untuk membedakan kulit diregangkan bila bintik merah itu hilang ,
bukan tanda penyakit DBD.
Apabila keluarga / masyarakat menemukan gejala dan tanda diatas maka
pertolongan pertama oleh keluarga adalah sebagai berikut:
1. Tirah baring selama demam
2. Antipiretik (parasetamol) 3 x 1 tablet untuk dewasa, 10-15 mg/kgBB/kali untuk
anak. Asetosal , salisilat, ibuprofen jangan dipergunakan karena dapat
menyebabkan gastritis atau pendarahan
3. Kompres hangat
4. Minum banyak(1-2 liter air/hari), semua cairan diperbolehkan kecuali cairan
yang berwarna coklat dan merah (susu coklat, sirup merah)
5. Bila terjadi kejang :
a. Jaga lidah agar tidak tergigit
b. Kosongkan mulut
c. Langgarkan pakaian
d. Tidak memberi apapun lewat mulut selama kejang
Jika dalam 2 hari panas tidak turun atau timbul gejala dan tanda lanjut
seperti pendarahan di kulit (seperti bekas gigitan nyamuk), muntah-muntah,
gelisah, mimisan, dianjurkan segera dibawa berobat/periksakan ke dokter atau unit
pelayanan kesehatan untuk segera mendapat pemeriksaan dan pertolongan.

8
BAB VI
SURVEILANS EPIDEMIOLOGI DEMAM BERDARAH DENGUE

1. Surveilans demam berdarah dengue (DBD) adalah proses pengumpulan,


pengolahan analisis, dan interpretasi data serta penyebarluasan informasi
penyelenggaraan program dan pihak instansi terkait secara sistematis dan
terus-menerus tentang situasi DBD dan kondisi yang mempengaruhi terjadinya
peningkatan dan penularan penyakit tersebut agar dapat dilakukan tindakan
penanggulangan secara efektif dan efisien.
2. Kasus DBD adalah penderita DBD atau SSD
3. Penderita DBD ialah penderita penyakit yang diagnosis sebagai DBD dan SSD
4. Penegakkan diagnosis DD, DBD dan SSD sesuai kriteria (lihat buku 1)
5. Tersangka DBD ialah penderita demam tinggi mendadak, tanpa sebab yang
jelas, berlangsung terus menerus selama 2-7 hari disertai tanda-tanda
pendarahan sekurang-kurangnya uji Tourniquet (Rumple Leede) posistif
dan/atau jumlah trombosit ≤ 100.000 / µ1.
6. Laporan kewaspadaan dini DBD (KD/RS DBD) adalah laporan segera (paling
lambat dikirimkan dalam 24 jam setelah penegakan diagnosis) tentang adanya
penderita (DD, DBD, dan SSD) termasuk tersangka DBD agar segera dapat
dilakukan tindakan atau langkah-langkah penanggulangan seperlunya.
7. Laporan tersangka DBD dimaksudkan hanya untuk kegiatan proaktif surveilans
dan peningkatan kewaspadaan, tetapi bukan sebagai laporan kasus penderita
DBD
8. Unit pelayanan kesehatan adalah rumah sakit (RS), Puskesmas, Puskesmas
Pembantu, Balai Pengobatan, Poliklinik, Dokter Praktek Bersama, Dokter
Praktek Swasta, dan lain-lain.
9. Puskesmas setempat ialah puskesmas dengan wilayah kerja di tempat dimana
penderita DBD berdomisili
10. Stratifikasi desa/ kelurahan DBD
a. Kelurahan/Desa Endemis adalah desa/kelurahan yang dalam 3 tahun
terakhir, setiap tahun ada penderita DBD
b. Kelurahan/Desa Sporadis adalah kelurahan/desa yang dalam 3 tahun
terakhir terdapat penderita DBD tetapi tidak setiap tahun
c. Kelurahan/Desa Potensial adalah desa/kelurahan yang dalam 3 tahun
terakhir, tidak pernah ada penderita DBD, tetapi penduduknya padat,
mempunyai hubungan transportasi yang ramai dengan wilayah yang lain
dan persentase rumah yang ditemukan jentik lebih atau sama dengan 5%.
d. Desa/Kelurahan Bebas adalah desa/kelurahan yang tidak pernah ada
penderita DBD selama 3 tahun terakhir dan persentase rumah yang
ditemukan jentik kurang dari 5%.

9
BAB VII
ALUR PELAPORAN DEMAM BERDARAH DENGUE
A. Pelaporan Rutin

1. Pelaporan dari unit pelayanan kesehatan (selain puskesmas)


2. Pelaporan dari puskesmas ke dinas kesehatan kabupaten/kota
3. Pelaporan dari dinas kesehatan kabupaten/kota ke dinas kesehatan
propinsi
4. Pelaporan dari dinas kesehatan propinsi ke pusat (Subdit Arbovioris, Ditjen
P2M & PL)

B. Pelaporan dalam Situasi Kejadian Luar Biasa

1. Pelaporan oleh unit pelayanan kesehatan (selain puskesmas)


2. Pelaporan dari puskesmas ke dinas kesehatan kabupaten/kota
3. Pelaporan dari dinas kesehatan kabupaten/kota ke dinas kesehatan
propinsi
4. Pelaporan dari dinas kesehatan propinsi ke Ditjen P2M & PL

C. Umpan Balik Pelaporan

Umpan balik pelaporan perlu dilaksanakan guna meningkatkan kualitas


dan memelihara kesinambungan pelaporan, kelengkapan dan ketepatan waktu
pelaporan serta analisis terhadap laporan. Frekuensi umpan balik oleh masing-
masing tingkat administrasi dilaksanakan setiap tiga bulan, minimal dua kali
dalam setahun

10
BAB VIII

SURVEILANS EPIDEMOLOGIS DEMAM BERDARAH DENGUE


DI PUSKESMAS

Surveilans epidemologis demam berdarah dengue (DBD) di puskesmas


meliputi kegiatan pengumpulan dan pencatatan data tersangka DBD dan penderita
DD, DBD, SSD; pengolahan dan penyajian data penderita DBD untuk pemantauan
KLB; KD/RS-DBD untuk pelaporan tersangka DBD, penderita DD, DBD, SSD
dalam 24 jam setelah diagnosis ditegakkan; laporan KLB (W1); laporan mingguan
KLB (W2-DBD); laporan bulanan kasus/kematian DBD dan program
pemberantasan (K-DBD); data dasar perorangan penderita DD, DBD, SSD (DP-
DBD), penentuan stratifikasi (endemisitas) desa/kelurahan, distribusi kasus DBD
per RW/dusun, penentukan musim penularan, dan kecenderungan DBD.

1. Pengumpulan data dan pencatatan data


2. Pengolahan dan penyajian data

11
BAB IX
PENYELIDIKAN EPIDEMOLOGI
A. Pengertian

Penyelidikan Epidemologis (PE) adalah kegiatan pencarian penderita DBD


atau tersangka DBD lainnya dan pemeriksaan jentik nyamuk penular DBD di
tempat tinggal penderita dan rumah/bangunan sekitarnya, termasuk tempat-
tempat umum dalam radius sekurang-kurangnya 100 meter.

B. Tujuan

1. Umum
Mengetahui potensi penularan dan penyebaran DBD lebih lanjut serta
tindakan penanggulangan yang perlu dilakukan di wilayah sekitar tempat
tinggal penderita
2. Khusus
a. Mengetahui adanya penderita dan tersangka DBD lainnya
b. Mengetahui ada tidaknya jentik nyamuk penular DBD
c. Menentukan jenis tindakan (penanggulangan fokus) yang akan
dilakukan

C. Langkah-langkah pelaksanaan kegiatan

1. Setelah menemukan/menerima laporan adanya penderita DBD, petugas


puskesmas/koordinator DBD segera mencatat dalam Buku Catatan harian
Penderita DBD
2. Menyiapkan peralatan survei, seperti : tensimeter, center formulir PE, dan
surat tugas
3. Memberitahukan kepada Kades/Lurah dan ketua RW/RT setempat bahwa
di wilayahnya ada penderita DBD dan akan dilaksanakan PE.
4. Masyarakat di lokasi tempat tinggal penderita membantu kelancaran
pelaksanaan PE
5. Pelaksanaan PE sebagai berikut :
a. Petugas puskesmas memperkenalkan diri dan selanjutnya melakukan
wawancara dengan keluarga, untuk mengetahui ada tidaknya penderita
DBD lainnya (sudah ada konfirmasi dari rumah sakit atau unit
pelayanan kesehatan lainnya) dan penderita demam saat itu dalam
kurun waktu 1 minggu sebelumnya
b. Bila ditemukan penderita demam tanpa sebab yang jelas pada saat itu
dilakukan pemeriksaan di kulit dan dilakukan uji Tourniquet
c. Melakukan pemeriksaan jentik pada tempat penampungan air (TPA)
dan tempat-tempat lain yang dapat menjadi tempat perkembangbiakan
nyamuk Aedes aegypti baik di dalam maupun di luar rumah/bangunan
d. Kegiatan ini dilakukan pada radius 100 meter dari lokasi tempat tinggal
penderita
e. Bila penderita adalah siswa sekolah, maka PE dilakukan juga di sekolah
siswa yang bersangkutan
f. Hasil pemeriksaan adanya penderita demam (tersangka DBD) dan
pemeriksaan jentik dicatat dalam formulir PE
g. Hasil PE segera dilaporkan kepada kepala dinas kesehatan
kabupaten/kota, untuk tindak lanjut lapangan dikoordinasi dengan
Kades/Lurah setempat
h. Berdasarkan hasil PE dilakukan penanggulangan fokus

12
BAB X
PENANGGULANGAN FOKUS
A. Pengertian

Penanggulangan fokus adalah kegiatan pemberantasan nyamuk penular


DBD yang dilaksanakan dengan melakukan pemberantasan sarang nyamuk
demam berdarah dengue (PSN DBD), larvasidasi, penyuluhan dan
penyemprotan (pengasapan) menggunakan insektisida sesuai dengan kriteria.

B. Tujuan

Penanggulangan fokus dilaksanakan untuk membatasi penularan DBD dan


mencegah terjadinyaKLB di lokasi tempat tinggal penderita DBD dan
rumah/bangunan sekitarnya serta tempat-tempat umum yang berpotensi
menjadi sumber penularan DBD lebih lanjut.

C. Kegiatan

Tindak lanjut hasil PE adalah sebagai :


1. Bila ditemukan penderita DBD lainnya (1 atau lebih) atau ditemukan 3 atau
lebih tersangka DBD dan ditemukan jentik (≥5%) dari rumah/bangunan
yang diperiksa, maka dilakukan penggerakan masyarakat dalam PSN DBD,
larvasidasi, penyuluhan dan pengasapan dengan insektisida di rumah
penderita DBD dan rumah/bangunan sekitarnya dalam radius 200 meter, 2
siklus dengan interval 1 minggu.
2. Bila tidak ditemukan penderita lainnya seperti tersebut diatas, tetapi
ditemukan jentik, maka dilakukan penggerakan masyarakat dalam PSN
DBD, larvasidasi dan penyuluhan.
3. Bila tidak ditemukan penderita lainnya seperti tersebut di atas dan tidak
ditemukan jentik, maka dilakukan penyuluhan kepada masyarakat.

D. Langkah-Langkah Pelaksanaan Kegiatan

1. Setelah Kades/Lurah menerima laporan hasil PE dari puskesmas dan


rencana koordinasi penanggulangan fokus, meminta ketua RW / RT agar
warga membantu kelancaran pelaksanaan penanggulangan fokus.
2. Ketua RW/RT menyampaikan jadwal kegiatan yang diterima dari petugas
puskesmas setempat dan mengajak warga untuk berpartisipasi dalam
kegiatan penanggulangan fokus.
3. Kegiatan penanggulangan fokus sesuai hasil PE
a. Penggerakan masyarakat dalam PSN DBD dan larvasidasi
1) Ketua RW/RT, Toma, (tokoh masyarakat) dan Kader memberikan
pengarahan langsung kepada warga pada waktu pelaksanaan PSN
DBD
2) Penyuluhan dan penggerakan masyarakat dalam PSN DBD dan
larvasidasi dilaksanakan sebelum dilakukan pengasapan insektisida.
b. Penyuluhan
Penyuluhan dilaksanakan oleh petugas kesehatan/kader atau Kelompok
Kerja (Pokja) DBD Desa/Kelurahan berkoordinasi dengan petugas
puskesmas, dengan materi antara lain :
1) Situasi DBD di wilayahnya
2) Cara-cara pencegahan DBD yang dapat dilaksanakan oleh individu,
keluarga dan masyarakat

13
c. Pengasapan dengan insektisida
1) Dilakukan oleh petugas puskesmas atau bekerjasama dengan dinas
kesehatan kabupaten/kota. Petugas penyemprot adalah petugas
puskesmas atau petugas harian terlatih.
2) Ketua RT, Toma, atau Kader mendampingi petugas dalam kegiatan
pengasapan.
4. Hasil pelaksanaan penanggulangan fokus dilaporkan oleh puskesmas
kepada dinas kesehatan kabupaten/kota dengan tembusan kepada camat
dan kades/Lurah setempat
5. Hasil kegiatan pemberantasan DBD dilaporkan oleh puskesmas kepada
dinas kesehatan kabupaten/kota setiap bulan dengan menggunakan
formulir K-DBD

14
BAB XI
PENANGGULANGAN KEJADIAN LUAR BIASA

A. Pengertian
Penanggulangan kejadian luar biasa (KLB) adalah upaya penangulangan
yang meliputi: pengobatan/perawatan penderita, pemberantasan vektor
penular DBD, penyuluhan kepada masyarakat dan evaluasi /penilaian
penanggulangan yang dilakukan di seluruh wilayah yang terjadi KLB.

B. Tujuan
Membatasi penularan DBD, sehingga KLB yang terjadi di suatu wilayah
tidak meluas ke wilayah lain.

C. Kegiatan
Bila terjadi KLB/wabah, dilakukan penyemprotan insektisida (2 siklus
dengan interval 1 minggu) PSN DBD, larvasidasi, penyuluhan di seluruh
wilayah terjangkit, dan kegiatan penanggulangan lainnya yang diperlukan,
seperti : pembentukan posko pengobatan dan posko penanggulangan,
penyelidikan KLB, pengumpulan dan pemeriksaan spesimen serta
peningkatan kegiatan surveilans kasus dan vektor, dan lain-lain.
1. Pengobatan/perawatan penderita
2. Pemberantasan vektor
a. Pengasapan (fogging/ULV)
b. Pemberantasan sarang nyamuk demam berdarah dengue (PSN DBD)
c. Larvasidasi
3. Penyuluhan kesehatan masyarakat
4. Penilaian penanggulangan kejadian luar biasa (KLB)

15
BAB XII
PEMERIKSAAN JENTIK BERKALA OLEH PUSKESMAS

Selain oleh kader, PKK, Jumantik, atau tenaga pemeriksa jentik lainnya,
pemeriksaan jentik berkala (PJB) juga dilakukan oleh masing-masing puskesmas
terutama di desa/kelurahan endemis (cross check) pada tempat-tempat
perkembangbiakan nyamuk Aedes aegypti di 100 sampel rumah/bangunan yang
dipilih secara acak dan dilaksanakan secara teratur setiap 3 bulan untuk
mengetahui hasil kegiatan PSN DBD oleh masyarakat. Pengambilan sampel harus
diulang untuk setiap siklus pemeriksaan. Rekapitulasi hasil PJB dilaksanakan oleh
puskesmas setiap bulan dengan melakukan pencatatan hasil pemeriksaan jentik
di pemukiman (rumah) dan tempat-tempat umum pada FORMULIR JPJ-2.

Contoh cara memilih sample 100 rumah/bangunan sebagai berikut :


1. Dibuat daftar RT untuk tiap desa/kelurahan
2. Setiap RT diberi nomor urut
3. Dipilih sebanyak 10 RT sample secara acak (misalnya dengan cara systematic
random sampling) di seluruh RT yang ada di wilayah desa/kelurahan
4. Dibuat daftar nama kepala keluarga (KK) atau nama TTU dari masing-masing
RT sampel atau yang telah terpilih
5. Tiap KK/rumah/TTU diberi nomor urut, kemudian dipilih 10 KK/rumah/TTU
yang ada di tiap RT sampel secara acak (misalnya dengan cara sistimatik
random sampel)

16
BAB XIII
PENUTUP
Upaya pemberantasan DBD hanya dapat berhasil apabila seluruh
masyarakat berperan secara aktif dalam PSN DBD. Gerakan PSN DBD
merupakan bagian yang paling penting dari keseluruhan upaya pemberantasan
DBD oleh keluarga/masyarakat.

Pengalaman beberapa negara menunjukkan bahwa pemberantasan jentik


melalui kegiatan PSN DBD dapat mengendalikan populasi nyamuk Aedes aegypti,
sehingga penularan DBD dapat dicegah atau dikurangi.

Bentuk pelaksanaan kegiatan PSN DBD disesuaikan dengan situasi dan


kondisi masing-masing daerah (local specific)

Pembinaan peran serta masyarakat dalam PSN DBD antara lain dapat
dikoordinasikan oleh POKJA DBD Kelurahan/Desa dan POKJANAL DBD
Kecamatan Kabupaten/Kota dan Propinsi.

17