Anda di halaman 1dari 5

DESAIN SOLAR TUNNEL DRYER UNTUK PENGERINGAN IKAN PADA DAERAH

TROPIS DI INDONESIA

Ganesha, Arnolliyus Y.
Email: ganeshagane6@gmail.com
Mahasiswa Fakultas Teknik Program Studi Teknik Lingkungan
Universitas Kristen Surakarta

ABSTRAK

Ikan kering adalah salah satu bahan makanan yang sering dikonsumsi masyarakat Indonesia.
Namun sebagian besar industri pembuatan ikan kering ini masih menggunakan sinar matahari
langsung untuk mengeringkan ikan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendesain model
solar tunnel dryer dengan material dan bahan yang mudah didapatkan serta biaya yang terjangkau
dan untuk mengetahui kelebihan Solar Tunnel Dryer. Pada dasarnya, desain solar tunnel drier
mengadopsi prinsip efek rumah kaca dengan beberapa penyempurnaan seperti permukaan dasar
tunnel yang berwarna lebih gelap dengan maksud agar sinar matahari yang tertangkap akan
terserap lebih efektif menjadi panas. Ditambah dengan desain isolator pada bagian bawah lantai
solar tunnel drier yang menghalangi kehilangan panas. Penulis mendesain Solar Tunnel Dryer
dengan dimensi pajang 2 meter, lebar 0.5 meter dan tinggi 0.2 meter. Penggunaan solar tunnel
drier ini memangkas waktu pengeringan sebanyak 60% dibanding dengan pengeringan dengan
matahari langsung, di sisi lain, ikan-ikan yang dikeringkan menggunakan solar tunnel drier ini
terlindung dari hujan, serangga dan debu sehingga lebih terjaga kebersihannya. Ikan kering yang
dikeringkan menggunakan solar tunnel drier memiliki kualitas yang lebih baik dibanding ikan
kering yang dikeringkan menggunakan metode konvensional.

PENDAHULUAN

Ikan merupakan komponen penting dalam makanan sehari-hari dan Ikan kering
merupakan sumber protein yang mudah didapat dan relatif murah bagi masyarakat Indonesia.
Sebagai negara maritim, Indonesia merupakan salah satu negara penghasil ikan terbesar di dunia,
Berdasarkan data FAO 2016, Indonesia mampu menjadi negara kedua terbesar untuk produksi
perikanan dunia setelah Cina, pada tahun 2014 dengan produksi perikanan budidaya China
mencapai 58,8 juta dan Indonesia mencapai 14,3 juta (dengan total senilai 10.50 miliar) dan
diikuti oleh India yang produksinya mencapai 4,9 juta (termasuk rumput laut). Jumlah
pembudidaya ikan di Indonesia juga meningkat dari 2,50 juta orang pada tahun 2005 hingga 3,34
juta orang pada tahun 2014. Pada tahun 2016, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KPP)
mencatat produksi perikanan mencapai 6,83 juta ton dengan nilai Rp 125,3 triliun, naik dari tahun
sebelumnya yang hanya Rp 116,3 triliun.
Pengeringan adalah proses untuk menghilangkan sebagian kecil air dari satu bahan atau
produk. Proses pengeringan juga dapat disebut dengan proses pemakaian panas dan pemindahan
air dari bahan yang dikeringkan yang berlangsung secara bersamaan. Pada proses pengeringan,
air pada bahan dihilangkan menjadi uap lewat udara. Alat yang digunakan untuk proses
pengeringan disebut dryer. Pengeringan merupakan salah satu metode yang paling banyak
digunakan untuk pengawetan produk. Hampir semua produk pertanian harus dikeringkan sebelum
dipasarkan dan disimpan. Pengeringan tersebut dimaksudkan untuk mengurangi kadar air produk
sampai tingkat tertentu sehingga dapat mencegah tumbuhnya jamur dan mikroorganisme yang
dapat menyebabkan terjadinya penurunan mutu. Selain itu, rendahnya kadar air juga
menyebabkan terkendalinya kegiatan enzim yang mendukung kerusakan.

Karena Indonesia memiliki klaim tropis maka sebagian besar proses pengeringan ikan
menggunakan pengeringan matahari secara terbuka. Namun dengan metode ini terjadi penurunan
kualitas. Beberapa produsen ikan kering menggunakan insektisida termasuk DDT pada ikan. Ikan
ini sangat terkontaminasi dan tercipta luas spektrum bahaya lingkungan dan kesehatan. Oleh
karena itu, pengeringan ikan yang tepat sangat penting untuk menyelamatkan ini sumber protein
yang berharga dengan mengurangi pembusukan. Menurut Kementrian Kesehatan dan beberapa
sumber lainnya Ikan Asin Kering mengandung energi sebesar 193 kilokalori, protein 42 gram,
karbohidrat 0 gram, lemak 1,5 gram, kalsium 200 miligram, fosfor 300 miligram, dan zat besi 3
miligram. Selain itu di dalam Ikan Asin Kering juga terkandung vitamin A sebanyak 0 IU,
vitamin B1 0,01 miligram dan vitamin C 0 miligram. Hasil tersebut didapat dari melakukan
penelitian terhadap 100 gram Ikan Asin Kering, dengan jumlah yang dapat dimakan sebanyak 70
%.

karena kandungan proteinnya yang tinggi dan nilai gizi. Suhu adalah sangat penting
faktor untuk mempercepat proses pembusukan. Itu Reaksi pembusukan berhubungan dengan
kematian ikan lanjutkan dengan kecepatan sangat cepat. Ikan segar mengandung hingga 80% air.
ikan adalah bahan yang sangat mudah rusak dan memiliki masa simpan yang pendek (Bala dan
Mondol, 2001). Bila kadar air berkurang sampai 25% Agen pencemar tidak bisa bertahan. Namun,
untuk mencegah jamur Pertumbuhan selama penyimpanan, kadar air harus dikurangi menjadi
15%. Spesies khas ikan umumnya bisa tahan pada kisaran suhu 45-50C sebelumnya Protein
didenaturasi atau dimulainya memasak.

Sistem pengeringan matahari konvensional memiliki keterbatasan mengendalikan proses


pengeringan dan parameter, ketidakpastian cuaca, faktor tenaga kerja tinggi, daerah pengeringan,
serangan serangga, kontrol debu dan bahan asing lainnya dan seterusnya. Namun, pengeringan
matahari terbuka secara luas dipraktekkan di negara tropis dan subtropis melestarikan produk
pertanian, di mana berlimpah cahaya matahari (Szulmaver, 1971) dan di mana tempatnya
berlimpah, tak habis-habisnya, dan ramah lingkungan (Basunia dan Abe, 2001).

METODOLOGI PENELITIAN

Penelitian ini menggunakan metode studi literatur dari berbagai sumber cetak dan digital
yang dianalisa dan dibandingkan dengan tujuan mendapatkan inovasi baru dalam hal solar
tunnel dryer sebagai alat untuk mengeringkan ikan. Tahap pertama adalah mengumpulkan
berbagai literatur, buku dan jurnal yang berhubungan dengan solar tunnel dryer. Kemudian
mempelajari dan mencermati setiap riset dan penelitian. Lalu memulai membandingkan
kelemahan dan kelebihan dari setiap desain solar dryer tunnel. Kemudian terakhir mendesain
ulang dengan usaha untuk menekan kekurangan dan meningkatkan kelebihan solar tunnel
dryer.
HASIL DAN PEMBAHASAN

Solar tunnel dryer adalah alat pengering yang berbentuk terowongan dengan bahan
penutup berupa material tembus cahaya dengan maksud untuk membiarkan cahaya masuk ke
dalam sistem dan mengenai dasar terowongan sehingga cahaya terserap dan sebagian terpantul
sebagai radiasi panas yang mana panas yang terkumpul digunakan untuk proses pengeringan
bahan. Ditambah lagi, pada STD juga terdapat fan atau kipas yang berfungsi membawa air yang
telah bercampur dengan uap air dari proses pengeringan keluar sistem dan menggantinya dengan
udara yang baru dan proses ini berjalan secara kontinu atau terus menerus.
Alat dapat digunakan untuk mengeringkan berbagai bahan makanan seperti buah-buahan
dan ikan. Pengeringan bahan berfungsi untuk menurunkan kandungan air dalam bahan sehingga
bahan tersebut tidak mengalami kerusakan seperti pembusukan atau pencemaran oleh
mikroorganisme dan jamur. Di sisi lain, alat ini berfungsi untuk memperpanjang usia bahan bahan
makanan sebelum mengalami proses pemasakan dan dikonsumsi. STD memiliki beberapa
kelebihan antara lain: a. Karena sumber tenaga berasal dari sinar matahari maka alat ini secara
ekonomi hemat biaya yang cukup banyak. b. Dari sudut pandang lingkungan, alat ini sangat ramah
lingkungan, karena sebagian besar menggunakan tenaga yang dihasilkan matahari dan hanya
membutuhkan sedikit daya listrik untuk menjalankan kipas angin atau fan pada STD. c. Dari sudut
pandang kehigienisan, alat ini lebih baik dibandingkan alat pengering matahari terbuka, karena
bahan makanan yang dikeringkan terisolasi dari udara luar maka bahan terhindar dari
mikroorganisme, jamur dan debu yang menyebabkan pembusukan ataupun vektor penyakit. d.
Dari sudut pandang waktu, STD memangkas waktu pengeringan hingga 60% dibanding
pengeringan dengan metode pengeringan terbuka (M. A. Wazed, M. T. Islam dan N. Uddin) E.
Dari sudut pandang kualitas produk, STD mampu menjaga kualitas tekstur dan warna bahan.
Dalam penelitian ini penulis mendesain alat Solar Tunnel Dryer dengan harapan pembaca
dapat memahami dan mengerti bagaimana wujud alat ini. Penulis mendesain Solar Tunnel Dryer
dengan dimensi pajang 2 meter, lebar 0.5 meter, tinggi tunnel 0.2 meter dan tinggi kaki-kaki 0.5
meter. Proses pendesainan menggunakan aplikasi desain 3D Sketch Up dari Google

Desain Solar Tunnel Dryer

Tampak Depan
Tampak Samping
Cara kerja Solar Tunnel Dryer:

Setelah ikan sudah disusun dan dimasukkan ke dalam Solar Tunnel Dryer dan ditutup,
secara otomatis proses pemanasan akan berjalan dengan sendirinya melalui proses yang sering
disebut sebagai efek rumah kaca. Terowongan yang berisi ikan akan ditembus cahaya karena
penutup terowongan yang merupakan material tembus cahaya, selanjutnya cahaya yang masuk
akan menabrak dasar terowongan dan terserap sebagai panas karena bagian dasar terowongan
yang berwarna gelap (lebih optimal menyerap panas) dan sebagian terpantul kembali sebagai
gelombang pendek. Energi panas yang didapat akan meningkatkan suhu pada sistem. Suhu akan
terus meningkat dan terjaga oleh desain STD yang berbentuk terowongan, ditambah lagi material
isolator pada dasar terowongan yang berfungsi mencegah kehilangan panas. Setelah suhu dalam
sistem meningkat, bahan-bahan makanan juga akan mengalami peningkatan suhu dan
berimplikasi pada menguapnya kandungan air dalam bahan-bahan tersebut. Karena pelepasan
kandungan air oleh bahan-bahan makanan, maka udara yang terdapat di dalam STD akan
mengalami peningkatan pada parameter kelembaban, oleh sebab itu kipas dipasang pada ujung-
ujung terowongan dengan arah putaran yang sama untuk mengalirkan udara yang mengandung
uap air keluar dari sistem. Di sisi lain, kipas angin juga berfungsi untuk menjaga suhu dalam
sistem agar tidak mengalami Over heat dan mengakibatkan penurunan kualitas bahan-bahan yang
dikeringkan. Dengan adanya kipas, energi panas yang terserap oleh udara dalam terowongan akan
mengalir keluar dan membawa udara baru yang memiliki suhu sama dengan udara di luar sistem.
Siklus ini berjalan terus menerus hingga bahan-bahan makanan tersebut mengering. Setelah
bahan-bahan tersebut mengering maka kipas dapat dimatikan dan bahan dapat diambil dari STD
kemudian disimpan.

KESIMPULAN

1. Penggunaan Solar Tunnel Dryer untuk proses pengeringan ikan dapat memangkas waktu
pengeringan menjadi lebih cepat (hingga 60%)
2. Bahan-bahan makanan yang dikeringkan menggunakan Solar Tunnel Dryer memiliki
kualitas yang lebih baik dibanding bahan-bahan makanan yang dikeringkan
menggunakan sinar matahari secara terbuka (metode konvensional)
3. Solar Tunnel Dryer terbuat dari bahan lokal yang mudah didapat dan berharga murah
serta cara pembuatan yang tidak sulit sehingga tidak menutup kemungkinan bahwa semua
orang bisa membuatnya
DAFTAR PUSTAKA

SOLAR TUNNEL FISH DRYER FOR SEASONAL APPLICATION IN THE


PERSPECTIVE OF BANGLADESH, M. A. Wazed 1 , M. T. Islam 2 and N. Uddin 2
1 Department of Engineering Design and Manufacture, University of Malaya

PENGERINGAN TEROWONGAN TUNNEL DRYER, Ni Luh Yulianti S.TP, M.Si. Ir. Ida
Bagus Putu Gunadnya, M.S. dan Gede Arda, S.TP, M.Sc.

Solar Drying of fruits , vegetables & herbs, Dr N K Srinivasan