Anda di halaman 1dari 28

Standard dan Standardisasi : Sebuah

Pengantar Sangat Singkat


Pendahuluan

Standardisasi adalah usaha bersama membentuk standar. Standar adalah sebuah aturan, biasanya
digunakan untuk bimbingan tetapi dapat pula bersifat wajib (paling sedikit dalam praktik),
memberi batasan spesifikasi dan penggunaan sebuah objek atau karakteristik sebuah proses
dan/atau karakteristik sebuah metode.

Hakiki dan tujuan standar ini dapat digambarkan melalui contoh sebagai berikut : jika seluruh
dunia memproduksi kran dan pipa air dalam bentuk dan ukuran yang berbeda-beda, maka tidak-
lah mungkin berbagai pipa saling bersambung karena masing-masing pipa tidak serasi dengan
pipa lainnya. Untuk itu diperlukan adaptor. Bilamana setiap produsen pipa dan keran air boleh
memproduksi pipa semaunya tanpa memperhatikan ukuran pipa produsen lain, maka hasilnya
terjadi kekacauan.

Masing-masing pipa tidak setara (kompatibel) dengan pipa produk lain, terjadi pembuangan uang,
waktu, tenaga; pasaran akan terpecah menjadi segmen-segmen kecil, masing-masing dikuasai oleh
pipa ukuran tertentu. Pada akhirnya akan terjadi kemandegan. Sebaliknya bila masing-masing
produsen membuat pipa dan keran air sesuai dengan ukuran dan model yang disepakati bersama
(ini disebut standardisasi) maka pembakuan tersebut akan menyederhanakan produksi,
memperluas pasar. produk tertukarkan dengan produk lain serta dapat disambung dengan pipa
produk pabrik lain.

Standardisasi dalam bidang informasi ilmu pengetahuan dan dan teknik tidaklah kalah
pentingnya dengan standardisasi bidang lain ; bahkan standardisasi mutlak diperlukan karena ker-
jasama antara perpustakaan mutlak dilakukan. Standardisasi berdampak terhadap perlengkapan,
pengolahan bahan perpustakaan serta sarana perpustakaan. Standardisasi juga menyederhanakan
dan merasionalisasikan metode dan teknik perpustakaan serta mengharmoniskan produk
perpustakaan. Keharmonisan produk ini memudahkan operasi dokumenter, mengurangi biaya,
menurunkan waktu tunda serta memungkinkan pertukaran dokumen antar perpustakaan.

Dalam dunia perpustakaan dengan semakin banyaknya badan, media dan orang yang mengambil
bagian dalam komunikasi ilmiah maka besar peluang akan terjadi kesalahpahaman bilamana
masing-masing menggunakan standar. Di samping itu dalam pengolahan informasi perlu
dilakukan pengolahan dokumen secara efisien dan murah sehingga dalam perpustakaan pun
diperlukan standardisasi. Dengan demikian standardisasi adalah proses perumusan dan penerapan
peraturan bagi ancangan teratur kepada aktivitas khusus guna manfaat dan dengan kerjasama
semua pihak yang terikat, dan khususnya untuk promosi ekonomi keseluruhan yang optimum
dengan mempertimbangkan kondisi fungsional dan tuntutan keselamatan.
Definisi standar

Standar berasal dari bahasa Prancis Kuno artinya titik tempat berkumpul, dalam bahasa Inggris
Kuno merupakan gabungan kata standan artinya berdiri dan or (juga bahasa Inggris Kuno) artinya
titik. (Merriam-Webster, 2000) kemudian diserap dalam bahasa Inggris sebagai kata
standard (Pengantar standardisasi, 2009). Standar adalah spesifikasi teknis atau sesuatu yang
dibakukan termasuk tata cara dan metode yang disusun berdasarkan consensus semua pihak yang
terkait dengan memperhatikan syarat-syarat keselamatan, keamanan, kesehatan, lingkungan hidup,
perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, serta pengalaman, perkembangan masa kini dan
masa yang akan dating untuk memperoleh manfaat yang sebesar-besarnya (Peraturan Pemerintah,
2000).

Adapun ISO (International Organization for Standardization) membei batasan standar sebagai ….
a document, established by consensus and approved by a recognized body, that provides, for
common and repeated use, rules, guidelines or characteristics for activities or their results, aimed
at the achievement of the optimum degree of order in a given context … Juga dinyatakan bahwa
standar hendaknya berdasarkan artas hasil ilmu pengetahuanm teknologi dan pengalaman yang
telah terkonsolidasi dan bertujuan peningkatan manfaat komunitas yang optimum ( ISO/IEC,
2004). Dari kata standar muncul kata standardisasi artinya proses merumuskan, menetapkan,
menerapkan dan merevisi standar, yang dilaksanakan secara tertib melalui kerjasama dengan
semua pihak yang berkepentingan (Peraturan Pemerintah, 2000).

Tujuan standar

Dengan memperhatikan definisi standar maka standar bertujuan:

1. Mengupayakan agar pengembangan, manufaktur, dan pemasokan produk dan jasa lebih
efisien, lebih aman dan lebih bersih
2. Memfasilitasi perdagangan antarnegara serta lebih adil
3. Menjadi pegangan teknis pemerintah untuk keselamatan kesehatan, legislasi lingkungan
dan asesmen konformitas atau penyetaraan.
4. Berbagi kemajuan teknologi dan praktik manajemen yang baik.
5. Memencarkan, menyempurnakan dan mempercepat waktu produk masuk pasar serta jasa
yang berasal dari inovasi.
6. Menjaga konsumen dan pemakai secara umum, khususnya menyangkut produk dan jasa.
7. Membuat hidup lebih nyaman dan lebih sederhana karena adanya pemecahan atas
masalah bersama.

Apa yang dilakukan standar

Keberadaan standar menjamin produk dan jasa yang kita inginkan bersama, mislanya menyangkut
mutu, lingkungan yang bersahabat, keamanana, keandalan, efisiensi dan interoperabikluiras
dengan biaya yang ekonomis. Bila produk dan jasa memenuhi harapan masyarakat, maka kita
berpendapat memang seharunysa demikjian, Namun bila tidak ada standare, maka kita akan segera
mengetahuinya, Kita melihat bahwa produk yang kita beli utunya rendsah, tidak cocok dengan
produk lainm tidak serasi dengan perlengkapan tang kitagunakan, berbahaya atau tidak dapat
dipercaya. Bila produk dan jasa berjalan lancer maka hal itu karena memenuhi standar. Coba
bayangkan peraut pensil harus sesuai dengan pensil yang diraut (rinaut), bagaimana kalau lubang
peraut tiak setara dengan besaran pensil?

Siapa yang mendapat manfaat ?

Standar yang berlaku di sebuah negara sering disebut standar nasional, dikeluarkan oleh badan
standar masing-masing negara. Contoh di Indonesia oleh Badan Standardisasi Nasional
(BSN), American National Standards Institute (ANSI), Deutsches Institute fur Normung (DIN),
British Standard Instiutute (BSI) dll. Pada tingkat internasional dikenal International
Organization for Standardization, lebih dikenal dengan singkatan ISO (periksa bagian akhir
makalah ini) yang mengeluarkan standar ISO.

Standar ISO memberikan manfaat teknologi, ekonomi dan masyarakat sebagai berikut :

1. Untuk bisnis, pemencaran standar ISO memungkinkan pemasok dapat mengembangkan


dan memberikan produk dan jasa sesuai dengan spesifikasi yang diterima di pasar
internasional. Karena itu bisnis yang menggunakan standar ISO mampu bersaing di pasar
dunia.
2. Untuk innovator teknologi baru, standar ISO menyangkut aspek terminologi, keserasian
atau kompatibilitas dan keselamatan mempercepat pemencaran inovasi dan
pengembangannya dalam produk yang dapat dimanufaktur dan terpasarkan.
3. Untuk konsumen seluruh dunia, kompatibilitas teknologi sejagad akan tercapai bila produk
dan jasa didasarkan pada standar ISO; dengan demikian konsumen memilihi banyak
pilihan. Misalnya bilai pisau silet berbagai merek namun standarnya sama akan
menguntungkan konsumen karena konsumen dapat memilih berbagai merek namun
standarnya sama. Konsumen juga memperoleh keuntungan karena produsen bersaing
untuk memasarkan produknya.
4. Untuk pejabat bidang perdagangan, standar internasional membuat adanya “lapangan
permainan yang searas’ bagi semua competitor pada pasar yang sama, misalnya para
pesaing memasarkan aki yang sesuai dnegan stanbdar internasional di semua negara. Bila
ada negara atau kawasan yang menggunakan standar yang berbeda maka hal itu merupakan
hambatan bagi perdagangan. Standar merupakan sarana teknis bagi penerapan kesepakatan
perdagangan.
5. Bagi pemerintahan, standar internasional merupakan landasan teknologi dan ilmiah yang
mendukung legislasi kesehatan, keselamatan dan lingkungan. Misalnya standar pendingin
udara versi Uni Eropa R2 kini diterapkan pada hampir semua kendaraan bermotor.
6. Bagi negara berkembang, standar internasional yang mewakili consensus internasionakl
menyangkut keadaan tyerkini merupakan sumber tahu bagaimana pengetahuan. Dengan
standar internasional member batasan karakter jasa dan produk yang diharapkan memenuhi
kebutuhan ekspor maka negara berkembang berpacu memenuhi standar internasional.
7. Bagi konsumen, kesetaraan atau konformitas produk dan jasa dengan standar internaisonal
dapat menjamin kualitas, keamananan dan keandalan produk dan jasa.
8. Bagi siapa saja, standar internasional menjamin bahwa angkutan, mesin dan alat yang
digunakan adalah aman.
Untuk dunia, standar internasional menyangkut emisi gas dan radiasi dan aspek lingkungan produk
mampu memnyumbang upaya melestariakn lingkungan.

Contoh manfaat standar

Standardisasi sekrup membantu ulir di kursi, sepeda dan pesawat terbang menjadi satu serta
mampu mengatasi masalah pemeliharaan yang disebabkan tiadanya standardisasi. Sebelum ada
standardisasi, masalah sekrup (baut merupakan masalah pabrikan maupun pemakai.

Standardisasi terminologi memungkinkan transfer teknologi lebih mudah dan lebih aman.
Konsensus terminologi merupakan tahap penting dalam kemajuan teknologi dan pemencaran
inovasi. Misalnya terminologi MARC dipahami pustakawan sehingga transfer data lebih mudah.

Standardisasi dimensi peti kemas dan bobot memudahkan perdagangan karena tanpa standar maka
perdagangan akan lebih lama dan lebih mahal. Coba bayangkan bagaimana mengkonversi beras
segantang menjadi kilogram, lalu bagaimana bila peti kemas tidak standar?

Standardisasi dalam bidang perbankan dan telepon membuat hidup lebih nyaman. Kartu kredit
memiliki dimensi yang sama di mana-mana sehingga pemakai dapat menggunakan ATM dengan
nyaman. Praktik ini mulai ditiru beberapa perpustakaan dengan menggunakan kartu tanda anggota
yang baku untuk memudahkan kerjasama.

Bagi penyandang cacat, tanpa standardisasi mereka akan mengalami kesulitan dalam
menggunakan transportasi publik atau akses ke gedung karena lebar rampa (ramp) tidak sama.

Simbol dan tengara yang dibakukan mampu memberikan informasi dan peringatan melewati tapal
batas linguistik, misalnya rambu lalu lintas mengenai bahaya tanah longsor dipahami di mana saja
karena sudah dibakukan. Di perpustakaan tanda toilet belum dibakukan namun dasarnya selalu
membedakan tanda wanita dengan lelaki.

Konsensus mengenai berbagai material, memberikan rujukan bagi pemasok dan nasabah dalam
transaksi bisnis. Di perpustakaan, pengertian kertas untuk buku membantu pustakawan dalam
pemesanan buku. Mungkin standardisasi metric sedikit mengalami kesulitan manakala membeli
baju apakah ukuran S, M, L dan XL sama? Demikian pula ukuran sepatu ada ukuran sepatu Eropa,
Amerika, Jepang dan Inggris.

Kesepakatan menyangkut berbagai variasi produk untuk memenuhi ketentuan aplikasi tertentu
memungkinkan manfaat biaya bagi produsen maupun konsumen. Contoh standardisasi ukuran
kertas, misalnya A4 memudahkan pustakawan dalam menyediakan kertas fotokopi.

Standardisasi protokol komputer memungkinkan produk berbagai penjaja (vendor) “berbicara”


dengan produk lainnya. Di perpustakaan berbagai perangkat lunak dapat “berbicara” dengan
perangkat lain. Maka perangkat lunak semacam Slims mampu berkomunikasi dengan perangkat
lain.
Tanpa kesepakatan internasional yang termuat dalam standar ISO menyangkut kuantitas dan unit
metric maka perdagangan akan menghadapi hambatan.

Perbedaan ISO 9001 dan ISO 14001

Lazimnya standar ISO sangat spesifik untuk produk, material atau proses khusus, berbeda dengan
ISO 9001 dan ISO 14001. Di lingkungan perpustakaan kini muncul standardisasi menggunakan
ISO 9001 dan IS) 14001 Kedua standar ISO tsb merupakan standar system manajemen generik; di
sini generik artinya standar yang sama dapat diterapkan ke setiap lembaga, besar atau kecil, apapun
produk mauoun jasanya, dalam setiap sector aktivitas tanpa memandang apakah organisasi itu
meurpakanorganisasi bisism admintransi, negaraatau swasta. ISO 9001 memuat persyaratan
generic untuk mengimplementsikan system manajemen kuaklitas sednagkanISO untuk sistem
manajemen lingkungan,

Standar generik dapat diterapkan pada setiap organisasi, misalnya standar sistem manajemen ISO
yang baru kinitelah dikembangkan dan diterapkan seluruh dunia. Contoh ISO 22000 (keamanan
makanan), ISO 280000 (keamanan jalur perbekalan) dan ISO/IEC 27001 (keamanan informasi).

Tahap pembuatan standar

Untuk membuat stanbdar baik pada tingkat ISO maupun Indonesia, lazimnya ada 6 tahap yaitu:

1. Tahap pengusulan, di sini pemangku kepentingan mengajukan permintaan tentnag


perlunya sebuah standar dalam bidangnya. Misalnya pihak pemangku kepentingan mi
instan memerlukan standar Kegiatan ini sering disebut “call for proposal.”
2. Tahap persiapan. Di sini ISO atau BSN membentuk panitia terdiri dari pakar untuk
menyusun naskah kerja, di dalamnya termasuk kajian apakah usulan yang diajukan sudah
sesuai dengan kebutuhan, apakah layak dari segi teknis.
3. Tahap Komisi. Dibuat lagi naskah kerja, namun sudah menyerupai naskah standar,
diedarkandi kalangan komisi untuk ditelaah dan disetujui. Bila komisi sudah merasa bahwa
naskah itu cukupbaik untuk menangani masalah yang dibahas (mislanya standar ruas untuk
deskripi bibliografis) maka ditingkatkan ke tahap berikutnya.
4. Tahap permintaan pendapat (inquiry) . Disebarkan ke anggota serta publik yang berminat
untuk memperoleh masukan.
5. Tahap persetujuan, dimintakan pendapat dari anggota komisi dan masyarakat. Bila
pernyataan setuju di atas kuorum, maka naskah dijadikan naskah final komisi.
6. Tahap publikasi, naskah dijadikan standar lalu diberi nomor, mislanya SNI nomor x, atau
ISO nomor x diikuti tahun publikasi.
Bentuk standar

Standar dapat berupa standar fisik artinya dapat diukur dan dihitung ( dimensi tetap) dan/atau
standar intelektual yaitu kualitatif (merupakan definisi). Terdapat beberapa jenis standar yaitu :

1. Ukuran (misalnya ukuran kartu atau dimensi perlengkapan)


2. Kualitas, misalnya ketahanan berbagai jenis kertas.
3. Definisi, kosakata, istilah dan simbol yang dibakukan, misalnya standar untuk
transliterasi, simbol untuk cantuman.
4. Metode dan prosedur yang dibakukan (misalnya peraturan baku guna menangani gawai
khusus, standar atau panduan untuk penyusunan thesaurus)

Untuk keperluannya, perpustakaan menerapkan standar untuk keperluan :

1. Penyajian dokumen, misalnya publikasi majalah.


2. Pengolahan dokumen, misalnya peraturan pengkatalogan.
3. Transliterasi atau konversi aksara dari satu bahasa ke bahasa lain, misalnya dari huruf
Jawa ke huruf Latin.
4. Premis dan perlengkapan, misalnya lantai perpustakaan atau ukuran rak buku.
5. Reproduksi, misalnya standar untuk mikrokopi.
6. Terminologi, misalnya kosakata yang dibakukan.
7. Aplikasi komputer, misalnya standar untuk ruas data, ba hasa pemrograman, operasi
mesin (perintah digital) dsb.

Standar berfungsi sebagai pemandu atau patokan, seringkali hanya diterapkan pada aspek penting
dari sebuah produk atau proses sehingga pemakai dapat menyesuaikan dirinya. Sungguhpun
demikian, standar hanya mencakup bahagian kecil saja dari informasi ilmiah dan teknis. Namun
tidak dapat dibantah bahwa adanya standardisasi memiliki keuntungan seperti menghemat waktu,
uang dan tenaga.

Dalam setiap hal, pemakai harus memeriksa apakah terdapat sebuah standar atau lebih yang dapat
diterapkan bagi pemakai. Kadang-kadang pemakai harus memilih satu dari berbagai standar yang
ada. Misalnya menyangkut standar mengenai sistem informasi internasional terdapat standar
nasional maupun standar internasional. Standar yang memperoleh pengutamaan ialah standar yang
paling banyak memberikan sumbangan dalam mencapai tujuan perpustakaan dan/atau untuk
efisiensi serra paling cocok dengan situasi maisng-masing negara. Karena menyangkut situasi
masing-masing negara, maka syarat penerapan standar, prosesnya serta penyesuaiannya perlu
dipikir masak-masak sebelum diterima.

Kriteria untuk memilih standar adalah :

1. Tingkat yang sesuai dengan kebutuhan yang telah dirancang sebelumnya.


2. Kemudahan penerapannya.
3. Instruksi standar yang tepat serta tidak bersifat taksa.
4. Pemakai mudah menerimanya
5. Apabila diterapkan pada masyarakat yang berbeda-beda atau situasi tertentu akan
mempunyai hasil yang sama

Perubahan standar mencerminkan kebutuhan dan teknik baru. Bilamana sebuah standar menjadi
tidak bermanfaat maka standar tersebut dapat diabaikan. Bilamana perlu, standar dapat sedikit
diubah ataupun diubah secara besar-besaran (amandemen atau revisi pelengkap) atau digantikan
dengan standar baru dan lebih tepat guna.

Syarat standar

Sebuah standar harus memenuhi syarat :

1. berwibawa artinya dipercaya dalam bentuk, isi dan sumbernya;


2. dapat dijadikan alat untuk mengukur jasa informasi;
3. realistis artinya standar tersebut dapat diterima masyarakat dan dapat dilaksanakan;
4. mudah diperoleh artinya pemakai dapat memperoleh standari dari berbagai tempat.

Asesmen kecocokan/konformitas (conformity assessment)

Asesmen kecocokan (konformitas) artinya pengecekan bawha produk, material, jasa, system, prses
atau orang mengukur sesuai dengan spesifikasi standar atau spesifikasi yang relevan. Dewasa ini
banyak produk mensyaratkan pengujian untuk kecocokan dengan spesifikasi atau mengikuti
ketentuan keselamatan atau peraturan lain sebelum dipasarkan. Panduan dan stan untuk
asesmen ISO merupakan konsensus internasional atau praktik terbaik. Penggunaannya
menghasilkan konsistensi asesmen konformitas sedunia sehingga mampu mendorong
perdagangan internasional.

Urut-urutan standar

Urut-urutan standar dimulai dari yang paling atas adalah sebagai berikut :

1. standar
2. rekomendasi
3. peraturan, pedoman, kodeks
4. panduan, glosari, buku pegangan

Standar merupakan produk standardisasi ISO yang paling tinggi karena sudah memperoleh
persetujuan nasional atau negara anggota. Di bawahnya adalag rekomendasi yang merupakan
saran ISO bagi negara anggota. Karena sifatnya rekomendasi maka sebagai produk pembakuan,
rekomendasi tidak harus diterima oleh negara anggota.

Standar teknologi informasi untuk perpustakaan

Dengan berkembangnya perpustakaan digital serta munculnya dokumen digital sebagai sarana
primer untuk komposisi dan penerbitan, maka standar teknik semakin diperlukan oleh
perpustakaan dan jasa informasi lainnya. Ada yang mengatakan standar TI merupakan sarana bagi
perpustakaan untuk tetap sintas karena standar TI menyangkut interoperabilitas merupakan dasar
kesintasan sebuah perpustakaan.

Kini perkembangan standar teknologi yang berlaku untuk perpustakaan semakin rumit karena
munculnya Internet dan World wide Web, karena perpustakaan berinteraksi dengan bidang yang
berlintasan dengan komunitas yang merumuskan standar teknik untuk komputasi, jaringan dan
penerbitan digital. Maka pada abad 21 organisasi semacam Internet Engineering Task Force
(IETF), ISO, World Wide Web Consortium (W3C) mengembangkan standar teknis yang digunakan
di perpustakaan digital.

Standar merupakan landasan untuk membuat berbagai peristiwa yang menarik dan
memberdayakan mungkin terjadi, seperti menghubungkan satu system ke system lain,membuat
sebuah berkas pada satu system yang dapat ditransfer ke system lain serta mampu menghemat
manakala sebuah komponen yang lebih murah dapat dihubungkan dengan system lain (Campbell,
1992).

Tomer (2010) menyebutkan standar teknis termasuk standar konsep dan implementasi serta
standar proses dan produk. Jenis pertama adalah standar konsep, biasanya membentuk artikulasi
(pengucapan) usulan untuk menghasilkan teknologi baru atau mengenalkan perubahan dalam cara
pelaksanaan sebuah proses. Misalnya IEEE 802.3 standar Ethernet, memungkinkan pemakai
komputer dapat mengakses fasilitas jarak jauh seperti pencetak. Standar itu berakar pada masalah
efektivitas dan efisiensi dan mengatakan bahwa memfasilitasi komunikasi antara pemakai dan
sistem memberikan landasan untuk mencapai kinerja dan jasa pada tingkat tinggi dengan biaya
yang masih masuk akal, walaupun implementasi standar konsep ini mengarah ke pengembangan
jaringan lokal serta larik teknologi yang dupoerlukan untuk menunjang aspek spesfik sebuah
lingkungan dalam standar, standar Ethernet merupakan standar konsep.

Jenis standar kedua adalah implementasi standar, biasanya bersifat evolusi, cenderung untuk
memperkuat pola industri yang sudah ada. Contoh upaya menggunakan bahasa pemrograman
secara tepat walaupun ada berbagai versi. Standar implementasi kini sampai ke dokumen digital
seperti Portable Document Format (PDF) dan Open Source Document (ODF). Menyangkut PDF
setelah dikembangkan selama 15 tahun, Adobe systems mengedarkan spesfifikasi PDF ke
Association for Information and Image Management (AIIM) tahun 2007 dengan pemahaman
bahwa AIIM akan bekerja dengan ISO untuk menyusun PDF sebagai standar terbuka. Kini PDF
secara de facto telah menjadi stabndar dunia untuk perttukaran informasi dan penyimpanan arsip;
bahkan kini Adobe bekerja sama dengan ISO untuk mengembangkan sub PDF sebagai standar
untuk industry dan fungsi tertentu Standar yang dihasilkan ISO yaitu ISO 32000-1:2008
menyatakan bentuk digital yang mewakili dokumenelektronik bebas dari lingkungan tempat
dokumen itu diciptakan atau lingkungan tempat dokumen itu dicetak dan dilihat KiniPDF/Archive
(PDF/A) dan PDF/Exchange (PDF/X) merupakan standar ISO.

ODF merupakan format berkas untuk dokumen kantor elektronik seperti lembar batang
(spreadsheet), carta (charts), presentasi dan dokumen pengolah kata, Spesifikasi ODF semula
dikembangkan oleh Sun Microsystem sehubungan dengan pengembangan perangkat lunak Star
Office. Standar itu kemudian dilanjutkan oleh Kmite Teknik Open Office Extensible Markup
Language (XML), konsorsium dari Organization for the Advancement of Structured Information
Standards (OASIS). Tujuan ODF ialah menyusn landasan untuk penciptaan dan pertukaran
dokumen terformat berdasarkan standar terbuka dan tanpa tergasntung pada aplikasi spesifik
apapun jua.

Standar itu kemudian diterbitkan sebagai standar internasional ISO/IEC yaitu ISO/IEC
26300:2006 Open Document Format for Office Applications (Open Document) v.1.0, selanjutnya
dikembangkjan lagi menjadi versi lebih lanjut. Kemaknawian (signifikansi) diperluas dengan
munculnya MicrosoftOffice 2007,

Jenis ketiga ialah standar produk. Lazimnya standar produk mendeskripsikan standar atau
jasa yang ada, lalu menentukan karakteristik produk atau jasa sebagai model untuk produk lain
dari jenis yang sama di industri tertentu (Cargill, 1989). Secara de facto dan de jure, standar produk
biasanya berasal dari produk yang mendominasi pasar tertentu. Contoh standar produk de facto
adalah format berkas yang didukung oleh aplikasi komputer yang popular seperti Microsoft Excel
atau gawai periferal lainnya.

Jenis keempat ialah standar proses berkaitan dengan keperluan kebutuhan menjadi pemecahan
namun tidak dengan produk yang menghasilkan perubahan. Dengan kata lain, standar proses
adalah standar yang bebas dari spesifikasi gawai spesifik. Contoh ISO 8879 Standard Generalized
Markup Language (SGML), sebuah metabahasa yang menyediakan standar sintaks untuk
mendefinisikan kelas informasi terstruktur dan peraturan untuk mengatur struktur informasi,
kemudian berkembang menjadi Hypertext Markup Language (HTML), dalam berbagai bentuk
sebenarnya merupakan definisi tipe dokumen (DTD, document type definition) SGML.

Di bawah SGML, ditentukan DTD dan segmen dokumen (misalnya pernyataan judul, bibliografi,
ilustrasi) yang diberi label sesuai dengan DTD.; dengan demikian membagi dokumen menjadi
elemen-elemen yang bernama dan logis Keuntungan menggunakan bahasa terstandar untuk
mendeskripsikan dokumen dalam hal istilah terstruktur ialah sebuah dokumen tunggal dapat
diproses dalam sejumlah larik aplikasi dan aplikasi itu mampu menafsirkan SGML. Dengan
demikian pertukaran dokumen elektronik mampu melepaskan diri dari keterikatan aplikasi
spesifik dan struktur dokumen. Kini SGML digantikan oleh XML, yang merupakan …a simple,
very flexible text format derived from SGML (ISO 8879). Originally designed to meet the
challenges of large-sclale electronic publishing XML is also playing an increasingly important
role in the exchange of a wide variety of data on the Web and elsewhere (Extensible Markup
Language, 2003).
International Organization for Standardization (ISO)

Dalam uraian sebelumnya kita telah mengenal International Organization for Standardization lebih
dikenal singkatan ISO (http://www.iso.org) ISO merupakan jaringan badan standar nasional, saat
ini berjumlah 162 anggota dari 205 negara yang ada di dunia, berpusat di Geneva.

ISO merupakan organisasi non pemerintah yang menjembatani sektor publik dan swasta. Dalam
arti sektor publik karena banyak lembaga anggota merupakan badan pemerintah atau badan yang
diberi kuasa oleh pemerintah. Di segi lain, anggota lain berakar pada sektor swasta yang didirikan
oleh asosiasi industri. Maka ISO memungkinkan tercapainya konsensus untuk memenuhi
permintaan bisnis dan bidang masyarakat yang lebih luas,

Karena International Organization for Standardization memiliki akronim dalam berbagai bahasa
(ISO dalam bahasa Inggris, OIN dalam bahasa Prancis unuk Organization international de
Normalisastion), maka pendiri ISO memutuskan hanya menggunakan nama ISO, diambil dari kata
Yunani isos artinya sama rata. Maka apapun nama negara maupun bahasanya, singkatannya adalah
ISO.

Dalam menyusun standar ISO, lazimnya terdapat tiga tahap penyusunan standar. Tahap pertama,
kebutuhan akan sebuah standar diungkapkan lazimnya dari sektor industri, kemudian
dikomunikasikan ke badan negara anggota, Badan negara anggota kemudian mengusulkan butiran
standar yang diperlukan ke ISO. Bila ISO menganggap perlunya standar internasional dalam
bidang diusulkan, maka ruang lingkup standar yang diusulkan diberi batasan secara jelas, lalu
dibentuk kelompok kerja pakar dari negara yang berminat pada subjek yang diusulkan, Setelah
kelompok pakar menyetujui aspek teknik, maka dilanjutkan ke tahap selanjutnya. Tahap kedua,
spesifikasi standar diperiksa dan ditinjau oleh wakil negara anggota. Pada tahap ini diperlukan
konsensus untuk menyiapkan standar yang diusulkan. Tahap ketiga permintaan persetujuan dari
negara anggota ISO. Untuk persetujuan formal diperlukan dukungan dua pertiga anggota ISO dan
75% anggota yang menyetujui naskah standar. Setelah memperoleh persetujuan, maka standar itu
diterbitkan sebagai ISO International Standard. Sebagian besar standar perlu direvisi secara
berkala karena evolusi teknologi, material dan metode baru, persyaratan mutu dan keselamatan.
Karena itu ISO menyatakan bahwa semua standar harus direvisi sedikit-dikitnya lima tahun sekali.

“Merek” ISO.

Produk ISO ditandai dengan ciri sebagai berikut :

1. Demokratis. Setiap anggota penuh ISO berhak ambil bagian dalam pengembangan setiap
standar yang dianggap penting bagi ekonomi negara ybs. Dalam ISO setiap negara punya
hak satu suara tanpa memandangg besar kecilnya negara atau lemah kuatnya negara yang
bersangkutan. Maka negara seperti Bhutan punya hak suara yang sama dengan AS yang
merupakan negara adidaya. Setiap negara punya pijakan yang sama menyangkut pekerjaan
ISI, baik pada aras strategis mau[un muatan isi standar.
2. Sukarela. Standar ISO bersifat sukarela. Sebagai organisasi non pemerintah, ISO tidak
punya wewenang hukum untuk memaksakan implementasi standarnya. Negara anggota
dapat mengadopsi standar ISO yang dijadikan rujukan dalam legislasi negara ybs.
Lazimnya standar ISO yang diterima menyangkut bidang kesehatan, keselamatan dan
lingkungan. Sungguhpun demikian, walaupun standarISo bersifat sukarela, stndar ISO
dapat menjadi persyaratan pasar, misalnya ISO 9001 sistem manajemen mutu atau dimensi
kontener peti kemas dan kartu yang dikeluarkan bank. ISO sendiri tidak mengatur maupun
mengeluarkan kewajiban.
3. Dorongan pasar. ISO hanya mengembangkan standar bilamana ada tuntutan pasare. Tugas
pembuatan standar dilakukan oleh para pakar bidang industry, teknik dan bisnis yang
merasa perlunya standar dan kemudian menggunakannya.
4. Konsensus. Standar ISO berdasarka consensus internasional di kalangan pakar. Karena
adanya consensus, maka standar ISO direvisi setiap lima tahun sekali dnegan mengingat
perkembangan teknologi dan minat pemakai. Revisi per lima tahunan itu akan menentukan
apakah standar lama tetap dipertahankan dimutakhirkan atau ditarik dari peredaran. Dalam
hal ini standar ISO mampu mempertahakna status terkininya.
5. Relevan secara global. Standar ISO merupakan kesepakatan teknis yang menyediakan
kerangka kerja kesetaraan teknologi sejagaf. Standar ISO dirancang untuk relevan di mana
saja.

Bentuk standar

Standar ISO diterbitkan dalam bentuk kertas berukuran A4, kisarannya antara 4 halaman sampai
ratusan halaman. Standar ISO juga tersedia dalam bentuk elektronik, dapat diunduh, ada yang
tersedia dalam bentuk CD atau buku panduan. Standar ISO memuat logo ISO dan tengara
“International Standard”.

Untuk Indonesia, standar ISO tersedia di Badan Standardisasi Nasional dan berbayar, relatif mahal
bagi ukuran Indoenesia karena hitungannya menggunakan mata uang Euro.

Ruang lingkup ISO

Bryden dan Dherent (2010) menyebutkan IDSO sampai tahun 2010 telah menghasilkan 17,000
Standar Internasional. Program kerja ISO memiliki jangkauan dari standar untuk aktivitas
tradisional seperti pertanian dan konstruksi, melalui teknik mesin, manufaktur dan distribusi,
hingga ke angkutan, gawai medik, teknologi informasi dan komunikasi sampai ke standar praktik
dan jasa manajemen yang baik.

Standar ISO yang relevan dengan jasa perpustakaan dan informasi.

Walaupun ISO mengeluarkan standar dalam berbagai bidang umumnya standar ISO yang
berkaitan dengan jasa perpustakaan dan informasi adalah standar yang bergayutan dengan masalah
komputasi dan jaringan, Misalnya Linux Standard base (LSB) merupakan proyek gabungan di
bawah Linux Founbdation membakukan struktur system perangkat lunak yang menggunakan
sistem operasi Linux. LSB yang berdasarkan spesifikasi POSIX (PortableOperating System
Interface), Single Unix Specification dan beberapa standar terbuka disetujui sebagai ISO/IEC
23360 tahun 2008. Contoh lain ialah PDF.

Contoh standar ISO yang berorientasi pada perpustakaan adalah ISO 15511:2003 Information and
documentation – International Standard Identifier for Libraries and relatedOrganizations (ISIL);
ISO 9230:2007 Information anddocumentation – Determination of price indexes for print and
electronic media purchased by libraries; ISO/FR 21449:2004 Content Delivery and Right
Management: Functional requirements fot identifiers and descriptors for use in music, film, video,
sound recording; ISO 11620:2008 Library performance indicators.

W3C (World WideWeb Consortium)

W3C didirikan tahun 1994 sebagai konsorsium industri yang bergerak dalam pembentukan
konsensus menyangkut teknologi Web melalui pembuatan standar dan panduan yang
relevan. Salah seorang pendiri adalah Tim Berners-Lee yang menciptakan World Wide Web
tatkala bekerja di European Organization for Nuclear Research.

W3C bertujuan tercapainya interoperabilitas Web yang berarti bahwa untuk mencapai potensi
penuh World Wide Web maka teknologi dasarharus bersifat bebas dari gawai (device) tertentu,
bebas dari penjaja (vendor) dan setara atau kompatibel satu dengan yang lain. W3C juga berupaya
mengembangkan standar terbuka untuk bahasa dan protokol Web.

Pencapaian W3C terbagi atas empat kategori yang luas. Pertama, spesifikasi yang berkaitan
dengan dokumen digital, termasuk Cascading Style Sheet, HTML, Document Object Model
(DOM), XML dan Compounds Document Formats. Kedua, standar metadata seperti RDF
(Resource Description Framework) dan OWL (Web Ontology Language), merupakan teknologi
yang dirancangbangun untuk menunjang Semantic Web dengan menyediakan deskripsi terstruktur
sehingga tercapai kerangka kerja yang baku untuk manajemen aset, integrasi perusahaan dan
berbagai dan menggunakan ulang data di Web. Ketiga upaya yang berorientasi pada akses seperti
Web Accessibility Initiative (WAI), MWI (Multiple Web Initiative), Internationalization Activity
serta pengembangan standar yang mendukung modus interaksi secara simultan dan jamak. Empat,
upaya koordinasi untuk merealisasi tujuan yang terdapat pada Semantic Web sebagaimana
diusulkan oleh Berners-Lee.

Indonesia

Standar untuk perpustakaan di Indonesia telah ada sejak zaman Hindia Belanda. Waktu itu
pemerintah Belanda mendirikan pusat standardisasi di Bandung dengan nama Normalisatie
Instituut. Pada tahun 1950 nama badan tersebut diubah menjadi Yayasan Dana Normalisasi
Indonesia. Dalam kegiatan perpustakaan, Yajasan menjual buku Universal Decimal Classification.
Dalam dasawarsa 1960an kegiatan yayasan menurun sehingga akhirnya standardisasi bidang
perpustakaan diambil alih oleh Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI). LIPI pada tahun
anggaran mulai melaksanakan Proyek Pengembangan Sistem Nasional Standarisasi. Sebagai
tindak lanjut dibentuklah Proyek Standardisasi, Kalibrasi, Instrumentasi dan Metrologi; untuk
bidang perpustakaan dibentuklah Komisi Bidang Perpustakaan, Perpustakaan dan Informasi.
Sekretariat komisi dipegang oleh Pusat Perpustakaan Ilmiah Nasional LIPI, kini berubah menjadi
Pusat Perpustakaan Informasi Ilmiah LIPI (PDII-LIPI). Pada saat yang bersamaan Pusat
Pembinaan Perpustakaan juga melakukan standardisasi perpustakaan. Di lingkungan Direktorat
Jenderal Pendidikan Tinggi membentuk Satuan Tugas Perpustakaan Perguruan Tinggi dikenal
sebagai Satgas Perpustakaan Perguruan Tinggi yang mengeluarkan standar perpustakaan
perguruan tinggi. Pada tahun tahun 1970 an Sesudah dilakukan reorganisasi LIPI pada tahun 1986,
Proyek pengembangan Sistem Nasional Standarisasi dikembangkan menjadi Pusat
Standarisasi yang merupakan lembaga di bawah LIPI sekaligus menjadi sekretariat Dewan
Standarisasi Nasional.

Tugas itu kemudian diambil alih oleh Badan Standardisasi Nasional (BSN) yang dibentuk dengan
Keputusan Presiden No. 13 Tahun 1997 yang disempurnakan dengan Keputusan Presiden No. 166
Tahun 2000 tentang Kedudukan, Tugas, Fungsi, Kewenangan, Susunan Organisasi dan Tata Kerja
Lembaga Pemerintah Non Departemen sebagaimana telah beberapa kali diubah dan yang terakhir
dengan Keputusan Presiden No. 103 Tahun 2001, merupakan Lembaga Pemerintah Non
Departemen dengan tugas pokok mengembangkan dan membina kegiatan standardisasi di
Indonesia. Badan ini menggantikan fungsi dari Dewan Standardisasi Nasional – DSN. Dalam
melaksanakan tugasnya Badan Standardisasi Nasional berpedoman pada Peraturan Pemerintah
No. 102 Tahun 2000 tentang Standardisasi Nasional. Produk BSN adalah Standar Nasional
Indonesia (SNI), merupakan satu-satunya standar yang berlaku secara nasional di Indonesia.
Karena ketentuan itu maka pernah terjadi “konflik” tatkala Perpustakaan Nasional mengeluarkan
Standar Nasional Perpustakaan.

SNI dibuat sesuai dengan ketentuan WTO (World Trade Organization) WTO Code of good
practice yakni:

1. Keterbukaaan (openness) artintya terbuka bagi semua pemangku kepentingan yang


berkepentingan dapat ikut serta dalam pengembangan SNI.
2. Transparansi artinya semua pemangku kepentingan dapat mengikuti perkembangan SNI
mulai dari tahap pemrograman dan perumusan sampai ke tahap penetapannya serta dapat
dengan mudah memperoleh semua informsi yang berkaitan dengan pengembangan SNI
3. Konsensus dan sifat tidak memihak (consensus and impartiality) artinya pembuatan SNI
tidak memihak serta ada konsensus agar semua pemangku kepentingan dapat
menyalurkan kepentingannya dan diperlakukan secara adil.
4. Keefektifan dan relevansi agar dapat memfasilitasi perdagangan karena memperhatikan
kebutuhan pasar dan tidak bertentangan dengan peraturan perundang-undangan yang
berlaku;
5. Keserapan (kekoherenan, coherence) artinya produk Indonesia satu langkah dengan
pengembangan standar internasional, dengan demikian produk Indonesia tidak terasing
dari pasar internasional, malahan dapat memasukinya.
6. Dimensi pembangunan artinya SNI memperhatikan kepentingan publik dan kepentingan
nasional dalam meningkatkan daya saing perekonomian nasional (Strategi BSN 2006-
2009).
Bibliografi

Badan Standardisasi nasional.2005? Strategi BSN 2006-2009. Jakarta

British Standard Institution. British standar yearbook. London: British Standard Institution. Terbit
setiap tahun

Bryden, Alan ; and, Catherine Dherent.(2010). International Organization forStandardization.


Dalam Encyclopedia of Library and Information Science. 3rd ed. 4:2917-2927

Campbell, N.1992. Standards are key to information. OCLC News, November/December

Cargill, C.F. 1989.Information technology stabndardization: theory, process And organization.


Bedford, Maryland: Digital Press,

Crawford, Walt. 1989. Technical standards: an introduction for librarians. London: Knowledge
Industry,

International Organization for Standardization. 1977. Information transnfer. Geneva: ISO,


(Handbook on international standards governing information transfer (texts of ISO standards).

——-. Documentation and information. 3rd ed. Geneva: International Organization for
Standardization, 1988. (ISO Standard handbook, no. 1)

ISO. http://www.iso.org

https://sulistyobasuki.wordpress.com/2013/10/23/standard-dan-standardisasi-sebuah-pengantar-
sangat-singkat/

Mohd. Syarif Bando. Kepala Pengembangan Perpustakaan, PNRI. Wawancara dengan penulis di
Jakarta,17 Juli 2013

Pengantar standardisasi. 2009. Jakarta: Badan Standardisasi Nasional.

Peraturan pemerintah nomor 12 tahun 2000 tentang standardisasi nasional.

Perpustakaan nasional. 2012. Akreditasi perpustakaan perguruan tinggi. Jakarta : 2012.

SNI 7330:2009. Perpustakaan perguruan tinggi. Jakarta: Badan Standardisasi Nasional

Standar Nasional Perpustakaan. SNP 006 Perpustakaan khusus instansi pemerintah. Jakarta:
Perpustakaan Nasional, 2011:2011

Sudarsono, Blasius.1995. “Catatan tentang standardisasi serta standar-standar di bidang


perpustakaan , informasi dan perpustakaan,” makalah untuk Seminar Sehari Sistem Standardisasi
Nasional, Jakarta,1995.
Sulistyo-Basuki. 1995. Pengantar dokumentasi. Jakarta: Gramedia PustakaUtama.

Tomer, Christinger.2010. “Information technology stabdards for libraries”. Dalam Encyclopedia


of Library and Information Science. 3rd ed. 4:2708-2716

Watkins,D.R. 1972. Standards for university libraries. Library Trends, 21(2),190-201

Widhianto.Kepala Pusat Pengembangan Pustakawan PNRI. Wawancara oleh penulis di Jakarta,


17 Julli 2013 di Jakarta.
157
men
ingkatkan standar mutu di
sektor industri di mana perusahaan Jepang
memiliki FDI yang signifikan.
Berdasarkan bencmark dari PTB, SIR, maupun EQI di negara ASEAN
Singapura, Malaysia dan Thailand, produk ekspor biji kakao dan kayu
lapis
memerlukan
sebuah sis
tem yang dapat menyediakan layanan teknis ini sampai pada
tingkat teknis dan objektifitas yang diperlukan. Hal ini akan
mendorong Indonesia
akan mengekspor produk yang memiliki kualitas tinggi dan bernilai
tambah tinggi.
158
BAB VI.
KESIMPULAN DAN REKOMENDASI
6.1. Kesimpulan
1.
Berdasarkan nilai rata
-
rata RCAB biji kakao, tertinggi perdagangan Indonesia
-
Jerman disusul Brazil, Cina, USA dan Malaysia. Secara series, nilai
RCAB biji
kakao cenderung stabil untuk semua negara tuju
an ekspor utama kecuali ke
India.
Berdasarkan nilai rata
-
rata RCAB, perdagangan kayu lapis Indonesia
dengan UK memiliki nilai tertinggi, disusul SAU, Jerman, dan USA.
Sedangkan secara series, trend ekspor hampir seragam dan
meningkat untuk
semua negara tuj
uan ekspor.
Artinya untuk komoditi
b
iji kakao dan kayu lapis
Indonesia memiliki dayasaing dan kemampuan penetrasi yang tinggi
di pasar
dunia.
2. Analisis strategi kebijakan peningkatan mutu dan standar ekspor biji
kakao
adalah (1) fasilitasi infrastruktur
pengujian mutu dan standar, (2) fasilitasi
regulasi, (3) Fasilitasi kerjasama harmonisasi mutu dan standar
internasional,
(4) fasilitasi hambatan biaya dalam rangka peningkatan mutu dan
standar, (5)
Fasilitasi kemudahan prosedur dan mekanisme peningkatan m
utu dan standar
Sedangkan untuk kayu lapis (1) fasilitasi hambatan biaya dalam
rangka
peningkatan mutu dan standar, (2) fasilitasi regulasi, (3) fasilitasi
infrastruktur
pengujian mutu dan standar, (4) Fasilitasi kerjasama harmonisasi
mutu dan
standar inte
rnasional (5) Fasilitasi kemudahan prosedur dan mekanisme
peningkatan mutu dan standar ekspor
3. Berdasarkan hasil
AHP
maka rekomendasi strategi
peningkatan
standar dan
mutu produk ekspor biji kakao
meningkatkan fasilitasi infrastruktur standar
dan mutu.
Sedangkan untuk produk ekspor kayu lapis rekomendasi strategi
peningkatan
standar dan mutu kayu lapis adalah meningkatkan fasilitasi
terhadap adanya hambatan biaya dalam rangka peningkatan mutu
dan standar
ekspor.
159
6.2
Rekomendasi
6.2.1
Kebijakan Peningka
tan Mutu dan Standar Produk Ekspor Biji Kakao
:
1.
Biji kakao yang berdaya saing tinggi akan salah satunya akan sangat
ditentukan
oleh kualitas benih dan proses budidaya. Saat ini hampir sebagian
besar benih
biji kakao belum terstandarisasi dengan baik. Untuk
itu diperlukan
benih kakao
yang bermutu yang telah disertifikasi.
2.
Untuk meningkatkan standar mutu kakao terkait fermentasi diperlukan
riset
untuk memperpendek waktu fermentasi. Riset ini dapat dilakukan oleh
Pusat
Riset Kakao yang dibentuk oleh pemerintah
.
3.
Penolakan isu terkontaminasi bahan kimia diatasi dengan
memberikan
argumentasi disertai bukti ilmiah berupa uji mutu yang diterima secara
internasional. Selain itu perlu dilakukan inisiasi harmonisasi standar
dan mutu
mis:
Badan Standardisasi Nasional (
BSN) dengan
Saudi Standards, Metrology
and Quality Organization
(SASO) dari Arab Saudi, produk ekspor cukup
dilakukan di Indonesia.
6.2.2
Kebijakan Peningkatan Mutu dan Standar Produk Ekspor Kayu Lapis
:
1.
Optimalisasi pengajuan SVLK secara berkelompok ol
eh pengusaha kecil untuk
mengatasi masalah biaya.
2.
Pemerintah melakukan langkah percepatan dengan mendorong
tumbuhnya
lembaga verifikasi legalitas kayu yang menjadi lembaga auditor
penerapan
SVLK sehingga diharapkan mampu memperluas pelayanan dan
pengurang
an
biaya yang ditanggung pengusaha kayu.
3. Terkait sertifikasi internasional lainnya (seperti CoC, SFM, CARB,
JAS) maka
diharapkan lembaga sertifikasi domestik dapat melakukan MoU
dengan
lembaga sertifikasi asing untuk sertifikasi produk yang dibutuhkan
eksportir.
Hal ini diharapkan akan mampu mengurangi biaya dan
mempermudah
prosedur. Contoh: Kerjasama yang telah dilakukan oleh Mutu
Certification
International dengan
Woodmark
-
Soil Association
, Sub Divisi Forestry
menjalin kerjasama dengan BM TRADA kerj
asama mengenai sistem lacak
160
balak (CoC). Proses audit sertifikasi dapat dilakukan secara langsung
oleh para
personil auditor Sub Divisi Forestry yang telah diakui oleh BM TRADA.
6.2.3
Kebijakan Peningkatan Mutu dan Standar Produk Ekspor:
1.
Peningkatan ka
pasitas (IT & staf) dan peningkatan jumlah, ruang lingkup &
kompetensi infrastruktur mutu baik di laboratorium, lembaga inspeksi
dan
sertifikasi.
2.
Dalam jangka panjang agar daya saing dari sisi standar dan mutu
meningkat
perlu dibentuk Quality Infrastructur
(QI) Nasional yang didasarkan atas 5 pilar
yaitu standarisasi, metrologi, pengujian, akreditasi dan sertifikasi yang
selanjutnya dibentuk Pusat Metrologi Nasional yang diharapkan
berfungsi
seperti
National Metrology of German

Physikalisch Technische
Bu
ndensanstalth
(PTB). Kedudukan QI nasional bisa di bawah naungan
Kementrian Perdagangan atau Kementrian Ristek. Agar QI berjalan
sebagai
suatu sistem maka diperlukan koordinasi antar instansi baik
pemerintah
maupun swasta.
3.
Mengoptimalkan peran LIU sebag
ai unit yang memfasilitasi penggunaan
database yang terintegrasi langsung dengan sistem INATRADE di
Direktorat
Jenderal Perdagangan Luar Negeri, Kementrian Perdagangan dan
akan
bermuara pada portal Indonesian
National Single Window
(INSW) di Dirjen
Bea dan
Cukai Kementerian Keuangan untuk pendaftaran ekspor Sistem ini
diharapkan menjamin ketertelusuran menghubungkan basis data yang
ada di
masing
-
masing kementerian
menjadi data bersama, yang sebelumnya
digunakan untuk keperluan internal saja.
4.
Membangun La
boratorium Acuan untuk sektor (produk) terpilih, misalnya
sebagai
leading sector
produk yang telah secara konsisten mengaplikasikan SK
Deperindag
No.164/MPP/KEP/6/1996 tentang Pengawasan Mutu Secara Wajib
Untuk Produk Ekspor Tertentu
adalah SIR.
161
DAFTAR PUSTAKA
Agung, I., G., N. 1997.
Memperpendek Masa Fermentasi Biji Kakao dengan
Pemberian Ragi Tape
. Program Studi Teknologi Perta
nian, Universitas
Udayana, Bali.
Badan Standardisasi Nasional. 2011.
SNI Penguat Daya Saing Bangsa
. BSN, Jakarta.
B
adan
Standar
disasi Nasional
. 2012.
Informasi Standar Nasional Indonesia Produk
Unggulan untuk Mendukung MP3EI
. BSN, Jakarta.
BPPMB Dinas Perindustrian dan Perdagangan Pemerintah Provinsi
Sulawesi Selatan.
2010. Profil
UPTD Balai Pengawasan dan Pengendalian Mutu
Barang
(BPPMB) Provinsi Sulawesi Selatan.
Makasar
D
irektora
t Jenderal
Bina Usaha Kehutanan, Kementrian Kehutanan. 2010.
Statistik
Kayu Tahun 2010
.
Direktorat Jenderal Bina Usaha Kehutanan, Jakarta
.
Direktorat Jenderal Perdagangan Luar Negeri, Kementrian P
erdagangan. 2007.
Kebijakan Umum di Bidang Ekspor
. Direktorat Jenderal Perdagangan
Luar Negeri, Jakarta
DFC SAU untuk Eropa. 2012.
Infrastruktur Kualitas Ekspor Indonesia
.
Fahmi, Z.K. 2012.
Penggunaan Benih Kakao Bermutu dan Teknik Budidaya Sesuai
Standar
Dalam Rangka Mensukseskan GERNAS Kakao 2009
-
2011
.
Balai Besar Perbenihan dan Proteksi Tanaman Perkebunan,Surabaya
.
Kristianingrum, E., dan Lukiawan R. 2011.
Kajian Standar Sektor Rempah
-
rempah
terkait
Penolakan Produk dalam Mendukung Peningkatan EKspor
Ind
onesia
. Jurnal Standardisasi Vol. 13, No. 1 Tahun 2011: 67

71
.
Mutuagung Lestari (MAL).
The Profile of PT. MUTUAGUNG LESTARI
Mutua
gung Lestari (MAL).
CARB (California California Air Resources Board)
Certification
. MAL, Depok.
Mutua
gung Lestari (MAL).
CE
Marking dan SNI Marking
. MAL, Depok.
PTB (Physikalisch
Technische Bundesanstalt). 2012.
Promotion of Economic
Development in Technical Cooperation: Quality Infrastructure.
PTB,
Braunschweig.
PTB (Physikalisch Technische Bundesanstalt). 2012.
Sharing Exper
tise for Quality.
PTB’s Technical Cooperation in Asia.
PTB, Braunschweig.
162
PTB (Physikalisch Technische Bundesanstalt). 2012.
CALIDENA Methodology
Handbook Participative Analysis of Quality and Value Chains.
PTB,
Braunschweig.
PTB (Physikalisch Technische B
undesanstalt).
International Technical Cooperation
.
PTB, Braunschweig.
Puslitbang Iklim Usaha Perdagangan, Kementrian Perdagangan.
2008.
Kajian
Kebijakan Pengawasan Mutu Barang Ekspor Hasil pertanian
.
Workshop. Puslitbang Iklim Usaha Perdagangan, Jakarta
.
Saleh, A., R. 2012. Standar dan Perundang
-
undangan Kayu Lapis dan Kakao.
Pusat Informasi dan Dokumentasi Standardisasi, Jakarta
Tamburian, E. 2012.
SVLK Jangan Beratkan Usaha Kehutanan
. Sinar Harapan
Kamis, 5 Juli 2012.
Kompas.
Biaya Sertifikasi Memberatka
n
. Kompas Jumat, 13 Juli 2012.
Kompas.
Tingkatkan Pasar dengan Kredibilitas SVLK. Dulu Sukarela, Kini
Wajib
Sertifikasi Hutan Lestari
. Kompas Sabtu, 4 Agustus 2012.
Tim Kecil Pengembangan
Kelembagaan Sistem Verifikasi Legalitas Kayu. 2008.
Pedoman Kelembag
aan Sistem Verifikasi Legalitas Kayu.
Yayasan Masyarakat Nusa Tenggara atas Dukungan MFP
-
Kehati. 2009
. SVLK
Menuju Pengelolaan Hutan Lestari dan Legalitas Kayu.
Zakiyah. 2009.
Sistem Akreditasi dan Sertifikasi Pengelolaan Hutan Lestari (PHL)
dan Legalitas
Kayu (LK)
. Komite Akreditasi Nasional, Surabaya.

Anda mungkin juga menyukai