Anda di halaman 1dari 55
SUPRAPTO TECHNICAL ADVISOR EVERGREEN FEED
SUPRAPTO
TECHNICAL ADVISOR
EVERGREEN FEED
SUPRAPTO TECHNICAL ADVISOR EVERGREEN FEED
• “Piara udang adalah piara air”. Artinya bila ingin budidaya udang dan berhasil maka harus
• “Piara udang adalah piara air”. Artinya bila ingin budidaya udang dan berhasil maka harus
“Piara udang adalah piara air”. Artinya bila ingin budidaya
udang dan berhasil maka harus menjaga kualitas air agar stabil
sehingga pertumbuhan udang optimal dan terhindar dari
serangan penyakit.
Kondisi kualitas air tambak selalu berubah-ubah setiap saat. Hal
ini disebabkan adanya perubahan biota yang ada di dalamnya
serta aktivitas yang dilakukan
Selain udang, ada biota lain yang hidup dalam tambak yaitu
plankton dan mikroba.
Phytoplankton sangat tergantung pada sinar matahari untuk
melakukan aktivitas fotosintesis
Mikroba (bakteri dan jamur) membutuhkan bahan organik
Aktivitas biota dalam tambak dan pengaruh cuaca
menyebabkan kondisi kualitas air selalu berubah-ubah setiap
saat. Perubahan tersebut dinamakan Dinamika Kualitas Air
H+ + HCO3- 6 CO 2 + 6 H 2 O CO 2 + 6
H+ + HCO3-
6 CO 2 + 6 H 2 O
CO 2 + 6 H 2 O
C 6 H 12 O 6 + O 2
∆ pH
ENZYME
CO 2 + 6 H 2 O
C 6 H 12 O 6 + O 2
6 CO 2 + 6 H 2 O
H+ + HCO3-
• PARAMETER FISIKA DAN KIMIA – Suhu - Dissolved Oksigen (DO) – Salinitas - pH
• PARAMETER FISIKA DAN KIMIA – Suhu - Dissolved Oksigen (DO) – Salinitas - pH
• PARAMETER FISIKA DAN KIMIA
– Suhu
- Dissolved Oksigen (DO)
– Salinitas
- pH
– Kecerahan
- Alkalinitas
– Warna air
- Hardness
– Kekeruhan
- Organic matter
– Konductivity
- Nitrogen (TAN, NO 2 - , NO 3 - )
– Kedalaman air
- Phosphat
• PARAMETER BIOLOGI

- Plankton (Phytoplankton, Zooplankton)

- Bakteri (Total Bakteri, Vibrio).

• Suhu memberikan pengaruh langsung maupun tidak langsung terhadap udang. • Pengaruh langsung adalah terhadap
• Suhu memberikan pengaruh langsung maupun tidak langsung terhadap udang. • Pengaruh langsung adalah terhadap
• Suhu memberikan pengaruh langsung maupun tidak
langsung terhadap udang.
• Pengaruh langsung adalah terhadap proses metabolisme,
konsumsi oksigen dan nafsu makan sedangkan pengaruh
tidak langsung adalah terhadap parameter kualitas air
lainnya seperti daya racun amonia dan asam sulfida.
• Suhu optimal untuk pertumbuhan udang vaname adalah 28 –
32 o C. Pada kisaran suhu tersebut nafsu makan sangat bagus.
• Pemantauan suhu setidaknya 2 kali, yaitu saat setelah
matahari geser ke barat dan pagi hari sebelum matahari
terbit.

Pada suhu 26 oC udang tidak mau makan/nafsu makan turun drastis. Sedang pada suhu > 30 o C nafsu makan tinggi berapapun prosentase pakan di anco habis. Hati-hati.

Suhu air ( o C) Respon konsumsi pakan Mendekati 0 Kondisi kritis minimal 8 –
Suhu air ( o C) Respon konsumsi pakan Mendekati 0 Kondisi kritis minimal 8 –
Suhu air ( o C)
Respon konsumsi pakan
Mendekati 0
Kondisi kritis minimal
8 – 10
Tidak ada respon thd pemberian pakan
15
Pemberian pakan berkurang
22
50% optimum
28
– 30
Pemberian pakan optimum
33
50% optimum
35
Pemberian pakan berkurang
36
– 38
Tidak ada respon thp pemberian pakan
38
– 42
Kondisi kritis minimal

Sumber : Tucker and Hargreaves (2004) Dalam Gusrina (2008)

• Salinitas (kadar garam) adalah konsentrasi dari total ion yang terdapat didalam perairan. • Satuan
• Salinitas (kadar garam) adalah konsentrasi dari total ion yang terdapat didalam perairan. • Satuan
• Salinitas (kadar garam) adalah konsentrasi dari total ion yang
terdapat didalam perairan.
• Satuan untuk pengukuran salinitas adalah satuan gram per
kilogram atau promil (‰).
• Nilai salinitas untuk perairan tawar biasanya berkisar antara 0–
5 promil, perairan payau biasanya berkisar antara 6–29 promil
dan perairan laut berkisar antara 30–35 promil.
Komposisi air laut pada salinitas 34,5 ppt (Sumber : Boyd, 2000; 2002)
Proporsi ion dalam air yang ideal (Boyd, 2002) • Misal salinitas 15 permil, maka :
Proporsi ion dalam air yang ideal (Boyd, 2002) • Misal salinitas 15 permil, maka :
Proporsi ion dalam air yang ideal (Boyd, 2002)
• Misal salinitas 15 permil, maka :
Na + = 15 x 304,5 = 4.567,5 mg/L

Cl -

= 15 x 551 = 8.265 mg/L …dst.

• Kecerahan air menunjukkan daya tembus sinar matahari ke dalam air secara kasat mata. •
• Kecerahan air menunjukkan daya tembus sinar matahari ke dalam air secara kasat mata. •
Kecerahan air menunjukkan daya tembus sinar matahari ke
dalam air secara kasat mata.
Kecerahan air dipengaruhi oleh zat yang terlarut atau
tersuspensi di dalamnya.
Bisa karena bahan organik, plankton atau bahan anorganik
seperti partikel tanah yang tersuspensi atau gabungan dari
semuanya.
Kecerahan air yang dikehendaki dalam air tambak adalah
karena plankton, mikroba atau kombinasi keduanya dan
sekecil mungkin kandungan koloid tanah.
Kecerahan karena plankton harus dipertahankan pada
kisaran 30 – 40 cm. Sedangkan kecerahan karena mikroba
(floc) adalah >20 – 35 cm.
• Warna air adalah warna yang tampak secara visual dari permukaan air. • Warna air
• Warna air adalah warna yang tampak secara visual dari permukaan air. • Warna air
• Warna air adalah warna yang tampak secara visual dari
permukaan air.
• Warna air dipengaruhi oleh zat yang terlarut atau tersuspensi
di dalamnya seperti bahan organik, plankton atau bahan
anorganik seperti partikel tanah yang tersuspensi atau
gabungan dari semuanya.
• Warna air yang dikehendaki pada air tambak adalah karena
plankton, mikroba atau kombinasi keduanya dan sekecil
mungkin kandungan koloid tanah.
pada air tambak adalah karena plankton, mikroba atau kombinasi keduanya dan sekecil mungkin kandungan koloid tanah.
1. 2. 3. 4. Hijau tua Air yang berwarna hijau tua (hijau kebiruan) biasanya disebabkan
1. 2. 3. 4.
1.
2.
3.
4.

Hijau tua Air yang berwarna hijau tua (hijau kebiruan) biasanya disebabkan oleh dominasi plankton dari kelompok BGA. Hijau muda kekuningan/kecoklatan Warna ini didominasi oleh kelompok Green algae (Chlorophyta) Kekuningan Warna ini didominasi oleh kelompok alga kuning keemasan (Xanthophyceae dari Filum Crysophyta). Coklat muda kekuningan Plankton yang mendominasi adalah kelompok Bacillariophyceae atau diatom.

5. Coklat keruh Disebabkan oleh mineral atau koloid tanah liat

6. Coklat tua Dominasi plankton jenis diatom 7. Coklat kemerahan Dominasi jenis plankton dinoflagellata, atau
6. Coklat tua Dominasi plankton jenis diatom 7. Coklat kemerahan Dominasi jenis plankton dinoflagellata, atau
6. Coklat tua
Dominasi plankton jenis diatom
7. Coklat kemerahan
Dominasi jenis plankton dinoflagellata, atau jenis diatom
tertentu atau BGA (tetapi jarang sekali terjadi)
8. Kehitaman
Terjadi perubahan dominasi plankton dari coklat (diatom,
dinoflagellata) ke hijau tua (Blue-green algae) atau
sebaliknya. Atau perpaduan kedua kelompok tersebut.
9. Keputih-putihan
Disebabkan terjadi kematian plankton massal.
sebaliknya. Atau perpaduan kedua kelompok tersebut. 9. Keputih-putihan Disebabkan terjadi kematian plankton massal.
• Flok terbentuk karena bakteri pembentuk flok mensekresikan biopolymer yang disebut EPS (Extracellular Polymeric
• Flok terbentuk karena bakteri pembentuk flok mensekresikan biopolymer yang disebut EPS (Extracellular Polymeric
Flok terbentuk karena bakteri pembentuk flok mensekresikan
biopolymer yang disebut EPS (Extracellular Polymeric
Substances).
Diantara polymer yang dibentuk antara lain Poly-Hydroxy
Butirat, Glycogen dan Polyphosphat.
Bakteri berikatan antara yang satu dengan yang lain
sehingga membentuk gumpalan yang disebut flok.
Bila contoh air diambil dan didiamkan maka flok akan
mengendap.
Besarnya endapan flok tidak lebih dari 15 cc per liter. Semakin
banyak konsentrasi flok semakin tinggi kebutuhan oksigen dan
udang menjadi lebih susah bernafas.
• Udang yang dibudidayakan pada media yang floknya lebih encer menunjukkan pertumbuhan yang lebih baik
• Udang yang dibudidayakan
pada media yang floknya
lebih encer menunjukkan
pertumbuhan yang lebih baik
daripada yang floknya pekat.
• Kepekatan flok disarankan
kurang dari 6 cc per liter.
• Bahkan yang menerapkan
sistem semiflok, endapan flok
sebaiknya kurang dari 2 cc
per liter.
• Cuaca memberikan pengaruh terhadap suhu, fotosintesis, nafsu makan udang dll. Semua proses dalam kolam
• Cuaca memberikan pengaruh terhadap suhu, fotosintesis, nafsu makan udang dll. Semua proses dalam kolam
• Cuaca memberikan pengaruh terhadap suhu, fotosintesis,
nafsu makan udang dll. Semua proses dalam kolam sangat
terpengaruh oleh cuaca.
• Bila cuaca mendung, laju fotosintesisnya berkurang sehinga
oksigen yang dihasilkan juga berkurang. CO 2 yang digunakan
berkurang sehingga kenaikan pH berkurang. Efek terhadap
udang, nafsu makan menurun bahkan tidak mau makan.
• Saat cuaca hujan, udang menjadi stress. Udang turun ke
dasar tambak sehingga kondisi dasar tambak menjadi lebih
buruk. Saat yang demikian disarankan udang tidak diberi
pakan. Karena nafsu makan turun drastis.
tambak menjadi lebih buruk. Saat yang demikian disarankan udang tidak diberi pakan. Karena nafsu makan turun
• Udang, bakteri, zooplankton membutuhkan oksigen. Bahkan phytoplankton yang saat siang hari menghasilkan oksigen,
• Udang, bakteri, zooplankton membutuhkan oksigen. Bahkan phytoplankton yang saat siang hari menghasilkan oksigen,
Udang, bakteri, zooplankton membutuhkan oksigen. Bahkan
phytoplankton yang saat siang hari menghasilkan oksigen,
pada malam hari juga membutuhkan oksigen.
Plankton dan bakteri pada malam hari membutuhkan oksigen
paling tinggi sementara udang hanya sekitar 13%.
Pada saat siang hari bila plankton mendominasi maka
okdigen yang dihasilkan bisa mencapai 76%.
Pada malam hari sumber oksigen terbesar adalah dari aerator
yang dipasang. Aerator harus cukup jumlahnya dan tepat
penempatannya.
Aerator 1 hp untuk memenuhi 25.000 ekor benur atau 1 hp
untuk biomass 400 – 500 kg pada kolam yang menerapkan
ganti air terbatas (minim water exchange)
• Oksigen terlarut berpengaruh terhadap nafsu makan udang. Bila oksigen terlarut rendah maka nafsu makan
• Oksigen terlarut berpengaruh terhadap nafsu makan udang. Bila oksigen terlarut rendah maka nafsu makan
Oksigen terlarut berpengaruh terhadap nafsu makan udang.
Bila oksigen terlarut rendah maka nafsu makan akan turun.
Bila terlalu rendah maka udang tidak mau makan. Bahkan
akan terjadi moulting masal udang dan diikuti dengan
kematian.
Aerasi harus mencukupi kebutuhan oksigen untuk biota dalam
tambak dan arus yang ditimbulkan harus bisa mengumpulkan
kotoran ke suatu titik sehingga mudah dikeluarkan. Daerah
mati harus dibuat sekecil mungkin sehingga oksigen dapat
merata di semua tempat.
Bila cuaca mendung atau hujan maka aerator harus
dioperasikan semua meskipun siang hari. Demikian juga bila
kondisi air didominasi oleh bakteri (plankton tipis).

Oksigen terlarut harus diupayakan lebih dari 4 ppm

• Pengukuran oksigen harus dilakukan minimal 2 kali sehari pagi (sebelum matahari terbit) dan sore
• Pengukuran oksigen harus dilakukan minimal 2 kali sehari pagi (sebelum matahari terbit) dan sore
• Pengukuran oksigen harus dilakukan
minimal 2 kali sehari pagi (sebelum
matahari terbit) dan sore hari. Disarankan
ada pengukuran sekitar jam 20.00 untuk
mengetahui penurunan kandungan
oksigen terlarut dalam air.
16. 00
5. 00
• Tambahkan aerator bila perkiraan oksigen
minim di pagi hari < 4 ppm
• Jangan lakukan pemberian molase bila DO
minim < 4 ppm. Sebaiknya dilakukan
panen parsial bila tidak bisa menambah
aerator.

16. 00

20 .00

5. 00

• Derajat keasaman air (pH) didefinisikan sebagai : pH = - Log [H + ]
• Derajat keasaman air (pH) didefinisikan sebagai : pH = - Log [H + ]
• Derajat keasaman air (pH) didefinisikan sebagai :
pH = - Log [H + ]
• Air murni mengandung [H + ] = 0,0000001 mol/L = 10 -7 M
• pH air = -Log 10 -7 = 7
H 2 O
H +
+ OH -
• Kw = K[H 2 O] = [H + ].[OH - ] = 10 -7 . 10 -7 = 10 -14 .
• pKw = - Log 10 -14 = 14
10 -7 = 7 H 2 O H + + OH - • Kw = K[H
• Perubahan pH air disebabkan oleh adanya perubahan konsentrasi CO 2 dalam air akibat respirasi
• Perubahan pH air disebabkan oleh adanya perubahan konsentrasi CO 2 dalam air akibat respirasi
Perubahan pH air disebabkan
oleh adanya perubahan
konsentrasi CO 2 dalam air akibat
respirasi dan fotosintesis.
CO 2 + H 2 O H 2 CO 3
H 2 CO 3 H + + HCO 3
-
HCO 3 - H + + CO 3
=

Saat siang hari CO 2 dipakai oleh phytoplankton untuk fotosintesis sehingga terjadi kenaikan pH. Sebaliknya pada malam hari, respirasi menghasilkan CO 2 sehingga terjadi penurunan pH

ASAMASAM HCO 3 - CO 3 = OH - H + + OH - H
ASAMASAM HCO 3 - CO 3 = OH - H + + OH - H
ASAMASAM
HCO 3
-
CO 3
=
OH -
H + + OH -
H + + CO 3
H + + HCO 3
H 2 O
=
HCO 3
-
-
H 2 O + CO 2
BUFFER
BASABASA
OH - + HCO 3 -
H 2 O + CO 3
=
pH
CaCO 3 + CO 2 + H 2 O Ca(HCO 3 ) 2 Ca 2+
CaCO 3 + CO 2 + H 2 O Ca(HCO 3 ) 2 Ca 2+
CaCO 3 + CO 2 + H 2 O Ca(HCO 3 ) 2 Ca 2+ + 2 HCO 3
-
CaCO 3 harus memiliki ukuran partikel yang kecil agar selalu tersuspensi
dalam air, dan bereaksi dengan CO 2 . CaCO 3 cair memiliki ukuran < 2
micron sehingga akan selalu melayang dalam kolom air.
CaCO 3 + H 2 O →
CaCO 3 Ca 2+ + 2 HCO 3
K sp [CaCO 3 ] = [Ca 2+ ].[CO 3 = ] = 2,8 x 10 -9
-

Ca(OH) 2 Ca 2+ + OH -

(K sp Ca(OH) 2 = 5,5 x 10 -6 )

Kapur Ca(OH) 2 jauh lebih larut, sehingga dapat meningkatkan pH dan alkalinitas.

• Alkalinitas adalah kemampuan air dalam mengikat asam tanpa merubah nilai pH. • Alkalinitas terdiri
• Alkalinitas adalah kemampuan air dalam mengikat asam tanpa merubah nilai pH. • Alkalinitas terdiri
• Alkalinitas adalah kemampuan air
dalam mengikat asam tanpa
merubah nilai pH.
• Alkalinitas terdiri dari bikarbonat
(HCO 3 - ), karbonat (CO 3 = ) dan
hidroksil (OH - ).
• Fungsi menyangga perubahan pH
sehingga goncngan dapat
ditekan.
• Alkalinitas air tambak disarankan
lebih dari 100 mg/L CaCO 3 .

Aciditas adalah kebalikan dari alkalinitas. Aciditas tersusun oleh CO 2 atau H 2 CO 3 .

• Sumber : Sisa pakan, kotoran udang/ikan, bahan organik yang terbawa dari sumber, dari perlakuan.
• Sumber : Sisa pakan, kotoran udang/ikan, bahan organik yang terbawa dari sumber, dari perlakuan.
• Sumber : Sisa pakan, kotoran udang/ikan, bahan organik
yang terbawa dari sumber, dari perlakuan.
• Bahan organik dalam tambak dipantau melalui pengukuran
nilai TOM (Total Organic Matter) dengan metoda
Permanganometri.
• Air sumber yang kandungan bahan organiknya tinggi
diusahakan turun hingga 70 ppm dengan perlakuan
pengendapan, trackling dll.
• Bahan organik dalam tambak akan cenderung meningkat
seiring dengan peningkatan jumlah pakan dan pertumbuhan
udang.

Buang kotoran rutin dari sentral dan aplikasi probiotik akan mencegah peningkatan bahan organik terlarut.

PRODUK AKHIR YANG MEWAKILI SUBSTRAT ENZYM KEADAAN ANAEROB KEADAAN AEROB As.amino NH 4 + NO
PRODUK AKHIR YANG MEWAKILI SUBSTRAT ENZYM KEADAAN ANAEROB KEADAAN AEROB As.amino NH 4 + NO
PRODUK AKHIR YANG MEWAKILI
SUBSTRAT
ENZYM
KEADAAN ANAEROB
KEADAAN
AEROB
As.amino NH 4 + NO 2
NO 3
-
-
Protein dan
persenyawaan
N-organik
Protease
As.Amino, Amoniak, N 2 ,
H 2 S, CH 4 , CO 2 , H 2 , Asam
Organik, Alkohol, Indol
H 2 S H 2 SO 4
Alkohol, As.Org H 2 O + CO 2
Karbohidrat
Amilase,
(amilum,
Alkohol, As.Lemak, CO 2 ,
H 2 , Persenyawaan Netral
Alkohol, As.Lemak CO 2 +
dll
H 2 O
selulose,dll)
Lemak dsb.
Lipase
As.lemak, Gliserol, H 2 ,
Alkohol, Asam. Lemak
rendah
As.Lemak, Gliserol, Alkohol
CO 2 + H 2 O

Pelczar, M.J dan E.C.S. Chan (1988)

Karbohidrat

Heterotrophic bacteria ( C/N ratio > 12 )
Heterotrophic bacteria
( C/N ratio > 12 )
Karbohidrat Heterotrophic bacteria ( C/N ratio > 12 )
• Amonia dihasilkan dari perombakan N-organik seperti protein, dll serta hasil proses metabolisme (metabolit) udang.
• Amonia dihasilkan dari perombakan N-organik seperti protein, dll serta hasil proses metabolisme (metabolit) udang.
• Amonia dihasilkan dari perombakan N-organik seperti protein,
dll serta hasil proses metabolisme (metabolit) udang.
• Amonia dalam air sebagian akan mengalami reaksi dan
ionisasi membentuk amonium.
NH 3 + H 2 O
NH 4 OH NH 4 + + OH -
• NH 4 + dan NH 3 berada dalam keseimbangan.
NH 4 +
NH 3 + H +
K = Ka = 5,6 × 10 –10 suhu 25 o C
[NH 3 ].[H + ]
TAN
K =
[NH 3 ] =
[NH 4 + ]
1 + antilog (pKa – pH]

TAN = [NH 3 ] +[NH 4 + ]

Sumber : Boyd and Tucker (1998)
Sumber : Boyd and Tucker (1998)

Sumber : Boyd and Tucker (1998)

• Amonia oleh bakteri Nitrifikasi dioksidasi menjadi nitrit dan nitrat. 2 NH 4 + +3
• Amonia oleh bakteri Nitrifikasi dioksidasi menjadi nitrit dan nitrat. 2 NH 4 + +3
• Amonia oleh bakteri Nitrifikasi dioksidasi menjadi nitrit dan
nitrat.
2 NH 4 + +3 O 2 → 2 NO 2 - + 2 H 2 O + 4 H +
NO 2 - + ½ O 2 →
NO 3
-
• Nitrit merupakn senyawa yang bersifat racun, terutama untuk
hewan yang berdarah merah dan menimbulkan
methaemoglobine serta untuk hewan air tawar. Udang yang
hidup di salinitas rendah rawan terkena racun nitrit.
• Batasan nitrit untuk yang menerapkan sistem plankton sekitar
2 ppm sedangkan yang menerapkan sistem semi/biofloc
hingga 20 ppm (salinitas > 25 ppt) tidak menunjukkan gejala
keracunan.

Nitrat yang direkomendasi hingga 60 ppm. Namun hingga 200 ppm belum menunjukkan gejala keracunan.

• Fosfat meruapakn faktor pembatas terkait dengan kesuburan perairan. Juga sebagai penentu dominasi plankton karena
• Fosfat meruapakn faktor pembatas
terkait dengan kesuburan perairan.
Juga sebagai penentu dominasi
plankton karena terkait dengan N/P
ratio.
• Kadar orthofosfat dalam tambak
yang dikehendaki 0,25 – 1 mg/L
PO 4 3- . Bentuk orthofosfat pada pH 7
– 9 adalah H 2 PO 4 - dan HPO 4 2- .
• Bila orthofosfat tinggi maka akan
cenderung terjadi bloom BGA atau
dinoflagellata.
• Asam sulfida (H 2 S) dan gas metana (CH 4 ) merupakan senyawa yang
• Asam sulfida (H 2 S) dan gas metana (CH 4 ) merupakan senyawa yang
• Asam sulfida (H 2 S) dan gas metana (CH 4 ) merupakan
senyawa yang terbentuk pada kondisi anaerob dan nilai ORP
sangat rendah. Gas ini terbentuk dalam lumpur organik yang
mengendap di sentral.
CH 3 COOH + SO 4 2- → 2 CO 2 + 2 H 2 O + S 2-
CH 3 COOH + H 2 O → CH 4 + H + + HCO 3
-
• Senyawa tsb bersifat racun bagi udang dan ikan. Oleh karena
itu, senyawa tersebut harus dicegah munculnya dalam
tambak dengan cara : supplay oksigen cukup dan merata,
mencegah terjadinya death zone dengan rutin membuang
lumpur dasar dan melakukan sifon bila perlu.

Aplikasi probiotik yang sesuai untuk dasar tambak dapat mencegah munculnya senyawa tersebut.

H 2 S H + + HS - HS - H + + S 2-
H 2 S H + + HS - HS - H + + S 2-
H 2 S H +
+ HS -
HS - H +
+ S 2-
• Dalam air H 2 S ada 3 bentuk
yaitu H 2 S, HS - dan S 2- yang
disebut Total Sulfida.
• Test Kit yang digunakan untuk mengukur adalah HS - atau
Sulfide.
• Biasanya bila terdeteksi, air sudah sangat berbau tajam
seperti telur busuk.

Besarnya porsi H 2 S dapat dihitung berdasarkan tabel berikut.

Gejala

Penyebab

Cenderung kulit lembek / tanpa kulit

keberadaan H 2 S yang lama, menyebabkan stres dan konsumsi pakan menurun.

Insang hitam terpengaruh H 2 S saat udang udang mencari makan di dasar. Warna tubuh
Insang hitam
terpengaruh H 2 S saat udang udang mencari makan di
dasar.
Warna tubuh dan insang
tidak normal
stres akibat keracunan H 2 S yang cukup lama
Mati saat moulting
Saat udang moulting, kekurangan oksigen. Bila tetap
berada di lumpur yang mengandung H 2 S tinggi maka
akan mati.
Kurang nafsu makan saat
pagi hari
Saat pagi hari DO dan pH terendah, bila ada H 2 S akan
berpengaruh pada nafsu makan udang
White Feces Disease
Keracunan H 2 S dapat merusak jaringan yang lunak
dalam pencernaan menyebabkan lemak dan lendir
terlepas dan keluar sebagai kotoran putih.
Bau telor busuk
Gas H 2 S yang berada di sentral keluar bersama
dengan kotoran yang berwarna hitam

Plankton bloom tiba-tiba

H 2 S mempercepat pelepasan fosfat ke air sehingga plankton bloom dalam 2-3 hari

Amonia dan nitrit tinggi

Bakteri nitrifikasi tidak dapat bekerja / mati

• Potensial redoks (ORP) menandakan kondisi di lingkungan tambak tereduksi (cenderung kebutuhan oksigen meningkat)
• Potensial redoks (ORP) menandakan kondisi di lingkungan tambak tereduksi (cenderung kebutuhan oksigen meningkat)
• Potensial redoks (ORP) menandakan kondisi di lingkungan
tambak tereduksi (cenderung kebutuhan oksigen meningkat)
atau teroksidasi (oksigen cukup). Erat kaitannya dengan
bahan organik atau senyawa tereduksi
• Potensial redoks (ORP) yang disarankan pada kolam
budidaya adalah 150 – 250 mV. Kutty (1980) menyarankan 0,2
– 0,4 Volt.
• Pada saat persiapan air, aplikasi Chlorine (kaporite maupun
TCCA) disarankan ORP mencapai 700 mV atau lebih.
• Nitrifikasi berjalan cepat pada ORP 360 mV, semakin rendah
semakin lambat.

Denitrifikasi terjadi saat ORP mencapai 100 mV.

H 2 S dan CH 4 terbentuk pada ORP < 0 mV.

• ORP erat kaitannya dengan konsumsi oksigen. Bila proses reaksi membutuhkan oksigen maka ORP akan
• ORP erat kaitannya dengan konsumsi oksigen. Bila proses reaksi membutuhkan oksigen maka ORP akan
• ORP erat kaitannya dengan konsumsi oksigen. Bila proses
reaksi membutuhkan oksigen maka ORP akan cenderung
menurun.
• Aplikasi C-organik atau pemberian pakan akan cenderung
ORP menurun. Sebaliknya proses yang menghasilkan oksigen
akan meningkatkan ORP.
• Berikut hubungan ORP dengan parameter tertentu.
ORP
Keterangan
480
mV
DO lebih dari 3 mg/L
340
mV
DO 0,3 – 3 mg/L
Nitrit terbentuk
200
mV
DO 0 – 0,3 mg/L
Fe 2+ terbentuk
DO 0 mg/L
100
mV
H 2 S terbentuk
Beberapa cara untuk meningkatkan / menjaga ORP : • kurangi endapan lumpur dasar dengan buang
Beberapa cara untuk
meningkatkan / menjaga ORP :
• kurangi endapan lumpur dasar
dengan buang air sentral dan
sifon
• tambahkan aerasi untuk
meningkatkan oksigen
• aplikasi probiotik untuk
mengurai bahan organik dalm
air dan dasar tambak
• aplikasi bahan yang bersifat
oksidator.
• Plankton adalah jasad-jasad renik yang hidup melayang-layang dalam air, tidak bergerak/sedikit gerak dan selalu
• Plankton adalah jasad-jasad renik yang hidup melayang-layang dalam air, tidak bergerak/sedikit gerak dan selalu
• Plankton adalah jasad-jasad renik yang hidup
melayang-layang dalam air, tidak
bergerak/sedikit gerak dan selalu mengikuti
arus. Plankton dibedakan atas phytoplankton
(nabati) dan zooplankton (hewani).
• Peran dalam akuakultur:
– Sbg producer primer (penghasil karbon
organik yang dihasilkan dari CO 2 )
– Penghasil oksigen disiang hari (bisa
mencapai 76%)
– Menyerap racun. NH 4 + disintesis menjadi
protein
– Sebagai makanan alami
• Pengguna oksigen terbesar pada malam hari
saat plankton mendominasi dalam air.
Berdasarkan ukurannya maka plankton dibedakan menjadi 1. Terraplankton, plankton dengan ukuran yang paling besar yaitu
Berdasarkan ukurannya maka plankton
dibedakan menjadi
1. Terraplankton, plankton dengan
ukuran yang paling besar yaitu lebih
dari 2 cm
2. Megaplankton, plankton yang
berukuran 0,2 mm – 2 cm
3. Macroplankton, plankton yang
berukuran 20 – 200 mikron
4. Microplankton, plankton yang
berukuran 2 – 20 mikron
5. Nanoplankton, plankton yang
berukuran 0,2 – 2 mikron

6. Pikoplankton, plankton yang berukuran < 0,2 mikron.

(Sumber: www.wikiepedia.com )

• Plankton ada yang menguntungkan ada yang kurang menguntungkan. • Green algae umumnya menguntungkan, karena
• Plankton ada yang menguntungkan ada yang kurang menguntungkan. • Green algae umumnya menguntungkan, karena
Plankton ada yang menguntungkan ada yang kurang
menguntungkan.
Green algae umumnya menguntungkan, karena memiliki
kestabilan dengan siklus hidup yang lebih lama dan tidak
menghasilkan toxin.
Diatom sebagian besar menguntungkan, karena memiliki gizi
yang baik untuk pertumbuhan udang. Namun, siklus hidupnya
lebih pendek, sebagian menghasilkan racun dan tidak tahan
dengan kuat cahaya yang tinggi.
Blue-green algae banyak yang kurang menguntungkan,
susah dikendalikan dan menghasilkan toxin. Beberapa
plankton baik dan tidak membahayakan seperti Spirulina,
Merismopedia, beberapa spesies dari Oscilltoria.

Dinoflagellata dan Euglenophyta umumnya kurang baik bagi kehidupan udang,

• Pada umumnya phytoplankton tersusun dari berbagai micro algae. Algae terdiri dari 7 phyllum antara
• Pada umumnya phytoplankton tersusun dari berbagai micro algae. Algae terdiri dari 7 phyllum antara
Pada umumnya phytoplankton tersusun dari berbagai micro
algae. Algae terdiri dari 7 phyllum antara lain:
1. Cyanophyta
2. Chlorophya
3. Crysophyta
4. Phyrrophyta (dinoflagellata)
5. Euglenophyta
6. Phaeophyta
7. Rodophyta

Dari ketujuh phylum tersebut, Phaeophyta dan Rodophyta tidak termasuk micro algae penyusun plankton. Kedua kelompok tersebut adalah makro algae atau sering disebut sebagai rumput laut.

Nilai N/P ratio Kelompok Plankton < 8 Blue Green Algae 10 Diatom Red Algae *
Nilai N/P ratio Kelompok Plankton < 8 Blue Green Algae 10 Diatom Red Algae *
Nilai N/P ratio
Kelompok Plankton
< 8
Blue Green Algae
10
Diatom
Red Algae
*
12
Dinoflagellata
*
20 – 30
Green Algae
*
42 – 125
Blue Green Algae *

* (Sumber: Quigg et al, 2003 andArrigo, 2005 dalam Afsar, 2008)

Phytoplankton yang baik • Phytoplankton yang baik adalah phytoplankton cenderung stabil dalam waktu yang lama
Phytoplankton yang baik
Phytoplankton yang baik adalah
phytoplankton cenderung stabil dalam
waktu yang lama (siklus hidupnya panjang),
goncangan kualitas air rendah, tidak
menghasilkan racun, sehingga nafsu makan
dan pertumbuhan udang bagus. Bahkan
dapat menjadi makanan alami.
Kelompok phytoplankton yang
menguntungkan antara lain Green Algae
(Chlorophyta), Diatom (beberapa
menghasilkan racun), beberapa jenis BGA
(Spirulina, Merismopedium dan beberapa
species dari Oscillatoria yang bersifat tidak
merugikan asal dapat mengendalikan).
Phytoplankton yang merugikan • Phytoplankton yang merugikan atau kurang baik adalah phytoplankton siklus hidupnya
Phytoplankton yang merugikan • Phytoplankton yang merugikan atau kurang baik adalah phytoplankton siklus hidupnya
Phytoplankton yang merugikan
Phytoplankton yang merugikan atau kurang
baik adalah phytoplankton siklus hidupnya
pendek sehingga kualitas air tidak stabil, lebih
banyak menghasilkan lumpur organik,
menghasilkan racun (biotoxin), kadang
ditemukan menempel pada kulit udang atau
insang udang dan mempercepat peningkatan
populasi bakteri yang merugikan.

Kelompok phytoplankton yang merugikan antara lain Pyrrophyta (dinoflagellata), Euglenophyta, sebagian besar Blue-green Algae (Cyanophyta) dan beberapa jenis diatom seperti Nitzschia, Pseudonitzschia, Biddulphia, yang menghasilkan biotoxin dan beberapa jenis sangat tidak stabil bila mendominasi yaitu Gyrosigma, Rhyzosolenia.

• Bakteri adalah tumbuhan bersel satu dan tidak memiliki pigmen kecuali bakteri ungu dan bakteri
• Bakteri adalah tumbuhan bersel satu dan tidak memiliki pigmen kecuali bakteri ungu dan bakteri
• Bakteri adalah tumbuhan bersel satu dan
tidak memiliki pigmen kecuali bakteri ungu
dan bakteri hijau (Photosyntetic Bacteria).
• Ada yang menguntungkan, ada yang
merugikan
• Dalam akuakultur bakteri yang dikehendaki
adalah:
– Mengurai limbah organik,
– Menyerap racun (amonia, nitrit, asam sulfida)
– Menekan perkembangan bakteri merugikan
(penyebab penyakit atau penghasil racun)
– Menghasilkan enzym shg dapat membantu
pencernaan
– Meningkatkan daya tahan tubuh udang
– Menghasilkan nutrisi (SCP).
• Bakteri yang menguntungkan, dimasukkan ke dalam tambak sejak persiapan air. Ditambah secara rutin serta
• Bakteri yang menguntungkan, dimasukkan ke dalam tambak sejak persiapan air. Ditambah secara rutin serta
• Bakteri yang menguntungkan, dimasukkan ke dalam
tambak sejak persiapan air. Ditambah secara rutin serta
diberikan molase untuk merangsang agar bakteri
berkembang terus.
• Pada saatnya bakteri mendominasi dan menggeser
plankton sehingga warna plankton.
• Penambahan molase (C-organik) 5-6% pakan membantu
meningkatkan populasi mikroba dalam tambak.
• Namun phytoplankton tidak boleh habis sama sekali.
• Jenis bakteri yang diinokulasikan adalah jenis bakteri
probiotik antara lain Bacillus spp., Lactobacillus sp. dan
kombinasi dengan Saccharomyces sereviceae.

Dapat dimasukkan jenis lain seperti Nitrosomonas, Nitrobacter, Thiobacillus, Rhodopseudomonas, Rhodobacter, dan lain-lain.

• Parameter mikrobiologi yang diamati adalah Total Bacteri Heterotroph Count (TBHC) dan Total Vibrio Count
• Parameter mikrobiologi yang diamati adalah Total Bacteri Heterotroph Count (TBHC) dan Total Vibrio Count
• Parameter mikrobiologi yang diamati
adalah Total Bacteri Heterotroph Count
(TBHC) dan Total Vibrio Count (TVC)
• Total bakteri bisa mencapai 10 6 - 10 7
cfu/ml, ada juga yang berkisar 10 5 – 10 6
cfu/ml.
• Total vibrio diupayakan maksimum 10 3
cfu/ml dengan koloni kuning lebih banyak
daripada koloni hijau serta vibrio
luminesence (Vibrio harveyi) maksimum 50
cfu/ml.
• Perbandingan Total vibrio dibanding total
bakteri diupayakan 0,1 – 1 %. Bila
mencapai 10% maka sangat berbahaya.
TVC:TBHC Keterangan ≤ 0,1% sangat aman > 0,1 – 1% Aman > 1 – 5%
TVC:TBHC Keterangan ≤ 0,1% sangat aman > 0,1 – 1% Aman > 1 – 5%
TVC:TBHC
Keterangan
≤ 0,1%
sangat aman
> 0,1 – 1%
Aman
> 1 – 5%
Waspada
> 5 – 10%
kurang aman
> 10%
tidak aman (bahaya)
sangat aman > 0,1 – 1% Aman > 1 – 5% Waspada > 5 – 10%
Genus / kelompok Species Bacillus B. subtilis, B. polymyxa, B. megaterium, B. licheniformis, B. amyloliquifaciens,
Genus / kelompok Species Bacillus B. subtilis, B. polymyxa, B. megaterium, B. licheniformis, B. amyloliquifaciens,
Genus / kelompok
Species
Bacillus
B.
subtilis, B. polymyxa, B. megaterium,
B.
licheniformis, B. amyloliquifaciens,
B.
mycoides, B. cereus, B. coagulans
Bakteri asam laktat
Lactobacillus casei, L. plantarum,
Pediococcus sp. Enterococcus sp.
Bakteri Nitrifikasi
Nitrosomonas sp., Nitrobacter sp.
Bakteri Denitrifikasi
Thiobacillus sp.
Achromobacter
Achromobacter sp
Pseudomonas
P. putida, P. Aerogenes
Bakteri Fotosintetik (PSB)
Rhodopseudomonas, Rhodobacter,
Rhodococcus
Yeast
Saccharomyces cereviceae
Fungi
Trichoderma
• Pada awal budidaya, bahan organik masih rendah maka lingkungan masih didominasikan ke plankton •
• Pada awal budidaya, bahan organik masih rendah maka lingkungan masih didominasikan ke plankton •
Pada awal budidaya, bahan organik
masih rendah maka lingkungan masih
didominasikan ke plankton
Dengan meningkatnya pakan dan
penggunaan molase, bahan organik
akan terus meningkat sehingga
komunitas bakteri akan terus meningkat
Pada saatnya bakteri akan
mendominasi, menggeser plankton
sehingga lingkungan menjadi
heterotrophic.
Namun plankton tidak boleh habis
sama sekali sehingga ekosistem
menjadi tidak seimbang.