Anda di halaman 1dari 56

Teknik Kultur Zooplankton

Copepoda dan Crustacea


Pendahuluan
konsumen pertama yang
memanfaatkan produksi primer
zooplankton
yang dihasilkan fitoplankton

dapat mempengaruhi
mata rantai antara produsen
kompleksitas rantai makanan
primer dengan karnivora besar
dalam ekosistem perairan.
dan kecil

plankton hewani, adalah hewan yang hidupnya mengapung, atau


melayang dalam laut.
Kemampuan renangnya sangat terbatas hingga keberadaannya sangat
ditentukan kemana arus membawanya.
bersifat heterotrofik.
Ukurannya yang paling umum berkisar 0,2 2 mm, tetapi ada juga yang
berukuran besar misalnya ubur-ubur yang bisa berukuran sampai lebih
satu meter.
Kelompok yang paling umum ditemui antara lain kopepod (copepod),
eufausid (euphausid), misid (mysid), amfipod (amphypod), kaetognat
(chaetognath).
copepoda
copepoda

Copepod hidup bebas berperan penting dalam rantai makanan sebagai


penghubung antara bakteri, ganggang dan protozoa disatu pihak
dengan predator (termasuk ikan) di pihak lain

mulai banyak dimanfaatkan sebagai pakan alami untuk larva


ikan
cocok sebagai pakan larva ikan karena selain mempunyai nilai
nutrisi yang tinggi juga karena ukuran tubuh yang bervariasi
sehingga sesuai tingkat perkembangan larva ikan

Hasil-hasil penelitian menunjukkan bahwa copepoda dapat


meningkatkan pertumbuhan larva ikan laut yang lebih cepat
dibandingkan rotifer dan Artemia (Lavens dan Sorgelos, 1996)

Phylum : Arthropoda Ordo : Calanoid, Harpacticoid,


Subphylum : Crustacea Cyclopoid, Gelylloida,
Kelas : Maxillapoda Misophrioida, Monstrilloida,
Subclass : Copepoda Platycopioida, Siphonostoida,
Argulidae
Nutrisi Copepoda

kaya akan protein (44-52%), lemak (kecuali metionin dan histidin), asam amino
esensial yang dapat mempercepat pertumbuhan, meningkatkan daya tahan tubuh
serta mencerahkan warna pada udang dan ikan.
kandungan DHA-nya yang tinggi, dapat menyokong perkembangan mata dan
meningkatkan derajat kelulushidupan larva.
mempunyai kandungan lemak polar yang lebih tinggi dibandingkan dengan Artemia
sehingga dapat menghasilkan pigmentasi yang lebih baik bagi larva ikan (Mcevoy
dkk., 1998 dalam Umar, 2002).

Komposisi asam lemak dari copepoda bervariasi tergantung pakan yang


diberikan selama kegiatan budidaya (Lavens dan Sorgeloos, 1996).
Copepoda (copepodit dan copepoda dewasa) juga dipercaya memiliki level enzim
pencernaan yang lebih tinggi dan berperan penting untuk menunjang kebutuhan
nutrisi larva.
Sangat pentng untuk fase awal larva
Parasit copepoda :
pembenihan dengan kepadatan ikan cukup tinggi,
sulit di berantas karena mempunyai eksoskeleton yang keras
dan resisten terhadap larutan kimia
Copepoda yang hidup sebagai parasit lebih dari 1000 spesies.
Kebanyakan sebagai ektoparasit, namun banyak juga sebagai
endoparasit dalam tubuh polychaeta, usus leli laut, saluran
pencernaan tunica dan kerang, bahkan pada crustacea lain.
Endoparasit acapkali tidak mempunyai mulut, dan makanan
diabsorbsi langsung dari inang.
Siklus hidup Copepoda

Reproduksi
jantan /kopulasi betina
(antena)

spermatozoa
Bukaan
seminal
(lem
khusus)
telur

Copepodit dewasa
1,2,3,4,5
Nauplii (5-6
fase) apabila kondisi tidak
memungkinkan untuk
kelangsungan hidup, copepoda
akan memproduksi cangkang atau
Telur-dewasa : 1 minggu sampai 1 tahun telur dormant (istirahat) seperti
halnya kista.
Ciri-ciri
Tubuh silinder pendek jelas dibagi menjadi beberapa segmen.
Bagian kepala biasanya bulat dan menonjol, sering sangat
panjang, antena yang saat dipegang menjauh dari tubuh,
berfungsi untuk memperlambat laju tenggelam.
Biasanya mempunyai 9 segmen pada tubuhnya. Segmen-
segmen anterior menanggung pelengkap berenang sedangkan
segmen posterior lancip, berakhir di sepasang rami ekor di
dasar perut.
Mengidentifikasi kedewasaan pada level tertentu sangatlah
sulit.
Terdapat kelamin, pada yang jantan terdapat satu antenna
yang digunakan untuk menangkap betina saat kawin
Copepoda jantan umumnya lebih kecil dibandingkan Copepoda
betina.
Tubuh bersegmen.
Memiliki tubuh yang pendek dan silinder.
Reproduksi menggunakan antena untuk menempel pada betina.
Anatomi Copepoda :
Tubuhnya berbuku-buku.
Memiliki ekor yang membulat.
Memiliki antenna.
Memiliki cadangan telur di bawah abdomennya.
Memiliki cephalosome: perisai atas kepala dan beberapa
segmen yang terhubungkan.

Copepod hidup bernafas dengan permukaan tubuh.


Kelenjar makila merupakan alat ekskresi.
Tidak ada jantung ataupun pembuluh darah. Darah beredar dalam hemocoel
karena adanya gerakan otot, apendik saluran pencernaan. Hanya calanoid
yang mempunyai jantung semacam kantung. Susunan syaraf terpusat, dan
benang syaraf tidak melewati thorax.
Jenis yang dibudidayakan kelompok harpacticoid dan calanoid.
pengganti Artemia yang saat ini
harganya kian melambung

Jenis Tigriopus brevicornis (merupakan jenis copepoda yang hidup


di air laut), dapat hidup pada kisaran salinitas yang luas yakni 10-40
ppt.
Pada salinitas 10 ppt, proses pertumbuhan dan reproduksi
copepoda tersebut terhambat dan mortalitas cukup tinggi pada
tahap awal adaptasi.
Proses penghambatan tersebut disebabkan adanya proses
osmoregulasi copepoda terhadap salinitas baik salinitas rendah
maupun tinggi.
Pada salinitas 20 dan 30 ppt, memperlihatkan pertumbuhan
copepoda yang cukup baik, tetapi salinitas yang paling baik untuk
tumbuh dan berkembang adalah 30 ppt (Sutomo, 2003).
Menurut Lavens dan Sorgeloos (1996), salinitas yang layak bagi
pertumbuhan copepoda dalam kegiatan budidaya adalah 35 ppt,
tetapi mampu mentolerir salinitas antara 15 dan 70 ppt.
Sejalan dengan pendapat Marcus dan Wilcox (2007), bahwa
salinitas yang sesuai untuk perkembangan dan pertumbuhan
copepoda 35 ppt.
Copepoda tidak mampu mentolerir perubahan suhu lingkungan yang
ekstrim tetapi mampu hidup pada kondisi yang intensif antara 17 dan
30C,
suhu yang optimal untuk tumbuh adalah berkisar antara 16 dan 18C.
Media kultur yang baik bagi copepoda pada skala laboratorium adalah
air laut steril yang bersalinitas 25 ppt dengan suhu ruangan 25C dan
pH 8,0 (Anindiastuti dkk., 2002).
Menurut Lavens dkk (1991), stok kultur copepoda sebaiknya
dipelihara pada air laut yang bersalinitas 28 ppt dengan suhu antara
20 dan 21C pada ruangan yang terkontrol.
Menurut Uye (1980 dalam Lee dkk., 2005) bahwa masa hidup
copepoda (Acartia clausa) yang menggunakan lumpur sebagai
sedimen mencapai sekitar 100 sampai 165 hari dengan suhu 5C dan
tanpa sedimen dengan suhu 20C, masa hidupnya hanya sekitar 70
sampai 75 hari.
crustacea
Klasifikasi

Artemia merupakan bangsa Crustaceae yang


diklasifikasikan menurut Harefa (2003) sebagai berikut:
* Phyllum : Arthropoda
* Kelas : Crustaceae
* Subkelas : Branchiopoda
* Ordo : Anostraca
* Familia : Artemiidae
* Genus : Artemia
* Spesies : Artemia franciscana
Morfologi

Telur
bulat berlekuk (kering), bulat penuh (basah).
Warna coklat yang diselubungi oleh cangkang yang tebal dan kuat
Cangkang ini berguna untuk melindungi embrio terhadap pengaruh
kekeringan, benturan keras, sinar ultraviolet dan mempermudah pengapungan
Cangkang telur Artemia dibagi dalam dua bagian yaitu korion (bagian luar) dan
kutikula embrionik (bagian dalam). Diantara kedua lapisan tersebut terdapat
lapisan ketiga yang dinamakan selaput kutikuler luar,.
Korion dibagi lagi dalam dua bagian yaitu lapisan yang paling luar yang
disebut lapisan peripheral (terdiri dari selaput luar dan selaput kortikal) dan
lapisan alveolar yang berada di bawahnya.
Kutikula embrionik dibagi lagi menjadi dua bagian yaitu lapisan fibriosa
dibagian atas dan selaput kutikuler dalam di bawahnya. Selaput ini merupakan
selaput penetasan yang membungkus embrio.
Diameter telur Artemia berkisar antara 200 300 (0.2-0.3 mm). Sedangkan
berat kering berkisar 3.65 g, yang terdiri dari 2.9 g embrio dan 0.75 g
cangkang
Larva (Nauplius)
Apabila telur-telur Artemia yang kering direndam dalam air laut dengan
suhu 25oC, maka akan menetas dalam waktu 24 36 jam.
Dari dalam cangkang akan keluar larva yang dikenal dengan nama
nauplius,
nauplius akan mengalami 15 kali perubahan bentuk. Nauplius tingkat I =
instar I, tingkat II = instar II, tingkat III = instar III, demikian seterusnya
sampai instar XV. Setelah itu nauplius berubah menjadi Artemia dewasa,

Artemia dewasa
berbentuk seperti udang kecil dengan ukuran 10-20 mm.
Bagian kepala mempunyai ukuran yang lebih besar daripada bagian ekor,
Bagian ekor ini memiliki ukuran 1/3 dari panjang tubuhnya
Mempunyai sepasang mata, sepasang antennula pada bagian kepala dan
11 pasang kaki/torakopoda di bagian tubuhnya,
Jumlah kaki ini yang membedakannya dari Crustaceae lainnnya,
Sepasang alat kelamin terletak diantara ekor
1778 (Linnaeus) Cancer salinus

1819 (Leach) Artemia salina

hidup plantonik diperairan yang berkadar garam tinggi, yaitu antara 15-300 permil.
Suhu antara 25-300C, oksigen terlarut sekitar 3mg/l, dan pH 7,3-8,4.
Sebagai plankton, artemia tidak dapat dipertahankan diri terhadap pemangsanya sebab
tidak mempunyai alat ataupun cara untuk membela diri.

Artemia hidup di danau-danau garam (berair asin) yang ada di seluruh dunia.
Udang ini toleran terhadap selang salinitas yang sangat luas, mulai dari nyaris tawar hingga
jenuh garam.
Secara alamiah salinitas danau dimana mereka hidup sangat bervariasi, tergantung pada
jumlah hujan dan penguapan yang terjadi.
Apabila kadar garam kurang dari 6 % telur artemia akan tenggelam sehingga telur tidak bisa
menetas, hal ini biasanya terjadi apabila air tawar banyak masuk kedalam danau dimusim
penghujan.
apabila kadar garam lebih dari 25% telur akan tetap berada dalam kondisi tersuspensi,
sehingga dapat menetas dengan normal.
Kista tertua artemia pernah ditemukan oleh suatu perusahan pemboran yang bekerja
disekitar Danau "Salt Great". Kista tersebut diduga berusia sekitar lebih dari 10000 tahun
(berdasarkan metoda "carbon dating"). Setelah diuji, ternyata kista-kista tersebut masih bisa
menetas walaupun usianya telah lebih dari 10000 tahun.
Ovovivipar : nauplius menetas di dalam
reproduksi kantung telur induknya dan nauplius yang
keluar sudah dapat berenang bebas,
keadaan ini terjadi pada salinitas rendah.
Ketika Artemia dewasa hidup pada
Berdasarkan cara salinitas tinggi, embrio akan terbungkus
berkembangbiakannya, oleh kapsul keras yang sering disebut
Biseksual : melalui proses kista. Kista ini akan melindungi embrio
perkawinan sehingga dapat menetas pada kondisi
Partegnogenetik yakni Tidak optimal
melalui proses perkawinan. ovipar tergantung dari salinitas medium
habitatnya

Kedua cara reproduksi (biseksual dan parthenogenesis) tersebut


akan sama-sama menghasilkan kista pada salinitas tinggi (ovipar)
dan nauplius pada salinitas rendah (ovovivipar).
Adapun daur hidupnya meliputi fase kista, prenauplius, nauplius dan
dewasa.
syarat-syarat menetaskan kista artemia :
Salinitas 20-30 ppt atau 1-2 sendok teh garam per liter air tawar.
Untuk buffer bisa ditambahkan magnesium sulfate (20 % konsentrasi) atau
1/2 sendok teh per liter air.
Suhu air 26 - 28 C.
memberikan sinar selama penetasan untuk merangsang proses.
Aerasi yang cukup; untuk menjaga oksigen terlarut sekitar 3 ppm
pH 8.0 atau lebih, apabila pH drop dibawah 7.0 dapat ditambahkan soda
kue untuk menaikkan pH.
- Kepadatan sekitar 2 gram per liter.
- Sebelumnya dapat dilakukan proses dekapsulisasi untuk melunakan
cangkang.
Manfaat Artemia

Artemia merupakan pakan yang penting bagi organisme


budidaya seperti ikan, udang dan kepiting. Hal ini disebabkan
karena nilai nutrisi yang dikandungnya tinggi dan
penggunaannya pun luas
pakan ikan yang umumnya dijual dalam bentuk telur ( kista)
fase dewasa dan induk yang memiliki kandungan protein yang
lebih tinggi dari burayakan dan berukuran jauh lebih besar
sehingga mudah dikonsumsi oleh ikan hias dewasa.
mengonsumsi spirulina
Artemia tidak membawa penyakit ( seperti cacing)
hi dup
us
Sikl 15-20 jam, 25oC
12 jam
Pre-nauplii
(beberapa jam E1, nauplii
Telur/kista
kista msh menempel
E2)

Berwarna orange kecoklatan


tidak akan makan, karena mulut dan anusnya belum
terbentuk dengan sempurna.

Ganti kulit 15x


(8 hari)
mulai makan (mikro alga, bakteri, dan detritus
organik)
tidak pemilih

Artemia dewasa sekitar 8 mm,


pada kondisi 20 mm.
(biomasnya 500 biomas pada
fase naupli
Dewasa
salinitas rendah dan dengan pakan yang optimal, betina Artemia bisa mengahasilkan
naupli sebanyak 75 ekor perhari.
Selama masa hidupnya (sekitar 50 hari) mereka bisa memproduksi naupli rata-rata
sebanyak 10 -11 kali.
Dalam kondisi super ideal, Artemia dewasa bisa hidup selama 3 bulan dan
memproduksi nauplii atau kista sebanyak 300 ekor(butir) per 4 hari.
Kista akan terbentuk apabila lingkungannya berubah menjadi sangat salin dan bahan
pakan sangat kurang dengan fluktuasi oksigen sangat tinggi antara siang dan malam
hari.

Artemia dewasa toleran terhadap suhu -18 hingga 40 C.


optimal untuk penetasan kista dan pertubuhan adalah 25 - 30 C (tergantung strain)
Artemia menghendaki kadar salinitas 30 - 35 ppt
dapat hidup dalam air tawar salama 5 jam sebelum akhirnya mati.
pH (8-9 optimal, dibawah 5 dan lebih dari 10 membunuh artemia)
cahaya (diperlukan dalam proses penetasan dan akan sangat menguntungkan bagi
pertumbuhan)
oksigen. Berpengaruh terhadap warna artemia
Apabila kadar oksigen air rendah, dan air banyak mengandung bahan organik, atau
apabila salintas meningkat, artemia akan memakan bakteria, detritus, dan sel-sel kamir
(yeast).
Pada kondisi demikian mereka akan memproduksi hemoglobin sehingga tampak
berwarna merah atau orange. Apabila keadaan ini terus berlanjut mereka akan mulai
memproduksi kista.
Budidaya Artemia

Artemia : dapat digunakan pada


larva dan benih ikan air tawar,
payau dan laut.
kebutuhan hatchery akan Artemia
masih import

persiapan tambak,
penebaran benih,
penumbuhan makanan alami,
pemeliharaan,
pemanenan
prosesing.
Syarat tambak tambak garam
tidak bocor
ketersediaan air selalu
ada
kedalaman 70 cm

Persiapan tambak

Penebaran benih
Penjemuran/pengeringan dasar
tambak
Pengapuran tambak dengan nauplii artemia 200
dosis 500 kg/ha ekor perliter pada
Pemupukan organik 500 kg/ha stadia instar I (artemia
Pemupukan TSP/urea 200 kg yang baru menetas)
(1:3) dilakukan pada saat
Pengisian air tambak dengan suhu rendah.
salinitas 80 ppt sedalam 70 cm
Pemupukan tambak

pemupukan secara kontinu (pupuk organik atau anorganik


sebanyak 10%) dari dosis awal pemupukan
inokulasi pakan alami.
dapat diberikan pakan tambahan berupa dedak yang diperkaya
dengan vitamin dan mineral atau bungkil kelapa, silase ikan
maupun tepung terigu.
Oleh karena itu pada tambak pemeliharaan artemia diberikan
pakan tambahan berupa bungkil kelapa yang sebelumnya (2 jam)
direndam baru diberikan dengan cara menebarkannya secara
merata pada tambak budidaya.
Budidaya Artemia

dilakukan pada lokasi yang memiliki salinitas


cukup tinggi yaitu lebih dari 50 promill,
untuk menghasilkan kista dengan hasil
yang optimum dibutuhkan salinitas antara 120
140 ppt
peningkatan salinitas hingga 150 ppt akan
menghasilkan produktivitas telur menjadi
menurun.
Oleh karena itu, pada tambak budidaya artemia
setelah dilakukan penebaran nauplii artemia
salinitas tambak secara bertahap terus
ditingkatkan dari 70 ppt menjadi 80 ppt terus
secara bertahap dinaikkan sampai menjadi 120
140 ppt.
metoda dekapsulasi (larutan
Metode penetasan hipoklorit)
Artemia metoda tanpa dekapsulasi.

Larutan hipoklorit yaitu larutan yang mengandung HClO disiapkan yang


akan digunakan untuk melakukan proses penghilangan lapisan luar
kista.
Natrium hipoklorit (Na O Cl) dosis 10 cc Na O Cl untuk satu gram kista
Kalsium hipoklorit (Ca (OCl)2 dosis 0,67 gram untuk satu gram kista .
Saringan kasa Media aduk
Aerasi kuat,
Kista larutan suhu 40oC
hipoklorit

penghilangan lapisan luar


kista dilakukan selama 5 15
terjadinya perubahan warna
kista dari coklat gelap
menjadi abu-abu kemudian
orange.

Pencucian kista
Kista disaring (120 mikron)
pencucian kista dengan menggunakan air laut secara berulang-ulang
(bau klorin itu hilang).
Kista artemia tersebut dicelupkan kedalam larutan HCl 0,1 N sebanyak
dua kali dan dicuci dengan air bersih
siap untuk ditetaskan dengan menggunakan larutan penetasan
Proses penetasan yang dilakukan sama dengan proses penetasan
tanpa dekapsulasi.
Tanpa dekapsulasi

Aerasi (10-20 l
Kista udara/menit, suhu
Wadah penetasan
(timbang) 25-30oC, pH 8-9, 5
disiapkan
35ppt)

20 cm
Lampu TL 60 watt
(intensitas cahaya 1000lux)

Penetasan berlangsung
selama 2448 jam kemudian.
Wadah penetasan

kantong plastik berbentuk kerucut,


botol aqua ,
ember plastik dan bentuk wadah lainnya yang
didesain berbentuk kerucut Sedangkan peralatan
yang dibutuhkan untuk melakukan budidaya Artemia
antara lain adalah

Wadah budidaya aerator/blower, selang aerasi, batu aerasi,


selang air, timbangan, saringan halus/seser,
ember,gayung, gelas ukur kaca,
refraktometer.
Pemilihan wadah

bergantung kepada tujuannya.


Wadah yang terbuat dari bak semen, bak beton,
bak fiber dan tanki plastik biasanya digunakan
untuk menetaskan cyst Artemia secara massal
wadah budidaya kolam tanah yaitu tambak
biasanya dilakukan untuk membudidayakan
artemia.
ukuran dari wadah yang akan digunakan sangat
menentukan kapasitas produksi dari pakan alami
Artemia.
Penyiapan wadah budidaya

Siapkan alat dan bahan


Bersihkan wadah
pensucihamaan wadah
Bilaslah wadah
Pasanglah peralatan aerasi dengan merangkaikan antara aerator, selang
aerasi dan batu aerasi, masukkan kedalam wadah budidaya.
Ceklah keberfungsian peralatan tersebut dengan memasukkan kedalam
arus listrik.
Buatlah larutan garam
Ukurlah salinitas media penetasan dengan menggunakan alat
refraktometer
Jika salinitas media tidak sesuai dengan yang diinginkan tambahkan garam
atau air tawar kedalam media sampai diperoleh salinitas media sesuai
kebutuhan.
Inokulasi artemia

identifikasi jenis bibit pakan alami Artemia,


melakukan seleksi terhadap bibit pakan alami Artemia,
inokulasi bibit pakan alami sesuai dengan prosedur.
Identifikasi Artemia perlu dilakukan agar tidak terjadi kesalahan dalam
melakukan inokulasi. Artemia merupakan salah satu jenis zooplankton yang
hidup diperairan laut yang bersalinitas antara 42 sampai dengan 316 permil.

Artemia : berasal dari cyst artemia.


Cyst artemia : telur yang mengalami fase istirahat karena kondisi
lingkungan perairan buruk ..
Teknik inokulasi

menebarkannya secara hati-hati kedalam media kultur sesuai dengan


padat tebar yang telah ditentukan.
Penebaran bibit Artemia ini sebaiknya dilakukan pada saat suhu perairan
tidak terlalu tinggi yaitu pada pagi dan sore hari.

Penebaran cyst Artemia

Cyst Artemia : telur yang telah berkembang lebih lanjut menjadi embrio dan
kemudian diselubungi oleh cangkang yang tebal dan kuat.
Cangkang ini berguna untuk melindungi embrio terhadap pengaruh
kekeringan, benturan keras, sinar ultra violet dan mempermudah
pengapungan.
Jadi cyst artemia itu yang akan ditetaskan adalah hasil dari perkawinan
artemia dewasa jantan dan betina yang pada kondisi lingkungan buruk akan
membentuk fase istirahat atau dorman. Dan biasanya disebut telur kering
(diapauze).
Artemia yang dijual dipasaran merupakan hasil budidaya atau eksploitasi
dari alam yang dikemas dalam kemasan kaleng dengan berat rata-rata
450 gram.
Telur artemia yang berasal dari laut atau tambak ini dipanen dengan
menggunakan seser, kemudian dibersihkan dari kotoran-kotoran yang
melekat.
Kista yang berisi embrio akan mengapung dipermukaan air. Kemudian
kista tersebut dikeringkan dibawah sinar matahari atau dengan alat
pengering/oven dengan suhu sebaiknya tidak lebih dari 40oC .
Pengeringan didalam alat pengering ini dilakukan selama tiga jam sampai
kadar air dari siste tersebut kurang dari 10% agar tahan lama dalam
penyimpanan.
Lama penyimpanan siste artemia jika dilakukan pengemasan dengan
kaleng tanpa udara atau kantong plastik berisi gas Nitrogen adalah lima
tahun.
Berapakah kebutuhan cyst artemia yang
harus ditetaskan untuk memenuhi
kebutuhan produksi?
padat penebaran yang digunakan
adalah 5-7 gram/liter.
Semakin besar wadah yang digunakan
maka jumlah siste yang akan ditebarkan
akan semakin banyak.
Oleh karena itu harus dipilih wadah
yang tepat untuk menetaskan siste
artemia tersebut.
Panen cyst artemia

Lepaskan aerasi yang ada didalam wadah penetasan.


Lakukan penutupan wadah penetasan pada bagian atas dengan
menggunakan plastik hitam agar artemia yang menetas akan
berkumpul pada bagian bawah wadah penetasan.
Artemia mempunyai sifat fototaksis positif yang akan bergerak menuju
sumber cahaya.
Diamkan beberapa lama (kurang lebih 15-30 menit) sampai seluruh
cyst yang telah menetas berkumpul didasar wadah.
Lakukan penyedotan dengan selang untuk mengambil artemia yang
telah menetas dan ditampung dengan kain saringan yang diletakkan
didalam wadah penampungan.
Bersihkan artemia yang telah dipanen dengan menggunakan air tawar
yang bersih dan siap untuk diberikan kepada larva/benih ikan
konsumsi/ikan hias.
Panen Artemia

dilakukan setiap hari


jumlah yang dipanen adalah kurang dari 20%.
Pemanenan Artemia dapat juga dilakukan seminggu sekali atau dua minggu
sekali sangat bergantung kepada ukuran Artemia yang akan diberikan kepada
larva/benih ikan.
Cyst artemia yang baru menetas mempunyai ukuran antara 200-350
mikrometer (0,2-0,35 mm) dan disebut nauplius.
Duapuluh empat jam setelah menetas nauplius artemia ini akan mulai tumbuh
organ pencernaannya, oleh karena itu pada
masa tersebut artemia sudah mulai makan
Artemia menjadi dewasa pada umur 14 hari dan akan beranak
setiap 4-5 hari sekali.
Pakan Artemia

Artemia menyaring makanannya (filter feeder).


menelan apa saja yang ukurannya kurang dari 50 mikron.
Pada Artemia dewasa pengambilan makanan dibantu oleh kaki-kakinya
(torakopoda)
nauplius
e. dibantu oleh antenna.
Selain berfungsi sebagai alat gerak, kaki Artemia juga berfungsi sebagi
alat pernapasan.
kaki Artemia akan bergerak terus mengingat dia harus terus bernafas
(Mudjiman, 1998).