Anda di halaman 1dari 9

A.

Klasifikasi dan Morfologi

Genus Artemia mempunyai beberapa spesies, antara lain Artemia salina


Leach, A. parthenogenetica, A. franciscana Kellog, A. urmiana Gunther, A.
tunisiana Bowen, A. persimilis Prosdocini dan Piccinelli, A. monica Verril, dan A.
odessensir. Artemia merupakan zooplankton yang diklasifikasikan ke dalam filum
Arthropoda dan kelas Crustacea, secara lengkap klasifikasi Artemia menurut
Bougis (1979) dalam Isnansetyo dan Kurniastuty (1995) adalah sebagai berikut:
Filum : Arthropoda
Kelas : Crustacea
Subkelas : Branchiopoda
Ordo : Anostraca
Famili : Artemidae
Genus : Artemia
Spesies : Artemia salina
Artemia diperjualbelikan dalam bentuk telur dorman (istirahat) yang disebut
dengan kista. Kista tersebut berbentuk bulatan-bulatan kecil berwarna kelabu
kecoklatan dengan diameter berkisar antara 200350 mikron. Satu gram kista
Artemia kering ratarata terdiri dari 200.000300.000 butir kista. Kista yang
berkualitas baik akan menetas sekitar 1824 jam apabila diinkubasikan dalam air
bersalinitas 570. Terdapat beberapa tahap (proses) penetasan Artemia, yaitu
tahap hidrasi, tahap pecah cangkang, dan tahap payung atau tahap pengeluaran.
Pada tahap hidrasi terjadi penyerapan air sehingga kista yang diawetkan dalam
bentuk kering tersebut akan menjadi bulat dan aktif melakukan metabolisme.
Tahap selanjutnya adalah tahap pecah cangkang, disusul dengan tahap payung
yang terjadi beberapa saat sebelum nauplius keluar dari cangkang. Tahap
penetasan tersebut dapat dilihat pada Gambar 2 (Sorgeloos 1980).
Artemia yang baru menetas disebut nauplius. Nauplius berwarna oranye,
berbentuk bulat lonjong dengan panjang sekitar 400 mikron, lebar 170 mikron,
dan berat 0,002 mg. Ukuranukuran tersebut sangat bervariasi, tergantung pada
galur (strain). Nauplius mempunyai sepasang antenulla dan sepasang antenna.
Antenulla berukuran lebih kecil dan pendek dibandingkan dengan antenna. Selain
itu, di antara antenulla terdapat bintik mata yang disebut dengan ocellus. Sepasang
mandibulla rudimenter terdapat di belakang antenna. Labrum (semacam mulut)
terdapat di bagian ventral. Morfologi nauplius disajikan pada Gambar 3
(Sorgeloos 1980).

Gambar 1. Tahapan Penetasan Artemia (Sorgeloos, 1980)

Gambar 2. Morfologi nauplis Artemia (1) bintik mata (2) antennula (3) antenna
(4) calon thoracopoda (5) saluran pencernaan (6) mandibula (Sorgeloos, 1980)

Nauplius berangsurangsur mengalami perkembangan dan perubahan


morfologis dengan 15 kali pergantian kulit hingga menjadi dewasa. Setiap
tingkatan pergantian kulit disebut dengan instar, sehingga dikenal instar I hingga
instar XV. Setelah cadangan makanan yang berupa kuning telur habis dan saluran
pencernaan berfungsi, nauplius mengambil makanan ke dalam mulutnya dengan
menggunakan setae pada antenna. Artemia mulai mengambil makanan setelah
mencapai instar II (Sorgeloos 1980). Sekitar 24 jam setelah menetas, nauplius
instar I akan berubah menjadi instar II (Mudjiman 1989).
Saat instar kedua, pada pangkal antenanya tumbuh gnatobasen setae, suatu
struktur yang menyerupai duri menghadap ke belakang (Isnansetyo dan
Kurniastuty 1995). Perubahan morfologis yang sangat mencolok terjadi setelah
masuk instar X. Antenna mengalami perubahan sesuai dengan jenis kelaminnya.
Thoracopoda mengalami diferensiasi menjadi tiga bagian, yaitu telopodite dan
endopodite yang berfungsi sebagai alat gerak dan penyaring makanan, serta
eksopodite yang berfungsi sebagai alat pernafasan (Lavens and Sorgeloos 1996).
Artemia dewasa (Gambar 4) biasanya berukuran panjang 810 mm yang
ditandai dengan adanya tangkai mata yang jelas terlihat pada kedua sisi bagian
kepala, antenna sebagai alat sensori, saluran pencernaan yang terlihat jelas, dan 11
pasang thoracopoda. Pada Artemia jantan, antenna berubah menjadi alat penjepit
(mascular grasper) dan sepasang penis di bagian belakang tubuh. Pada Artemia
betina, antenna mengalami penyusutan dengan sepasang indung telur atau ovari
terdapat di kedua sisi saluran pencernaan di belakang thoracopoda. Telur yang
sudah matang akan disalurkan ke sepasang kantong telur atau uterus (Sorgeloos
1980).
Artemia dewasa dapat hidup selama beberapa bulan (sampai 6 bulan). Di
bawah kondisi optimal, Artemia dapat tumbuh dari nauplius sampai dewasa hanya
dalam waktu 8 hari (Lavens and Sorgeloos 1996) atau 14 hari (Mudjiman 1989).
Sementara itu, setiap 45 hari sekali mereka dapat memperbanyak diri secara
cepat, dengan menghasilkan anak (pada kondisi lingkungan yang baik) dengan
rata-rata 300 nauplius atau bertelur (pada lingkungan yang buruk) sebanyak 50
300 butir.
Menurut Harefa (1997), perkembangan Artemia dari proses penetasan
sampai menjadi individu dewasa membutuhkan waktu sekitar 710 hari. Artemia
dewasa bila diletakkan di air tawar akan bertahan 23 jam. Untuk sebagian besar
strain, toleransi salinitas maksimum adalah 200. Artemia mencapai tingkat
dewasa dalam 16-19 hari ketika dibudidayakan pada kolam air garam
(Kulasekarapandian and Ravichandran 2003 in Soundarapandian and
Saravanakumar 2009). Menurut Soundarapandian and Saravanakumar (2009),
salinitas air laut (35-55) yang sesuai untuk budidaya Artemia ditunjukkan
dengan kelangsungan hidup yang lebih tinggi (80%), ukuran yang lebih besar (1,2
cm) dan durasi yang lebih pendek (14 hari) untuk mencapai tingkat dewasa.
Menurut Vos (1979), morfologi dan penampilan umum dewasa berubah pada
salinitas yang berbeda. Semakin tinggi salinitas, semakin kecil clasper pada
Artemiajantan. Pada salinitas tinggi juga, tubuh menjadi lebih panjang dan lebih
kurus. Istilah-istilah yang digunakan dalam penelitian ini disajikan pada Lampiran
2.

Gambar 3. Morfologi Artemia dewasa (Soregeloos, 1980)

B. Ekologi, Fisiologi, dan Reproduksi

Kehidupan Artemia dipengaruhi oleh faktorfaktor eksternal, yaitu


salinitas, oksigen terlarut, suhu, dan pH. Suhu di perairan dipengaruhi oleh
musim, lintang, ketinggian dari permukaan laut, sirkulasi udara, penutupan awan,
aliran, dan kedalaman badan air. Perubahan suhu air berpengaruh terhadap sifat
fisika, kimia, dan biologi perairan. Selain itu, peningkatan suhu juga dapat
menyebabkan peningkatan laju metabolisme dan respirasi. Menurut Nontji (1993),
suhu yang sangat ekstrim serta perubahannya dapat berdampak buruk bagi
kehidupan organisme akuatik, baik secara langsung maupun tidak langsung. Suhu
air permukaan di perairan Indonesia umumnya berkisar antara 2831 C. Menurut
Mudjiman (1989), Artemia secara umum tumbuh dengan baik pada kisaran suhu
2530 C .
Salinitas merupakan parameter yang penting untuk mengontrol
pertumbuhan dan kelangsungan hidup dari Artemia. Artemia merupakan
organisme euryhaline, tetapi Artemia merasa nyaman ketika berada pada salinitas
yang optimum. Pada lingkungan yang alami, temperatur (suhu), makanan, dan
salinitas merupakan faktor penting yang mempengaruhi populasi Artemia (Wear
and Huslett 1987 in Soundarapandian and Saravanakumar 2009). Menurut
Vanhaecke et al. (1987) in Kaiser et al. (2006), salinitas merupakan faktor
lingkungan paling penting yang menentukan sebaran Artemia dengan populasi
yang ditemukan di danau garam pada tingkat salinitas sekitar 40, dimana ikan
dan banyak predator invertebrata tidak ada. Organisme hypersaline beradaptasi
pada salinitas tinggi dengan beberapa mekanisme fisiologi, termasuk
osmoregulasi, sintesis, dan akumulasi berbagai larutan yang cocok. Artemia
merupakan makrozooplankton yang dominan yang terdapat pada lingkungan
hypersaline (Wurtsbaugh and Gliwicz 2001 in Eimanifar and Mohebbi 2007).
Salinitas yang diperlukan agar Artemia dapat menghasilkan kista
bervariasi tergantung pada strainnya; pada umumnya membutuhkan salinitas di
atas 100. Penetasan kista Artemia membutuhkan salinitas kurang dari 85.
Apabila salinitas air yang digunakan untuk penetasan tersebut lebih dari 85,
maka kista tidak akan menetas. Hal ini disebabkan oleh tekanan osmosis di luar
kista lebih besar, sehingga kista tidak dapat menyerap air yang diperlukan untuk
proses metabolisme (Mudjiman 1989). Pada usaha penetasan kista, umumnya
digunakan air laut (salinitas 3033). Namun pada penelitian Vanhaeckeet et al.
In Purwanti (2004) ditemukan laju penetasan yang lebih tinggi dengan
menggunakan salinitas lebih rendah dari air laut. Menurut Sorgeloos (1980), hal
tersebut terjadi karena pada salinitas yang lebih rendah dari air laut terjadi
penurunan kebutuhan energi untuk memecahkan cangkang. Dengan demikian,
proses penetasan kista lebih mudah. Salinitas yang dibutuhkan untuk penetasan
kista Artemia secara optimal adalah 2030 (Direktorat Jendral Perikanan dan
Kelautan 2003). Pertumbuhan biomassa Artemia yang baik terjadi pada kisaran
salinitas 3050 (Isnansetyo dan Kurniastuty 1995).
Salinitas dapat berfluktuasi karena pengaruh penguapan dan hujan.
Salinitas dapat mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangbiakan zooplankton.
Kisaran salinitas yang tidak sesuai berpengaruh terhadap tingkat kelangsungan
hidup dan tingkat pertumbuhannya (Supriya et al. 2002).
Oksigen terlarut (Dissolved oxygen/DO) merupakan jumlah gas oksigen
yang ditemukan terlarut di dalam air (mg/l). Jumlah oksigen yang terlarut ini
tergantung pada suhu, salinitas, tekanan atmosfer, dan turbulensi air. Semakin
tinggi temperatur dan salinitas perairan, semakin rendah tingkat kelarutan oksigen
dalam air. Lapisan atas permukaan laut dalam keadaan normal mengandung
oksigen terlarut sebesar 4,59,0 mg/l. Selain temperatur dan salinitas, oksigen
terlarut juga dipengaruhi oleh tekanan hidrostatik. Semakin dalam laut, semakin
rendah kandungan oksigen yang terlarut dalam perairan tersebut (Sanusi 2006).
Oksigen terlarut dalam perairan sangat dibutuhkan oleh semua organisme
yang ada di dalamnya untuk pernafasan dalam rangka melangsungkan
metabolisme dalam tubuh mereka. Oksigen terlarut dalam air dapat berasal dari
difusi, hasil fotosintesa fitoplankton dan adanya aliran air baru (Supriya et al.
2002). Dalam penentuan persyaratan pemeliharaan zooplankton, kandungan
oksigen perairan bukan merupakan faktor utama. Kebutuhan akan oksigen terlarut
tersebut dapat dipenuhi dari sumber pengudaraan tersendiri, yaitu dengan
menggunakan blower (Supriya et al. 2002).
Toleransi yang ekstrim terhadap konsentrasi oksigen terlarut adalah sifat
umum untuk beberapa spesies Artemia yang sukses menghadapi kondisi buruk
dibawah kondisi ekstrim (Amat 1985 in Nunes et al. 2005). Artemia termasuk
hewan euroksibion, yaitu hewan yang mempunyai kisaran toleransi yang lebar
terhadap kandungan oksigen. Kandungan oksigen yang baik untuk pertumbuhan
Artemia adalah di atas 3,0 mg/l. Untuk kehidupan biota laut secara layak oksigen
terlarut harus lebih besar dari 5,0 mg/l (Kep.51/MENLH/2004) (Lampiran 1).
Artemia bersifat pemakan segala atau omnivora. Makanan Artemia berupa
plankton, detritus, dan partikelpartikel halus yang dapat masuk ke dalam mulut.
Dalam mengambil makanan, Artemia bersifat penyaring tidak selektif (non
selectif filter feeder). Oleh karena itu, kandungan gizi Artemia sangat dipengaruhi
oleh kualitas pakan yang tersedia pada perairan tersebut. Ukuran terbesar dari
partikel pakan yang dapat ditelan Artemia adalah 50 mikron. Artemia mengambil
pakan dari media hidupnya terusmenerus sambil berenang. Pengambilan
makanan dilakukan
menggunakan antenna kedua pada nauplius, dan menggunakan telopodite yang
merupakan bagian dari thoracopoda pada Artemia dewasa (Isnansetyo dan
Kurniastuty 1995).
Dalam melakukan proses tumbuh, Artemia secara periodik melakukan
ganti kulit (molting) yang frekuensinya tergantung dari stadium siklus hidup dan
kondisi lingkungan tempat hidupnya. Pada proses ganti kulit ini, aktivitas
osmoregulasi memegang peranan penting yang berhubungan dengan besarnya
energi yang digunakan (Riani 1990 in Purwanti 2004).
Menurut Locwood (1989) in Purwanti (2004), walaupun ganti kulit hanya
merupakan bagian yang pendek dari seluruh siklus hidup, tetapi periode ini cukup
berbahaya dan tingkat kematian sering tinggi pada saat ini. Sumber dari bahaya
tersebut ada tiga macam, yaitu meliputi faktor mekanik, fisiologi, dan biologi.
Masalah fisiologi yang timbul adalah akibat beragamnya rasio ionik dan
konsentrasi total ion dalam cairan tubuh pada saat ganti kulit dan hasil
pengenceran akibat penarikan kadar air yang masuk ke dalam sel dan dari
perubahan permeabilitas pada permukaan tubuh.
Menurut cara reproduksinya, Artemia dipilah menjadi dua, yaitu Artemia
yang bersifat biseksual dan Artemia yang bersifat parthenogenetik. Artemia
biseksual berkembangbiak secara seksual dengan perkembangbiakan yang
didahului oleh perkawinan antara jantan dan betina. Artemia parthenogenetik
berkembangbiak secara parthenogenesis, yaitu betina menghasilkan telur atau
nauplius tanpa adanya pembuahan (Isnansetyo dan Kurniastuty 1995).
Siklus hidup Artemia cukup unik, baik jenis biseksual maupun
partenogenetik (Gambar 5). Perkembangbiakannya dapat secara ovovivipar
maupun ovipar tergantung kondisi lingkungan, terutama salinitas. Pada salinitas
tinggi akan dihasilkan kista yang keluar dari induk betina, sehingga disebut
perkembangbiakan secara ovipar. Pada salinitas rendah tidak akan dihasilkan
kista, tetapi telur langsung menetas menjadi nauplius, sehingga disebut
perkembangbiakan secara ovovivipar (Isnansetyo dan Kurniastuty 1995).
Dalam kehidupan Artemia, baik pada perkembangan biseksual maupun
parthenogenesis keduaduanya dapat terjadi secara ovovivipar maupun ovipar.
Pada cara ovovivipar (menghasilkan nauplius), sel telur yang telah dibuahi di
dalam uterus berkembang menjadi embrio melalui stadia blastula dan gastrula.
Dalam keadaan lingkungan yang baik, gastrula akan berkembang lebih lanjut
menjadi nauplius, yang akhirnya dikeluarkan dari tubuh induknya. Apabila
keadaan lingkungan tersebut buruk, perkembangannya terhenti sampai pada
tingkat gastrula. Selanjutnya stadia gastrula dibungkus dengan cangkang telur
yang kuat dan mengandung hematin yang dihasilkan oleh kelenjar cangkang telur,
yang dikeluarkan dari tubuh induknya dalam bentuk kista. Kista akan menjadi
nauplius melalui proses penetasan lebih dahulu yang disebut dengan cara ovivar
(Mudjiman 1989).
Menurut Mudjiman (1989), ovoviviparitas biasanya terjadi apabila
keadaan lingkungan cukup baik dengan salinitas air berkisar antara 100150 ke
bawah, sehingga burayak yang masih lembut itu dapat hidup tanpa gangguan.
Oviparitas biasanya terjadi apabila keadaan lingkungan sangat buruk, terutama
kadar oksigennya sangat rendah dan salinitas lebih dari 150. Dengan demikian,
kista yang bercangkang tebal dan kuat itu mampu menghadapi keadaan yang
buruk sambil beristirahat. Apabila keadaan lingkungan sudah membaik, kista
menetas menjadi nauplius, dan memulai kehidupan baru.
Pada jenis biseksual, perkembangbiakan diawali dengan perkawinan.
Perkawinan diawali dengan adanya pasangan jantan dan betina yang berenang
bersama (riding pair). Artemia betina di depan, sedangkan Artemia jantan
memeluk dengan menggunakan penjepit di belakangnya.
Riding pair berlangsung cukup lama, walaupun perkawinan/kopulasinya hanya
membutuhkan waktu singkat. Artemia jantan memasukkan penis ke dalam lubang
uterus betina dengan cara membengkokkan tubuhnya ke depan (Isnansetyo dan
Kurniastuty 1995).
Gambar 4. Siklus Hidup Artemia (Mudjiman, 1989)

Siklus Hidup

Siklus hidup Artemia dimulai pada saat menetasnya kista atau telur. Setelah 15-20
jam pada suhu 25oC kista akan menetas menjadi embrio. Dalam waktu beberapa
jam embrio ini masih akan tetap menempel pada kulit kista. Pada fase ini embrio
akan menyelesaikan perkembangannya kemudian berubah menjadi naupli yang
sudah akan bisa berenang bebas. Pada awalnya naupli akan berwarna orange
kecoklatan akibat masih mengandung kuning telur. Artemia yang baru menetas
tidak akan makan, karena mulut dan anusnya belum terbentuk dengan sempurna.
Setelah 12 jam menetas mereka akan ganti kulit dan memasuki tahap larva kedua.
Dalam fase ini mereka akan mulai makan, dengan pakan berupa mikro alga,
bakteri, dan detritus organik lainnya. Pada dasarnya mereka tidak akan peduli
(tidak pemilih) jenis pakan yang dikonsumsinya selama bahan tersebut tersedia di
air dengan ukuran yang sesuai. Naupli akan berganti kulit sebaanyak 15 kali
sebelum menjadi dewasa dalam waktu 8 hari. Artemia dewasa rata-rata berukuran
sekitar 8 mm, meskipun demikian pada kondisi yang tepat mereka dapat mencapai
ukuran sampai dengan 20 mm. Pada kondisi demikian biomasanya akan mencapai
500 kali dibandingkan biomasa pada fase naupli.