Anda di halaman 1dari 24

LAPORAN PRAKTIKUM 2

PENETASAN CYST Artemia salina

YULIANA (L111 16 009)


ASRUL (L111 16 010)
NAUFAL MIFTAHUL GHALIB (L111 16 514)
NUR ULFAH BAHARUDDIN (L011 17 1003)
MUH. YUSRI YUSUF (L011 17 1006)
LUSIANA KADIR (L011 17 1007)
RIHUL JANNA (L011 17 1015)
EDWIN ADRIAN (L011 17 1020)
DELIANA AGRESITA (L011 17 1029)
DINDA AFIFAH ADINUHA (L011 17 1305)
MUH. SYAHRUL (L011 17 1309)
AKSEL WILLIYAM R.P (L011 17 1315)
RIO SUHERLA (L011 17 1321)
CHUMAERAH FEBRIANTI (L011 17 1515)
RAHMAT HIDAYAT (L011 17 1523)
FAUZAN FAHRIZAL FARMA (L011 17 1533)
GALAU ERZA GRINALDY (L011 17 1536)

KELOMPOK 3 :
ASISTEN : NURAFNI

LABORATORIUM PERBENIHAN DAN PENANGKARAN BIOTA LAUT


FAKULTAS ILMU KELAUTAN DAN PERIKANAN
UNIVERSITAS HASANUDDIN
MAKASSAR
2019
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Kegiatan pembenihan merupakan langkah awal yang dilakukan dalam usaha


budidaya. Ketersediaan pakan alami yang memadai dan berkesinambungan menjadi
faktor penentu utama dalam keberhasilan pengelolaan benih. Pakan alami sangat
dibutuhkan untuk pembenihan sebagai makanan hidup bagi biota yang dibudidayakan.
Makanan hidup dapat berupa fitoplankton dan zooplankton. Salah satu jenis
zooplankton yang digunakan sebagai pakan alami adalah A. Salina (Sukariani,2014).
Udang renik air asin A. salina termasuk golongan zooplankton dari anggota
crustacea berfungsi sebagai makanan bermutu tinggi bagi berbagai jenis ikan dan
udang. Menurut Galabert (1991) dalam Widodo dkk (2016), menyatakan bahwa A.
salina digunakan sebagai pakan alami lebih dari 85% spesies hewan budidaya.
Sebagai pakan alami dalam memenuhi nutrisi bagi larva kandungan nutrisi cukup
tinggi. Kandungan protei mencapai 60%, karbohidrat 20%, lemak 20% dan air 10%.
A. salina mempunyai keunggulan dibandingkan dengan jenis zooplankton lainnya,
selain mempunyai kandungan nutrisi yang tinggi, dapat menetas dengan cepat,
ukurannya relatif kecil, pergerakan lambat serta dapat hidup pada kepadatan tinggi.
Keunggulannya sebagai pakan alami mendorong permintaan yang tinggi terhadap
kebutuhan A. salina dalam kegiatan pembenihan (Sukariani, 2014).
Dalam usaha pembenihan di Indonesia A. salina sangat berperan penting untuk
memenuhi kebutuhan pakan alami Indonesia harus mengimpor dari berbagai negara
produsen. Secara komersial diperdagangkan dalam bentuk telur awetan atau cyst
didalam kaleng dengan harga yang cukup mahal dan persediaan di pasaran yang
terbatas (Widodo dkk, 2016).
Usaha produksi A. salina sudah mulai dilakukan dibanyak tempat. Usaha
budidaya yang dilakukan untuk menghasilkan cyst belum memberikan hasil kualitas
yang diharapkan, terutama berkaitan dengan rendahnya derajat penetasan dan
efisiensi penetasan cyst. Untuk meningkatkan persentase penetasan cyst diperlukan
suatu teknik yang tepat. Salah satu teknik yang dapat dilakukan yaitu melalui proses
dekapsulasi (Djokosetiyanto dkk, 2007).
Pemberian pakan alami dalam kegiatan pembenihan harus dilakukan secara
berkesinambungan mengingat pentingnya hal ini untuk mendorong keberhasilan dalam
usaha budidaya. Oleh karena itu, untuk mengetahui teknik yang tepat dalam
meningkatkan persentase penetasan cyst maka perlu di lakukan praktikum Penetasan
Cyst A. salina.
B. Tujuan dan Kegunaan

Tujuan dari praktikum ini yaitu untuk mengetahui teknik penetasan dan
perhitungan cyst A. salina dengan cara dekapsulasi dan non dekapsulasi. Kegunaan
dari praktikum ini yaitu memberikan keterampilan sehingga mampu menetaskan cyst
A. salina .

C. Ruang Lingkup

Ruang lingkup praktikum ini yaitu pembuatan wadah penetasan cyst dan teknik
penetasan cyst serta perhitungsn A. salina yang di lakukan di Laboratorium.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. Artemia

Artemia merupakan pakan alami yang sangat penting dalam pembenihan ikan
laut, krustacea, ikan konsumsi air tawar dan ikan hias. Ini terjadi karena artemia
memiliki gizi yang tinggi, serta ukurannya sesuai dengan bukaan mulut hampir seluruh
jenis larva ikan (Djarijah, 2003).
Artemia, satu-satunya genus dalam keluarga artemidae. Pertama kali ditemukan di
Lymington, inggris pada tahun 1755. Artemia ditemukan diseluruh dunia dipedalaman
saltwater tetapi tidak di lautan. Artemia hidup di perairan yang berkadar garam tinggi,
yaitu antara 15-30 ppt. Pada salinitas yang terlalu tinggi, telur tidak akan menetas yang
disebabkan tekanan osmosis dari luar tubuh lebih tinggi, sehingga telur tidak dapat
menyerap air yang cukup untuk metabolismenya (Dhert, 1980).
Menurut Bougis (1979) dalam Kurniastuty dan Isnansetyo (1995) A. salina
diklasifikasikan sebagai berikut:
Phylum : Anthropoda
Kelas: Crustacea
Subkelas: Branchiopoda
Ordo: Anostraca
Familia: Artemidae
Genus: Artemia
Spesies: A. salina

Gambar 1. A. salina
Kista A. salina. yang ditetaskan pada salinitas 15-35 ppt akan menetas dalam
waktu 24-36 jam pada suhu 250C. Larva artemia yang baru menetas dikenal dengan
nauplius. Nauplius dalam pertumbuhannya mengalami 15 kali perubahan bentuk,
masing-masing perubahan merupakan satu tingkatan yang disebut instar (Pitoyo,
2004).

Gambar 2. Siklus hidup A. salina


Nauplius stadia I (Instar I) ukuran 400 mikron, lebar 170 mikron dan berat 15
mikrongram, berwarna orange kecoklatan. Setelah 24 jam menetas, naupli akan
berubah menjadi Instar II, Gnatobasen sudah berbulu, bermulut, terdapat saluran
pencernakan dan dubur. Tingkatan selanjutnya, pada kanan dan kiri mata nauplius
terbentuk sepasang mata majemuk. Bagian samping badannya mulai tumbuh tunas-
tunas kaki, setelah instar XV kakinya sudah lengkap sebanyak 11 pasang. Nauplius
menjadi artemia dewasa (Proses instar I-XV) antara 1-3 minggu (Mukti, 2004).
Pada tiap tahapan perubahan instar nauplius mengalami moulting. Artemia
dewasa memiliki panjang 8-10 mm ditandai dengan terlihat jelas tangkai mata pada
kedua sisi bagian kepala, antena berfungsi untuk sensori. Pada jenis jantan antena
berubah menjadi alat penjepit (muscular grasper), sepasang penis terdapat pada
bagian belakang tubuh. Pada jenis betina antena mengalami penyusutan. Jika
kandungan oksigen optimal, maka artemia akan berwarna kuning atau merah jambu.
Warna ini bisa berubah menjadi kehijauan apabila mereka banyak mengkonsumsi
mikroalga. Pada kondisi yang ideal seperti ini, artemia akan tumbuh dengan cepat
(Priyambodo dan Triwahyuningsih,2003).
Kista Artemia berbentuk bulat berlekuk dalam keadaan kering dan bulat penuh
dalam keadaan basah. Warnanya coklat yang diselubungi oleh cangkang yang tebal
dan kuat. Cangkang ini berguna untuk melindungi embrio terhadap pengaruh
kekeringan, benturan keras, sinar ultra violet dan mempermudah pengapungan
(Mudjiman, 2008).
Artemia memiliki kemampuan beradaptasi dengan cepat terhadap variasi tingkatan
oksigen di perairan dengan menghasilkan hemoglobin untuk meningkatkan afinitas
oksigen. Kandungan oksigen terlarut yang baik untuk pertumbuhan artemia adalah di
atas 3 mg/L namun kadar oksigen kurang dari 2 mg/L dapat menjadi pembatas
produksi biomasa artemia (Harefa, 1996).

B. Penetasan A. salina secara dekapsulasi dan non dekapsulasi

A. salina berkembang biak secara seksual. Artemia menjadi dewasa setelah


berumur 10-14 hari. Mulai umur ini Artemia sudah mulai berenang bergandengan
(riding position), yang jantan mencapit perut yang betina. Capit ini merupakan
perubahan antenae kedua, sedangkan pada yang betina tetap merupakan antenae.
"Riding position" dapat berlangsung sampai sepekan, sedangkan kopulasi hanya
berlangsung singkat. Artemia betina segera membentuk telur pada dua kantong telur
dan kedua kantong telur tersebut akan bergabung yang mempunyai satu saluran telur.
Sutaman (1993) mengatakan bahwa penetasan cystae artemia dapat dilakukan
dengan 2 cara, yaitu penetasan langsung dan penetasan dengan cara dekapsulasi.
Cara dekapsulasi dilakukan dengan mengupas bagian luar kista menggunakan larutan
hipoklorit tanpa mempengaruhi kelangsungan hidup embrio. Cara dekapsulasi
merupakan cara yang tidak umum digunakan pada panti-panti benih, namun untuk
meningkatkan daya tetas dan meneghilangkan penyakit yang dibawa oleh cytae
artemia cara dekapsulasi lebih baik digunakan. Perbedaan kedua metode tersebut
hanya terdapat pada penambahan larutan seperti natrium hipoklorit terhadap metode
dekapsulasi, sedangkan non dekapsulasi tanpa menggunakan larutan tambahan
(Pramudjo dan Sofiati, 2004).
Menurut Harefa (1996), untuk melakukan kegiatan penetasan diperlukan wadah
dan perangkat suplai oksigen. Adapun bentuk wadah untuk penetasan tersebut
berupa kerucut dengan ukuran tergantung kebutuhan. Suplai oksigen dijamin dengan
dibuatnya sistem aerasi dalam wadah. Kepadatan maksimal telur adalah 3 gr/ltr air.
Tingkat kepadatan optimal adalah sekitas 2-5 gr/ltr air. Sebagai media tetas digunakan
air yang di campur garam, dengan salinitas antara 30 – 35 ppt dan suhu air 250-350C.
Dalam keadaan normal, kurang dari 48 jam kemudian telur akan menetas menjadi
bentuk nauplius.
Gambar 3. Alat penetasan Artemia (www. Oseanografi lipi.go.id)
Ket :
1. Silinder boks
2. Silinder dalam
3. Silinder luar
4. Tutup
5. Celah-celah
6. Kran pembuangan
Telur-telur yang sudah mengalami ''dekapsulasi" dapat langsung diberikan pada
benih ikan udang, langsung ditetaskan atau disimpan. Penyimpanan dapat dilakukan
dengan cara perendaman dalam larutan garam dan disimpan dalam ruang gelap untuk
beberapa hari. Dapat pula disimpan pada suhu 4°C atau kurang selama 8 pekan
(Goretti, 1984)
BAB III
METODOLOGI PRAKTIKUM

A. Waktu dan Tempat

Praktikum Penetasan Cyst A. salina dilaksanakan pada hari Kamis 10 Oktober


2019 pukul 13.00-15.00 WITA yang bertempat di Laboratorium Perbenihan dan
Penangkaran Biota Laut, Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan, Universitas
Hasanuddin, Makassar.

B. Alat dan Bahan

Alat-alat yang digunakan pada praktikum ini yaitu handcounter yang berfungsi
untuk menghitung cyst A. salina, timbangan digital yang berfungsi untuk menimbang
cyst A. salina, botol 1,5 L berfungsi sebagai wadah penetasan A. salina, cutter
berfungsi untuk memotong bagian bawah botol, solder berfungsi untuk melubangi
tutup botol, lem tembak berfungsi untuk menyatukan pipet dengan lubang pada tutup
botol, serta kamera berfungsi untuk dokumentasi kegiatan pada saat praktikum.
Bahan yang digunakan pada praktikum ini yaitu cyst A. salina berfungsi sebagai
objek yang akan dihitung jumlahnya, larutan hipoklorit/bayclin yang berfungsi untuk
menghilangkan lapisan luar kista, larutan HCL dan air laut berfungsi untuk dihidrasi
kista yang telah didekapulasi, kertas hvs berfungsi sebagai wadah tempat menghitung
cyst A. salina, pilox berfungsi untuk memberikan warna hitam pada tubuh botol, lakban
berfungsi untuk menutupi bagian atas botol.

C. Prosedur Kerja

Praktikum Penetasan Cyst A. salina terdiri dari beberapa tahapan yaitu pembuatan
wadah penetasan, perhitungan dan penetasan cyst. Adapun masing-masing prosedur
kerja dari setiap tahapan antara lain sebagai berikut :
1. Pembuatan Wadah Penetasan
Prosedur kerja pembuatan wadah penetasan yaitu menyiapkan alat dan bahan,
memotong bagian bawah botol menggunakan cutter lalu menutup bagian atas botol
menggunakan lakban dan kertas sehingga hanya tersisa bagian tubuh hal ini dilakukan
untuk mencegah bagian ini tidak terkena pilox, kemudian mengecat bagian tubuh botol
menggunakan pilox lalu menjemur botol hingga kering. Setelah itu membuat lubang
pada tutup botol mengunakan solder kemudian memasukkan pipet kecil pada lubang
ditutup botol, pipet yang telah dimasukkan kedalam lubang di lem menggunakan lem
tembak.
2. Perhitungan Cyst
Prosedur kerja perhitungan cyst yaitu menyiapkan alat dan bahan, mengkalibrasi
timbangan digital kemudian meletekkan cyst A. salina diatas timbangan secara
bertahap hingga beratnya mencapai 0.30 gram. Setelah itu cyst di pindahkan pada
kertas hvs yang telah di beri grid kemudian menghitung cyst pada setiap grid
menggunakan hand tally counter. Hasil perhitungan cyst pada setiap grid kemudian
dijumlahkan untuk mengetahui jumlah cyst secara keseluruhan.

3. Penetasan Artemia salina


a. Dekapsulasi
Prosedur kerja penetasan cyst dengan cara dekapsulasi yaitu menyiapkan alat
dan bahan, memasukkan cyst yang telah di hitung dalam wadah toples kaca yang
telah di isi dengan air tawar 1 L kemudian cyst yang berada di dalam wadah diaduk
hingga menyebar dalam kolom air lalu diberikan aerasi selanjutnya menunggu selama
1 jam. Cyst yang telah didiamkan selama 1 jam kemudian di saring dan di masukkan
kembali dalam wadah toples kaca yang berisi air tawar 1 L, setalah itu cyst di
dekapsulasi dengan menambahkan larutan hipoklorit sebanyak 0.5 ml lalu diaduk
dengan cepat selama 15 menit dan di berikan aerasi kuat selanjutnya cyst di saring
dan di cuci sampai bersih hingga bau klorin hilang. Cyst yang telah di cuci bersih
kemudian di celupkan sebanyak 2 kali kedalam larutan HCL 0.1 N lalu kembali di cuci
sampai bersih selanjutnya cyst dimasukkan dalam wadah penetasan yang berisi air
laut 1 L dan di berikan pencahayaan menggunakan lampu neon serta di berikan aerasi
selanjutnya menunggu selama 24 jam. Cyst yang telah menetas selama 24 jam
kemudian diambil sebanyak 1 ml menggunakan pipet tetes lalu dituang dalam cawan
petri, setelah itu menghitung jumlah individu naupli artemia salina yang berada dalam
cawan petri.
b. Nondekapsulasi
Prosedur kerja penetasan cyst dengan cara nondekapsulasi yaitu menyiapkan alat
dan bahan, memasukkan cyst yang telah di timbang dalam wadah penetasan yang
berisi air laut 1 L dengan di berikan pencahayaan menggunakan lampu neon serta di
berikan aerasi menunggu selama 24 jam. Cyst yang telah menetas selama 24 jam
kemudian diambil sebanyak 1 ml menggunakan pipet tetes lalu dituang dalam cawan
petri, setelah itu menghitung jumlah individu naupli artemia salina yang berada dalam
cawan petri.
D. Analisis Data
∑𝑁
𝐻𝑅 =
̅̅̅̅̅
∑ 𝐶
Keterangan :
HR = derajat penetasan
∑𝑁 = jumlah cyst yang menetas
̅̅̅̅̅
∑𝐶 = rata-rata jumlah cyst yang akan di tetaskan
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Hasil
Tabel 1. Jumlah cyst yang akan ditetaskan
Pengamat Jumlah Cyst yang akan ditetaskan
Kelompok 1 42752
Kelompok 2 27469
Kelompok 3 32369
Kelompok 4 73325
̅̅̅̅̅
Rata-Rata (∑ 𝐶) 43,97875

Table 2. Hasil penetasan cyst


Perlakuan Cyst yang Menetas (∑ 𝑁)
Dekapsulasi 24.000 Ind/L
Nondekapsulasi 45.000 Ind/L

Gambar 4. Naupli Artemia salina hasil dekapsulasi dan nondekapsulasi

B. Pembahasan
Dari hasil praktikum yang telah dilakukan penetasan A.salina memerlukan
beberapa tahapan yaitu pembuatan wadah, perhitungan cyst dan penetasan dengan
menggunakan dua teknik yaitu dekapsulasi dan non dekapsulasi. Wadah yang
digunakan untuk menetaskan cyst memiliki beberapa persyaratan yaitu dasarnya
berbentuk kerucut, berbahan dasar plastic serta terdapat aerasi. Hal ini sesuai dengan
pernyataan Panggabean (1984) yaitu untuk mendapatkan hasil penetasan yang baik
dapat digunakan wadah yang dasarnya berbentuk kerucut, bentuk dasar kerucut tidak
memerlukan aerasi yang terlampau kuat sehingga sedikit aerasi dari dasar kerucut
sudah dapat memberikan adukan pada cyst A.salina. Wadah yang berbahan dasar
plastic digunakan untuk menetaskan cyst agar cahaya dapat menembus masuk
sehingga kista-kista yang telah terhidrasi dalam kondisi aerob dapat diransang dengan
cahaya yang masuk. Selain itu adanya aerasi dalam wadah penetasan sangat di
perlukan sebagai suplai oksigen yang dibutuhkan untuk perkembangan embryonal
A.salina. Menurut Panggabean (1984), aerasi harus diberikan terus sampai terjadi
penetasan selain sebagai suplai oksigen untuk perkembangan embryonal, aerasi juga
dibutuhkan untuk mencegah terjadinya pengendapan kista-kista di dasar tangka. Jika
terjadi pengendapan kista didasar tangka dapat menimbulkan konidisi anaerob
sehingga perkembangan embryonal akan terhambat.
Sebelum penetasan A.salina berlangsung terebih dahulu dilakukan perhitungan
cyst dengan bobot sampel cyst yang akan dihitung sebesar 0,3 gram. Hasil
perhitungan cyst yang di peroleh dari kelompok 3A sebesar 32,369 butir cyst. Setelah
di rata-ratakan dengan jumlah perhitungan cyst dari kelompok 1A, 2A dan 4A maka di
peroleh persentase rata-rata jumlah telur yang akan ditetaskan sebesar 43,97875.
Pada praktikum penetasan artemia dilakukan dengan dua metode yaitu
dekapsulasi dan non dekapsulasi, untuk membandingkan metode yang dapat
menetaskan cyst artemia dengan derajat penetasan yang lebih tinggi. Jangka waktu
yang dilakukan untuk penetasan cyst yaitu 24 jam. Saat praktikum cyst dimasukkan
dalam wadah penetasan pada pukul 15.00 WITA sehingga perkiraan cyst akan
menetas pada pukul 15.00 WITA keesokan harinya. Kemudian dilakukan perhitungan
cyst yang telah menetas menjadi naupli dengan mengambil sampel dari kedua wadah
penetasan masing-masing sebanyak 1 mL dari 1 L air yang terdapat pada wadah
penetasan. Penetasan yang menggunakan metode dekapsulasi di peroleh hasil 24
ind/mL atau sebanyak 24.000 ind/L dengan derajat penetasan sebesar 54,571%.
Sedangkan untuk penetasan artemia dengan metode nondekapsulasi di peroleh hasil
45ind/mL atau sebanyak 45.000 ind/L dengan derajat penetasan sebesar 102,322%.
Penetasan cyst yang dilakukan kelompok 3A menghasilkan data yang menyimpang
dimana metode nondekapsulasi memiliki tingkat derajat penetasan yang lebih tinggi
dibandingkan dengan metode dekapsulasi. Penetasan dengan metode dekapsulasi
seharusnya menghasilkan jumlah naupli yang lebih banyak dibandingkan dengan
metode nondekapsulasi, hal ini sesuai dengan pernyataan Panggabean (1984), sekitar
95% kista-kista yang telah mengalami "dekapsulasi" dapat menetas. Dari penetasan
yang dilakukan kelompok 3A berarti metode dekapsulasi memiliki persentasi jumlah
cyst yang mati lebih besar sedangkan metode nondekapsulasi memiliki jumlah cyst
yang mati lebih kecil.
Hasil derajat perhitungan cyst yang menyimpang dapat disebabkan oleh beberapa
factor yaitu ketidakakuratan saat melakukan perhitungan cyst dan perhitungan naupli
A.salina. Perhitungan cyst dari 4 kelompok memiliki selisih yang cukup besar yaitu
42752 kelompok 1A, 27469 kelompok 2A, 32369 kelompok 3A dan 73325 kelompok
4A sedangkan bobot cyst yang digunakan dalam perhitungan sama disetiap kelompok
sebesar 0,3 gram. Selain itu hasil yang menyimpang juga disebabkan oleh factor
kelalaian dari praktikan dimana saat akan memasukkan cyst dalam wadah penetasan
dekapsulasi, beberapa cyst tertumpah sehingga mengurangi jumlah cyst yang akan di
tetaskan dari jumlah sebelumnya yang telah ditimbang.
BAB V
PENUTUP
A. Kesimpulan
Dari praktikum yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa wadah yang
digunakan dalam penetasan harus berbentuk kerucut, penyinaran cahaya harus terus
berlangsung selama proses penetasan serta suplai oksigen dengan aerasi juga harus
terus berlangsung. Selain itu penetasan cyst dilakukan dengan dua metode yaitu
metode dekapsulasi dengan derajat penetasan 54,571 % dan metode nondekapsulasi
dengan derajat penetasan 102,322 %

B. Saran
Disarankan dalam perhitugan cyst A.salina lebih berhati-hati agar jumlah cyst yang
telah dihitung saat ditimbang kembali sesuai dengan timbangan awal sehingga cyst
yang akan ditetaskan tidak menghasilkan data yang menyimpang.
DAFTAR PUSTAKA

Dhert, P., P. Sorgeloos, and B. Devresse. 1980. Contribution toward a specific DHA
enrichment in the live food Brachionus plicatilis and Artemia salinaI : Reinertsen,
H., L.A. Dahle, L. Jorgensen, and K. Tvinnereim (eds). Proceeding of The First
National Conference of Fish Farming Technology. Rotterdam: Comittee of the
First National Conference of Fish Farming Technology.
Djarijah, Abbas Siregar. 2003. Pakan Ikan Alami. Yogyakarta : Kanisius.
Djokosetiyanto.,Dade, J., Fairus, M., S. 2007. Kualitas Penetasan Kista Artemia Yang
Dibudidaya Pada Berbagai Tingkat Perubahan Salinitas. Jurnal Ilmu-Ilmu
Perairan Dan Perikanan Indonesia.Vol 14(2): 81-85. Balai Besar Pengembangan
Budidaya Air Payau. Jepara.
Goretti,M.L.P. 1984. Teknik penetasan dan pemanenan Artemia salina. [Jurnal].
Oseana. Vlo. IX. No. 2. ISSN 0216-1877.
Harefa, 1996. Laporan Kegiatan Kultur Kopepoda dan Artemia dengan Pakan
Fermentasi, Dirjen perikanan BBL Lampung.
Harefa, F., 1996. Pembudidayaan Artemia Untuk Pakan Udang dan Ikan. Jakarta : PT.
Penebar Swadaya.
Isnansetyo, A, dan Kurniastuty, 1995, Teknik Kultur Phytoplankton dan Zooplankton
Pakan Alami Untuk Pembenihan Organisme Laut, Cetakan I, Penerbit Kanisius,
Yogyakarta,52-57.
Mudjiman, A. 2008. Makanan Ikan Edisi Revisi. Jakarta : Penebar Swadaya.
Panggabean, M.G.L.1984. Teknik Penetasan Dan Pemanenan Artemia Salina.
Oseana. Vol(IX).No(II): 57 - 65.
Pramudjo dan Sofiati, 2004.Prospek Teknik Produksi Cyste Brine Shrimp (Artemia
salina LEACH) di Indonesia. Fakultas Perikanan, Unsrat-Manado.
Priyambodo dan Wahyuningsih, Tri. 2003. Budidaya Pakan Alami Untuk Ikan. Jakarta :
Penebar Swadaya Sumeru, Sri Umiyati, Ir. 2008. Produksi Biomassa Artemia.
Sukariani., Muhammad., J.,Bagus.,D.,H. 2014. Pertumbuhan Dan Kelangsungan Hidup
Artemia Sp. Dengan Pemberian Pakan Alami Yang Berbeda. Univeritas Mataram
Sutaman. 1993. “Petunjuk Praktis Pembenihan Udang Windu Skala Rumah Tangga”
Yogyakarta:Penerbit Kanisius.
Widodo,A., Mulyana.,Fia.,S.,M. 2016. Pengaruh Lama Waktu Perendaman Dan
Larutan Dekapsulasi Terhadap Penetasan Siste Artemia Sp. Jurnal Mina Sains.
Vol 2 (1) : 31-38.
LAMPIRAN
Lampiran 1. Alat dan Bahan
a. Alat dan Bahan

Gambar 5. Alat-Alat

Gambar 6. Bahan-bahan
Lampiran 2. Tahapan Kerja dalam Praktikum
a. Proses Pembuatan Wadah

Gambar 7. Proses Pemotongan Bagian Bawah Botol Cocacola

Gambar 8. Proses Penutupan Bagian Atas Botol Cocacola

Gambar 8. Proses Pengecetan Botol Cocacola


Gambar 9. Proses Pelubangan Tutup Botol

Gambar 10. Proses Pemotongan Pipet

Gambar 11. Proses Pemasangan Pipet Pada Tutup Botol


b. Perhitungan Cyst Artemia yang akan ditetaskan

Gambar 11. Proses penimbangan telur Artemia

Gambar 12. Hasil perhitungan Cyst


Gambar 13. proses perhitungan cyst

c. Penetasan cyst dekapsulasi dan non dekapsulasi

Gambar 14. proses pengadukan cyst didalam wadah berisi air laut

Gambar 15. Cyst sebelum (kiri) dan setelah di diamkan selama 1 jam (kanan)
Gambar 16. proses penyaringan cyst yang telah di hidrasi

Gambar 17. proses memasukkan kembali cyst dalam wadah air laut

Gambar 18. Proses penambahan larutan hipoklorit


Gambar 19. proses pencelupan dalam larutan HCL dan pembilasan

Gambar 20. proses penuangan air laut dalam wadah dekapsulasi dan non dekapsulasi

Gambar 21. proses memasukkan cyst dalam wadah dekapsulasi dan non dekapsulasi
Gambar 22. cyst siap ditetaskan dalam wadah dekapsulasi dan nondekapsulasi
(kelompok 3)

Gambar 23. proses pengambilan nauplii artemia salina yan akan di hitung

Gambar 24. naupli artemia salina hasil dekapsulasi dan nondekapsulasi


Lampiran 3. Perhitungan

a. Dekapsulasi
∑𝑁
𝐻𝑅 =
̅̅̅̅̅
∑𝐶
24000
=
43,97875
= 54,571 %
b. Nondekapsulasi

∑𝑁
𝐻𝑅 =
̅̅̅̅̅
∑ 𝐶
45000
=
43,97875
= 102,322 %

Anda mungkin juga menyukai