Anda di halaman 1dari 10

TINJAUAN PUSTAKA

Legum merupakan tanaman yang cocok untuk makanan ternak terutama sebagai
makanan penambah konsentrat. Sebagian besar legum ditanam guna memenuhi gizi dari
ternak tersebut. Salah satu legum yang digunakan sebagai penambah konsentrat adalah
kacang kedelai. Kedelai merupakan salah satu sumber protein nabati dengan kandungan
39%, dan 2% dari seluruh rakyat indonesia memperoleh sumber kalori dari kedelai,
kedelai telah menjadi bagian makanan sehari-hari bangsa Indonesia selama lebih dari
200 tahun dan diakui mempunyai nilai gizi tinggi oleh dunia internasional (Sutarya et al.,
1995).

Tanaman legum di daerah tropis berdasarkan lingkungannya dibedakan menjadi


beberapa macam. Di lingkungan tropis basah banyak ditumbuhi oleh legum jenis kalopo,
sentrsoma dan dismodium. Di lingkungan tergenang sementara terdapat rumput
spesies Pahaseolus lathyroides. Di lingkungan tropis kering terdapat rumput-rumputan
jenis Stylosantes, Dolichos, Cajanus, Medicago dan Trifolium yang mempunyai sifat
tumbuh annual. Sedangkan di daerah pegunungan terdapat jenis rumput Trifolium, jenis
ini biasanya memerlukan air yang cukup banyak (Reksohadiprodjo, 1995).

Secara umum legum mempunyai ciri mempunyai bintil akar yang dapat berfungsi
sebagai penyubur tanah. Daunnya berbentuk kecil-kecil dan bersirip tunggal, buahnya
termasuk buah polong. Bunganya berbentuk kupu-kupu, pada legum spesies pohon
biasanya berakar tunggang, sedangkan legum yang bukan spesies pohon berakar
serabut. Mampu mengikat nitrogen bebas dari udara, legum tropik biasanya
bersifat perennial (hidup lebih dari satu tahun). Sifat tumbuhnya merayap dan membelit
batang-batang dapat mengeluarkan akar dari tiap ruas batangnya. Ada juga spesies
legum yang tumbuh tegak. Beberapa spesies legum yang biasa digunakan sebagai
penutup tanah diantaranya adalah Centrosema pubescens, Calopogonium
mucunoides, Pueraria javanica, Crotalaria juncea, dan Crotalaria
usaramoensis (Kariada et al., 2000).

Leguminosa sering digunakan oleh peternak untuk tujuan tertentu, disamping


sebagai sumber zat–zat pakan. Apabila dicampur dengan graminae akan baik karena
merupakan gabungan antara bahan pakan yang kaya akan zat–zat pakan dan sifat
mengisi dari graminae. Legum mengandung serat yang dibutuhkan ternak dan juga
protein dan zat hijau (Parakkasi, 2009).
HASIL DAN PEMBAHASAN

Legum

Berdasarkan praktikum diperoleh hasil identifikasi legum sebagai berikut:

Tabel 2. Identifikasi legum

Nama Latin Nama Tipe


Umum
Daun Tumbuh Bunga

Sesbania sesban Jayanti Imparipinate Erect Kupu-kupu

Stylosanthes scabra Kacang Trifoliate Decumben Papilionaceae


stilo

Calliandra calothyrsus Kaliandra Bipinate Erect Bola

Bauhinia blakeana Tayuman Simple Erect Terompet

Desmodium rensonii Desmodium Trifoliate Erect Kupu-kupu

Gliricidia maculata Gamal Imparipinate Erect Kupu-kupu

Mimosa invisa Putri malu Bipinate Erect Bola

Pueraria triloba Kacang Trifoliate Procumben Papilionaceae


kudzu

Indigofera arrecta Tarum Imparipinate Erect Kupu-kupu

Arachis glabrata Kacang Paripinate Decumben Papilionaceae


arachis

Sesbania sesban. Berdasarkan hasil praktikum diperoleh bahwa Sesbania


sesban bertipe tumbuh erect, tipe daun paripinate, tipe bunga kupu-kupu. Menurut
Nigussie et al., (2013), Sesbania sesban adalah semak batang atau pohon berumur
pendek yang dapat tumbuhhingga 8 m sampai 20 m diameter batangnya. Tanaman ini
cepat tumbuh dan tumbuh dengan tinggi 4,5 m sampai 6 m dalam satu tahun, dan
biasanya bunga menghasilkan polong matang pada tahun pertama setelah penanaman.
Jika pohon-pohon yang ditanam secara luas jaraknya biasanya banyak cabang
menyamping. Daun paripinate sempit, panjang 12 cm sampai 18 cm panjangnya dan
terdiri dari 6 sampai 27 pasang selebaran bulat atau lonjong. Pohon S. sesban memiliki
20 bunga yang berwarna kuningdengan garis-garis ungu atau coklat pada mahkota.
Bunga sangat menarik dan berwarna kuning, merah, keunguan, beraneka ragam atau
bergaris, putih besar atau kecil, tangkai ramping, soliter atau raceme. Kelopak bundar
standar atau obovate. Hasil praktikum telah sesuai dengan literatur.u

Menurut Wardiyono (2015), Sesbania sesban merupakan perdu, tahunan, tingi ±


6 m. Batang tegak, bulat, berkayu, kasar, percabangan simpodial, putih kotor. Daun
majemuk, lonjong, tersebar, panjang ± 2,5 cm, lebar ± 0,5 cm, ujung dan pangkal turnpul,
pertulangan menyirip, tangkai berlekuk, panjang + 0,5 cm, hijau. Bunga majemuk, di
ketiak daun, tangkai silindris, panjang 4 sampai 5 cm, hijau, benang sari bentuk tabling,
panjang + 1 cm, putih, putik bertangkai, melengkung, panjang + 1 cm, hijau, mahkota
bentukupu-kupu, kuning pucat. Buah membentuk polong, panjang ± 20 cm, masih muda
hijau setelah tua coklat. Biji lonjong, panjang + 0,5 cm, kuning kecoklatan, akar tunggang,
berbintik-bintik, coklat.

Stylosanthes scabra. Berdasarkan hasil praktikum diperoleh bahwa


Stylosanthes scabra bertipe tumbuh tumbuh erect, bertipe daun trifoliate, bertipe bunga
papilionaceae dan memiliki nama local kacang stilo. Batang kayu ditutupi dengan rambut
pendek dan beberapa di antaranya mengandung getah. Batang yang lebih muda memiliki
warna yang bervariasi mulai dari hijau pucat sampai coklat atau berwarna kemerahan,
sedangkan batang yang lebih tua berwarna coklat atau keabu-abuan.

Chakraborty, et al (1998) menyatakan bahwa daun kacang stilo bergantian


bersusun secara majemuk dan terdiri dari tiga selebaran. Daun ini masing-masing
memiliki dua struktur berdaun bergigi 15 sampai 25 mm di dasarnya, dan ditumbuhi
tangkai 5-20 mm. Selebaran berbentuk oval atau agak memanjang dalam bentuk dengan
seluruh margin dan tip tajam atau bulat. Selebaran daun memiliki panjang sekitar 16-25
mm dan lebar sekitar 3,5-9 mm dilipat secara longgar di rambut pada kedua permukaan.
Caliandra calothyrsus (kaliandra). Berdasarkan hasil praktikum diperoleh
bahwa Caliandra calothyrsus bertipe tumbuh erect, tipe daun bipinate, tipe bunga bola.
Menurut Anonim (2014), kaliandra termasuk kelompok plantae, family fabaceae yang
banyak tumbuh di daerah dataran rendah hingga dataran tinggi hingga 1500 m dari
permukaan laut. Keunggulan kaliandra adalah dapat tumbuh dengan baik pada musim
kemarau walaupun tidak sebaik pertumbuhannya dikala musim hujan, kecuali pada rawa
kaliandra tidak dapat tumbuh. Kaliandra dapat digunakan sebagai penahan erosi tanah
dan air, karena memiliki akar yang berbintil. Hasil praktikum telah sesuai dengan literatur.

Menurut Utomo (2012), Calliandra calothyrsus atau disebut Kaliandra merupakan


legum semak. Ada dua macam kaliandra, yaitu kaliandra yang banyak dijumpai adalah
yang berbunga merah. Seperti legum pada umumnya, daun kaliandra mengandung
protein cukup tinggi sehingga baik untuk pakan, tetapi mengandung antikualitas berupa
tanin.

Bauhinia blaceana. Berdasarkan hasil praktikum diperoleh bahwa Bauhina


blaceana bertipe tumbuh erect, tipe daun simple, tipe bunga kupu-kupu berwarna ungu.
Tayuman bertipe tumbuh erect, tipe daun simple. Menurut Anonim (2014), daun tayuman
simple, bunga menyerupai kupu-kupu sehingga di Indonesia disebutnya bunga Kupu-
Kupu. Biasanya ditemukan sebagai daun yang dikeringkan dan dibuat penutup buku atau
barang hiasan lainnya. Tinggi tanaman tayuman dapat mencapai 17 kaki. Hasil praktikum
telah sesuai dengan literatur.

Menurut Purbajanti (2013), tanaman ini sering disebut sebagai tayuman. Tayuman
merupakan salah satu pohon legum tahunan yang memiliki daun yang simple dan apabila
tumbuh tingginya dapat mencapai 17 kaki, dengan tipe tumbuh erect atau tegak. Bentuk
bunga tayuman adalah papilionaceae.Tayuman berasal dari Asia Selatan. Manfaat
tayuman dapat dijadikan sebagai obat antibakteri dan antidiare.

Desmodium rensonii. Berdasarkan hasil praktikum diperoleh bahwa Desmodium


rensonii bertipe tumbuh erect, bertipe daun trifoliate, bertipe bunga papilionaceae serta
memiliki nama local desmodium. Bogdam (1997) menyatakan bahwa Legum ini memiliki
daun trifoliat yang berbentuk elips sampai oval dengan panjang 2-8 cm dan lebar 1-3 cm
dan dapat tumbuh tegak sampai ketinggian 1-2 m dari permukaan tanah dengan batang
berkayu dan memiliki bunga kupu-kupu berwarna ungu, putih atau kuning. Hasil
praktikum telah sesuai dengan literature.

Sayed dan Sembiring (2004) menyatakan bahwa tanaman ini berumur pendek
sekitar 2-3 tahun, tumbuh tegak berbentuk semak-semak dengan ketinggian 1-3
m,batang tegak memiliki beberapa cabang dan cenderung berkayu. Memiliki daun
tersusun dari tiga daun bulat atau bulat telur (oval) yang ujungnya agak meruncing.Daun
umumnya agak tebal, panjang 5-7 cm, ditutupi rambut lembut tersebar merata terutama
dibagian bawahnya. Bunga Desmodium rensonii berwarna ungu yang berada pada malai
terbuka besar, menghasilkan polong berisi 6-8 biji, tertaut antara masing-masing polong,
biji berbentuk simetris dengan ukuran kecil dan keras yaitu sekitar 3-4 mm.

Giliricidia muculata. Berdasarkan hasil praktikum diperoleh bahwa gama bertipe


tumbuh erect, tipe daun imparipinate, tipe bunga kupu-kupu. Menurut Yahya (2002),
gamal adalah tanaman leguminosa yang bersifat tahunan, merupakan tanaman berkayu.
Selain sebagai tanaman pakan, gamal dapat dimanfaatkan sebagai tanaman pagar atau
tanaman pencegah erosi. Hasil praktikum telah sesuai dengan literatur.

Menurut Kamal (1998), gamal merupakan leguminosa berumur panjang. Tanaman


ini dapat beradaptasi dengan baik pada lingkungan dengan temperatur suhu antara 20
sampai 30°C dengan ketinggian tempat antara 750 sampai 1200 m. Menurut Pramana et
al., (2010), ciri-ciri pada gamal diantaranya adalah pohonnya meranggas yang tingginya
mencapai 12 m, batang pendek, daunnya berseling, menyirip, warnanya kuning hijau dan
berambut halus.

Mimosa invisa. Berdasarkan hasil praktikum diperoleh bahwa Mimosa invisa


bertipe tumbuh erect, bertipe daun bipinate, bertipe bunga bola dan memiliki nama local
putri malu. Fredi (2015) menyatakan bahwa daun putri malu berupa daun majemuk yang
menyirip ganda dua sempurna. Jumlah anak daun sirip berkisar 5 – 26 pasangan, helaian
dain anak berbentuk memanjang sampai lanset, ujung meruncing, pangkal memundar,
bagian tepi merata. Batang tumbuhan putri malu berbentuk bulat, sleuruh batang di
selimuti oleh duri yang menempel, dengan panjang yang beragam tergantung dengan
pertumbuhan putri malu. Bunga tumbuhan putri malu berbentuk bulat, hampir
menyerupao bola dan tidak memiliki mahkota atau kelopak bunga besar seperti bunga
pada jenis tumbuhan lainnya. Hasil praktikum telah sesuai dengan literature.

Mimosa invisa mempunyai kekerabatan dengan putri malu (Mimosa pudica), daun
pada Mimosa invisa dapat pula menutup seperti pada putri malu, hanya saja kecepatan
rangsangnya berbeda dengan putri malu. Mimosa invisa memiliki kecepatan rangsang
yang lebih lambat dari putri malu (Mimosa pudica). Selain itu, batang pada Mimosa invisa
memiliki duri yang lebih rapat dan jika kita tertusuk durinya, bagian yang tertusuk duri itu
akan bengkak.

Pueraria triloba. Berdasarkan hasil praktikum diperoleh bahwa Pueraria


triloba bertipe tumbuh decumben, tipe daun trifoliate dan tipe
bunganya papilionaceae. Menurut Reksohadiprodjo (1995), legum ini mempunyai batang
yang berkayu atau pohon, membelit, merayap dan memanjat, dapat mengeluarkan akar
dari tiap ruas batangnya yang bersinggungan dengan tanah. Legum ini berakar dalam,
daunnya lebar, dan berlobi tiga meruncing, kadang-kadang lobi daun tidak ada. Bunga
legum ini berbentuk kupu-kupu yang tersusun pada setangkai tanda bunga, warna bunga
adalah ungu sampai ungu kebiruan. Hasil praktikum telah sesuai dengan literatur.

Indigofera arrecta. Berdasarkan hasil praktikum diperoleh bahwa Indigofera


arrecta bertipe tumbuh erect, bertipe daun imparipinate, bertipe bunga papilionaceae
serta memiliki nama local tarum. Schrire (2005) menyatakan bahwa tanaman Indigofera
adalah salah satu genus legum pohon terbesar dengan perkiraan 700 spesies, 45 jenis
tersebar diseluruh wilayah tropis. Spesies Indigofera kebanyakan berupa semak
meskipun ada beberapa yang herba, dan beberapa lainnya membentuk pohon kecil
dengan tinggi mencapai 5 sampai 6 meter. Ciri tanaman Indigofera memiliki daun yang
menyirip dengan ukuran 3-25 cm, dengan bunga kecil berbentuk raceme dengan ukuran
panjang 2-15 cm. Hasil praktikum tidak sesuai dengan literature.

Tanaman Indigofera memiliki banyak jenis spesies dan beberapa diantaranya


memiliki ciri fisik yang berbeda-beda. Identifikasi yang kurang teliti dapat menjadi salah
satu faktor ketidaksesuaian hasil praktikum dengan literature.
Arachis glabrata. Berdasarkan hasil praktikum diperoleh hasil bahwa Arachis
glabrata bertipe tumbuh decumbens, bertipe daun paripinnate, bertipe bunga
papilionaceae dan memiliki nama local kacang arachis. Schrire (2005) menyatatakan
bahwa jenis kacang tanah yang satu ini tumbuh secara lurus dan cenderung sedikit miring
ke atas. Buah kacang tanah ini terletak pada ruas-ruasnya yang dekat pada rumpun.
Pada umumnya berukuran pendek atau genjah dan tingkat kematangan buahnya
serempak. Hasil praktikum telah sesuai dengan literature.

Schrire (2005) menyatakan bahwa tanaman Kacang bisa dimanfaatkan untuk


makanan ternak, sedang bijinya dimanfaatkan sebagai sumber protein nabati , minyak
dan lain-lain. Sebagai tanaman budidaya, kacang tanah terutama dipanen bijinya yang
kaya protein dan lemak. Biji ini dapat dimakan mentah, direbus (di dalam polongnya),
digoreng, atau disangrai. Di Amerika Serikat, biji kacang diproses menjadi semacam
selai dan merupakan industri pangan yang menguntungkan. Produksi minyak kacang
mencapai sekitar 10% pasaran minyak masak dunia pada tahun 2003 menurut FAO.
DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 2014. http://www.situs-peternakan.com. Diakses 2 Maret 2018.

Bogdam, A. V. 1997. Tropical Pasture and Fodder Plant. Longman Group Ltd., London.

Chakraborty, D. F. Cameron, J.A.G. Irwing and L.A. Edye. 1998. Quantitatively


expressed resistance to anthracnose (Colletotrichum gloeosporioides) in
Stylosanthes scabra. Volume 37, Issue 4 December 1998 Pages 529–537

Kurniawan, Fredi. 2015. http://fredikurniawan.com/klasifikasi-dan-morfologi-tumbuhan-


putri-malu/. Diakses 3 Maret 2018.

Hasnudi, Sayed Umar, dan Iskandar Sembiring. 2004. Sumbang Saran untuk Kemajuan
Dunia Peternakan di Indonesia. Universitas Sumatera Utara, Medan.

Kamal, M. 1998.Nutrisi Ternak I. Rangkuman. Lab. Makanan Ternak, jurusan Nutrisi dan
Makanan Ternak, Fakultas Peternakan, UGM. Yogyakarta

Kariada, I.K. dan I.M. Sukadana. 2000. Liptan. No. Agdex : 253 dan 262/20. Denpasar

Nigussie, Zerihunand Getachew Alemayehu. 2013. Sesbania sesban (L.)Merrill:


Potential uses of an underutilized multipurpose tree in Ethiopia. Academics

Nyambati, E, M., Muyekho, F, N, dan Onginjo, E, dan Lusweti, C, M. 2010. Production,


characterization and nutritional quality of Napier grass cultivar in western Kenya.
Kenya Agricultural Research Institute, Kenya.

Parrakkasi, Aminudin.2009. Ilmu Nutrisi dan Makanan Ternak Ruminan.UI. Jakarta

Purbajanti, E. D. 2013.Rumput dan Legum sebagai Hijauan Makanan Ternak. Cetakan


pertama. Graha Ilmu Percetakan. Bogor.

Reksohadiprodjo, Soedomo. 1995. Pengantar Ilmu Peternakan Tropik. Gadjah Mada


University. Yogyakarta

Schrire, Brian. 2005. A review of tribe Indigofereae (Leguminosae–Papilionoideae) in


Southern Africa (including South Africa, Lesotho, Swaziland & Namibia; excluding
Botswana). South African Journal of Botany Volume 89, November 2013, Pages
281-283.

Sutarya, R dan Grubben, G. 1995.Pedoman Bertanam Sayuran Dataran Rendah.


Gadjah Mada University Press. Yogyakarta

Utomo, M., H. Buchari., I.S. Banuwa. 2012. Olah Tanah Konservasi: Teknologi Mitigasi
Gas Rumah Kaca Pertanian Tanaman Pangan. Lembaga Penelitian Universitas
Lampung. Bandar Lampung. 94 Halaman.
Wardiyono. 2015. Sesbania sesban. wwnkw.proseanet.org. diakses 15 Maret 2015

Yahya. 2002. Ilmu Pertanian. Erlangga, Jakarta.