Anda di halaman 1dari 28

Bab I

Pendahuluan

1.1 Latar Belakang

Konsep hidup sehat menurut Blum sampai saat ini masih relevan untuk
diterapkan. Blum menjelaskan terdapat empat faktor utama yang berpengaruh
terhadap derajat kesehatan, yang terdiri dari faktor perilaku atau gaya hidup (life
style) sebesar 30 %, faktor lingkungan (sosial, ekonomi, politik, budaya) sebesar
45 %, faktor pelayanan kesehatan (jenis cakupan dan kualitasnya) sebesar 20%
dan faktor genetik (keturunan) sebesar 5 %. 1 Keempat faktor tersebut saling
berinteraksi yang mempengaruhi kesehatan perorangan dan derajat kesehatan
masyarakat.
Lingkungan menjadi salah satu faktor determinan terbesar yang dapat
mempengaruhi kesehatan. Bahaya potensial terhadap kesehatan yang
diakibatkan oleh lingkungan dapat bersifat fisik, kimia ataupun biologi.
(Departemen kesehatan RI, 1999).
Transisi lingkungan dapat dilihat dengan adanya masalah yang berkaitan erat
dengan “traditional hazard” akibat belum terpenuhinya sanitasi dasar seperti air
bersih, jamban keluarga, pemukiman sehat, vektor penyakit, dll. 2,3 Disamping itu,
mulai muncul ”modern hazard” yang berupa pencemaran air, udara, dan tanah
sebagai akibat industrialisasi serta penerapan teknologi pembangunan. 2,3 Beban
ganda (traditional dan modern hazard) ini makin diperburuk dengan adanya
berbagai krisis yang sampai saat ini belum dapat diatasi. 3 Sementara itu,
Indonesia juga sedang mengalami “transformasi kesehatan” yang ditandai
dengan peningkatan penyakit berbasis lingkungan, yakni penyakit yang berkaitan
dengan lingkungan fisik, penyakit-penyakit ini cenderung meningkat bila tidak
diambil langkah-langkah antisipatif. (Departemen kesehatan RI,2002).
Angka kejadian penyakit-penyakit berbasis lingkungan (Depkes 2010) antara
lain Typhoid sebesar 1,6% dan Diare sebesar 9,0% dari total jumlah penduduk. 4
Sedangkan di Wilayah Kerja Puskesmas Loji, kejadian Diare sebesar 10,30 %,
Gangguan kulit 7,04 %, Typoid 6,58 % pada tahun 2012. Tingginya kejadian
penyakit berbasis lingkungan, mengindikasikan masih rendahnya cakupan dan

1
kualitas intervensi kesehatan lingkungan, dimana salah satunya adalah
kebutuhan akan air bersih.
Air bersih merupakan salah satu kebutuhan pokok sehari-hari, yang
digunakan sebagai air minum atau keperluan rumah tangga dan memenuhi
syarat kesehatan. Mengingat bahwa air dapat menjadi sumber penularan
berbagai penyakit, maka tujuan utama penyediaan air minum/bersih bagi
masyarakat adalah mencegah penularan penyakit melalui air.
Sarana Air Bersih (SAB) dikelola oleh dua departemen utama, yaitu
Departemen Pekerjaan Umum dan Departemen Kesehatan. 5 Konstruksi dan
teknis SAB menjadi tanggung jawab Departemen Pekerjaan Umum, sedangkan
Departemen Kesehatan meningkatkan kualitas manusia pemanfaat Sarana Air
Bersih.
Data dari Riskesdas (Riset Kesehatan Dasar) 2010 menunjukkan
penggunaan sumber air untuk memenuhi keperluan rumah tangga, yaitu : air
ledeng/PAM (19,5%), air ledeng eceran (1,3%), sumur bor/pompa (22,2%),
sumur gali terlindung (27,9%), sumur gali tak terlindung (10,2%), mata air
terlindung (8,4%), mata air tak terlindung (3,7%), penampungan air hujan (1,6%),
air sungai/danau/irigasi (4,9%), dan lainnya (0,4%). Dikatakan sarana air bersih
apabila sumber airnya berasal dari air ledeng/PAM, air ledeng eceran, sumur
bor/pompa, sumur gali terlindung, dan mata air terlindung. Dari data tersebut
daerah perkotaan memiliki cakupan Sumber air bersih sebesar 90,1%,
sedangkan dipedesaan sebesar 67,6 %.4
Sedangkan UPTD Puskesmas Loji tahun 2012, cakupan penggunaan sarana
air bersih oleh masyarakat di wilayah kerja UPTD Puskesmas Loji sebesar 15,56
% dan hasil pengawasan sarana air bersih sebesar 27,98 %. Hasil tersebut
belum sesuai dengan target yang ditetapkan oleh Dinas Kesehatan Kabupaten
Karawang sebesar 67,6% untuk penggunaan air bersih dan 80% untuk
pengawasan sarana air bersih, sehingga diperlukan evaluasi mengetahui
masalah yang terdapat di dalam unsur sistem pada program pengawasan sarana
air bersih di UPTD Puskesmas Loji, periode Januari sampai dengan Desember
2012.

1.2 Rumusan Masalah


2
Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan di atas, dapat dirumuskan
permasalahan sebagai berikut:
- Masih tingginya angka kejadian penyakit berbasis lingkungan di
Indonesia, Typhoid sebesar 1,6 % dan Diare sebesar 9,0 %
- Masih rendahnya penggunaan sarana air bersih untuk kebutuhan sehari-
hari oleh masyarakat, terutama di pedesaan sebesar 67,6 %.
- Masih tingginya angka kejadian penyakit berbasis lingkungan seperti
gangguan kulit 6,70% dan diare sebesar 2,40% di wilayah kerja UPTD
Puskesmas Loji tahun 2012.
- Masih rendahnya penggunaan sarana air bersih di wilayah kerja UPTD
Puskesmas Loji, 15,56% selama tahun 2012.
- Masih rendahnya pengawasan sarana air bersih di wilayah kerja UPTD
Puskesmas Loji, 27,98 % selama tahun 2012.
- Belum tercapainya target penggunaan sarana air bersih (80%) dan
pengawasan sarana air bersih (100%) di UPTD Puskesmas Loji,
kecamatan Tegalwaru, kabupaten karawang periode Januari sampai
dengan Desember 2012.

1.3 Tujuan
1.3.1 Tujuan umum
Diketahuinya masalah yang terdapat di dalam unsur-unsur sistem pada
program pengawasan sarana air bersih secara menyeluruh agar dapat
meningkatkan mutu dan jangkauan program pengawasan sarana air bersih
secara optimal di UPTD Puskesmas Loji periode Januari sampai Desember
2012 dengan harapan dapat menurunkan angka kesakitan dan angka
kematian akibat faktor resiko kurangnya sarana air bersih.

1.3.2 Tujuan khusus


1. Diketahuinya cakupan penduduk yang menggunakan sarana air bersih
untuk keperluan sehari-hari di wilayah kerja UPTD Puskesmas Loji
periode Januari sampai dengan Desember 2012.
2. Diketahuinya cakupan hasil inspeksi program pengawasan sarana air
bersih di wilayah kerja UPTD Puskesmas Loji periode Januari sampai
dengan Desember 2012
3. Diketahuinya cakupan pengambilan sampel air dalam pelaksanaan
program pengawasan sarana air bersih di wilayah kerja UPTD Puskesmas
Loji periode Januari sampai dengan Desember 2012.

3
4. Diketahuinya jumlah sarana air bersih dengan kualitas bakteriologi yang
memenuhi syarat kesehatan di wilayah kerja UPTD Puskesmas Loji
periode Januari sampai dengan Desember 2012.
5. Diketahuinya jumlah sarana air bersih dengan tingkat pencemaran air
yang rendah di wilayah kerja UPTD Puskesmas Loji periode Januari
sampai dengan Desember 2012.
6. Diketahuinya cakupan pencatatan dan pelaporan di UPTD Puskesmas
Loji, Kabupaten Karawang periode Januari sampai dengan Desember
2012.

1.4 Manfaat
1.4.1 Bagi Evaluator
a. Menerapkan ilmu yang telah diperoleh saat kuliah mengenai evaluasi
program dengan pendekatan sistem.
b. Melatih serta mempersiapkan diri dalam mengevaluasi program,
khususnya program kesehatan.
c. Mengetahui kendala-kendala yang dihadapi dalam mengambil langkah-
langkah yang harus dilakukan dalam mencapai tujuan yang telah
ditetapkan, antara lain perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan dan
pengawasan.

1.4.2 Bagi Perguruan Tinggi


a. Mengamalkan Tri Darma Perguruan Tinggi
b. Mewujudkan kampus sebagai masyarakat ilmiah dalam peran sertanya di
bidang kesehatan.

1.4.3 Bagi Puskesmas yang Dievaluasi


Dengan adanya masukan berupa hasil evaluasi dan saran sederhana
yang diusulkan, diharapkan dapat menjadi umpan balik positif bagi UPTD
Puskesmas Loji, Karawang dalam meningkatkan efisiensi dan efektivitas
program Pengawasan sarana air bersih, sehingga mutu dari pada pelayanan
Puskesmas ini menjadi lebih baik dalam meningkatkan derajat kesehatan
masyarakat.

1.4.4 Bagi Masyarakat


 Masyarakat mendapatkan air bersih yang layak untuk memenuhi
kebutuhan sehari-hari.

4
 Dengan tercapainya program diharapkan angka kejadian penyakit
berbasis lingkungan menurun, sehingga diharapkan terjadi peningkatan
taraf kesehatan masyarakat.

1.5 Sasaran
Semua rumah penduduk yang mempunyai sarana air bersih di
wilayah kerja UPTD Puskesmas Loji, Kabupaten Karawang periode januari
sampai dengan desember 2012.

Bab II

Materi dan Metode

2.1 Materi

Materi yang dievaluasi terdiri dari hasil laporan kegiatan bulanan


Puskesmas mengenai program Pengawasan Air Bersih di wilayah kerja UPTD
Puskesmas Loji, Kabupaten Karawang periode Januari sampai dengan
Desember 2012 yang terdiri dari :

1. Data tentang sarana air bersih yang digunakan .


2. Jumlah penduduk yang menggunakan sarana air bersih.
3. Hasil inspeksi sarana air bersih keluarga.
4. Cakupan pengambilan sampel air dalam pelaksanaan program pengawasan
sarana air bersih.

5
5. Jumlah sarana air bersih dengan kualitas bakteriologis yang memenuhi syarat
kesehatan.
6. Jumlah sarana air bersih yang mempunyai tingkat risiko pencemaran yang
rendah.
7. Pencatatan dan Pelaporan

2.2 Metode

Evaluasi program ini dilakukan dengan cara pengumpulan data yang


dikumpulkan untuk dievaluasi kemudian diolah, dianalisis dengan pendekatan
sistem dan diinterpretasikan sehingga ditemukan permasalahannya. Dari
permasalahan yang ditemukan tersebut kemudian diberi masukan dan saran
agar permasalahan pada program pengawasan sarana air bersih di wilayah
kerja UPTD Puskesmas Loji, Kabupaten Karawang periode Januari sampai
dengan Desember 2012 dapat terselesaikan, sehingga diharapkan dalam
pelaksanaan program pengawasan sarana air bersih kelak dapat dicapai hasil
sesuai target yang diharapkan.

Bab III

Kerangka Teoritis

3.1. Kerangka Teoritis


5
Lingkungan

1 2 3 6

Masukan Proses Keluaran Dampak

4
Umpan balik

Gambar 3. 1. Pendekatan Sistem

6
Pendekatan sistem adalah prinsip pokok atau cara kerja yang diterapkan pada
waktu menyelenggarakan pekerjaan administrasi. Sistem terbentuk dari elemen
yang saling berhubungan dan mempengaruhi. Elemen tersebut, yaitu:
1. Masukan (input) adalah elemen yang terdapat dalam sistem dan diperlukan
untuk dapat berfungsinya sistem.
2. Proses (process) adalah elemen yang mengubah masukan menjadi keluaran.
3. Keluaran (output) adalah elemen yang dihasilkan dari berlangsungnya proses
dalam sistem.
4. Umpan balik (feedback) adalah elemen yang merupakan keluaran dari sistem
dan sekaligus sebagai masukan bagi sistem tersebut.
5. Lingkungan (environment) adalah dunia di luar sistem yang tidak dikelola
sistem tapi mempunyai pengaruh besar terhadap sistem.
6. Dampak (impact) adalah akibat yang dihasilkan oleh keluaran suatu sistem.

3.2. Variabel dan Tolak Ukur


Tolok ukur keberhasilan terdiri dari variabel-variabel: masukan, proses, keluaran,
lingkungan, umpan balik dan dampak yang digunakan sebagai pembanding atau
target yang harus dicapai dalam program Pengawasan Air Bersih di wilayah kerja
UPTD Puskesmas Loji periode Januari sampai dengan Desember 2012.

7
Bab IV

Penyajian Data

4.1. Sumber Data

Data yang digunakan merupakan data sekunder yang berasal dari :

 Laporan bulanan dan tahunan Program Penyehatan Sarana Air Bersih


Puskesmas Loji periode Januari - Desember 2012.
 Laporan tahunan Pembangunan kesehatan Puskesmas Loji tahun
2012.
 Profil kesehatan Puskesmas Loji tahun 2012.

4.2. Data Umum

4.2.1 Data Wilayah Geografi


1) Lokasi Puskesmas
 Puskesmas Loji terletak di sebelah Selatan Kabupaten Karawang,
dimana Puskesmas Loji termasuk salah satu Puskesmas kecamatan
dari 30 kecamatan di Kabupaten Karawang. Puskesmas Loji terletak di

8
Jalan Raya Loji, Desa Cintalaksana, Kecamatan Tegalwaru, Kabupaten
Karawang Selatan, Jawa Barat.
 Batas wilayah kerja Puskesmas Kecamatan Loji adalah sebagai berikut:
Sebelah Utara : Berbatasan dengan Ciampel
Sebelah Selatan : Berbatasan dengan Bogor
Sebelah Barat : Berbatasan dengan Pangkalan
Sebelah Timur : Berbatasan dengan Purwakarta
2) Luas wilayah kerja
Luas wilayah kerja Puskesmas Loji 1.713.000m2, dengan kondisi fisik
dataran tinggi, di dominasi oleh sebagian besar tanah daratan seluas ± 75803
Ha diikuti dengan tanah sawah atau pertanian seluas ± 22128 Ha dan
pergunungan.

3) Wilayah Administrasi
Secara Administrasi wilayah kerja Puskesmas Kecamatan Loji terdiri dari 9
desa yaitu:
i. Desa Kutamaneuh : 5 posyandu
ii. Desa Kutalanggeng : 4 posyandu
iii. Desa Cintalanggeng : 4 posyandu
iv. Desa Cintawargi : 5 posyandu
v. Desa Cintalaksana : 4 posyandu
vi. Desa Mekarbuana : 4 posyandu
vii. Desa Wargasetra : 5 posyandu
viii. Desa Cigunungsari : 4 posyandu
ix. Desa Cipurwasari : 3 posyandu

4.2.2 Data Demografis: (Lampiran III)


1) Jumlah penduduk secara keseluruhan di wilayah kerja Puskesmas Loji pada periode
Januari 2012 sampai dengan Desember 2012 adalah 32.611 jiwa, dengan distribusi:
 Jumlah penduduk laki-laki : 16242 jiwa
 Jumlah penduduk perempuan : 16369 jiwa
 Jumlah bayi <6 bulan : 2468 jiwa
 Jumlah Balita (0-59 bulan) : 5760 jiwa
 Jumlah Bufas : 1098 jiwa
 Jumlah Bumil : 1150 jiwa
2) Sebagian besar penduduk, yaitu 63.03% berpendidikan rendah
3) Berdasarkan mata pencaharian, sebagian besar penduduk Kecamatan Loji adalah
petani sebanyak 67.60%.
Sumber data : Data Demografi Puskesmas Loji 2012

4.2.3 Data Fasilitas Kesehatan

9
Jenis Fasilitas Kesehatan yang berada di wilayah kerja Puskesmas Kecamatan
Loji antara lain: 1 Puskesmas, 3 Puskesmas Pembantu, 5 Puskesmas Keliling,
38 Posyandu, 1 Pos UKK, dan 1 Poned.

4.3 Data Khusus


Data di UPTD Puskesmas Loji pada pelaksanaan program pengawasan sarana
air bersih sebagai berikut :
4.3.1 Masukan
A. Tenaga (Man)

 Petugas Kesehatan Lingkungan : 1 Orang merangkap sebagai


koordinator program dan pelaksana program.
B. Dana (Money)
Sumber pembiayaan kesehatan di UPTD Puskesmas Loji bersumber dari :
1. BOP : cukup
2. BOK : cukup
3. APBD Kabupaten : cukup

C. Sarana (Material)
 Data tentang sarana air bersih yang digunakan
 Jumlah penduduk yang menggunakan sarana air bersih
 Hasil inspeksi sarana air bersih keluarga
 Cakupan pengambilan sampel air
 Jumlah sarana air bersih dengan kualitas bakteriologi yang memenuhi syarat
kesehatan
 Jumlah sarana air bersih dengan tingkat pencemaran air yang rendah

D. Metode (Method)
 Pendataan jumlah dan sarana air bersih
Data diambil dari laporan pengawasan sarana air bersih di wilayah kerja
UPTD Puskesmas Loji tahun 2012, diperoleh :
- Jumlah sarana air = 4.642 buah yang terdiri dari PDAM, SPT, SGL dan
pompa listrik.
 Pemeriksaan/inspeksi sarana air bersih.
Inspeksi dilakukan secara berkala minimal 2 x setahun, untuk pemeriksaan
kualitas air bersih diperiksa secara fisik, yaitu tidak berwarna, tidak berbau,
tidak keruh, tidak berasa, dan sejuk. Pemeriksaan secara lengkap terdapat di
lampiran formulir inspeksi sanitasi air bersih (Lampiran 4).
 Pengambilan sampel air
10
Pengambilan sampel air dilakukan setelah menentukan titik pengambilan
yang disesuaikan dengan jenis sarana air bersihnya, untuk sumur pompa
sampel diambil setelah 5 menit air keluar, untuk sumur gali sampel diambil
dengan kedalaman 20 cm di bawah permukaan air (sebaiknya pagi hari), dan
untuk PAM sampel diambil setelah 2 menit air keluar. Untuk pemeriksaan fisik
jumlah air yang diambil sebanyak 2 liter, untuk pemeriksaan kimia jumlah air
yang diambil sebanyak 5 liter, dan untuk pemeriksaan bakteriologis wadah
penampungan harus steril dan bisa disterilkan dengan jumlah air yang diambil
sebanyak 100 ml, kemudian diberi etiket dan dikirim ke laboratorium.
Prosedur pengambilan sampel secara lengkap terdapat di lampiran SOP
pengambilan sampel.
 Jumlah sarana air bersih dengan kualitas bakteriologis yang memenuhi syarat
kesehatan
Ditentukan berdasarkan hasil pemeriksaan laboratorium, kemudian ditetapkan
standar kualitas air bersih terhadap kandungan bakteriologis sesuai dengan
Permenkes 416 tahun 1990.
 Jumlah sarana air bersih yang mempunyai risiko pencemaran yang rendah.
Tingkat risiko pencemaran air terbagi menjadi AT(amat tinggi), T(tinggi),
S(sedang), R(rendah). Cara pemeriksaan lengkap terdapat di lampiran
formulir inspeksi sanitasi.
 Pencatatan dan Pelaporan
- Pencatatan
Petugas lapangan mencatat kegiatan-kegiatan yang dikerjakan, dalam
format pencatatan pengawasan air bersih (register dan formulir lain yang
diperlukan) seterusnya membuat penyajian/visualisasi data dalam bentuk
peta, grafik atau tabel yang diperbaharui secara periodik (bulanan, triwulan
dan tahunan).
- Pelaporan
Puskesmas yang melaksanakan kegiatan ini melaporkannya kepada Dinas
Kesehatan Kabupaten/Kota sesuai format yang telah ada dan diberikan
secara periodik (bulanan, triwulan dan tahunan).
4.3.2. Proses
4.3.2.1 Perencanaan, ada perencanaan tertulis mengenai:

1. Pendataan jumlah sarana air bersih


Terdapat pendataan 1 kali setahun tentang jumlah sarana air bersih dan
jumlah pengguna.
2. Pemeriksaan sarana air bersih

11
Pemeriksaan dilakukan 2 kali setahun terhadap sarana air bersih yang ada
oleh petugas kesehatan lingkungan terlatih pada hari kerja dari jam 08.00 –
10.00 WIB. Pada sarana air bersih dengan tingkat pencemaran berat
dilakukan pemeriksaan tiap 2 minggu selama 1 tahun, untuk pencemaran
ringan sampai sedang dilakukan pemeriksaan sebulan sekali selama satu
tahun. Pemeriksaan lengkap terlampir.
3. Pengambilan sampel air
Terdapat pengambilan sampel air sesuai dengan jenis sarana air bersih, hal
pertama yang dilakukan adalah menyiapkan alat-alatnya seperti kotak
air/termos/botol steril, tempat penyimpanan botol/kotak/termos, alat tulis dan
formulir pengiriman sampel. Kemudian, menentukan titik pengambilan
sampel. Prosedur pengambilan sampel terlampir.
4. Pemeriksaan bakteriologis
Terdapat pemeriksaan bakteriologis terhadap sampel air yang dilakukan di
laboratorium yang telah ditunjuk, kualitas air bersih terhadap kandungan
bakteriologis sesuai dengan Permenkes 416 tahun 1990. Sedangkan
persyaratan kualitas air minum sesuai dengan Permenkes no 492 tahun 2010.
5. Pemeriksaan risiko pencemaran
Terdapat pemeriksaan sarana air bersih terhadap kemungkinan adanya
pencemaran. Tatacara pemeriksaan lengkap terlampir.
6. Pencatatan dan pelaporan :
 Pencatatan : akan dilakukan setiap kegiatan dilaksanakan (pada hari kerja
pada pukul 08.00-10.00 WIB).
 Pelaporan : akan dilakukan setiap awal bulan.
4.3.2.2 Pengorganisasian
Dibuat struktur organisasi, kepala puskesmas sebagai penanggungjawab
program, melimpahkan kekuasaan kepada Koordinator program (programmer),
kemudian programmer melakukan koordinasi dengan pelaksana program.
Bagan Struktur Organisasi

Kepala Puskesmas

Ibu Hj Wiwin Widaningsih,


SKM

Ka. Tata Usaha

Bp Didi Suryadi

Staff Promkes
Penanggungjawab dan Pelaksana Program
Kesling
12
Ari
Ketua RT/RW
Gambar 4.1 Struktur Organisasi Program Kesehatan Lingkungan
(Pengawasan Air Bersih) UPTD Puskesmas Loji, Kabupaten Karawang.

4.3.2.3 Pelaksanaan
1. Pendataan jumlah sarana air bersih
Dilakukan pendataan 1 kali setahun tentang jumlah sarana air bersih dan
jumlah pengguna.
2. Pemeriksaan sarana air bersih
Dilakukan pemeriksaan 2 kali setahun terhadap sarana air bersih yang ada
oleh petugas kesehatan lingkungan terlatih pada hari kerja dari jam 08.00 –
10.00 WIB.
3. Pengambilan sampel air
Tidak dilakukan pengambilan sampel air
4. Pemeriksaan bakteriologis
Tidak dilakukan pemeriksaan bakteriologis
5. Pemeriksaan risiko pencemaran
Dilakukan pemeriksaan fisik terhadap adanya risiko pencemaran sesuai
dengan formulir inspeksi sanitasi.
6. Pencatatan dan pelaporan :

- Pencatatan: Dilakukan setiap kegiatan dilaksanakan (pada hari kerja pada


pukul
08.00-10.00 WIB).

- Pelaporan: Dilakukan setiap awal bulan.

4.3.2.4 Pengawasan
Adanya pencatatan yang sistemik secara berkala tentang kegiatan
pengawasan kualitas sarana dan air bersih setiap satu bulan dan satu tahun.
Kemudian dilaporkan ke tingkat Kabupaten minimal 3 bulan sekali dan jika terjadi
kejadian luar biasa yang timbul akibat penurunan kualitas air minum.

4.3.3 Keluaran
Tabel 4.1 Jumlah SAB yang diperiksa dan Jumlah Pemakai SAB di wilayah
kerja UPTD Puskesmas Loji Periode Januari 2012 – Desember 2012
1.
NO Jenis SAB Yang Memenuhi Jumlah
Diperiksa Syarat Pemakai
1 Ledeng/PDAM 169 147 627

13
2 Pompa Listrik 190 174 831
3 SGL 718 314 2674
4 SPT 222 98 942
Total 1299 733 5074

2. Cakupan air bersih


Jumlah penduduk dilokasi yang
mengunakan air dari sarana air bersih
--------------------------------------------------------- x 100%
Jumlah penduduk di lokasi

5.074
Cakupan : ---------------------- X 100 % = 15,56 %
32.611

Target : 67,8 %

3. Cakupan hasil inspeksi sarana air bersih (SAB)


Jumlah SAB yang diinspeksi
---------------------------------- x 100%
Jumlah SAB yang ada

1299
Cakupan : ------------------ X 100 % = 27,98 %
4642

Target : 80 %

4. Cakupan pengambilan sampel air


Jumlah SAB yang diambil Sampelnya
---------------------------------------------- x 100%
Jumlah SAB yang ada

14
Cakupan : tidak dilakukan

Target : 80 %

5. Cakupan jumlah SAB dengan kualitas bakteriologis yang memenuhi


syarat kesehatan

Jumlah sampel air SAB yang memenuhi


syarat bakteriologis
---------------------------------------------------------------- x 100%
Jumlah sampel air yang diperiksa dari SAB sejenis

Cakupan : tidak dilakukan

Target kualitas air bersih bebas bakteri patogen 100 %

6. Cakupan Perlindungan SAB yang mempunyai risiko pencemaran air


yang rendah
Jumlah SAB yang mempunyai risiko dan
pencemaran tinggi & amat tinggi.
-------------------------------------------- x 100%
Jumlah SAB sejenis yang diinspeksi

733
Cakupan : --------------------------- X 100 %
1299

= 56,43 %

Target perlindungan SAB terhadap risiko pencemaran : 95 %

7. Catatan dan pelaporan (kurang lengkap)


 Laporan yang disajikan merupakan laporan absolut cakupan air
bersih, hasil inspeksi sarana air bersih dan laporan perlindungan

15
sarana air bersih yang mempunyai risiko pencemaran air yang
rendah.
 Tidak ada data mengenai pengambilan sampel air.
 Tidak ada data mengenai jumlah sarana air bersih dengan kualitas
bakteriologis yang memenuhi syarat kesehatan.

4.3.4 Lingkungan
1. Fisik
 Lokasi :
Semua lokasi sarana air dapat dijangkau dengan sarana transportasi
yang ada (sepeda motor pribadi) karena terdapat akses jalan yang bisa
dilalui sepeda motor.

 Iklim :
Iklim tidak mempengaruhi pelaksanaan program. Rata-rata jalan sudah
diaspal, sehingga jika musim hujan tidak becek/licin.

 Kondisi Geografis :
Kondisi geografi dapat mempengaruhi program sarana air bersih
Berdasarkan keterangan petugas kesehatan lingkungan UPTD
Puskesmas Loji, pada penggalian/pengeboran air yang dihasikan terasa
asin hal ini mungkin disebabkan karena daerahnya yang dekat dengan
laut.

2. Non fisik
 Keadaan sosial ekonomi masyarakat. Sebagian besar penduduk
bermata pencaharian petani dan 1/3 dari total jumlah penduduk
merupakan masyarakat miskin, hal tersebut dapat mempengaruhi
akses untuk mendapatkan sarana air bersih yang memadai.
 Tingkat pendidikan. Karena sebagian besar penduduk merupakan
tamatan SD, pengetahuan tentang kualitas air dan sarana air bersih
masih kurang.
 Perilaku masyarakat. Sebagian masyarakat masih menggunakan air
sungai untuk keperluan mandi, mencuci, tempat buang air besar, dan
tempat pembungan limbah keluarga. Tidak terdapat data penggunaan
air sungai sebagai sumber air minum.

4.3.5 Umpan Balik

16
1. Adanya rapat kerja bulanan bersama Kepala Puskesmas satu bulan satu
kali yang membahas laporan kegiatan evaluasi program yang telah
dilaksanakan.

4.3.6 Dampak
1. Dampak langsung seperti menurunnya angka penyakit
berbasis lingkungan, seperti, Diare, Typhoid, belum dapat dinilai.
2. Dampak tidak langsung yaitu masalah penyediaan dan
pengawasan air bersih tidak lagi menjadi permasalahan serta
peningkatan derajat kesehatan masyarakat belum dapat dinilai.

Bab V
Pembahasan

17
NO Variabel Tolok Ukur Pencapaian Masala
h
1 Keluaran :
- Cakupan Jumlah Target total provinsi Jawa barat (+)
penduduk yang 67,8 % 15,56 %
mengunakan air dari
sarana air bersih
- Hasil inspeksi sarana
80 % 27,98 % (+)
air bersih (SAB)
- Cakupan
80 % Tidak dilakukan (+)
pengambilan sampel
air
- Cakupan SAB 100 % Tidak dilakukan
dengan kualitas (+)
bakteriologis yang
memenuhi syarat 95 % 56,43% (+)
kesehatan
- Perlindungan SAB
dari risiko
pencemaran
2 Masukan :
- Tenaga (Man) Tersedianya minimal 2 orang 1 orang tenaga yang (+)
sebagai koordinator dan merangkap sebagai
pelaksana program pengawasan coordinator dan pelaksana
sarana air bersih yang terampil di pengawasan sarana air bersih
bidangnya. yang terampil di bidangnya.

- Dana (Money)
Tidak ada laporan (+)
Tersedianya dana yang cukup penggunaan, kurangnya dana
berasal dari APBD dan APBN operasional kegiatan.
- Metode untuk petugas, sebesar Rp
25.000,00 tiap RW.
Metode pemeriksaan kualitas
1. Dilakukan pendataan air bersih dilakukan
2. Dilakukan pemeriksaan SAB berdasarkan kriteria fisik saja, (+)
3. Dilakukan pengambilan tidak berbau, tidak berwarna,
sampel air tidak keruh, tidak berasa dan
4. Dilakukan pemeriksaan sejuk. Tidak dilakukan
bakteriologis air pengambilan sampel,
5. Dilakukan pemeriksaan risiko pemeriksaan bakteriologis.
pencemaran air

18
3. Proses
Pengorganisasian Dibentuk struktur organisasi, Bentuk Struktur Organisasi
kepala puskesmas sebagai Ka Puskesmas
penanggungjawab program, (Ibu Hj Wiwin Widaningsih
melimpahkan kekuasaan ,SKM)
kepada Koordinator program
(programmer), kemudian
melakukan koordinasi dengan Koordinator Kesehatan
pelaksana program. Lingkungan
(Ari.)

Staf Pusling, Bidan Desa

- struktur organisasi sudah


jelas, namun koordinasi
belum maksimal.

- Pelaksanaan Sesuai dengan rencana dan Tidak dilakukan


metode yang telah ditetapkan, pengambilan sampel, (+)
dilaksanakan secara berkala : pemeriksaan bakteriologi.
pengumpulan data 1 x setahun
dan pengawasan kualitas air
bersih 2 x setahun. Dilakukan
pengambilan sampel sesuai (+)
dengan jenis sarana air bersih,
kemudian dilakukan
pemeriksaan laboratorium
untuk menilai kandungan
bakteriologi/kimia dan serta
dilakukan pemeriksaan risiko
pencemaran air.
Pencatatan tiap bulan dan
- Pengawasan Adanya pencatatan tial tiap tahun dan laporan hasil
bulan/tahunan dan pelaporan pemeriksaan ke dinas
secara berkala tentang kesehatan tiap 3 bulan
kegiatan pengawasan kualitas sekali sudah dilakukan,
air ke tingkat Kabupaten namun data yang disajikan
minimal 3 bulan sekali dan berbeda-beda dengan hasil

19
apabila terjadi kejadian luar laporan bulanan, 3 bulanan
biasa karena penurunan dan tahunan (2012)
kualitas air.

4. Lingkungan
- Fisik 1. Kondisi geografis dapat 1. Berdasarkan (+)
mempengaruhi kualitas keterangan petugas:
air pada penggalian/
pengeboran air yang
dihasilkan terasa asin,
disebabkan karena
lokasinya yang dekat
- Non-Fisik dengan laut. (+)
a. Keadaan social ekonomi a. Sebagian besar
masyarakat dapat penduduk bermata
mempengaruhi pencaharian petani dan
keberhasilan program 1/3 dari total jumlah
b. Tingkat pendidikan dapat penduduk merupakan
mem-pengaruhi masyarakat miskin, hal
keberhasilan program. tersebut dapat
c. Perilaku masyarakat mempengaruhi akses
dalam menggunakan air untuk mendapatkan (+)
bersih dapat sarana air bersih yang
mempengaruhi memadai.
keberhasilan program. b. Karena sebagian besar
penduduk merupakan
tamatan SD,
pengetahuan tentang (+)
kualitas air dan sarana
air bersih masih kurang.
c. Sebagian masyarakat
masih menggunakan air
sungai untuk keperluan

20
mandi, mencuci, tempat
buang air besar, dan
tempat pembungan
limbah keluarga. Tidak
ada data penggunaan
air sungai sebagai
sumber air minum.

Keterangan : Tabel Lengkap di Lampiran

Bab VI
21
Perumusan Masalah

Masalah-masalah yang ditemukan dalam evaluasi Program Pengawasan Air bersih


di UPTD Puskesmas Loji Periode Januari sampai dengan Desember 2012, adalah :

a. Masalah pada Keluaran


- Cakupan jumlah penduduk yang menggunakan air bersih untuk keperluan
sehari-hari masih rendah, yakni 15,56% dari target 67,8 %. Besar masalah
(67,8% - 15,56%) : 67,8% x 100% = 77%
- Hasil inspeksi sarana air bersih masih rendah, yakni 27,98 % dari target
80 %. Besar masalah (80% - 27,98%) : 80% x 100% = 65%
- Tidak dilakukannya pengambilan sampel air, pemeriksaan bakteriologis,
dan Kualitas sarana air bersih hanya dilakukan secara fisik saja.
- Jumlah SAB dengan perlindungan dari risiko pencemaran air masih
rendah, yaitu 56,43% dari target 95%. Besar masalah (95% - 56,43%) :
95% x 100% = 40%
b. Masalah pada Input
- Tenaga ( Man )
Hanya terdapat satu tenaga yang merangkap sebagai koordinator dan
pelaksana program yang terampil di bidangnya, hal ini sangat menyulitkan
dalam pemeriksaan terhadap 4642 Sarana Air Bersih yang tersebar di 3
desa, dengan area kerja seluas 1.713.000m 2.
- Dana ( Money )
Tidak laporan penggunaan dana yang diterima, dana operasionalnya
masih kurang, yakni Rp 25.000,00 per RW untuk pengawasan sarana air
bersih yang diberikan 2 kali setahun.
- Metode
Tidak dilakukannya pengambilan sampel air, pemeriksaan bakteriologis.

c. Masalah pada proses


- Pengorganisasian
Struktur dan pelimpahan tugas dari Kepala Puskesmas ke koordinator
program (programmer) sudah ada, namun kurang koordinasi. Kurangnya
koordinasi lintas program antara pelaksana program pengawasan SAB
dengan bagian promkes, pusling dan bidan desa.
- Pelaksanaan

22
Sudah dilakukan pengumpulan data 1 x setahun dan pengawasan kualitas
air 2 x setahun. Namun tidak dilakukan pengambilan sampel,
pemeriksaan bakteriologi dan tingkat risiko pencemaran Air.
- Pengawasan dan pelaporan
Pencatatan tiap bulan dan tiap tahun dan laporan hasil pemeriksaan ke
dinas kesehatan tiap 3 bulan sekali sudah dilakukan, namun data yang
disajikan berbeda-beda dengan hasil laporan bulanan, 3 bulanan dan
tahunan (2012).

d. Masalah pada Lingkungan


- Fisik
 Kondisi geografis
Berdasarkan keterangan pemegang program, saat dilakukan
pengeboran air yang dihasilkan terasa asin. Hal ini mungkin karena
wilayahnya dekat dengan laut.
- Non-Fisik
 Sebagian besar penduduk bermata pencaharian petani dan 1/3 dari
total jumlah penduduk merupakan masyarakat miskin, hal tersebut
dapat mempengaruhi akses untuk mendapatkan sarana air bersih yang
memadai
 Karena sebagian besar penduduk merupakan tamatan SD,
pengetahuan tentang kualitas air dan sarana air bersih masih kurang.
 Sebagian masyarakat masih menggunakan air sungai untuk keperluan
mandi, mencuci, tempat buang air besar, dan tempat pembungan
limbah keluarga. Tidak terdapat data penggunaan air sungai sebagai
sumber air minum.

Bab VII
Prioritas Masalah

Masalah menurut keluaran


A. Cakupan jumlah penduduk yang menggunakan air bersih 15,56 % dari target
67,8 %. Besar masalah 77%
B. Cakupan inspeksi sarana air bersih 27,98% dari target 80 %. Besar masalah
65%
C. Tidak dilakukannya pengambilan sampel air (laboratorium), pemeriksaan
bakteriologis.

23
D. Jumlah SAB dengan perlindungan dari risiko pencemaran air 56,43% dari
target 95%. Besar masalah 40%

No Parameter Masalah
A B C D
1 Besarnya masalah 3 3 5 3
2 Berat ringannya masalah 5 4 3 4
3 Keuntungan social karena terselesainya 5 4 4 4
masalah
4 Teknologi yang tersedia 5 4 1 3
5 Sumber daya yang tersedia untuk 3 4 1 3
menyelesaikan masalah
Jumlah 21 19 14 17
Tabel 7.1: Prioritas masalah

Yang menjadi prioritas masalah adalah :


A. Cakupan jumlah penduduk yang menggunakan air bersih 15,56 % dari target
67,8%. Besar masalah 77%
B. Cakupan inspeksi sarana air bersih 27,98% dari target 80 %. Besar masalah
65%

Bab VIII

Penyelesaian Masalah

8.1 Cakupan jumlah penduduk yang menggunakan air bersih untuk keperluan
sehari-hari masih rendah, yakni 15,56 % dari target 67,8 % (pedesaaan)
besar masalah 77%.
Penyebab masalah ini adalah :
 Pengetahuan masyarakat tentang penggunaan air bersih masih rendah
 Perilaku masyarakat yang masih menggunakan air sungai untuk
memenuhi kebutuhan sehari-hari.
 Terbatasnya sarana air bersih yang ada dimasyarakat
 Kondisi geografis yang dekat dengan laut
Penyelesaian masalah
24
 Dilakukannya penyuluhan yang intensif kepada masyarakat tentang
pentingnya penggunaan air bersih untuk kepentingan sehari-hari.
 Mengusulkan pembuatan sarana air bersih kepada dinas kesehatan yang
bekerjasama dengan departemen pekerjaan umum, terutama pembuatan
sarana perpipaan (PDAM) yang dibiayai oleh Pemerintah.
8.2 Hasil inspeksi sarana air bersih masih rendah, yakni 27,98 % dari target 80
%. Besar masalah 65%
Penyebab masalah ini adalah :
 Tenaga
Kurangnya tenaga terampil di bidang kesehatan lingkungan di
Puskesmas Loji.
 Dana
Tidak ada laporan penggunaan dana yang diterima, dana operasionalnya
masih kurang, yakni Rp 25.000,00 per RW untuk pengawasan sarana air
bersih yang diberikan 2 kali setahun.
 Pengorganisasian
Kurangnya koordinasi antara penanggungjawab dengan koordinator,
koordinator dengan pelaksana program dan kurangnya koordinasi lintas
program antara pelaksana program pengawasan SAB dengan bagian
promkes dan bidan desa.
 Pelaksanaan
Tidak dilakukan pengambilan sampel (laboratorium) dan pemeriksaan
bakteriologi.
 Pengawasan dan pelaporan
Data yang dilaporkan dari hasil pencatatan berbeda-beda dengan hasil
laporan bulanan, 3 bulanan dan tahunan (2012) tentang pengawasan air
bersih di wilayah kerja UPTD Puskesmas Loji.

Penyelesaian Masalah
 Tenaga
1. Mengoptimalkan tenaga kesehatan yang ada di Puskesmas.
2. Penyehatan tenaga kesehatan diluar Puskesmas (tenaga kontrak)
 Dana
Dilakukan pelaporan dana yang telah diterima dan yang telah digunakan
kepada Puskesmas, mencari sumber-sumber dana yang baru di
Puskesmas.
 Pengorganisasian
Meningkatkan koordinasi antara penanggung jawab (kepala Puskesmas)
dengan koordinator program dan koordinator dengan pelaksana, serta
25
meningkatkan koordinasi lintas program dengan staf Puskesmas yang
lain.
 Pelaksanaan
Hal ini sebenarnya disebabkan keterbatasan dana operasional dan
teknologi yang mendukung. Sehingga perlu penambahan dana dan
pengadaan teknologi yang mendukung.
 Pengawasan dan pelaporan
Perlu ditingkatkan ketelitian dalam pencatatan dan pelaporan data.

Bab IX

Kesimpulan dan Saran

9.1 Kesimpulan

Dari hasil evaluasi program pengawasan sarana air bersih dengan cara
pendekatan sistem dapat diambil kesimpulan bahwa program pengawasan sarana
air bersih di wilayah kerja UPTD Puskesmas Loji belum mencapai target, Kabupaten
Karawang pada periode Januari sampai dengan Desember 2012. Ditemukan
beberapa kekurangan yang menjadi masalah, yaitu:

a. Cakupan Jumlah keluarga diperkotaan/pedesaan yang mengunakan air dari


sarana air bersih adalah 15,56%. Besar masalah 77%
b. Hasil inspeksi sarana air bersih adalah 27,98%. Besar masalah 60%
c. Tidak dilakukannya pengambilan sampel air dalam pelaksanaan program
pengawasan sarana air bersih
d. Tidak dilakukannya pengambilan sampel air (laboratorium), pemeriksaan
bakteriologis. Kualitas sarana air bersih hanya dilakukan secara fisik saja.
e. Jumlah sarana air bersih dengan perlindungan dari risiko pencemaran masih
rendah 56,43%. Besar masalah 40%

Dengan prioritas masalah :

a. Cakupan Jumlah keluarga diperkotaan/pedesaan yang mengunakan air dari


sarana air bersih adalah 15,56%.
26
b. Hasil inspeksi sarana air bersih adalah 27,98%.

9.2 Saran

9.2.1 Saran bagi Puskesmas

 Menggalakkan promkes untuk memberikan penyuluhan yang intensif


kepada masyarakat tentang pentingnya sarana air bersih.
 Memantau (supervise) kegiatan pengawasan sarana air bersih dengan
cara membandingkan dengan hasil tahun sebelumnya, juga bertanya
kepada pemegang dan pelaksana program mengenai kendala apa saja
yang ditemui.
 Meningkatkan motivasi pemegang program dan pelaksana program agar
dapat berjalan dengan baik, seperti memberikan sarana dan alternatif
dana.
 Memfasilitasi pelatihan terhadap tenaga kesehatan guna menambah
tenaga pelaksana program.

9.2.2 Saran bagi pemegang program pengawasan sarana air bersih

 Meningkatkan koordinasi dengan bagian lain seperti promkes dan bidan


desa
 Melakukan pelatihan terhadap tenaga kesehatan yang lain dalam inspeksi
sarana air bersih dan kualitas air bersih.
 Melakukan perincian dana terhadap dana yang diterima dan dana yang
dikeluarkan untuk pengawasan sarana air bersih. Peningkatan koordinasi
dengan staf kesehatan lain dalam pelaksanaan program pengawasan air
bersih.
 Peningkatan dalam ketelitian penulisan dan penyajian data hasil kegiatan.

27
Besar harapannya semoga melalui saran di atas dapat membantu berjalannya
program pengawasan sarana air bersih pada periode yang akan datang sehingga
dapat mencapai tingkat keberhasilan sesuai target yang diharapkan.

Daftar Pustaka

1. Azwar A. Pengantar Administrasi Kesehatan. Edisi Ketiga. Jakarta : Binarupa


Aksara,2010.
2. Rihadi S. Pencegahan dan Pemberantasan Penyakit Berbasis Lingkungan.
Maret 2001. Diunduh dari http://www.tempo.co.id/medika/arsip/032001/top-
1.htm, 25 Juni 2013.
3. Staf Ahli MENLH bidang Ekonomi dan Pengentasan Kemiskinan
Kementerian Negara Lingkungan Hidup. Parallel Event : Lokakarya Event :
Lokakarya Kesehatan Masyarakat dan Lingkungan Hidup. Desember 2007.
Diunduh dari http://wwwnew.menlh.go.id, 25 Juni 2013.
4. BBPK Depkes RI. Laporan Riset Kesehatan Dasar 2010. Diunduh dari
http://www.litbang.depkes.go.id/sites/download/buku_laporan/lapnas_riskesdas2
010/Laporan_riskesdas_2010.pdf, 25 Juni 2013.
5. Idaman SN, Yudo S. Masalah dan Strategi Penyediaan Air Bersih di Indonesia.
Diunduh dari
http://www.kelair.bppt.go.id/Publikasi/BukuAirMinum/BAB3MASALAH.pdf, 25
Juni 2013.

28