Anda di halaman 1dari 21

BAB I

PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Jerawat merupakan penyakit kulit yang umum terjadi pada remaja berusia 16-19 tahun,
bahkan dapat berlanjut hingga usia 30 tahun. Penyakit ini terbatas pada folikel polisebacea
kepala dan badan bagian atas karena kelenjar sebacea di wilayah ini sangat aktif (Wasitaatmadja,
2003). Faktor utama yang terlibat dalam pembentukan jerawat adalah peningkatan produksi
sebum, peluruhan keratinosit, pertumbuhan bakteri dan inflamasi.
Peradangan dapat dipicu oleh bakteri seperti Propionibacterium acnes dan
Staphylococcus epidermidis dan Staphylococcus aureus. Pengobatan jerawat dapat dilakukan
dengan menurunkan populasi bakteri dengan menggunakan suatu antibakteri. Sediaan anti
jerawat yang banyak beredar di pasaran mengandung antibiotik sintetik seperti eritromisin dan
klindamisin, namun tidak sedikit yang memberikan efek samping seperti iritasi, penggunaan
jangka panjang dapat menyebabkan resistensi bahkan kerusakan organ dan
imunohipersensitivitas (Surtiningsih, 2006). Oleh karena itu dicari alternative bahan alam untuk
mengobati jerawat guna meminimalkan efek samping dari penggunaan antibiotik.
Bahan alam yang dapat digunakan sebagai pengobatan jerawat yakni Sereh. Sereh
biasanya digunakan sebagai bahan rempah-rempah pada masakan. Senyawa yang dihasilkan
ialah sitral yang digunakan sebagai komposisi bahan pada industri kosmetik. Minyak atsiri yang
terkandung dalam Sereh memiliki khasiat sebagai analgesik, antidepresi, diuretik, deodoran,
antipiretik, insektisida, tonik, antiradang, fungisida, antiparasit, antibakteri dan antiseptik.
Geraniol dan sitral merupakan komponen terbesar pada minyak atsiri dan sekaligus merupakan
antibakteri pada minyak atsiri Sereh Cymbopogon citratus (Agusta, 2000). Minyak atsiri ini
dapat diformulasi dalam bentuk sediaan gel untuk mempermudah penggunaannya.
Sediaan dalam bentuk gel lebih banyak digunakan karena mudah mengering, membentuk
lapisan film yang mudah dicuci dan memberikan rasa dingin di kulit. Sediaan gel mempunyai
kadar air yang tinggi, sehingga dapat menghidrasi stratum corneum dan mengurangi resiko
timbulnya peradangan lebih lanjut akibat akumulasi minyak pada pori-pori sehingga cocok
digunakan sebagai sediaan dalam formulasi obat anti jerawat (Liberman, 1997) .

1
1.2 Tujuan
Untuk membuat formulasi sediaan gel antijerawat yang bermutu baik.

1.3 Manfaat
Untuk memberikan informasi kepada pembaca mengenai formulasi sediaan lipgloss.

2
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Tanaman Sereh


Sereh adalah tumbuhan anggota suku rumput-rumputan yang dimanfaatkan sebagai
bumbu dapur untuk mengharumkan makanan. Minyak serai adalah minyak atsiri yang diperoleh
dengan jalan menyuling bagian atas tumbuhan tersebut. Minyak serai dapat digunakan sebagai
pengusir (repelen) nyamuk, baik berupa tanaman ataupun berupa minyaknya. Secara umum,
sereh dibagi menjadi 2 jenis, yaitu sereh dapur (lemongrass) dan sereh wangi (sitronella).
Keduanya memiliki aroma yang berbeda. Minyak sereh yang selama ini dikenal di Indonesia
merupakan minyak sereh wangi (citronella oil) yang biasanya terdapat dalam komposisi minyak
tawon dan minyak gandapura.
Sereh dapur terbagi menjadi 2 varitas, yaitu sereh flexuosus (Cymbopogon Flexuosus)
dan sereh citratus (Cymbopogon Citratus). Dalam dunia perdagangan minyak atsiri, minyak
sereh flexuosus disebut sebagai East Indian lemongrass oil (minyak sereh dapur India Timur).
Sedangkan sereh citratus dikenal dengan West Indian lemongrass oil (minyak sereh dapur India
Barat). Keduanya dapat tumbuh subur di Indonesia meskipun yang terbanyak adalah jenisWest
Indian. Perbedaan yang sangat jelas dari keduanya terletak pada sifat-sifat minyak atsiri yang
dihasilkan. Minyak sereh India Timur lebih berharga dari pada India Barat, terutama karena
kandungan sitralnya yang lebih tinggi.
Komponen utama minyak atsiri Sereh ialah sitral yang memiliki 2 isomer yaitu geraniol
(α-sitral), dan neral (β-sitral). Selain itu, terdapat beberapa senyawa lainnya yang terkandung
dalam minyak atsiri Sereh yakni, β-mirsena, sitronelal, tujhopsena, nerol asetat dan kolumelarin
(Astuti, 2012).

2.2 Definisi Gel


Gel merupakan suatu sistem setengah padat yang terdiri dari suatu dispersi yang tersusun
baik dari partikel anorganik yang kecil atau molekul organik besar dan saling diresapi cairan
(Ansel, 2005). Jika massa gel terdiri atas jaringan partikel kecil yang terpisah, gel digolongkan
sebagai sistem dua fase (misalnya gel alumunium hidroksida). Gel dapat diberikan untuk
penggunaan topikal atau dimasukkan ke dalam lubang tubuh (Syamsuni, 2006).

3
Gel harus memiliki kejernihan dan harus dapat memelihara viskositas di atas rentang
temperatur yang luas. Beberapa sistem gel penampilannya sejernih air, sedangkan gel yang
lainnya keruh karena bahan-bahannya mungkin tidak terdispersi secara molekuler atau mungkin
karena terbentuk agegat yang mendispersi cahaya (Allen, 2002).

2.2.1 Dasar Gel


Berdasarkan komposisinya, dasar gel dibedakan menjadi dua komposisi, yakni dasar gel
hidrofobik dan dasar gel hidrofilik.
1) Dasar gel hidrofobik
Dasar gel hidrofobik umumnya terdiri dari partikel-partikel anorganik. Apabila
ditambahkan ke dalam fase pendispersi, hanya sedikit sekali interaksi antara kedua fase. Berbeda
dengan bahan liofilik, bahan hidrofobik tidak secara spontan menyebar, tetapi harus dirangsang
dengan prosedur yang khusus (Ansel, 2005). Dasar gel hidrofobik antara lain, petrolatum,
mineral oil/gel polyethilen, plastibase, alumunium stearat, carbowax (Allen, 2002).
2) Dasar gel hidrofilik
Dasar gel hidrofilik umumnya adalah molekul-molekul organik yang besaran dapat
dilarutkan atau disatukan dengan molekul dari fase pendispersi. Pada umumnya karena daya
tarik menarik pada pelarut dari bahan-bahan hidrofilik kebalikan dari tidak adanya daya tarik
menarik dari bahan hidrofobik, sistem koloid hidrofilik biasanya lebih mudah untuk dibuat dan
memiliki stabilitas yang lebih besar (Ansel, 2005). Dasar gel hidrofilik antara lain bentonit,
veegum, silika, pektin, tragakan, metil selulosa, karbomer (Allen, 2002).

2.2.2 Komponen Gel


1) Geliing Agent
Polimer-polimer yang biasa digunakan untuk membuat gel-gel farmasetik meliputi gom
alam tragacanth, pectin, carrageen, agar, asam alginat, serta bahan-bahan sintesis dan semi
sintesis seperti metilsellulosa, hidroksimetilselulosa, karboksimetilsellulosa, dan karbopol yang
merupakan polimer vinil sintesis dengan gugus karboksil yang terionisasi (Lachman, 1994).
a. Gom alam
Gom yang digunakan sebagai pembentuk gel dapat mencapai sasaran yang diinginkan
dengancara disperse sederhana dalam air (missal tragakan) atau melalui cara interaksi

4
kimia (missal natrium alginat dan kalsium ). Secara keseluruhannya, keberadaan gel
disebabkan karena ikatan sambung silang yang mengikat molekul polisakarida sesamanya,
sedangkan sisanya tersolvasi. Beberapa gom alam yang digunakan sebagai pembentuk gel
antara lain: alginate, karagen, tragakan, pectin, gom xantan, dan gelatin (Agoes &
Darijanto, 1993).
b. Carbomer
Carbomer membentuk gel pada konsentrasi 0,5%. Dalam media air, yang diperdagangkan
dalam bentuk asam, pertama-tama didispersikan terlebih dahulu. Sesudah udara
terperangkap keluar sempurna, gel akan terbentuk dengan cara netralisasi dengan basa
yang sesuai. Pemasukan muatan negative sepanjang rantai polimer menyebabkan
kumparan lepas dan berekspansi (Agoes & Darijanto, 1993).
c. Turunan sellulosa
Turunan selulosa mudah terurai karena reaksi enzimatik dank arena itu harus terlindung
dari kontak dengan enzim. Sterilisasi dari system dalam air atau penambahan pengawet
merupakan cara yang lazim untuk mencegah penurunan viskositas yang disebabkan karena
terjadi depolimerisasi akibat pengaruh enzim yang dihasilkan oleh mikroba. Turunan
selulosa yang dapat digunakan untuk membentuk gel asalah metilsellulosa, NaCMC,
hidroksietilselulosa dan hidroksiprolselulosa (larut dalam cairan polar organik) (Agoes &
Darijanto, 1993).
2) Bahan tambahan
a. Pengawet
Meskipun beberapa basis gel resisten terhadap serangan mikroba, tetapi semua gel
mengandung banyak air sehingga membutuhkan pengawet sebagai antimikroba. Dalam
pemilihan pengawet harus memperhatikan inkompatibilitasnya dengan gelling agent.
Beberapa contoh pengawet yang biasa digunakan dengan gelling agent :
 Tragakan : metil hidroksi benzoat 0,2 % w/v dgn propil hidroksi benzoat 0,05 % w/v
 Na alginate : metil hidroksi benzoat 0,1- 0,2 % w/v, atau klorokresol 0,1 % w/v atau
asam benzoat 0,2 % w/v
 Pektin : asam benzoat 0,2 % w/v atau metil hidroksi benzoat 0,12 % w/v atau
klorokresol 0,1-0,2 % w/v
 Starch glyserin : metil hidroksi benzoat 0,1-0,2 % w/v atau asam benzoat 0,2 % w/v

5
 MC : fenil merkuri nitrat 0,001 % w/v atau benzalkonium klorida 0,02% w/v
 Na CMC : metil hidroksi benzoat 0,2 % w/v dgn propil hidroksi benzoat 0,02 % w/v
 Polivinil alkohol : klorheksidin asetat 0,02 % w/v
Pada umumnya pengawet dibutuhkan oleh sediaan yang mengandung air. Biasanya
digunakan pelarut air yang mengandung metilparaben 0,075% dan propilparaben 0,025% sebagai
pengawet.
3) Penambahan bahan higroskopis
Bertujuan untuk mencegah kehilangan air. Contohnya gliserol, propilenglikol dan sorbitol
dengan konsentrasi 10-20 %
4) Chelating agent
Bertujuan untuk mencegah basis dan zat yang sensitif terhadap logam berat. Contohnya EDTA.
5) Surfaktan
Gel yang jernih dapat dihasilkan oleh kombinasi antara minyak mineral, air, dan konsentrasi
yang tinggi (20-40%) dari surfaktan anionik. Kombinasi tersebut membentuk mikroemulsi.
Karakteristik gel yang terbentuk dapat bervariasi dengan cara meng-adjust proporsi dan
konsentrasi dari komposisinya. Bentuk komersial yang paling banyak untuk jenis gel ini adalah
produk pembersih rambut. Contohnya Trietanolamine.

2.2.3 Keuntungan dan Kekurangan Gel


Keuntungan gel hydrogel efek pendinginan pada kulit saat digunakan, penampilan
sediaan yang jernih dan elegan, pada pemakaian di kulit setelah kering meninggalkan film
tembus pandang, elastis, mudah dicuci dengan air, pelepasan obatnya baik, kemampuan
penyebarannya pada kulit baik. Kekurangannya harus menggunakan zat aktif yang larut di dalam
air sehingga diperlukan penggunaan peningkat kelarutan seperti surfaktan agar gel tetap jernih
pada berbagai perubahan temperatur, tetapi gel tersebut sangat mudah dicuci atau hilang ketika
berkeringat, kandungan surfaktan yang tinggi dapat menyebabkan iritasi dan harga lebih mahal
(Lachman, dkk. 1994)
Kegunaan sediaan gel secara garis besar menurut Lachman dkk (1994), di bagi menjadi empat
seperti:

6
1) Gel merupakan suatu sistem yang dapat diterima untuk pemberian oral, dalam bentuk sediaan
yang tepat, atau sebagai kulit kapsul yang dibuat dari gelatin dan untuk bentuk sediaan obat
long–acting yang diinjeksikan secara intramuskular.
2) Gelling agent biasa digunakan sebagai bahan pengikat pada granulasi tablet, bahan pelindung
koloid pada suspensi, bahan pengental pada sediaan cairan oral, dan basis suppositoria.
3) Untuk kosmetik, gel telah digunakan dalam berbagai produk kosmetik, termasuk pada
shampo, parfum, pasta gigi, kulit dan sediaan perawatan rambut.
4) Gel dapat digunakan untuk obat yang diberikan secara topikal (non streril) atau dimasukkan
ke dalam lubang tubuh atau mata (gel steril).

2.2.4 Sifat Gel


Menurut Lachman, dkk. 1994 sediaan gel memiliki sifat sebagai berikut:
1) Zat pembentuk gel yang ideal untuk sediaan farmasi dan kosmetik ialah inert, aman dan tidak
bereaksi dengan komponen lain.
2) Pemilihan bahan pembentuk gel harus dapat memberikan bentuk padatan yang baik selama
penyimpanan tapi dapat rusak segera ketika sediaan diberikan kekuatan atau daya yang
disebabkan oleh pengocokan dalam botol, pemerasan tube, atau selama penggunaan topical.
3) Karakteristik gel harus disesuaikan dengan tujuan penggunaan sediaan yang diharapkan.
4) Penggunaan bahan pembentuk gel yang konsentrasinya sangat tinggi atau BM besar dapat
menghasilkan gel yang sulit untuk dikeluarkan atau digunakan.
5) Gel dapat terbentuk melalui penurunan temperatur, tapi dapat juga pembentukan gel terjadi
setelah pemanasan hingga suhu tertentu. Contoh polimer seperti MC, HPMC dapat terlarut
hanya pada air yang dingin yang akan membentuk larutan yang kental dan pada peningkatan
suhu larutan tersebut akan membentuk gel.

2.2.5 Karakteristik Gel


Fenomena pembentukan gel atau pemisahan fase yang disebabkan oleh pemanasan
disebut thermogelation. Sediaan gel umumnya memiliki karakteristik tertentu, yakni (disperse
system, vol 2 hal 497):
1) Swelling

7
Gel dapat mengembang karena komponen pembentuk gel dapat mengabsorbsi larutan
sehingga terjadi pertambahan volume. Pelarut akan berpenetrasi diantara matriks gel dan
terjadi interaksi antara pelarut dengan gel. Pengembangan gel kurang sempurna bila terjadi
ikatan silang antar polimer di dalam matriks gel yang dapat menyebabkan kelarutan
komponen gel berkurang.
2) Sineresis
Suatu proses yang terjadi akibat adanya kontraksi di dalam massa gel. Cairan yang terjerat
akan keluar dan berada di atas permukaan gel. Pada waktu pembentukan gel terjadi tekanan
yang elastis, sehingga terbentuk massa gel yang tegar. Mekanisme terjadinya kontraksi
berhubungan dengan fase relaksasi akibat adanya tekanan elastis pada saat terbentuknya gel.
Adanya perubahan pada ketegaran gel akan mengakibatkan jarak antar matriks berubah,
sehingga memungkinkan cairan bergerak menuju permukaan. Sineresis dapat terjadi pada
hidrogel maupun organogel.
3) Efek suhu
Efek suhu mempengaruhi struktur gel. Gel dapat terbentuk melalui penurunan temperatur
tapi dapat juga pembentukan gel terjadi setelah pemanasan hingga suhu tertentu. Polimer
seperti MC, HPMC, terlarut hanya pada air yang dingin membentuk larutan yang kental.
Pada peningkatan suhu larutan tersebut membentuk gel. Fenomena pembentukan gel atau
pemisahan fase yang disebabkan oleh pemanasan disebut thermogelation.
4) Efek elektrolit
Konsentrasi elektrolit yang sangat tinggi akan berpengaruh pada gel hidrofilik dimana ion
berkompetisi secara efektif dengan koloid terhadap pelarut yang ada dan koloid digaramkan
(melarut). Gel yang tidak terlalu hidrofilik dengan konsentrasi elektrolit kecil akan
meningkatkan rigiditas gel dan mengurangi waktu untuk menyusun diri sesudah pemberian
tekanan geser. Gel Na-alginat akan segera mengeras dengan adanya sejumlah konsentrasi
ion kalsium yang disebabkan karena terjadinya pengendapan parsial dari alginat sebagai
kalsium alginat yang tidak larut.
5) Elastisitas dan rigiditas
Sifat ini merupakan karakteristik dari gel gelatin agar dan nitroselulosa, selama transformasi
dari bentuk sol menjadi gel terjadi peningkatan elastisitas dengan peningkatan konsentrasi
pembentuk gel. Bentuk struktur gel resisten terhadap perubahan atau deformasi dan

8
mempunyai aliran viskoelastik. Struktur gel dapat bermacam-macam tergantung dari
komponen pembentuk gel.
6) Rheologi
Larutan pembentuk gel (gelling agent) dan dispersi padatan yang terflokulasi memberikan
sifat aliran pseudoplastis yang khas, dan menunjukkan jalan aliran non–newton yang
dikarakterisasi oleh penurunan viskositas dan peningkatan laju aliran.

2.2.6 Metode Pembuatan Gel


Metode pembuatan gel bervariasi tergantung bahan dasar yang digunakan, viskositas,
konsistensi sistem koloid, atau sistem dispersi berpengaruh pada pembuatan. Pada keadaan
dingin caranya mencampur bahan-bahan sedimikian rupa sehingga sediaan terdisperai secara
homogen. Dengan pemanasan, yaitu dengan cara mencampur sebagian atau seluruh bahan gel
kemudian dipanaskan atau dikembangkan dalam air panas. Caranya, mula - mula bahan obat
diaduk kuat untuk mencegah timbulnya pengendapan. Kemudian diaduk pelan untuk mencegah
timbulnya gelembung udara sampai sediaan cukup kental dan tidak terlalu lengket untuk dituang.

2.3 Jerawat
Jerawat merupakan penyakit kulit yang sering terjadi pada masa remaja bahkan hingga
dewasa yang ditandai dengan adanya komedo, papul, pustul, nodus, dan kista pada daerah wajah,
leher, lengan atas, dada, dan punggung. Meskipun tidak mengancam jiwa, jerawat dapat
mempengaruhi kualitas hidup seseorang dengan memberikan efek psikologis yang buruk berupa
cara seseorang menilai, memandang dan menanggapi kondisi dan situasi dirinya (Wahdaningsih
dkk., 2014). Pada kulit yang semula dalam kondisi normal, sering kali terjadi penumpukan
kotoran dan sel kulit mati karena kurangnya perawatan dan pemeliharaan, khususnya pada kulit
yang memiliki tingkat reproduksi minyak yang tinggi. Akibatnya saluran kandung rambut
(folikel) menjadi tersumbat menghasilkan komedo. Sel kulit mati dan kotoran yang menumpuk
tersebut, kemudian terkena bakteri acne, maka timbulah jerawat. Jerawat yang tidak diobati akan
mengalami pembengkakan (membesar dan berwarna kemerahan) disebut papul. Bila peradangan
semakin parah, sel darah putih mulai naik ke permukaan kulit dalam bentuk nanah (pus), jerawat
tersebut disebut pustul (Mitsui, 1997).

9
Jerawat radang terjadi akibat folikel yang ada di dalam dermis mengembang karena berisi
lemak padat, kemudian pecah, menyebabkan serbuan sel darah putih ke area folikel sebaseus,
sehingga terjadilah reaksi radang. Peradangan akan semakin parah jika kuman dari luar ikut
masuk ke dalam jerawat akibat perlakuan yang salah seperti dipijat dengan kuku atau benda lain
yang tidak steril. Jerawat radang mempunyai ciri berwarna merah, cepat membesar, berisi nanah
dan terasa nyeri. Pustul yang tidak terawat, maka jaringan kolagen akan mengalami kerusakan
sampai pada lapisan dermis, sehingga kulit/wajah menjadi bekas luka (Mitsui, 1997).
Menurut Mitsui (1997), ada tiga penyebab terjadinya jerawat diantaranya:
1. Sekresi kelenjar sebaseus yang hiperaktif
Pada kulit bagian dermis terdapat kelenjar sebaseus yang memproduksi lipida. Lipida yang
dihasilkan disalurkan ke permukaan kulit lewat pembuluh sebaseus dan bermuara pada pori
kulit. Kelenjar sebaseus yang hiperaktif menyebabkan produksi lipida berlebihan sehingga
kadar lipida pada kulit tinggi, sehingga mengakibatkan kulit berminyak. Jika produksi
lipida tidak diimbangi oleh pengeluaran yang sepadan maka akan terjadi penimbunan dan
menyebabkan pori tersumbat. Sebum yang mampat akan memicu terjadinya inflamasi dan
terbentuk jerawat. Aktivitas kelenjar sebaseus dipicu oleh hormon testosteron, sehingga
pada usia pubertas (10-16 tahun) akan banyak timbul jerawat pada muka, dada, punggung
sedangkan pada wanita produksi lipida dari kelenjar sebaseus dipicu oleh hormon pelutein
yang meningkat pada saat terjadi menstruasi.
2. Hiperkeratosis pada infundibulum rambut
Hiperkeratosis mudah terjadi pada infundibulum folikel rambut, yang menyebabkan sel
tanduk menjadi tebal dan menyumbat folikel rambut, serta membentuk komedo. Jika
folikel rambut pori tersumbat/menyempit maka sebum tidak bisa keluar secara normal,
akibatnya akan merangsang pertumbuhan bakteri jerawat yang menyebabkan peradangan.
Selain itu, adanya pengaruh sinar UV dapat menyebabkan jerawat bertambah parah, karena
adanya sinar matahari merangsang terjadinya keratinisasi. Jerawat juga bisa disebabkan
oleh muka yang kotor yang mengakibatkan pori-pori tersumbat.
3. Efek dari bakteri
Kelebihan sekresi dan hiperkeratosis pada infundibulum rambut menyebabkan
terakumulasinya sebum. Sebum ini yang mengandung banyak timbulnya bakteri jerawat.
Enzim lipase yang dihasilkan dari bakteri menguraikan trigliserida pada sebum menjadi

10
asam lemak bebas, yang menyebabkan inflamasi dan akhirnya terbentuk jerawat.
Inflamasi dipicu oleh bakteri Propionibacterium acne, Staphylococcus epidermidis, dan
Staphylococcus aureus. Kelebihan sekresi dan hiperkeratosis pada infundibulum rambut
menyebabkan terakumulasinya sebum. Sebum yang terakumulasi kemudian menjadi
sumber nutrisi bagi pertumbuhan Propionibacterium acne, sedangkan Staphylococcus
epidermidis dan Staphylococcus aureus dapat menimbulkan infeksi sekunder pada jerawat,
infeksi akan bertambah parah apabila jerawat sudah bernanah (Mitsui, 1997).

2.4 Antibakteri
Antibakteri adalah zat yang mengganggu pertumbuhan dan metabolisme melalui
penghambatan pertumbuhan bakteri (Pelczar dan Chan, 2005). Berdasarkan efeknya terhadap
pertumbuhan bakteri, antibakteri dapat dibedakan menjadi tiga golongan yaitu bakteriostatik,
bakteriosidal, dan bakteriolitik. Bakteriostatik merupakan antibakteri yang dapat menghambat
proses biokimia penting seperti sintesis protein karena senyawa tersebut dapat berikatan lemah
dengan bakteri target, sehingga apabila senyawa tersebut dihilangkan pertumbuhan bakteri dapat
berlanjut kembali. Berbeda dengan bakteriostatik, bakteriosidal dapat berikatan kuat dengan
bakteri target sehingga dapat membunuh bakteri tersebut tanpa melisis sel bakteri targetnya. Di
sisi lain, bakteriolitik memiliki kemampuan untuk membunuh bakteri dengan cara melisiskan
selnya sehingga isi sitoplasmanya keluar dari sel (Madigan dkk., 2015).

2.5 Preformulasi Bahan


1) Karbopol
Karbopol dengan nama resmi carboxy polymethylene memiliki rumus molekul C10-C30
alkyl acrylates cross polymer. Sinonim dari karbopol diantaranya adalah acritamer, polimer asam
akrilat, karbomer, dll. Karbopol memiliki beberapa kelas diantaranya karbopol 934, karbopol
940, karbopol 941, dll (Rowe dkk., 2006). Karbopol berbentuk serbuk hablur putih, sedikit
berbau khas, dan higroskopis sehingga perlu disimpan dalam wadah tertutup rapat. Karbopol
larut dalam air hangat, etanol, dan gliserin. (Rowe dkk., 2006). Salah satu fungsi karbopol adalah
sebagai gelling agent pada konsentrasi 0,5 - 2,0%. Karbopol didispersikan ke dalam air
membentuk larutan asam yang keruh kemudian dinetralkan dengan basa kuat seperti sodium
hidroksida, trietanolamin, atau dengan basa inorganik lemah (contoh: ammonium hidroksida),

11
sehingga akan meningkatkan konsistensi dan mengurangi kekeruhan (Barry, 1983; Rowe dkk.,
2006). Tipe karbopol yang digunakan dalam penelitian ini adalah karbopol 940. Menurut Allen
(2002), karbopol 940 adalah alternatif basis yang paling efisien dibandingkan semua resin
karbopol lain dan memiliki sifat nondrop yang baik.
2) Propilen glikol
Propilen glikol berbentuk cair, jernih, tidak berwarna, kental, dan rasa agak manis. Propilen
glikol larut dalam aseton, kloroform, etanol (95%), gliserin, dan air. Propilen glikol bersifat
higroskopis, stabil pada suhu dingin dan wadah tertutup rapat. Pada suhu tinggi dan di tempat
terbuka cenderung mengoksidasi dan stabil ketika dicampur dengan etanol (95%), gliserin, atau
air. Kegunaan propilen glikol adalah sebagai humektan, penahan lembab, memungkinkan
kelembutan dan daya sebar yang tinggi dari sediaan, serta melindungi gel dari kemungkinan
pengeringan (Voigt, 1984). Propilen glikol diketahui sebagai material non-toksik telah digunakan
secara luas dalam formulasi farmasetik dan kosmetik (Rowe dkk., 2006).
3) Trietanolamin
Gel umumnya merupakan suatu sediaan semipadat yang jernih dan tembus cahaya yang
mengandung zat-zat aktif dalam keadaan terlarut. Karbomer 940 akan mengembang jika
didispersikan dalam air dengan adanya zat-zat alkali seperti trietanolamin atau diisopropinolamin
untuk membentuk sediaan semi padat (Lachman, 2007). Senyawa ini tidak berwarna atau kuning
pucat, kental dan sedikit berasa ammonia, trietanolamin (TEA) mempunyai rumus molekul
C6H15O3 dengan berat molekul yaitu 149,19. Umumnya digunakan pada formulasi sediaan
topikal sebagai bahan pemberi basa (Rowe, 2009).
4) Metil paraben
Memiliki sinonim E218, 4-hidroksibenzoat asam metil ester, metil p-hidroksibenzoat,
nipagin, uniphen P-23. Metilparaben merupakan hablur atau serbuk tidak berwarna, tidak berbau
atau berbau khas lemah yang mudah larut dalam etanol dan eter, praktis tidak larut dalam
minyak, dan larut dalam 400 bagian air (Rowe dkk., 2006). Metilparaben banyak digunakan
sebagai pengawet antimikroba dalam kosmetik, produk makanan, dan formulasi farmasi.
Golongan paraben efektif pada rentang pH yang luas dan mempunyai aktivitas antimikroba pada
spektrum yang luas. Metil paraben biasa digunakan sendiri atau dikombinasikan dengan paraben
lainnya. Konsentrasi metil paraben sebagai pengawet pada sediaan topikal 0,02% - 0,3% (Rowe,
2009).

12
2.6 Evaluasi Sedian Gel
Evaluasi sediaan gel dan uji stabilitas yang meliputi pemeriksaan organoleptik, pH,
homogenitas, kemampuan menyebar dan viskositas (Lachman dkk., 1994).
1) Uji Organoleptik
Pengamatan ini meliputi pengamatan terhadap warna, bau dan bentuk.
2) Uji Homogenitas
Sediaan gel dioleskan di atas kaca objek, kemudian dikatupkan dengan kaca objek lainnya
dan dilihat apakah gel tersebut homogen atau tidak.
3) Uji viskositas dan sifat alir (Chrader K, and Andreas D, 2005)
Penentuan viskositas bertujuan untuk mengetahui adanya perubahan kekentalan pada tiap
formula gel. Penentuan viskositas dilakukan dengan menggunakan viskositas Brookfield tipe
RV dengan mengamati angka pada skala viscometer dengan kecepatan tertentu. Sejumlah
gel diletakkan dalam wadah berupa tabung silinder kaca (gelas piala) dengan spindle yang
sesuai dimasukkan sampai garis batas lalu diputar dengan kecepatan tertentu sampai jarum
viscometer menunjukkan pada satu skala yang konstan. Faktor perkalian dapat dilihat pada
tabel yang sesuai dengan kecepatan dan spindle yang digunakan. Viskositas gel dihitung
dengan rumus:
Viskositas (η) = (skala x faktor perkalian) cps
Gaya (F) = (skala x Kv) dyne/cm2
Diketahui Kv = 7187,00 dyne/cm2
Penentuan sifat alir dilakukan dengan mengubah-ubah rpm sehingga didapat nilai viskositas
pada berbagai rpm. Sifat alir dapat diketahui dengan cara membuat kurva antara kecepatan
geser (rpm) dengan gaya (dyne/cm2). Data yang diperoleh kemudian diplotkan pada kertas
grafik antara gaya (x) dan kecepatan geser (y) kemudian ditentukan sifat alirnya.
4) Uji Kemampuan menyebar
Sediaan gel dioleskan pada cincin Teflon yang mempunyai diameter luas 55 mm dengan
ketebalan 3 mm dan diameter dalam sebesar 15 mm dengan beralaskan kaca. Bagian dalam
cincin Teflon dipenuhi dengan gel kemudian diratakan dan tanpa gelembung udara.
Kemudian cincin Teflon diangkat secara hati-hati sehingga didapat olesan gel dengan
diameter 15 mm dan ketebalan 3 mm. get tersebut kemudian ditutup dengan lempeng kaca
yang mempunyai diameter 8 cm dengan bobot 20 g kemudian ditekan dengan beban seberat

13
200 g dan didiamkan selama 3 menit. Setelah itu beban dipindahkan dan diukur dengan
menggunakan jangka sorong. Selanjutnya penyebaran permukaan gel dilakukan dengan
menggunakan rumus:
F = π x r2 (mm2)
F = kemampuan menyebar
Π = 3,14
R = jari-jari
Berdasarkan diameter penyebaran maka konsistensi gel dapat diklasifikasikan sebagai
berikut:
a. Diameter ≤ 50 mm : gel semipadat
b. 50> diameter < 70 mm : gel semi setengah padat
c. Diameter ≥ 70 mm : gel cair
5) Uji pH
Alat pH meter dikalibrasi menggunakan larutan dapar pH 7 dan pH 4. Sebanyak 1 g
disediakan yang akan diperksa diencerkan dengan air suling hingga 10 ml. elektroda pH
meter dicelupkan ke dalam larutan yang diperiksa, jarum pH meter dibiarkan bergerak
sampai menujukkan posisi tetap, pH yang ditunjukkan jarum pH meter dicatat.
6) Uji Stabilitas
Dilakukan pada sediaan yang disimpan pada suhu kamar (25ºC) dan suhu 60ºC selama 12
minggu dan dievaluasi pada minggu ke 0, 1, 2, 3 hingga minggu ke 12 meliputi uji
organoleptik, homogenitas, pengukuran pH, kemampuan menyebar, viskositas dan sifat alir.
7) Uji Keamanan; Uji Iritasi (Draize, 1959)
Uji iritasi sediaan krim M/A dilakukan terhadap hewan uji marmot dengan menggunakan
metode Draize. Penelitian ini menggunakan 6 ekor marmut berumur rata-rata 2 bulan dan
berat badan rata-rata 500 g. Rambut marmut dicukur pada bagian punggungnya sampai
bersih. Untuk menghilangkan bulu halus digunakan veet sebagai perontok bulu-bulu halus.
Pencukuran dilakukan secara hati-hati agar tidak melukai punggung marmut. Punggung
marmut dibagi menjadi 6 bagian yang berbentuk bujur sangkar yang akan diberikan perlakuan
sediaan krim M/A dengan konsentrasi 5%, 10%, 20%, basis, kontrol sakit, dan kontrol sehat.
Masing-masing sampel iritan sebanyak 0,5 gram dioleskan pada bagian punggung kelinci
yang telah dicukur, lalu ditutup dengan kasa steril kemudian direkat-kan dengan plester.

14
Setelah 24 jam, plester dan perban dibuka dan dibiarkan selama 1 jam, lalu diamati. Setelah
diamati, bagian tersebut ditutup kembali dengan plester yang sama dan dilakukan pengamatan
kembali setelah 72 jam. Selanjutnya untuk setiap keadaan kulit diberi nilai sebagai berikut:
a. Eritema
Tidak ada eritema = 0
Eritema sangat ringan = 1
Eritema ringan = 2
Eritema sedang = 3
Eritema berat = 4
b. Edema
Tidak ada edema = 0
Edema sangat ringan = 1
Edema ringan = 2
Edema sedang = 3
Edema berat = 4
Indeks iritasi dihitung dengan cara menjumlahkan nilai dari setiap kelinci percobaan
setelah 24 jam dan 72 jam pemberiaan sampel iritan, kemudian dibagi 4. Penilaian
iritasinya sebagai berikut: 0,00 = Tidak mengiritasi 0,04-0,99 = Sedikit mengiritasi 1,00-
2,99 = Iritasi ringan 3,00-5,99 = Iritasi sedang 6,00-8,00 = Iritasi berat.
8) Uji Aktivitas antibakteri
Uji aktivitas antibakteri meliputi pembuatan seri konsentrasi dan persiapan kontrol negatif.
Kontrol negatif yang digunakan adalah etanol 96%. Uji aktivitas antibakteri dilakukan
menggunakan media agar darah untuk Propionibacterium acnes dan Nutrient Agar untuk
Staphylococcus epidermidis. Pada media yang telah memadat biakan bakteri ditanam
menggunakan jarum ose dengan menggoreskannya ke media. Kemudian diletakkan cakram
kertas dengan diameter 6 mm, diteteskan 20 µL larutan uji minyak atsiri daun jeruk sambal
dengan berbagai konsentrasi dan kontrol negatif pada cakram kertas. Diinkubasi dalam
inkubator pada suhu 35 ± 2°C selama 24 – 48 jam, setelah itu diukur diameter daerah
hambatan (zona jernih) pertumbuhan di sekitar cakram dengan menggunakan jangka
sorong.

15
2.7 Formulasi Sediaan Gel Antijerawat
Formulasi sediaan gel antijerawat dari beberapa jurnal dapat dilihat pada Tabel 1 berikut ini.

Formula (%)
Bahan Kegunaan
F1 F2 F3
Karbopol - 2,45 1 Gelling agent
HPMC 10 4000 - Gelling agent
Propilenglikol 15 15 10 Humektan
Propil paraben 0,02 0,02 Pengawet
Metil paraben 0,18 0,18 0,1 Pengawet
TEA - 2,45 1 Alkalizing agent
Kuersetin 0,05 - - Zat aktif
Minyak atsiri Sereh - - 1 Zat aktif
Minyak atsiri Jeruk Sambal - 1 - Zat aktif
Aquadest ad 100 ad 100 ad 100 Pelarut
Tabel 1. Formulasi Sediaan Gel Antijerawat dari Beberapa Jurnal Penelitian

Keterangan:
F1 : Formulasi Dan Uji Stabilitas Gel Antijerawat Yang Mengandung Kuersetin Serta Uji
Efektivitas Terhadap Staphylococcus epidermidis
F2 : Uji Efektivitas Sediaan Gel Anti Jerawat Minyak Atsiri Daun Jeruk Sambal (X
Citrofortunella microcarpa (Bunge) Wijnands) terhadap Propionibacterium acnes dan
Staphylococcus epidermidis
F3 : Formulasi Penulis

2.7.2 Pembuatan Sediaan Gel


1. Karbopol dikembangkan dalam air panas bersuhu lebih dari 80ºC. Proses
pengembangan dilaukan selama 30 menit.
2. Ditambahkan TEA sedikit demi sedikit sambil dihomogenkan dengan homogenizer
hingga terbentuk basis gel (campuran 1).
3. Ditambahkan propilenglikol ke dalam campuran 1 (campuran 2).

16
4. Ditambahkan metil paraben dan propil paraben yang sudah dilarutkan dengan sebagian
propilenglikol ke dalam campuran 2 (campuran 3).
5. Ke dalam campuran 3 ditambahkan minyak atsiri Sereh (Cymbopogon citratus)
6. Ditambahkan aquadest
7. Semua bahan yang telah tercampur dihomogenkan dengan menggunakan homogenizer
dengan kecepatan dan pengadukan yang optimal.
8. Sediaan gel kemudian dikemas.

17
BAB III
PEMBAHASAN

Pada F1 digunakan kuesetin sebagai zat aktif sediaan gel antijerawat dihasilkan
karakteristik sediaan semipadat, berwarna kuning muda, tidak berbau, pH kulit sesuai pH kulit,
daya lekat besar, viskositas tinggi stabil hingga 12 minggu pada penyimpanan suhu 4°C, 28±2°C
dan 40°C. Pada formulasi ini tidak dilakukan pengujian homogenitas dan uji keamanan, yang
mana berujuan untuk melihat ada tidaknya butiran kasar/partikel yang bergerombol yang masih
terdapat dalam sediaan gel. Sedangkan uji keamanan yakni uji iritasi untuk melihat seberapa
besar gel mengiritasi kulit. Metode ekstraksi untuk mendapatkan isolat kuersetin yang digunakan
tidak dijelaskan di dalam jurnal penelitian.
Penelitian sediaan gel pada F2 menggunakan minyak atsiri jeruk sambal sebagai zat aktif.
Metode ekstraksi yang digunakain ialah destilasi uap air. F2 menghasilkan karakteristik gel yang
berwarna putih susu, homogen, pH 6,9, berbau khas daya sebar tinggi, viskositas rendah.
Evaluasi yang tidak dilakukan dalam penelitian ini yakni uji keamanan (uji iritasi).
Pada F3 digunakan minyak atsiri Sereh sebagai zat aktif karena mengandung geraniol dan
sitral sebagai komponen senyawa antibakteri. Karbopol digunakan sebagai salah satu bahan
dasar gel berdasarkan bentuk dan penampakan gel yang ingin diperoleh yakni gel satu fase dan
bening atau transparan. Karbopol merupakan merupakan golongan bahan sintetik yang bila
diformulasi akan membentuk gel satu fase yang jernih. Propilenglikol digunakan sebagai
humektan yang akan mempertahankan kandungan air dalam sediaan sehingga sifat fisik dan
stabilitas sediaan selama penyimpanan dapat dipertahankan. TEA berfungsi sebagai sebagai
alkalizing agent sehingga dapat meningkatkan viskositas dari karbopol, memberikan konsistensi
yang baik pada karbopol dengan membentuk basis karbopol yang lebih kental dan bening. Metil
paraben dan propil paraben digunakan sebagai pengawet. Penggunaan kombinasi kedua jenis
pengawet ini diharapkan dapat memperluas spektrum antibakteri serta dapat memperpanjang
masa simpan dari sediaan. Metode ekstraksi yang digunakan yakni destilasi uap air. Karakteristik
sediaan gel yang diharapkan yakni semipadat, transparan, berbau khas Sereh, pH 5, memiliki
daya sebar yang baik, viskositas rendah, tidak mengiritasi, serta stabil pada suhu kamar (25ºC)
dan suhu 60ºC selama 12 minggu. Pengujian efektivitas antijerawat dilakukan dengan uji
antibakteri terhadap bakteri Propionibacterium acnes dan Staphylococcus epidermidis.

18
BAB III
KESIMPULAN

1. Karaktiristik sediaan gel pada umumnya yakni:


a. Swelling
Gel dapat mengembang karena komponen pembentuk gel dapat mengabsorbsi larutan
sehingga terjadi pertambahan volume.
b. Sineresis
Suatu proses yang terjadi akibat adanya kontraksi di dalam massa gel.
c. Efek suhu
Gel dapat terbentuk melalui penurunan temperatur tapi dapat juga pembentukan gel terjadi
setelah pemanasan hingga suhu tertentu.
d. Efek elektrolit
Konsentrasi elektrolit yang sangat tinggi akan berpengaruh pada gel hidrofilik dimana ion
berkompetisi secara efektif dengan koloid terhadap pelarut yang ada dan koloid
digaramkan (melarut).
e. Elastisitas dan rigriditas
Struktur gel dapat bermacam-macam tergantung dari komponen pembentuk gel.
f. Rheologi
Larutan pembentuk gel (gelling agent) dan dispersi padatan yang terflokulasi memberikan
sifat aliran pseudoplastis yang khas, dan menunjukkan jalan aliran non–newton yang
dikarakterisasi oleh penurunan viskositas dan peningkatan laju aliran.
2. Metode pembuatan gel bervariasi tergantung bahan dasar yang digunakan, viskositas,
konsistensi sistem koloid, atau sistem dispersi berpengaruh pada pembuatan. Pada keadaan
dingin caranya mencampur bahan-bahan sedimikian rupa sehingga sediaan terdisperai secara
homogen. Dengan pemanasan, yaitu dengan cara mencampur sebagian atau seluruh bahan gel
kemudian dipanaskan atau dikembangkan dalam air panas.
3. Komponen utama gel terdiri atas gelling agent, (CMC-Na, karbopol, HPMC, gom arab,
tragakan), pengawet (metil paraben, propil paraben), penambahan bahan higroskopis (gliserin,
propilenglikol), chelating agent (EDTA), surfaktan (trietanolamine).
.

19
4. Bahan-bahan yang digunakan dalam pembuatan sediaan gel antijerawat F3 yaitu Minyak atsiri
Sereh, karbopol, propilenglikol, TEA, metil paraben propil paraben serta aquadest. Metode
yang digunakan untuk mendapatkan minyak atsir Sereh yaitu dengan cara destilasi uap air,
sedangkan pembuatan gel dilakukan dengan pemanasan terhadap karbopol. Pengujian yang
dilakukan diantaranya uji organoleptik, uji homogenitas, uji viskositas dan sifat alir, uji
kemampuan menyebar, uji ph, uji stabilitas, uji iritasi dan uji aktivitas antibakteri. Dihasilkan
karakteristik gel yang memenuhi parameter mutu yakni semipadat, transparan, berbau khas
Sereh, pH 5, memiliki daya sebar dan sifat alir yang baik, viskositas rendah, tidak mengiritasi,
serta stabil pada suhu kamar (25ºC) dan suhu 60ºC selama 12 minggu.

20
DAFTAR PUSTAKA

Allen, L. V. 2002. The Art, Science and Technology of Pharmaceutical Coumponding. American
Asociation. Washington D.C.
Ansel, H. C. 2005. Pengantar Bentuk Sediaan Farmasi. Edisi IV. UI Press. Jakarta.
Agoes, G. & Darijanto, S.T., 1993, Teknologi Farmasi Likuida Dan Semi Solida. 112, Pusat
Antar Universitas Bidang Ilmu Hayati ITB, Bandung.
Agusta, A. 2000. Minyak Atsiri Tumbuhan Tropika Indonesia. Penerbit ITB. Bandung.
Astuti, E. P. 2012. Pemisahan Sitral Dari Minyak Atsiri Serai Dapur (Cymbopogon citratus)
Sebagai Pelangsing Aromaterapi. [skripsi]. Departemen Kimia Fakultas Matematika Dan
Ilmu Pengetahuan Alam Institut Pertanian Bogor. Bogor.
Chrader K, and Andreas D. 2005. Cosmeticology-Theory and Practice. Augsburg. Vol 1. Hal:
274-275.
Draize JH. Dermal Toxicity. Austin, TX: The Association of Food and Drug Officials of the
United States, Bureau of Food and Drugs. pp. 1959; 46-49.
Lieberman, H.A. 1997. Pharmaceutical Dosage Form: Disperse Sytems, Vol. 1. New York:
Marcell Dekker Inc. Hal: 315-319.
Madigan, M. T., Martinko, J. M., Bender, K. S., Buckley, D. H., dan Stahl, D. A. 2015. Brock
Biology of Microorganism Fourteenth Edition. Pearson Education, Boston. Halaman 171-
178.
Mitsui, T. 1997. New Cosmetic and Science, 191-198, 335-338, Elsevier, Amsterdam.
Rowe, C. Raymond., Sheskey. P.J, Owen, S.C. 2006. Handbook of Pharmaceutical Excipients.
Fifth Edition. Pharmaceutical Press and American Pharmacist Association. USA.
Rowe, C. Raymond., Sheskey. P.J, Owen, S.C. 2009. Handbook Of Pharmaceutical Excipients,
6th Ed, The Pharmaceutical Press, London.
Surachmiati L. 2001. Pengelupasan Kulit Secara Kimiawi. Media Dermatologi-Vebereologia
Indonesia. Vol 21. Perdoski. Jakarta.
Surtiningsih. 2006. Cantik dengan bahan alami. PT Elex Media komputindo. Jakata. 134-7
Syamsuni, H.A. 2006. Ilmu Resep. EGC. Jakarta.
Voigt. 1984. Buku Ajar Teknologi Farmasi. Diterjemahkan oleh Soendani Noeroto S.,UGM
Press, Yogyakarta. Hal: 337-338
Wasitaatmadja S. M, Menaldi S. L. 2003. Peremajaan kulit. Fakultas kedokteran Universitas
Indonesia. Jakarta.

21