Anda di halaman 1dari 15

MAKALAH

PENDIDIKAN PANCASILA
“ Kesadaran Pajak “

Dosen pengampu : Agus salim syurah, M.Si

Disusun oleh : Kelompok

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN


AWAL BROS PEKANBARU
PROGRAM STUDI D3 RADIOLOGI
TAHUN AKADEMIK 2018 / 2019
KATA PENGANTAR

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ......................................................................................

DAFTAR ISI ....................................................................................................

BAB I PENDAHULUAN.................................................................................

A. Latar Belakang ......................................................................................


B. Rumusan Masalah .................................................................................
C. Tujuan ...................................................................................................

BAB II PEMBAHASAN ..................................................................................

BAB III PENUTUP ..........................................................................................

A. Kesimpulan ...........................................................................................

DAFTAR PUSTAKA .......................................................................................

ii
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintah Daerah,


menjelaskan bahwa pemerintah daerah diberi kewenangan untuk mengurus
pemerintahannya sendiri. Kewenangan yang diberikan termasuk pula untuk
mengembangkan dan mendayagunakan potensi daerah secara maksimal. Untuk
melaksanakan hal tersebut, dibutuhkan kebijakan pemerintahd alam
mengoptimalkan peran daerah, utamanya dalam penetapan sumber-sumber
penerimaan daerah.

Pendapatan Asli Daerah (PAD) termasuk dalam sumber-sumber penerimaan


daerah. Dalam banyak keterangan, pajak daerah, sebagai salah satu sumber PAD
merupakan sumber utama penyumbang PAD. Optimalisasi pajak daerah dapat
meningkatkan PAD, yang pada gilirannya nanti akan meningkatkan pendapat
daerah. Namun kenyataannya, pajak daerah kurang memberikan sumbangan yang
besar terhadap PAD. Hal ini salah satunya disebabkan oleh rendahnya kesadaran
masyarakat untuk membayar pajak daerah. Rendahnya kesadaran masyarakat untuk
membayar pajak daerah diduga karena minimnya pengetahuan dan informasi
masyarakat tentang pajak daerah.

Seharusnya Kesadaran membayar pajak ini tidak hanya memunculkan sikap


patuh, taat dan disiplin semata tetapi diikuti sikap kritis juga. Semakin maju
masyarakat dan pemerintahannya, maka semakin tinggi kesadaran membayar
pajaknya namun tidak hanya berhenti sampai di situ justru mereka semakin kritis
dalam menyikapi masalah perpajakan, terutama terhadap materi kebijakan di
bidang perpajakannya, misalnya penerapan tarifnya, mekanisme pengenaan
pajaknya, regulasinya, benturan praktek di lapangan dan perluasan subjek dan
objeknya. Masyarakat di negara maju memang telah merasakan manfaat pajak yang
mereka bayar. Bidang kesehatan, pendidikan, sosial maupun sarana dan prasarana
transportasi yang Salah satu usaha untuk memberikan pengetahuan dan informasi
tentang pajak daerah adalah melalui pendidikan.

iii
B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas, maka makalah ini mempunyai rumusan masalah
sebagai berikut :

1. Bagaimana tingkat kesadaran masyarakat untuk membayar pajak daerah ?


2. Bagaimana strategi meningkatkan kesadaran masyarakat untuk membayar
pajak?

C. Tujuan Penulisan Makalah

Adapun tujuan penulisan makalah ini adalah:

1. Menganalisa kesadaran masyarakat untuk membayar pajak daerah.


2. Menganalisa strategi agar meningkatkan kesadaran masyarakat untuk
membayar pajak daerah.

iv
BAB II
PEMBAHASAN

A. Kesadaran Masyarakat untuk Membayar Pajak Daerah


1. Pengertian Pajak dan Pajak Daerah

Masalah pajak telah diatur dalam UUD 1945 pasal 23 ayat 2. Pajak
adalah iuran resmi yang wajib dibayarkan oleh wajib pajak (orang atau badan
usaha) kepada negara berdasarkan undang-undang, tanpa mendapat balas saja
secara langsung. Ada banyak pengertian pajak menurut para ahli. Salah
satunya adalah menurut Prof. Dr. Djajadiningrat: pajak adalah kewajiban
masyarakat untuk menyerahkan sebagaian kekayaan karena suatu keadaan
ataupun karena kejadian yang ditetapkan pemerintah dan bersifat dapat
dipaksanakan dengan balas jasa yang tidak dapat diberikan secara langsung
dari negara.

Menurut Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 28 Tahun 2007


tentang perubahan ketiga atas Undang-Undang Nomor 6 Tahun 1983 tentang
Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan, pengertian pajak adalah
kontribusi wajib kepada negara yang terutang oleh pribadi atau badan yang
bersifat memaksa berdasarkan undang-undang, dengan tidak mendapatkan
imblan secara langsung dan digunakan untuk keperluan negara bagi sebenar-
benarnya kemakmuaran rakyat. Pajak mempunyai ciri-ciri sebagai berikut :

a. Iuran wajib yang harus dibayarkan para wajib pajak


b. Dipungut berdasarkan undang-undang
c. Digunakan untuk kepentingan umum
d. Wajib pajak tidak diberi balas jasa atau manfaat secara langsung.

Sedangkan Pajak Daerah adalah pungutan yang dilakukan Pemerintah


Daerah berdasarkan peraturan perundangan yang berlaku. Pajak daerah dapat
dibedakan dalam dua kategori yaitu pajak daerah yang ditetapkan oleh
peraturan daerah dan pajak negara yang pengelolaan dan penggunaannya
diserahkan kepada daerah. Di era otonomi daerah seperti sekarang ini, pajak
daerah merupakan sumber penerimaan penting dalam keuangan pemerintah

1
daerah untuk menjalankan roda pemerintahan. Pajak daerah dapat dibedakan
menjadi pajak daerah tingkat provinsi dan pajak daerah tingkat II (kabupaten).

Salah satu ukuran kemampuan daerah untuk melaksanakan otonomi adalah


dengan melihat besarnya nilai Pendapatan Asli Daerah (PAD) yang dapat dicapai
oleh daerah tersebut. Dengan PAD yang relatif kecil akan sulit bagi daerah tersebut
untuk melaksanakan proses penyelenggaraan pemerintahan dan pembangunan
secara mandiri, tanpa didukung oleh pihak lain (dalam hal ini Pemerintah Pusat dan
Propinsi). Padahal dalam pelaksanaan otonomi ini, daerah dituntut untuk mampu
membiayai dirinya sendiri.

Melihat pentingnya pajak daerah (pajak), maka kesadaran masyarakat


untuk membayar pajak harus diperhatikan. Dengan lancar dan tertibnya masyarakat
membayar pajak, diharapkan pembangunan di daerah akan berlangsung dengan
baik dan berkelanjutan. Namun kenyataannya, tingkat kesadaran masyarkat dalam
membayar pajak belum seperti yang diharapkan. Masih banyak masyarakat yang
belum taat dan patuh untuk membayar pajak daerah. Masyarkata banyak yang
belum paham bahwa pajak itu adalah kewajiban sebagai seorang warga negara.

2. Tingkat Kesadaran Masyarakat untuk Membayar Pajak Daerah

Dalam tesisnya Utomo, Pudjo Susilo (2002) Analisis Faktor-faktor


yang Mempengaruhi Kesadaran Masyarakat Untuk Membayar Pajak Bumi
dan Bangunan di Kecamatan Karangtengah Kabupaten Demak. Masters
thesis, Program Pascasarjana Universitas Diponegoro, menjelaskan bahwa:

a. Faktor-faktor yang mempengaruhi kesadaran masyarakat untuk


membayar Pajak Bumi dan Bangunan. Faktor yang cukup menonjol
adalah kepemimpinan, kualitas pelayanan, dan motivasi. Pemimpin
harus mampu menciptakan kemudahan untuk merangsang kesadaran
yang dipimpin, dalam hal ini adalah kesadaran masyarakat untuk
membayar Pajak Bumi dan Bangunan. Pelayanan masyarakat merupakan
salah satu tugas lurah desa, memberi pelayanan yang berkualitas telah
menjadi obsesi yang selalu ingin dicapai. Motivasi adalah dorongan agar
2
orang mau melakukan sesuatu dengan ikhlas dengan sebaik-baiknya.
Dan kepemimpinan yang baik, pelayanan yang berkualitas dan motivasi
yang baik akan dapat mempengaruhi kesadaran masyarakat untuk
membayar Pajak Bumi dan Bangunan.
b. Faktor ekonomi /tingkat pendapatan. Sekretaris Kamar Dagang dan
Industri (KADIN) sebagaimana dikutip Rohmat Soemitro (1988.299)
menyatakan : “Masyarakat tidak akan menemui kesulitan dalam
memenuhi kewajiban membayar pajaknya kalau nilai yang harus dibayar
itu masih di bawah penghasilanyang sebenarnya mereka peroleh secara
rutin”. Faktor ekonomi merupakan hal yang sangat fundamental dalam
hal melaksanakan kewajiban. Masyarakat yang miskin akan menemukan
kesulitan untuk membayar pajak. Kebanyakan mereka akan memenuhi
kebutuhan hidup terlebih dahulu sebelum membayar pajak. Karenanya
tingkat pendapatan seseorang dapat mempengaruhi bagaimana seseorang
tersebut memiliki kesadaran dan kepatuhan akan ketentuan hukum dan
kewajibannya.

Kemudian terdapat juga faktor Negatif atau yang Menghambat Tingkat Kesadaran
dan Kepedulian Sukarela Wajib Pajak, antara lain:

a. Prasangka negatif kepada aparat perpajakan harus digantikan dengan


prasangka positif. Sebab, prasangka negatif ini akan menyebabkan para
wajib pajak bersikap defensif dan tertutup. Mereka akan cenderung
menahan informasi dan tidak co operatif. Mereka akan berusaha
memperkecil nilai pajak yang dikenakan pada mereka dengan
memberikan informasi sesedikit mungkin. Perlu usaha keras dari
lembaga perpajakan dan media massa untuk membantu menghilangkan
prasangka negatif tersebut.
b. Hambatan atau kurangnya intensitas kerjasama dengan Instansi lain
(pihak ketiga) guna mendapatkan data mengenai potensi Wajib Pajak
baru, terutama dengan instansi daerah atau bukan instansi vertikal.
c. Bagi Calon Wajib Pajak, Sistem Self Assessment dianggap
menguntungkan, sehingga sebagian besar mereka enggan untuk

3
mendaftarkan dirinya bahkan menghindar dari kewajiban ber-NPWP.
Data-data tentang dirinya selalu diupayakan untuk ditutupi sehingga
tidak tersentuh oleh DJP.
d. Masih sedikitnya informasi yang semestinya disebarkan dan dapat
diterima masyarakat mengenai peranan pajak sebagai sumber
penerimaan negara dan segi-segi positif lainnya.
e. Adanya anggapan masyarakat bahwa timbal balik (kontra prestasi) pajak
tidak bisa dinikmati secara langsung, bahkan wujud pembangunan sarana
prasana belum merata, meluas, apalagi menyentuh pelosok tanah air.
f. Adanya anggapan masyarakat bahwa tidak ada keterbukaan pemerintah
terhadap penggunaan uang pajak.

Pada dasarnya sumber-sumber penerimaan tersebut masih rendah


sumbangannya terhadap PAD. Kecilnya nilai PAD suatu daerah dapat disebabkan
oleh :

a. banyak sumber pendapatan di kabupaten/kota yang besar, tetapi digali


oleh instansi yang lebih tinggi, misalnya pajak kendaraan bermotor
(PKB), dan pajak bumi dan bangunan (PBB);
b. badan Usaha Milik Daerah (BUMD) belum banyak memberikan
keuntungan kepada Pemerintah Daerah;
c. kurangnya kesadaran masyarakat dalam membayar pajak, retribusi, dan
pungutan lainnya;
1) adanya kebocoran-kebocoran;
2) biaya pungut yang masih tinggi;
3) banyak Peraturan Daerah yang perlu disesuaikan dan disempurnakan;
4) kemampuan masyarakat untuk membayar pajak yang masih rendah.

Diantara penyebab kecilnya nilai PAD tersebut, terlihat bahwa kurangnya


kesadaran masyarakat untuk membayar pajak, retribusi, dan pungutan lainnya
menjadi salah satu faktor yang mempengaruhi tinggi rendahnya PAD suatu daerah.
Tingkat kesadaran masyarakat untuk membayar pajak daerah dipengaruhi oleh
banyak hal. Pendidikan menjadi salah satu faktor yang mempengaruhi tingkat
kesadaran masyarakat untuk membayar pajak daerah.
4
Jika kita amati, pengetahuan masyarakat tentang pajak sangat minim. Banyak
diantara mereka yang tidak tahu sama sekali tentang pengertian pajak, fungsi, dan
manfaatnya. Ketidaktahuan mereka karena tidak adanya informasi yang jelas dan
terpogram yang disampaikan oleh pemerintah. Akibat ketidaktahuan mereka
tentang informasi yang benar tentang pajak, mengakibatkan tingkat kesadaran
masyarakat untuk membayar pajak menjadi rendah. Salah satu upaya untuk
meningkatkan kesadaran masyarakat membayar pejak adalah melalui pendidikan.

B. Strategi untuk meningkatkan Kesadaran Masyarakat untuk Membayar Pajak


Daerah

Penerimaan pajak yang tingi dari masyarakat pada hakiikatnya akan


membantu APBN Negara dan meningkatkan pula pelayanan dari Negara. Indikasi
tingginya tingkat kesadaran dan kepedulian Wajib Pajak antara lain:

1. Realisasi penerimaan pajak terpenuhi sesuai dengan target yang telah


ditetapkan.
2. Tingginya tingkat kepatuhan penyampaian SPT Tahunan dan SPT Masa.
3. Tingginya Tax Ratio
4. Semakin Bertambahnya jumlah Wajib Pajak baru.
5. Rendahnya jumlah tunggakan / tagihan wajib pajak.
6. Tertib, patuh dan disiplin membayar pajak atau minimnya jumlah
pelanggaran pemenuhan kewajiban perpajakan.

Kemudian langkah-langkah Alternatif Membangun Kesadaran dan Kepedulian


serta Sukarela Wajib Pajak sangat perlu diperhatikan oleh Dirjen pajak itu sendiri.
Beberapa hal yang perlu menjadi perhatian Direktorat Jenderal Pajak dalam
membangun kesadaran dan kepedulian sukarela Wajib Pajak antara lain:

a. Melakukan sosialisasi

Sebagaimana dinyatakan Dirjen Pajak bahwa kesadaran membayar


pajak datangnya dari diri sendiri, maka menanamkan pengertian dan
pemahaman tentang pajak bisa diawali dari lingkungan keluarga sendiri

5
yang terdekat, melebar kepada tetangga, lalu dalam forum-forum tertentu
dan ormas-ormas tertentu melalui sosialisasi. Dengan tingginya intensitas
informasi yang diterima oleh masyarakat, maka dapat secara perlahan
merubah mindset masyarakat tentang pajak ke arah yang positif. Beragam
bentuk sosialisasi bisa dikelompokkan berdasarkan: metode penyampaian,
segmentasi maupun medianya.

Berdasarkan Metode:

Penyampaiannya bisa melalui acara yang formal ataupun informal. Acara


formal biasanya menggunakan format acara yang disusun sedemikian rupa secara
resmi. Contohnya: Sosialisasi bendaharawan, sosialisasi PPh 21 karyawan Pemda,
seminar dan sebagainya. Acara informal biasanya menggunakan format acara yang
lebih santai dan tidak resmi. Contohnya: Ngobrol santai dengan wartawan, dengan
tokoh masyarakat, dan sebagainya.

Berdasarkan segmentasi:

Bisa membaginya untuk kelompok umur tertentu, kelompok pelajar dan


mahasiswa, kelompok pengusaha tertentu, kelompok profesi tertentu,
kelompok/ormas tertentu.

Menanamkan kesadaran tentang pajak sejak dini, akan sangat berpengaruh


terhadap pola pikir anak-anak dan menimbulkan rasa kebanggaan terhadap pajak.
Contoh yang pernah dilakukan DJP adalah High School Tax Road Show, High
School Tax Competition, Tax Goes to Campus, ini merupakan kegiatan yang
menimbulkan greget, heboh dan sangat berkesan, bahkan sangat dirindukan muncul
lagi oleh kalangan pelajar maupun mahasiswa. Mungkin perlu dilakukan secara
berkesinambungan dengan format yang beragam, kreatif serta inovatif. Perlu
diberikan apresiasi kepada salah satu kanwil yang melaksanakan HSTRS ini dengan
membuat kegiatan Turnamen Basket Ball antar SMU terpanjang/terlama. Format
HSTRS yang diselingi turnamen Basket Ball dengan memindahkan lokasi/tempat
pertandingan ke sekolah yang ada lapangan basketnya untuk setiap even itu
diadakan, sehingga masyarakat begitu terkesan dengan even ini.

6
Berdasarkan media yang dipakai:

Sosialisasi dapat dilakukan melalui media elektronik dan media cetak.


Misalnya: dilakukan dengan talkshow di radio atau televisi, membuat opini, ulasan
dan rubrik tanya jawab di koran, tabloid atau majalah. Iklan pajak pun mempunyai
pengaruh dan dampak positif terhadap meningkatkan kesadaran dan kepedulian
sukarela wajib pajak. Bentuk propaganda lainnya seperti: spanduk, banner, papan
iklan/billboard, dan sebagainya

Contoh-contoh sosialisasi lainnya:

1) Dapat dilakukan dengan datang langsung ke kantor-kantor dan


pemerintah daerah di wilayah kerja, sosialisasi anggota profesi
tertentu misalnya notaris, dokter, sosialisasi asosiasi tertentu
misalnya asosiasi kontraktor jasa konstruksi, sosialisasi kepada
pejabat tertentu, anggota DPR/DPRD, misalnya dengan topik
pengisian SPT Tahunan.
2) Dapat pula dilakukan dalam bentuk pengarahan secara langsung ke
masyarakat melalui pendekatan ke masing-masing kecamatan, desa,
sampai RT/RW untuk memberikan pemahaman kepada masyarakat
terkait pentingnya pajak. Penyuluhan di bidang kesehatan,
penyuluhan di bidang peternakan dan pertanian bisa sukses, pastinya
penyuluhan DJP akan bisa lebih sukses didukung dengan tenaga
penyuluh yang sangat handal.
3) Dapat dilakukan pada kegiatan yang informal di masyarakat.
Misalnya pengajian rutin, kerja bakti, pertemuan karang taruna, dan
kegiatan masyarakat lainnya.
4) Adanya serangkaian kegiatan daerah dan instansi, perusahaan di
wilayah kerja pada saat-saat tertentu misalnya Pekan Raya, Pameran
dan Promosi dan sebagainya, setidaknya DJP harus dapat
menangkap dan ikut serta memeriahkannya dengan membuka
stand/pojok pajak.
5) Salah satu even rutin yang sangat besar gaungnya adalah Pekan
Panutan Penyampaian SPT Tahunan. Biasanya dihadiri oleh
7
Bupati/Walikota, sekda, Kepala Dinas dan Muspida yang
diharapkan bisa menjadi panutan pajak bagi masyarakat. Namun
pada kenyataannya mereka masih banyak yang tidak/belum
menyampaikan SPT Tahunan. Biasanya mendekati batas akhir
penyampaian SPT Tahunan diadakan acara yang populer diberi
nama “Ngisi Bareng SPT” yang membantu para Wajib Pajak dalam
mengisi SPT Tahunan.
6) Program yang penting juga adalah adanya Tax Center yang
bekerjasama dengan Perguruan Tinggi setempat. Sebelum
dibentuknya Tax Center biasanya dibuat kesepakatan bersama untuk
melakukan kerjasama sosialisasi perpajakan, yang bertujuan untuk
mewujudkan kesadaran dan kepedulian Wajib Pajak dalam
memenuhi kewajibannya di bidang perpajakan. Tax Center akan
membantu mensosialisasikan pengetahuan dan pemahaman tentang
pajak. Tax center terbuka bagi semua masyarakat. Siapapun yang
mengalami kesulitan perihal perpajakan bisa berkonsultasi di pusat
perpajakan ini. Perguruan Tinggi akan menyediakan ruang tax
center yang nantinya akan dipergunakan sebagai sarana informasi
dan pengetahuan tentang perpajakan.
b. Meningkatkan citra Good Governance yang dapat menimbulkan
adanya rasa saling percaya antara pemerintah dan masyarakat wajib
pajak, sehingga kegiatan pembayaran pajak akan menjadi sebuah
kebutuhan dan kerelaan, bukan suatu kewajiban. Dengan demikian
tercipta pola hubungan antara negara dan masyarakat dalam memenuhi
hak dan kewajiban yang dilandasi dengan rasa saling percaya.
c. Memberikan pengetahuan melalui jalur pendidikan khususnya
pendidikan perpajakan
d. Law Enforcement. Dengan penegakan hukum yang benar tanpa
pandang bulu akan memberikan deterent efect yang efektif sehingga
meningkatkan kesadaran dan kepedulian sukarela Wajib Pajak.
Walaupun DJP berwenang melakukan pemeriksaan dalam rangka
menguji kepatuhan pemenuhan kewajiban perpajakan, namun
8
pemeriksaan harus dapat dipertanggung jawabkan dan bersih dari
intervensi apapun sehingga tidak mengaburkan makna penegakan
hukum serta dapat memberikan kepercayaan kepada masyarakat wajib
pajak.
1) Membangun trust atau kepercayaan masyarakat terhadap pajak.
2) Merealisasikan program Sensus Perpajakan Nasional yang dapat
menjaring potensi pajak yang belum tergali. Dengan program sensus
ini diharapkan seluruh masyarakat mengetahui dan memahami
masalah perpajakan serta sekaligus dapat membangkitkan kesadaran
dan kepedulian, sukarela menjadi Wajib Pajak dan membayar Pajak.

9
BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan

Kesadaran masyrakat untuk membayar pajak masih sangat rendah, hal ini
dikarenakan tingkat pemahamana dan tingkat kepercayaan dari msyarakat itu
sendiri yang makin menurun. Strategi yang dapat dilakukan adalah dengan
menggunakan strategi Sosialisasi, Pendidikan, Law Enforcement dan juga
peningkatan citra Good governance sehingga masyarakat makin percaya dan
nyaman dalam membayar pajak.

10
DAFTAR PUSTAKA

11