Anda di halaman 1dari 28

DAFTAR ISI

DAFTAR ISI.............................................................................................................................

BAB I PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG .................................................................................................


B. RUMUSAN MASALAH..............................................................................................
C. TUJUAN MAKALAH...................................................................................................

BAB II PEMBAHASAN

A. DEFENISI.....................................................................................................................
B. ETIOLOGI....................................................................................................................
C. PATOFISIOLOGI.........................................................................................................
D. MANIFESTASI KLINIS.............................................................................................
E. PENATALAKSANAAN...............................................................................................
F. KOMPLIKASI..............................................................................................................

BAB III ASUHAN KEPERAWATAN

A. PENGKAJIAN ...........................................................................................................
B. ANALISA DATA.......................................................................................................
C. DIAGNOSA KEPERAWATAN.................................................................................
D. NURSING CARE PLANING.....................................................................................

BAB IV PENUTUP

A. KESIMPULAN.........................................................................................................
B. SARAN.....................................................................................................................

DAFTAR PUSTAKA
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena berkat rahmat-
Nyalah penulis dapat menyelesaikan makalah yang berjudul “flail chest”, tepat pada
waktunya.
Penulisan makalah ini juga merupakan penugasan dari mata kuliah respirasi.Penulis
mengucapkan terima kasih kepada dosen pembimbing dalam pembuatan makalah ini dan
teman-teman yang telah memberikan dukungan dan membantu dalam pembuatan makalah
ini, serta rekan-rekan lain yang membantu pembuatan makalah ini.
Penulis berharap makalah ini dapat bermanfaat bagi pembaca dan penulis
mengharapkan kritik dan saran dari pembaca guna memberikan sifat membangun demi
kesempurnaan makalah ini.Penulis menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari sempurna
mengingat penulis masih tahap belajar dan oleh karna itu mohon maaf apabila masih banyak
kesalahan dan kekurangan di dalam penulisan makalah ini.

Jakarta, Oktober 2013

Penyusun
BAB I
PENDAHULUAN

LATAR BELAKANG

Masalah kesehatan yang berpengaruh terhadap system respirasi yang menuntut asuhan
keperawatan dapat dialami oleh orang pada berbagai tingkat usia. Bila salah satu organ
tersebut mengalami ganguan maka akan mengganggu semua system tubuh. Flail Chest masih
merupakan masalah dalam bidang penyakit paru karena secara signifikan masih
menyebabkan kecacatan dan kematian walaupun sudah ditunjang dengan kemajuan terapi
antibiotik dan drainase rongga pleura maupun dengan tindakan operasi dekortikasi.
Penyakit tersebut dapat pula disebabkan oleh :
trauma tumpulpada thorax, misalnya akiabt kecelakaan kendaraan bermotor, jatuh dari
ketinggian, tindak kekerasan, atau benturan dengan energi yang besar

TUJUAN
Tujuan umum:
Tujuan dalam pembuatan makalah ini secara umum adalah untuk membantu dalam dapat
mengerti dan memahami flail chest.
Tujuan khusus:
1. Mengetahui pengertian dari fiail chest
2. Mengetahui penyebab dari fiail chest
3. Mengetahui tanda dan gejala dari fiail chest
4. Mengetahui klasifikasi dari fiail chest
5. Mempelajari asuhan keperawatan fiail chest
RUMUSAN MASALAH
1) Apa pengertian fiail chest ?
2) Apa saja penyebab flail chest?
3) Apa saja tanda dan gejala yang timbul pada pasien flail chest?
4) Bagaimana proses perjalanan flail chest?
5) Dan bagaimana Asuhan Keperawatan pada pasien flail chest?
BAB II
PEMBAHASAN
Anatomi dan fisiologi

Kerangka rongga toraks, merincing pada bagain atas torak dan berbentuk kerucut,
terdiri dari sternum, 12 vertebra, 10 pasang iga yang terakhir di anterior dalam segmen tulang
rawan, dan 2 pasang iga yang melayang. Kartilago dari enam iga pertama memisahkan
artikulaso dari sternum; katilago ketujuh sampai sepuluh berfungsi membentuk kostal-kostal
sebelum menyambung pada tepi bawah sternum. Perluasan rongga pleura di atas klavikula
dan atas organ dalam abdomen penting untuk dievaluasi pada luka tusuk.

Muskulatur. Muskulus-muskulus pektoralis mayor dan minor merupakan muskulus


utama dinding anterior toraks. Muskulus latisimus dorsi, trapezius, rhomboideus, dan
muskulus gelang bahu lainnya membentuk palisan muskulus posterior dinding toraks. Tepi
bawah muskulus pektoralis mayor membentuk lipatan/plika aksilaris anterior, lengkungan
dan muskulus latisimus dorsi dan teres mayor membentuk lipatan/plika aksilaris posterior.

Pleura. Pleura adalah membrane aktif serosa dengan jaringan pembuluh arah dan
limfatik. Di sana selalu ada pergerakan cairan, fagositosis debris,menambal kebocoran udara
dan kapier. pleura viseralis menutup paru dan sifatnya tidak sensitive. pleura berlanjut sampai
ke hilus dan mediastinum bersama pleura parietali, yang melapisi dinding dalam toraks dan
diafragma. Kebalikan dengan pleura viseralis, pleura parietalis mendapatkan persarafan dari
ujung saraf (nerveending); ketika terjadi penyakit atau cedera, mak timbul nyeri. Pleura
parietalis memiliki ujung saraf untuk nyeri; hanya bila penyaki-penyakit menyebar ke pleura
ini maka akan timbul. Pleura sedikit melebih tepi paru pada tiap arah dan sepenuhnya terisi
dengan ekspansi paru-paru normal; hanya ruang potensial yang masih ada.

Ruang interkostal. Pleura parietalis hampir semua merupakan lapisan dalam, diikuti
oleh tiga lapis muskulus-muskulus yang mengangkat iga selama respirasi tenang/normal.
Vena, arteri nervus dari tiap rongga interkostal berada di belakang tepi bawah iga. Karena
jarum torakosentetis atau klein yang digunakan untuk masuk ke pleura harus dipasang
melewati bagian atas iga yang lebih bawah dari sela iga yang dipilih.

Diafragma. Bagian muskular perifer berasal dari bagian bawah iga keenam dan
kartilagokosta, dari vertebra lumbalis, dan dari lengkung lumbokostal; bagian muskular
melengkung membentuk tendo sentral. Nervis frenikus mempersarafi motorik, interkostal
bahwa mempersarafi sensorik. Diafragma yang naik setinggi putung susu, turut berperan
sekitar 75% dari ventilasi paru-paru selama respirasi biasa/tenang.
2.1 PENGERTIAN FLAIL CHEST
Flail chest adalah suatu keadaan apabila dua iga berdekatan atau lebih mengalami
fraktur pada dua tempat atau lebih. Bila fraktur terjadi pada dua sisi maka stabilitas dinding
dada lebih besar dan kurang mengancam ventilasi daripada bila terjadi pada satu
sisi.(Baswick,John A.1988)
Flail chest terjadi area toraks yang "melayang" (flail) oleh sebab adanya fraktur iga
multipel berturutan = 3 iga , dan memiliki garis fraktur = 2 (segmented) pada tiap iganya.
Akibatnya adalah: terbentuk area "flail" yang akan bergerak paradoksal (kebalikan) dari
gerakan mekanik pernapasan dinding dada. Area tersebut akan bergerak masuk saat inspirasi
dan bergerak keluar pada ekspirasi.
Flail Chest terjadi ketika segmen dinding dada tidak lagi mempunyai kontinuitas
dengan keseluruhan dinding dada. Keadaan tersebut terjadi karena fraktur iga multipel pada
dua atau lebih tulang iga dengan dua atau lebih garis fraktur. Adanya semen flail chest
(segmen mengambang) menyebabkan gangguan pada pergerakan dinding dada. Jika
kerusakan parenkim paru di bawahnya terjadi sesuai dengan kerusakan pada tulang maka
akan menyebabkan hipoksia yang serius.
Kesulitan utama pada kelainan Flail Chest yaitu trauma pada parenkim paru yang
mungkin terjadi (kontusio paru). Walaupun ketidak-stabilan dinding dada menimbulkan
gerakan paradoksal dari dinding dada pada inspirasi dan ekspirasi, defek ini sendiri saja tidak
akan menyebabkan hipoksia. Penyebab timbulnya hipoksia pada penderita ini terutama
disebabkan nyeri yang mengakibatkan gerakan dinding dada yang tertahan dan trauma
jaringan parunya.
Flail Chest mungkin tidak terlihat pada awalnya, karena splinting (terbelat) dengan
dinding dada. Gerakan pernafasan menjadi buruk dan toraks bergerak secara asimetris dan
tidak terkoordinasi. Palpasi gerakan pernafasan yang abnormal dan krepitasi iga atau fraktur
tulang rawan membantu diagnosisi. Dengan foto toraks akan lebih jelas karena akan terlihat
fraktur iga yang multipel, akan tetapi terpisahnya sendi costochondral tidak akan terlihat.
Pemeriksaan analisis gas darah yaitu adanya hipoksia akibat kegagalan pernafasan, juga
membantu dalam diagnosis Flail Chest.
Terapi awal yang diberikan termasuk pemberian ventilasi adekuat, oksigen yang
dilembabkan dan resusitasi cairan.
Bila tidak ditemukan syok maka pemberian cairan kristoloid intravena harus lebih
berhati-hati untuk mencegah kelebihan pemberian cairan. Bila ada kerusakan parenkim paru
pada Flail Chest, maka akan sangat sensitif terhadap kekurangan ataupun kelebihan resusitasi
cairan. Pengukuran yang lebih spesifik harus dilakukan agar pemberian cairan benar-benar
optimal. Terapi definitif ditujukan untuk mengembangkan paru-paru dan berupa oksigenasi
yang cukup serta pemberian cairan dan analgesia untuk memperbaiki ventilasi. Tidak semua
penderita membutuhkan penggunaan ventilator. Pencegahan hipoksia merupakan hal penting
pada penderita trauma, dan intubasi serta ventilasi perlu diberikan untuk waktu singkat
sampai diagnosis dan pola trauma yang terjadi pada penderita tersebut ditemukan secara
lengkap.
Penilaian hati-hati dari frekuensi pernafasan, tekanan oksigen arterial dan penilaian
kinerja pernafasan akan memberikan suatu indikasi timing / waktu untuk melakukan intubasi
dan ventilasi.

Gangguan Mekanika Bernapas pada Flail Chest


1. Fraktur sternum dengan pergeseran fragmennya menimbulkan nyeri yang
menyebabkan penderita menahan napas sehingga pernapasan menjadi dangkal.
Hal ini diperberat dengan akibat retensi sputum menyebabkan atelektasis,
pneumonia yang menyebabkan gangguan ventilasi, hipoksemia, hiperkarbia dan
pada gilirannya akan menyebabkan insufisiensi pernapasan dan berakhir dengan
gagal pernapasan akut.
2. Flail sternum disebut juga central flail chest, bila berat akan menyebabkan volume
intratorasik berkurang sehingga mengganggu pengembangan paru, ventilasi
menurun mengakibatkan hipoksemia dan hiperkarbia. Gangguan ekspansi paru
diakibatkan elastic recoil ke dalam tak tertahankan sehingga volumenya
berkurang. Penekanan ventilasi dan atelektasis akan menyebabkan terjadinya
pintas arteriovenosa (AV) yang memperberat insufisiensi pernapasan sehingga
bila dibiarkan akan berakhir dengan gagal pernapasan akut.
3. Nyeri hebat juga akan menyebabkan penderita mengurangi gerakan segmen
melayang sambil terus menerus berupaya paksa menarik dan mengeluarkan napas,
hal ini terlihat dengan pernapasan cepat dan dangkal bila dibiarkan akan
menyebabkan kelelahan otot-otot pernapasan dan berakhir dengan gagal
pernapasan akut.
Akibat dari atelektasis, pneumonia, pirau A-V sendiri akan memperberat kerja napas,
hal ini ditunjukkan dengan gambaran gas darah memburuk, suatu tanda gagal pernapasan aku
2.2 ETIOLOGI
1. Disebabkan trauma :

a. Trauma Tumpul

Penyebab trauma tumpul yang sering mengakibatkan adanya fraktur costa antara lain :
Kecelakaan lalulintas,kecelakaan pada pejalan kaki ,jatuh dari ketinggian, atau jatuh pada
dasar yang keras atau akibat perkelahian.

b. Trauma Tembus

Penyebab trauma tembus yang sering menimbulkan fraktur costa :Luka tusuk dan luka
tembak

c. Disebabkan bukan trauma

Yang dapat mengakibatkan fraktur costa ,terutama akibat gerakan yang menimbulkan putaran
rongga dada secara berlebihan atau oleh karena adanya gerakan yang berlebihan dan stress
fraktur,seperti pada gerakan olahraga : Lempar martil, soft ball, tennis, golf.

2. Insidensi

Trauma adalah penyebab kematian utama pada anak dan orang dewasa kurang dari 44 tahun.
Penyalahgunaan alkohol dan obat telah menjadi faktor implikasi pada trauma tumpul dan
tembus serta trauma yang disengaja atau tidak disengaja (Smeltzer, 2001)

3. Prognosis Penyakit
1. Open Pneumothorak
Timbul karena trauma tajam, ada hubungan dengan rongga pleura sehingga paru menjadi
kuncup. Seringkali terlihat sebagai luka pada dinding dada yang menghisap pada setiap
inspirasi ( sucking chest wound ). Apabila luban ini lebih besar dari pada 2/3 diameter
trachea, maka pada inspirasi udara lebih mudah melewati lubang dada dibandingkan
melewati mulut sehingga terjadi sesak nafas yang hebat
2. Tension Pneumothorak
Adanya udara didalam cavum pleura mengakibatkan tension pneumothorak. Apabila ada
mekanisme ventil karena lubang pada paru maka udara akan semakin banyak pada sisi
rongga pleura, sehingga mengakibatkan :
a. Paru sebelahnya akan terekan dengan akibat sesak yang berat
b. Mediastinum akan terdorong dengan akibat timbul syok
Pada perkusi terdengar hipersonor pada daerah yang cedera, sedangkan pada auskultasi bunyi
vesikuler menurun.
3. Hematothorak masif
Pada keadaan ini terjadi perdarahan hebat dalam rongga dada.Ada perkusi terdengar redup,
sedang vesikuler menurun pada auskultasi.
4. Flail Chest
Tulang iga patah pada 2 tempat pada lebih dari 2 iga sehingga ada satu segmen dinding dada
yang tidak ikut pada pernafasan. Pada ekspirasi segmen akan menonjol keluar, pada inspirasi
justru masuk kedalam yang dikenal dengan pernafasan paradoksal

2.3 PATOFISIOLOGI

Dada merupakan organ besar yang membuka bagian dari tubuh yang sangat mudah terkena
tumbukan luka .karna dada merupakan tempat jantung ,paru dan pembuluh darah besar
.trauma dada sering menyebabkan gangguan ancaman kehidupan .luka pada rongga thorak
dan isinya dapat membatasi kemampuan untuk memompa darah atau kemampuan paru untuk
pertukaran udara dan oksigen darah .bahaya utama berhubungan denga luka dada berupa
pendarahan dalam dan tusukan terhadap organ luka dada dapat meluas dari benjolan yang
relatif kecil dan goresan yang dapat menghancurkan atau terjadi trauma penetrasi .luka dada
berupa penetrasi atau non penetrasi (tumpul).luka dada penetrasi mungkin disebabkan oleh
luka dada yang terbuka , memberi kesempatan bagi udara atmosfir masuk kedalam
permukaan pleura dan mengganggu mekanisme ventilasi normal . luka dada penetrasi dapat
menjadi kerusakan serius bagi paru,kantung dan struktur thorak lain
2.4 MANIFESTASI KLINIS

Biasanya karena ada pembengkakan jaringan lunak di sekitar dan terbatasnya gerak
pengembangan dinding dada, deformitas, dan gerakan paradoksal flail chest yang ada akan
tertutupi. Pada mulanya, penderita mampu mengadakan kompensasi terhadap pengurangan
cadangan respirasinya. Namun bila terjadi dan penurunan daya pengembangan paru-paru
akan terjadi anoksia berat, hiperkapnea, dan didapat akral dingin positif dan wajah yag pucat
karena oksigen aliran darah ke daerah perifer berkurang akibat penurunan ekspansi
paru..Pada pasien flail chest akan didpat nyeri yang hebat karen terputusnya inegritas jaringan

PEMERIKSAAN PENUNJANG
Radiologi : X-foto thoraks 2 arah (PA/AP dan lateral)
1. Gas darah arteri (GDA), mungkin normal atau menurun: Pemeriksaan analisis gas darah yaitu
adanya hipoksia akibat kegagalan pernafasan, juga membantu dalam diagnosis Flail
Chest. Terapi awal yang diberikan termasuk pemberian ventilasi adekuat, oksigen
yang dilembabkan dan resusitasi cairan.
2. Torasentesis : menyatakan darah/cairan serosanguinosa.
3. Hemoglobin : mungkin menurun.
4. Pa Co2 kadang -kadang menurun.
5. Pa O2 normal / menurun.
6. Saturasi O2 menurun (biasanya).
7. Toraksentesis : menyatakan darah/cairan
8. Bila pneumotoraks < 30% atau hematothorax ringan (300cc) terap simtomatik, observasi
Bila pneumotoraks > 30% atau hematothorax sedang (300cc) drainase
cavumpleuradengan WSD, dainjurkan untuk melakukan drainase dengan continues suction unit.
9. Pada keadaan pneumothoraks yang residif lebih dari dua kali harus
dipertimbangkanthorakotomi
10. Pada hematotoraks yang massif (terdapat perdarahan melalui drain lebih dari 800
ccsegera thorakotom
2.5 PENATALAKSANAAN

Penata laksanaan medis mencakup pemberian dukungan ventilator,pembersihan paru dari


sekresi ,dan pengendalian nyeri.penatalaksanaan spesifik tergantung pada tingkat disfungsi
pernafasan .jika hanya segmen kecil dari dada yang terkena,sasarannya adalah untuk
membersihkan jalan nafas (batuk,nafas dalam ,penghisapan ringan )untuk membantu
ekspensi paru,dan menghilangkan nyeri dada dengan blok saraf interkosta, blok epidural
toraks tinggi atau penggunaan narkotika intravena dengan hati-hati

Untuk cedera flail chest ringan sampai sedang, kontusio paru yang mendasari diatas dengan
membatasi masukan cairan dan meresepkan diuretik,kortikosteroit,dan albumin,sambil
meredakan nyeri dada.fisioterapi paru dilakukan dan pasien dipantau dengan ketat.

Jika dihadapi cedera flail chest berat, intubasi endotrakea dan ventilasi mekanik dengan
ventilator siklus volume dan kadang PEEP digunakan untuk membebat dinding dada
(stabilitas pneumatik internal ) dan untuk memperbaiki abnormalitas pertukaran gas .hal ini
membantu untuk mengatasi kontusio paru yang mendasari,berfungsi untuk menstabilkan
sangkar toraks untuk memungkinkan fraktur menyembuh ,dan memperbaiki ventilasi alveolar
serta volume intratoraks dengan mengurangi kerja pernapasan ,modalitas pengobatan ini
membutuhkan intubasi endotrakeal dan dukungan ventilator jangka panjang.
Dengan mengesampingkan jenis pengobatan,pasien akan dipantau dengan
cermatmenggunakan serangkai rontgen dada ,gas darah arteri,oksimetri nadi,dan pemeriksaan
fungsi paru.penatalaksanaan nyeri adalah kunci untuk keberhasilan pengobatan ,analgesi
yang dikontrol pasien,penyekat saraf interkosta,analgesia epidural dan pemberian narkotik
intrapleura dapat digunakan untuk mengontrol nyeri toraks.(keperawatan medikal bedah
.Brunner & Suddarth)

Besar kecil arti fraktura pada tulang iga tergantung pada derajat tergantungnya respirasi oleh
fraktura tersebut .fraktura tertutup pada 1 sampai 3 tulang iga biasanya akan membatasi
pernafasan dan batuk karena rasa nyeri sewaktu thorax bergerak . dalam keadaan ini
dianjurkan penggunaan anesthesi blok nervus intercostalis yang membantu pengeluanran
sekret tracheobronchial dan memungkinkan gerakan thorax yang bebas ,yang tidak dihalangi
oleh ras nyeri pada tempat fraktur .cedera bentur (crushing injury ) yang parah pada
dadadengan fraktur majemuk tulang iga pad beberapa tempat menghasilkan faktor lain yang
memperbesar ancaman bahaya kematian badi penderita .segmen dinding thorax yang “
mengambang “ yang dihasilkan oleh cedera di atas menimbulkan pernapasan paradoksal
seperti halnya pada kasus pneumothorax tetapi disini di timbulkan oleh mekanisme
lain.segmen yang patah bergerak keluar masuk mengikuti pernafasan ; jika daerah ini cukup
lebar ,maka oksigenasi paru paru dapat terganggu secara kritis .disini diperlukan stabilitas .

Ditemukannya positive pressure respirator telah mengubah keseluruhan terapi “flail chest
berbagai macam mesin kini tersedia , jika kedua mesin ini digunakan dengan baik ,makan
kedalam paru-paru dapat dialirkan udara dalam jumlah yang tepat di bawah tekanan yang
memadai secara sinkron mengikuti respirasi .atau mesin tersebut dapat digunakan untuk
mengambil alih seluruh fungsi respirasi . oleh karena fungsi respirasi sepenuhnya dapat
dipertahankan oleh salah satu diantara mesin –mesin ini yang dihubungkan dengan selang
tracheostomia ,maka gerakan abnormal dinding dada tidak lagi menimbulakan akibat yang
mengganggu dan penderita dapat dipertahankan dengan oksigenasi yang memadai sampai
dinding thoraxnya sudah stabil benar .pengalaman yang luas dalam cara terapi flail chest
dengan positive pressure respiration ini secara jelas menunjukkan bahwa metoda tetapi
tersebut lebih unggul dibandingkan cara – cara lain yang dikemukkan sebelumnya .

Namun demikian ,ada beberapa bahaya tertentu yang menyertai penggunaan mesin – mesin
ini :
1. kebocoran pada atau di sekitar tracheostomia dapat memperbesar luas emphysema
subcutan
2. tanpa dekompresi pleura yang memadai kalu di perlukan ,maka tension
pneumothoraks dapat terjadi. Sebaiknya digunkan drainagae tertutup yang baik
dengan tube thoracostomy
3. pada beberapa rumah sakit tertentu terjadi peningkatan kasusu penumonia
staphylococcus dan pseudomonas setelah penggunaan mesin-mesin ini.oleh karena
itu,semua elemen dalam mesin tersebut harus dibersihkan dengan cermat sekali ,
sterilisasi dilakukan dengan menaruh seluruh mesin dalam sebuah stabilizer gas

andaikata positive pressure respiratori tersebut tidak ada,segmen dinding dada yang
mengambang dapat distabilisasi dengan menggunakan jepitan handuk pada bagian tengah
segmen tersebut dan kemudian diberikan beban yang ringan sehingga terjadi traksi secara
terus menerus ,seutas tali yang dihubungankan dengan beban (biasanya beart beban tidak
melebihi sekitar 5 pon/2,25kg) dapat ditarik melalui saebuah katrol pada kerangka
(frame)bagian kepala ranjang dan ditalikan padi jepitan handuk tersebut.cara ini
memungkinkan gerakan dinding dada sedangkan segmen yang fraktur distabilisasi .tindakan
ini merupakan terai standart sebelum dilanjutkan dengan penggunaan positive pressure
respirator ,.meskipun kurang efektif,fiksasi dengan cara ini masi bermanfaat .flail chest yang
ringan sering kali dapat pula ditangani hanya dengan menempatkan sebuah kantong pasir
untuk stabilisasi segmen yang fraktura.

Fraktura sternum dengan pergeseran fragmen memnungkinkan memerlukan reposisi terbuka


dengan pemasangan kawat baja yang mempertahankan posisi fragmen.

Terapi oksigen dan tindakan suportif lainnya diperlukan bagi penderita cedera toraks yang
parah

Introduction
A. Defined as 3 or more ribs with segmental fractures
B. Epidemiology
1. bimodal distribution
a. younger patients involved in trauma
b. older patients with osteopenia
C. Mechanism
1. blunt forces
2. deceleration injuries
D. Associated Injuries
1. scapula fractures
2. clavicle fractures
3. hemo/pneumothorax
E. Prognosis
1. varies depending on underlying pulmonary injury or other concomitant injuries
Anatomy
A. Osteology
1. 12 ribs per side
2. the first seven pairs are connected with the sternum
3. the next three are each articulated with the lower border of the cartilage of the preceding rib
4. the last two have pointed extremities
5. can have an accessory clavicular rib
6. anterior ribs articulate with the sternum via the costal cartilage
B. Blood Supply
1. derived from intercostal vessels
Presentation
A. Symptoms
1. pain
2. respiratory difficulty
3. hemopneumothorax
B. Exam
1. paradoxical respiration
a. area of injury "sinks in" with inspiration, and expands with expiration (opposite of
mechanics)
2. chest wall deformity can be seen
3. bony or soft-tissue crepitus is often noted
Imaging
A. Radiographs
1. may be hard to distinguish non- or minimally-displaced rib fractures
2. may see associated hemothorax
B. CT
1. improved accuracy of diagnosis with CT (vs. radiographs)
Treatment
A. Nonoperative
1. observation
a. indications
i. no respiratory compromise
ii. no flail chest segment (>3 consecutive segmentally fractured ribs)
b. techniques
i. pain control
ii. systemic narcotics or local anesthetics
iii. positive pressure ventilation
Operative
A. open reduction internal fixation
i. indications
a. displaced rib fractures associated with intractable pain
b. flail chest segment (3 or more consecutive ribs with segmental
c. rib fractures associated with failure to wean from a ventilator
d. open rib fractures
ii. technique
a. approach
a. full thoracotomy approach
b. limited exposure approach
b. open reduction and internal fixation
a. plate and screw constructs
b. intramedullary splinting
iii. postop
a. early shoulder and periscapular range of motion
Complications
a. Intercostal neuralgia
b. Periscapular muscle weakness
c. Pneumonia
d. Restrictive type pulmonary function

Tindakan stabilisasi yang bersifat sementara terhadap dinding dada akan sangat menolong
penderita, yaitu dengan menggunakan towl-clip traction atau dengan menyatukan fragmen-
fragmen yang terpisah dengan pembedahan. Takipnea, hipoksia, dan hiperkarbia merupakan
indikasi untuk intubasi endotrakeal dan ventilasi dgn tekanan positif.
Stabilisasi eksternal dapat dilakukan dengan merekatkan bantalan, gulungan pakaian atau
kantong IV diatas segmen yang longgar sehingga ia dipertahankan di dalam. Maka gerakan
keluar menjadi tidak mungkin.Sedangkan stabilitas internal dengan memasang pipa
endotrakea yang memberi fentilasi tekanan positif
1. Bullow Drainage / WSD
Pada trauma toraks, WSD dapat berarti :
a. Diagnostik :
Menentukan perdarahan dari pembuluh darah besar atau kecil, sehingga dapat ditentukan
perlu operasi torakotomi atau tidak, sebelum penderita jatuh dalam shock.
b. Terapi :
Mengeluarkan darah atau udara yang terkumpul di rongga pleura.Mengembalikan tekanan
rongga pleura sehingga "mechanis of breathing" dapat kembali seperti yang seharusnya.
c. Preventive :
Mengeluarkan udaran atau darah yang masuk ke rongga pleura sehingga "mechanis of
breathing" tetap baik.

2. Perawatan WSD dan pedoman latihanya :


a. Mencegah infeksi di bagian masuknya slang.
Mendeteksi di bagian dimana masuknya slang, dan pengganti verband 2 hari sekali, dan perlu
diperhatikan agar kain kassa yang menutup bagian masuknya slang dan tube tidak boleh
dikotori waktu menyeka tubuh pasien.
b. Mengurangi rasa sakit dibagian masuknya slang. Untuk rasa sakit yang hebat akan diberi
analgetik oleh dokter.
c. Dalam perawatan yang harus diperhatikan :
1. Penetapan slang.
Slang diatur se-nyaman mungkin, sehingga slang yang dimasukkan tidak terganggu dengan
bergeraknya pasien, sehingga rasa sakit di bagian masuknya slang dapat dikurangi.
2. Pergantian posisi badan.
Usahakan agar pasien dapat merasa enak dengan memasang bantal kecil dibelakang, atau
memberi tahanan pada slang, melakukan pernapasan perut, merubah posisi tubuh sambil
mengangkat badan, atau menaruh bantal di bawah lengan atas yang cedera.
d. Mendorong berkembangnya paru-paru.
1. Dengan WSD/Bullow drainage diharapkan paru mengembang.
2. Latihan napas dalam.
3. Latihan batuk yang efisien : batuk dengan posisi duduk, jangan batuk waktu slang diklem.
4. Kontrol dengan pemeriksaan fisik dan radiologi.

e. Perhatikan keadaan dan banyaknya cairan suction.


Perdarahan dalam 24 jam setelah operasi umumnya 500 - 800 cc. Jika perdarahan dalam 1
jam melebihi 3 cc/kg/jam, harus dilakukan torakotomi. Jika banyaknya hisapan
bertambah/berkurang, perhatikan juga secara bersamaan keadaan pernapasan.
f. Suction harus berjalan efektif :
1. Perhatikan setiap 15 - 20 menit selama 1 - 2 jam setelah operasi dan setiap 1 - 2 jam
selama 24 jam setelah operasi.
2. Perhatikan banyaknya cairan, keadaan cairan, keluhan pasien, warna muka, keadaan
pernapasan, denyut nadi, tekanan darah.
3. Perlu sering dicek, apakah tekanan negative tetap sesuai petunjuk jika suction kurang baik,
coba merubah posisi pasien dari terlentang, ke 1/2 terlentang atau 1/2 duduk ke posisi miring
bagian operasi di bawah atau di cari penyababnya misal : slang tersumbat oleh gangguan
darah, slang bengkok atau alat rusak, atau lubang slang tertutup oleh karena perlekatanan di
dinding paru-paru.

g. Perawatan "slang" dan botol WSD/ Bullow drainage.


1. Cairan dalam botol WSD diganti setiap hari , diukur berapa cairan yang keluar kalau ada
dicatat.
2. Setiap hendak mengganti botol dicatat pertambahan cairan dan adanya gelembung udara yang
keluar dari bullow drainage.
3. Penggantian botol harus "tertutup" untuk mencegah udara masuk yaitu meng"klem" slang pada
dua tempat dengan kocher.
4. Setiap penggantian botol/slang harus memperhatikan sterilitas botol dan slang harus tetap
steril.
5. Penggantian harus juga memperhatikan keselamatan kerja diri-sendiri, dengan memakai
sarung tangan.
6. Cegah bahaya yang menggangu tekanan negatip dalam rongga dada, misal : slang terlepas,
botol terjatuh karena kesalahan dll.

h. Dinyatakan berhasil, bila :


a. Paru sudah mengembang penuh pada pemeriksaan fisik dan radiologi.
b. Darah cairan tidak keluar dari WSD / Bullow drainage.
c. Tidak ada pus dari selang WSD.

3. Therapy
a. Chest tube / drainase udara (pneumothorax)
b. WSD (hematotoraks)
c. Pungsi.
d. Torakotomi.
e. Pemberian oksigen
f. Antibiotika.
g. Analgetika.
h. Expectorant.

2.6 KOMPLIKASI

Komplikasi utama adalah gagal napas, sebagai akibat adanya ineffective air
movement, yang seringkali diperberat oleh edema/kontusio paru, dan nyeri. Pada pasien
dengan flail chest tidak dibenarkan melakukan tindakan fiksasi pada daerah flail secara
eksterna, seperti melakukan splint/bandage yang melingkari dada, oleh karena akan
mengurangi gerakan mekanik pernapasan secara keseluruhan.
Indikasi Operasi (stabilisasi) pada flail chest
a. Bersamaan dengan Torakotomi karena sebab lain (cth: hematotoraks masif, dsb).
b. Gagal/sulit weaning ventilator.
c. Menghindari prolong ICU stay (indikasi relatif).
d. Menghindari prolong hospital stay (indikasi relatif).
e. Menghindari cacat permanent.
Tindakan operasi adalah dengan fiksasi fraktur iga sehingga tidak didapatkan lagi area
"flail"
Trauma hancur pada sternum atau iga dapat berakibat terjadinya pemisahan total dari suatu
bagian dinding dada, sehingga dinding dada tersebut bersifat lebih mobil. Pada setiap gerakan
respirasi, maka fragmen yang mobil tersebut akan terhisap ke arah dalam. Pengembangan
normal rongga pleura tidak dapat lagi berlangsung, sehingga pertukaran gas respiratorik yang
efektif sangat terbatas.
ASUHAN KEPERAWATAN FLAIL CHEST

A. Pengkajian
1. Identitas
a. Identitas klien
Meliputi nama, umur, jenis kelamin, suku/bangsa, agama, pendidikan, pekerjaan,
tanggal masuk, tanggal pengkajian, nomor register, diagnosa medik, alamat, semua data
mengenai identitaas klien tersebut untuk menentukan tindakan selanjutnya.
b. Identitas penanggung jawab
Identitas penanggung jawab ini sangat perlu untuk memudahkan dan jadi penanggung
jawab klien selama perawatan, data yang terkumpul meliputi nama, umur, pendidikan,
pekerjaan, hubungan dengan klien dan alamat.
2. Riwayat Kesehatan
a. Keluhan utama
Merupakan keluhan yang paling utama yang dirasakan oleh klien saat pengkajian.
Biasanya pasien akan mengeluh nyeri pada dada saat bernafas.
b. Riwayat kesehatan sekarang
Merupakan pengembangan diri dari keluhan utama melalui metode PQRST, paliatif
atau provokatif (P) yaitu focus utama keluhan klien, quality atau kualitas (Q) yaitu bagaimana
nyeri/gatal dirasakan oleh klien, regional (R) yaitu nyeri/gatal menjalar kemana, Safety (S)
yaitu posisi yang bagaimana yang dapat mengurangi nyeri/gatal atau klien merasa nyaman
dan Time (T) yaitu sejak kapan klien merasakan nyeri/gatal tersebut.
c. Riwayat kesehatan yang lalu
Perlu dikaji apakah klien pernah menderita penyakit sama atau pernah di riwayat
sebelumnya.

Pengkajian pasien dengan pendekatan per sistem dengan meliputi :


a. Aktivitas / istirahat
Gejala : dipnea dengan aktivitas ataupun istirahat.
b. Sirkulasi
Tanda : Takikardia ; disritmia ; irama jantunng gallops, nadi apical berpindah, tanda
Homman ; TD : hipotensi/hipertensi ; DVJ.
c. Integritas ego
Tanda : ketakutan atau gelisah.
d. Makanan dan cairan
Tanda : adanya pemasangan IV vena sentral/infuse tekanan.
e. Nyeri/ketidaknyamanan
Gejala : nyeri uni laterl, timbul tiba-tiba selama batuk atau regangan, tajam dan nyeri,
menusuk-nusuk yang diperberat oleh napas dalam, kemungkinan menyebar ke leher, bahu
dan abdomen.
Tanda : Berhati-hati pada area yang sakit, perilaku distraksi, mengkerutkan wajah.
f. Pernapasan
Gejala : kesulitan bernapas ; batuk ; riwayat bedah dada/trauma, penyakit paru kronis,
inflamasi,/infeksi paaru, penyakit interstitial menyebar, keganasan ; pneumothoraks spontan
sebelumnya, PPOM.
Tanda : Takipnea ; peningkatan kerja napas ; bunyi napas turun atau tak ada ; fremitus
menurun ; perkusi dada hipersonan ; gerakkkan dada tidak sama ; kulit pucat, sianosis,
berkeringat, krepitasi subkutan ; mental ansietas, bingung, gelisah, pingsan ; penggunaan
ventilasi mekanik tekanan positif.
g. Keamanan
Gejala : adanya trauma dada ; radiasi/kemoterapi untuk keganasan.
h. Penyuluhan /pembelajaran
Gejala : riwayat factor risiko keluarga, TBC, kanker ; adanya bedah intratorakal/biopsy paru.

3. Pengkajian Sistem
B1 (Breath) S:
Kesulitan bernafas
Batuk
O:
Takipnea
Peningkatan kerja napas
Bunyi napas turun atau tak ada
Fremitus menurun
Perkusi dada hipersonan
Gerakkkan dada tidak sama
Kulit pucat
Sianosis
Berkeringat
Krepitasi subkutan
Mental ansietas
Penggunaan ventilasi mekanik tekanan positif.
B2 (Bleed) O:
Takikardia
Disritmia
Irama jantunng gallops
Nadi apical berpindah
Tanda Homman
D : hipotensi/hipertensi
Distensi Vena Jugularis
B3 (Brain) S:
Nyeri uni lateral
O:
Bingung
Gelisah
Pingsan
B4 (Blader) Tidak ada kelainan
B5 (Bowel) Tidak ada kelainan
B6 (Bone) O:
Perilaku distraksi
Mengkerutkan wajah.

B. Diagnosa Keperawatan yang Mungkin Muncul :


1. Ketidakefektifan pola pernapasan berhubungan dengan ekpansi paru yang tidak maksimal
karena akumulasi udara/cairan.
2. Perubahan kenyamanan : Nyeri akut berhubungan dengan trauma jaringan dan reflek
spasme otot sekunder..
3. Gangguan mobilitas fisik berhubungan dengan ketidakcukupan kekuatan dan ketahanan
untuk ambulasi dengan alat eksternal.
4. Risiko terhadap infeksi berhubungan dengan tempat masuknya organism sekunder terhadap
trauma.
Sumber :Diagnosa NANDA (2005)

Analisa Data

Data focus Problem Etilogi


DS : Ketidakefektifan pola nafas Sesak nafas
· biasanya Pasien
mengeluhkan napas pendek
· biasanya Pasien
mengeluhkan sesak napas
· biasanya Pasien mengeluh
nyeri yang hebat dan
bertambah pada
setiap gerakan
DO :
· Pemeriksaan fisik :
-TD: 130/90 mmHg
-RR: 26 x/menit
-N : 120x/menit
- Penurunan fremitus
- Auskultasi terdengar bunyi
crackles
· Perubahan gerakan dada.
· Penurunan tekanan
inspirasi/ekspirasi.
· Penurunan ventilasi
semenit.
· Penurunan kapasitas vital.
· Napas dalam.
· Peningkatan diameter
anterior-posterior.
· Ortopnea.
· Fase ekspirasi yang lama.
· Pernapasan purset-lip.
· Kecepatan respirasi.
· Rasio waktu.
DS : Gangguan rasa nyaman Nyeri dada
· Mengungkapakan secara
verbal / melaporkan dengan
isyarat.
DO :
· Gerakan menghindari
nyeri.
· Posisi menghindari nyeri.
· Perubahan autonomik dari
tonus otot.
· Perubahan nafsu makan
dan makan.
· Perilaku menjaga atau
melindungi.
DS : Hypertermi Infeksi saluran nafas
· Kemunkinan pasien Mual
DO :
· Kulit memerah /odema
· Frekuensi napas meningkat
· Takikardi
DS : Imobilisasi
Tidak mampu mobilisasi
O: tidak ada kekuatan

Intervensi

DX TUJUAN INTERVENSI KEPERAWATAN


KRITERIA DAN NIC NOC
HASIL
1). Ketidak Setelah dilakukan Mandiri : 1).Meningkatkan inspirasi
efektifan pola tindakan 1).Berikan maksimal, meningkatkan
pernapasan keperawatan selama posisi yang ekpsnsi paru dan ventilasi pada
berhubungan 3x24 jam diharapkan nyaman, sisi yang tidak sakit.
dengan ekspansi pasien biasanya · Observasi fungsi
paru yang tidak dapat menunjukan: dnegan pernapasan, catat frekuensi
maksimal karena -Memperlihatkan peninggian pernapasan, dispnea atau
trauma. frekuensi pernapasan kepala tempat perubahan tanda-tanda vital.
yang efektive. tidur. Balik ke 2). Pengetahuan apa yang
-Mengalami sisi yang sakit. diharapkan dapat
perbaikan pertukaran Dorong klien mengembangkan kepatuhan
gas-gas pada paru. untuk duduk klien terhadap rencana
-Adaptive mengatasi sebanyak teraupetik.
faktor-faktor mungkin. · Pertahankan perilaku tenang,
penyebab. 2). Jelaskan bantu pasien untuk kontrol diri
pada klien dengan menggunakan
bahwa tindakan pernapasan lebih lambat dan
tersebut dalam.3).Mengevaluasi
dilakukan perbaikan kondisi klien atas
untuk pengembangan parunya.
menjamin
keamanan.

3).Kolaborasi:
-radiologi dan
fisioterapi.
o -Pemberian
antibiotika.
o -Pemberian
analgetika.
o -Fisioterapi
dada.
o -Konsul photo
toraks.

2).Perubahan Setelah dilakukan Mandiri: 1).Pendekatan dengan


kenyamanan : tindakan 1). Jelaskan menggunakan relaksasi dan
Nyeri akut b.d keperawatan selama dan bantu klien nonfarmakologi lainnya telah
trauma jaringan 3x24 jam diharapkan dengan menunjukkan keefektifan
dan reflek pasien dapat: tindakan pereda dalam mengurangi nyeri.
spasme otot • Nyeri berkurang/ nyeri 2). Akan melancarkan
sekunder.. dapat diadaptasi. nonfarmakologi peredaran darah, sehingga
• Dapat dan non kebutuhan O2 oleh jaringan
mengindentifikasi invasif. akan terpenuhi, sehingga akan
aktivitas yang 2). Ajarkan mengurangi nyerinya.
meningkatkan/ Relaksasi : 3). Mengalihkan perhatian
menurunkan nyeri. Tehnik-tehnik nyerinya ke hal-hal yang
• Pasien tidak untuk menyenangkan.
gelisah. menurunkan 4). Analgetik memblok lintasan
ketegangan otot nyeri, sehingga nyeri akan
rangka, yang berkurang.
dapat
menurunkan
intensitas nyeri
dan juga
tingkatkan
relaksasi
masase.
3). Ajarkan
metode
distraksi
selama nyeri
akut.
Kolaborasi :
4).pemberian
analgetik.

3). Risiko Setelah dilakukan Mandiri : 1).mengidentifikasi tanda-tanda


terhadap infeksi tindakkan 1). Pantau peradangan terutama bila suhu
b.d tempat keperawatan selam tanda-tanda tubuh
masuknya 3x24 jam , vital. meningkat.
organisme diharapkan: 2). Lakukan
sekunder • tidak ada tanda- perawatan luka2).2).mengendalikan penyebaran
terhadap trauma. tanda infeksi seperti dengan teknik mikroorganisme patogen.
pus. aseptik.
• luka bersih tidak 3). Lakukan 2).3).untuk mengurangi
lembab dan tidak perawatan risiko infeksi
kotor. terhadap nosokomial.4).antibiotik
• Tanda-tanda vital prosedur mencegah perkembangan
dalam batas normal inpasif seperti mikroorganisme patogen.
atau dapat infus, kateter,
ditoleransi. drainase luka,
dll.
 Kolaborasi : 2
4).pemberian
antibiotik.

Gangguan Tujuan : pasien akan Tentukan mempengaruhi penilaian


mobilitas fisik menunjukkan tingkat tingkat terhadap kemampuan aktivitas
berhubungan mobilitas optimal. motivasi apakah karena
dengan Kriteria hasil : pasien dalam ketidakmampuan ataukah
ketidakcukupan • penampilan yang melakukan ketidakmauan.
kekuatan dan seimbang.. aktivitas. menilai batasan kemampuan
ketahanan untuk • melakukan Ajarkan dan aktivitas optimal.
ambulasi dengan pergerakkan dan pantau pasien mempertahankan
alat eksternal perpindahan. dalam hal /meningkatkan kekuatan dan
• mempertahankan penggunaan ketahanan otot.
mobilitas optimal alat bantu. sebagai suaatu sumber untuk
yang dapat di Ajarkan dan mengembangkan perencanaan
toleransi, dengan dukung pasien dan
karakteristik : dalam latihan mempertahankan/meningkatkan
0 = mandiri penuh ROM aktif dan mobilitas pasien.
1 = memerlukan alat pasif.
Bantu. Kolaborasi
2 = memerlukan dengan ahli
bantuan dari orang terapi fisik atau
lain untuk bantuan, okupasi
pengawasan, dan
pengajaran.
3 = membutuhkan
bantuan dari orang
lain dan alat Bantu.
4 = ketergantungan;
tidak berpartisipasi
dalam aktivitas
BAB IV
PENUTUP
Kesimpulan
Flail Chest terjadi ketika segmen dinding dada tidak lagi mempunyai kontinuitas
dengan keseluruhan dinding dada. Kesulitan utama yaitu kontusio paru yang menyertai.
Hipoksia terutama karena nyeri dan trauma jaringan parunya. Terapi awal yaitu ventilasi
yang adekuat dan cairan O2.. Terapi definitif ditujukan pada pengembangan paru, oksigenasi,
cairan yang cukup serta analgesia. Tekanan oksigen arterial dan kinerja pernapasan
penilaiannya menentukan kapan diberi intubasi dan ventilasi.

Saran
Dalam pembahasan teori dan asuhan keperawatan tentang Flail Chest, diharapkan
mahasiswa mampu memahami, mengetahui , dan menjelaskan tentang asuhan keperawatan
Flail Chest beserta pengaplikasiannya dalam dunia keperawatan
DAFTAR PUSTAKA

1. Brunner & Suddarth.2000.Keperawatan Medikal Bedah.Jakarta:EGC


2. Somantri Irman.2009.Asuhan Keperawatan pada Klien dengan Gangguan
Sistem Pernapasan.Jakarta:Salemba Medika
3. Doenges, Marilyn E. 1999. Rencana Asuhan Keperawatan, Edisi 3. EGC : Jakarta.
4. Dorland, W. A. Newman. 2002. Kamus Kedokteran. EGC : Jakarta.
5. http://nurulhanifa3012.blogspot.co.id/2013/10/flail-chest.html
6. Sumber :NANDA(2005) Rencana Asuhan Keperawatan: Pedoman Untuk Perencanaan
(NIC)dan Pendoman untuk Rasional (NOC )