Anda di halaman 1dari 27

CULTURE SHOCK DAN NEGOSIASI IDENTITAS DIRI

DI LINGKUNGAN BARU
(Studi Autoethnography tentang Proses Penyesuaian Diri ke Budaya Akademik
Universitas Brawijaya Malang)

SONNY KRISTIAN
Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik
Universitas Brawijaya
Malang

sonny.kristian91@gmail.com

ABSTRAK

Tujuan penelitian ini adalah memahami dan menganalisa proses yang dialami peneliti
ketika mengalami perubahan dan penyesuaian budaya akademik ke budaya akademik
Universitas Brawijaya Malang dengan metode autoethnography, serta mengetahui
bentuk-bentuk perubahan-perubahan dan penyesuaian apa saja dalam ranah budaya
akademik yang terjadi pada saat peneliti mengalami perubahan dan penyesuaian budaya
akademik ketika harus melanjutkan pendidikan di Universitas Brawijaya Malang.
Dalam penelitian ini, penelitian selain mendapatkan data melalui refleksi diri juga
melalui wawancara mendalam pada significant others untuk mendukung data penelitian
agar bersifat obyektif. Jenis penelitian ini adalah kualitatif deskriptif dan data penelitian
yang dianalisa disajikan dalam narasi subyektif berbentuk autoethnography yang
menuturkan refleksi diri peneliti terhadap dirinya maupun refleksi diri peneliti yang
berasal dari pendapat para significant others.

ABSTRACT
The purpose of this study is to understand and analyze the processes experienced by
researchers when subjected to changes and adjustment to the academic culture of UB's
academic culture with autoethnography method, and determine the forms changes and
any adjustments in the realm of academic culture that occurs when the researcher had
change when the academic and cultural adjustment must continue education at UB. In
this study, the research in addition to getting data through self-reflection as well as
through in-depth interviews with significant others to support research data that is
objective. The research is descriptive and qualitative research data analysis presented in
the form of a subjective narrative autoethnography researchers who said to her self-
reflection and self-reflection researchers from the opinions of significant others.
I. PENDAHULUAN Manusia dalam kehidupannya
Pada setiap kehidupan manusia sehari-hari memiliki dan menjalankan
terdapat kebiasaan-kebiasaan yang sebuah peran yang disesuaikan dengan
menggambarkan bagaimana dan seperti faktor-faktor eksternal yang ada
apa cara manusia tersebut berinteraksi disekitarnya (kebutuhan hidup,
dengan dunia. Kebiasaan tersebut pekerjaan, lingkungan sosial,
berbeda-beda pada setiap manusia yang pendidikan, dan lain-lain).
ada, karena manusia merupakan suatu Peran/roleplaying dalam kehidupan
individu yang unik dan bervariatif manusia sehari-hari terkadang
dalam berbagai segi. Terbentuknya bertolakbelakang dengan keinginan atau
sebuah kebiasaan dalam kehidupan selera si pelaku peran tersebut, namun
manusia dapat terjadi karena adanya karena adanya faktor penting yang
pengaruh dari luar seperti: tuntutan mempengaruhi pada akhirnya manusia
hidup, latar belakang budaya, keadaan tersebut merasa tetap harus melakukan
geografis habitat, perpindahan tempat, peran tersebut dikarenakan adanya
dan perkembangan zaman. Senada tuntutan serta motivasi yang terbentuk
dengan sifat dasar manusia yang dalam diri manusia tersebut. Manusia
dinamis, maka pola-pola kehidupan dalam melakukan setiap peran dalam
yang dijalaninya juga pada akhirnya hidupnya pada awalnya pasti
tidak bersifat mutlak, akan mengalami membutuhkan waktu untuk beradaptasi
perubahan karena beberapa faktor- sampai pada saatnya mampu merasa
faktor. nyaman dan terbiasa.

Pandangan-pandangan hidup yang Peran yang dijalankan manusia


membentuk sebuah pola pikir pada diri dalam kehidupan sehari-harinya
setiap manusia ini terjadi karena adanya tersebut berawal dari sebuah pola yang
beberapa faktor penting yang melekat terbentuk dalam keseharian dalam
pada diri manusia. Faktor-faktor seperti; tataran intrapersonal (habit), kemudian
cita-cita, pengalaman, pendidikan, berkembang menjadi sebuah pola yang
pergaulan, kepercayaan atau keyakinan telah disesuaikan dengan struktur sosial,
menjadi sebuah pegangan atau pijakan norma serta mampu mengakomodir
bagi manusia dalam bertindak dan kepentingan individu dalam interaksi
berpikir di dalam kehidupannya sehari- sosialnya (routine). Routine sendiri
hari (Nugroho & Muchji,1996:136). merupakan sebuah pola kehidupan yang
Pada dasarnya manusia memiliki dimiliki setiap manusia dan telah
kemampuan untuk melakukan mengalami penyesuaian dengan struktur
penyesuaian pola kehidupannya ketika sosial serta norma-norma yang berlaku.
berada pada situasi yang tidak biasa, (Ting-Toomey,1999 hal 247). Jika
misalnya seperti pindah tempat tinggal, dianalogikan dalam sebuah
perbedaan waktu, perbedaan budaya, pertunjukkan film maka routine tersebut
dan lain-lain. seperti sebuah screenplay yang
didalamnya terdapat keseluruhan pola 245) mendefinisikan Culture Shock
dan peran dari setiap pementas. merupakan sebuah keadaan dimana
seseorang merasa tidak nyaman dan
Manusia pada awalnya memiliki seperti merasakan sebuah ancaman bagi
habit dan routine yang telah terbentuk kesejahteraannya ketika berada di
sekian lama yang didasari oleh lingkungan yang baru
karakteristik individual, dukungan didatangi/ditempati.
keluarga, latar belakang budaya,
pendidikan, dan norma-norma lokalnya. Seorang anak yang telah
Manusia adalah mahluk yang bersifat menyelesaikan pendidikan sekolah
dinamis sehingga akan selalu menengah atasnya lazimnya
mengerahkan segala kemampuannya melanjutkan kehidupannya ke 2 jenjang
demi mencapai kebutuhan-kebutuhan yang populer, yakni melanjutkan ke
tertentu, bahkan hingga harus berada di pendidikan yang lebih tinggi (kuliah,
tempat yang jauh manusia pada kursus, dan lain-lain) atau melanjutkan
dasarnya akan tetap melakukannya kehidupan dengan bekerja sebagai
terlebih jika manusia tersebut memiliki karyawan atau pengusaha. Pada jenjang
motivasi tersendiri yang kuat kehidupan ini manusia biasanya
(kebutuhan keluarga, pendidikan, dihadapkan pada pilihan akan
pekerjaan, dan lain-lain). melanjutkan ke jenjang kehidupan
tersebut di tempat yang sama ia berada
Pada awalnya manusia akan pada saat itu atau berpindah ke tempat
mengalami suatu keterkejutan ketika lain yang kemungkinan memiliki
berada pada tempat yang baru pertama peluang dan bisa mengakomodir
kali ia datangi, terlebih jika tempat kebutuhan yang ingin dicapai.
tersebut berbeda latar belakang budaya
serta berbeda routine dengan yang Saya termasuk dari salah satu
selama ini melekat sekian lama pada manusia yang mengalami dan telah
diri manusia tersebut. Fenomena menjalani perjalanan kehidupan sepeti
tersebut popular disebut culture shock yang telah dipaparkan sebelumnya.
atau dalam bahasa Indonesia disebut Saya lahir dan dibesarkan di Kota
“gegar budaya”. Istilah Culure Shock Surabaya dan dapat dikatakan melalui
pertama kali dipopulerkan oleh seorang pergaulan dan interaksi di kota tersebut
antropolog yang bernama Kalevo pada akhirnya identitas diri saya
Orberg pada tahun 1961 yang terkonstruksi. Lingkungan-lingkungan
menjelaskan bahwa istilah culture shock tertentu dengan beberapa orang-orang
digunakan untuk menggambarkan suatu yang menjadi significant others bagi
keadaan dimana seseorang merasakan diri saya menjadi salah satu faktor
sebuah kecemasan yang diakibatkan penting dalam proses pembentukan
oleh kehilangan suatu tanda-tanda dan identitas diri tersebut, misalnya;
simbol-simbol yang familiar dalam keluarga, sahabat, teman kerja, teman
pergaulannya sehari-hari(what is culture sekolah, teman kuliah, kekasih.
shock n.d.). Ting-Toomey (1999, hal
Saya mengalami dislokasi tempat budaya Jawa Timur (Surabaya), terlebih
tinggal yang dikarenakan saya bagi saya yang kemudian harus
melanjutkan pendidikan jenjang kuliah mengalami dislokasi ke kota Malang
di Universitas Brawijaya Malang. Kota yang juga memiliki perbedaan latar
Malang berada tidak terlalu jauh dengan belakang budaya dengan kota kelahiran
kota Surabaya, hanya sekitar memakan saya.
waktu 2 jam perjalanan, namun bagi
Percampuran budaya sebagai akibat
saya kedua kota ini sangat berbeda.
Anggapan tersebut muncul dikarenakan dari dislokasi yang saya alami tersebut
saya harus berada di tempat yang baru kemudian berimplikasi pada identitas
saya hingga sekarang. Pada saat ditanya
dalam waktu yang cukup lama yang
notabene tidak pernah untuk saya mengenai identitas asal, maka saya
datangi bahkan tinggali dalam rentang menyebut kota kelahiran saya yakni
Surabaya, meskipun dalam keseharian
waktu yang cukup lama seperti pada
kota Surabaya yang menjadi tempat budaya asli saya (Tanatoraja) masih
saya dilahirkan dan dibesarkan. kental dalam praktek kehidupan sehari-
hari. Pada ranah budaya akademik, saya
Kedua orang tua saya merantau dari terbiasa berada pada lingkungan budaya
tanah kelahiran mereka di Tanatoraja ke akademik pada institusi pendidikan
kota Surabaya, Jawa Timur untuk swasta yang berlandaskan keagamaan
mendapatkan sebuah kehidupan yang kristiani yang mengutamakan
lebih baik dengan cara bekerja, kedisplinan dan persaingan dalam
khususnya Ayah saya yang hendak mendapatkan nilai pelajaran yang baik
bekerja sebagai seorang pelaut. Dalam dengan sesama siswa sebagai peserta
beberapa tahun, Ayah saya bekerja didik. Lingkungan budaya akademik
sebagai pelaut dengan konsekuensi yang demikian saya rasakan hingga
jarang bertemu dengan keluarga terlebih pada jenjang pendidikan Sekolah
karena pekerjaan tersebut menuntut Menengah Atas, sehingga menyebabkan
untuk selalu keluar daerah bahkan budaya akademik saya sangat besar
keluar negeri. Saya lahir dan dibesarkan dipengaruhi oleh budaya akademik
di kota Surabaya dan dapat dikatakan lingkungan pendidikan yang telah saya
mengalami sebuah percampuran alami tersebut.
budaya, yakni budaya asli keluarga
(Tanatoraja) dengan budaya Surabaya Dari beberapa pemaparan diatas
peneliti tertarik untuk melakukan
(budaya Jawa Timur). Dislokasi ke
Surabaya kemudian di Malang yang sebuah penelitian yang menganalisa
saya alami berkaitan erat dengan kembali proses-proses yang saya alami
ketika mengalami perubahan pola hidup
kekayaan latar belakang budaya
keturunan di atas saya, meskipun masih pada saat saya harus berpindah tempat
memegang teguh budaya asli tinggal dikarenakan adanya tuntutan
pendidikan dengan sebuah metode
Tanatoraja, terkadang keluarga juga
mengalami sedikit percampuran dengan autoethnography yang merupakan salah
satu bagian dari metode ethnography.
Autoethnography berarti sebuah metode persepektif Public Relations dalam
penelitian yang berusahan untuk penelitian adalah dalam perjalanan yang
menggambarkan serta menganalisa dilalui peneliti dalam proses
pengalaman pribadi untuk memahami penyesuaian diri secara tidak langsung
suatu pengalaman budaya (Ellis, Adam, peneliti membentuk sebuah citra dirinya
Bochner, 2011). Sejatinya metode melalui setiap interaksi yang terjadi di
autoethnography lazim digunakan lingkungan kehidupan akademik
untuk menjelaskan sebuah pengalaman kampus.
pribadi yang terkait dengan suatu
pengalaman budaya yang bersifat Penelitian ini menggunakan
autoethnography sebagai metode karena
internasional atau berada pada rentang
daerah/lokasi yang jauh (Ngunjiri, meskipun tidak berada pada ranah
Hernandez, Chang, 2010), karena internasional ataupun rentang lokasi
yang berjauhan, namun pada penelitian
tempat yang berjauhan bahkan berbeda
secara level internasional tentunya ini nantinya akan menganalisa suatu
memiliki perbedaan-perbedaan yang perbedaan budaya yang terjadi pada diri
saya (diaspora) yang diakibatkan karena
signifikan khususnya mengenai
kebudayaan serta routine-nya. adanya pengaruh dan pencampuran
Penelitian ini akan berfokus pada satu budaya dari beberapa daerah dan tempat
yang memiliki latar belakang budaya
episode pada kehidupan saya, yaitu
ketika mulai pindah lokasi studi ke yang berbeda-beda, yang berimpilikasi
Universitas Brawijaya Malang pada pada negosiasi identitas diri. Penelitian
ini nantinya juga dapat menggambarkan
tahun 2009-2013.
satu sisi dari kehidupan masyarakat
Jika dikaitkan dengan kajian Ilmu Indonesia yang multikultural.
Komunikasi maka proses penyesuaian
yang dialami peneliti adalah bagian dari II. TINJAUAN PUSTAKA
sebuah tahapan-tahapan Culture Shock 2.1. Transisi ke Routine baru dalam
yang didalamnya adanya suatu Komunikasi Antar Budaya.
kemampuan komunikasi yang baik
dalam konteks komunikasi interpersonal Kebiasaan-kebiasaan sehari-hari
maupun komunikasi antar budaya. manusia terbentuk karena faktor
Ketidak pastian dalam berkomunikasi interaksi dan latar belakang budaya
dan penegosiasian identitas diri juga yang ada di tempat dimana manusia
menjadi perhatian dalam proses tersebut tersebut dibesarkan. Kebiasaan tersebut
karena pada fenomena Culture Shock pada akhirnya disesuaikan kembali
kedua konsep teori tersebut dapat dengan peran-peran yang melekat pada
menjadi suatu solusi dan penjelas diri setiap individu. Manusia dalam
mengenai proses penyesuaian dan kehidupannya sehari memiliki dan
perubahan yang terjadi akibat dari menjalankan sebuah peran yang
penyesuaian tersebut. Salah satu konsep disesuaikan dengan faktor-faktor
pembahasan yang terkait erat dengan eksternal yang ada disekitarnya
(kebutuhan hidup, pekerjaan, orang selalu ingin mendapatkan hal
lingkungan sosial, pendidikan, dan lain- yang lebih baik. Rasa selalu ingin
lain). mendapatkan hal yang lebih baik ini
pada akhirnya dapat menimbulkan
Peran/roleplaying dalam kehidupan konsekuensi yang harus di jalani oleh
manusia sehari-hari terkadang manusia tersebut, misalnya: harus
bertolakbelakang dengan keinginan atau berada jauh di tempat yang memang
selera si pelaku peran tersebut, namun menyediakan hal yang diinginkan
karena adanya faktor penting yang tersebut (pendidikan, pekerjaan, bisnis,
mempengaruhi pada akhirnya manusia politik). Pada perkembangannya,
tersebut merasa tetap harus melakukan seseorang yang kemudian harus
peran tersebut dikarenakan adanya melakukan perpindahan tempat tinggal
tuntutan serta motivasi yang terbentuk baik sementara maupun secara menetap
dalam diri manusia tersebut. Manusia harus mengikuti routine yang sesuai
dalam melakukan setiap peran dalam dengan latar belakang budaya di tempat
hidupnya pada awalnya pasti yang baru tersebut.
membutuhkan waktu untuk beradaptasi
sampai pada saatnya mampu merasa Dalam proses komunikasi antar
nyaman dan terbiasa. budaya terdapat perbedaan-perbedaan
yang paling mendasar pada pelaku-
Peran yang dijalankan manusia pelakunya, yakni adanya suatu
dalam kehidupan sehari-harinya perbedaan kebudayaan yang melekat
tersebut berawal dari sebuah pola yang pada diri masing-masing pelaku. Pada
terbentuk dalam keseharian dalam kasus seseorang yang berpindah ke
tataran intrapersonal (habit), kemudian suatu tempat yang baru dan memiliki
berkembang menjadi sebuah pola yang perbedaan latar belakang budaya
telah disesuaikan dengan struktur sosial, dengan latar belakang budaya yang
norma serta mampu mengakomodir melekat pada dirinya, tentunya sesorang
kepentingan individu dalam interaksi
10 yang bertindak sebagai tamu ini
sosialnya (routine) (Ting-Toomey,1999 seharusnya menyesuaikan dirinya
hal 247). Jika dianalogikan dalam (adaptasi) dengan keadaan dan
sebuah pertunjukkan film maka routine kebiasaan-kebiasaan yang sesuai
tersebut seperti sebuah screenplay yang dengan latar belakang budaya tempat
didalamnya terdapat keseluruhan pola tersebut. Pada transisi ini terjadi suatu
dan peran dari setiap pementas. proses yang terdiri dari Honeymoon,
Routine yang melekat pada diri Culture Shock, Recovery, Adjustment
manusia tidak bersifat mutlak karena (Devito, 2011:550). Pada proses transisi
kembali kepada sifat dasar manusia tersebut pada awalnya seseorang akan
yang dinamis, sehingga setiap manusia mengalami suatu kesenangan karena
memiliki tingkat kepuasan akan suatu telah berhasil berada di tempat baru
hal yang berbeda-beda ini tersebut, namun karena adanya
mengakibatkan tidak jarang beberapa beberapa perbedaan budaya kemudian
mengalami sebuah kejutan budaya mangalami atau melakukan sebuah
(culture shock), pada bagian ini penyebaran ke luar dari homeland
seseorang mengalami keadaan mental mereka dengan tujuan yang beragam.
yang negatif (stress, dikucilkan, hingga
Tujuan dari beberapa bangsa di
gejala mual dan muntah) ini
dikarenakan seseorang tersebut sadar dunia melakukan sebuah penyebaran
dan merasa kehilangan hal-hal yang sangat beragam, antara lain; faktor
ekonomi, faktor keamanan, faktor
selama ini familiar dalam kehidupannya
sehari-hari, kemudia berangsur-angsur pendidikan, faktor peperangan, faktor
pulih hingga seseorang tersebut mampu bencana alam. Sejarah bangsa Yahudi
mengalami sebuah diaspora adalah
melakukan sebuah penyesuaian yang
berakibat terjadinya suatu transisi ketika pada tahun 587 SM kerajaan
dirinya dari seseorang yang memiliki Yudea dikalahkan oleh kerajaan
Babilonia, pada saat itu terjadi peristiwa
routine tertentu menjadi seseorang yang
memiliki routine baru hasil penyesuaian penghancuran kuil di Yerusalem serta
dengan tempat baru tersebut (Devito, terjadi sebuah pengasingan bangsa
Yahudi ke Babilonia (Irak Selatan),
2011:550).
sejak saat itu bangsa Yahudi mengalami
Pada penelitian ini, obyek penelitian sebuah diaspora ke seluruh penjuru
mengalami sebuah transisi routine lama dunia (The Jewish Diaspora n.d.).
ke routine baru yang terjadi karena Bangsa Cina mengalami sebuah
adanya proses interaksi dan penyebaran ke negeri lain disebabkan
bersosialisasi dengan lingkungan baru oleh beberapa faktor, yakni pada tahun
serta orang-orang baru yang memiliki 1800an kekaisaran Kangxi mengalami
latar belakang budaya berbeda, pergantian yang menyebabkan
sehingga agar tidak terjadi lemahnya pemerintahan pada saat itu
ketidakpastian (uncertainty) maka sehingga menyebabkan terjadinya
dibutuhkan suatu proses penyesuaian gelombang migrasi yang lebih besar
diri dengan lingkungan baru dan orang- dibanding pada era kekaisaran Kangxi
orang yang ada di dalamnya. yang hanya terbagi dalam 3 kelompok
besar; misi berdagang, misi pemerintah,
2.2. Diaspora Communities dalam dan para petualang. Ini terjadi juga
Masyarakat Multikultural dikarenakan adanya tekanan dari bangsa
Indonesia. lain (Jepang, Belanda, Spanyol), pada
Perkembangan zaman dan teknologi akhirnya kondisi tersebut
pada akhirnya memberikan dampak mengakibatkan pecahnya perang
bagi masyarakat dunia, tidak hanya sehingga mengakibatkan terjadinya
masyarakat bangsa Yahudi saja yang gelombang penyebaran bangsai Cina
mengalami atau melaksanakan yang cukup besar, salah satunya ke
penyebaran (migrasi), yang juga daerah Asia Tenggara (Thailand,
popular dengan istilah diaspora adalah Malaysia, Singapura, Indonesia)
masyarakat bangsa Cina yang juga (Guotu, 2012).
Penelitian mengenai penyebaran mendapatkan pendidikan yang
suatu bangsa (diaspora) dapat dilakukan berkualitas yang tidak didapatkan di
dari berbagai perspektif termasuk daerah asalnya masing-masing.
antropologi, sosiologi, geografi
Diaspora pada akhirnya dapat
manusia, migrasi, budaya, ras,
multikulturalisme, pasca-kolonialisme, menyebabkan hilangnya orisinalitas dari
ekonomi politik, dan komunikasi. Ien seseorang atau masyarakat yang
mengalaminya, pada penelitian ini saya
Ang (2013) menjelaskan bahwa
diaspora pada dasarnya membentuk mengalami sebuah ketidakpastian
sebuah koneksi antara seseorang yang identitas diri meskipun secara darah
berasal dari daerah Tana Toraja,
memiliki latar belakang budaya yang
sama yang sedang berada di tempat Sulawesi Selatan, namun saya
yang berjauhan, misanya masyarakat dilahirkan dan dibesarkan di Kota
Surabaya, Jawa Timur, kemudian pada
Yahudi di Eropa dan Amerika tetap
memiliki hubungan yang erat dan lekat usia 17 tahun hingga sekarang (22
dengan negeri asal usul mereka, yakni tahun) mengalami dislokasi ke Kota
Malang, Jawa Timur yang diakibatkan
Israel, ini tampak dalam kehidupannya
sehari-hari, misalnya; kebiasaan- adanya faktor tuntutan pendidikan.
kebiasaan, ritual keagamaan, cara 2.2.1. Diaspora Communities dalam
berpikir, hingga mengenai makanan dan Lingkungan Universitas
tradisi. Brawijaya Malang
Masyarakat diaspora merupakan Universitas Brawijaya merupakan
komunitas imajiner yang tersebar di salah satu perguruan tinggi negeri yang
daerah-daerah lain (selain daerah diresmikan pada tahun 1963 yang
asalnya) dikarenakan faktor-faktor berlokasi di Kota Malang, Jawa Timur.
tertentu. Di Indonesia masyarakat Universitas Brawijaya merupakan salah
diaspora erat kaitannya dengan istilah satu universitas negeri yang terkemuka
“merantau” yang mengacu pada di Indonesia yang mempunyai jumlah
keinginan untuk mendapatkan sesuatu mahasiswa lebih dari 50 ribu orang dari
yang lebih baik dengan jalan pergi ke berbagai strata mulai program Diploma,
tempat lain yang bukan tempat asalnya. Program Sarjana, Program Magister dan
Salah satu contohnya adalah banyaknya Program Doktor selain Program
masyarakat dari daerah Sumatera Utara Spesialis tersebar dalam 10 Fakultas
yang berprofesi sebagai supir angkutan dan 2 program pendidikan setara
umum di beberapa daerah di Provinsi fakultas (Sekilas Universitas Brawijaya,
DKI Jakarta, atau adanya masyarakat- 2012). Universitas Brawijaya
masyarakat dari Papua, Sulawesi, merupakan salah satu universitas negeri
Sumatera, Kalimantan yang merantau terkemuka di Indonesia yang saat ini
ke Pulau Jawa dengan motivasi tertentu memiliki 51.515 orang mahasiswa aktif
seperti memperoleh pekerjaan yang dari berbagai strata yang tersebar di
baik, memperoleh kesejahteraan, hingga berbagai fakultas, Pada tahun ajaran
2012/2013 Universitas Brawijaya tempat tinggal maupun di lingkungan
menerima 17.530 mahasiswa baru dari kampus sebagai pusat bertemunya latar
berbagai strata yang tersebar dalam belakang budaya yang beragam
berbagai fakultas (Mahasiswa tersebut. Contoh nyata perbedaan yang
Universitas Brawijaya, 2013). timbul adalah adanya bahasa-bahasa
pergaulan yang unik/khas malang, yakni
Mahasiswa Universitas Brawijaya dengan “bahasa yang dibalik”
tidak hanya berasal dari area Kota (walikan), seperti: oskab:bakso,
Malang maupun Pulau Jawa saja, ayas:saya, umak:kamu.
kualitas dan popularitas dari Universitas
Brawijaya menjadi daya tarik tersendiri Para mahasiswa pada dasarnya akan
bagi para masyarakat yang ingin mengalami saat-saat dimana
melanjutkan pendidikan lanjutannya menemukan suatu kekagetan budaya,
setelah jenjang Sekolah Menengah Atas khususnya budaya akademik yang
disisi lain sistem seleksi calon ditemui pada jenjang pendidikan
mahasiswa yang memungkinkan perguruan tinggi yang memiliki
mahasiswa yang berasal dari seluruh perbedaan yang mendasar dengan
Indonesia bahkan luar negeri dapat budaya akademik pada jenjang
melanjutkan pendidikan di Universitas pendidikan sebelumnya, contohnya
Brawijaya, ini senada dengan konsep perbedaan pada sistemnya, pada jenjang
penyebaran suatu masyarakat (diaspora) SMA para siswa hanya mengikuti alur
dimana adanya suatu tujuan tertentu yang sudah distandarisasi oleh pihak
yang menjadi motivasi seseorang lembaga sekolah yang bersangkutan,
maupun masyarakat untuk hijrah ke berbeda dengan jenjang Perguruan
tempat lain (dalam hal ini tujua tinggi yang lebih mengutamakan straegi
memperoleh Pendidikan yang lebih dari mahasiswa sendiri dalam
berkualitas). menyikapi sistem pendidikan yang
diberikan oleh pihak Universitas.
Keberagaman asal dari para
mahasiswa di Universitas Brawijaya 2.3. Culture Shock
tentu menimbulkan adanya suatu 2.3.1. Definisi Culture Shock
perbedaan yang timbul umumnya Seseorang dilahirkan dan dibesarkan
perbedaan latar belakang budaya, lebih pada latar belakang budaya tertentu.
khusus pada perbedaan budaya Budaya memiliki kekhasannya masing-
akademik. Pada ranah latar belakang masing pada setiap daerah. Seseorang
budaya, di Universitas Brawijaya terjadi yang memasuki daerah baru yang
suatu pertemuan latar belakang budaya memiliki latar belakang budaya yang
yang beragam sebagai konsekuensi dari berbeda dengan budayanya akan
beragamnya pula asal dari para mengalami keterkejutan akibat baru
mahasiswa yang ada. Perbedaan latar pertama kali melihat budaya di tempat
belakang budaya yang paling mendasar baru tersebut, terlebih lagi setiap
adalah mengenai kebiasaan-kebiasaan manusia telah memiliki modal budaya
yang ditemui pada pergaulan sosial di masing-masing sehingga akan menilai
segala sesuatu yang ia temui seseorang mengalami stres serta sebuah
berdasarkan nilai budaya yang selama pengalaman yang menurutnya
ini dipahaminya. Hal ini tentunya akan menyimpang, karena tidak senada
menimbulkan keterkejutan bagi diri dengan budaya yang selama ini ada
orang tersebut, karena struktur makna pada dirinya dan kehidupannya.
budaya di lingkungan yang baru tidak
selalu sesuai dengan struktur makna Culture shock itu dapat berupa gaya
hidup, cara berpakaian, tempat tinggal,
budaya yang ada pada dirinya selama
ini. Keadaan yang sedemikian rupa makanan termasuk cara memasak,
disebut dengan culture shock yang menyajikannya hingga menikmati
hidangan, atau mungkin dapat berupa
dalam bahasa Indonesia disebut dengan
gegar budaya. kendala komunikasi (bahasa) sebab
akan sulit untuk memulai membangun
Istilah culture shock dalam istilah jaringan di lingkungan yang seseorang
sosial pertama kali dikenalkan oleh baru pertama kali memasukinya. Dari
seorang sosiolog bernama Kalervo beberapa pandangan mengenai culure
Oberg di akhir tahun 1960. Ia shock atau gegar budaya tersebut maka
mendefinisikan culture shock sebagai dapat dikatakan bahwa culture shock
“penyakit” yang diderita oleh individu adalah suatu pengalaman
yang hidup di luar lingkungan ketidakmampuan individu dalam
budayanya. Istilah ini mengandung menyesuaikan diri ketika memasuki
pengertian, adanya perasaan cemas, lingkungan sosial yang baru yang
hilangnya arah, perasaan tidak tahu apa memiliki latar belakang budaya berbeda
yang harus dilakukan atau tidak tahu dengan latar belakang budaya yang
bagaimana harus melakukan sesuatu, selama ini ada pada dirinya.
yang dialami oleh individu tersebut
Saya mengalami suatu keterkejutan
ketika ia berada dalam suatu lingkungan
yang secara kultur maupun sosial baru. saat pertama kali menetap di kota
Malang. Pengalaman saya tersebut
Oberg menjelaskan hal itu dipicu oleh
kecemasan individu karena ia diakibatkan adanya suatu perbedaan
kehilangan symbol-simbol yang selama yang saya temui di kota Malang dengan
yang sebelumnya telah saya temui di
ini dikenalnya dalam interaksi sosial,
terutama terjadi saat individu tinggal kota asal saya Surabaya. Perbedaan-
dalam budaya baru dalam jangka waktu perbedaan tersebut dapat mencakup
pada gaya hidup, gaya berbicara,
yang relatif lama. Bowlby (dalam
Dayakisni dan Yuniadi, 2010 hal 187) pergaulan, serta kebiasaan-kebiasaan
menggambarkan culture shock sebagai yang berlaku.
kondisi yang sama seperti kesedihan, 2.3.2. Tahapan Culture Shock
berduka cita, dan kehilangan, sedangkan
Ting-Toomey dan Leeva C. Chung Culture Shock terjadi melalui
(2012) mengemukakan bahwa culture beberapa tahap-tahap yang biasa
shock adalah sebuah keadaan dimana
digambarkan dalam kurva berbentuk mengerikan. Tahap ini dapat
huruf U. berlangsung cukup lama tergantung
pada kemampuan individu mengatasi
ADJUSTMENT
hal tersebut. DeVito (2011 hal 550)
HONEYMOON (ADAPTATION)
mengemukakan bahwa pada tahap
inilah individu benar-benar mengalami
culture shock, dan apabila tidak segera
RECOVERY (PEMULIHAN) ditangani akan menimbulkan gejala-
gejala negatif seperti sakit kepala, sakit
CRISIS (CULTURE SHOCK) perut, insomnia, tidak nyaman,
paranoid, homesick, merasa kesepian,
Gambar 2.1 Tahap-tahap Culture Shock
menarik diri dari pergaulan.
Tahap-tahap tersebut antara lain Seseorang yang mengalami
adalah : dislokasi tempat tinggal ke tempat yang
1. Honeymoon baru pertama kali ditinggali kemudian
Dodd mengemukakan bahwa pada akan mengalami suatu perasaan
tahap ini individu akan mengalami negative seperti yang dipaparkan
perasaan senang, gembira, harapan, dan sebelumnya, ini diakibatkan banyaknya
euphoria (Dodd, 1998 hal 159). Segala hal-hal maupun simbol-simbol pada
hal yang ia temui di lingkungan baru kehidupannya sehari-hari yang familiar
tersebut dipandang sebagai hal-hal yang kemudian menjadi jarang ditemui atau
menyenangkan (makanan, suasana, bahkan sama sekali hilang. Pada
budaya, orang-orang lokal). Seseorang tahapan ini sejatinya dapat dikatakan
akan mengalami tahapan ini pada awal suatu proses culture shock atau
kepindahan ke lokasi yang baru, kekagetan akan budaya yang baru
seseorang akan merasa senang, bahagia, ditemui yang sangat berbeda dengan
excited pada segala suatu hal yang ada budaya aslinya atau budaya tempat
di lokasi barunya tersebut. Misalnya; tinggalnya yang sebelumnya.
makanan, keindahan, bahasa, kesenian,
fasilitas, dan sebagainya. 3. Pemulihan

2. Crisis Tahapan pemulihan merupakan


tahapan dimana individu akan berusaha
Tahap ini terjadi ketika individu mencoba memahami budaya pada
merasakan bahwa kenyataan yang ia lingkungan baru tersebut, mempelajari
lihat tidak seperti yang dipikirkan bahasa dan kebiasaan-kebiasaan di
sebelumnya dan mulai timbul beberapa lingkungan tersebut (Devito, 2011 hal
masalah yang berhubungan dengan hal 550). Pada tahap ini segala sesuatu yang
tersebut. Individu pada tahap ini akan akan terjadi dapat diperkirakan
mengalami perasaan kecewa, tidak sebelumnya serta tingkat stress yang
puas, dan segala sesuatu yang ditemui terjadi menjadi menurun (Samovar,
di tempat baru tersebut menjadi Porter, dan McDaniel 2010 hal 478).
Tahap ini terjadi ketika seseorang sendiri oleh individu tersebut dalam
yang sebelumnya mengalami culture menjalani kehidupannya sehari-hari.
shock mulai mendapatkan ketenangan
dalam menjalani kehidupan sehari-hari, 2.4. Uncertainty Reduction Theory
ini dapat terjadi dengan cara melakukan dalam Usaha Penyesuaian Diri
sosialisasi dan interaksi dengan warga Pada saat berada di tempat yang baru
sekitar (host culture) di lingkungan dan bertemu dengan orang-orang yang
yang relevan dan sering dikunjungi. baru maka kita akan cenderung tidak
4. Penyesuaian/adapatasi yakin akan hal yang akan terjadi, kita
merasa ketidakpastian akan karakter
Pada tahapan ini individu akan seseorang yang baru kita jumpai, kita
mulai menyesuaikan diri dan mulai merasa ketidakpastian akan karakter
dapat menerima budaya baru di lingkungan yang baru kita masuki.
lingkungan baru tersebut sebagai gaya Berger (dalam West dan Turner, 2008
hidup yang baru. Individu pada tahap hal 173) memproses bahwa orang
ini sudah mulai mengerti nilai-nilai mempunyai waktu yang sulit dengan
budaya yang ada seperti bahasa, cara ketidakpastian, bahwa mereka ingin
berinteraksi, kebiasaan-kebiasaan mampu memperkirakan tingkah laku,
meskipun belum terlalu fasih karena dan bahwa mereka termotivasi untuk
masih ada sedikit kesulitan dan mencari informasi tentang orang lain.
ketegangan, namun secara keseluruhan
pengalaman terasa menyenangkan Hal tersebut menggambarkan
(Devito, 2011 hal 550). bahwa seorang yang akan memasuki
tempat yang baru (berlatar belakang
Pada proses sosialisasi dan interaksi budaya yang berbeda) secara sadar
seseorang individu dengan lingkungan maupun tidak sadar akan secara aktif
dan masyarakat di tempat baru, pada mencari informasi mengenai orang-
saat yang sama juga akan terjadi proses orang serta budaya di lingkungan baru
mempelajari kebiasaan- tersebut untuk meningkatkan interaksi.
kebiasaan/routine yang berlaku sehari- Charles Berger dan James Bradac
hari di tempat yang baru tersebut, mengidentifikasi tiga strategi utama
namun sebelumnya individu akan untuk mengurangi ketidakpastian yaitu
merasakan suatu ketidakpastian akan strategi pasif, aktif dan interaktif.
segala hal yang ditemui di tempat baru
tersebut hingga lambat laun individu 1. Strategi Pasif
tersebut mampu keluar dari Bila kita mengamati orang lain
ketidakpastian tersebut dengan cara tanpa orang itu sadar bahwa dia sedang
mempelajari kebiasaan- kita amati, kita menerapkan strategi
kebiasaan/routine yang berlaku sehari- pasif. Observasi pasif ini memiliki
hari di tempat yang baru tersebut. Hasil manfaat salah satunya adalah
proses tersebut kemudian dipraktekan mengamati seseorang dalam tugas aktif
tertentu, misalnya dalam interaksinya
dengan orang lain dalam situasi sosial kota asal saya. Pada saat awal
informal. kepindahan saya di Kota Malang, saya
2. Strategi Aktif cukup sering untuk pulang ke kota asal
Bila kita secara aktif mencari saya dikarenakan ketidaknyamanan
informasi tentang seseorang dengan yang saya rasakan tersebut. Pada
cara apapun selain berinteraksi dengan pergaulan sehari-hari saya pada awalnya
orang itu, anda menerapkan strategi cenderung untuk bersikap pasif dan
aktif. Sebagai contoh, anda dapat menutup diri karena saya merasa tidak
bertanya kepada orang lain tentang nyaman harus berada di lingkungan
orang itu. Kita juga memanipulasi yang asing dengan orang-orang yang
lingkungan dengan cara tertentu mayoritas baru pertama kali saya temui.
sehingga kita dapat mengamati Teori ini sejatinya merupakan teori
seseorang secara lebih spesifik dan yang menjelaskan komunikasi dalam
jelas. Wawancara lamaran pekerjaan, konteks interpersonal, namun inti dari
menonton teater, atau mengajar teori ini dapat diaplikasikan pada kajian
mahasiswa merupakan contoh-contoh komunikasi antar budaya khususnya
cara dimana orang memanipulasi situasi pada kajian culture shock. Dengan
untuk melihat bagaimana seseorang demikian, Uncertainty Reduction
mungkin beraksi dan bereaksi. Theory juga dapat menjelaskan
3. Strategi Interaktif bagaiamana nantinya saya pada awal
Bila kita sendiri berinteraksi dengan kepindahan ditempat baru mengalami
seseorang, kita menerapkan strategi ketidakpastian tersebut namun pada
interaktif. Sebagai contoh, kita dapat prosesnya mampu mengurangi
mengajukan pertanyaan (“Apakah anda ketidakpastian tersebut dengan
senang berolahraga?” “Bagaimana memaksimalkan pencarian informasi
pendapat anda mengenai mata kuliah tentang karakteristik orang-orang di
ilmu komputer itu?” “Apa yang akan lingkungan sosial budaya yang baru
anda lakukan jika dipecat?”). Kita juga tersebut.
mendapatkan pengetahuan tentang
orang lain dengan mengungkapkan 2.5. Identity Negotiation Theory
informasi tentang diri kita sendiri. dalam Usaha Penyesuaian Diri
Pengungkapan diri menciptakan
lingkungan yang santai yang Setiap manusia tentunya telah
memiliki identitas atau konsep diri yang
mendorong pengungkapan dan orang
yang ingin lebih kita kenal. telah ada, yang mana faktor pembentuk
konsep diri tersebut adalah budaya lokal
dari daerah asal mereka. Identitas atau
Sekilas pada awal kepindahan saya di
Kota Malang, saya sempat merasakan konsep didapatkan dari sebuah proses
rasa yang tidak nyaman hampir dalam interaksi dengan orang lain dalam
lingkup budaya asal mereka. Dengan
waktu yang cukup lama, ini saya atasi
pada awalnya dengan cara menyediakan kata lain bahwa setiap manusia
waktu untuk pulang ke Kota Surabaya memiliki konsep diri yang berbeda-beda
tergantung pada budaya mana konsep kognitif yang dipelajari melalui latihan-
diri mereka terbentuk. latihan keterampilan yang dilakukan
berulang-ulang (Ting-Toomey, 1999 hal
Identity Negotiation Theory 220). Ting-Toomey mengemukakan ada
menekankan bahwa identitas atau 10 asumsi teoritis inti dari teori
konsepsi diri refleksif dipandang negosiasi identitas (Ting-Toomey, 1999
sebagai mekanisme eksplanatori bagi hal 220), yakni:
proses komunikasi antarbudaya (Ting-
Toomey, 1999 hal 254). Identitas 1. Dinamika utama dari identitas
dipandang sebagai citra diri reflektif keanggotaan seseorang dalam suatu
yang dikonstruksi, dialami, dan kelompok dan identitas pribadi
dikomunikasikan oleh para individu terbentuk melalui komunikasi
dalam satu budaya dan dalam satu simbolik dengan orang lainnya.
situasi interaksi tertentu (Ting-Toomey, 2. Orang-orang dalam semua budaya
1999 hal 39). Konsep negosiasi atau kelompok etnis memiliki
didefinisikan sebagai proses interaksi kebutuhan dasar akan motivasi
transaksional di mana para individu untuk memperoleh kenyamanan
dalam satu situasi antarbudaya mencoba identitas, kepercayaan,
memaksakan, mendefinisikan, keterlibatan, koneksi dan stabilitas
mengubah, menantang, dan/atau baik level identitas berdasarkan
mendukung citra diri yang diinginkan individu maupun kelompok.
pada mereka atau orang lain. Negosiasi 3. Setiap orang akan cenderung
identitas sendiri merupakan aktivitas mengalami kenyamanan identitas
komunikasi, karena dalam proses dalam suatu lingkungan budaya
negosiasi identitas tersebut terdapat yang familiar baginya dan
sebuah proses interaksi dan sebaliknya akan mengalami
transaksional dari para pelakunya. identitas yang rentan dalam suatu
Setiap manusia tentunya secara sadar lingkungan yang baru.
maupun tidak sadar telah melakukan 4. Setiap orang cenderung merasakan
proses tersebut ketika berada dalam kepercayaan identitas ketika
suatu lingkup budaya tertentu, sehingga berkomunikasi dengan orang lain
kemudian terjadi pembentukan konsep yang budayanya sama atau hampir
diri/identitas diri mereka. sama dan sebaliknya kegoyahan
identitas manakala berkomunikasi
Ting-Toomey mengemukakan bahwa mengenai tema-tema yang terikat
beberapa individu akan lebih memilih oleh regulasi budaya yang berbeda
untuk bersikap mindless dalam darinya.
menghadapi negosiasi identitas, 5. Seseorang akan cenderung merasa
sedangkan individu lain lebih bersikap menjadi bagian dari kelompok bila
mindful menghadapi dinamika proses identitas keanggotaan dari
negosiasi identitas tersebut. Mindfulness kelompok yang diharapkan
ini merupakan satu proses pemusatan memberi respon yang positif.
Sebaliknya akan merasa yang sama. Setiap individu akan
berbeda/asing saat identitas menegosiasikan identitas ketika sedang
keanggotaan kelompok yang berada pada ranah nilai budaya yang
diinginkan memberi respon yang berbeda atau ketika sedang menghadapi
negatif. individu lain yang memiliki nilai
6. Seseorang akan mengharapkan identitas berbeda. Teori ini pada
koneksi antarpribadi melalui akhirnya menjelaskan bahwa
kedekatan relasi yang meaningful komunikasi antar budaya akan dapat
(misalnya dalam situasi yang berjalan efektif ketika tercapai
mendukung persahabatan yang keberhasilan dalam proses negosiasi
akrab) dan sebaliknya akan identitas tersebut. Identity Negotiation
mengalami otonomi identitas saat Theory ini nantinya dapat menjelaskan
mereka menghadapi relasi yang mengenai peristiwa culture shock yang
separatis/terpisah. dialami oleh para informan dan
7. Orang akan memperoleh kestabilan selanjutnya bagaiamana setiap informan
identitas dalam situasi budaya yang tersebut meminimalisir hal tersebut
dapat diprediksi dan akan melalui proses komunikasi antar budaya
menemukan perubahan identitas yang efektif.
atau goncang dalam situasi-situasi
budaya yang tidak diprediksi Pada saat saya masih berada di
sebelumnya. lingkup budaya asal saya (tempat
8. Dimensi budaya, personal dan dilahirkan dan dibesarkan) yakni di
keragaman situasi mempengaruhi Kota Surabaya telah terbentuk identitas
makna, interpretasi, dan penilaian dalam diri saya, identitas diri tersebut
terhadap tema-tema atau isu-isu terbentuk karena adanya sebuah
identitas tersebut. interaksi yang saya alami dalam
9. Kepuasan hasil dari negosiasi kehidupan sehari-hari. Lingkungan-
identitas meliputi rasa dimengerti, lingkungan yang sering menjadi tempat
dihargai dan didukung. saya berinteraksi adalah keluarga,
10. Komunikasi antarbudaya yang sekolah, gereja, dan masyarakat. Pada
mindful menekankan pentingnya tempat-tempat tersebutlah saya sering
pengintegrasian pengetahuan melakukan interaksi dengan individu-
antarbudaya, motivasi, dan individu lain yang pada akhirnya secara
ketrampilan untuk dapat sadar maupun tidak sadar memberikan
berkomunikasi dengan dampak bagi terbentuknya identitas diri
memuaskan, tepat, dan efektif. saya.

Gambaran umum dari Identity Seiring berjalannya waktu dan


Negotiation Theory adalah setiap tuntutan pendidikan saya diharuskan
manusia memiliki konsep diri (identitas berpindah tempat tinggal ke kota
diri) yang terbentuk dari hasil interaksi Malang (2 jam perjalanan dari Kota
dengan orang lain dalam ranah budaya Surabaya) meskipun sifatnya dapat
dikatakan sementara saja. Identitas diri tersebut meliputi adanya suatu
saya pada akhirnya mengalami suatu perbedaan keyakinan inti, nilai-nilai,
proses penegosiasian dikarenakan dan norma-norma antara daerah asal
berada pada tempat baru yang notabene dengan budaya setempat (tempat baru),
memiliki perbedaan latar belakang kemudian terjadinya suatu kehilangan
budaya dan kebiasaan dengan kota asal gambaran-gambaran budaya asal serta
saya dahulu. Melalui Identity simbol-simbol yang biasanya familiar
Negotiation Theory nantinya dapat disaksikan menjadi hilang.
dipaparkan secara gamblang proses
penegosiasian identitas diri saya yang Pada saat pertama kali menetap di
kota Malang karena kepentingan
terjadi tersebut.
pendidikan saya merasakan proses
2.6. Adaptasi dalam Culture Shock seperti yang dipaparkan oleh Ting-
Toomey tersebut. Tantangan yang saya
Adaptasi budaya merupakan hadapi adalah ketika nilai-nilai, norma-
sebuah proses yang berjalan secara norma, hingga kebiasaan yang terjadi
alamiah dan tidak dapat dihindari sehari-hari di kota Malang berbeda
dimana seorang individu berusaha untuk dengan yang terjadi di kota asal saya,
mengetahui segala seuatu tentang yakni Surabaya. Tantangan yang saya
budaya dan lingkungannya yang baru alami tersebut pada akhirnya
sekaligus memahaminya. Pada tahapan- memunculkan suatu kehilangan akan
tahapan culture shock terdapat salah gambaran-gambaran, simbol-simbol,
satu tahapan terakhir yang dinamakan serta kebiasaan-kebiasaan yang
penyesuaian atau adaptasi. Tahapan ini sebelumnya sudah familiar bagi diri
merupakan cara meminimalisir dampak saya.
negatif yang ditimbulkan oleh culture
shock. Witte menjelaskan bahwa 2.7. Autoethnography dan
adaptasi lintas budaya merupakan cara Konstruksi Kebudayaan melalui
individu untuk mengatasi masalah- Sudut Pandang Individu.
masalah yang timbul dari perbedaan Etnografi yang akarnya antropologi
budaya yang terjadi. Salah satu metode pada dasarnya merupakan kegiatan
yang dapat dilakukan adalah dengan peneliti untuk memahami cara orang-
mencari pengetahuan budaya, orang berinteraksi dan bekerjasama
mengadopsi gaya berkomunikasi, serta melalui fenomena yang diamati dalam
sebisa mungkin menghindari penarikan kehidupan sehari-hari. Etnogarafi
diri dari pergaulan di lingkungan baru adalah pelukisan yang sistematis dan
tersebut. analisis suatu kebudayaan kelompok,
Ting-Toomey (1999 hal 233) masyarakat atau suku bangsa yang
memaparkan secara gamblang bahwa dihimpun dari lapangan dalam kurun
suatu proses adaptasi menghadirkan waktu yang sama. Etnografi
sebuah tantangan dan perubahan bagi Komunikasi masuk ke dalam
individu yang mengalami. Tantangan pendekatan kualitatif. Dalam Littlejohn
dikemukakan bahwa metode ini Autoethnography menggabungkan
merupakan penerapan etnografis dalam konsep otobiografi dan etnografi,
pola-pola komunikasi kelompok sebagai peneliti saya melakukan
(Littlejohn, 2009 hal 68). Penelitian penelitian ini dengan cara menuliskan
yang menngunakan metode ini berupaya kembali segala pengalaman serta
untuk meneliti bentuk-bentuk proses-proses yang pernah saya alami
komunikasi yang dipergunakan oleh dari awal menetap di Kota Malang
para anggota sebuah komunitas budaya. hingga pada akhirnya mampu nyaman
Metode ini dapat digunakan untuk untuk menetap di kota Malang.
penelitian-penelitian dalam tataran Penulisan autoethnography ini nantinya
komunikasi kelompok/organisasi, atau didasarkan pada recall emosional serta
untuk mendekati kelompok atau refleksi saya terhadap diri sendiri,
organisasi secara kultural. dengan harapan dapat memberi
gambaran deskriptif, serta juga dengan
Autoethnography merupakan salah meminta pendapat dan pandangan dari
satu jenis dari penelitian Etnografi. orang lain/significant others. Pandangan
Littlejohn dan Karen A. Foss
Significant Others penting untuk
menjelaskan bahwa Autoethnografi didapatkan serta dianalisa guna
berfokus pada penelitian mengenai menemukan hal-hal yang tidak dapat di
pengalaman hidup diri dalam rangka temukan pada blind area.
untuk mempertanyakan dan membuka
satu pengalaman untuk sebuah analisis 2.8. Blind Area pada konsep Johari
komunikatif (Littlejohn, 2009 hal 68). Windows.
Autoethnography berusaha untuk
menggambarkan dan menganalisa Setiap manusia memiliki karakter
secara sistematis sebuah pengalaman kepribadiannya masing-masing, namun
terkadang karakter kepribadian tersebut
pribadi untuk memahami pengalaman
budaya yang terjadi (Littlejohn, 2009 tidak nampak secara jelas tidak hanya
bagi pihak lain bahkan juga bagi
hal 69).
individu tersebut. Setiap individu
Autoethnography dapat dikatakan memiliki kecenderungan mengenai
sebuah refleksi diri dalam suatu konteks keterbukaan akan karakter pribadinya
budaya. Salah satu jenis dari etnografi atau “seperti apa dirinya”. Pada tahun
ini secara sistematis mendeskripsikan 1969, Joseph luth beserta Harrington
dan menganalisa suatu pengalaman diri Ingham mengemukakan sebuah teori
yang sudah terjadi maupun sedang yang berkenaan dengan konsep
terjadi. Dalam kajian ilmu komunikasi, pengungkapan diri seseorang (Self
dapat dikatakan autoethnography Disclosure), teori ini menekankan
merupakan sebuah proses mem-break bahwa setiap orang dapat mengetahui
down pengalaman-pengalaman dan tidak mengetahui tentang dirinya
komunikasi (interaksi) yang telah maupun orang lain. Konsep self
maupun sedang terjadi pada kehidupan disclosure juga dipaparkan secara
diri seseorang. gamblang oleh Joseph A. Devito (1986
hal 95) yang menyatakan bahwa self sejauh mana diri individu sendiri
disclosure merupakan salah satu tipe mengenal dirinya dan orang lain yang
komunikasi, dimana informasi yang mengenal dan mengetahui mengenai
tentang diri yang biasanya dirahasiakan diri individu tersebut. Area pertama,
namun diberitahukan kepada orang lain. yakni open menggambarkan suatu
Informasi ini erat kaitannya dengan karakter seseorang yang senantiasa
penilaian orang lain mengenai karakter membuka diri dengan orang lain,
diri kita. Sebenarnya informasi tersebut individu pada tipe terbuka ini sadar
bersifat rahasia namun pada karakter akan potensi dirinya, perasaan dan
individu tertentu informasi-informasi pikirannnya terbuka untuk pengalaman–
tersebut menjadi hal yang dibagikan pengalaman hidup yang menyedihkan
kepada orang-orang tertentu yang dan menyenangkan, pekerjaan, dan
mungkin dianggap pantas untuk sebagainya. Ia juga lebih spontan dan
menerima informasi yang seharusnya bersikap jujur dan apa adanya pada
“rahasia” tersebut. orang lain (Yen, 1999).

Joseph Luth dan Harrington Ingham Pada area tipe blind, individu tidak
kemudian memaparkan sebuah diagram mengetahui informasi mengenai dirinya
yang menjelaskan mengenai tipe-tipe sendiri, namun pihak lain baik kelompoj
pengungkapan diri seseorang baik bagi maupun individu mengetahui, ini terjadi
diri sendiri maupun orang lain, diagram pada saat individu berinteraksi dengan
ini pada akhirnya dikenal dengan nama pihak lain tersebut dan tanpa sadar
Johari Windows yang mengasosiasikan pihak lain memepelajari dan
pada akronim gabungan nama penemu mengentahui mengenai diri individu
nya. Johari Windows, memaparkan tersebut melalui pesan verbal yang
jenis-jenis self disclosure kedalam 4 tersampaikan pada proses interaksi dan
besar bagian kuadran, yakni (1) open, komunikasi yang terjadi, misalnya
(2) blind, (3) hidden, (4) unknown. seseorang individu yang tidak sadar
bahwa setiap berkomunikasi selalu tidak
Saya Tahu Saya Tidak melihat lawan bicara, namun pihak lain
Tahu
sadar akan hal tersebut (Yen, 1999).

Orang OPEN BLIND Individu pada area hidden, lebih


Lain Tahu (TERBU (BUTA) bersifat menutup diri atau menyimpan
KA) sendiri segala sesuatu mengenai dirinya.
UNKNOWN Individu tidak membagi segala sesuatu
HIDDEN tentang dirinya kepada pihak lain,
Orang Lain
Tidak (TERSEMBU (TAK karena ada rasa takut ketika pihak lain
Tahu NYI) DIKETAHUI) mengetahui tentang perasaannya,
Gambar 2.2. Johari Windows
persepsi, dan opini yang objektif
tentang kelompok atau individu dalam
Keempat jenis pengungkapan diri
kelompok, mereka mungkin menolak,
individu tersebut berdasarkan kepada
menyerang, atau menyakiti saya.
Individu pada tipe ini akan memilih melalui Undang-Undang Sistem
untuk mengetahui terlebih dahulu Pendidikan Nasional No.20 Tahun 2003
elemen-elemen positif atau yang pada pasal 34 ayat 1, bahwa setiap
mendukung dirinya untuk kemudian warga negara yang berusia 6 (enam)
individu ini akan mulai berbagi segala tahun dapat mengikuti suatu program
sesuatu mengenai dirinya tersebut. wajib belajar.
Individu pada tipe ini dapat menyimpan
Pendidikan di Indonesia dibagi
informasi tertentu untuk diri sendiri
sehingga dapat memanipulasi atau dalam beberapa jalur pendidikan, yaitu
mengontrol orang lain (Yen, 1999). pendidikan formal, nonformal, informal.
Jalur pendidikan formal terdiri dari
Tipe unknown, merupakan orang jenjang pendidikan dasar, menengah,
tipe paling tertutup. Tidak mau dan pendidikan tinggi (UU No 20
membuka dirinya keluar maupun Tahun 2003 Pasal 13-14). Jenjang
menerima pendapat/masukan/feedback Pendidikan Menengah merupakan
dari luar. Panggilan yang tepat untuk jenjang pendidikan yang diikuti setelah
yang yang demikian adalah orang yang menyelesaikan jenjang pendidikan
misterius. Pada area ini merujuk kepada dasar. Pendidikan menengah terdiri atas
perilaku, perasaan, dan motivasi yang pendidikan umum dan pendidikan
tidak diketahui, baik oleh diri kita kejuruan, pendidikan menengah
sendiri ataupun oleh orang lain. berbentuk Sekolah Menengah Atas
(SMA), Madrasah Aliyah (MA),
2.9. Pendidikan Tinggi dan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK),
Budaya Akademiknya dan Madrasah Aliyah Kejuruan (MAK),
Pendidikan merupakan hal yang atau bentuk lain yang sederajat (UU No
tidak dapat dipisahkan dengan 20 Tahun 2003 Pasal 18). Pendidikan
kehidupan masyarakat, hampir di semua Tinggi merupakan jenjang pendidikan
lini kehidupan masyarakat menekankan yang diikuti setelah menyelesaikan
akan pentingnya pendidikan sebagai jenjang pendidikan menengah (Sekolah
salah satu faktor penentunya. Menengah Atas) yang mencakup
Pendidikan adalah usaha sadar dan program pendidikan diploma, sarjana,
terencana untuk mewujudkan suasana magister, spesialis, dan doktor yang
belajar dan proses pembelajaran agar diselenggarakan oleh perguruan tinggi
peserta didik secara aktif (UU No 20 Tahun 2003 Pasal 19).
mengembangkan potensi dirinya untuk Pendidikan Tinggi atau dikalangan
memiliki kekuatan spiritual keagamaan, masyarakat umum dikenal dengan
pengendalian diri, kepribadian, jenjang pendidikan perkuliahan
kecerdasan, akhlak mulia, serta merupakan sebuah jenjang pendidikan
keterampilan yang diperlukan dirinya, yang menjadi salah satu tujuan
masyarakat, bangsa, dan negara (UU No berikutnya bagi para masyarakat yang
12 Tahun 2012 Pasal 1 Ayat 1). telah menyelesaikan studi nya di
Pemerintah Indonesia menetapkan jenjang pendidikan menengah, selain
diantaranya yang tidak melanjutkan ke bertanggung jawab melalui pelaksanaan
pendidikan tinggi dengan alasan/faktor Tridharma. Pada bagian sebelumnya
penyebab tertentu (kesulitan finansial, telah dipaparkan mengenai siapa saja
ingin langsung bekerja, belum memiliki yang termasuk sivitas akademika dalam
waktu yang tepat). Perguruan Tinggi lingkungan pendidikan tinggi,
merupakan satuan pendidikan yang sedangkan definisi sivitas akademika
menyelenggarakan pendidikan tinggi, sendiri sebagaimana diatur dalam
yang terdiri dari dua jenis yakni Undang-Undang No.12 Tahun 2012
Pergutuan Tinggi Negeri (PTN) dan Tentang Pendidikan Tinggi pada pasal
Perguruan Tinggi Swasta (PTS) (UU 11 ayat 1 adalah sebuah komunitas yang
No 12 Tahun 2012 Pasal 1 Ayat 1). memiliki tradisi ilmiah dengan
Pada lingkungan perguruan tertinggi mengembangkan budaya akademik.
terdapat masyarakat akademik yang
Budaya akademik pada lingkup
disebut dengan Sivitas Akademik yang
terdiri dari Dosen dan Mahasiswa (UU pendidikan tinggi merupakan
No 12 Tahun 2012 Pasal 1 Ayat 1). merupakan seluruh sistem nilai,
gagasan, norma, tindakan, dan karya
Sebuah perguruan tinggi dalam
menyelenggarakan proses pembelajaran yang bersumber dari Ilmu Pengetahuan
pendidikan tingginya wajib dan Teknologi sesuai dengan asas
Pendidikan Tinggi (UU No 12 Tahun
berlandasakan pada Tridharma
Perguruan Tinggi yakni untuk 2012 Pasal 11 Ayat 2). Budaya
menyelenggarakan pendidikan, akademik penyelenggara pendidikan
tinggi jika berkaca pada definisi
penelitian, dan pengabdian masyarakat
yang terwujud dalam fungsi dan tujuan sebelumnya dapat dibagi dalam dua
dari pendidikan tinggi sebagaimana jenis, yakni budaya akademik formal
dan budaya akademik informal. Budaya
diatur dalam Undang-Undang No.12
Tahun 2012 Tentang Pendidikan Tinggi akademik formal meliputi keseluruhan
sistem pendidikan yang dibuat secara
pada pasal 4 dan 5.
sengaja atau tidak sengaja oleh sivitas
Pada penyelenggaraan suatu akademika kampus yang memiliki
Pendidikan Tinggi berlaku kebebasan wewenang dalam hal tersebut, misalnya
akademik yang terdiri dari kebebasan peraturan-peraturan yang menyangkut
akademik, kebebasan mimbar masalah akademis dan pembelajaran
akademik, dan otonomi keilmuan (sistem perkuliahan, peraturan-
seperti yang diregulasikan oleh peraturan kampus, jadwal akademik,
pemerintah melalui Undang-Undang metode pembelajaran, regulasi
No.12 Tahun 2012 Tentang Pendidikan mengenai satuan kredit semester dan
Tinggi pada pasal 8 dan 9. Implikasi lama studi) (dikti,2011). Budaya
dari aspek-aspek tersebut adalah setiap akademik informal lebih mengacu
sivitas akademika bebas untuk kepada budaya akademik yang ada pada
mendalami dan mengembangkan Ilmu lingkup pendidikan tinggi namun bukan
Pengetahuan dan Teknologi secara merupakan budaya akademik yang
sengaja diregulasikan oleh pihak yang masing selama kedua kebebasan
berwenang, dapat dikatakan budaya tersebut dilaksanakan tetap pada koridor
akademik informal terjadi karena ketentuan yang berlaku di satuan
adanya pengembangan dari budaya pendidikan penyelenggara jenjang
akademik formal yang dilakukan pendidikan tinggi (UU No 12 Tahun
dengan interaksi sosial antar sivitas 2012 Pasal 13.
akademika tanpa membedakan suku,
agama, ras, antargolongan, jenis 2.10. Pola Adaptasi Ekologi
kelamin, kedudukan sosial, tingkat Lingkungan dan manusia
kemampuan ekonomi, dan aliran politik merupakan kedua aspek yang tidak
(UU No 12 Tahun 2012 Pasal 11 Ayat dapat dipisahkan, kedua aspek ini pada
3). kenyataan sehari-hari merupakan kedua
Mahasiswa merupakan salah satu hal yang saling
membutuhkan/melengkapi. Dari sejak
dari sivitas akademik yang ada pada
lingkungan jenjang pendidikan tinggi. jaman dahulu kala manusia sangat
Mahasiswa dalam penyelenggaraan membutuhkan lingkungan, yang paling
mendasar adalah kebutuhan manusia
pendidikan tinggi diposisikan sebagai
insan dewasa yang memiliki kesadaran untuk berkembang biak yang tentunya
sendiri dalam mengembangkan potensi membutuhkan adanya faktor-faktor dari
luar diri manusia itu sendiri, seperti
diri di Perguruan Tinggi sehingga
diharapkan mampu bertindak secara makanan,minuman,cuaca,lingkungan
mandiri dan bijaksana dalam sosial.
mengembangkan potensinya dengan Istilah ekologi pertama kali
melakukan pembelajaran, pencarian diperkenalkan oleh seorang ahli Biologi
kebenaran ilmiah, dan/atau penguasaan, dari jerman yaitu Ernest Haekel pada
pengembangan, dan pengamalan suatu tahun 1866. Kata ekologi sendiri berasal
cabang Ilmu Pengetahuan dan/atau dari bahasa Yunani, yaitu Oekos berarti
Teknologi untuk menjadi ilmuwan, rumah dan logos berarti ilmu. Jadi,
intelektual, praktisi, dan/atau secara harfiah dapat diartikan sebagai
profesional yang berbudaya. Mahasiswa ilmu tentang makhluk hidup dalam
juga diwajibkan untuk menaati setiap rumahnya atau dapat diartikan sebagai
norma yang berlaku pada lingkungan ilmu tentang rumah tangga makhluk
dimana pendidikan tinggi tersebut hidup, sehingga pola adaptasi ekologi
diselenggarakan, meskipun sistem yang dapat diartikan sebagai kebisaan yang
berlaku di pendidikan tinggi merupakan ada di lingkungan tempat tinggal
sistem terbuka sehingga mahasiswa masyarakat. Adaptasi ekologi
memiliki suatu kebebasan akademik, berlangsung terus-menerus dan spesifik
misalnya bebas dalam memilih mata ruang dan waktu. Dalam pola adaptasi
kuliah dan jadwal perkuliahan dan ekologi terdapat tiga teori yang
bebas untuk menyelesaikan studi menjelaskan tentang bagaimana
dengan kecepatan belajar masing-
sesungguhnya kebudayaan terbentuk, III. METODE PENELITIAN
bertahan dan berkembang. Penelitian ini merupakan jenis
penelitian deskriptif yang menggunakan
2.10.1. Determinasi Lingkungan pendekatan penelitian kualitatif karena
Teori ini muncul sektiar tahun 1910- peneliti berfokus pada pencarian dan
an, menurut Ellen C. Semple (1911), pemahaman yang mendalam pada
seluruh kebudayaan dan perilaku proses interaksi yang berlangsung serta
manusia pada dasarnya dipengaruhi implementasinya pada proses konstruksi
langsung oleh faktor-faktor lingkungan diri. Penelitian ini berfokus pada proses
yaitu iklim, topografi, sumber daya penyesuaian diri yang saya alami
alam,dan geografi. selama pindah dan menetap di Kota
Malang yang sebelumnya lahir dan
2.10.2. Posibilisme Lingkungan dibesarkan hingga usia 18 tahun di Kota
Teori ini muncul sekitar tahun Surabaya. Proses yang dialami tersebut
1930an sebagai kritik atas pendekatan ditekankan pada interaksi yang dialami
deterministik. Teori ini memandang oleh peneliti sehingga data yang
bahwa pada dasarnya lingkungan
didapatkan tidak dapat diukur dengan
bukanlah faktor penentu sebagaimana angka maupun hitungan statistika
pada paham deterministic, melainkan karena data yang diperoleh adalah
hanya sebagai penapis, penyaring atau berupa data kualitatif.
screen bagi terbentuknya unsur budaya
tertentu (cultural traits). Menurut Paradigma yang digunakan dalam
Arnold Toynbee (1947), respon penelitian ini adalah paradigma
masyarakat terhadap lingkungan alam interpretatif. Pendekatan interpretif
menjadi penentu berkembang tidaknya menitikberatkan pada peranan bahasa,
peradaban di masyarakat bersangkutan. interpretasi dan pemahaman dalam ilmu
Contoh, masyarakat eskimo vs sosial. Pendekatan ini memfokuskan
masyarakat tropis pada sifat subjektif dari dunia social dan
berusaha memahaminya dari kerangka
2.10.3. Ekologi Budaya berpikir objek yang sedang
Paham ini dipandang sebagai revisi dipelajarinya (Newmann, 2000 hal 370).
dari paham posibilisme. Menurut Julian Manusia secara terus menerus
Steward (1968), Ekologi budaya adalah menciptakan realitas sosial mereka
studi yang mempelajari bagaimana dalam rangka berinteraksi dengan yang
suatu masyarakat beradaptasi dengan lain.
lingkungannya. Adaptasi lingkungan
hanya berlangsung di unsur budaya Isaac dan Michael dalam Jalaludin
Rakhmat (1981) menyatakan bahwa
tertentu, yakni teknologi eksploitasi
sumber daya alam, populasi penduduk, penelitian deskriptif bertujuan
ekonomi dan organisasi sosial. Unsur- melukiskan secara sitematis fakta atau
karakteristik populasi tertentu atau
unsur budaya ini merupakan inti
kebudayaan (cultural core). bidang tertentu secara faktual dan
cermat. Saya menggunakan metode
autoethnography sebagai mekanisme suatu observasi dan eskporasi diri
pengolahan data dalam penelitian ini. sehingga mendapatkan pengalaman-
Autoethnography pada dasarnya berasal pengalaman komunikatif dan interaktif
dari antropologi yang menitikberatkan yang kemudian menjadi suatu data
pada perilaku secara fisik (kasat mata) penting pada proses penelitian ini.
yang dapat menjelaskan suatu fenomena
interaksi yang nampak pada keadaan Pada penelitian ini penentuan
informan dilakukan dengan teknik
alamiah, namun penelitian ini
meminjam konsep tersebut sebagai purposive sampling, dimana penentuan
suatu metode interaksi dan proses yang informan dilakukan dengan
pertimbangan tertentu yang diterapkan
terjadi dalam diri yang berimplikasi
pada perubahan maupun pembentukan secara sengaja oleh peneliti (Sugiyono,
suat identitas diri sebagai konsekuensi 2011:218).
dampak dari adanya culture shock yang Penelitian ini menggunakan dua
diakibatkan oleh perpindahan tempat teknik pengumpulan data, yakni
domisili. observasi partisipatoris (auto-etnografi)
dan wawancara mendalam (depth
Metode penelitian autoethnography
merupakan penelitian yang menekankan interview). Pengumpulan data pada
pada refleksi diri dari si peneliti yang penelitian autoethnography dilakukan
dengan cara menggali segala
menganalisa suatu proses yang terjadi
pada diri peneliti dengan jalan pengalaman dari diri saya serta dengan
memahami dan menganalisa mengenai mendapatkan data-data yang diperoleh
dari hasil wawancara mendalam dengan
refleksi diri tersebut dengan
mengumpulkan data-data yang significant others, sehingga
bersangkutan melalui pengumpulan data memperkaya materi untuk nantinya
dianalisa.
pada significant others (Chang, 2010),
sehingga nantinya didapatkan data-data IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
yang berhubungan serta mendukung
mengenai penelitian ini yang bertujuan Budaya akademik pada jenjang
mengetahui konstruksi identitas diri pendidikan SMA sudah melekat erat
yang dialami peneliti ketika berpindah pada diri saya dan memberikan
tempat tinggal. Metode pengaruh yang cukup signifikan pada
autoethnography perlu untuk budaya akademik yang saya laksanakan
dikolaborasikan dengan metode yang pada awal perkuliahan di kampus FISIP
lainnya terutama wawancara maupun UB Malang. Pada awalnya saya
dengan diskusi kelompok atau grup merasakan kesulitan dalam mengikuti
(Wambura, Hernandez, Chang, 2010). perkuliahan sehari-hari di lingkungan
kampus FISIP UB Malang, saya
Penelitian ini termasuk penelitian merasakan sebuah kekagetan yang
partisipatoris karena peneliti dilibatkan terjadi karena banyaknya hal-hal yang
langsung dalam proses penelitian dari baru yang saya temui di lingkungan
awal hingga akhir. Peneliti melakukan
perkuliahan tersebut, yang sangat bijaksana dalam membagi waktu yang
berbeda dengan apa yang telah saya ada khususnya dalam hal perkuliahan,
temui di lingkungan jenjang pendidikan serta saya merasakan adanya suatu
sebelumnya, ini senada dengan paparan perubahan cara berpikir yang lebih
yang saya dapatkan dari wawancara kritis dalam memaknai suatu hal
dengan salah satu dosen ilmu khususnya mengenai suatu materi
komunikasi FISIP UB Malang, perkuliahan, yang menurut saya ini
terjadi karena adanya suatu pembiasaan
Pada awalnya sebenarnya saya dalam cara berpikir saya sebagai akibat
merasakan kesenangan karena telah proses adaptasi dengan dunia akademik
mampu masuk di salah satu perguruan di jenjang pendidikan perguruan tinggi.
tinggi negeri, serta merasakan ada
kebebasan karena harus tinggal dan Perubahan budaya akademik yang
hidup mandiri dari orang tua. Seiring saya alami dan merupakan salah satu
perkembangan waktu kesenangan itu faktor pembentuk kepribadian saya
mulai hilang seiring dengan kenyataan yang lebih baik adalah saya berusaha
bahwa banyak hal-hal yang saya temui untuk mengambil inisiatif dalam
di lingkungan kampus sangat berbeda berpendapat didalam situasi belajar
dan merupakan hal yang baru bagi saya, dalam kelas perkuliahan, sebisa
dan konsekuensi yang saya dapatkan mungkin memahami dan menuli hal-hal
pada saat dalam keadaan tersebut adalah penting yang disampaikan Dosen, dan
perolehan nilai IP saya di semester satu yang paling mendasar adalah
mendapatkan nilai yang cukup rendah. menghargai serta memanfaatkan waktu
Kenyataan mendapatkan nilai IP yang sebaik-baiknya bagi pendidikan untuk
rendah pada akhirnya memunculkan porsi yang lebih dibanding waktu diluar
suatu kesadaran dalam diri saya bahwa pendidikan.
saya harus berusaha lebih lagi dalam
memahami dunia perkuliahan serta Perubahan yang juga terjadi pada
budaya akademik yang berlaku di diri saya ketika telah mengalami seluruh
dalamnya, seiring waktu berjalan proses proses culture shock adalah adanya
pembelajaran saya terhadap budaya suatu anggapan yang saya rasakan
akademik dunia perkuliahan pada bahwa saya menjadi rujukan atau
akhirnya memunculkan suatu perubahan tempat teman-teman sesama mahasiswa
budaya akademik yang melekat pada untuk sekedar meminta
diri saya sebagai konsekuensi dari bantuan/pengarahan dalam bidang
proses penyesuaian terhadap budaya akademik, khususnya ketika saya dan
akademik yang baru tersebut. beberapa teman sesama mahasiswa
sedang mengerjakan tugas akhir
Saya merasakan perubahan dalam
(skripsi). Saya merasa bahwa pada
budaya akademik yang paling signifikan
jenjang SMA saya hanya menjadi
adalah saya lebih mandiri dan bijaksana
seorang pendidik yang biasa-biasa saja
dalam memilih mata kuliah yang akan
tidak sampai menjadi tempat rujukan
saya ikuti dan juga lebih mandiri dan
seperti yang saya rasakan sekarang ini. ingin membentuk diri kita di lingkungan
Anggapan yang saya rasakan ini timbul tersebut, manusia pada lingkungan tetap
karena kenyataan beberapa teman memegang peranan penting dalam
mahasiswa sering meminta bantuan atau pembentukan dirinya di suatu
sekedar berbagi ilmu/pandangan lingkungan tertentu.
mengenai suatu hal dalam bidang
pendidikan perkuliahan, beberapa teman V. KESIMPULAN DAN SARAN
juga memberikan statement demikian
Berdasarkan pemaparan yang
ketika saya melakukan wawancara yang
dilakukan peneliti pada bab-bab
secara tidak sengaja terjadi.
selanjutnya, terdapat beberapa
kesimpulan dan saran yang dapat ditarik
Pada akhirnya apa yang telah saya
alami ketika pada awalnya mengalami dari penelitian ini. Kesimpulan tersebut
culture shock, menyesuaikan diri, telah disajikan dalam bentuk paparan
deskriptif pada sub bab berikut:
hingga mampu bertahan dan memiliku
budaya akademik yang benar dan sesuai 1. Proses yang dialami peneliti
dengan sistem perkuliahan telah mampu pada tahun 2009-2012, yakni
membentuk sebuah perubahan baik ketika mengalami perubahan
yang luar biasa dalam hidup saya. Apa dan penyesuaian diri ke budaya
yang saya alami memberikan beberapa akademik Universitas Brawijaya
fakta yang menarik mengenai culture Malang adalah sesuai dengan
shock, yakni bahwa culture shock tidak tahapan culture shock dimana
selalu berbicara mengenai hal-hal peneliti awalnya mengalami
negative namun jika mampu dimaknai suatu kesenangan akan hal-hal
dengan baik akan menimbulkan dampak baru (honeymoon), kemudian
yang baik bagi diri, salah satu contoh mengalami tahapan crisis
yang saya alami membuktikan adanya dimana mulai mengalami
peningkatan kualitas diri dalam suatu pengalaman-pengalaman
tatanan kehidupan sosial khususnya negative akibat tidak lagi
dilingkungan akademik kampus dan menemui simbol budaya yang
lingkungan sehari-hari. Pada proses dulu familiar, tahapan ketiga
penyesuaian diri ke budaya akademik adalah recovery dimana peneliti
yang saya alami hingga memunculkan mulai berusaha mempelajari dan
perubahan secara tidak langsung memahami budaya baru yang
merupakan gambaran dari konsep ditemui, kemudian hingga
adaptasi ekologi, yakni posibilisme mencapai pada tahapan terakhir
lingkungan dimana sebuah lingkungan yakni adjustment/adaptation
tidak mutlak memberikan pengaruh dimana peneliti telah mampu
yang kuat pada pembentukan peradaban menyesuaikan diri dengan
maupun karakter seseorang, artinya lingkungan dan budaya baru
bahwa lingkungan memberikan kita yang ditemui.
beragam pilihan tentang bagaimana kita
2. Perubahan-perubahan dan satu alat bagi mereka yang lebih
penyesuaian yang terjadi pada ingin mengetahui proses bukan
diri peneliti akibat adanya suatu hasil akhir pada suatu
proses adaptasi ke budaya pengalaman hidup dan interaksi
akademik Universitas Brawijaya seseorang.
Malang adalah sebagai berikut;
menjadi lebih mandiri dan 3. Teknik Refleksi Diri yang
digunakan membutuhkan sebuah
bijaksana dalam memilih mata
kuliah yang akan saya ikuti dan keberanian, tanggung jawab,
juga lebih mandiri dan bijaksana serta kejujuran dari diri peneliti
sendiri karena sebagai peneliti
dalam membagi waktu yang ada
khususnya dalam hal tidak diperbolehkan untuk
perkuliahan (prioritas), merevisi hal-hal buruk/negatif
yang berhubungan dengan
perubahan cara berpikir yang
lebih kritis dalam memaknai dirinya pada penelitian tersebut,
suatu hal khususnya mengenai meskipun dalam penelitian
Autoethnography peneliti juga
suatu materi perkuliahan, berani
dan berinisiatif dalam merupakan sebagai objek yang
berpendapat khususnya dalam diteliti.
situasi pembelajaran di 4. Penelitian selanjutnya dapat
perkuliahan, dan yang terakhir mengkaji lebih dalam lagi
adala merasakan menjadi suatu mengenai hal-hal yang lebih
tempat rujukan bagi sesama kompleks dalam suatu
teman-teman mahasiswa untuk pengalaman hidup dan interaksi
bertukar pendapat mengenai hal- diri, misalkan mengenai proses,
hal perkuliahan (tugas, materi sebab, dan akibat terjadinya
kuliah, skripsi). suatu konflik dalam diri
seseorang.
Saran yang dianjurkan peneliti adalah
sebagai berikut: DAFTAR PUSTAKA
1. Penelitian Autoethnography, Clandinin and Conelly. 2000. Narrative
khususnya dengan menggunakan Inquiry: Experience and Story in
teknik pencarian data dengan Qualitative Research. San
teknik Refleksi Diri dapat Fransisco: Jossey-Bass
dilakukan dengan berpedoman Publishers
Dayakisni, Tri, & Yuniardi, Salis. 2008.
pada standar penelitian yang
Psikologi Lintas Budaya.
ada, bida ditunjang oleh adanya Malang: UMM Press.
kerangka teori yang kuat sebagai DeVito, Joseph A. 2011. Komunikasi
alat analisa. Antarmanusia.Tangerang:
KARISMA Publishing Group.
2. Penelitian Autoethnography
dapat digunakan sebagai salah
Dodd, C. H. 1998. Dynamics of Fourth Edition. USA: Allyn &
Intercultural Communication. Bacon
USA: McGraw-Hill. Rakhmat, Jalaluddin. 2009. Metode
Kriyantono, Rachmat. 2008. Teknis Penelitian Komunikasi.
Praktis Riset Bandung: Remaja Rosdakarya
Komunikasi:Disertai Contoh Samovar, Larry A., Porter, Richard E.,
Praktis Riset Media, Public & McDaniel, Edwin R. 2010.
Relations, Advertising, Komunikasi Lintas Budaya.
Komunikasi Organisasi, Jakarta: Salemba Humanika.
Komunikasi Pemasaran. Jakarta: Ting-Toomey, Stella., Leeva C.Chung.
Kencana Media Group. 2012. Understanding
Liliweri, Alo. 2003. Dasar-Dasar Intercultural Communication.
Komunikasi New York: Oxford University
Antarbudaya.Yogyakarta: Press.
Pustaka Pelajar Ting-Toomey, Stella. 1999.
Littlejohn, Stephen W. 2002. Theories Communicating Across
of Human Communication: 8th Cultures. New York: The
edition. USA: Wadsworth Guilford Press.
Littlejohn, Stephen W. and Karen A. West, Richard & Turner, Lynn H. 2008.
Foss. 2009. Encyclopedia of Pengantar Teori Komunikasi
Communication Theory. USA: Analisis dan Aplikasi Edisi 3
Sage Publications Jilid 1. Jakarta: Salemba
Martin, Judith & Thomas Nakayama. Humanika.
2010. Intercultural
Communication In Contexts 5th
edition. New York: McGraw-
Hill.
Mulyana, Deddy & Rakhmat,
Jalaluddin. 2001. Komunikasi
Antarbudaya Panduan
Berkomunikasi dengan Orang-
Orang Berbeda Budaya.
Bandung: Rosdakarya
Muslimin. 2002. Metode Penelitian
Bidang Sosial. Malang:
Bayumedia dan UMM Press.
Miles, M. B.,& Huberman, A. M. 1992.
Analisis Data Kualitatif. Jakarta:
Penerbit Universitas Indonesia
(UI-Press).
Moleong, Lexy J. 2006. Metodologi
Penelitian Kualitatif Edisi Revisi
Cetakan Ke dua puluh.
Bandung: Remaja Rosdakarya
Offset
Newmann, Lawrence W.2000.Social
Research Methods: Qualitative
and Quantitative Approach.