Anda di halaman 1dari 23

LAPORAN KIMIA ORGANIK II

ISOLASI ASAM MIRISTAT DARI BIJI PALA


(ISOLASI LEMAK DENGAN EKSTRAKTOR SOXLET)
Prodi/Kelas : Pendidikan Kimia/A & B
Kelompok : IV (Empat)
Nama Kelompok : 1. Arianto
2. Romario Abdullah
3. Wayan Heri K. Putra
4. Fadilah Linggama
5. Israwani D. Paul
6. Nurpepi Pakuna

JURUSAN KIMIA
FAKULTAS MATEMATIKA & ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS NEGERI GORONTALO
2018
A. Judul Praktikum
Isolasi Asam Miristat dari Biji Pala (Isolasi Lemak dengan Ekstraktor Soxhlet)
B. Tujuan Praktikum
1. Mahasiswa dapat mengisolasi trimiristin dari biji pala dengan ekstraktor soxhlet
2. Mahasiswa dapat menghidrolisis senyawa trimiristin dari biji pala menjadi asam miristat
C. Dasar Teori
Pohon pala mempunyai tinggi 15-20 m, tumbuh di Indonesia dan di India bagian barat.
Minyak pala terdiri dari 90% hidrokarbon. Komponen terbanyak yang dapat ditemukan
dalam buah pala adalah SOH, α, dan β pireina. Minyak pala dipakai terutama pada penyedap
makanan dan bahan tambahan dalam bermacam-macam minyak wangi (Wilcox, 1995).
Dalam biji pala, terutama biji yang yang tua, di samping minyak atsiri, terdapat
komponen yang bersifat tidak menguap yang disebut fixed oil atau disebut mentega pala.
Fixed oil adalah bahan-bahan yang dapat larut dalam pelarut organic, tetapi tidak dapat
didestilasi. Biji pala mengandung fixed oil sebesar 20-40% yang tersusun dari asam miristat,
trimiristin dan gliserida dari asam laurat, stearat dan palmitat. Sementara itu, penelitian
isolasi trimiristin dari sisa penyulingan biji pala, hasilnya menunjukkan rendemen trimiristin
sebesar 21,60& dengan kemurnian 89,60%. Trimiristin merupakan suatu jenis lemak yang
banyak digunakan dalam pembuatan kosmetik kulit sebagai pemutih dan harganya sangat
tinggi. Selama ini lemak trimiristin hanya dihasilkan dari minyak kelapa, minyak inti sawit
dan minyak babassu (A’mun, 2013).
Dalam biji pala, terutama biji yang tua, di samping minyak atsiri, terdapat komponen
yang bersifat tidak menguap yang disebut fixed oil atau disebut mentega pala. Menurut Leung
(1985) fixed oil adalah bahan-bahan yang dapat larut dalam pelarut organik, tetapi tidak dapat
didestilasi. Menurut Devi (2009), biji pala mengandung fixed oil sebesar 20–40% yang
tersusun dari asam miristat, trimiristin dan gliserida dari asam laurat, stearat dan palmitat.
Sementara itu, Masyitah (2006) telah melakukan penelitian isolasi trimiristin dari sisa
penyulingan biji pala, hasilnya menunjukkan rendemen trimiristin sebesar 21,60 % dengan
kemurnian 89,86% (Ma’mun, 2013).
Lemak dan minyak ditemui dalam kehidupan sehari-hari, yaitu sebagai mentega dan
lemak hewan. Minyak umumnya berasal dari tumbuhan, contohnya minyak jagung, minyak
kacang dan lain-lain. Pada umumnya lemak atau minyak tidak terdiri dari satu macam
trigliseida melainkan campuran dari trigliserida. Karena alasan ini, komposisi lemak dan
minyak dinyatakan dalam persentase macam-macam asam yang diperoleh dari hidrolisis
(Hart, 1990).
Lipid merupakan senyawa yang dapat disarikan dari sel dan jaringan oleh pelarut organic
tak polar. Lipid ini merupakan komponen tak larut air. Cara penggolongannya agak tidak
biasa, karena lipid tidak mempunyai sifat kimia dan sifat struktur yang khas, satu-satunya
kesamaan yang yang mempertalikan senyawa dalam golongan ini adalah cara mengisolasinya
dan asal mula biogenetiknya (Stanley, 1988)
Trimiristin merupakan suatu jenis lemak yang banyak digunakan dalam pembuatan
kosmetik kulit sebagai pemutih (whitening agent) dan harganya sangat tinggi. Selama ini
lemak trimiristin hanya dihasilkan dari minyak kelapa (coconut oil), minyak inti sawit (palm
kernel oil), dan minyak babassu (babassu oil).Namun, persentase kandungan trimiristin dari
minyak tersebut jauh lebih rendah dibanding dalam fixed oil biji pala. Lemak dari biji pala
banyak juga digunakan dalam industri oleo chemical untuk substitusi lemak nabati, seperti
lemak kakao dan lemak pangan lainnya, dan juga dalam industri pelumas (lubricant).
Trimiristin juga dapat diolah menjadi senyawa turunannya, yaitu asam miristat dan miristil
alkohol. Bahan-bahan tersebut banyak digunakan dalam pembuatan sabun, detergen, dan
bahan kosmetika lainnya, seperti shampo, lipstik, losion dan lain-lain. Selain itu, Asgarpanah
et al. (2012) telah melaporkan bahwa trimiristin, bersama dengan asam miristat, miristisin
dan elimisin memiliki aktivitas sebagai anti oksidan, anticonvulsant, analgesic, anti
imflammatori, anti diabet, anti bakteri dan anti jamur (Ma’mun, 2013).
Trimiristisin merupakan turunan senyawa ester atau biasa dikenal lemak miristisin, nama
lain dari trimiristin adalah trimiristat gliserol atau tritetradekanoat gliserol. Lemak ini larut
dalam pelarut alkohol, benzena, kloroform, dan dietil eter dan tidak larut dalam air. Nama
lain dari asam miristat adalah asam tetradekanoat, wujudnya berupa kristal berwarna putih
agak berminyak, sangat larut dalam alkohol dan eter. Asam miristat pertama kali diisolasi
oleh Playfair pada tahun 1841 dan sekaligus menemukan bahwa asam miristat merupakan
komponen utama biji pala. Ditemukan pula bahwa asam miristat terdapat dalam semua
spesies myristica tetapi dalam jumlah yang tidak begitu besar dibandingkan dengan pala.
Meskipun asam miristat larut dalam alkohol dan eter, ia tidak larut dalam air. Sifat ini akan
digunakan untuk mengkristalkan asam miristat dari hasil hidrolisa trimiristin. Kegunaan asam
miristat adalah untuk sabun, kosmetik, parfum, dan ester sintesis untuk flavor dan aditif pada
makanan (Kapelle dkk, 2014).
Kandungan miristisin sangat tergantung pada usia pala. Pada usia muda, kandungan
miristisin semakin besar dan makin berkurang pada pala yang telah tua. Miristisin adalah obat
psikoaktif, bertindak sebagai antikolinergik, dan merupakan prekursor tradisional untuk
psychedelic dan empathogenic. Penggunaan pala sebagai aromaterapi berlebihan
menyebabkan keracunan yang membutuhkan perawatan medis, ditandai dengan mual,
muntah, kolaps, takikardia, pusing, gelisah, sakit kepala, halusinasi dan perilaku irasional.
Konsentrasi miristisin darah dapat diukur untuk mengkonfirmasi diagnosis keracunan (Indrus
dkk, 2014).
Ekstraksi trimiristin dapat dicapai secara maksimal dari biji buah pala dengan ekstraksi
eter dalam alat refluks dan residunya dihablur dengan aseton. Dengan cara ini senyawaan
trimiristin yang terdapat dalam biji buah pala tidak banyak tercampur dengan ester lain yang
sejenis. Refluks Merupakan teknik laboratorium dengan cara mendidihkan cairan dalam
wadah yang disambungkan dengan kondensor sehingga cairan terus menerus kembali
kedalam wadah. Teknik ini digunakan untuk melaksanakan reaksi dalam waktu lama, semisal
sintesis organikn (Fieser, 1957).
Rekristalisasi hanyalah sebuah proses lanjutan dari kristalisasi. Rekristalisasi hanya
efektif apabila digunakan pelarut yang tepat. Ada beberapa faktor yang harus diperhatikan
dalam memilih pelarut yang cocok untuk kristalisasi dan rekristalisasi. Pelarut yang baik
adalah pelarut yang akan melarutkan jumlah zat yang agak besar pada suhu tinggi, namun
akan melarutkan dengan jumlah sedikit pada suhu rendah dan harus mudah dipisahkan dari
kristal zat yang dimurnikan. Selain itu, pelarut tidak bereaksi dengan zat yang akan
dimurnikan dengan cara apapun (Fieser, 1957).
Jumlah terendah terakhir dari temperatur dimana kristal terakhir meleleh disebut titik
leleh. Pemurnian titik leleh oleh pengotor adalah konsentrasi dari efek yang berbeda dalam
tekanan uap dari campuran padat dan larutan. Titik leleh dari substansi murni adalah
temperatur padatan dan cairan memiliki tekanan uap yang sama. Metode yang sering
digunakan adalah melting point aparatus. Sampel diletakkan pada kaca, lalu diatas penangas
otomatis, titik leleh akan diukur dengan termometer yang ada disebelahnya (Gibson, 1956).
Titik leleh dicapai saat pola molekul pecah dan padatan berubah menjadi cair. Titik leleh
suatu Kristal adalah suhu dimana padatan mula-mula menjadi cair,di bawah 1 atm. Senyawa
murni keadaan padat menjadi cair sangat tajam (0,50C) sehingga suhu ini berguna untuk
identifikasin (Wilcox,1995).
D. Alat dan bahan
1. Alat
No Nama alat Kategori Gambar Fungsi
1. Lumpang dan 1 Untuk menggerus/
alu menghaluskan zat yang
berbentuk padat

2. 1 set alat 2 Untuk memisahkan suatu


soxhlet komponen dalam suatu
padatan dengan
menggunakan suatu pelarut
cair

3. Penangas 2 Sebagai pemanasan untuk


mempercepat kelarutan

4. Erlenmeyer 1 Menampung filtrat hasil


penyaringan

5. Corong 1 Menyaring larutan dengan


buchner cepat

6. Labu alas 1 Untuk memanaskan atau


bundar mendidihkan larutan

7. 1 set alat 2 Untuk mereaksikan dengan


refluks sempurna dari 2 campuran
sehingga dapat bercampur
dengan baik

8. Pipa kapiler 1 Sebagai alat untuk


menurunkan tekanan
1 Untuk mengukur suhu
9. Termometer

1 Menempatkan larutan atau


10. Gelas kimia mengukur volume larutan
yang tidak memerlukam
tingkat ketelitian yang
tinggi

11. Batang 1 Untuk mengaduk cairan

pengaaduk

Mengambil cairan dalam


12. Pipet tetes 1 skala tetesan kecil atau
digunakan untuk
memindahkan volume
cairan yang telah terukur

13. Gelas ukur 1 untuk mengukur volume


larutan

14. Kaca arloji 1 Tempat untuk menimbang


bahan kimia

15. Spatula 1 Untuk mengambil bahan


kimia dalam bentuk padat
16. Neraca 2 Menimbang bahan padatan
analitik

17. Stopwatch 1 Untuk mengukur waktu


yang diperlukan

19. Selang 1 Sebagai alat untuk keluar


masuknya air pada saat
destilasi

20. Rotatory 2 Menguapkan pelarut


evaporator dibawah titik didih pelarut

21. Benang wol 1 Untuk mengikat pipa


kapiler pada termometer

(Fieser, Louis. F. 1957).


2.Bahan

No Nama Bahan Kategori Sifat Fisik Sifat Kimia

1. Biji pala Umum  Berbentuk bulat  Merupakan komoditas


sampai lonjong yang paling banyak di
 Berwarna hijau ekspor
kekuning-kuningan  Terdapat fuli brupa
 Daging buahnya tebal selaput seperti jala
 Rasanya asam
 Warnanya coklat dan
mengkilap pada bagian
luarnya
2. Aquades Umum  Tidak berbau  Suatu molekul air terdiri
 Tidak berwarna atas 2 atom hidrogen
 Tidak berasa yang berikatan kovalen
 Titik didih 100oC dengan oksigen

 Titik Beku 0oC  Memiliki efek netral


terhadap lakmus seperti
saat terionisasi
 Tidak akan terurai
menjadi unsur
pembentuknya(hidrogen
dan oksigen) di bawah
kondisi normal
3. Aseton Khusus  Memiliki massa molar  Merupakan reduktor
58,08 g/mol yang lebih lemah dari
 Memiliki berat pada aldehid
molekul 60 g/mol  Dapat menghasilkan
 Memiliki densitas 0,79 alkohol sekunder
g/cm3
 Memiliki titik leleh -
94,90C
 Memiliki titik didih
56,53 0C
 Tidak berwarna
 Memiliki bau yang
tajam
 Mudah larut dalam
pelarut polar
4. NaOH 6 M Khusus  Massa molar: 39.99711  Membentuk basa kuat
g/mol bila dilarutkan dalam air
 Putih slid
 Tidak berbau
 Larut dalam air
5. Etanol Khusus  Cairan tak berwarna  Termasuk dalam alkohol
 Mudah menguap primer, yang berarti
dengan aroma yang bahwa karbon yang
khas berikatan dengan gugus
hidroksil paling tidak
memiliki dua hidrogen
atom yang terikat
dengannya juga
6. HCl Khusus  Mudah larut dalam air  Merupakan komponen
 Memiliki titik didih utama dalam asam
sekitar 110 0C lambung
 Bersifat korosif  Merupakan larutan
akuatik dari gas hidrogen
klorida(HCl)
7. Kloroform Khusus  Cairan tak berwarna  Tidak bercampur dengan
 Titik leleh -63,50C air
 Titik didih 61,20C  Merupakan asam lemah
 Tidak mudah terbakar

8. Eter Khusus  Tidak berwarna  Dapat dikatakan sebagai


 Tidak larut dalam air basa lewis dan dapat
 Mudah menguap membentuk polieter

9. Kertas saring Umum  Berwarna putih  Terbuat dari bahan


selulosa nitrat

10. Minyak Umum  Berwarna  Pada umumnya


Kelapa Kuning pembuatan minyak
 Titik didh 2250C kelapa ada dua cara yaitu
cara kering dan cara
basah
 Tidak dapat bercampur
dengan pelarut polar
11. Batu didih Umum  Berwarna putih,  Terbuat dari bahan
berukuran kecil, tidak silika,
rata dan berpori  Kalsium karbonat

12. Es batu Umum  Berbentuk padatan  Rumus molekul : H2O

(Fieser, Louis. F. 1957).


E. Prosedur kerja
1. Isolasi Trimiristin

Biji Pala

Menghaluskan menggunakan lumpang dan alu


Menimbang 25 gram serbuk pala
Membungkus menggunakan kantung soxlet
Memasukkan kedalam alat soklet
Memasukkan 250 mL eter ke dalam labu alas
bundar
Memanaskan dengan menggunakan penangas
Menambahkan batu didih
Menunggu sampai benar-benar terekstrak

Residu Ekstrak

Menambahkan 50 mL aseton
Melakukan destilasi sampai tersisa
lemak pada labu alas bundar
Mengangkat lemak menggunakan
spatula

Padatan Trimiristin
Berwarna Kuning
2. Hidrolisis trimiristin menjadi asam miristat

0,5 g padatan lemak Biji Pala

Memasukkan ke dalam labu alas bundar 100


mL
Menambahkan 10 mlNaOH 6M dan 20 mL
etanol
Merefluks selama 1 jam
Memasukkan ke dalam 150 mL air dan
menambahkan kembali 20 mL air
Meneteskan asam klorida pekat tetes demi
tetes hingga terbentuk padatan putih
Menyaring dan mencuci dengan 10 mL air
Mengeringkan padatan yang terbentuk

Berat Kristal = 0,91792 gram

3. Titik leleh kristal

Kristal Hasil

Memasukkan kedalam pipa kapiler


Mengikat pipa kapiler di bawah termometer
Memasukkan ke dalam gelas kimia
Memanaskan dengan menggunakan penagas
Menentukan titik leleh

Titik leleh Kristal = 56 oC


F. Hasil Pengamatan
No. Perlakuan Hasil Pengamatan

1 - Menghaluskan biji pala menggunakan - Biji pala yang sudah halus


lumpang dan alu
- Menimbang 25 gram bubuk biji pala - Bubuk biji pala 25 gram berada pada
menggunakan kaca arloji kaca arloji
- Membungkus biji pala menggunakan - Bubuk biji pala berada di dalam kantung
kantung soxlet soxlet
- Memasukkan kantung soxlet ke dalam - Kantung soxlet berada di dalam alat
alat soxlet soxlet
- Memasukkan 250 mL pelarut ke dalam - Pelarut berada di dalam labu alas bundar
labu alas bundar
- Memanaskan dengan menggunakan - Pelarut perlahan-lahan mendidih dan
penangas menguap
- Memisahkan ekstrak dan residu - Ekstrak berwarna kuning muda
- Menambahkan 50 mL Aseton ke dalam - Aseton bercampur dengan ekstrak
ekstrak yang telah dipisahkan
- Memanaskan dengan menggunakan - Ekstrak biji pala larut dalam pelarut
penangas air Aseton dan suhu pun naik
- Memasukkan ke dalam erlenmeyer - Campuran berada dalam erlenmeyer
- Mendinginkan dan menunggu selama 1 - Suhu campuran perlahan-lahan turun
jam
- Mendinginkan dalam air es selama 30 - Perlahan-lahan terbentuk kristal yang
menit berwarna putih
- Menyaring kristal dengan menggunakan - Kristal berada pada kertas saring
kertas saring
2. - Menimbang 0,5 gram kristal biji pala - Kristal biji pala sebanyak 0,5 gram
- Memasukkan ke dalam labu alas bundar - Kristal biji pala berada dalam labu alas
100 Ml bundar
- Menambahkan 10 ml NaOH 6 M - Kristal tidak larut dalam NaOH 6 M dan
larutan berkeruh
- Menambahkan 20 mL etanol - Larutan berwarna bening kecokelatan
- Merefluks selama 1 jam - Larutan yang telah terefluks
- Memasukkan ke dalam 150 mL air - Larutan bercampur dengan air
- Menambahkan 20 mL air - Warna coklat semakin memudar
- Meneteskan asam klorida pekat tetes - Terbentuk endapan putih atau kristal
demi tetes putih
- Menimbang kertas saring kosong - Berat kertas saring kosong = 1,02552
- Menyaring padatan - Kristal berada pada kertas saring
- Mencuci kristal dengan menggunakan - Kristal semakin terlihat putih
10 mL air
- Mengeringkan kristal yang terbentuk - Terbentuk kristal putih bersih
- Menimbang Kristal - Berat Kristal= (Berat kertas
saring+Kristal) - (Berat kertas saring
kosong)
Berat Kristal = 1,94344 g – 1,02552 =
0,91792 gr

3 - Memasukkan kristal ke dalam pipa - Kristal berada di dalam pipa kapiler


kapiler
- Mengikat pipa kapiler di bagian bawah - Pipa kapiler berada di bagian bawah
termometer termometer
- Memasukkan ke dalam gelas kimia yang - Termometer berada di dalam gelas kimia
berisi minyak kelapa 50 mL yang berisi minyak kelapa
- Memanaskan dengan menggunakan - Minyak kelapa perlahan-lahan
penangas mengalami kenaikan suhu
- Menentukan titik leleh - Titik leleh awal = 51oC
Titik leleh tengah = 54oC
Titik leleh akhir = 56oC

2. Perhitungan

𝐵𝑒𝑟𝑎𝑡 𝐾𝑎𝑓𝑒𝑖𝑛 𝐾𝑎𝑠𝑎𝑟 0,91792


Rendemen = 𝑥 100% = 𝑥 100% = 3,67 %
𝐵𝑜𝑏𝑜𝑡 𝑆𝑎𝑚𝑝𝑒𝑙 25
G. Pembahasan
Pala (Myrisctica fragrans, Myristica officinalis ) merupakan rempah-rempah asli dari
Pulau Banda, Maluku, yang sejak abad ke-16 telah digunakan dalam masakan, obat-obatan,
dan industri makanan. Indonesia adalah kontributor 73% produksi pala dunia. Dalam
pemanfaatan biji pala, dikenal dua istilah minyak pala. Pertama, minyak atsiri (essential oil,
volatile oil ofnutmeg), yang terdapat dalam biji pala dengan kandungan 5-15%. Minyak atsiri
ini berupa cairan tak berwarna atau kuning pucat dengan kandungan berbagai senyawa terpen
serta eter aromatik, sehingga banyak digunakan sebagai perisa pangan dan bahan parfum.
Biji buah pala merupakan biji dari tumbuh-tumbuhan yang kaya akan trigliserida yaitu
asam lemak ester gliserol. Banyak perbedaan yang mungkin pada trigliserida terjadi, sejak
gliserol mempunyai rantai yang sangat panjang dan sejumlah ikatan rangkap dan saling
berhubungan satu sama lain. Trimiristin merupakan suatu trigliserida yaitu ester yang
terbentuk dari gliserol dan asam miristat.
Percobaan kali ini yaitu mengisolasi asam miristat yang terkandung dalam biji pala,
dengan menimbang serbuk biji pala sebanyak 25 gram, dan membungkusnya dengan kertas
saring dan diikat dengan menggunakan benang untuk disokletasi.

Gambar 1. Serbuk Biji Pala Gambar 2. Serbuk biji pala pada kertas saring
Kemudian disokletasi dengan menggunakan pelarut benzena sebanyak 250 ml. Fungsi
penggunaan benzena yaitu untuk melarutkan trimiristin, karena trimiristin mudah larut dalam
pelarut nonpolar seperti benzena, selama proses sokletasi ekstrak yang dihasilkan berupa
larutan kuning yang bening. Prinsip Metode sokletasi merupakan metode cara panas yang
dapat menghasilkan ekstrak yang lebih banyak, pelarut yang digunakan lebih sedikit
(efisiensi bahan), waktu yang digunakan lebih cepat, dan sampel diekstraksi secara sempurna
karena dilakukan berulang-ulang. Proses sokletasi dilakukan selama 1 jam, tujuan waktu
dilakukan selama 1 jam, agar trimiristin terekstrak dengan baik pada benzena walaupun
belum terlalu efektif, karena semakin lama proses sokletasi semakin banyak senyawa
trimiristin yang akan larut pada pelarut benzena.
Gambar 3. Proses Sokletasi Gambar 4. Campuran Hasil Sokletasi
Setelah proses sokletasi, ekstrak yang dihasilkan dimasukkan ke dalam erlenmeyer dan
ditambahkan asetonitril sebanyak 50 ml, fungsi penambahan asetonitril yaitu untuk
memisahkan ikatan antara benzene dengan trimiristin untuk membentuk senyawa ester yang
akan membentuk kristal trimiristat. Setelah penambahan aseton, campuran dipanaskan pada
penangas air, yang bertujuan untuk mempercepat laju reaksi antara aseton dengan trimiristin
dan untuk mengurangi volume pelarut benzena. Karena salah satu faktor untuk mempercepat
laju reaksi yaitu dengan menaikkan suhu.

Gambar 5. Proses Pemanasan


Setelah proses pemanasan erlenmeyer yang berisi campuran, dilakukan proses
pembentukan kristal dengan memasukkan erlenmeyer ke dalam penangas es, dan ditunggu
sampai terbentuk kristal pada bagian dasar erlenmeyer, setelah terbentuk kristal, kristal yang
dihasilkan disaring dengan menggunakan kertas saring, dan kertas saring dipanaskan untuk
menguapkan pelarut.

Gambar: 6. Endapan Trimiristin, 7. Proses Penyaringan, dan 8. Hasil Penyairngan


Setelah menghasilkan padatan trimiristin, padatan tersebut dimasukkan ke dalam labu
alas bundar dan ditambahkan larutan NaOH 6 M sebanyak 10 ml, fungsi penambahan NaOH
yaitu untuk membantu pembentukan sabun saat direaksikan dengan trimiristin, kemudian
ditambahkan 20 ml metanol, yang berfungsi untuk menjaga suasana pada kristal trimiristin,
dan untuk mencegah terjadinya reaksin penyabunan ketika ditambahkan dengan NaOH yang
akan bereaksi dengan trimiristin membentuk sabun.
Kemudian campuran direfluks selama 1 jam, proses refluks bertujuan untuk
meningkatkan suhu, dan menjaga agar tetap tidak terbentuk reaksi penyabunan, serta
trimiristin bisa lebih bereaksi dengan NaOH dan etanol.

Gambar 9. Proses Refluksi


Kemudian setelah proses refluks, campuran dimasukkan ke dalam 150 ml aquades,
fungsi penambahan aquades yaitu agar terjadinya reaksi hidrolisis pada trimiristin, untuk
membentuk senyawa asam miristat, karena reaksi hidrolisis dapat menghasilkan gliserol dan
suatu asam. Reaksi hidrolisisnya sebagai berikut:

Setelah terbentuk asam miristat pada penambahan 150 ml, kemudian campuran
ditambahkan 20 ml HCl pekat, yang berfungsi untuk mengendapkan senyawa asam miristat,
sehingga terlihat perlahan-lahan endapan putih terbentuk pada bagian dasar gelas kimia.
Setelah terbentuk endapan putih, campuran disaring dengan menggunakan kertas saring,
sehingga menghasilkan berat kristal yang di dapat pada kertas saring yaitu sebanyak 0,91792
gram.

Gambar: 10. Proses Penyaringan, dan 11. Hasil Kristal Penyaringan


Kristal yang dihasilkan dilakukan pengujian titik leleh untuk meyakinkan bahwa kristal
yang dihasilkan adalah benar-benar asam trimiristat, dan titik leleh yang dihasilkan adalah 56
o
C, sehingga dapat dikatakan kristal yang dihasilkan adalah kristal asam miristat yang berasal
dari biji pala.

Gambar 12. Proses Uji Titik Leleh


Adapun serangkaian reaksi yang terjadi pada isolasi asam miristat adalah sebagai
berikut:
H. Kesimpulan
Dari hasil praktikum dapat disimpulkan bahwa:
1. Asam miristat dapat diisolasi dari biji pala dengan metode sokletasi, dengan
menggunakan pelarut benzene dapat menghasilkan berat kristal yang di dapat yaitu
sebanyak 0,91792 gram dan % rendemen sebanyak 3,67%. Serta asam miristat yang
dihasilkan diuji untuk menentukan ketepatan produk yang dihasilkan dengan
melakukan pengujian titik leleh, sehingga titik leleh yang dihasilkan adalah 56oC,
sebagaiman yang terdapat dalam teori.
2. Asam miristat dihasilkan dari reaksi hidrolisis trimiristin, dimana dengan
menggunakan prinsip esterifikasi, dimana gugus ester akan terhidrolisis menghasilkan
gliserol dengan asam miristat.
I. Lampiran Pertanyaan Modul

1. Apa saja pelarut yang dapat digunakan untuk mengekstrak trimiristin.? Pelarut apa yang
Anda pilih.? Mengapa.?
Jawaban !
Trimiristin merupakan suatu senyawa ester yang merupakan lemak, sehingga senyawa
trimiristin ini merupakan senyawa non-polar, berdasarkan prinsip like dissolved like maka
untuk mengekstrak trimiristin ini kita menggunakan pelarut non polar, yakni eter, n-heksan,
benzen.
2. Terangkan cara Anda memurnikan asam miristat.
Jawaban !
Cara untuk memurnikan asam miristat yakni dengan cara rekristalisasi dengan
menggunakan pelarut etanol dan air. Rekristalisasi ini didasarkan pada perbedaan kelarutan
asam miristat pada alkohol dan air, dimana asam miristat larut dalam dalam etanol dan tidak
larut dalam air
3. Hitung berapa banyak NaOH teoritis minimal yang diperlukan untuk bereaksi dengan
trimiristin.?
Jawaban !
Dik:Berat trimistin = 0,5 gr
Mr trimiristin = 723,14 gr/mol
[NaOH] = 6M
Dit: NaOH teoritis yg diperlukan untuk bereaksi dengan trimiristin?
Peny:
Untuk menghidrolisis 1 mol trimiristin menjadi asam trimiristat, diperlukann 3 mol NaOH.
Jika kita memperoleh 0,5 g trimiristin
𝑚𝑎𝑠𝑠𝑎 𝑡𝑟𝑖𝑚𝑖𝑟𝑖𝑠𝑡𝑖𝑛 0,5 𝑔𝑟
(mol trimiristin = = 723,14 𝑔𝑟/𝑚𝑜𝑙 = 0,0007 mol)
𝑀𝑟 𝑡𝑟𝑖𝑚𝑖𝑟𝑖𝑠𝑡𝑖𝑛

Jadi NaOH yang diperlukan sebanyak 3 x jumlah mol trimiristin


= 3 x 0,0007 = 0,0021 mol.
Volume NaOH yang dibutuhkan yakni:
𝑚𝑜𝑙 𝑁𝑎𝑂𝐻 0,0021 𝑚𝑜𝑙
V NaOH = = = 0,00035 L = 0,35 mL
[𝑁𝑎𝑂𝐻] 6𝑀

Jadi dibutuhkan 0,35 mL NaOH 6M untuk menghidrolisis (bereaksi) dengan 0,5 g


trimiristin
J. Lampiran Pertanyaan Presentasi

1. Jelaskan mengapa beberapa kelompok pada proses pembentukan kristal pada penangas es
tidak mendapatkan endapan?

2. Jelaskan mengapa beberapa kelompok pada proses pembentukan endapan pada saat
penambahan HCl tidak mendapatkan endapan?

3. Jelaskan mengapa pada saat proses sokletasi warna ekstrak berwarna cokelat pekat,
sedangkan setelah ditambahkan asetonitril berubah menjadi berwarna kuning?

4. Jelaskan mengapa pada saat proses pemanasan menggunakan oven, kristal yang berada
pada kertas saring menghilang?

Jawaban:

1. Penyebab beberapa kelompok tidak mendapatkan kristal pada saat proses pembentukan
kristal dengan menggunakan penangas es karena disebabkan volume pelarut benzena yang
terlalu banyak, karena semakin banyak pelarut benzena yang terdapat dalam campuran maka
akan memperbesar kelarutan asam miristal, sehingga akan semakin sulit untuk mengedapkan
asam miristat, untuk itu sebaiknya dipanaskan terlebih dahulu untuk mengurangi volume
pelarut sampai kira-kira tersisa 20 ml pelarut, lalu dimasukkan ke dalam penangas es.

2. Penyebab beberapa kelompok tidak mendapatkan endapan pada saat penambahan HCl
disebabkan karena banyaknya NaOH yang ditambahakan sebelum penambahan HCl karena
semakin banyak larutan NaOH yang digunakan maka semakin banyak pula HCl pekat yang
digunakan, karena fungsi HCl yaitu untuk mengikat gugus Na pada sabun Natrium, untuk
membentuk garam NaCl, sehingga dapat terbentuk asam miristat yang kita gunakan, faktor
lain yang menyebabkan hal tersebut terjadi karena kurangnya kandungan pala pada sampel
yang digunakan, karena sampel yang digunakan sudah instan dan biasanya sudah terdapat
camapuran bahan lain.

3. Pada saat sokletasi warna campuran yang dihasilkan berwarna cokelat pekat, disebabkan
karena warna khas dari biji pala, dimana bubuk pala mulai merut dalam pelarut benzena
sehingga pelarut benzena berwarna cokelat sesuai dengan warna biji pala, lalu saat
ditambahkan asetonitril warna campuran menjadi berwarna kuning, disebabkan karena terjadi
proses pengenceran, dimana larutan yang pekat saat ditambahkan pelarut akan menjadikan
campuran tersebut menjadi encer dengan warna yang lebih terang.
4. Penyebab hilangnya kristal pada kertas saring saat proses pemanasan, disebabkan karena
titik leleh dari asam miristal adalag 56oC, sedangkan suhu yang digunakan pada proses
pemansan adalah suhu oven sebesar 70oC, untuk itu asam miristat akan meleleh lebih dulu
dalam oven, dan tidak ada kristal yang tersisa pada kertas saring.
Daftar Pustaka

A’mun, M. 2013. Karakteristik Minyak dan Isolasi Trimiristin Biji pala Papua (Myristica
argentea). Jurnal Littri. Vol 19. No. 2:72-77.

Fieser, Louis. F. 1957. Experiment in Organic Chemistry, 3nd edition, Revised,D. C. Heath
and Company : Boston.

Gibson, Charles, S. 1956. Essential Principles of Organic Chemistry. Chambridge of The


University Press : London.

Hart, Harold. 1990. Kimia Organik. Erlangga. Jakarta

Idrus, R. B., Bialangi, N., & Alio, L. (2013). Isolasi dan Karakterisasi Senyawa Alkaloid dari
Biji Tumbuhan Sirsak (Annona muricata Linn). Sainstek, 7(01).

Kapelle, Imanuel B. D., dkk. 2014. Isolasi Trimiristin dari Biji Pala dan Sintesis Metilester
Menggunakan Katalis Heterogen. Jurnal Ind. J. Chem. Res. 2:160 – 165

Ma’mun. 2013. Karakteristik Minyak Dan Isolasi Trimiristin Biji Pala Papua (Myristica
Argentea). Jurnal Littri .19(2) : 72 – 77.

Stanley. 1988. Kimia Organik 2. ITB. Bandung.

Wilcox, C.F. 1995. Experimental Organic Chemistry, 2nd edition. Prentice Hall : New Jersey.