Anda di halaman 1dari 19

I.

JUDUL : EKSTRAKSI MINYAK KEMIRI dengan METODE SOXHLET


II. TUJUAN :
1. Agar siswa dapat memahami cara dan penggunaan prinsip metode soxhletasi.
2. Untuk menguji minyak kemiri secara organoleptik dengan pengujian masa jenis, kemudian
membandingkan dengan SNI minyak kemiri.
3. Untuk menyelesaikan ujian kompetensi keahlian sebagai standart kelulusan.
III. TEORI DASAR
1. Minyak Kemiri
a. Kemiri
Kemiri (Aleurites moluccana), adalah tumbuhan yang bijinya dimanfaatkan sebagai sumber
minyak dan rempah-rempah. Tumbuhan ini masih sekerabat dengan singkong dan termasuk
dalam suku Euphorbiaceae. Dalam perdagangan antarnegara dikenal sebagai candleberry, Indian
walnut, serta candlenut. Pohonnya disebut sebagaivarnish tree atau kukui nut tree. Minyak yang
diekstrak dari bijinya berguna dalam industri untuk digunakan sebagai bahan campuran cat dan
dikenal sebagai tung oil. Minyak lemak ialah sejenis minyak lemak yang terbuat dari tumbuhan.
Digunakan dalam makanan dan untuk memasak. Beberapa minyak lemak yang biasa digunakan
ialah minyak kelapa sawit Afrika, jagung, zaitun, minyak lobak, kedelai, kemiri, dan bunga
matahari.
Untuk memperoleh atau mengisolasi lipida ( minyak lemak, lemak, dan malam / lilin ) ada
beberapa cara yang dapat dilakukan, yaitu : Pengepresan, penggunaan pelarut, dan penggunaan
panas. Untuk isolasi minyak lemak dapat dilakukan dengan cara penggunaan pelarut dan
penggunaan panas.
Minyak kemiri merupakan minyak lemak yang memiliki banyak manfaat, baik dalam bidang
kesehatan maupun kosmetik dan industri. Selain itu, kemiri merupakan tanaman asli Indonesia
dan banyak dijumpai di daerah – daerah di Indonesia. Dalam satu kali penanaman kemiri, masing
– masing pohon akan menghasilkan sekitar 30 – 80 kg kacang kemiri, dan sekitar 15 – 20 % dari
berat tersebut merupakan jumlah minyak kemiri yang dapat dihasilkan. Minyak kemiri dapat
dijadikan alternatif bahan bakar, dan digunakan dalam pengobatan berbagai penyakit.
Nama kemiri untuk tiap daerah di Indonesia adalah : Kereh (Aceh), Hambiri (Batak), Buah
koreh (Minangkabau), Kemiri (Melayu, Jawa), Muncang (Sunda), Kameri (Bali), Kawilu
(Sumba), Sapiri (Makasar), Sakete (Ternate), Engas (Ambon), Hagi (Buru). (Anonimb, 1997)
b. Klasifikasi Tanaman
Kingdom : Plantae
Divisio : Spermatophyta
Subdivisio : Angiospermae
Classis : Dicotyledoneae
Ordo : Euphorbiales
Familia : Euphorbiaceae
Genus : Aleurites
Spesies : Aleurites moluccana (L.) Willd.
(Anonim, 2005)
c. Kandungan Kimia
Daging biji, daun dan akar Aleurites moluccana mengandung saponin, flavonoida dan
polifenol, di samping itu daging bijinya mengandung minyak lemak. (Anonimb, 1997). Pada
korteksnya mengandung tannin (Anonima, 1997).
d. Kegunaan dan Khasiat
Daging bijinya bersifat laksatif. Di Ambon korteksnya digunakan sebagai anti tumor (Harini,
2000), di Jawa digunakan sebagai obat diare, sariawan dan desentri, di Sumatera daunnya
digunakan untuk obat sakit kepala dan gonnorhea. (Anonima, 1997). Minyak kemiri dibuktikan
berkhasiat sebagai obat penumbuh rambut (Julaiha, 2003).
e. Sifat kimia fisika
Sifat kimia dan fisika minyak kemiri menurut SNI 01-4462-1998.

No Parameter Persyaratan
.
1. FFA (%) 0,10-1,50
2. Bilangan iodine (g 12/100 g sampel) 136-167
3. Bilangan penyabunan (mg KOH/g 184-202
sampel)
4. Warna Normal
3
5. Densitas (g/cm ) 0,9240-0,9290
f. 6. Indeks bias 1,4730-14790 Komposisi
Komposisi
Kimia Minyak Kemiri

Asam lemak Jumlah (%)


Asam lemak jenuh -
Asam palmitat 55
Asam stearat 6.7
Asam lemak tak jenuh -
Asam oleat 10.5
Asam linoleat 48.5
Asam linolenat 28.5

2. Ekstraksi Soxhletasi
Ekstraksi adalah suatu proses pemisahan substansi dari campurannya atau zat pemegangnya,
dengan menggunakan suatu pelarut yang sesuai. Ekstraksi padat –cair merupakan proses yang
paling banyak ditemui di dalam usaha mengisolir substansi berkhasiat yang terkandung di dalam
bahan yang berasal dari alam. Sifat – sifat bahan alam tersebut merupakan factor yang berperan
sangat penting terhadap sempurnanya atau mudahnya ekstraksi tersebut berlangsung.
Soxhletasi merupakan ekstraksi padat – cair yang berkesinambungan. Ekstraksi ini biasanya
dilakukan dengan suatu alat yang dinamakan Soxhlet .(Gugule,2005)
Ekstraksi padat cair atau leaching adalah transfer difusi komponen terlarut dari padatan inert
ke dalam pelarutnya. Proses ini merupakan proses yang bersifat fisik karena komponen terlarut
kemudian dikembalikan lagi ke keadaan semula tanpa mengalami perubahan kimiawi. Ekstraksi
dari bahan padat dapat dilakukan jika bahan yang diinginkan dapat larut dalam solven
pengekstraksi. Ekstraksi berkelanjutan diperlukan apabila padatan hanya sedikit larut dalam
pelarut. Namun sering juga digunakan pada padatan yang larut karena efektivitasnya. (Lucas,
Howard J, David Pressman. Principles and Practice In Organic Chemistry)
Dalam pelaksanaan proses ekstraksi, faktor-faktor yang mempengaruhi laju ekstraksi adalah:
 Tipe persiapan sampel
 Waktu ekstraksi
 Kuantitas pelarut
 Suhu pelarut
 Tipe pelarut
Adapun syarat pelarut untuk ekstraksi:
1. Beda polaritas antara solvent dan solute kecil
2. Titik didih rendah (minyak akan rusak pada suhu tinggi)
3. Mudah menguap
4. Tidak berbahaya, tidak beracun, tidak mudah meledak/terbakar
5. Inert: Tidak bereaksi dengan solute
6. Murah (terutama untuk industri)
Soxhlet ditemukan oleh Franz Ritter von Soxhlet, seorang ahli kimia dari Jerman. Pada
ekstraktor Soxhlet, pelarut dipanaskan dalam labu didih sehingga menghasilkan uap. Uap
tersebut kemudian masuk ke kondensor melalui pipa kecil dan keluar dalam fasa cair. Kemudian
pelarut masuk ke dalam selongsong berisi padatan. Pelarut akan membasahi padatan dan tertahan
di dalam selongsong sampai tinggi pelarut dalam pipa sifon sama dengan tinggi pelarut di
selongsong. Kemudian pelarut seluruhnya akan menggejorok masuk kembali ke dalam labu didih
dan begitu seterusnya. Peristiwa ini disebut dengan efek sifon.

Dalam pelaksanaannya, ada beberapa hal yang harus diperhatikan, antara lain :
1. Tinggi timbel hendaknya di bawah pipa samping tetapi di atas sifon. Hal ini dimaksudkan agar
tidak menghalangi uap pelarut yang masuk ke dalam pendingin, dan mencegah keluarnya serbuk
dari timbel.
2. Bahan yang telah diserbuk halus dimasukkan ke dalam timbel sedemikian rupa sehingga tidak
memungkinkan terjadinya saluran – saluran pada penmabahan pelarut.
3. Tinggi bahan hendaknya di bawah sifon agar bahan tersebut dapat selalu terendam dengan
pelarut.
4. Untuk mencegah terjadinya percikan – percikan bahan hendaknya ditutp dengan kertas saring.
5. Jumlah pelarut yang ditambahkan adalah sedemikian rupa sehingga labu penampung terisi
cairan minimal sepertiganya.
6. Untuk membantu proses pendidihan pada labu penmapung ditambahkan beberapa butir batu
didih.
Setelah hal – hal ditas dilaksanakan, ekstraksi dapat dilaksanakan. Ekstraksi dihentikan apabila :
1. Cairan yang tersirkulasi sudah tidak berwarna lagi ( bagi suatu bahan yang disekstraksi mula –
mula memberikan cairan yang berwarna ).
2. Cairan yang tidak memberikan rasa yang sesuai denga rasa substransi yang diekstraksi.
3. Memberikan reaksi yang negatif bila dilakukan reaksi identifikasi.
Keuntungan dari metode ini antara lain :
1. Menggunakan penyari yang sedikit sebab penyari itu jugs yang akan digunakan kembali untuk
mengulang percobaan.
2. Uap panas tidak melalui simplisia, tetapi melalui pipa samping.
Kerugian dari metode ini, :
1. Tidak dapat menggunakan bahan yang mempunyai tekstur yang keras.
2. Pengerjaannya rumit dan agak lama, karena harus diuapkan di rotavapor untuk mmeperoleh
ekstrak kental.

3. Distilasi
Distilasi merupakan teknik pemisahan yang didasari atas perbedaan titik didih atau titik cair
dari masing-masing zat penyusun dari campuran homogen. Dalam proses destilasi terdapat dua
tahap proses yaitu tahap penguapan dan dilanjutkan dengan tahap pengembangan kembali uap
menjadi cair atau padatan. Atas dasar ini maka perangkat peralatan destilasi menggunakan alat
pemanas dan alat pendingin. Proses distilasi diawali dengan pemanasan, sehingga zat yang
memiliki titik didih lebih rendah akan menguap. Uap tersebut bergerak menuju kondenser yaitu
pendingin, proses pendinginan terjadi karena kita mengalirkan air kedalam dinding (bagian
luar kondensor), sehingga uap yang dihasilkan akan kembali cair. Proses ini berjalan terus
menerus dan akhirnya kita dapat memisahkan seluruh senyawa-senyawa yang ada dalam
campuran homogen tersebut.

4. n-Heksana
a. Sifat Fisika dan Kimia n-Heksana CH3(CH2)4CH3

Karakteristik Syarat
Bobot molekul 86,2 gram/ml
Warna Tak berwarna
Wujud Cair
Titik lebur -95°C
Titik didih 69°C (pada 1 atm)
Densitas 0,6603 gr/ml pada 20°C
(Sumber: Kastianti dan Amalia, 2008)
b. Bahaya
 Sangat mudah terbakar dalam bentuk cairan maupun uap.
 Menyebabkan iritasi bila terkena mata dan kulit, juga saluran pernafasan.
 Bahaya bagi lingkungan.
c. Aspek k3
 Terhirup: pindahkan ke tempat yang berudara segar, jika tidak bernafas beri pernafasan buatan,
bila kesulitan bernafas beri oksigen. Segera beri tindakan medis.
 Terkena mata: segera basuh dengan air yang banyak min 15 menit. Beri tindakan medis.
 Terkena kulit: segera basuh kulit dengan air yang banyak, segera beri tindakan medis.
 Tertelan: segera hubungi dokter. Jangan paksakan muntah kecuali tim medis yang
mengarahkannya, jangan beri apapun melalui mulut jika korban tidak sadar.

IV. ALAT& BAHAN


a. Alat
1. Labu alas datar 250 ml
2. Hot plate stirer 350 W
3. Kondensor bola
4. Penangas
5. Labu distilasi 500 ml
6. Kondensor liebigh
7. Aparatus soxhlet
8. Selang plastik
9. Neraca digital
10. Elenmeyer 250 ml
11. Corong gelas
12. Batang pengaduk
13. Penjepit
14. Spatula
15. Gelas ukur
16. Kaca arloji
17. Termometer
18. Gelas kimia
19. Satif dan klem
20. Piknometer
21. Botol semprot
22. Botol kemasan
23. Botol tempat pelarut bekas
24. Kertas saring
25. Pipet tetes
26. Cawan porselin
27. Kawat kasa
28. Lumpang dan alu
b. Bahan
1. Kemiri 40 gram
2. n-Heksana 175 ml

V. PROSEDUR KERJA
1. Menimbang biji kemiri sebanyak 40 gram.
2. Menghaluskan biji kemiri dan memasukan biji kemiri yang sudah halus kedalam
selongsong/kertas saring, pastikan tidak ada kebocoran pada kertas saring.
3. Bungkusan bahan kemiri dimasukan kedalam tabung soxhlet.
4. Labu alas datar, soxhlet, kondensor, dan pemanasnya dipasang tegak lurus dan leher soxhlet
dijepit dengan menggunakan klem dan statif.
5. Pelarut n-Heksana diambil sebanyak 175 ml dengan menggunaan gelas ukur dan dimasukan
labu alas datar.
6. Merakit alat ekstraksi dan alirkan.
7. Melakukan pengecekan alat.
8. Pemanas atau heater dinyalakan dengan suhu 70-800C sampai pelarutnya mendidih dan uapnya
mengembun sampai menghasilkan tetesan.
9. Proses ekstraksi dilakukan selama ± 2 jam.
10. Bungkusan bahan padat diambil dan dikeringkan, kemudian ditimbang berat bubuk kemiri
keringnya.
11. Melakukan pemurnian minyak kemiri dengan distilasi.
12. Pelarut yang diperoleh diukur volumenya dan disimpan di botol yang sudah disediakan.
13. Memanaskan minyak kemiri diuapkan di oven pada suhu 85 0C untuk menghilangkan pelarut
yang tersisa.
14. Mengukur volume minyak kemiri.
15. Mencatat seluruh rangkaian kegiatan.
Pengukuran masa jenis minyak kemiri
1. Menimbang picnometer kosong.
2. Menimbang picnometer yang berisi sampel minyak kemiri.
3. Menghitung masa jenis minyak kemiri.
4. Membandingkan dengan masa jenis minyak kemiri menurut SNI.
VIII. PEMBAHASAN
5.
6. Pada praktikum kali ini yang di lakukan ialah penarikan minyak kemiri dengan metode
soxhlet. Hal pertama yang di lakukan ialah menimbang biji kemiri sebanyak 40 gram kemudian
menghaluskannya menggunakan lumpang dan alu. Fungsi untuk menghaluskan biji kemiri untuk
mempercepat proses ekstraksi, karena luas permukaannya lebih besar jadi laju reaksi lebih cepat
berjalan. Kemudian kemiri halus dibungkus dengan kertas saring agar sampelnya tidak ikut
kedalam labu alas bulat ketika diekstraksi. Bungkusan kemiri dimasukkan kedalam tabung
soxhlet. Setelah itu mengukur volume pelarut kemudian dituangkan kedalam labu alas datar.
Pelarut dipanaskan sehingga menghasilkan uap. Uap tersebut kemudian masuk ke kondensor
melalui pipa kecil dan keluar dalam fasa cair. Kemudian pelarut jatuh ke dalam selongsong berisi
kemiri. Pelarut akan membasahi bahan dan tertahan di dalam selongsong sampai tinggi pelarut
dalam pipa sifon sama dengan tinggi pelarut di selongsong. Kemudian pelarut akan bercampur
dengan bungkusan kemiri dan mengekstrak (memisahkan/mengambil) senyawa yang kita
inginkan dari kemiri. Setelah itu maka pelarutnya akan memenuhi sifon, dan ketika pada sifon
penuh kemudian akan dislurkan kembali kepada labu alas datar. Ekstraksi dilakukan selama 2
jam.
7. Setelah selesai di ekstraksi minyak kemiri perlu melalui proses destilasi lagi untuk memisahkan
pelarut dan minyak kemirinya.

DAFTAR PUSTAKA

 Ali, 2012. Ekstraksi soxhletasi.online.


http://alipart.blogspot.com/2010/10/ekstraksi-sokhlet.html
 Anonym ,2012. Devinisi kemiri.online.
http://id.wikipedia.org/wiki/1997/07/30/kemiri
 Anonym,julaiha 2003. Kegunaan dan khasiat kemiri. Online.
http://id.wikipedia.org/wiki/1997/07/30/kemiri
 Anonym,2012.pengertian ekstraksi.online
http://id.wikipedia.org/wiki/Ekstraksi
 Gugule ,2005. Pengertian soxhletasi.online
http://chemical-richo17.blogspot.com/
 lukum,astin. P. 2012. Modul praktikum dasar - dasar pemisahan analitik.prinsip dasar ekstraksi.
Gorontalo: UNG
 https://alexkimia.wordpress.com/2013/12/02/laporan-praktikum-ekstraksi/

ISOLASI MINYAK KEMIRI


(EKSTRAKSI-DISTILASI)

I. TUJUAN PERCOBAAN
 Mahasiswa dapat mengetahui proses ekstraksi suatu zat dari bahan yang terdapat di alam.

II. ALAT DAN BAHAN


a) Alat yang digunakan
 Seperangkat alat ekstraksi
 Seperangkat alat destilasi
 Erlenmeyer
 Kaca arloji
 Spatula
 Gelas ukur
 Pipet ukur
 Bola karet
 Buret
 Pengaduk
 Pipet tetes
 Hot plate
 Corong kaca
 Labu takar
 Botol aquadest
 Batu didih
 Gelas kimia

b) Bahan yang digunakan


 Kemiri 23 gram
 Etanol 15,5 ml

III. DASAR TEORI


Metode ekstraksi adalah pemisahan satu atau beberapa bahan yang berasal dari suatu
padatan atau cairan dengan menggunakan bantuan pelarut. Pemisahan terjadi atas dasar kelarutan
yang berbeda dari komponen-komponen yang dipisahkan terhadap dua pelarut yang tidak saling
bercampur. Berdasarkan bentuknya ekstraksi dapat dibedakan menjadi dua macam, yaitu : (1)
Ekstraksi padat-cair, yaitu substansi yang di ekstraksi terdapat dalam campuran yang berbentuk
padat.(2) Ektraksi cair-cair, yaitu subtansi yang di ekstraksi yang terdapat dalam campuran
berbentuk cairan.
Ada pun cara ekstraksi dapat dilakukan dengan dua cara yaitu Ekstraksi tradisional atau
sederhana dapat dilakukan dengan cara perebusan. Cara perebusan merupakan yang paling
mudah dengan alat-alat yang sederhana pula. Adapun prinsip pengolahannya yaitu, bahan yang
akan di ekstra, di rebus dalam pelarut air dengan perbandingan tertentu, bahan di rebus sampai
terjadi larutan ekstrak, lalu diangkat dan di dinginkan lalu di saring, larutan ekstrak siap
digunakan. Ekstraksi cara maserasi merupakan proses perendaman sampel padat dalam suatu
pelarut pada temperatur kamar. Metode ini sering disertai dengan tindakan mekanik seperti
pengocokan. Maserasi tersebut lazim digunakan untuk sampel berupa padatan. Sampel harus
terendam dalam pelarut.
Refluks ialah perendaman sampel padat dalam suatu pelarut pada temperatur titik didih
pelarut. Soxhlet, Ekstraksi padat-cair banyak digunakan dalam dunia usaha untuk mengisolasi
substansi berkhasiat di alam, di mana ekstraksi padat-cair dalam laboratorium akan lebih muda
dengan mengunakan alat ekstraksi yang dikenal dengan ekstraktor soxhlet. Langkah-langkah
ekstraksi padat-cair, yaitu pencampuran pelarut dan badan-bahan yang diekstrask, lalu
dipisahkan dengan beberapa fase.
Proses ekstraksi padatan umumnya diterapkan untuk memindahkan atau memisahkan
produk alam dari dahan keringnya yang asli, dari tanaman, jamur, dan lain sebagainya. Ekstraksi
dapat dilakukan berulang-ulang untuk mendapatkan hasil yang memuaskan, dengan pelarut yang
cocok misalnya : air, asam organik dan anorganik, hidrokarbon jenuh, toluena, karbon disulfida,
eter, aseton, hidrokarbon yang mengandung klor dan isopropanol dan oktanol.(lienda
Handojo,1995:178). Dan bisa juga berawal mulai dari petroleum ringan (titik didih 40˚C) untuk
memisahkan komponen polar dari suatu campuran kemudian melangkah kepelarut yang lebih
polar dan seperti asam amino, karbohidrat dan lain sebagainya.
beberapa keuntungan mengunakan ekstraksi soxhlet antara lain :
 Dapat digunakan dalam skala besar.
 Keamanan kerja dengan alat ini lebih tinggi.
 Lebih effisien tenaga karena tinggal menunggu hasil dari proses sirkulasi.
 Pelarut dapat di peroleh kembali setelah proses ekstraksi selesai, sehingga dapat digunakan
kembali.
 Kemurnian tinggi karena susunan alat menyebabkan proses berjalan effektif dan beberapa
pengotor.

PELARUT
Pelarut merupakan faktor yang menentukan keberhasilan dari suatu ekstraksi, adapun
syarat-syarat yang harus dipenuhi untuk pelarut tersebut adalah, tidak mengadakan reaksi kimia
dengan zat warna yang diekstrak, memiliki daya melarutkan yang besar, setelah proses ekstraksi,
pelarut dapat dipisahkan dengan mudah. Bahan yang sudah diekstrak maka pelarut dapat dengan
mudah dipisahkan umumnya dengan cara mengunakan destilasi biasa (Robert, 1974:60).
Disamping syarat-syarat tersebut diatas, pemilihan pelarut yang harus diperhatikan adalah
harganya, mudah atau tidaknya cara pengunaan, dan mudah tidaknya terbakar (Adam dan
Johnsons, 1955). Kepolaran pelarut dapat ditunjukkan dari harga konstanta dielektrikumnya,
maka semakin besar harga dari konstanta dielektrikum maka akan bersifat makin polar.

MINYAK KEMIRI
Cara ekstraksi minyak yang biasa dilakukan adalah dengan menjemur biji kemudian
dipecah dengan tangan dan daging dikeluarkan dengan alat yang runcing. Dengan pengepresan
dingin (cold press) dihasilkan minyak berwarna kuning, sedang pengepresan panas akan
menghasilkan minyak yang berwarna kuning sampai coklat. Kemiri yang akan diekstrak harus
digerus dulu hingga halus, karena untuk mempermudah ,minyak nabati yang ada dalam buah
kemiri terekstrak oleh pelarut yang digunakan. Ini berhubungan dengan ukuran partikel yang
semakin kecil sehingga memperluas bidang sentuh supaya lebih mudah terekstrak. Pelarut yang
biasa digunakan dalam proses ekstraksi adalah eter. Eter digunakan sebagai pelarut karena
memiliki tingkat kepolaran yang relatif sama dengan minyak yang akan diekstrak yaitu sama-
sama merupakan senyawa nonpolar.
A. Komposisi Kimia Biji Dan Minyak Kemiri
- Biji Kemiri
Setiap 100 gram daging biji kemiri mengandung 636 kalori. 19 gram protein, 63 gram lemak, 8
gram karbohidrat, 80 mg gram kalsium. 200 mg fosfor, 2 mgram besi, 0,06 mgram vitamin B, 7
gram air.
- Minyak Kemiri
Bagian buah (biji) mengandung minyak sebesar 55-65 persen, dan kadar minyak dalam
tempurung sebesar 60 persen.
Komposisi Kimia Minyak Kemiri
-

Asam Lemak Jumlah (%)


Asam lemak jenuh -
Asam palmintat 55
Asam stearat 6,7
Asam lemak tak jenuh -
Asam oleat 10,5
Asam linoleat 48,5
Asam linolenat 28,5

B. Sifat Fisik dan Kimia


Tabel Karakteristik Minyak Kemiri

Karakteristik Nilai
Bilangan penyabunan 188-202
Bilangan asam 6,3-8
Bilangan iod 136-167
Bilangan thiocynogen 97-107
Bilangan hidroksil Tidak ada
Bilangan Reichert Meissl 0,1-0,8
Bilangan polenske Tidak ada

C. Kegunaan Minyak Kemiri


Daging buah kemiri digunakan sebagai bumbu dalam jumlah yang relatif kecil. Minyak
kemiri tidak dapat dicerna karena bersifat laksatif dan biasanya digunakan sebagai bahan dasar
cat atau pernis, tinta cetak dan pembuatan sabun atau sebagai pengawet kayu. Minyak kemiri
dapat digunakan sebagai minyak rambut dan sebagai bahan pembatik, dan juga untuk
penerangan. Minyak kemiri mempunyai sifat-sifat khusus, dimana minyak ini mudah mengering
bila dibiarkan di udara terbuka. Oleh karena itu minyak kemiri dapat digunakan sebagai minyak
pengering dalam industri minyak dan varnish.

LEMAK
Lemak dan minyak adalah salah satu kelompok yang termasuk pada golongan lipid, yaitu
senyawa organik yang terdapat di alam serta tidak larut dalam air, tetapi larut dalam pelarut
organik non-polar,misalnya dietil eter (C2H5OC2H5), Kloroform(CHCl3), benzena dan
hidrokarbon lainnya, lemak dan minyak dapat larut dalam pelarut yang disebutkan di atas karena
lemak dan minyak mempunyai polaritas yang sama dengan pelarut tersebut. Lemak dan minyak
merupakan senyawaan trigliserida dari gliserol. Dalam pembentukannya, trigliserida merupakan
hasil proses kondensasi satu molekul gliserol dan tiga molekul asam lemak (umumnya ketiga
asam lemak tersebut berbeda –beda), yang membentuk satu molekul trigliserida dan satu
molekul air.

Dasar-dasar analisa lemak dan minyak


Analisa lemak dan minyak yang umum dilakukan dapat dapat dibedakan menjadi tiga
kelompok berdasarkan tujuan analisa, yaitu; Penentuan kuantitatif, yaitu penentuan kadar lemak
dan minyak yang terdapat dalam bahan mkanan atau bahan pertanian. Penentuan kualitas minyak
sebagai bahan makanan, yang Penentuan kualitas minyak sebagai bahan makanan, yang
berkaitan dengan proses ekstraksinya, atau ada pemurnian lanjutan misalnya penjernihan
(refining), penghilangan bau (deodorizing), penghilangan warna (bleaching). Penentuan tingkat
kemurnian minyak ini sangat erat kaitannya dengan daya tahannya selama penyimpanan, sifat
gorengnuya, baunya maupun rasanya. Tolak ukur kualitas ini adalah angka asam lemak bebasnya
(free fatty acid atau FFA), angka peroksida, tingkat ketengikan dan kadar air. Penentuan sifat
fisika maupun kimia yang khas ataupun mencirikan sifat minyak tertentu. data ini dapat
diperoleh dari angka iodinenya, angka Reichert-Meissel, angka polenske, angka krischner, angka
penyabunan, indeks refraksi titik cair, angka kekentalan, titik percik, komposisi asam-asam
lemak, dan sebagainya.
Pengujian sifat-sifat lemak dan minyak ini meliputi:
- Penentuan angka penyabunan
- Penentuan angka ester
- Penentuan angka iodine
- Penentuan angka Reichert-Meissel
- Penentuan Kualitas Lemak

Faktor penentu kualitas lemak atau minyak,antara lain:


- Penentu angka asam
- penentu angka peroksid
- penentuan asam thiobarbiturat (TBA)
- penentuan kadar minyak

Sifat-sifat Fisis Lemak


a. Titik lebur (melting point) lemak relatif rendah,tetapi selalu lebih tinggi dari temperatur
dimana ia menjadi padat kembali (setting point). Misal lemak sapi mencair pada 49°C dan
menjadi padat kembali pada 36°C. Titik lebur lemak tergantung pada panjang pendeknya rantai
karbon dari asam lemak penyusunya dan banyak sedikitnya ikatan – ikatan rangkap. Makin
panjang rantai karbon tersebut makin tinggi titik lebur lemak, dan makin banyak ikatan rangkap
makin rendah titik leburnya. Misal titik lebur trimalpitin 66°C dan tristearin 71°C. Titik lebur
triolein yang mempunyai tiga buah ikatan rangkap mempunyai titik lebur -5°C.
b. Lemak netral tidak larut dalam air, tetapi dapat larut dalam pelarut-pelarut lemak seperti
eter,chloroform,petroleumeter,carbon tetrakhlorida. Lemak dapat larut dalam alkohol panas dan
sedikit larut dalam alkohol dingin.
c. Berat jenis lemak padat sekitar 0.63,sedangkan minyak atau lemak cair 0.915-0.940,karena
berat jenis lemak lebih rendah dari pada berat jenis air menyebabkan lemak menjadi terapung
diatas air bila keduanya dicampur.
d. Lemak murni tidak berwarna,tidak berbau,tidak ada rasanya serta mempunyai sifat netral.
Lemak berbau atau berwarna disebabkan karena adanya figment-figment dari asalnya atau
mengalami perubahan struktur disebabkan pengaruh udara dalam jangka waktu yang cukup
lama. Beberapa minyak nabati yang berwarna kuning disebabkan karena adanya figment seperti
corotene dan xanthophyl.

Sifat-Sifat Kimia Lemak


a. Lemak dapat dihidrolisasi dengan dipanaskan pada temperatur dan tekanan tinggi . Jika
didihkan pada tekanan biasa hidrolisa berjalan labat. Hidrolisa yang umum dilakukan dengan
basa kuat (NaOH/KOH),Dihasilkan gliserol dan garam yang disebut sebagai sabun. Sabun dan
gliserol larut dalam air. Untuk memisahkan sabun dengan gliserol ditabahkan garam NaCL.
b. Lemak tak jenuh dapat mengaddisi hidrogen,sehingga menjadi lemak jenuh. Proses ini disebut
hidrogenasikatalitik sebab diperlukan katalisator,yaitu serbuk nikel,kadang disebut juga proses
pemadatan atau pengerasan lemak jenuh sebab pada proses ini lemak tak jenuh(cair) menjadi
lemak jenuh(padat)
c. Bila lemak tak jenuh ditambah beberapa tetes aquabromata dan kemudian campuran ini
dikocok maka warna dari aquabromata akan luntur. Dalam hal ini brom dari aquabromata
diaddisi oleh ikatan rangkap yang ada pada lemak tak jenuh tersebut. Disamping mengaddisi
brom,lemak tak jenuh dapat mengaddisi lod. Reaksinya identik dengan reaksi diatas hanya brom
diganti dengan lod.
d. Hidrogenolisis lemak dapat diartikan sebagai pembongkaran lemak oleh pengaruh hidrogen
menjadi alkohol. Untuk lemak tak jenuh mula – mula akan menjadi gliserol dan asam lemak tak
jenuh kemudian sam lemak tak jenuh yang terbentuk mengalai hidrogenasi katalitik sehingga
terbentuk alkohol jenuh.
e. Reaksi penyebab ketengikan ( rancidity) adalah perubahan kimia yang menimbulkan
aroma/bau dan rasa tidak enak pada lemak. Ketengikan pada lemak jenuh yang asa lemak
penyusunya mempunyai rantai pendek,dapat terjadi hanya karena pengaruh hidrolisa. Sedangkan
ketengikan lemak tak jenuh yang asam lemak penyusunya mempunyai rantai panjang,dapat
terjadi melalui dua proses yaitu proses oksidasi dan hidrolisa. Penambahan oksigen atau anti
oksidan dapat mencegah terjadinya ketengikan.

I. LANGKAH KERJA
 Menimbang 20 gr biji kemiri iris-iris dan haluskan. Kemudian memasukkan dalam
soxhlet.

 Menyiapkan alat ekstraksi soxhlet dan kemiri yang telah dibungkus lalu memasukkan ke
dalam alat ekstaktor.

 Pada labu leher dua memasukkan etanol sebanyak 150 ml dan melakukan ekstraksi
selama 2 jam.

 Kemudian mendestilasi ekstrak yang diperoleh, menampung destilat yang terbentuk.

 Mengeringkan residu dalam oven, kemudian mengeringkan pula dalam desikator.

 Menentukan kandungan lemak yang terbentuk.

 Melakukan analisa beberapa sifat fisika-kimia minyak (lihat prosedur umum analisa sifat
fisika dan kimia minyak).

II. DATA PENGAMATAN

No Perlakuan Pengamatan
1 Menimbang 20 gr kemiri dan Kemiri berbentuk serbuk kasar dengan
menghaluskannya. warna putih kekuningan
2 Mengekstraksi menggunakan pelarut Warna awal pelarut etanol bening, lama-
etanol selama 2 jam. kelamaan bewarna putih kekuningan.
Ekstrak didapat 130 ml.
3 Ekstraksi destilasi selama 2 jam, Destilat bewarna bening dan residu
menimbang residu. bewarna kuning yang menandakan warna
minyak volume residu didapat sebanyak
15,5 ml.

III. PERHITUNGAN
- Densitas minyak kemiri = 0.93 gr/ml
- Berat sampel = 20 gr
- Volume minyak kemiri = 15.5 ml
- Berat minyak kemiri (gr) =vxρ
= 15.5 ml x 0,93 gr/ml
= 14.415 gr

I. ANALISA PERCOBAAN
Dari percobaan isolasi minyak kemiri yang telah dilakukan dapat dianalisa bahwa minyak
kemiri dapat diperoleh dengan cara mengekstraksi biji kemiri yang telah dihaluskan dengan
metode ekstraksi soxhlet. Lalu setelah di ekstraksi, dilanjutkan dengan proses destilasi untuk
memisahkan minyak kemiri yang terdapat di dalam pelarut.
Biji kemiri yang akan di ekstrak harus digerus dulu sampai halus, karena untuk
mempermudah minyak nabati yang ada di dalam biji kemiri terekstrak oleh pelarut yang
diguanakan. Ini berhubungan dengan ukuran partikel yang semakin kecil sehingga memperluas
bidang sentuh agar lebih mudah terekstrak. Pelarut yang digunakan yaitu etanol. Etanol
digunakan sebagai pelarut karena memiliki tingkat kepolaran yang realtif sama dengan minyak
yang akan di ekstrak yaitu sama-sama merupakan senyawa non polar. Adapun syarat pelarut
yang digunakan yaitu ; Beda polaritas antara solvent dan solute kecil, Titik didih rendah (minyak
akan rusak pada suhu tinggi), Mudah menguap, Tidak berbahaya, tidak beracun, tidak mudah
meledak/terbakar, Inert dan Tidak bereaksi dengan solute.
Selanjutnya dilakukan proses ekstrasi. Pada saat proses ekstraksi akan mengalami proses
sirkulasi selama 7 kali. Semakin banyak jumlah sirkulasi maka akan memiliki peluang yang lebih
besar untuk memperoleh minyak yang lebih banyak. Dimana ekstraksi dapat terhenti, apabila :
Cairan yang tersirkulasi sudah tidak berwarna lagi (bagi suatu bahan yang disekstraksi mula –
mula memberikan cairan yang berwarna), Cairan yang tidak memberikan rasa yang sesuai denga
rasa substransi yang diekstraksi, Memberikan reaksi yang negatif bila dilakukan reaksi
identifikasi.
Kemudian metode ekstraksi ini memiliki keuntungan dan kerugian. Dimana
keunngannya yaitu; Menggunakan penyari yang sedikit sebab penyari itu juga yang akan
digunakan kembali untuk mengulang percobaan Dan Uap panas tidak melalui simplisia, tetapi
melalui pipa samping. Sedangkan kerugiannya yaitu : Tidak dapat menggunakan bahan yang
mempunyai tekstur yang keras dan Pengerjaannya rumit dan agak lama, karena harus diuapkan
di rotavapor untuk mmeperoleh ekstrak kental. Dalam pelaksanaan proses ekstraksi, faktor-faktor
yang mempengaruhi laju ekstraksi adalah: Tipe persiapan sampel, Waktu ekstraksi, Tipe dan
kuantitas pelarut, dan Suhu pelarut.

Setelah ekstraksi, dilanjutkan dengan proses pemisahan pelarut dari minyak dengan cara
destilasi, dimana pelarutnya akan menguap terlebih dahulu karena memiliki titik didih yang lebih
rendah.

II. KESIMPULAN
Dari percobaan yang telah dilakukan dapat disimpulkan, bahwa :
 Minyak kemiri dapat dihasilkan dari proses ekstraksi dan destilasi.
 Ekstraksi adalah suatu proses pemisahan dari bahan padat maupun cair dengan bantuan pelarut.
 Contoh ekstraksi padat cair yaitu ekstraksi soxhletasi.
 Volume ekstrak = 130 ml
 Volume minyak (residu) = 15,5 ml
 Berat minyak = 14,415 gr
 % kadar minyak = 72,07 %

DAFTAR PUSTAKA

Tim Penyusun Jobsheet Satuan Proses 2.’’Penuntun Praktikum Satuan Proses 2’’.Politeknik Negeri
Sriwijaya : Palembang.
http://bambanghaghchemistry.blogspot.com/2012-04-01-archive.html