Anda di halaman 1dari 63

LAPORAN PRAKTIKUM MOTOR BAKAR

PADA MOTOR BENSIN DAN MOTOR DIESEL

NAMA :
1. Alwi Darul Qudsi
2. Achmad Januar waluyo
3. Imam Rosyadi
4. Muhammad Zainulloh

Fakultas Teknik Mesin


universitas Muhammadiyah
Surabaya 2018
LEMBAR PENGESAHAN
Di
Laboratorium motor bakar
Universitas Muhammadiyah
Surabaya

LAPORAN

Di ajukan sebagai persyaratan kelulusan praktikum “ MOTOR BAKAR “


Pada
fakultas Teknik
jurusan Teknik Mesin
Universitas Muhammadiyah Surabaya

Mengetahui atau menyutujui


Dosen Pembimbing

( Hadi Kusnanto, ST. MT )


KATA PENGANTAR

Segala puja dan syukur kehadirad Allah subhanahu Wata’ala, karena atas berkat
rahmat-Nya penulis telah dapat menyelesaikan LAPORAN tentang PRAKTIKUM
MOTOR BAKAR ,yang telah selesai kami laksanakan di laboratorium Motor Bakar
Universitas Muhammadiyah Surabaya.
Laporan ini di buat untuk memenuhi persyaratan nilai dari Praktikum MOTOR
BAKAR di Universitas Muhammadiyah Surabaya.
Keberhasilan penulis ini tentu tak lepas dari bantuan berbagai pihak.Untuk itu
penulis menyampaikan terimakasih yang sebesar-besarnya kapada:
1. Bapak Hadi Kusnanto,ST.MT. selaku Dosen Pembimbing Praktikum
2. Rekan-rekan satu kelompok pada praktikum MOTOR BAKAR, di fakultas Teknik
Mesin Universitas Muhammadiyah Surabaya yang telah banyak membantu
dalam penyusunan laporan ini.
3. Semua orang yang telah banyak membantu baik moril maupun spiritual, serta
rekan-rekan dari kelompok lain di fakultas yang turut membantu dalam
menyusun laporan ini.

Mengingat masih terbatasnya pengetahuan penulis, maka kami menyadari bahwa


Makalah ini jauh dari sempurna. Untuk itu penulis mohon maaf yang sebesar- besarnya.
Namun demikian penulis berharap Makalah ini bisa bermanfaat.
Akhirnya kritik dan saran dari pembaca sangat kami harapkan.

Surabaya, 30 November 2018


Penyusun

( Kelompok 3 )
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Motor bakar adalah suatu perangkat atau mesin yang mengubah energi thermal
atau panas menjadi energi mekanik. Energi ini dapat diperoleh dari proses
pembakaran yang terbagi menjadi 2 ( dua ) golongan, yaitu :

1. Motor bakar pembakaran luar, yaitu suatu mesin yang mempunyai


sistem pembakaran yang terjadi diluar dari mesin itu sendiri. Misalnya
energi uap dimana energi thermal dari hasil pembakaran dipindahkan ke
dalam fluida kerja mesin. Pembakaran air pada ketel uapmenghasilkan uap
kemudian uap tersebut baru dimasukkan ke dalam sitem kerja mesin untuk
mendapat energi mekanik.

2. Motor pembakaran dalam. Pada umumnya motor pembakaran dalam


dikenal dengan motor bakar. Proses pembakaran bahan bakar terjadi
dalam mesin itu sendiri sehingga gas hasil pembakaran berfungsi sekaligus
sebagai fluida kerja mesin. Motor bakar itu sendiri dibagi menjadi
beberapa macam, berdasarkan sistim yang dipakai, yaitu motor torak,
motor bakar turbin gas, dan motor bakar propulsi pancar gas. Untuk motor
bakar torak dibagi menjadi dua macam, yaitu motor bensin dan motor
diesel. Dan menurut langkah kerjanya motor bakar dibagi menjadi mesin
dengan proses 2 ( dua ) langkah dan mesin dengan proses 4 ( empat )
langkah.

1.2 Tujuan Percobaan


Tujuan percobaan motor bakar ini, dapat kami simpulkan atau kami uraikan
secara dengan cara sebagai berikut :
1. Mengetahui cara kerja motor bensin maupun motor diesel.
2. Mengetahui cara pengoperasian meliputi persiapan, saat pelaksanaan, dan
setelah selesai pelaksanaan pengoperasiannya. Contoh pengoperasian yang
benar seperti mengontrol sistem bahan bakar, sistem pelumas, dan sebagainya.
Pemanasan mesin (warming up) terlebih dulu sebelum mesin dibebani, dengan
cara pembebanan yang bertahap dan lain sebagainya.
3. Mengetahui cara kerja suatu engine yang berhubungan erat dengan cara
pengoperasian dan bidang kerja (penggunaan) dari engine itu sendiri: momen
punter (torsi), tekanan efektif rata-rata, konsumsi bahan bakar, daya yang
dihasilkan, putaran engine, dan efisiensi thermal dari engine.
4. Mengetahui nama-nama komponen dari suatu engine, sistem bahan bakar,
sistem pelumas, sistem pendingin dan lainnya sebagainya.
5. Mengetahui cara perawatan motor bensin maupun motor diesel baik yang
perawatannya secara berkala maupun perawatan setelah terjadi kerusakan.
6. Menerapkan teori yang di dapat dari bangku kuliah dengan hal-hal yang di
dapat selama percobaan dengan kenyataan di lapangan dan
membandingkannya.

1.3 Metodologi Pelaksanaan Percobaan


Dalam penyusunan laporan percobaan ini perlu dilakukan prosedur untuk
mencapai tujuan yang telah ditentukan, metodologi tersebut dapat diuraikan sebagai
berikut :
1. Persiapan percobaan yang meliputi persiapan mesin, bahan bakar, system
pelumas, system pendingin, dan alat-alat yang digunakan.
2. Pelaksanaan percobaan yang meliputi pencarian data, untuk mengetahui
data rata-rata untuk putaran yang berbeda dari motor bensin maupun
maupun motor diesel.
3. Study literature tentang prosedur dari pengolahan data-data yang diperoleh.
4. Perhitungan data-data hasil percobaan dan pembuatan grafik.
5. Menganalisa data dan grafik hasil perhitungan dari segi teori dan praktek
untuk kerja dan karakteristik mesin.
6. Penyusunan laporan.
1.4 Sistematika Laporan
Dalam penyusunan laporan Pratikum Motor Bakar ini secara sistematik di bagi
BAB – per BAB dengan susunan sebagai berikut :
1. BAB 1. Pendahuluan
2. BAB 2. Dasar Teori
3. BAB 3. Percobaan Motor Bensin Stationer
4. BAB 4. Percobaan Motor Diesel Stationer
5. BAB 5. Analisa dan Kesimpulan
BAB II
DASAR TEORI

Motor bakar sebagai pesawat penggerak yang pertama karena mampu


menghasilkan energi mekanis yang sangat diperlukan dalam berbagai keperluan.
Berdasarkan sistem pembakarannya di klasifikasikan menjadi dua, yaitu :
1. Motor pembakaran dalam (internal combustion engine).
2. Motor pembakaran luar (external combustion engine).
Dalam hal ini kami membatasi pembahasan hanya pada masalah motor
pembakaran dalam dengan gerakan mekanisme sistem torak (reciprocating). Berdasarkan
sistem penyalaannya dapat di bagi menjadi dua bagian yaitu :
1. Motor bakar penyalaan busur api (spark ignition)
2. Motor bakar penyalaan kompresi (compression ignition).

2.2 Motor Bensin


Motor bensin dapat juga disebut sebagai motor otto, motor tersebut dilengkapi
busi dan karburator. Busi menghasilkan loncatan bunga api listrik yang membakar
campuran bahan bakar dan udara karena motor ini cenderung disebut spark ignition
engine. Pembakaran bahan bakar dengan udara ini menghasilkan daya. Di dalam
siklus otto (siklus ideal) pembakaran tersebut dimisalkan sebagai pemasukan panas
dalam volume konstan. Berdasarkan siklus kerjanya, maka motor bensin tersebut juga
dapat dibedakan menjadi dua bagian yaitu :
1. Motor bensin 4 langkah
2. Motor bensin 2 langkah

2.2.1 Siklus Otto (Motor Bensin)


Asumsi – Asumsi :
1. Fluida kerja dianggap sebagai gas ideal, dengan kalor spesifik konstan.
2. Langkah isap marupakan tekanan konstan (Proses 0 – 1)
3. Langkah kompresi dan ekspansi adalah proses adiabatic reversible (proses 1 – 2
dan proses 3 – 4)
4. Proses pembakaran pada volume konstan (proses 2 – 3)
5. Proses pembuangan pada volume konstan (proses 4 – 1)
6. Siklus dianggap tertutup artinya siklus berlangsung dengan fluida kerja yang sama.

Gambar 2.1. Proses kerja siklus otto

2.2.2 Motor bensin 4 langkah


Motor bensin dengan 4 langkah adalah motor dengan bahan bakar bensin
yang ada dalam satu siklus kerja terdiri atas dua kali putaran poros engkol,
terdapat empat langkah gerakan torak. Prinsip kerja dari motor bensin empat
langkah dapat diuraikan sebagai berikut :
1. Langkah Hisap
Pada saat ini torak bergerak dari TMA ( titik mati atas ) menuju TMB (
titik mati bawah ) untuk melakukan penghisapan campuran bahan bakar dan
udara dari karburator hingga masuk ke ruang silinder, pada saat ini katup isap
terbuka dan katup buang tertutup ( GB 2-1a).

2. Langkah Kompresi

Torak bergerak dari TMB menuju TMA sehingga menekan campuran


bahan bakar tadi menyebabkan temperature dan tekanannya tinggi, kondisi
kedua katup tertutup rapat. Pada saat inilah dipercikan bunga api oleh busi
sehingga meledakkan campuran tadi (GB 2-1b).
3. Langkah Kerja

Akibat ledakkan tadi torak bergerak TMA menuju TMB untuk


melakukan langkah kerja, gerak piston atau torak di ubah oleh poros engkol
menjadi gerak putar, dan roda gila ( fly whell ) akan menjadi energy mekanik,
pada saat ini kedua katup masih tertutup rapat (GB 2-1c).
4. Langkah Buang
Torak bergerak dari TMB menuju TMA sehingga menekan gas sisa
pembakaran keluar, pada saat yang bersamaan katup buang mulai terbuka
sehingga gas keluar melalui katup ini. Setelah langkah ini selesai katup buang
tertutup dan katup isap terbuka lagi untuk melanjutkan proses dari awal
kembali.

Gambar 2.2. Motor bensin 4 langkah

2.2.3 Motor bensin 2 langkah


Motor bensin 2 langkah adalah motor dengan bahan bakar bensin dengan
satu siklus kerja terdiri atas satu putaran poros engkol dan terdapat dua langkah
torak. Prinsip kerja daripada motor 2 langkah ini juga dapat diuraikan dengan cara
sebagai berikut :
1) Langkah Kompresi dan Pengisisan

Torak bergerak dari TMB menuju TMA pertama-tama akan menutup

semua lubang sehingga akan mengkompresi campuran bahan bakar dan udara

di bagian atas silinder. Ketika torak bergerak dari TMB ke TMA saluran isap

terbuka sehingga ruang bawah silinder akan terisi oleh campuran bahan bakar

akibat kevakuman yang terjadi. Pada saat semua lubang tertutup dimulailah

langkah kompresi yang akan menaikkan temperature dan tekanan dalam ruang

bakar 2.

2) Langkah Kerja Pembuangan dan Pembiasan

Torak bergerak dari TMA menuju TMB pada saat ini terjadi beberapa

kejadian yaitu :

a) Langkah Expansi

Dengan terjadinya pembakaran, gas akan mendorong torak ke bawah

dan melalui poros engkol energy panas diubah menjadi gerak putar yang

kemudian disimpan oleh roda gila.

b) Langkah Buang dan Pembiasan

Saat torak hampir mencapai TMB, lubang bilas terbuka dan di susul

dengan terbukanya lubang pembuangan. Begitu seterusnya kembali torak

bergerak dari TMA karena adanya yang disimpan roda gila ( fly whell ).
Gambar 2.3. Motor bensin 2 langkah

2.3 Daya Pengukuran


Pada motor bakar torak daya yang berguna adalah daya poros, karena poros
itulah yang menggerakkan beban. Daya poros itu sendiri dibangkitkan oleh daya
indicator yang merupakan daya gas pembakaran yang menggerakkan torak. Sebagian
daya indicator yang dibutuhkan untuk mengatasi gesekan mekanik, misalnya gesekan
torak dan dinding silinder dan gesekan antara poros dan bantalannya. Di samping itu
daya indicator harus pula menggerakkan beberapa aksesoris seperti pompa pelumas,
pompa air pendingin, pompa bahan bakar dan generator, dengan demikian besarnya
daya poros itu adalah :
Ne = Ni – ( Ng + Na )
Dimana :
Ne = Daya poros atau daya efektif ( PS / HP )
Ni = Daya indicator
Ng = Daya gesek
Na = Daya aksesoris
Bebrapa alat laboratorium yang diperlukan untuk mengetahui daya poros
adalah dinamometer yaitu untuk mengukur momen putar dan takometer untuk
mengukur kecepatan putar poros engkol, kemudian daya poros itu dihitung dengan
persamaan :
P
Ne = (𝑤𝑎𝑡𝑡)
𝑚
P (watt) HP
Ne = 𝑥 , 𝑑𝑖𝑚𝑎𝑛𝑎 1HP = 746 watt
𝑚 746
P
Ne = (HP)
746. 𝑀
Dimana:
Ne = Daya efektif mesin (HP)
P = Beban mesin
𝑚 = Efisiensi mekanis

Daya yang dihasilkan suatu mesin secara teoritis pastilah tidak sama dengan
daya actual yang memutar suatu poros karena ada beberapa faktor yang
mempengaruhi kemampuan mesin. Misalnya akibat dari gesekan dari komponen
mesin. Oleh sebab itu energy dari mesin dapat dinyatakan dalam beberapa kategori
yaitu :
1. Indicated Horse Power (IHP)
2. Brake Horse Power (BHP)
3. Friction Horse Power (FHP)
Hubungan dari ketiga kategori di atas adalah
IHP – BHP + FHP

2.3.1 Indicated Mean Efectife Preasure (IMEP)


Adalah tekanan efektif rata-rata yang dipakai untuk menghasilkan kerja
bersih dalam satu siklus ideal selama gerakan piston. Pada gambar 2.4 ditunjukkan
diagram p-v dimana luasan 1-2-3-4 adalah kerja bersih. Tekanan indikatif rata-
rata dapat ditentukan dengan memisalkan berbagai variable sebagai berikut ;
untuk skala langkahnya kita ambil X dalam cm / mm, skala volumenya (AT X)
cm3 / mm3, dimana AT adalah luasan penampang melintang dari silinder dalam
cm2 / mm2. Sehingga apabila luas indicator itu A cm3 apabila skala tekanannya
adalah :

2
Kg/C𝑚2
Ne = , skala kerjanya (AT XY) cm kg/mm2
mm
Maka tekanan efektif rata-rata langkah torak cm3
(A)(AT)(xy) (A)(xy)
Pirata−rata = = Kg/cm2 (MBTWI hal 28)
VL L

Dimana :
VL = AT = volume langkah torak, cm3

L = panjang langkah torak, cm

Jika Pirata-rata sudah diketahui, daya indikatornya (yaitu daya gas pembakaran di
dalam silinder) dapat dihitung dengan mempergunakan persamaan sebagai
berikut:

Ni = Pirata-rata x VL x z x n a x 1 / 450000 PS (MBT WI hal 28)

2.3.2. Daya Indikasi

Kerja indicator didefinisikan sebagai hasil dari aksi gaya pada jarak tertentu.
Jika proses penggerak dari mesin berputar, maka jarak yang ditempuh adalah 2r
dan selama berputar terdapat gaya gesek (F) yang bekerja melawan putaran. Oleh
karena itu, maka kerja yang dilakukan selama putaran adalah gaya gesek (F) yang
bekerja sepanjang 2r sehingga :
Kerja selama satu putaram = jarak x gaya gesek
= 2r x f
Sedangkan momen torsi yang dihasilkan poros output mempunyai besar
yang sama, tetapi berlawanan arah dengan arah momen yang dihasilkan oleh
lengan momen (R) dengan gaya yang diukur dengan skala timbangan (F). maka
didapat persamaan momen yang bekerja pada proses sebagai berikut :
𝐈𝐌𝐄𝐏 𝐱 𝐝𝐢𝐬𝐩𝐥𝐚𝐜𝐞𝐦𝐞𝐧
=
𝐰𝐚𝐤𝐭𝐮
𝐈𝐌𝐄𝐏 𝐱 𝐋 𝐱 𝐀 𝐱 𝐧 𝐱 𝐥
=
𝐳 𝐱 𝟒𝟓𝟎𝟎𝟎𝟎

Dimana:
L = Panjang langkah stroke (cm/mm)
A = Luas penampang piston (cm2)
N = Putaran mesin (rpm)
Z = Putaran tiap siklus
1 untuk motor 2 langkah
2 untuk motor 4 langkah
I = Jumlah silinder
2.3.3 Brake Horse Power ( BHP )
BHP adalah daya yang diperoleh dari pengukuran terhadap proses atau
power output shaft, merupakan daya mesin setelah daya IHP dikurangi daya yang
hilang selama proses kerja (IHP).
Ne = BHP – IHP – FHP
Alat ukur yang digunakan untuk menentukan BHP ini ada beberapa macam, yaitu
electric dynamometer, water brake, fan brake, eddy current dynamometer, dan
sebagainya.

Dengan proni brake dapat dihitung BHP yang dihasilkan mesin, rangkaian alat
ukur dapat dilihat pada gambar 2.5 dibawah ini.
Momen di dalam = momen di luar
Rxr =RxF
RxF
Gaya gesek f =
R

Sehingga didapat kerja 2n x F x R yang merupakan kerja dalam satu putaran poros
mesin kerja dalam n putaran per menit, maka akan didapat :
Kerja = 2 .  . F . R . n
Dimana:
𝐤𝐞𝐫𝐣𝐚
𝐃𝐚𝐲𝐚 = 𝐰𝐚𝐤𝐭𝐮
Maka BHP
2.π.F.R.n
BHP = (Ft 𝑙𝑏/dt)
60

2.π.F.R.n Ft lb/dt
BHP = 550x60 Ft lb/Hp dt

2.π.F.R.n
BHP = (Hp)
550x60

Faktor n tidak diubah menjadi factor langkah tenaga dengan mengganti


tahanan Flux Dynamometer. Dengan mengukur output dynamometer dan
mengoreksinya dengan effisiensinya generator dan transmisi gaya mesin ke
generator, maka akan dapat diketahui BHP mesin tersebut.

sehingga

power output generator


BHP =
Eff generator transmisi x travo

VxLxcosθ
= (Hp)
746xcosθxbxt

Dimana :

V = tegangan yang dihasilkan oleh generator (volt).

I = kuat arus yang dihasilkan generator (Amp).

Cos  = Power factor generator (dari data generator).

Gen = effisiensi generator.

t = effisiensi travo.

b = effisiensi transmisi
2.3.4 Brake Mean Effective Pressure ( BMEP )
BMEP adalah tekanan effective rata-rata hasil pembakaran bahan bakar dan
udara di dalam ruang bakar. Selama siklus berlangsung, temperature dan
tekanannya selalu berubah-ubah. Oleh karena itu dapat dicari harga tekanan
tertentu (yang konstan) yang apabila mendorong torak sepanjang langkahnya.
Hubungan antara BMEP, IMEP, BHP, dan IHP adalah :
BMEP = BHP
IMEP = IHP

Definisi Perata-rata

Kerja persiklus
Perata−rata =
Volume langkah torak

Wpersiklus
=
VL

Kerja persiklusnya = Perata-rata x L

Sehingga daya yang dihasilkan oleh sebuah mesin dapat dihitung dengan
menggunakan persamaan sebagai berikut:

1
Ne = Perata−rata x VL x z x n x a x PS
60x100x75

Perata−rata x VL x z x n x a
= PS
450.000

Dimana:

BHP = Ne = daya motor (PS)

VL = Volume langkah (cm3)

A = putaran mesin (rpm)

z = jumlah silinder

a = putaran persiklus

1 untuk mesin 2 tak

2 untuk mesin 4 tak


2.3.5 Momen Torsi ( Mt )
Poros yang bergerak dengan kecepatan tertentu akan menghasilkan momen
torsi atau momen putar, waktu berputarnya. Sedang torsi sendiri adalah
kemampuan mesin menghasilkan kerja.
Torsi adalah momen yang terjadi pada poros mesin, secara teoritis dapat
ditentukan dengan persamaan sebagai berikut di bawah ini :
𝑁𝑒 𝐽/𝑑𝑒𝑡 𝑟𝑝𝑚
T- 𝑣 𝑣 sehingga
𝑛 𝑟𝑝𝑚 2𝜋/60𝑑𝑒𝑡
60 𝑁𝑒
T= (J atau Nmm)
2𝜋.𝑛

Dimana :
T : torsi poros ( Nm )
Ne : daya mesin ( watt )
.n : putaran mesin ( rpm )

2.3.6. Specific Fuel Consumtion ( SFC )


Specific Fuel Consumtion diartikan sebagai jumlah bahan bakar yang
diperlukan mesin untuk menghasilkan daya 1 Kw selama satu jam. Jika dalam
pengujian mesin diperoleh data mengenai penggunaan bahan bakar m kg yang
digunakan dalam t detik dan tenaga yang dihasilkan adalah sebesar Ne (HP), maka
pembakaran bahan bakar spesifik perjamnya :

𝑀 𝑔𝑟 3600 𝑑𝑒𝑡
SPC = 𝑥 𝑥
𝑁𝑒.𝑡 𝐻𝑃.𝑑𝑒𝑡 ℎ𝑟

𝑝𝑥𝑣
SPC = (gr/hpdt)
𝑁𝑒 𝑥 𝑡
Dimana :
M : massa bahan bakar ( gr ) =  . v
V : Jumlah bahan bakar yang digunakan ( cm3 )
. : Berat jenis bahan bakar ( gr / cm )
.t : waktu untuk mengkonsumsi 40 cc bahan bakar
2.3.7. Effisiensi Thermis (th )
Effisiensi thermos diartikan sebagai effisiensi pemanfaatan panas dari bahan
bakar untuk diubah menjadi tenaga mekanis
632
.η th = X 100%
𝑆𝐹𝐶 𝑥 𝐿𝐻𝑉

Dimana :
LHV : Low Heat Value (kkl/kg)

2.4 Motor Diesel


Motor diesel prinsip kerjanya berbeda dengan motor pembakaran lainnya
dalam metode penyalaannya bahan bakar. Pada motor diesel, bahan bakar
diinjeksikan ke dalam ruang bakar yang berisi udara bertekanan tinggi. Pada langkah
kompresi, maka temperature dalam ruangan bakar meningkat dan bahan bakar yang
terbentuk kabut halus saling bersinggungan dengan udara tersebut sehingga terjadi
pembakaran yang biasa disebut dengan motor penyalaan kompresi.
Motor diesel dapat dibedakan karena lain proses cara kerjanya menjadi dua bagian
yaitu :
2.4.3 Motor diesel 4 langkah
2.4.4 Motor diesel 2 langkah

2.5 Motor diesel 4 langkah


Siklus atau urutan kejadian yang berulang secara teratur dan sama pada motor
diesel adalah sebagai berikut :
a. Mengisi ruang bakar dengan udara
b. Mengkompresi udara sehingga suhu dan tekanannya meningkat
c. Menginjeksikan ruang bakar sehingga terbakar dan
terjadi pengembangan gas panas
d. Pembilasan dan pengosongan hasil pembakaran dari silinder.
2.5.1 Langkah hisap
Torak bergerak dari TMA ke TMB sehingga terjadi kevakuman dalam
silinder yang menyebabkan udara masuk dalam silinder melalui katup
masuk yang terbuka.

2.5.2 Langkah kompresi


Kedua katup tertutup dan torak bergerak dari TMB ke TMA sehingga
menaikkan tekanan dan suhu udara dalam silinder. Sebelum torak
mencapai TMA, bahan bakar mulai disemprotkan dalam silinder dan
pembakaran mulai terjadi.

2.5.3 Langkah kerja


Dengan terjadinya pembakaran maka torak akan terdorong dari TMA ke
TMB yang diikuti dengan pengembangan dari gas panas volume ruang
bakar dan energy tersebut dipindahkan melalui batang engkol yang akan
memutar poros engkol

2.5.4 Langkah buang


Torak bergerak dari TMB ke TMA mendorong gas sisa pembakaran dan
keluar dari ruang bakar melalui katup pembuangan. Sesaat sebelum
mencapai TMA, katup masuk mulai terbuka dan proses akan terjadi
kembali pada langkah awal seperti semula

Gambar 2.4. Motor diesel 4 langkah


2.6 Motor diesel 2 langkah
Pada motor diesel 2 langkah untuk satu langkah daya dapat diperoleh hanya
dengan satu putaran poros engkol. Langkah kerja motor diesel 2 langkah adalah
sebagai berikut :
a. Langkah buang, bilas dan kerja
Pada saat torak sudah mencapai 80% - 85% dari langkah kerja maka katup
buang akan terbuka dan gas hasil pembakaran akan keluar dari ruang bakar
sehingga tekanannya berangsur turun. Torak bergerak menuju TMB dan mulai
membuka lubng pemasukan udara. Karena tekanannya lebih tinggi, udara
bersih akan masuk kedalam ruang bakar untuk membilas gas hasil
pembakaran.
b. Langkah kompresi dan pengisian
Pada saat torak bergerak naik maka lubang pemasukan dan katup buang akan
tertutup sehingga langkah kompresi berlangsung dan terjadi pengisian udara
bersih pada ruang engkol.

Gambar 2.5 motor diesel 2 langkah


BAB III
PERCOBAAN MOTOR BENSIN

3.1 Tujuan Percobaan


Tujuan percobaab motor bakar diantaranya adalah :
a. Untuk mengetahui penerapan dalam kerja dari mesin dengan jalan
menganalisa grafik hasil percobaan yang di sesuaikan dengan hasil
perhitungan.
b. Untuk mengetahui, membandingkan, menganalisa, dari segi teori dan praktis
tentang pengetahuan dalam pengoperasian kerja mesin dan karakteristik
mesin.

3.2 Cara Kerja Komponen


Pada motor bakar bensin terdapat beberapa komponen yang mempunyai
fungsi, diantaranya yaitu :
a. Katup Kupu – Kupu
Katup ini bekerja dengan cara menekan dan menarik tuas yang berada di sisi
mesin yang fungsinya untuk menyediakan bahan bakar.
b. Busi
Komponen ini berfungsi untuk memercikkan bunga api akibat adanya arus listrik
dari dynamo. Hal ini terjadi karena adanya perbedaan tegangan dari anoda dan
katoda pada ujung busi.
c. Karburator
Komponen berfungsi untuk mencampur udara dan bahan bakar, dimana cara
kerja dari karburator itu sendiri adalah sebagai berikut :
- Dengan memanfaatkan perbedaan tekanan yang timbul akibat ujung pipa
atau discharge jet yang memuat bahan bakar. Hal ini terjadi adanya venture
yang berfungsi mencerat aliran udara sehingga alirannya semakin cepat
dan tekanan di daerah tersebut menurun. Dengan adanya aliran udara yang
bertekanan relative rendah maka bahan bakar yang ada di discharge jet
akan terangkat mengikuti aliran udara masuk kedalam ruang bakar.
3.3 Peralatan Percobaan

Peralatan yang dipakai pada percobaan motor bensin adalah sebagai berikut
di bawah ini :
d. Regulator yang berfungsi untuk mengatur tegangan agar tetap stabil (220 volt)
e. Stop watch berfungsi untuk mengukur waktu yang digunakan
dalam menghabiskan bahan bakar tiap 20 cc
f. Gelas ukur berfungsi untuk menampung dan mengetahui banyaknya
pemakaian bahan bakar.
g. Tachometer berfungsi untuk mengukur putaran mesin
h. Ampere meter berfungsi untuk mengukur arus yang keluar dari generator.
i. Voltmeter berfungsi untuk mengukur beda potensial yang keluar dari generator.

3.4 Prosedur Percobaan


Agar pelaksanaan percobaan berjalan dengan baik, lancar, dan benar maka
harus dilakukan beberapa hal berikut ini :
3.4.1 Persiapan Percobaan
Sebelum melakukan percobaan yang dilakukan maka harus memeriksa
kondisi daripada :
a. Pemeriksaan saluran bahan bakar dan tabung gelas bahan bakar.
b. Pemeriksaan minyak pelumas mesin.
c. Pemeriksaan air pendingin.
d. Pemeriksaan beban / bahan yang akan dimasukkan kedalam gilingan.
3.4.2 Pengujian
Setelah pemeriksaan, tahap pengujian juga dapat dilanjutkan dengan
langkah-langkah sebagai berikut :
1. Mesin dihidupkan pada putaran stasioner.
2. Mengatur putaran ideal mesin, biarkan ± 5 menit agar tercapai kondisi
kerja.
3. Putaran ditingkatkan bertahap sampai 1800 rpm tanpa beban dan
putaran di jaga agar tetap konstan.
4. Membebani mesin dengan jalan menggeser saklar lampu ke posisi ON.
5. Pembebanan mulai dari 400,300,200,100 watt sesuai kebutuhan.
6. Percobaan dilakukan dengan cara yang sama, tapi dengan putaran yang
berbeda.
Sebaiknya sebelum melakukan percobaan selanjutnya, beban dimatikan
kemudian dinaikkan putaran 1800 rpm dan dijaga agar tetap seimbang dan
konstan.

3.4.3 Akhir Percobaan


Etelah selesai melakukan percobaan, semua beban diturunkan bertahap dan
putaran mesin di atur sampai putaran ideal serta dibiarkan ± 5 menit baru
kemudian mesin di matikan.

3.5 Tabel Hasil Percobaan dan Data – Data Lain


3.5.1 Data – Data Teknik Motor Bakar
- Motor : JL 160 – TD
- Type : Air cooled, 4 stroke vertical
- Jumlah silinder : 1 silinder
- Bore x stroke : 48 mm x 36 mm
- Volume langkah : 160 cc
- Compretion Ratio : 4,2 : 1
- Out pu rate : 3000 rpm
- Max Tare : 3350 rpm
- Carburetor : horizontal draf, folad type
- Pulley diameter : 20 cm

3.5.2 Tabel Hasil Percobaan


Beban Waktu Putaran Bahan Bakar Voltase
No
(Watt) (Detik) (rpm) (cc)(v) (Volt)
1 400 600 1800 440 220
2 300 600 1800 420 220
3 200 600 1800 330 220
4 100 600 1800 340 220
3.5.3. Contoh Perhitungan

Sebagai contoh perhitungan dibawah ini, data diambil dari percobaan


pertama, dan sebagai beban dipakai bola lampu @ 100 watt.
- E = 220 volt
- I = 0,3 Ampere
- t = 600 detik
- vl = 440 cc
- n = 1800 rpm
- Cos θ = 0,9 (type generator)
- L = 10,08 cm
- D = 9,5 cm

 Daya Efektif (Ne)


Dengan Asumsi :
VL = 160 cc
Z =2
I =1
n = 1800 rpm
Dari data – data di atas :
𝐸 𝑥 𝐼 𝑥 𝐶𝑜𝑠  +𝐵
Ne = (HP)
746 𝑋 𝑔 𝑥 𝑏 𝑥 𝑡

Dimana:
g = efisiensi dynamo : 0,87
b = efisiensi trafo : 0,97
t = efisiensi belt : 0,96
B = banyak lampu : 4 x 100 watt = 400 watt
Sehingga:
220 𝑥 0,3 𝑥 0,9+400
Ne = (HP)
746 𝑥 0,87 𝑥 0,97 𝑥 0,96
= 0,76 HP
 Brake Mean Effective Pressure (BMEP)

450.000 x Ne x z
BMEP = (kg/cm2 )
VL x n x l
Dimana :
Ne = 0,76 HP
Z =2
I =1
Sehingga :
450.000 x 0,75 x 2
BMEP =
160 x 1800 x 1
= 2,38 kg/cm2

 Momen Torsi (MT)

450.000 𝑥 𝑁𝑒
𝑇= (𝑘𝑔. 𝑐𝑚)
𝑛
450.000 x 0,76
T=
1800
= 0,0190 N.m

 Specific Fuel Consumption (SFC)

𝒑𝒙𝒗
SFC = (gr/hp.dt)
𝐍𝐞 𝐱 𝐭

𝟎,𝟕𝟒 𝒙 𝟒𝟒𝟎
=
𝟎,𝟕𝟔 𝐱 𝟔𝟎𝟎

= 0,71 gr/hp.dt
 Thermal Effisiency

632
 th = x 100
SFC x LHV
632
= x 100
0,71 x 10000

= 8,85

3.6 Tabel Hasil Pengolahan Data dan Grafik


3.6.1. Tabel Hasil Pengolahan Data
a. Beban 400, 300, 200, 100 Watt

Momen
Beban Ne BMEP SFC .th
No Torsi
( Watt ) ( HP ) (kg/cm2) .gr/HP dt (%)
(N.m)
1 400 0,76 2,38 0,0190 0,71 8,85
2 300 0,59 1,86 0,0149 0,87 7,26
3 200 0,43 1,34 0,0107 0,95 6,66
4 100 0,26 0,82 0,0066 1,59 3,98

1.6.2. Grafik hasil percobaan

Ne

Beban (Watt)
Ne

Ne

Beban (Watt)
400

Beban (Watt)

1.6.3. Analisa Grafik

Setelah proses percobaan selesai kemudian dilakukan proses pengolahan


data hasil percobaan, maka akan dihasilkan nilai – nilai yang tersusun dalam
bentuk tabel dimana dari tabel tersebut kita dapat membuat suatu grafik yang
apabila dibaca dapat menunjukkan karakteristik suatu mesin / engine dengan
cepat.
1. Grafik Ne dan BMEP
Analisa dari grafik menunjukkan bahwa semakin tinggi daya efektif
suatu mesin sewaktu bekerja maka akan semakin tinggi BMEP (tekanan
efektif) yang terjadi. Hal ini berarti bahwa untuk daya efektif yang
dihasilkan semakin besar maka tekanan efektif yang mendorong piston akan
semakin tinggi sehingga dapat bekerja dan menghasilkan daya yang besar
pula.
2. Grafik Ne dan Momen Torsi
Analisa grafik menunjukkan bahwa semakin besar daya efektif (Ne)
yang dihasilkan oleh suatu mesin atau engine maka akan semakin besar pula
nilai Torsi yang terjadi pada poros mesin. Hal ini berarti untuk
pembebanan suatu mesin atau engine yang semakin besar maka akan
semakin besar pula torsi dari poros mesin yang dibutuhkan.
3. Grafik Ne dan SFC
Analisa grafik menunjukkan untuk daya mesin yang dihasilkan semakin
besar maka akan semakin besar atau boros dalam hal pemakaian bahan
bakar. Hal ini terjadi karena pada daya mesin yang tinggi maka mesin
melakukan kerja yang tinggi juga, sehingga menaikkan kebutuhan bahan
bakar yang dikonsumsi oleh suatu mesin atau Engine.
4. Grafik Ne dan th
Analisa grafik menunjukkan bahwa dengan Ne yang semakin besar
maka Efisiensi thermis yang terjadi pada engine akan semakin tinggi pula.
Hal ini berarti bahwa mesin akan berefisiensi tinggi jika digunakan pada
pembebanan yang tinggi pula, dengan catatan tidak melebihi dari daya yang
dihasilkan oleh mesin, jika hal ini terjadi dengan daya mesin yang tidak
mencukupi maka akan sangat mungkin terjadi mekanisme tersebut tidak
bisa jalan sesuai dengan yang diharapkan.
Dari keseluruhan analisa grafik yang ada dapat disimpulkan bahwa
dengan putaran mesin yang semakin tinggi maka daya yang dihasilkan akan
semakin besar pula, dimana dengan daya yang semakin besar maka akan
dapat dekani pembebanan yang semakin besar pula dengan kondisi mesin
yang bertekanan tinggi pada piston dan silindernya dan pemakaian bahan
bakar yang semakin besar pula. Dan hal ini tentunya akan semakin
menaikkan efisiensi dari kerja mesin. maka mesin akan mengalami
gangguan bekerja yang dapat menjurus pada kerusakan mesin. Dan jika kita
menggerakkan suatu mekanisme
BAB IV
PERCOBAAN MOTOR DIESEL

4.1 Tujuan Percobaan


a. Untuk memahami dengan lebih jelas tentang prinsip kerja motor diesel, dan
kegunaan dari masing – masing bagian mesin diesel tersebut.
b. Untuk memahami cara pengoperasian, pemeliharaan, dan perbaikan mesin
diesel.
c. Untuk mengetahui unjuk kerja dari mesin dengan cara membandingkan dan
menganalisa hasil perhitungan dengan data-data hasil percobaan.

4.2 Cara Kerja Komponen Utama


1. Pompa tekanan tinggi (injection pump)
Pompa ini berfungsi untuk menaikkan tekanan bahan bakar dari transfer
pump (pompa pemindah) dan juga berfungsi untuk menakar jumlah bahan
bakar yang masuk ke dalam ruang bakar, jumlah bahan bakar yang masuk
ruang bakar di atur oleh plunger yang digerakkan batang penggerak (fuel
rack).
2. Pengatur (Injection nozzle)
Komponen ini berfungsi untuk mengabutkan bahan bakar dari injection pump
kedalam ruang bakar pembukaan dan penutupan injection nozzle diatur oleh
tekanan suatu pegas.
3. Governor
Komponen ini berfungsi untuk mengatur dan membatasi putaran mesin yang
prinsip kerjanya berdasarkan gaya sentrifugal yang dihubungkan dengan
pengatur bahan bakar (fuel rack). Jika putaran mesin menurun bandul akan
menyempit fuel rack akan bergerak menambah bahan bakar sehingga putaran
mesin akan kembali stabil (konstan) begitupun sebaliknya bila putaran mesin
terlalu tinggi.
4.3 Peralatan Percobaan
Peralatan yang digunakan dalam mendukung atau melancarkan percobaan ini antara
lain :
1. Regulator
2. Gelas ukur bahan bakar
3. Tachometer
4. Amperemeter
5. Stop Watch

4.4 Prosedur Percobaan


Dalam percobaan mesin diesel ini dapat dibagi beberapa tahap yaitu :
4.4.1 Persiapan Percobaan
Sebelum melaksanakan percobaan terlebih dahulu yang dilakukan adalah
memeriksa kondisi daripada :
- Bahan bakar
- Minyak pelumas
- Air pendingin
- Kabel dan system kelistrikkan.
4.4.2 Pengujian
Setelah pemeriksaan, tahap pengujian juga dapat dilanjutkan dengan
langkah-langkah sebagai berikut :
1. Mesin dihidupkan pada putaran stasioner.
2. Mengatur putaran ideal mesin, biarkan ± 5 menit agar tercapai kondisi
kerja.
3. Putaran ditingkatkan bertahap sampai 1800 rpm tanpa beban dan
putaran di jaga agar tetap konstan.
4. Membebani mesin dengan jalan menggeser saklar lampu ke posisi ON.
5. Pembebanan mulai dari 400, 300, 200, 100, …..Watt sesuai kebutuhan.
6. Percobaan dilakukan dengan cara yang sama, tapi dengan putaran yang
berbeda.
Sebaiknya sebelum melakukan percobaan selanjutnya, beban dimatikan
kemudian dinaikkan putaran 1800 rpm dan dijaga agar tetap seimbang dan
konstan.

4.4.3 Akhir Percobaan


Setelah akhir percobaan semua beban diturunkan secara bertahap dan
putaran mesin juga diturunkan secara bertahap sampai putaran ideal dan
dibiarkan ± 5 menit baru kemudian mesin dimatikan.

4.5 Tabel Hasil Percobaan dan Data – Data Lain


4.5.1 Data – Data Teknik Motor Bakar
- Motor : Yanmar TS 155 c
- Type : Air Cooled, Stroke Horisontal
- Jumlah Silinder 1
- Bore x Stroke : 95 x 100,8 mm
- Daya : - 16 Dk (Hp) pada 2000 Rpm
- 19 Dk (Hp) pada 2200 Rpm

4.5.2 Tabel Hasil Percobaan


Bahan
Beban Waktu Putaran Voltase
No Bakar
(Watt) (Detik) (rpm) (Volt)
(cc)(v)
1 400 600 1800 110 180
2 300 600 1800 130 180
3 200 600 1800 90 180
4 100 600 1800 100 180

4.5.3 Contoh Perhitungan


Sebagai contoh perhitungan dibawah ini, data diambil dari percobaan
pertama, dan sebagai beban dipakai bola lampu @ 100 watt.
- E = 180 volt
- I = 0,3 Ampere
- t = 60 detik
- v1 = 110 cc
- n = 1800 rpm
- Cos θ = 0,9 (type generator)
- L = 10,08 cm
- D = 9,5 cm

 Daya Efektif (Ne)


Dengan Asumsi :
VL = 1007 cm3
Z =2
I =1
n = 1800 rpm
maka :
dari data-data diatas adalah:
E x I x Cos  +B
Ne = (HP)
746 x g x b x t
Dimana :
g = efisiensi dynamo : 0,87
b = efisiensi trafo : 0,97
t = efisiensi belt : 0,96
B = banyak lampu : 4 x 100 watt = 400 watt
Sehingga:

180 x 0,3 x 0,9 + 400


Ne = (HP)
746 x 0,87 x 0,97 x 0,96

= 0,74 HP
 Brake Mean Effective Pressure (BMEP)

450.000 𝑥 𝑁𝑒 𝑥 𝑧
BMEP = (kg/ cm2)
𝑉𝐿 𝑥 𝑛 𝑥 𝐼

Dimana :
Ne = 0,74 HP
Z =2
I =1
Sehingga :
450.000 𝑥 0,74 𝑥 2
BMEP =
1007 𝑥 1800 𝑥 1
= 0,37 kg/cm2

 Momen Torsi (MT)

𝟒𝟓𝟎.𝟎𝟎𝟎 𝐱 𝐍𝐞
T= (kg.cm)
𝐧
𝟒𝟓𝟎.𝟎𝟎𝟎 𝐱 𝟎,𝟕𝟒
T=
𝟏𝟖𝟎𝟎
= 0,0186 N.m

 Specific Fuel Consumption (SFC)

𝑥𝑣
𝑆𝐹𝐶 = (𝑔𝑟/ℎ𝑝 𝑑𝑡)
𝑁𝑒 𝑥 𝑡
0,832 𝑥 110
=
0,74 𝑥 600
= 0,21 gr/hp dt
 Thermal Effisiency

632
 𝑡ℎ = 𝑥 100%
𝑆𝐹𝐶 𝑥 𝐾𝐻𝑉
632
= 𝑥 100%
0,21 𝑥 10000

= 30,75%
4.6 Tabel Hasil Pengolahan Data dan Grafik
4.6.1 Tabel Hasil Pengolahan Data
5Beban Momen
Ne BMEP SFC .th
6 N Torsi
( Watto) ( HP ) (kg/cm2) .gr/HP dt (%)
(N.m)
1 400 0,74 0,37 0,0186 0,21 30,75
2 300 0,58 0,29 0,0144 0,31 20,22
3 200 0,41 0,20 0,0103 0,30 20,83
4 100 0,25 0,12 0,0061 0,56 11,21

4.6.1 Grafik Hasil Percobaan

Ne
Axis Title

Beban (Watt)
Ne

Beban (Watt)

Ne

Beban (Watt)
Beban (Watt)

4.6.2 Analisa Grafik


Setelah proses percobaan selesai kemudian dilakukan proses pengolahan
data hasil percobaan, maka akan dihasilkan nilai – nilai yang tersusun dalam
bentuk tabel dimana dari tabel tersebut kita dapat membuat suatu grafik yang
apabila dibaca dapat menunjukkan karakteristik suatu mesin / engine dengan
cepat.
1. Grafik Ne dan BMEP
Analisa dari grafik menunjukkan bahwa semakin tinggi daya efektif
suatu mesin sewaktu bekerja maka akan semakin tinggi BMEP (tekanan
efektif) yang terjadi. Hal ini berarti bahwa untuk daya efektif yang
dihasilkan semakin besar maka tekanan efektif yang mendorong piston akan
semakin tinggi sehingga dapat bekerja dan menghasilkan daya yang besar
pula.

2. Grafik Ne dan Momen Torsi

Analisa grafik menunjukkan bahwa semakin besar daya efektif (Ne)


yang dihasilkan oleh suatu mesin atau engine maka akan semakin besar pula
nilai Torsi yang terjadi pada poros mesin. Hal ini berarti untuk
pembebanan suatu mesin atau engine yang semakin besar maka akan
semakin besar pula torsi dari poros mesin yang dibutuhkan.
3. Grafik Ne dan SFC
Analisa grafik menunjukkan untuk daya mesin yang dihasilkan semakin
besar maka akan semakin besar atau boros dalam hal pemakaian bahan
bakar. Hal ini terjadi karena pada daya mesin yang tinggi maka mesin
melakukan kerja yang tinggi juga, sehingga menaikkan kebutuhan bahan
bakar yang dikonsumsi oleh suatu mesin atau Engine.
4. Grafik Ne dan th
Analisa grafik menunjukkan bahwa dengan Ne yang semakin besar
maka Efisiensi thermis yang terjadi pada engine akan semakin tinggi pula.
Hal ini berarti bahwa mesin akan berefisiensi tinggi jika digunakan pada
pembebanan yang tinggi pula, dengan catatan tidak melebihi dari daya yang
dihasilkan oleh mesin, jika hal ini terjadi dengan daya mesin yang tidak
mencukupi maka akan sangat mungkin terjadi mekanisme tersebut tidak
bisa jalan sesuai dengan yang diharapkan.
Dari keseluruhan analisa grafik yang ada dapat disimpulkan bahwa
dengan putaran mesin yang semakin tinggi maka daya yang dihasilkan akan
semakin besar pula, dimana dengan daya yang semakin besar maka akan
dapat dekani pembebanan yang semakin besar pula dengan kondisi mesin
yang bertekanan tinggi pada piston dan silindernya dan pemakaian bahan
bakar yang semakin besar pula. Dan hal ini tentunya akan semakin
menaikkan efisiensi dari kerja mesin. maka mesin akan mengalami
gangguan bekerja yang dapat menjurus pada kerusakan mesin. Dan jika kita
menggerakkan suatu mekanisme.
BAB V
KESIMPULAN DAN PENUTUP

Kesimpulan yang bisa kami dapat dan sampaikan setelah melakukan semua
proses percobaan adalah sebagai berikut :
1. Daya Efektif ( Ne ) mesin yang dihasilkan oleh suatu engine akan sangat
mempengaruhi besar nila-nilai karakteristik dari engine tersebut seperti BMEP,
Moment Torsi, SFC dan Efisiensi Thermis yang ada pada engine tersebut.
2. Daya Efektif merupakan hasil kerja bersih dari engine dalam melakukan proses
pembakaran yang terjadi.
3. Daya Efektif sangat bergantung pada kondisi peralatan dan kelengkapan engine
sebab daya efektif dipengaruhi oleh berbagai macam hal seperti : kondisi Bearing
yang ada, minyak pelumas yang dipakai dan umumnya bahan bakar yang
digunakan.
4. Daya efektif engine merupakan parameter utama yang digunakan untuk
menentukan akan digunakan sebagai penggerak suatu mekanisme dimana hal ini
tergantung dari besar daya yang dihasilkan oleh suatu engine.
Sebagai penutup laporan kami ingin menyamnpaikan beberapa hal yang
berhubungan dengan hal – hal dalam memperlakukan suatu engine. Dan hal – hal tersebut
sebagai berikut :
1. Dalam menjalankan suatu mesin kita harus memperhatikan berbagai peralatan
dan kelengkapan mesin sebelum dijalankan.
2. Sebelum mesin diberi suatu pembebanan dalam jumlah tertentu kita harus
memperhatikan besar daya yang bisa dihasilkan oleh mesin tersebut. Dan
hendaknya mesin telah mengalami suatu pemanasan terlebih dahulu agar mesin
tidak mengalami beban kejut. Lama pemanasan tergantung dengan situasi dan
kondisi lingkungan yang ada.
3. Dalam memberikan suatu pembebanan terhadap engine hendaknya diberikan
secara bertahap sampai dengan batak maximal daya mesin yang ada, dan
sedapat mungkin jangan sampai melebihi kapasitas daya mesin yang dihasilkan.
4. Pemakaian mesin secara optimal dapat mempertinggi nilai ekonomis dari mesin
itu sendiri. Dimana mesin itu dipakai sesuai dengan keperluan dan
peruntukkannya
5. Mesin atau engine memerlukan suatu perawatan secara berkala dan kontinyu
agar umur mesin bisa lebih panjang dan dapat berdaya guna sesuai dengan yang
diharapkan.
-