Anda di halaman 1dari 29

ABSTRAK

Turbin adalah sebuah mesin berputar yang mengambil energi dari aliran fluida. Turbin pelton
merupakan suatu alat yang merubah energi kinetik air menjadi mekanik. Pada turbin pelton energi
potensial air berubah menjadi energi kinetik melalui nosel disemprotkan ke bucket untuk dirubah
menjadi energi mekanik yang digunakan untuk memutar poros pada generator. Dengan menggunakan
alat percobaan seperti turbin pelton, pompa, motor, pressure gauge, spear, indikator gaya rem, rem
prony, tachometer, flow meter. Maka dapat dilakukan praktikum yang tujuannya adalah untuk
mengetahui performansi atau efiseiensi turbin pelton. Pada praktikum ini terdapat lima variasi
putaran Rpm yaitu pada putaran 1000 rpm, 1100 rpm, 1200 rpm, 1300 rpm, 1400 rpm dan 1500 rpm.
Untuk bukaan gate valve yang digunakan ada empat variasi, yaitu bukaan penuh, bukaan tiga, bukaan
lima dan bukaan tujuh. Dalam satu kali perubahan bukaan, spear diputar sebanyak 1 x 360 derajat.
Pada praktikum ini terdapat 3 variabel, yaitu variabel kontrol (diameter pipa dan panjang lengan
pompa), variabel manipulasi (gate valve dan Rpm) dan variabel respon ( Q, P dan F rem). Variabel
manipulasi yang diberikan adalah RPM turbin, pada praktikum ini terdapat enam variasi putaran Rpm
yaitu pada putaran 1000 rpm, 1100 rpm, 1200 rpm, 1300 rpm, 1400 rpm dan 1500 rpm. Variabel
responnya terdiri dari kapasitas (Q), tekanan (P), aliran dan (F) gaya pembebanan. Misal, pada saat
bukaan 3x pada variasi putaran 1000 rpm, maka didapatkan data yaitu Q = 3,5 l/s, P = 1.4 kg/cm2, F =
1.05 kgf, dan head statis = 29 cm. Kesimpulan yang di dapat dari praktikum ini adalah semakin tinggi
rpmnya maka semakin besar gaya dan kapasitas yang bekerja. Besar efisiensi pada turbin tergantung
dari nilai perbandingan antara besar BHP (Brake Horse Power) dengan WHP(Water Horse Power).
Tekanan yang bekerja dipengaruhi oleh bukaan pada gate valve. Aplikasi yang dapat digunakan dalam
kehidupan sehari- hari yang menggunakan turbin pelton adalah dam air dan PLTA yang menggunakan
tenaga dari air yang mempunyai ketinggian.
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Mesin Fluida adalah salah satu mata kuliah yang mempelajari tentang mesin-mesin fluida dan
permsesinan kapal serta aliran fluida di dalam instalasi dan mesin fluida. Mata kuliah mesin fluida
ini dilaksanakan melalui pembelajaran di kelas dan juga kegiatan percobaan di laboratorium
Marine Machinery System. Materi pokok yang dipelajari dalam mata kuliah Mesin Fluida ini adalah
Pompa, Kompresor, Permesinan Hidrolis, Permesinan Pneumatis, dan Purifire, Separator, Sewage
Treatment.
Pada materi mengenai Permesinan Hidrolis, mahasiswa diperkenalkan dengan jenis-jenis
turbin, pengaplikasian turbin serta penerapannya pada kehidupan sehari-hari, khususnya dalam
penerapannya pada dunia perkapalan. Salah satu contoh dari penerapan permesinan hidrolis adalah
turbin pelton. Turbin Pelton merupakan turbin impuls yang memiliki prisip kerja yakni mengubah
energi potensial air menjadi energi kinetik dalam bentuk pancaran air.
Pengenalan dan penggalian ilmu terhadap turbin pelton lebih lanjutnya didapatkan dari
praktikum di labratorium Marine Machinery Sistem. Praktikum ini penting dilakukan untuk
mengetahui bagian-bagian dari turbin pelton, turbin pelton, dan permasalahan-permasalahan yang
sering terjadi di dalam turbin pelton.
Jadi, mata kuliah Mesin fluida mempelajari tentang mesin-mesin fluida. Salah satu materi yang
diberikan adalah mengenai Permesinan Hidrolis. Untuk mempelajari lebih jauhnya, dilakukan
praktikum menggunakan salah satu alat penerapan dari Permesinan Hidrolis, yakni Turbin Pelton.
Praktikum ini dilaksanakan di laboratorium marine machinery System.

1.2 Rumusan Masalah


1.2.1 Bagaimana cara menghitung performansi atau efisiensi turbin pelton?

1.3 Tujuan
Tujuan diadakannya praktikum turbin pelton adalah
1.3.1 Mengetahui performansi atau efisiensi dari turbin pelton
BAB II
DASAR TEORI
2.1 Pengertian turbin
Turbin adalah suatu alat atau mesin berputar yang mengambil energi dari aliran fluida. Cara
kerjanya secara rotari (gerak rotasi / berputar), di mana energi fluida kerjanya yang langsung
dipergunakan untuk memutar roda turbin melalui nosel di teruskan ke sudu-sudunya. Bagian turbin
yang berputar dinamakan rotor atau roda turbin, sedangkan bagian yang tidak berputar dinamakan
stator atau rumah turbin. Roda turbin terletak di dalam rumah turbin dan roda turbin memutar
poros daya yang menggerakan atau memutar bebnya (generator listrik, pompa, kompresor, baling-
baling dan mesin lainya). Didalam turbin fluida kerja mengalami proses ekspansi, yaitu proses
penurunan tekanan, dan mengalir secara kontinyu. Fluida kerjanya bisa berupa air, gas atau uap
air.
(Sumber : Turbin, Pompa dan Kompresor, Fritz Dietzel)

Gambar 2.1. Turbin


Sumber : http://brighthubengineering.com

2.2 Jenis-Jenis turbin


2.2.1 Berdasarkan fluida yang bekerja
2.2.1.1.Turbin Air
Turbin ini memanfaatkan fluida cair yang berupa air sebagai fluida kerja
untuk menggerakkan sudu- sudu turbin. Energi potensial dimiliki oleh air yang
dalam keadaan diam. Turbin mengubah energi potensial yang dimiliki air dengan
memanfaatkan aliran air yang melalui turbin tersebut untuk diubah menjadi energi
mekanis (energi gerak) dan akan diubah menjadi energi listrik.
(Sumber : http://artikel-teknologi.com)

2.2.1.1.1 Turbin Pelton


Turbin Pelton memiliki prisip kerja yakni mengubah energi
potensial air menjadi energi kinetik dalam bentuk pancaran air.
Pancaran air yang keluar dari mulut nozzle diterima oleh sudu-sudu
pada roda jalan sehingga roda jalan berputar. Dari putaran inilah
menghasilkan energi mekanik yang memutar poros generator sehingga
menghasilkan energi listrik.
(sumber : http:/brighthubengineering.com)
Gambar 2.2.1.1.1. Turbin pelton
Sumber : http://brighthubengineering.com

2.2.1.1.2 Turbin Francis


Turbin francis merupakan salah satu turbin air yang menggunakan
prinsip kerja reaksi. Turbin dipasang diantara sumber air tekanan tinggi
di bagian masuk dan air bertekanan rendah di bagian keluar. Prinsip
kerja Turbin Francis adalah dengan menggunakan sudu pengarah. Sudu
pengarah mengarahkan air masuk secara tangensial. Sudu pengarah
pada turbin francis merupakan suatu sudu pengarah yang tetap ataupun
sudu pengarah yang dapat diatur sudutnya. Turbin francis sering
diaplikasikan pada dam air.
(http:/brighthubengineering.com)

Gambar 2.2.1.1.2 Turbin francis


Sumber : http://brighthubengineering.com

2.2.1.1.3 Turbin kaplan (propeller)


Turbin Kaplan merupakan turbin air yang menggunakan prinsip
reaksi aliran aksial. Turbin ini tersusun dari propeller seperti pada
perahu. Propeller tersebut biasanya mempunyai tiga hingga enam sudu.
Tidak berbeda dengan turbin francis, turbin kaplan prinsip kerjanya
menggunakan prinsip reaksi. Turbin ini mempunyai roda jalan yang
mirip dengan baling-baling pesawat terbang. Baling-baling berfungsi
untuk mendapatkan gaya putar yang dapat menghasilkan torsi pada
poros turbin. Sudu-sudu pada roda jalan kaplan dapat diputar posisinya
untuk menyesuaikan kondisi beban turbin. Turbin Kaplan banyak dipakai
pada instalasi pembangkit listrik tenaga air sungai, karena turbin ini
mempunyai kelebihan dapat menyesuaikan head yang berubah-ubah
sepanjang tahun.
(sumber : http:/brighthubengineering.com)

Gambar 2.2.1.1.3 Turbin kaplan


Sumber : http://brighthubengineering.com

2.2.1.2 Turbin Uap


Turbin uap adalah suatu penggerak mula yang mengubah energi potensial
uap air menjadi energi kinetik ini selanjutnya diubah menjadi energi mekanik
dalam bentuk putaran poros turbin. Poros turbin langsung atau dengan bantuan
roda gigi reduksi, dihubungkan dengan mekanisme yang digerakkan. Tergantung
pada jenis mekanisme yan digerakkan, turbin uap dapat dipergunakan pada
berbagai bidang industri, untuk pembangkit tenaga listrik, dan untuk transportasi.
(Sumber : http://artikel-teknologi.com)

Gambar 2.2.1.2 turbin uap


Sumber : artikel-teknologi.com
2.2.1.3 Turbin Angin
Turbin angin adalah suatu kincir angin yang digunakan untuk membangkitkan
tenaga listrik. Turbin angin ini lebih banyak digunakan untuk mengakomodasi
kebutuhan listrik masyarakat, dengan menggunakan prinsip konversi energi dan
menggunakan sumber daya alam yang dapat diperbaharui yaitu angin. Walaupun
sampai saat ini pembangunan turbin angin masih belum dapat menyaingi
pembangkit listrik konvensional (contoh : PLTD,PLTU,dll).
Prinsip dasar kerja dari turbin angin ini adalah mengubah energi mekanis dari
angin menjadi energi putar pada kincir, lalu putaran kincir digunakan untuk
memutar generator, yang akhirnya menghasilkan listrik.
(Sumber : http://artikel-teknologi.com)

Gambar 3. turbin angin


Sumber : alpensteel.com

2.2.1.4 Turbin Gas


Turbin gas adalah sebuah mesin berputar yang mengambil energi dari
arus. Energi ditambahkan di arus gas di pembakar,dimana udara dicampur
dengan bahan bakar dan dinyalakan. Pembakaran meningkatkan
suhu,kecepatan dan volume dari aliran gas. Kemudian diarahkan melalui sebuah
penyebar (nozzle) melalui baling-baling turbin, memutar turbin dan mentenagai
kompresor. Umumnya turbin ini mempunyai putaran yang tinggi.
(Sumber : http://artikel-teknologi.com)

Gambar 4. Turbin gas


Sumber : http://artikel-teknologi.com
2.2.2 Berdasarkan prinsip kerjanya
2.2.2.1 Turbin Implus
Turbin implus termasuk dari golongan turbin air yang cara kerjanya yaitu dari
aliran air tersebut memberikan dorongan (impuls) untuk menggerakkan sudu-sudu
pada turbin sehingga dapat menimbulkan tenaga mekanis. Turbin ini merupakan
turbin dimana proses ekspansi (proses penurunan tekanan) hanya terjadi didalam
sudu-sudu tetapnya saja. Jadi, dalam hal ini diharapkan tidak terjadi penurunan
tekanan didalam sudu geraknya. Namun dalam kenyataannya masih terdapat
penurunan tekanan (kecil) didalam sudu gerak tak dapat dihindarkan karena
adanya gesekan, aliran turbulen, dan kerugian energi lainnya. Contoh turbin impuls
yang menggunakan fluida kerja air adalah turbin pelton, turbin turgo, crossflow
turbin.
(Sumber : Turbin, Pompa dan Kompresor, Fritz Dietzel)

Gambar 2.2.2.1
Sumber : https://artikel-teknologi.com

2.2.2.2 Turbin Reaksi


Reaksi turbin yang menghasilkan torsi (puntir) dengan menggunakan tekanan
atau massa fluida. Pada turbin jenis ini diperlukan semacam sudu pada chasing
untuk mengontrol fluida kerja. Prinsip kerja dari turbin reaksi adalah dengan
memanfaatkan tekanan dari fluida yang berubah pada saat melewati sudu rotor.
Contoh turbin reaksi yang menggunakan fluida kerja udara adalah turbin angin/
kincir angin, sedangkan yang menggunakan fluida kerja air adalah francis dan
propeller.
(Sumber : Turbin, Pompa dan Kompresor, Fritz Dietzel)

Gambar 2.2.2.2
Sumber : https://artikel-teknologi.com
2.3 Karakteristik turbin pelton
Turbin Pelton merupakan turbin impuls yang memiliki prisip kerja yakni mengubah energi
potensial air menjadi energi kinetik dalam bentuk pancaran air. Pancaran air yang keluar dari
mulut nozzle diterima oleh sudu-sudu pada roda jalan sehingga roda jalan berputar. Dari putaran
inilah menghasilkan energi mekanik yang memutar poros generator sehingga menghasilkan energi
listrik.

Grafik 2.3.1 Perbandingan WHP, BHP dan efisiensi dengan RPM


Sumber: www.codecogs.com

Grafik 2.3.2 Karakteristik turbin pelton pada bukaan katup yang berbeda
Sumber: www.codecogs.com
Turbin Pelton adalah turbin yang cocok digunakan untuk head tinggi. Turbin pelton memiliki
karakteristik sebagai berikut:

2.3.1 Karakteristik Grafik Turbin pelton untuk Head Tetap


2.3.1.1 Grafik Rasio Kecepatan vs Efisiensi maksimal ( φ vs η )
Pada grafik ini dijelaskan bahwa pada nilai effisiensi maksimal terdapat
pada Ф = 0.46, setelahnya mengalami penurunan nilai efisiensi.
Gambar 2.3.1.1 grafik rasio kecepatan vs fisiensi maksimal
(Sumber : jurnal e-dinamis, volume 7)
2.3.1.2 Grafik Daya Turbin vs Efisiensi ( P vs η )
Pada grafik ini dijelaskan bahwa semakin tinggi efisiensi maka semakin
tinggi daya yang dihasilkan.

Gambar 2.3.1.2 grafik rasio kecepatan vs fisiensi maksimal


(Sumber : jurnal e-dinamis, volume 7)

2.3.2 Karakteristik Grafik Turbin untuk Variasi Bukaan Katup


2.3.2.1 Grafik Kecepatan Turbin vs Daya Turbin ( rpm vs P )
Pada grafik ini dijelaskan bahwa daya turbin akan semakin naik jika
rpm juga naik. Daya variasi bukaan katup penuh menjadi daya tertinggi dan
rpm tertinggi

Gambar 2.3.2.1 grafik rasio kecepatan vs fisiensi maksimal


(Sumber : jurnal e-dinamis, volume 7)

2.3.2.2 Grafik kecepatan turbin vs effisiensi ( rpm Vs η )


pada grafik ini dijelaskan bahwa nilai efisiensi turbin akan semakin
naik jika rpm juga naik. Dan variasi bukaan katub penuh menjadi daya
tertinggi dan rpm tertinggi.
Gambar 2.3.2.1 grafik rasio kecepatan vs fisiensi maksimal
(Sumber : jurnal e-dinamis, volume 7)

2.4 Rumus yang digunakan


Persamaan – persamaan dalam menenentukan efisiensi turbin, yang digunakan adalah :
2.4.2 Effisiensi (η)
Efisiensi merupakan suatu ukuran dalam membandingkan rencana penggunaan keluaran
(output) dengan penggunaan masukan pada turbin. Nilai maksimum dari efisiensi adalah 1
atau 100%. Pada praktikum turbin pelton, output yang digunakan adalah daya pengereman
pada turbin (BHP) sedangkan input yang digunakan adalah daya air itu sendiri (WHP).

BHP
𝜂 = X 100%
WHP
Dimana :
BHP adalah daya yang dihasilkan oleh mesin dalam hal ini turbin (watt)
WHP adalah daya yang berasal dari fluida yaitu dipengaruhi oleh besarnya kapasitas / debit
dan head dan juga berat jenis fluida.
(Sumber : modul praktikum mesin fluida, 2016, tim laboraturium mesin fluida dan sistem)

2.4.3 BHP Turbin


Yaitu daya yang dihasilkan oleh mesin dalam hal ini turbin (watt)

𝐵𝐻𝑃 = 2𝜋 𝑥 𝑀𝑡 𝑥 𝑁

Dimana :
N = Putaran Turbin (Rps)
Mt = Momen Puntir (N.m)
Sumber : (modul praktikum mesin fluida, 2016, tim laboraturium mesin fluida dan sistem)
2.4.3 WHP (Daya Air)
Yaitu daya yang berasal dari fluida yaitu dipengaruhi oleh besarnya kapasitas / debit dan
head dan juga berat jenis fluida atau dapat didefinisikan sebagai daya efektif yang diterima
oleh air dari pompa per satuan waktu

𝑊𝐻𝑃 = 𝛾. 𝑄. 𝐻𝑡
Dimana :
WPH = Daya air (𝑁. 𝑚⁄𝑠)
𝐾𝑔⁄
𝛾 = spesific gravity (10000 𝑚3 )
3
Q = Kapasitas turbin (𝑚 ⁄𝑠)
Ht = Head total (𝑚)
Sumber : (modul praktikum mesin fluida, 2016, tim laboraturium mesin fluida dan sistem)

2.4.4 Momen torsi (Mt)


𝐹𝑥𝑙
𝑀𝑡 =
𝜂𝑟𝑒𝑚

efisiensi tidak memiliki satuan sehingga tidak berpengaruh pada persamaan berikut.
Dimana :

Mt = momen turbin (N.m)


F = gaya pada rem prony (N)
𝜂𝑟𝑒𝑚 = effisiensi rem dengan harga 0,95
L = panjang lengan momen (m)
Sumber : (modul praktikum mesin fluida, 2016, tim laboraturium mesin fluida dan sistem)

2.4.5 Kecepatan aliran (v)


Yaitu jarak yang ditempuh fluida tiap satuan waktu dalam suatu penampang, dalam hal ini
adalah pipa.

𝑄 𝑚3 ⁄𝑠 𝑚
𝑉= → = ⁄𝑠 (𝑡𝑒𝑟𝑏𝑢𝑘𝑡𝑖)
𝐴 𝑚2

Dimana :
V = kecepatan aliran (m/s)
Q = kapasitas / debit air (m3/s)
A = luas penampang pipa (m2)
Sumber : (modul praktikum mesin fluida, 2016, tim laboraturium mesin fluida dan sistem)

2.5 Head
Head adalah energi yang terkandung dalam fluida yang terdiri dari head tekanan, head kecepatan
dan head ketinggian, yang dapat dirumuskan:
1. Head Turbin (Ht)

(𝑃𝑠𝑢𝑐 − 𝑃𝑑𝑖𝑠 ) (𝑉1 2 − 𝑉2 2 )


𝐻𝑡 = [ + + (𝑧1 − 𝑧2 )]
𝜌𝑔 2𝑔

Dimana :
𝐻𝑡 = Head Turbin (m)
𝑃 = Tekanan (N/m2)
𝑉 = Kecepatan aliran (m/s)
𝜌 = Massa jenis (kg/m3)
𝑔 = Percepatan gravitasi (m/s2)
𝑧 = Tinggi aliran (m)
Sumber : (modul praktikum mesin fluida, 2016, tim laboraturium mesin fluida dan sistem)

2. Head Statik/Static Head (Hs) :


𝐻𝑠 = 𝑍1 − 𝑍2

Dimana :
Hs = head statis (m)
Z1 = tinggi aliran pada titik 1 (m)
Z2 = tinggi aliran pada titik 2 (m)
(sumber : Pompa dan Kompresor, Sularso)

3. Head Tekanan/Pressure Head (Hp)


𝑃𝑑𝑖𝑠 −𝑃𝑠𝑢𝑐
𝐻𝑝 = 𝜌𝑔

Dimana :
HP = head tekanan (m)
P1 - P2 = beda tekanan antara dua titik yang diukur (N/m2)
g = percepatan gravitasi (m/s2)
 = massa jenis zat cair (kg/ m3)
Sumber : (modul praktikum mesin fluida, 2016, tim laboraturium mesin fluida dan sistem)

4. Head Kecepatan/Velocity Head (Hv)

𝑣2 2 −𝑣1 2
𝐻𝑉 = 2𝑔

Dimana :
HV = head kecepatan (m)
V1 = kecepatan aliran pada titik 1 (m/s)
V2 = kecepatan aliran pada titik 2 fluida (m/s)
g = percepatan gravitasi (m/s2)
(sumber : Pompa dan Kompresor, Sularso)
5. Head Losses (Hf)
 Head loss major

𝐿𝑣 2
𝐻𝑓 = ƒ
2𝑔𝐷
Dimana :
f = koefisien gesekan
𝑣 = kecepatan aliran fluida (m/s)
D = diameter pipa (m)
L = panjang pipa (m)
𝑔 = percepatan gravitasi (m/s2)
(sumber : Mekanika Fluida dan Hidrolika, Ir. A soedrajat )

 Head loss minor

𝑣2
𝐻𝑚 = 𝛴𝑘 )
2𝑔

Dimana:
𝛴𝑘 = koefisien kerugian karena perlengkapan pipa
v = kecepatan aliran fluida (m/s)
g = percepatan gravitasi (m/s2)
( sumber : Mekanika Fluida dan Hidrolika, Ir. A soedrajat )
2.6 Aplikasi turbin pelton
 Marine
Salah satu penerapan turbin pelton adalah pembangkit listrik tenaga air laut.
Energi kinetik yang timbul dari gerakan air laut melalui sudu-sudu turbin dimanfaatkan
sebagai salah satu sumber tenaga.

Gambar. Aplikasi turbin pelton


Sumber : academia.edu
 Non Marine
Pemanfaatan turbin pelton biasa digunakan di bendungan atau di dam dan
air terjun. Energi kinetik yang timbul dari gerakan air melalui sudu-sudu turbin
dimanfaatkan sebagai salah satu sumber tenaga. Semakin besar energi kinetik dari air
yang melalui sudu-sudu turbin, maka semakin besar pula tenaga yang dihasilkan
sebagai sebuah pembangkit.Turbin pelton juga biasa dimanfaatkan di Industri –
Industri untuk head antara 100 - 150 sampai 1000m lebih.
(Sumber : Turbin, Pompa dan Kompresor, Fritz Dietzel)
BAB III
Tahapan Praktikum
3.1 Peralatan Praktikum
Peralatan yang digunakan dalam percobaan ini adalah sebagai berikut :

NO ALAT GAMBAR PENJELASAN


1 Turbin Pelton Digunakan untuk mengubah energi
kinetik dari air menjadi energi
Mekanik.

2 Pompa Digunakan untuk menyuplai air ke


turbin.

3 Motor Digunakan untuk menggerakkan


pompa.

4 Pressure Gauge Digunakan untuk mengetahui


tekanan air yang masuk ke dalam
turbin.

5 Spear Digunakan untuk mengatur aliran


(luas penampang pipa) fluida.
6 Indikator Gaya Untuk mengetahui besar gaya rem
Rem yang dialami oleh turbin.

7 Rem Prony Untuk mengerem/mengurangi


putaran turbin.

8 Flow Meter Untuk mengetahui debit air yang


masuk di bak air

9 Tacho Meter Untuk mengetahui kecepatan


putaran turbin.

3.2 Rangkaian Praktikum

Gambar 3.2.1 Rangkaian Praktikum


Gambar 3.2.2 Rangkaian Turbin Pelton

3.3 Prosedur Praktikum


Prosedur yang dilakukan dalam percobaan ini adalah sebagai berikut :
a. Memeriksa kelengkapan dan fungsi masing masing peralatan, meliputi:
- Pastikan gate valve terbuka penuh
- Pastikan spear dalam kondisi bukaan penuh
- Pastikan rem prony dalam keadaan tidak bekerja (longgar
b. Hubungkan kabel motor pompa menuju socket, nyalakan motor pompa dan kedudukan spear
selalu bukaan penuh.
c. Mengatur kapasitas fluida yang menuju turbin dengan bukaan spear pada posisi bukaan
penuh (cek tekanan aliran fluida pada nanometer).
d. Mengatur rem prony untuk mendapatkan variasi putaran turbin 1000 Rpm – 1500 Rpm.
e. Catat hasil pengamatan meliputi gaya rem (pada indikator gaya rem), putaran turbin
(melalui tachometer) dan kapasitas (melalui flowmeter) pada masing-masing percobaan sesuai
variasi putaran turbin.
f. Ulangi percobaan c – e dengan mengubah bukaan gate valve untuk mendapatkan tekanan
fluida di manometer sesuai arahan dari teknisi atau grader.
g. Mematikan motor pompa.
h. Mencabut kabel motor pompa dari socket.
3.4 Data Hasil Praktikum
3.4.1 Bukaan gate valve 1 (Posisi tekan manometer 1)
No RPM Q (l/s) P (mH₂O) F (kgf) Z (cm)
1 1000 3,5 1,4 1,05 29
2 1100 3,75 1,4 1 29
3 1200 3,5 1,4 0,95 29
4 1300 3,5 1,4 0,95 29
5 1400 3,5 1,4 0,9 29
6 1500 3,5 1,4 1 29
3.4.2 Bukaan gate valve 2 (Posisi tekan manometer 2)
No RPM Q (l/s) P (mH₂O) F (kgf) Z (cm)
1 1000 3,5 1,3 1,1 28,5
2 1100 3,5 1,3 1 28,5
3 1200 3,5 1,3 0,9 28,5
4 1300 3,5 1,3 0,7 28,5
5 1400 3,5 1,3 0,6 28,5
6 1500 3,5 1,3 0,5 28,5

3.4.3 Bukaan gate valve 3 (Posisi tekan manometer 3)


No RPM Q (l/s) P (mH₂O) F (kgf) Z (cm)
1 1000 3 1,2 0,4 27,5
2 1100 3 1,2 0,35 27,5
3 1200 3 1,2 0,3 27,5
4 1300 3 1,2 0,35 27,5
5 1400 3 1,2 0,35 27,5
6 1500 3 1,2 0,35 27,5

3.4.3 Bukaan gate valve 4 (Posisi tekan manometer 4)


No RPM Q (l/s) P (mH₂O) F (kgf) Z (cm)
1 1000 2,75 1 0,25 27
2 1100 2,75 1 0,25 27
3 1200 2,75 1 0,25 27
4 1300 2,75 1 0,15 27
5 1400 2,75 1 0,1 27
6 1500 2,75 1 0,1 27
BAB IV
Analisis Data

4.1 Perhitungan
4.1.1 Perhitungan BHP
1. Mencari nilai momen torsi (Mt) digunakan rumus berikut:
 Diketahui :
F : 9.807 N
L : 0.29 m
ηrem : 0.95
 perhitungan
F×L
Mt =
ηrem
9,81 x 0.29
Mt =
0.95

Mt = 3,1434 Nm

2. Mencari nilai Daya Turbin (BHP) digunakan rumus berikut:


 Diketahui
Mt : 3,1434 Nm
N : 16.6667 rps
 perhitungan
BHP = 2π x Mt x N
BHP = 2x3.14 x 3,1434x 16.67
BHP = 329,009Watt

Hasil dari perhitungan


1. Bukaan gate valve 0
N ( rps ) Mt (Nm) BHP (Watt)
F(N)
10,30 16,67 3,14 329,01

9,81 18,33 2,99 344,68

9,32 20,00 2,84 357,21

9,32 21,67 2,84 386,98

8,83 23,33 2,69 394,81

9,81 25,00 2,99 470,01


2. Bukaan gate valve 3
N ( rps ) Mt (Nm) BHP (Watt)
F(N)
10,79 16,67 3,24 338,73

9,81 18,33 2,94 338,73

8,83 20,00 2,65 332,57

6,86 21,67 2,06 280,23

5,88 23,33 1,77 258,67

4,90 25,00 1,47 230,95

3. Bukaan gate valve 5


N ( rps ) Mt (Nm) BHP (Watt)
F(N)
3,92 16,67 1,14 118,85

3,43 18,33 0,99 114,40

2,94 20,00 0,85 106,97

3,43 21,67 0,99 135,20

3,43 23,33 0,99 145,60

3,43 25,00 0,99 156,00

4. Bukaan gate valve 7


N ( rps ) Mt (Nm) BHP (Watt)
F(N)
2,45 16,67 0,70 72,93

2,45 18,33 0,70 80,23

2,45 20,00 0,70 87,52

1,47 21,67 0,42 56,89

0,98 23,33 0,28 40,84

0,98 25,00 0,28 43,76


4.1.2 Perhitungan WHP
1. Kecepatan (v)
Kecepatan aliran dapat dihitung dengan menggunakan rumus:
 Diketahui :
Q : 0.035 m2/s
A : 0.00216 m2
 Perhitungan
Q Q
v= =
A 1 πd2
4
0.0035
v=
1
x3.14x0.042
4
v = 1,62 m/s

2. Head total (Ht)


Head total sistem dapat dihitung dengan menggunakan rumus:
 Diketahui :
P (Mh20) : 9806,38 N/m2
V : 1,62 m/s2
Z : 29 cm
 Perhitungan

(P1 − P2 ) (V1 2 − V2 2 )
Ht = [ + + (Z1 − Z2 )]
ρg 2g

1,4𝑥9806,38 2.792
Ht = [ + + 29]
1000x9.8 2x9.8

Ht =30.53 m

3. WHP
WHP sistem dapat dihiyung dengan menggunakan rumus:
 Diketahui :
Q : 0.0035 N/m2
Ht : 1.82 m
 Perhitungan
WHP = γ x Q x Ht
WHP = 9800 x 0.0035 x 13.57
WHP = 1047,34606 Watt
Hasil perhitungan

1. Bukaan gate valve 0


Q (m2/s) v (m/s) Ht (m) WHP (Watt)
Z
0,29 0,00350 1,62 30,53 1047,34606

0,29 0,00375 1,74 30,55 1122,88490

0,29 0,00350 1,62 30,53 1047,34606

0,29 0,00350 1,62 30,53 1047,34606

0,29 0,00350 1,62 30,53 1047,34606

0,29 0,00350 1,62 30,53 1047,34606

2. Bukaan gate valve 3


Q (m2/s) v (m/s) Ht (m) WHP (Watt)
Z
0,00350 1,62 29,93 1026,76383
0,285
0,285 0,00350 1,62 29,93 1026,76383

0,285 0,00350 1,62 29,93 1026,76383

0,285 0,00350 1,62 29,93 1026,76383

0,285 0,00350 1,62 29,93 1026,76383

0,285 0,00350 1,62 29,93 1026,76383

3. Bukaan gate valve 5


Q (m2/s) v (m/s) Ht (m) WHP (Watt)
Z
0,00300 1,39 28,80 846,69649
0,275
0,275 0,00300 1,39 28,80 846,69649

0,275 0,00300 1,39 28,80 846,69649

0,275 0,00300 1,39 28,80 846,69649

0,275 0,00300 1,39 28,80 846,69649

0,275 0,00300 1,39 28,80 846,69649


4. Bukaan gate valve 7
Q (m2/s) v (m/s) Ht (m) WHP (Watt)
Z
0,00275 1,27 28,08 756,84629
0,27
0,27 0,00275 1,27 28,08 756,84629

0,27 0,00275 1,27 28,08 756,84629

0,27 0,00275 1,27 28,08 756,84629

0,27 0,00275 1,27 28,08 756,84629

0,27 0,00275 1,27 28,08 756,84629

4.1.3 Perhitungan η
 Diketahui
BHP : 183.71 watt
WHP : 465.46 watt
 Perhitungan
BHP
η= x 100%
WHP

329,01
η= x 100%
1047,35
η = 31,41%

Hasil perhitungan
1. Bukaan gate valve 0
BHP (Watt) WHP (Watt) ηt (%)

329,01 1047,35 31,41%

344,68 1122,88 30,70%

357,21 1047,35 34,11%

386,98 1047,35 36,95%

394,81 1047,35 37,70%

470,01 1047,35 44,88%


2. Bukaan gate valve 3
BHP (Watt) WHP (Watt) ηt (%)

1026,76 32,99%
338,73
338,73 1026,76 32,99%

332,57 1026,76 32,39%

280,23 1026,76 27,29%

258,67 1026,76 25,19%

230,95 1026,76 22,49%

3. Bukaan gate valve 5


BHP (Watt) WHP (Watt) ηt (%)
846,70 14,04%
118,85
114,40 846,70 13,51%

106,97 846,70 12,63%

135,20 846,70 15,97%

145,60 846,70 17,20%

156,00 846,70 18,42%

4. Bukaan gate valve 7


BHP (Watt) WHP (Watt) ηt (%)

72,93 756,85 9,64%

80,23 756,85 10,60%

87,52 756,85 11,56%

56,89 756,85 7,52%

40,84 756,85 5,40%

43,76 756,85 5,78%


4.2 Analisis grafik
4.2.1 grafik fungsi kapasitas terhadap η

50.00%
45.00%
40.00%
35.00%
30.00%
25.00%
20.00%
15.00%
10.00%
5.00%
0.00%
0 0.0005 0.001 0.0015 0.002 0.0025 0.003 0.0035 0.004

BUKAAN 0 BUKAAN 3 BUKAAN 6 BUKAAN 9

Pada grafik di atas, menunjukkan bahwa besarnya nilai Q selalu sama di η yang
𝐵𝐻𝑃
berbeda. Hal ini berbeda sekali dengan rumus 𝜂 = 𝑥100% yang mana WHP = γxQxHt.
𝑊𝐻𝑃

Berdasarkan rumus, nilai Q seharusnya berbanding terbalik dengan effisiensi. Hal ini bisa
terjadi karena beberapa faktor antara lain human error, kurang keakuratan alat percobaan,
atau sudah terlalu tua mesin percobaan dan kurangnya maintenance.

4.2.2 grafik fungsi kapasitas terhadap n

Q terhadap N
30.00

25.00

20.00
N RPS

15.00

10.00

5.00

0.00
0 0.0005 0.001 0.0015 0.002 0.0025 0.003 0.0035 0.004
Q

BUKAAN 0 BUKAAN 3 BUKAAN 6 BUKAAN 9

Pada grafik di atas nilai Q selalu sama pada n yang berbeda. Hal ini tidak sesuai dengan
rumus, karena seharusnya Q berbanding lurus dengan n. Hal ini dapat terjadi karena
beberapa faktor, antara lain kesalahan praktikan dalam mengukur, ketidak akuratan alat
hitung dan mesin dan peralatan yang sudah tua.
4.2.3 grafik fungsi kapasitas terhadap H

Q terhadap H
31
30.5
30
Head loss

29.5
29
28.5
28
27.5
0 0.0005 0.001 0.0015 0.002 0.0025 0.003 0.0035 0.004
Q

BUKAAN 0 BUKAAN 3 BUKAAN 6 BUKAAN 9

Pada grafik tersebut nilai head loss selalu sama pada Q yang sama. Hal ini berbeda
sekali dengan rumus Q, dimana Q dan H berbanding terbalik. Hal ini dapat terjadi oleh
beberapa faktor, yaitu human error ataupun alat praktikum yang sudah cukup berumur.

4.2.4 grafik fungsi kapasitas terhadap BHP

Q terhadap BHP
500.00

400.00

300.00
BHP

200.00

100.00

0.00
0 0.0005 0.001 0.0015 0.002 0.0025 0.003 0.0035 0.004
Q

BUKAAN 0 BUKAAN 3 BUKAAN 6 BUKAAN 9

Pada grafik di atas semakin tinggi nilai Q selalu sama sedangkan daya motornya selalu
naik. Kecuali pada Bukaan penuh. Hal ini tidak sesuai karena Q seharusnya berbanding lurus
dengan BHP. Hal ini dapat disebabkan oleh kesalahan praktikan dalam mengukur atau umur
alat yang sudah tua.
4.2.5 grafik fungsi η terhadap n

Effisiensi terhadap Putaran


30.00
25.00
20.00
15.00
10.00
5.00
0.00
0.00% 10.00% 20.00% 30.00% 40.00% 50.00%

BUKAAN 0 BUKAAN 3 BUKAAN 6


BUKAAN 9 Linear (BUKAAN 0) Linear (BUKAAN 6)
Linear (BUKAAN 9)

𝐵𝐻𝑃
Pada grafik diatas menunjukan grafik yang acak. Berdasarkan rumus 𝜂 = 𝑥100%,
𝑊𝐻𝑃

dimana BHP = 2π x Mt x N, sehingga nilai effisiensi berbanding lurus dengan N. Hal ini dapat
terjadi karena kesalahan praktikan (human error) atau karena umur alat yang sudah tua.

4.2.6 grafik fungsi η terhadap BHP

Effisiensi terhadap BHP


500.00
450.00
400.00
350.00
300.00
250.00
200.00
150.00
100.00
50.00
0.00
0.00% 10.00% 20.00% 30.00% 40.00% 50.00%

BUKAAN 0 BUKAAN 3 BUKAAN 6 BUKAAN 9

Pada grafik diatas menunjukan hubungan yang berbanding lurus antara effisiensi dan
𝐵𝐻𝑃
BHP. Sesuai dengan rumus 𝜂 = 𝑥100%, dimana sangat jelas apabila BHP semakin besar,
𝑊𝐻𝑃

maka effisiensinya semakin besar.


4.2.7 grafik fungsi η terhadap WHP

Effisiensi terhadap WHP


1200.00

1000.00

800.00

600.00

400.00

200.00

0.00
0.00% 10.00% 20.00% 30.00% 40.00% 50.00%

BUKAAN 0 BUKAAN 3 BUKAAN 6 BUKAAN 9

Grafik diatas menunjukkan pada WHP yang sama effisiensi nya terlalu naik. Hal ini
𝐵𝐻𝑃
tidak sesuai dengan rumus 𝜂 = 𝑥100%, apabila effisiensi semakin besar, maka WHP nya
𝑊𝐻𝑃

akan semakin kecil. Hal ini dapat terjadi karena kesalahan praktikan (human error) atau
karena umur alat yang sudah tua.

4.2.8 grafik fungsi n terhadap F

Effisiensi terhadap Gaya


12.00

10.00

8.00

6.00

4.00

2.00

0.00
0.00% 10.00% 20.00% 30.00% 40.00% 50.00%

BUKAAN 0 BUKAAN 3 BUKAAN 6 BUKAAN 9

Pada grafik diatas menunjukan grafik yang acak. Hal ini tidak sesuai dengan rumus
BHP = 2π x Mt x N dimana perbandingan antara n dan F adalah perbandingan terbalik. Hal ini
dapat terjadi karena kesalahan praktikan (human error) atau karena umur alat yang sudah
tua.
4.2.9 grafik fungsi n terhadap WHP

N terhadap WHP
1200.00

1000.00

800.00

600.00

400.00

200.00

0.00
0.00 5.00 10.00 15.00 20.00 25.00 30.00

BUKAAN 0 BUKAAN 3 BUKAAN 6 BUKAAN 9

Pada grafik di atas menunjukan bahwa pada n yang berbeda nilai WHP selalu sama. Hal
𝐵𝐻𝑃
ini tidak sesuai dengan rumus 𝜂 = 𝑥100%, dimana BHP = 2π x Mt x N. Seharusnya
𝑊𝐻𝑃

menunjukkan hubungan yang berbanding lurus. Hal ini dapat terjadi karena kesalahan
praktikan (human error) atau karena umur alat yang sudah tua.

4.2.10 grafik fungsi n terhadap BHP

N terhadap BHP
500.00
450.00
400.00
350.00
300.00
250.00
200.00
150.00
100.00
50.00
0.00
0.00 5.00 10.00 15.00 20.00 25.00 30.00

BUKAAN 0 BUKAAN 3 BUKAAN 6 BUKAAN 9

Grafik diatas menunjukkan grafik yang acak. Hal ini tidak sesuai dengan rumus BHP =
2π x Mt x N dimana nilai BHP akan semakin besar seiring bertambahnya nilai n. Hal ini dapat
terjadi karena kesalahan praktikan (human error) atau karena umur alat yang sudah tua.
BAB 5