Anda di halaman 1dari 5

Anatomi Kandung Empedu

Kandung empedu adalah organ dalam, berbentuk buah pir, yang berada di sekitar cekungan liver yang
disebut fossa vesika fellea1 sepanjang permukaan inferior hati yang secara anatomi membagi hati menjadi
lobus kanan dan lobus kiri.2

Organ ini berhubungan dengan sistem intestinal melalui duktus sisticus. Ukuran kandung empedu pada
orang dewasa umumnya dengan panjang 8 cm (7-10 cm) dan diameter 4cm1 dan mempunyai kapasitas ±
30 mL2. Terdiri dari fundus, body, dan leher. 1
Empedu merupakan cairan yang terdiri dari garam-garam empedu, kolesterol, dan molekul lainnya
(fospholipid dan lesitin). Empedu merupakan hasil pemecahan hemoglobin dibentuk dan dieksresikan ke
saluran empedu dengan produksi 1000-1500 cc per hari secara konstan. 1
1.2 Cholelithiasis
Batu empedu dapat diklasifikasikan atas batu kolestrol, batu pigmen, dan mixed. Batu pigmen dapat
di klasifikasikan lagi menjadi batu pigmen coklat dan batu pigmen hitam.2
Penyakit batu empedu memiliki 4 tahap :
1. Tahap litogenik , pada kondisi ini mulai terbentuk batu empedu.
2. Batu empedu asimptomatik, pada tahap ini pasien tidak mengeluh akan sesuatu sehingga tidak
memerlukan penanganan medis. Karena banyak terjadi, batu empedu biasanya muncul bersama
dengan keluhan gastroitestinal lainnya.
Beberapa penelitian menunjukkan batu empedu menyebabkan nyeri abdomen kronik, heartburn,
distress postprandial, rasa kembung, serta adanya gas dalam abdomen, konstipasi dan diare. Dispepsia
yang terjadi karena makan makanan berlemak sering salah dikaitkan dengan batu empedu, dimana
irritable bowel syndrome atau refluks gastroesofageal merupakan penyebab utamanya.
3. Kolik bilier, episode dari kolik bilier bersifat sporadik dan tidak dapat diperkirakan. Pasien
menunjukan nyeri terlokalisir pada epigastrium atau kuadran kanan atas dan akan menggambarkan
nyeri dirasakan sampai ke daerah ujung scapula kanan. Dari onset nyeri, nyeri akan meningkat stabil
sekitar 10 menit dan cenderung meningkat selama beberapa jam sebelum mulai mereda. Nyeri
bersifat konstan dan tidak berkurang dengan emesis, antasida, defekasi atau perubahan posisi. Nyeri
mungkin juga bersamaan dengan mual dan muntah.
4. Komplikasi kolelitiasis, terjadi ketika batu persisten masuk ke dalam duktus biliar sehingga
menyebabkan kantung empedu menjadi distended dan mengalami inflamasi progresif.

1.2.1 Defenisi
Batu empedu atau cholelithiasis adalah timbunan kristal di dalam kandung empedu atau di dalam
saluran empedu atau pada kedua-duanya. Batu kandung empedu merupakan gabungan beberapa unsur
dari cairan empedu yang mengendap dan membentuk suatu material mirip batu di dalam kandung empedu
atau saluran empedu. 2

1.2.2 Etiologi
Etiologi batu empedu masih belum diketahui dengan sempurna namun yang paling penting adalah
gangguan metabolisme yang disebabkan oleh perubahan susunan empedu, stasis empedu dan infeksi
kandung empedu.

1.2.3 Patofisiologi
Pembentukan batu empedu dibagi menjadi tiga tahap:
 pembentukan empedu yang supersaturasi,
 nukleasi atau pembentukan inti batu, dan
 berkembang karena bertambahnya pengendapan.
Kelarutan kolesterol merupakan masalah yang terpenting dalam pembentukan semua batu, kecuali batu
pigmen. Supersaturasi empedu dengan kolesterol terjadi bila perbandingan asam empedu dan fosfolipid
(terutama lesitin) dengan kolesterol turun di bawah harga tertentu. Secara normal kolesterol tidak larut
dalam media yang mengandung air. Empedu dipertahankan dalam bentuk cair oleh pembentukan koloid
yang mempunyai inti sentral kolesterol, dikelilingi oleh mantel yang hidrofilik dari garam empedu dan
lesitin. Jadi sekresi kolesterol yang berlebihan, atau kadar asam empedu rendah, atau terjadi sekresi
lesitin, merupakan keadaan yang litogenik.
Pembentukan batu dimulai hanya bila terdapat suatu nidus atau inti pengendapan kolesterol. Pada tingkat
supersaturasi kolesterol, kristal kolesterol keluar dari larutan membentuk suatu nidus, dan membentuk
suatu pengendapan. Pada tingkat saturasi yang lebih rendah, mungkin bakteri, fragmen parasit, epitel sel
yang lepas, atau partikel debris yang lain diperlukan untuk dipakai sebagai benih pengkristalan.
1.2.5 Faktor Resiko
 Usia dewasa1,2
Resiko untuk terkena kolelitiasis meningkat sejalan dengan bertambahnya usia. Orang dengan usia >
60 tahun lebih cenderung untuk terkena kolelitiasis dibandingkan dengan orang dengan usia yang
lebih muda.2
 Gender (perempuan)1,2
Wanita mempunyai resiko 3 kali lipat untuk terkena kolelitiasis dibandingkan dengan pria. Ini
dikarenakan oleh hormon esterogen berpengaruh terhadap peningkatan eskresi kolesterol oleh
kandung empedu. Kehamilan, yang menigkatkan kadar esterogen juga meningkatkan resiko terkena
kolelitiasis. Penggunaan pil kontrasepsi dan terapi hormon (esterogen) dapat meningkatkan kolesterol
dalam kandung empedu dan penurunan aktivitas pengosongan kandung empedu.2
 Obesitas dengan konsumsi lemak tinggi1,2
Orang dengan Body Mass Index (BMI) tinggi, mempunyai resiko lebih tinggi untuk terjadi
kolelitiasis. Ini karenakan dengan tingginya BMI maka kadar kolesterol dan garam empedu dalam
kandung empedu pun tinggi serta mengurangi kontraksi/ pengosongan kandung empedu.2
 Ketidakseimbangan hormonal (estrogen, progestin, insulin, kolesistikinin)
 Obat-obatan (kontrasepsi oral, clofibrate, cholestyramine)
 Enzym
 Diet rendah kalori

Dapat disimpulkan bahwa yang menjadi faktor resiko terjadinya cholelithiasis :


1. Female → ≥ wanita : pria dengan perbandingan 2 : 1.
2. Fat → Lebih sering pada orang banyak yang gemuk.
3. Forty → Bertambah dengan tambahnya usia.
4. Fertile → Lebih banyak pada multipara.
5. Food → orang dengan diet tinggi kalori dan obat-obatan tertentu.
6. Flatulen → Sering memberi gejala-gejala saluran cerna.

1.2.6 Tanda dan Gejala


 Nyeri daerah midepigastrium
 Mual dan muntah
 Tachycardia
 Diaphoresis
 Demam
 Flatus, rasa beban epigastrium, heart burn
 Nyeri abdominal atas kronik
 Jaundice
1.2.7 Diagnosis

1. Anamnesis

Setengah sampai duapertiga penderita kolelitiasis adalah asimtomatis. Keluhan yang mungkin timbul
adalah dispepsia yang kadang disertai intoleran terhadap makanan berlemak. Pada yang simtomatis,
Pasien biasanya datang dengan keluhan utama berupa nyeri di daerah epigastrium atau nyeri/kolik pada
perut kanan atas atau perikondrium yang mungkin berlangsung lebih dari 15 menit, dan kadang beberapa
jam. Timbulnya nyeri kebanyakan perlahan-lahan tetapi pada 30% kasus timbul tiba-tiba. Kadang pasien
datang dengan mata dan tubuh menjadi kuning, badan gatal-gatal, buang air kecil berwarna seperti teh,
tinja berwarna seperti dempul dan
penyebaran nyeri pada punggung bagian tengah, skapula, atau ke puncak bahu, disertai mual dan muntah.
Lebih kurang seperempat penderita melaporkan bahwa nyeri berkurang setelah menggunakan antasida.
Kalau terjadi kolelitiasis, keluhan nyeri menetap dan bertambah pada waktu menarik nafas dalam. Yang
perlu dipertanyakan kepada pasien adalah faktor resiko, tanda, dan gejala.

2. Pemeriksaan Fisik

 Pasien dengan stadium litogenik atau batu asimptomatik tidak memiliki kelainan dalam
pemeriksaan fisis. Selama serangan kolik bilier, terutama pada saat kolesistitis akut, pasien akan
mengalami nyeri palpasi / nyeri tekan dengan punktum maksimum di daerah letak anatomis
kandung empedu. Diketahui dengan adanya :

 tanda Murphy positif apabila nyeri tekan bertambah sewaktu penderita menarik nafas panjang
karena kandung empedu yang meradang tersentuh ujung jari tangan pemeriksa dan pasien berhenti
menarik nafas.

 riwayat ikterik maupun ikterik cutaneus dan sklera dan bisa teraba hepar.

 Trias Charcot, jika ada infeksi ( demam, nyeri di daerah hati, dan ikterus).

 Hydrops vesica felea ( Couvousier Law ) : teraba vesica felea.

3. Pada pemeriksaan radiologi, ultrasonography dan x-ray dapat mendeteksi kejadian batu empedu.
Prosedur spesifik yang dapat dilakukan :
· Dalam mendeteksi batu empedu, USG memiliki akurasi senilai 96%

· Percutaneous transhepatic cholangiography dapat membedakan antara penyakit kandung empedu atau
duktus biliaris dengan kanker caput pankreas pada pasien yang mengeluhkan jaundice.

· Endoscopic retrograde colangiopancreatography memvisualisasikan gambaran biliary tree setelah insersi


endoskopi ke dalam duodenum, duktus biliaris-pankreaticus, dan injeksi kontras.

· Hepatobiliary iminodiacetic acid analogue scan kandung empedu dapat mendeteksi obstruksi duktus
sisticus.

· Computed tomography scan walau tidak rutin digunakan, dapat membandingkan antara kelainan
jaundice obstruksi dan nonobstruksi.

· Plain abdominal X-ray hanya mengidentifikasi terjadinya kalsifikasi tetapi bukan batu kolesterol dengan
angka akurasi hanya 15%.

· Oral cholecystography menggambarkan adanya batu di kandung empedu dan obstruksi saluran empedu.

4. Pada pemeriksaan laboratorium, dapat dijumpai kenaikan angka index ikterik, peningkatan bilirubin
total, bilirubin urine, dan alkaline phospatase. Jumlah leukosit menaik saat terjadi cholecystitis. Level
serum amilase membantu membedakan penyakit kandung empedu dengan pankreatitis. Ketika disangka
kelainan jantung, tes enzim jantung dan EKG dapat membandingkan kelainan jantung dengan kelainan
abdomen. 1

Diagnosis banding penyakit ini antara lain myocardiac infarction, angina, pankreatitis, kanker caput
pancreas, pneumonia, ulkus peptikus, hernia, esofagitis, dan gastritis. 1

1.2.8 Terapi

· Pembedahan

Pembedahan biasanya dilakukan secara elektif adalah pilihan terapi untuk penyakit kandung empedu dan
saluran empedu. Pembedahan meliputi open laparoscopic cholecystectomy, cholecystectomy-
cholangiography, dan operasi eksplorasi duktus biliaris. 1

· Non pembedahan

Pengobatan nonpembedahan untuk choledolithiasis meliputi pemasangan T-tube (biliary tube) melalui
flouroskopi.

· Medikamentosa

§ Makanan rendah lemak

§ Vitamin K

§ Pemasangan iv line dan NGT

1.2.9 Komplikasi
Komplikasi yang dapat terjadi pada penderita kolelitiasis :

1. Obstruksi duktus sistikus

2. Kolik bilier

3. Kolesistitis akut

4. Perikolesistitis

5. Peradangan pankreas (pankreatitis)-angga

6. Perforasi

7. Kolesistitis kronis

8. Hidrop kandung empedu

9. Empiema kandung empedu

10. Fistel kolesistoenterik

11. Batu empedu sekunder (Pada 2-6% penderita, saluran menciut kembali dan batu empedu muncul lagi)

12. Ileus batu empedu (gallstone ileus)

1.2.10 Prognosis

Batu empedu asimptomatik yang berubah menjadi simptomatik yaitu rata-rata 2% per tahun. Gejala pada
umumnya kolik bilier kemudian menjadi komplikasi biliar mayor. Bila gejala bilier dimulai, keluhan
nyeri muncul pada 20-40% pasien per tahun, 1-2% pasien pertahun terjadi komplikasi berupa kolesistitis,
koledokolithiasis, kolangitis, dan pancreatitis batu empedu. Setiap tahun di Amerika Serikat sekitar
500.00 orang dengan perkembangan gejala atau komplikasi batu empedu memerlukan cholecystecomy.
Penyakit batu empedu menyebabkan 10.000 kematian tiap tahun. Sekitar 7.000 kematian diakibatkan oleh
komplikasi batu empedu akut seperti pancreatitis akut. Sekitar 2.000 sampai 3.000 kematian disebabkan
oleh kanker batu empedu (80% terjadi pada penyakit batu empedu dengan kolesistitis kronik).2