Anda di halaman 1dari 24

MAKALAH ILMU BIOMEDIK DASAR

“Etika, Moral, Akhlak Dan Nilai-Nilai

Dalam Keperawatan”

OLEH:

Kelompok 6

1. Anne Silvana (183110242)


2. Aulia Ihsan (183110245)
3. Fitri Aulia (183110254)
4. Nurul Qamaria (183110265)
5. Septri Annisa Azmi (183110272)
6. Tasya Aulia Putri (183110277)

1.C
Dosen Pembimbing :

POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES RI PADANG

D-III KEPERAWATAN PADANG

TA 2018/2019

KATA PENGANTAR
Segala puji bagi Allah, hanya kepada-Nya kita memuji, memohon pertolongan dan meminta
ampunan. Dan syukur kami tuturkan karena berkat hidayahnya makalah kami yang
berjudul“Etika, Moral, Akhlak Dan Nilai-Nilai Dalam Keperawatan” ini dapat terselesaikan
pada waktunya.

Makalah ini disusun sebagai tugas kelompok mata kuliah Etika Keperawatan. Kami hanya
dapat berdoa, kiranya apa yang kami tulis disini bermanfaat bagi kita semua. Ucapan terima
kasih kepada semua pihak yang telah mendukung dan membantu kami dalam menyelesaikan
makalah ini. Kami sadar bahwa apa yang kami tulis masih sangat jauh dari kesempurnaan.
Untuk itu, kritikan dan saran yang sifatnya membangun dari para pembaca sangat kami
harapkan.

24 JANUARI 2019

PENULIS

DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR.............................................................................................................i

DAFTAR ISI………………………………………………………………………………….ii

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar
Belakang………………………………………………………………………….1
B. Rumusan Masalah……………………………………………………………………….1
C. Tujuan
D. Manfaat

BAB II PEMBAHASAN

definisi mineral…………………………………………………………………………….5

2.2 mineral mmakro……………………………………………………………………………5

2.3 mineral mikro………………………………………………………………………….…14

BAB III PENUTUP

Kesimpulan…………………………………………………………………………………..30

DAFTAR PUATAKA...........................................................................................................31

BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG

Peningkatan pengetahuan dan teknologi yang sedemikian cepat dalam segala bidang serta
meningkatnya pengetahuan masyarakat berpengaruh pula terhadap meningkatnya tuntutan
masyarakat akan mutu pelayanan kesehatan termasuk pelayanan keperawatan. Hal ini merupakan
tantangan bagi profesi keperawatan dalam mengembangkan profesionalisme selama memberi
pelayanan yang berkualitas. Kualitas pelayanan yang tinggi memerlukan landasan komitmen
yang kuat dengan basis pada etika dan moral yang tinggi.

Sikap etis profesional yang kokoh dari setiap perawat akan tercermin dalam setiap
langkahnya, termasuk penampilan diri serta keputusan yang diambil dalam merespon situasi
yang muncul. Oleh karena itu pemahaman yang mendalam tentang etika dan moral serta
penerapannya menjadi bagian yang sangat penting dan mendasar dalam memberikan asuhan
keperawatan dimana nilai-nilai pasien selalu menjadi pertimbangan dan dihormati.

Di kehidupan ini banyak pandangan masyarakat yang tidak benar tentang perawat seperti
perawat memiliki sifat yang jahat namun pandangan ini akan dibenarkan dalam makalah ini.Ilmu
keperawatan sangatlah terkait dengan pendidikan agama islam karena untuk menjadikan seorang
perawat diwajibkan memiliki sifat yang berakhlak islam.

Oleh karena itu, melalui makalah ini penulis ingin menjelaskan dan menyampaikan
beberapa sifat – sifat keperawatan dalam akhlak islam. Selain itu juga ingin memperdalam
tentang pendidikan agama islam. Dimana telah diketahui bahwa pendidikan agama islam adalah
suatu ajaran yang benar yang berlandaskan al-qur’an dan as-sunnah.

Dan tentunya akhlak islam dalam keperawatan itu akan kita peroleh dari pembelajaran
pendidikan agama islam, maka dari itu melalui Makalah ini penulis mencoba menjelaskan dan
menerangkan prinsip – prinsip akhlak islam agar menciptakan seorang perawat yang berakhlak
islam.

B. RUMUSAN MASALAH
1. Apakah pengertian etika?
2. Apakah tipe-tipe etik?
3. Apa yang termasuk teori dan prinsip etik?
4. Apakah pengertian moral?
5. Bagaimana konsep moral dalam praktik keperawatan?

BAB II

PEMBAHASAN

1. ETIKA
A. Pengertian
Etika berasal dari bahasa yunani yaitu Ethos yang menurut Araskar dan David (1978)
berarti “kebiasaan”, “model perilaku”, atau standar yang diharapkan dan criteria tertentu untuk
suatu tindakan. Penggunaan istilah etika sekarang ini banyak diartikan sebagai motif atau
dorongan yang mempengaruhi perilaku.(Dra.Hj. Mimin Emi Suhaemi.2002. 7).
Etika adalah kode prilaku yang memperlihatkan perbuatan yang baik bagi kelompok
tertentu. Etika juga merupakan peraturan dan prinsip bagi perbuatan yang benar. Etika
berhubungan dengan hal yang baik dan hal yang tidak baik dan dengan kewajiban moral. Etika
berhubungan dengan peraturan untuk perbuatan atau tidakan yang mempunyai prinsip benar dan
salah, serta prinsip moralitas karena etika mempunyai tanggung jawab moral, menyimpang dari
kode etik berarti tidak memiliki prilaku yang baik dan tidak memiliki moral yang baik.
Etika bisa diartikan juga sebagai, yang berhubungan dengan pertimbangan keputusan,
benar atau tidaknya suatu perbuatan karena tidak ada undang-undang atau peraturan yang
menegaskan hal yang harus dilakukan. Etika berbagai profesi digariskan dalam kode etik yang
bersumber dari martabat dan hak manusia ( yang memiliki sikap menerima) dan kepercayaan
dari profesi.
Etika merupakan aplikasi atau penerapan teori tentang filosofi moral kedalam situasi
nyata dan berfokus pada prinsip-prinsip dan konsep yang membimbing manusia berpikir dan
bertindak dalam kehidupannya yang dilandasi oleh nilai-nilai yang dianutnya. Banyak pihak
yang menggunakan istilah etik untuk mengambarkan etika suatu profesi dalam hubungannya
dengan kode etik profesional seperti Kode Etik PPNI. Profesi menyusun kode etik berdasarkan
penghormatan atas nilai dan situasi individu yang dilayani. Kode etik disusun dan disahkan oleh
organisasi atau wadah yang membina profesi tertentu baik secara nasional maupun internasional.
Kode etik menerapkan konsep etis karena profesi bertanggung jawab pada manusia dan
menghargai kepercayaan serta nilai individu.
Berdasarkan uraian diatas, dapat disimpulkan bahwa etik merupakan istilah yang
digunakan untuk merefleksikan bagaimana seharusnya manusia berperilaku, apa yang
seharusnya dilakukan seseorang terhadap orang lain.
B. Tipe-Tipe Etik

1. Bioetik
Bioetik merupakan studi filosofi yang mempelajari tentang kontroversi dalam etik,
menyangkut masalah biologi dan pengobatan. Lebih lanjut, bioetik difokuskan pada pertanyaan
etik yang muncul tentang hubungan antara ilmu kehidupan, bioteknologi, pengobatan, politik,
hukum, dan theology.
Pada lingkup yang lebih sempit, bioetik merupakan evaluasi etik pada moralitas treatment
atau inovasi teknologi, dan waktu pelaksanaan pengobatan pada manusia. Pada lingkup yang
lebih luas, bioetik mengevaluasi pada semua tindakan moral yang mungkin membantu atau
bahkan membahayakan kemampuan organisme terhadap perasaan takut dan nyeri, yang meliputi
semua tindakan yang berhubungan dengan pengobatan dan biologi. Isu dalam bioetik antara
lain : peningkatan mutu genetik, etika lingkungan, pemberian pelayanan kesehatan
Dapat disimpulkan bahwa bioetik lebih berfokus pada dilema yang menyangkut
perawatan kesehatan modern, aplikasi teori etik dan prinsip etik terhadap masalah-masalah
pelayanan kesehatan
2. Clinical Ethics/Etik Klinik
Etik klinik merupakan bagian dari bioetik yang lebih memperhatikan pada masalah etik
selama pemberian pelayanan pada klien. Contoh clinical ethics : adanya persetujuan atau
penolakan, dan bagaimana seseorang sebaiknya merespon permintaan medis yang kurang
bermanfaat (sia-sia).
3. Nursing Ethics/Etik Perawatan
Bagian dari bioetik, yang merupakan studi formal tentang isu etik dan dikembangkan
dalam tindakan keperawatan serta dianalisis untuk mendapatkan keputusan etik.

C. Teori Etik
1. Utilitarian
Utilitarian berasal dari bahasa latin yaitu utilis yang berarti “bermanfaat”. Menurut teori
ini suatu perbuatan adalah baik jika membawa manfaat, tapi manfaat itu harus menyangkut
bukan saja satu dua orang melainkan masyarakat sebagai keseluruhan. Dalam rangka pemikiran
utilitarianisme, kriteria untuk menentukan baik buruknya suatu perbuatan adalah “the greatest
happiness of the greatest number”, kebahagiaan terbesar dari jumlah orang yang terbesar.
Kebenaran atau kesalahan dari tindakan tergantung dari konsekwensi atau akibat tindakan
Contoh : Mempertahankan kehamilan yang beresiko tinggi dapat menyebabkan hal yang tidak
menyenangkan, nyeri atau penderitaan pada semua hal yang terlibat, tetapi pada dasarnya hal
tersebut bertujuan untuk meningkatkan kesehatan ibu dan bayinya.
2. Deontologi
Istilah deontologi berasal dari kata deon yang berasal dari Yunani yang
artinya kewajiban. Sudah jelas kelihatan bahwa teori deontologi menekankan pada pelaksanaan
kewajiban. Suatu perbuatan akan baik jika didasari atas pelaksanaan kewajiban, jadi selama
melakukan kewajiban berarti sudah melakukan kebaikan. Deontologi tidak terpasak pada
konsekuensi perbuatan, dengan kata lain deontologi melaksanakan terlebih dahulu tanpa
memikirkan akibatnya. Berbeda dengan utilitarisme yang mempertimbangkan hasilnya lalu
dilakukan perbuatannya.

Pendekatan deontologi berarti juga aturan atau prinsip. Prinsip-prinsip tersebut antara lain
autonomy, informed consent, alokasi sumber-sumber, dan euthanasia.

D. Prinsip-Prinsip Etik
1. Otonomi (Autonomy)
Autonomy berarti mengatur dirinya sendiri, prinsip moral ini sebagai dasar perawat
dalam memberikan asuhan keperawatan dengan cara menghargai pasien, bahwa pasien adalah
seorang yang mampu menentukan sesuatu bagi dirinya. Perawat harus melibatkan pasien dalam
membuat keputusan tentang asuhan keperawatan yang diberikan pada pasien.
Prinsip otonomi didasarkan pada keyakinan bahwa individu mampu berpikir logis dan
mampu membuat keputusan sendiri. Orang dewasa dianggap kompeten dan memiliki kekuatan
membuat sendiri, memilih dan memiliki berbagai keputusan atau pilihan yang harus dihargai
oleh orang lain. Prinsip otonomi merupakan bentuk respek terhadap seseorang, atau dipandang
sebagai persetujuan tidak memaksa dan bertindak secara rasional. Otonomi merupakan hak
kemandirian dan kebebasan individu yang menuntut pembedaan diri. Praktek profesional
merefleksikan otonomi saat perawat menghargai hak-hak klien dalam membuat keputusan
tentang perawatan dirinya.
Aplikasi prinsip moral otonomi dalam asuhan keperawatan ini contohnya adalah seorang
perawat apabila akan menyuntik harus mem beritahu untuk apa obat tersebut, prinsip otonomi ini
dilanggar ketika seorang perawat tidak menjelaskan suatu tindakan keperawatan yang akan
dilakukannya, tidak menawarkan pilihan misalnya memungkinkan suntikan atau injeksi bisa
dilakukan di pantat kanan atau kiri dan sebagainya. Perawat dalam hal ini telah bertindak
sewenang-wenang pada orang yang lemah.
2. Berbuat Baik (Beneficience)
Prinsip beneficience ini oleh Chiun dan Jacobs (1997) didefinisikan dengan kata lain
doing good yaitu melakukan yang terbaik . Beneficience adalah melakukan yang terbaik dan
tidak merugikan orang lain , tidak membahayakan pasien . Apabila membahayakan, tetapi
menurut pasien hal itu yang terbaik maka perawat harus menghargai keputusan pasien tersebut,
sehingga keputusan yang diambil perawatpun yang terbaik bagi pasien dan keluarga.
Beneficience berarti, hanya melakukan sesuatu yang baik. Kebaikan, memerlukan pencegahan
dari kesalahan atau kejahatan, penghapusan kesalahan atau kejahatan dan peningkatan kebaikan
oleh diri dan orang lain. Terkadang, dalam situasi pelayanan kesehatan, terjadi konflik antara
prinsip ini dengan otonomi.
Beberapa contoh prinsip tersebut dalam aplikasi praktik keperawatan adalah, seorang
pasien mengalami perdarahan setelah melahirkan, menurut program terapi pasien tersebut harus
diberikan tranfusi darah, tetapi pasien mempunyai kepercayaan bahwa pemberian tranfusi
bertentangan dengan keyakinanya, dengan demikian perawat mengambil tindakan yang terbaik
dalam rangka penerapan prinsip moral ini yaitu tidak memberikan tranfusi setelah pasien
memberikan pernyataan tertulis tentang penolakanya. Perawat tidak memberikan tranfusi,
padahal hal tersebut membahayakan pasien, dalam hal ini perawat berusaha berbuat yang terbaik
dan menghargai pasien.
3. Keadilan (Justice)
Setiap individu harus mendapatkan tindakan yang sama, merupakan prinsip dari justice
(Perry and Potter, 1998 ; 326). Justice adalah keadilan, prinsip justice ini adalah dasar dari
tindakan keperawatan bagi seorang perawat untuk berlaku adil pada setiap pasien, artinya setiap
pasien berhak mendapatkan tindakan yang sama.
Prinsip keadilan dibutuhkan untuk terpai yang sama dan adil terhadap orang lain yang
menjunjung prinsip-prinsip moral, legal dan kemanusiaan. Nilai ini direfleksikan dalam prkatek
profesional ketika perawat bekerja untuk terapi yang benar sesuai hukum, standar praktek dan
keyakinan yang benar untuk memperoleh kualitas pelayanan kesehatan.
Tindakan yang sama tidak selalu identik, maksudnya setiap pasien diberikan konstribusi
yang relatif sama untuk kebaikan kehidupannya. Prinsip Justice dilihat dari alokasi sumber-
sumber yang tersedia, tidak berarti harus sama dalam jumlah dan jenis, tetapi dapat diartikan
bahwa setiap individu mempunyai kesempatan yang sama dalam mendapatkannya sesuai dengan
kebutuhan pasien. (Sitorus, 2000).
Sebagai contoh dari penerapan tindakan justice ini adalah dalam keperawatan di ruang
penyakit bedah, sebelum operasi pasien harus mendapatkan penjelasan tentang persiapan
pembedahan baik pasien di ruang VIP maupun kelas III, apabila perawat hanya memberikan
kesempatan salah satunya maka melanggar prinsip justice ini.
4. Tidak Merugikan (Nonmaleficience) atau avoid killing
Prinsip avoiding killing menekankan perawat untuk menghargai kehidupan manusia
(pasien), tidak membunuh atau mengakhiri kehidupan. Thomhson ( 2000 : 113) menjelasakan
tentang masalah avoiding killing sama dengan Euthanasia yang kata lainya tindak menentukan
hidup atau mati yaitu istilah yang digunakan pada dua kondisi yaitu hidup dengan baik atau
meninggal.
Prinsip ini berarti tidak menimbulkan bahaya/cedera fisik dan psikologis pada klien.
kewajiban perawat untuk tidak dengan sengaja menimbulkan kerugian atau cidera. Prinsip :
Jangan membunuh, menghilangkan nyawa orang lain, jangan menyebabkab nyeri atau
penderitaan pada orang lain, jangan membuat orang lain berdaya dan melukai perasaaan orang
lain.
Ketika menghadapi pasien dengan kondisi gawat maka seorang perawat harus
mempertahankan kehidupan pasien dengan berbagai cara. Tetapi menurut Chiun dan Jacobs
(1997 : 40) perawat harus menerapkan etika atau prinsip moral terhadap pasien pada kondisi
tertentu misalnya pada pasien koma yang lama yaitu prinsip avoiding killing, Pasien dan
keluarga mempunyai hak-hak menentukan hidup atau mati.

Sehingga perawat dalam mengambil keputusan masalah etik ini harus melihat prinsip
moral yang lain yaitu beneficience, nonmaleficience dan otonomy yaitu melakukan yang terbaik,
tidak membahayakan dan menghargai pilihan pasien serta keluarga untuk hidup atau mati. Mati
disini bukan berarti membunuh pasien tetapi menghentikan perawatan dan pengobatan dengan
melihat kondisi pasien dengan pertimbangan beberapa prinsip moral diatas.
5. Kejujuran (Veracity)
Veracity menurut Chiun dan Jacobs (1997) sama dengan truth telling yaitu berkata benar
atau mengatakan yang sebenarnya. Veracity merupakan suatu kuajiban untuk mengatakan yang
sebenarnya atau untuk tidak membohongi orang lain atau pasien (Sitorus, 2000).
Prinsip veracity berarti penuh dengan kebenaran. Nilai ini diperlukan oleh pemberi pelayanan
kesehatan untuk menyampaikan kebenaran pada setiap klien dan untuk meyakinkan bahwa klien
sangat mengerti. Prinsip veracity berhubungan dengan kemampuan seseorang untuk mengatakan
kebenaran. Informasi harus ada agar menjadi akurat, komprensensif, dan objektif untuk
memfasilitasi pemahaman dan penerimaan materi yang ada, dan mengatakan yang sebenarnya
kepada klien tentang segala sesuatu yang berhubungan dengan keadaan dirinya selama menjalani
perawatan. Walaupun demikian, terdapat beberapa argument mengatakan adanya batasan untuk
kejujuran seperti jika kebenaran akan kesalahan prognosis klien untuk pemulihan atau adanya
hubungan paternalistik bahwa ”doctors knows best” sebab individu memiliki otonomi, mereka
memiliki hak untuk mendapatkan informasi penuh tentang kondisinya. Kebenaran merupakan
dasar dalam membangun hubungan saling percaya.
Perawat dalam bekerja selalu berkomunikasi dengan pasien, kadang pasien menanyakan
berbagai hal tentang penyakitnya, tentang hasil pemeriksaan laboratorium, hasil pemeriksaan
fisik seperti, “berapa tekanan darah saya suster?”, bagaimana hasil laboratorium saya suster?’
dan sebagainya. Hal-hal seperti itu harusnya dijawab perawat dengan bener sebab berkata benar
atau jujur adalah pangkal tolak dari terbinanya hubungan saling percaya antar individu
dimanapun berada.
Namun demikian untuk menjawab pertanyaan secara jujur diatas perlu juga dipikirkan
apakah jawaban perawat membahayakan pasien atau tidak, apabila memungkinkan maka harus
dijawab dengan jawaban yang jelas dan benar, misalnya pasien menanyakan hasil pemeriksaan
tekanan darah maka harus dijawab misalnya, 120/80 mmHg, hasil laboratorium Hb 13 Mg% dan
sebagainya.
Prinsip ini dilanggar ketika kondisi pasien memungkinkan untuk menerima jawaban yang
sebenarnya tetapi perawat menjawab tidak benar misalnya dengan jawaban ; hasil ukur tekanan
darahnya baik, laboratoriumnya baik, kondisi bapak atau ibu baik-baik saja, padahal nilai hasil
ukur tersebut baik buruknya relatif bagi pasien.
6. Menepati Janji (Fidelity)
Sebuah profesi mempunyai sumpah dan janji, saat seorang menjadi perawat berarti siap
memikul sumpah dan janji. Hudak dan Gallo (1997 : 108), menjelaskan bahwa membuat suatu
janji atau sumpah merupakan prinsip dari fidelity atau kesetiaan. Dengan demikian fidelity bisa
diartikan dengan setia pada sumpah dan janji. Chiun dan Jacobs (1997 : 40) menuliskan tentang
fidelity sama dengan keeping promises, yaitu perawat selama bekerja mempunyai niat yang baik
untuk memegang sumpah dan setia pada janji.
Prinsip fidelity dibutuhkan individu untuk menghargai janji dan komitmennya terhadap
orang lain. Perawat setia pada komitmennya dan menepati janji serta menyimpan rahasia klien.
Ketaatan, kesetiaan, adalah kewajiban seseorang untuk mempertahankan komitmen yang
dibuatnya. Kesetiaan, menggambarkan kepatuhan perawat terhadap kode etik yang menyatakan
bahwa tanggung jawab dasar dari perawat adalah untuk meningkatkan kesehatan, mencegah
penyakit, memulihkan kesehatan dan meminimalkan penderitaan.
Prinsip fidelity menjelaskan kewajiban perawat untuk tetap setia pada komitmennya,
yaitu kewajiban memperatankan hubungan saling percaya antara perawat dan pasien yang
meliputi menepati janji dan menyimpan rahasia serta caring (Sitorus, 2000 : 3). Prinsip fidelity
ini dilanggar ketika seorang perawat tidak bisa menyimpan rahasia pasien kecuali dibutuhkan,
misalnya sebagai bukti di pengadilan, dibutuhkan untuk menegakan kebenaran seperti
penyidikan dan sebagainya.
Penerapan prinsip fidelity dalam praktik keperawatan misalnya, seorang perawat tidak
menceritakan penyakit pasien pada orang yang tidak berkepentingan, atau media lain baik
diagnosa medisnya (Carsinoma, Diabetes Militus) maupun diagnosa keperawatanya (Gangguan
pertukaran gas, Defisit nutrisi). Selain contoh tersebut yang merupakan rahasia pasien adalah
pemeriksaan hasil laboratorium, kondisi ketika mau meninggal dan sebagainya.

7. Kerahasiaan (Confidentiality)
Aturan dalam prinsip kerahasiaan adalah informasi tentang klien harus dijaga privasi
klien. Segala sesuatu yang terdapat dalam dokumen catatan kesehatan klien hanya boleh dibaca
dalam rangka pengobatan klien. Tidak ada seorangpun dapat memperoleh informasi tersebut
kecuali jika diijinkan oleh klien dengan bukti persetujuan. Diskusi tentang klien diluar area
pelayanan, menyampaikan pada teman atau keluarga tentang klien dengan tenaga kesehatan lain
harus dihindari.
8. Akuntabilitas (Accountability)
Akuntabilitas merupakan standar yang pasti bahwa tindakan seorang profesional dapat
dinilai dalam situasi yang tidak jelas atau tanpa terkecuali.

2. MORAL
A. Pengertian

Secara umum, etika dan moral adalah sama, tetapi etik memiliki terminologi yang sedikit
berbeda dengan moral. Bila istilah etik mengarahkan terminologinya untuk penyelidikan filosofis
atau kajian tentang masalah atau dilema tertentu, sedangkan moral biasanya merujuk pada
standar personal tentang benar atau salah. Hal ini sangat penting untuk mengenal antara etika
dalam agama, hukum, adat dan praktek professional. Moral mendeskripsikan perilaku aktual,
kebiasaan dan kepercayaan sekelompok orang atau kelompok tertentu. Sedangkan etik
digunakan untuk mendeskripsikan suatu pola atau cara hidup, sehingga etik merefleksikan sifat,
prinsip dan standar seseorang yang mempengaruhi perilaku profesional. Cara hidup moral
perawat telah dideskripsikan sebagai etik perawatan. Etika dan moral merupakan sumber dalam
merumuskan standard dan prinsip-prinsip yang menjadi panutan dalam berperilaku serta
membuat keputusan untuk melindungi hak-hak manusia.

B. Konsep moral dalam praktik keperawatan


Praktik keperawatan, termasuk etika keperawatan, mempunyai berbagai dasar penting
seperti advokasi, akuntabilitas, loyalitas, kepedulian, rasa haru dan menghormati martabat
manusia. Tetapi yang lazim di gunakan dan menjadi bahan kajian di praktik keperawatan adalah
advokasi, akuntabilitas, dan loyalitas.

1. Advokasi
Advokasi menurut ANA (1985) “melindungi klien atau masyarakat terhadap pelayanan
kesehatan dan keselamatan praktik tidak sah yang tidak kompeten dan melanggar etika yang
dilakukan oleh siapapun”. Pada dasarnya peran perawat dalam advokasi adalah; “memberi
informasi dan member bantuan” kepada pasien atas keputusan apapun yang dibuat pasien.
Member informasi bererti menyediakan penjelasan atau informasi sesuai yang
dibutuhkan pasien. Memberikan bantuan mempunyai dua peran yaitu:
a) Peran aksi : perawat memberikan keyakinan kepada pasien bahwa mereka
mempunyai hak dan tanggungjawab dalam menentukan pilihan atau keputusan sendiri
dan tidak tertekan dengan pengaruh orang lain.
b) Peran non aksi : pihak advokad seharusnya menahan diri untuk tidak
mempengaruhi keputusan pasien (Kohnke, 1982; lih Megan, 1991)
2. Akuntabilitas
Yaitu dapat mempertanggungjawabkan suatu tindakan yang dilakukan dan dapat
menerima konsekwenasi dari tindakan tersebut (Kozier, Erb, (1991). Menurut Fry (1990)
akuntabilitas mempunyai dua komponen yaitu tanggung jawab dan tanggung gugat. Ini berarti
bahwa tindakan yang dilakukan perawat dilihat dari praktik keperawatan, kode etik dan undang-
undang dapat dibenarkan atau absah. Akuntabilitas juga dapat dipandang dalam sistim hirarki
dari tingkat Individu, institusi/professional dan tingkat social.
a. Individu direflesikan dalam proses pembuatan keputusan etika perawat,
kompetensi dan integritas
b. Institusi direfleksikan dalam pernyataan falsafah dan tujuan bidang keperawatan
atau audit keperawatan.
c. Professional direfleksikan dalam standar praktik keperawatan
d. Social direfleksikan dalam undang-undang yang mengatur praktik keperawatan
3. Loyalitas
Loyalitas merupakan suatu konsep dari berbagai segi yaitu simpati, peduli, dan hubungan
timbal balik terhadap pihak yang secara professional berhubungan dengan perawat. Hubungan
professional dipertahankan dengan cara menyusun tujuan bersama, menepati janji, menentukan
masalah dan prioritas, serta mengupayakan pencapaian keputusan bersama (Jameto, 1984; Fry,
1991; lih Creasia, 1991).
Loyalitas merupakan elemen pembentuk kombinasi manusia yang mempertahankan dan
memperkuat anggota masyarakat keperawatan dalam mencapai tujuan. Loyalitas juga dapat
mengancam asuhan keperawatan bila terjadi konflik antara teman sejawat.Argumentdari Creasia
1991 untuk memepertahankan loyalitas adalah :
a. Masalah pasien tidak boleh didiskusikan dengan pasien lain dan perawat harus
bijaksana bila informasi dari pasien harus di diskusikan secara professional
b. Perawat harus menghindari pembicaraan yang tidak bermanfaat (celotehan) dan
berbagai persoalan, yang berkaitan dengan pasien, rumah sakit atau pekerja rumah sakit,
harus didiskusikan dengan umum (terbuka dengan masyarakat)
c. Perawat harus menghargai dan memberikan bantuan kepada teman sejawat
d. Pandangan masyarakat terhadap profesi keperawatan ditentukan oleh kelakuan
anggota profesi (perawat).

3. AKHLAK
A. Pengertian Akhlak dan Etika Dalam Islam

Akhlak adalah perangai atau karakter seseorang ketika bertindak dan berperilaku atau
aplikasi atau penerapan teori tentang filosofi moral kedalam situasi nyata dan berfokus pada
prinsip-prinsip dan konsep yang membimbing manusia berpikir dan bertindak dalam
kehidupannya yang dilandasi oleh nilai-nilai yang dianutnya.

Sedangkan pengertian beraklak dalam profesi keperawatan adalah akhlaq khusus yang
mengatur tanggung jawab moral para perawat dalam bertingkah laku terhadap pasien dalam
melaksanakan tugasnya sebagai tenaga kesehatan.Dalam islam, sebagai sebuah agama yang juga
menjadi identitas seorang muslim. Islam di turunkan ke bumi untuk membenahi dan
memperindah akhlak manusia.Akhlak ialam sangatlah penting, karena akhlak itu ciri setiap
individu dalam mengisi hidupnya.

Akhlak tah hanya keshalihan individu, tetapi jugamenjadi kebaikan kolektif yang menjadikan
hidupnya maju dan berkembang. Akhlak tak hanya menyoroti masalah ibadah ritual, atau
bagaimana perilaku kepada orang lain, tetapi juga etos kerja, management diri dan waktu, dan
sifat serta kebiasaan baik lainya.

Realisasi akhlak islam adalah realisasi keimanan seseorang. Dengan motivasi ibadah, meraih
keridhoaan Allah SWT, maka seseorang akan berusaha untuk selalu memperbaiki dirinya hingga
sesuai dengan ketentuan Al-qur’an dan As-sunnah Nabi Muhammad SAW. Dari Abu Hurairah ra.
Rasulullah SAW pernah ditanya tentang criteria orang yang paling banyak masuk syurga. Beliau
menjawab, “Taqwa kepada Allah dan akhlak yang baik.” (HR. Tirmidzi dan ahmad).

Etika adalah peraturan atau norma yang dapat digunakan sebagai acuan bagi perilaku
seseorang yang berkaitan dengan tindakan yang baik dan buruk yang dilakukan seseorang dan
merupakan suatu kewajiban dan tanggung jawab moral.

Etika keperawatan adalah norma-norma yang di anut oleh perawat dalam bertingkah laku
dengan pasien, keluarga, kolega, atau tenaga kesehatan lainnya di suatu pelayanan keperawatan
yang bersifat professional. Prilaku etik akan dibentuk oleh nilai-nilai dari pasien, perawat dan
interaksi sosial dalam lingkungan.

B. Cara Berakhlak kepada Pasien Muslim dan Nonmuslim

1. Pasien Muslim
Sebelum membicarakan akhlak atau sifat-sifat yang wajib dimiliki oleh Tenaga kesehatan
Muslim, maka lebih dahulu hendaknya diketahui apa maksud dan tujuan kita mendirikan Rumah
Sakit Islam. Sebagai suatu gerakan Islam, tentu saja tujuan hakiki dari segala usaha dan gerak
langkahnya didasarkan kepada pengabdian kepada Allah SWT. semata, sesuai dengan firman-
Nya yang mengatakan : "Dan tidaklah aku jadikan jin dan manusia melainkan untuk mengabdi
kepada-Ku”1). (QS. adzariyat 56).

Berdasarkan ayat tersebut diatas maka setiap Muslim dalam pengabdiannya berkewajiban
menegakkan dan menjunjung tinggi Agama Islam disegala bidang kehidupannya. Oleh sebab itu
maka semua daya upaya kaum muslimin, baik individu maupun masyarakat dan negara,
termasuk pula daya upaya mendirikan Rumah Sakit, semuanya dimaksudkan untuk menegakkan
dan menjunjung tinggi Agama Islam yang didasarkan pada pengabdian kepada Allah SWT.

A) FUNGSI TENAGA KESEHATAN MUSLIM

Tenaga kesehatan Muslim adalah unsur utama dalam kegiatan Rumah Sakit terutama dalam
perawatan dan pertolongan pasien, merekalah yang paling dekat kepada pasien dan pengunjung
Rumah Sakit, Tenaga kesehatan Muslim bertugas merawat dan menolong pasien baik yang
menyenangkan maupun yang tidak menyenangkan, yang ringan maupun yang berat.

Tenaga kesehatan Muslim, tidak boleh melepaskan diri dari tugas dan kewajibannya
menegakkan dan menjunjung tinggi Agama Islam. Dengan kata lain, Tenaga kesehatan Muslim
tidak terlepas dari tugas dan kewajiban melaksanakan Da’wah Islamiyah sesuai dengan
kemampuannya di dalam bidangnya masing-masing.

Jadi fungsi Tenaga kesehatan Muslim pada garis besarnya ada dua, yaitu

1) Sebagai tenaga para medis, yaitu melaksanakan tugas yang berhubungan dengan
perawatan / pertolongan pasien.
2) Sebagai Da’i (mubaligh), yaitu mengingatkan, menasehati, dan memberi tuntunan
tentang ajaran Islam kepada pasien serta memberikan contoh mengamalkannya (Role
Model) sehingga diharapkan agar orang-orang yang sedang dan pernah dirawat di rumah
sakit akan bertambah taqwanya kepada Allah SWT.

B) AKHLAK TENAGA KESEHATAN MUSLIM


Mengingat fungsi Tenaga kesehatan Muslim seperti tersebut diatas, maka Tenaga kesehatan
Muslim wajib memiliki akhlak yang meliputi dua fungsi :

1) Akhlak sebagai insan pengabdi kemanusiaan untuk mencari keridlo’an Allah


SWT.
2) Akhlak yang wajib bagi seorang da’i (mubaligh).

Kedua faktor tersebut akan tersimpul didalam suatu rumusan dalam rangkaian akhlak yang
wajib bagi Tenaga kesehatan Muslim seperti dibawah ini :

1. Melaksanakan tugas dengan tulus ikhlas karena Allah semata :


a) Merawat pasien hendaklah diniati untuk pengabdian (ibadah).
b) Benar-benar dengan niat yang ikhlas untuk beramal. Karena amal yang diterima
Allah hanyalah amal yang didasarkan pada keikhlasan .
c) Tidak mengharapkan balasan atau pujian baik dari pasien maupun orang lain.
d) Selalu optimis akan berhasil dalam tugasnya dengan baik.

2. Tenaga kesehatan Muslim harus bersifat penyantun :


a. Orang yang penyantun ialah yang halus perasaanya, lekas dapat merasakan
kesukaran orang lain (empaty), dan bisa bersikap menyesuaikan diri bila dia berhadapan
dengan orang yang ditimpa musibah, serta cepat memberikan pertolongan, karena
mengerti kebutuhan orang lain yang dihadapinya.
b. Tenaga kesehatan Muslim harus yakin bahwa rahmat Allah selalu dekat kepada
orang yang berbuat santun.
c. Tutur katanya lemah lembut kepada siapa saja terutama kepada pasien, rela dan
cepat memaafkan kesalahan orang lain. Karena memberi maaf kepada orang lain adalah
lebih utama dari pada memberi shodaqoh atau harta benda padanya.
d. Hanya orang penyantunlah yang disantuni pula oleh Allah yang Maha Penyantun.

3. Ramah tamah berdasarkan ukhuwah (persaudaraan) dalam pergaulan, kapan dan dimana
ia berada terutama terhadap pasien dan orang-orang yang dho’if (lemah/miskin) :
a. Ketahuilah bahwa bermuka manis kepada orang yang sedang menderita sakit
adalah merupakan sebagian dari pada pengobatan.
b. Dan ketahuilah bahwa yang bisa meringankan penderitaan orang sakit, bukanlah
harta benda akan tetapi wajah yang berseri-seri dan budi pekerti yang baik.
4. Tenaga kesehatan Muslim harus sabar dan tidak cepat marah :
a. Penyabar dan pemaaf adalah salah satu dari budi pekerti yang luhur, yang sangat
penting dipelihara.
b. Walaupun semua pasien membutuhkan pertolongan dan kasih sayang, tetapi tidak
semua pasien menunjukkan kasih sayang atau menjengkelkan. Akan tetapi melayaninya
dengan sabar adalah perbuatan yang terpuji disisi Allah.
c. Sebaik-baik senjata Tenaga kesehatan Muslim adalah sabar dan berdo’a.
5. Tenaga kesehatan Muslim harus tenang dan tidak tergopoh-gopoh :
a. Jiwa orang akan sangat membutuhkan ketenangan dan ketentraman, jauh dari
pada suara-suara yang keras, gerakan-gerakan yang hiruk-pikuk dan gaduh. Karena tugas
Tenaga kesehatan Muslim membutuhkan ketenangan dan perhatian yang sungguh-
sungguh.
b. Orang yang melaksanakan pekerjaan dengan tenang dan berhati-hati, Allah akan
memudahkan pekerjan itu baginya dan akan terhindar dari berbagai kesukaran dan
kekeliruan.
6. Tenaga kesehatan Muslim harus cepat, cermat, teliti dan lincah :
a. Pekerjaan Tenaga kesehatan Muslim cukup ruwet dan sulit. Oleh karena itu
Tenaga kesehatan Muslim hendaklah senantiasa teliti dan berhati-hati dalam menunaikan
tugasnya.
b. Apabila menghadapi sesuatu persoalan yang meragukan atau kurang jelas maka
lebih baik ditanyakan lebih dahulu kepada orang yang lebih tahu (ahlinya). Sebab
pekerjaan yang dilakukan dengan ragu-ragu lebih besar kemungkinannya akan
menimbulkan bahaya.
7. Tenaga kesehatan Muslim harus tunduk, patuh dan disiplin :
a. Tenaga kesehatan Muslim harus patuh pada petunjuk atasannya baik lisan maupun
tulisan.
b. Tenaga kesehatan Muslim harus disiplin dalam menunaikan tugasnya agar bisa
terlaksana dengan tertib dan teratur.
c. Mematuhi dan melaksanakan petunjuk atasan tanpa membantah sekalipun kurang
menyenangkan, selama tidak menyalahi norma agama Islam, norma-norma kemanusiaan
maupun etika profesi dari tenaga kesehatan berbagai bidang ilmu.

8. Tenaga kesehatan Muslim harus selalu bersih dan menjaga kebersihan, rapih, baik
jasmani maupun rohani :
a. Rohani atau jiwa Tenaga kesehatan Muslim hendaknya selalu bersih dan suci dari
sifat-sifat : hasad (dengki), sentimen, takabbur (sombong) dan lain-lain sifat yang tidak
baik. Sebab hanya dari jiwa yang bersih dan sucilah akan memancarkan sifat-sifat yang
terpuji, sikap yang baik dan ucapan yang menyenangkan.
b. Tubuh dan pakaian Tenaga kesehatan Muslim harus selalu bersih, rapih,
sederhana dan tidak berlebihan dalam bermake up atau memakai perhiasan.
9. Tenaga kesehatan Muslim harus kuat menyimpan rahasia :
a. Penyakit itu adalah salah satu ‘aib (noda) bagi orang yang sakit. Ada beberapa
macam penyakit yang merupakan ‘aib, hal ini sangat dirahasiakan oleh pasien. Agama
Islam tidak membenarkan seseorang membuka ‘aib orang lain. Oleh sebab itu seorang
Tenaga kesehatan Muslim tidak boleh membuka ‘aib pasien kepada orang lain.
b. Orang yang suka mebicarakan ‘aib orang lain, Allah SWT. mengancamnya
dengan siksaan yang sangat pedih, baik di dunia maupun di akherat kelak.
10. Tenaga kesehatan Muslim harus bersifat jujur dan bertanggung jawab atas segala
tindakannya :
a. Berbahagialah orang yang dapat memelihara amanat dan menepati janjinya.
b. Tugas dan kewajiban yang dibebankan kepada Tenaga kesehatan Muslim adalah
amanat yang wajib dilaksanakan.
c. Jujur, dapat dipercaya, suka berterus terang, selalu menepati janji, adalah sifat
yang terpuji dan harus dimiliki oleh Tenaga kesehatan Muslim.

2. Pasien Non Muslim

Dalam islam kita di ajarkan cara beraklaq yang baik dengan sesama muslim maupun non
muslim, kita di anjurkan bersikap adil kepada siapapun dalam bidang kesehatan. Hendaknya
seorang perawat muslim tidak membeda-bedakan antara pesien muslim dan non muslim
hendaknya seorang perawat mampu bersikap adil terhadap pasien selama dalam batas-batas yang
di perbolehkan agama.

Dengan begitu hendaklah perawat tetap memberikan perhatian terhadap perkembangan


kesehatannya, merawatnya secara baik, bersikap lemah lembut terhadapnya, membantu
memenuhi kebutuhannya selama dibawah perawatan kita sebagai perawat, memberikannya
makanan jika memang dirinya tidak memiliki atau membutuhkan makanan, menutupi auratnya
jika tersingkap, melunakkan suara, menunjukkan keramahan terhadapnya, tidak ada salahnya
anda mengucapkan kepadanya,”semoga lekas sembuh”, sebagaimana disebutkan didalam shahih
Muslim tentang seorang sahabat yang meruqyah seorang kepala kampung—ada kemungkinan
kampung kafir atau kampung orang-orang bakhil, sebagaimana disebutkan Ibnul Qoyyim
didalam kitab “Madarij as Salikin—yang disengat oleh ular berbisa.

Namun hendaklah berbagai perbuatan baik yang dilakukan seorang perawat muslim terhadap
para pasien non muslim yang tidak memerangi kaum muslimin itu tetap dalam batas-batas yang
wajar, sehingga tidak tampak seperti mengagungkan mereka dan merendahkan dirinya sebagai
seorang muslim.

Itu semua juga merupakan sarana da’wah yang bisa anda gunakan untuk bisa melunakkan
kekerasan hatinya yang selama ini tertutupi oleh kekufuran dan jauh dari kebenaran. Dengan
begitu orang tadi akan merasakan keramahan dan kelembutan anda terhadap dirinya walau
berbeda agama dan pada akhirnya dia akan merasakan kenyamanan dengan anda. Anda pun bisa
memberikan sentuhan-sentuhan da’wah lainnya di saat-saat luang, seperti tentang keesaan Allah,
obat dari segala penyakit ada di tangan-Nya hingga menawarkan islam kepadanya, sebagaimana
yang diriwayatkan oleh Imam Bukhori dari Tsabit dari Anas bahwa seorang remaja Yahudi yang
biasa menmbantu Nabi saw—sakit dan Nabi saw mendatanginya—untuk menjenguknya lalu
beliau saw duduk di dekat kepalanya dan mengatakan kepadanya,”Masuk islamlah kamu.”
Kemudian remaja itu memandang kearah ayahnya yang ada di dekatnya dan ayahnya pun
berkata kepadanya,”Taatilah Abal Qosim—Muhammad—saw.” Lalu remaja itu pun masuk
islam. Nabi pun meninggalkannya dan bersabda,”Alhamdulillah yang telah menyelamatkannya
dari neraka.”

Adapun tentang mengucapkan salam kepada pasien non muslim maka dilarang bagi anda
mengawali salam kepadanya, berdasarkan sabda Rasulullah saw,”Janganlah kalian mengawali
salam kepada orang Yahudi dan Nasrani.” (HR. Muslim). Akan tetapi jika si pasien non muslim
itu mengawali salam kepada anda maka cukuplah anda menjawab dengan “wa alaikum”,
berdasarkan sabda Rasulullah saw,”Apabila seorang ahli kitab mengucapkan salam kepada kalian
maka jawablah,’Wa Alaikum.” (Muttafaq Alaih)

C. Sifat - Sifat Akhlak Islami Yang Wajib di Miliki di Dalam Bidang Keperawatan

Dalam hal ini dibagi menjadi 10 :

1. Berlaku Benar Sifat benar adalah akhlak islam yang diperintahkan Allah Swt
kepada seorang muslim. Allah SWT berfirman dalam (Surat At-Taubah 119) “Hai orang-
orang yang beriman bertakwalah kepadaAllah, dan hendaklah kamu bersama orang-orang
yang benar”. Bersabda rasulullah SAW : “Hendaklah kamu berlaku benar, karena sifat
benar akan membawa kepadakebaikan, dan sesungguhnya kebaikan itu akan
membimbing masuk surga, seseorang yang selalu berlakubenar, dan bersungguh-sungguh
untuk selalu benar, sampai ia dituliskan di sisi Allah sebagai Shiddiq(hamba yang sangat
benar)”.(HR. muslim).
2. Menunaikan amanah kepada ahlinya adalah akhlak islam yang diperintahkan
Allah kepada setiap muslim, sesuai dengan firman Allah SWT yang artinya :”
Sesungguhnya Allah menyuruh kamimenggembalikan semua amanah kepada yang
berhak menerimannya “ (QS. An-Nisaa : 53).
Nabi Muhammad SAW dahulu dikenal dikalangan kaumnya dengan gelar “al Amin”
(orang yang jujur). Oleh sebab itu mereka selalu mempercayakan harta mereka
kepadanya. Ketika Allah mengijinkan hijrah ke Madinah karena kerasnya intimidasi dari
orang-orang musyrikin terhadapnya dan kaum muslimin, beliau baru hijrah setelah
mengembalikan semua harta benda yang dititipkan kepada semua pemiliknya, padahal
mereka adalah orang-orang kafir. Walaupun demikian Islam tetap memerintahkan
mengembalikan semua amanah kepada pemiliknya.
3. Diantara akhlak Islam yang agung adalah menepati janji. Allah SWT berfirman
yang artinya “ Dan tepatilah janji, karena janji itu akan dimintai pertanggung
jawabannya.” (QS Al Asraa:34dan34). Dan Allah SWT berfirman juga yang artinya :
“Yaitu orng-orang yang mempati janji, dan mereka tiada menghianati perjanjian.”
Menyalahi janji adalah salah satu sifat orang munafik yang disebutkan Nabi Muhammad
SAW.
4. Tawadhu” (merendahkan diri). Diantara akhlaq islami yang mesti diperhatian oleh
seorang muslimah adalah sifat tawadhu.,kepada sesama muslim baik kaya atau miskin.
Allah Swt berfirman dalam (Surat Al-Hijr 88) : “Dan berendah dirilah kamu terhadap
orang-orang yang beriman”.Sabda Nabi saw.”Sesungguhnya Allah telah memahyukan
kepadaku; agar kamu merendahkandiri, sampai tidak ada seorangpun yang berlaku
sombonh dan angkuh terhadap yang lain.” (HR.Muslim).
5. Berbakti kepada Ibu Bapak adalah termasuk akhlak yang mulia, karena keduanya
memiliki hak yang sangat besar pada anak-anaknya, setelah hak Allah SWT. Allah
berfirman yang artinya : “Dan beribadahlah kepada Allah, Jangan menyekutukan-
Nyadengan sesuatu, dan berbuat baiklah kepada Ibu bapak”. (QS. An-Nisaa’ 36) Allah
Swt. Memerintahkan ta’at kepada keduanya, menyayangi, dan merendahkan diri serta
mendo’akan keduanya, Ia berfirman yang artinya : “Dan rendahkanlah dirimu terhadap
mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah: "Wahai Tuhanku, kasihilah
mereka keduanya,sebagaimana mereka berdua Telah mendidik Aku waktu kecil".Seorang
lelaki pernah datang kepada Nabi saw dan bertanya : “wahai Rasulullah,
siapakahmanusia yang paling berhak saya temani dengan baik?. Rasul menjawab :
“Ibumu”. “Lalu siapalagi?”. Nabi berkata : “Ibumu”. Laki-laki itu bertanya lagi :
“kemudian siapa?”. Nabi menjawab :“Ibumu”. Ia bertanya lagi : Kemudian siapa?”. Nabi
menjawab : “Kemudian Ayahmu”.Berbakti dan berbuat baik kepada Ibu Bapak adalah
fardu ‘ain menurut kesepakatan kaummuslimin, bukan sekedar pelengkap yang bersifat
anjuran semata.
6. Menyambung Silaturahmi. Di antara akhlak islami yang diwajibkan adalah
menghubungkan silaturahmi, sebab memutuskannya dapat menyebabkan pelakunya
dilaknat dan terhalang masuk surga.. Yang dimaksud dengan keluarga (Arham) di sini
adalah karib kerabat seperti : Paman, Bibi (saudaraperempuan ayah atau ibu) dan lain-
lain. Allah berfirman yang artinya : “ Maka apakah kiranya jika kamu berkuasa kamu
akan membuat kerusakan di muka bumi dan memutuskan hubungan kekeluargaan?
Mereka Itulah orang-orang yang dila'nati Allah dan ditulikan-Nya telinga merekadan
dibutakan-Nya penglihatan mereka”. (QS. Muhammad : 22-23).Rasulullah Saw.
Bersabda : “Tiada akan masuk surga orang yang memutuskan hubungankekeluargaan”.
(Mutatafaq’alaihi).
7. Di antara akhlak islam juga berlaku baik kepada Orang Lain. Yang paling berhak
mendapatkan kebaikan dan penghargaan adalah yang paling dekat kepadamu. Allah Swt
berfirman yang artinya : “Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya
dengan sesuatupun. dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu-bapa, karib-kerabat, anak-
anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh ” (QS.An-
Nisaa’ 36) Nabi Saw.bersabda : ”Jibril selalu memesankan tetangga kepadaku sehingga
saya menduga bahwatetangga akan dijadikannya ahli waris” (Mutatafaq’alaihi). Dan
Nabi saw pernah berkata kepada Abu Zarr ra. : ”Wahai Abu Zarr, bila enkau memasak
maraq(gulai) maka banyakkan kuanya, dan tolong perhatikan tetangga-tetanggamu”.
(HR. Muslim) Seseorang tetap punya hak kedekatannya dengan kita sekalipun dia orang
kafir.
8. Memuliakan tamu adalah akhlak yang dianjurkan Islam berdasarkan sabda
Rasulullah Saw. : “Siapa yang beriman kepada Allah dan hari Akherat hendaklah
memuliakan tamunya ”.(Mutatafaq’alaihi).
9. Salah satu akhlak Islam adalah Pemurah dan Dermawan. Allah telah memuji
orang yang suka berinfaq lagi pemurah dan dermawan dalam firman-Nya : “Orang-orang
yang menafkahkanhartanya di jalan Allah, Kemudian mereka tidak mengiringi apa yang
dinafkahkannya itu denganmenyebut-nyebut pemberiannya dan dengan tidak menyakiti
(perasaan si penerima), merekamemperoleh pahala di sisi Tuhan mereka. tidak ada
kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.” (QS Al Baqarah:
262). Nabi Saw Bersabda : “Barang siapa yang memiliki kelebihan kendaraan, hendaklah
ia berikankepada yang tidak punya kendaraan, dan siapa yang memiliki kelebihan bekal
hendaklah iakembalikan kepada yang tidak memeiliki bekal”. (HR. Muslim).
10. Di antara akhlak Islami adalah sifat penyantun, penyabar, pemaaf dan merelakan
kesalahan orang lain serta mau menerima permohonan maaf orang yang mengakui
kesalahannya. Allah Swt berfirman yang artinya : “Tetapi orang yang bersabar dan
mema'afkan, Sesungguhnya (perbuatan )yang demikian itu termasuk hal-hal yang
diutamakan.” (QS. Asy Syuuraa : 43) Dan firman-Nya pula : “.... Dan hendaklah mereka
mema'afkan dan berlapang dada. apakah kamutidak ingin bahwa Allah
mengampunimu?.” Nabi Muhammad saw Bersabda : “Sedekah tiada akan mengurangi
harta, Allah tiada menambah seorang hamba pemaaf kecuali kemuliaan, tiada seorangpun
yang merendahkan diri karena Allah,melainkan Ia tinggikan derajatnya”. (HR.
Muslim) .Dan beliau bersabda pula : “Kasihinilah niscaya kamu dikasihi, dan
ampunkanlah niscaya kamudiampuni”. (HR. Ahmad).

4. NILAI-NILAI ESENSIAL

A. Pengertian

Nilai (values) adalah suatu keyakinan seseorang tentang penghargaan terhadap suatu standar
atau pegangan yang mengarah pada sikap/perilaku seseorang. Nilai menggambarkan cita-cita dan
harapan- harapan ideal dalam praktik keperawatan. Sistem nilai dalam suatu organisasi adalah
rentang nilai-nilai yang dianggap penting dan sering diartikan sebagai perilaku personal.

B. Nilai-Nilai Esensial
Pada tahun 1985, “The American Association Colleges of Nursing” melaksanakan suatu
proyek termasuk didalamnya mengidentifikasi nilai-nilai esensial dalam praktek keperawatan
profesional. Perkumpulan ini mengidentifikasikan 7 nilai-nilai esensial dalam kehidupan
profesional, yaitu:
1. Aesthetics (keindahan): Kualitas obyek suatu peristiwa atau kejadian, seseorang
memberikan kepuasan termasuk penghargaan, kreatifitas, imajinasi, sensitifitas dan
kepedulian. Estetika secara sederhana adalah ilmu yang membahas keindahan, bagaimana
ia bisa terbentuk, dan bagaimana seseorang bisa merasakannya. Pembahasan lebih lanjut
mengenai estetika adalah sebuah filosofi yang mempelajari nilai-nilai sensoris, yang
kadang dianggap sebagai penilaian terhadap sentimen dan rasa. Keperawatan sebagai
salah satu konsep ilmu pelayanan jasa diharapkan mempunyai standar estetika dalam
pelayanannya. Konsep nilai estetika mungkin berada dalam ranah aktualisasi diri dalam
penerapannya. (Moslow). jadi dengan kata lain, untuk menerapkan konsep estetika dalam
keperawatan, dibutuhkan seseorang yang sudah mempunyai pemikiran dan kualitas
sebagai orang yang sudah dalam tahapan aktualisasi diri.
2. Altruism (mengutamakan orang lain): Kesediaan memperhatikan kesejahteraan
orang lain termasuk keperawatan, komitmen, arahan, kedermawanan atau kemurahan hati
serta ketekunan.
3. Equality (kesetaraan) : Memiliki hak atau status yang sama termasuk penerimaan
dengan sikap asertif, kejujuran, harga diri dan toleransI.
4. Freedom (Kebebasan ) : memiliki kapasitas untuk memilih kegiatan termasuk
percaya diri, harapan, disiplin serta kebebasan dalam pengarahan diri sendiri.
5. Human dignity (Martabat manusia) : Berhubungan dengan penghargaan yang
lekat terhadap martabat manusia sebagai individu termasuk didalamnya kemanusiaan,
kebaikan, pertimbangan dan penghargaan penuh terhadap kepercayaan.
6. Justice (Keadilan) : Menjunjung tinggi moral dan prinsip-prinsip legal termasuk
objektifitas, moralitas, integritas, dorongan dan keadilan serta kewajaran.
7. Truth (Kebenaran) : Menerima kenyataan dan realita, termasuk akontabilitas,
kejujuran, keunikan dan reflektifitas yang rasional.
C. Pengembangan Dan Transmisi Nilai-Nilai

Individu tidak lahir dengan membawa nilai-nilai (values). Nilai-nilai ini diperoleh dan
berkembang melalui informasi, lingkungan keluarga, serta budaya sepanjang perjalanan
hidupnya. Mereka belajar dari keseharian dan menentukan tentang nilai-nilai mana yang benar
dan mana yang salah. Untuk memahami perbedaan nilai-nilai kehidupan ini sangat tergantung
pada situasi dan kondisi dimana mereka tumbuh dan berkembang. Nilai-nilai tersebut diambil
dengan berbagai cara antara lain:
1. Model atau contoh, dimana individu belajar tentang nilai-nilai yang baik atau
buruk melalui observasi perilaku keluarga, sahabat, teman sejawat dan masyarakat
lingkungannya dimana dia bergaul.
2. Moralitas diperoleh dari keluarga, ajaran agama, sekolah, dan institusi tempatnya
bekerja dan memberikan ruang dan waktu atau kesempatan kepada individu untuk
mempertimbangkan nilai-nilai yang berbeda.
3. Sesuka hati adalah proses dimana adaptasi nilai-nilai ini kurang terarah dan sangat
tergantung kepada nilai-nilai yang ada di dalam diri seseorang dan memilih serta
mengembangkan sistem nilai-nilai tersebut menurut kemauan mereka sendiri. Hal ini
lebih sering disebabkan karena kurangnya pendekatan, atau tidak adanya bimbingan atau
pembinaan sehingga dapat menimbulkan kebingungan, dan konflik internal bagi individu
tersebut.
4. Penghargaan dan Sanksi; Perlakuan yang biasa diterima seperti: mendapatkan
penghargaan bila menunjukkan perilaku yang baik, dan sebaliknya akan mendapat sanksi
atau hukuman bila menunjukkan perilaku yang tidak baik.

5. Tanggung jawab untuk memilih; adanya dorongan internal untuk menggali nilai-
nilai tertentu dan mempertimbangkan konsekuensinya untuk diadaptasi. Disamping itu,
adanya dukungan dan bimbingan dari seseorang yang akan menyempurnakan
perkembangan sistem nilai dirinya sendiri.