Anda di halaman 1dari 28

SOAL MID TEST – S2 URINDO (KLS JAKARTA)

Pada saat ini perkembangan industri perumahsakitan sangat pesat sehingga


mendorong investor dari luat negeri. Seorang pengusaha ingin membuka bisnis
dibidang perumahsakitan akan tetapi dia belum mengetahui syarat, prosedur serta
teknis mendirikan RS dan menyelenggarakannya. Perusahaan yang dipimpinnya
berencana akan mendirikan Rumah Sakit dengan jumlah tempat tidur 400tt di sebuah
Kota dengan jumlah penduduk 10 juta jiwa, dengan kerjasama dengan perusahaan
swasta.

Di Kota tersebut ada Rumah Sakit Pemerintah kelas A, RS Yayasan 5 RS dan RS


Swasta ada 10 RS rata-rata adalah kelas B dan C, dengan 48 Puskesmas namun
karena tingkat pendapatan kota meningkat dan ramai kunjungan pariwisata.
Perusahaan dimaksud berkeinginan mendirikan Rumah Sakit swasta kelas B dengan
11 spesialisasi dasar ditambah dengan keunggulan pelayanan jantung terpadu
karena tingkat kasus tersebut banyak terjadi.

Permasalahan yang dihadapi perusahaan tadi adalah bagaimana prosedurnya


mendirikan dan menyelenggarakan rumah sakit, berapa biaya yang dibutuhkan,
sarana prasarana serta alat apa yang dibutuhkan dan tenaga yang diperlukan.
Selain daripada itu dalam penyelenggaraan RS diperlukanadanya standar-standar
seperti Standar Pelayanan dan SOP/SPO.
Untuk itu meminta bantuan saudara sebagai Lulusan MARS yang dianggap sebagai
konsultan dalam bidang Perumahsakitan dengan imbalan yang dapat disepakati
bersama.

Pertanyaan
1. Sebagai konsultan tentunya saudara dapat memberikan pertimbangan-
pertimbangan pada perusahaan tersebut untuk mendirikan dan
menyelenggarakan Rumah Sakit. Uraikan alasan Saudara, apakah masih
mungkin mendirikan Rumah Sakit. Jelaskan.
2. Uraikan prosedur mendirikan sebuah Rumah Sakit beserta dengan mekanisme
melaksanakannya lengkap dengan aturan yang berkaitan dalam hal itu.
3. Dalam pendirian Rumah Sakit diperlukan studi kelayakaan (feasibility study),
dengan membuat pertimbangan berdasarkan peraturan yang berlaku, antara
lain:
a. Analisis kebutuhan pelayanan (program fungsi)
b. Analisis kebutuhan SDM (kompetensi masing-masing)
c. Analisis kebutuhan Sarana, Prasarana dan Alat (SPA)
d. Analisis kebutuhan biaya
Coba saudara buatkan Study Kelayakan sesuai pengetahuan Saudara.
4. Jelaskan pula standar-standar apa yang diperlukan termasuk kebijakan,
pedoman dan berapa SOP/SPO yang dibutuhkan dalam penyelenggaraan RS
tersebut. Uraikan secara lengkap.

CATATAN:
DIKERJAKAN MASING-MASING, DIKUMPULKAN 2 (DUA) MINGGU MENDATANG
DIKIRIM MELALUI EMAIL: fresleyhutapea@yahoo.com
JAWABAN :

1. Dari jumlah RS yang ada di tempat tersebut sebanyak 1 RS Pemerintah tipe A


400 TT, 15 RS swasta 15 x 200 TT = 3000 TT ( type B dan C ) jadi total ada
sekitar 3400 Tempat Tidur.
Menurut standar WHO, ratio ideal jumlah tempat tidur rumah sakit terhadap
jumlah penduduk adalah 1 tempat tidur untuk 1000 orang ( 1 : 1000 ). Sehingga
dengan jumlah penduduk 10 juta jiwa diperlukan 10.000 tempat tidur. Kondisi
saat ini baru ada 3400 tempat tidur berarti di daerah tersebut baru memenuhi
34% nya dari tempat tidur yang dibutuhkan. Sehingga layak untuk mendirikan
RS lagi untuk menambah kekurangan TT tersebut. Ditambah lagi dengan adanya
peningkatan pendapatan kota dan ramai kunjungan pariwisata.

Pertimbangan-pertimbangan yang diberikan pada perusahaan tersebut untuk


mendirikan dan menyelenggarakan Rumah Sakit adalah terlebih dahulu
diperlukan perhitungan sebagai berikut :
1. Aspek input terutama menyangkut segmen pasar meliputi apakah segmen
menengah ke bawah, medium, atau menengah ke atas, karena hal ini akan
berpengaruh terhadap pembiayaan, fasilitas dan kebutuhan sumber daya lain
yang perlu dipertimbangkan apakah supply dan demand tentang keberadaan
pelayanan Rumah Sakit sesuai kondisi masyarakat.
2. Aspek Manfaat
Pendirian Rumah Sakit ini akan ada nilai tambah sosial kemasyarakatan
dimana taraf hidup dan pelayanan kesehatan meningkat, dan mempermudah
akses ke pelayanan Rumah Sakit, selain daripada itu keberadaan rumah
sakit menimbulkan efek multiplier bagi ekonomi rakyat sekitar akan
meningkat, terutama penyerapan kebutuhan SDM, dan supply kebutuhan
internal.
3. Mekanisme pendirian harus mempertimbangkan tingkat persaingan bisnis
rumah sakit disekitar apakah masih mungkin sehingga investasi bisa
maksimal, selain daripada itu diperlukan aspek legalitas tanah dan bangunan
serta masalah perizinan, dimana secara legal daerah tersebut diizinkan untuk
membangun rumah sakit dan tidak bermasalah secara hukum nantinya. Juga
menyangkut aspek financial, baik dalam biaya pembangunan, biaya
operasional sampai dengan investasi. Serta aspek SDM, alat, sarana dan
prasarana mulai dari perencanaan, perekrutan, pelatihan dan sebagainya.
2. Prosedur atau tahapan untuk mendirikan rumah sakit adalah:

Tahap 1. Ide atau konsep


Pemilik mempunyai keinginan untuk mendirikan suatu rumah sakit dengan
maksud dan tujuan yang telah ditentukan sebelumnya, dengan demikian visi dan
misi dari rumah sakit tersebut secara umum harus sudah ada terlebih dahulu
untuk dilanjutkan kedalam bentuk studi, apakah keinginan tersebut layak atau
tidak.

Tahap 2. Studi Kelayakan


Keinginan pemilik ditindak lanjuti bersama dengan end user dan planners untuk
dituangkan dalam bentuk studi, disebut dengan Studi Kelayakan (Feasibility
Study) yang ditinjau dari berbagai aspek seperti kependudukan, sosial ekonomi,
morbiditas dan mortalitas, fasilitas pelayanan, serta seberapa besar biaya
investasi yang dibutuhkan, apakah investasi tersebut layak atau tidak.

Tahap 3a. Rencana Operasional


Mengacu dari hasil studi kelayakan, Organisasi/Operator bersama dengan end
user serta planners menyusun rencana operasional rumah sakit yang biasanya
dibuat untuk kurun waktu 5 tahun, yang mencakup peralatan medik dan non
medik, SDM, keuangan, dan strategi pencapaian.

Tahap 3b. Master Plan dan Detail Desain


Bersamaan dengan rencana operasional, dibuat Master Plan fisik dan Detail
Desain dari rumah sakit, pada tahapan ini team yang terlibat juga adalah
organisasi/operator, end user dan arsitek serta ahli teknik lainnya yang berkaitan
dengan pelaksanaan pembangunan fisik rumah sakit.

Tahap 4a. Pra-Operasional


Pada tahap ini merupakan tindak lanjut dari persiapan operasional rumah sakit
yang telah dibuat bersama oleh organisasi/operator, end user dan planners
dalam hal sistem dan prosedur serta persiapan sumber daya manusia (SDM),
berupa rekrutmen, diklat, dan lain-lain.

Tahap 4b. Konstruksi Fisik


Pada tahap pembangunan fisik oleh kontraktor dan masa pemeliharaan ini
berkaitan erat dengan kegiatan pra-operasi, karena pada waktu selesainya
konstruksi bangunan akan diadakan serah terima bangunan ke pemilik yang
diwakili oleh organisasi/operator untuk digunakan dalam pelaksanaan
kegiatannya.

Tahap 5. Pembukaan dan Peresmian


Merupakan tahap akhir dari keseluruhan proses pembangunan rumah sakit
untuk diteruskan dalam kegiatan layanan kesehatan sesuai dengan maksud dan
tujuan awal pendirian rumah sakit yang akan dijalankan oleh
Organisasi/Operator pelayanan kesehatan dalam hal ini adalah pengelola rumah
sakit.

Sedangkan dalam hal aspek legal dan perizinan, kegiatan pendirian dan
penyelenggaraan rumah sakit harus mengikuti prosedur perizinan yang
ditetapkan oleh Pemerintah. Prosedur perizinan ini berdasarkan Undang-Undang
Republik Indonesia Nomor 44 tahun 2009 tentang Rumah Sakit serta Peraturan
Menteri Kesehatan yaitu Permenkes No. 147/Menkes/Per/I/2010 tentang
Perizinan Rumah Sakit.
a. Langkah pertama yang dipersiapkan dalam mendirikan rumah sakit adalah izin
mendirikan Rumah Sakit dan izin operasional Rumah Sakit. Izin opersional
rumah sakit terdiri dari izin operasional sementara dan izin operasional tetap.
Permohonan izin mendirikan dan izin operasional Rumah Sakit diajukan menurut
jenis dan klasifikasi Rumah Sakit. Rumah sakit yang baru akan dibangun ini
adalah rumah sakit tipe B, maka izin mendirikan dan izin operasional Rumah
Sakit kelas B diberikan oleh Pemerintah Daerah Provinsi setelah mendapatkan
rekomendasi dari pejabat yang berwenang di bidang kesehatan pada
Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota.

b. Untuk memperoleh izin mendirikan, Rumah Sakit harus memenuhi persyaratan


yang meliputi :
- studi kelayakan;
- master plan;
- status kepemilikan;
- rekomendasi izin mendirikan;
- izin undang-undang gangguan (HO);
- persyaratan pengolahan limbah;
- luas tanah dan sertifikatnya;
- penamaan;
- Izin Mendirikan Bangunan (IMB);
- Izin Penggunaan Bangunan (IPB); dan
- Surat Izin Tempat Usaha (SITU).
Adapun penjelasan dari uraian diatas adalah sebagai berikut :
I. Studi Kelayakan Rumah Sakit pada dasarnya adalah suatu awal kegiatan
perencanaan rumah sakit secara fisik dan non fisik yang berisi tentang:
i. Kajian kebutuhan pelayanan rumah sakit, meliputi:
- Demografi, yang mempertimbangkan luas wilayah dan kepadatan
penduduk, serta karakteristik penduduk yang meliputi umur, jenis
kelamin dan status perkawinan);
- Sosio-ekonomi, yang mempertimbangkan kultur/kebudayaan, tingkat
pendidikan, angkatan kerja, lapangan pekerjaan, pendapatan domestik
rata-rata bruto;
- Morbiditas dan mortalitas, yang mempertimbangkan 10 penyakit utama
(Rumah Sakit, Puskesmas, Rawat jalan, Rawat inap), angka kematian
(GDR, NDR), angka persalinan, dan seterusnya;
- Sarana dan prasarana kesehatan yang mempertimbangkan jumlah,
jenis dan kinerja layanan kesehatan , jumlah spesialisasi dan kualifikasi
tenaga kesehatan, jumlah dan jenis layanan penunjang (canggih,
sederhana dan seterusnya);
- Peraturan perundang-undangan yang mempertimbangkan kebijakan
pengembangan wilayah pembangunan sektor non kesehatan, kebijakan
sektor kesehatan dan perumah sakitan.
ii. Kajian kebutuhan sarana/fasilitas dan peralatan medik/non medik, dana
dan tenaga yang dibutuhkan untuk layanan yang akan diberikan, meliputi:
- Sarana dan fasilitas fisik yang mempertimbangkan rencana cakupan,
jenis layanan dan fasilitas lain dengan mengacu dari kajian kebutuhan
dan permintaan (program fungsi dan pogram ruang);
- Peralatan medik dan non medik yang mempertimbangkan perkiraan
peralatan yang akan digunakan dalam kegiatan layanan;
- Tenaga / sumber daya manusia yang mempertimbangkan perkiraan
kebutuhan tenaga dan kualifikasi; dan
- Pendanaan yang mempertimbangkan perkiraan kebutuhan dana
investasi.
1. Kajian kemampuan pembiayaan yang meliputi:
- Prakiraan pendapatan yang mempertimbangkan proyeksi pendapatan
yang mengacu dari perkiraan jumlah kunjungan dan pengisian tempat
tidur;
- Prakiraan biaya yang mempertimbangkan proyeksi biaya tetap dan
biaya tidak tetap dengan mengacu pada perkiraan sumber daya
manusia;
- Proyeksi Arus Kas (5 -10 tahun);dan
- Proyeksi Laba/Rugi (5 – 10 tahun).
II. Master plan adalah strategi pengembangan aset untuk sekurang-kurangnya
sepuluh tahun kedepan dalam pemberian pelayanan kesehatan secara
optimal yang meliputi identifikasi proyek perencanaan, demografis, tren masa
depan, fasilitas yang ada, modal dan pembiayaan.
III. Status kepemilikan.
Rumah Sakit dalam hal ini didirikan swasta harus berbentuk badan hukum
yang kegiatan usahanya hanya bergerak di bidang perumahsakitan
IV. Persyaratan pengolahan limbah meliputi Upaya Kesehatan Lingkungan
(UKL), Upaya Pemantauan Lingkungan (UPL) dan atau Analisis Dampak
Lingkungan (AMDAL) yang dilaksanakan sesuai jenis dan klasifikasi Rumah
Sakit sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.
V. Luas tanah untuk Rumah Sakit dengan bangunan tidak bertingkat, minimal
1½ (satu setengah) kali luas bangunan dan untuk bangunan bertingkat
minimal 2 (dua) kali luas bangunan lantai dasar. Luas tanah dibuktikan
dengan akta kepemilikan tanah yang sah sesuai ketentuan peraturan
perundang-undangan.
VI. Penamaan Rumah Sakit :
- harus menggunakan bahasa Indonesia, dan
- tidak boleh menambahkan kata ”internasional”, ”kelas dunia”, ”world
class”, ”global” dan/atau kata lain yang dapat menimbulkan penafsiran
yang menyesatkan bagi masyarakat.
IX. Memiliki Izin undang-undang gangguan (HO), Izin Mendirikan Bangunan
(IMB), Izin Penggunaan Bangunan (IPB) dan Surat Izin Tempat Usaha
(SITU) yang dikeluarkan oleh instansi berwenang sesuai ketentuan yang
berlaku. Rumah Sakit harus mulai dibangun setelah mendapatkan izin
mendirikan. Izin mendirikan diberikan untuk jangka waktu 2 (dua) tahun
dan dapat diperpanjang untuk 1 (satu) tahun. Pemohon yang telah
memperoleh izin mendirikan Rumah Sakit, apabila dalam jangka waktu 3
tahun belum atau tidak melakukan pembangunan Rumah Sakit, maka
pemohon harus mengajukan izin baru sesuai ketentuan izin mendirikan
sebagaimana yang telah dipaparkan diatas.

c. Untuk mendapatkan izin operasional, Rumah Sakit harus memenuhi persyaratan


yang meliputi:
i. Memiliki izin mendirikan.
ii. Sarana prasarana. Tersedia dan berfungsinya sarana dan prasarana pada
rawat jalan, rawat inap, gawat darurat, operasi/bedah, tenaga kesehatan,
radiologi, ruang laboratorium, ruang sterilisasi, ruang farmasi, ruang
pendidikan dan latihan, ruang kantor dan administrasi, ruang ibadah, ruang
tunggu, ruang penyuluhan kesehatan masyarakat rumah sakit; ruang
menyusui, ruang mekanik, ruang dapur, laundry, kamar jenazah, taman,
pengolahan sampah, dan pelataran parkir yang mencukupi sesuai dengan
jenis dan klasifikasinya.
iii. Peralatan,
1. Tersedia dan berfungsinya peralatan/perlengkapan medik dan non medik
untuk penyelenggaraan pelayanan yang memenuhi standar pelayanan,
persyaratan mutu, keamanan, keselamatan dan laik pakai sesuai dengan
jenis dan klasifikasinya.
2. Memiliki izin pemanfaatan dari instansi berwenang sesuai ketentuan yang
berlaku untuk peralatan tertentu, misalnya; penggunaan peralatan radiologi
harus mendapatkan izin dari Bapeten.
3. Sumber daya manusia, Tersedianya tenaga medis, dan keperawatan yang
purna waktu, tenaga kesehatan lain dan tenaga non kesehatan telah
terpenuhi sesuai dengan jumlah, jenis dan klasifikasinya.
4. Administrasi manajemen
- Memiliki organisasi paling sedikit terdiri atas Kepala Rumah Sakit atau
Direktur Rumah Sakit,unsur pelayanan medis, unsur keperawatan,
unsur penunjang medis, komite medis, satuan pemeriksaan internal,
serta administrasi umum dan keuangan.
- Kepala Rumah Sakit harus seorang tenaga medis yang mempunyai
kemampuan dan keahlian di bidang perumahsakitan.
- Tenaga struktural yang menduduki jabatan sebagai pimpinan harus
berkewarganegaraan Indonesia.
- Pemilik Rumah Sakit tidak boleh merangkap menjadi kepala Rumah
Sakit.
5. Membuat daftar tenaga medis yang melakukan praktik kedokteran atau
kedokteran gigi dan tenaga kesehatan lainnya.
6. Memiliki dan menyusun dan melaksanakan peraturan internal Rumah Sakit
(hospital by laws dan medical staf by laws).
7. Memilik standar prosedur operasional pelayanan Rumah Sakit.

d. Izin operasional sementara diberikan kepada Rumah Sakit yang belum dapat
memenuhi seluruh persyaratan yang telah dipaparkan diatas. Izin operasional
sementara diberikan untuk jangka waktu 1 (satu) tahun. Rumah Sakit yang telah
memiliki izin operasional sementara harus mengajukan surat permohonan
penetapan kelas Rumah Sakit kepada Menteri Kesehatan dengan melampirkan :
 Rekomendasi dari Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota dan Dinas Kesehatan
Provinsi;
 Profil dan data Rumah Sakit; dan
 Isian Instrument Self Assessment penetapan kelas.

e. Rumah sakit yang telah memiliki izin operasional sementara dan telah
mendapatkan penetapan kelas Rumah Sakit diberikan izin operasional tetap. Izin
operasional tetap berlaku untuk jangka waktu 5 (lima) tahun dan dapat
diperpanjang kembali selama memenuhi persyaratan. Setiap Rumah Sakit yang
telah mendapakan izin operasional harus diregistrasi dan diakreditasi.

Secara garis besar prosedur atau tahapan pendirian RS sebagai berikut :

Tahap 1 Tahap 2 Tahap 3 Tahap 4 Tahap 5

Rencana Pra
Operasional Operasional
Idea/
Konsep  Menetapkan
Kebijakan
 Penyusunan SOP
manajemen (SDM,
Operasional RS. Keuangan, Logistik
Set Up Organisasi  Rencana Kerja dan dll).
rencana usaha RS.  Pengadaan
Menentukan Visi & Misi  Penyusunan & Peralatan.
Penetapan  Seleksi & Pelatihan
Peralatan.  Uji Coba & Evaluasi Soft Opening
SOP.
Studi  Pemasaran
Kelayakan

 Kajian terhadap
kebutuhan akan layanan Master Plan &
rumah sakit.
 Kajian terhadap Detail Design Konstruksi
kebutuhan sarana/ Engineering
fasilitas dan peralatan
medik/non medik, dana
dan tenaga yang
dibutuhkan.  Pra - Rancangan  Pembangunan Ijin Operasional
 Kajian terhadap Arsitektur Gedung(Mob/ Sementara
kemampuan pembiayaan  Rancangan Detail Demob, Pek Pondasi,
(Arsitektur, Struktur, Sipil, Mekanikal/
Elektrikal dan Elektrikal, Arsitektur)
Mekanikal)  Instalasi Peralatan
 Spesifikasi Medik & Non Medik
Bangunan(Arsitektur  Uji Coba
, Struktur, Elektrikal
dan Mekanikal) Grand
 Pelelangan & Opening
Pengawasan Berkala

Studi Amdal Ijin Bangunan


 Kepemilikan Tanah Ijin Operasional
 Studi Kelayakan Tetap (Setelah 2 thn)
Ijin Prinsip  Amdal
 Gambar Pra-Rencana
3. Studi Kelayakan
BAB I
PENDAHULUAN

1. LATAR BELAKANG
Perubahan yang cukup signifikan telah terjadi di berbagai sektor kehidupan
masyarakat Indonesia pada dekade ini. Sistem pemerintahan misalnya, telah bergeser
dari sentralistik menjadi desentralisasi dan otonomi daerah yang terletak di
kabupaten/kota. Kondisi ekonomi memaksa setiap organisasi lokal untuk meningkatkan
kualitas produk dan efisiensinya sehingga dapat meningkatkan daya saing agar dapat
mengimbangi banyaknya organisasi bisnis asing yang masuk ke Indonesia.
Berbagai usaha juga telah dilakukan oleh pemerintah untuk meningkatkan peran
serta masyarakat dalam upaya bangkit dari keterpurukan akibat krisis multi dimensi
yang melanda sejak tahun 1997. Berbagai aktivitas perekonomian tersebut secara
bertahap akan menyebabkan terjadinya peningkatkan mobilitas penduduk ke daerah-
daerah yang prospektif untuk meningkatkan pendapatan mereka, baik sebagai
pembawa dana (investor), pengusaha maupun pekerja. Melalui aktivitas tersebut
diharapkan akan muncul pemukiman-pemukiman baru dan kluster-kluster masyarakat
berbasis pekerjaan. Konsekuensi lebih jauh dari hal tersebut adalah meningkatnya
kebutuhan akan fasilitas penunjang, misalnya pendidikan dan kesehatan.
Pengembangan pelayanan kesehatan sangat terkait dan dipengaruhi oleh berbagai
aspek baik demografi, pertumbuhan ekonomi, tingkat pendidikan, sertaperkembangan
lingkungan fisik dan biologi khususnya epidemiologi penyakit. Dari sisi demografi, saat
ini kecenderungan yang tampak adalah bergesernya piramida penduduk dari muda ke
dewasa dan tua. Ini menunjukkan bahwa angka kelahiran semakin menurun dan angka
harapan hidup yang semakin meningkat. Sementara itu, gaya hidup masyarakat
cenderung makin konsumtif. Meskipun krisis multi dimensi menyebabkan keterpurukan
ekonomi masyarakat, disisi lain cukup banyak kelompok masyarakat berpenghasilan
tinggi dan dapat meneruskan pola hidup konsumtif. Dengan gaya hidup tidak seimbang,
akibatnya, dari segi epidemiologi juga telah terjadi pergeseran pola penyakit. Meskipun
angka kejadian infektus sebagai tipikal penyakit di negara tropis masih tinggi, namun
kini sudah banyak masyarakat yang menderita penyakit-penyakit tipikal negara industri-
industri dan maju. Pergeseran ini tentunya akan sangat berpengaruh pada penyediaan
fasilitas pelayanan kesehatan, teknologi kedokteran yang harus dikuasai/disediakan
dan kecukupan tenaga kesehatan terlatih. Pada aspek lain, untuk faktor mutu dan
manajemen pelayanan kesehatan khususnya Rumahsakit turut memegang peran
penting dalam penyediaan layanan kesehatan yang berkualitas. Salah satu fasilitas
pelayanan kesehatan yang sangat dibutuhkan oleh masyarakat adalah rumah sakit. Ini
terlihat dari makin meningkatnya utilitasi fasilitas di Rumahsakit dari tahun ke tahun.
2. MAKSUD DAN TUJUAN
Maksud dan tujuan dari penyusunan studi kelayakan ini adalah:
a. Menetapkan misi dan tujuan rumah sakit
b. Menggambarkan pelayanan kesehatan di wilayah x, dan rencana
pendirian rumah sakit di wilayah tersebut sesuai kondisi masyarakat.
c. Studi kelayakan yang disusun akan dievaluasi dan dianalisa untuk
diputuskan apakah layak atau tidak dengan memperhatikan berbagai
aspek sebagai bahan pertimbangan seperti:
 Aspek sosial ekonomi
 Aspek kesehatan
 Aspek Teknis
 Aspek pemasaran
 Aspek pengorganisasian
 Aspek keuangan
d. Secara khusus menyusun analisa keuangan bagi PT ( Pemilik ) yang
berkaitan dengan rencana pembangunan rumah sakit baru ini.
BAB II
GAMBARAN UMUM EKSTERNAL

2. 1. Kondisi Geografis
Kabupaten/ Kota X adalah daerah yang terletak di....., tepatnya ada posisi
geografis....Lintang Selatan dan .....Bujur Timur dan berbatasaan dengan :
 Sebelah Utara :
 Sebelah Barat :
 Sebelah Timur :
 Senbelah Selatan :

2. 2. Keadaan Demografi
 Luas wilayah, Kepadatan
memiliki luas wilayah .... Km2. Kecamatan yang terluas adalah Kecamatan A
(..... km2). Sedangkan kecamatan yang terkecil adalah kecamatan B (....
km2). Penduduk yang menghuni wilayah ini sekitar 2 juta jiwa (2012).

Tabel 1
Luas wilayah kecamatan,
jumlah kelurahan jumlah RW dan RT di wilayah Kecamatan

Luas Wilayah Jumlah Jumlah


Kecamatan Jumlah RT
(Km2) Kelurahan RW

 Analisis Penduduk
Sumber data kependudukan yang digunakan ada dua yaitu : Registrasi
penduduk dan survey kependudukan, seperti Susenas, Sensus Penduduk,
Supas dan lain-lain. Registrasi penduduk hanya mencatat penduduk yang
secara resmi tercatat sebagai penduduk di wilayah kelurahan, sedangkan
Survey Kependudukan mencatat semua penduduk yang ada di suatu wilayah
kelurahan yang telah tinggal selama enam bulan atau lebih atau yang tinggal
kurang dari enam bulan tetapi berencana tinggal lebih dari enam bulan.

 Pertumbuhan Penduduk
 tingkat kelahiran yang terus meningkat maka tampak dari tingkat
kepadatan penduduk yang juga terus meningkat di tahun 2011 ....
pddk/km2 dibanding tahun 2007, ..... pddk/ km2.
 Jumlah penduduk Kota pada tahun 2012 sebanyak 2 juta jiwa, dengan
jumlah penduduk laki-laki sebanyak .... jiwa dan perempuan sebanyak
..... jiwa. Laju pertumbuhan penduduk Kota berdasarkan data dari BPS
dan Susenas 2007 -2011 adalah = ........ Penduduk terbanyak terdapat
di Kecamatan A, yaitu sebanyak ..... jiwa dan penduduk paling sedikit
terdapat di Kecamatan D, yaitu sebanyak ..... jiwa. Komposisi jenis
kelamin penduduk di Kota, lebih dominan penduduk perempuan
dibanding dengan penduduk laki-laki.
Tabel 2
Luas wilayah, jumlah penduduk dan kepadatan penduduk wilayah Kota
Luas Wilayah Jumlah
Kecamatan Jumlah RW Jumlah RT
(Km2) Kelurahan

2.3 Morbiditas & Mortalitas


 Pola Penyakit Bayi ( 0 - 1 tahun) yang berobat jalan ke Puskesmas di
Kota th 2009 – 2011
 10 penyebab kematian utama pasien rawat inap di Rumah Sakit di
Kota tahun 2011
 Sebaran pola penyakit Rawat Inap di RS lainnya tahun 2011

2.4 Sosio Ekonomi

 Penduduk Berumur 15 Tahun Ke Atas yang Bekerja Menurut Lapangan


Pendidikan

 Penduduk Berumur 15 tahun Keatas yang Bekerja Selama Seminggu


yang Lalu Menurut Status Pekerjaan Utama dan Jenis Kelamin .

 Ikhtisar Statistik Antar Kerja tahun 2009 - 2011

 Pendapatan Perkapita Pertahun Penduduk, tahun 2007 - 2011

2.5 Lokasi pengembangan RS


 Dalam mempertimbangkan rencana pengembangan rumah sakit, perlu
mempertimbangkan aspek kebijakan perencanaan tata ruang, agar
pengembangan rumah sakit tidak melanggar ketentuan yang berlaku yang
telah ditetapkan oleh pemerintah. Aspek yang perlu dipertimbangkan yaitu
arahan kebijakan penataan ruang terkait dengan kesesuaian peruntukan
lahan lokasi rumah sakit tersebut.
 Lokasi RS yang berdekatan dengan kawasan perumahan juga menjadi
salah satu faktor penting dimana lokasi fasilitas kesehatan harus cukup
dekat dengan akumulasi masyarakat sebagai pengguna.
2.6 Analisis Pencapaian Lokasi
 Bagaimana Letak RS berada, apakah lahan yang direncanakan berada di
lokasi yang cukup strategis yaitu meliputi lokasi yang cukup berdekatan
dengan kegiatan pariwisata, hotel, restoran, pemukiman, maupun
perdagangan dan jasa, sehingga konsentrasi dan arus lalu lalang
penduduk cukup ramai.
 Apakah Pencapaian ke lokasi rumah sakit relatif mudah dengan
ketersediaan jalan dalam kondisi baik. Pencapaian ke lokasi dapat dicapai
dengan kendaraan pribadi dan sarana transportasi umum seperti
angkutan kota, elf (minibus), taksi dan ojeg.
2.7 Analisis Kondisi Lalu Lintas
 Bagaimana Volume lalu lintas di sekitar lokasi lahan RS
 Kondisi jalan yang stabil dan tidak macet, aliran lalu-lintas baik,
 Dari kondisi lalu lintas tersebut di atas maka memungkinkan bagi
kendaraan pasein khususnya mobil ambulance dapat mencapai pintu
gerbang RS dengan lancar.
2.8 Analisis terhadap utiltas kota
 Penyediaan Air Bersih
 Penyediaan Listrik
 Penyediaan Saluran Drainase
 Persampahan
 Telekomunikasi
 Regulasi Pembangunan Sarana Fisik
Dalam Peraturan Walikota Nomor ...Tahun 20.. tentang Kriteria Lokasi
dan Standar Teknis Pemanfaatan Ruang Pemerintah Kota , untuk sarana
kesehatan, Koefisien Dasar Bangunan (KDB) maksimum yang
diperbolehkan yaitu maksimum 20% dengan ketinggian bangunan
maksimum .... meter. Ketinggian lebih dari ... meter masih diperlukan
persetujuan pemerintah setempat dan membutuhkan suatu kajian teknis.
Selain itu diperlukan juga pengaturan mengenai sempadan bangunan
yang akan direncanakan menyangkut garis sempadan pagar dan garis
sempadan bangunan. Pengaturan garis sempadan tersebut selain
bertujuan untuk menciptakan keteraturan bangunan, juga berdasarkan
atas ketentuan bahaya kebakaran, ventilasi, cahaya matahari, dan
sirkulasi manusia di dalam halaman..
2.9 Analisis Kebutuhan Sarana Pelayanan Kesehatan
Salah satu tujuan utama pembangunan dibidang kesehatan adalah
meningkatkan derajat kesehatan masyarakat dengan mengupayakan agar
semua lapisan masyarakat dapat menikmati pelayanan sarana atau
fasilitas kesehatan. Oleh karena itu penyediaan sarana kesehatan
merupakan suatu kebutuhan pokok. Peningkatan sarana kesehatan
sangat diperlukan sebagai upaya dalam peningkatan kesejahteraan
masyarakat. selain pemerintah, peran swasta dalam menunjang sarana
kesehatan juga cukup tinggi. Untuk mengetahui tingkat pelayanan
kesehatan di Kabupaten Pengembangan dapat diketahui dari jumlah
sarana kesehatan dasar dan rujukan.

1. Sarana Pelayanan Kesehatan Dasar


Sarana pelayanan kesehatan dasar adalah Puskesmas, Puskemas
Pembantu dan Puskesmas Keliling yang biasanya berada di setiap
kecamatan terutama untuk memberikan pelayanan kesehatan bagi
masyarakat yang tidak mampu. Tahun 2011 di Kabupaten sebelumnya,
memiliki .... buah Puskesmas, .... buah Puskemas Pembantu dan ....
buah Puskesmas Keliling. Ratio jumlah Puskesmas dengan penduduk di
Kota sebesar ......

2. Sarana Pelayanan Kesehatan Rujukan


Jumlah rumah sakit yang di Kota sebanyak 1 buah rumah sakit kelas CA
dengan jumlah tempat tidur 400 TT dan 15 RS Swasta ( 15 X 200 TT )
tipe B dan C.Dari segi jumlah rumah sakit yang ada di Kota belum
memenuhi standar WHO (1 : 1000). Berdasarkan standar WHO, jumlah
tempat tidur yang dibutuhkan untuk 10.000.000 jiwa penduduk Kota
adalah sebanyak 10.000 TT. Dari jumlah tempat tidur yang ada (3400 TT)
masih membutuhkan 6600 TT.
Saat ini jumlah tempat tidur di Kota sebanyak 3400 TT, yaitu 34%
dari seluruh kebutuhan tempat tidur. Dengan adanya rencana
pembangunan RS Swasta di Kota, diharapkan menambah kekurangan
jumlah tempat tidur rumah sakit yang ada di Kota.
BAB III
ASPEK PASAR DAN PEMASARAN

Aspek pasar merupakan salah satu aspek utama dalam suatu studi kelayakan
pendirian Rumahsakit harus dikaji secara bersamaan dengan berbagai aspek lainnya
secara lebih tajam. Hal ini didasarkan pada pemikiran bahwa tidak mungkin suatu
produk atau pelayanan dapat dikembangkan jika tidak ada pangsa pasar yang akan
menyerapnya. Hasil kajian terhadap aspek pasar ini akan membantu pengambil
kebijakan untuk menentukan segmen mana yang akan dijadikan sebagai sasaran
pengembangan produk atau layanan.
1. Kondisi Persaingan Rumah Sakit di Kota X
Persaingan pelayanan kesehatan khususnya Rumahsakit di Kota X cukup tinggi.
Berdasarkan observasi yang dilakukan di lapangan tampak bahwa RS yang telah ada di
Kota X mempunyai beberapa kelemahan-kelemahan yang dapat dijadikan titik tolak
untuk menjadikan RS baru ini lebih unggul. Disini dapat dilakukan analisa SWOT.
Analisa SWOT (Strength – Weakness – Opportunity – Threat) diperlukan untuk
mengetahui potensi kita, serta kesiapan kita menghadapi perubahan. Perubahan sendiri
bisa berasal dari lingkungan internal dan eksternal. Idealnya perubahan lingkungan luar
dapat diantisipasi oleh potensi internal. Kalaupun ada kelemahan internal, dapat
diperbaiki sehingga mampu membaca/menghadapi perubahan eksternal.
2. Faktor Pembeli
Pada masa lalu, konsumen di sektor kesehatan adalah konsumen yang pasif dan
penurut. Bagaimanapun kualitas jasa pelayanan kesehatan yang ada, ramah atau tidak
ramah, mereka tetap menerimanya karena kurangnya pengetahuan dan tidak
banyaknya pillihan. Namun kondisi saat ini telah berubah. Oleh karena semakin
banyaknya pilihan, konsumen rumah sakit saat ini adalah konsumen yang pemilih
(choosy) dan cepat berubah pendirian. Mereka semakin cenderung menjadi konsumen
yang penuh perhitungan, serta menuntut jasa pelayanan yang terbaik yang bisa
diberikan. Selain itu, dengan adanya UU Perlindungan Konsumen, maka konsumen
mempunyai daya tawar yang lebih tinggi dibandingkan beberapa tahun yang lalu.
Dokter dan RS saat ini merupakan institusi yang rentan terhadap tuntutan hukum. Bila
konsumen kurang mendapat informasi yang memadai tentang jasa pelayanan yang
ada, salah paham dan saling tuntut dapat menjadi ancaman. Bila hal itu terjadi, maka
citra RS akan menjadi taruhannya dan pesaing yang akan mendapat keuntungan.
Beberapa Rumahsakit sudah mengantisipasi hal itu dengan produk penanganan
keluhan yang komprehensif yang terintegrasi dengan bagian pemasaran RS. Misal dari
Data menunjukkan bahwa masyarakat kota X sudah lebih mengedepankan mutu
pelayanan daripada harga yang murah. Hal ini berarti Rumahsakit yang akan dibangun
sebaiknya lebih mengedepankan pelayanan yang berkualitas, walaupun dari segi harga
harus kompetitif. Selain itu di Kota x juga terdapat peluang pasar yang bersifat
kelompok yaitu mereka yang biaya kesehatannya ditanggung perusahaan tempat
bekerja atau yang diasuransikan. Biasanya pasar ini menyukai tarif yang lebih pasti,
tidak berubah-ubah dan mengingat mereka merupakan pembeli besar (borongan) maka
mereka menginginkan harga khusus atau diskon. Dengan demikian Perusahaan dapat
lebih memfokuskan diri pada core bisnis, urusan kesehatan karyawan di contracting out
dan Perusahaan dapat merencanakan anggaran lebih jelas sehingga tidak
mengganggu cashflow
Pasar kelompok adalah pasar yang selama ini sering kurang diperhatikan oleh
Rumahsakit. Hal ini disebabkan karena pasar kelompok oleh sebagian Rumahsakit
dianggap “merepotkan”, bahkan sebagian pasar kelompok yang berasal dari asuransi
dianggap “merugikan”. Padahal sebenarnya “kerepotan” dan “kerugian” tersebut dapat
diminimalisir kalau pihak Rumahsakit telah menguasai teknik penentuan tarif paket
untuk pasar kelompok. Dengan demikian, RS dapat mempunyai posisi tawar yang lebih
tinggi. Bila pasar kelompok tersebut tidak dapat memenuhi tarif yang disepakati,
kontraknya tidak perlu diperpanjang lagi. Apabila RS telah dapat menguasai teknik
penentuan tarif paket ini dan pihak perusahaan yang ingin mengontrak RS telah
sepakat dan memahami tarif tersebut, maka keuntungan dari pihak Rumahsakit akan
lebih banyak daripada melayani pasar individual karena RS telah memiliki captive
market.
BAB IV
ANALISA PELAYANAN (PROGRAM DAN FUNGSI)

Rumah Sakit Y merupakan rumah sakit tipe B yang memiliki kapasitas 400 TT. Sesuai
dengan Pedoman Penyelenggaraan Pelayanan di Rumah Sakit yang disusun oleh
Direktorat Jenderal Bina Pelayanan Medik Departemen Kesehatan tahun 2008, dan
Peraturan menteri Kesehatan nomor 340 tentang Klasifikasi Rumah Sakit, Rumah sakit
tipe B merupakan rumah sakit yang memiliki pelayanan sbb:
1. Pelayanan Medik Umum
a. Pelayanan Medik Dasar
b. Pelayanan Medik Gigi Dasar
c. Pelayanan KIA/KB
2. Pelayanan Gawat Darurat
Harus dapat memberikan pelayanan gawat darurat 24 (dua puluh empat) jam
dan 7 (tujuh) hari seminggu dengan kemampuan melakukan pemeriksaan awal
kasus-kasus gawat darurat, melakukan resusitasi dan stabilisasi sesuai dengan
standar.
3. Pelayanan Spesialis Dasar
a. Pelayanan Penyakit Dalam
b. Pelayanan Anak ( subspesialis
c. Pelayanan Bedah ( subspesialis
d. Pelayanan Kebidanan dan kandungan
4. 4 jenis Pelayanan Spesialis Penunjang
a. Pelayanan Anestesi
b. Pelayanan Radiologi
c. Pelayanan Rehabilitasi Medik
d. Pelayanan Patologi Klinik
5. Pelayanan Medik Spesialis Lain ( 11 )
a. Pelayanan Mata
b. Pelayanan Telinga Hidung Tenggorokan
c. PelayananSyaraf
d. Pelayanan Jantung dan Pembuluh Darah
e. Pelayanan Kulit dan Kelamin
f. Pelayanan Kedokteran Jiwa
g. PelayananParu
h. Pelayanan Orthopedi
i. Pelayanan Urologi
j. Pelayanan Bedah Syaraf
6. Pelayanan Medik Spesialis Gigi Mulut
a. Pelayanan Bedah Mulut,
b. Pelayanan Konservasi/Endodonsi
c. Pelayanan Orthodonti.
7. Pelayanan Penunjang Klinik
a. Pelayanan Perawatan intensif
b. Pelayanan Darah
c. Pelayanan Gizi
d. Pelayanan Farmasi
e. Pelayanan Sterilisasi Instrumen
f. Pelayanan Rekam Medik
8. Pelayanan Penunjang Non Klinik
a. Laundry/Linen
b. Pelayanan jasa boga/dapur
c. Pelayanan tehnik dan pemeliharaan fasilitas
d. Pengelolaan limbah
e. Gudang
f. Transportasi (ambulance)
g. Komunikasi
h. Pemulasaran jenazah
i. Pemadam kebakaran
j. Pengelolaan gas Medis
k. Penampungan air bersih
9. Pelayanan Administrasi
a. Informasi dan penerimaan pasien
b. Keuangan
c. Personalia
d. Keamanan
e. Sistem informasi rumah sakit
Rumah sakit dirancang dengan sistem zonasi (zoning). Sesuai dengan pedoman
penyelenggaraan rumah sakit maka zoning mempunyai pengelompokan sebagai
berikut :
1. Zona Publik
Area yang mempunyai akses cepat dan langsung terhadap lingkungan luar
misalnya unit gawat darurat, klinik rawat jalan, administrasi, apotik, rekam medik
dan kamar jenazah.
2. Zona Semi Publik
Area yang menerima beban kerja dari zona publik tetapi tidak langsung
berhubungan dengan lingkungan luar, misalnya laboratorium, radiologi dan
rehabilitasi medik.
3. Zona Privasi
Area yang menyediakan perawatan dan pengelolaan pasien misalnya gedung
operasi, kamar bersalin, ICCU/ICCU dan ruang perawatan
4. Zona Penunjang
Area yang menyediakan dukungan terhadap aktivitas rumah sakit misalnya ruang
cuci, dapur, bengkel dan CSSD.

Program dan Fungsi pelayanan Gawat Darurat :


Rumah sakit menyelenggarakan pelayanan gawat darurat secara terus menerus
selama 24 jam, 7 hari dalam seminggu. Instalasi gawat darurat tidak terpisah secara
fungsional dari unit-unit pelayanan lainnya di rumah sakit artinya dikelola dan
diintegrasikan dengan instalasi/unit lainnya di rumah sakit. Lokasi gedung unit gawat
darurat harus mudah diakses dengan tanda-tanda yang jelas dari luar maupun dari
dalam rumah sakit. Pintu unit gawat darurat menghadap ke arah yang dapat akses
langsung oleh ambulans tanpa mundur dan dapat menampung 2-5 ambulans sekaligus.
1. Fungsi :
a. Triage : digunakan untuk seleksi pasien sesuai dengan tingkat kegawatan
penyakitnya
b. Resusitasi : letaknya harus berdekatan dengan ruang triase. Cukup luas
untuk menampung beberapa penderita. Keadaan ruangan harus
menjamin ketenangan
c. Ruang tindakan : untuk menangani bedah minor, infeksi dan luka
bakar.
d. Ruang observasi : susunan ruang diatur sehingga arus penderita lancar dan
tidak ada cross infection, dapat menampung korban bencana sesuai kelas
rumah sakit serta kegiatan mudah dikontrol oleh perawat
e. Diagnostik/penunjang
2. Program Ruang
a. R. Pendaftaran
b. R. Tunggu : ruang untuk keluarga harus sedemikian rupa agar tidak
mengganggu pekerjaan. Keluarga dapat istirahat dan mudah diminta
keterangan. Dilengkapi dengan fasilitas toilet dan kantin sesuai
dengan beban/kualitas kerja yang dilakukan di unit gawat darurat
c. Triage
d. R. Periksa
e. R. Resusitasi
f. R. Tindakan
g. R. Pasca Tindakan/Observasi (Dewasa/Anak)
h. R. Perawat
i. R. Dokter Jaga
3. Pertimbangan
a. Lokasi pada sirkulasi utama
b. Kemudahan pencapaian langsung dari pintu masuk
c. Pengkondisian udara dengan baik
d. Sirkulasi dalam dengan tingkat sterilitas yang baik
e. Permukaan lantai, dinding plafond yang rata, mudah dibersihkan
f. Pertemuan dinding, lantai harus bersudut tumpul
g. Dekat dengan radiologi, laboratorium klinik dan ruang operasi
h. Ruang gawat darurat mempunyai akses langsung ke instalasi pemulasaran
jenazah
i. Ruang gawat darurat didesain sedemikian rupa sehingga mudah dijadikan
satu dan mudah dibersihkan dalam rangka antisipasi bencana.

Program dan Fungsi Rawat Jalan :


Unit rawat jalan merupakan zona publik yang mempunyai akses langsung terhadap
lingkungan luar.
1. Fungsi
Poliklinik Spesialis
2. Program ruang
a. R. Pendaftaran
b. R. Tunggu
c. R. Periksa/Klinik
d. R. Tindakan
e. R. Perawat
f. R. Administrasi Keu/Kasir
g. R. Rekam Medik
h. KM/WC umum

Program dan Fungsi Ruang Tindakan Medik (OK dan VK)


Bangunan ruang operasi harus memenuhi persyaratan sebagai berikut ;
a. Mudah dicapai pasien
b. Penerimaan pasien dilakukan dekat dengan perbatasan daerah steril dan non-steril
c. Kereta dorong (brankard) pasien harus mudah bergerak
d. Lalu lintas kamar operasi teratur dan tidak simpang siur
e. Terdapat batas tegas yang memisahkan antara daerah steril dan non steril, untuk
pengaturan penggunaan baju khusus
f. Letaknya dekat dengan unit gawat darurat (untuk kasus operasi cito)
g. Ruang operasi tidak bising dan steril. Kamar ganti ditempatkan sedemikian rupa
sehingga terhindar dari area kotor setelah ganti pakaian operasi
h. Pencahayaan 300-500 lux, meja operasi 10.000-20.000 lux dengan warna cahaya
sejuk atau sedang tanpa bayangan
i. Ventilasi menggunakan AC tersendiri yang dilengkapi filter bakteri

Ruang OK dan VK merupakan zona privasi yang diatur sehingga tidak banyak terjadi
lalu lintas pengunjung.
1. OK (ruang operasi)
a. Fungsi
- Ruang operasi kecil : 2 ruang
- Ruang operasi sedang : 2 ruang
- Ruang operasi besar : 3 ruang
- Ruang operasi khusus : 2 ruang
b. Program ruang
-R. Tunggu
-R. Transfer
-R. Ganti
-R. Perawat
-R. Scrub Up
-R. Operasi 1 s/d 4
-Pre & Post Op
-R. Recover Room
-R. Diskusi
-R. Istirahat
-R. Spoelhock
2. Ruang VK
a. Fungsi
-Partus
-Kuret
b. Program ruang
- R. Partus (Melahirkan)
- R. Tindakan
- R.Persiapan
- R. Tunggu
- R. Dokter
- R. Ganti
Program dan Fungsi Ruang Perawatan Intensif
Pelayanan intensif memiliki kemampuan minimal sebagai berikut :
1. Resusitasi jantung paru
2. Pengelolaan jalan napas, termasuk intubasi trakeal dan penggunaan ventilator
sederhana
3. Terapi oksigen
4. Pemantauan EKG, pulse oksimetri secara terus menerus
5. Pemberian nutrisi enteral dan parenteral
6. Pemeriksaan laboratorium khusus yang cepat dan menyeluruh
7. Pelaksanaan terapi secara titrasi
Mempunyai kamar tersendiri yang letaknya dekat dengan kamar bedah, ruang darurat
dan ruang perawatan lain
Memenuhi persyaratan untuk bangunan intensif yaitu :
- Terisolasi
- Lantai terbuat dari bahan yang kuat dan mudah dibersihkan
- Aliran listrik 24 jam terus menerus
- Terdapat titik grounding untuk peralatan elektrostatik
- Pintu kedap asap dan tidak mudah terbakar, terdapat penyedot asap bila
Kebakaran
- Prinsip bebas kuman : tidak terdapat sudut pada ruangan

Program dan Fungsi Ruang Rawat Inap


1. Rawat Inap Executive Suite Room : 3 TT
2. Rawat inap Super VIP : 5 TT
3. Rawat Inap Mini Super VIP : 7 TT
4. Rawat Inap Kelas VIP : 15 TT
5. Rawat Inap Kelas I : 40 TT
6. Rawat Inap Kelas II : 100 TT
7. Rawat Inap Kelas III : 160 TT
8. Rawat Khusus (NICU, ICU) : 20 TT
9. R. Perawat/Nurse Station
10. R. Simpan Linen
11. R. Pantry
12. Spoel Hook
13. R. Tunggu
14. KM/WC

Pertimbangan
1. Kemudahan pencapaian bagi pengunjung.
2. Lokasi pada daerah yang tenang.
3. Terpisah dengan kegiatan layanan lain.
4. Pemisahan yang jelas antara infeksius dan non infeksius.
5. Pemisahan antara Anak dan Dewasa.

Program dan Fungsi Penunjang Medik


1. Laboratorium
a. Melayani gawat darurat (lab cito), rawat jalan dan rawat inap serta bank darah
dimana letaknya tidak jauh dari unit gawat darurat
b. Ruangan yang dipakai untuk pemeriksaan specimen perlu mempunyai ventilasi
yang baik dan mendapat sinar matahari yang cukup. Ruang penerimaan dan
pengambilan spesimen terpisah dengan ruang pemeriksaan untuk mecegah
kontaminasi
c. Udara dalam ruangan dibuat mengalir searah dari ruang yang bersih ke ruang
yang kotor
d. Tersedia bak cuci tangan dengan air mengalir dalam setiap ruangan yang dekat
dengan pintu keluar
2. Radiologi
a. Kamar pemeriksaan radiologi dilengkapi Apron dan aksesoris lain sehingga
paparan radiasi tidak lebih dari 0,25mSv/jam bila pesawat radiologi sedang
dioperasikan
b. Tebal dinding 15 cm dari beton atau bata setebal 25 cm dengan plesteran atau
yang setara dengan 2 mm Pb, pintu dan jendela kayu harus diberi penahan
radiasi Pb 2 mm
c. Peralatan proteksi radiasi tersedia yaitu apron setara dengan 0,25 mm
timbal,shielding berlapis 2,5 mm timbal, sarung tangan berlapis dan kacamata
timbal

Program dan Fungsi Penunjang Non Medik


1. Gizi
a. Tersedia fasilitas ruangan dan alur kerja yang efisien
b. Tersedia fasilitas ruangan dan peralatan untuk pelayanan konsultasi/penyuluhan
diet untuk individu/kelompok
c. Gudang bahan makanan berada dibagian yang lebih tinggi (20-25 cm dari lantai)
untuk mencegah genangan air dan menjaga kelembaban
d. Lokasi dapur tidak terletak dekat pembuangan sampah dan kamar jenazah
e. Dapur mempunyai jalan dan pintu masuk sendiri
f. Mudah dicapai seluruh unit rawat inap
2. Sterilisasi Sentral
a. Bangunan unit sterilisasi sentral diatur agar tidak terjadi kontaminasi. Ruang
penerimaan linen kotor terpisah dengan linen bersih.
b. Ruang penerimaan instrumen berbeda dengan penerimaan linen
c. Ruang sterilisasi memiliki pintu masuk yang berbeda dengan pintu keluar
d. Dinding dan langit-langit dari bahan yang tidak berpori
e. Terdapat gudang penerimaan dan penyimpanan barang baru/bahan
f. Terdapat saluran pembuangan limbah sistem tertutup
3. Pemeliharaan sarana
a. Memiliki ruang khusus untuk perbaikan alat medik (bengkel)
b. Peralatan dilakukan pre-test sebelum pertama kali digunakan paling sedikit
setahun sekali, dilakukan kalibrasi dan dibuat dokumentasinya
c. Adanya SOP jadwal pemeliharaan alat dan perbaikan sarana
4. Laundry
a. Lokasi mudah dijangkau oleh unit lain dan tidak berada di jalan lintas
b. Terdapat saluran pembuangan limbah sistem tertutup
c. Ruang penerimaan linen kotor terpisah dengan linen bersih
d. Tersedia ruang cuci yang terpisah untuk linen infeksius dan non infeksius
e. Tersedia tempat cuci tangan petugas untuk mencegah rekontaminasi linen bersih
f. Ventilasi dan pencahayaan baik minimal 200 lux
5. Pemulasaran Jenazah
a. Kapasitas ruang jenazah disesuaikan kebutuhan dan jumlah lemari pendingin 1%
dari jumlah tempat tidur
b. Ada akses yang mudah dengan bagian patologi anatomi
c. Mudah dicapai dari ruang perawatan, gawat darurat dan ruang operasi
d. Terdapat ruang untuk memandikan jenazah, ruang tunggu dan ruang
menyembahyangkan jenazah
e. Terdapat sarana pembauangan air limbah
6. IPAL
a. Penanganan limbah dilakukan melalui instalasi pengolahan limbah kemudian
disalurkan melalui saluran tertutup, kedap air, mengalir lancar serta terpisah
dengan saluran air hujan
b. Limbah diolah dalam unit pengelolaan limbah
c. Pembuangan air limbah dari toilet dan kamar mandi dilengkapi dengan penahan
bau (water seal)
d. Limbah infeksius dan benda tajam diolah dengan insinerator (suhu > 1.000 c)
e. Lokasi incinerator berada pada bagian yang terpisah dengan pelayanan
BAB V
ANALISA KEBUTUHAN SDM

Analisa kebutuhan SDM dihitung dengan menggunakan WISN (Work Loaf Indicator Staf
Need) yang mengacu pada Keputusan Menteri Kesehatan nomor 81/Menkes/SK/I/2004
tentang Pedoman Penyusunan Perencanaan SDM Kesehatan di Tingkat Propinsi,
Kab/Kota serta Rumah Sakit.

Rumus : Kebutuhan SDM = Kuantitas Kegiatan Pokok + Standar Kelonggaran


Standar beban kerja

1. Dokter
a. Dokter Umum : 14 orang
b. Dokter Gigi : 4 orang
c. Dokter Spesialis Penyakit Dalam : 4 orang
d. Dokter Spesialis Bedah : 4 orang
e. Dokter Spesialis Anak : 7 orang
f. Dokter Spesialis Kebidanan : 7 orang
g. Dokter Spesialis Anestesi : 4 orang
h. Dokter Spesialis Rehabilitasi Medis : 4 orang
i. Dokter Spesialis Patologi Klinik : 3 orang
j. Dokter Spesialis Radiologi : 3 orang
k. Dokter Spesialis Mata : 2 orang
l. Dokter SpesialisTHT : 2 orang
m. Dokter spesialis Syaraf : 2 orang
n. Dokter Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah : 4 orang
o. Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin : 2 orang
p. Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa : 1 orang
q. Dokter Spesialis Paru : 1 orang
r. Dokter Spesialis Orthopedi : 2 orang
s. Dokter Spesialis Urologi : 1 orang
t. Dokter Spesialis Bedah Syaraf : 2 orang
u.

3. Perawat
a. Rawat Inap : 75 orang
b. Rawat Jalan : 6 orang
c. Critical Care (ICU dan NICU) : 21 orang
d. Gawat Darurat : 36 orang
e. Kamar operasi : 5 orang
f. Bidan untuk Kamar bersalin : 7 orang
4. Apoteker : 10 orang
5. Asisten Apoteker : 30 orang
6. Sanitarian : 10 orang
7. Nutrisionis/ahli gizi : 22 orang
8. Fisioterapis : 4 orang
9. Keteknisian medis : 10 orang
10. Analis laboratorium : 12 orang
11. Radiografer : 12 orang
12. Non medis (akuntansi, : 55 orang
rekam medik, administrasi, dll)

monitor invasif dan non-invasif, ventilator Hamilton-C2, defibrillator dan i-STAT


Bedside Testing.
CATH LAB
Catheterization laboratory (Cath Lab) adalah sebuah ruangan yang dilengkapi
dengan peralatan diagnostik untuk mendukung prosedur kateterisasi sebagai alat
diagnostik ataupun terapi invasif tanpa tindakan operatif (minimally invasive
intervention). Prosedur diagnostik menggunakan sinar-X dibantu cairan kontras
untuk menggambarkan pembuluh darah di berbagai bagian tubuh dan menilai
apakah ada penyempitan, pelebaran atau penyumbatan. Cath lab digunakan untuk
melakukan prosedur-prosedur invasif seperti angiografi koroner dan angioplasti
koroner (PCI).
BUNDA PHILIPS INTERNATIONAL RADIODIAGNOSTIC CENTRE
 CT Scan 128 Slice
Prosedur diagnostik Cardiac CT memanfaatkan sinar-X untuk membantu
memberikan gambaran jantung dan khususnya pembuluh darah. Biasa digunakan
untuk deteksi atau evaluasi masalah pada jantung seperti penumpukan kalsium
dalam arteri koroner (Calsium Score), penyakit jantung koroner, kelainan katup
jantung, dan penyakit jantung bawaan.
 MRI 1.5 Tesla
 Ultrasound
 Doppler Echocardiography
 Bone densitometry
 Treadmill dan EKG
 Spirometri
 Audiometri
 Mobile X-Ray
MEDICAL CHECKUP
Cardiac Disease Detection adalah salah satu layanan medical checkup di RSU Bunda
Jakarta yang ditujukan untuk mendeteksi kelainan dan penyakit jantung. Layanan ini
terdiri atas pemeriksaan darah, pemeriksaan fisik, EKG, treadmill, ECHO dan foto
thoraks, yang akan dievaluasi oleh dokter spesialis jantung.
Cardiovascular Center (Pusat Layanan Terpadu Jantung dan Pembuluh Darah)
 Medical Check Up Khusus Jantung :

o Basic Cardiovascular Check Up

o Comprehensive Cardiovascular Check Up

 Pelayanan Penunjang Medis:

o MSCT 64 Slices (The Real 64 Slices)

o MRI (Magnetic Resonance Imaging) 1,5 Tesla

o Echocardiografi

o TEE (Trans Esophageal Echocardiograp