Anda di halaman 1dari 7

Obat Rasa Jeruk

Cerpen Karangan: Yanra siri

Kelas : XII ips B

“Sebenarnya aku suka padamu Belle, Sejak lama, aku sudah memperhatikanmu, Lalu… umm
maukah kau jadi pacarku?”

Tak bisa kupercaya Kak Alex mengucapkan kata-kata itu. Di tengah lapangan, saat semua orang
memandangi kami.

Kulihat tangannya sedikit berdarah tertusuk duri setangkai bunga mawar yang ia pegangi.

“Terimalah mawar ini, mawar untuk seorang Belle yang cantik, dari orang yang tampan sepertiku”
Lanjutnya sembari mengembangkan senyuman yang berpotensi membuatku diabetes. Setelah penyakit
Jantung dan epilepsi yang ia berikan. Dia adalah sumber penyakit! Yang sangat tampan!

“Seharusnya kau bilang dari orang yang buruk rupa kak”

Kataku sambil tertawa berusaha menutupi perasaanku yang bercampur aduk, antara gugup juga
perasaan bahagia yang bergejolak dalam dada ini.

“Tidak Belle, ini bukan beauty and the beast lagi, tapi beauty and handsome, jadi.. kamu mau kan
belle?”

Ingin rasanya ku berteriak “Aku Mau” untuk meluapkan semua perasaan yang seakan memaksa untuk
keluar.

“Aku Mau kak..” Kuraih mawar yang dipegang olehnya.

Aku tidak percaya pada semua ini.

“Terimakasih Belle”

Ia mendekatkan wajahnya padaku, membunuh jarak antara kami. Membuat jantungku berdegup sangat
kencang, aku yakin ia dapat, mendengarkannya, telingaku terasa panas dan wajahku menjadi semerah
kepiting rebus, beribu bahkan berjuta kupu-kupu berdesak-desakkan dalam diriku.

Perlahan aku menutup mataku… dan…

“Belle bangun!!!” Suara teriakan ibu membuyarkan semua kejadian indah yang sedang terjadi. Ternyata
semua itu hanya mimpi. Bagaimana bisa? Itu terasa begitu nyata. Ah sudahlah, aku juga tahu kalau kak
Alex yang menyukaiku hanya hidup di dalam dunia mimpiku.
“Belle bangun sudah jam setengah tujuh!!”

Apa?! Setengah tujuh?! Aku segera terjun dari tempat tidur dan langsung menuju ke kamar mandi, argh
mimpi tentang kak Alex membuatku menjadi kesiangan.

Selesai mandi tanpa keramas aku mengenakan seragam dengan tergesa-gesa tak lupa menyemprotkan
sedikit parfum ke tubuhku. Dan dengan secepat kilat membereskan buku pelajaran hari ini. Padahal ibu
sudah memperingatiku agar membereskan buku pada malam hari tapi aku tak pernah melakukannya.

Aku tak sempat sarapan, kuambil selembar roti di atas meja makan dan mencium tangan ibuku. “Aku
pergi”

Secepat mungkin kucoba berlari ke arah sekolah, aku pasti sudah ketinggalan bus, jam menunjukkan
pukul 7:45. Masih sempat. Pikirku lantas menambah kecepatan. Sekolahku memang tak terlalu jauh dari
rumah, namun karena bus milik sekolah sudah melewati rumahku maka aku terpaksa berangkat dengan
berlari, namun itu bukan masalah, lari adalah keahlianku, Karena aku adalah seorang atlet lari.

Saat sampai di sekolah, gerbang sudah hampir di tutup, hanya hampir, aku berhasil masuk walau dengan
sedikit omelan dari pak Satpam. Aku meminta maaf dan berlari lagi menuju ke kelas. Kuharap kelas
belum dimulai.

Ruangan kelas tampak sepi.

Aku baru teringat ini adalah jam olahraga. Sudah dapat dipastikan aku tidak membawa pakaian
olahraga. Ini benar-benar bukan hari keberuntunganku.

Sudahlah pikirku, satu absen pada jam olahraga tidak akan membuat nilaiku jelek.

Aku duduk di bangku dan mencoba menenangkan diri, berusaha mengatur nafasku yang masih
terengah-engah. Aku terlihat kacau sekali. Kuikat rambutku yang bahkan tak sempat kusisir tadi pagi.
Argh bagaimana mungkin kak Alex menyukai gadis ceroboh sepertiku. Kubenamkan wajahku ke meja
dan mulai memikirkan tentang mimpi semalam, setidaknya itu satu-satunya hal baik yang dapat
kupikirkan.

“Kau tidak ikut olahraga Belle?” Sampai suara seorang anak laki-laki mengejutkanku.

“Oh kau Liam, yah, aku lupa membawa pakaian olahraga, kurasa aku juga butuh istirahat”

Maksudku, aku benar-benar terkejut, baru kali ini aku mendengar Liam berbicara, kukira suaranya kecil
dan tidak jantan tapi ternyata suaranya cukup berat dan besar. Ia duduk di pojok sangat pendiam,
penyendiri, ia tidak pernah ikut pelajaran olahraga karena memiliki penyakit yang tidak
membolehkannya melakukan aktivitas fisik seperti berlari, berenang dan kurasa segala jenis olahraga.
Hanya itulah yang kutau tentangnya.
“Oh baiklah, kau benar kau butuh istirahat, keringatmu banyak sekali”

Aku tersenyum membalas perkatannya lantas melanjutkan kegiatan mengkhayalku.

15 menit berlalu, aku bosan sekali, jam olahraga akan selesai 2 jam 45 menit lagi, aku tidak bisa berdiam
diri selama itu. Kuputuskan untuk mengambil sapu dan menyapu lantai karena kemarin adalah jadwal
piketku dan aku tak melakukannya karena aku melihat kak Alex bermain basket.

Mulai meyapu dari belakang, kulihat Liam yang sedang fokus dengan laptop di depannya. Laptop itu
adalah satu-satunya teman yang ia punya. Aku memperhatikan apa yang dilakukannya. Hanya duduk
dan menonton film.

Sepertinya aku tahu film apa yang sedang ia tonton.

“Hei, apakah itu Your Lie In April?” Tanya ku mencoba memastikan

“Iya, kau tau?” jawabnya pelan.

“Tentu aku tau, aku penggemar film jepang. Tapi akhir-akhir ini aku agak sibuk jadi aku sudah mulai
jarang nonton film, boleh aku bergabung?”

Aku tidak tau jika Liam juga menyukai film Jepang sama sepertiku, Kebetulan aku memang belum
menonton film yang sedang diputar di laptopnya dikarenakan aku sibuk.

“Ya, boleh” ia mempersilahkanku.

Aku pun duduk di kursi sampingnya. Kurasa tidak ada orang lain yang pernah duduk di sini.

Kami terpaku pada film yang kami tonton, tidak ada percakapan di antara kami, hening dan sunyi. Aku
yang biasanya akan berkomentar setiap saat menjadi diam tak bersuara. Terutama Liam, ia tampak
serius dan sangat menikmati filmnya. Sampai kulihat setitik air jatuh dari matanya.

Aku tahu film ini sedih tapi karena aku tak melihatnya dari awal aku menjadi tidak begitu tersentuh. Tapi
Liam, ia menangis, aku tidak tau apakah seorang laki-laki dapat menangis karena menonton film.

“Liam, kau tak apa?” kata-kata itu keluar begitu saja memecah keheningan di antara kami.

Ia segera menyeka air matanya.

“Iya aku tak apa, filmnya sangat menyentuh, aku jadi sedih. Ah bahkan kau tak menangis, Kau pasti
meragukan kejantananku sekarang.” Jawabnya sedikit gugup karena aku menangkap basahnya sedang
menangis.

“Haha benar sekali, aku ragu sekarang, kau itu lelaki atau apa” aku tertawa sembari menyikut tangannya
mencoba mencairkan suasana.

Ia hanya diam.
Oh tidak, kata-kataku kejam sekali.

“Ummm mungkin jika aku menontonnya dari awal aku juga akan menangis tersedu-sedu.” Kucoba untuk
mengoreksi kata-kataku agar tidak terdengar kejam, karena kupikir akan menyakitinya.

“Haha aku juga yakin begitu, siapa yang tak menangis menonton film ini, aku sudah membaca semua
komentar orang yang telah menonton film ini dan mereka semua bilang mereka menangis, bahkan
seorang bapak-bapak umur 40 tahun sampai menghabiskan banyak tissue, mereka tidak berlebihan
sungguh film ini benar-benar sedih, bahkan jika kau tak ada di sini aku akan menangis lebih banyak lagi”

Aku memandanginya dengan lekat, mendengarkannya berbicara, baru kali ini aku mendengar ia
berbicara, bahkan sepanjang ini, aku senang dia bisa lebih terbuka denganku, dia bisa menjadi dirinya
sendiri.

Tanpa sadar aku memandanginya terlalu lama, kulihat wajahnya sedikit memerah, ia pasti tak terbiasa
dengan keadaan seperti ini.

“Oh, aku melihatmu terlalu lama ya? Maaf maaf” jangan sampai ia berpikir macam-macam.

“Tidak apa-apa haha” balasnya dengan diiringi suara tawa.

*kriing kriiing* bel sudah berbunyi, pelajaran olahraga telah selesai, teman-teman sekelasku mulai
berdatangan. Tak terasa waktu berlalu begitu cepat.

Aku beranjak dari bangku tempat ku duduk.

“Terimakasih Liam, filmnya seru sekali” ucapku seraya tersenyum ke arahnya.

Ia mengangguk dan aku berjalan hendak kembali ke bangkuku.

“Belle” panggilnya.

“Terimakasih sudah mau bicara denganku” terukir senyuman di wajah pucatnya.

Aku baru menyadari kalau itu senyum terdamai yang pernah kulihat. Terlihat begitu tulus.

“Mari bicara lebih banyak lagi” jawabku dan langsung berlalu karena kurasakan jantungku berdetak
lebih cepat saat melihat senyuman Liam. Ah aku memang berlebihan.

Mari bicara banyak lagi, itulah yang aku katakan pada Liam, tapi ternyata itu tidak berjalan dengan baik,
aku tidak bisa bicara banyak padanya, karena aku selalu bersama dengan teman-temanku. Hampir tak
ada waktu “sendiri” saat aku di sekolah, mereka selalu saja ada di dekatku, pada awalnya itu tidak
masalah, tapi sekarang kurasa itu agak membosankan karena kau tahu berada di sekeliling cewek, apa
yang mereka bicarakan? Cowok cowok cowok cowok, seperti tidak ada topik lain yang bisa dibicarakan
di dunia ini, dan aku mulai menyadari jika aku senang saat berbicara dengan Liam, Dia cocok denganku,
maksudnya dalam banyak hal.
Jadi aku pergi menghadap Mr. Bradley, guru olahraga sekaligus pelatih lariku. Aku meminta padanya
agar aku diperbolehkan untuk tidak masuk kelas olahraga dan sebagai gantinya aku akan latihan lari
sepulang sekolah sampai sore, karena aku jarang sekali latihan bahkan terbilang tidak pernah.

Pada awalnya ia sama sekali tidak menyutujui permintaanku ini, tapi ia merubah pikirannya setelah aku
mengancam kalau aku akan meninggalkan ekskul lari apabila ia tidak mengizinkannya. Tentu saja ia akan
mengizinkannya, ia sayang padaku, dalam artian, ia bilang aku sangat berbakat dan tentu saja sekolah
tidak ingin kehilangan atlet sepertiku.

Dan sejak saat itu aku tidak pernah masuk kelas olahraga lagi, aku selalu berada di kelas, berbicara
dengan Liam, aku bilang padanya bahwa aku selalu lupa dan tidak bawa baju olahraga, sepertinya ia
percaya. Benar-benar polos.

Namun itu hanya seminggu sekali, 3 jam dalam seminggu, sangat singkat, dan sepulang sekolah aku juga
harus latihan lari hingga sore hari, namun tidak apa-apa. Setidaknya aku senang saat bicara dan
menonton film dengan Liam, ia sama sekali tak membosankan, aku bisa bicara apapun dengannya, kami
berbicara tentang kehidupan, kematian, astronomi, hal-hal horror, apapun yang terlintas di kepala kami.

Aku jadi tau banyak tentang Liam, ia bukan pendiam dan tertutup seperti yang kebanyakan orang bilang,
ia hanya sedikit pemalu untuk memulai percakapan dengan orang lain, tetapi tidak denganku.

Pagi ini aku terbangun dengan sakit di kepala yang lumayan berat, ibuku melarangku untuk pergi ke
sekolah dan menyuruhku untuk tinggal di rumah saja, tetapi aku bersikeras ingin sekolah, aku baik-baik
saja, hanya sedikit pusing, aku akan tetap pergi ke sekolah karena hari ini hari rabu, hari yang
menyenangkan, hari yang terdapat kelas olahraga, hari dimana aku bisa bicara dengan Liam.

“Pagi Belle” sapa Liam dengan senyuman menghiasi wajahnya yang pucat, memperlihatkan lesung
pipinya. Sepertinya ia sama senangnya denganku.

“Pagi Dimple” balasku seraya meletakkan tas di bangkuku.

“Umm apa kau lupa bawa baju olahraga lagi?” Tanyanya, dengan wajah seperti.. penuh harap.

“Tidak, aku membawanya hari ini” kataku sambil menunjukkan baju olahragaku yang diberikan oleh
ibuku yang tak tau akan perjanjianku dengan Mr. Bradley.

Ekspresi Liam seketika berubah, seperti ada kekecewaan di raut wajahnya.

Aku senang, ternyata ia kecewa saat mengetahui bahwa aku tak bisa menghabiskan waktu dengannya.

“Ohh baguslah sifat pelupamu itu hilang, selamat olahraga Belle” ucapnya, dia pandai sekali menutupi
perasaannya.

“Tapi.. aku akan tetap di sini” timpalku sembari tersenyum dan berjalan ke arahnya.

“Hah? Kenapa?” sekarang ia menunjukkan ekspresi bingung.


“Karena aku tidak ingin membuang waktu 3 jam dari 168 jam dalam seminggu yang kita punya, dan
sekarang kita telah membuang sekitar 10 menit” jelasku saat telah duduk di sampingnya, argh aku
begitu jujur.

Ia tidak menjawab, hanya tersenyum melihatku.

Aku merasakan panas di sekitar wajahku, aku tidak bisa ditatap oleh laki-laki,

“Hei, ada apa dengan tatapan itu hah? kau membuatku takut”

Dia masih saja menatapku, dengan mata sayunya,

“Apa kau sakit?” tanyanya.

Sekarang aku tahu alasannya menatapku, ia pasti memperhatikan wajahku, yang mugkin tampak kurang
sehat.

“Ah tidak tidak” bantahku

“Kau pasti sakit kan? Kenapa kau sekolah? Seharusnya di rumah saja istirahat”

Ia tampak khawatir.

“sudah kubilang aku tak apa, jika aku sakit mana mungkin aku sekolah, sudahlah ayo kita nonton saja”

Aku berusaha untuk tak membuatnya khawatir.

“Kau sepertinya tak sehat Belle, sebaiknya kau istirahat saja oke?”

Dia masih bersikeras berkata jika aku sakit.

“Aku tidak apa, kau lihat aku segar bugar, kau bukan seorang dokter Liam”

Aku masih berusaha membuatnya yakin.

“Percayalah, aku lebih tau ciri-ciri orang yang sakit daripada dokter.”

Kata-katanya membuatku merasa tak enak.

“umm sebenarnya aku hanya sedikit pusing, benar itu saja” aku tidak bisa menghindar lagi.

“Sebentar, ibu memberiku ini” Aku mengeluarkan beberapa tablet obat demam rasa jeruk. Aku tidak
suka minum obat lain kecuali yang rasa jeruk ini.

“Sudah kubilang, kau pasti sedang sakit, minum obatnya” ia mengulurkan botol air minumnya,
ekspresinya masih menggambarkan rasa khawatir, hei, aku hanya pusing, hal terburuk yang bisa
menimpaku hanyalah demam.

“Oke-oke” aku mengiyakan perkatannya dan meraih botol air minumnya dan segera meminum obat.
“Bagus sekarang kau istirahat saja ya, akan kuantar ke UKS ayo, berbaringlah di sana” ia hendak
membopongku, tetapi aku menolaknya.

“Tidak, aku di sini saja”

“Di sana lebih nyaman, Belle”

“Tidak-tidak aku ingin di sini saja, di sini lebih nyaman”

“Baiklah” iya setuju denganku, tentu saja dia harus, aku sudah menurutinya untuk minum obat dan
istirahat.

Aku membaringkan kepalaku ke meja, keras sekali, aku harap aku punya bantal.

Liam dengan pelan mengangkat kepalaku dan meletakkan tas nya yang lumayan empuk sebagai bantal
untukku, aku terkesan.

Aku sudah mulai mengantuk mungkin karena obat ini, kudengar Liam bertanya.

“Apakah nyaman?”

“Sangat” aku menjawab dalam keadaan setengah tidur.

“Di meja?” ia bertanya lagi.

“Bukan, di sampingmu”

Ia terdiam setelahnya, aku juga perlahan-lahan tertidur.

Namun aku masih bisa mendengar dia berkata

“Obat rasa jeruk itu, rasanya manis namun asam juga kan?”

Aku tak menjawabnya, aku sudah terlelap.

Anda mungkin juga menyukai