Anda di halaman 1dari 32

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Anemia adalah suatu keadaan kadar hemoglobin dalam darah lebih rendah dari
nilai normal. Nilai batas ambang untuk anemia menurut World Health Organization
(WHO) adalah untuk umur 5-11 tahun <11,5 g/L, 11-14 tahun ≤12,0 g/L, remaja diatas
15 tahun untuk anak perempuan <12,0 g/L dan anak laki-laki <13,0 g/L. Anemia dapat
terjadi akibat gangguan pembentukan sel darah merah oleh sumsum tulang, akibat
kehilangan darah keluar tubuh (perdarahan), ataupun akibat proses penghancuran sel
darah merah dalam tubuh sebelum waktunya (hemolisis).1
Menurut data WHO tahun 2008, jumlah wanita tidak hamil di dunia yang
mengalami anemia sebesar 468,4 juta orang (30,2%).2 Pada tahun 2009 data WHO di Asia
Tenggara menunjukkan penderita anemia wanita tidak hamil (15-49 tahun) sebesar
45,7%, sedangkan untuk usia sekolah (5-15 tahun) sebesar 13,6%.1 Di Indonesia, data
WHO tahun 2008 jumlah penderita anemia pada wanita tidak hamil usia reproduktif
sebesar 33,1%.2 Menurut data Riskesdas 2013, prevalensi anemia pada wanita usia subur
yang tidak hamil (15-24 tahun) sebesar 22,9%.3 Menurut data Riskesdas tahun 2007,
prevalensi anemia di Provinsi DKI Jakarta sebesar 15%, sedangkan menurut SK Menkes
tahun 2007 sebesar 21%. Dari data yang didapatkan berdasarkan skrining yang dilakukan
pada tahun 2018 oleh Puskesmas Kebon Bawang 1 di SMK 12 terhadap 185 siswi putri
(15-16 tahun), didapatkan siswi dengan gejala anemia sejumlah 65 orang (35,1%).
Berdasarkan besarnya risiko remaja putri untuk menderita anemia, maka perlu
diwaspadai bahaya anemia yang dapat membahayakan kesehatannya saat remaja maupun
dimasa mendatang, terlebih lagi saat hamil dan melahirkan. Selain itu, Kemenkes RI
(2013) menyebutkan bahwa anemia pada remaja putri menjadi masalah kesehatan bila
prevalensinya ≥20%, sedangkan prevalensi berdasarkan hasil skrining sebanyak 35,1%
(>20%) sehingga anemia pada remaja putri di SMKN 12 merupakan masalah kesehatan
yang perlu menjadi prioritas dalam penanggulangan sebelum kondisi memburuk. Belum
tercapainya target penurunan prevalensi anemia pada remaja inilah yang, membuat penulis

1
tertarik untuk memilih topik mengenai anemia pada remaja putri dengan batasan usia 15-
16 tahun di SMK 12 di wilayah kerja Puskesmas Kebon Bawang 1.
Dalam menyusun dan melaksanakan program kesehatan masyarakat, salah satu
metode yang sering digunakan adalah pendekatan epidemiologi, dalam hal ini berupa
diagnosis komunitas. Diagnosis komunitas diselenggarakan untuk mengetahui sampai
sejauh mana tingkat kesakitan dan permasalahan kesehatan pada masyarakat terhadap
suatu penyakit tertentu dan faktor-faktor apa saja yang ikut mempengaruhi atau variabel
bebas yang ikut berperan dalam menularkan penyakit atau masalah kesehatan kepada
masyarakat dan tindakan apa yang harus dilakukan agar penyakit atau masalah tersebut
tidak menyebar luas menjadi epidemis.4

1.2 Rumusan Masalah


1. Tingginya prevalensi anemia pada remaja putri di wilayah kerja Puskesmas
Kelurahan Kebon Bawang 1.
2. Rendahnya kesadaran remaja putri terhadap pola hidup yang mempengaruhi anemia.

1.3 Tujuan
1.3.1 Tujuan Umum
1. Diturunkannya morbiditas anemia pada remaja putri di wilayah kerja Puskesmas
Kelurahan Kebon Bawang 1.
2. Meningkatkan kesadaran akan pentingnya deteksi dini dan modifikasi gaya hidup
sehat sebagai pencegahan dan pengendalian anemia di wilayah kerja Puskesmas
Kebon Bawang 1.

1.3.2 Tujuan Khusus


1. Diketahuinya masalah anemia pada remaja putri di wilayah kerja Puskesmas
Kebon Bawang 1.
2. Diketahuinya intervensi sebagai alternatif untuk mengurangi kejadian anemia
dan atau penyakit tidak menular lainnya.

2
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Anemia
2.1.1 Definisi
Anemia adalah suatu keadaan dimana kadar hemoglobin seseorang dalam darah
lebih rendah dari normal. Remaja putri merupakan salah satu kelompok yang berisiko
menderita anemia.4 Anemia secara fungsional didefinisikan sebagai penurunan jumlah
massa eritrosit (red cell mass) sehingga tidak dapat memenuhi fungsinya untuk membawa
oksigen dalam jumlah yang cukup ke jaringan perifer.
Penyebab utama anemia pada wanita adalah asupan zat besi yang kurang,
kehilangan darah secara kronis pada saat persalinan dan kehilangan darah pada masa
haid.5

2.1.2 Kriteria

Nilai batas ambang untuk anemia menurut World Health Organization (WHO)
adalah untuk umur 5-11 tahun <11,5 g/L, 11-14 tahun ≤12,0 g/L, remaja diatas 15 tahun
untuk anak perempuan <12,0 g/L dan anak laki-laki <13,0 g/L.1

2.1.3 Prevalensi Anemia


Organisasi WHO menyatakan anemia mempengaruhi 1,62 juta orang di dunia.
Prevalensi anemia bervariasi berdasarkan usia, jenis kelamin dan kondisi fisiologis,
patologis, lingkungan dan sosial ekonomi serta tahap kehidupan. Data Survei Kesehatan
Rumah Tangga (SKRT) tahun 2004 melaporkan bahwa prevalensi anemia defisiensi besi
pada remaja putri usia 10-18 tahun sebesar 57,1% dan usia 19-45 tahun sebesar 39,5%.2

3
2.1.4 Etiologi dan Klasifikasi
Anemia hanyalah suatu kumpulan gejala yang disebabkan oleh bermacam
penyebab. Pada dasarnya, anemia disebabkan oleh karena:

1. Gangguan pembentukan eritrosit oleh sumsum tulang


2. Kehilangan darah keluar tubuh (perdarahan)
3. Proses penghancuran eritrosit dalam tubuh sebelum waktunya (hemolisis).5

Klasifikasi Anemia Menurut Etiopatogenesis


A. Anemia karena gangguan pembentukan eritrosit dalam sumsum tulang
1. Kekurangan bahan esensial pembentuk eritrosit
a. Anemia defisiensi besi
b. Anemia defisiensi asam folat
c. Anemia defisiensi B12
2. Gangguan penggunaan besi (utilisasi)
a. Anemia akibat penyakit kronik
b. Anemia sideroblastik
3. Kerusakan sumsum tulang
a. Anemia aplastik
b. Anemia mieloptisik
c. Anemia pada keganasan hematologi
d. Anemia diseritropoietik
e. Anemia pada sindrom mielodisplastik
B. Anemia akibat hemoragi
1. Anemia pasca perdarahan akut
2. Anemia akibat perdarahan kronik
C. Anemia hemolitik
1. Anemia hemolitik intrakorpuskular
a. Gangguan membran eritrosit (membranopati)
b. Gangguan ensim eritrosit (enzimopati): anemia akibat defisiensi G6PD
c. Gangguan hemoglobin (hemoglobinopati)
- Thalassemia

4
- Hemoglobinopati structural: HbS, HbE, dll
2. Anemia hemolitik ekstrakorpuskular
a. Anemia hemolitik autoimun
b. Anemia hemolitik mikroangiopatik
c. Lain-lain
D. Anemia dengan penyebab yang tidak diketahui atau dengan pathogenesis yang
kompleks.5
Klasifikasi lain untuk anemia dapat dibuat berdasarkan gambaran morfologik dengan
melihat indeks eritrosit atau hapusan darah tepi. Dalam klasifikasi ini anemia dibagi
menjadi tiga golongan:

1. Anemia hipokromik mikrositer, bila MCV <80 fl dan MCH <27 pg


2. Anemia normokromik normositer, bila MCV 80-95 fl dan MCH 27-34 pg
3. Anemia makrositer, bila MCV >95 fl.5

Klasifikasi Anemia Berdasarkan Morfologi dan Etiologi

1. Anemia hipokromik mikrositer


a. Anemia defisiensi besi
b. Thalassemia major
c. Anemia akibat penyakit kronik
d. Anemia sideroblastik
2. Anemia normokromik normositer
a. Anemia pasca perdarahan akut
b. Anemia aplastik
c. Anemia hemolitik didapat
d. Anemia akibat penyakit kronik
e. Anemia pada gagal ginjal kronik
f. Anemia pada sindrom mielodisplastik
g. Anemia pada keganasan hematologic
3. Anemia makrositer
a. Bentuk megaloblastik
- Anemia defisiensi asam folat

5
- Anemia defisiensi B12, termasuk anemia pernisiosa
b. Bentuk non-megaloblastik
- Anemia pada penyakit hati kronik
- Anemia pada hipotiroidisme
- Anemia pada sindrom mielodisplastik
Klasifikasi etiologi dan morfologi bila digabungkan akan sangat menolong dalam
mengetahui penyebab suatu anemia.5

2.1.5 Patofisiologi dan Gejala Anemia


Gejala umum anemia adalah gejala yang timbul pada setiap kasus anemia, apapun
penyebabnya, apabila kadar hemoglobin turun dibawah harga tertentu. Gejala umum
anemia menjadi jelas (anemia simptomatik apabila kadar hemoglobin turun di bawah 7
g/dl. Berat ringannya gejala umum anemia tergantung pada:

a. Derajat penurunan hemoglobin


b. Kecepatan penurunan hemoglobin
c. Usia
d. Adanya kelainan jantung atau paru sebelumnya.5

Gejala anemia dapat digolongkan menjadi tiga jenis gejala, yaitu:

1. Gejala umum anemia


Gejala umum anemia, disebut juga sindrom anemia timbul karena iskemia organ
target serta akibat mekanisme kompensasi tubuh terhadap penurunan kadar
hemoglobin. Gejala ini muncul pada setiap kasus anemia setelah penurunan
hemoglobin sampai kadar tertentu (Hb<7 g/dl). Sindrom anemia terdiri dari rasa
lemah, lesu, cepat lelah, tinnitus, mata berkunang-kunang, kaki terasa dingin,
sesak nafas dan dyspepsia. Pada pemeriksaan, pasien tampak pucat, yang mudah
dilihat pada konjugtiva, mukosa mulut, telapak tangan dan jaringan di bawah kuku.
Sindrom anemia bersifat tidak spesifik karena dapat ditimbulkan oleh penyakit
diluar anemia dan tidak sensitive karena timbul setelah penurunan hemoglobin
yang berat (Hb <7 g/dl).5

6
2. Gejala khas masing-masing anemia
Gejala ini spesifik untuk masing-masing anemia. Sebagai contoh:
• Anemia defisiensi besi: disfagia, atrofi papil lidah, stomatitis angularis,
dan kuku sendok
• Anemia megaloblastik: glositis, gangguan neurologic pada defisiensi
vitamin B12
• Anemia hemolitik: ikterus, splenomegali dan hepatomegali
• Anemia aplastik: perdarahan dan tanda-tanda infeksi.5
3. Gejala penyakit dasar

Gejala yang timbul akibat penyakit dasar yang menyebabkan anemia sangat
bervariasi tergantung dari penyebab anemia tersebut. Misalnya gejala akibat infeksi
cacing tambang: sakit perut, pembengkakan parotis dan warna kuning pada telapak
tangan. Pada kasus tertentu sering terjadi penyakit dasar lebih dominan, seperti misalnya
pada anemia akibat penyakit kronik oleh karena arthritis rheumatoid.5

2.1.6 Pemeriksaan Laboratorium


Pemeriksaan laboratorium merupakan penunjang diagnostik pokok dalam
diagnosis anemia. Pemeriksaan ini terdiri dari:
1. Pemeriksaan penyaring
Pemeriksaan penyaring untuk kasus anemia terdiri dari pengukuran kadar
hemoglobin, indeks eritrosit dan hapusan darah tepi. Dari sini dapat dipastikan adanya
anemia serta jenis morfologik anemia tersebut, yang sangat berguna untuk pengarahan
diagnosis lebih lanjut.5
2. Pemeriksaan Darah Seri Anemia
Pemeriksaan darah seri anemia meliputi hitung leukosit, trombosit, hitung
retikulosit dan laju endap darah.5
3. Pemeriksaan Sumsum Tulang
Pemeriksaan sumsum tulang memberikan informasi yang sangat berharga
mengenai keadaan sistem hematopoesis.Pemeriksaan ini dibutuhkan untuk diagnosis
definitif pada beberapa jenis anemia. Pemeriksaan sumsum tulang mutlak diperlukan

7
untuk diagnosis anemia aplastik, anemia megaloblastik, serta pada kelainan
hematologik yang dapat mesupresi sistem eritroid.5
4. Pemeriksaan Khusus
Pemeriksaan ini hanya dikerjakan atas indikasi khusus, misalnya pada:
• Anemia defisiensi besi: serum iron, TIBC (total iron binding capacity), saturasi
transferin, protoporfirin eritrosit, feritin serum, reseptor transferin dan pengecatan
besi pada sumsum tulang (Perl’s stain).
• Anemia megaloblastik: folat serum, vitamin B12 serum, tes supresi deoksiuridin dan
tes Schiling.
• Anemia hemolitik: bilirubin serum, Coomb test, elektroforesis hemoglobin dan lain-
lain.
• Anemia aplastik: biopsi sumsum tulang
Juga diperlukan pemeriksaan non-hematologik tertentu seperti misalnya
pemeriksaan faal hati, faal ginjal atau faal tiroid.5

2.1.7 Pendekatan Diagnosis Anemia


Anemia hanyalah suatu sindrom, bukan suatu kesatuan penyakit, (disease entire),
yang dapat disebabkan oleh berbagai penyakit dasar (underlying disease).Hal ini penting
diperhatikan dalam diagnosis anemia. Kita tidak cukup hanya sampai pada diagnosis
anemia, tetapi sedapat mungkin kita harus dapat menentukan penyakit dasar yang
menyebabkan anemia tersebut. Maka tahap-tahap dalam diagnosis anemia adalah:

• Menentukan adanya anemia


• Menentukan jenis anemia
• Menentukan etiologi atau penyakit dasar anemia
• Menentukan ada atau tidaknya penyakit penyerta yang akan mempengaruhi hasil
pengobatan.5

Terdapat bermacam-macam cara pendekatan diagnosis anemia antara lain adalah


pendekatan tradisional,morfologik, fungsional dan probabilistik serta pendekatan klinis.5

8
2.1.8 Pendekatan Terapi
Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam pemberian terapi pada pasien anemia
ialah:

1. Pengobatan hendaknya diberikan berdasarkan diagnosis definitif yang telah


ditegakkan terlebih dahulu
2. Pemberian hematinik tanpa indikasi yang jelas tidak dianjurkan
3. Pengobatan anemia dapat berupa :
a. Terapi untuk keadaan darurat seperti misanya pada perdarahan akut akibatanemia
aplastik yang mengancam jiwa pasien, atau pada anemia pasca perdarahan akut
yang disertai gangguan hemodinamik
b. Terapi suportif
c. Terapi yang khas untuk masing-masing anemia
d. Terapi kausal untuk mengobati penyakit dasar yang menyebabkan anemi tersebut.

Transfusi diberikan pada anemia pasca perdarahan akut dengan tanda-tanda


gangguan hemodinamik. Pada anemia kronik transfusi hanya diberikan jika anemia
bersifat simtomatik atau adanya ancaman payah jantung. Di sini diberikan packed red cell,
jangan whole blood. Pada anemia kronik sering dijumpai peningkatan volume darah, oleh
karena itu transfusi diberikan dengan tetesan lambat. Dapat juga diberikan diuretik kerja
cepat seperti furosemid sebelum transfusi.5

2.1.9 Akibat Anemia pada Remaja


Prevalensi anemia yang tinggi dapat membawa akibat negatif berupa gangguan
dan hambatan pada pertumbuhan, baik sel tubuh maupun sel otak dan kekurangan Hb
dalam darah mengakibatkan kurangnya oksigen yang dibawa/ditransfer ke sel tubuh
maupun ke otak. Hal ini dapat mempengaruhi perhatian, persepsi, konsentrasi, dan
prestasi belajar. Akibat jangka panjang anemia defisiensi besi ini pada remaja putri adalah
apabila remaja putri nantinya hamil, maka ia tidak akan mampu memenuhi zat-zat gizi
bagi dirinya dan juga janin dalam kandungannya serta pada masa kehamilannya anemia
ini dapat meningkatkan frekuensi komplikasi, resiko kematian maternal, angka
prematuritas, BBLR, dan angka kematian perinatal. Sehingga untuk mencegah kejadian

9
anemia defisiensi besi, maka remaja putri perlu dibekali dengan pengetahuan tentang
anemia defisiensi besi itu sendiri.5

2.2 Faktor-faktor Lain yang Berhubungan dengan Anemia


Beberapa faktor risiko yang harus diperhatikan pada penderita anemia adalah
sebagai berikut:
2.2.1 Jenis Kelamin

Perempuan lebih rentan terkena anemia dibandingkan dengan laki-laki. Kebutuhan


zat besi pada perempuan adalah tiga kali lebih besar daripada pada laki-laki (Smeltzer dan
Bare, 2002).
Pada wanita usia produktif, asupan zat besi tidak hanya digunakan untuk
mendukung pertumbuhan, tetapi juga digunakan untuk mengganti zat besinya yang hilang
melalui darah yang keluar setiap dirinya mengalami menstruasi setiap bulan. Karena
kebutuhan zat besi wanita yang sangat tinggi inilah, wanita berisiko mengalami
kekurangan zat besi, yang nantinya dapat berkembang menjadi anemia. Wanita akan
hamil dan memiliki anak, pada masa kehamilan ini, remaja yang sudah menderita anemia
bisa mengembangkan anemia yang lebih parah saat hamil karena kebutuhan gizi saat
hamil mengalami peningkatan. Jika tidak segera diatasi, maka dapat membahayakan
dirinya dan bayinya.
Tingginya prevalensi anemia pada remaja putri karena kurangnya asupan protein,
zat besi dan mengalami haid berlebihan. Hal ini apabila tidak ada tindak lanjut dari dinas
kesehatan terkait, maka akan memberikan dampak negatif pada remaja putri. Menurut
Andriani dan Wirjatmadi (2013), remaja putri yang mengalami anemia akan berdampak
seperti menurunnya tingkat prestasi belajar, terganggunya kegiatan belajar, menurunkan
kesehatan reproduksi, perkembangan motorik, mental, tingkat kebugaran menurun dan
tidak tercapainya tinggi badan yang maksimal.6-8

10
2.2.2 Sarapan Pagi

Pola konsumsi makanan merupakan faktor langsung terhadap asupan zat gizi,
dimana remaja sering tidak mengetahuinya. Pola konsumsi remaja yang perlu mendapat
perhatian salah satunya adalah kebiasaan sarapan pagi serta konsumsi makanan bergizi
yang membantu penyerapan zat gizi seperti buah, sayur dan lauk-pauk sumber protein.
Sarapan adalah kegiatan makan pada pagi hari yang dilakukan sebelum beraktivitas yang
mencakup zat tenaga, zat pembangun dan zat pengatur. Untuk remaja yang masih
bersekolah, sarapan merupakan sumber energi untuk kegiatan aktivitas dan belajar di
sekolah. Sarapan pagi merupakan kegiatan yang paling penting dalam memenuhi
kebutuhan energi dan zat gizi dalam sehari, namun masih banyak remaja yang melewatkan
kebiasaan ini, sehingga berdampak pada berkurangnya zat besi dalam darah yang
mengakibatkan anemia. 9
Menurut penelitian yang dilakukan Permaesih D dan Hermas S tahun 2016,
kebiasaan sarapan pagi berhubungan secara bermakna dengan terjadinya anemia (p<0,05).
Persentase anemia responden yang tidak sarapan pagi lebih besar yaitu 34,5% daripada
yang sarapan pagi. Gambaran OR menunjukkan responden yang tidak biasa sarapan pagi
berisiko menderita anemi 1,6 kali (OR = 0,6; 95% CI 0,4-0,9). Pada penelitian yang
dilakukan di SMA Negri 8 Jambi ditemukan pula hubungan yang signifikan antara
kebiasaan sarapan pagi dengan kejadian anemia gizi besi pada remaja. Remaja yang tidak
punya kebiasaan sarapan pagi sebelum beraktivitas berpeluang dua kali lebih besar untuk
terkena anemia dibanding yang punya kebiasaan sarapan pagi (P- value = 0,03). 10

2.2.3 Aktifitas Fisik

Aktivitas fisik didefinisikan sebagai setiap pergerakan jasmani yang dihasilkan


otot skelet yang memerlukan pengeluaran energi. Istilah ini meliputi rentang penuh dari
seluruh pergerakan tubuh manusia mulai dari olahraga yang kompetitif dan latihan fisik
sebagai hobi atau aktivitas yang dilakukan dalam kehidupan sehari-hari. Sebaliknya,
inaktivitas fisik bisa didefinisikan sebagai keadaan dimana pergerakan tubuh minimal dan
pengeluaran energi mendekati resting metabolic rates (WHO, 2015). National Research

11
Council, National Academy of Sciences mengembangkan 5 (lima) kategori aktivitas fisik
yang dapat dilihat pada Tabel:

Tabel 1. Sistem Klasifikasi Faktor Aktivitas Fisik

No Klasifikasi Aktivitas

1 Istirahat : tidur, berbaring sambil nonton TV


2 Sangat ringan : Duduk dan berdiri termasuk mengemudi, bermain
kartu, mengetik.
3 Ringan : kegiatan yang sebanding dengan berjalan pada langkah
pelan/jalan santai, pekerjaan rumah tangga yang ringan,
olahraga seperti golf, bowling, memanah.
4 Sedang : berjalan pada langkah 3,5-4,0 mil per jam, kegiatan
berkebun, olahraga seperti bersepeda, tenis, menari.
5 Berat : Jalan cepat, naik tangga dan memanjat bukit, kegiatan
olahraga yang lebih seperti basket, sepak bola.

Aktivitas fisik dicatat berdasarkan formulir aktivitas fisik atau kegiatan sehari
dalam menit. Hasil pantauan kegiatan tersebut kemudian ditotal dalam kegiatan selama
24 jam.

Berdasarkan laporan kasus yang dibuat oleh Bakker, M. et al, 2015, aktifitas fisik
berat dikatakan sebagai penyebab potensial dari anemia defisiensi besi, khususnya pada
remaja putri. Dikarenakan tingginya risiko keganasan, gastroskopi dan kolonoskopi selalu
diindikasikan untuk pria dan wanita postmenopause dengan anemia defisiensi besi yang
tidak jelas sebabnya, tanpa memandang ada tidaknya keluhan gastrointestinal. Sedangkan
pada wanita premenopause tanpa keluhan gastrointestinal dan penyebab umum anemia
defisiensi besi telah tereksklusi (contoh: menstruasi, kehamilan, dan penggunaan
NSAID), aktifitas fisik berat harus dipertimbangkan sebagai penyebab dari anemia.
Defisiensi besi sering ditemukan pada atlet-atlet olahraga. Pelari maraton wanita,
prevalensinya mencapai 28%. Berikut ini adalah beberapa mekanisme yang telah diteliti
menjadi penyebab dari hilangannya zat besi ketika beraktifitas fisik:

12
- hemolisis yang disebabkan oleh olahraga, karena adanya kekuatan mekanik dan
stres oksidatif
- Kehilangan darah di traktus gastrointestinal dan traktus urinarius karena adanya
lesi mikroskopik yang disebabkan oleh menurunnya sirkulasi viseral ketika
berolahraga.
- Pengikatan zat besi oleh makrofag dan penurunan absorbsi zat besi, karena
meningkatnya produksi hepsidin oleh induksi respon inflamatorik.
- Kehilangan zat besi dari eksresi keringat yang berlebihan (masih diperdebatkan
dan diduga memiliki efek minimal pada anemia defisiensi besi)

Maka dari itu, anemia yang disebabkan oleh aktifitas fisik yang berlebihan harus
dipertimbangkan pada remaja putri dengan anemia defisiensi besi yang penyebabnya
belum jelas. 11

2.2.4 Indeks Massa Tubuh

Indeks Massa Tubuh (IMT) merupakan alat ukur yang sederhana untuk
memantau status gizi. Menurut Thompson, status gizi mempunyai korelasi positif
dengan konsentrasi hemoglobin. Hal ini berarti semakin buruk status gizi seseorang,
maka semakin rendah kadar hemoglobin orang tersebut. 12
Prevalensi defisiensi zat besi pada kelompok remaja putri dengan IMT rendah
lebih besar daripada kelompok dengan IMT normal atau lebih. Risiko kekurangan
cadangan zat besi pada kelompok IMT rendah dikatakan kira-kira tujuh kali lipat lebih
besar dibandingkan dengan kelompok IMT normal atau lebih. Menurut penelitian yang
dilakukan oleh Sri Sumarmi et.al tahun 2015, anemia pada kelompok wanita IMT rendah
adalah sebesar 48,1%, sedangkan pada kelompok IMT normal dan lebih adalah 28,4%. 13

2.2.5 Konsumsi Zat Besi

Zat besi sangat dibutuhkan oleh perempuan terutama ibu hamil dan remaja putri
untuk mencegah terjadinya anemia dan menjaga pertumbuhan janin secara optimal.
Kementerian Kesehatan menganjurkan agar ibu hamil mengonsumsi paling sedikit 90 pil
zat besi selama kehamilannya. Pada Riskesdas 2013 menanyakan apakah mengonsumsi

13
zat besi selama hamil dan berapa hari mengonsumsi zat besi selama hamil. Zat besi yang
dimaksud adalah semua konsumsi zat besi selama masa kehamilannya termasuk yang
dijual bebas maupun multivitamin yang mengandung zat besi. Upaya pemberian tablet zat
besi ke sekolah-sekolah untuk remaja putri ini dilakukan untuk meminimalisiasi
perempuan usia muda mengalami anemia. Jika seorang remaja putri menderita anemia
dan kemudian hamil maka akan berpotensi melahirkan bayi dengan tubuh pendek
(stunting) atau berat badan lahir rendah (BBLR). Hal ini disebakan karena kurangnya
supply oksigen dan makanan ke janin selama masa kehamilan. Anemia pada remaja dapat
menyebabkan keterlambatan pertumbuhanfisik, gangguan perilaku serta emosional. Hal
ini dapat mempengaruhi proses pertumbuhan dan perkembangan sel otak sehingga dapat
menimbulkan daya tahan tubuh menurun, mudah lemas dan lapar, konsentrasi belajar
terganggu, prestasi belajar menurun serta dapat mengakibatkan produktifitas kerja yang
rendah.
Secara umum tingginya prevalensi anemia disebabkan oleh beberapa faktor
diantaranya rendahnya asupan zat besi dan zat gizi lainnya seperti vitamin A, C, folat,
riboplafin dan B12 untuk mencukupi kebutuhan zat besi dalam seharinya bisa dilakukan
dengan mengkonsumsi sumber makanan hewani sebagai salah satu sumber zat besi yang
mudah diserap, mengkonsumsi sumber makanan nabati yang merupakan sumber zat besi
yang tinggi tetapi sulit diserap. Masa remaja merupakan masa yang lebih banyak
membutuhkan zat gizi. Remaja membutuhkan asupan gizi yang optimal untuk
pertumbuhan dan perkembangannya. Gizi merupakan suatu proses organisme
menggunakan makanan yang dikonsumsi secara normal melalui digesti, absorpsi,
transportasi penyimpanan, metabolisme dan pengeluaran zat-zat yang tidak digunakan
untuk mempertahankan kehidupan pertumbuhan dan menghasilkan energi. Kurangnya
asupan gizi pada remaja putri umumnya kekurangan zat gizi makro seperti karbohidrat,
protein, lemak dan kekurangan zat gizi mikro seperti vitamin dan mineral. Kurangnya zat
gizi makro dan mikro dapat menyebabkan tubuh menjadi kurus dan berat badan turun
drastis, pendek, sakit terus menerus dan anemia. Remaja sangat membutuhkan asupan zat
besi untuk membentuk sel darah merah. Zat besi diperlukan dalam pembentukan darah
untuk sintesa hemoglobin. Hal ini terjadi karena remaja setiap bulannya mengalami
menstruasi yang berdampak kekurangan zat besi dalam darah. Pada dasarnya asupan zat

14
gizi pada tubuh harus tercukupi khususnya pada remaja. Asupan protein dalam tubuh
sangat membantu penyerapan zat besi, maka dari itu protein bekerjasama dengan rantai
protein mengangkut elektron yang berperan dalam metabolisme energi. Selain itu vitamin
C dalam tubuh remaja harus tercukupi karena vitamin C merupakan reduktor, maka di
dalam usus zat besi (Fe) akan dipertahankan tetap dalam bentuk ferro sehingga lebih
mudah diserap. Selain itu vitamin C membantu transfer Fe dari darah ke hati serta
mengaktifkan enzim-enzim yang mengandung Fe. 14

15
BAB III

METODE

3.1 Desain Penelitian

Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif yang bertujuan untuk menggambarkan


prevalensi gejala anemia pada siswi kelas X SMKN 12.

3.2 Tempat Penelitian

Tempat penelitian dilaksakan di Aula SMKN 12.

3.3 Waktu Penelitian

Pengumpulan data dilakukan pada tanggal 7 – 8 Februari 2019 pukul 13.00 – 15.00.

3.4 Subjek Mini Project

a. Populasi
Populasi penelitian ini adalah seluruh siswi SMKN 12

b. Teknik sampling
Teknik sampling yang digunakan adalah Purposive Sampling. Sampel yang terpilih
adalah kelas X SMKN 12 berdasarkan tersedianya data dari hasil skrining terbaru
murid baru yang dilakukan oleh Puskemas Kelurahan Kebon Bawang 1.

c. Sampel dan besar sampel


Sampel penelitian ini adalah seluruh siswi kelas X SMKN 12. Besar sampel yang
mengikuti pelatihan sebanyak 176 siswi

3.5 Kriteria Sampel

a. Kriteria Inklusi
Seluruh siswi kelas X SMKN 12 yang masuk sekolah pada tanggal 7 – 8 Februari
2019.

16
b. Kriteria Eksklusi
Siswi kelas X SMKN 12 yang sedang berhalangan untuk ikut kegiatan (sakit atau
piket).

3.6 Protokol Mini Project

Koordinasi dengan
Menentukan rumusan Pengambilan data
pemegang program UKS
masalah dengan kepala melalui kuisioner dan
Puskemas Kelurahan
Puskesmas Kelurahan pemeriksaan fisik
Kebon Bawang 1 dan
Kebon Bawang 1
pihak sekolah

Pengolahan data hasil


Penyuluhan mengenai
Pelaporan hasil kuisioner dan
anemia
pelaksanaan mini project pemeriksaan fisik

3.7 Pengumpulan Data

Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data primer yang diperoleh melalui
pengisian kuisioner mengenai tanda dan gejala anemia, serta melakukan pemeriksaan fisik
(pemeriksaan konjungtiva, telapak tangan, lidah, kuku).

Penyuluhan berisi informasi mengenai anemia defisinesi besi, angka kejadian


anemia, mengapa perempuan lebih rentan anemia dibanding laki-laki, tanda gejala
anemia, faktor yang menyebabkan anemia pada remaja, komplikasi, dan cara
penanggulangan anemia. Penyuluhan diberikan dalam bentuk presentasi materi, serta
diakhiri dengan sesi tanya jawab.

Selain itu, pengumpulan data juga menggunakan data sekunder berupa data
geografis, demografis, sumber daya kesehatan, sarana pelayanan kesehatan, jumlah SMA

17
dan setaranya yang berada di kawasan Puskesmas Kelurahan Kebon Bawang 1. Data
diperoleh dari data laporan akhir tahun Puskesmas Kelurahan Kebon Bawang 1 tahun
2018.

3.8 Instrumen Pengumpulan Data

Untuk mengetahui prevalensi siswi dengan gejala anemia, instrumen penelitian


yang digunakan adalah kuisioner yang berisi gejala anemia.

3.9 Analisis Data

Data yang diperoleh melalui kuisioner mengenai tanda dan gejala anemia, serta
melakukan pemeriksaan fisik (pemeriksaan konjungtiva, telapak tangan, lidah, kuku)
sehingga dapat diperoleh prevalens siswi kelas X SMKN 12 yang memiliki gejala anemia.

18
BAB 4

HASIL

4.1 Profil Komunitas Umum

Kelurahan Kebon Bawang I merupakan bagian dari kecamatan Tanjung Priok,


Jakarta Utara. Kelurahan ini berpenduduk padat namun tertata. Wilayah Kelurahan Kebon
Bawang I mempunyai luas total 57,57 ha. Status tanah pada umumnya adalah tanah
negara, sedangkan pemilik tanah sebagian besar adalah penggarap, namun demikian
diantaranya sudah banyak yang sudah memiliki hak dengan mensertifikatkan tanah secara
perorangan maupun melalui prona.

4.2 Data Geografis

Lapisan tanah membentuk daratan adalah batuan kedapan / sediment stone yang
berda 50 m dibawah permukaan laut. Kelurahan Kebon Bawang I berbatasan dengan Kali
Lagoa Kanal Kelurahan Tanjung Priok di sebelah Utara, Kali Buntu Kelurahan Sungai
Bambu di sebelah barat, Menara listrik Kelurahan Sungai Bambu di sebelah selatan, serta
berbatasan dengan Jalan Yos Sudarso di sebelah timur.

Akses menuju Puskesmas Warakas relatif mudah dicapai. Jalan menuju


puskesmas sudah beraspal, cukup luas untuk dilalui oleh motor ataupun sepeda namun
agak sempit bagi mobil. Puskesmas terletak di tengah-tengah rumah penduduk, namun
terdapat petunjuk arah di ujung jalan yang mengarahkan jalan menuju puskesmas.

19
Gambar 1. Peta Wilayah Kelurahan Kebon Bawang I

4.3 Data Demografik


Kelurahan Kebon Bawang I terdiri dari 6 RW dan memiliki 70 RT. Pada bulan
Desember 2018 total penduduk adalah 22.286 orang, terdiri dari 11.283 orang laki-laki
dan 11.003 orang perempuan.
Puskemas Kelurahan Kebon Bawang 1 mencakup empat Sekolah Menengah Atas
dan setaranya, yaitu SMKN 12, SMA Dharma Putra, STM Dharma Putra, dan SMK
Dharma Putra. Jumlah siswa/i SMKN 12 adalah 674 yang terdiri dari 123 siswa dan 551
siswi, dimana jumlah siswa/i kelas X adalah 252, yang terdiri dari 57 siswa dan 195 siswi.

4.4 Data Epidemiologi


Berdasarkan hasil Skrining terhadap sekolah dalam cakupan Puskesmas Keluraha
Kebon Bawang 1 yang dilakukan oleh petugas puskesmas pada akhir tahun 2018,
didapatkan hasil masalah sebagai berikut :

20
1. Anemia ( 81 siswa)
2. Tekanan Darah Tinggi ( 72 siswa)
3. Kelainan Telinga (58 siswa)
4. Karies gigi (49 siswa)
5. Kelainan Mata (5 siswa)

5.52%
4.91% 3.95%
Anemia
3.34%
Tekanan Darah Tinggi
0.34%
Kelainan Telinga
Karies Gigi
81.91% Kelainan Mata
Normal

Grafik 1. Hasil Skrining pada sekolah dalam cakupan PKL KB 1

4.5 Pelayanan Kesehatan (Puskesmas Kelurahan Kebon Bawang 1)


4.5.1 Sejarah
Puskesmas Kelurahan Kebon Bawang I dibangun dengan biaya APBD DKI
tahun 1984 dan dilakukan renovasi total pada tahun 2014 .Puskesmas Kelurahan Kebon
Bawang I beralamat di jalan Swasembada Barat VII No. 2, Kelurahan Kebon Bawang,
Kecamatan Tanjung Priok.
4.5.2 Sarana

Bangunan terdiri tiga lantai dengan luas tanah 20 x 12 m2 , sarana yang ada
didalamnya adalah air PAM, listrik, generator Set, APAR, telepon, komputer, laptop,
printer, AC, kipas angin, motor, dental unit, 1 unit mobil Ambulance milik Puskesmas
Kecamatan Tanjung Priok, ruang bermain anak, ruang menyusui, bilik sampah dan IPAL

Puskesmas ini juga dilengkapi dengan alat-alat kesehatan dan sarana pelayanan
lainnya untuk menjamin peningkatan kualitas pelayanan dan kepuasan konsumen.

21
4.5.3 Visi dan Misi

Visi

Menjadikan Puskesmas Kelurahan Kebon Bawang I sebagai unit pelayanan kesehatan


yang menjadi pilihan masyarakat di Kelurahan Kebon Bawang I dalam memberikan
pelayanan prima di wilayah kerjanya demi mendukukng tercapainya derajat kesehatan
yang optimal.
Misi
1. Melakukan upaya berkelanjutan untuk meningkatkan mutu pelayanan
pelangganan.
2. Memberikan kesempatan kepada karyawan untuk meningkatkan kualitas diri
dengan cara mengikuti pendidikan, pelatihan dan ketrampilan agar dapat
memberikan pelayanan profesional.
3. Mewujudkan derajat kesehatan yang setinggi-tingginya kepada seluruh
masyarakat secara promotif, preventif, kuratif dan rehabilitatif yang dilaksanakan
secara menyeluruh.
4. Menggalangan kemitraan pelayanan kesehatan diwilayah kerja Puskesmas.

22
4.6 Struktur Organisasi

4.7 Data Siswi yang mengikuti Penyuluhan Anemia

Dari seluruh siswa dan siswi SMKN 12, hanya 176 siswi kelas X yang mengikuti
penyuluhan mengenai anemia dan kuisioner yang berisi skrining gejala anemia.

4.8 Data Kader Posbindu yang mengikuti Pelatihan PTM

Dari seluruh siswa dan siswi SMKN 12, hanya 30 orang yang terpilih untuk
dijadikan Kader Posbindu Remaja (KOPER) untuk mengikuti pelatihan mengenai
Penyakit Tidak Menular.

23
4.9 Perbandingan Skrining Anemia berdasarkan Gejala dan Pemeriksaan Fisik

Gejala anemia dinilai berdasarkan anamnesis dan pemeriksaan fisik. Anamnesis


didapatkan dari kuisioner yang berisikan mengenai gejala umum anemia dan serta
dilakukan pemeriksaan fisik dasar dengan menilai konjungtiva, telapak tangan, kuku dan
lidah.
Berdasarkan hasil kuisioner gejala umum anemia dan pemeriksaan fisik
didapatkan 39% Siswi Kelas X SMKN 12 terdapat tanda dan gejala anemia, dan 61%
tidak ditemukan adanya tanda dan gejala anemia.

Tanda dan Gejala


Anemia

39%
Ada
61%
Tidak

Grafik 2. Perbandingan Tanda dan Gejala Anemia

24
BAB V

PEMBAHASAN

Berdasarkan hasil data WHO Menurut data WHO tahun 2008, jumlah wanita tidak
hamil di dunia yang mengalami anemia sebesar 468,4 juta orang (30,2%).2 Pada tahun
2001 data WHO di Asia Tenggara menunjukkan penderita anemia wanita tidak hamil
(15-49 tahun) sebesar 45,7%, sedangkan untuk usia sekolah (5-15 tahun) sebesar 13,6%.1
Di Indonesia, data WHO tahun 2008 jumlah penderita anemia pada wanita tidak hamil
usia reproduktif sebesar 33,1%.2 Menurut data Riskesdas 2013, prevalensi anemia pada
wanita usia subur yang tidak hamil (15-24 tahun) sebesar 22,9%.3
Menurut data Riskesdas tahun 2007, prevalensi anemia di Provinsi DKI Jakarta
sebesar 15%, sedangkan menurut SK Menkes tahun 2007 sebesar 21%. Berdasarkan hasil
Skrining terhadap sekolah dalam cakupan Puskesmas Keluraha Kebon Bawang 1 yang
dilakukan oleh petugas puskesmas pada akhir tahun 2018. Anemia merupakan masalah
utama yang dialami oleh remaja putri, dari data tersebut sebanyak 81 orang mengalami
gejala umum anemia dan didapatkan adanya tanda-tanda klinis anemia dari pemeriksaan
fisik. Dari data yang didapatkan berdasarkan skrining yang dilakukan oleh Puskesmas
Kebon Bawang 1 di SMKN 12 terhadap 185 siswi putri (15-16 tahun), didapatkan siswi
dengan gejala anemia sejumlah 65 orang (35,1%).
Berdasarkan besarnya risiko remaja putri untuk menderita anemia, maka perlu
diwaspadai bahaya anemia yang dapat membahayakan kesehatannya saat remaja maupun
dimasa mendatang, terlebih lagi saat hamil dan melahirkan. Selain itu, Kemenkes RI
(2013) menyebutkan bahwa anemia pada remaja putri menjadi masalah kesehatan bila
prevalensinya ≥20%.
Gejala anemia dinilai berdasarkan anamnesis dan pemeriksaan fisik. Anamnesis
didapatkan dari kuisioner yang berisikan mengenai gejala umum anemia dan serta
dilakukan pemeriksaan fisik dasar dengan menilai konjungtiva, telapak tangan, kuku dan
lidah. Berdasarkan hasil kuisioner gejala umum anemia dan pemeriksaan fisik didapatkan
39% Siswi Kelas X SMKN 12 terdapat tanda dan gejala anemia, dan 61% tidak ditemukan
adanya tanda dan gejala anemia. Dengan dibuatnya Kader Posbindu Remaja (KOPER)

25
diharapkan para kader mengetahui gejala, tanda dan pencegahan anemia sehingga
turunnya angka kejadian anemia pada remaja di cakupan kerja wilayah Puskesmas
Kelurahan Kebon Bawang 1.

26
BAB 6
INTERVENSI

Selain penyuluhan mengenai anemia dan pengisian kuisioner, intervensi lain yang
dilakukan adalah dengan pembentukan KOPER (Kader Posbindu Remaja). KOPER
dipilih sebanyak 30 siswa/i dan dilatih oleh dokter internsip. Isi intervensi KOPER adalah
sebagai berikut:

1. Pemberian materi PTM termasuk anemia oleh dokter internsip


2. Pelatihan KOPER tentang 5 langkah Posbindu yang terdiri dari pencatatan,
wawancara, pemeriksaan tekanan darah, pengukuran BB dan TB, perhitungan
IMT dan pengukuran lingkar perut, pemeriksaan biokimia (GDS) dan konseling.

6.1. Flowchart Kegiatan

Menyusun rencana intervensi berupa pembentukan


dan pelatihan KOPER kepada siswa/i SMKN 12 yang
terpilih.

Meminta izin kepala puskesmas selaku pembimbing,


dan kepala sekolah SMKN 12

Survei lokasi yang akan dijadikan tempat pelatihan


KOPER

Melakukan pelatihan KOPER dengan memberikan


materi PTM termasuk anemia serta melatih kader
berdasarkan 5 langkah Posbindu

Gambar 2. Flowchart Seluruh Kegiatan Intervensi

27
6.2. Deskripsi Proses Intervensi Secara Detail
Intervensi yang dilakukan bertujuan untuk memberikan pengetahuan mengenai
PTM termasuk anemia serta membentuk KOPER untuk pelatihan berdasarkan 5 langkah
Posbindu.

6.2.1. Perolehan Izin untuk melakukan intervensi


Setelah berdiskusi dan sepakat mengenai rencana intervensi yang akan dilakukan,
kemudian berdiskusi dan meminta izin kepada kepala puskesmas selaku dokter
penanggung jawab di Puskesmas Kebon Bawang. Setelah itu menemui kepala sekolah
SMKN 12 guna menjelaskan rencana intervensi dan memberikan surat izin untuk
dilakukannya intervensi di sekolah.
Setelah mendapatkan izin dari pihak sekolah, beliau sepakat dengan rencana
intervensi kepada 30 siswa/i terpilih untuk menjadi KOPER. Lalu dilakukan diskusi dan
sepakat mengenai waktu pelaksanaan kegiatan pembentukan KOPER yaitu sebagai
berikut:
Kegiatan pembentukan KOPER dilakukan kepada 30 siswa/i terpilih. Dilakukan pada hari
Rabu, 13 Februari 2019 – Jumat, 15 Februari 2019 pada pukul 13.00 WIB hingga selesai,
yang bertempat di aula SMKN 12.

6.2.2. Pelatihan KOPER

Pelatihan KOPER dilakukan pada hari Rabu, 13 Februari 2019 – Jumat, 15


Februari 2019 pada pukul 13.00 WIB hingga selesai, yang bertempat di aula SMKN 12
oleh dokter internsip, yaitu dr. Natassha Priscillia, dr. Stacia Cicilia, dr. Keisha Nabila, dr.
Mety Munahari dengan sasaran 30 siswa/i terpilih sebagai KOPER.
Pada hari pertama dan kedua, KOPER mendapatkan materi mengenai pelaksanaan
Posbindu, dan materi PTM yang terdiri dari diabetes melitus, hipertensi, anemia,
PPOK/asma, kanker, penyakit jantung koroner, dan obesitas. Proses pemberian materi
diakhiri dengan sesi tanya jawab dan diskusi.

28
Pada hari ketiga, dilakukan pelatihan KOPER berdasarkan 5 langkah Posbindu,
yakni:

1. Pencatatan
Melakukan registrasi dan pencatatan.
2. Wawancara
Melakukan wawancara untuk menggali informasi faktor risiko keturunan dan
perilaku dengan mengisi buku Posbindu dan formulir KMS FR-PTM oleh kader.
3. Pengukuran faktor risiko
Melakukan pengukuran faktor risiko meliputi penimbangan berat badan,
pengukuran tinggi badan, lingkar perut, serta Indeks Massa Tubuh, dan
pengukuran tekanan darah.
4. Pemeriksaan biokimia
Melakukan pemeriksaan gula darah, kadar lemak darah (kolesterol total dan
trigliserida),
5. Konseling
Melaksanakan konseling, yang mencakup pola makan, merokok, stress, aktifitas
fisik dan lain-lain. Selain itu, dilakukan juga rujukan ke Puskesmas bila perlu.

29
BAB VII
KESIMPULAN DAN SARAN

7.1 Kesimpulan
Seperti yang sudah diketahui, risiko remaja putri untuk menderita anemia cukup tinggi,
maka perlu diwaspadai bahaya anemia yang dapat membahayakan kesehatannya saat remaja
maupun dimasa mendatang, terlebih lagi saat hamil dan melahirkan.

Berdasarkan hasil kuisioner gejala umum anemia dan pemeriksaan fisik didapatkan 39%
siswi kelas X SMKN 12 memiliki tanda dan gejala anemia. Hal ini dikarenakan belum pernah
mendapatkan penyuluhan mengenai gejala anemia dan bahaya anemia, yang mana dapat
mempengaruhi proses pertumbuhan dan perkembangan sel otak sehingga dapat menimbulkan
daya tahan tubuh menurun, mudah lemas dan lapar, konsentrasi belajar terganggu, prestasi belajar
menurun serta dapat mengakibatkan produktifitas kerja yang rendah.

Penting dilakukan penyuluhan bagi para siswi dan kader posbindu remaja (KOPER) untuk
meningkatkan pengetahuan, sehingga kedepannya memiliki kesadaran lebih untuk melakukan
deteksi dini anemia.

7.2 Saran
a. Dilakukan penyuluhan rutin bagi siswi baru setiap tahunnya.
b. Bagi para remaja putri untuk lebih aktif memeriksakan diri atau anggota keluarga dengan
gejala anemia ke Puskesmas Kebon Bawang 1.
c. Bagi seluruh remaja putri, khususnya mereka yang memiliki gejala anemia di harapkan
untuk rutin mengkonsumsi tablet tambah darah. Jika mengalami keluhan tambahan atau
munculnya komplikasi, di harapkan untuk segera memeriksakan diri ke Puskesmas Kebon
Bawang 1.
d. Dilakukannya pelatihan KOPER tidak hanya untuk SMKN 12, namun di seluruh SMA
dan setaranya yang terdapat di wilayah kerja Puskesmas Kebon Bawang 1.
e. Berjalannya KOPER dengan rutin sebulan sekali.

30
DAFTAR PUSTAKA

1. World Health Organization. Iron deficiency anemia assessment, prevention and


control. A guide for programme managers. Jenewa: WHO; 2001. p. 3-5
2. World Health Organization. Worldwide prevalence of anaemia 1993-2005.
[Internet]. Juni 2008. [dikutip 30 Januari 2019]. Diperoleh dari:
http://apps.who.int/iris/bitstream/10665/43894/1/9789241596657_eng.pdf
3. Kementrian Kesehatan Republik Indonesia. Anemia. Dalam: Riset kesehatan
dasar 2013. Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Kementerian
Kesehatan RI. [Internet]. Desember 2013 [dikutip 30 Januari 2019]. Diperoleh dari
http://www.depkes.go.id/resources/download/general/Hasil%20Riskesdas%2020
13.pdf
4. Budiman C. Pengantar kesehatan lingkungan. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran
EGC; 2007. p. 204
5. Bakta IM. Pendekatan terhadap pasien anemia. Dalam: Sudoyo AW, Setiyohadi
B, Alwi I, Simadibrata M, Setiati S.Editor. Buku ajar ilmu penyakit dalam. Edisi
5. Jakarta: Interna Publishing; 2009. p. 632-5.
6. Andriani. M dan Wirjatmadi B. 2013. Pengantar Gizi Masyarakat. Jakarta:
Kencana Pranada Media Grup.
7. Kemenkes RI. 2013. Riset Kesehatan Dasar.http://www.depkes.go.id (Diakses 20
Februari 2017).
8. Smeltzer. dan Bare. 2002. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah. Brunner dan
Suddarth (Ed.8, Vol. 12). Jakarta: EGC
9. Kalsum U, Halim R. Kebiasaan Sarapan Pagi Berhubungan dengan Kejadian
Anemia pada Remaja di SMA Negeri 8 Muaro Jambi. Jurnal Penelitian
Universitas Jambi Seri Sains. 2019;18(1):9-19.
10. Parmaesih D, Herman S. Factors Influencing Anemia Among Adolescents. Bul
Penelitian Kesehatan. 2015;33(4):162-171.
11. Wouthuyzen-Bakker M, van Assen S. Exercise-induced anaemia: a forgotten
cause of iron deficiency anaemia in young adults. British Journal of General
Practice. 2015;65(634):268-269.

31
12. Janetta Sutanto K, R. Marunduh S, Pangemanan D. Hubungan Indeks Massa
Tubuh dengan Kadar Hemoglobin pada Remaja di Kecamatan Bolangitang Barat
Kabupaten Bolaang Mongodow Utara. Jurnal Kedokteran Klinik. 2016;1(1).
13. Sumarmi S, Puspitasari N, Handajani R, Wirjatmadi B. Underweight as a Risk
Factor for Iron Depletion and Iron-Deficient Erythropoiesis among Young
Women in Rural Areas of East Java, Indonesia. Malaysian Journal of Nutrition.
2016;22(2):219-232.
14. Briawan, D. 2014. Anemia Masalah Gizi Pada Remaja Wanita. Jakarta : EGC.
Depkes RI. Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2013. Laporan Hasil Riset
Kesehatan Dasar 2013. Jakarta : Badan Litbangkes.

32