TINJAUAN PUSTAKA
Laparatomy merupakan pembedahan yang menembus dinding abdomen. Pada pasien
yang mengalami nyeri abdominal atau masalah intestinal yang tidak jelas penyebabnya, dan
berbagai tes tidak dapat menemukan penyebabnya, maka dilakukanlah Explorasi Laparatomy
ini untuk menegakkan diagnosa. Sedangkan pada operasi yang spesifik, laparatomy adalah
tindakan pertama dalam proses pembedahan. Hal yang harus diperhatikan pasca operasi
laparotomi yaitu keseimbangan cairan, pentahapan nutrisi, monitor vital sign dan antibiotik
(Pierce and Borley, 2013).
Indikasi perlu dilakukannya laparatomi yaitu trauma abdomen (tumpul atau tajam) atau
ruptur hepar, peritonitis, perdarahan saluran pencernaan (internal bleeding), sumbatan pada
usus halus dan usus besar, atau adanya massa pada abdomen. Sementara komplikasi post
laparatomi yaitu ventilasi paru tidak adekuat, gangguan kardiovaskuler: hipertensi, aritmia
jantung, gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit, gangguan rasa nyaman dan
kecelakaan (Sjamsuhidajat dan De Jong, 2005).
Pada pasien bedah, buruknya status gizi sebelum operasi telah dihubungkan dengan
komplikasi post operasi, meningkatnya morbiditas dan mortalitas. Secara fisiologis pada
pasien post operasi terjadi peningkatan metabolik ekspenditur untuk energi dan perbaikan,
meningkatnya kebutuhan nutrien untuk homeostasis, pemulihan, kembali pada kesadaran
penuh, dan rehabilitasi ke kondisi normal. Prosedur operasi tidak hanya menyebabkan
terjadinya katabolisme tetapi juga mempengaruhi digestif, absorpsi, dan prosedur asimilasi di
saat kebutuhan nutrisi juga meningkat.
Respon yang kompleks terhadap stres fisik akibat pembedahan dan injury, dimediasi oleh
perubahan hormonal dan sistem saraf simpatis, salah satunya adalah hipermetabolisme dan
katabolisme. Terdapat retensi garam dan air bermakna serta peningkatan basal metabolik
rate dan produksi glukosa hepatic. Penyembuhan luka meningkatkan produksi glukosa
sebanyak 80% dan juga membutuhkan sintesis protein). Lemak (jaringan adiposa) dan
cadangan protein (lean muscle mass) dimobilisasi untuk memenuhi kebutuhan sintesis
glukosa dan protein yang menghasilkan penurunan BB. Secara umum, respon katabolik
meningkatkan kebutuhan energi dan protein, besar dan durasinya tergantung dari lama
pembedahan. Studi terbaru mengatakan bahwa respon katabolik terhadap pembedahan
dapat dicegah dengan intake yang adekuat. Intake energi dan protein adekuat penting untuk
membatasi kehilangan protein dan lemak. Namun, kebanyakan pasien tidak dapat makan
dengan cukup untuk memenuhi peningkatan dan/atau mencegah penurunan BB setelah
pembedahan. Masalah yang sering terjadi seperti nyeri, mual, pengobatan mulut kering, rasa
tidak nyaman di lambung dan distensi, puasa, prosedur tidak menyenangkan, ansietas,
makanan yang tidak familiar dan rutinitas rumah sakit semuanya berpotensi menurunkan
nafsu makan dan intake. Pasien yang tidak makan atau tidak cukup makan, cadangan protein
dan lemaknya akan berkurang dengan cepat. Hal ini mendatangkan konsekuensi klinis yang
signifikan, khususnya bagi mereka dengan gizi kurang sebelum operasi.
Untuk meminimalisir risiko komplikasi pasca bedah, maka sangat penting untuk
memperhatikan diet pra dan pasca bedah. Tujuan diet pra bedah adalah untuk
mengusahakan agar status gizi pasien dalam keadaan optimal pada saat pembedahan dan
untuk mengatasi stres serta penyembuhan luka. Sedangkan tujuan diet pasca bedah yaitu
untuk mengupayakan status gizi pasien segera kembali normal, mempercepat proses
penyembuhan dan meningkatkan daya tahan tubuh pasien, dengan cara sebagai berikut
(Almatsier, 2010):
a. Memberikan kebutuhan dasar (cairan, energi, protein)
b. Mengganti kehilangan protein, glikogen, zat besi, dan zat gizi lain
c. Memperbaiki ketidakseimbangan elektrolit dan cairan
Ada pun syarat diet pasca bedah adalah memberikan makanan secara bertahap (cair-
saring-lunak-biasa). Pemberian makanan dari tahap ke tahap tergantung pada macam
pembedahan dan keadaan pasien. Terdapat 3 jenis diet dengan indikasi pemberian sebagai
berikut (Almatsier, 2010):
a. Diet pasca bedah I
Diet ini diberian kepada semua pasien pasca bedah baik bedah kecil (setelah sadar
atau rasa mual hilang) maupun bedah besar (setelah rasa sadar atau mual hilang serta
ada tanda-tanda usus mulai bekerja). Selama 6 jam sesudah pembedahan, makanan
yang diberikan berupa air putih, teh manis, air kacang, hijau, sirup, air jeruk manis dan air
kaldu jernih. Makanan ini diberikan dalam waktu yang sesingkat mungkin, karena
kandungan semua zat gizinya rendah. Makanan diberikan secara bertahap sesuai
kemampuan dan kondisi pasien, mulai dari 30 ml/jam.
b. Diet pasca bedah II
Diberikan pada pasien pasca bedah besar saluran cerna atau sebagai perpindahan
dari diet pasca bedah I. Makanan diberikan dalam bentuk cair kental, berupa sari buah,
sup, susu, dan puding rata-rata 8-10 kali sehari selama pasien tidak tidur. Jumlah cairan
yang diberikan tergantung keadaan dan kondisi pasien. Diet ini diberikan dalam jangka
waktu sesingkat mungkin karena zat gizinya sangat kurang.
c. Diet pasca bedah III
Diberikan pada pasien pasca bedah besar saluran cerna atau sebagai perpindahan
dari diet pasca bedah II. Makanan yang diberikan berupa makanan saring ditambah susu
dan biskuit. Cairan hendaknya tidak melebihi 2.000 ml sehari.
d. Diet pasca bedah IV
Diet ini diberikan pada pasien pasca bedah kecil yang telah mampu menerima diet
pascabedah I dan pasien pasca bedah besar yang telah mampu menerima diet pasca
bedah II. Makanan yang diberikan berupa makanan lunak yang dibagi dalam 3 kali
makanan lengkap dan 1 kali makanan selingan.
Pemeriksaan Biokimia (Laboratorium)
Pemeriksaan laboratorium dapat mendeteksi masalah gizi pada fase awal sebelum tanda
dan gejala fisik kelihatan. Umumnya, pemeriksaan rutin menunjukkan informasi mengenai
kalori-protein, dengan serum albumin sebagai pemeriksaan yang paling umum digunakan
untuk mendeteksi masalah gizi. Pemeriksaan dilakukan untuk menentukan kecukupan
simpanan protein. Ada juga pemeriksaan yang mengukur produk hasil katabolisme protein
(seperti kreatinin), dan pemeriksaan yang lain mengukur produk anabolisme protein (seperti
kadar albumin, transferin, haemoglobin, hematokrit, prealbumin, retinol binding protein, dan
jumlah limfosit total) (McCann, 2003).
Albumin
Kadar albumin menunjukkan kadar protein dalam tubuh. Albumin membentuk lebih dari
50% total protein dalam darah dan berpengaruh terhadap sistem kardiovaskuler, karena
albumin membantu mempertahankan tekanan osmotik. Perlu diingat bahwa produksi albumin
berkaitan dengan metabolisme di hati dan suplai asam amino yang adekuat.
Hemoglobin
Hemoglobin (Hb) merupakan komponen utama dari dari sel darah merah yang
mentranspor oksigen. Pembentukan hemoglobin membutuhkan suplai protein yang adekuat
dalam membentuk asam amino. Nilai hemoglobin membantu dalam mengkaji kapasitas
oksigen darah dan berguna untuk diagnose anemia, defisiensi protein, dan status hidrasi.
Jumlah Limfosit Total
Limfosit (leukosit) merupakan sel darah putih, sel utama yang bertanggung jawab
terhadap infeksi bakteri. Leukosit bertugas untuk menghancurkan organisme sebagaimana
fagositosis, yang terjadi pada perbaikan seluler.
Kejadian malnutrisi menurunkan jumlah limfosit total, mengganggu kemampuan tubuh untuk
melawan infeksi. Jumlah limfosit total digunakan untuk mengevaluasi sistem imun, dan
membantu evaluasi simpanan protein. Jumlah limfosit total dapat juga terpengaruh oleh
banyak kondisi medis, sehingga nilainya terbatas.
PASIEN POST LAPARATOMI EXPLORASI + EXTENDED HEMICOLECTOMI KANAN +
ILEUSTOMI MUKUS FISTULA ATAS INDIKASI
PERITONITIS DIFUS EC PERFORASI TUMOR CAECUM T4N2M0 POD II
a. Riwayat Personal
Nama : Tn. S
Umur : 66 tahun
Jenis kelamin : laki-laki
Tgl Lahir : 01-01-1950
Agama : Islam
Pekerjaan : wiraswasta
Pendidikan terakhir : SD
Cara bayar : kontraktor BPJS
Diagnosa : post laparatomi explorasi + extended hemicolectomi kanan +
ileustomi mukofistel atas indikasi peritonitis difus ec perforasi
tumor caecum T4N2M0 POD II.
1) Riwayat Penyakit Dahulu
Pasien pernah didiagnosa TB abdomen 2 bulan yang lalu hasil berobat ke RS
swasta dan dilakukan USG kemudian disarankan untuk berobat ke RSUP.
2) Riwayat Penyakit Sekarang
Sejak 1 minggu SMRS pasien mengeluh nyeri seluruh perut, yang dirasakan
terus menerus dan semakin memberat. Keluhan disertai dengan mual, muntah
dan demam. Terdapat Penurunan berat badan. Pasien masuk RS dengan
diagnosa praoperasi peritonitis difus ec ca colon, dan dilakukan operasi pada 3
haris setelah dirawat di RS dengan diagnosa pasca operasi post hemicolectomi
kanan + ileustomi mukofistel.
b. Riwayat Sosial Ekonomi
Pasien adalah kepala keluarga dengan 1 orang istri dan 6 orang anak yang terdiri
dari 1 orang laki-laki dan 5 orang perempuan yang semuanya telah berkeluarga.
Pasien tinggal bersama istri dan anaknya yang keempat. Sehari-hari pasien bekerja
sebagai buruh bangunan dengan penghasilan ± Rp. 70.000 sampai 100.000 / hari, istri
pasien berdagang dengan penghasilan ± Rp. 100.000 sampai 200.000 / hari. Karena
sekarang usianya sudah bertambah tua, anak-anaknya tidak mengizinkan pasien
untuk bekerja lagi, pasien hanya beraktifitas di rumah dan kadang-kadang berkebun
di pekarangan rumah.
1. Antropometri
Berat Badan 3 bulan yang lalu : 60 Kg
Tinggi Badan : 169 cm
LILA hasil pengukuran : 23 Cm
Pasien menyatakan adanya perubahan pada baju atau celana yang terasa lebih
longgar
.
Pemeriksaan Biokimia
Hb Ht Eritrosit Leukosit Trombosit Albumin
(g/dl) (%) (juta/uL) (/mm3) (/mm3) (g/dl)
7,5 24 3,21 1,600 444,000 2,4
7,8 26 3,29 9,600 242,000 -
8,8 28 3,59 11,100 250,000 -
.
Pemeriksaan Klinis Dan Fisik
Tabel 2.3. Data tanda vital
Pemeriksaan Hasil Pemeriksaan Nilai Normal Satuan Keterangan
Tekanan darah 120/80 120/80 mmHg Normal
Nadi 80 60-100 kali/menit Normal
Respirasi 18 14-20 kali/menit Normal
Suhu - - - Afebris
Skala nyeri 1/10 0/10 - -
Dari penampakan fisik pasien terlihat kurus, hilangnya lemak subkutan dan atropi
otot lengan, nafsu makan tidak baik, pasien mengalami diare, ada gangguan menelan
dan mengunyah, gigi geligi tidak lengkap.
Aktifitas: saat ini pasien bedrest.
Asupan Makanan Dan Zat Gizi
Berdasarkan gambaran pola makan pasien 3 bulan SMRS, pola makan pasien 3x
makanan utama. Dengan nasi sebagai makanan pokok. setiap kali waktu makan,
pasien mengkonsumsi 100 gram nasi, protein hewani 1x/hari, sayur 3x/hari (wortel),
buah-buahan 1x/minggu , roti 1x/ hari dan susu 1x/hari. Bahan makanan yang sering
dikonsumsi adalah ayam 1 potong, telur 1 butir, daging sapi 1 potong sedang, tempe
1 potong sedang, tahu 1 buah sedang, wortel, kentang, pisang, pepaya, dan roti.
Minuman yang sering dikonsumsi adalah air putih dan susu beruang.
Tabel 2.4 Persentase FFSQ 3 Bulan SMRS
Energi (kkal) Protein (gr) Lemak (gr) KH (gr)
FFQ 1201,15 37,21 21,7 209,2
Kebutuhan (gr) 1561,62 56,4 43,37 237
Presentase (%) 76 % 65 % 50 % 88 %
Berdasarkan hasil recall 1 x 24 jam makanan yang dikonsumsi 1 hari setelah
dilakukan operasi. Jenis makanan yang dikonsumsi adalah makanan cair (entramix)
bertahap dan makanan lunak (bubur), didapatkan asupan zat gizi pasien sebagai
berikut:
Tabel 2.5 Hasil Recall 24 Jam Di RS Post Operasi (POD I)
Zat Gizi Asupan Kebutuhan % Kebutuhan
Energi 613 kkal 1561,62 kkal 39 %
Protein 26 gram 56,4 gram 46 %
Lemak 17,12 gram 43,37 gram 39 %
Karbohidrat 88,84 Gram 237 gram 37 %
Pengetahuan / Kepercayaan / Sikap
Pasien sebelumnya sudah pernah mendapatkan konseling dan pengetahuan
tentang gizi di RS swasta, sudah mengurangi makanan yang banyak menggunakan
minyak, mengurangi sayuran berwarna hijau dan jeroan, dan tidak suka ikan-ikanan
karena tidak suka bau amis dari ikan.
a. Aktivitas
Aktivitas dahulu : aktivitas sehari-hari pasien adalah bekerja sebagai buruh dan
berkebun.
b. Suplemen Obat Dan Herbal
Riwayat obat dahulu : Pasien mempunyai riwayat minum obat-obatan Pereda
nyeri.
Riwayat Obat sekarang : Selama di RS pasien mendapatkan obat – obatan
seperti yang terlihat pada tabel berikut.
Tabel 2.6 Suplemen Obat Selama di RS
Interaksi dengan
No Nama Obat Keterangan Efek samping obat
zat gizi
1. Ringer Laktat Mengembalikan Tidak ada Hipernatremia,
keseimbangan elektrolit kelainan ginjal,
pada keadaan dehidrasi kerusakan sel hati,
dan syok hipovolemik asidosis laktat
2. Ranitidin Menghambat kerja Tidak ada
histamin secara kompetitif Gangguan sakit
pada reseptor H2 dan kepala
mengurangi sekresi asam gastrointestinal
lambung seperti konstipasi,
diare, mual muntah,
nyeri, perut, pusing.
3 Cefotaxime bekerja dengan cara Tidak ada Gastrointestinal
memperlemah dan seperti diare, mual,
memecah dinding sel, muntah dan nyeri
membunuh bakteri. pada abdomen, sakit
digunakan untuk kepala dan pusing,
mengobati berbagai jenis kenaikan serum
infeksi bakteri, termasuk kreatinin dan ureum.
keadaan parah atau yang
mengancam nyawa.
4 Cetorolac Meredakan Tidak ada Pedih atau panas di
pembengkakan dan mata yang bersifat
timbulnya nyeri setelah semntara.
operasi.
5 Metronidazole bekerja dengan cara Tidak ada Nafsu makan turun,
memperlemah dan muncul infeksi
memecah dinding sel, jamur, diare, pusing,
membunuh bakteri. mual dan muntah,
Cefotaxime digunakan air kencing berwarna
untuk mengobati berbagai gelap, alergi, kejang.
jenis infeksi bakteri,
termasuk keadaan parah
atau yang mengancam
nyawa.
A. FFSQ 3 Bulan SMRS
No Bahan makanan Per hri Per mg URT/ gr E (Kkal) P (gr) L (gr) KH (gr)
1 Beras 3x 100 525 12 - 120
2 Singkong 1x 120 25 0,57 - 5,7
3 Ubi 1x 135 25 0,57 - 5,7
4 Roti 1x 20 50 1,1 - 11
5 Sukun 1x 150 25 0,57 - 5,7
6 Daging sapi 2x 35 21 2 1,4 -
7 Telur Ayam 2x 55 21 2 1,4 -
8 Ikan 1x 40 7,1 1 0,2 -
9 Ayam 2x 40 14 2 0,5 -
10 Tempe 3x 50 32 2,1 1,2 3
11 Tahu 3x 50 16 1,0 0,6 1,5
12 Kacang hijau 1x 20 10,7 0,7 0,4 1
13 Minyak 1x 5 50 - 5 -
14 Tomat 1x 25 12,5 0,5 - 2,5
15 Wortel 3x 25 37,5 1,5 - 7,5
16 Pisang 1x 100 7,1 - - 1,7
17 Pepaya 1x 100 7,1 - - 1,7
Susu kental tidak 1x 100 125 7 6 10
18
manis
19 Margarin 1x 5 50 - 5 -
20 Gula pasir 3x 13 21,4 - - 5,1
21 Biskuit 1x 10 43,75 1 - 10
22 Mie goreng 2x 200 50 1,1 - 11,4
23 Kentang 2x 100 25 0,5 - 5,7
ASESMEN GIZI
CH. CLIENT HISTORY
Data Umum
Tanggal lahir : 01 Januari 1950
Pekerjaan istri : Pedagang
CH.1. Riwayat Personal
CH.1.1. Data Personal
Nama : Tn. S
Umur : 66 tahun
Jenis kelamin : Laki-laki
Edukasi : SD
Peran dalam keluarga : Seorang suami
CH.2. Riwayat Medis/ Kesehatan Pasien/ Klien/ Keluarga
CH.2.1. Riwayat Medis/ Kesehatan terkait Gizi Pasien/ Klien atau Keluarga
Keluhan pasien : Nyeri seluruh perut yang dirasakan terus menerus dan
semakin memberat, mual, muntah dan demam
Gastrointestinal : Post laparatomi eksplorasi, extended hemicolectomy
kanan, ileustomi mukofistel, peritonitis difus ec perforasi
tumor caecum dan TB Abdomen
CH.2.2. Perawatan / Terapi/ Pengobatan
Perawatan bedah : Praoperasi peritonitis difus ec ca colon, post
hemicolectomi kanan dan ileustomi mukofistel
CH.3. Riwayat Sosial
CH.3.1. Riwayat Sosial
Factor sosio ekonomi : Menengah ke bawah
Sitasi rumah/ hidup : Tinggal bersama istri dan anak ke empat
Pekerjaan : Buruh bangunan
Agama : Islam
Kesimpulan:
1. Tn. S termasuk dalam kategori lansia
2. Tn. S telah melakukan operasi dengan diagnose post hemicolectomi kanan dan
ileustomi mukofistel
3. NC.1.4. Perubahan Fungsi Gastrointestinal
AD. ANTROPOMETRI
AD.1.1. Komposisi / Pertumbuhan Tubuh / Riwayat Berat Badan
Tinggi badan : 169 cm
Berat badan : 60 kg (3 bulan yang lalu)
LILA : 23 cm
Estimasi berat badan : (2.863 x LILA) – (4.019 x JK) – 14.533
: (2.863 x 23) – (4.019 x 0) – 14.533
: 65.849 – 0 – 14.533
: 51.3 kg
Perubahan berat badan : 8.7 kg
Kesimpulan:
1. Status gizi Tn. S berdasarkan LILA termasuk kategori normal
2. Tn. S diperkirakan mengalami perubahan berat badan 14.5% dalam waktu 3 bulan
BD. DATA BIOKIMIA, TES MEDIS DAN PROSEDUR
BD.1.10. Profil Anemia Gizi
Hemoglobin : 7.5 g/dl 7.8 gr/dl 8.8 gr/dl
Hematokrit : 24% 26% 28%
Eritrosit : 3.21 juta/uL 3.29 juta/uL 3.59 juta/uL
Leukosit : 1600/mm3 9600/mm3 11100/mm3
Trombosit : 444000/mm3 242000/mm3 250000/mm3
BD.1.11. Profil Protein
Albumin : 2.4 g/dl - -
Kesimpulan:
1. Kadar hemoglobin, hematocrit, eritrosit, trombosit, dan albumin Tn. S rendah
2. Kadar leukosit Tn. S mengalami peningkatan dan mencapai nilai normal
PD.NUTRITION-FOCUSED PHYSICAL FINDINGS
PD.1.1. Nutrition-Focused Physical Findings
Penampilan keseluruhan : Tampak kurus
Adiposa : Kehilangan lemak subkutan
Sistem pencernaan : Nafsu makan tidak baik dan diare
Otot : Atropi otot lengan
Gigi geligi : Tidak lengkap dan gangguan mengunyah
Tenggorokan & menelan : Gangguan menelan
Tanda – tanda vital : Tekanan darah 120/80 mmHg
Nadi 80 kali/ menit
Respirasi 18 kali/ menit
Suhu Afebris
Skala nyeri 1/10
Kesimpulan:
1. Tn. S beresiko malnutrisi karena kehilangan lemak subkutan, mengalami diare, dan
terjadi atropi otot lengan
2. Diperkirakan asupan Tn. S rendah karena gigi geligi tidak lengkap, memiliki
gangguan mengunyah dan gangguan menelan
3. Tanda-tanda vital Tn. S memiliki nilai normal
4. NC.1.1. Kesulitan menelan
5. NC.1.2. Kesulitan mengunyah/ menggigit
FH. RIWAYAT TERKAIT GIZI DAN MAKANAN
a. FFSQ 3 Bulan SMRS
No Bahan makanan Per hri Per mg URT/ gr E (Kkal) P (gr) L (gr) KH (gr)
1 Beras 3x 100 525 12 - 120
2 Singkong 1x 120 25 0,57 - 5,7
3 Ubi 1x 135 25 0,57 - 5,7
4 Roti 1x 20 50 1,1 - 11
5 Sukun 1x 150 25 0,57 - 5,7
6 Daging sapi 2x 35 21 2 1,4 -
7 Telur Ayam 2x 55 21 2 1,4 -
8 Ikan 1x 40 7,1 1 0,2 -
9 Ayam 2x 40 14 2 0,5 -
10 Tempe 3x 50 32 2,1 1,2 3
11 Tahu 3x 50 16 1,0 0,6 1,5
12 Kacang hijau 1x 20 10,7 0,7 0,4 1
13 Minyak 1x 5 50 - 5 -
14 Tomat 1x 25 12,5 0,5 - 2,5
15 Wortel 3x 25 37,5 1,5 - 7,5
16 Pisang 1x 100 7,1 - - 1,7
17 Pepaya 1x 100 7,1 - - 1,7
Susu kental tidak 1x 100 125 7 6 10
18
manis
19 Margarin 1x 5 50 - 5 -
20 Gula pasir 3x 13 21,4 - - 5,1
21 Biskuit 1x 10 43,75 1 - 10
22 Mie goreng 2x 200 50 1,1 - 11,4
23 Kentang 2x 100 25 0,5 - 5,7
b. Persentase FFSQ 3 Bulan SMRS
Energi (kkal) Protein (gr) Lemak (gr) KH (gr)
FFQ 1201,15 37,21 21,7 209,2
Kebutuhan (gr) 1561,62 56,4 43,37 237
Presentase (%) 76 % 65 % 50 % 88 %
c. Hasil Recall 24 Jam di RS Post Operasi (POD I)
Zat Gizi Asupan Kebutuhan % Kebutuhan
Energi 613 kkal 1561,62 kkal 39 %
Protein 26 gram 56,4 gram 46 %
Lemak 17,12 gram 43,37 gram 39 %
Karbohidrat 88,84 Gram 237 gram 37 %
FH.1. Asupan Makanan dan Zat Gizi
FH.1.1. Asupan Energi
FH.1.1.1. Asupan Energi
Asupan energi total : 613 kkal
FH.1.2. Asupan Makanan & Minuman
FH.1.2.2. Asupan Makanan
Pola makan/ snack : Frekuensi makan utama 3x dalam satu hari
FH.1.3 Asupan Enteral dan Parenteral
FH.1.3.1. Asupan Enteral
Formula/ cairan : Makanan cair Entramix
FH.1.5. Asupan Zat Gizi Makro
FH.1.5.1. Asupan Lemak
Lemak total : 17.12 gram
FH.1.5.3. Asupan Protein
Protein total : 26 gram
FH.1.5.5. Asupan Karbohidrat
Karbohidrat total : 88.84 gram
FH.2. Pemberian Makan dan Zat Gizi
FH.2.1. Riwayat Diet
FH.2.1.2. Pengalaman Diet
Edukasi di masa lalu : Sudah pernah mendapatkan konseling dan
pengetahuan tentang gizi di RS swasta, sudah
mengurangi makanan yang banyak menggunakan
minyak, mengurangi sayuran berwarna hijau dan
jeroan
FH.3. Penggunaan Obat-Obatan atau Obat Alternatif/ Pelengkap
FH.3.1. Pengobatan
Penggunaan obat yang diresepkan:
Interaksi dengan
No Nama Obat Keterangan Efek samping obat
zat gizi
1. Ringer Laktat Mengembalikan Hipernatremia,
keseimbangan elektrolit kelainan ginjal,
Tidak ada
pada keadaan dehidrasi kerusakan sel hati,
dan syok hipovolemik asidosis laktat
2. Ranitidin Gangguan sakit
Menghambat kerja kepala
histamin secara kompetitif gastrointestinal
pada reseptor H2 dan Tidak ada seperti konstipasi,
mengurangi sekresi asam diare, mual muntah,
lambung nyeri, perut, pusing.
3 Cefotaxime bekerja dengan cara
memperlemah dan Gastrointestinal
memecah dinding sel, seperti diare, mual,
membunuh bakteri. muntah dan nyeri
digunakan untuk Tidak ada pada abdomen, sakit
mengobati berbagai jenis kepala dan pusing,
infeksi bakteri, termasuk kenaikan serum
keadaan parah atau yang kreatinin dan ureum.
mengancam nyawa.
4 Cetorolac Meredakan
Pedih atau panas di
pembengkakan dan
Tidak ada mata yang bersifat
timbulnya nyeri setelah
semntara.
operasi.
5 Metronidazole Bekerja dengan cara
memperlemah dan
memecah dinding sel, Nafsu makan turun,
membunuh bakteri. muncul infeksi
Cefotaxime digunakan jamur, diare, pusing,
Tidak ada
untuk mengobati berbagai mual dan muntah,
jenis infeksi bakteri, air kencing berwarna
termasuk keadaan parah gelap, alergi, kejang.
atau yang mengancam
nyawa.
FH.4. Pengetahuan/ Kepercayaan/ Sikap
FH. 4.2. Kepercayaan dan Sikap
Kesukaan makanan : Tidak suka ikan-ikanan karena tidak suka bau
amis dari ikan
Kesimpulan:
1. Asupan energy Tn. S 39% dari total kebutuhan sehari
2. Asupan protein Tn. S 46% dari total kebutuhan sehari
3. Asupan lemak Tn. S 39% dari total kebutuhan sehari
4. Asupan karbohidrat Tn. S 37% dari total kebutuhan sehari
5. NI.1.2. Asupan energi inadekuat
6. NI.2.1. Asupan oral inadekuat
7. NC.4.1. Malnutrisi
CS. STANDAR PEMBANDING
CS.1. Kebutuhan Energi
CS.1.1. Estimasi Kebutuhan Energi
Estimasi kebutuhan energi total : (10 x BB) + (6.25 x TB) – (5 x U) + 5
: (10 x 51.3) + (6.25 x 169) – (5 x 66) + 5
: 513 + 1056.25 – 330 + 5
: 1244.25 kkal x FA x FS
: 1244.25 x 1.00 x 1.2
: 1493 kkal
Metoda estimasi kebutuhan : Miffin – St. Jeor
CS.2. Kebutuhan Zat Gizi Makro
CS.2.1 Estimasi Kebutuhan Lemak
Estimasi kebutuhan lemak total : 25% x kebutuhan energi total
: 25% x 1493
: 373.25 / 9
: 41.5 gram
Jenis lemak yang dibutuhkan : MUFA dan PUFA
CS.2.2. Estimasi Kebutuhan Protein
Estimasi kebutuhan protein total : 1.2/kg BB
: 1.2 x 51.3
: 61.56 gram (16.5%)
Jenis protein yang dibutuhkan : Protein dengan nilai bilogis tinggi, protein
dengan kandungan albumin tinggi
CS.2.3. Estimasi Kebutuhan Karbohidrat
Estimasi kebutuhan karbohidrat total : 58.5% x kebutuhan energi total
: 58.5% x 1493
: 873.405 / 4
: 218 gram
CS.2.4. Estimasi Kebutuhan Serat
Estimasi kebutuhan serat total : 15 – 20 gram
Jenis serat yang dibutuhkan : serat tidak larut air
CS.3. Kebutuhan Cairan
CS.3.1. Estimasi Kebutuhan Cairan
Estimasi kebutuhan cairan total : 1500 + (20 x BB>20 kg)
: 1500 + (20 x 31.3)
: 2126 mL
CS.4. Kebutuhan Zat Gizi Mikro
CS.4.1. Estimasi Kebutuhan Vitamin
Vit. A : 600 mcg
Vit. C : 90 mg
CS.4.2. Estimasi Kebutuhan Mineral
Zat besi : 13 mg
Natrium : 1200 mg
Zinc : 13 mg
Metoda memperkirakan kebutuhan : AKG 2013
CS.5. Rekomendasi Berat Badan/ IMT/ Pertumbuhan
CS.5.1. Rekomendasi BB/ Indeks Massa Tubuh/ Pertmbuhan
Berat badan ideal : (TB - 100) – 10% (TB - 100)
: (169 - 100) – 10% (TB - 100)
: 69 – 6.9
: 62.1 gram
Rekomendasi Indeks Massa Tubuh : BB / TB (m2)
: 62.1 / (1.692)
: 21.7 kg/m2
DIAGNOSIS GIZI
1. Domain Asupan :
NI 1.2. Asupan energI inadekuat berkaitan dengan berkurangnya kemampuan
untuk mengonsumsi energy dalam jumlah cukup dan keadaan patofisiologi yang
ditandai dengan asupan energi tidak mencukupi kebutuhan yaitu sebesar 39%,
asupan protein 46%, asupan lemak 39% dan asupan karbohidrat 37% dari total
kebutuhan sehari.
2. Domain Klinis :
NC.4.1 Malnutrisi berkaitan dengan asupan makan yang tidak tercukupi karena
kesulitan menelan, kesulitan menggigit,laparatomi explorasi , extended
Hemicolectomi kanan, ileustomi mukus fistula yang ditandai dengan kehilangan
lemak subkutan, asupan energy Tn. S 39%, asupan protein Tn. S 46%, Asupan
lemak Tn. S 39%, Asupan karbohidrat Tn. S 37%.
NC.1.4. Perubahan fungsi gastrointestinal berkaitan dengan perubahan struktur
dan atau fungsi GI, kanker kolon yang ditandai dengan mual, muntah, diare.
INTERVENSI GIZI
Tujuan Diet:
a. Meningkatkan asupan energy secara bertahap dimulai denan pemberian 80% dari
kebutuhan.
b. Meningkatkan status gizi pasien hingga normal.
c. Memberikan makanan yang tidak memberatkan kerja gastrointestinal
Syarat Diet:
a. Kebutuhan energy 80% dari kebutuhan sebesar 1493 kkal.
b. Kebutuhan protein 16.5% dari kebutuhan sebesar 61.56 gram.
c. Kebutuhan lemak 25% dari kebutuhan sebesar 33.17 gram
d. Kebutuhan karbohidrat 60% dari kebutuhan sebesar 179.16 gram.
e. Kebutuhan serat sebesar 15 gram
f. Kebutuhan cairan sebesar 2000 ml
g. Menghindari bumbu yang berbau tajam
h. Menghindari minuman yang mengandug karbondioksida
i. Makanan diberikan dengan porsi kecil dengan frekuensi sering
Preskripsi Diet
a. Jenis diet : Diet Pasca Bedah
b. Bentuk makanan : Makanan Lunak dan cair
c. Rute pemberian makanan : Oral
d. Frekuensi makan : 4x makanan lunak dan 4x makanann cair
Perhitungan Kebutuhan
a. Kebutuhan Zat Gizi Makro
Energi = (10 x BB) + (6.25 x TB) – (5 x U) + 5
= (10 x 51.3) + (6.25 x 169) – (5 x 66) + 5
= 513 + 1056.25 – 330 + 5
= 1244.25 kkal x FA x FS
= 1244.25 x 1.00 x 1.2
= 1493 kkal
Energi yang digunakan secara bertahap dimulai dengan pemberian 80% dari
kebutuhan energy.
Energi = 80% x 1493
= 1194.4 kkal
Lemak = (25% x Kebutuhan energi total)/ 9
= (25% x 1194.4)/ 9
= 33.17 gram
Protein = (15% x Kebutuhan energi total)/ 4
= (15% x 1194.4)/ 4
= 44.79 gram
KH = (60% x Kebutuhan energi total)/ 4
= (60 x 1194.4)/4
= 179.16 gram
b. Kebutuhan Zat Gizi Mikro
Fe = 13 mg
Zinc = 13 mg
Na = 1200 mg
Vit A = 600 mcg
Vit C = 90 mg
Standar dan Distribusi Makanan Sehari
Bahan Makanan ∑P KH Protein Lemak Kalori
Sumber Karbohidrat 1.75 70 7 306.3
Sumber Protein hewani
Rendah lemak 0.5 3.5 1 25
Lemak sedang 0.5 3.5 2.5 37.5
Tinggi lemak 0 0 0
Sumber Protein Nabati 0.5 3.5 2.5 1.5 37.5
Sayuran
Golongan A
Golongan B 0.5 2.5 0.5 12.5
Golongan C 0 0 0
Buah – buahan 1 12 50
Gula 0.5 6 25
Susu
Tanpa lemak 0 0 0
Lemak sedang 1 10 7 6 125
Tinggi lemak 0 0 0 0
Minyak
Lemak tidak jenuh 0 0
Lemak jenuh 1 5 50
TOTAL 104 24 16 668.8
Kebutuhan Makanan Lunak 103.16 24.76 17.17 674.4
% Kebutuhan Makanan Lunak 100.8143 96.9305 93.186 99.162
Entramix 2 76 20 16 520
Total Entramix + Makanan Lunak 180 44 32 1188.8
Bahan Makanan ∑P 7:00 9:00 10:00 11:30 13:00 16:00 18:00 19:30
Sumber Karbohidrat 1.75 0.5 0.5 0.5 0.25
Sumber Protein hewani
Rendah lemak 0.5 0.25 Entramix Entramix Entramix 0.25 Entramix
Lemak sedang 0.5 0.5
Tinggi lemak
Sumber Protein Nabati 0.5 0.2 0.3
Sayuran
Golongan A
Golongan B 0.5 0.1 0.2 0.2
Golongan C
Buah - buahan 1 0.25 0.5 0.25
Gula 0.5 0.5
Susu
Tanpa lemak
Lemak sedang 1 0.5 0.5
Tinggi lemak
Minyak
Lemak tidak jenuh
Lemak jenuh 1 0.5
Menu Makanan Sehari
Berat Energi Protein Lemak KH Na Vit. A Vit. C K Zinc Iron
Menu sehari Bahan Makanan
g kcal g g g mg µg mg mg mg mg
7:00
Beras 25 90.2 1.7 0.2 19.9 0 0 0 20.3 0.3 0.2
Nasi tim
Daging ayam 10 28.5 2.7 1.9 0 7.3 3.9 0 18.2 0.2 0.1
ayam
Wortel 10 2.6 0.1 0 0.5 6 157.4 0.7 29 0.1 0.2
Tahu bubuk Tahu 22 16.7 1.8 1.1 0.4 1.5 0 0 26.6 0.2 1.2
Pure melon Melon 47.5 18.2 0.3 0.1 3.9 0.5 15.7 2.8 75.1 0 0.2
Total 156.2 6.5 3.2 24.7 15.3 177 3.5 169.1 0.7 1.9
9:00
Makanan
Entramix
enteral 29 260 10 8 38 50 50
Total 260 10 8 38 50 50
10:00
tepung beras 25 90.2 1.7 0.2 19.9 0 0 0 20.3 0.3 0.2
Bubur
Gula merah 6.5 24.4 0 0 6.3 2.5 0 0 22.5 0 0.1
sumsum
susu sapi 100 66 3.2 3.9 4.8 55 55 1 140 0.4 0.1
Total 180.6 4.9 4.1 31 57.5 55 1 182.7 0.7 0.4
11:30
Makanan
Entramix
enteral 29 260 10 8 38 50 50
Total 260 10 8 38 50 50
13:00
beras putih
Bubur telur giling 25 90.2 1.7 0.2 19.9 0 0 0 20.3 0.3 0.2
telur ayam 25 38.8 3.2 2.7 0.3 31 47.5 0 31.5 0.3 0.3
Sayur bayam bayam segar 20 7.4 0.7 0 1.5 2.2 103.8 6.6 110 0.1 0.6
tempe kedele
Tempe
murni 15 29.9 2.8 1.2 2.5 0.9 0.2 0 55 0.3 0.3
bacem
minyak kelapa 2.5 21.6 0 2.5 0 0 0 0 0 0 0
Pisang
pisang ambon
ambon 25 23 0.3 0.1 5.8 0.3 2 2.3 99 0.1 0.1
Total 210.8 8.7 6.6 30 34.4 153.4 8.9 315.8 0.9 1.5
16:00
Makanan
Entramix
enteral 29 260 10 8 38 50 50
Total 260 10 8 38 50 50
18:00
beras putih
giling 12.5 45.1 0.8 0.1 9.9 0 0 0 10.1 0.1 0.1
Nasi tim
jamur kuping
ayam jamur
segar 20 5.4 0.4 0.1 1 0.4 0 0.8 71.2 0.2 0.3
daging ayam 10 28.5 2.7 1.9 0 7.3 3.9 0 18.2 0.2 0.1
Buah potong Papaya 27.5 10.7 0.2 0 2.7 0.8 37.1 17 70.7 0 0
Total 89.7 4.1 2.1 13.7 8.5 41 17.9 170.2 0.5 0.6
16:00
Makanan
Entramix
enteral 29 260 10 8 38 50 50
Total 260 10 8 38 50 50
Total Keseluruhan 1157.4 42.2 32 175.5 415.7 426.4 31.3 1137.9 2.9 4.3
Domain Edukasi
Konten:
a. Memberikan informasi mengenai tujuan, prinsip dan syarat diet terkait diet yang
sedang dijalani.
b. Memberikan informasi kepada klien dan keluarga mengenai rekomendasi diet serta
bentuk makanan yang sesuai kondisi klien.
c. Memberikan informasi bahan makanan yang harus dihindari klien seperti bahan
makanan yang mengandung gas berbau tajam.
Aplikasi:
a. Membantu klien dalam menjalankan diet dengan memberikan contoh menu
rekomendasi.
b. Memberikan dukungan makanan enteral.
c. Membantu pasien membuat jadwal makan dan menjaga keamanan pangan.
Domain Konseling
a. Memberitahu keluarga pasien mengenai makanan yang dianjurkan dengan yang tidak
dianjurkan.
b. Memberikan motivasi kepada klien untuk menjalankan diet dan membuat klien merasa
mampu untuk menjalankannya.
c. Meyakinkan kliean dan keluarga bahwa klien mampu mencapai tujuan diet yang telah
dibuat bersama.
d. Klien dilibatkan dalam seluruh keputusan yang dibuat dengan memberikan bantuan
dalam menentukan keputusan pemilihan makanan.
Domain Koordinasi
a. Dokter : Berkoordinasi mengenai keadaan medis klien, bentuk dan rute
pemberian makan klien, serta terapi medis yang akan diberikan.
b. Perawat : Berkoordinasi terkait persentase makanan yang dihabiskan oleh
klien.
c. Farmasi : Berkoordinasi terkait interaksi antara obat dan makanan yang
diterima klien.
d. Rekam medik : Data rekam medik klien yang diperlukan.
e. Keluarga : Berkoordinasi terkait motivasi dan dukungan dalam diet yang akan
dijalankan klien
MONITORING DAN EVALUASI
No Outcome Indikator Waktu
Asupan energi Asupan energi meningkat
1. Setiap hari
secara bertahap 80%
Klinis Peningkatan lemak subkutan
2. 2 bulan
dan massa otot
Klinis Mual, muntah, dan diare dapat
3. 1 minggu
disembuhkan
DAFTAR PUSTAKA
Almatsier, Sunita. 2010. Penuntun Diet Edisi Baru. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
Mahan, LK dan Escott-Stump, S. 2004. Krause’s Food, Nutrition, and Diet Therapy 11th.
Philadelphia: Saunders.
Pierce, Grace dan Borley, Neil. 2013. Surgery at a Glance 5th Edition. Jakarta: Erlangga.
Sjamsuhidajat dan Je Dong, W. 2005. Buku Ajar Ilmu Bedah. Jakarta: EGC.
Said, S., dkk. 2012. Gizi dan Penyembuhan Luka. Makasar: Indonesia Academic Publishing
Barung, S., dkk. 2017. Pola Kuman Dari Infeksi Luka Operasi Pada Pasien Multitrauma. Jurnal
Biomedik (JBM 9(2)):115-120
Wahyuningsih, Retno. 2013. Penatalaksanaan Diet pada Pasien. Yogyakarta: Graha Ilmu.