0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
183 tayangan22 halaman

Diet Pasca Laparotomi untuk Pemulihan

Laparatomi adalah pembedahan abdomen untuk menegakkan diagnosa pasien dengan nyeri atau masalah pencernaan yang tidak jelas penyebabnya. Diet pasca operasi penting untuk memulihkan status gizi dan mencegah komplikasi. Pemeriksaan laboratorium seperti albumin dan jumlah limfosit membantu mendeteksi masalah gizi. Kasus pasien ini adalah pria 66 tahun yang menjalani operasi karena tumor usus besar dan membutuhkan diet optimal untuk

Diunggah oleh

Intan Nila
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
183 tayangan22 halaman

Diet Pasca Laparotomi untuk Pemulihan

Laparatomi adalah pembedahan abdomen untuk menegakkan diagnosa pasien dengan nyeri atau masalah pencernaan yang tidak jelas penyebabnya. Diet pasca operasi penting untuk memulihkan status gizi dan mencegah komplikasi. Pemeriksaan laboratorium seperti albumin dan jumlah limfosit membantu mendeteksi masalah gizi. Kasus pasien ini adalah pria 66 tahun yang menjalani operasi karena tumor usus besar dan membutuhkan diet optimal untuk

Diunggah oleh

Intan Nila
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

TINJAUAN PUSTAKA

Laparatomy merupakan pembedahan yang menembus dinding abdomen. Pada pasien


yang mengalami nyeri abdominal atau masalah intestinal yang tidak jelas penyebabnya, dan
berbagai tes tidak dapat menemukan penyebabnya, maka dilakukanlah Explorasi Laparatomy
ini untuk menegakkan diagnosa. Sedangkan pada operasi yang spesifik, laparatomy adalah
tindakan pertama dalam proses pembedahan. Hal yang harus diperhatikan pasca operasi
laparotomi yaitu keseimbangan cairan, pentahapan nutrisi, monitor vital sign dan antibiotik
(Pierce and Borley, 2013).
Indikasi perlu dilakukannya laparatomi yaitu trauma abdomen (tumpul atau tajam) atau
ruptur hepar, peritonitis, perdarahan saluran pencernaan (internal bleeding), sumbatan pada
usus halus dan usus besar, atau adanya massa pada abdomen. Sementara komplikasi post
laparatomi yaitu ventilasi paru tidak adekuat, gangguan kardiovaskuler: hipertensi, aritmia
jantung, gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit, gangguan rasa nyaman dan
kecelakaan (Sjamsuhidajat dan De Jong, 2005).
Pada pasien bedah, buruknya status gizi sebelum operasi telah dihubungkan dengan
komplikasi post operasi, meningkatnya morbiditas dan mortalitas. Secara fisiologis pada
pasien post operasi terjadi peningkatan metabolik ekspenditur untuk energi dan perbaikan,
meningkatnya kebutuhan nutrien untuk homeostasis, pemulihan, kembali pada kesadaran
penuh, dan rehabilitasi ke kondisi normal. Prosedur operasi tidak hanya menyebabkan
terjadinya katabolisme tetapi juga mempengaruhi digestif, absorpsi, dan prosedur asimilasi di
saat kebutuhan nutrisi juga meningkat.
Respon yang kompleks terhadap stres fisik akibat pembedahan dan injury, dimediasi oleh
perubahan hormonal dan sistem saraf simpatis, salah satunya adalah hipermetabolisme dan
katabolisme. Terdapat retensi garam dan air bermakna serta peningkatan basal metabolik
rate dan produksi glukosa hepatic. Penyembuhan luka meningkatkan produksi glukosa
sebanyak 80% dan juga membutuhkan sintesis protein). Lemak (jaringan adiposa) dan
cadangan protein (lean muscle mass) dimobilisasi untuk memenuhi kebutuhan sintesis
glukosa dan protein yang menghasilkan penurunan BB. Secara umum, respon katabolik
meningkatkan kebutuhan energi dan protein, besar dan durasinya tergantung dari lama
pembedahan. Studi terbaru mengatakan bahwa respon katabolik terhadap pembedahan
dapat dicegah dengan intake yang adekuat. Intake energi dan protein adekuat penting untuk
membatasi kehilangan protein dan lemak. Namun, kebanyakan pasien tidak dapat makan
dengan cukup untuk memenuhi peningkatan dan/atau mencegah penurunan BB setelah
pembedahan. Masalah yang sering terjadi seperti nyeri, mual, pengobatan mulut kering, rasa
tidak nyaman di lambung dan distensi, puasa, prosedur tidak menyenangkan, ansietas,
makanan yang tidak familiar dan rutinitas rumah sakit semuanya berpotensi menurunkan
nafsu makan dan intake. Pasien yang tidak makan atau tidak cukup makan, cadangan protein
dan lemaknya akan berkurang dengan cepat. Hal ini mendatangkan konsekuensi klinis yang
signifikan, khususnya bagi mereka dengan gizi kurang sebelum operasi.

Untuk meminimalisir risiko komplikasi pasca bedah, maka sangat penting untuk
memperhatikan diet pra dan pasca bedah. Tujuan diet pra bedah adalah untuk
mengusahakan agar status gizi pasien dalam keadaan optimal pada saat pembedahan dan
untuk mengatasi stres serta penyembuhan luka. Sedangkan tujuan diet pasca bedah yaitu
untuk mengupayakan status gizi pasien segera kembali normal, mempercepat proses
penyembuhan dan meningkatkan daya tahan tubuh pasien, dengan cara sebagai berikut
(Almatsier, 2010):
a. Memberikan kebutuhan dasar (cairan, energi, protein)
b. Mengganti kehilangan protein, glikogen, zat besi, dan zat gizi lain
c. Memperbaiki ketidakseimbangan elektrolit dan cairan

Ada pun syarat diet pasca bedah adalah memberikan makanan secara bertahap (cair-
saring-lunak-biasa). Pemberian makanan dari tahap ke tahap tergantung pada macam
pembedahan dan keadaan pasien. Terdapat 3 jenis diet dengan indikasi pemberian sebagai
berikut (Almatsier, 2010):
a. Diet pasca bedah I
Diet ini diberian kepada semua pasien pasca bedah baik bedah kecil (setelah sadar
atau rasa mual hilang) maupun bedah besar (setelah rasa sadar atau mual hilang serta
ada tanda-tanda usus mulai bekerja). Selama 6 jam sesudah pembedahan, makanan
yang diberikan berupa air putih, teh manis, air kacang, hijau, sirup, air jeruk manis dan air
kaldu jernih. Makanan ini diberikan dalam waktu yang sesingkat mungkin, karena
kandungan semua zat gizinya rendah. Makanan diberikan secara bertahap sesuai
kemampuan dan kondisi pasien, mulai dari 30 ml/jam.
b. Diet pasca bedah II
Diberikan pada pasien pasca bedah besar saluran cerna atau sebagai perpindahan
dari diet pasca bedah I. Makanan diberikan dalam bentuk cair kental, berupa sari buah,
sup, susu, dan puding rata-rata 8-10 kali sehari selama pasien tidak tidur. Jumlah cairan
yang diberikan tergantung keadaan dan kondisi pasien. Diet ini diberikan dalam jangka
waktu sesingkat mungkin karena zat gizinya sangat kurang.
c. Diet pasca bedah III
Diberikan pada pasien pasca bedah besar saluran cerna atau sebagai perpindahan
dari diet pasca bedah II. Makanan yang diberikan berupa makanan saring ditambah susu
dan biskuit. Cairan hendaknya tidak melebihi 2.000 ml sehari.
d. Diet pasca bedah IV
Diet ini diberikan pada pasien pasca bedah kecil yang telah mampu menerima diet
pascabedah I dan pasien pasca bedah besar yang telah mampu menerima diet pasca
bedah II. Makanan yang diberikan berupa makanan lunak yang dibagi dalam 3 kali
makanan lengkap dan 1 kali makanan selingan.

Pemeriksaan Biokimia (Laboratorium)


Pemeriksaan laboratorium dapat mendeteksi masalah gizi pada fase awal sebelum tanda
dan gejala fisik kelihatan. Umumnya, pemeriksaan rutin menunjukkan informasi mengenai
kalori-protein, dengan serum albumin sebagai pemeriksaan yang paling umum digunakan
untuk mendeteksi masalah gizi. Pemeriksaan dilakukan untuk menentukan kecukupan
simpanan protein. Ada juga pemeriksaan yang mengukur produk hasil katabolisme protein
(seperti kreatinin), dan pemeriksaan yang lain mengukur produk anabolisme protein (seperti
kadar albumin, transferin, haemoglobin, hematokrit, prealbumin, retinol binding protein, dan
jumlah limfosit total) (McCann, 2003).
Albumin
Kadar albumin menunjukkan kadar protein dalam tubuh. Albumin membentuk lebih dari
50% total protein dalam darah dan berpengaruh terhadap sistem kardiovaskuler, karena
albumin membantu mempertahankan tekanan osmotik. Perlu diingat bahwa produksi albumin
berkaitan dengan metabolisme di hati dan suplai asam amino yang adekuat.
Hemoglobin
Hemoglobin (Hb) merupakan komponen utama dari dari sel darah merah yang
mentranspor oksigen. Pembentukan hemoglobin membutuhkan suplai protein yang adekuat
dalam membentuk asam amino. Nilai hemoglobin membantu dalam mengkaji kapasitas
oksigen darah dan berguna untuk diagnose anemia, defisiensi protein, dan status hidrasi.
Jumlah Limfosit Total
Limfosit (leukosit) merupakan sel darah putih, sel utama yang bertanggung jawab
terhadap infeksi bakteri. Leukosit bertugas untuk menghancurkan organisme sebagaimana
fagositosis, yang terjadi pada perbaikan seluler.
Kejadian malnutrisi menurunkan jumlah limfosit total, mengganggu kemampuan tubuh untuk
melawan infeksi. Jumlah limfosit total digunakan untuk mengevaluasi sistem imun, dan
membantu evaluasi simpanan protein. Jumlah limfosit total dapat juga terpengaruh oleh
banyak kondisi medis, sehingga nilainya terbatas.
PASIEN POST LAPARATOMI EXPLORASI + EXTENDED HEMICOLECTOMI KANAN +
ILEUSTOMI MUKUS FISTULA ATAS INDIKASI
PERITONITIS DIFUS EC PERFORASI TUMOR CAECUM T4N2M0 POD II

a. Riwayat Personal
Nama : Tn. S
Umur : 66 tahun
Jenis kelamin : laki-laki
Tgl Lahir : 01-01-1950
Agama : Islam
Pekerjaan : wiraswasta
Pendidikan terakhir : SD
Cara bayar : kontraktor BPJS
Diagnosa : post laparatomi explorasi + extended hemicolectomi kanan +
ileustomi mukofistel atas indikasi peritonitis difus ec perforasi
tumor caecum T4N2M0 POD II.
1) Riwayat Penyakit Dahulu
Pasien pernah didiagnosa TB abdomen 2 bulan yang lalu hasil berobat ke RS
swasta dan dilakukan USG kemudian disarankan untuk berobat ke RSUP.
2) Riwayat Penyakit Sekarang
Sejak 1 minggu SMRS pasien mengeluh nyeri seluruh perut, yang dirasakan
terus menerus dan semakin memberat. Keluhan disertai dengan mual, muntah
dan demam. Terdapat Penurunan berat badan. Pasien masuk RS dengan
diagnosa praoperasi peritonitis difus ec ca colon, dan dilakukan operasi pada 3
haris setelah dirawat di RS dengan diagnosa pasca operasi post hemicolectomi
kanan + ileustomi mukofistel.
b. Riwayat Sosial Ekonomi
Pasien adalah kepala keluarga dengan 1 orang istri dan 6 orang anak yang terdiri
dari 1 orang laki-laki dan 5 orang perempuan yang semuanya telah berkeluarga.
Pasien tinggal bersama istri dan anaknya yang keempat. Sehari-hari pasien bekerja
sebagai buruh bangunan dengan penghasilan ± Rp. 70.000 sampai 100.000 / hari, istri
pasien berdagang dengan penghasilan ± Rp. 100.000 sampai 200.000 / hari. Karena
sekarang usianya sudah bertambah tua, anak-anaknya tidak mengizinkan pasien
untuk bekerja lagi, pasien hanya beraktifitas di rumah dan kadang-kadang berkebun
di pekarangan rumah.

1. Antropometri
 Berat Badan 3 bulan yang lalu : 60 Kg
 Tinggi Badan : 169 cm
 LILA hasil pengukuran : 23 Cm
Pasien menyatakan adanya perubahan pada baju atau celana yang terasa lebih
longgar
.
Pemeriksaan Biokimia

Hb Ht Eritrosit Leukosit Trombosit Albumin


(g/dl) (%) (juta/uL) (/mm3) (/mm3) (g/dl)
7,5 24 3,21 1,600 444,000 2,4
7,8 26 3,29 9,600 242,000 -
8,8 28 3,59 11,100 250,000 -
.
Pemeriksaan Klinis Dan Fisik
Tabel 2.3. Data tanda vital
Pemeriksaan Hasil Pemeriksaan Nilai Normal Satuan Keterangan
Tekanan darah 120/80 120/80 mmHg Normal
Nadi 80 60-100 kali/menit Normal
Respirasi 18 14-20 kali/menit Normal
Suhu - - - Afebris
Skala nyeri 1/10 0/10 - -

Dari penampakan fisik pasien terlihat kurus, hilangnya lemak subkutan dan atropi
otot lengan, nafsu makan tidak baik, pasien mengalami diare, ada gangguan menelan
dan mengunyah, gigi geligi tidak lengkap.
Aktifitas: saat ini pasien bedrest.
Asupan Makanan Dan Zat Gizi
Berdasarkan gambaran pola makan pasien 3 bulan SMRS, pola makan pasien 3x
makanan utama. Dengan nasi sebagai makanan pokok. setiap kali waktu makan,
pasien mengkonsumsi 100 gram nasi, protein hewani 1x/hari, sayur 3x/hari (wortel),
buah-buahan 1x/minggu , roti 1x/ hari dan susu 1x/hari. Bahan makanan yang sering
dikonsumsi adalah ayam 1 potong, telur 1 butir, daging sapi 1 potong sedang, tempe
1 potong sedang, tahu 1 buah sedang, wortel, kentang, pisang, pepaya, dan roti.
Minuman yang sering dikonsumsi adalah air putih dan susu beruang.

Tabel 2.4 Persentase FFSQ 3 Bulan SMRS


Energi (kkal) Protein (gr) Lemak (gr) KH (gr)
FFQ 1201,15 37,21 21,7 209,2
Kebutuhan (gr) 1561,62 56,4 43,37 237
Presentase (%) 76 % 65 % 50 % 88 %

Berdasarkan hasil recall 1 x 24 jam makanan yang dikonsumsi 1 hari setelah


dilakukan operasi. Jenis makanan yang dikonsumsi adalah makanan cair (entramix)
bertahap dan makanan lunak (bubur), didapatkan asupan zat gizi pasien sebagai
berikut:
Tabel 2.5 Hasil Recall 24 Jam Di RS Post Operasi (POD I)

Zat Gizi Asupan Kebutuhan % Kebutuhan

Energi 613 kkal 1561,62 kkal 39 %

Protein 26 gram 56,4 gram 46 %

Lemak 17,12 gram 43,37 gram 39 %


Karbohidrat 88,84 Gram 237 gram 37 %

Pengetahuan / Kepercayaan / Sikap


Pasien sebelumnya sudah pernah mendapatkan konseling dan pengetahuan
tentang gizi di RS swasta, sudah mengurangi makanan yang banyak menggunakan
minyak, mengurangi sayuran berwarna hijau dan jeroan, dan tidak suka ikan-ikanan
karena tidak suka bau amis dari ikan.
a. Aktivitas
Aktivitas dahulu : aktivitas sehari-hari pasien adalah bekerja sebagai buruh dan
berkebun.
b. Suplemen Obat Dan Herbal
 Riwayat obat dahulu : Pasien mempunyai riwayat minum obat-obatan Pereda
nyeri.
 Riwayat Obat sekarang : Selama di RS pasien mendapatkan obat – obatan
seperti yang terlihat pada tabel berikut.

Tabel 2.6 Suplemen Obat Selama di RS


Interaksi dengan
No Nama Obat Keterangan Efek samping obat
zat gizi
1. Ringer Laktat Mengembalikan Tidak ada Hipernatremia,
keseimbangan elektrolit kelainan ginjal,
pada keadaan dehidrasi kerusakan sel hati,
dan syok hipovolemik asidosis laktat
2. Ranitidin Menghambat kerja Tidak ada
histamin secara kompetitif Gangguan sakit
pada reseptor H2 dan kepala
mengurangi sekresi asam gastrointestinal
lambung seperti konstipasi,
diare, mual muntah,
nyeri, perut, pusing.

3 Cefotaxime bekerja dengan cara Tidak ada Gastrointestinal


memperlemah dan seperti diare, mual,
memecah dinding sel, muntah dan nyeri
membunuh bakteri. pada abdomen, sakit
digunakan untuk kepala dan pusing,
mengobati berbagai jenis kenaikan serum
infeksi bakteri, termasuk kreatinin dan ureum.
keadaan parah atau yang
mengancam nyawa.
4 Cetorolac Meredakan Tidak ada Pedih atau panas di
pembengkakan dan mata yang bersifat
timbulnya nyeri setelah semntara.
operasi.
5 Metronidazole bekerja dengan cara Tidak ada Nafsu makan turun,
memperlemah dan muncul infeksi
memecah dinding sel, jamur, diare, pusing,
membunuh bakteri. mual dan muntah,
Cefotaxime digunakan air kencing berwarna
untuk mengobati berbagai gelap, alergi, kejang.
jenis infeksi bakteri,
termasuk keadaan parah
atau yang mengancam
nyawa.

A. FFSQ 3 Bulan SMRS


No Bahan makanan Per hri Per mg URT/ gr E (Kkal) P (gr) L (gr) KH (gr)
1 Beras 3x 100 525 12 - 120
2 Singkong 1x 120 25 0,57 - 5,7
3 Ubi 1x 135 25 0,57 - 5,7
4 Roti 1x 20 50 1,1 - 11
5 Sukun 1x 150 25 0,57 - 5,7
6 Daging sapi 2x 35 21 2 1,4 -
7 Telur Ayam 2x 55 21 2 1,4 -
8 Ikan 1x 40 7,1 1 0,2 -
9 Ayam 2x 40 14 2 0,5 -
10 Tempe 3x 50 32 2,1 1,2 3
11 Tahu 3x 50 16 1,0 0,6 1,5
12 Kacang hijau 1x 20 10,7 0,7 0,4 1
13 Minyak 1x 5 50 - 5 -
14 Tomat 1x 25 12,5 0,5 - 2,5
15 Wortel 3x 25 37,5 1,5 - 7,5
16 Pisang 1x 100 7,1 - - 1,7
17 Pepaya 1x 100 7,1 - - 1,7
Susu kental tidak 1x 100 125 7 6 10
18
manis
19 Margarin 1x 5 50 - 5 -
20 Gula pasir 3x 13 21,4 - - 5,1
21 Biskuit 1x 10 43,75 1 - 10
22 Mie goreng 2x 200 50 1,1 - 11,4
23 Kentang 2x 100 25 0,5 - 5,7
ASESMEN GIZI

CH. CLIENT HISTORY

Data Umum

Tanggal lahir : 01 Januari 1950

Pekerjaan istri : Pedagang

CH.1. Riwayat Personal

CH.1.1. Data Personal

Nama : Tn. S

Umur : 66 tahun

Jenis kelamin : Laki-laki

Edukasi : SD

Peran dalam keluarga : Seorang suami

CH.2. Riwayat Medis/ Kesehatan Pasien/ Klien/ Keluarga

CH.2.1. Riwayat Medis/ Kesehatan terkait Gizi Pasien/ Klien atau Keluarga

Keluhan pasien : Nyeri seluruh perut yang dirasakan terus menerus dan
semakin memberat, mual, muntah dan demam

Gastrointestinal : Post laparatomi eksplorasi, extended hemicolectomy


kanan, ileustomi mukofistel, peritonitis difus ec perforasi
tumor caecum dan TB Abdomen

CH.2.2. Perawatan / Terapi/ Pengobatan

Perawatan bedah : Praoperasi peritonitis difus ec ca colon, post


hemicolectomi kanan dan ileustomi mukofistel

CH.3. Riwayat Sosial

CH.3.1. Riwayat Sosial

Factor sosio ekonomi : Menengah ke bawah

Sitasi rumah/ hidup : Tinggal bersama istri dan anak ke empat

Pekerjaan : Buruh bangunan

Agama : Islam

Kesimpulan:

1. Tn. S termasuk dalam kategori lansia


2. Tn. S telah melakukan operasi dengan diagnose post hemicolectomi kanan dan
ileustomi mukofistel
3. NC.1.4. Perubahan Fungsi Gastrointestinal
AD. ANTROPOMETRI

AD.1.1. Komposisi / Pertumbuhan Tubuh / Riwayat Berat Badan

Tinggi badan : 169 cm

Berat badan : 60 kg (3 bulan yang lalu)

LILA : 23 cm

Estimasi berat badan : (2.863 x LILA) – (4.019 x JK) – 14.533

: (2.863 x 23) – (4.019 x 0) – 14.533

: 65.849 – 0 – 14.533

: 51.3 kg

Perubahan berat badan : 8.7 kg

Kesimpulan:

1. Status gizi Tn. S berdasarkan LILA termasuk kategori normal


2. Tn. S diperkirakan mengalami perubahan berat badan 14.5% dalam waktu 3 bulan

BD. DATA BIOKIMIA, TES MEDIS DAN PROSEDUR

BD.1.10. Profil Anemia Gizi

Hemoglobin : 7.5 g/dl 7.8 gr/dl 8.8 gr/dl

Hematokrit : 24% 26% 28%

Eritrosit : 3.21 juta/uL 3.29 juta/uL 3.59 juta/uL

Leukosit : 1600/mm3 9600/mm3 11100/mm3

Trombosit : 444000/mm3 242000/mm3 250000/mm3

BD.1.11. Profil Protein

Albumin : 2.4 g/dl - -

Kesimpulan:

1. Kadar hemoglobin, hematocrit, eritrosit, trombosit, dan albumin Tn. S rendah


2. Kadar leukosit Tn. S mengalami peningkatan dan mencapai nilai normal

PD.NUTRITION-FOCUSED PHYSICAL FINDINGS

PD.1.1. Nutrition-Focused Physical Findings

Penampilan keseluruhan : Tampak kurus

Adiposa : Kehilangan lemak subkutan

Sistem pencernaan : Nafsu makan tidak baik dan diare


Otot : Atropi otot lengan

Gigi geligi : Tidak lengkap dan gangguan mengunyah

Tenggorokan & menelan : Gangguan menelan

Tanda – tanda vital : Tekanan darah 120/80 mmHg


Nadi 80 kali/ menit
Respirasi 18 kali/ menit
Suhu Afebris
Skala nyeri 1/10

Kesimpulan:

1. Tn. S beresiko malnutrisi karena kehilangan lemak subkutan, mengalami diare, dan
terjadi atropi otot lengan
2. Diperkirakan asupan Tn. S rendah karena gigi geligi tidak lengkap, memiliki
gangguan mengunyah dan gangguan menelan
3. Tanda-tanda vital Tn. S memiliki nilai normal
4. NC.1.1. Kesulitan menelan
5. NC.1.2. Kesulitan mengunyah/ menggigit

FH. RIWAYAT TERKAIT GIZI DAN MAKANAN

a. FFSQ 3 Bulan SMRS


No Bahan makanan Per hri Per mg URT/ gr E (Kkal) P (gr) L (gr) KH (gr)
1 Beras 3x 100 525 12 - 120
2 Singkong 1x 120 25 0,57 - 5,7
3 Ubi 1x 135 25 0,57 - 5,7
4 Roti 1x 20 50 1,1 - 11
5 Sukun 1x 150 25 0,57 - 5,7
6 Daging sapi 2x 35 21 2 1,4 -
7 Telur Ayam 2x 55 21 2 1,4 -
8 Ikan 1x 40 7,1 1 0,2 -
9 Ayam 2x 40 14 2 0,5 -
10 Tempe 3x 50 32 2,1 1,2 3
11 Tahu 3x 50 16 1,0 0,6 1,5
12 Kacang hijau 1x 20 10,7 0,7 0,4 1
13 Minyak 1x 5 50 - 5 -
14 Tomat 1x 25 12,5 0,5 - 2,5
15 Wortel 3x 25 37,5 1,5 - 7,5
16 Pisang 1x 100 7,1 - - 1,7
17 Pepaya 1x 100 7,1 - - 1,7
Susu kental tidak 1x 100 125 7 6 10
18
manis
19 Margarin 1x 5 50 - 5 -
20 Gula pasir 3x 13 21,4 - - 5,1
21 Biskuit 1x 10 43,75 1 - 10
22 Mie goreng 2x 200 50 1,1 - 11,4
23 Kentang 2x 100 25 0,5 - 5,7
b. Persentase FFSQ 3 Bulan SMRS
Energi (kkal) Protein (gr) Lemak (gr) KH (gr)
FFQ 1201,15 37,21 21,7 209,2
Kebutuhan (gr) 1561,62 56,4 43,37 237
Presentase (%) 76 % 65 % 50 % 88 %

c. Hasil Recall 24 Jam di RS Post Operasi (POD I)

Zat Gizi Asupan Kebutuhan % Kebutuhan

Energi 613 kkal 1561,62 kkal 39 %

Protein 26 gram 56,4 gram 46 %

Lemak 17,12 gram 43,37 gram 39 %

Karbohidrat 88,84 Gram 237 gram 37 %

FH.1. Asupan Makanan dan Zat Gizi

FH.1.1. Asupan Energi

FH.1.1.1. Asupan Energi

Asupan energi total : 613 kkal

FH.1.2. Asupan Makanan & Minuman

FH.1.2.2. Asupan Makanan

Pola makan/ snack : Frekuensi makan utama 3x dalam satu hari

FH.1.3 Asupan Enteral dan Parenteral

FH.1.3.1. Asupan Enteral

Formula/ cairan : Makanan cair Entramix

FH.1.5. Asupan Zat Gizi Makro

FH.1.5.1. Asupan Lemak

Lemak total : 17.12 gram

FH.1.5.3. Asupan Protein

Protein total : 26 gram

FH.1.5.5. Asupan Karbohidrat

Karbohidrat total : 88.84 gram

FH.2. Pemberian Makan dan Zat Gizi

FH.2.1. Riwayat Diet

FH.2.1.2. Pengalaman Diet


Edukasi di masa lalu : Sudah pernah mendapatkan konseling dan
pengetahuan tentang gizi di RS swasta, sudah
mengurangi makanan yang banyak menggunakan
minyak, mengurangi sayuran berwarna hijau dan
jeroan

FH.3. Penggunaan Obat-Obatan atau Obat Alternatif/ Pelengkap

FH.3.1. Pengobatan

Penggunaan obat yang diresepkan:

Interaksi dengan
No Nama Obat Keterangan Efek samping obat
zat gizi
1. Ringer Laktat Mengembalikan Hipernatremia,
keseimbangan elektrolit kelainan ginjal,
Tidak ada
pada keadaan dehidrasi kerusakan sel hati,
dan syok hipovolemik asidosis laktat
2. Ranitidin Gangguan sakit
Menghambat kerja kepala
histamin secara kompetitif gastrointestinal
pada reseptor H2 dan Tidak ada seperti konstipasi,
mengurangi sekresi asam diare, mual muntah,
lambung nyeri, perut, pusing.

3 Cefotaxime bekerja dengan cara


memperlemah dan Gastrointestinal
memecah dinding sel, seperti diare, mual,
membunuh bakteri. muntah dan nyeri
digunakan untuk Tidak ada pada abdomen, sakit
mengobati berbagai jenis kepala dan pusing,
infeksi bakteri, termasuk kenaikan serum
keadaan parah atau yang kreatinin dan ureum.
mengancam nyawa.
4 Cetorolac Meredakan
Pedih atau panas di
pembengkakan dan
Tidak ada mata yang bersifat
timbulnya nyeri setelah
semntara.
operasi.
5 Metronidazole Bekerja dengan cara
memperlemah dan
memecah dinding sel, Nafsu makan turun,
membunuh bakteri. muncul infeksi
Cefotaxime digunakan jamur, diare, pusing,
Tidak ada
untuk mengobati berbagai mual dan muntah,
jenis infeksi bakteri, air kencing berwarna
termasuk keadaan parah gelap, alergi, kejang.
atau yang mengancam
nyawa.
FH.4. Pengetahuan/ Kepercayaan/ Sikap

FH. 4.2. Kepercayaan dan Sikap

Kesukaan makanan : Tidak suka ikan-ikanan karena tidak suka bau


amis dari ikan

Kesimpulan:

1. Asupan energy Tn. S 39% dari total kebutuhan sehari


2. Asupan protein Tn. S 46% dari total kebutuhan sehari
3. Asupan lemak Tn. S 39% dari total kebutuhan sehari
4. Asupan karbohidrat Tn. S 37% dari total kebutuhan sehari
5. NI.1.2. Asupan energi inadekuat
6. NI.2.1. Asupan oral inadekuat
7. NC.4.1. Malnutrisi
CS. STANDAR PEMBANDING

CS.1. Kebutuhan Energi

CS.1.1. Estimasi Kebutuhan Energi

Estimasi kebutuhan energi total : (10 x BB) + (6.25 x TB) – (5 x U) + 5

: (10 x 51.3) + (6.25 x 169) – (5 x 66) + 5

: 513 + 1056.25 – 330 + 5

: 1244.25 kkal x FA x FS

: 1244.25 x 1.00 x 1.2

: 1493 kkal

Metoda estimasi kebutuhan : Miffin – St. Jeor

CS.2. Kebutuhan Zat Gizi Makro

CS.2.1 Estimasi Kebutuhan Lemak

Estimasi kebutuhan lemak total : 25% x kebutuhan energi total

: 25% x 1493

: 373.25 / 9

: 41.5 gram

Jenis lemak yang dibutuhkan : MUFA dan PUFA

CS.2.2. Estimasi Kebutuhan Protein

Estimasi kebutuhan protein total : 1.2/kg BB

: 1.2 x 51.3

: 61.56 gram (16.5%)

Jenis protein yang dibutuhkan : Protein dengan nilai bilogis tinggi, protein
dengan kandungan albumin tinggi

CS.2.3. Estimasi Kebutuhan Karbohidrat

Estimasi kebutuhan karbohidrat total : 58.5% x kebutuhan energi total

: 58.5% x 1493

: 873.405 / 4

: 218 gram

CS.2.4. Estimasi Kebutuhan Serat

Estimasi kebutuhan serat total : 15 – 20 gram

Jenis serat yang dibutuhkan : serat tidak larut air


CS.3. Kebutuhan Cairan

CS.3.1. Estimasi Kebutuhan Cairan

Estimasi kebutuhan cairan total : 1500 + (20 x BB>20 kg)

: 1500 + (20 x 31.3)

: 2126 mL

CS.4. Kebutuhan Zat Gizi Mikro

CS.4.1. Estimasi Kebutuhan Vitamin

Vit. A : 600 mcg

Vit. C : 90 mg

CS.4.2. Estimasi Kebutuhan Mineral

Zat besi : 13 mg

Natrium : 1200 mg

Zinc : 13 mg

Metoda memperkirakan kebutuhan : AKG 2013

CS.5. Rekomendasi Berat Badan/ IMT/ Pertumbuhan

CS.5.1. Rekomendasi BB/ Indeks Massa Tubuh/ Pertmbuhan

Berat badan ideal : (TB - 100) – 10% (TB - 100)

: (169 - 100) – 10% (TB - 100)

: 69 – 6.9

: 62.1 gram

Rekomendasi Indeks Massa Tubuh : BB / TB (m2)

: 62.1 / (1.692)

: 21.7 kg/m2
DIAGNOSIS GIZI

1. Domain Asupan :
NI 1.2. Asupan energI inadekuat berkaitan dengan berkurangnya kemampuan
untuk mengonsumsi energy dalam jumlah cukup dan keadaan patofisiologi yang
ditandai dengan asupan energi tidak mencukupi kebutuhan yaitu sebesar 39%,
asupan protein 46%, asupan lemak 39% dan asupan karbohidrat 37% dari total
kebutuhan sehari.

2. Domain Klinis :
NC.4.1 Malnutrisi berkaitan dengan asupan makan yang tidak tercukupi karena
kesulitan menelan, kesulitan menggigit,laparatomi explorasi , extended
Hemicolectomi kanan, ileustomi mukus fistula yang ditandai dengan kehilangan
lemak subkutan, asupan energy Tn. S 39%, asupan protein Tn. S 46%, Asupan
lemak Tn. S 39%, Asupan karbohidrat Tn. S 37%.

NC.1.4. Perubahan fungsi gastrointestinal berkaitan dengan perubahan struktur


dan atau fungsi GI, kanker kolon yang ditandai dengan mual, muntah, diare.

INTERVENSI GIZI

Tujuan Diet:

a. Meningkatkan asupan energy secara bertahap dimulai denan pemberian 80% dari
kebutuhan.
b. Meningkatkan status gizi pasien hingga normal.
c. Memberikan makanan yang tidak memberatkan kerja gastrointestinal

Syarat Diet:

a. Kebutuhan energy 80% dari kebutuhan sebesar 1493 kkal.


b. Kebutuhan protein 16.5% dari kebutuhan sebesar 61.56 gram.
c. Kebutuhan lemak 25% dari kebutuhan sebesar 33.17 gram
d. Kebutuhan karbohidrat 60% dari kebutuhan sebesar 179.16 gram.
e. Kebutuhan serat sebesar 15 gram
f. Kebutuhan cairan sebesar 2000 ml
g. Menghindari bumbu yang berbau tajam
h. Menghindari minuman yang mengandug karbondioksida
i. Makanan diberikan dengan porsi kecil dengan frekuensi sering

Preskripsi Diet

a. Jenis diet : Diet Pasca Bedah


b. Bentuk makanan : Makanan Lunak dan cair
c. Rute pemberian makanan : Oral
d. Frekuensi makan : 4x makanan lunak dan 4x makanann cair
Perhitungan Kebutuhan

a. Kebutuhan Zat Gizi Makro


Energi = (10 x BB) + (6.25 x TB) – (5 x U) + 5
= (10 x 51.3) + (6.25 x 169) – (5 x 66) + 5
= 513 + 1056.25 – 330 + 5
= 1244.25 kkal x FA x FS
= 1244.25 x 1.00 x 1.2
= 1493 kkal

Energi yang digunakan secara bertahap dimulai dengan pemberian 80% dari
kebutuhan energy.

 Energi = 80% x 1493

= 1194.4 kkal

 Lemak = (25% x Kebutuhan energi total)/ 9

= (25% x 1194.4)/ 9

= 33.17 gram

 Protein = (15% x Kebutuhan energi total)/ 4

= (15% x 1194.4)/ 4

= 44.79 gram

 KH = (60% x Kebutuhan energi total)/ 4

= (60 x 1194.4)/4

= 179.16 gram

b. Kebutuhan Zat Gizi Mikro

Fe = 13 mg

Zinc = 13 mg

Na = 1200 mg

Vit A = 600 mcg

Vit C = 90 mg
Standar dan Distribusi Makanan Sehari

Bahan Makanan ∑P KH Protein Lemak Kalori

Sumber Karbohidrat 1.75 70 7 306.3


Sumber Protein hewani
Rendah lemak 0.5 3.5 1 25
Lemak sedang 0.5 3.5 2.5 37.5
Tinggi lemak 0 0 0
Sumber Protein Nabati 0.5 3.5 2.5 1.5 37.5
Sayuran
Golongan A
Golongan B 0.5 2.5 0.5 12.5
Golongan C 0 0 0
Buah – buahan 1 12 50
Gula 0.5 6 25
Susu
Tanpa lemak 0 0 0
Lemak sedang 1 10 7 6 125
Tinggi lemak 0 0 0 0
Minyak
Lemak tidak jenuh 0 0
Lemak jenuh 1 5 50
TOTAL 104 24 16 668.8
Kebutuhan Makanan Lunak 103.16 24.76 17.17 674.4
% Kebutuhan Makanan Lunak 100.8143 96.9305 93.186 99.162
Entramix 2 76 20 16 520
Total Entramix + Makanan Lunak 180 44 32 1188.8

Bahan Makanan ∑P 7:00 9:00 10:00 11:30 13:00 16:00 18:00 19:30

Sumber Karbohidrat 1.75 0.5 0.5 0.5 0.25


Sumber Protein hewani
Rendah lemak 0.5 0.25 Entramix Entramix Entramix 0.25 Entramix
Lemak sedang 0.5 0.5
Tinggi lemak
Sumber Protein Nabati 0.5 0.2 0.3
Sayuran
Golongan A
Golongan B 0.5 0.1 0.2 0.2
Golongan C
Buah - buahan 1 0.25 0.5 0.25
Gula 0.5 0.5
Susu
Tanpa lemak
Lemak sedang 1 0.5 0.5
Tinggi lemak
Minyak
Lemak tidak jenuh
Lemak jenuh 1 0.5

Menu Makanan Sehari


Berat Energi Protein Lemak KH Na Vit. A Vit. C K Zinc Iron
Menu sehari Bahan Makanan
g kcal g g g mg µg mg mg mg mg
7:00
Beras 25 90.2 1.7 0.2 19.9 0 0 0 20.3 0.3 0.2
Nasi tim
Daging ayam 10 28.5 2.7 1.9 0 7.3 3.9 0 18.2 0.2 0.1
ayam
Wortel 10 2.6 0.1 0 0.5 6 157.4 0.7 29 0.1 0.2
Tahu bubuk Tahu 22 16.7 1.8 1.1 0.4 1.5 0 0 26.6 0.2 1.2
Pure melon Melon 47.5 18.2 0.3 0.1 3.9 0.5 15.7 2.8 75.1 0 0.2
Total 156.2 6.5 3.2 24.7 15.3 177 3.5 169.1 0.7 1.9
9:00
Makanan
Entramix
enteral 29 260 10 8 38 50 50
Total 260 10 8 38 50 50
10:00
tepung beras 25 90.2 1.7 0.2 19.9 0 0 0 20.3 0.3 0.2
Bubur
Gula merah 6.5 24.4 0 0 6.3 2.5 0 0 22.5 0 0.1
sumsum
susu sapi 100 66 3.2 3.9 4.8 55 55 1 140 0.4 0.1
Total 180.6 4.9 4.1 31 57.5 55 1 182.7 0.7 0.4
11:30
Makanan
Entramix
enteral 29 260 10 8 38 50 50
Total 260 10 8 38 50 50
13:00
beras putih
Bubur telur giling 25 90.2 1.7 0.2 19.9 0 0 0 20.3 0.3 0.2
telur ayam 25 38.8 3.2 2.7 0.3 31 47.5 0 31.5 0.3 0.3
Sayur bayam bayam segar 20 7.4 0.7 0 1.5 2.2 103.8 6.6 110 0.1 0.6
tempe kedele
Tempe
murni 15 29.9 2.8 1.2 2.5 0.9 0.2 0 55 0.3 0.3
bacem
minyak kelapa 2.5 21.6 0 2.5 0 0 0 0 0 0 0
Pisang
pisang ambon
ambon 25 23 0.3 0.1 5.8 0.3 2 2.3 99 0.1 0.1
Total 210.8 8.7 6.6 30 34.4 153.4 8.9 315.8 0.9 1.5
16:00
Makanan
Entramix
enteral 29 260 10 8 38 50 50
Total 260 10 8 38 50 50
18:00
beras putih
giling 12.5 45.1 0.8 0.1 9.9 0 0 0 10.1 0.1 0.1
Nasi tim
jamur kuping
ayam jamur
segar 20 5.4 0.4 0.1 1 0.4 0 0.8 71.2 0.2 0.3
daging ayam 10 28.5 2.7 1.9 0 7.3 3.9 0 18.2 0.2 0.1
Buah potong Papaya 27.5 10.7 0.2 0 2.7 0.8 37.1 17 70.7 0 0
Total 89.7 4.1 2.1 13.7 8.5 41 17.9 170.2 0.5 0.6
16:00
Makanan
Entramix
enteral 29 260 10 8 38 50 50
Total 260 10 8 38 50 50
Total Keseluruhan 1157.4 42.2 32 175.5 415.7 426.4 31.3 1137.9 2.9 4.3
Domain Edukasi

Konten:

a. Memberikan informasi mengenai tujuan, prinsip dan syarat diet terkait diet yang
sedang dijalani.
b. Memberikan informasi kepada klien dan keluarga mengenai rekomendasi diet serta
bentuk makanan yang sesuai kondisi klien.
c. Memberikan informasi bahan makanan yang harus dihindari klien seperti bahan
makanan yang mengandung gas berbau tajam.

Aplikasi:

a. Membantu klien dalam menjalankan diet dengan memberikan contoh menu


rekomendasi.
b. Memberikan dukungan makanan enteral.
c. Membantu pasien membuat jadwal makan dan menjaga keamanan pangan.

Domain Konseling

a. Memberitahu keluarga pasien mengenai makanan yang dianjurkan dengan yang tidak
dianjurkan.
b. Memberikan motivasi kepada klien untuk menjalankan diet dan membuat klien merasa
mampu untuk menjalankannya.
c. Meyakinkan kliean dan keluarga bahwa klien mampu mencapai tujuan diet yang telah
dibuat bersama.
d. Klien dilibatkan dalam seluruh keputusan yang dibuat dengan memberikan bantuan
dalam menentukan keputusan pemilihan makanan.

Domain Koordinasi

a. Dokter : Berkoordinasi mengenai keadaan medis klien, bentuk dan rute


pemberian makan klien, serta terapi medis yang akan diberikan.
b. Perawat : Berkoordinasi terkait persentase makanan yang dihabiskan oleh
klien.
c. Farmasi : Berkoordinasi terkait interaksi antara obat dan makanan yang
diterima klien.
d. Rekam medik : Data rekam medik klien yang diperlukan.
e. Keluarga : Berkoordinasi terkait motivasi dan dukungan dalam diet yang akan
dijalankan klien

MONITORING DAN EVALUASI

No Outcome Indikator Waktu


Asupan energi Asupan energi meningkat
1. Setiap hari
secara bertahap 80%
Klinis Peningkatan lemak subkutan
2. 2 bulan
dan massa otot
Klinis Mual, muntah, dan diare dapat
3. 1 minggu
disembuhkan
DAFTAR PUSTAKA

Almatsier, Sunita. 2010. Penuntun Diet Edisi Baru. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

Mahan, LK dan Escott-Stump, S. 2004. Krause’s Food, Nutrition, and Diet Therapy 11th.
Philadelphia: Saunders.

Pierce, Grace dan Borley, Neil. 2013. Surgery at a Glance 5th Edition. Jakarta: Erlangga.

Sjamsuhidajat dan Je Dong, W. 2005. Buku Ajar Ilmu Bedah. Jakarta: EGC.

Said, S., dkk. 2012. Gizi dan Penyembuhan Luka. Makasar: Indonesia Academic Publishing

Barung, S., dkk. 2017. Pola Kuman Dari Infeksi Luka Operasi Pada Pasien Multitrauma. Jurnal
Biomedik (JBM 9(2)):115-120

Wahyuningsih, Retno. 2013. Penatalaksanaan Diet pada Pasien. Yogyakarta: Graha Ilmu.

Anda mungkin juga menyukai