Anda di halaman 1dari 164

LAPORAN PRAKTIK KERJA PROFESI

FARMASI KOMUNITAS/APOTEK

di

APOTEK KIMIA FARMA 107 PWS


MEDAN

Disusun Oleh:
Lestiani Lubis, S.Farm.
NIM 173202243

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN PROFESI APOTEKER


FAKULTAS FARMASI
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN
2018
KATA PE
KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis ucapkan kepada Tuhan Yang Maha Esa atas segala

limpahan berkat, rahmat dan karuniaNya, sehingga penulis dapat menyelesaikan

praktik kerja profesi di Apotek Kimia Farma No. 107 PWS Medan. Tujuan

dilaksanakannya praktik kerja profesi di apotek adalah untuk memahami peran

apoteker di apotek dalam menunjang pelayanan kesehatan kepada masyarakat.

Pada kesempatan ini penulis hendak menyampaikan rasa hormat dan terima

kasih yang sebesar-besarnya kepada Ibu Prof. Dr. Masfria, M.S., Apt., selaku

Dekan Fakultas Farmasi Universitas Sumatera Utara yang telah memberikan

fasilitas dan masukan selama masa pendidikan, kepada Ibu Dr. Aminah

Dalimunthe, M.Si., Apt., sebagai Ketua Program Studi Pendidikan Profesi

Apoteker Fakultas Farmasi Universitas Sumatera Utara, kepada Bapak M. Tri

Kurniawan, S.Si., Apt., selaku Bisnis Manager PT. Kimia Farma Apotek Medan,

kepadaHengki Hadi Saputra, S.Farm., Apt., selaku Pembimbing Apotek dan Ibu

Dr. Poppy Anjelisa Z. Hasibuan., M.Si., Apt., selaku Pembimbing Fakultas, kepada

seluruh staf pegawai Fakultas Farmasi Universitas Sumatera Utara dan staf pegawai

Apotek yang telah banyak membantu penulis selama melaksanakan Praktik Kerja

Profesi Apoteker di Apotek Kimia Farma No. 107 PWS Medan atas kerja sama

dan bantuan yang diberikan selama penulis melakukan praktik di apotek ini.

Penulis juga mengucapkan terima kasih dan penghargaan yang tiada

terhingga kepada Ayahanda Rinaldi Lubis dan Ibunda Suryati, yang telah

memberikan cinta dan kasih sayang yang tidak ternilai dengan apapun,

pengorbanan baik materi maupun motivasi beserta doa yang tulus yang tidak pernah
berhenti. Kakak dan adik tercinta Duma Sari Lubis, Fina Sarita Lubis, Agung

Agustian Lubis, Khansa Zhafirah Lubis serta seluruh keluarga, sahabat dan teman-

teman PSPA XXV yang selalu mendoakan dan memberikan semangat.

Penulis menyadari laporan ini masih banyak kekurangan, untuk itu penulis

mengharapkan kritik dan saran dari pembaca. Semoga laporan ini bermanfaat bagi

kita semua dan khususnya demi pengembangan ilmu pengetahuan di bidang

farmasi.

Medan, Agustus 2018


Penulis,

Lestiani Lubis, S. Farm,


NIM 1732022423
RINGKASAN

Praktik Kerja Profesi Apoteker (PKPA) Farmasi Komunitas di Apotek


Kimia Farma No. 107 PWS Medan, telah dilaksanakan pada tanggal 16 Agustus
2018 hingga 10 September 2018. Praktik Kerja Profesi Apoteker ini dilaksanakan
dalam upaya untuk memberikan perbekalan, keterampilan dan keahlian kepada
calon apoteker dengan melihat secara langsung cara pengelolaan suatu apotek serta
peran dan tugas Apoteker penanggung jawab dalam melaksanakan pelayanan
kefarmasian di apotek.
Kegiatan ini bertujuan agar calon apoteker mampu mengelola apotek secara
profesional sesuai dengan peraturan perundang-undangan dan kaidah-kaidah
profesi yang berlaku.
Kegiatan PKPA di Apotek Kimia Farma No. 107 PWS Medan, yang
dilakukan meliputi melihat dan mempelajari sistem penyusunan obat di apotek,
pendataan perbekalan farmasi dan masa kadaluarsa obat, penyiapan resep tunai, tata
cara pembelian dan penerimaan barang dari PBF, pencatatan stok obat yang habis
pada buku defekta serta mempelajari teknik merchandising swalayan farmasi di
apotek. Selain itu juga belajar untuk memberikan pelayanan swamedikasi dan
informasi obat kepada pasien serta pelayanan obat dalam bentuk resep.
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Menurut undang-undang nomor 36 tahun 2009 tentang kesehatan, setiap

orang berhak untuk mendapatkan informasi dan edukasi tentang kesehatan yang

seimbang dan bertanggung jawab. Salah satu sarana yang dapat digunakan adalah

Apotek yang merupakan sarana pelayanan kefarmasian tempat dilakukan praktik

kefarmasian oleh apoteker dimana pelayanan kefarmasiaan pada saat ini telah

bergeser orientasinya dari Drug Oriented ke Patient Oriented yang mengacu

kepada Pharmaceutical care (Menkes RI, 2016).

Apoteker memiliki tanggung jawab dalam upaya peningkatan kesehatan

masyarakat. Selama ini masyarakat lebih mengenal apoteker sebagai pembuat obat

di industri farmasi atau penjual/peracik obat–obat resep di rumah sakit dan apotek

saja. Disisi lain, apoteker juga ikut berperan dalam penanganan masalah-masalah

pasien di tingkat individu maupun tingkat masyarakat bersama dengan tenaga

kesehatan yang lainnya, yaitu dokter, perawat, bidan dan dokter gigi. Selain peran

di bidang pengadaan dan distribusi obat, peran apoteker saat ini bertambah menjadi

berfokus ke masalah kesehatan pasien, aspek manajerial, dan fungsi sebagai

promotor kesehatan (Kristina, 2014).

Penerapan praktik pelayanan kefarmasian di apotek merupakan salah satu

faktor keterampilan dalam Program Studi Profesi Apoteker (PSPA), dalam rangka

menerapkan praktik pelayanan kefarmasian di Apotek, maka mahasiswa apoteker

perlu dibekali keterampilan dan keahlian dalam mengelola apotek melalui Praktik
Kerja Profesi Apoteker (PKPA) di apotek, hal ini bertujuan agar mahasiswa

apoteker dapat mengetahui dan memahami secara langsung peran apoteker dalam

pengelolaan suatu apotek serta pelayanan kefarmasian secara profesional sesuai

dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku, sehingga memberikan

pengalaman dan menumbuhkan motivasi kepada calon apoteker dalam mendirikan

dan mengelola apotek. Berdasarkan hal tersebut, maka PSPA Fakultas Farmasi,

Universitas Sumatera Utara, Medan bekerjasama dengan PT Kimia Farma Apotek

(Persero) Tbk. Unit Bisnis Medan, salah satunya Apotek Kimia Farma 107 PWS

Medan di Jalan Gatot Subroto No.72 C. Adapun Praktik Kerja Profesi Apoteker

dilaksanakan mulai tanggal 16 Juli 2018 sampai 10 Agustus 2018.

1.2 Tujuan Kegiatan

Praktik Kerja Profesi Apoteker (PKPA) di Apotek Kimia Farma bertujuan

agar calon apoteker:

a. Mengetahui secara umum kegiatan pelayanan kefarmasian di Apotek Kimia

Farma 107 PWS Medan.

b. Mempelajari pekerjaan kefarmasian dalam aspek professional yaitu skrining

resep, memberi pelayanan informasi obat, konseling, informasi dan edukasi

serta swamedikasi.

c. Mempelajari pekerjaan kefarmasian dalam aspek aspek manajerial yaitu proses

pengelolaan obat mulai dari perencanaan, pengadaan, penerimaan,

penyimpanan, pendistribusian sampai pelaporan dan pemusnahan.


1.3 Manfaat Kegiatan

Melalui kegiatan yang diperoleh selama PKPA di Apotek Kimia Farma,

diharapkan calon apoteker dapat mengetahui peran dan tugas serta tanggung jawab

Apoteker Pengelola Apotek (APA), organisasi dan manajerial yang berlangsung di

apotek serta meningkatkan pengetahuan dan keterampilan calon apoteker dalam

pelayanan kefarmasian (pharmaceutical care) di apotek dengan cara memberikan

informasi obat, edukasi dan konseling obat.

1.4 Pelaksanaan Kegiatan

PKPA di Apotek Kimia Farma 107 PWS dilaksanakan pada tanggal 16

Juli 2018 sampai 10 Agustus 2018. Pembagian tugas PKPA di Apotek Kimia Farma

107 dengan menggunakan 3 shift, yaitu pukul 08.00 – 15.00 WIB, 12.00 – 19.00

WIB dan pukul 15.00 – 22.00 WIB.


BAB II

TINJAUAN UMUM APOTEK

2.1 Definisi, Fungsi, dan Tujuan Apotek

Berdasarkan Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia

No.1332/MENKES/SK/X/2002 tentang Ketentuan dan Tata Cara Pemberian Izin

Apotek yang dimaksud dengan Apotek adalah suatu tempat tertentu, tempat

dilakukan pekerjaan kefarmasian dan penyaluran sediaan farmasi, perbekalan

kesehatan lainnya kepada masyarakat, sedangkan menurut Peraturan Menteri

Kesehatan Republik Indonesia No. 9 Tahun 2017 tentang Apotek dan PMK No. 73

tahun 2016 tentang standar pelayanan kefarmasian di Apotek, yang dimaksud

dengan Apotek adalah sarana pelayanan kefarmasian tempat dilakukan praktek

kefarmasian oleh Apoteker. Pelayanan kefarmasian adalah suatu pelayanan

langsung dan bertanggung jawab kepada pasien yang berkaitan dengan sediaan

farmasi dengan maksud mencapai hasil yang pasti untuk meningkatkan mutu

kehidupan pasien. Dalam pelaksanaannya Apotek menyelenggarakan fungsi yaitu

pengelolaan sediaan Farmasi, Alat Kesehatan, dan Bahan Medis Habis Pakai; dan

pelayanan farmasi klinik, termasuk di komunitas.

Berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 9

Tahun 2017 tentang Apotek pada Pasal 2, pengaturan apotek bertujuan untuk:

a. Meningkatkan kualitas pelayanan kefarmasian di apotek;

b. Memberikan perlindungan pasien dan masyarakat dalam memperoleh pelayanan

kefarmasian di Apotek; dan

c. Menjamin kepastian hukum bagi tenaga kefarmasian dalam memberikan

pelayanan kefarmasian di Apotek.


2.2 Peran, Fungsi, dan Tugas Apoteker di Apotek

2.2.1 Peran apoteker

Peran apoteker di apotek sebagai berikut:

a. Apoteker sebagai Profesional

Apoteker harus memiliki rasa kepedulian yang tinggi terhadap masalah

kesehatan yang sedang dihadapi oleh pasien, kompeten di bidang kefarmasian

dan memiliki komitmen. Selain itu, Apoteker berkewajiban untuk menyediakan,

menyimpan dan menyerahkan perbekalan farmasi yang bermutu baik dan

keabsahannya terjamin kepada masyarakat (Hartono, 1998).

b. Apoteker sebagai Manager

Sebagai manager harus mampu mengelola apotek dengan baik sehingga semua

kegiatan diapotek berlangsung secara efektif dan efisien. Apoteker harus

mempunyai kemampuan manajerial yang baik, yaitu keahlian dalam

menjalankan prinsip-prinsip ilmu manajemen, yang meliputi:

1. Kepemimpinan (Leadership)

Merupakan kemampuan untuk mengarahkan atau menggerakkan orang lain

(anggota atau bawahan) untuk bekerja dengan rela sesuai dengan apa yang

diinginkannya, dalam mencapai tujuan tertentu. Untuk dapat memimpin

apotek dengan baik maka seorang Apoteker harus mempunyai pengetahuan

tentang pembukuan, administrasi dan personalia (Hartono, 1998).

2. Perencanaan (Planing)

Perencanaan merupakan dasar dari pengorganisasian, pengarahan, koordinasi

dan pengawasan. Tanpa perencanan, tidak akan dapat menyelenggarakan

sesuatu dengan baik. Perencanaan yang baik harus berdasarkan atas fakta

bukan atas emosi maupun harapan yang hampa,oleh karena itu perencanaan
yang baik harus dilengkapi dengan menyusun jadwal waktu dan pembiayaan

(Anief, 1995).

3. Pengorganisasian (Organizing)

Pengorganisasian adalah fungsi yang mempersatukan semua sumber daya

yang ada dengan sistem yang teratur dan mengatur orang-orang dalam suatu

pola yang harmonis sehingga mereka dapat melaksanakan aktivitas sesuai

dengan tujuan yang telah ditetapkan (Anief, 2008).

4. Pengarahan (Actuating)

Fungsi pengarahan adalah kegiatan yang khususnya ditujukan untuk

mengatasi dan mengarahkan bawahan sehingga seorang pemimpin secara

manusiawi bisa mengikat bawahan untuk bekerja sama secara sukarela

menyumbangkan tenaga seefisien dan seefektif mungkin untuk mencapai

tujuan organisasi (Anief, 2008).

5. Pengawasan (Controling)

Fungsi Pengawasan (Controling) merupakan fungsi terakhir yang akan

dilakukan manajer guna melengkapi fungsi yang sudah dilakukan lebih

dahulu. Pengawasan merupakan fungsi yang bertujuan untuk melakukan

perbaikan-perbaikan yang perlu dilakukan jika terjadi penyimpangan

pelaksanaan perencanaan yang telah ditetapkan (Anief, 2008).

c. Apoteker sebagai Retailer

Seorang Apoteker harus mempunyai kemampuan dalam menyusun suatu

rencana mengenai pemasaran obat, sehingga obat yang diterima atau pun

dikeluarkan ke pasaran berada dalam jumlah yang tepat. Kunci sukses seorang

Apoteker sebagai retailer adalah sebagai berikut:

- Identifying
Identifying adalah menganalisis dan mengumpulkan informasi-informasi

mengenai konsumen (Hartono, 1998).

- Stimulating-Satisfying Demands

Stimulating yaitu memberi isyarat atau dorongan sosial dan komersial dengan

diikuti pemberian informasi-informasi yang dibutuhkan konsumen mengenai

produk yang akan dibeli. Satisfying demands merupakan pemberian

pelayanan yang terbaik, jujur serta penuh kesabaran dan yang terpenting

adalah produk yang dijual harus tepat kualitas, tepat jumlah dan tepat waktu

(Hartono, 1998).

2.2.2 Tugas dan Fungsi apoteker

Apoteker adalah sarjana farmasi yang telah lulus sebagai apoteker dan telah

mengucapkan sumpah jabatan apoteker. Dalam menjalankan pekerjaan

kefarmasian, apoteker dibantu oleh Tenaga Teknis Kefarmasian yang terdiri atas

sarjana farmasi, ahli madya farmasi dan analis farmasi (Menkes RI, 2016).

Fungsi dan tugas apoteker menurut WHO yang semula dikenal dengan

"Seven Stars of Pharmacist" selanjutnya ditambahkan dua fungsi yaitu researcher

dan Enterpreneur yang kemudian mengubahnya menjadi "Nine Stars of

Pharmacist", yaitu:

1. Care Giver (memberikan pelayanan yang baik)

Apoteker sebagai pengelola apotek dalam memberikan pelayanan kefarmasian

yang profesional harus dapat menerapkan pelayanannya dalam sistem pelayanan

kesehatan dan profesi lainnya secara keseluruhan sehingga dihasilkan sistem

pelayanan kesehatan yang berkesinambungan (Mashuda, 2011).

2. DecisionMaker (mengambil keputusan secara profesional)

Pada tingkat lokal dan nasional Apoteker memainkan peran dalam penyusunan
kebijaksanaan obat-obatan. Dalam hal ini Apoteker dituntut sebagai penentu

keputusan harus mampu mengambil keputusan yang tepat, berdasarkan pada

efikasi, efektifitas dan efisiensi terhadap penggunaan sumber daya yang tepat,

bermanfaat, aman dan tepat guna seperti SDM, obat-obatan, bahan kimia, alat

kesehatan, prosedur dan pelayanan (Mashuda, 2011).

3. Communicator (berkomunikasi dengan baik)

Apoteker merupakan posisi ideal untuk mendukung hubungan antara dokter dan

pasien dan untuk memberikan informasi kesehatan dan obat-obatan pada

masyarakat. Apoteker harus memiliki ilmu pengetahuan dan rasa percaya diri

serta memiliki kemampuan berkomunikasi yang baik dengan pasien dan profesi

kesehatan lainnya (Mashuda, 2011).

4. Leader (pemimpin)

Sebagai leader mampu menempatkan diri sebagai pimpinan dalam situasi multi

disiplin Apoteker harus mampu menjadi pemimpin, yaitu mampu mengambil

keputusan yang tepat dan efektif, serta mampu mengelola hasil keputusan

tersebut dan bertanggung jawab (Mashuda, 2011).

5. Manager (kemampuan dalam mengelola sumberdaya)

Apoteker harus mempunyai kemampuan mengelola sumber daya (manusia,fisik

dan anggaran) dan informasi secara efektif, juga harus dapat dipimpin dan

memimpin orang lain dalam tim kesehatan (Mashuda, 2011).

6. Long Life Learner (selalu belajar sepanjang hidup)

Apoteker harus selalu belajar, baik pada jalur formal maupun informal sepanjang

kariernya dan menggali informasi terbaru sehingga ilmu dan keterampilan yang

dimiliki selalu baru (uptodate) (Mashuda, 2011).

7. Teacher (membantu memberi pendidikan dan memberi peluang untuk


meningkatkan pengetahuan)

Apoteker mempunyai tanggung jawab untuk mendidik dan melatih sumber daya

yang ada, membagi ilmu pengetahuan pada yang lainnya, tetapi juga memberi

peluang pada praktisi lainnya untuk memperoleh pengetahuan dan

menyesuaikan keterampilan yang telah dimilikinya (Mashuda, 2011).

8. Researcher (kemampuan untuk meneliti/ilmuan)

Apoteker harus dapat menggunakan sesuatu yang berdasarkan bukti (ilmiah,

praktek farmasi, sistem kesehatan) yang efektif dalam memberikan nasehat pada

pengguna obat secara rasional dalam tim pelayanan kesehatan. Sebagai peneliti,

Apoteker dapat meningkatkan akses dan informasiyang berhubungan dengan

obat pada masyarakat dan tenaga profesi kesehatan (Mashuda, 2011).

9. Enterpreneur (Wirausahawan)

Konsep “Pharmapreneur” merupakan pola pikir yang mengacu terhadap profesi

sebagai apoteker atau lulusan farmasi merupakan profesi yang meluas yang tidak

hanya mengeluarkan atau menyerahkan obat dan kegiatan yang terkait dalam

rumah sakit atau pengaturan klinis karena bisnis farmasi memiliki kesempatan

yang tak terbatas untuk lulusan farmasi atau Apoteker. Apoteker harus mampu

mengorganisir dan mengoperasikan suatu bisnis dan menjadi wirausahawan

dalam mengembangkan kemandirian serta membantu mensejahterakan

masyarakat (Sam dan Parasuraman, 2015).

Berdasarkan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 51 tahun 2009

tentang Pekerjaan Kefarmasian pada Pasal 1, disebutkan tentang tugas dan fungsi

apotek adalah:

a. Tempat pengabdian profesi seorang apoteker yang telah mengucapkan sumpah

jabatan apoteker.
b. Sarana yang digunakan untuk melakukan pekerjaan kefarmasian.

c. Sarana pembuatan dan pengendalian mutu sediaan farmasi, pengamanan,

pengadaan, penyimpanan dan pendistribusian atau penyaluran obat,

pengelolaan obat, pelayanan obat atas resep dokter, pelayanan informasi obat,

serta pengembangan obat, bahan obat dan obat tradisional.

2.3 Persyaratan Pendirian Apotek

Menurut Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 9 tahun 2017, apoteker dapat

mendirikan apotek dengan modal sendiri dan/atau modal dari pemilik modal baik

perorangan maupun perusahaan. Apabila apoteker yang mendirikan apotek

bekerjasama dengan pemilik modal maka pekerjaan kefarmasian harus tetap

dilakukan sepenuhnya oleh apoteker yang bersangkutan. Pendirian apotek harus

memenuhi persyaratan, meliputi:

a. Lokasi. Apabila dalam satu wilayah, jumlah apoteknya banyak, maka

pemerintah daerah/kota dapat mengatur persebaran apotek di wilayahnya

dengan memperhatikan akses masyarakat dalam mendapatkan pelayanan

kefarmasian.

b. Bangunan. Bangunan apotek harus bersifat permanen, yang artinya, apotek

dapat merupakan bagian dan/atau terpisah dari pusat perbelanjaan, apartemen,

rumah toko, rumah kantor, rumah susun, dan bangunan yang sejenis. Bangunan

apotek harus bersifat aman, nyaman dan mudah dalam memberikan pelayanan

kepada pasien serta memiliki fungsi perlindungan dan keselamatan bagi semua

orang termasuk penyandang cacat, anak-anak, dan orang lanjut usia.

c. Sarana, prasarana, dan peralatan. Bangunan apotek paling sedikit memiliki

sarana ruang yang berfungsi sebagai penerimaan resep; pelayanan resep dan
peracikan; penyerahan sediaan farmasi dan alat kesehatan; konseling;

penyimpanan sediaan farmasi dan alat kesehatan; dan arsip. Prasarana apotek

paling sedikit terdiri atas: instalasi air bersih; instalasi listrik; sistem tata

udara;dan sistem proteksi kebakaran. Peralatan yang seharusnya terdapat di

apotek berupa rak obat, alat peracikan, bahan pengemas obat, lemari pendingin,

meja, kursi, komputer, sistem pencatatan mutasi obat, formulir catatan

pengobatan pasien dan peralatan lain sesuai dengan kebutuhan.

d. Ketenagaan. Untuk menyelenggarakan apotek, dibutuhkan apoteker pemegang

SIA (surat izin apotek) dan dapat dibantu oleh apoteker lain, Tenaga Teknis

Kefarmasian dan/atau tenaga administrasi. Apoteker dan tenaga teknis

kefarmasian dalam hal menyelenggarakan apotek wajib memiliki surat izin

praktik sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.

2.4 Perizinan Apotek

2.4.1 Surat Izin Apotek (SIA)

Menurut Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 26 tahun

2018 tentang Pelayanan Perizinan Berusaha Terintegrasi Secara Elektronik Sektor

Kesehatan Apotek diselenggarakan oleh Pelaku Usaha perseorangan yaitu

apoteker. Suatu apotek dapat beroperasi setelah mendapat Surat Izin Apotek (SIA).

Menurut Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 9 tahun

2017 tentang Apotek, Surat Izin Apotek (SIA) adalah bukti tertulis yang diberikan

oleh pemerintah daerah kabupaten/kota kepada Apoteker sebagai izin untuk

menyelenggarakan Apotek. Izin mendirikan apotek diberikan oleh Menteri

Kesehatan Republik Indonesia, kemudian Menteri melimpahkan wewenang

pemberian izin apotek kepada kepala dinas kesehatan kabupaten/kota, dimana izin
yang dimaksud adalah Surat Izin Apotek (SIA). SIA berlaku 5 (lima) tahun dan

dapat diperpanjang selama memenuhi persyaratan. Kemudian kepala dinas

kesehatan kabupaten/kota wajib melaporkan pelaksanaan pemberian izin,

pembekuan izin, pencairan izin, dan pencabutan izin apotik sekali setahun kepada

menteri dan tembusan disampaikan kepada kepala dinas kesehatan provinsi

(Menkes RI, 2017).

Sesuai dengan Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 9

tahun 2017 Pasal 13 tentang Ketentuan dan Tata Cara Pemberian Izin Pendirian

Apotek, yaitu:

1. Permohonan izin apotek diajukan kepada Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota.

2. Permohonan harus ditandatangani oleh Apoteker disertai dengan kelengkapan

dokumen administratif, meliputi:

a. Fotokopi STRA (Surat Tanda Registrasi Apoteker) dengan menunjukan

STRA asli;

b. Fotokopi Kartu Tanda Penduduk (KTP);

c. Fotokopi Nomor Pokok Wajib Pajak Apoteker;

d. Fotokopi peta lokasi dan denah bangunan; dan

e. Daftar prasarana, sarana, dan peralatan.

3. Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota selambat-lambatnya 6 hari setelah

menerima permohonan dapat menugaskan tim pemeriksa untuk melakukan

pemeriksaan setempat terhadap kesiapan Apotek.

4. Tim pemeriksa yang melibatkan unsur dinas kesehatan kabupaten/kota yang

meliputi tenaga kefarmasian dan tenaga lainnya yang menangani bidang sarana

dan prasarana selambat-lambatnya 6 hari kerja sejak ditugaskan harus

melaporkan hasil pemeriksaan setempat yang dilengkapi Berita Acara


Pemeriksaan (BAP) kepada Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota.

5. Dalam jangka 12 hari kerja setelah Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota

menerima laporan pemeriksaan dan dinyatakan memenuhi persyaratan, maka

Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota menerbitkan SIA dengan tembusan kepada

Direktur Jenderal, Kepala Dinas Kesehatan Provinsi, Kepala Balai POM, Kepala

Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota, dan Organisasi Profesi.

6. Dalam hasil pemerikasaan tim pemeriksa bila dinyatakan masih belum

memenuhi syarat, Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota dalam waktu 12 hari

kerja mengeluarkan surat penundaan.

7. Terhadap surat penundaan, apoteker diberikan kesempatan untuk melengkapi

persyaratan yang belum dipenuhi selambat-lambatnya dalam waktu satu bulan

sejak tanggal surat penundaan.

8. Terhadap permohonan izin apotek bila tidak memenuhi persyaratan, maka

Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota wajib mengeluarkan surat penolakan

disertai dengan alasan-alasannya.

9. Apabila Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota dalam menerbitkan SIA melebihi

jangka waktu, Apoteker pemohon dapat menyelenggarakan Apotek dengan

menggunakan BAP sebagai pengganti SIA.

10. Dalam hal pemerintah daerah menerbitkan SIA, maka penerbitannya bersama

dengan penerbitan SIPA untuk Apoteker pemegang SIA. Masa berlaku SIA

mengikuti masa berlaku SIPA (Menkes RI, 2017).

2.4.2 Surat Izin Praktek Apoteker (SIPA) dan Surat Tanda Registrasi
Apoteker (STRA)

Untuk memperoleh Surat Izin Praktek Apoteker (SIPA) sesuai dengan

Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No. 51 tahun 2009 tentang Pekerjaan


Kefarmasian, seorang Apoteker harus memiliki Surat Tanda Registrasi Apoteker

(STRA). Berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia

No.889/Menkes/Per/V/2011 bahwa untuk memperoleh STRA Apoteker harus

memenuhi persyaratan sebagai berikut:

a. Memiliki Ijazah Apoteker;

b. Memiliki sertifikat kompetensi profesi yang masih berlaku;

c. Memiliki surat pernyataan telah mengucapkan sumpah atau janji apoteker;

d. Memiliki surat keterangan sehat fisik dan mental dari dokter yang memiliki surat

izin praktek; dan

e. Membuat pernyataan akan mematuhi dan melaksanakan ketentuan etika profesi

(Menkes RI, 2011).

Menurut Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor

889/Menkes/Per/V/2011 tentang Registrasi, Izin Praktek, dan Izin Kerja Tenaga

Kefarmasian STRA dikeluarkan oleh Menteri, dimana Menteri akan

mendelegasikan pemberian STRA kepada Komite Farmasi Nasional (KFN). STRA

berlaku selama lima tahun dan dapat diregistrasi ulang selama memenuhi

persyaratan.

Untuk memperoleh STRA, apoteker dapat mengajukan permohonan kepada

KFN dengan melampirkan:

a. Fotokopi ijazah Apoteker.

b. Fotokopi surat sumpah/janji Apoteker.

c. Fotokopi sertifikat kompetensi profesi yang masih berlaku.

d. Surat keterangan sehat fisik dan mental dari dokter yang memiliki surat izin

praktik.

e. Surat pernyataan akan mematuhi dan melaksanakan ketentuan etika profesi.


f. Pas foto terbaru berwarna ukuran 4 x 6 sebanyak 2 lembar dan ukuran 2 x 3

sebanyak 2 lembar.

Setelah mendapatkan STRA Apoteker wajib mengurus SIPA yang

diberikan oleh pemerintah daerah kabupaten/kota atas rekomendasi pejabat

kesehatan yang berwenang di kabupaten/kota tempat tenaga kefarmasian

menjalankan praktiknya.

Permohonan SIPA harus melampirkan:

a. Fotokopi STRA yang dilegalisir oleh KFN;

b. Surat pernyataan mempunyai tempat praktek profesi atau surat keterangan dari

pimpinan fasilitas pelayanan kefarmasian atau dari pimpinan fasilitas produksi

atau distribusi/penyaluran;

c. Surat rekomendasi dari organisasi profesi;

d. Pas foto berwarna ukuran 4 x 6 cm sebanyak dua lembar dan 3 x 4 cm

sebanyak dua lembar (Menkes RI, 2011).

Berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 31

tahun 2016, SIPA bagi Apoteker di fasilitas kefarmasian hanya diberikan untuk 1

(satu) tempat fasilitas kefarmasian. SIPA bagi Apoteker di fasilitas pelayanan

kefarmasian dapat diberikan untuk 3 (tiga) tempat fasilitas pelayanan kefarmasian.

Apabila Apoteker telah memiliki Surat Izin Apotek, maka Apoteker yang

bersangkutan hanya dapat memiliki 2 (dua) SIPA pada fasilitas pelayanan

kefarmasian lain.

2.4.3 Perubahan izin apotek

Setiap perubahan alamat di lokasi yang sama atau perubahan alamat dan

pindah lokasi, perubahan apoteker pemegang SIA, atau nama apotek harus

dilakukan perubahan izin dengan mengajukan permohonan perubahan izin kepada


pemerintah daerah kabupaten/kota. Apabila apotek yang melakukan perubahan

alamat di lokasi yang sama atau perubahan nama apotek, maka apotek tersebut tidak

perlu dilakukan pemeriksaan setempat oleh tim pemeriksa. Tata cara permohonan

perubahan izin bagi apotek yang melakukan perubahan alamat dan pindah lokasi

atau perubahan apoteker pemegang SIA mengikuti tata cara dan ketentuan

mengajukan permohonan izin pendirian apotek (telah disebutkan di atas)

(Permenkes RI, 2017).

2.5 Pengelolaan Apotek

2.5.1 Penyelenggaraan apotek

Berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 9 tahun 2017 tentang

Apotek, Apotek menyelenggarakan fungsi:

a. Pengelolaan sediaan farmasi, alat kesehatan, dan bahan medis habis pakai

Apotek hanya dapat menyerahkan sediaan farmasi, alat kesehatan, dan bahan

medis habis pakai kepada apotek lainnya; puskesmas; instalasi farmasi rumah

sakit; instalasi farmasi klinik untuk memenuhi kekurangan jumlah sediaan

farmasi, alat kesehatan, dan bahan medis habis apabila terjadi kelangkaan di

fasilitas distribusi maupun terjadi kekosongan di fasilitas pelayanan kesehatan.

Apotek dapat menyerahkan sediaan farmasi, alat kesehatan, dan bahan medis

habis pakai kepada dokter; bidan praktik mandiri; pasien dan masyarakat sesuai

dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.

b. Pelayanan farmasi klinik, termasuk di komunitas

Dalam penyelenggarannya, apotek wajib memasang papan nama yang

terdiri:

1. Papan nama apotek, yang memuat paling sedikit informasi mengenai nama
apotek, nomor SIA, dan alamat. Papan nama tersebut harus dipasang di dinding

bagian depan bangunan atau dipancangkan di tepi jalan, secara jelas dan mudah

terbaca.

2. Papan nama praktik Apoteker, yang memuat paling sedikit informasi mengenai

nama Apoteker, nomor SIPA, dan jadwal praktik Apoteker. Jadwal praktik

Apoteker harus berbeda dengan jadwal praktik Apoteker yang bersangkutan di

fasilitas kefarmasian lain (Permenkes RI, 2017).

2.5.2 Sumber Daya Manusia (SDM)

Berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No. 73 tahun

2016 tentang Standar Pelayanan Kefarmasian di Apotek, bahwa Pelayanan

Kefarmasian di Apotek diselenggarakan oleh Apoteker, dapat dibantu oleh

Apoteker pendamping dan/atau Tenaga Teknis Kefarmasian yang memiliki Surat

Tanda Registrasi, Surat Izin Praktik atau Surat Izin Kerja.

Apoteker dalam melakukan pelayanan kefarmasian harus memenuhi

kriteria:

1. Persyaratan administrasi

a. Memiliki ijazah dari institusi pendidikan farmasi yang terakreditasi.

b. Memiliki Surat Tanda Registrasi Apoteker (STRA).

c. Memiliki sertifikat kompetensi yang masih berlaku.

d. Memiliki Surat Izin Praktik Apoteker (SIPA)

2. Menggunakan atribut praktik antara lain baju praktik, tanda pengenal.

3. Wajib mengikuti pendidikan berkelanjutan/Continuing Professional

Development (CPD) dan mampu meberikan pelatihan yang berkesinambungan.

4. Apoteker harus mampu mengidentifikasi kebutuhan akan pengembangan diri,

baik melalui pelatihan, seminar, workshop, pendidikan berkelanjutan atau


mandiri.

5. Harus memahami dan melaksanakan serta patuh terhadap peraturan perundang-

undangan, sumpah Apoteker, standar profesi (standar pendidikan, standar

pelayanan, standar kompetensi dan kode etik) yang berlaku (Menkes RI, 2016).

2.5.3 Sarana dan prasarana

Berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No. 73 tahun

2016 tentang Standar Pelayanan Kefarmasian di Apotek, bahwa Apotek harus

mudah diakses oleh masyarakat. Sarana dan prasarana Apotek dapat menjamin

mutu sediaan farmasi, alat kesehatan dan bahan medis habis pakai serta kelancaran

praktik pelayanan kefarmasian.

Sarana dan prasarana yang diperlukan untuk menunjang Pelayanan

Kefarmasian di Apotek meliputi sarana yang memiliki fungsi:

1. Ruang penerimaan Resep

Ruang penerimaan Resep sekurang-kurangnya terdiri dari tempat penerimaan

Resep, 1 (satu) set meja dan kursi, serta 1 (satu) set komputer. Ruang

penerimaan resep ditempatkan pada bagian paling depan dan mudah terlihat

oleh pasien.

2. Ruang pelayanan resep dan peracikan (produksi sediaan secara terbatas)

Ruang pelayanan resep dan peracikan atau produksi sediaan secara terbatas

meliputi rak obat sesuai kebutuhan dan meja peracikan. Di ruang peracikan

sekurang-kurangnya disediakan peralatan peracikan, timbangan obat, air

minum (air mineral) untuk pengencer, sendok obat, bahan pengemas obat,

lemari pendingin, termometer ruangan, blanko salinan resep, etiket dan label

obat. Ruang ini diatur sedemikian rupa agar mendapatkan cahaya dan sirkulasi

udara yang cukup, dan dapat juga dilengkapi dengan pendingin ruangan (air
conditioner).

3. Ruang penyerahan obat

Ruang penyerahan obat berupa konter penyerahan obat yang dapat

digabungkan dengan ruang penerimaan resep.

4. Ruang konseling

Ruang konseling sekurang-kurangnya memiliki satu set meja dan kursi

konseling, lemari buku, buku-buku referensi, poster, alat bantu konseling, buku

catatan konseling dan formulir catatan pengobatan pasien.

5. Ruang penyimpanan sediaan farmasi, alat kesehatan dan bahan medis habis

pakai

Ruang penyimpanan harus memperhatikan kondisi sanitasi, temperatur,

kelembapan, ventilasi, dan pemisahan untuk menjamin mutu produk serta

keamanan petugas. Ruang penyimpanan harus dilengkapi dengan rak/lemari

obat, pendingin ruangan (AC), lemari pendingin, lemari penyimpanan khusus

narkotika dan psikotropika, lemari penyimpanan obat khusus, dan pengukur

suhu.

6. Ruang arsip

Ruang arsip dibutuhkan untuk menyimpan dokumen yang berkaitan dengan

pengelolaan sediaan farmasi, alat kesehatan dan bahan medis habis pakai serta

pelayanan kefarmasian dengan jangka waktu tertentu (Menkes RI, 2016).

2.5.4 Pengelolaan sediaan farmasi, alat kesehatan dan bahan medis habis
pakai

Pengelolaan sediaan farmasi, alat kesehatan dan bahan medis habis pakai

dilakukan sesuai ketentuan peraturan perundang undangan yang berlaku, meliputi

perencanaan, pengadaan, penerimaan, penyimpanan, pemusnahan , pengendalian,


pencatatan dan pelaporan (Menkes RI, 2016).

a. Perencanaan

Dalam membuat perencanaan pengadaan Sediaan Farmasi, Alat Kesehatan, dan

Bahan Medis Habis Pakai perlu diperhatikan pola penyakit, pola konsumsi,

budaya dan kemampuan masyarakat.

b. Pengadaan

Untuk menjamin kualitas Pelayanan Kefarmasian maka pengadaan Sediaan

Farmasi harus melalui jalur resmi sesuai ketentuan peraturan perundang-

undangan.

c. Penerimaan

Penerimaan merupakan kegiatan untuk menjamin kesesuaian jenis spesifikasi,

jumlah, mutu, waktu penyerahan dan harga yang tertera dalam surat pesanan

dengan kondisi fisik yang diterima.

d. Penyimpanan

Dalam penyimpanan obat harus diperhatikan:

1. Obat/ bahan obat harus disimpan dalam wadah asli dari pabrik. Dalam hal

pengecualian atau darurat dimana isi dipindahkan pada wadah lain, maka

harus dicegah terjadinya kontaminasi dan harus ditulis informasi yang jelas

pada wadah baru. Wadah sekurang-kurangnya memuat nama obat, nomor

batch dan tanggal kadaluwarsa.

2. Semua obat/ bahan obat harus disimpan pada kondisi yang sesuai sehingga

terjamin keamanan dan stabilitasnya.

3. Sistem penyimpanan dilakukan dengan memperhatikan bentuk sediaan dan

kelas terapi obat serta disusun secara alfabetis.

4. Pengeluaran obat memakai sistem FEFO (First Expire First Out) dan FIFO
(First In First Out).

e. Pemusnahan

Pemusnahan obat yang dilakukan adalah:

1. Obat kadaluwarsa atau rusak harus dimusnahkan sesuai dengan jenis dan

bentuk sediaan. Pemusnahan obat kadaluwarsa atau rusak yang

mengandung narkotika atau psikotropika dilakukan oleh apoteker dan

disaksikan oleh Dinas Kesehatan Kabupaten/ Kota.

2. Pemusnahan obat selain narkotika dan psikotropika dilakukan oleh apoteker

dan disaksikan oleh tenaga kefarmasian lain yang memiliki surat izin praktik

atau surat izin kerja. Pemusnahan dibuktikan dengan berita acara

pemusnahan menggunakan Formulir 1 sebagaimana terlampir.

3. Resep yang telah disimpan melebihi jangka waktu 5 (lima) tahun dapat

dimusnahkan. Pemusnahan resep dilakukan oleh apoteker disaksikan oleh

sekurang-kurangnya petugas lain di apotek dengan cara dibakar atau cara

pemusnahan lain yang dibuktikan dengan Berita Acara Pemusnahan Resep,

dan selanjutnya dilaporkan kepada Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota.

4. Pemusnahan dan penarikan Sediaan Farmasi dan Bahan Medis Habis Pakai

yang tidak dapat digunakan harus dilaksanakan dengan cara yang sesuai

dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.

5. Penarikan sediaan farmasi yang tidak memenuhi standard/ketentuan

peraturan perundang-undangan dilakukan oleh pemilik izin edar

berdasarkan perintah penarikan oleh BPOM (mandatory recall) atau

berdasarkan inisiasi sukarela oleh pemilik izin edar (voluntary recall)

dengan tetap memberikan laporan kepada Kepala BPOM.

6. Penarikan Alat Kesehatan dan Bahan Medis Habis Pakai dilakukan terhadap
produk yang izin edarnya dicabut oleh Menteri.

f. Pengendalian

Pengendalian dilakukan untuk mempertahankan jenis dan jumlah persediaan

sesuai kebutuhan pelayanan, melalui pengaturan sistem pesanan atau pengadaan,

penyimpanan dan pengeluaran. Hal ini bertujuan untuk menghindari terjadinya

kelebihan, kekurangan, kekosongan, kerusakan, kadaluwarsa, kehilangan serta

pengembalian pesanan. Pengendalian persediaan dilakukan menggunakan kartu

stok baik dengan cara manual atau elektronik. Kartu stok sekurang-kurangnya

memuat nama obat, tanggal kadaluwarsa, jumlah pemasukan, jumlah

pengeluaran dan sisa persediaan.

g. Pencatatan dan Pelaporan

Pencatatan dilakukan pada setiap proses pengelolaan sediaan farmasi, alat

kesehatan dan bahan medis habis pakai meliputi pengadaan (surat pesanan,

faktur), penyimpanan (kartu stock), penyerahan (nota atau struk penjualan) dan

pencatatan lainnya disesuaikan dengan kebutuhan.

Pelaporan terdiri dari pelaporan internal dan eksternal. Pelaporan internal

merupakan pelaporan yang digunakan untuk kebutuhan manajemen apotek,

meliputi keuangan, barang dan laporan lainnya. Pelaporan eksternal merupakan

pelaporan yang dibuat untuk memenuhi kewajiban sesuai dengan ketentuan

peraturan perundang undangan meliputi pelaporan narkotika, psikotropika dan

pelaporan lainnya (Menkes RI, 2016).

2.6 Pelayanan Farmasi Klinik


Pelayanan farmasi klinik di apotek merupakan bagian dari pelayanan

kefarmasian yang langsung dan bertanggung jawab kepada pasien berkaitan dengan

sediaan farmasi, alat kesehatan dan bahan medis habis pakai dengan maksud

mencapai hasil yang pasti untuk meningkatkan kualitas hidup pasien (Menkes RI,

2016).

2.6.1 Pengkajian resep

Kegiatan pengkajian resep meliputi administrasi, kesesuaian farmasetik dan

pertimbangkan klinis.

a. Kajian administratif, yaitu nama pasien, umur, jenis kelamin, berat badan, nama

dokter, nomor Surat Izin Praktik (SIP), alamat, nomor telepon, paraf dan tanggal

penulisan resep.

b. Kajian kesesuaian farmasetik, yaitu bentuk dan kekuatan sediaan, stabilitas dan

kompatibilitas (ketercampuran obat).

c. Pertimbangan klinis, yaitu ketepatan indikasi, dosis obat, aturan, cara dan lama

penggunaan obat, duplikasi dan/ atau polifarmasi, reaksi obat yang tidak

diinginkan (alergi, efek samping obat, manifestasi klinis lain), kontra indikasi

dan interaksi.

Apabila ditemukan adanya ketidaksesuaian dari hasil pengkajian maka

Apoteker harus menghubungi dokter penulis resep. Pelayanan Resep dimulai dari

penerimaan, pemeriksaan ketersediaan, penyiapan Sediaan Farmasi, Alat

Kesehatan, dan Bahan Medis Habis Pakai termasuk peracikan Obat, pemeriksaan,

penyerahan disertai pemberian informasi. Pada setiap tahap alur pelayanan resep

dilakukan upaya pencegahan terjadinya kesalahan pemberian obat (medication

error) (Menkes RI, 2016).

2.6.2 Dispensing
Dispensing terdiri dari penyiapan, penyerahan dan pemberian informasi

obat. Setelah melakukan pengkajian resep dilakukan hal sebagai berikut:

a. Menyiapkan obat sesuai dengan permintaan resep.

 Menghitung kebutuhan jumlah obat sesuai dengan resep.

 Mengambil obat yang dibutuhkan pada rak penyimpanan dengan

memperhatikan nama obat, tanggal kadaluwarsa dan keadaan fisik obat.

b. Melakukan peracikan obat bila diperlukan.

c. Memberikan etiket sekurang-kurangnya meliputi:

 Warna putih untuk obat dalam/ oral

 Warna biru untuk obat luar dan suntik

 Menempelkan label “kocok dahulu” pada sediaan bentuk suspensi/ emulsi

d. Memasukkan obat ke dalam wadah yang tepat dan terpisah untuk obat yang

berbeda untuk menjaga mutu obat dan menghindari penggunaan yang salah.

Setelah penyiapan obat dilakukan hal sebagai berikut:

a. Sebelum obat diserahkan kepada pasien harus dilakukan pemeriksaan

kembali mengenai penulisan nama pasien pada etiket, cara penggunaan serta

jenis dan jumlah obat (kesesuaian antara penulisan etiket dengan resep).

b. Memanggil nama dan nomor tunggu pasien.

c. Memeriksa ulang identitas dan alamat pasien.

d. Menyerahkan obat yang disertai pemberian informasi obat.

e. Memberikan informasi cara penggunaan obat dan hal-hal yang terkait

dengan obat antara lain manfaat obat, makanan dan minuman yang harus

dihindari, efek samping, cara penyimpanan obat dan lain-lain.

f. Penyerahan obat kepada pasien hendaklah dilakukan dengan cara yang baik,

mengingat pasien dalam kondisi tidak sehat mungkin emosinya tidak stabil.
g. Memastikan bahwa yang menerima obat adalah pasien atau keluarganya.

h. Membuat salinan resep sesuai dengan resep asli dan diparaf oleh apoteker

(apabila diperlukan).

i. Menyimpan resep pada tempatnya.

j. Apoteker membuat catatan pengobatan pasien.

Apoteker di apotek juga dapat melayani obat non resep atau pelayanan

swamedikasi. Apoteker harus memberikan edukasi kepada pasien yang

memerlukan obat non resep untuk penyakit ringan dengan memilihkan obat bebas

atau bebas terbatas yang sesuai (Menkes RI, 2016).

2.6.3 Pelayanan Informasi Obat (PIO)

Pelayanan Informasi Obat merupakan kegiatan yang dilakukan oleh

Apoteker dalam pemberian informasi mengenai obat yang tidak memihak,

dievaluasi dengan kritis dan dengan bukti terbaik dalam segala aspek penggunaan

obat kepada profesi kesehatan lain, pasien atau masyarakat. Informasi mengenai

obat termasuk obat resep, obat bebas dan herbal (Menkes RI, 2016).

Informasi meliputi dosis, bentuk sediaan, formulasi khusus, rute dan

metoda pemberian, farmakokinetik, farmakologi, terapeutik dan alternatif, efikasi,

keamanan penggunaan pada ibu hamil dan menyusui, efek samping, interaksi,

stabilitas, ketersediaan, harga, sifat fisika atau kimia dari obat dan lain-lain.

Kegiatan pelayanan informasi obat di apotek meliputi:

a. Menjawab pertanyaan baik lisan maupun tulisan

b. Membuat dan menyebarkan buletin/brosur/leaflet, pemberdayaan masyarakat

(penyuluhan)

c. Memberikan informasi dan edukasi kepada pasien

d. Memberikan pengetahuan dan keterampilan kepada mahasiswa farmasi yang


sedang praktik profesi

e. Melakukan penelitian penggunaan obat

f. Membuat atau menyampaikan makalah dalam forum ilmiah

g. Melakukan program jaminan mutu (Menkes RI, 2016).

2.6.4 Konseling

Konseling merupakan proses interaktif antara Apoteker dengan

pasien/keluarga untuk meningkatkan pengetahuan, pemahaman, kesadaran dan

kepatuhan sehingga terjadi perubahan perilaku dalam penggunaan obat dan

menyelesaikan masalah yang dihadapi pasien (Menkes RI, 2016).

Kriteria pasien/keluarga pasien yang perlu diberi konseling:

1. Pasien kondisi khusus (pediatri, geriatri, gangguan fungsi hati dan/atau ginjal,

ibu hamil dan menyusui).

2. Pasien dengan terapi jangka panjang/penyakit kronis (misalnya: TB, DM, AIDS,

epilepsi).

3. Pasien yang menggunakan obat dengan instruksi khusus (penggunaan

kortikosteroid dengan tappering down/off).

4. Pasien yang menggunakan obat dengan indeks terapi sempit (digoksin, fenitoin,

teofilin).

5. Pasien dengan polifarmasi; pasien menerima beberapa obat untuk indikasi

penyakit yang sama. Dalam kelompok ini juga termasuk pemberian lebih dari

satu obat untuk penyakit yang diketahui dapat disembuhkan dengan satu jenis

obat.

6. Pasien dengan tingkat kepatuhan rendah (Menkes RI, 2016).

Tahap kegiatan konseling:

1. Membuka komunikasi antara Apoteker dengan pasien


2. Menilai pemahaman pasien tentang penggunaan Obat melalui Three Prime

Questions, yaitu:

a. Apa yang disampaikan dokter tentang Obat Anda?

b. Apa yang dijelaskan oleh dokter tentang cara pemakaian Obat Anda?

c. Apa yang dijelaskan oleh dokter tentang hasil yang diharapkan setelah Anda

menerima terapi Obat tersebut?

3. Menggali informasi lebih lanjut dengan memberi kesempatan kepada pasien

untuk mengeksplorasi masalah penggunaan Obat

4. Memberikan penjelasan kepada pasien untuk menyelesaikan masalah

penggunaan Obat

5. Melakukan verifikasi akhir untuk memastikan pemahaman pasien (Menkes RI,

2016).

2.6.5 Pelayanan kefarmasian di rumah (home pharmacy care)

Apoteker sebagai pemberi layanan diharapkan juga dapat melakukan

pelayanan kefarmasian yang bersifat kunjungan rumah, khususnya untuk kelompok

lansia dan pasien dengan pengobatan penyakit kronis lainnya. Hal ini dilakukan

untuk meningkatkan status kesehatan dan kepatuhan penggunaan obat pada pasien

yang sulit melakukan aktivitas dan butuh pelayanan kesehatan berupa home

pharmacy care (Menkes RI, 2016).

2.6.6 Pemantauan Terapi Obat (PTO)

Merupakan proses yang memastikan bahwa seorang pasien mendapatkan

terapi obat yang efektif dan terjangkau. Hal tersebut bertujuan untuk

memaksimalkan efikasi dan meminimalkan efek samping (Menkes RI, 2016).

Kriteria pasien yang wajib dilakukan pemantauan terapi obat (PTO):

1. Anak-anak dan lanjut usia, ibu hamil dan menyusui.


2. Menerima obat lebih dari 5 (lima) jenis.

3. Adanya multidiagnosis.

4. Pasien dengan gangguan fungsi ginjal atau hati.

5. Menerima obat dengan indeks terapi sempit.

6. Menerima obat yang sering diketahui menyebabkan reaksi obat yang

merugikan.

2.6.7 Monitoring Efek Samping Obat (MESO)

Merupakan kegiatan pemantauan setiap respon terhadap obat yang

merugikan atau tidak diharapkan yang terjadi pada dosis normal yang digunakan

pada manusia untuk tujuan profilaksis, diagnosis dan terapi atau memodifikasi

fungsi fisiologis (Menkes RI, 2016).

2.7 Aspek Bisnis

2.7.1 Studi kelayakan

Studi kelayakan merupakan suatu kajian secara menyeluruh mengenai suatu

apotek yang akan didirikan, yang mengandung resiko belum jelas untuk

menghindari sedapat mungkin dari kegagalan. Dengan kata lain, studi kelayakan

dimaksudkan untuk mempelajari apakah pendirian apotek di lokasi yang sudah

ditentukan tersebut sudah layak atau belum didirikan (Satibi, dkk., 2016).

Beberapa faktor yang dapat menyebabkan kegagalan pada proses pendirian

suatu apotek antara lain:

a. Apoteker Pengelola Apotek tidak memahami tentang bidang usaha perapotekan

b. Modal yang dibutuhkan ternyata lebih tinggi dari dana yang diperkirakan.

c. Terlalu sedikit konsumen yang datang ke apotek, sehingga kapasitas kerja jauh

melebihi pekerjaan yang ada akibatnya kegiataan berlangsung tidak efisien.


d. Kesulitan dalam pengadaan modal kerja akibat sediaan farmasi yang harus

disediakan bertambah jumlahnya (Umar, 2011).

2.7.2 Survei dan pemilihan lokasi

Menurut Umar (2011), banyak faktor yang menjadi bahan pertimbangan

untuk menentukan lokasi suatu usaha. Dasar pertimbangan yang paling utama ialah

pasar. Pasar merupakan masalah yang tidak boleh diabaikan dan harus

diperhitungkan terlebih dahulu. Oleh karena itu, dalam pemilihan lokasi suatu

apotek harus diperhitungkan:

a. Jumlah penduduk

b. Ada tidaknya apotek lain

c. Jarak lokasi apotek dengan domisili konsumen, sebaiknya mudah dicapai

dengan berbagai macam jenis alat transportasi

d. Jarak lokasi apotek dengan supplier, sebaiknya relatif dekat dan mudah dicapai

e. Ada tidaknya fasilitas kesehatan lain di sekitar apotek, seperti praktik dokter,

klinik, dan rumah sakit

f. Lokasi aman dan nyaman: daerahnya tidak kotor, tidak macet dan sempit dan

tingkat kriminalnya rendah (bukan daerah premanisme).

g. Keadaan sosial ekonomi masyarakat setempat.

2.7.3 Penyusunan rencana anggaran belanja

Jika seseorang akan mendirikan suatu usaha apotek, maka diperlukan dana

atau modal untuk membiayai semua pengadaan sarana. Pada dasarnya dalam suatu

usaha dikenal dua bentuk modal yaitu modal aktif dan modal pasif.

a. modal aktif (modal tetap) adalah dana yang digunakan untuk membiayai

pengadaan semua kebutuhan fisik dan non fisik sebagai aset apotek, baik yang

mengalami penyusutan atau tidak, contoh: tanah, bangunan, inventaris apotek.


b. modal pasif (modal kerja) adalah dana yang diperlukan untuk menjalankan

operasional apotek, seperti pengadaan obat-obatan dan perbekalan farmasi

lainnya, upah pegawai, listrik, air dan lain-lainnya (Seto, 2004).

2.7.4 Perpajakan

Apotek sebagai tempat usaha, sudah pasti harus membayar pajak. Pajak adalah

suatu kewajiban setiap warga negara untuk menyerahkan sebagian dari kekayaannya

atau penghasilannya (hasil pendapatan) kepada negara menurut peraturan perundang-

undangan yang ditetapkan oleh pemerintah dan dipergunakan untuk kepentingan

masyarakat (Umar, 2009).

Jenis-jenis pajak yang dibebankan pada apotek antara lain:

a. Pajak yang dipungut oleh daerah yaitu:

i. Pajak Reklame/Iklan (papan nama apotek)

ii. SITU (Surat Izin Tempat Usaha)

b. Pajak yang dipungut oleh negara (pemerintah pusat) yaitu:

i. Pajak Penghasilan (PPH)

ii. Pajak Pertambahan Nilai (PPN)

Pajak penghasilan (PPh pasal 21) adalah pajak atas gaji/upah/honorarium,

imbalan jasa yang dibayarkan kepada orang pribadi, terhutang kepada pemberi

kerja (majikan, bendaharawan pemerintah dan perusahaan) sehubungan dengan

pekerjaan, jabatan, dan hubungan kerja lainnya yang dilakukan di Indonesia.

Pajak penghasilan badan (PPH pasal 25) adalah pajak yang dipungut dari

perusahaan atas laba yang diperoleh perusahaan tersebut. Penentuan besar pajak ini

didasarkan pada penghasilan bersih. Pajak pertambahan nilai (PPN) menurut

Undang-Undang PPn tahun 1984 bahwa tarif pajak secara umum adalah 10% untuk

semua Barang Kena Pajak (BKP) (Umar, 2011).


2.8 Penggolongan Obat

Untuk meningkatkan keamanan dan ketepatan penggunaan ob at serta

ketepatan distribusinya, maka pemerintah menggolongkan obat menjadi empat

golongan, yaitu:

a. Obat bebas

Obat bebas adalah obat yang dijual bebas di pasaran dan dapat dibeli tanpa

resep dokter.Tanda khusus pada kemasan dan etiket obat bebas dapat dilihat pada

Gambar 2.1. Contoh: Parasetamol (Depkes RI, 2007).

Gambar 2.1 Penandaan Obat Bebas

b. Obat bebas terbatas

Obat bebas terbatas adalah obat yang sebenarnya termasuk obat keras tetapi

masih dapat dijual atau dibeli bebas tanpa resep dokter, dan disertai dengan tanda

peringatan. Tanda khusus pada kemasan dan etiket obat bebas terbatas dapat

dilihat pada Gambar 2.2. Contoh: CTM (Depkes RI, 2007).

Gambar 2.2 Penandaan Obat Bebas Terbatas

Tanda peringatan selalu tercantum pada kemasan obat bebas terbatas,

berupa empat persegi panjang berwarna hitam berukuran panjang 5 (lima)


centimeter, lebar 2 (dua) centimeter dan memuat pemberitahuan berwarna putih

yang dapat dilihat pada Gambar 2.3 (Depkes RI, 2007).

Gambar 2.3 Tanda Peringatan pada Obat Bebas Terbatas

c. Obat keras dan psikotropika

Obat keras adalah obat yang hanya dapat dibeli di apotek dengan resep

dokter. Tanda khusus pada kemasan dan etiket dapat dilihat pada Gambar 2.4.

Contoh: Asam Mefenamat (Depkes RI, 2007).

Menurut Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 5 tahun 1997 tentang

Psikotropika, dalam Bab I pasal 1 Psikotropika adalah zat atau obat, baik alamiah

maupun sintetis bukan narkotika yang berkhasiat psikoaktif melalui pengaruh

selektif pada susunan saraf pusat yang menyebabkan perubahan khas pada aktivitas

mental dan perilaku. Contoh : Diazepam, Phenobarbotal (Depkes RI, 2007).

Gambar 2.4 Penandaan Obat Keras

d. Obat narkotika
Menurut Undang-Undang Nomor 35 tahun 2009 tentang Narkotika, dalam

Bab I pasal 1 Narkotika adalah zat atau obat yang berasal dari tanaman atau bukan

tanaman baik sintetis maupun semi sintetis yang dapat menyebabkan penurunan

atau perubahan kesadaran, hilangnya rasa, mengurangi sampai menghilangkan rasa

nyeri, dan dapat menimbulkan ketergantungan, yang dibedakan ke dalam golongan-

golongan, penandaan obat narkotik dapat dilihat pada Gambar 2.5.

Gambar 2.5 Penandaan Obat Narkotika

2.9 Pengelolahan Narkotika

Berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 3

tahun 2015 tentang Peredaran, Penyimpanan, Pemusnahan dan Pelaporan

Narkotika, Psikotropika dan Prekursor Farmasi, narkotika adalah zat atau obat yang

berasal dan tanaman atau bukan tanaman baik sintetis maupun semisintetis, yang

dapat menyebabkan penurunan atau perubahan kesadaran, hilangnya rasa,

mengurangi sampai menghilangkan rasa nyeri, dan dapat menimbulkan

ketergantungan.

Menurut undang-undang nomor 35 tahun 2009 pasal 6, narkotika dibedakan

ke dalam 3 golongan yaitu:

a. Narkotika Golongan I adalah narkotika yang dilarang digunakan untuk

kepentingan pelayanan kesehatan dan tidak digunakan dalam terapi, serta

mempunyai potensi sangat tinggi mengakibatkan ketergantungan. Dalam jumlah

terbatas, Narkotika Golongan I dapat digunakan untuk kepentingan

pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, untuk reagensia diagnostik,


serta reagensia laboratorium setelah mendapatkan persetujuan Menteri atas

rekomendasi Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (Narkotika Golongan

I adalah narkotika yang dilarang digunakan untuk kepentingan pelayanan

kesehatan dan tidak digunakan dalam terapi, serta mempunyai potensi sangat

tinggi mengakibatkan ketergantungan.

Contoh: Papaver somniferum, Erythroxylon coca, kokain,

tetrahydrocannabinol, heroin, dan Cannabis sativa (Menkes RI, 2018).

b. Narkotika Golongan II adalah narkotika yang berkhasiat untuk pengobatan dan

banyak digunakan sebagai pilihan terakhir dalam terapi dan atau untuk tujuan

pengembangan ilmu pengetahuan serta mempunyai potensi tinggi

mengakibatkan ketergantungan.

Contoh: fentanil, metadona, morfin, sufentanil, dan petidin (Menkes RI, 2018).

c. Narkotika Golongan III adalah Narkotika yang berkhasiat untuk pengobatan dan

banyak digunakan dalam terapi dan atau tujuan pengembangan ilmu pengetahuan.

Contoh: kodein, asetil dihidrokodeina, polkadina, dan propiram (Menkes RI,

2018).

2.9.1 Pemesanan narkotika

Pemesanan narkotika dilakukan dengan pesanan tertulis melalui Surat

Pesanan Narkotika model N-9 kepada Pedagang Besar Farmasi (PBF) PT. Kimia

Farma (Persero) Tbk. Surat Pesanan Narkotika harus ditandatangani oleh APA dan

dilengkapi dengan nomor SIK, SIPA serta stempel apotek. Pemesanan narkotika

dalam satu lembar surat pesanan adalah untuk satu jenis obat dan dibuat rangkap

empat dengan warna berbeda-beda (Bogadenta, 2012).

Pengiriman Narkotika yang dilakukan oleh Industri Farmasi, PBF atau

Instalasi Farmasi Pemerintah harus dilengkapi dengan:


a. Surat pesanan.

b. Faktur dan/atau surat pengantar barang, paling sedikit memuat :

i. Nama Narkotika.

ii. Bentuk Sediaan.

iii. Kekuatan.

iv. Kemasan.

v. Jumlah.

vi. Tanggal Kadaluarsa.

vii. Nomor Batch.

Pengiriman Narkotika sebagaimana dimaksud yang dilakukan melalui jasa

pengangkutan hanya dapat membawa Narkotika sesuai dengan jumlah yang

tecantum dalam surat pesanan, faktur, dan/atau surat pengantar barang yang dibawa

pada saat pengiriman (Menkes RI, 2015).

2.9.2 Penyimpanan narkotika

Berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 3

tahun 2015 tentang Peredaran, Penyimpanan, Pemusnahan dan Pelaporan

Narkotika, Psikotropika dan Prekursor Farmasi pada Pasal 26, dinyatakan apotek

harus memiliki tempat khusus untuk menyimpan narkotika dengan persyaratan

sebagai berikut:

a. Terbuat dari bahan yang kuat

b. Tidak mudah dipindahkan dan mempunyai dua buah kunci yang berbeda

c. Diletakkan di tempat yang aman dan tidak terlihat oleh umum untuk Apotek

d. Kunci lemari khusus dikuasai oleh Apoteker penanggung jawab/ Apoteker yang

ditunjuk dan pegawai lain yang dikuasakan

2.9.3 Penyerahan narkotika


Narkotika hanya diberikan kepada pasien yang membawa resep dokter.

Apotek juga dilarang untuk melayani salinan resep yang mengandung narkotika.

Resep yang terdapat narkotika diberi tanda garis bawah berwarna merah, kemudian

dipisahkan untuk dicatat dalam buku register narkotika. Sedangkan, pencatatannya

meliputi tanggal, nomor resep, tanggal pengeluaran, jumlah obat, nama pasien, dan

nama dokter. Pencatatannya dilakukan tersendiri untuk masing-masing nama obat

narkotika (Menkes RI, 2015).

Menurut Permenkes No. 3 tahun 2015 Apotek hanya dapat menyerahkan

narkotika kepada apotek lainnya, instalasi farmasi rumah sakit, instalasi farmasi

klinik, puskesmas, dokter, dan pasien dengan ketentuan sebagai berikut:

a. penyerahan narkotika selain kepada pasien hanya dapat dilakukan untuk

memenuhi kekurangan jumlah narkotika berdasarkan resep yang telah diterima

b. narkotika hanya dapat diserahkan kepada pasien untuk pengobatan penyakit

berdasarkan resep dokter.

c. Penyerahan narkotika kepada dokter dilakukan apabila dokter melakukan

praktik perorangan dengan pemberian narkotika lewat suntikan, dalam keadaan

darurat, atau apabila dokter menjalakan tugas di daerah terpencil di mana tidak

ada apotek.

Berdasarkan Surat Edaran Direktorat Jenderal Badan Pengawas Obat dan

Makanan Nomor 336/E/SE/1997 yang menyatakan Apoteker dilarang mengulangi

menyerahkan narkotika atas dasar salinan resep dokter, dengan penjelasan sebagai

berikut:

1. Apotek dilarang melayani salinan resep yang mengandung narkotika, walaupun

resep tersebut baru dilayani sebagian atau belum dilayani sama sekali.

2. Untuk resep narkotika yang baru dilayani sebagian atau belum sama sekali,
apotek boleh membuat salinan resep tetapi salinan resep tersebut hanya boleh

dilayani oleh apotek yang menyimpan resep asli.

3. Salinan resep dan narkotika dengan tulisan "iter" tidak boleh dilayani sama

sekali. Oleh karena itu, dokter tidak boleh menambahkan tulisan"iter"pada

resep yang mengandung Narkotika.

2.9.4 Pelaporan narkotika

Apotek wajib membuat, menyimpan, dan menyampaikan laporan

pemasukan dan penyerahan/penggunaan narkotika, disampaikan paling lambat

setiap tanggal 10 bulan berikutnya kepada Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten/

Kota dengan tembusan Kepala Balai POM setempat. Laporan bulanan ini berisi

nama, bentuk sediaan, kekuatan, jumlah persediaan awal dan akhir bulan, jumlah

yang diterima dan jumlah yang diserahkan. Seluruh dokumen pencatatan,

penerimaan, penyaluran dan/ atau penyerahan termasuk surat pesanan Narkotika

wajib disimpan secara terpisah paling singkat 3 (tiga) tahun (Menkes RI, 2015).

2.9.5 Pemusnahan narkotika

Pemusnahan narkotika dilakukan pada narkotika yang rusak, kadaluwarsa

atau tidak memenuhi syarat untuk dipergunakan dalam pelayanan kesehatan. Berita

Acara Pemusnahan (BAP) Narkotika memuat:

a. Hari, tanggal, bulan, dan tahun pemusnahan

b. Tempat pemusnahan

c. Nama penanggung jawab fasilitas produksi/ fasilitas distribusi/fasilitas

pelayanan kefarmasian/ pimpinan lembaga/ dokter praktik perorangan

d. Nama petugas kesehatan yang menjadi saksi dan saksi lain badan/sarana

tersebut

e. Nama dan jumlah narkotika, psikotropika dan prekursor farmasi yang


dimusnahkan

f. Cara pemusnahan

g. Tanda tangan penanggung jawab fasilitas produksi/ fasilitas distribusi/ fasilitas

pelayanan kefarmasian/ pimpinan lembaga/ dokter praktik perorangan dan

saksi.

Kemudian BAP tersebut dikirim ke kepala kantor Dinas Kesehatan RI

dengan tembusan kepada Kepala Dinas Provinsi, Balai Besar POM dan sebagai

arsip apotek (Menkes RI, 2015).

2.10 Pengelolaan Psikotropika

Berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 3

tahun 2015 tentang Peredaran, Penyimpanan, Pemusnahan dan Pelaporan

Narkotika, Psikotropika dan Prekursor Farmasi, psikotropika adalah zat/ bahan

baku atau obat, baik alamiah maupun sintetis bukan narkotika, yang berkhasiat

psiko aktif melalui pengaruh selektif pada susunan saraf pusat yang menyebabkan

perubahan khas pada aktivitas mental dan perilaku.

Menurut undang-undang nomor 5 tahun 1997 psikotropika dibedakan kedalam 4

golongan,yaitu:

a. Psikotropika golongan I adalah psikotropika yang hanya dapat digunakan

untuk tujuan ilmu pengetahuan dan tidak digunakan dalam terapi, serta

mempunyai potensi sangat kuat mengakibatkan sindroma ketergantungan.

Contoh: lisergida, ekstasi (metilendioksi metilamfetamin), dan meskalina (Menkes

RI, 2017).

b. Psikotropika golongan II adalah psikotropika yang berkhasiat untuk

pengobatan, digunakan dalam terapi dan/ atau tujuan ilmu pengetahuan serta
mempunyai potensi kuat mengakibatkan sindroma ketergantungan.

Contoh: amineptina, metilfenidat, dan sekobarbital (Menkes RI, 2017).

c. Psikotropika golongan III adalah psikotropika yang berkhasiat untuk

pengobatan, digunakan dalam terapi dan/ atau tujuan ilmu pengetahuan serta

mempunyai potensi sedang mengakibatkan sindroma ketergantungan.

Contoh: amobarbital, brupronorfina, dan pentobarbital (Menkes RI, 2017).

d. Psikotropika golongan IV adalah psikotropika yang berkhasiat untuk

pengobatan dan sangat luas digunakan dalam terapi dan/ atau tujuan ilmu

pengetahuan serta mempunyai potensi ringan mengakibatkan sindroma

ketergantungan.

Contoh: alprazolam, diazepam, Triazolam, Pemolina, dan Metiprilon (Menkes

RI, 2017).

2.10.1 Pemesanan psikotropika

Obat golongan psikotropika dapat dipesan dari PBF resmi, dengan

menggunakan Surat Pesanan Psikotropika model khusus dan ditandatangani oleh

APA dan dilengkapi dengan nomor SIPA serta stempel apotek. Surat pemesanan

psikotropika dibuat rangkap dua dan dapat digunakan untuk memesan beberapa

jenis psikotropika (Bogadenta, 2012).

2.10.2 Penyimpanan psikotropika

Berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 3

tahun 2015 pada Pasal 26, untuk penyimpanan psikotropika, sebaiknya disimpan

pada lemari tersendiri atau lemari khusus yang terpisah dengan obat-obat lain

dan berada dalam penguasaan Apoteker Penanggung Jawab.

2.10.3 Penyerahan psikotropika

Penyerahan psikotropika dapat dilakukan oleh apotek, puskesmas, Instalasi


Farmasi Rumah Sakit, Instalasi Farmasi Klinik dan dokter. Apotek hanya dapat

menyerahkan psikotropika kepada apotek lainnya, puskesmas, Instalasi Farmasi

Rumah Sakit, Instalasi Farmasi Klinik, dokter dan kepada pasien berdasarkan resep

dokter. Penyerahan oleh dokter dilaksanakan jika menjalankan praktik perorangan

dan diberikan melalui suntikan, menolong orang sakit dalam keadaan darurat dan

menjalankan tugas di daerah terpencil (Menkes RI, 2015).

2.10.4 Pelaporan psikotropika

Berdasarkan Permenkes No. 3 tahun 2015 pasal 44 menyatakan bahwa

seluruh dokumen pencatatan, penerimaan, penyaluran dan/atau penyerahan

termasuk surat pesanan psikotropika wajib disimpan paling singkat 3 tahun. Pasal

45 ayat 6 menyatakan bahwa apotek wajib membuat, menyimpan dan

menyampaikan laporan pemasukan dan penyerahan/penggunaan psikotropika ke

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota dengan tembusan Kepala Balai setempat

paling lambat setiap tanggal 10 bulan berikutnya. Pelaporan yang dimaksud paling

sedikit terdiri atas (Menkes RI, 2015) :

a. nama, bentuk sediaan dan kekuatan obat;

b. jumlah persediaan awal dan akhir bulan;

c. jumlah yang diterima; dan

d. jumlah yang diserahkan

2.10.5 Pemusnahan psikotropika

Berdasarkan Permenkes No. 3 Tahun 2015 Pasal 37, pemusnahan

psikotropika dilaksanakan dalam hal :

a. tidak memenuhi syarat untuk digunakan pada pelayanan kesehatan dan/ atau

untuk kepentingan ilmu pengetahuan.

b. kadaluwarsa.
c. diproduksi tanpa memenuhi standar dan persyaratan yang berlaku dan/ atau

tidak dapat digunakan dalam proses produksi psikotropika.

d. dibatalkan ijin edarnya

e. berhubungan dengan tindak pidana

Untuk poin a sampai d, pemusnahan dilakukan oleh apotek dengan saksi

yang terdiri dari pejabat yang mewakili Kementerian Kesehatan, Badan Pengawas

Obat dan Makanan, Dinas Kesehatan Provinsi, Balai Pengawas Obat dan Makanan

setempat dan dari Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota. Untuk poin e pemusnahan

dilakukan oleh instansi pemerintah yang berwenang sesuai dengan ketentuan

perundang-undangan.

Setiap pemusnahan psikotropika wajib dibuatkan Berita Acara Pemusnahan

(BAP) yang paling sedikit memuat hari, tanggal, bulan dan tahun pemusnahan,

tempat pemusnahan, nama Apoteker penanggung jawab, nama petugas kesehatan

yang menjadi saksi, nama dan jumlah obat yang dimusnahkan, cara pemusnahan

serta tanda tangan Apoteker Penanggung Jawab. BAP dibuat rangkap tiga dengan

tembusan ke Direktur Jenderal dan Kepala Badan/Kepala Balai (Menkes RI, 2015).

2.11 Pengelolaan Obat yang Mengandung Prekursor Farmasi

Berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 3

tahun 2015 tentang Peredaran, Penyimpanan, Pemusnahan dan Pelaporan

Narkotika, Psikotropika dan Prekursor Farmasi, prekursor farmasi adalah zat atau

bahan pemula atau bahan kimia yang dapat digunakan sebagai bahan baku/

penolong untuk keperluan proses produksi Industri Farmasi atau produk antara,

produk ruahan dan produk jadi yang mengandung efedrin, pseudoefedrin,

norefedrin/ fenilpropanolamin, ergotamin, ergometrin, atau potassium


permanganat.

2.11.1 Pemesanan obat yang mengandung prekursor farmasi

Pengadaan obat yang mengandung prekursor farmasi harus berdasarkan

Surat Pesanan (SP) yang ditandatangani oleh APA dengan mencantumkan nama

lengkap dan nomor SIPA, nomor dan tanggal SP, dan kejelasan identitas pemesan

(nama dan alamat jelas, nomor telepon, nomor izin dan stempel). Surat pemesanan

prekursor farmasi dapat digunakan untuk memesan 1 (satu) atau beberapa jenis

prekursor farmasi (Menkes RI, 2015).

2.11.2 Penyimpanan obat yang mengandung prekursor farmasi

Apotek harus menyimpan prekusor farmasi dalam bentuk obat jadi di

tempat penyimpanan yang aman berdasarkan analisis risiko (Menkes RI, 2015).

2.11.3 Penyerahan obat yang mengandung prekursor farmasi

Penyerahan prekursor farmasi hanya dapat dilakukan oleh apotek,

puskesmas, Instalasi Farmasi Rumah Sakit, Instalasi Farmasi Klinik, dokter dan

toko obat. Apotek hanya dapat menyerahkan prekursor farmasi kepada apotek

lainnya, puskesmas, Instalasi Farmasi Rumah Sakit, Instalasi Farmasi Klinik,

dokter dan kepada pasien berdasarkan ketentuan peraturan perundang-undangan

yang berlaku (Menkes RI, 2015).

2.11.4 Pemusnahan obat yang mengandung prekursor farmasi

Berdasarkan Permenkes No. 3 Tahun 2015 Pasal 37, pemusnahan prekursor

farmasi dilaksanakan dalam hal :

a. tidak memenuhi syarat untuk digunakan pada pelayanan kesehatan dan/ atau

untuk kepentingan ilmu pengetahuan.

b. kadaluwarsa.

c. diproduksi tanpa memenuhi standar dan persyaratan yang berlaku dan/ atau tidak
dapat digunakan dalam proses produksi psikotropika.

d. dibatalkan ijin edarnya

e. berhubungan dengan tindak pidana

Untuk poin a sampai d, pemusnahan dilakukan oleh apotek dengan saksi

yang terdiri dari pejabat yang mewakili Kementerian Kesehatan, Badan Pengawas

Obat dan Makanan, Dinas Kesehatan Provinsi, Balai Pengawas Obat dan Makanan

setempat dan dari Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota. Untuk poin e pemusnahan

dilakukan oleh instansi pemerintah yang berwenang sesuai dengan ketentuan

perundang-undangan.
BAB III

TINJAUAN KHUSUS APOTEK KIMIA FARMA

3.1 Sejarah Kimia Farma

Kimia Farma adalah perusahaan Industri Farmasi pertama di Indonesia

yang didirikan oleh Pemerintah Hindia Belanda tahun 1817. Nama perusahaan ini

pada awalnya adalah NV Chemicalien Handle Rathkamp &Co. Berdasarkan

kebijaksanaan nasionalisasi atas eksperusahaan Belanda dimasa awal

kemerdekaan, pada tahun 1958, Pemerintah Republik Indonesia melakukan

peleburan sejumlah perusahaan farmasi menjadi PNF (Perusahaan Negara

Farmasi) Bhinneka Kimia Farma. Kemudian pada tanggal 16 Agustus 1971,

bentuk badan hukum PNF diubah menjadi Perseroan Terbatas, sehingga nama

perusahaan berubah menjadi PT. Kimia Farma (Persero) (Kimia Farma, 2018).

Pada tangga 4 Juli 2001, PT. Kimia Farma (Persero) kembali mengubah

statusnya menjadi perusahaan publik, PT. Kimia Farma (Persero) Tbk, dan telah

dicatatkan pada Bursa Efek Jakarta dan Bursa Efek Surabaya (sekarang kedua bursa

telah merger menjadi Bursa Efek Indonesia). Berbekal pengalaman selama puluhan

tahun, perseroan telah berkembang menjadi perusahaan dengan pelayanan

kesehatan terintegrasi di Indonesia. Perseroan kian diperhitungkan kiprahnya

dalam pengembangan dan pembangunan bangsa, khususnya pembangunan

kesehatan masyarakat Indonesia (Kimia Farma, 2018).

PT Kimia Farma (Persero) Tbk. adalah Badan Usaha Milik Negara (BUMN)

yang dipimpin oleh Direktur Utama yang membawahi empat direktur, yaitu

Direktur Umum dan Personalia, Direktur Pemasaran, Direktur Keuangan, dan

Direktur Produksi. Untuk dapat mengelola perusahaan lebih terarah dan


berkembang dengan cepat, maka Pada tanggal 4 Januari 2003, PT Kimia Farma

(Persero) Tbk., Melepas divisi Apotek dan PBF menjadi dua anak perusahaan, yaitu

Apotek Kimia Farma menjadi PT Kimia Farma Apotek (KFA) dan PBF Kimia

Farma menjadi PT Kimia Farma Trading and Distribution (KFTD). Pada tahun

2011, Kimia Farma menambah penyertaan modal pada PT. Sinkona Indonesia

Lestari (SIL). PT Kimia (Persero) Tbk., melihat peluang pasar yang tinggi maka

dari itu PT Kimia Farma Diagnostika (KFD) dibentuk sejak tahun 2008 dan mulai

beroperasi secara mandiri pada awal tahun 2010 serta pada 25 Januari 2016

mendirikan PT Kimia Farma Sungwun Pharmacopia (KFSP) yang merupakan

pabrik bahan baku farmasi pertama di Indonesia. PT Kimia (Persero) Tbk. juga

memiliki kepemilikan 10% pada PT Asuransi Inhealth Indonesia (Kimia Farma,

2018).

1. PT Kimia Farma Trading and Distribution

PT. Kimia Farma Trading and Distribution, dibentuk tanggal 4 Januari

2003, memiliki 46 cabang yang mendistribusikan obat-obatan dan alat-alat

kesehatan yang diproduksi sendiri maupun yang diproduksi oleh pihak ketiga

dengan perpegang pada prinsip untuk memenuhi kepuasan dan kebutuhan

pelanggannya. Dalam operasionalnya didukung dengan fasilitas pergudangan yang

besar dan peralatan yang efisien serta armada transportasi yang terintegrasi dengan

sistem informasi untuk mendukung kelancaran pengiriman barang ke seluruh

Indonesia (Kimia Farma, 2018).

2. PT Kimia Farma Apotek

PT Kimia Farma Apotek (KFA) adalah anak perusahaan Perseroan yang

didirikan berdasarkan akta pendirian tanggal 4 Januari 2003. Sejak tahun 2011.

KFA menyediakan layanan kesehatan yang terintegrasi meliputi layanan farmasi


(apotek), klinik kesehatan, laboratorium klinik dan optik, dengan konsep One Stop

Health Care Solution (OSHCS) sehingga semakin memudahkan masyarakat

mendapatkan layanan kesehatan berkualitas (Kimia Farma, 2018).

PT Kimia Farma Apotek dipimpin oleh seorang Direktur Utama yang

membawahi Direktur Operasional dan Pengembangan, Direktur Keuangan dan

Direktur Sumber Daya Manusia. Direktur Utama Operasional dan Pengembangan

membawahi para Bisnis Manajer (BM). Pada tangga l1 Agustus 2004, seluruh

apotek Kimia Farma mempunyai satu fungsi yaitu fungsi pelayanan. Untuk hal

pengadaan, administrasi dan pengembangan usaha, langsung dikendalikan oleh

BM. Di Indonesia saat ini terdapat 34 BM dengan ± 1000 outlet tersebar di seluruh

tanah air. Bisnis Manajer (BM) membawahi manajer apotek pelayanan yang

dipimpin oleh Apoteker Pengelola Apotek (APA). Apoteker Pengelola Apotek

(APA) bertanggung jawab di apotek dalam perihal pelayanan dan pengaturan

personalia (Kimia Farma, 2018).

3. PT Sinkona Indonesia Lestari (SIL)

PT Sinkona Indonesia Lestari adalah perusahaan yang didirikan pada 25

Oktober 1986 dan sebagai satu-satunya Perusahaan Indonesia yang memproduksi

kina garam dan turunannya bagi banyak industri, terutama obat-obatan, minuman

dan industri kimia. Pada tahun 2011, Kimia Farma menambah penyertaan modal

pada PT. Sinkona Indonesia Lestari (SIL) dan menjadi pemegang saham mayoritas

sebesar 56,02% (Kimia Farma, 2018).

4. PT Kimia Farma Diagnostika

PT Kimia Farma Diagnostika (KFD) dibentuk sejak tahun 2008 dan mulai

beroperasi secara mandiri pada awal tahun 2010. Ruang lingkup bisnis usaha KFD

meliputi pengelolaan dan pengembangan laboratorium klinik dengan visi menjadi


perusahaan jaringan layanan laboratorium terbaik di Indonesia untuk mendukung

kehidupan yang lebih sehat. Komposisi pemegang saham PT Kimia Farma Apotek

yaitu 99.96% dan 0.04% YKKKF.

5. PT Kimia Farma Sungwun Pharmacopia

PT Kimia Farma Sungwun Pharmacopia (KFSP) didirikan pada 25 Januari

2016 dan merupakan pabrik bahan baku farmasi pertama di Indonesia. Merupakan

kerjasama dengan skema joint venture antara PT Kimia Farma (Persero) Tbk

dengan PT Sungwun Pharmacopia Indonesia sebagai perwakilan dari Sungwun

Pharmacopia Co Ltd dari Korea Selatan. Komposisi pemegang saham yaitu 75%

PT Kimia Farma (Persero) Tbk dan 25% Sungwun Pharmacopia Co Ltd.

6. PT Asuransi Inhealth Indonesia

PT Asuransi InHelath memiliki usaha di bidang asuransi dan membagi

bidang usahanya menjadi tiga bagian yaitu Asuransi Kesehatan InHealth, Managed

Care, Asuransi Kesehatan InHealth Indemnnitydan Asuransi Jiwa. Komposisi

kepemilikan saham PT Kimia Farma (Persero), Tbk. 10%, PT Bank Mandiri

(Persero) Tbk60%, PT Asuransi Jasa Indonesia (Persero) 10% dan Badan

Penyelenggara Jaminan Sosial Kesehatan 20%.

3.2 Visi dan Misi Kimia Farma Apotek

Sebagai perusahaan yang besar, Kimia Farma Apotek dalam menjalankan

perusahaan tentu memiliki visi dan misi yang jelas agar dapat menjadi perusahaan

yang terus maju dan berkembang.


Visi dari Kimia Farma Apotek adalah menjadi perusahaan Healthcare

pilihan utama yang terintegrasi dan menghasilkan nilai yang berkesinambungan.

Untuk mencapai Visi itu, Kimia Farma mempunyai misi-misi Apotek adalah

menghasilkan pertumbuhan nilai perusahaan yang melalui :

a. Melakukan aktivitas usaha di bidang-bidang industri kimia dan farmasi,

perdagangan dan jaringan distribusi, retail farmasi dan layanan kesehatan serta

optimalisasi omset

b. Mengelola perusahaan secara Good Corporate Governance dan operational

excellence didukung oleh SDM profesional

c. Memberikan nilai tambah dan manfaat bagi seluruh stakeholder

3.3 Logo Kimia Farma

Logo Kimia Farma tertera pada Gambar di bawah ini:

Gambar 3.1. Logo Kimia Farma

Keterangan:

a. Simbol Matahari

i. Paradigma baru: Matahari terbit adalah tanda memasuki babak baru

kehidupan yang lebih baik.

ii. Optimis: Matahari memiliki cahaya sebagai sumber energi, cahaya tersebut

adalah penggambaran optimisme Kimia Farma dalam menjalankan bisnisnya.

iii. Komitmen: Matahari selalu terbit dari timur dan tenggelam dari arah barat

secara teratur dan terus menerus memiliki makna adanya komitmen dan
konsistensi dalam manjalankan segala tugas yang diemban oleh Kimia Farma

dalam bidang farmasi dan kesehatan.

iv. Sumber energi: Matahari sumber energi bagi kehidupan dan memposisikan

dirinya sebagai sumber energi bagi kesehatan masyarakat.

v. Semangat yang abadi: Warna orange berarti semangat, warna biru berarti

keabadian. Harmonisasi antara kedua warna tersebut menjadi satu makna

yaitu semangat yang abadi.

b. Jenis huruf

Jenis huruf dirancang khusus untuk kebutuhan Kimia Farma disesuaikan

dengan nilai dan image yang telah menjadi energi bagi Kimia Farma, karena prinsip

sebuah identitas harus berbeda dengan identitas yang telah ada.

c. Sifat huruf

i. Kokoh: Memperlihatkan Kimia Farma sebagai perusahaan terbesar dalam

bidang farmasi yang memiliki bisnis hulu hilir dan merupakan perusahaan

farmasi pertama yang dimiliki Indonesia.

ii. Dinamis: Dengan jenis huruf italic, memperlihatkan kedinamisan dan

optimisme.

iii. Bersahabat: Dengan jenis huruf kecil dan lengkung, memperlihatkan

keramahan Kimia Farma.

d. Tulisan biru Kimia Farma mengandung arti produk-produk yang dihasilkan

haruslah berkualitas dan bermutu sehingga mampu meningkatkan kepercayaan

terhadap produk.

e. Garis setengah melingkar berwarna orange melambangkan harapan yang

dicapai oleh Kimia Farma dalam meningkatkan dan mengembangkan produknya

yang inovatif dan bermutu.


3.4 Budaya Perusahaan Kimia Farma

Perseroan telah menetapkan budaya perusahaan yan merupakan nilai-nilai

inti Perseroan (cororates value), yaitu “I CARE” yang menjadi acuan atau pedoman

bagi Perseroan dalam menjalankan usahanya, untuk berkarya meningkatkan

kualitas hidup dan kesehatan masyarakat.

Gambar 3.2. Logo Budaya dan Motto Kimia Farma

Berikut adalah budaya perusahaan (corporate value) Perseroan :

a. Innovative

Budaya berpikir out of the box, smart dan kreatif untuk membangun produk

unggulan.

b. Costumer first

Mengutamakan pelanggan sebagai mitra kerja.

c. Accountability

Dengan senantiasa bertanggungjawab atas amanah yang dipercayakan oleh

perusahaan dengan memegang teguh profesionalisme, integritas dan kerja sama.

d. Responsibility

Memiliki tanggung jawab pribadi untuk bekerja tepat waktu, tepat sasaran dan

dapat diandalkan, serta senantiasa berusaha untuk tegar dan bijaksana dalam

menghadapi setiap masalah.

e. Eco-friendly

Menciptakan dan menyediakan baik produk maupun jasa layanan yang ramah

lingkungan (Kimia Farma, 2018).


3.5 Ruh Perusahaan Kimia Farma

Dalam meningkatkan mutu pelayanan P.T Kimia Farma menanamkan

budaya ruh perusahaan (5 AS):

1. kerja ikhlas

2. kerja cerdas

3. kerja antusias

4. kerja keras

5. kerja tuntas

3.6 Bisnis Manajer Medan Kimia Farma Apotek

PT. Kimia Farma Apotek Unit Bisnis Medan dipimpin oleh M. Tri

Kurniawan, S.Si., Apt. Kantor Bisnis Manajer (BM) Medan beralamat di Jalan

Palang Merah Nomor 32 Medan. Bisnis Manager Kimia Farma Medan memiliki 31

Apotek Pembantu Pelayanan (APP) yang tersebar di seluruh Sumatera Utara yang

dapat dilihat pada Tabel 3.1

Tabel 3.1 Apotek Kimia Farma Unit Bisnis Medan


No Nama Outlet No Nama Outlet
1. Apotek KF N0. 29 P. Siantar 17. Apotek KF No. 568 Tasbi Square
2. Apotek KF No. 160 Setia Budi 18. Apotek KF Zein Hamid
3. Apotek KF No. 162 P. Siantar 19. Apotek KF Denai
4. Apotek KF No. 27 Medan 20. Apotek KF HM. Yamin Medan
5. Apotek KF No. 28 Belawan 21. Apotek KF SMR Rantau Prapat
6. Apotek KF No. 30 Tebing Tinggi 22. Apotek KF SM. Raja Medan
7. Apotek KF No. 312 R. Prapat 23. Apotek KF Jamin Ginting
8. Apotek KF No. 39 Gatot Subroto 24. Apotek KF Ahmad Yani P.Siantar
9. Apotek KF No. 41 Kaban Jahe 25. Apotek KF J. City
10. Apotek KF No. 84 Tanjung Balai 26. Apotek KF Kuala Namu
11. Apotek KF No. 85 P. Siantar 27. Apotek KF Lubuk Pakam
12. Apotek KF No.107 PWS 28. Apotek KF Ring Road
13 Apotek KF No. 315 P. Sidimpuan 29. Apotek KF Pel No. 14 Pirngadi
Apotek KF Pel No. 54 RS R.
14. Apotek KF No. 542 Tembung 30.
Prapat
Apotek KF Pel. No. 41 RS T.
15. Apotek KF No. 545 Cemara Asri 31.
Tinggi
16. Apotek KF No. 557 Marelan

3.7 Apotek Kimia Farma 107 PWS

Apotek Kimia Farma 107 PWS dikelola oleh seorang Apoteker penanggung

jawab yang berlokasi di Jalan Gatot Subroto No 72 C, Medan. Lokasi Apotek Kimia

Farma 107 PWS tergolong strategis karena merupakan daerah pemukiman

penduduk yang ramai, letaknya di tepi jalan Gatot Subroto yang sangat ramai dilalui

oleh kendaraan umum dan mudah dijangkau, selain itu lingkungan sekitar apotek

terdapat beberapa tempat praktik dokter. Area parkir yang memadai terletak di

depan apotek dan dikhususkan bagi pelanggan apotek. Apotek ini beraktivitas

mulai dari pukul 08.00  22.00 WIB dengan pergantian karyawan dengan sistem

shift dalam sehari.

3.7.1 Struktur organisasi dan personalia

Apotek Kimia Farma 107 PWS dikelola oleh Apoteker Penanggung jawab

Apotek (APA) Hengki Hadi Saputra, S. Farm., Apt., yang membawahi 3 orang

Tenaga Teknis Kefarmasian (TTK) yang bertugas di bagian administrasi,

peracikan, pembelian, penjualan serta 1 orang kasir pada bagian penjualan dan

pelayanan. Semua bagian bertugas secara terpadu dan ikut bertanggung jawab

terhadap setiap pekerjaan yang ada.

3.7.2 Sarana dan prasarana


Ditinjau dari tata ruangnya, apotek terdiri dari 3 lantai. Kegiatan pelayanan

di apotek dilakukan di lantai 1 yang dilengkapi dengan pendingin ruangan dan

penerangan lampu yang baik. Pada lantai 1 apotek dilengkapi dengan kamera

CCTV dimana kameranya dipasang pada beberapa titik ruang apotek yang

bertujuan untuk memantau situasi atau keadaan di apotek.

Pengaturan tata ruang ini ditujukan untuk kelancaran kegiatan di apotek dan

kenyamanan pasien. Sesuai dengan standarisasi tata ruang dalam apotek dari Kimia

Farma Apotek pusat, tata ruang Apotek Kimia Farma 107 PWS berkonsep terbuka

sehingga pasien dapat melihat langsung apa yang sedang dilakukan oleh para

pegawai apotek. Pembagian ruang yang terdapat di dalam apotek antara lain :

a. Ruang Tunggu

Ruang tunggu terdapat di sebelah kiri pintu masuk apotek. Ruang ini

dilengkapi dengan pendingin ruangan sehingga dapat memberikan kenyaman

bagi pasien yang menunggu.

b. Swalayan Farmasi

Swalayan farmasi terdiri dari perbekalan kesehatan yang dapat dibeli secara

bebas tanpa resep dokter. Area swalayan farmasi terletak di sebelah kiri dekat

pintu masuk dan mudah terlihat dari ruang tunggu, menyediakan obat bebas,

obat bebas terbatas, obat herbal, vitamin dan suplemen, alat kesehatan,

perawatan tubuh, perawatan bayi, makanan dan minuman ringan serta produk

susu. Produk produk ditata dan disusun sedemikian rupa berdasarkan golongan

atau jenis produk agar menarik perhatian dan memudahkan pelanggan dalam

memilih produk yang dibutuhkan.

c. Tempat Penerimaan Resep, Upaya Pelayanan Diri Sendiri (UPDS), kasir dan

Penyerahan Obat
Bagian pelayanan merupakan tempat bagi pasien yang ingin membeli obat

tanpa / dengan resep dokter dengan pengarahan oleh apoteker dalam pemberian

informasi obat. Bagian kasir terdapat disebelah tempat penyerahan obat yang

menjadi tempat pembayaran baik pembelian obat dengan resep maupun tanpa

resep.

d. Ruang Penyimpanan Obat dan Ruang Peracikan

Ruang penyimpanan obat terletak di bagian belakang tempat penerimaan resep

dan penyerahan obat. Pada ruangan ini terdapat lemari yang terdiri dari banyak

rak dimana obat tersusun sedemikian rupa sehingga mudah untuk disimpan dan

dijangkau pada saat penyiapan, peracikan dan pengemasan. Setiap jenis obat

dimasukkan ke dalam kotak yang berukuran sama dan tersusun rapi pada rak

obat. Pada kotak diberi label nama obat dan dilengkapi dengan kartu stok.

Penataan obat disusun berdasarkan bentuk sediaan dan cara pemakaian

(sediaan padat; setengah padat; cair oral; cair tetes mata, hidung, telinga;

topikal; dan preparat mata). Penyusunan obat dilakukan secara farmakologis

(kelas terapi) dan alfabetis agar mempermudah dalam pencarian dan

penyimpanan obat. Penyimpanan obat juga dibedakan atas obat generik,

produk PT. Kimia Farma, Tbk., narkotika & psikotropika, dan obat-obatan

yang harus disimpan di kulkas (suhu dingin).

Ruang peracikan menyatu dengan ruang penyimpanan obat, dilengkapi dengan

fasilitas untuk peracikan seperi lumpang dan alu, timbangan, bahan baku,

bahan pengemas seperti cangkang kapsul, kertas perkamen, kertas

pembungkus puyer, wadah plastik dan etiket serta wastafel. Pada ruang

peracikan ini dilakukan kegiatan penimbangan, pencampuran, peracikan dan

pengemasan obat-obat yang dilayani berdasarkan resep dokter.


e. Ruang penunjang lainnya

Ruang ini terdiri atas toilet, ruang penyimpanan arsip resep, ruang praktek

dokter dan ruang sholat.

3.7.3 Bentuk kegiatan di apotek kimia farma 107 PWS

Kegiatan apotek dilakukan setiap hari mulai pukul 08.00 - 22.00 WIB.

Terbagi dalam dua shift yaitu shift pagi (Pukul 08.00-15.00 WIB), shift siang (Pukul

15.00-22.00 WIB).

3.8 Pengelolaan Perbekalan Farmasi

Pengelolaan perbekalan farmasi pada Apotek Kimia Farma 107 PWS

meliputi perencanaan, pengadaan perbekalan, penerimaan, penyimpanan,

pemusnahan, pengendalian dan pencatatan, serta pelaporan.

3.8.1 Perencanaan sediaan farmasi

Perencanaan dilakukan dengan menetapkan jenis dan jumlah barang yang

akan dipesan/dibeli dengan memperhatikan kebutuhan pada ruang peracikan dan

penjualan bebas yang disesuaikan dengan permintaan masyarakat, menentukan

pemasok dengan mempertimbangkan legalitasnya, kondisi pembelian dan

pembayaran yang diberikan, dan juga kecepatan pengiriman barang. Dalam hal

penentuan jumlah pembelian, salah satu yang juga menjadi pertimbangan adalah

adanya kemungkinan naik/ turunnya harga sediaan farmasi dan perbekalan

kesehatan. Barang yang sudah habis atau stok yang sedikit dapat dilihat pada kotak

tempat penyimpanan obat atau kartu stok obat, dan kemudian dicatat ke dalam buku

pemesanan. Jumlah barang yang akan dibeli disesuaikan dengan sifat barang, fast

moving atau slow moving.

3.8.2 Pengadaan sediaan farmasi


Pengadaan barang / Permintaan Barang di apotek terbagi dalam 3 sistem:

a. Sistem Min Max

1. Dilakukan di BM

2. Perhitungan 90 hari dari penjualan di apotik

3. Hasil perhitungan dikirim ke aplikasi

4. Aplikasi mengedit sesuai dengan kebutuhan di apotik lalu data di kirim

kembali ke BM

5. BM mengolah data sampai terbentuk/ terbitnya SP

6. SP diserahkan ke distributor dan file SP nya dikirim ke Apotek

7. SP dicetak dan ditandatangani oleh APA

b. Sistem BPBA

1. Apotek membuat BPBA berdasarkan Pareto, Defakta, Daftar obat kosong

di apotik dan pola penyakit

2. BPBA yang telah selesai dibuat, dikirim datanya ke BM

3. Data kemudian diolah di BM sampai terbentuk SP

4. SP diserahkan ke distributor dan file SP nya dikirim ke Apotek

5. SP dicetak dan ditandatangani oleh APA

c. Sistem Droping

1. Apotek meminta barang ke apotek Kimia Farma yang lainnya untuk

memenuhi kebutuhan pasien pada saat itu juga, bukan untuk stok

2. Apotek yang diminta kemudian akan mendroping barang yang diminta

3. Barang yang diminta kemudian diambil oleh apotek yang meminta

Khusus untuk pengadaan narkotika dan psikotropika, prosedurnya sama

seperti pengadaan obat tetapi dilakukan pengisian pada blanko SP. Selanjutnya SP

yang telah diisi ditandatangani oleh APA lalu dikirim ke PBF bersangkutan melalui
BM Medan.

Pemesanan obat golongan narkotika dilakukan ke Pedagang Besar Farmasi

Kimia Farma selaku distributor tunggal dengan membuat surat pesanan khusus

narkotika yang dibuat rangkap lima (putih, merah, kuning, biru, hijau) yang

ditandatangani oleh APA dengan mencantumkan nama, SIPA, alamat dan stempel

apotek. Setiap lembar SP hanya digunakan untuk 1 jenis obat narkotika.

Pemesanan obat golongan psikotropika menggunakan model N-9 rangkap

2 (putih dan merah) yang ditujukan ke PBF Kimia Farma atau PBF lain, tiap lembar

boleh untuk memesan lebih dari satu macam obat dan berasal dari distributor yang

sama.

3.8.3 Prosedur penerimaan barang

Penerimaan barang dilakukan oleh penanggung jawab menurut prosedur

sebagai berikut:

a. Petugas menerima barang dari BM yang disertai dengan faktur atau surat

pengantar barang.

b. Petugas kemudian memeriksa barang sesuai dengan yang tertera pada faktur,

atau surat pesanan meliputi nama, bentuk sediaan, kekuatan, jumlah, nomor

batch dan tanggal kadaluarsa.

c. Petugas kemudian mengisi kartu stok dan mengentri ke komputer sebagai saldo.

d. Setelah barang diterima, barang disimpan sesuai dengan prosedur

penyimpanan, dan diisi pada kartu stok.

3.8.4 Penyimpanan

Obat atau bahan obat di Apotek Kimia Farma 107 PWS disimpan pada

kondisi yang sesuai, layak dan menjamin kestabilan bahan. Untuk obat atau bahan
obat yang memerlukan penyimpanan khusus misalnya pada temperatur dingin

disimpan dilemari pendingin.

Obat-obatan di Apotek Kimia Farma 107 PWS disimpan di kotak-kotak

yang telah tercantum nama obat dan ditempatkan dalam rak-rak tertentu diruang

peracikan dan lemari etalase. Penyusunan berdasarkan bentuk sediaan, alfabetis,

dan farmakologis dengan menggunakan sistem FIFO (First In First Out) dan FEFO

(First Expire First Out). Obat-obat golongan narkotika disimpan dalam lemari

khusus narkotika yang terpisah dari obat-obat lain dan terkunci. Obat-obat

psikotropika disimpan dalam lemari tersendiri, sedangkan obat dalam bentuk

suppositoria disimpan dilemari pendingin.

3.8.5 Pemusnahan obat

Obat-obat yang ada di apotek akan dimusnahkan jika memenuhi kriteria:

1. Rusak

2. Berubah warna

3. Lewat tanggal kadaluarsa

4. Adanya pencabutan izin edar dari BPOM

Pemusnahan harus meminta izin prinsip dari Direksi PT. Kimia Farma

Apotek disertai usulan tim/panitia pemusnahan obat. Surat pemberitahuan

pemusnahan obat dikirimkan kepada Kepala Dinas Kesehatan setempat.

Pemusnahan obat dilakukan sesuai tata cara Permenkes RI. Berita Acara

Pemusnahan (BAP) ditandatangani oleh saksi dari pihak apotek maupun dinas

kesehatan. Laporan pelaksanaan pemusnahan kemudian disampaikan kepada

direksi kimia farma apotek.

3.8.6 Pengendalian

Pengendalian persediaan dilakukan menggunakan kartu stok baik dengan

cara manual atau elektronik yang dapat dilihat setiap melakukan pengeluran barang.
Kartu stok sekurang kurangnya memuat nama obat, tanggal kadaluwarsa, jumlah

pemasukan, jumlah pengeluaran dan sisa persediaan.

Pengendalian dilakukan untuk mempertahankan jenis dan jumlah

persediaan sesuai kebutuhan pelayanan, melalui pengaturan sistem pesanan atau

pengadaan, penyimpanan dan pengeluaran, dilakukan dengan melakukan stok

opname setiap 3 bulan sekali, yang berfungsi sebagai:

a. Mengetahui stok barang yang tertinggal sehingga dapat dievaluasi apakah terjadi

kekurangan barang atau tidak.

b. Mengetahui barang-barang atau obat yang fast moderate dan slow moving serta

yang tidak terjual.

c. Mengetahui laba dan rugi perusahaan

d. Mengetahui barang atau obat yang mendekati akan masa kadaluarsa.

3.8.7 Pencatatan dan pelaporan

Pencatatan merupakan suatu kegiatan yang bertujuan untuk memonitor

transaksi perbekalan farmasi yang keluar dan masuk di lingkungan apotek. Untuk

mendukung sistem pencatatan di Apotek Kimia Farma 107 dilakukan pencatatan

berupa kartu stok yang berada disamping obat digunakan untuk mencatat setiap

obat yang keluar, catatan penolakan obat yaitu catatan yang berfungsi untuk

pengadaan, untuk mengetahui omset dan untuk meningkatkan kualitas persediaan.

Pengarsipan resep yang masuk setiap hari diarsipkan berdasarkan tanggal,

bulan dan tahun. Lalu dipisahkan menurut resep yang dibayar tunai, resep kredit,

resep narkotika dan psikotropika. Khusus untuk resep-resep narkotika dan

psikotropika diarsipkan tersendiri secara terpisah dan diberi garis merah untuk

narkotika. Pelaporan yang dilakukan di Apotek KF 107 PWS antara lain:

a. LIPH (laporan ikhtisar penjualan harian) yang merupakan laporan seluruh hasil
penjualan resep maupun non resep perhari, berasal dari laporan penjualan dari

tiap shift kerja. Selanjutnya laporan ini akan di kirim ke BM Medan.

b. Laporan narkotika dan psikotropika dilakukan setiap bulan oleh karyawan yang

bertugas dan disetujui oleh APA. Laporan narkotika dilaporkan paling lambat

tanggal 10 tiap bulannya, laporan penggunaan narkotika setiap bulannya dikirim

ke Dinkes Kabupaten atau Kota dan dibuat tembusan ke Dinkes Provinsi, Balai

POM dan untuk arsip apotek.

c. Pengarsipan faktur-faktur pembelian yang telah di entry dalam sistem.

3.9 Pelayanan

Pelayanan dan penjualan di Apotek Kimia Farma 107 PWS meliputi

pelayanan resep dokter dan penjualan langsung pada pasien serta memberi

informasi obat bagi pasien yang membutuhkan. Selain itu apotek juga melayani

pemeriksaan tekanan darah.

3.9.1 Pelayanan Resep Tunai

Pelayanan terhadap resep di Apotek Kimia Farma 107 PWS dilakukan

dengan cara sebagai berikut:

a. Pasien membawa resep kepada apoteker atau salinan resep dan menyerahkannya

ke petugas penerima resep (Apoteker /Tenaga Teknis Kefarmasian (TTK),

b. Apoteker /TTK melakukan skrining resep yang meliputi; nama dan bahan obat,

ketersediaan obat yang ada dalam resep, lalu kasir akan menanyakan kepada

pasien apakah obat ditebus penuh atau sebagian, kemudian menetapkan

harganya.
c. Bagian penerima resep memberi tahu harga obat kepada pasien untuk resep yang

ditebusnya dan apabila pasien setuju bagian penerima resep akan menanyakan

nama, alamat, dan nomor telepon pasien.

d. Pasien membayar harga obat kepada kasir.

e. Kasir menerima pembayaran dari pasien, kemudian memberikan

f. pembayaran berupa struk yang dapat berfungsi sebagai bukti pengambilan obat

dengan resep.

g. Resep dilayani oleh bagian pengerjaan. Bila resep tidak berupa obat racikan,

bagian pengerjaan dapat langsung mengambil obat pada rak-rak obat, kemudian,

apoteker atau tenaga teknis kefarmasian (TTK) membuat etiket yang meliputi

nomor resep, tanggal resep, nama pasien, aturan pakai, nama dan jumlah obat,

tanggal kadaluarsa serta melakukan pengemasan. Apoteker atau tenaga teknis

kefarmasian (TTK) melakukan pemeriksaan obat yang di ambil, salinan resep,

dan kuitansi, lalu dikemas.

Apabila resep berupa obat racikan, bagian pengerjaan melakukan

pengambilan obat sesuai dengan resep yang diminta. Apoteker memeriksa

perhitungan dosis dan jika tepat, tenaga teknis kefarmasian (TTK) melakukan

penimbangan sejumlah obat yang dibutuhkan sesuai dengan hasil perhitungan dosis

lalu tenaga teknis kefarmasian (TTK) membuat etiket nomor resep, tanggal resep,

nama pasien, aturan pakai, bentuk sediaan puyer atau kapsul, serta melakukan

pengemasan. Apoteker melakukan pemeriksaan obat yang diambil, salinan resep,

dan kuitansi, lalu dikemas.

a. Melakukan pemeriksaan akhir meliputi; Kesesuaian racikan atau obat dengan

resep, kesesuaian copy resep dengan resep asli, kebenaran kwitansi


b. Apabila dalam pemeriksaan akhir semua proses diatas dilakukan dengan benar,

obat dapat diserahkan kepada pasien sesuai dengan nomor resepnyadisertai

dengan Komunikasi Informasi dan Edukasi (KIE) mengenai hal yang penting

disampaikan mengenai pengobatan pasien dan jika ditemukan kesalahan maka

akan dilakukan pengkoreksian ulang.

3.9.2 Pelayanan Resep Kredit

Pelayanan terhadap resep kredit di Apotek Kimia Farma 107 PWS

dilakukan dengan cara sebagai berikut:

a. Pada saat pasien datang dan menyerahkan resep, petugas meminta kartu anggota

(menerima resep kredit dari instansi) dan melakukan skrining resep. Khusus

untuk resep kredit di tulis rangkap 2 dan dibelakang resep pasien akan diminta

untuk mengisi nama, alamat dan nomor pegawai.

b. Pengambilan obat jadi maupun obat racikan, serta pembuatan salinan resep dan

kwitansi tahapannya adalah sama dengan tahapan pada pelayanan resep tunai.

c. Pada penyerahan obat, pasien harus membubuhkan tandatangan pada bagian

bawah resep.

d. Resep direkap, pengisian pada form khusus yang disediakan oleh instansi terkait

berupa identitas pasien, nama obat dan harga obat. Total nilai resep resep

dikonfirmasikan kepada bagian piutang untuk kemudian dibuatkan nomor

kwitansi dan faktur pajak. Setelah nomor kwitansi dan faktur pajak diperoleh,

kemudian dibuat kwitansi penagihan dan surat permohonan pembayaran tagihan

oleh pimpinan apotek. Rekap resep dikirim via email ke instansi penanggung

jawab biaya pengobatan pasien, sedangkan kwitansi tagihan, faktur pajak dan

surat permohonan pembayaran tagihan dikirim langsung ke instansi tersebut.

Pembayaran ditransfer melalui rekening terpusat di Bisnis Manajer. Apabila


sudah dilakukan pembayaran, maka bagian piutang akan memberikan informasi

kepada pihak apotek.

3.9.3 Pelayanan swamedikasi

Standar operasional prosedur tata cara pelayanan swamedikasi yang

dilakukan di Apotek Kimia Farma 107 PWS adalah sebagai berikut:

a. Mengucapkan salam pembuka.

b. Keluhan pasien dengan apoteker.

c. Pertanyaan dasar:

- Sudah berapa lama sakit?

- Langkah pengobatan apa saja yang telah dilakukan sebelumnya?

- Apakah ada obat lain yang digunakan saat ini?

d. Pemilihan obat sesuai keluhan.

e. Penetapan harga.

f. Pemberian obat dan informasi yang dibutuhkan.

3.9.4 Pelayanan penjualan bebas

Apotek Kimia Farma 107 PWS selain melayani resep, ada juga pelayanan

penjualan bebas atau tanpa resep dengan pembayaran langsung dan juga terdapat

swalayan farmasi. Prosedur pelayanan penjualan bebas yaitu:

a. Petugas menerima permintaan dari pelanggan dan menginformasikan harganya.

b. Petugas menerima pembayaran dari pelanggan serta menyerahkan barang dan

memberikan informasi yang diperlukan terkait dengan obatnya.

Swalayan farmasi merupakan suatu inovasi dari PT. Kimia Farma Apotek

untuk dapat memanjakan pasien yang berada di apotek. Ketika menunggu

peracikan obat, pasien dapat menghabiskan waktunya di swalayan farmasi untuk

membeli keperluan sehari-hari seperti pampers, aneka susu, vitamin dan lain-lain.
Swalayan Farmasi di Apotek Kimia Farma 107 PWS secara umum telah memenuhi

syarat standarisasi merchandising Apotek Kimia Farma. Baik dalam tata ruang,

pola penyusunan produk (secara alfabetis berdasarkan efek farmakologi obat) serta

memiliki berbagai variasi obat, suplement dan peralatan kesehatan lainnya yang

dibutuhkan oleh masyarakat.


BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Lokasi dan Fasilitas

Apotek Kimia Farma 107 PWS merupakan salah satu apotek pelayanan

yang berada di bawah koordinasi Bisnis Manager (BM) PT. Kimia Farma Apotek.

Apotek Kimia Farma 107 PWS Medan, terletak di jalan Gatot Subroto No 72 C

memiliki lokasi yang strategis. Lokasinya mudah diakses oleh masyarakat karena

berada di tepi jalan raya uang mudah di lalui kendaraan dan sering dilalui kendaraan

umum. Apotek juga dikelilingi area yang ramai, seperti pusat perbelanjaan, sekolah,

klinik dan rumah sakit serta mempunyai tempat parkir yang aman dan luas. Hal ini

memberikan keuntungan yang besar dan menjadi faktor penunjang keberhasilan

dari apotek. Lokasi Apotek Kimia Farma ini telah sesuai dengan Peraturan Menteri

Kesehatan Nomor 9 tahun 2017 tentang apotek, yang menyatakan bahwa apotek

berlokasi pada daerah yang mudah diakses oleh masyarakat. Apotek Kimia Farma

107 PWS ini memiliki waktu operasi dari pukul 08.00 pagi hingga pukul 10.00

malam dan 7 hari dalam seminggu.

Selain itu, apotek ini juga memiliki sarana seperti klinik yang terdiri dari

tempat praktek dokter kandungan, dokter kulit dan dokter THT. Fasilitas lain yang

didapatkan masyarakat yaitu adanya kerja sama dengan beberapa perusahaan

seperti pelayanan resep kredit atau instansi pemerintah, yaitu asuransi Mandiri

Inhealth dan Lonsum. Apotek Kimia Farma ini juga melayani pemeriksaan tekanan

darah sebagai bentuk layanan kepada masyarakat yang berkunjung ke Apotek

tersebut.
Apotek ini juga memiliki beberapa fasilitas yang membuat pelanggan

nyaman untuk berbelanja di apotek ini. Pertama, apotek ini mempunyai lapangan

parkir yang cukup luas sehingga memudahkan untuk pelanggan yang membawa

kendaraan, swalayan farmasi, tempat penerimaan resep dan kasir, ruang

penyimpanan obat, ruang peracikan, dan ruang apoteker. Apotek juga telah

dilengkapi dengan sarana penunjang seperti pendingin udara dan penerangan yang

baik, toilet dan mushola yang dapat digunakan oleh pasien serta dilengkapi dengan

fasilitas Closed Circuit Television (CCTV).

4.2 Sumber Daya Manusia

Apotek Kimia Farma 107 PWS memiliki satu Apoteker Pengelola Apotek,

tiga Tenaga Teknis Kefarmasian (TTK) dan satu kasir, semua bagian bertugas

secara terpadu dan ikut bertanggung jawab terhadap setiap pekerjaan yang ada. Hal

ini sesuai dengan Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No. 73 tahun

2016 tentang Standar Pelayanan Kefarmasian di Apotek, bahwa Pelayanan

Kefarmasian di Apotek diselenggarakan oleh Apoteker, dan Tenaga Teknis

Kefarmasian yang memiliki Surat Tanda Registrasi, Surat Izin Praktik atau Surat

Izin Kerja.

4.3 Perencanaan Pembelian

Kegiatan perencanaan dilakukan untuk mencegah terjadinya kelebihan

perbekalan farmasi yang tersimpan lama serta untuk meningkatkan penggunaan

perbekalan farmasi secara efektif dan efisien. Perencanaan dilakukan dengan

menetapkan jenis dan jumlah barang yang akan dipesan dengan memperhatikan

kebutuhan pada ruang peracikan dan penjualan bebas yang disesuaikan dengan
permintaan masyarakat, menentukan pemasok dengan mempertimbangkan

legalitasnya, kondisi pembelian dan pembayaran yang diberikan, dan juga

kecepatan pengiriman barang. Dalam hal penentuan jumlah pembelian, salah satu

yang juga menjadi pertimbangan adalah adanya kemungkinan naik/ turunnya harga

sediaan farmasi dan perbekalan kesehatan. Barang yang sudah habis atau stok yang

sedikit dapat dilihat pada kotak tempat penyimpanan obat atau kartu stok obat, dan

kemudian dicatat ke dalam buku pemesanan. Jumlah barang yang akan dibeli

disesuaikan dengan sifat barang, fast moving atau slow moving.

4.4 Pengadaan Perbekalan Farmasi

Proses pengadaan sediaan farmasi dan perbekalan kesehatan di Apotek

Kimia Farma 107 PWS dilakukan secara satu pintu yang berpusat di Bisnis Manajer

(BM) yang dikelola oleh tim pengadaan. Pengadaan barang di apotek terbagi dalam

tiga sistem yaitu sistem Min Max, sistem Bon Permintaan Barang Apotek (BPBA) dan

sistem droping.

a. Sistem Min Max

Merupakan suatu sistem yang secara otomatis memesankan kebutuhan barang/

obat di apotek berdasarkan data history (penjualan tiga bulan sebelumnya). Sistem Min

Max terdiri dari :

1. Pareto A: kebutuhan barang/ obat selama 45 hari

2. Pareto B: kebutuhan barang/ obat selama 30 hari

3. Pareto C: kebutuhan barang/ obat selama 21 hari

Prinsip Pareto, yaitu teknik pengendalian perbekalan farmasi berdasarkan

nilai jualnya atau sistem yang memprioritaskan penyedia barang-barang yang

terjual. Barang yang dipesan berdasarkan kebutuhan dan seringnya barang tersebut
dicari konsumen. Pareto A adalah 20 % obat dalam persediaan dan 80 % total

penjualan. Kelompok A merupakan obat yang cepat laku (mayoritas penjualan

apotek) dan dalam beberapa kasus merupakan obat yang mahal. Persediaan di

apotek rendah karena permintaan yang tinggi dan berputar sangat cepat, atau

kelompok obat mahal. Pareto B adalah 30 % obat dalam persediaan dan 20 % total

penjualan. Kelompok B memiliki penjualan rata-rata dan perputaran inventaris

rata-rata. Ketersediaan barang memiliki proporsi yang besar dan proporsi penjualan

lebih kecil. Pareto C adalah 50 % obat dalam persediaan dan 10 % total penjualan.

Kelompok C adalah obat yang paling lambat penjualannya dan produk yang kurang

diminta. Sistem pareto ini dilakukan agar tidak terjadi penumpukan barang,

perputaran modal menjadi cepat, menghindari kerusakan barang, dan memperkecil

kemungkinan barang hilang.

Pemesanan dengan cara ini dilakukan tiap 2 minggu. Setelah pareto didapat

dan hasil olah data pada Min max keluar maka tim pengadaan akan melakukan dan

membuat surat pemesanan (SP) yang sebelum nya telah dilakukan pengecekan

kembali diapotek untuk kesesuaian barang yang akan dipesan, kemudian SP

diberikan ke masing-masing distributor dan obat akan langsung dikirim ke apotek

oleh distributor. Kelebihan sistem Min Max yaitu dapat menentukan standar

minimal display dan dapat menentukan standar maximal display. Jika barang diluar

sistem Min Max seperti penolakan resep atau barang/ obat yang tidak tersedia maka

permintaan barang dilakukan dengan sistem Bon Permintaan Barang Apotek

(BPBA).

b. Sistem BPBA

Sistem BPBA dilakukan berdasarkan pareto (yaitu dokumentasi kebutuhan

barang yang terjual), defekta, daftar obat kosong di apotek dan pola penyakit.
BPBA yang telah selesai dibuat akan dikirim datanya ke BM, kemudian diolah di

BM sampai terbentuk SP yang diserahkan ke distributor dan file SP nya dikirim ke

Apotek. SP dicetak dan ditandatangani oleh APA.

c. Sistem Droping

Apotek Kimia Farma 107 PWS senantiasa berusaha memenuhi kebutuhan

pelanggan sehingga jika obat tidak tersedia maka dilakukan permintaan obat antar

apotek Kimia Farma atau yang dikenal dengan sistem dropping. Apotek meminta

barang ke apotek Kimia Farma yang lainnya hanya sesuai untuk memenuhi

kebutuhan pada saat itu juga, bukan untuk stok. Apotek yang diminta kemudian

akan mendroping barang tersebut, dan barang diambil oleh apotek yang meminta.

Melalui pelayanan ini, pendapatan akan meningkat dan citra apotek Kimia Farma

yang mengutamakan kepuasan pelanggan dapat tercapai. Hal ini tentu sesuai

dengan budaya perusahaan Kimia Farma, salah satunya Customer First yang

mengutamakan pelanggan sebagai mitra kerja.

Khusus untuk pengadaan narkotika dan psikotropika, prosedurnya sama

seperti pengadaan obat tetapi dilakukan pengisian pada blanko SP. Selanjutnya SP

yang telah diisi ditandatangani oleh APA lalu dikirim ke PBF bersangkutan melalui

BM Medan.

Pemesanan obat golongan narkotika menggunakan model N-9 dilakukan ke

Pedagang Besar Farmasi Kimia Farma selaku distributor tunggal dengan membuat

surat pesanan khusus narkotika yang dibuat rangkap lima (putih, merah, kuning,

biru, hijau) yang ditandatangani oleh APA dengan mencantumkan nama, SIPA,

alamat dan stempel apotek. Setiap lembar SP hanya digunakan untuk 1 jenis obat

narkotika.
Pemesanan obat golongan psikotropik, prekusor dan obat-obat tertentu

masing-masing dilakukan dengan surat pemesanan blangko khusus yang ditujukan

ke PBF Kimia Farma atau PBF lain, tiap lembar boleh untuk memesan lebih dari

satu macam obat dan berasal dari distributor yang sama.

4.5 Prosedur Penerimaan Barang

Penerimaan dilakukan oleh Apoteker dan Tenaga Teknis Kefarmasian.

Adapun alur penerimaan barang dari PBF dapat dilihat pada Gambar 4.1.

Faktur

Dicek nama apotek, kualitas dan kesesuaian barang dengan faktur: Ukuran,
kekuatan dan jenis obat, jumlah barang, harga diskon, kondisi barang, Expired
date dan No. Batch

Faktur dicap dan ditandatangani petugas apotek

Faktur asli diserahkan kembali ke PBF karena dibutuhkan ketika proses


penagihan dan salinan faktur sebagai pertinggal di apotek

Petugas mencatat bukti penerimaan barang ke dalam sistem


secara komputerisasi dan manual pada masing-masing kartu
stok
Gambar 4.1 Alur penerimaan barang dari PBF

Jika terdapat ketidaksesuaian, coret hal yang tidak sesuai di faktur dan

tuliskan yang benar di faktur sesuai kondisi barang yang diterima atau lakukan

tindakan sesuai dengan kebijakan dari setiap distributor. Sertakan paraf dan tanggal

penerimaan barang secara jelas kemudian bubuhkan stempel apotek pada faktur.

Faktur asli serahkan ke PBF dan salinan faktur sebagai pertinggal di apotek. Setelah

itu catat bukti penerimaan pada sistem komputerisasi dan manual pada masing-

masing kartu stok.


Permasalahan dari pengadaan perbekalan farmasi masih terjadi yang dapat

dilihat dari Apotek Kimia Farma 107 PWS Medan mengalami ketidaklengkapan

perbekalan farmasi, baik obat yang diresepkan dokter maupun untuk Usaha

Pengobatan diri sendiri (swamedikasi), oleh karena itu masalah ini harus diatasi

dengan cara antara lain:

a. Penanggung jawab rak masing-masing sebaiknya melaksanakan tugasnya

dengan baik yaitu melakukan pemeriksaan dan pencatatan setiap hari barang-

barang pada rak yang menjadi tanggung jawabnya, sehingga tidak akan terjadi

kekosongan barang.

b. Sebaiknya ditentukan buffer stock terutama untuk barang-barang yang fast

moving. Hal ini dapat berguna sebagai alarm bagi TTK untuk menuliskan ke

buku defekta.

4.6 Sistem Penyimpanan dan pengeluaran barang

Sistem penyimpanan barang di Apotek Kimia Farma 107 PWS Medan

Dikelompokkkan berdasarkan bentuk sediaan (tablet, sirup, salep, tetes mata, tetes

telinga, suppositoria), farmakologi, obat generik dan produk kimia farma, obat

merek dagang, dan lain-lain yang disusun secara alfabetis berdasarkan

pengelompokan, diberi warna latar pada kotak agar lebih rapi, memudahkan

pengenalan dan pengambilan obat seperti :

1. Perbekalan farmasi dalam bentuk sediaan cair golongan keras antibiotik dan non

antibiotik. Sediaan cair antibiotik disimpan di rak terpisah dengan sediaan cair

non antibiotik, untuk sediaan drop diberi latar kotak warna kuning.

2. Perbekalan farmasi dalam bentuk sediaan solid seperti tablet, kaplet, dan kapsul

disusun secara alfabetis pada rak bagian dalam yang diberi warna pada latar
kotak.berdasarkan golongan obat generik berlogo dan produk kimia farma

warna orange, golongan obat merek dagang warna pink, dan golongan obat

multivitamin yang diresepkan dokter warna ungu.

3. Golongan obat narkotika dan Psikotropika disusun di lemari khusus yang

dilengkapi dengan kunci.

4. Obat salep kulit, tetes mata, tetes hidung, dan tetes telinga diletakkan di rak

terpisah dengan latar kotak warna biru dan hijau.

5. Golongan obat-obat termolabil disimpan dalam lemari pendingin (2-8oC) latar

kotak warna kuning.

6. Golongan obat-obat bebas dan alat kesehatan disimpan pada swalayan farmasi,

ditata dan disusun secara alfabetis dan diberi penandaan sesuai dengan efek

farmakologinya.

7. Bahan baku disimpan di rak yang terpisah dengan obat-obat lain dalam wadah

tertutup rapat dan diberi etiket atau label yang jelas.

8. Suplemen dan multivitamin lain disusun pada rak bagian depan secara terpisah.

9. Kosmetik, makanan ringan dan permen disusun di swalayan farmasi pada rak

bagian depan.

10. Minuman ringan disusun pada kulkas dan swalayan farmasi pada rak terpisah.

11. Sediaan infus dan alat kesehatan disusun di rak terpisah.

12. Obat-obat dengan jumlah yang lebih besar yang tidak muat dalam lemari

penyimpanan, sebagian disimpan dalam rak di ruang penyimpanan.

Obat dengan suhu penyimpanan khusus, seperti sediaan suppositoria dan

ovula, disimpan di lemari pendingin. Hal yang harus diperhatikan adalah lemari

pendingin yang diperuntukan untuk obat belum memenuhi standar karena tidak

didukung dengan alat pengukur suhu dan penyusunan obat yang bertumpuk
didalam lemari pendingin. Serta kecilnya kapasitas untuk penyimpanan obat pada

ruang penyimpanan obat yang mengakibatkan obat letaknya bertumpuk dan

terpisah-pisah sehingga letak obat tidak beraturan dan menyulitkan dalam

pencarian stok obat.

Pengeluaran obat dilakukan dengan sistem FIFO (First In First Out) dan

FEFO (First Expire First Out). Sama seperti sediaan farmasi, perbekalan kesehatan

juga disimpan di etalase atau lemari pajangan apotek.

Setiap 3 bulan sekali dilakukan stok opname, untuk menyesuaikan jumlah

fisik barang dengan stok yang ada di komputer. Obat narkotika dan psikotropika

dilakukan satu bulan sekali oleh petugas penanggung jawab saat dibuat laporan

penggunaan obat setiap bulan jika hasilnya tidak sesuai maka akan diperiksa

kembali dimana letak ketidaksamaannya, kemudiaan dilaporkan online melalui

Sistem Informasi Pelaporan Narkotika dan Psikotropika (SIPNAP).

4.7 Pelayanan

Apotek Kimia Farma 107 PWS Medan telah memberikan pelayanan yang

cukup baik dan memuaskan kepada konsumen. Adanya apoteker di apotek dapat

meningkatnya kesadaran masyarakat akan kesehatan saat diberikan informasi dan

kesadaran akan pentingnya fungsi seorang apoteker dan keberadaannya dalam

meningkatkan kesehatan masyarakat.

Kegiatan pelayanan yang dilakukan di Apotek Kimia Farma

adalahmelakukan pelayanan resep dokter secara tunai maupun kredit, penjualan

obat bebas dan bebas terbatas/OTC(Over the Counter) dan perbekalan farmasi

lainnya yang dikenal sebagai pelayanan HV (Hand Verkoop), serta penjualan obat

OWA (Obat Wajib Apotek)yang dikenal sebagai pelayanan swamedikasi/UPDS


(Upaya Pengobatan Diri Sendiri). Untuk layanan kredit, dapat juga berupa

pelayanan engross (penjualan dalam partai besar). Pelayanan resep kredit berasal

dari instalasi atau perusahaan yang menjalin kerjasama dengan Apotek Kimia

Farma 107 PWS dan untuk proses pembayarannya berdasarkan perjanjian yang

disepakati oleh kedua belah pihak.

Pada pelayanan obat OTC dan swamedikasi, petugas dari Apotek akan

memberikan rekomendasi obat untuk pasien. Rekomendasi ini didasarkan dari

informasi yang diterima dari pasien.Informasi dari pasien tersebut harus menjawab

konsep WWHAM (Who, What, How, Action, Medicine) agar petugas Apotek

mampu memberikan rekomendasi obat. Hal ini perlu dilakukan agar obat yang

direkomendasikan ke pasien sudah tepat pasien, tepat obat, tepat indikasi, tepat cara

pakai dan tepat dosis. Dengan demikian, diharapkan agar dalam perekomendasian

obat ini terhindar dari medication error.

Dalam pelayanan swamedikasi, apotek menjual obat-obat yang telah

diizinkanoleh pemerintah untuk digunakan pasien tanpa resep dokter, yaitu obat

yang telahmasuk dalam DOWA (Daftar Obat Wajib Apotek). Dalam proses

pelayanan,petugas akan menanyakan pasien mengenai tujuan penggunaan obat

yang akan dibeli dan apakah pasien telah sering menggunakan obat tersebut.

Apabila pasienbelum pernah mendapatkan obat sebelumnya, dan obat tersebut tidak

terdapat didaftar OWA, pasien akan direkomendasikan untuk memeriksakan diri ke

dokter terlebih dahulu.Hal ini dilakukan dengan baik di Apotek Kimia Farma 107

PWS karena, petugas dilatih untuk mengutamakan pengobatan yang optimal

kepada pasien.

Pengelolaan resep di Apotek Kimia Farma 107 PWS dilakukan dengan

mengumpulkan resep asli berdasarkan tanggal yang sama dan diurutkan sesuai
nomor resep kecuali resep dengan pembayaran kredit. Resep dikumpulkan sesuai

dengan kelompoknya. Kumpulan resep ditulis keterangan kelompok resep (umum atau

narkotika & psikotropika), tanggal, bulan, dan tahun yang mudah dibaca dan disimpan

ditempat yang telah ditentukan.

Keaslian obat yang diserahkan kepada pasien juga dijamin oleh apotek ini dan

senantiasa berusaha memenuhi kebutuhan pelanggan sehingga jika obat tidak tersedia

maka dilakukan permintaan obat antar Apotek Kimia Farma. Kelebihan pelayanan

tersebut pendapatan akan meningkat dan citra apotek Kimia Farma yang mengutamakan

kepuasan pelanggan akan tercapai.

Aspek keramahan sangat terlihat jelas karena para TTK sudah terlatih dalam

memberi sambutan ketika pasien datang dan pulang ketika membeli obat. Hal ini

sering terlihat disaat ramainya konsumen, senyuman dan sapaan yang santun dalam

menyambut pasien sering terlupakan padahal keramahan TTK merupakan salah

satu upaya untuk meningkatkan kualitas pelayanan.

Penataan swalayan farmasi sudah sangat baik dan tertata rapi dan letaknya

berada di depan pintu masuk dapat memudahkan konsumen untuk membeli secara

langsung. Swalayan farmasi di Apotek Kimia Farma 107 PWS sudah cukup

lengkap dengan penataan obat dan barang diletakkan berdasarkan jenisnya seperti

baby care, topical, paper product, milk and nutrition, oral care, hair care, skin

care, medicine, dan vitamin. Dengan adanya swalayan farmasi diharapkan dapat

menaikkan omset dari apotek. Akan tetapi, beberapa kali pelanggan merasa

kesulitan dalam memperoleh informasi terkait harga barang swalayan karena

produk yang tidak mencantumkan harga. Akibatnya, pasien harus mengecek harga

di kasir terlebih dahulu. Hal ini akan sangat merepotkan pelanggan jika Apotek

sedang dalam keadaan ramai dan dia harus mengantri terlebih dahulu sebelum dapat
melakukan pengecekan harga. Oleh karena itu, perlu adanya penambahan label

harga di masing masing kotak barang atau obat yang dipajang di swalayan.

4.8 Pengendalian Persediaan

Persediaan merupakan investasi yang paling besar dalam sebuah apotek,

sehingga pengendalian persediaan obat yang tepat sangat diperlukan, pengendalian

yang efektif berakibat pada investasi yang lebih kecil. Pengendalian persediaan

obat penting dilakukan untuk mempunyai stok yang benar agar dapat melayani

pasien dengan baik. Untuk memudahkan pengendalian persediaan barang,

digunakan sistem komputerisasi dimana setiap barang yang masuk di-entry ke

komputer dan setiap barang yang keluar (terjual) juga tercatat di komputer. Masing-

masing karyawan diberi tanggung jawab untuk memeriksa atau mengawasi rak-rak

barang yang ditentukan tersebut yaitu dengan cara menggunakan kartu stok dan

melakukan stock opname untuk mengetahui nilai dari barang setiap 3 bulan.

Pemantauan tanggal kadaluarsa obat dilakukan sekaligus pada saat stock

opname dilakukan, obat yang mempuyai tanggal kadaluarsa 1 bulan lagi dicatat dan

diberi penandaan supaya dijual terlebih dahulu. Bila obat tersebut tidak laku hingga

tanggal kadaluarsa, maka obat tersebut diambil dari rak penyimpanan dan

dipisahkan, untuk kemudian disesuaikan dengan faktur pembeliannya dan

dikembalikan ke PBF (Pedagang Besar Farmasi). Pengembalian ke PBF harus

memenuhi syarat-syarat yang telah ditetapakan dari masing-masing principle, baik

berupa jadwal pengembalian, jumlah, dan kondisi barang yang dikembalikan.

Selain itu, Apotek Kimia Farma 107 PWS juga menetapkan sistem

pengecekan stok barang di komputer apotek dengan yang ada di apotek. Sistem ini

bertujuan untuk mengetahui stok obat. Jumlah obat yang tersedia di cocokkan
dengan persediaan obat di komputer, dan jika ada obat yang mulai habis stok nya,

bisa langsung diketahui dan dilakukan pemesanan. Penerapan kebijakan sistem di

Apotek Kimia Farma 107 PWS yaitu setiap satu orang pegawai diwajibkan

melakukan pencatatan barang yang habis.

4.9 Aspek Bisnis Apotek Kimia Farma 107 PWS

Sebagai sebuah Perusahaan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) dan

merujuk pada Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 3 Tahun 1969 tertanggal 21

Oktober 1969 tentang pendirian Perusahaan Negara Farmasi (PNF) dan Alat

Kesehatan, modal Perusahaan PT. Kimia Farma (Persero) Tbk., secara umum

adalah kekayaan negara yang dipisahkan sebesar yang diterima oleh badan hukum

ini. Meskipun saat ini, sebagai perusahan terbuka, PT. Kimia Farma (Persero) Tbk.,

juga dimodali oleh sebagian pemilik saham. Semua modal Apotek Kimia Farma

107 PWS baik modal aktif maupun pasif berasal dari Perusahaan Induk.

Sebagaimana kegiatan administratif, manajemen keuangan Apotek juga dikelola

secara sentralisasi oleh Bisnis Manajer (BM) Medan. Adapun setiap harinya

masing-masing Apotek Pembantu Pelayanan (APP) diwajibkan menyerahkan

setoran kas hasil penjualan via transfer, langsung ke rekening bank milik

perusahaan. Laporan Keuangan dan Akuntansi perpajakan juga dikerjakan oleh

bagian Bisnis Manajer (BM) Medan, Deli Serdang dan Sumatera Utara karena juga

merupakan bagian dari kegiatan administratif. Hal ini semakin mempertegas posisi

Apotek Kimia Farma 107 PWS sebagai Apotek Pembantu Pelayanan (APP) yang

yang perannya memang ditujukan sebatas untuk melayani pasien dalam memenuhi

kebutuhannya akan sediaan farmasi dan perbekalan kesehatan.


BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan

a. Kegiatan pelayanan kefarmasian di Apotek Kimia Farma 107 PWS Medan

meliputi pelayanan resep kredit, pelayanan resep tunai, pelayanan

swamedikasi, pelayanan swalayan obat, pelayanan alat kesehatan serta

manajemen perbekelan farmasi dan perbekalan alat kesehatan.

b. Peran dan fungsi apoteker, terutama dalam aspek professional telah

berjalan dengan baik, namun kegiatan pharmacy home care belum dapat

dilaksanakan.

c. Peran dan fungsi apoteker dalam aspek manajerial telah berjalan dengan

baik.
5.2 Saran

a. Perlu lebih memperhatikan tata letak penyimpanan obat-obat LASA (Look

A like Sound A Like) untuk menghindari kesalahan pengambilan obat serta

adanya pengaturan rak tempat penyimpanan obat yang lebih baik.

b. Pembinaan dan pelatihan seluruh asisten apoteker apotek sebaiknya

dilakukan secara berkesinambungan, agar pengetahuan dan keterampilan

dapat ditingkatkan sesuai dengan tuntutan konsumen akan pelayanan yang

baik, tepat dan efisien.

c. Sebaiknya kegiatan pharmacy homecare dapat diaktifkan, sehingga dapat

memantau pengobatan pasien.

DAFTAR PUSTAKA

Anief, M. (1995). Ilmu Meracik Obat. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.

Anief, M. (2008). Manajemen Farmasi. Yogyakarta: Universitas Gajah Mada


Press.

Bogadenta, A. (2012). Manajemen Pengelolaan Apotek. Yogyakarta: D-Medika.

Depkes RI. (2007). Pedoman Penggunaan Obat Bebas dan Bebas Terbatas. Jakarta:
Departemen Kesehatan Republik Indonesia. Halaman 3-13.

Depkes RI. (2009). Undang-Undang Nomor 35 tahun 2009 tentang Narkotika.


Jakarta: Departemen Kesehatan Republik Indonesia.

Depkes RI. (2009). Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 51 Tahun


2009 Tentang Pekerjaan Kefarmasian. Departemen Kesehatan Republik
Indonesia.

Depkes RI. (1997). Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1997 Tentang Psikotropika.


Jakarta:Depatemen Kesehatan Republik Indonesia.

Hartono, J. (1998). Analisis dan Desain Sistem Informasi : Pendekatan Terstruktur


Teori dan Praktek Aplikasi Bisnis. Yogyakarta: Andi Offset.
Kristina, S.A. (2014). Mengenal Lebih Dekat Peran Apoteker. Tribun Jogja.

Kimia Farma. (2018). [Diakses tanggal: 1 Agustus 2018]. Diambil dari:


http://corporate.kimiafarmaapotek.co.id/

Mashuda, A. (2011). Pedoman Cara Pelayanan Kefarmasian yang Baik (CPFB).


Jakarta: Kementerian Kesehatan RI.

Menteri Kesehatan Republik Indonesia. (2002). Peraturan Menteri Kesehatan


Republik Indonesia No.1332/MENKES/SK/X/2002 tentang Ketentuan dan
Tata Cara Pemberian Izin Apotek. Jakarta: Departemen Kesehatan.

Menteri Kesehatan Republik Indonesia, (2009). Undang-Undang No.36 tahun 2009


tentang Kesehatan. Lembaran Negara RI Tahun 2009, No. 114. Sekretariat
Negara. Jakarta: Republik Indonesia.

Menteri Kesehatan Republik Indonesia. (2011). Peraturan Menteri Kesehatan


Republik Indonesia Nomor 889/Menkes/Per/V/2011 tentang Registrasi, Izin
Praktek, dan Izin Kerja Tenaga Kefarmasian STRA. Jakarta: Departemen
Kesehatan.

Menteri Kesehatan Republik Indonesia. (2011). Peraturan Menteri Kesehatan


Republik Indonesia No.889/Menkes/Per/V/2011 bahwa untuk memperoleh
STRA Apoteker. Jakarta: Departemen Kesehatan.

Menteri Kesehatan Republik Indonesia. (2016). Peraturan Menteri Kesehatan


Republik Indonesia Nomor 31 tahun 2016. Jakarta: Departemen Kesehatan.

Menteri Kesehatan Republik Indonesia. (2016). Peraturan Menteri Kesehatan


Republik Indonesia No. 73 Tahun 2016 tentang Standar Pelayanan
Kefarmasian di Apotek. Jakarta: Kementerian Kesehatan Republik
Indonesia.

Menteri Kesehatan Republik Indonesia. (2017). Peraturan Menteri Kesehatan


Republik Indonesia No. 9 Tahun 2017 tentang Apotek. Jakarta: Kementerian
Kesehatan Republik Indonesia.

Menteri Kesehatan Republik Indonesia. (2017). Peraturan Menteri Kesehatan


Republik Indonesia No. 3 Tahun 2017 tentangPerubahan Penggolongan
Psikotropika. Jakarta: Kementerian Kesehatan Republik Indonesia.

Menteri Kesehatan Republik Indonesia. (2018). Peraturan Menteri Kesehatan


Republik Indonesia No. 26 Tahun 2018 tentang Pelayanan Perizinan
Berusaha Terintegrasi Secara Elektronik Sektor Kesehatan. Jakarta:
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia.
Menteri Kesehatan Republik Indonesia. (2018). Peraturan Menteri Kesehatan
Republik Indonesia No. 7 Tahun 2018 tentang Perubahan Penggolongan
Narkotika. Jakarta: Kementerian Kesehatan Republik Indonesia.

Seto, S., Yunita dan Lily, T. (2004). Manajemen Farmasi. Cetakan I. Surabaya:
Airlangga University Press. Hal. 117-129, 295-296.

Sam, A. T dan Parasuraman S. (2015). The Nine-Star Pharmacist: An Overview.


Journal of Young Pharmacist (7):4. AIMST University Malaysia.

Satibi, Rokhman M. R., dan Aditama, H. (2016). Manajemen Apotek. Yogyakarta:


Gajah Mada University Press.

Umar, M. (2011). Manajemen Apotek Praktis. Cetakan ke-4. Jakarta: Wira Putra
Kencana. Hal. 1, 117-119, 179-182, 229.
Lampiran 1. Formulir surat pesanan narkotika

Rayon : Model N.9


No. S.P. : Lembar ke 1/2/3/4/5

SURAT PESANAN NARKOTIKA

Yang bertanda tangan di bawah ini:


Nama : ...............................................................................
Jabatan : ................................................................................
Alamat Rumah : ................................................................................
Mengajukan pesanan Narkotika kepada:
Nama Distributor : ................................................................................
Alamat & No. Telp : ................................................................................
................................................................................
Sebagai berikut : ................................................................................
Narkotika tersebut akan dipergunakan untuk keperluanApotek..............................

Medan, ...............20...

( ................................)
No. SIPA
Lampiran 2. Formulir surat pesanan psikotropika

SURAT PESANAN PSIKOTROPIKA


Nomor:

Yang bertanda tangan di bawah ini:


Nama :...............................................................................
Alamat :...............................................................................
Jabatan :...............................................................................
Mengajukan permohonan kepada:
Nama Distributor :...............................................................................
Alamat :...............................................................................
Telp :...............................................................................

Dengan psikotropika yang dipesan adalah:

Nama Jumlah (angka dan


No. Satuan Kekuatan/Potensi
Obat huruf)

1.

2.

3.

Psikotropika tersebut akan digunakan untuk:

Nama sarana :
(Industri farmasi/ PBF/ Apotek/ Puskesmas / Instalasi Farmasi Rumah Sakit/
Instalasi Farmasi Klinis/ Instalasi Pemerintah/ Lembaga Ilmu Pengetahuan)*

Alamat :
Medan, ……………20....

(………………………….)
No. SIPA

*(coret yang tidak perlu)


Lampiran 3. Formulir surat pesanan prekursor farmasi

SURAT PESANAN PREKURSOR FARMASI


Nomor:

Yang bertanda tangan di bawah ini:


Nama :...........................................................................................
Jabatan :...........................................................................................
Mengajukan pesanan Prekursor Farmasi kepada :
Nama Distributor :...........................................................................................
Alamat : ...........................................................................................
No. Telp :...........................................................................................

Jenis Prekursor Farmasi yang dipesan adalah:


No. Nama obat Bentuk Dosis Isi Jumlah
1.
2.
3.
4.
5.

Prekursor Farmasi tersebut akan dipergunakan untuk keperluan:


Nama Sarana :...........................................................................................
Alamat Sarana :...........................................................................................
No. SIA :...........................................................................................

Medan,.......................,20....
Pemesan

(..........................................)
No. SIPA

Lampiran 4. Surat pemesanan barang


Lampiran 5. Surat dropping barang dari gudang ke apotek
PT Kimia Farma Apotek
Kimia Farma Apotek BM Medan
Jalan Palang Merah No. 32
Medan

Dropping ke: Apotek Kimia Farma No. ….. (APP) Medan


Tahun Dropping : ……..…. Tahun BPBA : ………...
Nomor Dropping : ……….…... Nomor BPBA: ……………..
Tanggal Dropping : ………………………..
OTC
Nama Qty Harga Harga Discount Discount
No Bonus Kemasan Total As/ko
Obat Drop Satuan Utuh 1 2
1.
2.
3.
Dst.

Non OTC
Nama Qty Harga Harga Discount Discount
No Bonus Kemasan Total As/ko
Obat Drop Satuan Utuh 1 2
1.
2.
3.
Dst.
P3. Penerima P3. Penerima P3. Pelayanan Jumlah
Gudang Barang
Lampiran 6. Laporan penggunaan sediaan jadi narkotika dan contoh rekapitulasi
narkotika
Lampiran 7. Laporan penggunaan sediaan jadi psikotropika dan contoh
rekapitulasi laporan psikotropik
Lampiran 8. Formulir berita acara pemusnahan obat kadaluarsa/rusak
Lampiran 8. Berita acara pemusnahan obat(lanjutan)

Daftar obat yang dimusnahkan


No. Urut Nama Obat Jumlah Alasan pemusnahan
1.
2.
3.
4.

Nama Kota, Tgl, Bln, Tahun

(Nama Apoteker/Pimpinan)
No. SIPA

Saksi-saksi:

1. (.....................)
NIP

2. (.....................)
NIP.
Lampiran 9. Berita acara pemusnahan resep
Lampiran 10. Blanko salinan resep
Lampiran 11. Etiket obat
Lampiran 12. Faktur Pembelian
LAPORAN KIE
(KOMUNIKASI, INFORMASI DAN EDUKASI)
RESEP DAN SWAMEDIKASI

di

APOTEK KIMIA FARMA 107 PWS


MEDAN

Disusun Oleh:
Lestiani Lubis, S.Farm.
NIM 173202243

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN PROFESI APOTEKER


FAKULTAS FARMASI
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN
2018
DAFTAR ISI

Halaman

JUDUL ...................................................................................................... i

DAFTAR ISI ............................................................................................. ii

BAB I PELAYANAN RESEP.................................................................. 1

1.1 Resep I ........................................................................................ 1

1.1.1 Salinan Resep ..................................................................... 2

1.1.2 Tahap-tahap Compounding dan Dispensing ...................... 3

1.1.3 Kasus ................................................................................. 7

1.1.4 Keterangan Obat pada Resep I .......................................... 8

1.2 Resep II ....................................................................................... 9

1.2.1 Salinan Resep ..................................................................... 10

1.2.2 Tahap-tahap Compounding dan Dispensing ...................... 11

1.2.3 Kasus ................................................................................. 16

1.2.4 Keterangan Obat pada Resep II ........................................ 18

1.3 Resep III ...... ............................................................................... 18

1.3.1 Salinan Resep ..................................................................... 19

1.3.2 Tahap-tahap Compounding dan Dispensing ...................... 19

1.3.3 Kasus ................................................................................. 24

1.3.4 Keterangan Obat pada Resep III ....................................... 24

1.4 Resep IV ....... ............................................................................... 25

1.4.1 Salinan Resep ..................................................................... 26

1.4.2 Tahap-tahap Compounding dan Dispensing ...................... 27

1.4.3 Kasus ................................................................................. 35

1.4.4 Keterangan Obat pada Resep IV ........................................ 36


1.5 Resep V ....... ............................................................................... 37

1.5.1 Salinan Resep ..................................................................... 38

1.5.2 Tahap-tahap Compounding dan Dispensing ...................... 39

1.5.3 Kasus ................................................................................. 43

1.5.4 Keterangan Obat pada Resep V ......................................... 43

BAB II. PELAYANAN SWAMEDIKASI ............................................... 41

2.1 Swamedikasi I ............................................................................. 44

2.1.1 Keluhan .............................................................................. 44

2.1.2 Spesialite Obat .................................................................. 44

2.1.3 Informasi Obat ................................................................... 44

2.2 Swamedikasi II ........................................................................... 45

1. Keluhan ................................................................................ 45

2. Spesialite Obat ..................................................................... 45

3. Informasi Obat ..................................................................... 45

2.3 Swamedikasi III .......................................................................... 46

1. Keluhan ................................................................................ 46

2. Spesialite Obat ..................................................................... 46

3. Informasi Obat ..................................................................... 44

2.4 Swamedikasi IV .......................................................................... 46

2.4.1 Keluhan .............................................................................. 46

2.4.2 Spesialite Obat ................................................................... 46

2.4.3 Informasi Obat ................................................................... 46

2.5 Swamedikasi V ........................................................................... 48

2.5.1 Keluhan ............................................................................. 48

2.5.2 Spesialite Obat ................................................................... 48


2.5.3 Informasi Obat ................................................................... 48

2.6 Swamedikasi VI .......................................................................... 49

2.6.1 Keluhan .............................................................................. 49

2.6.2 Spesialite Obat ................................................................... 49

2.6.3 Informasi Obat ................................................................... 49

2.7 Swamedikasi VII......................................................................... 50

2.7.1 Keluhan .............................................................................. 50

2.7.2 Spesialite Obat ................................................................... 50

2.7.3 Informasi Obat ................................................................... 50

2.8 Swamdikasi VIII ......................................................................... 51

2.8.1 Keluhan .............................................................................. 51

2.8.2 Spesialite Obat ................................................................... 51

2.8.3 Informasi Obat ................................................................... 51

2.9 Swamedikasi IX .......................................................................... 52

2.9.1 Keluhan .............................................................................. 52

2.9.2 Spesialite Obat .................................................................. 52

2.9.3 Informasi Obat .................................................................. 52

2.10 Swamedikasi X .......................................................................... 53

2.10.1 Keluhan ........................................................................... 53

2.10.2 Spesialite Obat ................................................................. 53

2.10.3 Informasi Obat ................................................................. 53

DAFTAR PUSTAKA ............................................................................... 55

DAFTAR TABEL

Tabel Halaman
1 Pemeriksaan Identitas Pasien dan Obat Resep I ...................... 5

2 Spesialite Obat pada Resep I .................................................... 8

3 Pemeriksaan Identitas Pasien dan Obat Resep II .................... 13

4 Spesialite Obat pada Resep II .................................................. 16

5 Pemeriksaan Identitas Pasien dan Obat Resep III ................... 22

6 Spesialite Obat pada Resep III ................................................. 24

7 Pemeriksaan Identitas Pasien dan Obat Resep IV ................... 32

8 Spesialite Obat pada Resep IV ................................................. 36

9 Pemeriksaan Identitas Pasien dan Obat Resep V ..................... 41

10 Spesialite Obat pada Resep V .................................................. 43

11 Spesialite Obat pada Swamedikasi I ........................................ 44

12 Spesialite Obat pada Swamedikasi II ....................................... 45

13 Spesialite Obat pada Swamedikasi III ..................................... 46

14 Spesialite Obat pada Swamedikasi IV ..................................... 47

15 Spesialite Obat pada Swamedikasi V ....................................... 48

16 Spesialite Obat pada Swamedikasi VI ..................................... 49

17 Spesialite Obat pada Swamedikasi VII .................................... 50

18 Spesialite Obat pada Swamedikasi VIII .................................. 51

19 Spesialite Obat pada Swamedikasi IX ..................................... 52

20 Spesialite Obat pada Swamedikasi X ...................................... 53


BAB I

PELAYANAN RESEP

1.1 Resep 1

Gambar 1. Resep 1
1.1.1 Salinan Resep

Gambar 2. Salinan Resep 1


1.1.2 Tahap – tahap compounding dan dispensing

1. Menerima dan memvalidasi resep

a. Nama, SIP, dan alamat dokter : SIP dokter tidak ada

b. Tanggal penulisan resep : Ada

c. Tanda tangan/paraf dokter : Ada

d. Nama, alamat, umur, berat badan pasien : Tidak ada alamat, umur
dan berat badan

e. Nama obat, potensi, dosis, jumlah yang diminta : Tidak ada potensi dan

dosis

f. Cara pemakaian : Ada

g. Informasi lainnya : Tidak ada

2. Memahami dan menginterpretasi resep

a. Arti dari singkatan resep

R/ (Recipe) : Ambillah

S 1 dd tab 1 pc : Tandailah 1 kali sehari 1 tablet


(Signa uno de die tablet I post coenam) sesudah makan

S 3 dd tab 1 : Tandailah 3 kali sehari 1 tablet


(Signa tri de die tablet I post sesudah makan
coenam mane)

b. Perhitungan

1. Arcalion® 200 mg (PT. Servier)

Dosis lazim : 200 – 600 mg perhari

Dosis dalam resep : 1 x sehari 1 tablet


Jumlah obat yang diambil : 6 tablet

2. Bio ATP® tablet (Phapros)

Dosis lazim : 2-4 x sehari 1 tablet

Dosis dalam resep : 3 x sehari 1 tablet

Jumlah yang diambil : 10 tablet

3. Merislon® 6 mg (Phapros)

Dosis lazim : 1 -2 tablet 3 x sehari

Dosis dalam resep : 2 x sehari 1 tablet

Jumlah obat yang diambil : 10 tablet

c. Interaksi obat : Tidak ada interaksi obat

3. Penyiapan dan pemberian label

a. Arcalion® 200 mg tablet diberi etiket putih

Apotek Kimia Farma No. 107


Jl. Gatot Subroto 72 C Medan Telp. (061) 4147927 Medan

No : 01 Tanggal : 16/07/2018
Nama Pasien : Benar Surbakti
Tablet
1 X sehari 1 Caps
Bungkus
SEBELUM/ SESUDAH MAKAN

b. Bio ATP® tablet diberi etiket putih

Apotek Kimia Farma No. 107


Jl. Gatot Subroto 72 C Medan Telp. (061) 4147927 Medan

No : 01 Tanggal : 16/07/2018
Nama Pasien : Benar Surbakti
Tablet
3 X sehari 1 Caps
Bungkus
SEBELUM/ SESUDAH MAKAN
c. Merislon® 6 mg diberi etiket putih

Apotek Kimia Farma No. 107


Jl. Gatot Subroto 72 C Medan Telp. (061) 4147927 Medan

No : 01 Tanggal : 16/07/2018
Nama Pasien : Benar Surbakti
Tablet
3 X sehari 1 Caps
Bungkus
SEBELUM/ SESUDAH MAKAN

4. Melakukan pemeriksaan akhir

Tabel 1. Pemeriksaan identitas pasien dan obat berdasarkan resep 1


Tidak
Parameter Sesuai
Sesuai
1. Identitas Pasien
a. Nama pasien : Benar surbakti 
b. Umur pasien : - 
2. Identitas Obat
a. Arcalion® 200 mg
- Bentuk sediaan : Tablet 
- Cara pemakaian : 1 kali sehari 1 tablet sesudah 
makan pagi
- Jumlah obat : 6 tablet 
b. Bio- ATP® tablet
- Bentuk sediaan : tablet
- Cara pemakaian : 3 kali sehari 1 tablet sesudah 
makan pagi 
- Jumlah obat : 10 tabl
- et 
c. Merislon® 6 mg tablet
- Bentuk sediaan : tablet 
- Cara pemakaian : 3 kali sehari 1 tablet sesudah 
makan
- Jumlah obat : 10 tablet 

5. Melakukan pencatatan data


Data dicatat dalam buku catatan pengobatan pasien seperti berikut ini:

Tanggal Resep : 16-07-2018

Nama pasien : Benar Surbakti

Umur/BB pasien : 70 tahun

Nama obat : Arcalion® 200 mg tablet


Bio- ATP® tablet
Merislon® 6 mg tablet

Jumlah Obat : Bio- ATP® 6 tablet


Arcalion® 200 mg 10 tablet
Merislon® 6 mg 10 tablet

6. Pelayanan informasi

Informasi yang disampaikan adalah:

- Three Prime Questions:

1. Penjelasan dokter tentang obat anda : ada

2. Penjelasan dokter tentang cara pakai obat anda : ada

3. Penjelasan dokter tentang harapan setelah penggunaan obat : tidak

ada

Informasi obat yang disampaikan adalah:

1. Arcalion® 200 mg tablet (PT. Servier)

Bentuk sediaan : Tablet

Khasiat : Perawatan kelelahan kronis dan memperbaiki kinerja

otak

Cara pemakaian : Diminum 1 x sehari 1 tablet sesudah makan pagi

Hal yang perlu di informasikan:

Obat diminum setelah makan pada pagi hari

Obat disimpan di tempat sejuk (15-250C) dan kering, terlindung dari cahaya

serta jauhkan dari jangkauan anak-anak.


2. Bio- ATP® tablet (Phapros)

Khasiat : sebagai pengobatan gangguan metabolisme otot jantung

dan kelelahan fisik

Bentuk sediaan : tablet

Cara pemakaian : digunakan 3 x sehari 1 tablet setelah makan

Hal yang perlu di informasikan:

Diminum setelah makan, sediaan disimpan di tempat sejuk (15-250 C) dan

kering, terlindung dari cahaya serta jauhkan dari jangkauan anak-anak.

3. Merislon® 6 mg (Phapros)

Khasiat : Mengatasi vertigo, pusing dan gangguan keseimbangan

Bentuk sediaan : tablet

Cara pemakaian : digunakan 3 x sehari 1 tablet setelah makan

Hal yang perlu di informasikan:

Diminum setelah makan bila sakit kepala, sediaan disimpan di tempat sejuk

(15-250 C) dan kering, terlindung dari cahaya serta jauhkan dari jangkauan

anak-anak.

1.1.3 Kasus

Berdasarkan komposisi obat yang ada pada resep, dapat disimpulkan pasien

mengalami gangguan keseimbangan serta kelelahan kronis. Merislon® 6 mg tablet

yang berguna untuk mengobati vertigo dan gangguan keseimbangan. Suplemen

yang diberikan adalah Bio-ATP® tablet yang mengandung adenosin tripospat

(ATP) dan vitamin B1, B6, dan B12 serta vitamin E yang digunakan untuk

mengatasi kelelahan dan gangguan metabolisme otot jantung, Arcalion ® 200 mg


tablet yang mengandung Sulbutiamin merupakan turunan Vitamin B6 yang

berperan sebagai perawatan dalam kondisi kelelahan dan memperbaiki kinerja otak.

1.1.4 Keterangan obat pada resep 1

Tabel 2. Spesialite Obat pada Resep I


Generik/
Nama Obat Produk lain Gol. Khasiat
Komposisi

Arcalion® 200 mg Sulbutiamin Enerilon® K Perawatan


tablet (PT. Servier) 200 mg kelelahan
(turunan Arcatamin kronis dan
sintesis ® memperbaiki
vitamin B1) kinerja otak

Bio-ATP® tablet Adenosin ProATP® K Pengobatan


(Phapros) tripospat gangguan
(ATP) 20 mg, ViTAP® metabolism
vitamin B1 otot jantung
100 mg, dan kelelahan
vitamin B6 fisik
200 mg,
vitamin B12
200 mg,
Vitamin E 30
mg

Merislon® 6 mg Betahistin Histigo® K Mengobati


(Phapros) mesilat 6 mg vertigo dan
Versilon® gangguan
keseimbangan
1.2 Resep 2

Gambar 3. Resep 2
1.2.1 Salinan Resep

Gambar 4. Salinan resep 2


1.2.2 Tahap-tahap Compounding dan Dispensing

1. Menerima dan memvalidasi resep

a. Nama, SIP, dan alamat dokter : SIP tidak ada

b. Tanggal penulisan resep : Ada

c. Tanda tangan/paraf dokter : Ada

d. Nama, alamat, umur, berat badan pasien : Tidak ada alamat,


dan berat badan

e. Nama obat, potensi, dosis, jumlah yang diminta : Ada

f. Cara pemakaian : Ada

g. Informasi lainnya : Tidak ada

2. Memahami dan menginterpretasi resep

a. Arti dari singkatan resep

R/ (Recipe) : Ambillah

S 2 dd tab 1 : Tandailah 2 kali sehari 1 tablet


(Signa bis de die tablet I)

S 3 dd tab 1 : Tandailah 3 kali sehari 1 tablet


(Signa ter de die tablet I)

b. Perhitungan

1. Cefila® 100 mg kapsul (PT. Lapi)

Dosis lazim : 2 x sehari 1 kapsul tiap 12 jam

Dosis dalam resep : 2 x sehari 1 kapsul

Jumlah yang diambil : 10

2. Rhinos® SR (Dexa Medica)

Dosis lazim : 1 x sehari 1 kapsul


Dosis dalam resep : 3 x sehari 1 tablet

Jumlah obat yang diambil : 10 tablet

3. Ambroxol 30 mg tablet (PT. Kimia Farma)

Dosis lazim : 2 – 3 x sehari 1 tablet

Dosis dalam resep : 3 x sehari 1 tablet

Jumlah obat yang diambil : 15 tablet

4. Asam Mefenamat (PT. Indofarma)

Dosis lazim : 500 mg sehari tiap 6 jam

Dosis dalam resep : 3 x sehari 1 tablet

Jumlah obat yang diambil : 10 tablet

c. Interaksi obat : Tidak ada interaksi obat

3. Penyiapan dan pemberian label

a. Cefila® 100 mg kapsul diberi etiket putih

Apotek Kimia Farma No. 107


Jl. Gatot Subroto 72 C Medan Telp. (061) 4147927 Medan

No : 02 Tanggal : 19/07/2018
Nama Pasien : Rina Mutia
Tablet
2 X sehari 1 Caps
Bungkus
SEBELUM/ SESUDAH MAKAN

b. Rhinos® SR tablet diberi etiket putih

Apotek Kimia Farma No. 107


Jl. Gatot Subroto 72 C Medan Telp. (061) 4147927 Medan

No : 02 Tanggal : 19/07/2018
Nama Pasien : Rina Mutia
Tablet
3 X sehari 1 Caps
Bungkus
SEBELUM/ SESUDAH MAKAN
c. Ambroxol 30 mg tablet

Apotek Kimia Farma No. 107


Jl. Gatot Subroto 72 C Medan Telp. (061) 4147927 Medan

No : 02 Tanggal : 19/07/2018
Nama Pasien : Rina Mutia
Tablet
3 X sehari 1 Caps
Bungkus
SEBELUM/ SESUDAH MAKAN

d. Asam Mefenamat 500 mg tablet

Apotek Kimia Farma No. 107


Jl. Gatot Subroto 72 C Medan Telp. (061) 4147927 Medan

No : 02 Tanggal : 19/07/2018
Nama Pasien : Rina Mutia
Tablet
3 X sehari 1 Caps
Bungkus
SEBELUM/ SESUDAH MAKAN

4. Melakukan pemeriksaan akhir

Tabel 3. Pemeriksaan identitas pasien dan obat berdasarkan resep 2


Tidak
Parameter Sesuai
Sesuai
1. Identitas Pasien
a. Nama pasien : Rina Mutia 
b. Umur pasien : 37 Tahun 
2. Identitas Obat
a. Cefila® 100 mg kapsul
- Bentuk sediaan : kapsul 
- Cara pemakaian : 2 kali sehari 1 tablet, tiap 12 
jam harus habis
- Jumlah obat : 10 tablet 
b. Rhinos® SR kapsul
- Bentuk sediaan : kapsul 
- Cara pemakaian : 3 kali sehari 1 kapsul 
- Jumlah obat : 10 tablet
c. Ambroxol 30 mg tablet 
- Bentuk sediaan : tablet
- Cara pemakaian : 3 kali sehari 1 tablet sesudah 
makan 
- Jumlah obat : 15 tablet
d. Asam Mefenamat 
- Bentuk sediaan : kaplet
- Cara pemakaian : 3 kali sehari 1 tablet sesudah 
makan 
- Jumlah obat : 10 tablet

5. Melakukan Pencatatan Data

Data dicatat dalam buku catatan pengobatan pasien seperti berikut ini:

Tanggal Resep : 19-08-2018

Nama pasien : Rina Mutia

Umur/BB pasien : 37 tahun

Nama obat : Cefila® 100 mg kapsul


Rhinos® SR kapsul
Abroxol 30 mg tablet
Asam Mefenamat 500 mg kaplet

Jumlah Obat : Cefila® 100 mg 10 kapsul


Rhinos® SR 10 kapsul
Abroxol 30 mg 15 tablet
Asam Mefenamat 500 mg 10 kaplet

Keterangan : Detur (Sudah diberikan)

6. Pelayanan informasi

Informasi yang disampaikan adalah:

- Three Prime Questions:

1 Penjelasan dokter tentang obat anda : ada

2 Penjelasan dokter tentang cara pakai obat anda : ada

3 Penjelasan dokter tentang harapan setelah penggunaan obat : tidak ada

Informasi obat yang disampaikan adalah:

1. Cefila® 100 mg kapsul (PT. Lapi)


Khasiat : Pengobatan infeksi saluran pernafasan bagian atas

Bentuk sediaan : kapsul

Cara pemakaian : digunakan 2 x sehari 1 kapsul tiap 12 jam hingga habis

Hal yang perlu di informasikan:

Diminum tiap 12 jam hingga habis untuk pengobatan 5 hari, sediaan disimpan

di tempat sejuk (15-250 C) dan kering, terlindung dari cahaya serta jauhkan

dari jangkauan anak-anak.

2. Rhinos® SR

Bentuk sediaan : kapsul

Khasiat : mengatasi hidung terusmbat dan bersin

Cara pemakaian : diminum 3 kali sehari 1 kapsul

Hal yang perlu di informasikan:

Hentikan penggunaan jika gejala penyakit telah reda, obat disimpan di tempat

sejuk (15-250C) dan kering, terlindung dari cahaya serta jauhkan dari

jangkauan anak-anak.

3. Ambroxol 30 mg tablet

Khasiat : sebagai sekretolitik pada batuk

Bentuk sediaan : tablet

Cara pemakaian : diminum 3 x sehari 1 tablet setelah makan

Hal yang perlu di informasikan:

Diminum setelah makan bila batuk, sediaan disimpan di tempat sejuk (15-250

C) dan kering, terlindung dari cahaya serta jauhkan dari jangkauan anak-anak.

4. Asam Mefenamat 500 mg kaplet

Khasiat : meredakan nyeri ringan sampai sedang

Bentuk sediaan : kaplet


Cara pemakaian : diminum 3 x sehari 1 kaplet setelah makan

Hal yang perlu di informasikan:

Diminum setelah makan, sediaan disimpan di tempat sejuk (15-250 C) dan

kering, terlindung dari cahaya serta jauhkan dari jangkauan anak-anak.

1.2.3 Kasus

Berdasarkan komposisi obat yang ada pada resep, dapat disimpulkan pasien

mengalami infeksi saluran pernafasan bagian atas yang ditandai dengan batuk, flu,

dan hidung tersumbat. Cefila® 100 mg kapsul mengandung cefixime yang berguna

untuk mengobati infeksi pada saluran pernafasan, Rhinos® SR kapsul yang

mengandung pseudoefedrin dan loratadin berguna untuk mengatasi hidung

tersumbat dan bersin, ambroxol 30 mg tablet berguna sebagai sekretolitik yang

memudahkan pengeluaran dahak pada batuk dan Asam Mefenamat 500 mg berguna

untuk meringankan nyeri ringan hingga sedang karena sakit kepala.

1.2.4 Keterangan obat pada resep 2

Tabel 4. Spesialite Obat pada Resep 2


Generik/
Nama Obat Produk lain Gol. Khasiat
Komposisi

Cefila® 100 mg Cefixime Fixef® K mengobati


kapsul (PT. lapi) 100mg infeksi pada
Sporetic® saluran
pernafasan

Rhinos® SR kapsul pseudoefedrin Aldisa® SR K mengatasi


(Dexa medica) HCl 120 mg hidung
dan loratadin tersumbat dan
5 mg bersin

Ambroxol 30 mg Ambroxo 30 Histigo® K mengobati


tablet (Dexa Medica) mg tablet vertigo dan
Versilon® gangguan
keseimbangan
Asam Mefenamat 500 Asam Topgesic® K Meringankan
mg (PT. Indofarma) Mefenamat Ponstan® nyeri ringan
500 mg hingga sedang

1.3 Resep 3
Gambar 5. Resep 3
1.3.1 Salinan Resep

Gambar 6. Salinan Resep 3


1.3.2 Tahap – tahap compounding dan dispensing

1. Menerima dan memvalidasi resep

a. Nama, SIP, dan alamat dokter : Alamat dokter tidak ada

b. Tanggal penulisan resep : Ada

c. Tanda tangan/paraf dokter : Ada

d. Nama, alamat, umur, berat badan pasien : Tidak ada alamat, umur
dan berat badan

e. Nama obat, potensi, dosis, jumlah yang diminta : Ada

f. Cara pemakaian : Ada

g. Informasi lainnya : Tidak ada

2. Memahami dan menginterpretasi resep

a. Arti dari singkatan resep

R/ (Recipe) : Ambillah

S 1 dd tab 1 pc : Tandailah 1 kali sehari 1 tablet


(Signa uno de die tablet I post coenam) sesudah makan

S.u.e (Signa Usus Externus) : Untuk pemakaian luar

b. Perhitungan

1.Tiriz® (PT. LAPI)

Dosis lazim : sehari 10 mg

Dosis dalam resep : 1 x sehari 1 tablet

Jumlah obat yang diambil : 10 tablet

2. Elocon cream (PT. Merck Sharp & Dohme)

Dosis lazim : Oleskan tipis pada daerah yang sakit 1x

Dosis dalam resep : Oleskan tipis pada daerah yang sakit 1x


Jumlah yang diambil : 1 tube

3. Fucidin cream (PT. Tunggal Idaman Abadi)

Dosis lazim : oleskan sehari 2-3x

Dosis dalam resep : oleskan pada bagian yang sakit

Jumlah obat yang diambil : 1 tube

4. Carmed 20% cream (SDM Lab)

Dosis lazim : oleskan pada kulit yang sakit

Dosis dalam resep : oleskan pada kulit yang sakit

Jumlah obat yang diambil : 1 tube

c. Interaksi obat : Tidak ada interaksi obat

3. Penyiapan dan pemberian label

a. Tiriz® tablet, diberi etiket putih

Apotek Kimia Farma No. 107


Jl. Gatot Subroto 72 C Medan Telp. (061) 4147927 Medan

No : 03 Tanggal : 19/07/2018
Nama Pasien : Fatma
Tablet
1 X sehari 1 Caps
Bungkus
SEBELUM/ SESUDAH MAKAN

b. Cream ( Elocon, Fucidin dan asam salisilat 5%), diberi etiket biru untuk
pemakaian luar

03 19/ 07/2018

Fatma

Dioleskan pada kulit


c. Carmed 20% Cream, diberi etiket biru untuk pemakaian luar

03 19/ 07/2018

Fatma

Dioleskan pada kulit

3. Melakukan pemeriksaan akhir

Tabel 5. Pemeriksaan identitas pasien dan obat berdasarkan resep 3


Tidak
Parameter Sesuai
Sesuai
I. Identitas Pasien
a. Nama pasien : Fatma 
b. Umur pasien : 39 tahun 
II. Identitas Obat
a. Tiriz® tablet
- Bentuk sediaan : tablet 
- Cara pemakaian : Dosis tunggal 10 mg 
- Jumlah obat : 10 tablet 
b. Cream (Elocon, fucidin dan Asam salisilat)
- Bentuk sediaan : cream
- Cara pemakaian : Oleskan tipis pada daerah 
yang sakit 1x 
- Jumlah obat : 1 pot
c. Carmed 20% cream 
- Bentuk sediaan : cream
- Cara pemakaian : Oleskan tipis pada daerah 
yang sakit 1x 
- Jumlah obat : 1 tube

4. Melakukan Pencatatan Data

Data dicatat dalam buku catatan pengobatan pasien seperti berikut ini:
Tanggal Resep : 19-07-2018

Nama pasien : Fatma

Umur/BB pasien : 37 tahun

Nama obat : Tiriz® tablet


Cream (Elocon, fucidin dan Asam salisilat)
Carmed 20% cream

Jumlah Obat : Tiriz® 10 tablet


Cream (Elocon, fucidin dan Asam salisilat), 1 pot
Carmed 20% cream 1 tube

Keterangan : Detur (Sudah diberikan)

5. Pelayanan informasi

Informasi yang disampaikan adalah:

- Three Prime Questions:

1. Penjelasan dokter tentang obat anda : ada

2. Penjelasan dokter tentang cara pakai obat anda : ada

3. Penjelasan dokter tentang harapan setelah penggunaan obat : tidak ada

Informasi obat yang disampaikan adalah:

a. Tiriz® tablet (PT. LAPI)

Khasiat : Mengobati rhinitis alergi dan urtikaria idiopatik kronik

Bentuk sediaan : tablet

Cara pemakaian : diminum 1 x sehari, 1 tablet

Hal yang perlu di informasikan:

Sediaan disimpan di tempat sejuk (15-250 C) dan kering, terlindung dari

cahaya serta jauhkan dari jangkauan anak-anak.

b. Cream (Elocon, fucidin dan asam salisilat)


Bentuk sediaan : cream

Khasiat : antifungi dan meringankan inflamasi dan pruritus dari


dermatosis yang responsive terhadap kortikosteroid
Cara pemakaian : dioleskan pada bagian kulit yang sakit

Hal yang perlu di informasikan:

Dioles tipis pada area yang terinfeksi, sediaan disimpan di tempat sejuk (15-

250 C) dan kering, terlindung dari cahaya serta jauhkan dari jangkauan anak-

anak.

c. Carmed

Bentuk sediaan : cream

Khasiat : mengobati kulit kering, hyperkeratosis serta kulit


bersisik

Cara pemakaian : dioleskan pada bagian kulit yang sakit

Hal yang perlu di informasikan:

Dioles tipis pada area yang sakit, sediaan disimpan di tempat sejuk (15-250 C)

dan kering, terlindung dari cahaya serta jauhkan dari jangkauan anak-anak.

1.3.3 Kasus

Berdasarkan komposisi obat yang ada pada resep, dapat diperkirakan pasien

mengalami rhinitis alergi dan dermatitis pada kulit. Tiriz® tablet yang mengandung

cetirizine HCl digunakan sebagai pengobatan oral untuk rhinitis alergi seperti

urtikaria. Kombinasi krim Elocon, fucidin dan asam salisilat digunakan untuk

antifungi dan meringankan inflamasi serta Carmed® Cream berguna untuk

mengobati kulit kering, hyperkeratosis serta kulit bersisik.

1.3.4 Keterangan obat pada resep


Tabel 6. Spesialite Obat pada Resep 3
Generik/ Produk
Nama Obat Gol. Khasiat
Komposisi lain
Tiriz® Tablet Cetrizine HCl Cerini® Mengobati
10 mg Cetinal® K rhinitis alergi
dan urtikaria
idiopatik kronik
Elocon® Cream Mometason Dermovel K Meringankan
®
furoat 1 mg/g inflamasi dari
salep Elosalic® dermatosis
Fucidin® Cream Asam fusidat Fucicort® K Infeksi karena
2% Foban® satphylococcus,
streptococcus
Carmed® 20% Cream Urea 20% Foothy® K Mengatasi kulit
kering, kulit
bersisik dan
hyperkeratosis
1.4 Resep 4

Gambar 7. Resep 4
1.4.1 Salinan Resep

Gambar 8. Salinan resep 4


1.4.2 Tahap – tahap compounding dan dispensing

1. Menerima dan memvalidasi resep

a. Nama, SIP, dan alamat dokter : SIP dokter tidak ada

b. Tanggal penulisan resep : Ada

c. Tanda tangan/paraf dokter : Ada

d. Nama, alamat, umur, berat badan pasien : Tidak ada alamat, umur
dan berat badan

e. Nama obat, potensi, dosis, jumlah yang diminta : Ada

f. Cara pemakaian : Ada

g. Informasi lainnya : Tidak ada

2. Memahami dan menginterpretasi resep

a. Arti dari singkatan resep

R/ (Recipe) : Ambillah

S 2 dd gtt 1 ods : Tandailah 6 kali sehari 1


(Signa bis de die guttae 1 oculus dexter tetes pada mata kanan dan kiri
et sinister)

S 6 dd applic 1 ods : Tandailah 6 kali sehari digunakan 1


(Signa 6 de die applic 1 oculus dexter tetes pada mata kanan dan kiri
et sinister)

S 2 dd tab ½ : Tandailah 2 kali sehari ½ tablet


(Signa bis de die tablet ½)

S 3 dd tab 1 : Tandailah 3 kali sehari 1 tablet


(Signa tri de die tablet I )
b. Perhitungan

1. Timol® 0,5% Tetes mata (PT. Cendo Pharmaceutical Industries)

Dosis lazim : 2 x sehari 1 tetes pada mata sakit

Dosis dalam resep : 2 x sehari 1 tetes pada mata kanan dan kiri

Jumlah obat yang diambil : 1 botol

2. Cendo Xitrol® Salep (PT. Cendo Pharmaceutical Industries)

Dosis lazim : 3-4 x sehari

Dosis dalam resep : 6 x sehari 1 oles pada mata kanan dan kiri

Jumlah yang diambil : 1 tube

3. Glaucon® 250 mg Tablet (PT. Cendo Pharmaceutical Industries)

Dosis lazim : 2-4 x sehari

Dosis dalam resep : 2 x sehari ½ tablet

Jumlah obat yang diambil : 15 tablet

4. Metil Prednisolon® Tablet 4 mg (PT. Hexpharm)

Dosis lazim : 4-48 mg sehari

Dosis dalam resep :3 x sehari 1 tablet

Jumlah yang diambil : 15 tablet

5. Ranitidin (PT. Indofarma)

Dosis lazim : 2 x sehari 1 tablet

Dosis dalam resep : 3 x sehari 1 tablet

Jumlah obat yang diambil : 25 tablet

6. Amoxicillin 500mg tablet (PT. Indofarma)

Dosis lazim : 250 – 500 mg

Dosis dalam resep : 3 x sehari 1 tablet


Jumlah obat yang diambil : 25 tablet

c. Interaksi obat : Tidak ada interaksi obat

7. Penyiapan dan pemberian label

1. Timol® 0,5% tetes mata, diberi etiket biru

04 21/ 07/2018

Wulandari

Dua kali sehari satu tetes pada mata kanan dan kiri

2. Cendo Xitrol® salep mata, diberi etiket biru

04 21/ 07/2018

Wulandari

Sehari enam kali dioleskan pada mata kanan dan kiri

3. Glaucon® 250 mg Tablet, diberi etiket putih

Apotek Kimia Farma No. 107


Jl. Gatot Subroto 72 C Medan Telp. (061) 4147927 Medan

No : 04 Tanggal : 21/07/2018
Nama Pasien : Fatma
Tablet
2 X sehari 1 Caps
Bungkus
SEBELUM/ SESUDAH MAKAN
4. Metil Prednisolon® Tablet 4 mg, diberi etiket putih

Apotek Kimia Farma No. 107


Jl. Gatot Subroto 72 C Medan Telp. (061) 4147927 Medan

No : 04 Tanggal : 21/07/2018
Nama Pasien : Wulandari
Tablet
3 X sehari 1 Caps
Bungkus
SEBELUM/ SESUDAH MAKAN

5. Ranitidin tablet, diberi etiket putih

Apotek Kimia Farma No. 107


Jl. Gatot Subroto 72 C Medan Telp. (061) 4147927 Medan

No : 04 Tanggal : 21/07/2018
Nama Pasien : Wulandari
Tablet
3 X sehari 1 Caps
Bungkus
SEBELUM/ SESUDAH MAKAN

6. Amoxicillin 500mg tablet, diberi etiket putih

Apotek Kimia Farma No. 107


Jl. Gatot Subroto 72 C Medan Telp. (061) 4147927 Medan

No : 04 Tanggal : 21/07/2018
Nama Pasien : Wulanadri
Tablet
3 X sehari 1 Caps
Bungkus
SEBELUM/ SESUDAH MAKAN
4. Melakukan pemeriksaan akhir

Tabel 7. Pemeriksaan identitas pasien dan obat berdasarkan resep 4


Tidak
Parameter Sesuai
Sesuai
1. Identitas Pasien
c. Nama pasien : Wulandari 
d. Umur pasien : - 
2. Identitas Obat
a. gTimol® 0,5% tetes mata
- Bentuk sediaan : tetes mata 
- Cara pemakaian : 2 kali sehari 1 tetes pada mata 
kana dan kiri
- Jumlah obat : 1 botol 
b. Cendo Xitrol® Salep mata
- Bentuk sediaan : salep 
- Cara pemakaian : 6 kali sehari 1 oles pada mata 
kanan dan kiri
- Jumlah obat : 1 tube 
c. Glaucon® tablet
- Bentuk sediaan : tablet 
- Cara pemakaian : 2 kali sehari ½ tablet sesudah 
makan
- Jumlah obat : 15 tablet 
d. Metil Prednisolon® tablet
- Bentuk sediaan : tablet 
- Cara pemakaian : 3 kali sehari 1 tablet sesudah 
makan

- Jumlah obat : 15 tablet
e. Ranitidin® tablet
- Bentuk sediaan : tablet

- Cara pemakaian : 3 kali sehari 1 tablet sesudah

makan
- Jumlah obat : 25 tablet 
f. Amoxicillin ® tablet
- Bentuk sediaan : tablet 
- Cara pemakaian : 3 kali sehari 1 tablet sesudah 
makan
- Jumlah obat : 25 tablet 
5. Melakukan pencatatan data

Data dicatat dalam buku catatan pengobatan pasien seperti berikut ini:

Tanggal Resep : 21-07-2018

Nama pasien : Wulandari

Umur/BB pasien : 37 tahun

1. Nama obat : Timol® 0,5% tetes mata


Cendo Xitrol® salep
Glaucon® 250 mg tablet
Metil Prednisolon® 4 mg tablet
Ranitidin tablet
Amoxicillin 500mg tablet

2. Jumlah Obat : Timol® 0,5% Tetes mata, 1 botol


Cendo Xitrol® Salep, 1 tube
Glaucon® 250 mg, 15 tablet
Metil Prednisolon® 4 mg, 15 tablet
Ranitidin tab, 25 tablet
Amoxicillin 500mg, 25 tablet

6. Pelayanan informasi

Informasi yang disampaikan adalah:


- Three Prime Questions:

1. Penjelasan dokter tentang obat anda : ada

2. Penjelasan dokter tentang cara pakai obat anda : ada

3. Penjelasan dokter tentang harapan setelah penggunaan obat : tidak

ada

Informasi obat yang disampaikan adalah:

1. Timol® 0,5% Tetes mata (PT. Cendo Pharmaceutical Industries)

Bentuk sediaan : Tetes mata

Khasiat : Menurunkan tekanan intra ocular pada mata

Cara pemakaian : Teteskan 2 x sehari 1 tetes pada mata kanan dan kiri

Hal yang perlu di informasikan:

Obat disimpan di tempat sejuk (15-250C) dan kering, terlindung dari cahaya

serta jauhkan dari jangkauan anak-anak. Jangan digunakan bila lebih dari

30 hari setelah tutup dibuka.

2. Cendo Xitrol® Salep (PT. Cendo Pharmaceutical Industries)

Bentuk sediaan : Salep mata

Khasiat : Menurunkan tekanan intra ocular pada mata

Cara pemakaian : 6 x sehari 1 oles pada mata kanan dan kiri

Hal yang perlu di informasikan:

Obat disimpan di tempat sejuk (15-250C) dan kering, terlindung dari cahaya

serta jauhkan dari jangkauan anak-anak. Jangan digunakan bila lebih dari

30 hari setelah tutup dibuka.

3. Glaucon® 250 mg Tablet (PT. Cendo Pharmaceutical Industries)

Bentuk sediaan : Tablet

Khasiat : Menurunkan tegangan mata pada glaucoma


Cara pemakaian : Diminum 2 x sehari ½ tablet

Hal yang perlu di informasikan:

Obat disimpan di tempat sejuk (15-250C) dan kering, terlindung dari cahaya

serta jauhkan dari jangkauan anak-anak.

7. Metil Prednisolon® Tablet 4 mg (PT. Hexpharm)

Bentuk sediaan : Tablet

Khasiat : Mengobati gangguan endokrin pada mata

Cara pemakaian : Diminum 3 x sehari 1 tablet

Hal yang perlu di informasikan:

Obat disimpan di tempat sejuk (15-250C) dan kering, terlindung dari cahaya

serta jauhkan dari jangkauan anak-anak.

8. Ranitidin (PT. Indofarma)

Bentuk sediaan : Tablet

Khasiat : Mengobati tukak lambung

Cara pemakaian : Diminum 3 x sehari 1 tablet

Hal yang perlu di informasikan:

Obat disimpan di tempat sejuk (15-250C) dan kering, terlindung dari cahaya

serta jauhkan dari jangkauan anak-anak.

9. Amoxicillin 500 mg tablet (PT. Indofarma)

Bentuk sediaan : Tablet

Khasiat : Mengobati infeksi kulit dan jaringan lunak

Cara pemakaian : Diminum 3 x sehari 1 tablet

Hal yang perlu di informasikan:


Obat disimpan di tempat sejuk (15-250C) dan kering, terlindung dari cahaya

serta jauhkan dari jangkauan anak-anak. Obat diminum setiap 8 jam dan

dihabiskan.

1.4.3 Kasus

Berdasarkan komposisi obat yang ada pada resep, dapat disimpulkan pasien

mengalami gangguan pada mata. Timol® tetes mata, Cendo Xitrol® salep mata,

Glaucon® tablet berguna untuk menurunkan tekanan intra ocular pada mata. Metil

Prednisolon 8 mg tablet dapat digunakan untuk mengobati gangguan endokrin pada

mata. Ranitidin tablet digunakan untuk mengobati tukak lambung, serta

Amoxicillin untuk infeksi kulit dan jaringan lunak.

1.4.4 Keterangan obat pada resep


Tabel 8. Spesialite Obat pada Resep 4
Generik/ Produk
Nama Obat Gol. Khasiat
Komposisi lain

Timol® Tetes mata Timolol 0.5% Wasser® K Menurunkan


(PT. Cendo tekanan
Pharmaceutical intraokuler pada
penderita
Industries) glaukoma dan
hipertensi okuler.

Cendo Xitrol® Salep Dexamethaso Osatrol® K Menurunkan


(PT. Cendo ne 1mg, tekanan intra
Pharmaceutical neomycin ocular pada
Industries) sulfate 3.5mg, mata.
polymixin B
sulfate
10.000SI
®
Glaucon 250 mg Acetazolamid Diamox® K Menurunkan
tablet (PT. Cendo 250 mg tegangan mata
Pharmaceutical pada glaucoma.
Industries)
Metil Prednisolon® Metil Medrol® K Mengobati
Tablet 4 mg prednisolon Advantan® gangguan
(PT. Hexpharm) endokrin pada
mata.
Ranitidin Ranitidin Rantin® K Mengobati
(PT. Indofarma) Biotidine® tukak lambung
Amoxicillin 500mg Amoxicillin Amoxan® K Mengobati
tablet 500 mg Amoxil® infeksi kulit dan
(PT. Indofarma) jaringan lunak

1.5 Resep 5
Gambar 9. Resep 5

1.5.1 Salinan Resep


Gambar 10. Salinan Resep 5

1.5.2 Tahap – Tahap Compounding dan Dispensing

1. Menerima dan memvalidasi resep

a. Nama, SIP, dan alamat dokter : Ada

b. Tanggal penulisan resep : Ada

c. Tanda tangan/paraf dokter : Ada

d. Nama, alamat, umur, berat badan pasien : Tidak ada alamat, umur
dan berat badan

e. Nama obat, potensi, dosis, jumlah yang diminta : Ada

f. Cara pemakaian : Ada


g. Informasi lainnya : Tidak ada

2. Memahami dan menginterpretasi resep

a. Arti dari singkatan resep

R/ (Recipe) : Ambillah

S 1 dd tab 1 pagi pc : Tandailah 1 kali sehari 1 tablet


(Signa uno de die tablet I post coenam) sesudah makan pagi

S 2 dd tab ½ pagi & malam pc : Tandailah 2 kali sehari ½ tablet


(Signa bis de die tablet I post sesudah makan pagi dan malam
coenam)

b. Perhitungan

1. Arinia® 10 mg (PT. Meprofarm )

Dosis lazim : 10 mg/ hari

Dosis dalam resep : 1 x sehari 1 tablet

Jumlah obat yang diambil : 15 tablet

2. Depakote® tablet (PT. Abbot Indonesia)

Dosis lazim : 15 mg/ KgBB/ hari

Dosis dalam resep : 2 x sehari ½ tablet

Jumlah yang diambil : 15 tablet

c. Interaksi obat : Tidak ada interaksi obat

2 Penyiapan dan pemberian label

a. Arinia® 10 mg tablet diberi etiket putih

Apotek Kimia Farma No. 107


Jl. Gatot Subroto 72 C Medan Telp. (061) 4147927 Medan

No : 05 Tanggal : 24/07/2018
Nama Pasien : Heri
Tablet
1 X sehari 1 Caps
Bungkus
SEBELUM/ SESUDAH MAKAN
b. Depakote® 250 mg tablet diberi etiket putih

Apotek Kimia Farma No. 107


Jl. Gatot Subroto 72 C Medan Telp. (061) 4147927 Medan

No : 05 Tanggal : 24/07/2018
Nama Pasien : Heri
Tablet
2 X sehari ½ Caps
Bungkus
SEBELUM/ SESUDAH MAKAN

d. Melakukan pemeriksaan akhir

Tabel 9. Pemeriksaan identitas pasien dan obat berdasarkan resep 5


Tidak
Parameter Sesuai
Sesuai
1. Identitas Pasien
b. Nama pasien : Benar surbakti 
c. Umur pasien : - 
1. Identitas Obat
a. Arinia® 10 mg tablet
- Bentuk sediaan : Tablet 
- Cara pemakaian : 1 kali sehari 1 tablet sesudah 
makan pagi
- Jumlah obat : 15 tablet 
b. Depakote® 250 mg tablet
- Bentuk sediaan : tablet
- Cara pemakaian : 2 kali sehari ½ tablet sesudah 
makan pagi dan malam 
- Jumlah obat : 15 tablet

e. Melakukan Pencatatan Data

Data dicatat dalam buku catatan pengobatan pasien seperti berikut ini:

Tanggal Resep : 24-07-2018

Nama pasien : Heri

Umur/BB pasien :-

Nama obat : Arinia® 10 mg tablet


Depakote® 250 tablet

Jumlah Obat : Arinia® 10 mg, 15 tablet


Depakote® 250, 15 tablet

3. Pelayanan informasi

Informasi yang disampaikan adalah:

- Three Prime Questions:

a. Penjelasan dokter tentang obat anda : ada

b. Penjelasan dokter tentang cara pakai obat anda : ada

c. Penjelasan dokter tentang harapan setelah penggunaan obat : tidak

ada

Informasi obat yang disampaikan adalah:

1. Arinia® 10 mg tablet (PT. Meprofarm)


Bentuk sediaan : tablet

Khasiat : mengobati skizofernia

Cara pemakaian : diminum 1 x sehari 1 tablet sesudah makan pagi

Hal yang perlu di informasikan:

Obat diminum setelah makan pada pagi hari, obat disimpan di tempat sejuk

(15-250C) dan kering, terlindung dari cahaya serta jauhkan dari jangkauan

anak-anak.

2. Depakote® 250 mg tablet (PT. Abbot Indonesia)

Bentuk sediaan : tablet

Khasiat : terapi skhizoafektif

Bentuk sediaan : tablet

Cara pemakaian : digunakan 2 x sehari ½ tablet setelah makan pagi

dan malam

Hal yang perlu di informasikan:

Diminum setelah makan sediaan disimpan di tempat sejuk (15-250 C) dan

kering, terlindung dari cahaya serta jauhkan dari jangkauan anak-anak.

1.5.3 Kasus

Berdasarkan komposisi obat yang ada pada resep, dapat disimpulkan pasien

mengalami gangguan mental atau kejiwaan. Arinia® 10 mg tablet yang berguna

untuk mengobati gangguan mental. Suplemen yang diberikan adalah Bio-ATP®

tablet yang mengandung adenosin tripospat (ATP) dan vitamin B1, B6, dan B12

serta vitamin E yang digunakan untuk mengatasi kelelahan dan gangguan


metabolisme otot jantung, Arcalion® 200 mg tablet yang mengandung Sulbutiamin

merupakan turunan Vitamin B6 yang berperan sebagai perawatan dalam kondisi

kelelahan dan memperbaiki kinerja otak.

1.4.4 Keterangan Obat Pada Resep 5

Tabel 10. Spesialite Obat pada Resep 5


Generik/
Nama Obat Produk lain Gol. Khasiat
Komposisi

Arinia® Aripiprazole Abilify® K Mengobati


10 mg skizofernia
Aripi®

Bio-ATP® tablet Adenosin ProATP® K Pengobatan


(Phapros) tripospat gangguan
(ATP) 20 mg, ViTAP® metabolism
vitamin B1 otot jantung
100 mg, dan kelelahan
vitamin B6 fisik
200 mg,
vitamin B12
200 mg,
Vitamin E 30
mg

Merislon® 6 mg Betahistin Histigo® K Mengobati


(Phapros) mesilat 6 mg vertigo dan
Versilon® gangguan
keseimbangan
BAB II

PELAYANAN SWAMEDIKASI

(KOMUNIKASI, INFORMASI DAN EDUKASI)

2.1 Kasus I

2.1.1 Keluhan

Seorang wanita (20 tahun) datang ke apotek mengeluh perih dan kembung pada

perut karena melewatkan jam makan siang. Pasien memiliki riwayat sakit maag.

Berdasarkan keluhan tersebut, obat maag yang dianjurkan adalah Magasida®.

2.1.2 Spesialite Obat

Tabel 1. Spesialite Obat pada Swamedikasi I


Nama Obat Komposisi Produk Gol. Khasiat
Lain

Magasida Tiap tablet Mylanta® B Meringankan


tablet kunyah (Johnson gejala yang
(Kimia mengandung : & berhubungan
Farma) Aluminium- Johnson) dengan kelebihan
Magnesium asam lambung,
Hidroksida Gel nyeri lambung,
kering 461 mg, dan kembung
Simetikon 20 mg

(ISFI, 2017).

2.1.3 Informasi Obat

a. Khasiat : untuk meringankan gejala yang berhubungan dengan

kelebihan

asam lambung, nyeri lambung, dan kembung

b. Bentuk sediaan : tablet


c. Cara pemakaian : dua kali sehari satu tablet

d. Hal-hal yang diinformasikan:

i. Diminum dua kali sehari

ii. Hindari makanan dan minuman yang memicu naiknya asam lambung

iii. Banyak minum air putih.

iv. Tidak dianjurkan digunakan terus-menerus lebih dari 2 minggu, kecuali atas

anjuran dokter.

v. Obat disimpan di tempat yang kering dan sejuk, jauh dari jangkauan anak-

anak.

2.2 Kasus II

2.2.1 Keluhan

Seorang pria datang ke apotek dengan keluhan batuk kering yang dialami sejak

tiga hari yang lalu. Berdasarkan keluhan tersebut, obat yang dianjurkan adalah sirup

Sanadryl DMP.

2.2.2 Spesialite Obat

Nama Komposisi Produk lain Gol Khasiat


Obat/Pabrik

Sanadryl Dekstrometorfan HBr Pyridryl Plus T Meringankan gejala


DMP 10 mg, difenhidramin batuk tidak
HCl 12,5 mg, (Ikapharmindo) berdahak atau batuk
(Sanbe ammonium klorida karena alergi
Farma) 100 mg, natrium sitrat
50 mg, mentol 1 mg/5
ml

(IAI, 2014)
2.1.3 Informasi obat

1. Khasiat : Meringankan gejala batuk tidak berdahak

2. Bentuk Sediaan : Sirup

3. Cara Pemakaian : 3 kali sehari 2 sendok teh

4. Hal-hal yang perlu diinformasikan :

 Obat diminum sesuai dosis yang dianjurkan yaitu setiap 8 jam sehari

 Banyak minum air putih dan istirahat yang cukup

 Hindari makanan yang berminyak serta hindari minum air dingin/ es

 Bila batuk tidak reda dalam waktu 3 hari setelah mengkonsumsi obat tersebut,

segera konsultasi ke dokter

2.3 Kasus III

2.3.1 Keluhan

Seorang bapak datang ke apotek dengan keluhan kakinya gatal seperti kutu air

jamuran. Obat yang diberikan adalah Daktarin®.

2.3.2 Spesialite obat

Nama Produk
Komposisi Gol Khasiat
Obat/Pabrik Lain

Daktarin® Mikonazol Nitrat Funtas® T Mengobati infeksi


krim 2% jamur yang terdapat
(Sanbe pada kulit
(Taisho
Pharmaceutical) Farma)

(IAI, 2014)

2.3.3 Informasi obat

1. Khasiat : Mengobati infeksi jamur yang terdapat pada kulit


2. Bentuk Sediaan : Krim

3. Cara Pemakaian : Dioleskan pada bagian yang terinfeksi 2 x sehari selama

2- 6 minggu

4. Hal-hal yang perlu diinformasikan:

 Jaga kebersihan diri dengan mandi 2 kali sehari dan menggunakan baju yang

bersih.

 Jangan menggaruk kulit yang terinfeksi.

 Jangan menggunakan barang pribadi orang lain yang kontak dengan kulit

ataupun meminjamkannya, seperti baju atau handuk.

 Bila sudah sembuh, tetap perpanjang pengobatan selama 10 hari untuk

mencegah kambuh.

2.4 Kasus IV

2.4.1 Keluhan

Seorang ibu datang dengan keluhan anaknya yang berusia 5 tahun sering

merasakan gatal pada anus khususnya pada malam hari dan nafsu makan berkurang.

Gejala lainnya yaitu badan kurus, perut buncit, dan lemas. Ibu tersebut mengatakan

bahwa terakhir kali anaknya minum obat cacing sekitar satu tahun yang lalu. Berdasarkan

keluhan tersebut, maka diduga bahwa anak tersebut mengalami kecacingan. Maka obat

yang dianjurkan adalah Combantrin®.

2.4.2 Spesialite obat

Nama Obat Komposisi Produk Lain Gol. Khasiat


Combantrin® Setiap sendok takar Konvermex T Antihelmintik
suspensi (5 ml) mengandung (Konimex) (pengobatan
(Pfizer) Pirantel Pamoat infeksi yang
setara dengan disebabkan oleh
Pirantel base 125 mg cacing).
(IAI, 2014).

2.4.3 Informasi obat

1. Khasiat : Antihelmintik (pengobatan infeksi yang disebabkan oleh

cacing).

2. Bentuk sediaan : Suspensi

3. Cara pemakaian : 2-3 sendok takar diminum sebelum tidur pada malam hari

4. Hal-hal yang perlu diinformasikan:

 Obat ini diminum pada malam hari (sebelum tidur)

 Pengobatan yang dianjurkan untuk 6 bulan kemudian

 Jagalah kebersihan anak dan lingkungan.

2.5 Kasus V

2.5.1 Keluhan

Seorang ibu datang membawa anaknya berusia 5 tahun dengan keluhan bintik-

bintik kecil kemerahan disertai rasa gatal. Berdasar keluhan tersebut, obat yang

dianjurkan adalah Salicyl Fresh.

2.5.2 Spesialite obat

Nama
Komposisi Produk Lain Gol Khasiat
Obat/Pabrik
Salicyl Fresh Salicyl Acid, Herocyn B Meredakan kulit
/ Kimia Farma Sulphur Praep, yang gatal
Balsam Peru,
Menthol

(IAI, 2014)

2.5.3 Informasi obat

a. Khasiat :- Mengkikis kulit mati sehingga kulit menjadi lebih halus

– Membantu proses penyembuhan jerawat

- Menhilangkan bau badan dan menyegarkan badan

- Meredakan kulit yang gatal

b. Bentuk Sediaan : Bedak Tabur 60 g

c. Cara pemakaian : Taburkan pada bagian yang membutuhkan

d. Hal-hal yang perlu diinformasikan:

 Gunakan pada bagian kulit bagian luar

 Jaga kebersihan diri dengan mandi 2 kali sehari dan menggunakan baju yang

bersih.

 Jangan menggaruk kulit yang terinfeksi.

2.6 Kasus VI

2.6.1 Keluhan

Seorang pria usia 30 tahun datang ke apotek mengeluhkan sakit pada giginya.

Pria tersebut tidak mengeluhkan adanya masalah pada lambung. Berdasarkan kasus ini,

obat yang dianjurkan adalah Topgesic

2.6.2 Spesialite obat


Nama
Komposisi Produk Lain Gol Khasiat
Obat/Pabrik

Topgesic / Asam Mefenamat Ponstan K Meredakan sakit

Kimia Farma 500 mg gigi

2.6.3 Informasi obat

1. Khasiat : Meredakan nyeri ringan atau sedang, seperti sakit kepala,

sakit gigi, dismenore primer, nyeri trauma, nyeri otot, dan

nyeri pasca operasi.

2. Bentuk Sediaan : Tablet 500 mg

3. Cara pemakaian :Diminum bila sakit, dan bersamaan dengan makan.

Hal-hal yang perlu diinformasikan:

- Obat diminum setelah makan

- Obat diminum sesuai dosis yang dianjurkan

- Bila sakit sudah mereda, obat dihentikan penggunaannya

- Obat disimpan pada temperatur ruangan, di tempat yang kering dan terlindung

dari cahaya matahari serta jauhkan dari jangkauan anak-anak

- Bila sakit tidak berkurang, hubungi dokter

2.7 Kasus VII

2.7.1 Keluhan

Seorang wanita usia 25 tahun datang ke apotek mengeluhkan tubuh kurang fit

dan sulit sembuh jika sakit. Berdasarkan kasus ini, obat yang dianjurkan adalah Fituno
2.7.2 Spesialite obat

Nama
Komposisi Produk Lain Gol Khasiat
Obat/Pabrik

Fituno / Ekstrak pekat - B Untuk membantu

Kimia Farma Echinaceae 150 memulihkan daya

mg, jus pekat tahan tubuh.

Morinda fructus

50 mg, ekstrak

pekat Meniran

100 mg, vitamin

B6 5 mg, vitamin E

5 mg.

2.7.3 Informasi obat

1. Khasiat : Untuk membantu memulihkan daya tahan tubuh.

2. Bentuk Sediaan : Kapsul

3. Cara pemakaian : 1-2 kali sehari 2 kapsul

Hal-hal yang perlu diinformasikan:

- Jaga kebersihan diri dan lingkungan

- Simpan ditempat yang kering dan terlindung dari cahaya serta jauhkan

dari jangkauan anak-anak.


2.8 Kasus VIII

2.8.1 Keluhan

Seorang Bapak datang ke apotek ingin membeli obat demam untuk anaknya

yang berusia 2 tahun. Obat yang diberikan adalah Sanmol® sirup.

2.8.2 Spesialite obat pada swamedikasi

Tabel 17. Spesialite Obat pada kasus VIII

Nama Obat Produk Lain Komposisi Gol. Khasiat

Sanmol® Pamol® Siruo Setiap 5 mL B Untuk mengatasi


Sirup (Interbat) mengandung sementara gejala
(Sanbe paracetamol 120 mg demam, sakit
Farma) dan nyeri ringan

(ISFI, 2017).

2.8.3 Pelayanan informasi obat

a. Khasiat : Untuk mengatasi sementara gejala demam, sakit

dan

nyeri ringan

b. Bentuk Sediaan : Sirup

c. Cara Pemakaian : 3 kali sehari 1 sendok takar

d. Hal yang Perlu Diinformasikan:

i. Diminum 3 kali sehari 1 sendok takar sesudah makan (minum susu)

ii. Hentikan penggunaan obat jika demam sudah turun

iii. Simpan ditempat yang kering dan terlindung dari cahaya serta jauhkan dari

jangkauan anak-anak.

2.9 Kasus IX

2.9.1 Keluhan
Seorang bapak datang ke apotek dengan keluhan pada tangannya terdapat

benjolan kecil bertekstur kasar dan berbentuk seperti kutil. Obat yang diberikan adalah

Callusol®.

2.9.2 Spesialite Obat

Nama
Komposisi Produk Lain Gol Khasiat
Obat/Pabrik

Callusol® Asam salicilat Kutilos® B Sebagai keratolitik,


(PT 0.2gram, asam mengobati mata
laktat 0.05gram, (Novell ikan, kapalan, kutil,
Fahrenheit )
polidocanol Pharmaceuticals kulit mengeras.
0.02gram Laboratories)

2.9.3 Informasi Obat

1. Khasiat : Sebagai keratolitik, mengobati mata ikan, kapalan, kutil,

kulit

mengeras.

2. Bentuk Sediaan : Cairan

3. Cara Pemakaian : Callusol dituangkan ke kapas/kasa, ditempelkan di bagian

yang luka selama semalam

 Hal-hal yang perlu diinformasikan:

 Jaga kebersihan diri dengan mandi 2 kali sehari dan menggunakan baju yang

bersih.

 Jangan menggaruk kulit yang terinfeksi.

 Jangan menggunakan barang pribadi orang lain yang kontak dengan kulit

ataupun meminjamkannya, seperti baju atau handuk.


2.10 Kasus X

2.10.1 Keluhan

Seorang Ibu berusia 30 tahun, baru saja memiliki bayi. Ibu tersebut ingin

produksi ASI nya meningkat. Berdasarkan kasus ini, obat yang dianjurkan adalah Asifit

2.10.2 Spesialite Obat

Nama
Komposisi Produk Lain Gol Khasiat
Obat/Pabrik

Asifit / Kimia Ekstrak daun Lancar Asi B Meningkatkan


katuk, vitamin B1, produksi ASI ibu
Farma vitamin B2, menyusui.
(Mecosin
vitamin B6,
vitamin B12 Indonesia)

2.10.3 Informasi Obat

1. Khasiat : Meningkatkan produksi ASI ibu menyusui

2. Bentuk Sediaan : Kaplet

3. Cara pemakaian : 3kali sehari 1-2 kaplet

Hal-hal yang perlu diinformasikan:

- Gunakanlah obat ini setelah makan dan dianjurkan cukup minum air

putih setelahnya.

- Selalu ikuti anjuran dokter atau petunjuk penggunaan yang tertera pada

kemasan sebelum mulai mengonsumsinya.


- Gunakanlah antara satu dosis dengan dosis lainnya pada jarak jam yang

sama, misalkan dua kali sehari berarti per 12 jam, tiga kali sehari berarti

per 6-8 jam. Oleh sebab itu, untuk memudahkan usahakan untuk

mengonsumsinya pada jam yang sama setiap hari.


DAFTAR PUSTAKA

Depkes RI. (2006). Pedoman Penggunaan Obat Bebas dan Obat Bebas Terbatas.
Jakarta: Direktorat Bina Farmasi Komunitas dan Klinik.

ISFI. (2017). ISO Indonesia.Volume 51. Jakarta: PT ISFI Penerbitan.


Nikki, dan Evaria, R.S. (2016). MIMS Petunjuk Konsultasi. Edisi Kelima belas.
Jakarta: PT Medidata Indonesia.