Anda di halaman 1dari 7

Jurnal Konseling Andi Matappa

Volume 1 Nomor 2 Agustus 2017. Hal 101-107


p-ISSN: 2549-1857; e-ISSN: 2549-4279
(Diterima: April-2017; direvisi: Mei-2017; dipublikasikan: Agustus-2017)

Strategi Coping: Teori Dan Sumberdayanya


Siti Maryam
Fakultas Kedokteran, Universitas Malikussaleh
Correspondence. email: sitimaryam@unimal.ac.id

Abstrak: Perilaku coping dapat juga dikatakan sebagai transaksi yang dilakukan individu
untuk mengatasi berbagai tuntutan (internal dan eksternal) sebagai sesuatu yang
membebani dan mengganggu kelangsungan hidupnya. Strategi coping bertujuan untuk
mengatasi situasi dan tuntutan yang dirasa menekan, menantang, membebani dan
melebihi sumberdaya (resources) yang dimiliki. Sumberdaya coping yang dimiliki
seseorang akan mempengaruhi strategi coping yang akan dilakukan dalam menyelesaikan
berbagai permasalahan. Tujuan dari artikel ini adalah untuk melihat beberapa jenis
strategi coping yang dikemukakan oleh beberapa ahli, yaitu Stuart dan Sundeen (1991),
Lazarus dan Folkman (1984), dan Friedman (1998). Metode yang dilakukan adalah
kajian pustaka dari beberapa literatur terkait. Hasil yang diperoleh bahwa dari beberapa
teori yang disampaikan oleh beberapa ahli, strategi coping yang dilakukan individu dapat
berupa coping yang berpusat pada masalah (problem focused form of coping
mechanism/direct action) dan coping yang berpusat pada emosi (emotion focused of
coping/palliatif form).

Kata kunci: coping, strategi coping, sumberdaya coping

Abstract: Coping behavior is defined as individuals’ transactions to cope with the


various demands (internal and external). Coping strategies aim to address the situation
and demands which pressing, challenging, taxing and exceed the resources (resources).
Coping resources affects the coping strategies that will be done in addressing the issue.
The aim of this article was to explore further coping stategies mentioned by several
scholars, including Stuart and Sundeen (1991), Lazarus and Folkman (1984), as well as
Friedman (1998). Method used was literature review. Result found that coping strategies
have two basic forms, namely problem focused form of coping mechanism/direct action
and emotion focused of coping/palliative form.

Keyword: coping; coping strategies; coping resources.

PENDAHULUAN dalam menyelesaikan berbagai masalah. Dengan


demikian keluarga perlu mengembangkan
Banyaknya permasalahan yang terjadi strategi adaptasi yang memadai yang disebut
dalam kehidupan sehari-hari membuat seseorang strategi “coping” (Östlund & Persson, 2014). Hal
atau keluarga menjadi kebingungan dan stres. tersebut didukung oleh Friedman (1998), yang
Sumber stres pada umumnya meliputi peristiwa mengatakan bahwa “coping” keluarga adalah
yang sangat menekan secara terus-menerus, respon perilaku positif yang digunakan keluarga
masalah-masalah hubungan jangka panjang, untuk memecahkan suatu masalah atau
kesepian, dan kekhawatiran akan finansial karena mengurangi stres yang diakibatkan oleh suatu
kepala rumah tangga sebagai pencari nafkah peristiwa tertentu. Keluarga diharapkan mampu
menjadi korban bencana (Maryam, 2017). berperan dalam menyelesaikan masalah melalui
Untuk mengatasi stres yang dialami, strategi coping yang efektif. Apabila keluarga
setiap keluarga dituntut untuk lebih konsentrasi mampu melakukan “coping” dengan baik, akan

Ini adalah artikel dengan akses terbuka dibawah licenci CC BY-NC-4.0


(https://creativecommons.org/licenses/by-nc/4.0/ )
102 | JURKAM: Jurnal Konseling Andi Matappa Vol. 1 No.2 Agustus 2017

berdampak positif terhadap keberfungsian mekanisme coping yang dilakukan individu yaitu
keluarga (Sheidow, Henry, Tolan, & Strachan, coping yang berpusat pada masalah (problem
2014). focused form of coping mechanism/direct action)
Coping adalah perilaku yang terlihat dan dan coping yang berpusat pada emosi (emotion
tersembunyi yang dilakukan seseorang untuk focused of coping/palliatif form).
mengurangi atau menghilangkan ketegangan Yang termasuk mekanisme coping yang
psikologi dalam kondisi yang penuh stres (Yani, berpusat pada masalah adalah:
1997). Menurut Sarafino (2002), coping adalah (1) Konfrontasi adalah usaha-usaha untuk
usaha untuk menetralisasi atau mengurangi stres mengubah keadaan atau menyelesaikan
yang terjadi. Dalam pandangan Haber dan masalah secara agresif dengan
Runyon (1984), coping adalah semua bentuk menggambarkan tingkat kemarahan serta
perilaku dan pikiran (negatif atau positif) yang pengambilan resiko.
dapat mengurangi kondisi yang membebani (2) Isolasi yaitu ndividu berusaha menarik diri
individu agar tidak menimbulkan stres. dari lingkungan atau tidak mau tahu dengan
Lazarus dan Folkman (1984) masalah yang dihadapi.
mengatakan bahwa keadaan stres yang dialami (3) Kompromi yaitu mengubah keadaan secara
seseorang akan menimbulkan efek yang kurang hati-hati, meminta bantuan kepada keluarga
menguntungkan baik secara fisiologis maupun dekat dan teman sebaya atau bekerja sama
psikologis. Individu tidak akan membiarkan efek dengan mereka.
negatif ini terus terjadi, ia akan melakukan suatu Sedangkan mekanisme coping yang
tindakan untuk mengatasinya. Tindakan yang berpusat pada emosi adalah sebagai berikut:
diambil individu dinamakan strategi coping. (1) Denial yaitu menolak masalah dengan
Strategi coping sering dipengaruhi oleh latar mengatakan hal tersebut tidak terjadi pada
belakang budaya, pengalaman dalam dirinya.
menghadapi masalah, faktor lingkungan, (2) Rasionalisasi yaitu menggunakan alasan
kepribadian, konsep diri, faktor sosial dan lain- yang dapat diterima oleh akal dan diterima
lain sangat berpengaruh pada kemampuan oleh orang lain untuk menutupi
individu dalam menyelesaikan masalahnya. ketidakmampuan dirinya. Dengan
Dari beberapa pengertian coping yang rasionalisasi kita tidak hanya dapat
telah dikemukakan di atas dapat disimpulkan membenarkan apa yang kita lakukan, tetapi
bahwa coping merupakan: (1) respon perilaku juga merasa sudah selayaknya berbuat
dan fikiran terhadap stres; (2) penggunaan demikian secara adil.
sumber yang ada pada diri individu atau (3) Kompensasi yaitu menunjukkan tingkah
lingkungan sekitarnya; (3) pelaksanaannya laku untuk menutupi ketidakmampuan
dilakukan secara sadar oleh individu; dan (4) dengan menonjolkan sifat yang baik, karena
bertujuan untuk mengurangi atau mengatur frustasi dalam suatu bidang maka dicari
konflik-konflik yang timbul dari diri pribadi dan kepuasan secara berlebihan dalam bidang
di luar dirinya (internal or external conflict), lain. Kompensasi timbul karena adanya
sehingga dapat meningkatkan kehidupan yang perasaan kurang mampu.
lebih baik. Perilaku coping dapat juga dikatakan (4) Represi yaitu dengan melupakan masa-masa
sebagai transaksi yang dilakukan individu untuk yang tidak menyenangkan dari ingatannya
mengatasi berbagai tuntutan (internal dan dan hanya mengingat waktu-waktu yang
eksternal) sebagai sesuatu yang membebani dan menyenangkan.
mengganggu kelangsungan hidupnya. (5) Sublimasi yaitu mengekspresikan atau
Strategi coping bertujuan untuk menyalurkan perasaan, bakat atau
mengatasi situasi dan tuntutan yang dirasa kemampuan dengan sikap positif.
menekan, menantang, membebani dan melebihi (6) Identifikasi yaitu meniru cara berfikir, ide
sumberdaya (resources) yang dimiliki. dan tingkah laku orang lain.
Sumberdaya coping yang dimiliki seseorang (7) Regresi yaitu sikap seseorang yang kembali
akan mempengaruhi strategi coping yang akan ke masa lalu atau bersikap seperti anak
dilakukan dalam menyelesaikan berbagai kecil.
permasalahan. (8) Proyeksi yaitu menyalahkan orang lain atas
Jenis-jenis Strategi Coping. Menurut kesulitannya sendiri atau melampiaskan
Stuart dan Sundeen (1991) terdapat dua jenis kesalahannya kepada orang lain
Maryam, Strategi Copy |103

(9) Konversi yaitu mentransfer reaksi psikologi kadang kala mengalami resiko yang
ke gejala fisik. cukup besar.
(10) Displacement yaitu reaksi emosi terhadap (c) Seeking social support yaitu bereaksi
seseorang kemudian diarahkan kepada dengan mencari dukungan dari pihak
seseorang lain luar, baik berupa informasi, bantuan
Strategi Coping Menurut Lazarus dan nyata, maupun dukungan emosional.
Folkman (1984). Lazarus dan Folkman (1984) Contohnya, seseorang yang melakukan
juga secara umum membagi strategi coping seeking social support akan selalu
menjadi dua macam yakni: berusaha menyelesaikan masalah dengan
(1) Strategi coping berfokus pada masalah. cara mencari bantuan dari orang lain di
Strategi coping berfokus pada masalah luar keluarga seperti teman, tetangga,
adalah suatu tindakan yang diarahkan kepada pengambil kebijakan dan profesional,
pemecahan masalah. Individu akan bantuan tersebut bisa berbentuk fisik dan
cenderung menggunakan perilaku ini bila non fisik.
dirinya menilai masalah yang dihadapinya (2) Strategi coping berfokus pada emosi adalah
masih dapat dikontrol dan dapat melakukan usaha-usaha yang bertujuan
diselesaikan. Perilaku coping yang berpusat untuk memodifikasi fungsi emosi tanpa
pada masalah cenderung dilakukan jika melakukan usaha mengubah stressor secara
individu merasa bahwa sesuatu yang langsung. Perilaku coping yang berpusat
kontruktif dapat dilakukan terhadap situasi pada emosi cenderung dilakukan bila
tersebut atau ia yakin bahwa sumberdaya individu merasa tidak dapat mengubah
yang dimiliki dapat mengubah situasi, situasi yang menekan dan hanya dapat
contoh penelitian yang dilakukan oleh Ninno menerima situasi tersebut karena
et al. (1998), yakni strategi coping yang sumberdaya yang dimiliki tidak mampu
digunakan rumahtangga dalam mengatasi mengatasi situasi tersebut, contohnya masih
masalah kekurangan pangan akibat banjir dalam penelitian yang dilakukan oleh Ninno
besar di Bangladesh adalah strategi coping et al. (1998), yakni strategi coping yang
berpusat pada masalah yaitu: melakukan digunakan rumahtangga dalam mengatasi
pinjaman dari bank, membeli makanan masalah pangan akibat banjir besar di
dengan kredit, mengubah perilaku makan Bangladesh berpusat pada emosi adalah
dan menjual aset yang masih dimiliki. Yang pasrah menerima apa adanya, berdo’a dan
termasuk strategi coping berfokus pada mengharapkan bantuan, simpati dan belas
masalah adalah: kasihan dari masyarakat dan pemerintah.
(a) Planful problem solving yaitu bereaksi Yang termasuk strategi coping berfokus pada
dengan melakukan usaha-usaha tertentu emosi adalah:
yang bertujuan untuk mengubah (a) Positive reappraisal (memberi penilaian
keadaan, diikuti pendekatan analitis positif) adalah bereaksi dengan
dalam menyelesaikan masalah. menciptakan makna positif yang
Contohnya, seseorang yang melakukan bertujuan untuk mengembangkan diri
planful problem solving akan bekerja termasuk melibatkan diri dalam hal-hal
dengan penuh konsentrasi dan yang religius. Contohnya, seseorang
perencanaan yang cukup baik serta mau yang melakukan positive reappraisal
merubah gaya hidupnya agar masalah akan selalu berfikir positif dan
yang dihadapi secara berlahan-lahan mengambil hikmahnya atas segala
dapat terselesaikan. sesuatu yang terjadi dan tidak pernah
(b) Confrontative coping yaitu bereaksi menyalahkan orang lain serta bersyukur
untuk mengubah keadaan yang dapat dengan apa yang masih dimilikinya.
menggambarkan tingkat risiko yang (b) Accepting responsibility (penekanan pada
harus diambil. Contohnya, seseorang tanggung jawab) yaitu bereaksi dengan
yang melakukan confrontative coping menumbuhkan kesadaran akan peran diri
akan menyelesaikan masalah dengan dalam permasalahan yang dihadapi, dan
melakukan hal-hal yang bertentangan berusaha mendudukkan segala sesuatu
dengan aturan yang berlaku walaupun sebagaimana mestinya. Contohnya,
seseorang yang melakukan accepting
104 | JURKAM: Jurnal Konseling Andi Matappa Vol. 1 No.2 Agustus 2017

responsibility akan menerima segala (1) Mengandalkan kemampuan sendiri dari


sesuatu yang terjadi saat ini sebagai keluarga. Untuk mengatasi berbagai masalah
nama mestinya dan mampu yang dihadapinya, keluarga seringkali
menyesuaikan diri dengan kondisi yang melakukan upaya untuk menggali dan
sedang dialaminya. mengandalkan sumberdaya yang dimiliki.
(c) Self controlling (pengendalian diri) yaitu Keluarga melakukan strategi ini dengan
bereaksi dengan melakukan regulasi baik membuat struktur dan organisasi dalam
dalam perasaan maupun tindakan. keluarga, yakni dengan membuat jadwal dan
Contohnya, seseorang yang melakukan tugas rutinitas yang dipikul oleh setiap
coping ini untuk penyelesaian masalah anggota keluarga yang lebih ketat. Hal ini
akan selalu berfikir sebelum berbuat diharapkan setiap anggota keluarga dapat
sesuatu dan menghindari untuk lebih disiplin dan patuh, mereka harus
melakukan sesuatu tindakan secara memelihara ketenangan dan dapat
tergesa-gesa memecahkan masalah, karena mereka yang
(d) Distancing (menjaga jarak) agar tidak bertanggung jawab terhadap diri mereka
terbelenggu oleh permasalahan. sendiri.
Contohnya, seseorang yang melakukan (2) Penggunaan humor. Menurut Hott (dalam
coping ini dalam penyelesaian masalah, Friedman, 1998), perasaan humor
terlihat dari sikapnya yang kurang peduli merupakan aset yang penting dalam keluarga
terhadap persoalan yang sedang dihadapi karena dapat memberikan perubahan sikap
bahkan mencoba melupakannya seolah- keluarga terhadap masalah yang dihadapi.
olah tidak pernah terjadi apa-apa. Humor juga diakui sebagai suatu cara bagi
(e) Escape avoidance (menghindarkan diri) seseorang untuk menghilangkan rasa cemas
yaitu menghindar dari masalah yang dan stres.
dihadapi. Contohnya, seseorang yang (3) Musyawarah bersama (memelihara ikatan
melakukan coping ini untuk keluarga). Cara untuk mengatasi masalah
penyelesaian masalah, terlihat dari dalam keluarga adalah: adanya wak-tu untuk
sikapnya yang selalu menghindar dan bersama-sama dalam keluarga, saling
bahkan sering kali melibatkan diri mengenal, membahas masalah bersama,
kedalam perbuatan yang negatif seperti makan malam bersama, adanya kegiatan
tidur terlalu lama, minum obat-obatan bersama keluarga, beribadah bersama,
terlarang dan tidak mau bersosialisasi bermain bersama, bercerita pada anak
dengan orang lain. sebelum tidur, menceritakan pengalaman
Jenis coping mana yang akan digunakan pekerjaan maupun sekolah, tidak ada jarak
dan bagaimana dampaknya, sangat tergantung diantara anggota keluarga. Cara seperti ini
pada jenis stres atau masalah yang dihadapi dapat membawa keluarga lebih dekat satu
(Evans & Kim, 2013). Pada situasi yang masih sama lain dan memelihara serta dapat
dapat berubah secara konstruktif (seperti mengatasi tingkat stres, ikut serta dengan
mengalami kelaparan akibat bencana) strategi aktivitas setiap anggota keluarga merupakan
yang digunakan adalah problem focused. Pada cara untuk menghasilkan suatu ikatan yang
situasi yang sulit seperti kematian pasangan, kuat dalam sebuah keluarga.
strategi coping yang dipakai adalah emotion (4) Memahami suatu masalah. Salah satu cara
focused, karena diharapkan individu lebih untuk menemukan coping yang efektif
banyak berdo’a, bersabar dan tawakkal. adalah menggunakan mekanisme mental
Keberhasilan atau kegagalan dari coping dengan memahami masalah yang dapat
tersebut akan menentukan apakah reaksi mengurangi atau menetralisir secara kognitif
terhadap stres akan menurun dan terpenuhinya terhadap bahaya yang dialami. Menambah
berbagai tuntutan yang diharapkan (Rutter, 2013; pengetahuan keluarga merupakan cara yang
Compas, et al., 2014). paling efektif untuk mengatasi stresor yaitu
Strategi Coping Menurut Friedman. Menurut dengan keyakinan yang optimis dan
Friedman (1998), terdapat dua tipe strategi penilaian yang positif. Menurut Folkman et
coping keluarga, yaitu internal atau intrafamilial al. (Friedman, 1998), keluarga yang
dan eksternal atau ekstrafamilial. Ada tujuh menggunakan strategi ini cenderung melihat
strategi coping internal, yaitu : segi positif dari suatu kejadian yang
Maryam, Strategi Copy |105

penyebab stres. eksternal yang utama. Pendukung sosial ini


(5) Pemecahan masalah bersama. Pemecahan dapat diperoleh dari sistem kekerabatan
masalah bersama dapat digambarkan sebagai keluarga, kelompok profesional, para tokoh
suatu situasi dimana setiap anggota keluarga masyarakat dan lain-lain yang didasarkan
dapat mendiskusikan masalah yang dihadapi pada kepentingan bersama. Menurut Caplan
secara bersama-sama dengan mengupayakan (dalam Friedman, 1998), terdapat tiga
solusi atas dasar logika, petunjuk, persepsi sumber umum dukungan sosial yaitu
dan usulan dari anggota keluarga yang penggunaan jaringan dukungan sosial
berbeda untuk mencapai suatu kesepakatan. informal, penggunaan sistem sosial formal,
(6) Fleksibilitas peran. Fleksibilitas peran dan penggunaan kelompok-kelompok
merupakan suatu strategi coping yang kokoh mandiri. Penggunaan jaringan sistem
untuk mengatasi suatu masalah dalam dukungan sosial informal yang biasanya
keluarga. Pada keluarga yang berduka, diberikan oleh kerabat dekat dan tokoh
fleksibilitas peran adalah sebuah strategi masyarakat. Penggunaan sistem sosial formal
coping fungsional yang penting untuk dilakukan oleh keluarga ketika keluarga
membedakan tingkat berfungsinya sebuah gagal untuk menangani masalahnya sendiri,
keluarga. maka keluarga harus dipersiapkan untuk
(7) Normalisasi. Salah satu strategi coping beralih kepada profesional bayaran untuk
keluarga yang biasa dilakukan untuk memecahkan masalah. Penggunaan
menormalkan keadaan sehingga keluarga kelompok mandiri sebagai bentuk dukungan
dapat melakukan coping terhadap sebuah sosial dilakukan melalui organisasi.
stressor jangka panjang yang dapat merusak (4) Mencari dukungan spiritual. Beberapa studi
kehidupan dan kegiatan keluarga. Knafl dan mengatakan keluarga berusaha mencari
Deatrick (dalam Friedman, 1998) dukungan spiritual anggota keluarga untuk
mengatakan bahwa normalisasi merupakan mengatasi masalah. Kepercayaan kepada
cara untuk mengkonseptualisasikan Tuhan dan berdoa merupakan cara paling
bagaimana keluarga mengelola penting bagi keluarga dalam mengatasi stres.
ketidakmampuan seorang anggota keluarga, Sumberdaya coping dapat diartikan
sehingga dapat menggambarkan respons segala sesuatu yang dimiliki keluarga baik
keluarga terhadap stres. bersifat fisik dan non fisik untuk membangun
Sedangkan strategi coping eksternal ada perilaku coping (Allen, Zebrack, Wittman,
empat yaitu: Hammelef & Morris, 2014; Hand, Hicks & Bahr
(1) Mencari informasi. Keluarga yang 2015). Sumberdaya coping tersebut bersifat
mengalami masalah rnemberikan respons subjektif sehingga perilaku coping bisa
secara kognitif dengan mencari pengetahuan bervariasi pada setiap orang (Maschi, Viola,
dan informasi yang berubungan dengan Morgen, & Koskinen, 2015). Menurut Lazarus
stresor. Hal ini berfungsi untuk mengontrol dan Folkman (1984), cara seseorang atau
situasi dan mengurangi perasaan takut keluarga melakukan strategi coping
terhadap orang yang tidak dikenal dan tergantung pada sumberdaya yang dimiliki.
membantu keluarga menilai stresor secara Adapun sumberdaya tersebut antara lain:
lebih akurat. (1) Kondisi kesehatan. Sehat didefinisikan sebagai
(2) Memelihara hubungan aktif dengan status kenyamanan menyeluruh dari jasmani,
komunitas. Coping berbeda dengan coping mental dan sosial, dan bukan hanya tidak adanya
yang menggunakan sistem dukungan sosial. penyakit atau kecacatan. Kesehatan mental
Coping ini merupakan suatu coping keluarga diartikan sebagai kemampuan berfikir jernih dan
yang berkesinambungan, jangka panjang dan baik, dan kesehatan sosial memiliki kemampuan
bersifat umum, bukan sebuah coping yang untuk berbuat dan mempertahankan hubungan
dapat meningkatkan stresor spesifik tertentu. dengan orang lain. Kesehatan jasmani adalah
Dalam hal ini anggota keluarga adalah dimensi sehat yang nyata dan memiliki fungsi
pemimpin keluarga dalam suatu kelompok, mekanistik tubuh. Kondisi kesehatan sangat
organisasi dan kelompok komunitas. diperlukan agar seseorang dapat melakukan
(3) Mencari pendukung sosial. Mencari coping dengan baik agar berbagai permasalahan
pendukung sosial dalam jaringan kerja sosial yang dihadapi dapat diselesaikan dengan baik
keluarga merupakan strategi coping keluarga (Peters, Adam, Alonge, Agyepong & Tran,
106 | JURKAM: Jurnal Konseling Andi Matappa Vol. 1 No.2 Agustus 2017

2014). strategi problem-focused coping dan


(2) Kepribadian adalah perilaku yang dapat menghindari strategi avoidance coping
diamati dan mempunyai ciri-ciri biologi, dalam menyelesaikan berbagai masalah.
sosiologi dan moral yang khas baginya yang (5) Aset ekonomi. Keluarga yang memiliki aset
dapat membedakannya dari kepribadian ekonomi akan mudah dalam mela- kukan
yang lain (Littauer, 2002). Pendapat lain coping untuk penyelesaian masalah yang
menyatakan bahwa kepribadian adalah ciri, sedang dihadapi. Namun demikian, tidak
karakteristik, gaya atau sifat-sifat yang berimplikasi terhadap bagaimana keluarga
memang khas dikaitkan dengan diri tersebut dapat menggunakannya (Lazarus &
seseorang. Dapat dikatakan bahwa Folkman, 1984). Menurut Bryant (1990) aset
kepribadian itu bersumber dari bentukan- adalah sumberdaya atau kekayaan yang
bentukan yang terima dari lingkungan, dimiliki keluarga. Aset akan berperan sebagai
misalnya bentukan dari keluarga pada masa alat pemuas kebutuhan. Oleh karena itu,
kecil dan juga bawaan sejak lahir misalnya keluarga yang memiliki banyak aset
orang tua membiasakan anak untuk cenderung lebih sejahtera jika dibandingkan
menyelesaikan pekerjaannya sendiri, dengan keluarga yang memilki aset terbatas.
menyelesaikan setiap permasalahan bersama-
sama, tidak mudah tersinggung/marah dan SIMPULAN DAN SARAN
harus selalu bersikap optimis. Menurut
Maramis (1998), kepribadian dapat Strategi coping yang dikemukakan oleh
digolongkan menjadi dua yaitu: (a) Stuart dan Sundeen (1991) dan Lazarus dan
Introvert, adalah orang yang suka Folkman (1984) memiliki beberapa persamaan
memikirkan tentang diri sendiri, banyak yaitu secara garis besar strategi coping dilakukan
fantasi, lekas merasakan kritik, menahan dengan dua cara yaitu berfokus pada masalah
ekspresi emosi, lekas tersinggung dalam dan berfokus pada emosi. Coping berfokus pada
diskusi, suka membesarkan kesalahannya, masalah menurut Stuart dan Sundeen (1991)
analisis dan kritik terhadap diri sendiri dan dapat dilakukan dengan cara konfrontasi dan
pesimis; dan (b) Ekstrovert, adalah orang kompromi, hal yang sama juga dikatakan oleh
yang melihat kenyataan dan keharusan, Lazarus dan Folkman (1984) bahwa coping
tidak lekas merasakan kritikan, ekspresi berfokus pada masalah dapat dilakukan dengan
emosinya spontan, tidak begitu merasakan confrontative dan seeking social support. Kedua
kegagalan, tidak banyak mengadakan jenis strategi coping memiliki pengertian yang
analisis dan kritik terhadap diri sendiri, sama. Selain persamaan ada juga perbedaan dari
terbuka, suka berbicara dan optimis. kedua pendapat tersebut yaitu pada coping yang
(3) Konsep diri. Menurut Maramis (1998), berfokus pada masalah yang dikemukakan oleh
konsep diri adalah semua ide, pikiran, Stuart dan Sundeen (1991) menambahkan isolasi
kepercayaan dan pendirian seseorang yang dan Lazarus dan Folkman (1984) memasukkan
diketahui dalam berhubungan dengan orang planful problem solving, kedua coping tersebut
lain. Konsep diri dipelajari melalui kontak memiliki pengertian yang bertolak belakang.
sosial dan pengalaman berhubungan dengan Persamaan coping yang berfokus pada
orang lain misalnya orang tua yang emosi yang dikemukakan oleh Stuart dan
menginginkan anak-anaknya tetap sekolah Sundeen dengan Lazarus dan Folkman yaitu
walaupun dalam keadaan darurat, pada hal-hal yang positif yakni identifikasi dan
sehingga berupaya keras mencarikan sublimasi dengan positive reappraisal, accepting
sekolah untuk anaknya. responsibility dan self controlling. Perbedaan
(4)Dukungan sosial adalah adanya keterlibatan kedua pendapat tersebut adalah strategi coping
orang lain dalam menyelesaikan masalah. berfokus pada emosi yang dikemukakan oleh
Individu melakukan tindakan kooperatif dan Stuart dan Sundeen lebih banyak yang mengarah
mencari dukungan dari orang lain, karena kepada perilaku yang negatif atau tidak
sumberdaya sosial menyediakan dukungan menguntungkan seperti denial, rasionalisasi,
emosional, bantuan nyata dan bantuan kompensasi, represi, regresi, konversi, proyeksi
informasi. Menurut Holahan dan Moos dan displacement. Strategi coping yang berfokus
(1987), orang yang mempunyai cukup pada emosi yang dikemukakan oleh Lazarus dan
sumberdaya sosial cenderung menggunakan Folkman lebih banyak hal-hal yang positif
Maryam, Strategi Copy |107

seperti positive reappraisal, accenting Maryam, S. (2017). Stres keluarga: Model dan
responsibility dan self controlling. pengukurannya. Psikoislamedia: Jurnal
Psikologi, 1(2), 335-343.
DAFTAR RUJUKAN Maschi, T., Viola, D., Morgen, K., & Koskinen,
L. (2015). Trauma, stress, grief, loss, and
Allen, J. O., Zebrack, B., Wittman, D., separation among older adults in prison:
Hammelef, K., & Morris, A. M. (2014). The protective role of coping resources
Expanding the NCCN guidelines for on physical and mental well-
distress management: a model of barriers being. Journal of Crime and
to the use of coping resources. The Justice, 38(1), 113-136.
Journal of community and supportive Ninno, C., Dorosh, P.A., Smith, L.C., & Roy,
oncology, 12(8), 271-277. D.K. (1998). Floods in bangladesh:
Bryant, W. K. (1990). The economic Disaster impacts, household coping
organization of the household. strategies, and response. Washinton,
Cambridge University Press. D.C. : International Food Folicy
Compas, B. E., Jaser, S. S., Dunbar, J. P., Research Institute.
Watson, K. H., Bettis, A. H., Gruhn, M. Östlund, U., & Persson, C. (2014). Examining
A., & Williams, E. K. (2014). Coping family responses to Family Systems
and emotion regulation from childhood Nursing interventions: An integrative
to early adulthood: Points of review. Journal of Family
convergence and divergence. Australian Nursing, 20(3), 259-286.
journal of psychology, 66(2), 71-81. Peters, D. H., Adam, T., Alonge, O., Agyepong,
Evans, G. W., & Kim, P. (2013). Childhood I. A., & Tran, N. (2014). Republished
poverty, chronic stress, self‐regulation, research: Implementation research: what
and coping. Child Development it is and how to do it Implementation
Perspectives, 7(1), 43-48. research is a growing but not well
Friedman, J. (1998). Family nursing: Theory and understood field of health research that
practice (ed.3). California: Appleton & can contribute to more effective public
Lange. health and clinical policies and
Haber, A. & Runyon, R.P. (1984). Psychology of programmes. This article provides a
adjustment. Homewood, Illinois: The broad definition of implementation
Dorsey Press. research and outlines key principles for
Hand, L. E., Hicks, R., & Bahr, M. (2015). how to do it. British journal of sports
Relationships among transformational medicine, 48(8), 731-736.
and transactional leadership styles, role
pressures, stress levels, and coping Rutter, M. (2013). Annual research review:
resources in senior Queensland catholic resilience–clinical implications. Journal
education executives. Review of Business of Child Psychology and
Research, 15(1), 43-54. Psychiatry, 54(4), 474-487.
Holahan, C. J., & Moos, R. H. (1987). Personal Sarafino, E. 2002. Health psychology. England:
and contextual determinants of coping John Willey and Sons.
strategies. Journal of personality and Sheidow, A. J., Henry, D. B., Tolan, P. H., &
social psychology, 52(5), 946. Strachan, M. K. (2014). The role of
Lazarus, R.S & Folkman, S. (1984). Stress, stress exposure and family functioning in
appraisal, and coping. New York : internalizing outcomes of urban
McGraw-Hill, Inc. families. Journal of child and family
Littauer, F. (2002). Personality plus for parents. studies, 23(8), 1351-1365.
Binarupa Aksara: Jakarta. Stuart & Sundeen. 1991. Pocket guide to
Maramis, W.F. (1998). Catatan ilmu kedokteran psyhiatric nursing (ed. 3). The Mosby
jiwa (ed.8). Surabaya : Universitas Company : Toronto.
Airlangga. Yani, A. S. 1997. Analisis konsep koping: Suatu
pengantar. Jurnal Keperawatan
Indonesia: Jakarta