Anda di halaman 1dari 33

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Rumah sakit merupakan salah satu industri jasa yaitu jasa kesehatan. Sebagai
suatu industri jasa maka rumah sakit tentunya juga harus menjalankan fungsi-fungsi
bisnis dalam manajerialnya, salah satunya adalah bagaimana menghasilkan suatu
produk jasa yang bermutu atau berkualitas. Apabila rumah sakit tidak memperhatikan
kualitas pelayanannya maka akan ditinggalkan oleh pelanggannya yang menyebabkan
kerugian bagi semua pihak baik petugas, pengelola atau pemilik rumah sakit sehingga
tidak mendapatkan pendapatannya. Pengguna atau pelanggan juga akan ikut
dirugikan karena berkurang atau tidak mendapatkan layanan yang bermutu apalagi
bagi masyarakat yang tidak mampu untuk memilih rumah sakit lain sesuai dengan
keinginannya. Kemampuan rumah sakit dalam menyampaikan kualitas pelayanan
kesehatan yang baik merupakan harapan bagi setiap masyarakat ketika datang untuk
melakukan konsultasi atas permasalahan kesehatan yang sedang mereka rasakan.
Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) merupakan lembaga yang dibentuk
untuk menyelenggarakan program jaminan sosial di Indonesia menurut Undang-
Undang Nomor 40 Tahun 2004 dan Undang-undang Nomor 24 Tahun 2011. Sesuai
Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2004 tentang Sistem Jaminan Sosial Nasional,
BPJS merupakan badan hukum nirlaba. Berdasarkan Undang-undang Nomor 24
Tahun 2011, BPJS akan menggantikan sejumlah lembaga jaminan sosial yang ada di
Indonesia yaitu lembaga asuransi jaminan kesehatan PT. Askes
Indonesia menjadi BPJS Kesehatan dan lembaga jaminan sosial ketenaga kerjaan PT.
Jamsostek menjadi BPJS Ketenagakerjaan. Transformasi PT Askes dan PT
Jamsostek menjadi BPJS dilakukan secara bertahap. Pada awal 2014, PT Askes akan
menjadi BPJS Kesehatan, selanjutnya pada 2015 giliran PT Jamsostek menjadi BPJS
Ketenagakerjaan.

1
Pelayanan medik khususnya medik spesialistik merupakan salah satu ciri dari
Rumah Sakit yang membedakan antara Rumah Sakit dengan fasilitas pelayanan
lainnya. Kontribusi pelayanan medik pada pelayanan di Rumah Sakit cukup besar dan
ditinjau dari berbagai aspek, antara lain aspek jenis pelayanan, aspek keuangan,
pemasaran, etika dan hukum maupun administrasi dan manajemen Rumah Sakit itu
sendiri. Bukan rahasia lagi pengaturan pelayanan medik khususnya medik spesialistik
sampai saat ini masih menghadapi berbagai kendala yaitu tenaga spesialis masih
kurang dan belum merata di berbagai daerah di Indonesia, ketidakseimbangan tenaga
medik dengan sarana dan prasarana alat kesehatan antara Rumah Sakit Pemerintah
dan Rumah Sakit Swasta, berbagai peraturan yang belum dilaksanakan dengan baik,
perilaku dokter sebagai tenaga medis dan lain-lain yang pada akhirnya sangat
mempengaruhi kualitas pelayanan medik di Rumah Sakit. Adanya krisis moneter
membuat pembiayaan kesehatan makin meningkat, sedangkan daya beli masyarakat
makin menurun. Hal ini cukup mempengaruhi pelayanan Rumah Sakit khususnya
pelayanan medik. Di lain pihak saat ini Rumah Sakit menghadapi era globalisasi
dengan persaingan dari pihak Penanam Modal Asing yang lebih unggul baik dari segi
sumber daya manusia (SDM), sarana dan prasarana maupun keuangannya.
Rawat jalan salah satu bentuk dari pelayanan medis. Instalasi Rawat Jalan
adalah unit pelayanan berada di bawah dan bertanggung jawab kepada Direktur
Medik dan Keperawatan, serta mempunyai tugas dan fungsi menyediakan fasilitas
terhadap penyelenggaraan kegiatan pelayanan Poliklinik Rawat Jalan dari berbagai
disiplin ilmu kedokteran klinik.
Salah satu program mata kuliah di Program Magister Ilmu Kesehatan Masyarakat
Bidang Peminatan Manajemen Administrasi Rumah Sakit Universitas Sam Ratulangi
adalah melaksanakan residensi rumah sakit. Residensi di rumah sakit adalah suatu
proses belajar mengajar yang melibatkan mahasiswa secara aktif dalam kegiatan
administrasi rumah sakit dalam rangka untuk memperoleh pengalaman praktis dengan
menggunakan pendekatan sistem dan pemecahan masalah, serta diagnosis organisasi.

2
Poliklinik bedah merupakan suatu unit yang kompleks dari bagian pelayanan
rawat jalan. Hal ini disebabkan oleh pelayanannya harus ditunjang dengan berbagai
jenis peralatan dan bahan yang fungsional. Ketersedian alat pada poliklinik bedah ini
haruslah sesuai dengan standar peralatan dan dapat bekerja optimal untuk menunjang
kualitas pelayanan.
Merujuk pada permasalahan tersebut diatas yang memberi dampak pada
pelayanan medik di rumah sakit R. W. Mongisidi Manado, maka selama menjalankan
proses residensi penulis tertarik untuk menganalisa tentang Pengelolaan Pasien BPJS
di Instalasi Rawat Jalan Poliklinik Bedah Rumah Sakit R. W. Mongisidi Manado.

B. Rumusan Masalah
Untuk mempelajari dan mendapatkan gambaran umum mengenai Pengelolaan
Pasien BPJS di Instalasi Rawat Jalan Poliklinik Bedah RS. R. W. MONGISIDI

C. Tujuan Residensi
Tujuan Umum

Sebagai mahasiswa untuk memahami suatu unit pelayanan rawat jalan serta
memiliki bekal keterampilan dasar untuk mengelolah rumah sakit berdasarkan teori
yang sudah diperoleh saat kuliah dan bagaimana penerapannya di lapangan.

Tujuan Khusus

1. Untuk memahami ruang lingkup unit pelayanan rawat jalan khususnya di


poliklinik bedah serta manajemen kegiatan pelayanannya.
2. Untuk mengamati ketersediaan sumber daya manusia, distribusi peralatan dan
bahan, serta mampu menggali faktor-faktor yang mempengaruhi tidak
optimalnya fungsi pelayanan di poliklinik bedah.
3. Mampu memberikan alternatif pemecahan masalah kepada pihak rumah sakit
berupa evaluasi, saran dan usulan, sesuai dengan permasalahan yang ditemui.

3
D. Manfaat Residensi
1. Bagi mahasiswa
a. Mendapat pengalaman nyata dan terpapar dengan pelaksanaan manajemen
baik di unit kerja maupun di tingkat Rumah Sakit
b. Mendapat pengalaman mengenai penerapan teori yang didapatkan selama
kuliah.
c. Mampu mengidentifikasi masalah-masalah manajemen secara komprehensif,
berdasarkan kajian dengan metode yang telah dipelajari, sekaligus mempunyai
kesempatan ikut serta dalam proses pemecahan masalah manajemen rumah
sakit.
d. Mempunyai kesempatan menggali isu-isu yang dapat dijadikan topik
penulisan tesis.
e. Merupakan kesempatan untuk menunjukan kemampuan pribadi sebagai
seorang manager yang handal.
2. Bagi rumah sakit tempat residensi
a. Dapat memanfaatkan tenaga terdidik untuk kepentingan manajemen rumah
sakit.
b. Mempunyai kesempatan untuk merekrut tenaga manajemen rumah sakit.
c. Mempunyai sumber informasi tentang pendidikan di IKM KARS Pasca
Sarjana Universitas Sam Ratulangi, sehingga terbuka kemungkinan untuk
melakukan kerja sama lebih lanjut dalam bidang manajerial maupun
perumahsakitan.
3. Bagi program studi IKM KARS Pasca Sarjana Universitas Sam Ratulangi
a. Dapat mengetahui kekurangan dalam pemberian materi kuliah dan
pembekalan kepada mahasiswa, sehingga mempunyai informasi untuk
meningkatkan kualitas pelayanan.
b. Mempunyai data dan informasi yang lengkap tentang rumah sakit yang dapat
dijadikan base KARS.

4
c. Terbinanya hubungan kerjasama yang saling menguntungkan bagi program
studi maupun rumah sakit.
d. Mempunyai bahan dan kasus yang dapat diberikan kepada angkatan
berikutnya sebagai studi kasus.

5
BAB II
PROFIL RUMAH SAKIT

A. PROFIL RUMAH SAKIT R.W. MONGISIDI MANADO


Rumah Sakit Tk III 07.06.01 Manado merupakan rumah sakit TNI-AD di wilayah
Sulawesi Utara yang secara struktural dan teknis medis dibawah pembinaan
Denkesyah 07.04.01 Manado dan Kesdam VII/Wirabuana, namun dalam
operasionalnya dibawah pengendalian dan pengawasan Korem 131/Santiago. Dalam
melaksanakan tugas pokok, rumah sakit berpedoman pada Organisasi dan Tugas
Kesdam nomor : KEP/69/XII/2004 yang didalamnya terdapat fungsi dan tugas rumah
sakit Tk III serta berpedoman pada arahan Komandan Korem 131/Santiago maupun
Panglima Kodam VII/Wirabuana.
Rumah Sakit Tk III 07.06.01 Manado melayani personil TNI, Pegawai Negeri
Sipil Hankam dan keluarganya diwilayah korem 131/Santiago yang terdiri dari 6
(enam) wilayah yaitu Kodim 1301/Sangir Talaud, Kodim 1309/Manado, Kodim
1302/Minahasa, Kodim 1303/Bolmong, Kodim 1310/Bitung, dan Kodim
1304/Gorontalo. Berdasarkan Surat Keputusan Menteri Pertahanan dan Keamanan
nomor : KEP/23/X/1990 tanggal 18 Oktober 1990, rumah sakit TNI diperbolehkan
melayani masyarakat umum. Ijin Operasional rumah sakit sudah dikeluarkan
berdasarkan Surat Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia nomor :
YM.02.04.32.4536 tanggal 18 September 2006 berlaku sampai 5 (lima) tahun. Selain
melayani komunitas militer dan sipil di wilayah Manado dan sekitarnya, rumah sakit
ini juga melayani pasien rujukan dari wilayah Kodam VII/Wirabuana maupun dari
luar Kodam seperti dari Ternate dan Ambon.
Dengan adanya otonomi daerah dan pengembangan wilayah seperti Gorontalo
menjadi provinsi tersendiri serta mengantisipasi adanya rencana penambahan satuan
baru di wilayah Korem 131/Santiago, maka kinerja rumah sakit perlu ditingkatkan
dan dikembangkan. Lokasinya yang dekat dengan wilayah Indonesia Timur dan

6
dikelilingi daerah konflik seperti Ambon, Ternate dan Poso, rumah sakit ini sering
menerima pasien rujukan dari ketiga daerah tersebut.

B. FALSAFAH, MOTTO, VISI DAN MISI, TUJUAN


a. FALSAFAH
Tumou tou (mensejahterakan orang lain).

b. MOTTO
Setia hingga akhir.
- Senyum, Sapa, Sopan, Santun
- Empathy, Efektif, Efisien dalam pelayanan
- Tulus, Terampil dan Tanggap atas keluhan dan kebutuhan pelanggan
- Ikhlas dalam pelayanan
- Aman, Akurat dalam pengelolaan Rumah Sakit
- Hati nurani sebagai andalan utama
- Indah dan rapih
- Nyaman dan bersih
- Gagah dan perkasa
- Gesit dan terampil dalam pelayanan
- Aktif dan antusias
- Akrab dan aman dalam bertindak sesuai standar pelayanan dan keselamatan kerja
- Kepentingan pelanggan / pasien diutamakan
- Handal dalam pelayanan
- Inovatif, intensif dalam pencapaian tugas
- Ramah dalam melayani

c. VISI
Menjadi rumah sakit trauma center di kawasan indonesia timur

7
d. MISI
1.Tertib administrasi, manajemen dan rekam medis
2. Pelayanan medis yang optimal
3. Pelayanan gawat darurat yang handal
4. Pelayanan perawatan yang profesional
5. Keselamatan pasien yang prima

e. TUJUAN
Menjadi rumah sakit kebanggaan prajurit dan pns beserta keluarganya di wilayah
korem 131/santiago dan masyarakat umum

C. STRUKTUR ORGANISASI
KEPALA

STAF MEDIK FUNGSIONAL KETUA KOMITE MEDIK

WAKIL KEPALA

KAUR
KABINA YANMED PAURINFOKES KAUR TUUD

KADEP
KADEP BEDAH KADEP KADEP KADEP PENY.
& ANASTESI OBSGYN & IKA GILUT MATA & DALAM &
THT KESWA

KA KA KA KA INTAL KA INSTAL KA INSTAL


INSTAL INSTAL INSTAL JANGDIAG JANGWAT DIK
WATLAN WATNAP FARMASI

8
D. SDM
SDM Rumah Sakit TNI – AD terbagi 3 kategori yaitu Militer, Pns dan Karyawan
Honorer dengan tingkat pendidikan tenaga kesehatan dan non tenaga kesehatan.
Jumlah personil menurut kategori yaitu :
Militer : : 34 Orang
Pns : 37 Orang
Honorer : 281 Orang
Kualitas Sumber Daya Manusia tenaga kesehatan berdasarkan tingkat pendidikan,
15% sudah merupakan lulusan D.III Keperawatan.

NO JENIS TENAGA STATUS KEPEGAWAIAN JUMLAH

MILITER PNS HONOR KONSULEN TAMU

1 Medis
a. Dokter 2 3 17 7 29
Umum
b. Spesialis 3 3 42 48
c. Dokter Gigi
1 1 2 4
2 Perawat
a. SPK 2 4 26 32
b. D III 8 6 117 131
c. S. I Profesi 3 4 21 28
3 Diploma 4 23 27
4 Sarjana Umum 3 1 4 8
5 SD/SMP/SMA 5 5 115 125
TOTAL 27 28 328 7 42 432

9
E. KAPASITAS TEMPAT TIDUR

KELAS
NO2 NAMA RUANGAN JUMLAH

VVIP/VIP I II III

1 RUANG ASOKA 16 16
BOGENVILLE

2 RUANG CENDANA 30 30
& IMC

3 RUANG DAHLIA 2 16 18

4 RUANG 16 10 26
FLAMBOYANT

5 RUANG MELATI 12 10 22

6 RUANG ANGGREK 19 19

7 RUANG MAWAR 11 11

8 ICU 4 4

9 UGD 8 8

10 VK 9 9

TOTAL 30 72 61 163

10
F. PELAYANAN MEDIS
a. Pelayanan Medis:
Medical Check Up
Dr. Umum
Dr. Gigi
Dr. Spesialis/Sub - Spesialis :
 Anak
 Gigi
 Kebidanan & kandungan
 Penyakit Dalam
 Syaraf
 THT
 Mata
 Jantung
 Bedah Tulang
 Rehabilitas Medik
 Ahli Gizi
 Fisioterapi
b. Pelayanan Penunjang :
Laboratorium Patologi Klinik
Laboratorium Patologi Anatomi
General X - Ray
USG
Endoskopi
ESWL
CT - SCAN
MRI
Farmasi
ECG

11
Echocardiografi
Unit Transfusi Darah (UTD)
Cathlab
Laundry

G. Kondisi Fisik
Lahan seluas ± 107.885 m2 Dengan luas bangunan keseluruhan ± 10.085 m2,
Luas bangunan lantai 1 ± 8.570. dan luas lantai bangunan bertingkat ± 1.515 m2.
Terdiri dari Unit Rawat Jalan, Unit Rawat Mondok, Kantor Administrasi, Penunjang
Diagnostik, Apotik, Gudang Obat, Penunjang Perawatan, Penunjang Medis, Kamar
Tindakan, Ruang Operasi, Instalasi Pendidikan dan bangunan lain.
Bangunan Rumah Sakit terdiri dari bangunan lama dan baru yang dibangun
Rumah Sakit dengan biaya sendiri dari dana Yankesmasum maupun dan bantuan dari
Komando atas. bangunan baru adalah Ruang Perawatan VIP, Poliklinik Rawat Jalan,
Ruang Cendana dan IMC, Ruang Melati, Ruang Flamboyant, ICU, Ruang Bedah,
Ruang Pemulasaran Jenazah, Loundry, Dapur. bangunan lama adalah Ruang
Administrasi, Apotik, Unit Gawat Darurat, Ruang Bersalin, Ruang Karumkit, Ruang
Radiologi, Ruang Dahlia, Ruang Laboratorium Ruang Mawar.

H. Material Kesehatan
Secara umum alat kesehatan dalam kondisi baik. Pada Tahun Anggaran
2009/2010, rumah sakit telah menerima alat penunjang kesehatan dari Kementrian
pertahanan berupa peralatan dapur dan laundry. Alat penunjang diagnostik seperti
MRI, CT.Scan, ESWL, Cath Lab kerjasama dengan pihak ke-3 dalam bentuk KSO.
Kebutuhan obat-obatan didukung dari komando atas, restitusi dan pengadaan sendiri.

12
I. Kendaraan
Ada dua kendaraan ambulans : 1 Kendaraan Kijang bantuan dari Mabes TNI, 1
ambulans Mitsubishi bantuan dari Gubernur KDH Tk I Sulawesi Utara kemudian ada
1 kendaraan dinas Suzuki Carry untuk operasional SPK. Untuk pengangkutan jenazah
karena rumah sakit tidak mempunyai kendaraan kereta jenazah, maka pengangkutan
dilakukan oleh kereta jenazah kerjasama dengan perusahaan swasta.

J. Instalasi Pendidikan
Sesuai Skep Kasad Nomor : Skep/76/X/1985 tanggal 28 Oktober 1985 struktur
organisasi dibawah Ka Rumkit terdapat Instalasi Pendidikan Sekolah Perawat
Kesehatan. Pada tanggal 14 Mei 2002 berdasarkan Surat Keputusan Menteri
Kesehatan RI Nomor : HK 00.06.1.1.1701 SPK mendapat ijin konversi menjadi
Akademi Keperawatan. Pada tahun ajaran pertama telah menerima 60 orang
mahasiswa baru, sedang siswa SPK tinggal dua belas yaitu kelas 2 terdiri dari 75
siswa dan kelas 3 sebanyak 57 siswa. Akper mempunyai tenaga guru tetap 12 Orang,
guru tidak tetap 28 orang, pegawai tetap 5 orang dan pegawai honor 13 orang.

K. Unit Gawat Darurat


Unit Gawat Darurat saat ini dimanfaatkan sebagai tempat pelayanan pasien gawat
dan perawatan sementara (One Day Care ) serta dilengkapi dengan ruang operasi
bedah minor.

L. Rawat Jalan
Rawat jalan terdiri dari Poliklinik Umum, Poliklinik Gigi dan Mulut, Poliklinik
Anak, Poliklinik Bedah, Poliklinik Mata, Poliklinik THT, Jantung, PKBRS, BKIA,
ESWL, UTD, dan Radiologi. Pelayanan dibuka setiap hari Senin sampai Jum’at
Mulai Pukul 07.00 hingga jam kerja selesai, kecuail untuk UTD, Radiologi dibuka 1
X 24 jam.

13
M. Rawat Mondok
Rawat mondok terdiri dari ruangan perawatan : Bedah, Interna, Obsgyn, Anak,
Ruang Perawatan Intensif, Ruang Bersalin, Ruang Pasca Bedah, Ruang Perawatan
terbagi dalam beberapa kelas VVIP, VIP tempatnya sesuai dengan pangkatnya. Setiap
hari tempat tidur ruangan disisakan 1 tempat tidur guna cadangan bagi anggota yang
akan dirawat secara mendadak.

N. Kamar Operasi
Rumah Sakit mempunyai 2 kamar operasi yang dipakai secara bergantian oleh
bagian bedah, kandungan, mata, THT. Kemampuan pelayanan meliputi operasi besar,
sedang dan kecil. untuk operasi yang tak ada Dokter ahlinya dirujuk ke Rumah Sakit
Umum Pusat Prof. R. D. Kandow. Tenaga anastesi ditangani sendiri oleh perawat
mahir, namun pada kasus tertentu anastesi dilakukan oleh Dokter ahli anastesi
Rumkit Tk. III 07.06.01 R. W. Mongisidi Manado.

O. Ruang Perawatan Intensif


Ruang perawatan intensif ICU sudah berjalan dengan baik.

P. Pelayanan Rehabilitas Medik


Rumah Sakit Tk. III 07.06.01 R. W. Mongisidi Manado dalam struktur organisasi
terdapat Instalasi Rehab Medik. Instalasi ini sudah berfungsi dengan baik namun
masih terbatas sarana dan prasaran lainnya.

Q. Laboratorium
Laboratorium memperoleh bantuan alat laboratorium dari Depertemen Pertahanan
untuk pemeriksaan darah lengkap. Adanya alat ini pemeriksaan darah menjadi lebih
cepat. Pada tahun 2002 Rumah Sakit membeli alat pemeriksaan kimia darah seharga
Rp. 70.000.000 sebagai pengganti alat lama yang merupakan pinjaman dari
perusahaan dan ditarik karena Rumah Sakit tidak mengambil bagian lagi reagen dari

14
perusahaan tersebut. Pada tahun 2003 diadakan alat laboratorium baru berupa alat
pemeriksaan urine rutin ( Combi Scan ) seharga Rp. 15.000.000.

R. Radiologi
Gedung radiologi saat ini masih ditempati gedung lama. Bagian radiologi
dilengkapi pula EKG, USG, CT-SCAN, ESWL, dan MRI. Pembacaan hasil radiologi
dikerjakan oleh Dokter ahli radiologi langsung di Rumkit Tk. III 07.06.01 R. W.
Mongisidi Manado.

15
BAB III
GAMBARAN UMUM INSTALASI RAWAT JALAN
POLIKLINIK BEDAH

A. Gambaran Umum Instalasi Rawat Jalan


Pelayanan medik khususnya medik spesialistik merupakan salah satu ciri dari
Rumah Sakit yang membedakan antara Rumah Sakit dengan fasilitas pelayanan
lainnya. Kontribusi pelayanan medik pada pelayanan di Rumah Sakit cukup besar dan
ditinjau dari berbagai aspek, antara lain aspek jenis pelayanan, aspek keuangan,
pemasaran, etika dan hukum maupun administrasi dan manajemen Rumah Sakit itu
sendiri.
Rawat jalan salah satu bentuk dari pelayanan medis. Yang dimaksud dengan
rawat jalan adalah pelayanan kedokteran yang disediakan untuk pasien tidak dalam
bentuk rawat inap (Azwar, 1998). Rawat jalan merupakan tempat pemeriksaan pasien
rawat jalan dan mempunyai fungsi sebagai tempat konsultasi dan pemeriksaan pasien
oleh dokter yang ahli dibidang masing-masing untuk penemuan diagnose dini dan
tempat pemeriksaan pertama untuk pengobatan lebih lanjut, yang mempunyai jadwal
pelayanan pada pagi sampai siang selebihnya ditangani oleh instalasi gawat darurat
(Miller, 1995). Instalasi rawat jalan mempunyai tugas dan fungsi menyediakan
fasilitas terhadap penyelenggaraan kegiatan pelayanan Poliklinik Rawat Jalan dari
berbagai disiplin ilmu kedokteran klinik.
Berdasarakan sumber data dari Bagian Rekam Medis, diperoleh gambaran
secara umum mengenai pencapaian volume pelayanan di unit rawat jalan yang
mengalami peningkatan signifikan dari jumlah kunjungan pasien pada tahun 2013
dibandingkan dengan tahun 2011 dan 2012.
Rumah Sakit TNI – AD Teling Manado memiliki fasilitas pelayanan kesehatan
dengan Instalasi Rawat Jalan yang terdiri dari :
a. Poliklinik Umum

16
b. Poliklinik Interna
c. Poliklinik Bedah
d. Poliklinik Mata
e. Poliklinik THT
f. Poliklinik Anak
g. Poliklinik KIA & KB
h. Poliklinik Obstetri & Ginekologi
j. Poliklinik Fisioterapi
k. Poliklinik VCT / TB- Paru
l. Unit Gawat Darurat (UGD) 1x24 Jam
m. Radiologi
n. ESWL (Extracorporeal Shock Wave Lithotripsy)
Pelayanan dibuka setiap hari Senin sampai Jumat Mulai Pukul 07.00 hingga
jam kerja selesai, kecuail untuk UTD, Radiologi dibuka 1 X 24 jam.

17
TABEL 1. DATA KUNJUNGAN PASIEN RAWAT JALAN

8000

7000

6000
DINAS
5000

4000
UMUM,JAMKESMAS &
3000
JAMKESDA
2000

1000

0
2011 2012 2013

Kebijakan Unit Rawat Jalan antara lain :

1. Proses penerimaan pasien rawat jalan diharuskan mendaftar pada loket yang
telah ditentukan untuk mendapatkan pelayanan.
2. Setiap doketr spesialis dapat melakukan tindakan pelayanan medik
3. Perawat Pelaksana Rawat Jalan berijazah pendidikan formal di bidang
keperawatan dari semua jenjang yang di dasarkan oleh pemerintah atau
berwewenang.

18
Alur Pasien Poliklinik (Rawat Jalan)

PENDAFTARAN

KASIR

POLIKLINIK KASIR

PENDAFTARAN
RAWAT INAP APOTIK

PULANG TINDAKAN

LAB

RO

19
B. Gambaran Umum Unit Pelayanan Poliklinik Bedah
1. SDM
No Kualifikasi Kualifikasi Ket
SDM RS Tipe SDM RS R.W.
C Mongisidi
1 Dokter Spesialis 2 2 Tenaga
Tetap

2 Perawat 2 2 Tenaga
Kesehatan Tetap

Sumber : Permenkes No.340/MENKES/PER/III/2010

Dari tabel di atas dapat diketahui bahwa jumlah SDM bagian poliklinik
bedah berdasarkan Permenkes No.340/MENKES/PER/III/2010 tipe C belum
memenuhi standar.

2. Deskripsi Kegiatan
- Prosedur Tetap Perawat Pelaksana Rawat Jalan
1. Menyusun rencana kegiatan harian/ mingguan yang menunjang tugas pokok
2. Menyiapkan fasilitas dan lingkungan poliklinik untuk kelancaran serta
memudahkan klien dalam menerima pelayanan
3. Menyiapkan peralatan/ bahan siap pakai yang dibutuhkan untuk pelayanan
perawatan tertentu
4. Menyiapkan bahan penyuluhan kesehatan yang dibutuhkan
5. Melaksanakan anamnesa sesuai batas kemampuan dan wewenang meliputi:
a. Alasan kunjungan ke poliklinik

20
b. Riwayat keluhan
c. Upaya yang telah dilakukan
d. Menyiapkan pasien untuk tindakan pemeriksaan dokter antara lain:
- Mengatur posisi pasien
- Menciptakan rasa aman dan nyaman selama tindakan pemeriksaan
- Menyiapkan bahan pemeriksaan sesuai kebutuhan antara lain ; blangko
pemeriksaan Laboratorium, Radiologi, Rujukan, Keterangan sakit dll.

3. Jadwal Pelayanan Unit Rawat Jalan Poliklinik Bedah

Jenis Pelayanan Hari Waktu


Poli Bedah Senin – Jumat 08.00 – 15.00

Sumber : Data Sekunder RS. R. W. Mongisidi

4. Daftar Pelayanan Poliklinik Bedah

NO JENIS KEGIATAN PELAYANAN


Bedah Minor
1 Konsultasi
2 Eksterpasi kista atheroma
3 Eksisi tumor kecil, sedang
4 Insisi drainase abses
5 Hecting laserasi
6 Sirkumsisi
Perawatan Luka
1 Konsultasi
2 Rawat Luka post Operasi
3 Rawat Luka DM

21
5. Distribusi Peralatan Poliklinik Bedah

No. Nama Barang Jumlah Keterangan


1 Alat bedah minor 1
2 Bak steril 1
3 Lampu halogen GEA 1
4 Meja instrumen 1
5 Meja operasi 1
6 Meja tindakan 2 1 rusak ringan
7 Meja trolly 1
8 Standar infus 1
9 Sterilisator basah 1
10 Meja kantor 1
11 Kursi 1
12 Lemari kantor 1
13 Meja besi 1
14 Lemari pasien 1

Sumber : Data Sekunder RS. R. W. Mongisidi

22
6. Jumlah Kunjungan Pasien BPJS

Tahun 2014
64
63
62
61
60
Jumlah
59 pasien
58 BPJS
57
56
55
54
Jan Feb Maret

7. Foto Unit Pelayanan Poliklinik Bedah

23
24
BAB IV
IDENTIFIKASI MASALAH

Dengan dilakukannya pengkajian dan analisis data yang ada maka ditemui
masalah-masalah sebagai berikut :
1. Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) melalui Badan Penyelenggara Jaminan
Sosial (BPJS) telah memberikan kemudahan bagi pasien khususnya dalam hal
administrasi. Namun pelaksanaannya belum maksimal karena masih banyak
masyarakat / pasien yang belum memahami dengan baik manfaat, iuran dan
pendaftaran kepersertaan dari program BPJS itu sendiri. Hal ini membawa
pengaruh terhadap rumah sakit karena adanya keluhan terhadap pelayanan
khususnya status kepesertaan dan kelengkapan data pasien.
2. Pasien BPJS tidak mendapatkan pelayanan kesehatan yang bermutu
dikarenakan oleh BPJS hanya akan menjamin pilihan pengobatan yang paling
cost-effective .
3. Obat yang diberikan pada pasien BPJS harus merujuk pada formularium obat
yang telah ditetapkan oleh Menkes tanpa melihat apakah semua jenis obat
yang ada di dalam formularium sesuai dengan kegunaan medis.
4. Kurangnya pengetahuan petugas kesehatan atau pemberi pelayanan kesehatan
(PPK) yang baik mengenai program BPJS untuk menentukan tindakan-
tindakan medis yang sesuai dengan yang telah ditentukan oleh program BPJS.
5. Harga beberapa tindakan pengobatan dan klaim BPJS dianggap tidak setara
dengan yang seharusnya sehingga mengakibatkan rumah sakit harus
menanggung selisih biaya pengobatan.
6. Unit pelayanan rawat jalan poliklinik bedah Rumah Sakit R.W Mongisidi
memiliki 2 dokter spesialis dan 2 perawat. Jumlah SDM bagian poliklinik
bedah berdasarkan Permenkes No.340/MENKES/PER/III/2010 tipe C belum

25
memenuhi standar. Hal ini menunjukkan kurangnya tenaga kesehatan yang
diperlukan untuk menunjang pelayanan kesehatan.
7. Salah satu peralatan utama yaitu meja tindakan dalam keadaan rusak dan
sampai saat ini belum selesai diperbaiki. Meja tindakan sangat diperlukan
untuk melakukan tindakan bedah minor ataupun perawatan luka pada pasien.
Alasan keterlambatan perbaikan alat adalah karena belum dapat menghubungi
teknisi sehingga perbaikan meja tindakan menjadi tertunda. Bila dibiarkan hal
ini dapat mempengaruhi kualitas pelayanan rumah sakit khususnya di
poliklinik bedah dan juga mendatangkan kerugian bagi pihak rumah sakit.
8. Peralatan penunjang lainnya yang juga mempunyai peran penting dalam
meningkatkan pelayanan poliklinik bedah seperti alat-alat bedah minor masih
belum mencukupi.

26
Fish Bone

MAN MONEY

Belum ada
teknisi lokal Harga BPJS
Kurangnya yang Selisih tidak setara
tenaga kompeten biaya dengan
kesehatan ditanggung beberapa
(dokter RS tindakan
spesialis)
Pengelolaan
pasien BPJS poli
Kurangnya bedah belum
Alat rusak informasi optimal
belum BPJS
selesai (-)
diperbaiki peralatan
penunjang
Keterlambatan
regulasi
pemerintah

MACHINE
METODE

27
BAB V

ALTERNATIF PEMECAHAN MASALAH

Sejak diberlakukannya Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) melalui Badan


Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) masih terdapat masalah yang ditemui di
Poliklinik Bedah Rumah sakit R.W. Mongisidi yang dapat mempengaruhi kualitas
pelayanan.
Berikut ini merupakan alternatif pemecahan masalah untuk menunjang pelayanan
poliklinik bedah di rumah sakit R.W. Mongisidi Manado :
 Man :
1. Penambahan tenaga kesehatan atau tenaga dokter spesialis maupun
perawat sesuai dengan standar Rumah Sakit tipe C menurut Permenkes
No.340/MENKES/PER/III/2010 yaitu mempunyai 4 tenaga tetap dokter
spesialis.
2. Merekrut teknisi lokal yang berkompeten dan telah terlatih untuk
bertanggung jawab pada alat-alat fungsional di poliklinik bedah. Hal ini
diperlukan agar dapat memaksimalkan pelayanan yang ditunjang oleh
fasilitas kesehatan yang dapat berfungsi dengan baik.

 Machine :
1. Salah satu perlatan utama yaitu meja tindakan dalam keadaan rusak dan
sampai saat ini belum selesai diperbaiki. Hal ini dapat dilakukan dengan
menghubungi teknisi yang berkompeten untuk memperbaiki alat tersebut.
Kurangnya perhatian terhadap perbaikan peralatan medis dapat
menurunkan kualitas pelayanan. Peralatan yang lengkap dan dapat
berfungsi dengan baik sangat menunjang pelayanan kesehatan pada
pasien.

28
2. Perlunya penambahan alat penunjang medis seperti alat-alat yang
diperlukan untuk melakukan bedah minor maupun perawatan luka.

 Metode :
1. Pelaksanaan Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) melalui Badan
Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) masih membingungkan peserta
maupun pemberi pelayanan kesehatan. Peserta masih belum memahami
dengan baik alur maupun status kepersertaan mereka. Pemberi pelayan
kesehatan juga masih belum memahami dengan baik tindakan-tindakan
medis apa yang sesuai dengan program BPJS. Perlu adanya sosialisasi
yang memberikan pengertian yang jelas pada peserta BPJS maupun
pemberi pelayanan kesehatan.
2. Pasien BPJS juga perlu mendapatkan pengobatan yang tidak hanya cost-
effective, namun juga dapat memberikan apa yang menjadi keinginan
pasien bukan hanya kebutuhannya. Begitu juga dengan obat yang
diberikan bagi pasien BPJS harus merujuk pada formularium obat generik
yang telah ditentukan Menkes, belum tentu semua obat yang ada pada
formularium tersebut sesuai dengan kegunaan medis. Untuk itu
perusahaan farmasi BUMN perlu untuk memproduksi semua jenis obat
generik yang diperlukan, jangan sampai ada jenis obat yang luput dari
formularium obat nasional.
3. Pembuatan regulasi BPJS harus segera direalisasikan untuk dapat
mengurangi masalah-masalah dalam pelaksanaan BPJS di rumah sakit.

 Money :
Harga beberapa tindakan pengobatan dalam klaim BPJS dianggap tidak setara
dengan yang seharusnya. Beberapa selisih biaya pengobatan menjadi
tanggungan pihak rumah sakit. Namun hal ini telah menjadi pengelolaan
internal Rumah Sakit.

29
Bagian keuangan dan akuntansi harus memiliki perhatian lebih terhadap
sistem akuntansi, terutama dalam hal membuat laporan keuangan. Laporan
keuangan ini harusnya bisa digunakan sebagai dasar untuk keputusan-
keputusan manajemen rumah sakit, seperti menaikkan gaji karyawan,
pembuatan unit baru, perekrutan tenaga medis dan paramedis, pembelian
alkes serta subsidi untuk pasien yang tidak mampu. Evaluasi terhadap setiap
unit cost sangat perlu dilakukan, untuk mengetahui unit yang mengalami
kenaikan pendapatan dan tidak, sehingga operasionalisasinya harus
diefisiensikan.

30
BAB VI
KESIMPULAN DAN SARAN

A. KESIMPULAN
Berdasarkan hasil pengumpulan data maupun wawancara yang dilakukan di
poliklinik bedah Rumah Sakit R.W.Mongisidi, dapat disimpulkan bahwa masih
terdapat masalah-masalah yang berhubungan dengan pelaksanaan program
Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) dan Badan Penyelenggara Jaminan Nasional
(BPJS). Mulai dari kurangnya pengetahuan peserta maupun pemberi pelayanan
kesehatan mengenai program BPJS, pasien BPJS tidak mendapatkan pelayanan
kesehatan yang bermutu dikarenakan oleh BPJS hanya akan menjamin pilihan
pengobatan yang paling cost-effective, obat yang diberikan pada pasien BPJS
harus merujuk pada formularium obat yang telah ditetapkan oleh Menkes tanpa
melihat apakah semua jenis obat yang ada di dalam formularium sesuai dengan
kegunaan medis, dan juga harga beberapa tindakan dengan klaim BPJS tidak
setara sehingga sebagian harga menjadi tanggungan rumah sakit.
Pada poliklinik bedah juga ditemukan adanya masalah seperti kurangnya
tenaga tetap dokter spesialis yang diperlukan sesuai dengan peraturan Permenkes
No.340/MENKES/PER/III/2010 mengenai rumah sakit tipe C, salah satu meja
tindakan dalam keadaan rusak berat, dan kurangnya peralatan bedah yang
diperlukan untuk menunjang pelayanan di poliklinik bedah.
Rumah sakit merupakan organisasi pelayanan jasa yang mempunyai
kespesifikan dalam hal sumber daya manusia, sarana prasarana, dan peralatan
medis yang dipakai. Untuk meningkatkan pelayanan yang diberikan pemberi
pelayanan kesehatan harus dapat memahami dengan baik tentang program BPJS
agar dapat menunjang pelayanan yang akan diberikan kepada peserta. Peserta atau
pasien BPJS juga perlu mendapatkan sosialisasi yang baik mengenai program
tersebut.

31
B. SARAN
Laporan hasil residensi ini kiranya dapat menjadi masukan positif bagi
pihak rumah sakit maupun poliklinik bedah agar dapat meningkatkan
pelayanan bagi masyarakat khususnya pasien BPJS.
Beberapa saran yang dapat dilaksanakan adalah sebagai berikut :
1. Memberikan sosialisasi bagi peserta BPJS tentang program pemerintah
yaitu Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) maupun Badan Penyelenggara
Jaminan Nasional (BPJS).
2. Sosialisasi bagi pemberi pelayanan kesehatan (PPK) agar dapat
mengetahui tindakan-tindakan medis yang dapat dilakukan sesuai dengan
program BPJS.
3. Merekrut teknisi lokal agar dapat segera memperbaiki alat medis yang
rusak.
4. Penambahan alat penunjang medis yang kurang untuk melakukan
perawatan bedah minor maupun perawatan luka.
5. Pemerintah perlu membuat regulasi BPJS agar program tersebut dapat
berjalan dengan baik.

32
DAFTAR PUSTAKA

Aditama, Tjandra Yoga, Manajemen Rumah Sakit, Universitas Indonesia,


Pres Jakarta, 2002.
Aviliani dan Wilfidrus, 1997. “Membangun Kepuasan Pelanggan Melalui
Kualitas Pelayanan”. Usahawan No.05 Tahun XXVI.
Azwar, Azrul H. 1996. Menjaga Mutu Pelayanan Kesehatan. Jakarta: Pustaka
Sinar Harapan.
Departemen KesehatanR.I. 1999. Standar Pelayanan Rumah Sakit, Direktorat
Jendral Pelayanan Medik, Edisi ke 2, Jakarta.
Imbalo S. Pohan, MPH, MHA, Dr. 2004. Jaminan Mutu Layanan Kesehatan.
Penerbit : Buku Kedokteran EGC. Jakarta.
Thabrany. Hasbullah. Badan Penyelenggara Jaminan Kesehatan Nasional:
Sebuah Policy Paper dalam Analisis Kesesuaian Tujuan dan Struktur
BPJS. Jakarta: Maret 2009.
Thabrany. Hasbullah. Tantangan dan Harapan Penyelenggaraan Jaminan
Kesehatan Nasional. Universitas Indonesia.
Utama, S. 2005. ”Memahami Fenomena Kepuasan Pasien Rumah Sakit”.
Jurnal Manajemen Kesehatan. 09 (1), 1-7.
http://bpjs-kesehatan.go.id/berita-113-masyarakat-harus-dapat-informasi-
tentang-bpjs.html
http://www.jpnn.com/read/2014/01/15/211004/Regulasi-BPJS-Terlambat,-
Implementasi-Bermasalah-

33