Anda di halaman 1dari 27

KONSULTASI DAN KONSELING PRA NIKAH

PADA PUSAT PELAYANAN KELUARGA SEJAHTERA

Penanggung Jawab : Dra. Elisabeth Kuji


Penulis : Dra. Elly Irawan, MS
Kontributor : 1. Masnuryati,SE
2. Dra. Purini Saptari,M.Pd
3. Andi Hendardi Ismoyo,SH
4. Sitti Sulfiani,S.Sos,M.Si
5. Juli Yanto,S.Sos
6. Mila Astari Songan,S.Psi
7. Agus Susanto
Tata letak & : Ridwan Nugraha
Desain sampul

Direktorat Bina Ketahanan Keluarga Lansia dan Rentan


Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional

Cetakan pertama

Jakarta, April 2013

Dilarang keras menerjemahkan, memfotokopi, atau memperbanyak sebagian atau


seluruh isi buku ini tanpa izin dari Direktorat Bina Ketahanan Keluarga Lansia dan
Rentan

ISBN : 978-602-8068-80-2
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan ke hadirat Tuhan yang Maha Kuasa, karena atas rahmat
dan karunia-Nya, buku Konsultasi dan Konseling Pra Nikah Pada Pusat
Pelayanan Keluarga Sejahtera ini dapat diselesaikan tepat pada waktunya.

Buku ini disusun sebagai acuan dan rujukan bagi semua pihak dalam
penyelenggaraan dan pengembangan PPKS. Dengan diterbitkannya buku ini
diharapkan para pengelola dan pelaksana dapat melaksanakan berbagai kegiatan
secara terintegrasi dengan melibatkan unsur terkait dalam pelaksanaan dan
pengembangan PPKS disemua tingkatan.

Pada kesempatan ini kami menyampaikan penghargaan dan terima kasih kepada
seluruh tim penyusun yang telah memberikan sumbangan pikiran dan tenaga dalam
penyusunan buku ini. Kami menyadari bahwa penyusunan buku ini masih belum
sempurna, untuk itu kami mohon masukan dan saran untuk perbaikan dimasa yang
akan datang.

Jakarta, April 2013


Direktur Bina Ketahanan
Keluarga Lansia & Rentan

Dra. Elisabeth Kuji

i
KATA SAMBUTAN

Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi menyebabkan arus informasi begitu


deras masuk ke seluruh lapisan masyarakat. Informasi tersebut tentunya membawa
pengaruh bagi kehidupan keluarga. Pengaruh tersebut dapat berdampak positif dan
negatif, terutama pengaruh dari budaya barat yang kurang sesuai dengan budaya
timur yang dianut oleh bangsa Indonesia.

Sehubungan dengan hal tersebut diharapkan setiap keluarga diIndonesia harus


memiliki ketahanan keluarga yang kuat. Undang-undang No. 52 Tahun 2009 tentang
Perkembangan Kependudukan dan Pembangunan Keluarga, pasal 47 menyatakan
bahwa Pemerintah dan Pemerintah Daerah menetapkan Kebijakan Pembangunan
Keluarga melalui Pembinaan Ketahanan dan Kesejahteraan Keluarga.

Ketahanan keluarga adalah kondisi keluarga yang memiliki keuletan dan


ketangguhan serta mengandung kemampuan fisik material guna hidup mandiri dan
mengembangkan diri dan keluarganya untuk hidup harmonis dalam meningkatkan
kesejahteraan kebahagiaan lahir dan batin.

Dalam upaya pembangunan ketahanan keluarga di Indonesia, maka mulai tahun


2012, Perwakilan Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional
(BKKBN) diseluruh Indonesia telah membentuk Pusat Pelayanan Keluarga
Sejahtera (PPKS). PPKS ini merupakan wadah yang berbasis institusi yang
memberikan konsultasi, KIE, konseling, bimbingan, dan fasilitasi pada keluarga.

Untuk mendukung kelancaran pelaksanaan kegiatan di PPKS, maka disediakan 8


(delapan) materi konsultasi, konseling, bimbingan, dan pembinaan yang terdiri dari
pelayanan data dan informasi kependudukan dan keluarga berencana; konsultasi
dan konseling keluarga balita dan anak; keluarga remaja dan remaja; pranikah;
keluarga berencana dan kesehatan reproduksi; keluarga harmonis; keluarga lansia
dan lansia; dan pembinaan pemberdayaan usaha ekonomi keluarga.

Saya menyambut baik diterbitkannya buku materi konsultasi, konseling, dan


pembinaan program keluarga sejahtera untuk mendukung pelaksanaan PPKS.
Semoga buku ini dapat bermanfaat bagi semua pihak yang peduli pa da pelaksanaan
dan pengembangan PPKS.

Jakarta, April 2013


Deputi Bidang Keluarga Sejahtera
dan Pemberdayaan Keluarga,

Dr. Sudibyo Alimoeso, MA

ii
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR .............................................................................................................. i


KATA SAMBUTAN .................................................................................................................. ii
DAFTAR ISI.............................................................................................................................. iii
BAB I PENDAHULUAN ........................................................................................................ 1
A. Latar Belakang ....................................................................................... 1
B. Tujuan .................................................................................................... 1
C. Batasan Pengertian ............................................................................... 2

BAB II KONSULTASI DAN KONSELING PRA NIKAH ....................................... 3


A. Konsep Pernikahan Menurut Agama...................................................... 3
B. Persiapan Mental Tiap Calon pasangan................................................. 4
C. Kesehatan dan Kemandirian Keluarga................................................... 7
D. Komunikasi Terbuka dan Harmonis ....................................................... 10
E. Pemenuhan Kebutuhan Ekonomi Keluarga ........................................... 10
F. Komitmen Calon Suami dan Istri ........................................................... 11
G. Skill Yang Harus Dimiliki Pasangan Pranikah......................................... 11

BAB IIIPERMASALAHAN YANG DIHADAPI PASANGAN PRANIKAH


SERTA CARA MENGATASINYA......................................................................... 13
A. Konflik .................................................................................................... 13
B. Wanita Yang Bekerja.............................................................................. 17

BAB IV PENUTUP ............................................................................................... 22

iii
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Konseling pranikah (premarital counseling) merupakan upaya untuk membantu
calon suami dan calon istri oleh seorang konselor profesional, sehingga mereka
dapat berkembang dan mampu memecahkan masalah yang dihadapinya melalui
cara-cara yang menghargai, toleransi dan dengan komunikasi yang penuh
pengertian, sehingga tercapai motivasi keluarga, perkembangan, kemandirian,
dan kesejahteraan seluruh anggota keluarga. Konseling pranikah akan
membekali pasangan dengan kesadaran akan masalah potensial yang dapat
terjadi setelah menikah, dan informasi serta sumber daya untuk secara efektif
mencegah atau mengatasi masalah-masalah tersebut hingga pada akhirnya
dapat menurunkan tingkat ketidakbahagiaan dalam pernikahan dan perceraian

Pernikahan bahagia bukan ditentukan oleh tingkat kecocokan dengan pasangan,


tetapi seberapa besar kemampuan dan kesediaan calon pasangan untuk
mengatasi ketidak cocokan.

Cinta mungkin terlihat ideal, tetapi sesungguhnya pernikahanlah yang benar-


benar aktual. Ketidak jelasan antara yang ideal (apa seharusnya) dan yang
aktual (apa adanya) memang tak pernah berujung. Statistik memperlihatkan
perlunya menemukan kiat menempuh pernikahan yang sukses.Mengajukan
pertanyaan yang tepat kepada pasangan (sebelum menikah) bisa menjadi
alternatif solusi melanggengkan perkawinan yang sehat, serasi dan bahagia.
Saat seseorang mencari pasangan, ia harus menyadari bahwa tidak ada orang
yang sempurna, setiap orang pasti mempunyai kesalahan dan kelemahan.
indahnya pernikahan justru kala menemukan suami atau istri yang dapat
menjadi teman dalam pencarian spiritual, mitra membangun hidup, dan pelipur
meskipun dia mempunyai kelemahan.

Persoalan yang berkaitan dengan konseling pranikah merupakan masalah-


masalah yang timbul sebelum terjadinya pernikahan, baik dari masa berpacaran,
meminang dan pertunangan. Namun permasalahan yang timbul sebelum terjadi
pernikahan bisa diatasi dengan melakukan proses konseling, dengan tujuan

1
supaya pernikahan yang diinginkan, yang diidamkan bisa terlaksana dengan
harapan pasangan.

Pernikahan merupakan persoalan yang diinginkan oleh setiap individu, setiap


orang membutuhkan nafkah batin, ketenangan, keharmonisan dan kebahagiaan
dalam menjalani program keluarga.Kebahagian itu tentu tidak dicapai dengan
mudah begitu saja, melainkan harus ada kerjasama dan kesepakatan yang
harus dijalankan antara individu yang bersangkutan. Pernikahan harus dibarangi
dengan rasa cinta, komitmen, sex yang sehat serta mempersiapkan pribadi
masing-masing untuk melangkah ke depannya. Jika semua itu tidak berjalan
dengan baik, maka mustahil pernikahan yang terindah dalam hidup tercapai dan
jika persoalan itu tidak dipersiapkan maka bukannya keharmonisan yang
didapatkan malahan kehancuran lah yang akan di alami.

B. Tujuan
Memberikan kemudahan bagi petugas konseling didalam memberikan informasi
dan konseling kepada pasangan pranikah agar siap dalam menjalani kehidupan
berkeluarga yang bahagia dan kekal.

C. Batasan Pengertian
1. Konseling Pranikah merupakan pelayanan komunikasi interpersonal
mengenai pernikahan yang bertujuan untuk mempertahankan dan
meningkatkan hubungan pasangan baik yang akan menikah maupun
setelah menikah.
2. Pernikahan adalah ikatan sakral yang terjalin di antara laki-laki dan
perempuan yang telah memiliki komitmen untuk saling menyayangi,
mengasihi, dan melindungi.

2
BAB II
KONSULTASI DAN KONSELING PRANIKAH

Hubungan yang terjadi di antara pasangan dalam sebuah pernikahan, merupakan


hal yang paling mendasar. Apabila hubungan yang terjadi di antara pasangan
tersebut terjalin dengan baik, maka akan nampak keharmonisan dan kebahagiaan di
dalam pernikahan dan hidup berkeluarga yang dijalaninya. Begitu pun sebaliknya,
jika dalam memasuki jenjang pernikahan, seseorang belum mampu mempersiapkan
dirinya baik secara fisik, mental, spritual, dan finansial, maka diperlukan sekali
persiapan – persiapan menuju ke jenjang pernikahan dan hidup berkeluarga.
Sebuah persiapan sangat diperlukan dengan tujuan agar masing-masing pasangan
dapat mengetahui, memahami, serta mensikapi nilai-nilai pernikahan yang merujuk
kepada makna dan hikmah pernikahan dalam hidup berkeluarga.

A. Konsep Pernikahan Menurut Agama


Bagaimana konsep pernikahan menurut Agama ?
Mencari pasangan hidup hendaklah berdasarkan pertimbangan
keagamaan.Bukan semata kecantikan, ketampanan, kekayaan, kedudukan, dan
lain sebagainya.Pondasi agama harus sangat kuat melsi pemilihan calon suami
maupun calon isteri, agar tidak terjebak dalam kubangan pilihan syahwat dan
nafsu sesaat.Tentu saja boleh memilih suami tampan dan kaya, tentu saja boleh
memilih isteri yang cantik dan seksi, namun itu bukan pertimbangan
utama.Kriteria fisik dan materi hanyalah tambahan nilai, dari nilai dasar yang
sudah ditetapkan, yaitu kebaikan agama. Maka laki-laki dan perempuan harus
memperbaiki kualitas keagamaan masing-masing, agar mereka layak
mendapatkan jodoh yang baik pula kualitas agamanya

Dalam agama nikah sangatlah dianjurkan, bahkan diwajibkan bagi mereka yang
apabila tidak nikah, cenderung akan melakukan zina.

3
Agama menganjurkan atau mewajibkan menikah kepada umatnya, karena nikah
mengandung hikmah sebagai berikut :
1. Penyaluran nafsu seksual secara benar dan sah
2. Satu-satunya cara untuk mendapatkan anak atau mengembangkan
keturunan secara sah
3. Untuk memenuhi naluri kebapakan dan keibuan yang dimiliki seseorang
dalam melimpahkan kasih sayangnya
4. Mengembangakan rasa tanggung jawab seseorang yang telah dewasa
5. Berbagi rasa tanggungjawab melalui kerjasama yang baik
6. Mempererat hubungan (tali silaturahmi) antar satu keluarga dengan keluarga
lain

B. Persiapan Mental Tiap Calon pasangan


Apabila calon pasangan akan memasuki pintu gerbang yang mengantarkan
pada kehidupan yang seutuhnya yaitu menikah. Apakah benar-benar siap untuk
menjalani kehidupan baru ini? Mungkin bagi yang belum mempersiapkan
mental akan mempertanyakan hal tersebut. Tetapi saat memutuskan untuk
menikah memang bukan suatu akhir dari masalah tetapi merupakan suatu awal
dari berbagai masalah. Oleh sebab itu setiap calon pasangan harus
mempersiapkan diri untuk mengetahui dan merencanakan berbagai hal yang
mungkin akan dihadapi seusai menikah nanti.

Mungkin calon pasangan berpikir bahwa dengan menikah semua masalah akan
terselesaikan dengan mudah. Tapi coba tanya pada diri sendiri dan jujurlah
apakah telah siap? Jangan sampai pernikahan batal hanya karena kurang
persiapan mental dan harus mengujinya sebelum melaksanakannya.

Persiapan mental apa yang harus diwujudkan?

1. Mengenal diri sendiri


Sebelum melaksanakan prosesi pernikahan, harus ada persiapan yang
memadai dari kedua belah pihak.Kesiapan menikah ditandai oleh
mantapnya niat dan langkah menuju kehidupan rumah tangga. Tidak ada
rasa gamang atau keraguan tatkala memutuskan untuk menikah, dengan
segala konsekuensi atau resiko yang akan dihadapi paska pernikahan.

4
Amatlah disarankan bagi mereka yang akan menikah, untuk benar-benar
mempelajari dinamika yang terjadi pada diri sendiri, kepribadian diri, sifat,
karakter, kecenderungan positif maupun negatif, motivasi dalam mencari
suami/istri, prioritas dan kebutuhan dalam hidup.

Pelajarilah hubungan antara diri sendiri dengan orang tua, dan temukan
"manakah dari hubungan dengan orang tua yang tidak ingin
diulangi/terulang dalam kehidupan perkawinan di masa mendatang.Pelajari
kesalahan-kesalahan atau kekeliruan yang tanpa sadar dilakukan orang tua
di masa yang lalu, baik dalam memelihara kehidupan perkawinan, maupun
dalam mengasuh dan membesarkan anak.

Seringkali orang baru menyadari setelah bertahun-tahun, bahwa ternyata


kehidupan perkawinannya hampir sama dengan kehidupan perkawinan
orang tuanya. Dan pasangan yang dipilih, mempunyai kesamaan
karakteristik dengan salah satu figur orang tuanya.Jika hal ini berakibat
“positif” tentunya tidak menjadi masalah.Namun, yang lebih sering terjadi
justru yang sebaliknya.Oleh sebab itu orang merasa hidup dalam
"kesusahan dan penderitaan" yang tiada akhir; padahal semua itu dimulai
oleh dirinya serta berdasarkan pilihan dan tindakan dirinya sendiri.

Bagi seorang laki-laki harus ada kesiapan dalam diri untuk bertindak
sebagai pemimpin dalam rumah tangga, untuk berperan sebagai bapak bagi
anak-anak yang akan lahir nantinya dari pernikahan, Ada kesiapan dalam
diri untuk menanggung segala beban-beban kehidupan yang disebabkan
oleh karena posisi sebagai suami dan bapak.

Bagi pihak perempuan, harus ada kesiapan dalam diri untuk membuka
ruang baru bagi intervensi seorang mitra yang bernama suami.Kesiapan
untuk mengurangi sebagian otoritas atas dirinya sendiri karena keberadaan
suami. Harus ada kesiapan untuk hamil, melahirkan dan menyusui, juga
kesiapan untuk menanggung beban-beban baru yang muncul akibat
hadirnya anak

Pertanyaan mendasar sebelum melaksanakan pernikahan adalah, sejauh


mana kesiapan calon pasangan untuk memasuki kehidupan keluarga?

5
Potensi dan kekuatan apa yang telah mereka miliki untuk berumah tangga?
Kelemahan dan kekurangan apa yang ada pada diri masing-masing? Apa
tantangan yang mereka hadapi ? Bagaimana dukungan keluarga dalam
proses pernikahan?

Berikutnya, dengan mengenali berbagai potensi, kekuatan, kelemahan,


maupun tantangan yang dihadapi, harus merumuskan matriks : bagaimana
mengoptimalkan potensi dan kekuatan yang sudah ada? Bagaimana
mengatasi kelemahan dan kekurangan yang dimiliki?Bagaimana
menghadapi tantangan yang menghadang di hadapan?Dari jawaban
tersebut, pasangan bisa menetapkan batas kesiapan untuk menikah.

Menikah memerlukan kejelasan visi, agar mampu menjalani kehidupan


keluarga dengan arah dan aktivitas yang benar dan terarah.Pernikahan
visioner berbeda dengan pernikahan pada umumnya, yang hanya
mengandalkan hasrat biologis. Laki-laki dan perempuan harus memiliki visi
yang jelas tentang arah keluarga yang akan dibentuk. Mereka memiliki
strategi yang terang tentang pengelolaan keluarga, sehingga tatkala
menjalaninya, mereka tidak kebingungan orientasi dan kehilangan arah.

2. Mengenal calon pasangan


Pertimbangan lain dalam persiapan mental adalah seberapa jauh masing-
masing calon pasangan mengenal betul pasangannya, keluarganya? Berapa
lama berpacaran dan apa saja yang terjadi dalam hubungan itu? Berapa
pula konflik dan perbedaan yang ada di antara keduanya yang bisa
diselesaikan dengan baik?Berapa banyak perbedaan lingkungan masing-
masing calon, entah itu keluarga, sekolah, atau pekerjaan?Dari jawaban
atas pertanyaan tersebut sedikit banyak berbicara bahwa selama ini kedua
calon pasangan sudah saling mencocokkan diri atau tidak.

Hal lainnya yang harus pertimbangan adalah bagaimana pandangan calon


pasangan tentang lembaga perkawinan? Sehingga bisa berpikir tentang segi
positif dan negatifnya. Lebih jauh kehidupan masa kecil dan kesehatan
rumahtangga orangtua juga akan memberikan pengaruh yang cukup kuat.
Kedua calon pasangan harus mendiskusikan visi kehidupan berumah
tangga, agar keduanya bisa mendapatkan kesesuaian.Pastikan pikiran calon

6
pasangan sejalan dan satu arah. Bahaslah semua pemikiran berdua dengan
komunikasi tanpa emosi tetapi secara seksama dan jelas agar tidak ada
keraguan dalam melangkah

Perbedaan karakter antara laki-laki dan perempuan bukanlah halangan,


karena hal itu tidak bisa dihindarkan, sebab mereka memiliki kejiwaan dan
struktur otak yang tidak sama. Perbedaan latar belakang keluarga juga
bukan halangan. Demikian pula perbedaan kultur dan suku atau etnis,
bukanlah penghalang kebahagiaan berumah tangga. Yang paling utama
adalah kesediaan untuk saling melengkapi, saling mengisi, saling
memberikan yang terbaik, saling menerima apa adanya, saling
berkomunikasi dengan nyaman, saling mendialogkan permasalahan, saling
mengalah, saling mencintai dan menyayangi dalam segala kondisi dan
situasi

Ingat, kematangan mental sangat penting bagi pasangan.Sebab pernikahan


adalah membangun suatu "perusahaan" tanpa jenjang karier.Oleh sebab itu,
yang membuat berhasil bukan faktor prestasi tapi saling bahu-membahu dan
harus meninggalkan egoisme.

C. Kesehatan dan Kemandirian Keluarga


Bagaimana mempersiapkan kesehatan pranikah?
Sudah cukupkah usia ? Ini memang bukan menjadi suatu patokan tetapi tentu
ada usia pantas di mana siap dikatakan matang, fisik maupun mental.
Pasangan muda perlu menjaga dan memelihara kesehatan dan kemandirian
rumah tangganya.Sakit adalah peristiwa yang tidak dikehendaki setiap
orang.Karena itu pasangan muda jangan menggunakan kebiasaan yang dapat
merusak kesehatan seperti merokok, minum alkohol, memakai obat adiktif
terlarang, sering begadang sampai pagi dan sebagainya.

Keluarga muda yang ingin punya keturunan harus:

1. Menjaga kesehatan, terutama ketika isterinya hamil sampai waktu


melahirkan agar anak yang dilahirkan sehat.
2. Berlatih hidup mandiri dalam mengurus rumah tangga dengan segala
problemanya.

7
Idealnya dilakukan tes kesehatan pra nikah enam bulan sebelum pernikahan
berlangsung.Jika pada saat pengecekan ternyata ditemui ada masalah maka
pengobatan dapat dilakukan setelah menikah. Berikut ini adalah hal-hal penting
terkait tes kesehatan bagi pasangan yang akan menikah:

1. Infeksi Saluran Reproduksi/Infeksi Menular Seksual (ISR/IMS)


Tes kesehatan untuk menghindari adanya penularan penyakit yang
ditularkan lewat hubungan seksual, seperti sifilis, gonorrhea, Human
Immunodeficiency Virus (HIV), dan penyakit hepatitis.Perempuan
sebenarnya lebih rentan terkena penyakit kelamin daripada pria.Karena alat
kelamin perempuan berbentuk V yang seakan "menampung"
virus.Sedangkan alat kelamin pria tidak bersifat "menampung" dan bisa
langsung dibersihkan.Jika salah satu pasangan menderita ISR/IMS,
sebelum menikah harus diobati dulu sampai sembuh. Jika sang pasangan
belum sembuh dari penyakit kelamin dan akan tetap menikah, meskipun
tidak menjamin 100 persen namun penggunaan kondom sangat dianjurkan.

2. Rhesus yang bersilangan


Kebanyakan bangsa Asia memiliki Rhesus positif, sedangkan bangsa Eropa
rata-rata negatif.Terkadang, pasangan suami-isteri tidak tahu Rhesus darah
pasangan masing-masing.Padahal, jika Rhesusnya bersilangan, bisa
mempengaruhi kualitas keturunan.Jika seorang perempuan (Reshus negatif)
menikah dengan laki-laki (Rhesus positif), bayi pertamanya memiliki
kemungkinan untuk ber-Rhesus negatif atau positif.Jika bayi mempunyai
Rhesus negatif, tidak ada masalah. Tetapi, jika ia ber-Rhesus positif,
masalah mungkin timbul pada kehamilan berikutnya. Bila ternyata kehamilan
yang kedua merupakan janin yang ber-Rhesus positif, kehamilan ini
berbahaya.Karena antibodi antirhesus dari ibu dapat memasuki sel darah
merah janin.Sebaliknya, tidak masalah jika si perempuan ber-Rhesus positif
dan si pria negatif.

3. Penyakit keturunan
Tes kesehatan pra nikah bisa mendeteksi kemungkinan penyakit yang bisa
diturunkan secara genetik kepada anak, semisal albino.Misalnya suami
membawa sifat albino tetapi istrinya tidak, maka anak yang lahir tidak jadi

8
albino.Sebaliknya, jika istrinya juga membawa sifat albino, maka anaknya
pasti albino.Jika bertemu dengan pasangan yang sama-sama membawa
sifat ini, pernikahan tidak harus dihentikan.Hanya saja perlu disepakati ingin
punya anak atau tidak. Kalau masih ingin punya anak, risikonya nanti si
anak jadi albino. Atau memilih tidak punya anak.Pernikahan tidak harus
tertunda dengan halangan seperti ini.Yang penting adalah solusi atau
pencegahannya.

4. Cek kesuburan (fertilitas)


Jika pasangan ingin segera punya anak, perlu pemeriksaan ini dengan
tujuan agar kehamilan bisa dipersiapkan dan dijalankan dengan
baik.Dibutuhkan riwayat kesehatan dan kondisi sosialnya. Antara lain status
ekonomi (bekerja atau tidak bekerja) dan suasana di lingkungan keluarga.
Termasuk perilaku-perilaku yang tidak mendukung kehamilan, semisal
merokok, minuman beralkohol, dan memakai obat-obatan
psikotoprika.Selain itu, perlu juga dievaluasi risiko yang bersifat individual
yang mungkin timbul terhadap kehamilan. Antara lain usia (masih reproduktif
atau tidak), kondisi nutrisi, aktivitas fisik, level pendidikan, level stres, dan
bagaimana hubungan dengan pasangan.

Pemeriksaan laboratorium untuk mengetahui organ reproduksi juga


diperlukan. Antara lain, pap smear (jika seorang perempuan aktif secara
seksual), rahim, dan status kekebalan terhadap penyakit (rubella,
toksoplasma). Ada juga pemeriksaan sel telur jik sebelumnya pasangan
yang bersangkutan dianggap infertil (sulit punya anak).Penyebab
ketidaksuburan 45 persen disebabkan oleh pria dan 55 persen oleh
wanita.Pemeriksaan dengan USG (Ultra Sonografi) bisa melihat apakah
seorang perempuan menderita kista, mioma, tumor, atau keputihan. Jika
ada kelainan atau infeksi harus dibersihkan dulu karena bisa menganggu
proses kehamilan.

Pasangan baru menikah biasanya kehidupan seksual penuh gairah


sehingga mampu dilakukan dalam frekwensi yang relatif tinggi.Karena itu
kebugaran tubuh suami-isteri harus terjaga prima agar mampu memuaskan
kebutuhan seksual pasangannya.Keluarga muda biasanya menempatkan

9
kehangatan dan kepuasan seksual sebagai faktor penting bagi
pasangannya.Karena itu informasi tentang seks (reproduksi sehat) dan
hubungan seksual secara sehat menjadi penting.Sebelum menikah
pasangan memerlukan informasi tentang kesehatan reproduksi (pendidikan
seks) dan kehamilan yang sehat.

D. Komunikasi Terbuka dan Harmonis


Pasangan muda umumnya belum banyak tahu tentang kebiasaan dan
pantangan dari pasangan hidupnya, apalagi yang berpacaran dalam waktu
singkat terus menikah.Itulah salah satu tantangan pasangan suami-isteri
baru.Ketika sudah hidup bersama satu persatu kelebihan, kekurangan dan
kebiasaan serta pantangan dalam hidup pasangannya mulai terbuka, diketahui
dan disadari.Oleh sebab itu diperlukan komunikasi yang terbuka, persuasif dan
komunikatif sehingga dapat saling memahami, menerima dan menghargai
pasangan dalam tahap penyesuaian. Penyesuaian secara perlahan dari kedua
belah pihak adalah proses untuk membangun ketahanan hidup berkeluarga agar
bisa hidup damai, aman, dan harmonis.

E. Pemenuhan Kebutuhan Ekonomi Keluarga


Sebelum menikah pasangan perlu mempersiapkan kebutuhan ekonomi seperti
pekerjaan dan penghasilan.Suami adalah pencari nafkah utama dalam hidup
berumah tangga.Meskipun demikian, tidak berarti bahwa isteri tidak boleh
bekerja.

Pertimbangkan juga apakah calon pasangan punya cukup uang untuk


membentuk suatu perkawinan, atau paling tidak untuk memulainya.Hal ini juga
adalah yang cukup mendasar. Bila semua hal yang di atas sudah terjawab
dengan baik dan yakin akan langkah tersebut, maka menikahlah. Kesiapan
sebelum menikah akan lebih baik daripada tergesa-gesa dan menyesal seumur
hidup.

10
F. Komitmen Calon Suami dan Istri
Semua pasangan pengantin mengharapkan peristiwa pernikahan cukup sekali
seumur hidup.Untuk itu perlu diusahakan agar komitmen tersebut dipupuk dan
dibina terus-menerus agar tidak bercerai, kecuali dipisahkan oleh
kematian.Menciptakan suasana keharmonisan dalam rumah tangga merupakan
kewajiban kedua belah pihak. Untuk itu diperlukan proses belajar memahami
peran dan tanggung jawabnya serta mencari solusi terbaik bila terjadi
permasalahan.

G. Skill Yang Harus Dimiliki Pasangan Pranikah


Setiap pasangan kekasih yang berpacaran pasti menginginkan tujuan akhir
mereka adalah ke jenjang pernikahan.Namun, sebelum terburu-buru
memutuskan untuk menikah, sebaiknya persiapkan diri terlebih dahulu. Ada
empat skill yang perlu pelajari sebelum menikah, seperti dirangkum dibawah ini.

1. Emosional yang stabil


Tanda emosional yang belum stabil adalah mudah marah, sedih dan
membesar-besarkan masalah. Sedangkan ketika menikah nanti, mungkin
akan lebih banyak lagi menemukan probelematika pernikahan. Ketika itu,
emosional harus tetap terjaga. Jika selama ini menyelesaikan permasalahan
dengan kekasih dengan cara marah-marah dan ujung-ujung minta putus,
sebaiknya 'perbaiki' emosional masing-masing dan belajarlah lebih dewasa
dalam menghadapi masalah.Itu bekal untuk menikah nanti.

2. Komunikasi
Berbicara dengan nada tinggi atau langsung menuduh tidak akan
menyelesaikan masalah. Belajarlah untuk berkomunikasi secara bijaksan
terutama ketika terjadi sesuatu yang membuat perasaan tertekan.Selain itu,
jadilah pendengar yang baik.Bisa berkomunikasi dan jadi pendengar baik
merupakan dua hal penting yang dibutuhkan dalam membangun sebuah
rumah tangga.

3. Bisa mengatasi konflik


Setiap orang memiliki perbedaan, itulah yang terkadang menciptakan
konflik. Tapi hubungan yang sukses bisa terjadi dari pasangan yang dapat

11
mengatasi konflik dengan baik, contohnya dapat menentukan akan kencan
dimana malam minggu nanti, sampai masalah besar lainnya seperti akan
tinggal di mana ketika menikah nanti. Semua bisa didiskusikan dengan
caranya masing-masing tanpa terjadi pertengkaran.

4. Menebarkan aura positif


Sebuah senyuman, belaian lembut, tertawa ketika si dia memberi lelucon,
bisa menerima kritik dengan baik, mengucapkan terima kasih atas segala
bantuannya membuat hubungan yang ada menjadi positif.Memahami hak
dan kewajiban masing-masing yang saling berhubungan. Jika seorang ingin
mendapatkan hak, maka ia harus melaksanakan kewajibannya. Memberikan
aura positif dalam hubungan, membuat pasangan semakin mantap dalam
menjalani ke arah yang lebih serius.

12
BAB III
PERMASALAHAN YANG DIHADAPI PASANGAN PRANIKAH
SERTA CARA MENGATASINYA

A. Konflik
Konflik apa yang paling sering terjadi selama pacaran atau berumah tangga?

1. Konflik calon ibu mertua vs calon menantu wanita


Apa penyebab konflik dengan mertua?
Konflik ibu mertua dengan menantu wanita biasanya terjadi jika :
a. Menantu wanita akan tinggal bersama dalam satu rumah atau satu
lingkungan.
b. Adanya perbedaan antara harapan menantu wanita dengan harapan ibu
mertua
Mengapa jarang terdengar (meskipun ada) masalah antara menantu lelaki
dengan mertua perempuan, atau menantu perempuan dengan mertua lelaki,
atau menantu lelaki dengan mertua lelaki? Menurut John Gray dalam
bukunya men are from mars, women are from venus, perbedaan mendasar
antara lelaki dengan perempuan dapat digambarkan sebagai berikut:
Lelaki Perempuan
Sense of self dinilai dari prestasi Sense of self dinilai dari kemampuan
Lebih berorientasi pada tugas membina hubungan
Lebih berorientasi pada tugas Lebih berorientasi pada hubungan
Mandiri Saling tergantung
Minta bantuan dapat diartikan Minta bantuan berarti menghormati
sebagai lemah orang yang dimintai bantuan
Fokus pada tujuan Menikmati proses
Bersaing Bekerjasama
Mengandalkan kemampuan analisis Mengandalkan kemampuan intuisi
Cara pikir Linear: fokus pada satu hal Multi-tasking: berkutat dengan hal-hal
dalam satu waktu, dan terkotak-kotak kecil dalam satu waktu, dan
sambung-menyambung (seperti
gulungan benang)
Bertindak Berbicara
Merasa lebih baik dengan Merasa lebih baik dengan
menyelesaikan masalahnya membicarakan masalahnya
Saat stress: cenderung menyibukkan Saat stress: semakin terlibat dengan
diri dengan berbagai kegiatan atau orang lain, lebih banyak berbicara
menarik diri. agar dapat didengarkan dan
dimengerti

13
Lanjutan
Lelaki Perempuan
Kebutuhan utama: dihormati Kebutuhan utama: diayomi
(dipercaya, diterima, dihargai, (diperhatikan secara lembut,
dikagumi, diteguhkan, didukung). dimengerti, dihormati, dilindungi,
diteguhkan, penghiburan).
Kata-kata digunakan untuk Kata-kata merupakan sesuatu yang
menyampaikan fakta dan informasi alami, sama halnya seperti bernafas

Bagaimana cara mengatasi konflik dengan ibu mertua?


a. Mulailah berdamai dengan diri sendiri
b. Interospeksi diri
c. Mulailah belajar untuk memahami beberapa hal seperti perbedaan
budaya keluarga, tidak boleh saling memaksakan kehendak untuk
diakui, melihat dan memahami permasalahan secara obyektif
d. Jangan mudah terpancing dengan informasi atau gosip yang diberikan
oleh pihak ketiga
e. Jika membutuhkan orang lain untuk "curhat", maka pastikan orang
tersebut benar-benar dapat dipercaya
f. Komunikasi yang baik, terbuka dan penuh penghormatan kepada ibu
mertua.

2. Konflik dengan calon saudara ipar


Apa penyebab konflik dengan calon saudara ipar?
a. Ipar merasa iri kepada calon pasangan, baik dari segi perhatian maupun
finansial.
b. Calon kakak ipar perempuan punya pengharapan yang berlebihan pada
adik laki-lakinya dan adik ipar perempuannya.

Bagaimana cara mengatasi konflik dengan calon saudara ipar?

Calon suami menjadi kunci utama untuk menyelesaikan konflik tersebut.


Perhatian calon suami harus tetap diberikan kepada keluarga besarnya
untuk tidak membuat saudara-saudaranya merasa kehilangan dan
terabaikan dengan datangnya anggota keluarga baru (sang istri).
a. Posititive thinking dan positive feeling mungkin akan menjadi solusi yang
paling tepat.

14
b. Memahami etika, adat istiadat dan karakter orang lain dengan lebih baik
serta memaklumi tindakan dan sikap orang lain.

3. Konflik dengan pasangan


a. Apa Penyebab konflik yang terjadi dengan pasangan?
b. Pasangan memiliki persepsi yang berbeda, yang berubah menjadi
konflik. Akibatnya muncul rasa frustasi dan amarah yang memuncak.
c. Pasangan memandang konflik dengan rasa cemas, seolah-olah itu akan
mengancam hubungan mereka.
d. Berusaha menghindari dan melarikan diri dari konflik atau dengan
terpaksa memendam perasaan-perasaan itu malah berkembang jadi
serius.

Bagaimana Cara Mengatasi konflik dengan pasangan?

a. Pilihlah waktu dan tempat yang baik


1) Sebaiknya konflik segera diselesaikan, tetapi jika salah satu dari
pasangan masih marah atau tidak rasional, tunda dulu pembicaraan.
2) Fokus, jangan biarkan ada gangguan yang tidak perlu
3) Usahakan tidak membahas masalah-masalah yang berat setelah
larut malam.
4) Hilangkan percakapan yang tidak menyenangkan selama waktu
makan dan pada waktu-waktu yang tidak tepat.

b. Katakan secara terus terang


1) Ungkapkan perasaan secara terbuka melalui penggunaan pesan
“Aku” secara efektif.
2) Bicarakanlah secara langsung, jelas, tenang dan tanpa amarah.
Sebutkan alasan-alasannya mengapa membela pendapat .
Jelaskan bagaimana masalah ini dapat dipecahkan dan apa
resikonya.
3) Berbicaralah dengan tenang dan sikap yang terkendali, turunkan
nada suara, jangan dengan nada yang tinggi.

15
c. Tetap pada pokok masalah
1) Pusatkan pada satu masalah sampai tuntas. Jangan campur aduk
dengan masalah lain.
2) Hindari perdebatan untuk masalah-masalah yang sudah lama lewat
3) Sepakatilah kalau tuduhan sudah lewat 6 bulan tuduhannya tidak
bisa lagi diterima.

d. Tunjukkan rasa hormat


Berbicara dan mendengarkan dengan rasa hormat walau tidak setuju
dengan pendapat pasangan, tetap harus menghargai haknya
mempertahankan hak kita. Berikut adalah hal-hal yang tidak boleh
lakukan
1) Jangan memanggilnya dengan sesuatu sebutan.
2) Jangan mengancam akan putus atau cerai.
3) Jangan menyinggung soal saudara-saudara atau keluarganya.
4) Jangan merendahkannya soal penampilan atau kecerdasannya.
5) Jangan melakukan kekerasan fisik.
6) Jangan memaki.
7) Jangan menyela.

e. Catat jalan keluar


Apabila perasaan telah diutarakan secara terbuka dan konstruktif akan
mengerti masalahnya dan mencari alternatif yang rasional. Bahaslah
setiap kemungkinan jalan keluar sekalipun kelihatannya seperti mustahil,
tetapi jangan mengira-ngira hal itu sekarang.

f. Evaluasi pemecahan
Setelah semua informasi dikemukakan berdua, lakukan pilihan yang
baik mengenai tindakan apa yang dianggap paling tepat. Cermati lagi
catatan dan bertukar pandangan mengenai akibat-akibatnya sambil
mengevaluasi setiap pemecahan.

g. Pilih jalan keluar yang paling bisa diterima


Bersikap tegas pada diri sendiri untuk memilih jalan keluar yang paling
memenuhi kebutuhan berdua atau kebutuhan pihak yang saling
tersakiti. Pilihan ini mungkin memerlukan langkah negosiasi dan

16
kompromi yang baik.Sama-sama menang, tidak ada yang
kalah.Perhatikan agar jangan sampai satu pihak yang selalu
mengalah.perlu dua orang berdamai. Mengalah ditengah konflik
membutuhkan kematangan nyata, oleh sebab hal itu berarti mengakui
bahwa pendapat salah dan sekarang mau berubah pikiran

h. Laksanakan keputusan
Tentukan siapa melakukan apa, dimana, dan kapan. Begitu mencapai
suatu keputusan ingatlah dua orang seringkali memang persetujuan itu
dengan perasaan berbeda. Bila itu terjadi lebih baik kesepakatan itu
ditungkan dalam catatan dan kalau perlu masing-masing menanda
tanganinya.

B. Wanita Yang Bekerja


Apa motivasi wanita bekerja ?
Apakah yang sebenarnya melandasi tindakan para wanita untuk bekerja di luar
rumah, atau motif-motif apa saja yang mendasari kebutuhan mereka untuk
bekerja di luar rumah, hingga mereka mau menghadapi berbagai resiko atau
pun konsekuensi yang bakal dihadapi. Berikut ini adalah beberapa diantaranya:

1. Kebutuhan finansial
Seringkali kebutuhan hidup yang begitu besar dan mendesak, meskipun
"hati"nya tidak ingin bekerja,.

2. Kebutuhan sosial-relasional
Ada pula wanita yang memilih untuk bekerja, karena mempunyai kebutuhan
sosial-relasional yang tinggi, Dalam diri mereka tersimpan suatu kebutuhan
akan penerimaan sosial, akan adanya identitas sosial yang diperoleh melalui
komunitas kerja. Bergaul dengan rekan-rekan di kantor, menjadi agenda
yang lebih menyenangkan dari pada tinggal di rumah.

3. Kebutuhan aktualisasi diri


Dalam menemukan makna hidupnya dengan berkarya, berkreasi, mencipta,
mengekspresikan diri, mengembangkan diri dan orang lain, membagikan
ilmu dan pengalaman, menemukan sesuatu, menghasilkan sesuatu, serta
mendapatkan penghargaan, penerimaan, prestasi adalah bagian dari proses

17
penemuan dan pencapaian kebutuhan aktualisasi diri. Bekerja menyokong
sense of self dan kebanggaan diri selain mendapatkan kemandirian secara
finansial

4. Lain-lain
Pada beberapa kasus, ada pula wanita bekerja yang memang jauh lebih
menyukai dunia kerja ketimbang hidup dalam keluarga. Mereka merasa
lebih rileks dan nyaman jika sedang bekerja dari pada di rumah sendiri,
mereka bekerja agar dapat pergi dan menghindar dari keluarga. Kasus ini
memang dilandasi oleh persoalan psikologis yang lebih mendalam, baik
terjadi di dalam diri orang yang bersangkutan maupun dalam hubungan
antara anggota keluarga.

Adakah manfaatnya seorang wanita bekerja?


Bagaimana pun juga, kerja mempunyai manfaat positif baik bagi wanita bekerja
maupun bagi keluarga. Beberapa segi positifnya adalah:

1. Mendukung ekonomi rumah tangga


Dengan bekerja berarti sumber pemasukan keluarga tidak hanya satu,
melainkan dua. Dengan demikian, pasangan tersebut dapat mengupayakan
kualitas hidup yang lebih baik untuk keluarga, seperti dalam hal : gizi,
pendidikan, tempat tinggal, sandang, liburan dan hiburan, serta fasilitas
kesehatan

2. Meningkatnya harga diri dan pemantapan identitas


Bekerja, memungkinkan seorang wanita mengekspresikan dirinya sendiri,
dengan cara yang kreatif dan produktif, untuk menghasilkan sesuatu yang
mendatangkan kebanggaan terhadap diri sendiri, terutama jika prestasinya
tersebut mendapatkan penghargaan dan umpan balik yang positif. Melalui
bekerja, wanita berusaha menemukan arti dan identitas dirinya; dan
pencapaian tersebut mendatangkan rasa percaya diri dan kebahagiaan.

3. Relasi yang sehat dan positif dengan keluarga


Wanita yang bekerja, cenderung mempunyai ruang lingkup yang lebih luas
dan bervariasi, sehingga cenderung mempunyai pola pikir yang lebih
terbuka, lebih energik, mempunyai wawasan yang luas dan lebih
dinamis.Dengan demikian, keberadaan wanita bisa menjadi partner bagi

18
laki-laki, untuk menjadi teman bertukar pikiran, serta saling membagi
harapan, pandangan dan tanggung jawab.

4. Pemenuhan kebutuhan sosial


Setiap manusia mempunyai kebutuhan untuk menjalin relasi sosial dengan
orang lain. Dengan bekerja, seorang wanita juga dapat memenuhi
kebutuhan akan kebersamaan dan untuk menjadi bagian dari suatu
komunitas. Dengan sejenak bertemu dengan rekan-rekan, mereka dapat
saling sharing, berbagi perasaan, pandangan dan solusi.

5. Peningkatan skill dan kompetensi


Dengan bekerja, maka seorang wanita harus bisa menyesuaikan diri dengan
tuntutan, baik tuntutan tanggung jawab maupun tuntutan skill dan
kompetensi.Untuk itu, seorang wanita dituntut untuk secara kreatif
menemukan segi-segi yang bisa dikembangkan demi kemajuan dirinya.
Peningkatan skill dan kompetensi yang terus menerus akan mendatangkan
"nilai lebih" pada dirinya sebagai seorang karyawan, selain rasa percaya diri
yang mantap.

Bagaimana kiat mengatasi masalah yang dialami wanita bekerja?

1. Manajemen waktu
Manajemen waktu adalah strategi penting yang perlu diterapkan oleh para
wanita bekerja untuk dapat mengoptimalkan perannya
a. Tentukan dan tetapkan tujuan anda dalam bekerja
Apakah yang menjadi motivasi dan tujuan Anda dalam bekerja?Apakah
untuk mendapatkan income atau lebih berorientasi pada karir. Lanjutkan
dengan hal-hal yang menjadi konsekuensi dari tujuan Anda bekerja,
misalnya : seberapa jauhkah Anda ingin melibatkan diri pada pekerjaan
dan berapa lama waktunya? apakah Anda tetap menginginkan akhir
minggu bersama keluarga ? Pekerjaan macam apakah yang Anda
inginkan, full-time atau part-time?Sesuaikan dengan kondisi dan
kebutuhan Anda beserta keluarga.

19
b. Tetapkan prioritas
Dengan menetapkan prioritas dapat mulai menentukan jenis dan porsi
aktivitas untuk masing-masing peran.Susun agenda agar Anda dapat
mengatur kegiatan secara lebih sistematis dan efisien.
Delegasikan beberapa tugas (baik tugas kantor maupun tugas rumah)
kepada orang lain
Delegasikan beberapa pekerjaan pada orang lain, untuk dapat
mengefisienkan pekerjaan Pendelegasian pekerjaan, membuat
perasaan lebih rileks dan dapat memfokuskan diri pada pekerjaan yang
betul-betul harus dikerjakan sendiri. Pendelegasian beberapa
pekerjaan rumah tangga pun bermanfaat agar tidak terlalu lelah dibebani
pekerjaan sehari-hari sehingga dapat menyediakan waktu yang
berkualitas untuk pasangan dan keluarga

2. Manajemen Keluarga
Berperan ganda, membutuhkan komitmen yang tinggi baik sebagai
karyawan/profesional maupun sebagai anggota keluarga.Dituntut
komitmennya untuk memberikan perhatian pada pasangan serta tidak
melupakan pula tanggung jawab rumah tangga.
Alangkah baik jika ada anggota keluarga lain dapat dimintai pertolongan,
terutama karena calon pasangan pada waktu-waktu tertentu membutuhkan
quality time bersama pasangan, entah sekedar makan malam berdua atau
pergi jalan-jalan meskipun sama-sama sibuk, tetap dapat mendekatkan hati
demi memelihara dan mempertahankan keharmonisan.
3. Manajemen Pekerjaan
Bersikap lebih efisien dan produktif dalam pekerjaan supaya tidak stress dan
sensitif terhadap orang lain dan agar waktu kerja lebih efisien dan
produktivitas pun maksmimal.

4. Manajemen Diri
Perlu mengenali diri sendiri dulu.seberapa tinggi tingkat toleransi terhadap
stress dan hal-hal apa saja yang dapat membuat stress. Jika sudah mulai
stress karena overload atau kelelahan, istirahatlah sejenak , Ambillah waktu
bersantai, untuk melakukan kegiatan dan hobby. Ciptakan suasana rileks
dan berpikirlah positif, agar tidak terlalu tegang dan mudah reaktif terhadap

20
orang lain. Sering-sering bercanda (humor) dengan keluarga dan teman-
teman sangat bermanfaat untuk melepaskan kejenuhan, ketegangan dan
kebosanan.

5. Memelihara Dukungan Sosial


Memelihara hubungan baik dengan rekan-rekan serta atasan, sangatlah
penting untuk mencegah timbulnya masalah yang tidak perlu. Bahkan,
dukungan moril dan emosional dari rekan-rekan dan atasan, dapat
meningkatkan semangat kerja

21
BAB IV
PENUTUP

Dari pembahasan di atas dapat disimpulkan bahwa, konsultasi dan konseling


pranikah merupakan ajang untuk mendorong pasangan yang bermaksud menjalin
ikatan pernikahan agar memusatkan perhatian pada masalah proses perkembangan
interelasi yang baik dan secara berlanjut merawat relasi yang baik, agar memuaskan
bagi kedua belah pihak sampai akhir hayat.

Serangkaian konsultasi dan konseling kepada orang yang kompeten atau konselor
serta melakukan konsultasi medis kepada tenaga medis perlu dilakukan oleh calon
pasangan, agar keputusan untuk menikah berdasarkan pertimbangan yang matang
dan komprehensif.

Cinta merupakan salah satu syarat untuk melanjutkan kejejenjang pernikahan,


karena sebahagian orang mengatakan bahwa cinta adalah anugrah yang harus
dijaga keeksistensiannya, sebab pernikahan yang tidak didasari atas dasar cinta,
maka pernikahan itu akan mengalami kehancuran yang menyebabkan pertengkaran,
perpisahan yang berdampak pada psikis sang anak. Namun, meskipun tidak
keseluruhannya didasari cinta maka persoalan ini bisa diatasi dengan memberikan
kehangatan, perhatian, kepercayaan dari kedua belah pihak. Karena cinta itu bisa
tumbuh dengan beriringnya waktu berjalan

Semakin lama proses pengenalan, maka semakin efektif setiap pasangan menilai
kekurangan dan kelebihan yang dimiliki oleh pasangannya masing-masing. oleh
sebab itu dengan mengetahui kelebihan dan kekurangannya masing-masing, maka
semakin kuat pula dengan keyakinan untuk melanjutkan ketahap pernikahan.

Diharapkan konselor dapat memanfaatkan bahasan diatas dalam membekali


informasi dan menyiapkan mental spiritual, medis dan sosial calon pasangan.

22