PPK FT
PPK FT
FISIOTERAPI
Perkembangan Pendekatan Fisioterapi dalam menangani gangguan gerak dan fungsi selalu
berkembang dan menemukan bukti bukti baru , oleh karena itu buku PPK FT ini selalu akan
berkembang dan disempurkan. Semoga bermanfaat Jakarta, Februari 2017
ii
TIM PENYUSUN
iii
PANDUAN PRAKTEK KLINIS
FISIOTERAPI
PEDIATRIC
1
1. Cerebral Palsy Spastik Quadriplegia
A. Cerebral Palsy Spastik Quadriplegia
1) Kode ICD : G80.0
2) Kode ICF : b140, b163, b279, b260, b450, b710-b729, b730-b749,
b750-b789, s110, s710-s770, d110-d159, d410-d429,
Kondisi kesehatan
Pengertian
Cerebral Palsy (CP) adalah Gangguan gerak dan postur yang bersifat
permanen akibat lesi pada saraf otak namun tidak progressif, kerusakan
otak bisa terjadi pada masa kehamilan, masa persalinan dan pada masa
pasca persalinan hingga usia dua tahun pertama kehidupan. (Bobath,
1997). CP Spastik quadriplegia adalah CP yang lebih berdampak kepada
semua anggota gerak.
Insidensi dan Prevalensi
Angka kejadian CP adalah 2-2,5 per 1000 kelahiran hidup (di negara maju),
di negara berkembang angka kejadian CP lebih tinggi 2,5-5 / 1000 kelahiran
hidup, untuk CP Quadriplegia merupakan kejadian yang paling tinggi dengan
prevalensi 25% kejadian dari seluruh kondisi cp yang terjadi.
Patologi dan Patologi fungsional
Adanya gangguan dan kelainan pada saraf otak area lesi motorik tungkai
akibat infeksi dan perdarahan pembuluh darah otak.
Pemeriksaan
Anamnesis
2
Pemeriksaan tonus
Pengukuran ROM
Pemeriksaan fungsi gerak berdiri dan berjalan
Evaluasi;
Lebih dari 50% anak tipe diplegi belajar berjalan pada usia sekitar 3 tahun,
tetapi cara berjalan sering tidak normal dan sebagian anak memerlukan
alat bantu
Intervensi
ICF target ;
Diharapkan klien bisa transfer.
Kognisi lebih baik hingga mampu berkomunikasi
Release spastik pada kedua tungkai
Mencegah dan mengatasi kontraktur pada tendon achilles
Disability target, dan Environment Target)
Modalitas yang direkomendasikan adalah;
Matras
Ballster
Bangku Bobath
Alat bantu adaptasi dengan sepatu ankle foot orthose (AFO) dynamic
Referensi
- Pediatric Physical Therapy, Jan S. Tecklin. Philadelphia. 2008.
- Functional Movement Development, Donna J. Cech. Suzanne “Tink” Martin.
St. louis. 2012
- Motor skill Acquisition in the First Year,Lois Bly, M.A.,PT. 1994.
- Clinical Application for Motor Control, Patricia C. Montgomory , PhD. PT.
2003
3
Principal Of Neural Science, Eric R. Candel. 2000.
Cerebral Palsy (CP) adalah Gangguan gerak dan postur yang bersifat
permanen akibat lesi pada saraf otak namun tidak progressif, kerusakan
otak bisa terjadi pada masa kehamilan, masa persalinan dan pada masa
pasca persalinan hingga usia dua tahun pertama kehidupan. (Bobath,
1997). CP Spastik Diplegia adalah CP yang lebih berdampak kepada ke-dua
tungkai dari pada ke-dua lengan. (Jane Styer-Acevedo, 2008)
Insidensi dan Prevalensi
Angka kejadian CP adalah 2-2,5 per 1000 kelahiran hidup (di negara maju),
di negara berkembang angka kejadian CP lebih tinggi 2,5-5 / 1000 kelahiran
hidup, untuk CP diplegia angka kejadiannya adalah 22,4 % ( urutan kedua
setelah Quadriplegia 25%)
Patologi dan Patologi fungsional
Adanya gangguan dan kelainan pada saraf otak area lesi motorik tungkai
akibat infeksi dan perdarahan pembuluh darah otak.
Pemeriksaan
Anamnesis
4
ᜀĀⴀ ĀᜀĀ Hasil CT scan atau MRI
ᜀĀⴀ ĀᜀĀ Diagnosa dokter spesialis saraf
Pemeriksaan fisik;
ᜀĀⴀ ĀᜀĀ Pemeriksaan postur
ᜀĀⴀ ĀᜀĀ Pemeriksaan tonus
ᜀĀⴀ ĀᜀĀ Pengukuran ROM
ᜀĀⴀ ĀᜀĀ Pemeriksaan fungsi gerak berdiri dan berjalan
Evaluasi;
Menilai keseimbangan berdiri
Menilai pola berjalan
Diagnosa Fisioterapi:
- Gangguan fungsi berdiri dan berjalan karena spastik dan kelemahan
kedua tungkai
Prognosis Fungsional
Lebih dari 50% anak tipe diplegi belajar berjalan pada usia sekitar 3 tahun,
tetapi cara berjalan sering tidak normal dan sebagian anak memerlukan
alat bantu
I. Intervensi
ICF target ;
- Diharapkan klien bisa berdiri dan berjalan -
Release spastik pada kedua tungkai
- Mencegah dan mengatasi kontraktur pada tendon achilles -
Disability target, dan Environment Target)
Modalitas yang direkomendasikan adalah;
Matras
Ballster
Bangku Bobath
5
Functional Movement Development, Donna J. Cech. Suzanne “Tink” Martin.
2012
Motor skill Acquisition in the First Year,Lois Bly, M.A.,PT. 1994.
Cerebral Palsy (CP) adalah Gangguan gerak dan postur yang bersifat
permanen akibat lesi pada saraf otak namun tidak progressif, kerusakan
otak yang terjadi pada janin dan bayi yang sedang berkembang. Gangguan
motoric yang terjadi sering disertai dengan gangguan sensasi, persepsi,
kognisi, komunikasi dan gangguan perilaku serta kadang disertai epilepsy
dan gangguan sekunder pada musculoskeletal. (SCPE, Survelence of
Cerebral Palsy in Europe.)
Proposrsi anak yang mengalami hemiplegia yang terjadi pada masa gestasi
adalah 14% pada masa yang sangat prematur, 12% pada prematur
mederate dan 44% pada full term.
6
Patologi dan Patologi fungsional
Diakibatkan oleh lesi pada otak yang dapat terjadi pada masa dalam
kandungan atau selama proses persalinan yang mengakibatkan salah satu
hemisphere yang mengontrol bagian tubuh sisi yang berlawanan mengalami
lesi.
Pemeriksaan
Anamnesis
Riwayat kehamilan
Riwayat persalinan
Riwayat kesehatan setelah lahir hingga usia dua tahun
Pemeriksaan Medis;
Pemeriksaan spesialis anak
Pemeriksaan penunjang
Pemeriksaan gerak fungsi;
Inspeksi postur dan pola gerak
Pemeriksaan tonus otot
Pemeriksaan panjang tungkai
Pemeriksaan postur terkait skoliosis
Pemeriksaan visual
Pemeriksaan keseimbangan
Pemeriksaan fungsi pola berdiri dan pola jalan
Diagnosa Fisioterapi
a. Impairmen
Gangguan perkembangan otak
Gangguang Berdasarkan ICF komplemen terhadap ICD
Problema aktual dan potensial yang dijumpai:
ᜀĀᜀĀ Abnormal pola jalan
ᜀĀᜀĀ Asimetrik tungkai
ᜀĀᜀĀ Dislokasi/ subluksasi hip
ᜀĀᜀĀ Deformitas ankle (ankle varus)
ᜀĀᜀĀ Kontraktur tendon achilles
7
Prognosis Fungsional:
60-80 % bisa berjalan
Intervensi
Tujuan intervensi:
Stimulasi sensorik-motorik sisi yang terkena
Meningkatkan keseimbangan berdiri
Melatih pola jalan normal
Mencegah deformitas
Modalitas yang direkomendasikan adalah:
Matras
Bangku bobath/ bench
Wallbars
Referensi
Pediatric Physical Therapy, Jan S. Tecklin.2008.
Functional Movement Development, Donna J. Cech. Suzanne “Tink” Martin.
2012
Motor skill Acquisition in the First Year,Lois Bly, M.A.,PT. 1994.
8
Cerebral Palsy (CP) adalah Gangguan gerak dan postur yang bersifat
permanen akibat lesi pada saraf otak namun tidak progressif, kerusakan
otak bisa terjadi pada masa kehamilan, masa persalinan dan pada masa
pasca persalinan hingga usia dua tahun pertama kehidupan. (Bobath,
1997). CP Spastik atetoid adalah adalah CP yang mengakibatkan terjadinya
involuntary movement karena tonus yang sering berubah antara
hipertonus dan hipotonus yang diakibatkan oleh kerusakan pada otak
bagian basal ganglia.
Insidensi dan Prevalensi
Angka kejadian CP adalah 2-2,5 per 1000 kelahiran hidup (di negara maju),
di negara berkembang angka kejadian CP lebih tinggi 2,5-5 / 1000 kelahiran
hidup, untuk CP diplegia angka kejadiannya adalah 22,4 % ( urutan kedua
setelah Quadriplegia 25%)
Patologi dan Patologi fungsional
Adanya gangguan dan kelainan pada saraf otak basal ganglia
Pemeriksaan
Anamnesis
Pemeriksaan klinis;
Hasil CT scan atau MRI
Diagnosa dokter spesialis saraf
Pemeriksaan fisik;
Pemeriksaan postur
Pemeriksaan tonus
Pengukuran ROM
Pemeriksaan fungsi
Pemeriksaan keseimbangan dan koordinasi
9
Evaluasi;
Menilai keseimbangan dan koordinasi
Diagnosa Fisioterapi:
Gangguan keseimbangan dan koordinasi gerak fungsional
Prognosis Fungsional
50-70 % bisa berjalan
Intervensi
ICF target ;
Diharapkan klien bisa duduk sendiri
10
1) Kode ICD : P07.30
2) Kode ICF : s110, s430, s230, s260, s710, s760
b210, b230, b235, b260, b265, b440, b510, b750
d710, d410,d560
e310
Kondisi Kesehatan
Pengertian
Klasifikasi
Dibagi lagi berdasarkan usia gestasi:
Amat sangat prematur (< 28 minggu)
Sangat prematur (xtremely preterm (28–<32 minggu)
Moderat prematur (32–<37 minggu)
Epidemiologi
Patologi fungsional
11
Pemeriksaan
Anamnesis
Status paritas, usia kehamilan, riwayat pre natal, perinatal, dan post natal
Berat badan lahir, panjang lahir, dan lingkar kepala saat lahir
Kemampuan menelan dan menghisap pada bayi
Respon sensoris terhadap stimulus lingkungan
Kemampuan gerakan dan kontrol postur bayi
Pemeriksaan Medis
Pemeriksaan spesialis anak
Pemeriksaan penunjang
Pemeriksaan Gerak Fungsi
Pemeriksaan fungsi oral (menghisap, dan menelan)
Pemeriksaan fungsi sensoris
Pemeriksaan fungsi pernapasan
Pemeriksaan tonus otot
Pemeriksaan gerak refleks
Diagnosis Fisioterapi a.
Impairmen
Gangguan perkembangan otak
Gangguan perkembangan paru
Gangguan respon sensorik
Gangguan tonus otot
Gangguan gerak refleks
Limitasi Aktifitas
Gangguan menghisap dan menelan
Gangguan pernapasan
Gangguan kontrol kepala dan punggung
Gangguan fungsi gerakan tangan
Restriksi Partisipasi
Gangguan interaksi dengan orangtua
Gangguan interaksi dengan lingkungan
12
Prognosis
13
Howson C.P., Kinney M.V., Lawn J. March of Dimes, PMNCH, Save the
Children, Born Too Soon: the global action report on preterm birth; 2012.
14
Jenis Gangguan:
Transient Tachypneaof Newborn (TTN)
Respiratory Distress Syndrome (RDS)
Hyaline Membrane Diseases (HMD)
Klasifikasi gangguan
Gangguan napas ringan
Gangguan napas sedang
Gangguan napas berat
Epidemiologi
Presentasi kejadian menurut usia kehamilan adalah 60 -80% terjadi pada bayi
dengan usia kehamilan <28 minggu, 15-30% pada bayi usia kehamilan 32-36
minggu, dan jarang ditemukan pada bayi cukup bulan.
Patologi fungsional:
Status paritas, usia kehamilan, riwayat pre natal, perinatal, dan post
natal
Berat badan lahir, panjang lahir, dan lingkar kepala saat lahir
Warna kulit saat lahir, tangisan saat lahir, usaha bernapas (menanyakan
skor APGAR atau skor DOWNE)
Alat bantu pernapasan yang diberikan saat lahir
Pemeriksaan Medis
Pemeriksaan spesialis anak
15
Pemeriksaan skor DOWNE
Pemeriksaan saturasi pernapasan
Pemeriksaan frekuensi pernapasan
Pemeriksaan suara pernapasan
Pemeriksaan pola pernapasan
Pemeriksaan mobilitas thoraks
Pemeriksaan otot-otot pernapasan
Diagnosis Fisioterapi
Impairmen
Gangguan perkembangan paru
Gangguan jalan napas
Gangguan fungsi ventilasi
Gangguan fungsi respirasi
Gangguan otot-otot pernapasan
Gangguan mobilitas thoraks
Limitasi Aktifitas
Gangguan menghisap dan menelan
Gangguan fungsi bersuara
Restriksi Partisipasi
Gangguan interaksi dengan orangtua
Gangguan interaksi dengan lingkungan
Prognosis
- Angka kematian bayi dengan gangguan pernapasan adalah 26% pada
gangguan ringan, 40% pada gangguan sedang, dan 46% pada gangguan
berat.
- Dengan pemberian intervensi yang baik pada fase intensif, maka terjadi
penurunan angka kematian bayi sampai dengan 95%.
Evaluasi
- Evaluasi derajat sesak dengan DOWNE score -
Evaluasi saturasi dengan Oxymetry
- Evaluasi pola pernapasan dengan Respiratory Rate dan pola napas di monitor
16
Intervensi
Tujuan Intervensi
Melakukan pembersihan jalan napas
Meningkatkan fungsi otot-otot pernapasan
Meningkatkan mobilitas thoraks
17
World Health Organization, International Classification of Functioning
Down syndrome
Down Syndrome
1) ICD : Q90
ICF : b7s7
Kondisi Kesehatan
Pengertian
18
Kondisi dan Perkembangan Anak Down Syndrome tahun 2013 mengatakan
bahwa 73% dari anak-anak DS baru mampu berdiri pada usia 24 bulan, dan
40% bisa berjalan pada usia 24 bulan
Pemeriksaan
Anamnesis
Riwayat kelahiran karena ibu hamil di usia tua
4) Evaluasi :
Ȁ̀⠀ Ā⤀ĀȀ Penilaian fungsi gerak
Ȁ̀⠀ Ā⤀ĀȀ Penilaian kondisi sensomotorik
Ȁ̀⠀ Ā⤀ĀȀ penilaian koordinasi gerak sendi
Diagnosa Fisioterapi
19
Adanya gangguan merangkak, duduk, berdiri dan berjalan yang disebabkan
hipersensitiv dan hipotonus pada UE dan LE sehingga mengganggu aktivitas
klien untuk dapat berkembang
Prognosis
Mampu berjalan dan melakukan beberapa pekerjaan secara mandiri
Intervensi
ICF Target :
2. Modalitas :
Matras
Ballster
Bola Terapi
Meja Bobath
E. Referensi
Pediatric Physical Therapy, Jan S. Tecklin.2008.
Functional Movement Development, Donna J. Cech. Suzanne “Tink” Martin.
2012
Motor skill Acquisition in the First Year,Lois Bly, M.A.,PT. 1994.
Torticolis
20
Torticolis
Kode ICD : M43.6
Kode ICF : b7350
Masalah kesehatan
Pengertian
Pemeriksaan
Anamnesis
- Riwayat kehamilan -
Riwayat persalinan
- Riwayat kesehatan setelah lahir.
Pemeriksaan Medis;
21
Pemeriksaan keseimbangan
Pemeriksaan visual
Diagnosa Fisioterapi
a. Impairmen
Referensi
Pediatric Physical Therapy, Jan S. Tecklin.2008.
Functional Movement Development, Donna J. Cech. Suzanne “Tink”
Martin. 2012
Motor skill Acquisition in the First Year,Lois Bly, M.A.,PT. 1994.
22
Club foot/ Congenital Talipes Equinus Varus (CTEV)
A. CTEV
1) Kode ICD : Q66.0
2) Kode ICF : b7s7
Masalah kesehatan
Pengertian
CTEV adalah suatu kondisi di mana kaki pada posisi adduksi, supinasi dan
varus. Tulang calcaneus, navicular, dan cuboid terrotasi ke arah medial
terhadap talus, dan tertahan dalam posisi adduksi serta inversi oleh
ligamen dan tendon yang dimana terjadi
Plantar flexi talocranialis karena M. Tibialis Anterior yang lemah.
Menurut Insidens CTEV bervariasi, bergantung dari ras dan jenis kelamin.
Insidens CTEV di Amerika Serikat sebesar 1-2 kasus dalam 1000 kelahiran
hidup. Perbandingan kasus laki-laki dan perempuan adalah 2:1. Keterlibatan
bilateral didapatkan pada 30-50% kasus.
Patologi dan Patologi fungsional
Pemeriksaan
Anamnesis
Riwayat kehamilan
Riwayat persalinan
Riwayat kesehatan setelah lahir
Pemeriksaan Medis;
23
Pemeriksaan spesialis anak
Pemeriksaan penunjang
Pemeriksaan gerak fungsi;
Inspeksi postur dan pola gerak kaki dan tungkai
Pemeriksaan tonus otot
Pemeriksaan fungsi
ROM test
Diagnosa Fisioterapi
Impairmen
Kekakuan sendi ankle
Abnormalitas postur kaki ke arah varus
Problema aktual dan potensial yang dijumpai:
Keterbatasan gerak sendi ankle
Disuse atrophy pada otot-otot tungkai bawah
Gangguan sensomotor pada kaki
Abnormalitas pola berjalan
Prognosis Fungsional:
Prognosis CTEV akan lebih baik jika ditangani secara dini, untuk kasus
ringan masih bisa dikoreksi ke arah normal, namun jika kondisi yang berat,
maka harus dilakukan tindakan operasi.
Intervensi
Tujuan intervensi:
Mengurangi deformitas dan menormalkan postur kaki
Menambah ROM sendi ankle
Meningkatkan fungsi sensomotor kaki
Modalitas yang direkomendasikan adalah:
Matras
Bantal
Handuk
Penggunaan alat bantu brace
Referensi
24
Pediatric Physical Therapy, Jan S. Tecklin. Philadelphia. 2008.
CHD
1) ICD-10 : Q65 (Congenital Deformities of Hip)
Masalah Kesehatan
Pengertian
CTEV adalah suatu kondisi di mana kaki pada posisi adduksi, supinasi dan
CDH (Congenital Dislocation of the Hip) atau yang dalam bahasa Indonesia
adalah Dislokasi Panggul Kongenital, mempunyai istilah lain yang lebih baru
yaitu DDH (Developmental Displacement of the Hip).
25
head dan acetabulum menjadi tidak normal, yang akan
menyebabkan displasia.
Insidensi dan Prevalensi
C. Pemeriksaan
Anamnesis
Riwayat kehamilan
Riwayat persalinan
Riwayat kesehatan setelah lahir
Pemeriksaan Medis;
Pemeriksaan spesialis anak
Pemeriksaan penunjang (Rontgen atau Ultrasonography)
Pemeriksaan gerak fungsi;
26
Inspeksi postur dan pola gerak kaki dan tungkai
Pemeriksaan tonus otot
Pemeriksaan fungsi
ROM test
Pemeriksaan panjang tungkai
Barlow test
Pemeriksaan sensomotor tungkai
Diagnosa Fisioterapi
a. Impairmen
Dislokasi hip
Kelemahan otot tungkai atas dan bawah
Atrophi otot tungkai
Problema aktual dan potensial yang dijumpai:
Gangguan fungsi gerak tungkai
Gangguan fungsi sensomotor
Prognosis Fungsional:
Referensi
- Pediatric Physical Therapy, Jan S. Tecklin. Philadelphia. 2008.
27
Physical Therapy for Children, Suzanne K. Cambell. Elsevier . St.
Louis. Missouri. 2012
Functional Movement Development, Donna J. Cech. Suzanne “Tink”
Martin. 2012
28
PANDUAN PRAKTEK KLINIS
FISIOTERAPI
NEUROLOGI
29
Bell’s Palsy
A.Kode
30
pada salah satu sisi wajah. Pasien mengalami kesulitan dalam menutup dan atau
membuka mata, gangguan berkumur, mengunyah, dan tersenyum.
2). Pemeriksaan fisik
Inspeksi
Wajah tidak simetris.
Ekspresi wajah asimetris.
Palpasi
Nyeri tekan pada bagian belakang telinga.
Penurunan tonus otot pada sisi yang lesi.
Tightness pada sisi yang tidak lesi.
Pemeriksaan fisik
Pemeriksaan Fungsi Gerak Dasar dengan Ugo Fisch.
Pemeriksaan Penunjang: nerve excitability dengan Strength Duration
Curve (SDC)
Pemeriksaan berdasarkan bukti
Body Structure & Function:
Kelemahan otot satu sisi wajah
Nyeri dan rasa baal
Penurunan fungsi n. Fascialis
Activity Limitation:
Gangguan mengunyah
Sulit memejamkan dan membuka mata sisi kiri dan atau kanan
Gangguan ekspresi wajah
Gangguan mengangkat alis
Gangguan bersiul
Participation Restriction:
Menarik diri dari kegiatan sosial
Evaluasi
Pengukuran objektif: pengukuran fungsi otot wajah dengan Ugo Fisch
Diagnosa Fisioterapi: s7b7..
Gangguan memejamkan mata dan mengunyah karena adanya kelemahan otot dan
penurunan fungsi n. fascialis pada satu sisi wajah kiri sehingga mengganggu aktivitas
sosial.
Prognosis fungsional
31
Fungsi wajah kembali normal. Sembuh spontan pada 75-90 % dalam beberapa minggu
atau dalam 1-2 bulan. Kira-kira 10-15 % sisanya akan memberikan gambaran
kerusakan yang permanen (Murthy & Saxena, 2011).
Intervensi
ICF Target
Manajemen Nyeri
Re-edukasi otot
Relaksasi otot
Mencegah artropi
Modalitas yang direkomendasikan
Terapi latihan
Terapi manipulasi
Massage
Heating Superficial (IR, Hotpack, MWD)
Laser
Electrical Stimulation (ES)
Taping
Outcome Measure
Pengukuran fungsi otot wajah dengan Ugo Fisch
Referensi:
Dickson, Gretchen (2014). Primary Care ENT. An Issue of Primary Care: Clinics in
Office Practice
Grewal DS. (2014). Atlas of Surgery the Facial Nerve: An Otolaryngologist‘s
Perspective
Goodman CC, Kenda S. (2009). Pathology Implications for The Physical Therapy Third
Edition. Sounders
Murthy JMK, Saxena AB. (2011). Annals of Indian Academy of Neurology: Bell Palsy:
Treatment Guidelines.
Tiemstra JD, Khatkhate N. (2007). Bell‘s Palsy: Diagnosis And Management. American
Family Physician.
32
Stroke
Kode
ICD-10: 169.0
33
Perdarahan otak dapat ddisebabkan oleh pecahnya dinding pembuluh darah
oleh emboli.
b. Stroke hemoragik
Pembuluh darah otak yang pecah menyebabkan darah mengalir ke substansi
atau ruangan subarachnoid yang menimbulkan perubahan komponen
intracranial yang seharusnya konstan. Adanya perubahan komponen
intracranial yang tidak dapat dikompensasi tubuh akan menimbulkan
peningkatan TIK yang bila berlanjut akan menyebabkan herniasi otak
sehingga timbul kematian.
Di samping itu, darah yang mengalir ke substansi otak atau ruang subarachnoid
dapat menyebabkan edema, spasme pembuluh darah otak dan penekanan pada
daerah tersebut menimbulkan aliran darah berkurang atau tidak ada sehingga
terjadi nekrosis jaringan otak.
Pemeriksaan
Anamnesis
Pasien mengeluh kelemahan anggota gerak sebelah kiri atau kanan. Di sertai
dengan atau tanpa gangguan berbicara, kognitif, memori, sensor motorik dan
keseimbangan.
Pemeriksaan fisik
Inspeksi
Deformitas karena spastik
Postur yang asimetris
Pola jalan yang kuang baik
Pemeriksaan fisik berdasar bukti
Body Structure &Function:
Kelemahan fungsi otot
Gangguan sensoris
Gangguan keseimbangan dan koordinasi
Activity Limitation:
Gangguan ambulasi
Gangguan berjalan
Gangguan aktifitas sehari
Participation Restriction:
Kesulitan Bekerja
34
Kesulitan berolah raga
Kesulitan beribadah
Kesulitan bersosialisasi
Evaluasi Pengukuran
objektif:
Derajat Stroke (contoh, NIHSS)
Kekuatan Otot (contoh, MMT)
Spastisitas (contoh, Asworth Scale)
Sensasi (contoh, Dermatome Test)
Kognitif (contoh, GCS, MMSE)
Keseimbangan dan koordinasi (contoh, BBS)
Fungsional (contoh, MMAS)
Diagnosa Fisioterapi: b117, b1470, b280, b7s7, b7303, b770, b7...
Belum bisa melakukan aktivitasnya secara mandiri karena adanya gangguan kognitif,
gangguan sensasi, kelemahan pada satu sisi dan penurunan tonus otot pada anggota
gerak pada sisi lesi sehingga terjadi hipomobilitas, gangguan fungsi yang akan
mempengaruhi dalam aktivitas bekerja, berolahraga, beribadah dan bersosialisasi.
Prognosis fungsional
Hampir 2/3 pasien pasca stroke dimulai dengan defisit mobilitas, dan setelah 6 bulan
70% dari penderita bisa berjalan mandiri. Kecepatan dan kualitas berjalan ini dapat
ditingkatkan untuk sekitar 60% penderita (Shaughnessy, 2009).
Intervensi
ICF Target
Meningkatkan kognisi terhadap fungsi gerak
Re-edukasi fungsi otot
Mengembalikan sensasi
Meningkatkan Keseimbangan dan koordinasi
Mengembalikan aktivitas fungsional
Modalitas yang direkomendasikan
Terapi latihan
Terapi Manipulasi
Massage
Heating Superficial (IR, Hotpack, MWD)
35
Laser
Electrical Stimulation (ES)
Taping
H. Outcome Measure
Derajat Stroke (contoh, NIHSS)
Kekuatan Otot (contoh, MMT)
Spastisitas (contoh, Asworth Scale)
Sensasi (contoh, Dermatome Test)
Kognitif (contoh, GCS, MMSE)
Keseimbangan dan koordinasi (contoh, BBS)
Fungsional (contoh, MMAS)
Referensi
Donnan GA, Fischer, Macleud M, Davis SM. (2008). Stroke.Lancet
Goodman CC, Kenda S. (2009). Pathology Implications for The Physical Therapy Third
Edition. Sounders
Micielle G. (2002). Guideline Compliance Improve Stroke Outcome
Shaughnessy N, Michael K. (2009). Stroke in Older Adult in Stroke Recovery and
Rehabilitation. Demos Medical Publishing. New York
WHO. ICF-Introduction, The International Classification of Functioning Disability and
Health. http://www.who.int/classification/icf/introns/icf-Eng-Intro-pdf2002.
36
Erb Palsy
A. ICD-10: G54.0
Kondisi Kesehatan
Pengertian
Menurut Tung T. H (2002) Erb palsy merupakan kelumpuhan yang terjadi pada
satu ektremitas atas yang disebabkan karena lesi pada pleksus brachialis.Lesi pada
pleksus brachialis biasanya terjadi akibat adanya peregangan yang berlebihan atau
merobek serabut sarat C5-C6.
Insidensi dan Prevalensi
Angka kejadian tiap 1000 kelahiran di amerika yaitu 0,5-4,4 kasus sedangkan di
prancis dan saudi arabia 1,09-1,19. Sengakan angka kematian dengan kerusakan
permanen itu 3-25%.
Erb Palsy dapat terjadi pada laki-laki maupun wanita dan bisa terjadi pada bayi
karna proses kelahiran dan pada dewasa.
Patologi
Demielinisasi
Cedera saraf yang dapat menyebabkan abnormalitas motorik dan sensorik
dimanaterjadi kerusakan dari mielin tetapi akson tetap intak. Hal ini akibat dari
tekanan yang menyebabkan suatu episode iskemik sementara atau edemadan
neuropati perifer
Cedera Akson
Cedera pada akson dapat terjadi satu dari dua bentuk tipe yaitu degenerasi aksonal
atau degenerasi Wallerian. Keduanya dapat mengenai badan sel dan menyebabkan
khromatolisis sentral. Degenerasi aksonal merupakan cedera saraf yang
memperlihatkan suatu bentuk kematian saraf yang mulai dari distal dan naik ke
proksimal. Degenerasi Wallerian merupakan cedera saraf yang memperlihatkan
kerusakan saraf fokal atau multifokal setelah 4 – 5 hari. Ini terjadi secara lengkap
untuk saraf motorik dalam 7 hari atau 11 hari untuk saraf sensorik. Degenerasi
aksonal bagian distal dari lokasi cedera dan bagian proksimal intak.
Pemeriksaan
Anamnesis
37
Pasien dengan kategori balita ditemukan keluhan salah satu lengannya tidak
dapat digerakkan.
2). Pemeriksaan Fisik
Inspeksi
Asimetris bahu
Pemeriksaan fisik berdasar bukti
Body Structure & Function
Kelemahan fungsi otot shoulder girdle
Gangguan sensasi
Activity Limitation
Gangguan mengangkat lengan
Gangguan menggenggam benda
Participation resriction
Gangguan aktifitas dalam bermain
Evaluasi
Pengukuran obyektif:
Kekuatan Otot (contoh: MMT)
Wrist Index
Spadi Index
Diagnosa Fisioterapi: b7351
Belum bisa melakukan aktivitas lengan sehubungan dengan cedera nervus C5-C6
mengakibatkan kelemahan otot-otot shoulder girdle di salah satu sisi sehingga
mengganggu aktivitas bermain
Prognosis Fungsional
Berdasarkan penelitian yang dilakukan british prognosis dari erb palsy tergantung
seberapa parah cidera saraf yang diderita. Apabila mengalami Erb‘s palsy C5 dan
C6, sekitar 90% dapat sembuh secara spontan dengan hasil 53% ekstremitas atas dapat
berfungsi mendekati normal. Jika C7 ikut cidera, maka 80% pemulihan tidak baik.
Intervensi
ICF target
Re-edukasi fungsi otot
Mengembalikan sensasi
Mengembalikan aktivitas fungsional
38
2). Modalitas yang direkomendasikan
a. Terapi latihan
b. Terapi Manipulasi
Massage
Heating Superficial (IR, Hotpack, MWD)
Laser
Electrical Stimulation (ES)
Taping
H. Outcome Measure
Kekuatan Otot (contoh: MMT)
Wrist Index
Spadi Index
Referensi
Tung TH, MacKinnon SE. (2003). Brachial Plexus Injuries. Clinics in plastic surgery. Hems
TEJ, Mahmood F. (2012). Injuries of the terminal branches of the infraclavicular
brachial plexus: Patterns of injury, management and outcome. The Bone & Joint
Journal
WHO. ICF-Introduction, the International Classification of Functioning Disabiity and
Health
http://www.who.int/classification/icf/introns/icf-Eng-Intro-pdf2002.
39
Guillain Barre Syndrome
A. Kode
Kondisi Kesehatan
1). Pengertian
Menurut Nolte (1999) Guillain Barre Syndrome (GBS) yaitu salah satu penyakit
demyelinating saraf yang juga merupakan salah satu polineuropati yang
merupakan kumpulan gejala gangguan pada saraf spinalis dan saraf cranialis.
Paralisis pada bagian ascenden atau paralisis landry. Penyebab belum diketahui,
umumnya terjadi paska infeksi virus (pernafasan dan saluran cerna).
2). Insidensi dan Prevalensi
Prevalensi penderita Guilain Barre Syndrome dijumpai 1 hingga 2 kasus per 100
ribu orang.Terjadi puncak insidensi antara usia 15-35 tahun dan antara 50-74
tahundan frekuensi tertinggi pada orang dewasa. Laki-laki lebih dominan banyak
terjadi dibandingkan perempuan.Dari pengelompokan ras didapatkan bahwa 83%
penderita adalah kulit putih, 7% kulit hitam, 5% Hispanic, 1% Asia dan 4% pada
kelompok ras yang tidak spesifik.
3). Patologi
Yang diketahui ilmuwan sampai saat ini adalah bahwa sistem imun menyerang
tubuhnya sendiri, dan menyebabkan suatu penyakit yang disebut sebagai penyakit
autoimun. Umumnya sel-sel imunitas ini menyerang benda asing dan organisme
pengganggu; namun pada GBS, sistem imun mulai menghancurkan selubung
myelin yang mengelilingi akson saraf perifer, atau bahkan akson itu sendiri.
Terdapat sejumlah teori mengenai bagaimana sistem imun ini tiba-tiba menyerang
saraf, namun teori yang dikenal adalah suatu teori yang menyebutkan bahwa
organisme (misalnya infeksi virus ataupun bakteri) telah mengubah keadaan
alamiah sel-sel sistem saraf, sehingga sistem imun mengenalinya sebagai sel-sel
asing. Organisme tersebut kemudian menyebabkan sel-sel imun, seperti halnya
limfosit dan makrofag, untuk menyerang myelin. Limfosit T yang tersensitisasi
bersama dengan limfosit B akan memproduksi antibodi melawan komponen-
komponen selubung myelin dan menyebabkan destruksi dari myelin.
Akson adalah suatu perpanjangan sel-sel saraf, berbentuk panjang dan tipis;
berfungsi sebagai pembawa sinyal saraf. Beberapa akson dikelilingi oleh suatu
40
selubung yang dikenal sebagai myelin, yang mirip dengan kabel listrik yang
terbungkus plastik. Selubung myelin bersifat insulator dan melindungi sel-sel
saraf. Selubung ini akan meningkatkan baik kecepatan maupun jarak sinyal saraf
yang ditransmisikan. Sebagai contoh, sinyal dari otak ke otot dapat ditransmisikan
pada kecepatan lebih dari 50 km/jam.
Myelin tidak membungkus akson secara utuh, namun terdapat suatu jarak
diantaranya, yang dikenal sebagai Nodus Ranvier; dimana daerah ini merupakan
daerah yang rentan diserang. Transmisi sinyal saraf juga akan diperlambat pada
daerah ini, sehingga semakin banyak terdapat nodus ini, transmisi sinyal akan
semakin lambat.
Pada GBS, terbentuk antibodi atau immunoglobulin (Ig) sebagai reaksi terhadap
adanya antigen atau partikel asing dalam tubuh, seperti bakteri ataupun virus.
Antibodi yang bersirkulasi dalam darah ini akan mencapai myelin serta
merusaknya, dengan bantuan sel-sel leukosit, sehingga terjadi inflamasi pada
saraf. Sel-sel inflamasi ini akan mengeluarkan sekret kimiawi yang akan
mempengaruhi sel Schwan, yang seharusnya membentuk materi lemak penghasil
myelin. Dengan merusaknya, produksi myelin akan berkurang, sementara pada
waktu bersamaan, myelin yang ada telah dirusak oleh antibodi tubuh. Seiring
dengan serangan yang berlanjut, jaringan saraf perifer akan hancur secara
bertahap. Saraf motorik, sensorik, dan otonom akan diserang; transmisi sinyal
melambat, terblok, atau terganggu; sehingga mempengaruhi tubuh penderita. Hal
ini akan menyebabkan kelemahan otot, kesemutan, kebas, serta kesulitan
melakukan aktivitas sehari-hari, termasuk berjalan.10 Untungnya, fase ini bersifat
sementara, sehingga apabila sistem imun telah kembali normal, serangan itu akan
berhenti dan pasien akan kembali pulih.
Seluruh saraf pada tubuh manusia, dengan pengecualian pada otak dan medulla
spinalis, merupakan bagian dari sistem saraf perifer, yakni terdiri dari saraf
kranialis dan saraf spinal. Saraf-saraf perifer mentransmisikan sinyal dari otak dan
medulla spinalis, menuju dan dari otot, organ, serta kulit. Tergantung fungsinya,
saraf dapat diklasifikasikan sebagai saraf perifer motorik, sensorik, dan otonom
(involunter).
Pada GBS, terjadi malfungsi pada sistem imunitas sehingga muncul kerusakan
sementara pada saraf perifer, dan timbullah gangguan sensorik, kelemahan yang
41
bersifat progresif, ataupun paralisis akut. Karena itulah GBS dikenal sebagai
neuropati perifer.
GBS dapat dibedakan berbagai jenis tergantung dari kerusakan yang terjadi. Bila
selubung myelin yang menyelubungi akson rusak atau hancur, transmisi sinyal
saraf yang melaluinya akan terganggu atau melambat, sehingga timbul sensasi
abnormal ataupun kelemahan. Ini adalah tipe demyelinasi; dan prosesnya sendiri
dinamai demyelinasi primer.
Akson merupakan bagian dari sel saraf 1, yang terentang menuju sel saraf 2.
Selubung myelin berbentuk bungkus, yang melapisi sekitar akson dalam beberapa
lapis. Pada tipe aksonal, akson saraf itu sendiri akan rusak dalam proses
demyelinasi sekunder; hal ini terjadi pada pasien dengan fase inflamasi yang berat.
Apabila akson ini putus, sinyal saraf akan diblok, dan tidak dapat ditransmisikan
lebih lanjut, sehingga timbul kelemahan dan paralisis pada area tubuh yang
dikontrol oleh saraf tersebut. Tipe ini terjadi paling sering setelah gejala diare, dan
memiliki prognosis yang kurang baik, karena regenerasi akson membutuhkan
waktu yang panjang dibandingkan selubung myelin, yang sembuh lebih cepat.
Tipe campuran merusak baik akson dan myelin. Paralisis jangka panjang pada
penderita diduga akibat kerusakan permanen baik pada akson serta selubung saraf.
Saraf-saraf perifer dan saraf spinal merupakan lokasi utama demyelinasi, namun,
saraf-saraf kranialis dapat juga ikut terlibat.
Pemeriksaan
Anamnesis
Pasien mengeluhkan mengalami kelemahan pada anggota gerak. Pasien tidak
mampu untuk duduk, berdiri dan berjalan. Pasien merasakan sakit pada badan .
Pemeriksaan Fisik
Inspeksi
Tampak kelelahan pada wajah
Otot-otot bibir terkesan bengkak
Kemungkinan adanya atropi
Kemungkinan adanya tropic change
Pemeriksaan fisik berdasar bukti
Body Structure & Function
Kelemahan fungsi otot anggota gerak
42
Kelemahan fungsi otot postural
Gangguan sensasi
Activity Limitation
Gangguan untuk duduk
Gangguan untuk berdiri
Gangguan untuk berjalan
Gangguan untuk mengangkat tangan
Participation resriction
Kesulitan Bekerja
Kesulitan berolah raga
Kesulitan beribadah
Kesulitan bersosialisasi
D. Evaluasi
Pengukuran
obyektif Vital sign
Kekuatan otot (contoh: MMT)
Mobilitas thorax (contoh: Mid line)
Tendon reflex
Lingkar otot
ROM (Contoh: Goneometer)
43
mempengaruhi dalam aktivitas bekerja, berolahraga, beribadah dan
bersosialisasi.
Prognosis Fungsional
Sindrom Guillain-Barré bisa menjadi gangguan yang menghancurkan karena
onsetnya yang tiba-tiba dan tak terduga. Selain itu, pemulihan belum tentu cepat.
Seperti disebutkan di atas, pasien biasanya mencapai titik kelemahan atau
kelumpuhan terbesar beberapa hari atau minggu setelah gejala pertama terjadi.
Gejala kemudian menstabilkan pada tingkat ini untuk jangka waktu beberapa hari,
minggu, atau, terkadang, berbulan-bulan. Periode pemulihan mungkin hanya
beberapa minggu atau selama beberapa tahun. Sekitar 30 persen dari mereka yang
memiliki Guillain-Barré masih memiliki kelemahan sementara setelah 3 tahun.
Sekitar 3 persen mungkin mengalami kekambuhan kelemahan otot dan sensasi
kesemutan bertahun-tahun setelah serangan awal.
Intervensi
ICF target
Re-edukasi fungsi otot
Mengembalikan sensasi
Pemeliharaan sistem pernapasan
Mengembalikan aktivitas fungsional
Modalitas yang direkomendasikan
Terapi latihan
Terapi Manipulasi
Massage
Heating Superficial (IR, Hotpack, MWD)
Laser
Electrical Stimulation (ES)
Taping
Outcome Measure
Vital sign
Kekuatan otot (contoh: MMT)
Mobilitas thorax (contoh: Mid line)
Tendon reflex
Lingkar otot
ROM (Contoh: Goneometer)
44
Keseimbangan (contoh: BBS)
Fungsional (contoh: MMAS)
Referensi
Liu J, Wang LN, McNicol ED. (2013). Pharmacological treatment for pain in
Guillain–Barré syndrome. The Cochrane Database of Systematic Reviews
Sejvar, James J, Baughman (2011). Population incidence of Guillain–Barré
syndrome: a systematic review and meta-analysis
WHO.ICF-Introduction, the International Classification of Functioning Disabiity and
Health. http://www.who.int/classification/icf/introns/icf-Eng-Intro-pdf2002.
45
Carpal Tunnel Syndrome
A. Kode
ICD-10 : G56.0
ICF : b2801, b7300, s7302, d445
Kondisi kesehatan
1). Pengertian
Carpal Tunnel Syndrome atau CTS adalah suatu gangguan yang terjadi di
pergelangan tangan karena saraf yang tertekan dan menimbulkan gejala nyeri,
mati rasa dan parasthesia (kesemutan atau seperti terbakar). Saraf yang tertekan
adalah n. medianus yang terbentang antara lengan bawah dan telapak tangan di
lorong karpal.
2). Insidensi dan prevalensi
Menurut studi kasus yang dilakukan Ibrahim, dkk (2012) sekitar 90% dari semua
sindrom kompresi saraf, CTS dapat mempengaruhi siapa saja. Di Amerika Serikat
5% orang kaukasia memiliki resiko tertinggi terkena CTS dibandingkan dengan
ras lain seperti di Afrika Selatan. Wanita lebih rentan terkena CTS di banding laki-
laki dengan rasio 3:1 yang berkisar usia antara 45-60 tahun. Hanya 10% dari kasus
CTS yang dilaporkan terkena pada usia kurang dari 30 tahun. Dengan
bertambahnya usia maka kejadian CTS menjadi faktor resiko. CTS ini juga umum
terjadi pada wanita hamil.
3). Patologi
Faktor mekanik dan vaskuler memegang peranan penting dalam terjadinya carpal
tunnel syndrome (CTS). Umumnya CTS terjadi secara kronis dimana terjadi
penebalan flexor retinakulum, yang menyebabkan tekanan terhadap nervus
medianus. Tekanan yang berulang-ulang dan lama selanjutnya mengakibatkan
peninggian tekanan intrafasikuler. Akibatnya aliran darah vena intrafasikuler
melambat. Kongesti yang terjadi ini akan mengganggu nutrisi intrafasikuler, yang
selanjutnya diikuti adanya anoxia yang akan merusak endotel. Kerusakan endotel
ini akan mengakibatkan kebocoran protein sehingga terjadi edema epineural.
Apabila kondisi ini terus berlanjut maka akan terjadi fibrosis epineural yang
merusak serabut saraf. Lama-kelamaan saraf menjadi atrofi dan akan digantikan
oleh jaringan ikat yang mengakibatkan fungsi dari nervus medianus terganggu.
Pemeriksaan
1). Anamnesis
46
Pasien mengeluh merasakan kesemutan yang menjalar dari pergelangan tangan ke
sepanjang lengannya, parestesia, kurang merasa (numbness) serta rasa jari seperti
terkena aliran listrik (tingling) pada jari dan setengah sisi radial jari. Nyeri
ditangan dan keluhan parestesia biasanya lebih menonjol di malam hari. Kadang-
kadang nyeri dapat terasa sampai kelengan atas dan leher, sedangkan parestesia
umumnya terbatas di daerah distal pergelangan tangan. Terkadang dijumpai
pembengkakan dan kekakuan pada jari-jari tangan dan pergelangan tangan
terutama di pagi hari. Pasien mengeluh jari-jarinya menjadi kurang berfungsi
optimal. Kelemahan pada tangan juga sering dinyatakan dengan keluhan adanya
kesulitan menggenggam. Pada penderita CTS ini pada tahap lanjut dapat dijumpai
atrofi otot-otot thenar dan otot-otot lainya yang diinervasi oleh nervus medianus.
2). Pemeriksaan fisik
Inspeksi
Atropi otot
Pembengkakan pada jari tangan dan pergelangan tangan
Atropi otot-otot thenar
Pemeriksaan fisik berdasar bukti
Body Structure & Function:
Parestesia pada jari dan setengah sisi radial jari
Nyeri karena adanya penjepitan n. medianus
Kelemahan otot
Hipotonus
Activity Limitation:
Sulit menggenggam
Sulit makan menggunakan sendok
Participation Restriction:
Kesulitan Bekerja
Kesulitan beraktifitas sehari-hari dengan menggunakan tangan
D. Evaluasi
Pengukuran objektif:
Pemeriksaan nyeri
Pemeriksaan kelemahan otot
Fungsi menggenggam
47
Fungsional
E. Diagnosa Fisioterapi: b2801, b7300, s7302, d445
Kesulitan beraktifitas sehari-hari dengan menggunakan tangan kerena nyeri,
paresthesia, bengkak dan lemah otot-otot tangan, kekuatan menggenggam juga
berkurang. Pada kondisi kronis dijumpai atropi otot-otot thenar, hal ini akan
mempengaruhi aktivitas bekerja yang melibatkan otot-otot tangan.
F. Prognosis fungsional
Kebanyakan orang yang pulih dari gejala CTS setelah menjalankan operasi untuk
menemukan kerusakan saraf. CTS kronis jangka panjang dapat mengakibatkan
kerusakan saraf yang permanen.
Intervensi
ICF Target
Mengurangi nyeri, paresthesia pada area yang di inervasi n. medianus
Meningkatkan kekuatan otot lengan dan tangan
Re-edukasi fungsional, seperti menggenggam
Mengembalikan aktivitas fungsional
Modalitas yang direkomendasikan
Terapi latihan
Terapi Manipulasi
Massage
Heating Superficial (IR, Hotpack, MWD)
Electrical Stimulation (ES)
Tapping
Outcome Measure
Pemeriksaan nyeri (contoh, VAS)
Pemeriksaan kekuatan otot (contoh, MMT)
Fungsional (contoh, indek modifikasi aktifitas fungsional yang melibatkan
tangan)
Referensi:
Goodman CC, Kenda S. (2009). Pathology Implications for The Physical Therapy third
edition. Sounders
Ibrahim I, Khan WS, Goddar N. & Smitham, P. (2012). Suppl 1: Carpal Tunnel Syndrome:
A Review of the Recent Literature. The open orthopaedics journal
Scott, Kevin R, Kothari, Milind J. (2009). Treatment of Carpal Tunnel Syndrome
WHO.ICF-Introduction, the International Classification of Functioning Disabiity and Health
http://www.who.int/classification/icf/introns/icf-Eng-Intro-pdf2002.
48
Neuroma Akustik
A. Kode
ICD : H94
ICF : b2351, d450, d8500, d930, d9201
Kondisi kesehatan
1). Pengertian
Neuroma akustik adalah tumor jinak intrakranial dan ekstraaksial yang tumbuh
dengan lambat. Biasanya berasal dari bagian saraf keseimbangan (vestibular) dari
nervus VIII (Kondziolka et al., 2012). Neuroma akustik adalah tumor jinak dari
nervus VIII yang ditemukan di cerebellopontine angel dan kanalis auditoris
interna (Shinn et al., 2000).
2). Insidensi dan prevalensi
Prevalensi penderita neuroma akustik adalah 1:100.000 (Shin. 2000). Analisa
retrospective dari 46.000 MRI, ditemukan setidaknya 8 tumor neuroma akustik
(0.02 %). Umur rata-rata penderita adalah 50 tahun (Faraji, 2011). Menurut Tew
McMahon, neuroma akustik lebih banyak menyerang wanita, dan pasien biasanya
terdiagnosis pada umur 30 – 60 tahun. Neuroma akustik pada umumnya diderita
oleh orang dewasa. Di Denmark terjadi peningkatan angka kejadian dari 7.8 – 12.4
kasus per 1.000.000 kasus tumor otak pada tahun 1976 – 1995
(Hugho, 2011)
3). Patologi dan patologi fungsional
Mayoritas neuroma akustik berkembang dari sel Schwann yang menyelubungi sel
nervus vestibulokoklearis cabang vestibular. Sangat jarang (kurang dari 5 %)
tumor ini muncul dari sel nervus vestibulokoklearis cabang koklea. Karena
neuroma akustik berasal dari sel Schwann, tumor pada umumnya akan semakin
membesar dan menekan saraf vestibular. Secara lambat dan bertahap saraf
vestibular akan mengalami destruksi, sehingga terjadi penurunan fungsi (Lunsford
et al., 2006)
Pemeriksaan
1). Anamnesis
Ditemukan adanya gangguan keseimbangan pada pasien. Pasien mengalami
kesulitan saat beraktifitas, terutama pada saat berjalan.
2). Pemeriksaan
49
Pemeriksaan fisik
Pemeriksaan keseimbangan dengan alat ukur Berg Balance Scale
Pemeriksaan penunjang
Pemeriksaan penunjang dengan MRI
Pemeriksaan fisik berdasar bukti
Body structure & function:
Gangguan keseimbangan
Activity Limitation
Gangguan berjalan
Gangguan aktifitas sehari-hari
Participation Restriction
Kesulitan bekerja
Kesulitan beribadah
Kesulitan berolahraga
Kesulitan bersosialisasi
Evaluasi
1). Pengukuran objektif: pengukuran keseimbangan
2). Outcome measure : Berg Balance Scale
Diagnosa Fisioterapi
Berdasarkan ICF komplemen terhadap ICD : b2351, d450, d8500, d930, d9201
Gangguan keseimbangan sehingga terjadi gangguang gerak dan fungsi yang
mengakibatkan pasien mengalami kesulitan dalam berjalan, melakukan aktifitas
sehari-hari, bekerja, beribadah, berolahraga dan bersosialisasi.
Prognosis fungsional
Keterbatasan pada kemampuan fungsional disebabkan oleh gangguan keseimbangan
yang terjadi akibat adanya neuroma akustik. Jadi, prognosisnya bergantung pada
kondisi neuroma akustik tersebut. Prognosis dari neuroma akustik bervariasi
tergantung dari besarnya tumor. Tingkat kematian hampir 10 – 15 % dan kematian
terbanyak ketika tumor sedang dipotong (Tuli et al., 2013).
Intervensi
ICF Target
Meningkatkan keseimbangan
Meningkatkan kemampuan berjalan
Meningkatkan kemampuan fungsional
50
Modalitas yang direkomendasikan
Terapi latihan
Awareness through movement
Latihan keseimbangan
Coordinative physiotherapy
Referensi
Faraji, MR, 2011, Acoustic Neuromas, Irania Journal of Otorhinolaryngology Vol.23,
Mashhad
Hughes, M, Skilbesck, C, Saeed, S, 2011, Expectant Management of Vestibular
Schwannoma: Retrospctive Multivariate Analysis of Tumor Growh and
Outcome, Skull Base Vol. 21, London
Kondziolka, D, Mousavi, S, Kano, et al., 2012, The Newly Diagnosed Vestibular
Schwannoma: Radiosurgery, Resection, or Observation?, Neurosurg Focus Vol.
3, Pensylvania
Lunsford, LD, Niranjan, A, Loeffler, J, et al., 2016, Stereotactic Radiosurgery for
Patients with Vestibular Schwannomas. Internatioanal Radiosurgery
Association, Harrisburg
Shinn, YJ, Fraysse, B, Cognard, C, et al., 2000, Effectiveness of Conservative
Management of Acoustic Neuromas, The American Journal of Otolohy, Tolouse
Tuli, BS, Tuli IP, Singh, A, et al., 2013, ‘Surgical Anatomy of Ear’ dalam text book
of Ear, Nose and Throat 2nd ed. Lt Col BS Tuli, Jaypee Brothers Medical
Publisher, Darayagang, hh. 108 - 110
51
Cervical Root Syndrome (CRS)
A. Kode
ICD- 10 : G54,M54.1
ICF :
1). Body Function : b250, b280, b780, b798
2). Body Structure : s120, s198, s760
3). Activity and Participation : d430, d445, d5, d840-859
4). Environment : e310, e355
Kondisi Kesehatan
1). Pengertian
Suatu keadaan yang disebabkan oleh iritasi atau penekanan akar saraf cervical atau
penonjolan discus intervertebralis, gejalanya adalah nyeri leher yang menyebar ke
bahu lengan atas atau lengan bawah, parasthesia, dan kelemahan atau spasme.
52
Perempuan lebih mungkin untuk menderita nyeri leher daripada laki-laki. Data
epidemiologi cervical root syndrome belum dieksplorasi dengan baik. Hasil
proses penuaan pada perubahan degeneratif tulang belakang cervical dalam
stadium lanjut dapat menyebabkan kompresi spinal cord. Hal ini Penyebab
paling sering dari disfungsi spinal cord pada orang tua. Suatu
bentuk khusus cervical myelopathy disebabkan oleh pengerasan dari
ligamentum longitudinal posterior (OPLL).
Ini merupakan penyakit multifaktorial dimana kompleks genetik dan faktor
lingkungan berinteraksi. Penyakit ini terutama ditemukan pada populasi Asia.
Pada populasi Jepang, angka prevalensi yang dilaporkan berkisar antara 1,8%
menjadi 4,1%. Tingkat prevalensi OPLL di tulang belakang cervical secara
signifikan lebih rendah di Cina (0,2 %) dan populasi Taiwan (0,4%). Evaluasi
radiografi film tulang belakang cervical di Rizzoli Orthopaedic Institute di
Bologna, Italia, mengungkapkan prevalensi 1,83 % dengan puncak di
Kelompok umur 45-64 tahun (2,83%). Prevalensi ini jauh lebih tinggi dari yang
dilaporkan di Kaukasia.
3). Patologi
Cervical Root Syndrome bisa juga di akibatkan perubahan degeneratif pada
tulang belakang cervical yang biasanya disebut sebagai cervical spondylosis.
Ini merupakan kelompok campuran patologi yang melibatkan diskus
intervertebralis, tulang belakang, serta sendi yang terkait dan dapat juga
disebabkan oleh penuaan ("keausan", degenerasi) atau pengaruh sekunder
karena trauma. Gejala klinis yang dominan terdapat nyeri leher, yang sering
dikaitkan dengan nyeri bahu. Perubahan degeneratif tersebut dapat
menyebabkan central atau foramina yang dapat mengganggu serabut saraf atau
spinal cord (Gambar. 2). Patologi ini disebut cervical spondylotic radiculopathy
(CSR) dan cervical myelopathy spondylotic (CSM). CSR harus dibedakan dari
herniasi terkait radiculopathy
53
Gambar 2. a, b Perubahan terkait umur dapat menyebabkan herniasi
diskus, spondylosis servikal, pembentukan osteofit, osteoarthritis
sendi facet, dan kelainan dari akar saraf yang keluar serta saraf
tulang belakang.
Cervical Root Syndrome mengacu pada distribusi gejala pada dermatom yang
spesifik di ekstremitas atas, pasien akan mengalami nyeri yang menusuk,
kesemutan, atau sensasi terbakar pada area yang terlibat, ada kehilangan
fungsi sensorik atau motorik sesuai dengan akar saraf yang terlibat, dan
aktivitas refleks dapat menurun.
Pemeriksaan
1). Anamnesa
a. Nyeri kaku pada leher
54
Gambar. 3 Peta pola nyeri aksial dari sendi facet di C2-3 ke C6-7
Nyeri menjalar (reffered pain)
2). Pemeriksaan khusus:
Test provokasi spurling
Test distraksi kepala
Tindakan valsava
3). Pemeriksaan penunjang
CT-Scan
MRI
55
Diagnosis Fisioterapi (ICF)
1). Body Function
b250: Additional sensory function
b280: Sensation of pain b28010:
Pain in head + neck
b28014: Pain in Upper Limb
b2803: Radiating pain in a dermatom
b780: Sensation related to muscles + movement functions
b789: Neuromusculoskeletal movement and related
functions 2). Body Structure
s120: Spinal cord and related
structure s12000: Cervical spinal
cord s1201: Spinal nerves
s1208: Spinal and related structure
s198: Structure of the nervous system other specified
s76000: Cervical Vertebral
column 3). Activity and Participation
d430: Lifting and Carrying object
d445: Hand and arms use
d5: Self Care
d840 - 859: Works and Employment
4). Enviroment factors
e310: Immediate Family
e355: Health Profesionals
Intervensi
1). ICF Target
Manajemen Nyeri
Relaksasi
Reedukasi otot-otot sekitar yang mempengaruhi fungsional
Mengembalikan kemampuan fungsional anggota gerak atas (yang
terkena dampak)
56
2). Modalits
Terapi Latihan
Terapi manipulasi
Heating Superficial (IR, MWD)
Electrical Stimulation
Cervical Collar
Outcome measure
VAS ( Mengukur Nyeri)
Referensi:
http://doktersehat.com/cervical-root-syndrome-mengancam-para-
manusia-modern/
https://bimaariotejo.wordpress.com/2009/05/31/cervical-root-syndrome/
57
Meningitis
A. Kode
ICD : G00-G03
ICF :
1) Body Function : b.730-749,b.750,b760, b.765, b.770
2) Body Structure : s.110,s.120,s.130
3) Activity and Participation : d.110, d2, d.3. d4, d5, d7, d8
4) Environment : e.2,e.3,e. 4
Kondisi Kesehatan
1). Pengertian
Meningitis adalah inflamasi yang terjadi pada meninges, suatu membran yang
menyelimuti otak dan spinal cord (sumsum tulang belakang). Meningitis dapat
terjadi karena infeksi bakteri, virus, fungi, juga karena kejadian noninfeksi seperti
inflamasi karena pengobatan, cochlear implant, atau keganasan (Mehlhorn dan
Sucher, 2005). Meningitis bakteri adalah penyakit infeksi parah yang disebabkan
oleh bakteri pada selaput otak dan sumsum tulang belakang (Van de Beek et al.,
2002; Brouwer et al., 2010).
2). Insidensi dan Prevalensi
Meskipun meningitis adalah suatu penyakit yang harus dilaporkan di banyak
negara, insidens sebenarnya masih belum diketahui. Meningitis bakterial terjadi
pada kira-kira 3 per 100.000 orang setiap tahunnya di negara-negara Barat.
Studi populasi secara luas memperlihatkan bahwa meningitis virus lebih sering
terjadi, sekitar 10,9 per 100.000 orang, dan lebih sering terjadi pada musim
panas. Penyakit ini diperkirakan mencapai 1,2 juta kasus tiap tahunnya dengan
tingkat mortalitas pasien berkisar antara 2% - 30% di seluruh dunia. Kasus
meningitis bakteri di Indonesia mencapai 158/100.000 kasus per tahun, dengan
etiologi Haemophilus influenza tipe b (Hib) 16/100.000 dan bakteri lain
67/100.000 (Gessner et al., 2005). Pasien dengan meningitis bakteri yang
bertahan hidup berisiko mengalami komplikasi. Komplikasi utama meningitis
bakteri terjadi karena adanya kerusakan pada area tertentu di otak. Secara
umum, 30% - 50% pasien yang bertahan hidup dari meningitis dapat mengalami
gangguan saraf (Hermsen dan Rotschafer, 2005). Oleh karena itu, pasien
meningitis bakteri khususnya pada anak perlu mendapat terapi antibiotik yang
optimal.
58
3). Patologi
Meningitis biasanya disebabkan oleh infeksi virus, tetapi juga dapat disebabkan
oleh infeksi bakteri. Jamur juga dapat menyebabkan meningitis. Dikarenakan
infeksi bakteri adalah yang paling serius dan dapat mengancam jiwa, identifikasi
sumber infeksi adalah bagian penting dari perencanaan pengobatan.Bacterial
meningitis (meningitis karena bakteri). Acute bacterial meningitis biasanya terjadi
ketika bakteri masuk ke dalam aliran darah dan berpindah ke otak dan tulang
belakang. Tetapi juga dapat terjadi ketika bakteri secara langsung menyerang
membran, akibat dari infeksi telinga atau sinus atau kerusakan tengkorak.
Beberapa bakteri yang dapat menyeabbkan acute bacterial meningitis secara
umum diantaranya:
Streptococcus pneumonia (pneumococcus).
Bakteri ini paling umum menyebabkan meningitis pada bayi, anak-anak dan
orang dewasa. Secara umum disebabkan oleh pneumonia atau infeksi telinga
atau sinus.
Neisseria meningitis (meningococcus).
Bakteri ini adalah penyebab lain meningitis. Meningitis ini umumnya terjadi
ketika bakteri dari infeksi saluran pernapasan atas masuk ke dalam aliran
darah. Infeksi ini sangat menular.
Haemophilus influenzae (haemophilus).
Sebelum tahun 1990an, bakteri haemophilus influenzae tipe b (Hib) menjadi
penyebab utama meningitis akibat bakteri pada anak-anak. Tetapi vaksin Hib
baru mengurangi secara drastis jumlah kasus meningitis jenis ini. Meningitis
jenis ini terjadi cenderung berasal dari infeksi saluran pernapasan atas, infeksi
telinga atau sinusitis.
Listeria monocytogenes (listeria).
Bakteri ini dapat ditemukan hampir di manapun –tanah, debu atau makanan
yang terkontaminasi. Banyak hewan liar dan ternak juga membawa bakteri
ini.
Viral meningitis (meningitis akibat virus) Setiap tahun virus menyebabkan
meningitis lebih besar dari bakteri. Viral meningitis biasanya ringan dan sering
hilang dengan sendirinya dalam dua minggu. Enterovirus diketahui menyebabkan
30 persen viral meningitis. Tanda dan gejala umum infeksi
59
enterovirus adalah ruam, radang tenggorokan, diare, nyeri sendi dan sakit kepala.
Virus lain seperti herpes simplex, La Crosse, West Nile dan lainnya juga dapat
menyebabkan viral meningitis.
Chronic meningitis Bentuk meningitis kronis terjadi ketika organism menyerang
membran dan cairan disekitar otak. Meskipun meningitis akut menyerang secara
tiba-tiba, meningitis kronis berkembang dalam dua minggu atau lebih. Tanda dan
gejala meningitis kronis serupa dengan meningitis akut. Meningitis jenis ini
langka.
Fungal meningitis (meningitis akibat jamur) Meningitis jenis ini relatif tidak biasa
dan menyebabkan meningitis kronis. Dapat menyerupai acute bacterial
meningitis. Cryptococcal meningitis adalah bentuk umum dari jamur yang
menyerang mereka yang mengalami penurunan sistem imun, seperti AIDS. Dapat
mengancam jiwa jika tidak segera diobati.
Penyebab lain meningitis Meningitis juga dapat disebabkan oleh noninfeksi,
seperti alergi obat, beberapa jenis kanker dan peradangan seperti lupus.
Pemeriksaan
1). Anamnesis
Apakah pasien mengalami nyeri kepala? Jika ya, kapan mulai
merasakannya? Nyeri kepala seperti apa? Apakah mulainya mendadak
(seperti petir) atau bertahap?
Adakah gejala penyerta: fotofobia kaku leher, mual, muntah, demam,
mengantuk, atau bingung?
Pernahkan pasien mengalami nyeri kepala sebelumnya?
Adakah tanda neurologis: diplopia, kelemahan fokal, atau gejala sensoris?
Gejala penyakit lain: mual, muntah, demam, menggigil?
Riwayat keluarga:adakah keluarga yang pernah mengalami meningitis?
Demam tinggis
Sakit kepala parah
Kaku pada leher
Muntah atau mual dengan sakit kepala
Kebingungan atau sulit berkonsentrasi –pada mereka yang masih
muda dapat terlihat dengan ketidakmampuan mengatur kontak mata
60
Kejang
Mengantuk atau sulit bangun
Sensitif terhadap cahaya
Kurang nafsu makan atau minum
Ruam kulit pada beberapa kasus, seperti viral atau meningococcal
meningitis
Tanda dan gejala pada bayi yang baru lahir antara lain:
a. Demam tinggi
b. Terus menerus menangis
Terlalu banyak tidur atau mudah marah
Tidak aktif
Tidak nafsu makan
Tonjolan pada bagian lunak di atas kepala bayi
Kaki pada tubuh dan leher bayi
Kejang
Pemeriksaan Motorik
Observasi
Penilaian terhadap ketangkasan
Gerak voluntary
Penilaian status otot
Atrofi otot
Atrofi Neurogenik
Lesi AHC - Lesi korteks piramidalis
Lesi infranuclearis - Hemiatrofi kongenital
Atrofi Miogenik
Atrofi Artogenik
Disuse Atrophy
Perubahan bentuk, kelumpuhan dan atrofi
Winged Scapula Î trapezius + seratus anterior
Drop Hand
Drop Foot
Monkey Hand
Claw Hand
61
Claw Foot
Hipertrofi otot
Hipertrofi Tulen
Pseudohipertrofi
Pemeriksaan refleks
Refleks Maseter
Refleks Tendon Biseps Brakhialis (C.5-6)
Refleks Periosteum Radialis (C.5-6)
Refleks Triseps (C.6-7-8)
Refleks Periosteum Ulnaris (C.8, T.1)
Refleks Pektoralis (C.5, T.1)
- Atas (T.8-9)
Refleks Otot Dinding Perut:
Tengah (T.9-10)
Bawah (T.11-12)
62
Periferial nerve --- hilang semua sensasi
Nerve root --- hilang sensasi dermatum
Spinal cord --- hilang sensasi bilateral
Brain stem --- hilang sensasi pada kontralateral
Cereberal cortex
Stereografis
Graphistesia
Sensori attention
m. Peneriksaan Sederhana dan Pemeriksaan Penunjang 3).
Pemeriksaan fisik
TTV
Kondisi umum pasien (Compos mentis, som nolen, dll)
c. Ruam, khususnya akibat septicemia meningokokal, kaku leher, atau fotofobia?
d. Tanda kernig?
e. Kelainan pada pemeriksaan fisik neurologis?
f. Fundi: normal atau edema?
g. Pemeriksaan hidung, tenggorokan, telinga, mulut h.
Pemeriksaan penunjang: punksi lumbal
63
b7602: Coordination of voeluntary movement
b765: Involuntary movement function
b770: Gait pattern function
2) Body Structure:
s110: Structure of brain
s120: Spinal cord and related structures
s130: Structures of meninges
Activity and Participation
d110-129: Purposeful sensory experience
d2: General task and demands
d3: Communications
d4: Mobility
d5: Selfcare
d7: Interpersonal interaction and relationship
d8: Major lifes area
Environment factors:
e2: Natural environment and human-made changes the environment
e3: Support and relationship
e4: Attitude
F. Intervensi
ICF Target
Managemen kemampuan fungsional
Modalitas yang direkomendasikan
Terapi latihan
Konsep-konsep Pendekatan Neurologi (Bobath, PNF, Feldenkraiz, DNS, dll)
H. Outcome measures
Kekuatan Otot (contoh, MMT)
Spastisitas (contoh, Asworth Scale)
Sensasi (contoh,Dermatome Test)
Kognitif (contoh, GCS, MMSE)
Keseimbangan dan koordinasi (contoh, BBS)
Fungsional (contoh, MMAS)
Referensi:
Gleade, Jonathan. At a glance, Anamnesis dan Pemeriksaan fisik. Penerbit: EMS,
Jakarta
64
Poliomyelitis
A. Kode
65
Pemeriksaan
1). Anamnesis
Pasien merasakan nyeri sendi, kelemahan otot pada leher, thorak dan diafragma,
abdomen serta pada tungkai bawah, dan terkadang tidak bisa berjalan. Terkadang
pasien juga kesulitan bernafas maupun menelan. Karena potensi kontraktur maka
beberapa kasus terkadang sudah mengalami kontraktur.
2). Pemeriksaan klinis
Laju endap darah meningkatkan sedikit, lekopenia/lekositosis ringan terjadi pada
stadium dini.
Pada stadium awal sel PMN lebih dominan.
Kadar protein normal pada minggu ke-1, meningkat pada minggu ke-2 dan ke-3.
Pemeriksaan imunoglobulin: bila terjadi kenaikan titer antibodi 4x dari
imunoglobulin G (IgG) atau imunoglobulin M (IgM) yang positip.
3). Pemeriksaan fisik
Inspeksi
Atropi otot
Postur yang kurang baik
Pemeriksaan fisik berdasar bukti
Body Structure &Function:
Nyeri sendi dan otot
Kelemahan/paralisis otot leher, thorak, abdomen, dan ekstremitas
Posture yang kurang baik
Activity Limitation :
Gangguan menelan
Gangguan bernafas
Gangguan berjalan
Gangguan aktifitas sehari
Participation Restriction:
Kesulitan Bekerja
Kesulitan bersosialisasi
c)
66
Evaluasi Pengukuran
objektif:
Pemeriksaan nyeri
Pemeriksaan kelemahan/paralisis otot
Fungsi menelan dan bernafas
Analisis jalan
Fungsional
Diagnosa Fisioterapi: b2802, b729, s770, b445, b770
Kesulitan berjalan karena nyeri dan lemah/paralisis otot-otot yang terkena, termasuk
terkadang otot-otot menelan sehingga terjadi gangguan menelan dan otot-otot pernafasan
sehingga terjadi kesulitan bernafas, hal ini akan mempengaruhi aktivitas bekerja,
berolahraga, beribadah maupun bersosialisasi.
Prognosis fungsional
Satu sampai dua persen dari kasus, poliomyelitis mempengaruhi saraf, mengakibatkan
kelumpuhan lengan, kaki maupun diafragma (otot mengendalikan pernapasan). Setengah
dari populasi yang bertahan hidup akan mengalami kelumpuhan permanen. Pada keadaan
yang ringan sekali dapat terjadi penyembuhan fungsi neuron dalam 3-4 minggu sesudah
timbul gejala.
Intervensi
ICF Target
Mengurangi nyeri otot dan sendi
Meningkatkan kekeuatan otot
Re-edukasi posture
Re-edukasi fungsi menelan dan bernafas dalam
Mengembalikan fungsi jalan
Mengembalikan aktivitas fungsional
Modalitas yang di rekomendasikan
Terapi latihan (termasuk latihan nafas)
Terapi Manipulasi
Massage
Heating Superficial (IR, Hotpack, MWD)
67
Electrical Stimulation (ES)
Taping
H. Outcome Measure
Pemeriksaan nyeri (contoh, VAS)
Pemeriksaan kelemahan/paralisis otot (contoh, MMT)
Fungsi menelan dan bernafas
Analisis jalan
Fungsional (contoh, Indeks Barthel)
Referensi
Goodman, CC., Kenda, S. (2009). Pathology Implications for The Physical Therapy Third
Edition. Sounders
Mehndiratta, MM., Mehndiratta, P., Pande. R. (2014). Poliomyelitis. The Neurohospitalist
Pearce, JMS, (2005). Poliomyelitis. J. of Neurology Neurosurgery and Psychiatry
Modlin JF. Poliovirus. (2009). Principles and Practice of Infectious Diseases. 7th ed.
Philadelphia, Pa: Elsevier Churchill Livingstone
Silver JK.Post-poliomyelitis syndrome.(2008).Essentials of Physical Medicine and
Rehabilitation. 2nd ed. Philadelphia, Pa: Saunders Elsevier
WHO.ICF-Introduction, the International Classification of Functioning Disabiity and Health
http://www.who.int/classification/icf/introns/icf-Eng-Intro-pdf2002.
Wilson, Walter R. (2001). Current Diagnosis and Treatment in Infectious Disease.USA:
McGraw-Hill Companies
68
Thoracic Outlet Syndrome
(TOC) A. Kode
ICD10 : G54.0
ICF : b730, b280, s720, d430
Kondisi Kesehatan 1).
Definisi
Thoracic outlet syndrome merupakan suatu kondisi dimana terjadinya kompresi pada
struktur neurovascular berupa pleksus brakhialis, pembuluh darah arteri serta vena
subklavia di daerah apertura superior thoraks. Kelainan ini dapat menyebabkan
timbulnya rasa nyeri dan sensasi seperti tertusuk-tusuk jarum pada bahu dan lengan.
2). Epidemiologi
Di Amerika Serikat, insidenTOS mencapai 3-80 kasus per 1000 orang, Dimana kasus
ini 3 kali lebih banyak pada wanita daripada pria. Kondisi ini Banyak dijumpai pada
pasien-pasien usia 20-55 tahun.Sebagian besara tlit yang selalu menggunakan aktivitas
over head sering terkena kondisi ini dengan gejala-gejala neurologis. Menurut
Magnusson etal, ada 31 % pasien yang mengalami injury pada MVA (motor vehicle
accident) dapat terjadi TOS, sedangkan 40% pasien yang mengalami whiplash injury
akan berkembang TOS post-traumatik.
3). Patologi
Patologi TOS tipe Pectoralis Minor
TOS tipe pectoralis minor adalah kondisi yang disebabkan oleh penekanan atau
kompressi pada berkas saraf dan pembuluh darah yang patologinya terle tak pada
ruang costo pectoralis. Kondisi ini disebabkan oleh tightness atau kontraktur pada
pectoralis minor sehingga menekan plexus brachialis kearah bawah. Penekanan
tersebut akan menimbulkan rasa nyeri, bengkak kearah lengan, tangan dan
memungkinkan terjadi kelemahan. Kondisi ini sering melibatkan shoulder kearah
anterior dan inferior (dalam posisi protraksi + depressi). Syndrom ini juga dikenal
sebagai hyperabduksi syndrome atau Wright‘s Syndrome yang akan melibatkan
penekanan pada komponen neurovaskular antara aspek anterior rongga costa dan
otot pectoralis minor. Pectoralis minor syndrome kemungkinan besar disebabkan
oleh kelainan postur tubuh seperti pasien yang lordosis, protraksi dalam waktu
69
yang lama akan mengakibatkan memendeknya otot pectoralis minor sehingga
menimbulkan penekanan pada plexus brachialis antara otot pectoralis minor dan
tulang costalis, juga aktiv itas mengangkat lengan diatas kepala dalam waktu yang
lama. Hal ini dapat terjadi pada aktivitas pekerjaan yang memerlukan salah satu
lengan untuk mengangkat atau menggerakkannya secara berulang kali di atas
kepala. Juga dapat terjadi pada seseorang yang tidur dalam posisi tengkurap dengan
kedua lengan atau tangan hyperabduksi dan seringkali dilakukannya sehingga dapat
menimbulkan gejala-gejala pectoralis minor syndrome. Secara general, pectoralis
minor syndrome akan menghasilkan gejala -gejala neurologik sebelum terjadi
gejala vaskular. Gejala neurologik yang timbul adalah nyeri, paresthesia atau
dysesthesia pada aspek medial lengan. Gejala vaskular yang menyertai gejala
neurologik adalah coldness pada lengan, cyanosis, edema , rasa terbakar, atau
pulsasi painful pada jari-jari tangan. Otot pectoralis minor mempunyai
kecenderungan mengalami tightness (tegang) atau kontraktur jika patologis.
Tightness atau kontraktur pada otot tersebut dapat disebabkan oleh adanya overuse,
overstretch atau trauma sehingga otot ini mengalami ruptur ringan, lecet atau luka
yang dapat menyebabkan terjadinya iritasi jaringan. Akibatnya, terjadinya reaksi
fisiologis seperti kerusakan jaringan. Disamping itu, habitual postural yang jelek
dalam waktu yang lama dan seringkali dilakukan dapat menimbulkan problem
tightness pada otot pectoralis minor.
2) Patologi penekanan saraf (Entrapment)
Injury pada saraf perifer dapat diakibatkan oleh kondisi-kondisi kompressi
(penekanan), ischemia dan stretching, yang dapat diklasifikasikan berdasarkan
perubahan struktur dan fungsional pada saraf. Sunderland (1978) mengelompokkan
injury saraf pada 5 derajat injury yang menunjukkan ada tidaknya keterlibatan axon
dan connective tissue. Sedangkan Seldon (1943) membagi injury kedalam 3
kategori yaitu: neuropraxia, axonotmisis, neuronotmisis. Neuropraxia melibatkan
segmental demyelination, dimana adanya penekanan (kompressi) akan
memperlambat atau memblokir konduksi aksi potensial pada lokasi terjadinya
demyelinisasi dari saraf bermyelin. Neuropraxia seringkali terjadi pada kondisi-
kondisi kompresi saraf yang menyebabkan
70
ischemia ringan pada serabut saraf. Konduksi aksi potensial masih terjadi secara
normal pada lokasi diatas dan dibawah dari kompresi tersebut sehingga axon saraf
masih utuh dan tidak terjadi atropi otot. Axonotmesis terjadi ketika axon saraf
mengalami kerusakan, tetapi connective tissue yang membungkus axon saraf masih
menopang dan melindungi keutuhan dari saraf tersebut. Jika kompresi terjadi dalam
waktu yang lama akan menghasilkan area infark (ischemia) dan menjadi nekrosis
sehingga menyebabkan terjadi kondisi axonotmesis. Neuronotmesis adalah
kerusakan komplet dari serabut saraf termasuk endoneurium, dan hilangnya axon
saraf termasuk connective tissue yang membungkusnya pada lokasi in jury.
Neuronotmesis dapat disebabkan oleh luka tembak, luka sayatan atau tikaman,
avulsion injury yang merusak bagian-bagian dari saraf. Ketika kontinuitas axon
hilang (baik pada axonotmesis maupun neuronotmesis) maka axonaxon bagian
distal dari lesi akan mengalami degenerasi (wallerian degenerasi), sehingga
berdampak pada serabut otot (cepat mengalami atropi). Penekanan pada berkas
saraf (plexus brachialis) pada ruang costo pectoralis minor akibat tightness atau
pemendekan otot pectoralis minor akan menciptakan suatu neuropraxia pada axon
saraf. Adanya neuropraxia akan memperlambat konduksi aksi potensial ke otot-otot
yang disarafinya sehingga berkurangnya respon motorik pada otot-otot yang
bersangkutan. Disamping itu kompresi saraf menyebabkan ischemia pada serabut
saraf sehingga mengaktifkan noxius (nosisensorik) yang merangsang terjadinya
inflamasi dan nyeri. Jika kompresi berlangsung lama maka lokasi tersebut akan
terjadi nekrosis sehingga bisa menyebabkan axonotmesis (kerusakan axon).
Patologi Tightness dan Pemendekan Otot
Spasme adalah kontraksi otot yang berkepanjangan sebagai respon terhadap
perubahan sirkulator dan metabolik. Spasme juga dikatakan sebagai ―muscle
guarding‖ yaitu kontraksi otot secara involunter sebagai respon adanya nyeri akut
atau kerusakan pada struktur yang dilewati oleh otot tersebut. Dalam hal ini spasme
merupakan mata rantai dari nyerispasme-ischemia-nyeri. Spasme ditandai dengan
adanya peningkatan tonus baik secara volunter maupun involunter. Aktivitas saraf
efferent gamma motoneuron sangat mempengaruhi peningkatan
71
tonus pada kondisi spasme otot. Aktivitas saraf ini dapat dipengaruhi oleh impuls
noxius, kecemasan (faktor psikis), dan perubahan sirkulasi/metabolik ke otot.
Spasme dalam waktu yang lama bisa menyebabkan keadaan yang disebut dengan
―tightness‖. Tightness merupakan istilah yang tidak spesifik, yang merujuk pada
pemendekan ringan dari unit muskulotendinogen. Istilah ―tightness‖ kadang-
kadang digunakan untuk menggambarkan kontraktur ringan yang bersifat
sementara. Suatu otot yang tightness dapat dipanjangkan atau diulur melewati batas
rangenya. Jika kondisi tightness tidak ditangani secara menyeluruh dan
berkesinambungan maka dapat menjadi kontraktur yang berat (pemendekan otot).
Kontraktur pada otot terjadi pada seluruh lapisan connective tissue otot, dimana
lapisan connective tissue otot mengalami pemendekan.
Pemeriksaan
1). Anamnesis
Seorang ibu rumah tangga, 32 tahun yang mempunyai tubuh cukup besar (overweight).
Oleh dokter dinyatakan menderita TOS (Thoracic Outlet Syndrome). Lengan kanan
sering merasa kesemutan, leher kesulutan untuk menoleh dan kaku saat ditekuk
kesamping kanan. Hal ini sudah dirasakan sudah 2 bulan yang lalu.
2). Pemeriksaan klinis
MRI, EMG
3). Pemeriksaan fisik
a. Inspeksi
Palpasi
Nyeri tekan pada bahu sebelah kanan
Adanya spasme otot-otot daerah leher
Tes sensorik
Pareshtesi pada bahu menjalar sampai lengan bawah sebelah kanan
Pemeriksaan khusus
Roos test, Adson test, Allen Test, Hyperabduksi test, manuver costoclavicular test.
Evaluasi
Pengukuran obyektif:
72
1). Nyeri
2). Spasme otot
3). Kekuatan otot
4). Aktivitas fungsional
E. Diagnosa Fisioterapi: b730, b280, s720, d430
Adanya spasme, nyeri bahu, penurunan kekuatan otot mengakibatkan pasien kesulitan
meraih benda, kesulitan aktivitas makan sehingga menganggu aktivitas kerjanya.
Prognosis fungsional
Tidak diketahui mortalitas berhubungan langsung dengan TOS, mobilitas sering berkaitan
dengan turunnya fungsi dari ekstremitas atas, hilangnya pekerjaan dan pencaharian,
khususnya ketika kerja menyangkut aktifitas diatas kepala. Trueneurogenic TOS
menyebabkan defisit neurologi. Bergantung dari jumlah injuri saraf, biasanya terdapat
kelemahan dari tangan dan defisit sensorik di daerah distribusi lower trunk. Komplikasi
sering padap leksus brakhialis telah banyak dilaporkan terjadi pada terapi operatif TOS.
Neurologic TOS secara umum lebih progresif tetapi dapat membaik secara spontan,
sedangkan pada arterial atau venous TOS biasanya membaik dengan terapi yang adekuat.
Intervensi
1). Mengurangi spasme
2). Menguranginyeri
3). Peningkatan kekuatan otot
4). Mengembalikan aktivitas fungsional
5). Modalitas yang di anjurkan : diathermy, US therapy, streching, exercise
Outcame measurement
1). Pemeriksaan nyeri (contoh, VAS)
2). Pemeriksaan disabilitas (contoh dengan DASH (Disability of Arm Shoulder and Hand).
Referensi:
Moore, Wesley S. (2012). Vascular and Endovascular Surgery: A Comprehensive Review (8 ed.).
Elsevier Health Sciences.
73
Epilepsi
A. Kode
ICD-10 : G41.0
ICF : s750, d630
Kondisi kesehatan 1).
Pengertian
Epilepsi adalah sekelompok gangguan neurologis jangka panjang yang cirinya
ditandai dengan serangan-serangan epileptik. Serangan epileptik ini memiliki priode
bermacam-macam mulai dari serangan singkatdan hampir tak terdeteksi hingga
guncangan kuat untuk periode yang lama. Dalam epilepsi, serangan cenderung
berulang, dan tidak ada penyebab yang mendasari secara langsung.Sementara
serangan yang disebabkan oleh penyebab khusus tidak dianggap mewakili epilepsi.
2). Insiden dan prevalensi
Epilepsi merupakan salah satu gangguan saraf serius yang paling umum terjadi yang
mempengaruhi sekitar 65 juta orang di seluruh dunia. Penyakit ini mempengaruhi 1%
penduduk pada usia 20 tahun dan 3% penduduk pada usia 75 tahun. Penyakit ini lebih
banyak terjadi pada laki-laki daripada perempuan, tetapi secara menyeluruh selisihnya
cukup kecil. Sebagian besar penderita (80%) tinggal di dunia berkembang. Angka
penderit aepilepsi aktif saat ini berkisar pada5–10 per 1.000; epileps. Aktif diartikan
sebagai penderita epilepsi yang pernah mengalami kejang paling tidak satu kali dalam
lima tahun terakhir. Epilepsi berawal setiap tahun dalam 40–70 per1 00.000 dinegara
maju dan 80–140 per100.000 dinegara berkembang. Kemiskinan merupakan sebuah
risiko dan mencakup baik bertempat asal dari sebuah negara yang miskin maupun
berstatus sebagai orang miskin relatif terhadap orang lain didalam negara yang sama.
Dinegara maju, epilepsi paling umum bermula pada orang muda atau oranglansia.
Dinegara berkembang, awalepilepsi lebih umum terjad padaanak-anak yang berusia
lebih tua danpada orang dewasa muda karena lebih tingginya angka trauma dan
penyakit menular.
3). Patologi
Terjadinya epilepsi berasal dari sekumpulan sel neuron yang abnormal di otak, yang
melepaskan muatan secara berlebihan. Lepas muatan listrik ini kemudian menyebar
74
melalui jalur fisioogis-anatomis dan melibatkan daerah sekitarnya. Sampai saat ioni
belum terungkap secara pasti mekanisme apa yang mencetuskan sel-sel neuron untuk
melepaskan muatan secara berlebihan. Akibat kejang epilepsi tersebut akan
menyebabkan berbagai akibat, salah satuanya dalam kemampuan motorik penderita.
Pemeriksaan
1). Anamnesis
Pasien wanita dengan usia 21 tahun, sejak 1 bulan ini sering kejang, kejang kadang
dimulai dari kedua tangan kemudian menjalar keseluruh tubuh, pada saat kejang
kesadaran menurun, kurang lebih 1 tahun yang lalu pernah kejang seperti sekarang
hanya tidak begitu sering, bahkan pernah jatuh dari tempat tidur saat kejang.
2). Pemeriksaan klinis
MRI, EEG
3). Pemeriksaan fisik
Komunikasi: cukup baik
Kognitif: cukup baik
Atensi: cukup baik
Motivasi: cukup baik
Atensi: cukup baik
Pemeriksaan kekuatan otot: kekuatan otot secara general menurun
Pemeriksaan keseimbangan: keseimbangn dinamis menurun
Evaluasi
1). Kekuatan otot
2). Koordinasi gerakan
3). Keseimbangan
Diagnosa Fisioterapi: s750, d630
Adanya spasme, tremor, penurunan kekuatan otot, gangguan postur, selanjutnya pasien
mengeluhkan gangguaan keseimbangan jalan, sehingga kesulitan melakukan aktivitas
memasak, kesulitan aktivitas mengemudikan kendaraan dan menganggu aktivitas kerjanya.
Prognosis fungsional
75
Epilepsi tidak dapat disembuhkan, tetapi pengobatan semata bisa secara efektif
mengendalikan kejang pada sekitar 70% kasus. Pada penderita kejang umum lebih dari
80% bisa dikendalikan secara baik dengan pengobatan, tetapi pada penderita kejang fokal
persentase tersebut hanya mencapai 50%. Salah satu prediktor hasil jangka panjang ialah
jumlah kejang yang terjadi dalam enam bulan pertama. Faktor lain yang meningkat kan
risiko hasil yang buruk ialah respons yang rendah terhadap penanganan awal, kejang
umum, riwayat epilepsi dalam keluarga, masalah psikiatrik, dan gelombang-gelombang
pada EEG yang mewakili aktivitas epilepti formik umum. Didunia berkembang, penderita
tidak ditangani atau mendapatkan penanganan yang kurang sesuai. DiAfrika, 90% tidak
mendapat penanganan. Hal ini sebagian dikarenakan pengobatan yang sesuai tidak tersedia
atau berbiaya terlalu tinggi.
Intervensi
Meningkatkan kekuatan otot, meningkatkan koordinasi gerakan, koreksi postur
Meningkatkan keseimbangan
Meningkatkan kemampuan aktivitas
Outcome measure
Pemeriksaan keseimbangan dengan BBS
Pemeriksaan fungsiuonal dengan FIM
Referensi:
Bergey GK. (2013). Neurostimulation in the treatment of epilepsy. Experimental Neurology
Fisher R, Van Emde Boas WI. (2005). Epileptic Seizures and Epilepsy: Definitions Proposed by
The International League Against Epilepsy (ILAE) and The International Bureau for
Epilepsy
76
PANDUAN PRAKTEK KLINIS
FISIOTERAPI
KARDIOPULMONAL
77
FISIOTERAPI PADA INFLUENZA
Coding
Kode ICD : 9. 472; ICD 10: J 31.0
Kode ICF : b.440-449; s. 430; d.410-490; e.110-190
Kondisi kesehatan
Pengertian
Influenza adalah penyakit infeksi karena virus influenza RNA type A, B atau C
dan menular, umumnya terjadi pada penyakit epidemi musiman (influenza musiman)
atau penyakit pandemi langka (influenza pandemik), yang ditandai oleh radang saluran
pernapasan dan biasanya ditunjukkan adanya demam mendadak, menggigil, nyeri otot,
nyeri kepala, nyeri tenggorokan, kelelahan luar biasa dan batuk. Penularan infeksi
terjadi dalam jarak dekat, terutama melalui droplet dan kadang-kadang melalui kontak.
Sampai sekarang, belum diperoleh cukup bukti yang menunjukkan bahwa infeksi
ditularkan melalui udara di antara manusia di fasilitas pelayanan kesehatan.
B. Insidensi dan Prevalensi
Influenza menyebar ke seluruh dunia dalam epidemic musiman. Pada musim flu
tahunan, terdapat tiga sampai lima juta kasus berat dan sampai 500.000 kematian di
seluruh dunia, yang memenuhi kriteria epidemic influenza tahunan..
C. Patologi dan Patologi fungsional
Pada penyakit influensa babi klasik, virus masuk melalui saluran pernapasan
atas kemungkinan lewat udara. Virus menempel pada trachea dan bronchi dan
berkembang secara cepat yaitu dari 2 jam dalam sel epithel bronchial hingga 24 jam
pos infeksi. Hampir seluruh sel terinfeksi virus dan menimbulkan eksudat pada
bronkioli. Infeksi dengan cepat menghilang pada hari ke 9. Lesi akibat infeksi sekunder
dapat terjadi pada paru karena aliran eksudat yang berlebihan dari bronkhi. Lesi ini
akan hilang secara cepat tanpa meninggalkan adanya kerusakan. Kontradiksi ini
berbeda dengan lesi pneumonia enzootica babi yang dapat bertahan lama. Pneumonia
sekunder biasanya karena serbuan Pasteurella multocida, terjadi pada beberapa kasus
dan merupakan penyebab kematian.
Pemeriksaan
Anamnesis
Gejala paling umum dari influenza adalah menggigil, demam, nyeri tenggorokan,
nyeri otot, nyeri kepala berat, batuk, kelemahan, dan ketidaknyamanan secara umum.
Pemeriksaan Klinis
Chest XRay
Spirometer < 80 % prediksi bermasalah. < 50 % indikasi rawat ICU.
Pemeriksaan Laboratorium darah dan urine lengkap
Pemeriksaan fisik
1 Pemeriksaan tanda denyut nadi, frekuensi napas, suhu, dan tekanan ICD 9 CM –
vital darah 93.09
2 Inspeksi Mata, hidung: hyperemi: choncha, tonsil dan ICD 9 CM –
pharink 93.09
3 Palpasi Regio mandibula: Pembesaran kelenjar limphatik ICD 9 CM –
93.09
4 Pola gerak napas Gerak napas dada dan perut ICD 9 CM – 93.04
78
5 Perkusi bagian dada dan abdomen atas kanan: ronchi dan ICD 9 CM –
kembung 93.09
6 Auskultasi bagian dada dan punggung: adanya mukus pada ICD 9 CM –
paru-paru, suara napas, detak jantung 93.09
7 Pemeriksaan Otot Aktivitas otot pernapasan ICD 9 CM—93.04
Evaluasi
Pengukuran Objektif
Nyeri
Fungsi pernapasan
Outcome Measure
Borg Scale
Spirometri
Diagnosa Fisioterapi
Berdasarkan ICF komplemen terhadap ICD
b.440-449; s. 430; d.410-490; e.110-190
Problema aktual dan potensial yang dijumpai
Nyeri
Batuk
Kelemahan dan ketidaknyamanan umum
Prognosis Fungsional
Intervensi
ICF target (Body Function and Body Structure Impairment target; Disability
target, dan Environment Target)
Pembersihan jalan napas.
Meningkatkan ventilasi.
Meningkatkan mobilitas toraks.
Mencegah dan meningkatkan mobilitas anggota gerak atas
Meningkatkan toleransi aktifitas
Modalitas yang direkomendasikan
1 Pembersihan jalan napas Inhalasi ICD 9 CM –
Aerosol 93.94
chest Fisioterapi ICD 9 CM –
93.94
2 Meningkatkan Ventilasi Breathing exercise ICD 9 CM –
ACBT 93.14
MH ICD 9 CM –
93.14
ICD 9 CM –
93.14
3 Mobilisasi toraks Pasif exercises pada sangkar thoraks ICD 9 CM –
Aktif exercises pada sangkar thoraks 93.11
Resisted exercises pada sangkar thoraks ICD 9 CM –
93.12
ICD 9 CM –
79
93.13
4 Meningkatkan mobilitas Mobilisasi sendi bahu ICD 9 CM – 93.16
ekstremitas atas
5 Meningkatkan toleransi Mobilisasi ICD9CM–
aktivitas Ambulasi 93.09
Senam
Jalan
Kriteria Rujukan: 6 kali fisioterapi tidak mencapai tujuan.75 %.
Referensi
Ostroff D, McDade J, LeDuc J, Hughes J. Emerging and reemerging infectious
disease threats. In: Dolin R, ed. Principles and Practice of Infectious Disease.
Philadelphia: Elsevier Churchill Livingstone; 2005:173-92.
Kemenkes 2013; Pedoman Pencegahan Dan Pengendalian Infeksi Kasus
Konfirmasi Atau Probabel Infeksi Virus Middle East Respiratory Syndrome-
Corona Virus; Direktorat Jenderal Pengendalian Penyakit Dan Penyehatan
Lingkungan; Depkes RI
Stedman TL. Stedman‘s medical dictionary. 28th ed. Philadelphia: Lippincott
Williams & Wilkins; 2006.
Brankston G, Gitterman L, Hirji Z, Lemieux C, Gardam M. Transmission of
influenza A in human beings. Lancet Infect Dis 2007;7(4):257-65.
WHO/CDS/EPR/2007.6; Pencegahan dan pengendalian infeksi saluran pernapasan
akut (ISPA) yang cenderung menjadi epidemi dan pandemi di fasilitas pelayanan
kesehatan; http://apps.who. int/iris/bitstream/10665/69707/14/ WHO_CDS_
EPR_2007.6_ind.pdf
Harper SA, Fukuda K, Uyeki TM, Cox NJ, Bridges CB (July 2005). "Prevention and
control of influenza. Recommendations of the Advisory Committee on Immunization
Practices (ACIP)". MMWR Recomm Rep 54 (RR-8): 1–40
80
Sinusitis
Kode ICD : 10: J01 akut dan Kronik: J 32.0-j 32.8; ICD-9-CM 473.9
Kode ICF : b. 310-320,b.450-455, s 3100-3109, d 410-510. e. 110- 210
Kondisi kesehatan
Pengertian
Sinusitis adalah radang mukosa sinus paranasal sesuai anatomi sinusyang terkena, dapat
dibagi menjadi sinusitis maksila, sinusitis etmoid; sinusitis frontal, dan sinusitis sphenoid.
B. Insidensi dan Prevalensi
Data dari Depkes RI tahun 2003 menyebutkan bahwa penyakit hidung dan sinus
berada pada urutan ke-25 dari 50 pola penyakit peringkat utama atau sekitar 102.817
penderita rawat jalan di rumah sakit.
C. Patologi dan Patologi fungsional
Kesehatan sinus dipengaruhi oleh patensi ostium-ostium sinus dan kelancaran
klirens dari mukosiliar di dalam komplek osteo meatal (KOM). Di samping itu mukus
juga mengandung substansi antimikrobial dan zat-zat yang berfungsi sebagai
pertahanan terhadap kuman yang masuk bersama udara pernapasan.
Bila terinfeksi organ yang membentuk KOM mengalami oedem, sehingga mukosa
yang berhadapan akan saling bertemu. Hal ini menyebabkan silia tidak dapat bergerak
dan juga menyebabkan tersumbatnya ostium. Hal ini menimbulkan tekanan negatif di
dalam rongga sinus yang menyebabkan terjadinya transudasi atau penghambatan
drainase sinus. Efek awal yang ditimbulkan adalah keluarnya cairan serous yang
dianggap sebagai sinusitis non bakterial yang dapat sembuh tanpa pengobatan. Bila
tidak sembuh maka sekret yang tertumpuk dalam sinus ini akan menjadi media yang
poten untuk tumbuh dan multiplikasi bakteri, dan sekret akan berubah menjadi purulen
yang disebut sinusitis akut bakterialis yang membutuhkan terapi antibiotik. Jika terapi
inadekuat maka keadaan ini bisa berlanjut, akan terjadi hipoksia dan bakteri anaerob
akan semakin berkembang. Keadaan ini menyebabkan perubahan kronik dari mukosa
yaitu hipertrofi, polipoid atau pembentukan polip dan kista.
Pemeriksaan
A. Anamnesis
Gejala paling umum pada sinusitis adalah sumbatan secret hidung
anterior/posterior, nyeri pada wajah dan berkurangnya sensitivitas pembau.
Pemeriksaan klinis
Rontgen/CT Scan: mengetahui perubahan anatomi sinus dan hidung
Pemeriksaan Lab: pemeriksaan mukus (transudat atau exudat).
Pemeriksaan fisik
1 Pemeriksaan tanda denyut nadi, frekuensi napas, suhu, dan tekanan ICD 9 CM –
vital darah 93.09
2 Inspeksi Mata, hidung: hyperemi: choncha ICD 9 CM –
Produksi mucus 93.09
Kualitas batuk ICD 9 CM –
93.09
ICD 9 CM –
93.09
3 Palpasi Nyeri tekan pada area sinus ICD 9 CM –
93.09
81
4 Spirometri < 80% ICD 9 CM –
93.09
5 Aktivitas Penurunan aktivitas harian dasar, kerja dan ICD 9 CM –
rekreasi 93.01
Evaluasi;
Pengukuran Objektif
nyeri tekan
sumbatan sekret
Outcome Measure
VAS Scale
Borg Scale
Diagnosa Fisioterapi
Berdasarkan ICF komplemen terhadap ICD
310-320,b.450-455, s 3100-3109, d 410-510. e. 110- 210
Problema aktual dan potensial yang dijumpai
Nyeri tekan
Sumbatan jalan napas atas
Prognosis Fungsional
Reversibel
Intervensi
A. ICF target (Body Function and Body Structure Impairment target, Disability
target, dan Environment Target)
Mengurangi inflamasi dengan melancarkan sirkulasi limpatik,
mengeluarkan transudat atau exudat,
mengurangi nyeri,
meningkatkan fungsi pernapasan dan
meningkatkan kemampuan
fungsional. B. Modalitas yang direkomendasikan
1 Mengurangi inflamasi Inhalasi ICD 9 CM –
Ultrasound diathermy 93.94
MWD ICD 9 CM –
93.35
ICD 9 CM –
93.34
2 Mengurangi nyeri dan mengeluarkan Massage sinus ICD 9 CM –
transudate atau eksudat MLD 93.61
Pengaturan posisi pengasatan ICD 9 CM –
93.39
ICD 9 CM –
93.99
3 Meningkatkan fungsi pernapasan Latihan pernapasan ICD 9 CM –
Edukasi 93.14
ICD 9 CM –
93.82
82
C. Kriteria Rujukan : 6 kali fisioterapi tidak mencapai tujuan 75%.
Referensi
Dr. Mark Lynch; 2015, demonstrating sinus/throat lymphatic drainage massage
Vidio, https://www.youtube.com/watch?v=0KQYXVjjpio&t=420s
Milady's ; 2004; Guide to Lymph Drainage Massage; Ramona Moody French;
Delmar/Cengage;
Pedoman Interim WHO Juni 2007 Pencegahan dan pengendalian infeksi saluran
pernapasan akut (ISPA) yang cenderung menjadi epidemi dan pandemi di fasilitas
pelayanan kesehatan.
Richards S (2005). "Flu blues". Nurs Stand 20 (8): 26–7. PMID16295596.
Heikkinen T (July 2006). "Influenza in children". Acta Paediatr. 95 (7): 778– 84.
doi:10.1080/08035250600612272. PMID16801171
Anon JB (April 2010). "Upper respiratory infections". Am. J. Med
83
Asma Bronkial
Kode ICD 9: 493; ICD-10: j45.8
Kode ICF b.440-449; s. 430; d.410-499; e.110-199
Kondisi kesehatan
Pengertian
Asma adalah gangguan inflamasi kronik pada saluran jalan napas yang
menyebabkan hiper reaktivitas jalan napas, yang menimbulkan gejala episodic
berulang berupa mengi, sesak napas, dada terasa berat dan batuk terutama pada malam
dan atau dini hari.
B. Insidensi dan Prevalensi
Asma ekstrinsik umumnya berkembang pada usia muda, dari masa anak hingga
remaja dan berkurang frekuensi serangannya setelah imunitas dan kebugaran anak
semakin meningkat. Asma intrinsic umumnya berkembang pada dewasa madya, akibat
penurunan kondisi imunitas dan kebugaran.
C. Patologi dan Patologi fungsional
Serangan asma dipicu oleh hipereaktivitas bronkioli; mengakibatkan sesak
disertai bising napas mengi pada ekspirasi. Terjadinya bronkospasme merupakan
kejadian yang kompleks dari aktivasi sel imun. Proses regenerasi jaringan pasca
inflamasi allergen menimbulkan penyusunan ulang jalan napas (airway remodeling)
setiap kali terjadi paparan allergen. Siklus berulang inflamasi dan remodeling
mengakibatkan terjadinya hipertrofi dan hyperplasia jalan napas; hipertrofi dan
hyperplasia kelenjar mucus, penebalan membrane reticular basal; peningkatan
pembuluh darah, peningkatan fungsi matriks ekstraseluler, perubahan struktur
parenkim dan terbentuknya fibrosis jalan napas.
Pemeriksaan A.
Anamnesis
Anamnesis ditujukan pada onset serangan, sifat serangan dan gaya hidup terkait
asma yang diderita.
Pemeriksaan klinis;
Pemeriksaan spirometry
Pemeriksaan laboratorium darah
Uji bronkodilator
Uji alergi
Chest XRay
Pemeriksaan fisik;
Pemeriksaan tanda vital (denyut nadi, frekuensi napas, suhu, dan tekanan darah).
Temuan pemeriksaan adalah frekuensi napas yang meningkat (tachypnea) dan
tachycardia.
Pemeriksaan Sesak napas
Pemeriksaan batuk
Pemeriksaan tingkat kelelahan
Pemeriksaan auskultasi bising napas terdapat bunyi mengi (wheezing) dan ronchi
Pemeriksaan nyeri pada dada
Pemeriksaan integritas motoric regio kepala dan leher:
a. Ditemukan hiperarthropi otot-otot inspiratory
84
b. Adanya sianosis pada ujung jari dan bibir yang diakibatkan karena
menurunnya oksigen dalam darah
8. Analisis bentuk dada dan postur :
a. Bahu nampak sedikit elevasi dan protraksi bahu dikarenakan pada saat
ekspirasi selalu menggunakan otot aksesori pernapasan (m.scaleni sterno
cledomastoideus)
Postur tubuh cenderung forward
Bentuk thoraks barrel chest anterior posterior
Pola napas : Cepat dan dalam karena adanya gangguan pada fase ekspirasi
Pemeriksaan :
Pump handle movement
Bucket handle movement
Evaluasi
Pengukuran Objektif
Frekuensi sesak
Fungsi Ekspirasi
Integritas Otot bantu
pernapasan Pola napas
Integritas Sangkar Thoraks
Daya tahan jantung paru
Outcome Measure
Tes endurance
Spirometri
Antropometri Sangkar
Thoraks Borg Scale
Diagnosa Fisioterapi
Berdasarkan ICF komplemen terhadap ICD
b.440-449; s. 430; d.410-499; e.110-199
85
Sesak napas/tachypnoea (b 4400),
Kemampuan latihan rendah (b.4548),
Berjalan dan bergerak (d.450-469)
Beraktivitas terbatas,
berjalan terbatas,
bekerja terbatas
Perlu alat tranportasi (e.5401)
edukasi dan latihan (e.5851). b.
Modalitas yang direkomendasikan
Latihan aerobic
Latihan pernapasan
Edukasi
H. Referensi
Global Initiative for Asthma (GINA). Global strategy for asthma management and
prevention. 2015 [cited 2015 Jan 23]. Available from:
http://www.ginasthma.org/documents/3
Sundaru H. Asma: apa dan bagaimana pengobatannya. Jakarta: Fakultas Kedokteran
Universitas Indonesia; 2009.
Canadian Lung Association [homepage on the internet]. Asthma: asthma treatment.
Ottawa; 2015 [cited 2015 Feb 23]. Available from: http://www.lung.ca/lung-
health/lung-disease/asthma/treatment
Bruurs a, Marjolein L.J.,et al.The effectiveness of physiotherapy in patients with
asthma: A systematic review of the literature.Elsevier Journal 2012.
Graha,Chairinniza.2008.Terapi untuk Anak Asma.Jakarta:PT.Elex Media Komputindo
Jennifer A Pryor; Barbara A Webber; 2001 ; Physiotherapy For Respiratory And
Cardiac Problems ; Second Edition; Churchill Livingstone Edinburgh London New
York Philadelphia San Francisco Sydney Toronto
86
Penyakit Paru Obstruktif Kronis
Kode ICD 9: 490-496 -ICD 10: j449
Kode ICF : b.440-449, b 455, s430, s.730, d410-429, d450-469
Kondisi kesehatan
Pengertian
PPOK adalah istilah umum yang mengacu pada kondisi paru kronis yang ditandai
dengan penyempitan dan penyumbatan saluran udara, peningkatan retensi sekresi paru
dan kerusakan struktural alveoli. Keterbatasan aliran udara ini bersifat progresif dan
tidak sepenuhnya reversibel. PPOK terdiri dari bronkitis kronik dan emfisema atau
gabungan keduanya:
Bronkitis kronik kelainan saluran napas yang ditandai oleh batuk kronik berdahak
minimal 3 bulan dalam setahun, sekurang-kurangnya dua tahun berturut - turut,
tidak disebabkan penyakit lainnya.
Emfisema: Suatu kelainan anatomis paru yang ditandai oleh pelebaran rongga
udara distal bronkiolus terminal, disertai kerusakan dinding alveoli.
Insidensi dan Prevalensi
Pada tahun 1992 Depkes menyatakan angka kematian karena asma, bronchitis kronis
dan emfisema menduduki peringkat 6 dari 10 penyebab tersering kematian di
Indonesia. Faktor yang berperan dalam peningkatan PPOK adakah kebiasaan merokok,
pertambahan penduduk, meningkatnya demografi lansia, industrialisasi dan polisi.
Penderita asma mengalamipeningkatan risiko PPOK.
Patologi dan Patologi fungsional
Pada bronchitis kronister dapat pembesaran kelenjar mukosa bronkus,
metaplasia selgoblet,inflamasi, hipertofi ototpolos pernapasan sertadistorsi akibat
fibrosis. Emfisema ditandai oleh pelebaran rongga udara distal bronkiolus terminal,
disertai kerusakan dinding alveoli. Secara anatomic dibedakan tiga jenis emfisema:
Emfisema sentriasinar,dimulai dari bronkiolus respiratori dan meluas ke perifer,
terutama mengenai bagian atas paru sering akibat kebiasaan merokok lama
Emfisema panasinar, melibatkan seluruh alveoli secara merata dan terbanyakpada
paru bagian bawah.
Emfisema asinar distal, lebih banyak mengenai saluran napas distal, ductus dan
saccus alveolar. Proses terlokalisir di septa atau dekat pleura.
Obstruksi saluran napas pada PPOK bersifat irreversibel dan terjadi karena
perubahan structural pada saluran napas kecil yaitu inflamasi, fibrosis, metaplasia sel
goblet dan hipertrofi otot polos penyebab utama obstruksi jalan napas.
Perubahan patologis di paru-paru menyebabkan perubahan fisiologis yang sesuai
karakteristik penyakit, termasuk hipersekresi mucus, disfungsi silia, Keterbatasan
ekspirasi aliran udara, hiperinflasi paru, kelainan pertukaran gas, hipertensi pulmonal,
dan korpulmonal. Lazimnya berkembang sesuai perjalanan penyakit.
Kerja otot-otot pernapasan pada PPOK
Diafragma hanya memberikan kontribusi 30% (dibandingkan dengan yang
biasa 65%) dari inspirasi yang kuat, sedangkan otot aksesori memainkan
peran lebih sehingga mengalami hyperaktif.
87
b. Otot-otot pernapasan dapat menjadi lelah dan paru-paru menjadi
hyperinflasi.
Ada peningkatan resistensi saluran udara dan hiperinflasi. Hiperinflasi paru-
paru merata, diafragma berkontraksi pendek termasuk otot asesoris inspirasi
dan mereka kerja menurunkan ventilasi secaramekanik merugikan. Selain
efisiensi berkurang dari enam otot inspirasi, sejumlah besar pekerjaan tekanan
diperlukan untuk mengatasi tingginya pertahanan saluran udara.
Selama latihan maksimal, otot-otot pernapasan dapat memanfaatkan 35-40%
(normal 10 - 15%) dari seluruh konsumsi oksigen tubuh. Peningkatan pekerjaan
pernapasan dilakukan selama inspirasi. Sekitar 25% dari pasien PPOK tidak dapat
mempertahankan status gizi mereka. dibuktikan dengan penurunan berat badan,
deplesi nutrisi ini akan menurunkan mekanis kebutuhan gas.. Selain itu,
hilangnya protein dan massa tubuh tanpa lemak menyebabkan kelemahan skeletal
dan otot diafragma.
Pemeriksaan A.
Anamnesis
Anamnesis diarahkan pada keluhan; riwayat penyakit dan pencarian factor
predisposisi. Keluhan utama pada pasien PPOK umumnya sesak, batuk produktif dan
kelelahan yang progresif.
Pemeriksaan klinis;
Pemeriksaan spirometry,
Uji bronkodilator
laboratorium darah rutin, dan
Chest XRay
88
Pemeriksaan fisik;
Termasuk BB dalam Kg, dan TB dalam cm/m.
Vital signs: Meliputi: HR, RR,BP,
Assesment khusus berdasarkan masalah tidak terbatas pada:
Spasme bronkus/Penyempitan jalan napas /inflamasi bronkus(s43010)
Spasme otot-otot asesores inspirasi (s 43038).
Kelelahan otot asesoris (b4452)
Frekuensi sesak napas tidak teratur (b4401) " sasak napas saat aktivitas"
(b4402)
Perubahan sangkar thoraks, mengarah pada barrel chest
Tachipnae (b4400)
Keterpaksaan ekspirasi /kerja keras ekspirasi. (b)
Peningkatnya residual volum(s43011)
Akumulasi sekresi (s43010)
FEV1 < 80 % (b)
Kemampuan daya tahan latihan (b)
Gangguan sikap (s)
Kemampuan kerja (d)
Alat bantu yang digunakan (e).
Evaluasi;
Pengukuran Objektif
Antropometri sangkar thoraks
Pengukuran sesak
Retensi sputum
Daya tahan jantung paru
Integritas Otot bantu pernapasan
Outcome Measure
Antropometri sangkar thoraks
Borg Scale
Test endurance
Tes panjang otot
Diagnosa Fisioterapi
Berdasarkan ICF komplemen terhadap ICD
b.440-449, b 455, s430, s.730, d410-429, d450-469
Problema aktual dan potensial yang dijumpai
Sesak
Spasme otot pernapasan
Keterbatasan ekspirasi
Peningkatan volume
residual Retensi sputum
Penurunan toleransi aktivitas fisik
Prognosis Fungsional
Bisa kembali berfungsi optimal seiring peningkatan status kesehatan.
Intervensi
89
ICF target (Body Function and Body Structure Impairment target, Disability
target, dan Environment Target)
Meringankan rasa sesak napas (dyspnea)
Mengurangi spasme bronkus
Mengurangi spasme otot asesoris
Mengurangi keterpasaan ekspirasi
Meminimalkan volume residual
Memobilisasi sekresi. (s43010)
Meningkatkan FEV1 > 80 % (b)
Meningkatkan toleransi latihan
Meningkatkan kemampuan daya tahan latihan (b).
Meminalkan gangguan sikap (s)
Meningkatkan kemampuan kerja (d)
Menganalisa kebutuhan alat bantu yang digunakan dan lingkungan yang
sesuai.
90
http://www.kau.edu.sa/Files/0053233/Subjects/Physical%20Therapy%20for%20
Cardiopumonary%20Disorders.pdf.
Canadian Lung Association [homepage on the internet]. Asthma: asthma treatment.
Ottawa; 2015 [cited 2015 Feb 23]. Available from: http://www.lung.ca/lung-
health/lung-disease/asthma/treatment.
Bruurs a, Marjolein L.J.,et al.The effectiveness of physiotherapy in patients with
asthma: A systematic review of the literature.Elsevier Journal 2012.
Graha,Chairinniza.2008.Terapi untuk Anak Asma.Jakarta:PT.Elex Media
Komputindo
Jennifer A Pryor; Barbara A Webber; 2001 ; Physiotherapy For Respiratory And
Cardiac Problems ; Second Edition; Churchill Livingstone Edinburgh London
New York Philadelphia San Francisco Sydney Toronto
91
Hipertensi
Kode ICD 9:401/ ICD-10 : I10
Kode ICF : b.4200 s.410,498 d: 410 e:110
Kondisi kesehatan
Pengertian
Hipertensi atau tekanan darah tinggi adalah suatu kondisi di mana tekanan darah
melebihi normal atau jumlah tertentu. Menurut CDC 2013, tekanan sistolik di atas 120
mmHg dan tekanan diastolic di atas 80 mmHg merujuk pada prehipertensi dan harus
dilakukan perubahan gaya hidup.
B. Insidensi dan Prevalensi
Hipertensi pada umumnya terjadi pada usia diatas 40 tahun. Di Amerika, data
statistik pada tahun 1980 menunjukkan bahwa sekitar 20% penduduk menderita
hipertensi. Boedi darmayo dalam penelitiannya, menemukan bahwa antara 1,8% -
28,6% penduduk dewasa adalah penderita hipertensi. Angka 1,8% berasal dari
penelitian di Desa Kalirejo, Jawa Tengah. Sedangkan nilai 28,6% dilaporkan dari data
hasil penelitian di sukabumi, Jawa Barat.
C. Patologi dan Patologi fungsional
Hipertensi adalah kondisi multifactor, namun diduga ada perubahan kadar
aldosterone, penurunan barorefleks, dan perubahan fungsi genetic yang memungkinkan
terjadinya penurunan kemampuan mengatur tekanan darah.
Pemeriksaan A.
Anamnesis
Anamnesis ditujukan untuk memahami pola hidup, pola makan, pola aktivitas,
dan tingkat stress
Pemeriksaan klinis;
Pemeriksaan Lab lengkap
Pemeriksaan EKG
Pemeriksaan Rontgen Dada/Chest X-Ray
Pemeriksaan fisik;
Pemeriksaan tanda vital (denyut nadi, frekuensi napas, suhu, dan tekanan darah).
Pemeriksaan daya tahan jantung paru
Pemeriksaan otot leher—mencari ketegangan otot posterior leher
Pemeriksaan status mental dan emosional
Evaluasi;
Pengukuran
Objektif Tekanan
darah Spasme otot
Outcome Measure
Pemeriksaan tekanan darah
Diagnosa Fisioterapi
Berdasarkan ICF komplemen terhadap
ICD b.4200 s.410,498 d: 410 e:110
Problema aktual dan potensial yang dijumpai
Peningkatan tekanan darah
Ketegangan psikologis
Risiko spasme otot
92
Risiko kelelahan umum
Prognosis Fungsional
Pada perawatan yang benar, berkomitmen dan intensif, diharapkan tidak terjadi
masalah fungsional lainnya.
Intervensi
ICF target (Body Function and Body Structure Impairment target, Disability
target, dan Environment Target)
Gangguan pengaturan tekanan darah
Kelelahan
Modalitas yang direkomendasikan
Latihan aerobic
Massage (untuk peningkatan kadar endokrin)
Referensi
Moini, Jahangir, MD, MPH.2013.Introduction to pathology for the physical
therapy assistent.Melbourne:Jones & Barlett Learning.
Lescher, Penelope, PT, MA, MCSP.2011.Pathology for the physical therapy
assistant.Philadelphia:Davis Company.
93
Diabetes Mellitus
Kode ICD 9: 249 ICD 10 E 11
Kode ICF :b.540,545,s.550,580 d. 450, 530-560, e 110.
Kondisi kesehatan
Pengertian
Diabetes mellitus (DM) adalah sekelompok penyakit metabolik di mana ada kadar
gula darah tinggi dalam jangka waktu lama, akibat defisit insulin baik secara absolut
atau relatif. DM tipe satu dari kegagalan pankreas untuk memproduksi insulin yang
cukup. DM tipe 2 dimulai dengan resistensi insulin, suatu kondisi di mana sel-sel gagal
untuk merespon insulin dengan baik.
B. Insidensi dan Prevalensi
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperkirakan bahwa diabetes mellitus
mengakibatkan 1,5 juta kematian pada tahun 2012, menjadikannya 8 penyebab
kematian terkemuka. Pada tahun 2014, International Diabetes Federation (IDF)
memperkirakan bahwa diabetes mengakibatkan 4,9 juta kematian di seluruh dunia.
C. Patologi dan Patologi fungsional
Penderita DMTipe 1 tidakmampu menghasilkan insulin. Akibatnya, sel otot
danlemak tidak dapat mengakses glukosa untuk memenuhi kebutuhan energy. Glukosa
tidak dapat diserap ginjal, sehingga dikeluarkan (polyuria). Otak, berdasarkan
informasi kurangnya glukosa, memberisinyal haus (polydipsia) dan lapar (polifagia)
Bila proses ini berlanjut, lemak ditransformasi menjadi ketoacid, menurunkan kadar
pH dan acidosis metabolic dan dikompensasikan oleh respirasi Kussmauluntuk
menurunkan PCO2.
Pada DMTipe2, ada gangguan regulasi insulin,menjadi resisten. Akibatnya,
walaupun jumlah insulin memadai,namun tidak responsive terhadap glukosa.
Umumnya terjaid karena resistensi insulin dan penambahan berat badan. Walaupun
gejalanya sama dengan DM Tipe 1, namun tidak sama progresifitasnya.
Pemeriksaan
Anamnesis
Selain pada gejala triad polyuria,polydipsia dan polifagia; pemeriksaandiarahkan
pada gaya hidup dan progresifitas kondisi pasien.
Pemeriksaan klinis;
Lab darah
Lab urine
IMT
Pemeriksaan Fisik :
Pemeriksaan tanda vital(denyut nadi, frekuensi napas, suhu, dan tekanan
darah)
Pemeriksaan aerobic
Inspeksi : luka
4. Palpasi piting oedema
Palpasi nyeri tekan
Dermatome
D. Evaluasi;
Pengukuran Objektif
Indeks Massa Tubuh
94
Daya tahan jantung paru
Toleransi Aktivitas
Partisipasi Lingkungan
Outcome Measure
Indeks Massa Tubuh Skala Asia Pasifik
Tes endurance jantung paru
Pemeriksaan sensibilitas
Diagnosa Fisioterapi
Berdasarkan ICF komplemen terhadap ICD
b.540,545,s.550,580 d. 450, 530-560, e 110
Problema aktual dan potensial yang dijumpai
Penurunan toleransi aktivitas
Penurunan daya tahan jantung
paru Neuropati Diabetika
Prognosis Fungsional
Pada diabetes mellitus yang terkendali, progresifitas penyakit dapat diperlambat dan
penurunan fungsi dapat ditunda. Namun pada akhirnya akan terjadi penurunan fungsi
daya tahan jantung paru dan metabolism.
Intervensi
ICF target (Body Function and Body Structure Impairment target, Disability
target, dan Environment Target)
Menurunkan gula darah dengan meningkatkan fungsi insulin
Mengendalikan berat badan
Meningkatkan fungsi aerobik.
Modalitas yang direkomendasikan
Latihan aerobic
Kriteria Rujukan: Dokter spesialis penyakit dalam
Referensi
WHO 2016; Diabetes mellitus;
http://www.who.int/mediacentre/factsheets/fs138/en/
WHO. October 2013. Archived from the original on 26 Aug 2013. Retrieved 25
March 2014 https://en.wikipedia.org/wiki/Diabetes_mellitus.
95
Infark Miokard
Kode ICD 9 410 :ICD-10 : I25.2
Kode ICF 410. S : 410 d: 410, 450,510 e 110
Kondisi kesehatan
Pengertian
Miokard infark adalah proses dimana jaringan miokard mengalami kerusakan
dalam region jantung yang mengurangi suplai darah adekuat karena penurunan aliran
darah koroner.
B. Insidensi dan Prevalensi
Di Amerika Serikat, diperkirakan 1,5 juta orang menderita miokard infark per
tahun, dengan kematian sekitar 500.000. Pada kasus yang fatal, hampir separuh pasien
meninggal sebelum sampai ke rumah sakit. Di tanah air Indonesia angka kejadian
penyakit jantung secara umum terus meningkat. Bahkan pada tahun 2000, penyakit
jantung telah menjadi penyebab kematian nomor satu di Indonesia. Insiden miokard
infark meningkat sesuai penambahan usia, dan lebih sering pada usia lebih dari 45
tahun. Laki-laki memiliki kemungkinan terkena miokard infark empat sampai lima kali
dibandingkan perempuan.
C. Patologi dan Patologi fungsional
Kematian jaringan otot jantung terjadi karena penurunan suplai darah sekunder
akibat oklusi pada arteri koronaria.
Pemeriksaan
Anamnesis
Anamnesis diarahkan pada onset nyeri, sifat nyeri, perluasan nyeri, serta tingkat
kemampuan melakukan aktivitas.
Pemeriksaan klinis;
Lab darah dan urine lengkap
Lab enzim jantung
EKG
Chest XRay
Pemeriksaan fisik;
Pemeriksaan tanda vital (denyut nadi, frekuensi napas, suhu, dan tekanan darah)
Inspeksi: - Nyeri dada pada sub-sternum
Dyspnea
Dalam keadaan akut melalui inspeksi pasien terlihat cemas, sedih dan gelisah
Tachycardia
Evaluasi;
Pengukuran
Objektif Nyeri dada
Sesak
Daya tahan jantung paru
Outcome Measure
Borg Scale
96
Test endurance
Diagnosa Fisioterapi
Berdasarkan ICF komplemen terhadap
ICD S : 410 d: 410, 450,510 e 110
Problema aktual dan potensial yang dijumpai
Sesak
Nyeri dada atau nyeri alih
Penurunan daya tahan jantung paru
Prognosis Fungsional
Fisioterapi berperan untuk memperlambat progresifitas penyakit dan membantu
pasien mengenali dan beradaptasi dengan kondisi fisiknya.
Intervensi
ICF target (Body Function and Body Structure Impairment target Disability
target, dan Environment Target)
Mengembalikan fungsional serta melatih daya tahan jantung paru
Meningkatkan stroke volume dan ejection fraction
Meningkatkan fungsi otot jantung dengan mengurangi ―afterload‖
Mengurangi kebutuhan oksigen otot jantung dengan menurunkan tekanan darah
dan denyut jantung pada waktu istirahat dan selama latihan sub maksimal
Mengurangi viskositas darah dan agregasi platelet
Meningkatkan kepadatan kapiler pada otot skelet
Menurunkan sirkulasi catecholamine selama latihan submaksimal
Modalitas yang direkomendasikan
Latihan aerobic
Breathing Exercise
Kriteria Rujukan : Dokter spesialis
Referensi
Baughman, Diane C, et al.2000.Handbook for Brunner and Suddarth’s textbook
of medical surgical.Philadelphia:Lippincot-Raven Publishers.
Kushner FG, Ascheim DD, Casey DE, Chung MK, de Lemos JA, Ettinger SM,
Fang JC, Fesmire FM, Franklin BA, Granger CB, Krumholz HM, Linderbaum
JA, Morrow DA, Newby LK, Ornato JP, Ou N, Radford MJ, Tamis-Holland JE,
Tommaso CL, Tracy CM, Woo YJ, Zhao DX, Anderson JL, Jacobs AK, Halperin
JL, Albert NM, Brindis RG, Creager MA, DeMets D, Guyton RA, Hochman JS,
Kovacs RJ, Kushner FG, Ohman EM, Stevenson WG, Yancy CW (Jan 29, 2013).
"2013 ACCF/AHA guideline for the management of ST-elevation myocardial
infarction: a report of the American College of Cardiology Foundation/American
Heart Association Task Force on Practice Guidelines.". Circulation. 127(4):
e362–425. doi:10.1161/CIR.0b013e3182742cf6. PMID 23247304
https://en.wikipedia.org/wiki/Myocardial_infarction
97
Coronary Artery Bypass Graft (CABG)
Kode ICD -10 : Z95.1
Kode ICF : b 410, s 410, 420 d 410, 450 e 110, 115
Kondisi kesehatan
Pengertian
Coronary Artery Bypass Graft adalah prosedur bedah untuk membuat pembuluh
darah baru yang melintasi pembuluh darah jantung yang menyempit dengan
menggunakan pembuluh darah dari bagian tubuh lain.
B. Insidensi dan Prevalensi
Laporan Hasil Riset Kesehatan Dasar Badan Penelitian dan Pengembangan
Kesehatan Departemen Kesehatan Republik Indonesia tahun 2008 menyatakan bahwa
sebanyak 16 provinsi di Indonesia memiliki nilai prevalensi penyakit jantung diatas
prevalensi nasional yaitu 7,2%. Data Dinkes Jateng menyebutkan kasus tertinggi
penyakit tidak menular pada tahun 2011 adalah penyakit jantung dan pembuluh darah.2
Dari total 1.409.857 kasus yang dilaporkan, sebesar 62,43% (880.193 kasus) adalah
penyakit jantung dan pembuluh darah.Selain prevalensi dan kasus kejadiannya yang
tinggi, menurut Departemen Kesehatan Indonesia, penyakit jantung juga masuk dalam
10 besar penyakit tidak menular penyebab kematian terbanyak di rumah sakit di
Indonesia tahun 2005 sebagai peringkat ke 5 setelah stroke, perdarahan intrakranial,
septisemia, dan gagal ginjal.
C. Patologi dan Patologi fungsional
Arteri koronaria dapat mengalami oklusi, yang apabila dibiarkan akan mengarah
pada myocardiac infark. Pada kondisi oklusi arteri koronaria, maka CABG adalah
pilihan yang lebih baik dibandingkan terapi konservatif.
Pemeriksaan
Anamnesis
Anamnesis ditujukan untuk mengetahui keluhan, riwayat penyakit, tingkat kecemasan
pasien, gaya hidup sebelum CABG, dan harapan akan gaya hidup yang akan dijalani
pasca CABG
Pemeriksaan klinis;
Pemeriksaan fisik;
Pemeriksaan tanda vital (denyut nadi, frekuensi napas, suhu, dan tekanan darah)
Pemeriksaan gerakan dasar (aktif, pasif, isometrik)
Inspeksi – apakah ada perubahan pada raut wajah, bentuk dada atau sangkar
thoraks, melihat adanya oedema.
Palpasi – apakah ada piting oedema, suhu tubuh, nyeri tekan pada daerah dada
atau thoraks.
Perkusi – apakah ada nyeri tekan dan kembung.
Auskultasi – apakah ada cairan pada paru-paru, suara napas, detak jantung
Endurance test – treadmill atau jalan 6 menit.
Pemeriksaan nyeri dada dengan VAS
98
Evaluasi;
Pengukuran
Objektif Nyeri
Sesak
Daya tahan jantung paru
Outcome Measure
Borg Scale
Tes daya tahan jantung paru
Diagnosa Fisioterapi
Berdasarkan ICF komplemen terhadap ICD
b 410, s 410, 420 d 410, 450 e 110, 115
Problema aktual dan potensial yang dijumpai
Risiko komplikasi pasca operasi
Risiko komplikasi tirah baring
Penurunan daya tahan jantung
paru Penurunan fungsi pernapasan
Penurunan efektivitas batuk
Ketegangan emosional
Penurunan fleksibilitas dan mobilitas ekstremitas atas
Prognosis Fungsional
Dengan fisioterapi intensif, diharapkan dapat kembali ke aktivitas sehari-hari atau
menyesuaikan diri terhadap aktivitas fisik yang diharapkan.
Intervensi
ICF target (Body Function and Body Structure Impairment target Disability
target, dan Environment Target)
Meningkatkan ventilasi
Meningkatkan efektifitas mekanisme batuk
Mencegah atelectasis
Meningkatkan kekuatan, daya tahan dan koordinasi otot-otot respirasi.
Mempertahankan atau meningkatkan mobilitas chest dan thoracal spine.
Koreksi pola-pola napas yang tidak efisien dan abnormal
Meningkatkan relaksasi
Meningkatkan sirkulasi darah ke arteri coroner
Mencegah terjadinya iskemia yang luas
Meningkatkan toleransi aktifitas
Menjaga mobilitas anggota gerak atas (pencegahan keterbatasan gerak)
99
3. Kriteria Rujukan : Dokter spesialis
Referensi
SR, Filbay et al.2012. Physiotherapy for patients following coronary artery bypass
graft (CABG) surgery: limited uptake of evidence into practice. US National
Library of Medicine National Institutes of Health.
100
Lymphedema
Kode ICD 9: 457 ICD 10: I 89
Kode ICF
Kondisi kesehatan
Pengertian
Lymphedema adalah pembengkakan terus-menerus dari bagian tubuh karena
penyumbatan di aliran limfatik ketika node atau kelenjar yang bermasalah atau
abnormal. pembengkakan dapat mengakibatkan nyeri, penurunan rentang gerak
sendi, dan/atau kelemahan otot. Hal ini menyebabkan akumulasi abnormal protein
pada jaringan interstisial.
B. Insidensi dan Prevalensi
Limfedema meningkat insidensinya pada epidemi filariasis,
berkembangnya gangguan fungsi ginjal, penurunan fungsi sirkulasi secara umum,
maupun penggunaan pakaian yang tidak sesuai; sehingga menekan fungsi aliran
limfatik.
C. Patologi dan Patologi fungsional
Limfedema primer dapat terjadi Karena tidak adanya nodus limfatik yang
terbentuk pada masa janin, sehingga aliran limfe tidak terkompensasi. Limfedema
sekunder dapat terjadi akibat penyakit yang menghambat fungsi limfe dan nodus
limfatik; maupun Karena pengangkatan nodus akibat prosedur operatif radikal.
Ketiadaan nodus maupun penurunan fungsi nodus mengakibatkan aliran
limfatik dari struktur distal tidak terkompensasi, menyebabkan edema yang
progresif. Edema mendorong terjadinya perubahan kadar pH darah, mengarah pada
acidosis metabolic yang akan dikompensasikan oleh system respirasi melalui
peningkatan frekuensi pernapasan.
Pemeriksaan
A. Anamnesis
Anamnesis diarahkan untuk mengetahui kausal oedema, durasi oedema
dan Riwayat pengobatan.
Pemeriksaan klinis;
Pemeriksaan lab
Pemeriksaan CT Scan
Pemeriksaan fisik;
Pemeriksaan tanda vital(denyut nadi, frekuensi napas, suhu, dan tekanan
darah)
Pemeriksaan gerakan dasar (aktif, pasif, isometrik)
Inspeksi : Melihat adanya oedema: luas dan derajat oedema.
Palpasi : menyentuh dan meraba, apakah ada piting oedema, suhu tubuh, nyeri
tekan pada daerah oedema.
Evaluasi;
Pengukuran
Objektif Edema
Antropometri ekstremitas
Outcome Measure
Antropometri
Pitting edema
101
Stemmer Sign
Diagnosa Fisioterapi
Berdasarkan ICF komplemen terhadap ICD
102
Bedah Thoracic
Kode ICD
Kode ICF
Kondisi kesehatan
Pengertian
Bedah thoraks adalah pendekatan yang digunakan untuk manipulasi organ
dalam sangkar thoraks, termasuk transplantasi paru, lobektomi, dan transplantasi
jantung. Fisioterapi pada bedah thoraks dilakukan sebelum dan sesudah terapi.
Fisioterapi terbukti mengurangi masa rawat inap dan tagihan biaya per pasien bedah
thoraks.
B. Insidensi dan Prevalensi
Di UK, per tahun 1999/2000 dilakukan 10.500 operasi paru. Di Eropa,
dilaporkan terjadi 3426 reseksi paru.
C. Patologi dan Patologi fungsional
Praoperasi, fisioterapi diperlukan untuk edukasi kualitas perawatan,
pemulihan dan fungsi paru pasca operasi. Pasca operasi, terdapat nyeri, disfungsi
bahu; serta terdapat penurunan kemampuan paru sehingga fisioterapi berperan
dalam peningkatan ekspansi paru dan maneuver pembersihan jalan napas pada
stadium awal pascaoperasi.
Pemeriksaan
Anamnesis
Anamnesis diarahkan untuk mencari tahu keluhan yang dialami pasien dan keadaan
mentalnya terkait bedah yang akan dilaksanakan; dan untuk mencari tahu harapan
aktivitas fisik yang ingin dicapai pasca operasi.
Pemeriksaan klinis;
Pemeriksaan radiografi
Pemeriksaan laboratorium
Pemeriksaan fisik;
Pemeriksaan tanda vital(denyut nadi, frekuensi napas, suhu, dan tekanan
darah)
Pemeriksaan gerakan dasar (aktif, pasif, isometrik)
Inspeksi : apakah ada perubahan pada raut wajah, bekas incise
Palpasi : menyentuh dan meraba, suhu tubuh dan suhu lokal, nyeri tekan pada
daerah dada atau thoraks.
Perkusi : mengetuk pada bagian dada atau thoraks dan abdomen. Melihat
apakah ada nyeri tekan dan kembung.
Auskultasi : mendengar dengan stetoscop pada bagian dada dan punggung.
Untuk mengetahui adanya cairan pada paru-paru, suara napas, detak jantung
Endurance test : Bertujuan untuk mengetahui kebugaran tubuh. Dengan cara
menggunakan treatmill atau jalan 6 menit.
Pemeriksaan nyeri dada dengan VAS
Evaluasi;
Pengukuran Objektif
Daya tahan jantung
paru Nyeri
Keadaan luka operasi
103
Status mental dan emosional
Fungsi pernapasan
Outcome Measure
Tes daya tahan jantung
paru Skala VAS
Diagnosa Fisioterapi
Berdasarkan ICF komplemen terhadap ICD
Prognosis Fungsional
Dengan fisioterapi intensif, diharapkan dapat mengurangi masa rawat inap; sehingga
pasien dapat segera kembali beraktivitas normal.
Intervensi
ICF target (Body Function and Body Structure Impairment target, Disability
target, dan Environment Target)
Peningkatan toleransi latihan
Pengendalian gejala
Pengendalian kadar lipid dalam darah
Peningkatan kapasitas psikososial
Peningkatan penyesuaian sosial dan fungsi
Kembali ke pekerjaan
Mengurangi kematian
Meningkatkan ventilasi.
Meningkatkan efektifitas mekanisme batuk.
Meningkatkan kekuatan, daya tahan dan koordinasi otot-otot respirasi.
11. Mempertahankan atau meningkatkan mobilitas chest dan
thoracal spine.
Koreksi pola-pola napas yang tidak efisien dan abnormal
Meningkatkan relaksasi.
Meningkatkan toleransi aktifitas
Menjaga mobilitas anggota gerak atas (pencegahan keterbatasan gerak)
104
Referensi
Price Sylvia A. 2006. Patofisiologi Konsep Klinis Proses-proses Penyakit, edisi
6
vol 2.Jakarta : Penerbit buku kedokteran EGC.
Mansjoer, A, (edt). Pneumonia. Dalam: Kapita Selekta Kedokteran. Edisi Ketiga.
Jilid 2. Media Aesculapius FKUI. 2000. Jakarta. 465-468.
105
PANDUAN PRAKTEK KLINIS
FISIOTERAPI
MUSKULOSKELETAL
106
FISIOTERAPI PADA FROZEN SHOUDER
Frozen Shouder
Kode ICD : 726.0
Kode ICF : b710, d5100, d5101, d5400, d5401
Kondisi kesehatan
Pengertian
Frozen Shoulder atau biasa dikenal dengan capsulitis adhesive adalah suatu kondisi
yang menyebabkan keterbatasan gerak pada sendi bahu disertai dengan nyeri dan
kekakuan yang sering terjadi tanpa dikenali penyebabnya (Cluett, 2010).
Frozen shoulder dikenal juga dengan istilah capsulitis adhesiva dimana kondisi
bahu menjadi sakit dan kaku. Biasaya keluhan ini disebabkan karena cedera yang relatif
kecil pada bahu tetapi penyebab yang sering berkembang belum jelas. Frozen shoulder
juga sering dikaitkan dengan masalah kesehatan lainnya seperti diabetes millitus
(Teyhen, 2013 ).
B. Insidensi dan Prevalensi
Secara Insidensi dan prevalensi onset frozen shoulder terjadi sekitar usia 40-65
tahun. Dari 2-5% populasi sekitar 60% dari kasus frozen shoulder lebih banyak
mengenai perempuan dibandingkan dengan laki-laki. Frozen shoulder juga terjadi pada
10-20% dari penderita diabetus millitus yang merupakan salah satu faktor resiko frozen
shoulder (Miharjanto, et al., 2010)
C. Patologi dan Patologi fungsional
Frozen shoulder (capsulitis adhesive) merupakan syndrome karena terdapat
perubahan patologi yakni pada kapsul artikularis glenohumeral yaitu perubahan pada
kapsul sendi bagian anterior superior mengalami synovitis yaitu perdangan dan
meningkatkan cairan synovial yang merupakan cairan bening yang dilepaskan oleh
membrane synovial dan bertindak sebagai pelumnas untuk sendi dan tendon.
Karena terdapat peningkatan cairan menyebabkan cairan tersebut menyebar
keseluruh bagian sendi sehingga terjadi pelengketan jaringan, kemudian terjadi
kontraktur ligament coracohumeral, diikuti dengan penebalan pada ligament superior
glenohumeral, pada kapsul sendi bagian anterior inferior mengalami penebalan pada
107
ligament inferior glenohumeral dan pelengketan pada ressesus axilaris. Kapsul sendi
bagian posterior terjadi keterbatasan mobilitas (kontraktur), sehingga menyebabkan
sebuah kasus pola kapsuler yaitu gerak fleksi lebih terbatas daripada ekstensi.
Pemeriksaan
Anamnesis
Pembuktian Hipotesa Patologi dan Patologi Fungsional
Pertanyaan untuk membuktikan usia 45 - 65 tahun, nyeri dan kaku pada bahu
hingga area deltoid, ketidakmampuan tangan dibelakang leher dan tangan
dibelakang punggung, ketika mengangkat lengan gerak scapular lebih besar dari
humerus.
Pemeriksaan klinis;
Data yang diperoleh dari pemeriksaan medik.
Pemeriksaan fisik;
Inspeksi
Posisi sendi glenohumeral pada MLPP
Bahu tampak tinggi sebelah kanan/ asimetris
Pemeriksaan fisik berdasar bukti
a. Tes Regional :
Abduksi elevasi bahu terjadi gerak ’reverse humerosccapular rhythm’
Gerak terbatas dengan firm end
feel b. Tes pasif
Gerak glenohumeralis rotasi eksternal, abduksi, maupun rotasi internal
terbatas firm end feel, dalam pola keterbatasan capsular pattern.
Pada ROM penuh nyeri sampai lateral lengan atas
c. Test Khusus :
Joint Play Movement : traksi pada ahir ROM nyeri, terbatas firm end
feel
- Palpasi : spasme otot-tot bahu sebelah kanan
Contract relax stretched test terbatas dan nyeri sedikit berkurang pasca
kontraksi
D. Evaluasi;
108
Pengukuran Objektif
Joint ROM, endfeel, pain.
Outcome Measure
Quick DASH, SPADI, shoulder function index, functional reach test,
American Shoulder and Elbow Surgeon (ASES)
Diagnosa Fisioterapi
Berdasarkan ICF komplemen terhadap ICD
Capsular pattern hypomobility sec. frozen shoulder
Problema aktual dan potensial yang dijumpai
Keterbatasan ROM
Muscle tightness (cuff muscle)
Capsular contracture glenohumeral joint- acromioclavisular-
sternoclavicular
Keterbatasan menjangkau
Nyeri saat mengemudi, saat bekerja dengan menggunakan tangan, saat
olahraga dengan menggunakan tangan
Prognosis Fungsional
Fungsi gerak akan normal kembali paling lama satu atau dua tahun walau tanpa
intervensi.
Intervensi
A. ICF target (Body Function and Body Structure Impairment target, Disability
target, dan Environment Target)
Joint mobilization
Mobilization with movement
Scapular mobilization
Mobility exercise
B. Modalitas yang direkomendasikan
Short Wave Diathermy / ultrasound
3. Referensi
109
Cluett, J., 2007; Frozen Shoulder; Diakses tanggal 7/10/2012, dari
http://www.orthopedics.about.com/cs/frozenshoulder/a/frozenshoulder.ht
m
Brauer, Sandra. 2013. Frozen Shoulder. Australia: The University of
Queensland, Australia
Miharjanto H. Kuntono HP. Setiawan D. 2010. Perbedaan Pengaruh
Antara Latihan Konvensional Ditambah Latihan Plyometrics dan Latihan
Konvensional Terhadap Pengaruh Nyeri, dan Disabilitas Penderita
FrozenShoulder. 3. 2 : November 2010: 2.
Davies, Clair, The Frozen Shoulder WorkBook, (Oakland : New Harbinger
Publication, Inc, 2006) available at:
http://books.google.co.id/books?id=1UWvZsuL5rMC&pg=PA227&dq=sc
apular+mobilization&hl=en&sa=X&ei=kKqlUVWDkK4Hh4WB0AE
&redir_esc=y#v=onepage&q=scapular%20mobilization&f=false
110
FISIOTERAPI PADA IMPINGEMENT SYNDROME
TENDOPATHY M. SUPRASINATUS
Impingement Syndrome
Kode ICD: 726.11
Kode ICF: b749, s7208, d599, e198
Kondisi kesehatan
Pengertian
Sindroma impingement bahu adalah suatu bentuk peradangan yang terjadi pada
jaringan antara acromion dan kaput humeri (ekternal) atau jaringan intraartikular
sendi glenohumeralis (internal) akibat penyimpangan scapulohumeral rhythm.
Pemeriksaan
Anamnesis
Pembuktian Hipotesa Patologi dan Patologi Fungsional
Nyeri jenis pegal pada lengan atas bagian lateral
Nyeri bila melakukan aktivitas lengan pada posisi tangan di depan atau samping
tubuh.
111
Pemeriksaan klinis;
Evidence base clinical practice
Pemeriksaan fisik;
Inspeksi
Pemeriksaan fisik berdasar bukti
Painful arc
Neer test
Hawkin Kennedy test
Empty can test (Jobe‘s test)
Isometric rotasi external
Bila 3 atau lebih dari tes postif berarti impingement syndrome. Kemudian
dilanjutkat test berikut untuk mengetahui jaringan ―cuff‖ dan bursa yang kena
Tendopathy m. Supraspinatus
Kode ICD : 840.6
Kode ICF : s7202
Kondisi kesehatan
Pengertian
Tendinitis supraspinatus adalah suatu bentuk kondisi peradangan yang terjadi pada
insersio tendo supraspinatus pada tuberositas mayor humeri yang ditandai dengan
adanya rasa nyeri dan bisa juga terjadi pada tenno osseal, tendon atau tendo muscular.
Tendinitis supraspinatus adalah penyebab tersering keluhan nyeri bahu.
Insidensi dan Prevalensi
Prevalensi penderita nyeri bahu di Inggris 14%, Belanda 12%, Indonesia 20%
(Anonim,2007) dan di beberapa negara lainnya berkisar 20-50%.
Patologi dan Patologi fungsional
Inflamasi pada tendon supraspinatus akibat jepitan acromion dengan caput humeri
akibat ketidaksingkronan gerak antara scapular dan humerus. Pada beberapa kasus
terjadi penumpukan kalsium pada tendon dan bursa subacromialis.
112
Terjadi perubahan gerak shoulder berupa pain full arch akibat iritasi pada tendon
yang inflamasi, dan semua aktivitas yang menggunakan kontraksi m.supraspinatus
akan nyeri.
Pemeriksaan
Anamnesis
Pembuktian Hipotesa Patologi dan Patologi Fungsional
Pertanyaan ditujukan untuk membuktikan :
Nyeri jenis pegal pada lengan atas bagian lateral
Tidak jelas sebab-sebabnya atau setelah menjinjing barang, olah raga dengan
lengan-tangan.
Nyeri meningkat ketika angkat lengan pada posisi LGS tengah dan berkurang
bila diistirahatkan.
Pemeriksaan klinis;
Data yang diperoleh dari pemeriksaan medik.
Pemeriksaan fisik;
Inspeksi
Tampak nyeri saat posisi tengah dari sendi bahu.
Pemeriksaan fisik berdasar bukti
a. Tes Regional : Abduksi elevasi: ‘painful arc‘ humeroscapular rhythm
b. Tes gerak aktif : Gerak rotasi eksternal nyeri nyeri kontraksi, gerak
rotasi internal penuh atau horizontal adduksi penuh nyeri regang
c. Tes gerak pasif : Tak ada kelainan yang jelas, tetapi, tetapi horizontal
adduksi penuh nyeri regang
Tes gerak isometric : Abduksi sometric melawan tahanan
Tes khusus :
Palpasi posisi adduksi-ekstensi-rotasi internal penuh nyeri
Scapulothoracal rhythm test
glenohumeral stability test
f. Pengukuran : VAS untuk mengukur skala nyeri
Goniometer untuk mengukur ROM
Alat ukur untuk mengukur fungsional tangan
113
Evaluasi;
Pengukuran Objektif
Nyeri, scapulohumeral rhythm pain area, scapulothoracal rhythm
Outcome Measure
Western Ontario Shoulder Instability Index (WOSI)
DASH, SPADI, functional index
Diagnosa Fisioterapi
Berdasarkan ICF komplemen terhadap ICD
Shoulder pain and middle range sec. impingement syndrome
with supraspinatus tendinitis
Problema aktual dan potensial yang dijumpai
Keterbatasan menjangkau, menjinjing.
Nyeri saat mengemudi, saat bekerja dengan menggunakan tangan, saat
olahraga dengan menggunakan tangan.
Prognosis Fungsional
Fungsi membaik ketika penanganan supraspinatus bersamaan
dengan penanggulangan penyebab impingement.
Intervensi
ICF target (Body Function and Body Structure Impairment target, Disability
target, dan Environment Target)
Tendon mobilization
Eksentrik stretching
Stabilisasi glenohumeral dan/atau stabilisasi scapula thoracal
Caudal traction and dorsal traction dengan mobilization with movement
Modalitas yang direkomendasikan
Ultrasound
Referensi
Robert A. Donatelli, physical therapy of the shoulder 5th ed.
Chourill livingstone, St. Louis Missouri 2012
114
Brian j. tovin & bruce H. greeffield treatment of the shoulder; an integration
of the guide physical therapist practice F.A. davis company, Philadelphia
2001
David j. magee. Orthopedic physical assessment 6th ed. Elsevier saundess,
St. laouis Missouri 2014
Chad starkey, sara d. brown, jeff ryan, examination of orthopedic and
athletic injuries, ed.3, FA. Davis company, Philadelphia 2010.
Joshua, A. Cleland, shane koppenhaver, netter‘s orthopedic
clinical examination an evidence based approach 2 ed. Saunders
Elsevier, pehnsylvania 2011
Rebert donatelli, Michael wooden, orthopedic physical therapy 4th ed.
Chureill living stone St. louis Missouri 2010
115
FISIOTERAPI PADA IMPINGEMENT SYMDROME
BURSITIS SUBACROMIALIS
Bursitis subacromialis
Kode ICD: 726.19
Kode ICF: b798, s7208, d598, e198
Kondisi kesehatan
Pengertian
Subacromial bursitis adalah suatu bentuk kondisi peradangan yang terjadi pada bursa
subacromialis antara tendon supraspinatus dan acromion yang ditandai dengan adanya
rasa nyeri pada bahu hingga perlekatan m. deltoideus. Chronic subacromial bursitis
merupakan keluhan nyeri bahu yang paling sering dijumpai bersama tendinitis
supraspinatus.
Pemeriksaan
Anamnesis
Pembuktian Hipotesa Patologi dan Patologi Fungsional
Nyeri jenis pegal pada lengan atas bagian lateral terutama menumpu pada lengan
Bunyi pada bahu saat gerak lengan.
Nyeri meningkat ketika angkat lengan dan berkurang bila diistirahatkan
116
Pemeriksaan klinis;
Data dari pemerikssaan medik
Pemeriksaan fisik;
Inspeksi
- Bahu dalam posisi antalgik
Pemeriksaan fisik berdasar bukti
Tes regional
Fleksi-ekstensi dan 3-dimensi ekstensi servikal (negatif)
Abduksi-elevasi bahu (painful arch)
Tes gerak aktif dan Tes gerak pasif
Gerak abduksi bahu nyeri, sering dijumpai crepitasi saat gerak pada
lingkup tengah.
Tak ada kelainan yang jelas, tetapi abduksi nyeri.
Tes khusus
Kombinasi Neer-Hawkin Kennedy test positif dan krepitasi
Palpasi posisi ekstensi sendi glenohumeral teraba crepitasi dan nyeri pada
bursa subacromialis.
Pengukuran nyeri dengan VAS/VDS/NRS
Pengukuran fungsi dengan SPADI (Shoulder Pain and Disability Index)
atau outcome measure lain
Pemeriksaan lain
‘X‘ray: Bila diperlukan, untuk menyisihkan fraktur, dislokasi atau
calcificasi bursa
Evaluasi;
Pengukuran Objektif
Nyeri, scapulohumeral rhythm pain area, scapulothoracal rhythm
Outcome Measure
Western Ontario Shoulder Instability Index (WOSI)
DASH, SPADI, functional index
D. Diagnosa Fisioterapi
Berdasarkan ICF komplemen terhadap ICD
117
Shoulder pain and middle range sec. impingement syndrome with subacromial
bursitis
Problema aktual dan potensial yang dijumpai
Keterbatasan menjangkau, gerak memukul,
Nyeri saat mengemudi, saat bekerja dengan menggunakan tangan, saat
olahraga dengan menggunakan tangan
Prognosis Fungsional
Fungsi membaik ketika penanganan subacromial bursitis bersamaan dengan
penanggulangan penyebab impingement
Intervensi
ICF target (body function and body structure impairment target, disability target,
dan environment Target)
Mobilization under caudal traction
Stabilisasi glenohumeral dan/atau stabilisasi scapula thoracal
Caudal traction and dorsal traction dengan mobilization with movement
Modalitas yang direkomendasikan
Ultrasound
Referensi
Robert A. Donatelli, physical therapy of the shoulder 5th ed. Chourill livingstone,
St. Louis Missouri 2012
Brian j. tovin & bruce H. greeffield treatment of the shoulder; an integration of
the guide physical therapist practice F.A. davis company, Philadelphia 2001
David j. magee. Orthopedic physical assessment 6th ed. Elsevier saundess, St.
laouis Missouri 2014
Chad starkey, sara d. brown, jeff ryan, examination of orthopedic and
athletic injuries, ed.3, FA. Davis company, Philadelphia 2010.
Joshua, A. Cleland, shane koppenhaver, netter‘s orthopedic clinical examination
an evidence based approach 2 ed. Saunders Elsevier, pehnsylvania 2011
Rebert donatelli, Michael wooden, orthopedic physical therapy 4th ed.
Chureill living stone St. louis Missouri 2010
118
119
FISIOTERAPI PADA TENNIS ELBOW
Tennis Elbow
Kode ICD : 726.32
Kode ICF : b7101, b7301, s7301, s73001 d430, d445, e1158
Kondisi kesehatan
Pengertian
Tennis elbow adalah patologi yang ditandai adanya gejala nyeri pada sisi
epicondylus lateral akibat inflamasi pada tenno periosteal yang disebabkan penggunaan
tangan yang berlebihan sehingga terjadi avulsi ringan. Akibat adanya inflamasi, maka
timbullah zat-zat iritan seperti bradikini, prostaglandin, dan histamin (Hertling, 2006)
B. Insidensi dan Prevalensi
Insidensi tennis elbow bervariasi mulai dari 1%–3% populasi umum, 50% dari
pemain tennis, 2%-23% pada pekerja umum seperti ibu rumah tangga, pemahat,
aktivitas kerja yang melibatkan penggunaan komputer, dan mengangkat beban berat
(Leclerc et al, 2013). 80% dari tennis elbow terjadi pada perlekatan tendon perios dari
otot ekstensor carpi radialis brevis.
C. Patologi dan Patologi fungsional
Inflamasi pada tendon dana tau otot ekstensor carpi radialis akibat cidera regangan
oleh kerja otot yang berlebihan baik kekuatan ataupun ketahanan otot. Cidera pada
ekstensor carpi radialis longuus (tipe I), ekstensor carpi radialis brevis tendo periosteal
(tipe II), ekstensor carpi radialis brevis tendo muscular (ttipe III), dan pada badan otot
ekstensor carpi radialis brevis (tipe IV). Pada tipe II karena merupakan zona kritis maka
penyembuhan cenderung kronis dan kadang dijupai penumpukan kalsium. Fungsi
ekstensi pergelangan tangan terganggu, sehingga secara umum menunjukan problem
menggenggam.
Pada elbow valgus atau varus dijumpai ketidakimbangan kontraksi otot ekstensor carpi
radialis brevis lebih besar dibanding otot lain saat melakukan kerja kuat atau lama.
3. Pemeriksaan
120
Anamnesis
Pembuktian Hipotesa Patologi dan Patologi Fungsional
Pertanyaan ditujukan untuk membuktikan nyeri ekstensi pergelangan tangan, nyeri
menggenggam, dan titik nyeri pada epicondylus lateralis. Riwayat kerja dengan
tangan atau olahraga tennis.
Pemeriksaan klinis;
Data yang diperoleh dari pemeriksaan medik.
Pemeriksaan fisik;
Inspeksi
- Tampak nyeri pada lateral siku ketika menggenggam dengan kuat.
Pemeriksaan fisik berdasar bukti
Tes Regional :
Gerak siku nyeri saat ekstensi dan pronasi
Gerak ekstensi pergelangan tangan nyeri pada lateral siku
b. Evidanbase :
Tes gerak isometric
121
Berdasarkan ICF komplemen terhadap ICD
Lateral elbow pain and movement deficit sec. tennis elbow
Problema aktual dan potensial yang dijumpai
Inflamasi pada tendon ekstensor carpi radialis brevis-longus pada lokasi
tertentu.
Keterbatasan gerak ekstensi pergelangan tangan
Deformitas elbow vagus-varus
Deficit grip strength and carrying
Grip Pain and weakness
Gangguan saat bekerja dengan tangan mial mengetik
Nyeri ketika mengemudi
Ketidakmampuan berolahraga menggunakan tangan
Prognosis Fungsional
- Pada tipe II nyeri akan hilang sendiri sampai dua tahun, dan tipe lainnya lebih cepat.
Intervensi
ICF target (Body Function and Body Structure Impairment target, Disability
target, dan Environment Target)
Mill‘s manipulation
Muscle – tendon manipulation
Pain free grip strength exercise
Modalitas yang direkomendasikan
ultrasound
Referensi
Fedorczyk, JM. 2006. Tennis Elbow: Blending Basic Science With Clinical
Practice. Journal of Hand Therapy.
Leclerc, Annette., Marcel Goldberg, Catherine. 2013. Work-related risk
factors for incidence of lateral epicondylitis in a large working population.
Matthew JP. 2003. Therapeutic Ultrasound for Tennis Elbow. School of
Public Health & Preventive Medicine.
122
Finestone, H M and Rabinovitch, D L. 2008. Tennis elbow no more: Practical
eccentric and concentric exercises to heal the pain. Canadian Family
Physician. 54 (8): 1115- 1116
Hertling, Darlene, Randolph M. Kessler. 2006. Management of common
muskuluskeletal disorder Physical therapy Principles and methods Fourth
edition.
123
FISIOTERAPI PADA KONTRAKTUR SIKU POST FRAKTUR
Pemeriksaan
Anamnesis
Pembuktian Hipotesa Patologi dan Patologi Fungsional
Nyeri siku kadang menyebar ke lengan bawah dan kaku sendi
Ada riwayat trauma dan immobilisasi, setelah operasi fraktur regio siku atau
tulang berdekatan sendi siku
Nyeri bila fleksi-ekstensi dan/atau pronasi-supinasi
Pemeriksaan klinis;
Evidence based clinical practice
Pemeriksaan fisik;
Inspeksi
124
- Posisi sendi siku menekuk atau semifleksi atau bahkan lurus
Pemeriksaan fisik berdasar bukti
Tes regional
Fleksi-ekstensi dan 3-dimensi ekstensi servikal (negatif)
Abduksi-elevasi bahu (negatif)
Fleksi-ekstensi dan pronasi-supinasi siku nyeri dan gerak terbatas
Tes gerak aktif dan Tes gerak pasif
Nyeri dan terbatas pada gerak fleksi-ekstensi maupun supinasi-pronasi
Keterbatasan gerak dalam ‘capsular pattern‘, nyeri area siku dengan
springy/firm end feel atau bahkan hard end feel.
Dilakukan pengukuran LGS dengan kriteria ISOM, nyeri yang timbul dan
end feel.
Tes khusus
JPM test: Traksi pada pembatasan ROM timbul nyeri dan keterbatasan
ROM denngan firm end feel dan Translasi pada pembatasan ROM timbul
nyeri dan keterbatasan ROM denngan firm end feel.
Contract relax stretched test terbatas dan nyeri sedikit berkurang pasca
kontraksi
-
Pengukuran fungsi dengan Pemeriksaan penunjang
‘X‘ray: Bila diperlukan, untuk melihat konsolidasi fraktur, dislokasi atau
calcificasi sendi.
Evaluasi;
Pengukuran Objektif
Pengukuran ROM, muscle performance, Nyeri dengan algometer,
pengukuran edema dengan antropometri
Outcome Measure
SPADI (Shoulder Pain and Disability Index) atau outcome measure lain
Elbow Funcional index
D. Diagnosa Fisioterapi
125
Berdasarkan ICF komplemen terhadap ICD
Capsular pattern hypomobility sec. post fracture immobilization
Problema aktual dan potensial yang dijumpai
Prognosis Fungsional
Intervensi
ICF target (Body Function and Body Structure Impairment
target Disability target, dan Environment Target)
Joint mobilization: ‗Roll-glide‘ pada pembatasan ROM
Contract relax stretching bila terdapat kontraktur otot
Active mobility exercise
Modalitas yang direkomendasikan
Ultra sound/ SWD
Referensi
- Hertling, Darlene, Randolph M. Kessler. 2006. Management of common
muskuluskeletal disorder Physical therapy Principles and methods Fourth edition
126
FISIOTERAPI PADA DE QUERVAIN SYNDROME
De Quervain Syndrome
Kode ICD : 259.51
Kode ICF : b7101, b749, s73022, d4301, d4458, e115
Kondisi kesehatan
Pengertian
De Quervain syndrome merupakan penyakit dengan nyeri pada daerah prosesus
stiloideus akibat inflamasi kronik pembungkus tendon otot abductor polisis longus
dan ekstensor polisis brevis setinggi radius distal dan jepitan pada kedua tendon
tersebut (Wright, 2004).
Mekanisme terjadinya De Quervain syndrome adalah karena adanya kelelahan
trauma kecil yang berulang-ulang secara perlahan dan makin lama semakin menjadi
berat. De Quervain syndrome ini dapat menimbulkan degenerasi dini pada jaringan
yang tertekan. Dimana terjadi rasa sakit yang timbul dari otot yang overuse.
B. Insidensi dan Prevalensi
De quervain syndrome umumnya terjadi pada wanita karena rata-rata wanita
mempunyai proccesus styloideus yang lebih besar dari pada laki-laki dan paling
sering terjadi pada wanita yang berusia antara 30 tahun sampai 50 tahun yang
diakibatkan pembebanan ibu jari tangan untuk bekerja.
Patologi dan Patologi fungsional
Dijumpai tendo synovitis pada tendon abductor policis longus dan ekstensor policis
brevis, posisi carpea lebih kearah ulnar, gerak ulnar deviasi dan opisisi ibu jari terjadi
iritasi pada kedua tendon tersebut.
Pemeriksaan
Anamnesis
Pembuktian Hipotesa Patologi dan Patologi Fungsional
Nyeri pada lateral pergelangan tangan setinggi styloideus lateralis dan nyeri pada
aktivitas ibu jari. Dijumpai juga pembengkakan pada diatas styloideus lateralis.
Provokasi nyeri oleh pekerja tangan seperti memeras dan memutar atau
membuka botol.
127
Pemeriksaan klinis;
Data yang diperoleh dari pemeriksaan medik.
Pemeriksaan fisik;
Inspeksi
bengkak pada sisi lateral pergelangan tangan
Pemeriksaan fisik berdasar bukti
a. Tes Regional : fleksi ekstensi tangan dan jari tangan nyeri saat
fleksi
b. Tes gerak aktif : - Adduksi ibu jari tangan nyeri
- Ulnar deviasi nyeri
c. Tes gerak pasif : tes stretch ibu jari nyeri
d. Tes Khusus :
- Finkelstein‘s Test : nyeri, oposisi ibu jari
- Palpasi : oedem pada sisi lateral pergelangan tangan
- Pain free grip test dengan oposisi lateral glides terhadap carpus
Evaluasi;
Pengukuran Objektif
Pain dengan algometer dan spygmonanometer.
Grip strength dengan dynamometer.
Outcome Measure
DASH
Wrist and Hand disability index
Diagnosa Fisioterapi
Berdasarkan ICF komplemen terhadap ICD
Pain and movement deficit of wrist sec. de quervain syndrome
2. Problema aktual dan potensial yang dijumpai
Inflamasi pada tendon dan synovial ekstensor policis brevis dan abductor policis
longus.
Nyeri ketika wrist and finger mobility
128
Pain grip deficit, hand dexterity deficit, mobility deficit and ulnar deviation
with oposisi
Gangguan saat bekerja dengan tangan, ketidak mampuan melakukan
olahraga keterampilan tangan.
Prognosis Fungsional
Fungsi normal bila tidak ada iritasi pada tendon
Intervensi
ICF target (Body Function and Body Structure Impairment
target Disability target, dan Environment Target)
Pain free grip strength exercise
Splinting pada posisi radial deviasi wrist
Modalitas yang direkomendasikan
Ice therapy pada fase akut dan ultrasound fase kronik
Referensi
Wright, PE. 2004. Carpal Tunnel, Ulnar Tunnel, and Stenosing Tenosynovitis in
Campbell-Operative Orthopaedics, 10th EditionPart XVIII, chapter 73.
Kisner, Carolyn. 2012. Theraupeutic Exercise Foundation and Techique. F.A
Davis Company. Philadepia.
Ilyas A, Ast M, Schaffer AA, Thoder J.2007."De quervain tenosynovitis of the
wrist". J Am Acad Orthop Surg 15 (12): 757–64.
129
FISIOTERAPI PADA TRIGER FINGER
Triger Finger
Kode ICD : 727.03
Kode ICF : b7100, s7302, d445, e115
Kondisi kesehatan
Pengertian
Trigger finger (stenosing tenosynovitis) adalah kondisi dimana terkuncinya sendi
jari pada saat digerakkan dari posisi fleksi ke posisi ekstensi. Hal ini dikarenakan
adanya inflamasi local atau adanya pembengkakan pada pembungkus tendon fleksor
yang mengakibatkan pembungkus tersebut tidak dapat meluncur terhadap
pembungkusnya dengan normal.
Trigger finger adalah suatu tipe dari stenotosing tenosynovitis yang mana sarung
pelindung disekitar tendon jari menjadi bengkak, atau benjolan (nodul) yang terbentuk
pada tendon, trigger finger pada umumnya terjadi pada wanita daripada pria dan
cenderung kebanyakan terjadi pada orang yang berusia antara 30 sampai 50 tahun
keatas.
Trigger finger menimbulkan gejala-gejala berupa nyeri, kaku (snapping) dan bunyi
klik. Sebab dari kondisi ini maka akan mengalami gangguan fungsional seperti
menggenggam, menulis,mengetik,menjahit yang berhubungan dengan kinerja tangan.
B. Insidensi dan Prevalensi
Prevalensi kejadian trigger finger lebih beresiko dan sering terkena pada wanita
daripada pria. Hal ini disebabkan karena mengalami menopause.
C. Patologi dan Patologi fungsional
Patofisiologi pada trigger finger, peradangan selubung retinaculum dan hipertrofi
membatasi gerakan progresif fleksi ekstensi akibat hambatan gerak dari tendon.
Selubung biasanya membentuk sebuah system katrol yang terdiri dari serangkaian
sistem di setiap jari yang berfungsi untuk memaksimalkan kekuatan tendon dan
efisiensi gerakan. Sejauh ini pada katrol annular yang pertama atau A1 terdapat pada
130
metacarpal paling sering terjadi masalah trigger finger. Trigger finger dapat juga
terjadi pada annular kedua dan ketiga (Makkouk dkk., 2008).
Pemeriksaan
Anamnesis
Pembuktian Hipotesa Patologi dan Patologi Fungsional
Pembuktian bahwa jari mengunci ketika diluruskan dari posisi fleksi penuh dan
ketika bunyi klik melalui nyeri tetapi kemudian bias lurus. Nyeri pada basis
metacarpal jari ke-3 dan ke-4 kadang jari ke-1
Pemeriksaan klinis;
Data yang diperoleh dari pemeriksaan medik.
Pemeriksaan fisik;
Inspeksi
Posisi jari tangan lurus atau semi fleksi.
Pemeriksaan fisik berdasar bukti
a. Tes Regional: Tes fleksi jari2 dan ekstensikan (jari ketinggalan)
b. Tes aktif :
Pada gerak fleksi jari III/IV nyeri pada akhir ROM dan bila di
ekstensikan bunyi klik dan nyeri
Gerak sendi lain normal
c. Tes pasif : - Saat ekstensi jari bunyi klik dan nyeri
Terdapat nyeri saat fleksi jari yang bersangkutan penuh
d. Tes Khusus :
Palpasi pada caput metacarpal III atau IV teraba benjolan nyeri.
Bila dalam palpasi bersamaan digerakkan fleksi penuh dan ekstensi teraba
benjolan yang bergerak.
Evaluasi;
Pengukuran Objektif
Pain, strength
Outcome Measure
Amsterdam wrist and hand measurement
131
Diagnosa Fisioterapi
Berdasarkan ICF komplemen terhadap ICD
Pain and entrapment dari tendon fleksor digitorum setinggi caput
metacarpal akibat tendon synovitis stenosant
Problema aktual dan potensial yang dijumpai
Inflamasi dan nodulus pada tendon fleksor synovial
finger mobility deficit, hand dexterity deficit
hambatan bekerja dengan jari tangan, mengemudi, olahraga
dengan keterampilan tangan seperti menembak
Prognosis Fungsional
Normal sembuh dalam 6 – 12 minggu.
Intervensi
ICF target (Body Function and Body Structure Impairment
target Disability target, dan Environment Target)
Mobilisasi synovial membrane terhadap tendon
Stretching tendon fleksor
Modalitas yang direkomendasikan
Ultrasound
Parafin bath/ warm bath
Referensi
Makkouk, Al Hasan et al. 2008. Trigger finger: etiology, evaluation, and treatment.
USA: Yale University School of Medicine.
132
FISIOTERAPI PADA CARPAL TUNNEL SYNDROME
133
Pemeriksaan klinis;
Data yang diperoleh dari pemeriksaan medik.
Pemeriksaan fisik;
Inspeksi
Tangan tampak sedikit cekung
Kadang tampak oedeme pungung tangan
Pemeriksaan fisik berdasar bukti
a. Tes Regional:
Nyeri dan parastesia pada gerak palmar fleksi pergelangan tangan
b. Tes gerak aktif :
Nyeri dan terbatas pada gerak palmar flexion pergelangan tangan
Gerak palmar fleksi penuh dan ditahan timbul paraesthesia jari 1-2-3
Tes gerak pasif
Nyeri dan terbatas dengan hard end feel pada gerak palmar flexion
pergelangan tangan
Gerak dorsal fleksi disertai ekstensi jari tangan terbatas dengan springy
end feel
Tes khusus:
Phalen‘s test positif dengan paresthesia jari 1-2-3 palmar.
Stretched test lig. Carpi transversum terbatas dengan firm end feel
Stretched test flexor digitorum communis dan n.medianus nyeri dan
timbul paresthesia
JPM test intercarpal joint nyeri, terbatas dengan firm end feel
Tes mobilisasi tulang lunatum kadang ada subluxatio
D. Evaluasi;
Pengukuran Objektif
Sensory test pada area nervinal n. medianus
Pinch grip test
Outcome Measure
Boston carpal tunnel questionere
Michigan hand outcome questionare (MHOQ)
134
Patient evaluation measure (PEM)
Upper extremity functional scale (UEFS)
Diagnosa Fisioterapi
Berdasarkan ICF komplemen terhadap ICD
Pain – parastesias of lateral palmar hand sec. entrapment of median nerve and
carpal tunnel.
Problema aktual dan potensial yang dijumpai
Pain
Finger sensation
Hand dexterity deficit, pinch grip deficit
Hambatan bekerja dengan jari tangan, mengemudi, olahraga dengan
keterampilan tangan seperti menembak
Prognosis Fungsional
Dapat kembali normal kecuali pada kasus dengan degenerasi neural dengan
kormobiditas DM dapat dijumpai gejala sisa parastesia ataupun kelemahan otot tenar.
Intervensi
ICF target (Body Function and Body Structure Impairment
target Disability target, dan Environment Target)
Menghilangkan penyebab entrapment seperti subluksasi lunatum,
hypomobility carpal
Tendon gliding technique
Nerve gliding technique
Modalitas yang direkomendasikan
Referensi
- Suhelda sansan, ―Carpal Tunnel Syndrome‖ Jurnal kedokteran indonesia no7 tahun
ke XXXIV juli 2003.
- Faton Morina, Cen Bytyqi1, Aziz Mustafa, Gentian Morina. Carpal tunnel
syndrome: Diagnosis and surgical treatment. Clinic of Orthopedics,University
Clinical Center of Kosova, Prishtina, Kosova. accepted 13 Septyember 2016.
135
136
FISIOTERAPI PADA OSTEOARTHROSIS HIP JOINT
137
Inspeksi
antalgic position saat berdiri dan Duchene gait saat berjalan.
Gerak internal rotasi sangat terbatas
Pemeriksaan fisik berdasar bukti
a. Tes Regional :
- Duchene gait
- Nyeri dan terbatas gerak rotasi internal hip joint
b. Tes gerak aktif : Nyeri dan terbatas dengan crepitasi pada gerak hip joint
c. Tes gerak pasif :
Nyeri dan terbatas dengan crepitasi pada gerak hip joint internal rotasi,
adduksi, fleksi hip joint, firm end feel.
d. Tes khusus :
JPM test internal rotasi, adduksi, fleksi hip joint, firm end feel.
Cranial compression of the hip joint,
Tes corpus libera
e. Pemeriksaan penunjang : X-ray dijumpai celah sendi yang menyempt dan
terdapat osteofit pada tepi tulang pembentuk sendi.
Evaluasi;
Pengukuran Objektif
Gait analyze
Pain
ROM dan end feel
Muscle strength dan stability
Outcome Measure
Hip disability and osteoarthritis outcome score (HOOS)
Oxford hip score
Harris hip score
Lequesneh index of severity for ostheoarthritis of the hip (LISOH)
American academy of orthopedic surgeon measure (AAOS) hip and
knee questionnaire
Diagnosa Fisioterapi
138
Berdasarkan ICF komplemen terhadap ICD
Pain and capsular pattern hypomobility of the hip sec. osteo
Problema aktual dan potensial yang dijumpai
Kekakuan sendi akibat kontraktur capsuler
Nyeri berjalan akibat inflamasi tulang subcondral
Gangguan berjalan, jongkok, lari, loncat, naik tangga.
Gangguan bekerja dengan menggunakan ekstremitas bawah.
Gangguan olahraga yang melibatkan fungsi lari, berjalan, loncat, menendang
Hambatan melakukan rekreasi akibat keterbatasan gerak dan nyeri panggul
Prognosis Fungsional
Keluhan hilang timbul tapi mobilitas sendi akan baik, terkadang diperlukan
penyangga untuk beraktivitas.
Intervensi
ICF target (Body Function and Body Structure Impairment target
139
FISIOTERAPI PADA PIRIFORMIS SYNDROME
Piriformis Syndrome
Kode ICD : 355.0
Kode ICF : b780, s7402, d450, e140
Kondisi kesehatan
Pengertian
Sindrom piriformis adalah gangguan neuromuskular yang terjadi ketika N.
ischiadicus terkompresi atau teriritasi oleh M. piriformis. Secara khas, sindrom
piriformis meningkat dengan adanya kontraksi pada otot piriformis, duduk yang lama,
atau tekanan langsung pada otot. Nyeri pada pantat adalah gejala utamanya. Sindrom
piriformis dapat menyebabkan kesulitan berjalan, karena adanya nyeri pada pantat atau
ekstremitas bawah. Sindrom piriformis adalah salah satu yang menyebabkan kondisi
siatika.
B. Insidensi dan Prevalensi
Populasi nyeri primer piriformis syndrome mencapai 12 % dan pada nyeri
sekundernya 88 %. Nyeri piriformis syndrome primer merupakan nyeri yang mutlak
dikarenakan oleh otot piriformis itu sendiri. Faktor primer ini sering dikarenakan dari
faktor bawaan atau juga faktor genetik yang menyebabkan struktural dari otot
piriformis yang beda dari normalnya yang dimana nervus ischiadicus akan menembus
otot piriformis syndrome sehingga akan menimbulkan nyeri, sedangkan pada
piriformis sekunder disebabkan faktor-faktor patologi vertebra yang meliputi LBP,
HNP, ischialgia dan lainnya yang dapat menimbulkan nyeri.
C. Patologi dan Patologi fungsional
Nyeri gluteal akibat pemendekan dan entrapment n. ischiadicus akibat pemendekan
m. piriformis. Sering disebabkan oleh instabilitas sacroiliac joint atau patologi lain pada
hip yang menyebabkan ketegangan m. piriformis. Pada tahap lanjut dijumpai
myofascial trigger point syndrome. Kompresi piriformis pada kasus lanjut
menimbulkan gejala ischialgia palsu.
Pemeriksaan A.
Anamnesis
140
Pembuktian Hipotesa Patologi dan Patologi Fungsional
Nyeri pada regio gluteal yang terprovokasi oleh aktivitas duduk terutama pada
tekanan dompet di saku.
Nyeri meningkat apabila jongkok, terkadang nyeri menyebar sampai
gastrocnemius caput medial maupun lateral.
Pemeriksaan klinis;
Data yang diperoleh dari pemeriksaan medik.
Pemeriksaan fisik;
Inspeksi
Posisi duduk pasien sedikit miring
Pemeriksaan fisik berdasar bukti
a. Tes regional : fleksi- ekstensi lumbal secara aktif nyeri
b. Tes gerak pasif : fleksi penuh sendi panggul nyeri gluteal, fleksi penuh dan
adduksi penuh sering nyeri
c. Tes isometric : terasa nyeri pada gerak isometric abduksi, ekstensi dan
rotasi eksternal hip joint
d. Test Khusus :
Palpasi : tenderness pada m. piriformis
Stretch tes dengan hip fleksi, adduksi dan rotasi internal
Slump test (piriformis) proximal isciadic nerve
Evaluasi;
Pengukuran Objektif
Pain, muscle length test
Outcome Measure
Nyeri pada m. piriformis
Parastesia gluteal menjalar sampai caput medial atau lateral gastrocnemius.
Harris hip score
American academy of orthopedic surgeon measure (AAOS) hip and knee
questionnaire
Diagnosa Fisioterapi
Berdasarkan ICF komplemen terhadap ICD
141
Gluteal pain with hamstring parastesia sec. piriformis syndrome
Problema aktual dan potensial yang dijumpai
Nyeri berjalan akibat inflamasi dan hipertonus m. piriformis
Gangguan berjalan, jongkok, lari, loncat, naik tangga.
Gangguan bekerja dengan duduk di alas yang keras.
Gangguan olahraga yang melibatkan fungsi duduk
Hambatan melakukan rekreasi akibat keterbatasan gerak dan nyeri panggul
Prognosis Fungsional
Umumnya fungsional kembali normal
Intervensi
ICF target (Body Function and Body Structure Impairment target, Disability
target, dan Environment Target)
Muscle myofascial release
Muscle stretching
Nerve gliding technique
Modalitas yang direkomendasikan
MWD
Referensi
Milton J. Klei. Diagnosis and treatment of piriformis syndrome. Piriformis syndrome
is … of what follows. Physical therapy for piriformis syndrome….WWW
sciatica.org/piriformis.html
142
FISIOTERAPI PADA OSTEOARTHRISIS TIBIOFEMORAL JOINT
143
knock knee gait pada kasus genu valgus atau bow leg gait pada kasus genu varus. Pada
kasus lebih lanjut juga diikuti muscle imbalance dan deformity varus/valgus. Pada
kasus genu valgus sering dijumpai penguncian pada lateral glides dan pada genu varus
sering disertai dengan medial glides position.
Pemeriksaan
Anamnesis
Pembuktian Hipotesa Patologi dan Patologi Fungsional
Nyeri dan kaku lutut saat bangun tidur atau setelah duduk lama, terdengar bunyi
krepitasi pada lutut, keterbatasan gerak fleksi lutut penuh.
Pemeriksaan klinis;
Data yang diperoleh dari pemeriksaan medik.
Pemeriksaan fisik;
Inspeksi
Pembengkakan pada lutut, dan terlihat antalgic gait, sering dijumpai deformitas
genu valgus atau genu varus atau bahkan lutut semi fleksi.
Pemeriksaan fisik berdasar bukti
a. Tes regional
- Gerak aktif fleksi ekstensi lutut : nyeri dan terbatas ada krepitasi
a. Pemeriksaan gerak pasif : Ada keterbatasan LGS, elastic-firm end
feel, fleksi < ekstensi, capsular pattern
b. Tes Khusus :
Ballottement test : hydrops
Joint play movement : dijumpai hambatan gerak fleksi dengan end feel
elastic hingga firm.
Patello femoral test
Valgus test atau varus test
a. Pemeriksaan penunjang : X-ray dijumpai celah sendi yang menyempt dan
terdapat osteofit pada tepi tulang pembentuk sendi.
Evaluasi;
1. Pengukuran Objektif
- ROM dan end feel
144
Knee stability
Pain
Gait analyze
Outcome Measure
Knee Injury and Osteoarthritis Outcome Score (KOOS)
Knee Injury and Osteoarthritis Outcome Scorephysical Function Short
Form (KOOS-PS)
Western Ontario and McMaster University Osteoarthritis Index (WOMAC)
International Knee Documentation Comitee (IKDC)
Knee Outcome Survey Activities Of Daily Living Scale (KOS-ADL)
Diagnosa Fisioterapi
Berdasarkan ICF komplemen terhadap ICD
Capsular pattern hypomobility sec. knee arthritis
Problema aktual dan potensial yang dijumpai
Hypomobility knee
Instability knee
Muscle imbalance
Gait, run, stair climbing deficit
Keterbatasan bekerja dengan ekstremitas bawah
Gangguan olahraga yang menggunakan tungkai
Rekreasi yang memerlukan aktivitas dengan tungkai
Prognosis Fungsional
Pada kasus lanjut diperlukan alat bantu atau penyangga.
Intervensi
ICF target (Body Function and Body Structure Impairment target, Disability
target, dan Environment Target)
Joint mobility
Joint stability
MWM
Mobility or stability Exercise
Functional training
145
Modalitas yang direkomendasikan
SWD
Ultrasound
Referensi
Bethesda, 2013, Handout on Health; Osteoarthritis, http://www.niams.nih.gov/
McKeag, D. B., 2010, The Relationship of Osteoarthritis and Exercise, dalam
Puffer J C, Clinics in Sport Medicine, Guest Editor, W B Saunders Company,
Philadelphia, hal. 471-485.
146
FISIOTERAPI PADA CHONDROMALACIA PATELLA
Condromalacia Patella
Kode ICD : 717.7
Kode ICF: b7100, b7150, b749, b770, s75011, s7703, d450, d4552, e1151
Kondisi kesehatan
Pengertian
Chondromalacia patella atau patellofemoral syndrome adalah suatu patologi
adanya kerusakan pada kartilago patella, dimana terdapat pelunakan atau pengkikisan
dan kekerasan dari kartilago yang ditandai dengan adanya nyeri pada bagian depan dari
lutut terutama saat menekuk. Kerusakannya dapat berubah dari ringan menjadi berat.
Chondromalacia patella menggambarkan perubahan yang terjadi pada lapisan kartilago
pada ujung tulang dimana fungsinya menurun dan terjadi degenerasi. Chondromalacia
didapat dari cedera pada kartilago yang masih sehat atau respon terhadap pembebanan
yang berlebihan pada kartilago. Beberapa penyebab yang telah diketahui seperti injury
atau cidera pada lutut, terjadi karena adanya penggunaan atau pembebanan yang
berlebihan pada lutut, mal alignment pada lutut, gangguan mekanik (trauma langsung
atau tidak langsung) kecacatan genu valgus atau genu varus, umur, over weight, over
dan proses degenerasi.
B. Insidensi dan Prevalensi
Chondromalacia patella ditemukan bahwa tingkat prevelensi mencapai 36,2%,
penyakit ini juga dapat dilihat pada setiap usia. Lebih umum pada 15 -60 tahun, dan
kejadian sering ditemukan pada wanita dibandingkan pria.
C. Patologi dan Patologi fungsional
Terjadi lisis pada rawan sendi terutama pada bagian dorsal patella yang diperberat
oleh deformitas varus atau valgus yang menyebabkan penyimpangan kesesuaian
tarikan vastus medialis dan vastus lateralis. Dijumpai inflamasi pada tulang subcondyle
diikuti penebalan tulang dan terjadi pertumbuhan osteofit (compression spur) sehingga
terjadi krepitasi patella. Penyimpangan berjalan dijumpai terutama saat naik tangga.
Pada kasus lebih lanjut juga diikuti muscle imbalance dan deformity varus/valgus. Pada
kasus genu valgus sering dijumpai kerusakan permukaan sendi sisi
147
lateral sementara pada genu varus kerusakan sendi sisi medial. Faktor penyulit terutama
bila dijumpai juga kelemahan otot pes anserinus dan vastus medialis pada genu valgus
atau kelemahan iliotibial band vastus lateralis pada genu varus.
Pemeriksaan
Anamnesis
Pembuktian Hipotesa Patologi dan Patologi Fungsional
Nyeri pada depan lutut (os. patella) terutama posisi setengah jongkok, naik
tangga, dan dijumpai krepitasi patella ketika gerak fleksi dan ekstensi.
Pemeriksaan klinis;
Data yang diperoleh dari pemeriksaan medik.
Pemeriksaan fisik;
Inspeksi
Tidak tampak kelainan local. Perhatikan Q angle/genu valgus.
Pemeriksaan fisik berdasar bukti
a. Tes Regional : Gerakan flexi dan ekstensi terjadi painfull arc
b. Tes gerak aktif : Flexi dan ekstensi
c. Tes gerak isometric : Gerak isometric ekstensi lutut nyeri
Tes khusus
Palpasi : nyeri tekan pada condylus lateral dan medial
Joint play movement MLPP kompresi diatas patella posisi lutut ekstensi
dan semi fleksi.
Pengukuran Q angle dan genu valgus.
Tes kekuatan m. Vastus medialis
D. Evaluasi;
Pengukuran Objektif
Pain, muscle strength, dan active stability test, dan functional performance
Outcome Measure
- Knee Injury and Osteoarthritis Outcome Score (KOOS)
- Knee Injury and Osteoarthritis Outcome Scorephysical Function Short Form
(KOOS-PS)
- Western Ontario and McMaster University Osteoarthritis Index (WOMAC)
148
International Knee Documentation Comitee (IKDC)
Knee Outcome Survey Activities Of Daily Living Scale (KOS-ADL)
Diagnosa Fisioterapi
Berdasarkan ICF komplemen terhadap ICD
Pain and joint arithmic dari patella femoral sec. condromalacia patella.
Problema aktual dan potensial yang dijumpai
Instability knee
Muscle imbalance
Gait, run, stair climbing deficit
Keterbatasan bekerja dengan ekstremitas bawah
Gangguan olahraga yang menggunakan tungkai
Rekreasi yang memerlukan aktivitas dengan tungkai
Prognosis Fungsional
Functional good setelah terjadi muscle stability dan joint stability
Intervensi
ICF target (Body Function and Body Structure Impairment target, Disability
target, dan Environment Target)
Patella joint mobilization
Joint active dan/atau passive stability exercise.
Muscle strengthening pada medial vastus dan pes anserinus genu valgus dan
iliotibialis dan vastus lateralis untuk genu varus.
Modalitas yang direkomendasikan
- ultrasound
Referensi
H. Minoonejad, 1R. Rajabi, 2E.Ebrahimi-Takamjani, M.H. Alizadeh, 2A.A.
Jamshidi, 1A.Azhari and 1E.Fatehi. 2012. Combined Open and Closed Kinetic
Chain Exercises for Patellofemoral Pain Syndrome: A Randomized Controlled
Trial. Department of Physical Education and Sport Sciences, University of
Tehran, Tehran, Iran.
149
- Hafez.A.R, Zakaria.A, Brugadda. S. 2012. Eccentric versus
concentriccontraction of quadriceps muscle in treatment of
chondromalaciapatella. Riyadh. World journal of medical science 7 (3): 197-
203. Available at http://www.idosi.org/wjms/7(3)12/11.pdf. Heintjes, E,
Berger, M.Y. Bierma
Zeinstra, S.M. Bernsen, R.M. Verhaar, J.A, Koes, B.W. 2003. Exercise
therapy for patellofemoral pain syndrome. Netherlands. Cochrane Database
Syst Rev. (4):CD003472.Available at
http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/14583980.
150
FISIOTERAPI PADA PLANTAR FASCIITIS
Plantar Fascitis
Kode ICD: 728.71
Kode ICF: s75021, s75023, d450, d4552, d4553, e1401
Kondisi kesehatan
Pengertian
Plantar fasciitis merupakan nyeri pada bagian medial calcaneus yang ditandai dengan
inflamasi atau peradangan pada perlengketan apponeurosis plantaris bagian bawah dari
tuberositas calcaneus akibat penguluran yang berlebihan dan secara terus menerus,
penekanan saat kaki menyangga beban tubuh sehingga terjadi cidera berulang dan
menimbulkan kerobekan kecil pada fascia plantaris. (Roxas, 2005)
Insidensi dan Prevalensi
Penelitian yang dilakukan Defour, et al (2009) menyimpulkan bahwa 29% dari 1901
orang wanita di Framingham Foot Study mengalami nyeri pada tumit (Heel Pain) dan
nyeri pada permukaan bawah kaki (arch pain) dikarenakan oleh pemakaian sepatu
dengan hak tinggi (high heels) selama lebih dari 5 tahun. Pada pengguna high heels,
keluhan nyeri yang paling sering terjadi adalah nyeri dibagian bawah kaki atau plantar
fasciitis.
Patologi dan Patologi fungsional
Plantar fascitis berawal dari stress yang menyebabkan penguluran yang berlebihan dari
plantar fascianya. Faktor yang menyebabkannya yaitu kurangnya fleksibilitas dari
plantar fascia dan tightness otot-otot gastroc dan soleus. Lemahnya otot otot pada ankle
terutama m. tibialis posterior pada ankle, penambahan berat badan atau aktivitas yang
berat, kekurangan propriosepsi atau adanya deformitas dari struktur kaki, seperti pes
cavus dan flat foot. Hal tersebut akan mengakibatkan tarikan pada fascia, sehingga
terjadi kerobekan dan timbul iritasi pada fascia plantarisnya.
Pemeriksaan
Anamnesis
Pembuktian Hipotesa Patologi dan Patologi Fungsional Nyeri
pada telapak kaki belakang diatas tuberositas calcaneal
151
Nyeri jenis nyeri tajam pada telapak kaki posterior
Nyeri pada pagi hari dan meningkat pada saat berjalan
Pemeriksaan klinis;
Data dari pemeriksaan medik
Pemeriksaan fisik;
Inspeksi
Early footflat gait
Pemeriksaan fisik berdasar bukti
a. Tes regional :
Gerak dorsal fleksi posisi berdiri nyeri
Gait analisis: early foot flat atau berjalan dengan telapak kaki anterior
b. Tes gerak aktif dan gerak pasif :
Gerak dorsal fleksi pasif nyeri pada calcaneus, ROM terbatas dengan
springy end fell
c. Tes gerak isometric :
- Gerak plantar fleksi isometric nyeri
Tes khusus :
- Palpasi : palpasi pada apponeurosis plantaris dan tuberositas
calcanel nyeri tajam
e. Pemeriksaan Penunjang: X-ray tampak osteophite
Evaluasi;
Pengukuran Objektif
Pain, gait analysis
Outcome Measure
- Lower limb functional index
Diagnosa Fisioterapi
Berdasarkan ICF komplemen terhadap ICD
Problema aktual dan potensial yang dijumpai
Prognosis Fungsional
152
Prognosis akan baik jika dilakuakan penangana dengan cepat, penanganan
fisioterapi. Namun jika tidak dilakukan penanganan dengan cepat akan menjadi
kronik dan menganggu aktivitas
Intervensi
ICF target (Body Function and Body Structure Impairment
target Disability target, dan Environment Target)
Transverse friction, stretching, intrinsch muscle strengthening
Medial arch support and donnut pad
Modalitas yang direkomendasikan
Ultrasound dan ESWT,
Referensi
McPoil TG, Martin RL, Cornwall MW, Wukich DK, Irrgang JJ, Godges JJ.
Heel pain-plantar fasciitis: clinical practice guildelines linked to the
international classification of function, disability, and health from the
orthopaedic section of the American Physical Therapy Association. J Orthop
Sports Phys Ther. 2008;38:A1–18. [PubMed]
Fabrikant JM, Park TS. Plantar fasciitis (fasciosis) treatment outcome study:
Plantar fascia thickness measured by ultrasound and correlated with patient
self-reported improvement. Foot (Edinb) 2011;21:79–83. [PubMed]
153
FISIOTERAPI PADA FLAT FOOT
Flat Foot
Kode ICD: 754.61
Kode ICF: b7100, b7150, b7308, b770, s75028, d450, d4552, e1401
Kondisi kesehatan
Pengertian
Congenital flat foot adalah tidak adanya lengkungan pada kaki. Abnormalitas anatomi
pada kaki seperti ini dapat menimbulkan masalah-masalah jika tidak ditangani secara
baik. Masalah yang mungkin akan dirasakan seperti nyeri, cepat merasa lelah, pegal
pada otot, gangguan pola jalan, deformitas dan gangguan keseimbangan tubuh dapat
terjadi. Hal tersebut karena perubahan biomekanik pada kaki yang datar, salah satunya
ialah terjadi kelemahan pada otot fleksor jari kaki
Insidensi dan Prevalensi
Menurut Benedetti et.al (2011) sebanyak 75,3% anak dengan flat foot tidak mampu
untuk berdiri satu kaki dengan waktu yang lama karena ketidakstabilan sendi subtalar
dan adanya posisi eversi dari sendi subtalar yang menghambat keseimbangan selama
berdiri satu kaki
Patologi dan Patologi fungsional
Flatfoot pada anak terjadi akibat ketidakstabilan atau posisi eversi dari sendi subtalar
sehingga arkus longitudinal berkurang.
Pemeriksaan
Anamnesis
Pembuktian Hipotesa Patologi dan Patologi Fungsional
Telapak kaki datar, sol sepatu sisi dalam habis.
Pemeriksaan klinis;
Data diambil dari pemeriksaan medik
Pemeriksaan fisik;
Inspeksi
Telapak kaki datar, tulang navicularis menonjol ke medial
154
Pemeriksaan fisik berdasar bukti
Tes regional
Gait analysis tampak kaki menyudut ke lateral
Plantar fleksi lebih lemah
Tes gerak aktif dan gerak pasif :
Gerak pronasi kaki ROM lebih besar dari normal, gerak pronasi terbatas
elastic end feel
Tes gerak isometric
Fleksi jari-jari kaki kekuatan kurang dibanding dengan otot lain.
Tes khusus
Palpasi: arcus longitudinal plantaris rata
Pengukuran adakah genu valgus
Pemeriksaan Penunjang
Podografi: dijumpai flat foot.
Evaluasi;
Pengukuran Objektif
Gait analysis, Pengukuran podograph, Pengukuran posisi calcaneal valgus
Outcome Measure
Lower limb functional index
Diagnosa Fisioterapi
Berdasarkan ICF komplemen terhadap ICD
Medial foot pain and power deficit sec flat foot
Problema aktual dan potensial yang dijumpai
Nyeri dan ketidakmampuan berjalan jauh
Prognosis Fungsional
Intervensi
ICF target (Body function and body structure impairment target, disability target,
dan environment target)
Intrinsic muscle strengthening exercise
Foot gait correction
155
Taping, insole medial arch support
Modalitas yang direkomendasikan
NMES
Referensi
- Dabholkar A, Ankita Shah , SujataYardi. 2012. Comparison of DynamicBalance
Between Flat Feet and Normal Individuals Using Star Excursion BalanceTest.
Indian Journal Of Physiotherapy & Occupational Therapy of International
Journal. Volume 6. Nomor 3. 27-31
156
FIRIOTERAPI PADA SPONDYLOARTHROSIS CERVICALIS
Spondyloarthrosis Cervicalis
Kode ICD: 721.0
Kode ICF: b7101, b7151, s7103, d498, e140
Kondisi kesehatan
Pengertian
Spondyloarthrosis cervical merupakan suatu kondisi proses degenerasi pada discus
intervertebralis dan jaringan pengikat persendian antara ruas-ruas tulang belakang.
Spondyloarhtrosis cervical merupakan penyakit yang diawali terjadinya degenerasi
pada discus vertebralis cervical serta diikuti pada daerah-daerah lain, seperti facets
joint dan foramen intervertebralis. Segmen yang sering terkena biasanya pada
segmen C5-C6, C6-C7 karena beban yang paling berat pada cervical bawah, terutama
pada posisi leher forward head position.
157
regangan yang diterima menurun sehingga tekanan selanjutnya akan diterima oleh facet
joint. Degenerasi pada facet joint akan diikuti oleh timbulnya penebalan subchondral
yang kemudian terjadi osteofit yang dapat mengakibatkan terjadinya penyempitan pada
foramen intervertebralis. Hal ini akan akan menyebabkan terjadinya
kompresi/penekanan pada isi foramen intervertebral ketika gerakan ekstensi, sehingga
timbul nyeri yang pada akhirnya akan menyebabkan penurunan mobilitas/toleransi
jaringan terhadap suatu regangan yang diterima menurun.
Pemeriksaan
Anamnesis
Pembuktian Hipotesa Patologi dan Patologi Fungsional
Morning sickness dan start pain
Nyeri jenis ngilu/pegal pada cervical hingga interscapulae dan/atau
lengan Nyeri leher disertai kaku leher
Nyeri/paresthesia meningkat pada gerak cervical ekstensi
Pemeriksaan klinis;
Data diambil dari pemeriksaan medik
Pemeriksaan fisik;
Inspeksi
Flat neck, lordosis atau deviasi
Pemeriksaan fisik berdasar bukti
Tes regional
Gerak fleksi terasa tegang tetapi nyeri berkurang, gerak ekstensi nyeri
cervical menyebar hingga intersccapular atau lengan
Gerak ekstensi 3 dimensi cervical nyeri dan paresthesia pada leher
hingga interscapular atau lengan
Tes gerak aktif dan gerak pasif :
Nyeri dan kaku pada gerak aktif cervical terutama ekstensi nyeri dan
ROM terbatas dengan firm end feel, sering terasa crepitasi
Keterbatasan gerak dalam capsular pattern.
Tes khusus :
Spurling test 2 (compression posisi ekstensi) nyeri menyebar
158
Joint play movement lateral gapping test atau 3 dimentional flexion
terbatas firm end feel.
Tes NAGs (natural apophyseal glides) nyeri segmental.
Contract relax sretch test
Pemeriksaan Penunjang
X‘ ray dijumpai osteofit tepi corpus dan/atau facets
Evaluasi;
Pengukuran Objektif
Pain, ROM, muscle performance,
Outcome Measure
Neck Disability Index
Diagnosa Fisioterapi
Berdasarkan ICF komplemen terhadap ICD
Intervensi
ICF target (body function and body structure impairment target, disability target,
dan environment target)
Cervical traction posisi fleksi
NAGs dan SNAGs
Cervical collar soft atau semi rigid untuk aktualitas tinggi
Postural correction
Latihan stabilisasi aktif diberikan pada posisi cervical tegak
Proper neck mechanic pada posisi cervical tegak
Modalitas yang direkomendasikan
US atau SWD atau MWD
159
H. Referensi
Binder, Allan i. 2007. Cervical spondylosis and neck pain. NCBI journal (BMJ 10 March 2007
| Volume 334 )
160
PANDUAN PRAKTEK KLINIS
FISIOTERAPI
OLAHRAGA
161
Cedera Ligamen Pergelangan Kaki (Sprain Ankle)
Judul : Cedera Ligamen Pergelangan Kaki (Sprain Ankle)
Kode ICD
845.0
Kode ICF
s7502, b710, b715, b730, b770, b7602, d9201
Kondisi Kesehatan
Pengertian
Cedera ligamen pergelangan kaki merupakan cedera paling sering terjadi dengan
mekanisme posisi sendi inversi dan lantar fleksi. Mekanisme cedera ini akan merobek
ligamen lateral pergelangan kaki. Robek ligamen talofibular anterior yang melekat dengan
ligamen sisi medial akan menyebabkan sendi mengalami kekenduran (instabilitas) ke arah
rotasi anterolateral (Petersen et al., 2013).
Insidensi Dan Prevalensi
Berdasarkan jenis kelamin 13,6 % pada wanita sedangkan pria 6,94% per 1000 jam
olahraga. Melihat dari usia, usia < 12 tahun 2,85%, 12-18 tahun 1,94 %, dan > 18 tahun
0,72% dari 1000 jam olahraga (gribble et al, 2016). Area cedera yang pada pergelangan
kaki sisi lateral 93%, medial 6%, dan sindesmosis 38% (Walden et al., 2013, Doherty et
al., 2014).
Patologi Dan Patologi Fungsional
Ligamen talofibular anterior adalah ligamen terlemah, jika mengalami kerobekan maka
beresiko terjadi kerobekan pula pada ligamen calcaneofibular dan talofibular posterior.
Kerusakan ligamen lateral sebagai stabilisator mekanik sendi pergelangan kaki akan
menyebabkan sendi menjadi hipermobilitas yang berdampak pada penurunan stabilitas
sendi pergelangan kaki dan keseluruhan kaki pada sisi cedera (Hubbard and Wikstrom,
2010, Wu et al., 2015, Bonnel et al., 2010).
Pemeriksaan
A.Anamnesis
Pembuktian Hipotesa Patologi Dan Patologi Fungsional
Atlet mengalami cedera pada sendi pergelangan kaki dengan posisi kaki tertekuk
ke dalam.
162
Pemeriksaan klinis
Evidence Base Clinical Practise
Pemeriksaan fisik
Inspeksi
Posisi kaki lebih cenderung inversi suspek. Ligamen lateral injury
Posisi kaki lebih cenderung eversi dan dorsal fleksi susp. Sindesmosis
Oedema pada pergelangan kaki
Pemeriksaan Fisik Berdasarkan Bukti
Antropometrik figure 8
Lingkup gerak sendi
163
Keseimbangan
Manual Muscle Test (MMT)
D.Evaluasi
Pengukuran Objektif
FASE 1 FASE 2 FASE 3
a. VAS/NRS a. Lingkup gerak sendi a. Star Excursion Balance
b. Antropometrik figur b. Stork test(Melam et Test (SEBT)(Plisky et al.,
8 al., 2016) 2006, Gribble et al.,
c. Lingkup gerak sendi c. Kekuatan otot plantar 2012)
d. MMT fleksor, dorsal fleksor, b. HOP TEST(Myers et al.,
e. Functional Ankle evertor, dan invertor 2014, Hegedus et al.,
Ability Measurement dengan dinamometer 2015)
(FAAM), (Matheny et al., 2015) c. T-TEST DRILL (Jeffriess
Cumberland Ankle et al., 2015, Nimphius et
Instability Tool al., 2017)
(CAIT)(Melam et al., d. HEXAGONAL TEST
2016, Doherty et al., DRILL(Jeffriess et al.,
2015, Doherty et al., 2015, Nimphius et al.,
2016) 2017, Melam et al.,
2016)
164
Diagnosa Fisioterapi
Berdasarkan ICF komplemen terhadap ICD
Adanya gangguan gerak dan fungsi pada pergelangan kaki dengan penurunan
mobilitas sendi, stabilitas sendi, fungsi otot, pola gerak jalan dan lari, dan koordinasi
pada aktivitas olahraga.
Problema aktual dan potensial yang dijumpai
Bengkak
Rasa nyeri
Penurunan fungsi gerak fungsional olahraga
Prognosis fungsional
Ringan Sekali 0-3 hari
Derajat Ringan 4-7 hari
Derajat sedang 8-28 hari
Derajat berat > 28 hari
Intervensi
ICF target (Body Functional and Body Structure impairment target,
disability target, dan enviromental target)
Fase 1: Fase 2
Terapi Terapi
Kompres es/cryotherapy (van den Bekerom et Kompres es/cryotherapy (van den Bekerom et
al., 2012) al., 2012)
Elektroterapi (TENS) (Yu et al., 2016, Elektroterapi (TENS) (Yu et al., 2016, Gorgey
Gorgey and Khalil, 2015) and Khalil, 2015)
Mobilisasi sendi Grade I (Weerasekara et al., Mobilisasi sendi Grade III (Weerasekara et al.,
2017) 2017, Cleland et al., 2013)
Imobilisasi dengan Tapping/Brace (van den Calf & soleus stretch (Terada et al., 2013,
Bekerom et al., 2013, Petersen et al., 2013, Wikstrom and McKeon, 2017)
Kemler et al., 2015) Ankle isometric & eksentrik (Pearce et al.,
2016, Hanci et al., 2016)
Bilateral calf & soles raise eksentrik (Woitzik
et al., 2015)
Latihan Keseimbangan satu kaki di permukaan
datar, lembut, dan tidak stabil (Nam and Choi,
2017)
Latihan Propioseptif (Sharma and Jagad,
2017)
Imobilisasi dengan Tapping/Brace (van den
Bekerom et al., 2013, Petersen et al., 2013,
Kemler et al., 2015)
165
Fase 3
Terapi
Calf & soleus stretch (Terada et al., 2013,
Wikstrom and McKeon, 2017)
Ankle isometric & eksentrik (Pearce et al.,
2016, Hanci et al., 2016)
Bilateral calf & soles raise eksentrik (Woitzik et
al., 2015)
Latihan Keseimbangan dengan Wobble
board/bosu (Schiftan et al., 2015, Linens
et al., 2016, Borreani et al., 2014)
Latihan Gerak Fungsional Dasar Olahraga
(Hale et al., 2014, Feger et al., 2014, Hall et
al., 2015)
Latihan Plyometric dan kelincahan (Keles et al.,
2014, Winter et al., 2015, Vriend et al.,
2016)
Referensi
Bonnel, F., Toullec, E., Mabit, C. & Tourné, Y. 2010. Chronic Ankle Instability: Biomechanics And
Pathomechanics Of Ligaments Injury And Associated Lesions. Orthopaedics & Traumatology:
Surgery & Research, 96, 424-432.
Borreani, S., Calatayud, J., Martin, J., Colado, J. C., Tella, V. & Behm, D. 2014. Exercise Intensity
Progression For Exercises Performed On Unstable And Stable Platforms Based On Ankle Muscle
Activation. Gait & Posture, 39, 404-409.
Cleland, J. A., Mintken, P., Mcdevitt, A., Bieniek, M., Carpenter, K., Kulp, K. & Whitman, J. M. 2013.
Manual Physical Therapy And Exercise Versus Supervised Home Exercise In The Management Of
Patients With Inversion Ankle Sprain: A Multicenter Randomized Clinical Trial. Journal Of
Orthopaedic & Sports Physical Therapy, 43, 443-455.
Doherty, C., Bleakley, C., Hertel, J., Caulfield, B., Ryan, J. & Delahunt, E. 2015. Dynamic Balance Deficits
6 Months Following First-Time Acute Lateral Ankle Sprain: A Laboratory Analysis. Journal Of
Orthopaedic & Sports Physical Therapy, 45, 626-633.
Doherty, C., Bleakley, C., Hertel, J., Caulfield, B., Ryan, J. & Delahunt, E. 2016. Dynamic Balance
Deficits In Individuals With Chronic Ankle Instability Compared To Ankle Sprain Copers 1 Year
After A First-Time Lateral Ankle Sprain Injury. Knee Surgery, Sports Traumatology,
Arthroscopy, 24, 1086-1095.
Doherty, C., Delahunt, E., Caulfield, B., Hertel, J., Ryan, J. & Bleakley, C. 2014. The Incidence And
Prevalence Of Ankle Sprain Injury: A Systematic Review And Meta-Analysis Of
Prospective Epidemiological Studies. Sports Medicine, 44, 123-140.
Feger, M. A., Donovan, L., Hart, J. M. & Hertel, J. 2014. Lower Extremity Muscle Activation During
Functional Exercises In Patients With And Without Chronic Ankle Instability. Pm&R, 6, 602-611.
166
Gorgey, A. S. & Khalil, R. E. 2015. Neuromuscular Electrical Stimulation Training Increases
Intermuscular Fascial Length But Not Tendon Cross-Sectional Area After Spinal Cord Injury.
Topics In Spinal Cord Injury Rehabilitation, 21, 87-92.
Gribble, P. A., Hertel, J. & Plisky, P. 2012. Using The Star Excursion Balance Test To Assess Dynamic
Postural-Control Deficits And Outcomes In Lower Extremity Injury: A Literature And Systematic
Review. Journal Of Athletic Training, 47, 339-357.
Hale, S. A., Fergus, A., Axmacher, R. & Kiser, K. 2014. Bilateral Improvements In Lower Extremity
Function After Unilateral Balance Training In Individuals With Chronic Ankle Instability. Journal
Of Athletic Training, 49, 181-191.
Hall, E. A., Docherty, C. L., Simon, J., Kingma, J. J. & Klossner, J. C. 2015. Strength-Training Protocols To
Improve Deficits In Participants With Chronic Ankle Instability: A Randomized Controlled Trial.
Journal Of Athletic Training, 50, 36-44.
Hanci, E., Sekir, U., Gur, H. & Akova, B. 2016. Eccentric Training Improves Ankle Evertor And Dorsiflexor
Strength And Proprioception In Functionally Unstable Ankles. American Journal Of Physical
Medicine & Rehabilitation, 95, 448-458.
Hegedus, E. J., Mcdonough, S. M., Bleakley, C., Baxter, D. & Cook, C. E. 2015. Clinician-Friendly Lower
Extremity Physical Performance Tests In Athletes: A Systematic Review Of Measurement
Properties And Correlation With Injury. Part 2—The Tests For The Hip, Thigh, Foot And Ankle
Including The Star Excursion Balance Test. Br J Sports Med, 49, 649-656.
Hubbard, T. J. & Wikstrom, E. A. 2010. Ankle Sprain: Pathophysiology, Predisposing Factors, And
Management Strategies. Open Access Journal Of Sports Medicine, 1, 115-122.
Jeffriess, M. D., Schultz, A. B., Mcgann, T. S., Callaghan, S. J. & Lockie, R. G. 2015. Effects Of
Preventative Ankle Taping On Planned Change-Of-Direction And Reactive Agility Performance
And Ankle Muscle Activity In Basketballers. Journal Of Sports Science & Medicine, 14, 864.
Keles, S., Sekir, U., Gur, H. & Akova, B. 2014. Eccentric/Concentric Training Of Ankle Evertor And
Dorsiflexors In Recreational Athletes: Muscle Latency And Strength. Scandinavian Journal
Of Medicine & Science In Sports, 24.
Kemler, E., Van De Port, I., Schmikli, S., Huisstede, B., Hoes, A. & Backx, F. 2015. Effects Of Soft Bracing
Or Taping On A Lateral Ankle Sprain: A Non-Randomised Controlled Trial Evaluating Recurrence
Rates And Residual Symptoms At One Year. Journal Of Foot And Ankle Research, 8, 13.
Linens, S. W., Ross, S. E. & Arnold, B. L. 2016. Wobble Board Rehabilitation For Improving Balance In
Ankles With Chronic Instability. Clinical Journal Of Sport Medicine, 26, 76-82.
Matheny, S., Struminger, A. & Kaminski, T. 2015. 42 Eccentric Isokinetic Ankle Strength Assessment In
Those With Ankle Sprain Histories And Those With Ankle Instability. Bmj Publishing Group Ltd
And British Association Of Sport And Exercise Medicine.
Melam, G. R., Alhusaini, A. A., Perumal, V., Buragadda, S. & Kaur, K. 2016. Comparison Of Static And
Dynamic Balance Between Football And Basketball Players With Chronic Ankle Instability.
Saudi Journal Of Sports Medicine, 16, 199.
Myers, B. A., Jenkins, W. L., Killian, C. & Rundquist, P. 2014. Normative Data For Hop Tests In High
School And Collegiate Basketball And Soccer Players. International Journal Of Sports Physical
Therapy, 9, 596-603.
Nam, S.-B. & Choi, B.-R. 2017. Effect Of A 4-Week Balance Exercise With Medio-Lateral Unstable Sole On
Ankle Joint Functional Ability. Journal Of Physical Therapy Science, 29, 1134-1136.
Nimphius, S., Callaghan, S. J., Bezodis, N. E. & Lockie, R. G. 2017. Change Of Direction And Agility Tests:
Challenging Our Current Measures Of Performance. Strength & Conditioning Journal.
Pearce, C. J., Tourné, Y., Zellers, J., Terrier, R., Toschi, P. & Silbernagel, K. G. 2016. Rehabilitation
After Anatomical Ankle Ligament Repair Or Reconstruction. Knee Surgery, Sports
Traumatology, Arthroscopy, 24, 1130-1139.
167
Petersen, W., Rembitzki, I. V., Koppenburg, A. G., Ellermann, A., Liebau, C., Brüggemann, G. P. & Best,
R. 2013. Treatment Of Acute Ankle Ligament Injuries: A Systematic Review. Archives Of
Orthopaedic And Trauma Surgery, 133, 1129-1141.
Plisky, P. J., Rauh, M. J., Kaminski, T. W. & Underwood, F. B. 2006. Star Excursion Balance Test As A
Predictor Of Lower Extremity Injury In High School Basketball Players. Journal Of Orthopaedic &
Sports Physical Therapy, 36, 911-919.
Schiftan, G. S., Ross, L. A. & Hahne, A. J. 2015. The Effectiveness Of Proprioceptive Training In Preventing
Ankle Sprains In Sporting Populations: A Systematic Review And Meta-Analysis. Journal Of
Science And Medicine In Sport, 18, 238-244.
Sharma, H. & Jagad, B. 2017. Proprioceptive Exercises In Ankle Sprain In Sports Person-An
Evidence Based Seminar. Indian Journal Of Physical Therapy, 5, 28-31.
Terada, M., Pietrosimone, B. G. & Gribble, P. A. 2013. Therapeutic Interventions For Increasing Ankle
Dorsiflexion After Ankle Sprain: A Systematic Review. Journal Of Athletic Training, 48, 696-709.
Van Den Bekerom, M. P., Kerkhoffs, G. M., Mccollum, G. A., Calder, J. D. & Van Dijk, C. N. 2013.
Management Of Acute Lateral Ankle Ligament Injury In The Athlete. Knee Surgery,
Sports Traumatology, Arthroscopy, 21, 1390-1395.
Van Den Bekerom, M. P. J., Struijs, P. A. A., Blankevoort, L., Welling, L., Van Dijk, C. N. & Kerkhoffs, G.
M. M. J. 2012. What Is The Evidence For Rest, Ice, Compression, And Elevation Therapy In The
Treatment Of Ankle Sprains In Adults? Journal Of Athletic Training, 47, 435-443.
Vriend, I., Gouttebarge, V., Van Mechelen, W. & Verhagen, E. 2016. Neuromuscular Training Is Effective
To Prevent Ankle Sprains In A Sporting Population: A Meta-Analysis Translating Evidence Into
Optimal Prevention Strategies. Journal Of Isakos: Joint Disorders & Orthopaedic Sports
Medicine, 1, 202-213.
Walden, M., Hagglund, M. & Ekstrand, J. 2013. Time-Trends And Circumstances Surrounding Ankle
Injuries In Men's Professional Football: An 11-Year Follow-Up Of The Uefa Champions League
Injury Study. Br J Sports Med, 47, 748-53.
Weerasekara, I., Osmotherly, P., Snodgrass, S., Marquez, J., De Zoete, R. & Rivett, D. A. 2017. Clinical
Benefits Of Joint Mobilisation On Ankle Sprains: A Systematic Review And Meta-Analysis.
Archives Of Physical Medicine And Rehabilitation.
Wikstrom, E. A. & Mckeon, P. O. 2017. Predicting Manual Therapy Treatment Success In Patients With
Chronic Ankle Instability: Improving Self-Reported Function. Journal Of Athletic Training, 52,
325-331.
Winter, T., Beck, H., Walther, A., Zwipp, H. & Rein, S. 2015. Influence Of A Proprioceptive Training On
Functional Ankle Stability In Young Speed Skaters–A Prospective Randomised Study. Journal Of
Sports Sciences, 33, 831-840.
Woitzik, E., Jacobs, C., Wong, J. J., Côté, P., Shearer, H. M., Randhawa, K., Sutton, D., Southerst, D.,
Varatharajan, S. & Brison, R. J. 2015. The Effectiveness Of Exercise On Recovery And Clinical
Outcomes Of Soft Tissue Injuries Of The Leg, Ankle, And Foot: A Systematic Review By The
Ontario Protocol For Traffic Injury Management (Optima) Collaboration. Manual Therapy, 20,
633-645.
Wu, X., Song, W., Zheng, C., Zhou, S. & Bai, S. 2015. Morphological Study Of Mechanoreceptors In
Collateral Ligaments Of The Ankle Joint. Journal Of Orthopaedic Surgery And Research, 10, 92.
Yu, H., Randhawa, K., Côté, P. & Collaboration, O. 2016. The Effectiveness Of Physical Agents For Lower-
Limb Soft Tissue Injuries: A Systematic Review. Journal Of Orthopaedic & Sports Physical
Therapy, 46, 523-554.
168
Chondromalasia Patella
Judul : Chondromalasia Patella
Kode ICD-9
717.7
Kode ICF
S75011, b7101, b7151,b7300, B7350 b7401,b770,d9201
Kondisi Kesehatan
Pengertian
Kerusakan pada tulang rawan di bawah tempurung lutut yang disebabkan tidak
seimbangnya kelompok otot quadriceps dan jaringan lunak penopang patela (Salehi-
Abari et al., 2015).
Insidensi dan prevalensi
Menurut penelitian pada 1242 pengemudi taksi di Taipei tahun 2000, menemukan
prevelensi nyeri lutut sebesar 22% pada yang mengemudi dari 10 jam/hari. Pada tahun
yang sama, Anderson dan Raanas yang dikutip oleh Chen, melakukan survei keluhan nyeri
lutut yang berhungungan dengan kerja pada 703 pengemudi taksi profesional di Norwegia,
dengan menggunakan Nordic Musculoskeletal Questionnaire. Didapat prevelensi nyeri
lutut pada pengemudi taksi adalah 29%, dibandingkan pada masyarakat umum yang hanya
25%. Survei di Taiwan yang menggunakan modifikasi dari Nordic Musculoskeletal
Questionnair, menemukan bahwa para pengemudi profesional mengeluh nyeri lutut lebih
tinggi dibandingkan rata-rata prevelensi nasional 11% berbanding 8,6%. Sedangkan pada
tahun 2011 di RS Cipto Mangunkusumo kasus nyeri lutut mencapai 56,7% dari seluruh
pasien yang berobat kedevisi Reumatologi Depertemen Ilmu Penyakit Dalam, insidensi
pada usia kurang dari 20 tahun hanya sekitar 10% dan meningkat menjadi lebih dari 80%
pada usia diatas 55 tahun
Patologi dan patologi fungsional
Radang pada tulang rawan patela dan femur yang disebabkan oleh tidak
seimbangnya kerja kelompok otot quadricep terhadap tulang patella sehingga tonus tendon
meningkat dan menyebabkan menyempitnya jarak antar tulang patela dan femur. Selain
itu, juga struktur jaringan lunak pengikat patela sisi lateral mengalami
169
pemendekan yang menyebabkan posisi tulang patella menjadi miring dan mengkompresi
Tulang rawan sisi lateral femur (Salehi-Abari et al., 2015, Aksahin et al., 2016).
Pemeriksaan
A.Anamnesis
Pembuktian Hipotesa Patologi Dan Patologi Fungsional
Pasien datang dan mengeluhkan nyeri pada lutut sisi depan bagian bawah, nyeri
diam saat pasien dalam posisi berdiri, nyeri dirasakan sisi medial tempurung, dan terasa
saat gerak sendi aktif knee fleksi sehingga penurunan kemampuan aktivitas olahraga.
Pemeriksaan klinis
Evidence Base Clinical Practise (Bronstein and Schaffer, 2017)
Patella apprehesion test
Patella mobility test
Q-angle ≥20o
Pemeriksaan fisik
Inspeksi
Bengkak
Nyeri saat naik turun tangga dan lompat
Pemeriksaan Fisik Berdasarkan Bukti
Antropometrik lingkar sendi lutut dan quadricep
Stabilitas patela
Mobilitas patela
Lingkup gerak sendi
Keseimbangan
Kekuatan otot
Evaluasi
Pengukuran Objektif
Fase 1 Fase 2 Fase 3 Fase 4
f. VAS/NRS a. VAS/NRS a. Tes kekuatan 1 a. 1 leg Vertical
g. Antropometrik b. Antropometrik RM (McNair et Jump
h. Lingkup gerak c. Simetris Gerak al., 2011, b. HOP TEST(Myers
sendi Fungsional Lienhard et al., et al., 2014,
170
i. MMT (Cabral et al., 2013, Menzel et Hegedus et al.,
j. International 2016, al., 2013) 2015)
Knee Demirbüken et b. Star Excursion c. T-TEST DRILL
Documentation al., 2016) Balance Test (Jeffriess et al.,
Committeee d. Stork test(Melam (SEBT)(Plisky 2015, Nimphius et
(IKDC) 2000 et al., 2016) et al., 2006, al., 2017)
(Collins et al., Gribble et al., d. HEXAGONAL
2011, Hart et al., 2012) TEST
2017) c. 2 leg Vertical DRILL(Jeffriess et
jump test al., 2015,
(Menzel et al., Nimphius et al.,
2013, Paterno et 2017, Melam et
al., 2010) al., 2016)
Outcome measure
Tidak ada nyeri
Kekuatan otot minimum 95%
Hoptest minimum 95%
Keseimbangan dinamis (SEBT) 95%
Diagnosa Fisioterapi
Berdasarkan ICF komplemen terhadap ICD
Adanya gangguan gerak dan fungsi pada sendi lutut yang diakibatkan radang
tulang rawan patela dengan penurunan mobilitas sendi, stabilitas sendi, fungsi otot,
pola gerak jalan dan lari, dan koordinasi pada aktivitas olahraga.
Problema aktual dan potensial yang dijumpai
Bengkak
Rasa nyeri
Penurunan fungsi olahraga
171
Prognosis fungsional
Derajat 1: 1-2 minggu
Derajat 2: 2-6 minggu
Derajat 3: 6 minggu-3 bulan
Intervensi
ICF target (Body Functional and Body Structure impairment target,
disability target, dan enviromental target)
Fase 1: Fase 2:
Terapi : Terapi :
Taping (Wild et al., 2016, Campbell Neuromuscular control of quadriceps
and Valier, 2016) (Kooiker et al., 2014)
Mobilisasi patela (Crossley et al., 2016) Latihan Fleksibilitas Hamstring
Reactivation gluteus (Nadell, 2013, (Hrubes and Nicola, 2014)
Saggin and Dejour, 2015) Latihan Fleksibilitas IT- Band (Park et
Latihan otot sendi hip(Lack et al., 2015, al., 2016, Gomaa and Zaky, 2015)
Regelski et al., 2015) Latihan Kekuatan Sendi Ankle (Espí-
Latihan quadriceps (Kooiker et al., López et al., 2017)
2014) Cardiovascular training(Keogh and
Active ROM Winwood, 2017)
Fase 3 Fase 4
Terapi: Terapi :
Latihan Quadriceps progresiv Latihan Gerak Fungsional Dasar
Endurance training Olahraga (Hale et al., 2014, Feger et al.,
Flexibility exercise 2014, Hall et al., 2015)
Proprioceptive exercise(Araújo et al., Latihan Plyometric dan kelincahan
2016) (Keles et al., 2014, Winter et al., 2015,
Vriend et al., 2016)
172
B.Modalitas yang direkomendasikan
Elektroterapi (Faradic Underpreassure, NMES, Ultrasound, & Cryotherapy)
Terapi Latihan
Manual Terapi
Referensi
aksahin, E., Aktekin, C. N., Kocadal, O., Duran, S., Gunay, C., Kaya, D., Hapa, O. & Pepe, M.
2016. Sagittal Plane Tilting Deformity Of The Patellofemoral Joint: A New Concept In
Patients With Chondromalacia Patella. Knee Surgery, Sports Traumatology, Arthroscopy,
1-8.
Araújo, C. G. A., Shirabe, N., Shigaki, L., Macedo, C. S. G., Pereira, C. & Da Silva, R. A.
2016. Lower-Limb Muscle Activation During Five Sensory-Motor Exercises In Women
With Patellofemoral Pain Syndrome. Physical Therapy In Sport, 18, E4.
Bronstein, R. D. & Schaffer, J. C. 2017. Physical Examination Of The Knee: Meniscus,
Cartilage, And Patellofemoral Conditions. Journal Of The American Academy Of
Orthopaedic Surgeons, 25, 365-374.
Cabral, S., Resende, R. A., Clansey, A. C., Deluzio, K. J., Selbie, W. S. & Veloso, A. P. 2016.
A Global Gait Asymmetry Index. Journal Of Applied Biomechanics, 32, 171-177.
Campbell, S. A. & Valier, A. R. 2016. The Effect Of Kinesio Taping On Anterior Knee Pain
Consistent With Patellofemoral Pain Syndrome: A Critically Appraised Topic. Journal
Of Sport Rehabilitation, 25, 288-293.
Collins, N. J., Misra, D., Felson, D. T., Crossley, K. M. & Roos, E. M. 2011. Measures Of Knee
Function: International Knee Documentation Committee (Ikdc) Subjective Knee Evaluation
Form, Knee Injury And Osteoarthritis Outcome Score (Koos), Knee Injury And
Osteoarthritis Outcome Score Physical Function Short Form (Koos‐ Ps), Knee Outcome
Survey Activities Of Daily Living Scale (Kos‐ Adl), Lysholm Knee Scoring Scale, Oxford
Knee Score (Oks), Western Ontario And Mcmaster Universities Osteoarthritis Index
(Womac), Activity Rating Scale (Ars), And Tegner Activity Score (Tas). Arthritis Care &
Research, 63.
Crossley, K. M., Van Middelkoop, M., Callaghan, M. J., Collins, N. J., Rathleff, M. S. & Barton, C.
J. 2016. 2016 Patellofemoral Pain Consensus Statement From The 4th International
173
Patellofemoral Pain Research Retreat, Manchester. Part 2: Recommended Physical
Interventions (Exercise, Taping, Bracing, Foot Orthoses And Combined
Interventions). Br J Sports Med, 50, 844-852.
Demirbüken, İ., Özyürek, S. & Angın, S. 2016. The Immediate Effect Of Patellar Tendon Strap On
Weight-Bearing Asymmetry During Squatting In Patients With Unilateral Knee
Osteoarthritis: A Pilot Study. Prosthetics And Orthotics International, 40, 682-688.
Espí-López, G. V., Serra-Añó, P., Vicent-Ferrando, J., Sánchez-Moreno-Giner, M., Arias-Buría,
L., Cleland, J. & Fernández-De-Las-Peñas, C. 2017. Effectiveness Of Inclusion Of Dry
Needling Into A Multimodal Therapy Program For Patellofemoral Pain: A Randomized
Parallel-Group Trial. Journal Of Orthopaedic & Sports Physical Therapy, 1-43.
Feger, M. A., Donovan, L., Hart, J. M. & Hertel, J. 2014. Lower Extremity Muscle Activation
During Functional Exercises In Patients With And Without Chronic Ankle Instability.
Pm&R, 6, 602-611.
Gomaa, E. F. & Zaky, L. A. 2015. Effect Of Iliotibial Band Myofascial Release On Flexibility
And Patellar Alignment In Patients With Knee Osteoarthritis. J. Adv. Res., 3, 399-410.
Gribble, P. A., Hertel, J. & Plisky, P. 2012. Using The Star Excursion Balance Test To
Assess Dynamic Postural-Control Deficits And Outcomes In Lower Extremity Injury:
A Literature And Systematic Review. Journal Of Athletic Training, 47, 339-357.
Hale, S. A., Fergus, A., Axmacher, R. & Kiser, K. 2014. Bilateral Improvements In Lower
Extremity Function After Unilateral Balance Training In Individuals With Chronic Ankle
Instability. Journal Of Athletic Training, 49, 181-191.
Hall, E. A., Docherty, C. L., Simon, J., Kingma, J. J. & Klossner, J. C. 2015. Strength-Training
Protocols To Improve Deficits In Participants With Chronic Ankle Instability:
A Randomized Controlled Trial. Journal Of Athletic Training, 50, 36-44.
Hart, R., Safi, A., Jajtner, P., Puskeiler, M., Hartová, P. & Komzák, M. 2017. Tibiofemoral
Chondromalacia Treated With Platelet-Rich Plasma And Hyaluronic Acid. Current
Orthopaedic Practice, 28, 58-65.
Hegedus, E. J., Mcdonough, S. M., Bleakley, C., Baxter, D. & Cook, C. E. 2015. Clinician-
Friendly Lower Extremity Physical Performance Tests In Athletes: A Systematic Review
Of Measurement Properties And Correlation With Injury. Part 2—The Tests For The Hip,
174
Thigh, Foot And Ankle Including The Star Excursion Balance Test. Br J Sports Med, 49,
649-656.
Hrubes, M. & Nicola, T. L. 2014. Rehabilitation Of The Patellofemoral Joint. Clin Sports
Med, 33, 553-566.
Jeffriess, M. D., Schultz, A. B., Mcgann, T. S., Callaghan, S. J. & Lockie, R. G. 2015. Effects
Of Preventative Ankle Taping On Planned Change-Of-Direction And Reactive Agility
Performance And Ankle Muscle Activity In Basketballers. Journal Of Sports Science &
Medicine, 14, 864.
Keles, S., Sekir, U., Gur, H. & Akova, B. 2014. Eccentric/Concentric Training Of Ankle Evertor
And Dorsiflexors In Recreational Athletes: Muscle Latency And Strength. Scandinavian
Journal Of Medicine & Science In Sports, 24.
Keogh, J. W. & Winwood, P. W. 2017. The Epidemiology Of Injuries Across The Weight-
Training Sports. Sports Medicine, 47, 479-501.
Kooiker, L., Van De Port, I. G., Weir, A. & Moen, M. H. 2014. Effects Of Physical Therapist–
Guided Quadriceps-Strengthening Exercises For The Treatment Of Patellofemoral Pain
Syndrome: A Systematic Review. Journal Of Orthopaedic & Sports Physical Therapy,
44, 391-B1.
Lack, S., Barton, C., Sohan, O., Crossley, K. & Morrissey, D. 2015. Proximal Muscle
Rehabilitation Is Effective For Patellofemoral Pain: A Systematic Review With
Meta-Analysis. Br J Sports Med, Bjsports-2015-094723.
Lienhard, K., Lauermann, S., Schneider, D., Item-Glatthorn, J., Casartelli, N. & Maffiuletti,
N. 2013. Validity And Reliability Of Isometric, Isokinetic And Isoinertial Modalities
For The Assessment Of Quadriceps Muscle Strength In Patients With Total Knee
Arthroplasty. Journal Of Electromyography And Kinesiology, 23, 1283-1288.
Mcnair, P. J., Colvin, M. & Reid, D. 2011. Predicting Maximal Strength Of Quadriceps From
Submaximal Performance In Individuals With Knee Joint Osteoarthritis. Arthritis Care &
Research, 63, 216-222.
Melam, G. R., Alhusaini, A. A., Perumal, V., Buragadda, S. & Kaur, K. 2016. Comparison Of
Static And Dynamic Balance Between Football And Basketball Players With Chronic
Ankle Instability. Saudi Journal Of Sports Medicine, 16, 199.
175
Menzel, H.-J., Chagas, M. H., Szmuchrowski, L. A., Araujo, S. R., De Andrade, A. G. & De
Jesus-Moraleida, F. R. 2013. Analysis Of Lower Limb Asymmetries By Isokinetic
And Vertical Jump Tests In Soccer Players. The Journal Of Strength & Conditioning
Research, 27, 1370-1377.
Myers, B. A., Jenkins, W. L., Killian, C. & Rundquist, P. 2014. Normative Data For Hop Tests
In High School And Collegiate Basketball And Soccer Players. International Journal
Of Sports Physical Therapy, 9, 596-603.
Nadell, R. S. 2013. The Effects Of Different Warm-Up Modalities On Gluteus Medius Activation,
University Of Rhode Island.
Nimphius, S., Callaghan, S. J., Bezodis, N. E. & Lockie, R. G. 2017. Change Of Direction
And Agility Tests: Challenging Our Current Measures Of Performance. Strength &
Conditioning Journal.
Park, J.-H., Kang, S.-Y., Choung, S.-D., Jeon, H.-S. & Kwon, O.-Y. 2016. Effects Of Tibial
Rotation On Ober's Test And Patellar Tracking. The Knee, 23, 600-603.
Paterno, M. V., Schmitt, L. C., Ford, K. R., Rauh, M. J., Myer, G. D., Huang, B. & Hewett, T. E.
2010. Biomechanical Measures During Landing And Postural Stability Predict Second
Anterior Cruciate Ligament Injury After Anterior Cruciate Ligament Reconstruction And
Return To Sport. The American Journal Of Sports Medicine, 38, 1968-1978.
Plisky, P. J., Rauh, M. J., Kaminski, T. W. & Underwood, F. B. 2006. Star Excursion Balance
Test As A Predictor Of Lower Extremity Injury In High School Basketball Players.
Journal Of Orthopaedic & Sports Physical Therapy, 36, 911-919.
Regelski, C. L., Ford, B. L. & Hoch, M. C. 2015. Hip Strengthening Compared With
Quadriceps Strengthening In Conservative Treatment Of Patients With Patellofemoral
Pain: A Critically Appraised Topic. International Journal Of Athletic Therapy And
Training, 20, 4-12.
Saggin, P. R. F. & Dejour, D. 2015. Anterior Knee Pain In Football. Football Traumatology.
Springer.
Salehi-Abari, I., Khazaeli, S. & Niksirat, A. 2015. Chondromalacia Patella And New
Diagnostic Criteria. Open Science Journal Of Clinical Medicine, 3, 126-8.
Vriend, I., Gouttebarge, V., Van Mechelen, W. & Verhagen, E. 2016. Neuromuscular Training
Is Effective To Prevent Ankle Sprains In A Sporting Population: A Meta-Analysis
176
Translating Evidence Into Optimal Prevention Strategies. Journal Of Isakos:
Joint Disorders & Orthopaedic Sports Medicine, 1, 202-213.
Wild, C. Y., Hickey, A. & Hall, T. 2016. The Effect Of The Mulligan Knee Taping
Technique On Patellofemoral Pain And Lower Limb Biomechanics: Response. The
American Journal Of Sports Medicine, 44, Np39-Np40.
Winter, T., Beck, H., Walther, A., Zwipp, H. & Rein, S. 2015. Influence Of A
Proprioceptive Training On Functional Ankle Stability In Young Speed Skaters–A
Prospective Randomised Study. Journal Of Sports Sciences, 33, 831-84
177
Jumpers Knee (Tendinitis Patella)
Judul : Jumpers knee (tendinitis patella)
Kode ICD-9
726.64
Kode ICF
S75008, b7101, b7151,b7300, B7350 b7401,b770,d9201
Kondisi Kesehatan
Pengertian
Jumper’s knee / Tendinitis patellaris adalah radang kronis pada tendon patela
yang sering terjadi pada olahragawan dengan keahlian melompat akibat tegangan yang
terus menerus pada tendon (Van der Worp et al., 2011, Larsson et al., 2012).
Insidensi dan prevalensi
Laporaan satu penelitian menjelaskan bahwa prevalensi jumper‘s knee sangat
sering terjadi pada atlit amatir dan muda 8.5% (78 dari 891 atlit. Pada atlit yang sering
gerakan melompat seperti voli 14,4 % dan Kejati paling sedikit pada atlit sepak bola 2,5%.
Atlit pria paling sering mengalami cedera ini 10% (51 dari 502 atlit) dan wanita 6,4% (25
dari 389 atlit) (Zwerver et al., 2011).
Pada atlit sepak bola pria profesional, satu penelitian menjelaskan dari 2.229 atlit
dari tahun 2001 sampai 2009, 137 tercatat mengalami cedera ini dengan 0,12 kejadian
cedera dari 1000 jam aktivitas sepak bola. 61% atlit absen pertandingan kurang lebih
selama 1 minggu dan 20% mengalami cedera berulang(Hägglund et al., 2011).
Patologi dan patologi fungsional
Radang pada tendon patela inferior yang disebabkan oleh tidak seimbangnya kerja
kelompok otot quadricep terhadap tulang patela sehingga tonus tendon meningkat dan
menyebabkan kerusakan kolagen mikro (Lian et al., 2007). Perubahan matriks dan
neovaskularisasi pada tendon membuatnya sulit untuk pulih dengan cepat dan tidak bisa
mengaktifkan kerja sel untuk dapat beregenerasi. Pembebanan kerja pada tendon yang
berlebih menurunkan fungsi sel dan regenerasi matriks (Cook and Purdam, 2009,
Kongsgaard et al., 2010, Tom et al., 2009).
178
Pemeriksaan
A.Anamnesis
Pembuktian Hipotesa Patologi Dan Patologi Fungsional
Pasien datang dan mengeluhkan nyeri pada lutut sisi depan bagian bawah, nyeri
diam saat pasien dalam posisi berdiri, nyeri tekan pada tendon patella, nyeri gerak
saat berjalan, keterbatasan lingkup gerak sendi aktif knee untuk gerakan fleksi,
penurunan kemampuan aktivitas fungsional, dan rasa nyeri berkurang setelah
aktivitas olahraga cukup lama.
Pemeriksaan klinis
Evidence Base Clinical Practise
Isometrik quadriceps sudut 30-90 derajat(Brukner, 2012)
USG
Pemeriksaan fisik
Inspeksi
Bengkak
Nyeri saat naik turun tangga dan lompat
Pemeriksaan Fisik Berdasarkan Bukti
Antropometrik lingkar sendi lutut dan quadricep
Stabilitas patela
Lingkup gerak sendi
Keseimbangan
Kekuatan otot
Evaluasi
Pengukuran Objektif
Fase 1 Fase 2 Fase 3 Fase 4
k. VAS/NRS e. VAS/NRS d. Tes kekuatan 1 e. 1 leg Vertical
l. Antropometrik f. Antropometrik RM (McNair et Jump
m. Lingkup gerak g. Simetris Gerak al., 2011, f. HOP TEST(Myers
sendi Fungsional Lienhard et al., et al., 2014,
n. MMT (Cabral et al., 2013, Menzel et Hegedus et al.,
o. International 2016, al., 2013) 2015)
179
Knee Demirbüken et e. Star Excursion g. T-TEST DRILL
Documentation al., 2016) Balance Test (Jeffriess et al.,
Committeee h. Stork test(Melam (SEBT)(Plisky 2015, Nimphius et
(IKDC) 2000 et al., 2016) et al., 2006, al., 2017)
(Collins et al., Gribble et al., h. HEXAGONAL
2011, Hart et al., 2012) TEST
2017) f. 2 leg Vertical DRILL(Jeffriess et
p. VISA-P Score jump test al., 2015,
(Hernandez- (Menzel et al., Nimphius et al.,
Sanchez et al., 2013, Paterno et 2017, Melam et
2012) al., 2010) al., 2016)
Outcome Measures
Tidak ada nyeri
KEKUATAN OTOT MINIMUM 95%
HOPTEST MINIMUM 95%
KESEIMBANGAN DINAMIS (SEBT) 95%
E.Diagnosa Fisioterapi
Berdasarkan ICF komplemen terhadap ICD
Adanya gangguan gerak dan fungsi pada sendi lutut yang diakibatkan radang
tendon patela inferior dengan penurunan mobilitas sendi, stabilitas sendi, fungsi otot,
pola gerak jalan dan lari, dan koordinasi pada aktivitas olahraga.
Problema aktual dan potensial yang dijumpai
Bengkak
Rasa nyeri
Penurunan fungsi olahraga
180
Prognosis fungsional
Derajat ringan : 4 – 7 minggu
Derajat berat (operatif) : 7 minggu-6 bulan
Intervensi
ICF target (Body Functional and Body Structure impairment target,
disability target, dan enviromental target)
Fase 1: Fase 2:
Terapi : Terapi :
Taping (Wild et al., 2016, Campbell Neuromuscular control of quadriceps
and Valier, 2016) (Kooiker et al., 2014, Malliaras et al.,
Mobilisasi patela (Crossley et al., 2016) 2015, Dimitrios et al., 2012)
Reactivation gluteus (Nadell, 2013, Latihan Fleksibilitas Hamstring dan
Saggin and Dejour, 2015) quadricep (Hrubes and Nicola, 2014,
Latihan otot sendi hip eksentrik (Lack Dimitrios et al., 2012)
et al., 2015, Regelski et al., 2015) Latihan Fleksibilitas IT- Band (Park et
Latihan quadriceps eksentrik (Malliaras al., 2016, Gomaa and Zaky, 2015)
et al., 2015, Dimitrios et al., 2012) Latihan Kekuatan Sendi Ankle (Espí-
Active ROM López et al., 2017)
Cardiovascular training(Keogh and
Winwood, 2017)
Fase 3 Fase 4
Terapi: Terapi :
Latihan Quadriceps progresiv Latihan Gerak Fungsional Dasar
Endurance training Olahraga (Hale et al., 2014, Feger et al.,
Flexibility exercise 2014, Hall et al., 2015)
Proprioceptive exercise(Araújo et al., Latihan Plyometric dan kelincahan
2016) (Keles et al., 2014, Winter et al., 2015,
Vriend et al., 2016)
181
Modalitas yang direkomendasikan
Elektroterapi (Faradic Underpreassure, NMES, Ultrasound, & Cryotherapy)
Terapi Latihan
Manual Terapi
Referensi
Araújo, C. G. A., Shirabe, N., Shigaki, L., Macedo, C. S. G., Pereira, C. & Da Silva, R. A. 2016. Lower-
Limb Muscle Activation During Five Sensory-Motor Exercises In Women With Patellofemoral
Pain Syndrome. Physical Therapy In Sport, 18, E4.
Brukner, P. 2012. Brukner & Khan's Clinical Sports Medicine, Mcgraw-Hill North Ryde.
Cabral, S., Resende, R. A., Clansey, A. C., Deluzio, K. J., Selbie, W. S. & Veloso, A. P. 2016. A Global
Gait Asymmetry Index. Journal Of Applied Biomechanics, 32, 171-177.
Campbell, S. A. & Valier, A. R. 2016. The Effect Of Kinesio Taping On Anterior Knee Pain
Consistent With Patellofemoral Pain Syndrome: A Critically Appraised Topic. Journal Of
Sport Rehabilitation, 25, 288-293.
Collins, N. J., Misra, D., Felson, D. T., Crossley, K. M. & Roos, E. M. 2011. Measures Of Knee Function:
International Knee Documentation Committee (Ikdc) Subjective Knee Evaluation Form, Knee Injury And
Osteoarthritis Outcome Score (Koos), Knee Injury And Osteoarthritis Outcome Score Physical Function
Short Form (Koos‐ Ps), Knee Outcome Survey Activities Of Daily Living Scale (Kos‐ Adl), Lysholm Knee
Scoring Scale, Oxford Knee Score (Oks), Western Ontario And Mcmaster Universities Osteoarthritis Index
(Womac), Activity Rating Scale (Ars), And Tegner Activity Score (Tas). Arthritis Care & Research, 63.
Cook, J. & Purdam, C. R. 2009. Is Tendon Pathology A Continuum? A Pathology Model To Explain
The Clinical Presentation Of Load-Induced Tendinopathy. British Journal Of Sports Medicine,
43, 409-416.
Crossley, K. M., Van Middelkoop, M., Callaghan, M. J., Collins, N. J., Rathleff, M. S. & Barton, C. J.
2016. 2016 Patellofemoral Pain Consensus Statement From The 4th International Patellofemoral
Pain Research Retreat, Manchester. Part 2: Recommended Physical Interventions (Exercise,
Taping, Bracing, Foot Orthoses And Combined Interventions). Br J Sports Med, 50, 844-852.
Demirbüken, İ., Özyürek, S. & Angın, S. 2016. The Immediate Effect Of Patellar Tendon Strap On
Weight-Bearing Asymmetry During Squatting In Patients With Unilateral Knee Osteoarthritis: A
Pilot Study. Prosthetics And Orthotics International, 40, 682-688.
Dimitrios, S., Pantelis, M. & Kalliopi, S. 2012. Comparing The Effects Of Eccentric Training With
Eccentric Training And Static Stretching Exercises In The Treatment Of Patellar
Tendinopathy. A Controlled Clinical Trial. Clinical Rehabilitation, 26, 423-430.
Espí-López, G. V., Serra-Añó, P., Vicent-Ferrando, J., Sánchez-Moreno-Giner, M., Arias-Buría, J. L.,
Cleland, J. & Fernández-De-Las-Peñas, C. 2017. Effectiveness Of Inclusion Of Dry Needling
Into A Multimodal Therapy Program For Patellofemoral Pain: A Randomized Parallel-Group
Trial. Journal Of Orthopaedic & Sports Physical Therapy, 1-43.
Feger, M. A., Donovan, L., Hart, J. M. & Hertel, J. 2014. Lower Extremity Muscle Activation During
Functional Exercises In Patients With And Without Chronic Ankle Instability. Pm&R, 6, 602-
611.
Gomaa, E. F. & Zaky, L. A. 2015. Effect Of Iliotibial Band Myofascial Release On Flexibility
And Patellar Alignment In Patients With Knee Osteoarthritis. J. Adv. Res., 3, 399-410.
Gribble, P. A., Hertel, J. & Plisky, P. 2012. Using The Star Excursion Balance Test To Assess Dynamic
Postural-Control Deficits And Outcomes In Lower Extremity Injury: A Literature And
Systematic Review. Journal Of Athletic Training, 47, 339-357.
Hägglund, M., Zwerver, J. & Ekstrand, J. 2011. Epidemiology Of Patellar Tendinopathy In Elite
Male Soccer Players. The American Journal Of Sports Medicine, 39, 1906-1911.
182
Hale, S. A., Fergus, A., Axmacher, R. & Kiser, K. 2014. Bilateral Improvements In Lower Extremity
Function After Unilateral Balance Training In Individuals With Chronic Ankle Instability.
Journal Of Athletic Training, 49, 181-191.
Hall, E. A., Docherty, C. L., Simon, J., Kingma, J. J. & Klossner, J. C. 2015. Strength-Training Protocols
To Improve Deficits In Participants With Chronic Ankle Instability: A Randomized Controlled
Trial. Journal Of Athletic Training, 50, 36-44.
Hart, R., Safi, A., Jajtner, P., Puskeiler, M., Hartová, P. & Komzák, M. 2017. Tibiofemoral
Chondromalacia Treated With Platelet-Rich Plasma And Hyaluronic Acid. Current
Orthopaedic Practice, 28, 58-65.
Hegedus, E. J., Mcdonough, S. M., Bleakley, C., Baxter, D. & Cook, C. E. 2015. Clinician-Friendly
Lower Extremity Physical Performance Tests In Athletes: A Systematic Review Of Measurement
Properties And Correlation With Injury. Part 2—The Tests For The Hip, Thigh, Foot And Ankle
Including The Star Excursion Balance Test. Br J Sports Med, 49, 649-656.
Hernandez-Sanchez, S., Hidalgo, M. D. & Gomez, A. 2012. Responsiveness Of The Visa-P Scale
For Patellar Tendinopathy In Athletes. Br J Sports Med, Bjsports-2012-091163.
Hrubes, M. & Nicola, T. L. 2014. Rehabilitation Of The Patellofemoral Joint. Clin Sports Med, 33, 553-
566.
Jeffriess, M. D., Schultz, A. B., Mcgann, T. S., Callaghan, S. J. & Lockie, R. G. 2015. Effects Of
Preventative Ankle Taping On Planned Change-Of-Direction And Reactive Agility Performance
And Ankle Muscle Activity In Basketballers. Journal Of Sports Science & Medicine, 14, 864.
Keles, S., Sekir, U., Gur, H. & Akova, B. 2014. Eccentric/Concentric Training Of Ankle Evertor And
Dorsiflexors In Recreational Athletes: Muscle Latency And Strength. Scandinavian Journal Of
Medicine & Science In Sports, 24.
Keogh, J. W. & Winwood, P. W. 2017. The Epidemiology Of Injuries Across The Weight-Training
Sports. Sports Medicine, 47, 479-501.
Kongsgaard, M., Qvortrup, K., Larsen, J., Aagaard, P., Doessing, S., Hansen, P., Kjaer, M. &
Magnusson, S. P. 2010. Fibril Morphology And Tendon Mechanical Properties In Patellar
Tendinopathy. The American Journal Of Sports Medicine, 38, 749-756.
Kooiker, L., Van De Port, I. G., Weir, A. & Moen, M. H. 2014. Effects Of Physical Therapist–Guided
Quadriceps-Strengthening Exercises For The Treatment Of Patellofemoral Pain Syndrome: A
Systematic Review. Journal Of Orthopaedic & Sports Physical Therapy, 44, 391-B1.
Lack, S., Barton, C., Sohan, O., Crossley, K. & Morrissey, D. 2015. Proximal Muscle Rehabilitation Is
Effective For Patellofemoral Pain: A Systematic Review With Meta-Analysis. Br J Sports Med,
Bjsports-2015-094723.
Larsson, M. E. H., Käll, I. & Nilsson-Helander, K. 2012. Treatment Of Patellar Tendinopathy—A
Systematic Review Of Randomized Controlled Trials. Knee Surgery, Sports Traumatology,
Arthroscopy, 20, 1632-1646.
Lian, Ø., Scott, A., Engebretsen, L., Bahr, R., Duronio, V. & Khan, K. 2007. Excessive Apoptosis In
Patellar Tendinopathy In Athletes. The American Journal Of Sports Medicine, 35, 605-611.
Lienhard, K., Lauermann, S., Schneider, D., Item-Glatthorn, J., Casartelli, N. & Maffiuletti, N. 2013.
Validity And Reliability Of Isometric, Isokinetic And Isoinertial Modalities For The Assessment
Of Quadriceps Muscle Strength In Patients With Total Knee Arthroplasty. Journal Of
Electromyography And Kinesiology, 23, 1283-1288.
Malliaras, P., Cook, J., Purdam, C. & Rio, E. 2015. Patellar Tendinopathy: Clinical Diagnosis, Load
Management, And Advice For Challenging Case Presentations. Journal Of Orthopaedic & Sports
Physical Therapy, 45, 887-898.
Mcnair, P. J., Colvin, M. & Reid, D. 2011. Predicting Maximal Strength Of Quadriceps From
Submaximal Performance In Individuals With Knee Joint Osteoarthritis. Arthritis Care
& Research, 63, 216-222.
183
Melam, G. R., Alhusaini, A. A., Perumal, V., Buragadda, S. & Kaur, K. 2016. Comparison Of Static
And Dynamic Balance Between Football And Basketball Players With Chronic Ankle
Instability. Saudi Journal Of Sports Medicine, 16, 199.
Menzel, H.-J., Chagas, M. H., Szmuchrowski, L. A., Araujo, S. R., De Andrade, A. G. & De Jesus-
Moraleida, F. R. 2013. Analysis Of Lower Limb Asymmetries By Isokinetic And Vertical Jump
Tests In Soccer Players. The Journal Of Strength & Conditioning Research, 27, 1370-1377.
Myers, B. A., Jenkins, W. L., Killian, C. & Rundquist, P. 2014. Normative Data For Hop Tests In High
School And Collegiate Basketball And Soccer Players. International Journal Of Sports Physical
Therapy, 9, 596-603.
Nadell, R. S. 2013. The Effects Of Different Warm-Up Modalities On Gluteus Medius Activation,
University Of Rhode Island.
Nimphius, S., Callaghan, S. J., Bezodis, N. E. & Lockie, R. G. 2017. Change Of Direction And Agility
Tests: Challenging Our Current Measures Of Performance. Strength & Conditioning Journal.
Park, J.-H., Kang, S.-Y., Choung, S.-D., Jeon, H.-S. & Kwon, O.-Y. 2016. Effects Of Tibial Rotation On
Ober's Test And Patellar Tracking. The Knee, 23, 600-603.
Paterno, M. V., Schmitt, L. C., Ford, K. R., Rauh, M. J., Myer, G. D., Huang, B. & Hewett, T. E. 2010.
Biomechanical Measures During Landing And Postural Stability Predict Second Anterior
Cruciate Ligament Injury After Anterior Cruciate Ligament Reconstruction And Return To Sport.
The American Journal Of Sports Medicine, 38, 1968-1978.
Plisky, P. J., Rauh, M. J., Kaminski, T. W. & Underwood, F. B. 2006. Star Excursion Balance Test As A
Predictor Of Lower Extremity Injury In High School Basketball Players. Journal Of Orthopaedic
& Sports Physical Therapy, 36, 911-919.
Regelski, C. L., Ford, B. L. & Hoch, M. C. 2015. Hip Strengthening Compared With Quadriceps
Strengthening In Conservative Treatment Of Patients With Patellofemoral Pain: A Critically
Appraised Topic. International Journal Of Athletic Therapy And Training, 20, 4-12.
Saggin, P. R. F. & Dejour, D. 2015. Anterior Knee Pain In Football. Football Traumatology. Springer.
Tom, S., Parkinson, J., Ilic, M. Z., Cook, J., Feller, J. A. & Handley, C. J. 2009. Changes In The
Composition Of The Extracellular Matrix In Patellar Tendinopathy. Matrix Biology, 28, 230-236.
Van Der Worp, H., Van Ark, M., Roerink, S., Pepping, G.-J., Van Den Akker-Scheek, I. & Zwerver, J.
2011. Risk Factors For Patellar Tendinopathy: A Systematic Review Of The Literature. British
Journal Of Sports Medicine, Bjsports84079.
Vriend, I., Gouttebarge, V., Van Mechelen, W. & Verhagen, E. 2016. Neuromuscular Training Is
Effective To Prevent Ankle Sprains In A Sporting Population: A Meta-Analysis Translating
Evidence Into Optimal Prevention Strategies. Journal Of Isakos: Joint Disorders & Orthopaedic
Sports Medicine, 1, 202-213.
Wild, C. Y., Hickey, A. & Hall, T. 2016. The Effect Of The Mulligan Knee Taping Technique On
Patellofemoral Pain And Lower Limb Biomechanics: Response. The American Journal Of Sports
Medicine, 44, Np39-Np40.
Winter, T., Beck, H., Walther, A., Zwipp, H. & Rein, S. 2015. Influence Of A Proprioceptive Training On
Functional Ankle Stability In Young Speed Skaters–A Prospective Randomised Study. Journal
Of Sports Sciences, 33, 831-840.
Zwerver, J., Bredeweg, S. W. & Van Den Akker-Scheek, I. 2011. Prevalence Of Jumper‘s Knee Among
Nonelite Athletes From Different Sports: A Cross-Sectional Survey. The American Journal Of
Sports Medicine, 39, 1984-1988.
184
Cedera Sprain Ligamen Kolateral Lateral (LCL)
Judul : Cedera Sprain Ligamen Kolateral Lateral
Kode ICD
844.0
Kode ICF
S75011, B7101, b7151,b7301, b7401,b770,d9201
Kondisi Kesehatan
Pengertian
Robeknya ligamen kolateral lateral sendi lutut yang disebabkan posisi sendi lutut mengarah
pada posisi sendi lutut varus dan rotasi femur lateral yang diakibatkan oleh benturan
langsung dan tidak langsung (Powers, 2010).
Insidensi dan prevalensi
Satu penelitian menjelaskan bahwa cedera lutut pada atlit tingkat remaja pada periode
tahun 2005/06 dan 2010/11 tercatat 5.116 kejadian dari 17.172.376 atlit yang terdata. Atlit
wanita paling tinggi angka kejadian cedera lutut dengan 7,9%-nya sprain ligamen kolateral
lateral (Swenson et al., 2013, Bushnell et al., 2010).
Patologi dan patologi fungsional
Kerobekan ligamen kolateral lateral akan menyebabkan pembengkakan pada sendi lutut
dan terbatasnya gerak dasar fleksi dan ekstensi lutut. Atlit akan mengalami kesulitan
berjalan normal dan sulitnya mengontraksikan otot quaricep. LCL tidak melekat dengan
meniskus lateral sehingga sedikit resiko robeknya meniskus secara bersamaan dengan
Spain LCL (Recondo et al., 2000).
Pemeriksaan
B.Anamnesis
Pembuktian Hipotesa Patologi Dan Patologi Fungsional
Atlet terjatuh dengan posisi kaki varus/ lateral, terjadi trauma benturan pada tibia lalu
si atlet tidak dapat melanjutkan olah raga saat itu dan beberapa jam kemudian terjadi
bengkak.
185
Pemeriksaan klinis
Evidence Base Clinical Practise
Varus stres test
C.Pemeriksaan fisik
Inspeksi a.
Bengkak
b. Sulit menekuk dan meluruskan lutut
Pemeriksaan Fisik Berdasarkan Bukti a.
Antropometrik lingkar sendi lutut
Lingkup gerak sendi
Keseimbangan
Kekuatan otot
Evaluasi
Pengukuran Objektif
Fase 1 Fase 2 Fase 3 Fase 4
q. VAS/NRS i. VAS/NRS g. Tes kekuatan 1 i. 1 leg Vertical
r. Antropometrik j. Antropometrik RM (McNair et Jump
s. Lingkup gerak k. Simetris Gerak al., 2011, j. HOP TEST(Myers
sendi Fungsional Lienhard et al., et al., 2014,
t. MMT (Cabral et al., 2013, Menzel et Hegedus et al.,
u. International 2016, al., 2013) 2015)
Knee Demirbüken et h. Star Excursion k. T-TEST DRILL
Documentation al., 2016) Balance Test (Jeffriess et al.,
Committeee l. Stork test(Melam (SEBT)(Plisky 2015, Nimphius et
(IKDC) 2000 et al., 2016) et al., 2006, al., 2017)
(Collins et al., Gribble et al., l. HEXAGONAL
2011, Hart et al., 2012) TEST
2017) i. 2 leg Vertical DRILL(Jeffriess et
jump test al., 2015,
(Menzel et al., Nimphius et al.,
2013, Paterno et 2017, Melam et
186
al., 2010) al., 2016)
Outcome Measures
Tidak ada nyeri
KEKUATAN OTOT MINIMUM 95%
HOPTEST MINIMUM 95%
KESEIMBANGAN DINAMIS (SEBT) 95%
E.Diagnosa Fisioterapi
Berdasarkan ICF komplemen terhadap ICD
Adanya gangguan gerak dan fungsi pada sendi lutut yang diakibatkan
robeknya ligamen kolateral lateral dengan penurunan mobilitas sendi, stabilitas sendi,
fungsi otot, pola gerak jalan dan lari, dan koordinasi pada aktivitas olahraga.
Problema aktual dan potensial yang dijumpai a.
Bengkak
Rasa nyeri
Penurunan fungsi olahraga
Prognosis fungsional
Derajat 1: 4 minggu
Derajat 2: 5 minggu-3 bulan
Derajat 3 : 3 bulan – 12 bulan
Intervensi
ICF target (Body Functional and Body Structure impairment target,
disability target, dan enviromental target)
Fase 1: Fase 2:
Terapi : Terapi :
Mobilisasi patela (Crossley et al., 2016) Neuromuscular control of quadriceps
Reactivation gluteus (Nadell, (Kooiker et al., 2014, Malliaras et al.,
2013, Saggin and Dejour, 2015) 2015, Dimitrios et al., 2012)
Latihan otot sendi hip(Lack et al., 2015, Latihan Fleksibilitas Hamstring dan
187
Regelski et al., 2015) quadricep (Hrubes and Nicola, 2014,
Latihan quadriceps eksentrik (Malliaras Dimitrios et al., 2012)
et al., 2015, Dimitrios et al., 2012) Latihan Fleksibilitas IT- Band (Park et
Active ROM al., 2016, Gomaa and Zaky, 2015)
Latihan Kekuatan Sendi Ankle (Espí-
López et al., 2017)
Cardiovascular training(Keogh and
Winwood, 2017)
Fase 3 Fase 4
Terapi: Terapi :
Latihan Quadriceps progresiv Latihan Gerak Fungsional Dasar
Endurance training Olahraga (Hale et al., 2014, Feger et al.,
Flexibility exercise 2014, Hall et al., 2015)
Proprioceptive exercise(Araújo et al., Latihan Plyometric dan kelincahan
2016) (Keles et al., 2014, Winter et al., 2015,
Latihan Keseimbangan (Emery et al., Vriend et al., 2016)
2015, Steffen et al., 2013)
Araújo, C. G. A., Shirabe, N., Shigaki, L., Macedo, C. S. G., Pereira, C. & Da Silva, R. A. 2016. Lower-
Limb Muscle Activation During Five Sensory-Motor Exercises In Women With Patellofemoral
Pain Syndrome. Physical Therapy In Sport, 18, E4.
Bushnell, B. D., Bitting, S. S., Crain, J. M., Boublik, M. & Schlegel, T. F. 2010. Treatment Of Magnetic
Resonance Imaging-Documented Isolated Grade Iii Lateral Collateral Ligament Injuries In
National Football League Athletes. The American Journal Of Sports Medicine, 38, 86-91.
Cabral, S., Resende, R. A., Clansey, A. C., Deluzio, K. J., Selbie, W. S. & Veloso, A. P. 2016. A Global
Gait Asymmetry Index. Journal Of Applied Biomechanics, 32, 171-177.
188
Collins, N. J., Misra, D., Felson, D. T., Crossley, K. M. & Roos, E. M. 2011. Measures Of Knee Function:
International Knee Documentation Committee (Ikdc) Subjective Knee Evaluation Form, Knee Injury And
Osteoarthritis Outcome Score (Koos), Knee Injury And Osteoarthritis Outcome Score Physical Function
Short Form (Koos‐ Ps), Knee Outcome Survey Activities Of Daily Living Scale (Kos‐ Adl), Lysholm Knee
Scoring Scale, Oxford Knee Score (Oks), Western Ontario And Mcmaster Universities Osteoarthritis Index
(Womac), Activity Rating Scale (Ars), And Tegner Activity Score (Tas). Arthritis Care & Research, 63.
Crossley, K. M., Van Middelkoop, M., Callaghan, M. J., Collins, N. J., Rathleff, M. S. & Barton, C. J.
2016. 2016 Patellofemoral Pain Consensus Statement From The 4th International Patellofemoral
Pain Research Retreat, Manchester. Part 2: Recommended Physical Interventions (Exercise,
Taping, Bracing, Foot Orthoses And Combined Interventions). Br J Sports Med, 50, 844-852.
Demirbüken, İ., Özyürek, S. & Angın, S. 2016. The Immediate Effect Of Patellar Tendon Strap On
Weight-Bearing Asymmetry During Squatting In Patients With Unilateral Knee Osteoarthritis: A
Pilot Study. Prosthetics And Orthotics International, 40, 682-688.
Dimitrios, S., Pantelis, M. & Kalliopi, S. 2012. Comparing The Effects Of Eccentric Training With
Eccentric Training And Static Stretching Exercises In The Treatment Of Patellar Tendinopathy.
A Controlled Clinical Trial. Clinical Rehabilitation, 26, 423-430.
Emery, C. A., Roy, T.-O., Whittaker, J. L., Nettel-Aguirre, A. & Van Mechelen, W. 2015.
Neuromuscular Training Injury Prevention Strategies In Youth Sport: A Systematic Review And
Meta-Analysis. Br J Sports Med, 49, 865-870.
Espí-López, G. V., Serra-Añó, P., Vicent-Ferrando, J., Sánchez-Moreno-Giner, M., Arias-Buría, J. L.,
Cleland, J. & Fernández-De-Las-Peñas, C. 2017. Effectiveness Of Inclusion Of Dry Needling
Into A Multimodal Therapy Program For Patellofemoral Pain: A Randomized Parallel-Group
Trial. Journal Of Orthopaedic & Sports Physical Therapy, 1-43.
Feger, M. A., Donovan, L., Hart, J. M. & Hertel, J. 2014. Lower Extremity Muscle Activation During
Functional Exercises In Patients With And Without Chronic Ankle Instability. Pm&R, 6, 602-
611.
Gomaa, E. F. & Zaky, L. A. 2015. Effect Of Iliotibial Band Myofascial Release On Flexibility
And Patellar Alignment In Patients With Knee Osteoarthritis. J. Adv. Res., 3, 399-410.
Gribble, P. A., Hertel, J. & Plisky, P. 2012. Using The Star Excursion Balance Test To Assess Dynamic
Postural-Control Deficits And Outcomes In Lower Extremity Injury: A Literature And
Systematic Review. Journal Of Athletic Training, 47, 339-357.
Hale, S. A., Fergus, A., Axmacher, R. & Kiser, K. 2014. Bilateral Improvements In Lower Extremity
Function After Unilateral Balance Training In Individuals With Chronic Ankle Instability.
Journal Of Athletic Training, 49, 181-191.
Hall, E. A., Docherty, C. L., Simon, J., Kingma, J. J. & Klossner, J. C. 2015. Strength-Training Protocols
To Improve Deficits In Participants With Chronic Ankle Instability: A Randomized Controlled
Trial. Journal Of Athletic Training, 50, 36-44.
Hart, R., Safi, A., Jajtner, P., Puskeiler, M., Hartová, P. & Komzák, M. 2017. Tibiofemoral
Chondromalacia Treated With Platelet-Rich Plasma And Hyaluronic Acid. Current
Orthopaedic Practice, 28, 58-65.
Hegedus, E. J., Mcdonough, S. M., Bleakley, C., Baxter, D. & Cook, C. E. 2015. Clinician-Friendly
Lower Extremity Physical Performance Tests In Athletes: A Systematic Review Of Measurement
Properties And Correlation With Injury. Part 2—The Tests For The Hip, Thigh, Foot And Ankle
Including The Star Excursion Balance Test. Br J Sports Med, 49, 649-656.
Hrubes, M. & Nicola, T. L. 2014. Rehabilitation Of The Patellofemoral Joint. Clin Sports Med, 33, 553-
566.
Jeffriess, M. D., Schultz, A. B., Mcgann, T. S., Callaghan, S. J. & Lockie, R. G. 2015. Effects Of
Preventative Ankle Taping On Planned Change-Of-Direction And Reactive Agility Performance
And Ankle Muscle Activity In Basketballers. Journal Of Sports Science & Medicine, 14, 864.
189
Keles, S., Sekir, U., Gur, H. & Akova, B. 2014. Eccentric/Concentric Training Of Ankle Evertor And
Dorsiflexors In Recreational Athletes: Muscle Latency And Strength. Scandinavian Journal Of
Medicine & Science In Sports, 24.
Keogh, J. W. & Winwood, P. W. 2017. The Epidemiology Of Injuries Across The Weight-Training
Sports. Sports Medicine, 47, 479-501.
Kooiker, L., Van De Port, I. G., Weir, A. & Moen, M. H. 2014. Effects Of Physical Therapist–Guided
Quadriceps-Strengthening Exercises For The Treatment Of Patellofemoral Pain Syndrome: A
Systematic Review. Journal Of Orthopaedic & Sports Physical Therapy, 44, 391-B1.
Lack, S., Barton, C., Sohan, O., Crossley, K. & Morrissey, D. 2015. Proximal Muscle Rehabilitation Is
Effective For Patellofemoral Pain: A Systematic Review With Meta-Analysis. Br J Sports Med,
Bjsports-2015-094723.
Lienhard, K., Lauermann, S., Schneider, D., Item-Glatthorn, J., Casartelli, N. & Maffiuletti, N. 2013.
Validity And Reliability Of Isometric, Isokinetic And Isoinertial Modalities For The Assessment
Of Quadriceps Muscle Strength In Patients With Total Knee Arthroplasty. Journal Of
Electromyography And Kinesiology, 23, 1283-1288.
Malliaras, P., Cook, J., Purdam, C. & Rio, E. 2015. Patellar Tendinopathy: Clinical Diagnosis, Load
Management, And Advice For Challenging Case Presentations. Journal Of Orthopaedic & Sports
Physical Therapy, 45, 887-898.
Mcnair, P. J., Colvin, M. & Reid, D. 2011. Predicting Maximal Strength Of Quadriceps From
Submaximal Performance In Individuals With Knee Joint Osteoarthritis. Arthritis Care
& Research, 63, 216-222.
Melam, G. R., Alhusaini, A. A., Perumal, V., Buragadda, S. & Kaur, K. 2016. Comparison Of Static
And Dynamic Balance Between Football And Basketball Players With Chronic Ankle
Instability. Saudi Journal Of Sports Medicine, 16, 199.
Menzel, H.-J., Chagas, M. H., Szmuchrowski, L. A., Araujo, S. R., De Andrade, A. G. & De Jesus-
Moraleida, F. R. 2013. Analysis Of Lower Limb Asymmetries By Isokinetic And Vertical Jump
Tests In Soccer Players. The Journal Of Strength & Conditioning Research, 27, 1370-1377.
Myers, B. A., Jenkins, W. L., Killian, C. & Rundquist, P. 2014. Normative Data For Hop Tests In High
School And Collegiate Basketball And Soccer Players. International Journal Of Sports Physical
Therapy, 9, 596-603.
Nadell, R. S. 2013. The Effects Of Different Warm-Up Modalities On Gluteus Medius Activation,
University Of Rhode Island.
Nimphius, S., Callaghan, S. J., Bezodis, N. E. & Lockie, R. G. 2017. Change Of Direction And Agility
Tests: Challenging Our Current Measures Of Performance. Strength & Conditioning Journal.
Park, J.-H., Kang, S.-Y., Choung, S.-D., Jeon, H.-S. & Kwon, O.-Y. 2016. Effects Of Tibial Rotation On
Ober's Test And Patellar Tracking. The Knee, 23, 600-603.
Paterno, M. V., Schmitt, L. C., Ford, K. R., Rauh, M. J., Myer, G. D., Huang, B. & Hewett, T. E. 2010.
Biomechanical Measures During Landing And Postural Stability Predict Second Anterior
Cruciate Ligament Injury After Anterior Cruciate Ligament Reconstruction And Return To Sport.
The American Journal Of Sports Medicine, 38, 1968-1978.
Plisky, P. J., Rauh, M. J., Kaminski, T. W. & Underwood, F. B. 2006. Star Excursion Balance Test As A
Predictor Of Lower Extremity Injury In High School Basketball Players. Journal Of Orthopaedic
& Sports Physical Therapy, 36, 911-919.
Powers, C. M. 2010. The Influence Of Abnormal Hip Mechanics On Knee Injury: A Biomechanical
Perspective. Journal Of Orthopaedic & Sports Physical Therapy, 40, 42-51.
Recondo, J. A., Salvador, E., Villanúa, J. A., Barrera, M. C., Gervás, C. & Alústiza, J. M. 2000.
Lateral Stabilizing Structures Of The Knee: Functional Anatomy And Injuries Assessed With
Mr Imaging. Radiographics, 20, S91-S102.
Regelski, C. L., Ford, B. L. & Hoch, M. C. 2015. Hip Strengthening Compared With Quadriceps
Strengthening In Conservative Treatment Of Patients With Patellofemoral Pain: A Critically
Appraised Topic. International Journal Of Athletic Therapy And Training, 20, 4-12.
190
Saggin, P. R. F. & Dejour, D. 2015. Anterior Knee Pain In Football. Football Traumatology. Springer.
Steffen, K., Emery, C. A., Romiti, M., Kang, J., Bizzini, M., Dvorak, J., Finch, C. F. & Meeuwisse, W. H.
2013. High Adherence To A Neuromuscular Injury Prevention Programme (Fifa 11+)
Improves Functional Balance And Reduces Injury Risk In Canadian Youth Female Football
Players: A Cluster Randomised Trial. Br J Sports Med, Bjsports-2012-091886.
Swenson, D. M., Collins, C. L., Best, T. M., Flanigan, D. C., Fields, S. K. & Comstock, R. D. 2013.
Epidemiology Of Knee Injuries Among Us High School Athletes, 2005/06–2010/11. Medicine
And Science In Sports And Exercise, 45, 462-469.
Vriend, I., Gouttebarge, V., Van Mechelen, W. & Verhagen, E. 2016. Neuromuscular Training Is
Effective To Prevent Ankle Sprains In A Sporting Population: A Meta-Analysis Translating
Evidence Into Optimal Prevention Strategies. Journal Of Isakos: Joint Disorders & Orthopaedic
Sports Medicine, 1, 202-213.
Winter, T., Beck, H., Walther, A., Zwipp, H. & Rein, S. 2015. Influence Of A Proprioceptive Training
On Functional Ankle Stability In Young Speed Skaters–A Prospective Randomised Study.
Journal Of Sports Sciences, 33, 831-840.
191
Cedera Ligamen Kolateral Medial (MCL)
Judul : Cedera Ligamen Kolateral Medial
Kode ICD
Kode ICF
S75011, B7101, b7151,b7301, b7401,b770,d9201
Kondisi Kesehatan
Pengertian
Robeknya ligamen kolateral medial sendi lutut yang disebabkan posisi sendi lutut
mengarah pada posisi valgus yang diakibatkan oleh benturan langsung dan tidak langsung
(Logan et al., 2016).
Insidensi dan prevalensi
Satu penelitian menjelaskan bahwa cedera sprain ligamen kolateral medial pada atlit muda
di Amerika bahwa angka kejadian cedera ini 128 kejadian dari 17.606 atlit sejak tahun
2005-2009. 114 data cedera dari atlit pria 89% dan 14 data cedera dari wanita 11%.(Roach
et al., 2014).
Patologi dan patologi fungsional
Kerobekan ligamen kolateral medial akan menyebabkan pembengkakan pada
sendi lutut dan terbatasnya gerak dasar fleksi dan ekstensi lutut. Atlit akan mengalami
kesulitan berjalan normal dan sulitnya mengontraksikan otot quaricep. Mekanisme cedera
ini dimana posisi sendi lutut bergerak ke posisi valgus dan biasanya diikuti dengan rotasi
dari tibia dan femur. Cedera ini sering diikuti dengan cedera ligamen krusiatum anterior
dan meniskus medial (Recondo et al., 2000, Logan et al., 2016, Bates et al., 2015).
Pemeriksaan
A.Anamnesis
Pembuktian Hipotesa Patologi Dan Patologi Fungsional
Atlet terjatuh dengan posisi kaki valgus/medial, terjadi trauma benturan pada tibia lalu
si atlet tidak dapat melanjutkan olah raga saat itu dan beberapa jam kemudian terjadi
bengkak.
192
Pemeriksaan klinis
Evidence Base Clinical Practise
Valgus stres test
C.Pemeriksaan fisik
Inspeksi
a. Bengkak
Pemeriksaan Fisik Berdasarkan Bukti
Antropometrik lingkar sendi lutut
Lingkup gerak sendi
Keseimbangan
Kekuatan otot
Evaluasi
Pengukuran Objektif
Fase 1 Fase 2 Fase 3 Fase 4
v. VAS/NRS m. VAS/NRS j. Tes kekuatan 1 m. 1 leg Vertical
w. Antropometrik n. Antropometrik RM (McNair et Jump
x. Lingkup gerak o. Simetris Gerak al., 2011, n. HOP TEST(Myers
sendi Fungsional Lienhard et al., et al., 2014,
y. MMT (Cabral et al., 2013, Menzel et Hegedus et al.,
z. International 2016, al., 2013) 2015)
Knee Demirbüken et k. Star Excursion o. T-TEST DRILL
Documentation al., 2016) Balance Test (Jeffriess et al.,
Committeee p. Stork test(Melam (SEBT)(Plisky 2015, Nimphius et
(IKDC) 2000 et al., 2016) et al., 2006, al., 2017)
(Collins et al., Gribble et al., p. HEXAGONAL
2011, Hart et al., 2012) TEST
2017) l. 2 leg Vertical DRILL(Jeffriess et
jump test al., 2015,
(Menzel et al., Nimphius et al.,
2013, Paterno et 2017, Melam et
193
al., 2010) al., 2016)
Outcome Measures
Tidak ada nyeri
KEKUATAN OTOT MINIMUM 95%
HOPTEST MINIMUM 95%
KESEIMBANGAN DINAMIS (SEBT) 95%
E.Diagnosa Fisioterapi
Berdasarkan ICF komplemen terhadap ICD
Adanya gangguan gerak dan fungsi pada sendi lutut yang diakibatkan
robeknya ligamen kolateral medial dengan penurunan mobilitas sendi, stabilitas
sendi, fungsi otot, pola gerak jalan dan lari, dan koordinasi pada aktivitas olahraga.
Problema aktual dan potensial yang dijumpai
Bengkak
Rasa nyeri
Penurunan fungsi olahraga
Prognosis fungsional
Derajat 1: 4 minggu
Derajat 2: 5 minggu-3 bulan
Derajat 3 : 3 bulan – 12 bulan
Intervensi
ICF target (Body Functional and Body Structure impairment target,
disability target, dan enviromental target)
Fase 1: Fase 2:
Terapi : Terapi :
Mobilisasi patela (Crossley et al., 2016) Neuromuscular control of quadriceps
Reactivation gluteus (Nadell, 2013, (Kooiker et al., 2014, Malliaras et al.,
Saggin and Dejour, 2015) 2015, Dimitrios et al., 2012)
194
Latihan otot sendi hip(Lack et al., 2015, Latihan Fleksibilitas Hamstring dan
Regelski et al., 2015) quadricep (Hrubes and Nicola, 2014,
Latihan quadriceps eksentrik (Malliaras Dimitrios et al., 2012)
et al., 2015, Dimitrios et al., 2012) Latihan Fleksibilitas IT- Band (Park et
Active ROM al., 2016, Gomaa and Zaky, 2015)
Latihan Kekuatan Sendi Ankle (Espí-
López et al., 2017)
Cardiovascular training(Keogh and
Winwood, 2017)
Fase 3 Fase 4
Terapi: Terapi :
Latihan Quadriceps progresiv Latihan Gerak Fungsional Dasar
Endurance training Olahraga (Hale et al., 2014, Feger et al.,
Flexibility exercise 2014, Hall et al., 2015)
Proprioceptive exercise(Araújo et al., Latihan Plyometric dan kelincahan
2016) (Keles et al., 2014, Winter et al., 2015,
Latihan Keseimbangan (Emery et al., Vriend et al., 2016)
2015, Steffen et al., 2013)
Referensi
Araújo, C. G. A., Shirabe, N., Shigaki, L., Macedo, C. S. G., Pereira, C. & Da Silva, R. A.
2016. Lower-Limb Muscle Activation During Five Sensory-Motor Exercises In Women
With Patellofemoral Pain Syndrome. Physical Therapy In Sport, 18, E4.
195
Bates, N. A., Nesbitt, R. J., Shearn, J. T., Myer, G. D. & Hewett, T. E. 2015. Relative Strain In
The Anterior Cruciate Ligament And Medial Collateral Ligament During Simulated
Jump Landing And Sidestep Cutting Tasks: Implications For Injury Risk. The
American Journal Of Sports Medicine, 43, 2259-2269.
Cabral, S., Resende, R. A., Clansey, A. C., Deluzio, K. J., Selbie, W. S. & Veloso, A. P. 2016.
A Global Gait Asymmetry Index. Journal Of Applied Biomechanics, 32, 171-177.
Collins, N. J., Misra, D., Felson, D. T., Crossley, K. M. & Roos, E. M. 2011. Measures Of Knee
Function: International Knee Documentation Committee (Ikdc) Subjective Knee Evaluation
Form, Knee Injury And Osteoarthritis Outcome Score (Koos), Knee Injury And
Osteoarthritis Outcome Score Physical Function Short Form (Koos‐ Ps), Knee Outcome
Survey Activities Of Daily Living Scale (Kos‐ Adl), Lysholm Knee Scoring Scale, Oxford
Knee Score (Oks), Western Ontario And Mcmaster Universities Osteoarthritis Index
(Womac), Activity Rating Scale (Ars), And Tegner Activity Score (Tas). Arthritis Care &
Research, 63.
Crossley, K. M., Van Middelkoop, M., Callaghan, M. J., Collins, N. J., Rathleff, M. S. &
Barton, C. J. 2016. 2016 Patellofemoral Pain Consensus Statement From The 4th
International Patellofemoral Pain Research Retreat, Manchester. Part 2: Recommended
Physical Interventions (Exercise, Taping, Bracing, Foot Orthoses And Combined
Interventions). Br J Sports Med, 50, 844-852.
Demirbüken, İ., Özyürek, S. & Angın, S. 2016. The Immediate Effect Of Patellar Tendon Strap
On Weight-Bearing Asymmetry During Squatting In Patients With Unilateral Knee
Osteoarthritis: A Pilot Study. Prosthetics And Orthotics International, 40, 682-688.
Dimitrios, S., Pantelis, M. & Kalliopi, S. 2012. Comparing The Effects Of Eccentric Training With
Eccentric Training And Static Stretching Exercises In The Treatment Of Patellar
Tendinopathy. A Controlled Clinical Trial. Clinical Rehabilitation, 26, 423-430.
Emery, C. A., Roy, T.-O., Whittaker, J. L., Nettel-Aguirre, A. & Van Mechelen, W. 2015.
Neuromuscular Training Injury Prevention Strategies In Youth Sport: A Systematic
Review And Meta-Analysis. Br J Sports Med, 49, 865-870.
Espí-López, G. V., Serra-Añó, P., Vicent-Ferrando, J., Sánchez-Moreno-Giner, M., Arias-Buría,
L., Cleland, J. & Fernández-De-Las-Peñas, C. 2017. Effectiveness Of Inclusion Of Dry
196
Needling Into A Multimodal Therapy Program For Patellofemoral Pain: A Randomized
Parallel-Group Trial. Journal Of Orthopaedic & Sports Physical Therapy, 1-43.
Feger, M. A., Donovan, L., Hart, J. M. & Hertel, J. 2014. Lower Extremity Muscle Activation
During Functional Exercises In Patients With And Without Chronic Ankle Instability.
Pm&R, 6, 602-611.
Gomaa, E. F. & Zaky, L. A. 2015. Effect Of Iliotibial Band Myofascial Release On Flexibility
And Patellar Alignment In Patients With Knee Osteoarthritis. J. Adv. Res., 3, 399-410.
Gribble, P. A., Hertel, J. & Plisky, P. 2012. Using The Star Excursion Balance Test To
Assess Dynamic Postural-Control Deficits And Outcomes In Lower Extremity Injury:
A Literature And Systematic Review. Journal Of Athletic Training, 47, 339-357.
Hale, S. A., Fergus, A., Axmacher, R. & Kiser, K. 2014. Bilateral Improvements In Lower
Extremity Function After Unilateral Balance Training In Individuals With Chronic Ankle
Instability. Journal Of Athletic Training, 49, 181-191.
Hall, E. A., Docherty, C. L., Simon, J., Kingma, J. J. & Klossner, J. C. 2015. Strength-Training
Protocols To Improve Deficits In Participants With Chronic Ankle Instability:
A Randomized Controlled Trial. Journal Of Athletic Training, 50, 36-44.
Hart, R., Safi, A., Jajtner, P., Puskeiler, M., Hartová, P. & Komzák, M. 2017. Tibiofemoral
Chondromalacia Treated With Platelet-Rich Plasma And Hyaluronic Acid. Current
Orthopaedic Practice, 28, 58-65.
Hegedus, E. J., Mcdonough, S. M., Bleakley, C., Baxter, D. & Cook, C. E. 2015. Clinician-
Friendly Lower Extremity Physical Performance Tests In Athletes: A Systematic Review
Of Measurement Properties And Correlation With Injury. Part 2—The Tests For The Hip,
Thigh, Foot And Ankle Including The Star Excursion Balance Test. Br J Sports Med, 49,
649-656.
Hrubes, M. & Nicola, T. L. 2014. Rehabilitation Of The Patellofemoral Joint. Clin Sports
Med, 33, 553-566.
Jeffriess, M. D., Schultz, A. B., Mcgann, T. S., Callaghan, S. J. & Lockie, R. G. 2015. Effects
Of Preventative Ankle Taping On Planned Change-Of-Direction And Reactive Agility
Performance And Ankle Muscle Activity In Basketballers. Journal Of Sports Science &
Medicine, 14, 864.
197
Keles, S., Sekir, U., Gur, H. & Akova, B. 2014. Eccentric/Concentric Training Of Ankle Evertor
And Dorsiflexors In Recreational Athletes: Muscle Latency And Strength. Scandinavian
Journal Of Medicine & Science In Sports, 24.
Keogh, J. W. & Winwood, P. W. 2017. The Epidemiology Of Injuries Across The Weight-
Training Sports. Sports Medicine, 47, 479-501.
Kooiker, L., Van De Port, I. G., Weir, A. & Moen, M. H. 2014. Effects Of Physical Therapist–
Guided Quadriceps-Strengthening Exercises For The Treatment Of Patellofemoral Pain
Syndrome: A Systematic Review. Journal Of Orthopaedic & Sports Physical Therapy,
44, 391-B1.
Lack, S., Barton, C., Sohan, O., Crossley, K. & Morrissey, D. 2015. Proximal Muscle
Rehabilitation Is Effective For Patellofemoral Pain: A Systematic Review With
Meta-Analysis. Br J Sports Med, Bjsports-2015-094723.
Lienhard, K., Lauermann, S., Schneider, D., Item-Glatthorn, J., Casartelli, N. & Maffiuletti,
N. 2013. Validity And Reliability Of Isometric, Isokinetic And Isoinertial Modalities
For The Assessment Of Quadriceps Muscle Strength In Patients With Total Knee
Arthroplasty. Journal Of Electromyography And Kinesiology, 23, 1283-1288.
Logan, C. A., O'brien, L. T. & Laprade, R. F. 2016. Post Operative Rehabilitation Of Grade Iii
Medial Collateral Ligament Injuries: Evidence Based Rehabilitation And Return To
Play. International Journal Of Sports Physical Therapy, 11, 1177-1190.
Malliaras, P., Cook, J., Purdam, C. & Rio, E. 2015. Patellar Tendinopathy: Clinical Diagnosis,
Load Management, And Advice For Challenging Case Presentations. Journal Of
Orthopaedic & Sports Physical Therapy, 45, 887-898.
Mcnair, P. J., Colvin, M. & Reid, D. 2011. Predicting Maximal Strength Of Quadriceps From
Submaximal Performance In Individuals With Knee Joint Osteoarthritis. Arthritis Care &
Research, 63, 216-222.
Melam, G. R., Alhusaini, A. A., Perumal, V., Buragadda, S. & Kaur, K. 2016. Comparison Of
Static And Dynamic Balance Between Football And Basketball Players With Chronic
Ankle Instability. Saudi Journal Of Sports Medicine, 16, 199.
Menzel, H.-J., Chagas, M. H., Szmuchrowski, L. A., Araujo, S. R., De Andrade, A. G. & De
Jesus-Moraleida, F. R. 2013. Analysis Of Lower Limb Asymmetries By Isokinetic And
198
Vertical Jump Tests In Soccer Players. The Journal Of Strength & Conditioning
Research, 27, 1370-1377.
Myers, B. A., Jenkins, W. L., Killian, C. & Rundquist, P. 2014. Normative Data For Hop Tests
In High School And Collegiate Basketball And Soccer Players. International Journal
Of Sports Physical Therapy, 9, 596-603.
Nadell, R. S. 2013. The Effects Of Different Warm-Up Modalities On Gluteus Medius Activation,
University Of Rhode Island.
Nimphius, S., Callaghan, S. J., Bezodis, N. E. & Lockie, R. G. 2017. Change Of Direction
And Agility Tests: Challenging Our Current Measures Of Performance. Strength &
Conditioning Journal.
Park, J.-H., Kang, S.-Y., Choung, S.-D., Jeon, H.-S. & Kwon, O.-Y. 2016. Effects Of Tibial
Rotation On Ober's Test And Patellar Tracking. The Knee, 23, 600-603.
Paterno, M. V., Schmitt, L. C., Ford, K. R., Rauh, M. J., Myer, G. D., Huang, B. & Hewett, T. E.
2010. Biomechanical Measures During Landing And Postural Stability Predict Second
Anterior Cruciate Ligament Injury After Anterior Cruciate Ligament Reconstruction And
Return To Sport. The American Journal Of Sports Medicine, 38, 1968-1978.
Plisky, P. J., Rauh, M. J., Kaminski, T. W. & Underwood, F. B. 2006. Star Excursion
Balance Test As A Predictor Of Lower Extremity Injury In High School Basketball
Players. Journal Of Orthopaedic & Sports Physical Therapy, 36, 911-919.
Recondo, J. A., Salvador, E., Villanúa, J. A., Barrera, M. C., Gervás, C. & Alústiza, J. M. 2000.
Lateral Stabilizing Structures Of The Knee: Functional Anatomy And Injuries Assessed
With Mr Imaging. Radiographics, 20, S91-S102.
Regelski, C. L., Ford, B. L. & Hoch, M. C. 2015. Hip Strengthening Compared With
Quadriceps Strengthening In Conservative Treatment Of Patients With Patellofemoral
Pain: A Critically Appraised Topic. International Journal Of Athletic Therapy And
Training, 20, 4-12.
Roach, C. J., Haley, C. A., Cameron, K. L., Pallis, M., Svoboda, S. J. & Owens, B. D. 2014. The
Epidemiology Of Medial Collateral Ligament Sprains In Young Athletes. The American
Journal Of Sports Medicine, 42, 1103-1109.
Saggin, P. R. F. & Dejour, D. 2015. Anterior Knee Pain In Football. Football Traumatology.
Springer.
199
Steffen, K., Emery, C. A., Romiti, M., Kang, J., Bizzini, M., Dvorak, J., Finch, C. F. &
Meeuwisse, W. H. 2013. High Adherence To A Neuromuscular Injury Prevention
Programme (Fifa 11+) Improves Functional Balance And Reduces Injury Risk In
Canadian Youth Female Football Players: A Cluster Randomised Trial. Br J Sports
Med, Bjsports-2012-091886.
Vriend, I., Gouttebarge, V., Van Mechelen, W. & Verhagen, E. 2016. Neuromuscular Training
Is Effective To Prevent Ankle Sprains In A Sporting Population: A Meta-Analysis
Translating Evidence Into Optimal Prevention Strategies. Journal Of Isakos: Joint
Disorders & Orthopaedic Sports Medicine, 1, 202-213.
Winter, T., Beck, H., Walther, A., Zwipp, H. & Rein, S. 2015. Influence Of A
Proprioceptive Training On Functional Ankle Stability In Young Speed Skaters–A
Prospective Randomised Study. Journal Of Sports Sciences, 33, 831-840.
200
Sprain Ligamen Krusiatum Anterior (ACL)
Judul :
Kode ICD
844.2
Kode ICF
b7151, b7101, b7301, b7401, b770, s75011, d9201
Kondisi Kesehatan
Pengertian
Sprain anterior cruciate ligament adalah robeknya dan putusnya ligamen anterior cruciate
ligament pada sendi lutut yang menghubungkan tulang tibia dan tulang femur. Anterior
cruciate ligament adalah salah satu ligament pada sendi lutut yang sering bermasalah pada
atlit yang menggunakan kaki sebagai tumpuan utama (Vavken and Murray, 2013).
Insidensi dan prevalensi
Insidensi cedera Anterior cruciate ligament pada populasi penduduk secara umum
di Amerika Serikat 1:3000, dimana secara gender wanita lebih banyak 2 – 8 kali
dibandingkan laki laki. Dan lebih banyak dialami pada populasi atlit olahraga
sekitar 80.000 sampai 250.000 setiap tahun (Mall et al., 2014)
Patologi dan patologi fungsional
Atlit dengan cedera anterior cruciate ligament sering dideskripsikan dengan suara
popping, diikuti nyeri langsung dan bengkak pada lutut. Adanya rasa tidak stabil pada lutut
dan juga disertai dengan terbatasnya dalam partisipasi pada aktivitas. Cedera anterior
cruciate ligament terjadi akibat kontak langsung dengan tungkai bawah dan berputar
dengan tekanan tertentu hingga menyebabkan kerobekan. Cedera traumatik hanya
mengakibatkan 30% dari cedera anterior cruciate ligament. Sedangkan cedera non
traumatik sebesar 70% yang teruama terjadi selama deselerasi dari ekstremitas bawah
dengan otot quadricep kontraksi maximal dan lutut dalam keadaan ekstensi penuh. Pada
cedera non traumatik , tekanan pada anterior cruciate ligament mirip dengan yang terjadi
dengan cedera traumatik. Ketika lutut dalam keadaan ekstensi penuh , kontraksi quadricep
meningkatkan tekanan pada anterior cruciate ligament. Hamstring, sebagai
201
penstabil posterior, mengalami minimal kontraksi selama terjadinya cedera (Agel et al.,
2016, Vavken and Murray, 2013).
Pemeriksaan
A.Anamnesis
Pembuktian Hipotesa Patologi Dan Patologi Fungsional
Pertanyaan untuk mengertahui apakah adanya trauma baik langsung maupun tidak
langsung pada sendi lutut pada saat gerakan hiper ekstensi dan terdengar suara popping
dan diikuti oleh terjadinya kondisi oedema.
Pemeriksaan klinis
Evidence Base Clinical Practise
Anterior Drawer Test
Lachmann Test
Pivot Shift Test
MRI
Pemeriksaan fisik
Inspeksi
a. Bengkak
Pemeriksaan Fisik Berdasarkan Bukti
Antropometrik lingkar sendi lutut
Lingkup gerak sendi
Keseimbangan
Kekuatan otot
D.Evaluasi
Pengukuran Objektif
Fase 1 Fase 2 Fase 3 Fase 4
aa. VAS/NRS q. VAS/NRS m. Tes kekuatan 1 q. 1 leg Vertical
bb. Antropometrik r. Antropometrik RM (McNair et Jump
cc. Lingkup gerak s. Simetris Gerak al., 2011, r. HOP TEST(Myers
sendi Fungsional Lienhard et al., et al., 2014,
dd. MMT (Cabral et al., 2013, Menzel et Hegedus et al.,
202
ee. International 2016, al., 2013) 2015)
Knee Demirbüken et n. Star Excursion s. T-TEST DRILL
Documentation al., 2016) Balance Test (Jeffriess et al.,
Committeee t. Stork test(Melam (SEBT)(Plisky 2015, Nimphius et
(IKDC) 2000 et al., 2016) et al., 2006, al., 2017)
(Collins et al., Gribble et al., t. HEXAGONAL
2011, Hart et al., 2012) TEST
2017) o. 2 leg Vertical DRILL(Jeffriess et
jump test al., 2015,
(Menzel et al., Nimphius et al.,
2013, Paterno et 2017, Melam et
al., 2010) al., 2016)
Outcome Measures
Tidak ada nyeri
KEKUATAN OTOT MINIMUM 95%
HOPTEST MINIMUM 95%
KESEIMBANGAN DINAMIS (SEBT) 95%
E.Diagnosa Fisioterapi
Berdasarkan ICF komplemen terhadap ICD
Adanya gangguan gerak dan fungsi pada sendi lutut yang diakibatkan robeknya
anterior cruciate ligament dengan penurunan mobilitas sendi, stabilitas sendi dan
fungsi otot pola gerak jalan dan lari koordinasi pada aktivitas olahraga.
Problema aktual dan potensial yang dijumpai
Bengkak
Rasa nyeri
Penurunan fungsi olahraga
203
Prognosis fungsional
Derajat 1: 4 minggu
Derajat 2: 5 minggu-3 bulan
Derajat 3 : 3 bulan – 12 bulan
Intervensi
ICF target (Body Functional and Body Structure impairment target,
disability target, dan enviromental target)
Fase 1: Fase 2:
Terapi : Terapi :
Kompres es/cryotherapy (van den Bekerom et al., Neuromuscular control of quadriceps
2012)
Mobilisasi patela (Crossley et al., 2016) (Kooiker et al., 2014, Malliaras et al.,
Neuromuscular Electrical Stimulation 2015, Dimitrios et al., 2012, Biggs et
(NMES) (Hasegawa et al., 2011) al., 2009, Palmieri-Smith et al., 2008)
204
Active ROM
Fase 3 Fase 4
Terapi: Terapi :
Latihan Quadriceps progresiv Latihan Gerak Fungsional Dasar
Endurance training Olahraga (Hale et al., 2014, Feger et al.,
Flexibility exercise 2014, Hall et al., 2015)
Proprioceptive exercise(Araújo et al., Latihan Plyometric dan kelincahan
2016) (Keles et al., 2014, Winter et al., 2015,
Latihan Keseimbangan (Emery et al., Vriend et al., 2016)
2015, Steffen et al., 2013) Latihan spesifik olahraga (Van
Grinsven et al., 2010, Brukner, 2012)
Agel, J., Rockwood, T. & Klossner, D. 2016. Collegiate Acl Injury Rates Across 15 Sports:
National Collegiate Athletic Association Injury Surveillance System Data Update (2004-
2005 Through 2012-2013). Clinical Journal Of Sport Medicine, 26, 518-523.
Araújo, C. G. A., Shirabe, N., Shigaki, L., Macedo, C. S. G., Pereira, C. & Da Silva, R. A.
2016. Lower-Limb Muscle Activation During Five Sensory-Motor Exercises In Women
With Patellofemoral Pain Syndrome. Physical Therapy In Sport, 18, E4.
Biggs, A., Jenkins, W. L., Urch, S. E. & Shelbourne, K. D. 2009. Rehabilitation For Patients
Following Acl Reconstruction: A Knee Symmetry Model. North American Journal Of
Sports Physical Therapy : Najspt, 4, 2-12.
Brukner, P. 2012. Brukner & Khan's Clinical Sports Medicine, Mcgraw-Hill North Ryde. Cabral, S.,
Resende, R. A., Clansey, A. C., Deluzio, K. J., Selbie, W. S. & Veloso, A. P. 2016. A
Global Gait Asymmetry Index. Journal Of Applied Biomechanics, 32, 171-177.
205
Collins, N. J., Misra, D., Felson, D. T., Crossley, K. M. & Roos, E. M. 2011. Measures Of Knee Function:
International Knee Documentation Committee (Ikdc) Subjective Knee Evaluation Form, Knee Injury
And Osteoarthritis Outcome Score (Koos), Knee Injury And Osteoarthritis Outcome Score Physical
Function Short Form (Koos‐ Ps), Knee Outcome Survey Activities Of Daily Living Scale (Kos‐
Adl), Lysholm Knee Scoring Scale, Oxford Knee Score (Oks), Western Ontario And Mcmaster
Universities Osteoarthritis Index (Womac), Activity Rating Scale (Ars), And Tegner Activity Score
(Tas). Arthritis Care & Research, 63.
Crossley, K. M., Van Middelkoop, M., Callaghan, M. J., Collins, N. J., Rathleff, M. S. &
Barton, C. J. 2016. 2016 Patellofemoral Pain Consensus Statement From The 4th
International Patellofemoral Pain Research Retreat, Manchester. Part 2: Recommended
Physical Interventions (Exercise, Taping, Bracing, Foot Orthoses And Combined
Interventions). Br J Sports Med, 50, 844-852.
Demirbüken, İ., Özyürek, S. & Angın, S. 2016. The Immediate Effect Of Patellar Tendon Strap
On Weight-Bearing Asymmetry During Squatting In Patients With Unilateral Knee
Osteoarthritis: A Pilot Study. Prosthetics And Orthotics International, 40, 682-688.
Dimitrios, S., Pantelis, M. & Kalliopi, S. 2012. Comparing The Effects Of Eccentric Training With
Eccentric Training And Static Stretching Exercises In The Treatment Of Patellar
Tendinopathy. A Controlled Clinical Trial. Clinical Rehabilitation, 26, 423-430.
Emery, C. A., Roy, T.-O., Whittaker, J. L., Nettel-Aguirre, A. & Van Mechelen, W. 2015.
Neuromuscular Training Injury Prevention Strategies In Youth Sport: A Systematic
Review And Meta-Analysis. Br J Sports Med, 49, 865-870.
Espí-López, G. V., Serra-Añó, P., Vicent-Ferrando, J., Sánchez-Moreno-Giner, M., Arias-Buría,
L., Cleland, J. & Fernández-De-Las-Peñas, C. 2017. Effectiveness Of Inclusion Of Dry
Needling Into A Multimodal Therapy Program For Patellofemoral Pain: A Randomized
Parallel-Group Trial. Journal Of Orthopaedic & Sports Physical Therapy, 1-43.
Feger, M. A., Donovan, L., Hart, J. M. & Hertel, J. 2014. Lower Extremity Muscle Activation
During Functional Exercises In Patients With And Without Chronic Ankle Instability.
Pm&R, 6, 602-611.
Gomaa, E. F. & Zaky, L. A. 2015. Effect Of Iliotibial Band Myofascial Release On Flexibility
And Patellar Alignment In Patients With Knee Osteoarthritis. J. Adv. Res., 3, 399-410.
Gribble, P. A., Hertel, J. & Plisky, P. 2012. Using The Star Excursion Balance Test To
Assess Dynamic Postural-Control Deficits And Outcomes In Lower Extremity Injury:
A Literature And Systematic Review. Journal Of Athletic Training, 47, 339-357.
Hale, S. A., Fergus, A., Axmacher, R. & Kiser, K. 2014. Bilateral Improvements In Lower
Extremity Function After Unilateral Balance Training In Individuals With Chronic Ankle
Instability. Journal Of Athletic Training, 49, 181-191.
Hall, E. A., Docherty, C. L., Simon, J., Kingma, J. J. & Klossner, J. C. 2015. Strength-Training
Protocols To Improve Deficits In Participants With Chronic Ankle Instability:
A Randomized Controlled Trial. Journal Of Athletic Training, 50, 36-44.
Hart, R., Safi, A., Jajtner, P., Puskeiler, M., Hartová, P. & Komzák, M. 2017. Tibiofemoral
Chondromalacia Treated With Platelet-Rich Plasma And Hyaluronic Acid. Current
Orthopaedic Practice, 28, 58-65.
Hasegawa, S., Kobayashi, M., Arai, R., Tamaki, A., Nakamura, T. & Moritani, T. 2011. Effect
Of Early Implementation Of Electrical Muscle Stimulation To Prevent Muscle Atrophy
206
And Weakness In Patients After Anterior Cruciate Ligament Reconstruction. Journal Of
Electromyography And Kinesiology, 21, 622-630.
Hegedus, E. J., Mcdonough, S. M., Bleakley, C., Baxter, D. & Cook, C. E. 2015. Clinician-
Friendly Lower Extremity Physical Performance Tests In Athletes: A Systematic Review
Of Measurement Properties And Correlation With Injury. Part 2—The Tests For The Hip,
Thigh, Foot And Ankle Including The Star Excursion Balance Test. Br J Sports Med, 49,
649-656.
Hrubes, M. & Nicola, T. L. 2014. Rehabilitation Of The Patellofemoral Joint. Clin Sports
Med, 33, 553-566.
Jeffriess, M. D., Schultz, A. B., Mcgann, T. S., Callaghan, S. J. & Lockie, R. G. 2015. Effects
Of Preventative Ankle Taping On Planned Change-Of-Direction And Reactive Agility
Performance And Ankle Muscle Activity In Basketballers. Journal Of Sports Science &
Medicine, 14, 864.
Keles, S., Sekir, U., Gur, H. & Akova, B. 2014. Eccentric/Concentric Training Of Ankle Evertor
And Dorsiflexors In Recreational Athletes: Muscle Latency And Strength. Scandinavian
Journal Of Medicine & Science In Sports, 24.
Keogh, J. W. & Winwood, P. W. 2017. The Epidemiology Of Injuries Across The Weight-
Training Sports. Sports Medicine, 47, 479-501.
Kooiker, L., Van De Port, I. G., Weir, A. & Moen, M. H. 2014. Effects Of Physical Therapist–
Guided Quadriceps-Strengthening Exercises For The Treatment Of Patellofemoral Pain
Syndrome: A Systematic Review. Journal Of Orthopaedic & Sports Physical Therapy,
44, 391-B1.
Kruse, L., Gray, B. & Wright, R. 2012. Rehabilitation After Anterior Cruciate Ligament
Reconstruction: A Systematic Review. The Journal Of Bone And Joint Surgery.
American Volume, 94, 1737.
Lack, S., Barton, C., Sohan, O., Crossley, K. & Morrissey, D. 2015. Proximal Muscle
Rehabilitation Is Effective For Patellofemoral Pain: A Systematic Review With
Meta-Analysis. Br J Sports Med, Bjsports-2015-094723.
Lienhard, K., Lauermann, S., Schneider, D., Item-Glatthorn, J., Casartelli, N. & Maffiuletti,
N. 2013. Validity And Reliability Of Isometric, Isokinetic And Isoinertial Modalities
For The Assessment Of Quadriceps Muscle Strength In Patients With Total Knee
Arthroplasty. Journal Of Electromyography And Kinesiology, 23, 1283-1288.
Lorenz, D. & Reiman, M. 2011. The Role And Implementation Of Eccentric Training In Athletic
Rehabilitation: Tendinopathy, Hamstring Strains, And Acl Reconstruction. International
Journal Of Sports Physical Therapy, 6, 27.
Mall, N. A., Chalmers, P. N., Moric, M., Tanaka, M. J., Cole, B. J., Bach Jr, B. R. & Paletta Jr,
G. A. 2014. Incidence And Trends Of Anterior Cruciate Ligament Reconstruction In
The United States. The American Journal Of Sports Medicine, 42, 2363-2370.
Malliaras, P., Cook, J., Purdam, C. & Rio, E. 2015. Patellar Tendinopathy: Clinical Diagnosis,
Load Management, And Advice For Challenging Case Presentations. Journal Of
Orthopaedic & Sports Physical Therapy, 45, 887-898.
Mcnair, P. J., Colvin, M. & Reid, D. 2011. Predicting Maximal Strength Of Quadriceps From
Submaximal Performance In Individuals With Knee Joint Osteoarthritis. Arthritis Care &
Research, 63, 216-222.
207
Melam, G. R., Alhusaini, A. A., Perumal, V., Buragadda, S. & Kaur, K. 2016. Comparison Of
Static And Dynamic Balance Between Football And Basketball Players With Chronic
Ankle Instability. Saudi Journal Of Sports Medicine, 16, 199.
Menzel, H.-J., Chagas, M. H., Szmuchrowski, L. A., Araujo, S. R., De Andrade, A. G. & De
Jesus-Moraleida, F. R. 2013. Analysis Of Lower Limb Asymmetries By Isokinetic
And Vertical Jump Tests In Soccer Players. The Journal Of Strength & Conditioning
Research, 27, 1370-1377.
Myers, B. A., Jenkins, W. L., Killian, C. & Rundquist, P. 2014. Normative Data For Hop Tests
In High School And Collegiate Basketball And Soccer Players. International Journal
Of Sports Physical Therapy, 9, 596-603.
Nadell, R. S. 2013. The Effects Of Different Warm-Up Modalities On Gluteus Medius Activation,
University Of Rhode Island.
Nimphius, S., Callaghan, S. J., Bezodis, N. E. & Lockie, R. G. 2017. Change Of Direction
And Agility Tests: Challenging Our Current Measures Of Performance. Strength &
Conditioning Journal.
Palmieri-Smith, R. M., Thomas, A. C. & Wojtys, E. M. 2008. Maximizing Quadriceps
Strength After Acl Reconstruction. Clinics In Sports Medicine, 27, 405-424.
Park, J.-H., Kang, S.-Y., Choung, S.-D., Jeon, H.-S. & Kwon, O.-Y. 2016. Effects Of Tibial
Rotation On Ober's Test And Patellar Tracking. The Knee, 23, 600-603.
Paterno, M. V., Schmitt, L. C., Ford, K. R., Rauh, M. J., Myer, G. D., Huang, B. & Hewett, T. E.
2010. Biomechanical Measures During Landing And Postural Stability Predict Second
Anterior Cruciate Ligament Injury After Anterior Cruciate Ligament Reconstruction And
Return To Sport. The American Journal Of Sports Medicine, 38, 1968-1978.
Plisky, P. J., Rauh, M. J., Kaminski, T. W. & Underwood, F. B. 2006. Star Excursion
Balance Test As A Predictor Of Lower Extremity Injury In High School Basketball
Players. Journal Of Orthopaedic & Sports Physical Therapy, 36, 911-919.
Regelski, C. L., Ford, B. L. & Hoch, M. C. 2015. Hip Strengthening Compared With
Quadriceps Strengthening In Conservative Treatment Of Patients With Patellofemoral
Pain: A Critically Appraised Topic. International Journal Of Athletic Therapy And
Training, 20, 4-12.
Saggin, P. R. F. & Dejour, D. 2015. Anterior Knee Pain In Football. Football Traumatology.
Springer.
Steffen, K., Emery, C. A., Romiti, M., Kang, J., Bizzini, M., Dvorak, J., Finch, C. F. &
Meeuwisse, W. H. 2013. High Adherence To A Neuromuscular Injury Prevention
Programme (Fifa 11+) Improves Functional Balance And Reduces Injury Risk In
Canadian Youth Female Football Players: A Cluster Randomised Trial. Br J Sports
Med, Bjsports-2012-091886.
Tagesson, S., Öberg, B., Good, L. & Kvist, J. 2008. A Comprehensive Rehabilitation Program
With Quadriceps Strengthening In Closed Versus Open Kinetic Chain Exercise In
Patients With Anterior Cruciate Ligament Deficiency: A Randomized Clinical Trial
Evaluating Dynamic Tibial Translation And Muscle Function. The American Journal Of
Sports Medicine, 36, 298-307.
Van Den Bekerom, M. P. J., Struijs, P. A. A., Blankevoort, L., Welling, L., Van Dijk, C. N.
& Kerkhoffs, G. M. M. J. 2012. What Is The Evidence For Rest, Ice, Compression,
And Elevation Therapy In The Treatment Of Ankle Sprains In Adults? Journal Of
Athletic Training, 47, 435-443.
208
Van Grinsven, S., Van Cingel, R., Holla, C. & Van Loon, C. 2010. Evidence-Based
Rehabilitation Following Anterior Cruciate Ligament Reconstruction. Knee Surgery,
Sports Traumatology, Arthroscopy, 18, 1128-1144.
Vavken, P. & Murray, M. M. 2013. Acl Injury Epidemiology. The Acl Handbook. Springer. Vriend,
I., Gouttebarge, V., Van Mechelen, W. & Verhagen, E. 2016. Neuromuscular Training Is
Effective To Prevent Ankle Sprains In A Sporting Population: A Meta-Analysis
Translating Evidence Into Optimal Prevention Strategies. Journal Of Isakos:
Joint Disorders & Orthopaedic Sports Medicine, 1, 202-213.
Winter, T., Beck, H., Walther, A., Zwipp, H. & Rein, S. 2015. Influence Of A
Proprioceptive Training On Functional Ankle Stability In Young Speed Skaters–A
Prospective Randomised Study. Journal Of Sports Sciences, 33, 831-840.
Wright, R. W., Preston, E., Fleming, B. C., Amendola, A., Andrish, J. T., Bergfeld, J. A.,
Dunn, W. R., Kaeding, C., Kuhn, J. E. & Marx, R. G. 2008. A Systematic Review Of
Anterior Cruciate Ligament Reconstruction Rehabilitation–Part I: Continuous Passive
Motion, Early Weight Bearing, Postoperative Bracing, And Home-Based
Rehabilitation. The Journal Of Knee Surgery, 21, 217-224.
Yabroudi, M. A. & Irrgang, J. J. 2013. Rehabilitation And Return To Play After Anatomic
Anterior Cruciate Ligament Reconstruction. Clinics In Sports Medicine, 32, 165-175.
209
Sprain Ligamen Krusiatum Posterior (PCL)
Judul : Sprain Ligamen Krusiatum Posterior
Kode ICD
844.2
Kode ICF
b7151, b7101, b7301, b7401, b770, s75011, d9201
Kondisi Kesehatan
Pengertian
Sprain posterior cruciate ligament adalah cedera yang terjadi akibat adanya kesalahan
dalam menumpu dan mendarat menggunakan sendi lutut saat berolahraga. Namun,
mekanisme yang paling umum dari Sprain Posterior cruciate ligament adalah dikarenakan
kecelakaan kendaraan bermotor. Hal ini biasanya disebut dashboard injury akibat
membentur tibia ke dashboard setelah berhenti mendadak atau dampak mendorong tibia
posterior ketika lutut fleksi (BROPHY, 2016, Seon et al., 2017)
Insidensi dan prevalensi
Rasio kejadian cedera PCL pada pria dan wanita 66,7% berbanding 33,3%. Sprain PCL
sering terjadi dalam cabang olahraga sepak bola 13,1% (Owesen et al., 2017, Okazaki et
al., 2015).
Patologi dan patologi fungsional
Pasien dengan cedera posterior cruciate ligament sering disebabkan oleh trauma langsung
pada bagian proksimal tibia dengan kaki dalam keadaan plantar fleksi dan juga bisa
disebabkan tekanan langsung dari arah bawah ke arah tungkai atas dengan lutut dalam
keadaan hiperfleksi. Cedera hiperekstensi parah sering dikaitkan dengan posterior cruciate
ligament dan cedera posterior capsules Setelah robeknya anterior cruciate ligament
(ACL). cedera posterior cruciate ligament sering disertai eksternal rotasi sendi lutut dan
posteromedial varus, trauma langsung menyebabkan antara gerak varus dan eksternal
rotasi sendi lutut mengalami ketidak stabilan (Giffin et al., 2007, Li et al., 2008, Owesen
et al., 2017).
210
Pemeriksaan
A.Anamnesis
Pembuktian Hipotesa Patologi Dan Patologi Fungsional
Pertanyaan untuk mengertahui apakah adanya trauma baik langsung maupun tidak
langsung pada sendi lutut pada saat gerakan hiper fleksi dan diikuti oleh terjadinya
kondisi oedema dan apakah ada kondisi gerak berhenti mendadak pada sendi lutut yang
mengakibatkan terdorongnya tibia ke arah posterior ketika posisi sendi lutut ke arah
fleksi.
Pemeriksaan klinis
Evidence Base Clinical Practise
Posterior Drawer Test
MRI
Pemeriksaan fisik
Inspeksi
Bengkak
Pemeriksaan Fisik Berdasarkan Bukti
Antropometrik lingkar sendi lutut
Lingkup gerak sendi
Keseimbangan
Kekuatan otot
D.Evaluasi
Pengukuran Objektif
Fase 1 Fase 2 Fase 3 Fase 4
ff. VAS/NRS u. VAS/NRS p. Tes kekuatan 1 u. 1 leg Vertical
gg. Antropometrik v. Antropometrik RM (McNair et Jump
hh. Lingkup gerak w. Simetris Gerak al., 2011,v. HOP TEST(Myers
sendi Fungsional Lienhard et al., et al., 2014,
ii. MMT (Cabral et al., 2013, Menzel et Hegedus et al.,
jj. International 2016, al., 2013) 2015)
Knee Demirbüken et q. Star Excursion w. T-TEST DRILL
Documentation al., 2016) Balance Test (Jeffriess et al.,
211
Committeee x. Stork test(Melam (SEBT)(Plisky 2015, Nimphius et
(IKDC) 2000 et al., 2016) et al., 2006, al., 2017)
(Collins et al., Gribble et al., x. HEXAGONAL
2011, Hart et al., 2012) TEST
2017) r. 2 leg Vertical DRILL(Jeffriess et
jump test al., 2015,
(Menzel et al., Nimphius et al.,
2013, Paterno et 2017, Melam et
al., 2010) al., 2016)
Outcome Measures
Tidak ada nyeri
KEKUATAN OTOT MINIMUM 95%
HOPTEST MINIMUM 95%
KESEIMBANGAN DINAMIS (SEBT) 95%
E.Diagnosa Fisioterapi
Berdasarkan ICF komplemen terhadap ICD
Adanya gangguan gerak dan fungsi pada sendi lutut yang diakibatkan robeknya
anterior cruciate ligament dengan penurunan mobilitas sendi, stabilitas sendi dan
fungsi otot pola gerak jalan dan lari koordinasi pada aktivitas olahraga.
2.Problema aktual dan potensial yang dijumpai
Bengkak
Rasa nyeri
Penurunan fungsi olahraga
F.Prognosis fungsional
Derajat 1: 4 minggu
Derajat 2: 5 minggu-3 bulan
Derajat 3 : 3 bulan – 12 bulan
212
Intervensi
A. ICF target (Body Functional and Body Structure impairment target, disability
target, dan enviromental target)
Fase 1: Fase 2:
Terapi : Terapi :
Kompres es/cryotherapy (van den Bekerom Neuromuscular control of quadriceps
et al., 2012) (Kooiker et al., 2014, Malliaras et al.,
Mobilisasi patela (Crossley et al., 2016) 2015, Dimitrios et al., 2012, Biggs et al.,
Neuromuscular Electrical Stimulation 2009, Palmieri-Smith et al., 2008)
(NMES) (Hasegawa et al., 2011) Latihan quadricep Closed Chain dan
Reactivation gluteus (Nadell, 2013, Saggin open Chain (Tagesson et al., 2008,
and Dejour, 2015) Yabroudi and Irrgang, 2013, Cavanaugh
Latihan otot sendi hip(Lack et al., 2015, et al., 2015, Lynch et al., 2017)
Regelski et al., 2015) Latihan kekuatan hamstring (Lorenz
Latihan quadriceps (Malliaras et al., 2015, and Reiman, 2011, Kruse et al., 2012)
Dimitrios et al., 2012) Latihan Fleksibilitas Hamstring dan
Latihan Keseimbangan (Emery et al., 2015, quadricep (Hrubes and Nicola, 2014,
Steffen et al., 2013, Wright et al., 2008) Dimitrios et al., 2012)
Active ROM Latihan Fleksibilitas IT- Band (Park et
al., 2016, Gomaa and Zaky, 2015)
Latihan Kekuatan Sendi Ankle (Espí-
López et al., 2017)
Cardiovascular training(Keogh and
Winwood, 2017)
Latihan Keseimbangan (Emery et al.,
2015, Steffen et al., 2013, Wright et al.,
2008, Puh et al., 2014)
Active ROM
213
Fase 3 Fase 4
Terapi: Terapi :
Latihan Quadriceps progresiv Latihan Gerak Fungsional Dasar
Endurance training Olahraga (Hale et al., 2014, Feger et al.,
Flexibility exercise 2014, Hall et al., 2015)
Proprioceptive exercise(Araújo et al., Latihan Plyometric dan kelincahan
2016, Saha et al., 2015) (Keles et al., 2014, Winter et al., 2015,
Latihan Keseimbangan (Emery et al., Vriend et al., 2016)
2015, Steffen et al., 2013) Latihan spesifik olahraga (Van
Grinsven et al., 2010, Brukner, 2012)
214
Ontario And Mcmaster Universities Osteoarthritis Index (Womac), Activity Rating Scale (Ars),
And Tegner Activity Score (Tas). Arthritis Care & Research, 63.
Crossley, K. M., Van Middelkoop, M., Callaghan, M. J., Collins, N. J., Rathleff, M. S. & Barton, C. J.
2016. 2016 Patellofemoral Pain Consensus Statement From The 4th International Patellofemoral
Pain Research Retreat, Manchester. Part 2: Recommended Physical Interventions (Exercise,
Taping, Bracing, Foot Orthoses And Combined Interventions). Br J Sports Med, 50, 844-852.
Demirbüken, İ., Özyürek, S. & Angın, S. 2016. The Immediate Effect Of Patellar Tendon Strap On
Weight-Bearing Asymmetry During Squatting In Patients With Unilateral Knee Osteoarthritis: A
Pilot Study. Prosthetics And Orthotics International, 40, 682-688.
Dimitrios, S., Pantelis, M. & Kalliopi, S. 2012. Comparing The Effects Of Eccentric Training With
Eccentric Training And Static Stretching Exercises In The Treatment Of Patellar
Tendinopathy. A Controlled Clinical Trial. Clinical Rehabilitation, 26, 423-430.
Emery, C. A., Roy, T.-O., Whittaker, J. L., Nettel-Aguirre, A. & Van Mechelen, W. 2015.
Neuromuscular Training Injury Prevention Strategies In Youth Sport: A Systematic Review And
Meta-Analysis. Br J Sports Med, 49, 865-870.
Espí-López, G. V., Serra-Añó, P., Vicent-Ferrando, J., Sánchez-Moreno-Giner, M., Arias-Buría, J. L.,
Cleland, J. & Fernández-De-Las-Peñas, C. 2017. Effectiveness Of Inclusion Of Dry Needling
Into A Multimodal Therapy Program For Patellofemoral Pain: A Randomized Parallel-Group
Trial. Journal Of Orthopaedic & Sports Physical Therapy, 1-43.
Feger, M. A., Donovan, L., Hart, J. M. & Hertel, J. 2014. Lower Extremity Muscle Activation During
Functional Exercises In Patients With And Without Chronic Ankle Instability. Pm&R, 6, 602-
611.
Giffin, J. R., Stabile, K. J., Zantop, T., Vogrin, T. M., Woo, S. L. & Harner, C. D. 2007. Importance Of
Tibial Slope For Stability Of The Posterior Cruciate Ligament—Deficient Knee. The American
Journal Of Sports Medicine, 35, 1443-1449.
Gomaa, E. F. & Zaky, L. A. 2015. Effect Of Iliotibial Band Myofascial Release On Flexibility
And Patellar Alignment In Patients With Knee Osteoarthritis. J. Adv. Res., 3, 399-410.
Gribble, P. A., Hertel, J. & Plisky, P. 2012. Using The Star Excursion Balance Test To Assess Dynamic
Postural-Control Deficits And Outcomes In Lower Extremity Injury: A Literature And
Systematic Review. Journal Of Athletic Training, 47, 339-357.
Hale, S. A., Fergus, A., Axmacher, R. & Kiser, K. 2014. Bilateral Improvements In Lower Extremity
Function After Unilateral Balance Training In Individuals With Chronic Ankle Instability.
Journal Of Athletic Training, 49, 181-191.
Hall, E. A., Docherty, C. L., Simon, J., Kingma, J. J. & Klossner, J. C. 2015. Strength-Training Protocols
To Improve Deficits In Participants With Chronic Ankle Instability: A Randomized Controlled
Trial. Journal Of Athletic Training, 50, 36-44.
Hart, R., Safi, A., Jajtner, P., Puskeiler, M., Hartová, P. & Komzák, M. 2017. Tibiofemoral
Chondromalacia Treated With Platelet-Rich Plasma And Hyaluronic Acid. Current
Orthopaedic Practice, 28, 58-65.
Hasegawa, S., Kobayashi, M., Arai, R., Tamaki, A., Nakamura, T. & Moritani, T. 2011. Effect Of Early
Implementation Of Electrical Muscle Stimulation To Prevent Muscle Atrophy And Weakness In
Patients After Anterior Cruciate Ligament Reconstruction. Journal Of Electromyography And
Kinesiology, 21, 622-630.
Hegedus, E. J., Mcdonough, S. M., Bleakley, C., Baxter, D. & Cook, C. E. 2015. Clinician-Friendly
Lower Extremity Physical Performance Tests In Athletes: A Systematic Review Of Measurement
Properties And Correlation With Injury. Part 2—The Tests For The Hip, Thigh, Foot And Ankle
Including The Star Excursion Balance Test. Br J Sports Med, 49, 649-656.
Hrubes, M. & Nicola, T. L. 2014. Rehabilitation Of The Patellofemoral Joint. Clin Sports Med, 33, 553-
566.
215
Jeffriess, M. D., Schultz, A. B., Mcgann, T. S., Callaghan, S. J. & Lockie, R. G. 2015. Effects Of
Preventative Ankle Taping On Planned Change-Of-Direction And Reactive Agility Performance
And Ankle Muscle Activity In Basketballers. Journal Of Sports Science & Medicine, 14, 864.
Keles, S., Sekir, U., Gur, H. & Akova, B. 2014. Eccentric/Concentric Training Of Ankle Evertor And
Dorsiflexors In Recreational Athletes: Muscle Latency And Strength. Scandinavian Journal Of
Medicine & Science In Sports, 24.
Keogh, J. W. & Winwood, P. W. 2017. The Epidemiology Of Injuries Across The Weight-Training
Sports. Sports Medicine, 47, 479-501.
Kooiker, L., Van De Port, I. G., Weir, A. & Moen, M. H. 2014. Effects Of Physical Therapist–Guided
Quadriceps-Strengthening Exercises For The Treatment Of Patellofemoral Pain Syndrome: A
Systematic Review. Journal Of Orthopaedic & Sports Physical Therapy, 44, 391-B1.
Kruse, L., Gray, B. & Wright, R. 2012. Rehabilitation After Anterior Cruciate Ligament Reconstruction:
A Systematic Review. The Journal Of Bone And Joint Surgery. American Volume, 94, 1737.
Lack, S., Barton, C., Sohan, O., Crossley, K. & Morrissey, D. 2015. Proximal Muscle Rehabilitation Is
Effective For Patellofemoral Pain: A Systematic Review With Meta-Analysis. Br J Sports Med,
Bjsports-2015-094723.
Li, G., Papannagari, R., Li, M., Bingham, J., Nha, K. W., Allred, D. & Gill, T. 2008. Effect Of Posterior
Cruciate Ligament Deficiency On In Vivo Translation And Rotation Of The Knee During
Weightbearing Flexion. The American Journal Of Sports Medicine, 36, 474-479.
Lienhard, K., Lauermann, S., Schneider, D., Item-Glatthorn, J., Casartelli, N. & Maffiuletti, N. 2013.
Validity And Reliability Of Isometric, Isokinetic And Isoinertial Modalities For The Assessment
Of Quadriceps Muscle Strength In Patients With Total Knee Arthroplasty. Journal Of
Electromyography And Kinesiology, 23, 1283-1288.
Lorenz, D. & Reiman, M. 2011. The Role And Implementation Of Eccentric Training In Athletic
Rehabilitation: Tendinopathy, Hamstring Strains, And Acl Reconstruction. International Journal
Of Sports Physical Therapy, 6, 27.
Lynch, A. D., Chmielewski, T., Bailey, L., Stuart, M., Cooper, J., Coady, C., Sgroi, T., Owens, J.,
Schenck, R. & Whelan, D. 2017. Current Concepts And Controversies In Rehabilitation After
Surgery For Multiple Ligament Knee Injury. Current Reviews In Musculoskeletal Medicine,
10, 328-345.
Malliaras, P., Cook, J., Purdam, C. & Rio, E. 2015. Patellar Tendinopathy: Clinical Diagnosis, Load
Management, And Advice For Challenging Case Presentations. Journal Of Orthopaedic & Sports
Physical Therapy, 45, 887-898.
Mcnair, P. J., Colvin, M. & Reid, D. 2011. Predicting Maximal Strength Of Quadriceps From
Submaximal Performance In Individuals With Knee Joint Osteoarthritis. Arthritis Care
& Research, 63, 216-222.
Melam, G. R., Alhusaini, A. A., Perumal, V., Buragadda, S. & Kaur, K. 2016. Comparison Of Static
And Dynamic Balance Between Football And Basketball Players With Chronic Ankle
Instability. Saudi Journal Of Sports Medicine, 16, 199.
Menzel, H.-J., Chagas, M. H., Szmuchrowski, L. A., Araujo, S. R., De Andrade, A. G. & De Jesus-
Moraleida, F. R. 2013. Analysis Of Lower Limb Asymmetries By Isokinetic And Vertical Jump
Tests In Soccer Players. The Journal Of Strength & Conditioning Research, 27, 1370-1377.
Myers, B. A., Jenkins, W. L., Killian, C. & Rundquist, P. 2014. Normative Data For Hop Tests In High
School And Collegiate Basketball And Soccer Players. International Journal Of Sports Physical
Therapy, 9, 596-603.
Nadell, R. S. 2013. The Effects Of Different Warm-Up Modalities On Gluteus Medius Activation,
University Of Rhode Island.
Nimphius, S., Callaghan, S. J., Bezodis, N. E. & Lockie, R. G. 2017. Change Of Direction And Agility
Tests: Challenging Our Current Measures Of Performance. Strength & Conditioning Journal.
Okazaki, K., Takayama, Y., Osaki, K., Matsuo, Y., Mizu-Uchi, H., Hamai, S., Honda, H. & Iwamoto, Y.
2015. Subclinical Cartilage Degeneration In Young Athletes With Posterior Cruciate Ligament
216
Injuries Detected With T1ρ Magnetic Resonance Imaging Mapping. Knee Surgery,
Sports Traumatology, Arthroscopy, 23, 3094-3100.
Owesen, C., Sandven-Thrane, S., Lind, M., Forssblad, M., Granan, L.-P. & Årøen, A. 2017.
Epidemiology Of Surgically Treated Posterior Cruciate Ligament Injuries In Scandinavia.
Knee Surgery, Sports Traumatology, Arthroscopy, 25, 2384-2391.
Palmieri-Smith, R. M., Thomas, A. C. & Wojtys, E. M. 2008. Maximizing Quadriceps Strength After Acl
Reconstruction. Clinics In Sports Medicine, 27, 405-424.
Park, J.-H., Kang, S.-Y., Choung, S.-D., Jeon, H.-S. & Kwon, O.-Y. 2016. Effects Of Tibial Rotation On
Ober's Test And Patellar Tracking. The Knee, 23, 600-603.
Paterno, M. V., Schmitt, L. C., Ford, K. R., Rauh, M. J., Myer, G. D., Huang, B. & Hewett, T. E. 2010.
Biomechanical Measures During Landing And Postural Stability Predict Second Anterior
Cruciate Ligament Injury After Anterior Cruciate Ligament Reconstruction And Return To Sport.
The American Journal Of Sports Medicine, 38, 1968-1978.
Plisky, P. J., Rauh, M. J., Kaminski, T. W. & Underwood, F. B. 2006. Star Excursion Balance Test As A
Predictor Of Lower Extremity Injury In High School Basketball Players. Journal Of Orthopaedic
& Sports Physical Therapy, 36, 911-919.
Puh, U., Majcen, N., Hlebš, S. & Rugelj, D. 2014. Effects Of Wii Balance Board Exercises On
Balance After Posterior Cruciate Ligament Reconstruction. Knee Surgery, Sports
Traumatology, Arthroscopy, 22, 1124-1130.
Regelski, C. L., Ford, B. L. & Hoch, M. C. 2015. Hip Strengthening Compared With Quadriceps
Strengthening In Conservative Treatment Of Patients With Patellofemoral Pain: A Critically
Appraised Topic. International Journal Of Athletic Therapy And Training, 20, 4-12.
Saggin, P. R. F. & Dejour, D. 2015. Anterior Knee Pain In Football. Football Traumatology. Springer.
Saha, S., Adhya, B., Dhillon, M. & Saini, A. 2015. A Study On The Role Of Proprioceptive Training In
Non Operative Acl Injury Rehabilitation. Quadriceps Femoris Strength Training: Effect Of
Neuromuscular Electrical Stimulation Vs Isometric Exercise In Osteoarthritis Of Knee, 9, 3232.
Seon, J., Lee, D., Yeo, J. & Song, E. 2017. Comparison Of Function And Stability Between Conservative
Treatment And Reconstruction For Isolated Posterior Cruciate Ligament Injury. Asia-Pacific
Journal Of Sports Medicine, Arthroscopy, Rehabilitation And Technology, 9, 50.
Steffen, K., Emery, C. A., Romiti, M., Kang, J., Bizzini, M., Dvorak, J., Finch, C. F. & Meeuwisse, W.
H. 2013. High Adherence To A Neuromuscular Injury Prevention Programme (Fifa 11+)
Improves Functional Balance And Reduces Injury Risk In Canadian Youth Female Football
Players: A Cluster Randomised Trial. Br J Sports Med, Bjsports-2012-091886.
Tagesson, S., Öberg, B., Good, L. & Kvist, J. 2008. A Comprehensive Rehabilitation Program With
Quadriceps Strengthening In Closed Versus Open Kinetic Chain Exercise In Patients With Anterior
Cruciate Ligament Deficiency: A Randomized Clinical Trial Evaluating Dynamic Tibial Translation
And Muscle Function. The American Journal Of Sports Medicine, 36, 298-307.
Van Den Bekerom, M. P. J., Struijs, P. A. A., Blankevoort, L., Welling, L., Van Dijk, C. N. & Kerkhoffs,
G. M. M. J. 2012. What Is The Evidence For Rest, Ice, Compression, And Elevation Therapy In
The Treatment Of Ankle Sprains In Adults? Journal Of Athletic Training, 47, 435-443.
Van Grinsven, S., Van Cingel, R., Holla, C. & Van Loon, C. 2010. Evidence-Based Rehabilitation
Following Anterior Cruciate Ligament Reconstruction. Knee Surgery, Sports Traumatology,
Arthroscopy, 18, 1128-1144.
Vriend, I., Gouttebarge, V., Van Mechelen, W. & Verhagen, E. 2016. Neuromuscular Training Is
Effective To Prevent Ankle Sprains In A Sporting Population: A Meta-Analysis Translating
Evidence Into Optimal Prevention Strategies. Journal Of Isakos: Joint Disorders & Orthopaedic
Sports Medicine, 1, 202-213.
Winter, T., Beck, H., Walther, A., Zwipp, H. & Rein, S. 2015. Influence Of A Proprioceptive Training
On Functional Ankle Stability In Young Speed Skaters–A Prospective Randomised Study.
Journal Of Sports Sciences, 33, 831-840.
217
Wright, R. W., Preston, E., Fleming, B. C., Amendola, A., Andrish, J. T., Bergfeld, J. A., Dunn, W. R.,
Kaeding, C., Kuhn, J. E. & Marx, R. G. 2008. A Systematic Review Of Anterior Cruciate
Ligament Reconstruction Rehabilitation–Part I: Continuous Passive Motion, Early Weight
Bearing, Postoperative Bracing, And Home-Based Rehabilitation. The Journal Of Knee Surgery,
21, 217-224.
Yabroudi, M. A. & Irrgang, J. J. 2013. Rehabilitation And Return To Play After Anatomic
Anterior Cruciate Ligament Reconstruction. Clinics In Sports Medicine, 32, 165-175.
218
Cedera Meniskus
219
Thessaly test
MRI
Pemeriksaan fisik
Inspeksi
Bengkak
Sendi lutut mengunci 30o
Pemeriksaan Fisik Berdasarkan Bukti
Antropometrik
Lingkup gerak sendi
Keseimbangan
MMT
Evaluasi
1.Pengukuran Objektif
Fase 1 Fase 2 Fase 3 Fase 4
kk. VAS/NRS y. VAS/NRS s. Tes kekuatan 1 y. 1 leg Vertical
ll. Antropometrik z. Antropometrik RM (McNair et Jump
mm. Lingkup aa. Simetris Gerak al., 2011, z. HOP TEST(Myers
gerak sendi Fungsional Lienhard et al., et al., 2014,
nn. MMT (Cabral et al., 2013, Menzel et Hegedus et al.,
oo. International 2016, al., 2013) 2015)
Knee Demirbüken et t. Star Excursion aa. T-TEST DRILL
Documentation al., 2016) Balance Test (Jeffriess et al.,
Committeee bb. Stork test(Melam (SEBT)(Plisky 2015, Nimphius et
(IKDC) 2000 et al., 2016) et al., 2006, al., 2017)
(Collins et al., Gribble et al., bb. HEXAGONAL
2011, Hart et al., 2012) TEST
2017) u. 2 leg Vertical DRILL(Jeffriess et
jump test al., 2015,
(Menzel et al., Nimphius et al.,
2013, Paterno 2017, Melam et
et al., 2010) al., 2016)
220
Outcome Measures return to sport
Tidak ada nyeri
KEKUATAN OTOT MINIMUM 95%
HOPTEST MINIMUM 95%
KESEIMBANGAN DINAMIS (SEBT) 95%
Diagnosa Fisioterapi
Berdasarkan ICF komplemen terhadap ICD
Adanya gangguan gerak dan fungsi pada sendi lutut yang diakibatkan oleh
robeknya meniskus dengan penurunan mobilitas sendi, stabilitas sendi, fungsi otot,
pola gerak jalan dan lari, dan koordinasi pada aktivitas olahraga.
Problema aktual dan potensial yang dijumpai
Bengkak
Rasa nyeri
Penurunan fungsi olahraga
Prognosis fungsional
Derajat Ringan 5-7 minggu
Derajat berat 2-3 bulan
Intervensi
ICF target (Body Functional and Body Structure impairment target,
disability target, dan enviromental target)
Fase 1: Fase 2:
Terapi : Terapi :
Kompres es/cryotherapy (van den Bekerom et Neuromuscular control of quadriceps
al., 2012)
Mobilisasi patela (Crossley et al., 2016) (Kooiker et al., 2014, Malliaras et al.,
Neuromuscular Electrical Stimulation 2015, Dimitrios et al., 2012, Biggs et
(NMES) (Hasegawa et al., 2011) al., 2009, Palmieri-Smith et al., 2008)
Latihan otot sendi hip(Lack et al., 2015, Yabroudi and Irrgang, 2013, Kise et al.,
221
Regelski et al., 2015) 2016, Stensrud et al., 2015)
Latihan quadriceps (Malliaras et al., Ltihan kekuatan hamstring (Lorenz and
2015, Dimitrios et al., 2012, Lepley et Reiman, 2011, Kruse et al., 2012)
al., 2015, Kise et al., 2016) Latihan Fleksibilitas Hamstring dan
Latihan Keseimbangan (Emery et al., quadricep (Hrubes and Nicola, 2014,
2015, Steffen et al., 2013, Wright et al., Dimitrios et al., 2012)
2008) Latihan Fleksibilitas IT- Band (Park et
Active ROM al., 2016, Gomaa and Zaky, 2015)
Latihan Kekuatan Sendi Ankle (Espí-
López et al., 2017)
Cardiovascular training(Keogh and
Winwood, 2017)
Latihan Keseimbangan (Emery et al.,
2015, Steffen et al., 2013, Wright et al.,
2008, Feehan et al., 2017)
Active ROM
Fase 3 Fase 4
Terapi: Terapi :
Latihan Quadriceps progresiv Latihan Gerak Fungsional Dasar
Endurance training Olahraga (Hale et al., 2014, Feger et al.,
Flexibility exercise 2014, Hall et al., 2015)
Proprioceptive exercise(Araújo et al., Latihan Plyometric dan kelincahan
2016) (Keles et al., 2014, Winter et al., 2015,
Latihan Keseimbangan (Emery et al., Vriend et al., 2016)
2015, Steffen et al., 2013) Latihan spesifik olahraga (Van
Grinsven et al., 2010, Brukner, 2012)
222
Manual Terapi
Referensi
Araújo, C. G. A., Shirabe, N., Shigaki, L., Macedo, C. S. G., Pereira, C. & Da Silva, R. A. 2016. Lower-
Limb Muscle Activation During Five Sensory-Motor Exercises In Women With Patellofemoral
Pain Syndrome. Physical Therapy In Sport, 18, E4.
Beals, C. T., Magnussen, R. A., Graham, W. C. & Flanigan, D. C. 2016. The Prevalence Of Meniscal
Pathology In Asymptomatic Athletes. Sports Medicine, 46, 1517-1524.
Biggs, A., Jenkins, W. L., Urch, S. E. & Shelbourne, K. D. 2009. Rehabilitation For Patients
Following Acl Reconstruction: A Knee Symmetry Model. North American Journal Of Sports
Physical Therapy : Najspt, 4, 2-12.
Brukner, P. 2012. Brukner & Khan's Clinical Sports Medicine, Mcgraw-Hill North Ryde.
Cabral, S., Resende, R. A., Clansey, A. C., Deluzio, K. J., Selbie, W. S. & Veloso, A. P. 2016. A Global
Gait Asymmetry Index. Journal Of Applied Biomechanics, 32, 171-177.
Collins, N. J., Misra, D., Felson, D. T., Crossley, K. M. & Roos, E. M. 2011. Measures Of Knee Function:
International Knee Documentation Committee (Ikdc) Subjective Knee Evaluation Form, Knee Injury And
Osteoarthritis Outcome Score (Koos), Knee Injury And Osteoarthritis Outcome Score Physical Function
Short Form (Koos‐ Ps), Knee Outcome Survey Activities Of Daily Living Scale (Kos‐ Adl), Lysholm Knee
Scoring Scale, Oxford Knee Score (Oks), Western Ontario And Mcmaster Universities Osteoarthritis Index
(Womac), Activity Rating Scale (Ars), And Tegner Activity Score (Tas). Arthritis Care & Research, 63.
Crossley, K. M., Van Middelkoop, M., Callaghan, M. J., Collins, N. J., Rathleff, M. S. & Barton, C. J.
2016. 2016 Patellofemoral Pain Consensus Statement From The 4th International Patellofemoral
Pain Research Retreat, Manchester. Part 2: Recommended Physical Interventions (Exercise,
Taping, Bracing, Foot Orthoses And Combined Interventions). Br J Sports Med, 50, 844-852.
Demirbüken, İ., Özyürek, S. & Angın, S. 2016. The Immediate Effect Of Patellar Tendon Strap On
Weight-Bearing Asymmetry During Squatting In Patients With Unilateral Knee Osteoarthritis: A
Pilot Study. Prosthetics And Orthotics International, 40, 682-688.
Dimitrios, S., Pantelis, M. & Kalliopi, S. 2012. Comparing The Effects Of Eccentric Training With
Eccentric Training And Static Stretching Exercises In The Treatment Of Patellar
Tendinopathy. A Controlled Clinical Trial. Clinical Rehabilitation, 26, 423-430.
Emery, C. A., Roy, T.-O., Whittaker, J. L., Nettel-Aguirre, A. & Van Mechelen, W. 2015.
Neuromuscular Training Injury Prevention Strategies In Youth Sport: A Systematic Review And
Meta-Analysis. Br J Sports Med, 49, 865-870.
Espí-López, G. V., Serra-Añó, P., Vicent-Ferrando, J., Sánchez-Moreno-Giner, M., Arias-Buría, J. L.,
Cleland, J. & Fernández-De-Las-Peñas, C. 2017. Effectiveness Of Inclusion Of Dry Needling
Into A Multimodal Therapy Program For Patellofemoral Pain: A Randomized Parallel-Group
Trial. Journal Of Orthopaedic & Sports Physical Therapy, 1-43.
Feehan, J., Macfarlane, C. & Vaughan, B. 2017. Conservative Management Of A Traumatic
Meniscal Injury Utilising Osteopathy And Exercise Rehabilitation: A Case Report.
Complementary Therapies In Medicine.
Feger, M. A., Donovan, L., Hart, J. M. & Hertel, J. 2014. Lower Extremity Muscle Activation During
Functional Exercises In Patients With And Without Chronic Ankle Instability. Pm&R, 6, 602-
611.
Gomaa, E. F. & Zaky, L. A. 2015. Effect Of Iliotibial Band Myofascial Release On Flexibility
And Patellar Alignment In Patients With Knee Osteoarthritis. J. Adv. Res., 3, 399-410.
Gribble, P. A., Hertel, J. & Plisky, P. 2012. Using The Star Excursion Balance Test To Assess Dynamic
Postural-Control Deficits And Outcomes In Lower Extremity Injury: A Literature And
Systematic Review. Journal Of Athletic Training, 47, 339-357.
223
Hale, S. A., Fergus, A., Axmacher, R. & Kiser, K. 2014. Bilateral Improvements In Lower Extremity
Function After Unilateral Balance Training In Individuals With Chronic Ankle Instability.
Journal Of Athletic Training, 49, 181-191.
Hall, E. A., Docherty, C. L., Simon, J., Kingma, J. J. & Klossner, J. C. 2015. Strength-Training Protocols
To Improve Deficits In Participants With Chronic Ankle Instability: A Randomized Controlled
Trial. Journal Of Athletic Training, 50, 36-44.
Hart, R., Safi, A., Jajtner, P., Puskeiler, M., Hartová, P. & Komzák, M. 2017. Tibiofemoral
Chondromalacia Treated With Platelet-Rich Plasma And Hyaluronic Acid. Current
Orthopaedic Practice, 28, 58-65.
Hasegawa, S., Kobayashi, M., Arai, R., Tamaki, A., Nakamura, T. & Moritani, T. 2011. Effect Of Early
Implementation Of Electrical Muscle Stimulation To Prevent Muscle Atrophy And Weakness In
Patients After Anterior Cruciate Ligament Reconstruction. Journal Of Electromyography And
Kinesiology, 21, 622-630.
Hegedus, E. J., Mcdonough, S. M., Bleakley, C., Baxter, D. & Cook, C. E. 2015. Clinician-Friendly
Lower Extremity Physical Performance Tests In Athletes: A Systematic Review Of Measurement
Properties And Correlation With Injury. Part 2—The Tests For The Hip, Thigh, Foot And Ankle
Including The Star Excursion Balance Test. Br J Sports Med, 49, 649-656.
Hrubes, M. & Nicola, T. L. 2014. Rehabilitation Of The Patellofemoral Joint. Clin Sports Med, 33, 553-
566.
Jeffriess, M. D., Schultz, A. B., Mcgann, T. S., Callaghan, S. J. & Lockie, R. G. 2015. Effects Of
Preventative Ankle Taping On Planned Change-Of-Direction And Reactive Agility Performance
And Ankle Muscle Activity In Basketballers. Journal Of Sports Science & Medicine, 14, 864.
Katz, J. N., Brophy, R. H., Chaisson, C. E., De Chaves, L., Cole, B. J., Dahm, D. L., Donnell-Fink, L. A.,
Guermazi, A., Haas, A. K. & Jones, M. H. 2013. Surgery Versus Physical Therapy For A
Meniscal Tear And Osteoarthritis. New England Journal Of Medicine, 368, 1675-1684.
Keles, S., Sekir, U., Gur, H. & Akova, B. 2014. Eccentric/Concentric Training Of Ankle Evertor And
Dorsiflexors In Recreational Athletes: Muscle Latency And Strength. Scandinavian Journal Of
Medicine & Science In Sports, 24.
Keogh, J. W. & Winwood, P. W. 2017. The Epidemiology Of Injuries Across The Weight-Training
Sports. Sports Medicine, 47, 479-501.
Khan, M., Evaniew, N., Bedi, A., Ayeni, O. R. & Bhandari, M. 2014. Arthroscopic Surgery For
Degenerative Tears Of The Meniscus: A Systematic Review And Meta-Analysis.
Canadian Medical Association Journal, 186, 1057-1064.
Kise, N. J., Risberg, M. A., Stensrud, S., Ranstam, J., Engebretsen, L. & Roos, E. M. 2016. Exercise
Therapy Versus Arthroscopic Partial Meniscectomy For Degenerative Meniscal Tear In Middle
Aged Patients: Randomised Controlled Trial With Two Year Follow-Up. Bmj, 354, I3740.
Kooiker, L., Van De Port, I. G., Weir, A. & Moen, M. H. 2014. Effects Of Physical Therapist–Guided
Quadriceps-Strengthening Exercises For The Treatment Of Patellofemoral Pain Syndrome: A
Systematic Review. Journal Of Orthopaedic & Sports Physical Therapy, 44, 391-B1.
Kruse, L., Gray, B. & Wright, R. 2012. Rehabilitation After Anterior Cruciate Ligament Reconstruction:
A Systematic Review. The Journal Of Bone And Joint Surgery. American Volume, 94, 1737.
Lack, S., Barton, C., Sohan, O., Crossley, K. & Morrissey, D. 2015. Proximal Muscle Rehabilitation Is
Effective For Patellofemoral Pain: A Systematic Review With Meta-Analysis. Br J Sports Med,
Bjsports-2015-094723.
Lepley, L. K., Wojtys, E. M. & Palmieri-Smith, R. M. 2015. Does Concomitant Meniscectomy Or
Meniscal Repair Affect The Recovery Of Quadriceps Function Post-Acl Reconstruction? Knee
Surgery, Sports Traumatology, Arthroscopy, 23, 2756-2761.
Lienhard, K., Lauermann, S., Schneider, D., Item-Glatthorn, J., Casartelli, N. & Maffiuletti, N. 2013.
Validity And Reliability Of Isometric, Isokinetic And Isoinertial Modalities For The Assessment
Of Quadriceps Muscle Strength In Patients With Total Knee Arthroplasty. Journal Of
Electromyography And Kinesiology, 23, 1283-1288.
224
Lorenz, D. & Reiman, M. 2011. The Role And Implementation Of Eccentric Training In Athletic
Rehabilitation: Tendinopathy, Hamstring Strains, And Acl Reconstruction. International Journal
Of Sports Physical Therapy, 6, 27.
Malliaras, P., Cook, J., Purdam, C. & Rio, E. 2015. Patellar Tendinopathy: Clinical Diagnosis, Load
Management, And Advice For Challenging Case Presentations. Journal Of Orthopaedic & Sports
Physical Therapy, 45, 887-898.
Masini, B. D., Dickens, J. F., Tucker, C. J., Cameron, K. L., Svoboda, S. J. & Owens, B. D. 2015.
Epidemiology Of Isolated Meniscus Tears In Young Athletes. Orthopaedic Journal Of
Sports Medicine, 3, 2325967115s00107.
Mcnair, P. J., Colvin, M. & Reid, D. 2011. Predicting Maximal Strength Of Quadriceps From
Submaximal Performance In Individuals With Knee Joint Osteoarthritis. Arthritis Care
& Research, 63, 216-222.
Melam, G. R., Alhusaini, A. A., Perumal, V., Buragadda, S. & Kaur, K. 2016. Comparison Of Static
And Dynamic Balance Between Football And Basketball Players With Chronic Ankle
Instability. Saudi Journal Of Sports Medicine, 16, 199.
Menzel, H.-J., Chagas, M. H., Szmuchrowski, L. A., Araujo, S. R., De Andrade, A. G. & De Jesus-
Moraleida, F. R. 2013. Analysis Of Lower Limb Asymmetries By Isokinetic And Vertical Jump
Tests In Soccer Players. The Journal Of Strength & Conditioning Research, 27, 1370-1377.
Mitchell, J., Graham, W., Best, T. M., Collins, C., Currie, D. W., Comstock, R. D. & Flanigan, D. C.
2016. Epidemiology Of Meniscal Injuries In Us High School Athletes Between 2007 And 2013.
Knee Surgery, Sports Traumatology, Arthroscopy, 24, 715-722.
Myers, B. A., Jenkins, W. L., Killian, C. & Rundquist, P. 2014. Normative Data For Hop Tests In High
School And Collegiate Basketball And Soccer Players. International Journal Of Sports Physical
Therapy, 9, 596-603.
Nadell, R. S. 2013. The Effects Of Different Warm-Up Modalities On Gluteus Medius Activation,
University Of Rhode Island.
Nimphius, S., Callaghan, S. J., Bezodis, N. E. & Lockie, R. G. 2017. Change Of Direction And Agility
Tests: Challenging Our Current Measures Of Performance. Strength & Conditioning Journal.
Palmieri-Smith, R. M., Thomas, A. C. & Wojtys, E. M. 2008. Maximizing Quadriceps Strength After Acl
Reconstruction. Clinics In Sports Medicine, 27, 405-424.
Park, J.-H., Kang, S.-Y., Choung, S.-D., Jeon, H.-S. & Kwon, O.-Y. 2016. Effects Of Tibial Rotation On
Ober's Test And Patellar Tracking. The Knee, 23, 600-603.
Paterno, M. V., Schmitt, L. C., Ford, K. R., Rauh, M. J., Myer, G. D., Huang, B. & Hewett, T. E. 2010.
Biomechanical Measures During Landing And Postural Stability Predict Second Anterior
Cruciate Ligament Injury After Anterior Cruciate Ligament Reconstruction And Return To Sport.
The American Journal Of Sports Medicine, 38, 1968-1978.
Plisky, P. J., Rauh, M. J., Kaminski, T. W. & Underwood, F. B. 2006. Star Excursion Balance Test As A
Predictor Of Lower Extremity Injury In High School Basketball Players. Journal Of Orthopaedic
& Sports Physical Therapy, 36, 911-919.
Regelski, C. L., Ford, B. L. & Hoch, M. C. 2015. Hip Strengthening Compared With Quadriceps
Strengthening In Conservative Treatment Of Patients With Patellofemoral Pain: A Critically
Appraised Topic. International Journal Of Athletic Therapy And Training, 20, 4-12.
Saggin, P. R. F. & Dejour, D. 2015. Anterior Knee Pain In Football. Football Traumatology. Springer.
Steffen, K., Emery, C. A., Romiti, M., Kang, J., Bizzini, M., Dvorak, J., Finch, C. F. & Meeuwisse, W. H.
2013. High Adherence To A Neuromuscular Injury Prevention Programme (Fifa 11+)
Improves Functional Balance And Reduces Injury Risk In Canadian Youth Female Football
Players: A Cluster Randomised Trial. Br J Sports Med, Bjsports-2012-091886.
Stensrud, S., Risberg, M. A. & Roos, E. M. 2015. Effect Of Exercise Therapy Compared With
Arthroscopic Surgery On Knee Muscle Strength And Functional Performance In Middle-Aged
Patients With Degenerative Meniscus Tears: A 3-Mo Follow-Up Of A Randomized
Controlled Trial. American Journal Of Physical Medicine & Rehabilitation, 94, 460-473.
225
Tagesson, S., Öberg, B., Good, L. & Kvist, J. 2008. A Comprehensive Rehabilitation Program With
Quadriceps Strengthening In Closed Versus Open Kinetic Chain Exercise In Patients With
Anterior Cruciate Ligament Deficiency: A Randomized Clinical Trial Evaluating Dynamic Tibial
Translation And Muscle Function. The American Journal Of Sports Medicine, 36, 298-307.
Van Den Bekerom, M. P. J., Struijs, P. A. A., Blankevoort, L., Welling, L., Van Dijk, C. N. & Kerkhoffs,
G. M. M. J. 2012. What Is The Evidence For Rest, Ice, Compression, And Elevation Therapy In
The Treatment Of Ankle Sprains In Adults? Journal Of Athletic Training, 47, 435-443.
Van Grinsven, S., Van Cingel, R., Holla, C. & Van Loon, C. 2010. Evidence-Based Rehabilitation
Following Anterior Cruciate Ligament Reconstruction. Knee Surgery, Sports Traumatology,
Arthroscopy, 18, 1128-1144.
Vriend, I., Gouttebarge, V., Van Mechelen, W. & Verhagen, E. 2016. Neuromuscular Training Is
Effective To Prevent Ankle Sprains In A Sporting Population: A Meta-Analysis Translating
Evidence Into Optimal Prevention Strategies. Journal Of Isakos: Joint Disorders & Orthopaedic
Sports Medicine, 1, 202-213.
Winter, T., Beck, H., Walther, A., Zwipp, H. & Rein, S. 2015. Influence Of A Proprioceptive Training
On Functional Ankle Stability In Young Speed Skaters–A Prospective Randomised Study.
Journal Of Sports Sciences, 33, 831-840.
Wright, R. W., Preston, E., Fleming, B. C., Amendola, A., Andrish, J. T., Bergfeld, J. A., Dunn, W. R.,
Kaeding, C., Kuhn, J. E. & Marx, R. G. 2008. A Systematic Review Of Anterior Cruciate
Ligament Reconstruction Rehabilitation–Part I: Continuous Passive Motion, Early Weight
Bearing, Postoperative Bracing, And Home-Based Rehabilitation. The Journal Of Knee Surgery,
21, 217-224.
Yabroudi, M. A. & Irrgang, J. J. 2013. Rehabilitation And Return To Play After Anatomic
Anterior Cruciate Ligament Reconstruction. Clinics In Sports Medicine, 32, 165-175.
226
Cedera Cartilage Lutut
Judul : Cedera Cartilage Lutut
Kode
ICD 717
Kode ICF
S75011, B28016, B7101, B7151, B7301, B7401, B770, D9201
Kondisi Kesehatan
Pengertian
Cedera kartilago adalah pecahnya jaringan kartilago atau tulang rawan yang diakibatkan
oleh benturan maupun gerakan beputar pada sendi lutut dalam posisi fleksi pada saat kaki
menumpu.
Insidensi Dan Prevalensi
Sampai saat ini, insidensi dan prevalensi pasti dari idera kartilago masih belum diketahui
berapa jumlah penderitanya. Di belanda, diperkirakan terdapat 3000 sampai 5000 pasien
per tahunnya (Windt 2016) Aspetar
Patologi Dan Patologi Fungsional
Gerakan twisting atau memutar secara cepat pada saat posisi lutut fleksi dengan kaki
menumpu sehingga menimbulkan pembebanan dan gesekan pada bantalan lutut yang
menyebabkan terjaninya luka pada bantalan sendi lutut atau meniskus
Pemeriksaan
A.Anamnesis
1.Pembuktian Hipotesa Patologi Dan Patologi Fungsional
Atlet mengeluhkan sakit atau nyeri pada area lutut dan terkadang lutut terasa
mengunci.
Pemeriksaan klinis
Evidence Base Clinical Practise
Mc murray test.
Thessaly test
MRI
Pemeriksaan fisik
Inspeksi
Bengkak
Sendi lutut mengunci 30o
Pemeriksaan Fisik Berdasarkan Bukti
a. Antropometrik
227
Lingkup gerak sendi
Keseimbangan
MMT
Evaluasi
Pengukuran Objektif
Fase 1 Fase 2 Fase 3 Fase 4
pp. VAS/NRS cc. VAS/NRS v. Tes kekuatan 1 cc. 1 leg Vertical
qq. Antropometrik dd. Antropometrik RM (McNair et Jump
rr. Lingkup gerak ee. Simetris Gerak al., 2011, dd. HOP TEST(Myers
sendi Fungsional Lienhard et al., et al., 2014,
ss. MMT (Cabral et al., 2013, Menzel et Hegedus et al.,
tt. International 2016, al., 2013) 2015)
Knee Demirbüken et w. Star Excursion ee. T-TEST DRILL
Documentation al., 2016) Balance Test (Jeffriess et al.,
Committeee ff. Stork test(Melam (SEBT)(Plisky 2015, Nimphius et
(IKDC) 2000 et al., 2016) et al., 2006, al., 2017)
(Collins et al., Gribble et al., ff. HEXAGONAL
2011, Hart et al., 2012) TEST
2017) x. 2 leg Vertical DRILL(Jeffriess et
jump test al., 2015,
(Menzel et al., Nimphius et al.,
2013, Paterno et 2017, Melam et
al., 2010) al., 2016)
228
Diagnosa Fisioterapi
Berdasarkan ICF komplemen terhadap ICD
Adanya gangguan gerak dan fungsi pada sendi lutut yang diakibatkan oleh rusaknya
tulang rawan dengan penurunan mobilitas sendi, stabilitas sendi, fungsi otot, pola
gerak jalan dan lari, dan koordinasi pada aktivitas olahraga.
Problema aktual dan potensial yang dijumpai
Bengkak
Rasa nyeri
Penurunan fungsi olahraga
Prognosis fungsional
Prognosa baik setelah minimal 3 bulan
Intervensi
ICF target (Body Functional and Body Structure impairment target,
disability target, dan enviromental target)
Fase 1: Fase 2:
Terapi : Terapi :
Kompres es/cryotherapy (van den Bekerom et al., Neuromuscular control of quadriceps
2012)
Mobilisasi patela (Crossley et al., 2016) (Kooiker et al., 2014, Malliaras et al.,
Neuromuscular Electrical Stimulation 2015, Dimitrios et al., 2012, Biggs et
(NMES) (Hasegawa et al., 2011) al., 2009, Palmieri-Smith et al., 2008)
Referensi
Araújo, C. G. A., Shirabe, N., Shigaki, L., Macedo, C. S. G., Pereira, C. & Da Silva, R. A.
2016. Lower-Limb Muscle Activation During Five Sensory-Motor Exercises In Women
With Patellofemoral Pain Syndrome. Physical Therapy In Sport, 18, E4.
Biggs, A., Jenkins, W. L., Urch, S. E. & Shelbourne, K. D. 2009. Rehabilitation For Patients
Following Acl Reconstruction: A Knee Symmetry Model. North American Journal Of
Sports Physical Therapy : Najspt, 4, 2-12.
Brukner, P. 2012. Brukner & Khan's Clinical Sports Medicine, Mcgraw-Hill North Ryde. Cabral, S.,
Resende, R. A., Clansey, A. C., Deluzio, K. J., Selbie, W. S. & Veloso, A. P. 2016. A
Global Gait Asymmetry Index. Journal Of Applied Biomechanics, 32, 171-177.
Collins, N. J., Misra, D., Felson, D. T., Crossley, K. M. & Roos, E. M. 2011. Measures Of
Knee Function: International Knee Documentation Committee (Ikdc) Subjective Knee
Evaluation Form, Knee Injury And Osteoarthritis Outcome Score (Koos), Knee Injury
230
And Osteoarthritis Outcome Score Physical Function Short Form (Koos‐ Ps), Knee Outcome Survey Activities Of Daily Living Scale (Kos‐ Adl),
Lysholm Knee Scoring Scale, Oxford Knee Score (Oks), Western Ontario And Mcmaster Universities Osteoarthritis Index (Womac), Activity
Rating Scale (Ars), And Tegner Activity Score (Tas). Arthritis Care & Research, 63.
Crossley, K. M., Van Middelkoop, M., Callaghan, M. J., Collins, N. J., Rathleff, M. S. &
Barton, C. J. 2016. 2016 Patellofemoral Pain Consensus Statement From The 4th
International Patellofemoral Pain Research Retreat, Manchester. Part 2: Recommended
Physical Interventions (Exercise, Taping, Bracing, Foot Orthoses And Combined
Interventions). Br J Sports Med, 50, 844-852.
Demirbüken, İ., Özyürek, S. & Angın, S. 2016. The Immediate Effect Of Patellar Tendon Strap On
Weight-Bearing Asymmetry During Squatting In Patients With Unilateral Knee
Osteoarthritis: A Pilot Study. Prosthetics And Orthotics International, 40, 682-688.
Dimitrios, S., Pantelis, M. & Kalliopi, S. 2012. Comparing The Effects Of Eccentric Training With
Eccentric Training And Static Stretching Exercises In The Treatment Of Patellar
Tendinopathy. A Controlled Clinical Trial. Clinical Rehabilitation, 26, 423-430.
Emery, C. A., Roy, T.-O., Whittaker, J. L., Nettel-Aguirre, A. & Van Mechelen, W. 2015.
Neuromuscular Training Injury Prevention Strategies In Youth Sport: A Systematic
Review And Meta-Analysis. Br J Sports Med, 49, 865-870.
Espí-López, G. V., Serra-Añó, P., Vicent-Ferrando, J., Sánchez-Moreno-Giner, M., Arias-Buría,
L., Cleland, J. & Fernández-De-Las-Peñas, C. 2017. Effectiveness Of Inclusion Of Dry
Needling Into A Multimodal Therapy Program For Patellofemoral Pain: A Randomized
Parallel-Group Trial. Journal Of Orthopaedic & Sports Physical Therapy, 1-43.
Feehan, J., Macfarlane, C. & Vaughan, B. 2017. Conservative Management Of A
Traumatic Meniscal Injury Utilising Osteopathy And Exercise Rehabilitation: A
Case Report. Complementary Therapies In Medicine.
Feger, M. A., Donovan, L., Hart, J. M. & Hertel, J. 2014. Lower Extremity Muscle Activation
During Functional Exercises In Patients With And Without Chronic Ankle Instability.
Pm&R, 6, 602-611.
Gomaa, E. F. & Zaky, L. A. 2015. Effect Of Iliotibial Band Myofascial Release On Flexibility
And Patellar Alignment In Patients With Knee Osteoarthritis. J. Adv. Res., 3, 399-410.
Gribble, P. A., Hertel, J. & Plisky, P. 2012. Using The Star Excursion Balance Test To
Assess Dynamic Postural-Control Deficits And Outcomes In Lower Extremity Injury:
A Literature And Systematic Review. Journal Of Athletic Training, 47, 339-357.
Hale, S. A., Fergus, A., Axmacher, R. & Kiser, K. 2014. Bilateral Improvements In Lower
Extremity Function After Unilateral Balance Training In Individuals With Chronic Ankle
Instability. Journal Of Athletic Training, 49, 181-191.
Hall, E. A., Docherty, C. L., Simon, J., Kingma, J. J. & Klossner, J. C. 2015. Strength-Training
Protocols To Improve Deficits In Participants With Chronic Ankle Instability:
A Randomized Controlled Trial. Journal Of Athletic Training, 50, 36-44.
Hart, R., Safi, A., Jajtner, P., Puskeiler, M., Hartová, P. & Komzák, M. 2017. Tibiofemoral
Chondromalacia Treated With Platelet-Rich Plasma And Hyaluronic Acid. Current
Orthopaedic Practice, 28, 58-65.
Hasegawa, S., Kobayashi, M., Arai, R., Tamaki, A., Nakamura, T. & Moritani, T. 2011. Effect
Of Early Implementation Of Electrical Muscle Stimulation To Prevent Muscle Atrophy
231
And Weakness In Patients After Anterior Cruciate Ligament Reconstruction. Journal Of
Electromyography And Kinesiology, 21, 622-630.
Hegedus, E. J., Mcdonough, S. M., Bleakley, C., Baxter, D. & Cook, C. E. 2015. Clinician-
Friendly Lower Extremity Physical Performance Tests In Athletes: A Systematic Review
Of Measurement Properties And Correlation With Injury. Part 2—The Tests For The Hip,
Thigh, Foot And Ankle Including The Star Excursion Balance Test. Br J Sports Med, 49,
649-656.
Hrubes, M. & Nicola, T. L. 2014. Rehabilitation Of The Patellofemoral Joint. Clin Sports
Med, 33, 553-566.
Jeffriess, M. D., Schultz, A. B., Mcgann, T. S., Callaghan, S. J. & Lockie, R. G. 2015. Effects
Of Preventative Ankle Taping On Planned Change-Of-Direction And Reactive Agility
Performance And Ankle Muscle Activity In Basketballers. Journal Of Sports Science &
Medicine, 14, 864.
Keles, S., Sekir, U., Gur, H. & Akova, B. 2014. Eccentric/Concentric Training Of Ankle Evertor
And Dorsiflexors In Recreational Athletes: Muscle Latency And Strength. Scandinavian
Journal Of Medicine & Science In Sports, 24.
Keogh, J. W. & Winwood, P. W. 2017. The Epidemiology Of Injuries Across The Weight-
Training Sports. Sports Medicine, 47, 479-501.
Kise, N. J., Risberg, M. A., Stensrud, S., Ranstam, J., Engebretsen, L. & Roos, E. M. 2016.
Exercise Therapy Versus Arthroscopic Partial Meniscectomy For Degenerative Meniscal
Tear In Middle Aged Patients: Randomised Controlled Trial With Two Year Follow-Up.
Bmj, 354, I3740.
Kooiker, L., Van De Port, I. G., Weir, A. & Moen, M. H. 2014. Effects Of Physical Therapist–
Guided Quadriceps-Strengthening Exercises For The Treatment Of Patellofemoral Pain
Syndrome: A Systematic Review. Journal Of Orthopaedic & Sports Physical Therapy,
44, 391-B1.
Kruse, L., Gray, B. & Wright, R. 2012. Rehabilitation After Anterior Cruciate Ligament
Reconstruction: A Systematic Review. The Journal Of Bone And Joint Surgery.
American Volume, 94, 1737.
Lack, S., Barton, C., Sohan, O., Crossley, K. & Morrissey, D. 2015. Proximal Muscle
Rehabilitation Is Effective For Patellofemoral Pain: A Systematic Review With
Meta-Analysis. Br J Sports Med, Bjsports-2015-094723.
Lepley, L. K., Wojtys, E. M. & Palmieri-Smith, R. M. 2015. Does Concomitant Meniscectomy
Or Meniscal Repair Affect The Recovery Of Quadriceps Function Post-Acl
Reconstruction? Knee Surgery, Sports Traumatology, Arthroscopy, 23, 2756-2761.
Lienhard, K., Lauermann, S., Schneider, D., Item-Glatthorn, J., Casartelli, N. & Maffiuletti,
N. 2013. Validity And Reliability Of Isometric, Isokinetic And Isoinertial Modalities
For The Assessment Of Quadriceps Muscle Strength In Patients With Total Knee
Arthroplasty. Journal Of Electromyography And Kinesiology, 23, 1283-1288.
Lorenz, D. & Reiman, M. 2011. The Role And Implementation Of Eccentric Training In Athletic
Rehabilitation: Tendinopathy, Hamstring Strains, And Acl Reconstruction. International
Journal Of Sports Physical Therapy, 6, 27.
Malliaras, P., Cook, J., Purdam, C. & Rio, E. 2015. Patellar Tendinopathy: Clinical Diagnosis,
Load Management, And Advice For Challenging Case Presentations. Journal Of
Orthopaedic & Sports Physical Therapy, 45, 887-898.
232
Mcnair, P. J., Colvin, M. & Reid, D. 2011. Predicting Maximal Strength Of Quadriceps From
Submaximal Performance In Individuals With Knee Joint Osteoarthritis. Arthritis Care &
Research, 63, 216-222.
Melam, G. R., Alhusaini, A. A., Perumal, V., Buragadda, S. & Kaur, K. 2016. Comparison Of
Static And Dynamic Balance Between Football And Basketball Players With Chronic
Ankle Instability. Saudi Journal Of Sports Medicine, 16, 199.
Menzel, H.-J., Chagas, M. H., Szmuchrowski, L. A., Araujo, S. R., De Andrade, A. G. & De
Jesus-Moraleida, F. R. 2013. Analysis Of Lower Limb Asymmetries By Isokinetic
And Vertical Jump Tests In Soccer Players. The Journal Of Strength & Conditioning
Research, 27, 1370-1377.
Myers, B. A., Jenkins, W. L., Killian, C. & Rundquist, P. 2014. Normative Data For Hop Tests
In High School And Collegiate Basketball And Soccer Players. International Journal
Of Sports Physical Therapy, 9, 596-603.
Nadell, R. S. 2013. The Effects Of Different Warm-Up Modalities On Gluteus Medius Activation,
University Of Rhode Island.
Nimphius, S., Callaghan, S. J., Bezodis, N. E. & Lockie, R. G. 2017. Change Of Direction
And Agility Tests: Challenging Our Current Measures Of Performance. Strength &
Conditioning Journal.
Palmieri-Smith, R. M., Thomas, A. C. & Wojtys, E. M. 2008. Maximizing Quadriceps
Strength After Acl Reconstruction. Clinics In Sports Medicine, 27, 405-424.
Park, J.-H., Kang, S.-Y., Choung, S.-D., Jeon, H.-S. & Kwon, O.-Y. 2016. Effects Of Tibial
Rotation On Ober's Test And Patellar Tracking. The Knee, 23, 600-603.
Paterno, M. V., Schmitt, L. C., Ford, K. R., Rauh, M. J., Myer, G. D., Huang, B. & Hewett, T. E.
2010. Biomechanical Measures During Landing And Postural Stability Predict Second
Anterior Cruciate Ligament Injury After Anterior Cruciate Ligament Reconstruction And
Return To Sport. The American Journal Of Sports Medicine, 38, 1968-1978.
Plisky, P. J., Rauh, M. J., Kaminski, T. W. & Underwood, F. B. 2006. Star Excursion
Balance Test As A Predictor Of Lower Extremity Injury In High School Basketball
Players. Journal Of Orthopaedic & Sports Physical Therapy, 36, 911-919.
Regelski, C. L., Ford, B. L. & Hoch, M. C. 2015. Hip Strengthening Compared With
Quadriceps Strengthening In Conservative Treatment Of Patients With Patellofemoral
Pain: A Critically Appraised Topic. International Journal Of Athletic Therapy And
Training, 20, 4-12.
Saggin, P. R. F. & Dejour, D. 2015. Anterior Knee Pain In Football. Football Traumatology.
Springer.
Steffen, K., Emery, C. A., Romiti, M., Kang, J., Bizzini, M., Dvorak, J., Finch, C. F. &
Meeuwisse, W. H. 2013. High Adherence To A Neuromuscular Injury Prevention
Programme (Fifa 11+) Improves Functional Balance And Reduces Injury Risk In
Canadian Youth Female Football Players: A Cluster Randomised Trial. Br J Sports
Med, Bjsports-2012-091886.
Stensrud, S., Risberg, M. A. & Roos, E. M. 2015. Effect Of Exercise Therapy Compared With
Arthroscopic Surgery On Knee Muscle Strength And Functional Performance In Middle-
Aged Patients With Degenerative Meniscus Tears: A 3-Mo Follow-Up Of A Randomized
Controlled Trial. American Journal Of Physical Medicine & Rehabilitation, 94, 460-473.
Tagesson, S., Öberg, B., Good, L. & Kvist, J. 2008. A Comprehensive Rehabilitation Program
With Quadriceps Strengthening In Closed Versus Open Kinetic Chain Exercise In
233
Patients With Anterior Cruciate Ligament Deficiency: A Randomized Clinical Trial
Evaluating Dynamic Tibial Translation And Muscle Function. The American Journal Of
Sports Medicine, 36, 298-307.
Van Den Bekerom, M. P. J., Struijs, P. A. A., Blankevoort, L., Welling, L., Van Dijk, C. N.
& Kerkhoffs, G. M. M. J. 2012. What Is The Evidence For Rest, Ice, Compression,
And Elevation Therapy In The Treatment Of Ankle Sprains In Adults? Journal Of
Athletic Training, 47, 435-443.
Van Grinsven, S., Van Cingel, R., Holla, C. & Van Loon, C. 2010. Evidence-Based
Rehabilitation Following Anterior Cruciate Ligament Reconstruction. Knee Surgery,
Sports Traumatology, Arthroscopy, 18, 1128-1144.
Vriend, I., Gouttebarge, V., Van Mechelen, W. & Verhagen, E. 2016. Neuromuscular Training
Is Effective To Prevent Ankle Sprains In A Sporting Population: A Meta-Analysis
Translating Evidence Into Optimal Prevention Strategies. Journal Of Isakos: Joint
Disorders & Orthopaedic Sports Medicine, 1, 202-213.
Winter, T., Beck, H., Walther, A., Zwipp, H. & Rein, S. 2015. Influence Of A
Proprioceptive Training On Functional Ankle Stability In Young Speed Skaters–A
Prospective Randomised Study. Journal Of Sports Sciences, 33, 831-840.
Wright, R. W., Preston, E., Fleming, B. C., Amendola, A., Andrish, J. T., Bergfeld, J. A.,
Dunn, W. R., Kaeding, C., Kuhn, J. E. & Marx, R. G. 2008. A Systematic Review Of
Anterior Cruciate Ligament Reconstruction Rehabilitation–Part I: Continuous Passive
Motion, Early Weight Bearing, Postoperative Bracing, And Home-Based
Rehabilitation. The Journal Of Knee Surgery, 21, 217-224.
Yabroudi, M. A. & Irrgang, J. J. 2013. Rehabilitation And Return To Play After Anatomic
Anterior Cruciate Ligament Reconstruction. Clinics In Sports Medicine, 32, 165-175.
234
Illiotibial Band Friction Syndrome (ITBFS)
Judul : Illiotibial Band Friction Syndrome
Kode ICD
728.89
Kode ICF
S75008, b7101, b7151,b7300, B7350 b7401,b770,d9201
Kondisi Kesehatan
Pengertian
Gejala Illiotibial band syndrome dapat dirasakan pada sisi luar lutut tepatnya pada sisi
lateral lutut pada daerah epicondylus femur / tonjolan tulang paha akibat tendinitis
illiotibial band. Nyeri biasanya timbul saat aktivitas berlari dimulai dan nyeri bertambah
hebat bila aktivitas lari terus dilanjutkan. Nyeri akan berkurang bila posisi istirahat dan
nyeri akan timbul kembali bila memulai aktvitas berlari (Foch and Milner, 2014).
Insidensi dan prevalensi
Illiotibial band syndrome didokumentasikan angka kejadian yang tinggi mencapai 22,2%
dari total insiden pada ekstremitas bawah pada atlit lari. Illiotibial band syndrome juga
diidentifikasi pada atlit sepeda sebesar 15% dari seluruh cedera overuse pada regio sendi
lutut (Baker and Fredericson, 2016)
Patologi dan patologi fungsional
Illiotibial band syndrome terjadi akibat fleksi sendi lutut repetitif (termasuk pelari),
Illiotibial band syndrome repetitif bergeser terlalu kedepan dan kebelakang melebihi
lateral femoral condyle, menyebabkan friction dan inflamasi dari Illiotibial band (Noehren
et al., 2014, Louw and Deary, 2014) .
Pemeriksaan
C.Anamnesis
Pembuktian Hipotesa Patologi Dan Patologi Fungsional
Pertanyaan untuk mengetahui apakah adanya nyeri disisi luar sendi lutut terutama
pada daerah epicondylus femur, apakah nyeri timbul saat dilakukan aktivitas.
235
Pemeriksaan klinis
Evidence Base Clinical Practise
Ober Test
Pemeriksaan fisik
Inspeksi
a. Bengkak
Pemeriksaan Fisik Berdasarkan Bukti
Antropometrik lingkar sendi lutut dan quadricep
Stabilitas patela
Lingkup gerak sendi
Keseimbangan
Kekuatan otot
Evaluasi
1.Pengukuran Objektif
Fase 1 Fase 2 Fase 3 Fase 4
uu. VAS/NRS gg. VAS/NRS y. Tes kekuatan 1 gg. 1 leg Vertical
vv. Antropometrik hh. Antropometrik RM (McNair et Jump
ww. Lingkup ii. Simetris Gerak al., 2011, hh. HOP TEST(Myers
gerak sendi Fungsional Lienhard et al., et al., 2014,
xx. MMT (Cabral et al., 2013, Menzel et Hegedus et al.,
yy. International 2016, al., 2013) 2015)
Knee Demirbüken et z. Star Excursion ii. T-TEST DRILL
Documentation al., 2016) Balance Test (Jeffriess et al.,
Committeee jj. Stork test(Melam (SEBT)(Plisky 2015, Nimphius et
(IKDC) 2000 et al., 2016) et al., 2006, al., 2017)
(Collins et al., Gribble et al., jj. HEXAGONAL
2011, Hart et al., 2012) TEST
2017) aa. 2 leg Vertical DRILL(Jeffriess et
zz. VISA-P Score jump test al., 2015,
(Hernandez- (Menzel et al., Nimphius et al.,
Sanchez et al., 2013, Paterno et 2017, Melam et
236
2012) al., 2010) al., 2016)
2.Outcome Measures
Tidak ada nyeri
KEKUATAN OTOT MINIMUM 95%
HOPTEST MINIMUM 95%
KESEIMBANGAN DINAMIS (SEBT) 95%
E.Diagnosa Fisioterapi
Berdasarkan ICF komplemen terhadap ICD
Adanya gangguan gerak dan fungsi pada sendi lutut sisi lateral epicondylus
femoral akibat adanya tendinitis illiotibial dengan penurunan mobilitas sendi, stabilitas
sendi dan fungsi tendon, pola gerak jalan dan lari, koordinasi pada aktivitas olahraga.
Problema aktual dan potensial yang dijumpai
Bengkak
Rasa nyeri
Penurunan fungsi olahraga
Prognosis fungsional
Tingkat ringan : 5 minggu - 7 minggu
Tingkat berat (operatif) : + 6 bulan
Intervensi
ICF target (Body Functional and Body Structure impairment target, disability
target, dan enviromental target)
Fase 1: Fase 2:
Terapi : Terapi :
Taping (Wild et al., 2016, Campbell Neuromuscular control of quadriceps
and Valier, 2016) (Kooiker et al., 2014)
Mobilisasi patela (Crossley et al., 2016) Latihan Fleksibilitas Hamstring
Reactivation gluteus (Nadell, 2013, (Hrubes and Nicola, 2014)
237
Saggin and Dejour, 2015) Latihan Fleksibilitas IT- Band (Park et
Latihan otot sendi hip(Lack et al., 2015, al., 2016, Gomaa and Zaky, 2015)
Regelski et al., 2015) Latihan Kekuatan Sendi Ankle (Espí-
Latihan quadriceps (Kooiker et al., López et al., 2017)
2014) Cardiovascular training(Keogh and
Active ROM Winwood, 2017)
Fase 3 Fase 4
Terapi: Terapi :
Latihan Quadriceps progresiv Latihan Gerak Fungsional Dasar
Endurance training Olahraga (Hale et al., 2014, Feger et al.,
Flexibility exercise 2014, Hall et al., 2015)
Proprioceptive exercise(Araújo et al., Latihan Plyometric dan kelincahan
2016) (Keles et al., 2014, Winter et al., 2015,
Vriend et al., 2016)
Referensi
Araújo, C. G. A., Shirabe, N., Shigaki, L., Macedo, C. S. G., Pereira, C. & Da Silva, R. A. 2016.
Lower-Limb Muscle Activation During Five Sensory-Motor Exercises In Women With
Patellofemoral Pain Syndrome. Physical Therapy In Sport, 18, E4.
Baker, R. L. & Fredericson, M. 2016. Iliotibial Band Syndrome In Runners. Physical Medicine
And Rehabilitation Clinics, 27, 53-77.
Cabral, S., Resende, R. A., Clansey, A. C., Deluzio, K. J., Selbie, W. S. & Veloso, A. P. 2016. A
Global Gait Asymmetry Index. Journal Of Applied Biomechanics, 32, 171-177.
238
Campbell, S. A. & Valier, A. R. 2016. The Effect Of Kinesio Taping On Anterior Knee Pain
Consistent With Patellofemoral Pain Syndrome: A Critically Appraised Topic. Journal Of
Sport Rehabilitation, 25, 288-293.
Collins, N. J., Misra, D., Felson, D. T., Crossley, K. M. & Roos, E. M. 2011. Measures Of Knee
Function: International Knee Documentation Committee (Ikdc) Subjective Knee Evaluation
Form, Knee Injury And Osteoarthritis Outcome Score (Koos), Knee Injury And Osteoarthritis
Outcome Score Physical Function Short Form (Koos‐ Ps), Knee Outcome Survey Activities
Of Daily Living Scale (Kos‐ Adl), Lysholm Knee Scoring Scale, Oxford Knee Score (Oks),
Western Ontario And Mcmaster Universities Osteoarthritis Index (Womac), Activity Rating
Scale (Ars), And Tegner Activity Score (Tas). Arthritis Care & Research, 63.
Crossley, K. M., Van Middelkoop, M., Callaghan, M. J., Collins, N. J., Rathleff, M. S. & Barton,
C. J. 2016. 2016 Patellofemoral Pain Consensus Statement From The 4th International
Patellofemoral Pain Research Retreat, Manchester. Part 2: Recommended Physical
Interventions (Exercise, Taping, Bracing, Foot Orthoses And Combined Interventions). Br
J Sports Med, 50, 844-852.
Demirbüken, İ., Özyürek, S. & Angın, S. 2016. The Immediate Effect Of Patellar Tendon Strap
On Weight-Bearing Asymmetry During Squatting In Patients With Unilateral Knee
Osteoarthritis: A Pilot Study. Prosthetics And Orthotics International, 40, 682-688.
Espí-López, G. V., Serra-Añó, P., Vicent-Ferrando, J., Sánchez-Moreno-Giner, M., Arias-Buría,
J. L., Cleland, J. & Fernández-De-Las-Peñas, C. 2017. Effectiveness Of Inclusion Of Dry
Needling Into A Multimodal Therapy Program For Patellofemoral Pain: A Randomized
Parallel-Group Trial. Journal Of Orthopaedic & Sports Physical Therapy, 1-43.
Feger, M. A., Donovan, L., Hart, J. M. & Hertel, J. 2014. Lower Extremity Muscle Activation
During Functional Exercises In Patients With And Without Chronic Ankle Instability.
Pm&R, 6, 602-611.
Foch, E. & Milner, C. E. 2014. The Influence Of Iliotibial Band Syndrome History On Running
Biomechanics Examined Via Principal Components Analysis. Journal Of Biomechanics,
47, 81-86.
Gomaa, E. F. & Zaky, L. A. 2015. Effect Of Iliotibial Band Myofascial Release On Flexibility
And Patellar Alignment In Patients With Knee Osteoarthritis. J. Adv. Res., 3, 399-410.
239
Gribble, P. A., Hertel, J. & Plisky, P. 2012. Using The Star Excursion Balance Test To Assess
Dynamic Postural-Control Deficits And Outcomes In Lower Extremity Injury: A Literature
And Systematic Review. Journal Of Athletic Training, 47, 339-357.
Hale, S. A., Fergus, A., Axmacher, R. & Kiser, K. 2014. Bilateral Improvements In Lower
Extremity Function After Unilateral Balance Training In Individuals With Chronic Ankle
Instability. Journal Of Athletic Training, 49, 181-191.
Hall, E. A., Docherty, C. L., Simon, J., Kingma, J. J. & Klossner, J. C. 2015. Strength-Training
Protocols To Improve Deficits In Participants With Chronic Ankle Instability: A
Randomized Controlled Trial. Journal Of Athletic Training, 50, 36-44.
Hart, R., Safi, A., Jajtner, P., Puskeiler, M., Hartová, P. & Komzák, M. 2017. Tibiofemoral
Chondromalacia Treated With Platelet-Rich Plasma And Hyaluronic Acid. Current
Orthopaedic Practice, 28, 58-65.
Hegedus, E. J., Mcdonough, S. M., Bleakley, C., Baxter, D. & Cook, C. E. 2015. Clinician-
Friendly Lower Extremity Physical Performance Tests In Athletes: A Systematic Review
Of Measurement Properties And Correlation With Injury. Part 2—The Tests For The Hip,
Thigh, Foot And Ankle Including The Star Excursion Balance Test. Br J Sports Med, 49,
649-656.
Hernandez-Sanchez, S., Hidalgo, M. D. & Gomez, A. 2012. Responsiveness Of The Visa-P Scale
For Patellar Tendinopathy In Athletes. Br J Sports Med, Bjsports-2012-091163.
Hrubes, M. & Nicola, T. L. 2014. Rehabilitation Of The Patellofemoral Joint. Clin Sports Med,
33, 553-566.
Jeffriess, M. D., Schultz, A. B., Mcgann, T. S., Callaghan, S. J. & Lockie, R. G. 2015. Effects Of
Preventative Ankle Taping On Planned Change-Of-Direction And Reactive Agility
Performance And Ankle Muscle Activity In Basketballers. Journal Of Sports Science &
Medicine, 14, 864.
Keles, S., Sekir, U., Gur, H. & Akova, B. 2014. Eccentric/Concentric Training Of Ankle Evertor
And Dorsiflexors In Recreational Athletes: Muscle Latency And Strength. Scandinavian
Journal Of Medicine & Science In Sports, 24.
Keogh, J. W. & Winwood, P. W. 2017. The Epidemiology Of Injuries Across The Weight-Training
Sports. Sports Medicine, 47, 479-501.
240
Kooiker, L., Van De Port, I. G., Weir, A. & Moen, M. H. 2014. Effects Of Physical Therapist–
Guided Quadriceps-Strengthening Exercises For The Treatment Of Patellofemoral Pain
Syndrome: A Systematic Review. Journal Of Orthopaedic & Sports Physical Therapy, 44,
391-B1.
Lack, S., Barton, C., Sohan, O., Crossley, K. & Morrissey, D. 2015. Proximal Muscle
Rehabilitation Is Effective For Patellofemoral Pain: A Systematic Review With Meta-
Analysis. Br J Sports Med, Bjsports-2015-094723.
Lienhard, K., Lauermann, S., Schneider, D., Item-Glatthorn, J., Casartelli, N. & Maffiuletti, N.
2013. Validity And Reliability Of Isometric, Isokinetic And Isoinertial Modalities For The
Assessment Of Quadriceps Muscle Strength In Patients With Total Knee Arthroplasty.
Journal Of Electromyography And Kinesiology, 23, 1283-1288.
Louw, M. & Deary, C. 2014. The Biomechanical Variables Involved In The Aetiology Of Iliotibial
Band Syndrome In Distance Runners–A Systematic Review Of The Literature. Physical
Therapy In Sport, 15, 64-75.
Mcnair, P. J., Colvin, M. & Reid, D. 2011. Predicting Maximal Strength Of Quadriceps From
Submaximal Performance In Individuals With Knee Joint Osteoarthritis. Arthritis Care &
Research, 63, 216-222.
Melam, G. R., Alhusaini, A. A., Perumal, V., Buragadda, S. & Kaur, K. 2016. Comparison Of
Static And Dynamic Balance Between Football And Basketball Players With Chronic
Ankle Instability. Saudi Journal Of Sports Medicine, 16, 199.
Menzel, H.-J., Chagas, M. H., Szmuchrowski, L. A., Araujo, S. R., De Andrade, A. G. & De Jesus-
Moraleida, F. R. 2013. Analysis Of Lower Limb Asymmetries By Isokinetic And Vertical
Jump Tests In Soccer Players. The Journal Of Strength & Conditioning Research, 27,
1370-1377.
Myers, B. A., Jenkins, W. L., Killian, C. & Rundquist, P. 2014. Normative Data For Hop Tests In
High School And Collegiate Basketball And Soccer Players. International Journal Of
Sports Physical Therapy, 9, 596-603.
Nadell, R. S. 2013. The Effects Of Different Warm-Up Modalities On Gluteus Medius Activation,
University Of Rhode Island.
241
Nimphius, S., Callaghan, S. J., Bezodis, N. E. & Lockie, R. G. 2017. Change Of Direction And
Agility Tests: Challenging Our Current Measures Of Performance. Strength &
Conditioning Journal.
Noehren, B., Schmitz, A., Hempel, R., Westlake, C. & Black, W. 2014. Assessment Of Strength,
Flexibility, And Running Mechanics In Men With Iliotibial Band Syndrome. Journal Of
Orthopaedic & Sports Physical Therapy, 44, 217-222.
Park, J.-H., Kang, S.-Y., Choung, S.-D., Jeon, H.-S. & Kwon, O.-Y. 2016. Effects Of Tibial
Rotation On Ober's Test And Patellar Tracking. The Knee, 23, 600-603.
Paterno, M. V., Schmitt, L. C., Ford, K. R., Rauh, M. J., Myer, G. D., Huang, B. & Hewett, T. E.
2010. Biomechanical Measures During Landing And Postural Stability Predict Second
Anterior Cruciate Ligament Injury After Anterior Cruciate Ligament Reconstruction And
Return To Sport. The American Journal Of Sports Medicine, 38, 1968-1978.
Plisky, P. J., Rauh, M. J., Kaminski, T. W. & Underwood, F. B. 2006. Star Excursion Balance Test
As A Predictor Of Lower Extremity Injury In High School Basketball Players. Journal Of
Orthopaedic & Sports Physical Therapy, 36, 911-919.
Regelski, C. L., Ford, B. L. & Hoch, M. C. 2015. Hip Strengthening Compared With Quadriceps
Strengthening In Conservative Treatment Of Patients With Patellofemoral Pain: A
Critically Appraised Topic. International Journal Of Athletic Therapy And Training, 20,
4-12.
Saggin, P. R. F. & Dejour, D. 2015. Anterior Knee Pain In Football. Football Traumatology.
Springer.
Vriend, I., Gouttebarge, V., Van Mechelen, W. & Verhagen, E. 2016. Neuromuscular Training Is
Effective To Prevent Ankle Sprains In A Sporting Population: A Meta-Analysis
Translating Evidence Into Optimal Prevention Strategies. Journal Of Isakos: Joint
Disorders & Orthopaedic Sports Medicine, 1, 202-213.
Wild, C. Y., Hickey, A. & Hall, T. 2016. The Effect Of The Mulligan Knee Taping Technique On
Patellofemoral Pain And Lower Limb Biomechanics: Response. The American Journal Of
Sports Medicine, 44, Np39-Np40.
Winter, T., Beck, H., Walther, A., Zwipp, H. & Rein, S. 2015. Influence Of A Proprioceptive
Training On Functional Ankle Stability In Young Speed Skaters–A Prospective
Randomised Study. Journal Of Sports Sciences, 33, 831-840.
242