Anda di halaman 1dari 18

S

Otomatisasi Tata Kelola


Humas dan Keprotokolan

Bahan Ajar

Kelas XI OTP(KD 3.2 dan 4.2)

Semester Gasal

SMK N 9 Semarang

SILVIA GINTA KIRANA


7101416185
1
Ajaran Tahun :

2019/2020

2
BAHAN AJAR

Pertemuan ke : tiga dan empat


Materi Pokok : Regulasi Bidang Kehumasan

A. Pengertian regulasi
Pengertian Regulasi adalah suatu peraturan yang dibuat untuk
membantu mengendalikan suatu kelompok, lembaga/organisai,dan
masyarakat demi mencapai tujuan tertentu dalam kehidupan
bersama,bermasyarakat,dan bersosialisasi. Di bidang sosial, regulasi sering
digunakan sebagai peraturan yang mengatur masyarakat seperti adanya
norma.
Tujuan dari dibuatnya regulasi atau aturan adalah untuk
mengendalikan manusia atau masyarakat dengan batasan-batasan tertentu.
Regulasi diberlakukan pada berbagai lembaga masyarakat, baik untuk
keperluan masyarakat umum maupun untuk bisnis.

B. Pengertian Humas
Hubungan masyarakat, atau sering disingkat humas adalah seni
menciptakan pengertian publik yang lebih baik sehingga dapat memperdalam
kepercayaan publik terhadap suatu individu/ organisasi.
Menurut IPRA (International Public Relations Association) Humas
adalah fungsi manajemen dari ciri yang terencana dan berkelanjutan melalui
organisasi dan lembaga swasta atau publik (public) untuk memperoleh

3
pengertian, simpati, dan dukungan dari mereka yang terkait atau mungkin
ada hubungannya dengan penelitian opini public di antara mereka.
C. Pengertian regulasi humas
Regulasi humas adalah suatu cara untuk mengendalikan masyarakat
dengan aturan tertentu dalam bidang kehumasan. Tujuan dibuatnya regulasi
atau aturan adalah untuk mengendalikan manusia atau masyarakat dengan
batasan-batasan tertentu. Regulasi diberlakukan pada berbagai lembaga
masyarakat, baik untuk keperluan masyarakat umum maupununtuk bisnis.
Istilah regulasi banyak digunakan dalam berbagai bidang, sehingga
definisinya memang cukup luas. Namun secara umum kata regulasi
digunakan untuk menggambarkan suatu peraturan yang berlaku dalam
kehidupan bermasyarakat.

Regulasi kehumasan :
1. UU No.14 tahun 2008 tentang keterbukaan informasi publik
2. Permendagri No.3 tahun 2017 tentang pedoman pengelolaan pelayanan
informasi dan dokumentasi kementrian dalam negeri dan pemerintah
daerah.

Regulasi yang mengatur di dalamnya, adalah sebagai berikut :


1. Peraturan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara No.30 Tahun 2011,
tentang Tata Kelola Kehumasan Instansi Pemerintahan.
2. Peraturan Menteri Pendayaan Aparatur Negara No.31 Tahun 2011
tentang Pedoman Umum Infrastruktur Humas Pemerintah.
3. Peraturan Menteri Rsitekdikti RI No.75 tahun 2016 tentang Layanan
Informasi Publik.

4
Komisi informasi adalah lembaga mandiri yang berfungsi menjalankan
Undang-undang ini dan peraturan pelaksanaannya, menetapkan petunjuk
teknis standar layanan informasi publik dan menyelesaikan sengketa
informasi publik melalui mediasi dan/atau ajudikasi nonlitigasi
1. Sengketa informasi publik adalah sengketa yang terjadi antara badan
publik yang berkaitan dengan hak memperoleh dan menggunakan
informasi berdasarkan perundang-undangan.
2. Mediasi adalah penyelesaian sengketa informasi publik antara para pihak
melalui bantuan mediator komisi informasi.
3. Ajudikasi adalah proses penyelesaian sengketa informasi publik antara
para pihak yang diputus oleh komisi informasi.

Regulasi Turunan UU KIP


1. PP No.61 tahun 2010 tentang Pelaksanaan UU No.14 Tahun 2008
2. Peraturan Komisi Informasi No.1 Tahun 2010 tentang Standar Layanan
Informasi Publik
3. Peraturan Komisi Informasi No.2 tahun 2010 tentang Prosedur
Penyelesaian Sengketa Informasi Publik
4. Peraturan Komisi Informasi No.1 tahun 2010 tentang standar layanan
informasi publik.
5. Peraturan Komisi Informasi No.1 tahun 2013 tentang prosedur sengketa
informasi No.1 tahun 2013 tentang prosedur sengketa informasi publik.

Undang-undang yang terkait dengan tata kelola humas


1. UU ITE 4. UU Pers
2. UU Penyiaran 5. UU Arsip
3. UU KIP 6. UU Privacy (Perlindungan Data Pribadi)

5
 Peraturan dan Regulasi ITE (Informasi dan Transaksi
Elektronik)
Menurut Nomor 19 Tahun 2016 tentang Perubahan Atas Undang-
undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik
Pasal 1, menyatakan bahwa:
1. Informasi elektronik adalah suatu atau sekumpulan data elektronik,
termasuk tetapi tidak terbatas pada tulisan, suara, gambar, peta,
rancangan, foto, electronic data interchange (EDI), surat elektronik
(electronic mail), telegram, teleks, telecopy atau sejenisnya, huruf, tanda,
angka, Kode Akses, simbol, atau perforasi yang telah diolah yang
memiliki arti atau dapat dipahami oleh orang yang mampu
memahaminya.
2. Transaksi Elektronik adalah perbuatan hukum yang dilakukan dengan
menggunakan Komputer, jaringan komputer, dan/atau media elektronik
lainnya.

ITE adalah kepanjangan dari Informasi Transaksi Eletronik, yang


dimaksud dengan ITE adalah hukum yang mengatur pengguna informasi dan
transaksi elektronik yang dilakukan dengan menggunakan media elektronik.
Undang Undang ITE ini dibuat untuk mengatur maupun memfasilitasi
penggunaan dan transaksi informasi dan transaksi elektronik yang banyak
digunakan saat ini. UU ITE ini juga digunakan untuk melindungi pihak-pihak
yang ada di dalam maupun berkaitan dalam Informasi dan Transaksi
Elektronik ini. Dalam kata lain UU ITE ini dibuat untuk mencegah dan
mengontrol penyimpangan penyimpangan yang mungkin dan dapat terjadi di
dalam proses ITE tersebut.

6
Tujuan pemerintah membuat UU tentang ITE berdasarkan Undang-
Undang Republik Indonesia Nomor 19 Tahun 2016 tentang Perubahan Atas
Undang-undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi
Pasal 40 ayat (2) yaitu, Pemerintah melindungi kepentingan umum dari
segala jenis gangguan sebagai akibat penyalahgunaan Informasi Elektronik
dan Transaksi Elektronik yang mengganggu ketertiban umum, sesuai dengan
ketentuan peraturan perundang-undangan. Sehingga harapan pemerintah
setelah adanya peraturan tersebut masyarakat tidak menyalahgunakan
penggunaan media informasi.

1. Sisi positif UU ITE


a. Bila ada perusahaan yang mendaftarkan nama domain dengan maksud
menjelekkan produk/merk/nama tertentu, perusahaan tersebut bisa
dituntut untuk membatalkan nama domain.
b. Mengakomodir kebutuhan para pelaku bisnis di internet dan masyarakat
pada umumnya guna mendapatkan kepastian hukum, dengan diakuinya
bukti elektronik dan tanda tangan digital sebagai bukti yang sah di
pengadilan.
c. Dapat memberikan peluang bagi bisnis baru dan bagi para
wiraswastawan di Indonesia karena penyelenggaraan sistem elektronik
diwajibkan berbadan hukum yang berdomisili di Indonesia.
d. Memungkinkan kejahatan yang dilakukan oleh seseorang di
luar Indonesia maupun di Indonesia dapat diadili.
e. Bila ada yang melakukan transaksi kartu kredit tanpa sepengetahuan
pemilik kartu (alias carding), secara jelas bisa dituntut melalui hukum.
f. Untuk pemilik blog atau forum bisa dengan lebih leluasa menghapus
semua komentar yang berhubungan dengan makian, kata-kata kotor,

7
menyinggung SARA, menjelekkan orang lain (termasuk nama pemilik
blog), dan itu dilindungi hukum.
2. Sisi negatif UU ITE
a. UU ini dianggap dapat membatasi hak kebebasan berekspresi,
mengeluarkan pendapat dan bisa menghambat kreativitas dalam ber-
internet, terutama pada pasal 27 ayat (1), Pasal 27 ayat (3), Pasal 28
ayat (2), dan Pasal 31 ayat (3). Pasal-pasal tersebut pada dianggap
umumnya memuat aturan-aturan warisan pasal karet (haatzai
artikelen), karena bersifat lentur, subjektif, dan sangat tergantung
interpretasi pengguna UU ITE ini. Ancaman pidana untuk ketiganya pun
tak main-main yaitu penjara paling lama 6 tahun dan/atau denda paling
banyak 1 milyar rupiah.
b. Pemerintah berusaha memblokir website berbau porno dan peredaran
film fitnah (film yang isinya memfitnah umat Islam), Ex : YouTube,
MySpace, Twitter, Facebook, dan RapidShare. Padahal kalau kita lihat,
situs-situs tersebut tidak hanya memberikan dampak negatif saja,
contohnya YouTube. Website Youtube menurut saya tidak hanya berisi
video porno atau film fitnah saja, banyak film ilmu pengetahuan dan
tutorial-tutorial yang banyak memberikan manfaat bagi pengguna
Internet di seluruh Indonesia. Seharusnya jika memblokir, yang harus
diblokir hanyalah content negatif / porno, tidak seharusnya website
Youtube diblokir secara keseluruhan.

8
 Undang-Undang Penyiaran (Undang-Undang Nomor 32
Tahun 2002 tentang Penyiaran)
Undang Undang Penyiaran adalah undang-undang yang mengatur
tentang prinsip-prinsip penyelenggaraan penyiaran yang berlaku
di Indonesia.

1. UU Penyiaran mencakup :
 asas
 tujuan
 fungsi
 dan arah penyiaran nasional

2. UU Penyiaran mengatur tentang :


Ketentuan Komisi Penyiaran Indonesia, jasa penyiaran, Lembaga
Penyiaran Publik, Lembaga Penyiaran Swasta, Lembaga Penyiaran
Berlangganan, Lembaga Penyiaran Komunitas, Lembaga Penyiaran Asing,
stasiun penyiaaran dan jangkauan siaran, serta perizinan dan kegiatan siaran.

3. Tujuan UU Penyiaran :
Penyiaran diselenggarakan dengan tujuan untuk memperkukuh
integrasi nasional, terbinanya watak dan jati diri bangsa yang beriman dan
bertakwa, mencerdaskan kehidupan bangsa, memajukan kesejahteraan
umum, dalam rangka membangun masyarakat yang mandiri, demokratis, adil
dan sejahtera, serta menumbuhkan industri penyiaran Indonesia.

9
 UU KIP (Keterbukaan Informasi Publik)
Undang-Undang No. 14 tahun 2008, tentang Keterbukaan
Informasi Publik adalah salah satu produk hukum Indonesia yang
dikeluarkan dalam tahun 2008 dan diundangkan pada tanggal 30
April 2008 namun mulai berlaku dua tahun setelah diundangkan.
Inti dari Undang-undang yang terdiri dari 64 pasal ini yaitu pada intinya
memberikan kewajiban kepada setiap Badan Publik untuk membuka akses
bagi setiap pemohon informasi publik untuk mendapatkan informasi publik,
kecuali beberapa informasi tertentu.

Tujuan KIP :

1. Menjamin hak warga negara untuk mengetahui rencana pembuatan


kebijakan publik, program kebijakan publik, dan proses pengambilan
keputusan publik, serta alasan pengambilan suatu keputusan publik;

2. Mendorong partisipasi masyarakat dalam proses pengambilan


kebijakan publik;

3. Meningkatkan peran aktif masyarakat dalam pengambilan kebijakan


publik dan pengelolaan Badan Publik yang baik;

4. Mewujudkan penyelenggaraan negara yang baik, yaitu yang


transparan, efektif dan efisien, akuntabel serta dapat
dipertanggungjawabkan;

5. Mengetahui alasan kebijakan publik yang memengaruhi hajat hidup


orang banyak;

10
6. Mengembangkan ilmu pengetahuan dan mencerdaskan kehidupan
bangsa; dan/atau

7. Meningkatkan pengelolaan dan pelayanan informasi di lingkungan


Badan Publik untuk menghasilkan layanan informasi yang berkualitas.

 UU Pers ( Undang-undang Nomor 40 Tahun 1999


tentang Pers)
adalah undang-undang yang mengatur tentang prinsip, ketentuan dan
hak-hak penyelenggara pers di Indonesia.
UU Pers disahkan di Jakarta pada 23 September 1999 oleh Presiden
Indonesia Bacharuddin Jusuf Habibie dan Sekretari Negara Muladi.

 UU Arsip
Beberapa peraturan perundangan kearsipan yang berlaku di Indonesia sejak
tahun 1960 hingga sekarang :
1. PP RI Nomor 19 Tahun 1961
tentang Pokok – Pokok Kearsipan Nasional
2. PP RI Nomor 20 Tahun 1961
tentang Tugas-Kewajiban dan Lapangan Pekerjaan Dokumentasi dan
Perpustakaan dalam Lingkungan Pemerintah
3. UU Nomor 7 Tahun 1971
tentang Ketentuan-Ketentuan Pokok Kearsipan
4. Keputusan Presiden RI Nomor 26 Tahun 1974
tentang Arsip Nasional RI
5. PP RI Nomor 34 Tahun 1979

11
tentang Penyusutan Arsip
6. Surat Edaran Nomor SE/01/1981
tentang Penanganan Arsip Inaktif sebagai Pelaksanaan Ketentuan
Peralihan Peraturan Pemerintah tentang Penyusutan Arsip
7. Surat Edaran Nomor SE/02/1983
tentang Pedoman Umum untuk Menentukan Nilai Guna Arsip
8. Keputusan Presiden RI Nomor 105 Tahun 2004
tentang Pengelolaan Arsip Statis
9. UU RI Nomor 43 Tahun 2009
tentang Kearsipan

 UU Privacy
Pasal 84 UU Adminduk menjelaskan data pribadi penduduk yang harus
dilindungi meliputi:
1. Nomor KK (Kartu Keluarga)
2. NIK (Nomor Induk Kependudukan)
3. Tanggal/bulan/tahun lahir
4. Keterangan tentang kecacatan fisik dan atau mental
5. NIK ibu kandung
6. NIK ayah
7. Beberapa isi catatan Peristiwa Penting

Pengertian Etika/ etiket


Menurut KBBI etiket adalah tata cara dalam masyaakat beradab dalam
memelihara hubungan baik sesama manusianya

12
Etiket berkaitan dengan tata cara pergaulan modern yang biasanya
dihubungkan dengan kehidupan bangsa barat yang memang telah mencapai
taraf kebudayaan, ilmu pengetahuan, industri dan pemerintahan yang tinggi.
Etiket dalam hal tertentu berkaitan dengan etika, tetapi tidak selalu,
sebab etika berhubungan dengan penilaian benar atau salah dan baik atau
buruk yang dilakukan secara sengaja.

Pengertian Etika menurut para ahli :


1. Menurut Sabur, 2001 : 5
Sebagai pedoman baik buruknya perlaku, etika adalah nilai nilai dan asas
asas moral yang dipakai sevagai pegangan umum bgai penentuan baik
buruknya perilaku manusia atau benar salajnya tindakan manusia.
2. Effendy, 1998 : 164
Ditinjau daru sudut ilmu komunikasi seorang pejabat humas adalah
komunikator organisasional, bukan komunikator individu seperti seorang
kiai memipin pesantren atau seorang dosen perguruan tinggi
3. Kenneth E. Andersen, yang disitir effendy (1998)
Etika adalah suatu studi tentang nilai-nilai dan landasan bagi
penerapannya. Ia bersangkutan dengan pertanyaan-pertanyaan
mengenai apa itu kebaikan atau keburukan dan bagaimana seharusnya.

Prinsip Etika
1. Tanggung Jawab
Salah satu prinsip bagi kaum profesional, karena orang yang profesional
sudah pasti bertanggung jawab.
2. Prinsip Keadilan

13
Menurut orang yang profesional agar dalam menjalankan profesinya
tidak merugikan hak & kepentingan tertentu, khususnya orang yang
dilayani dalam rangka profesinya.
3. Prinsip Otonomi
Dituntut oleh kalangan professional terhadap dunia luar agar mereka
diberi kebebasan sepenuhnya menjalankan profesinya
4. Prinsip Intergritas Moral
Orang yang profesional pasti mempunyai intergitras moral yang tinggi
karena memiliki komitmen pribadi untuk menjaga keluruhan profesinya,
nama baiknya dan juga kepentingan orang lain atau masyarakat.

Pentingnya pemahaman etika bagi pejabat humas


Karena menyangkut penampilan dalam rangka menciptakan dan
membina citra organisasi yang diwakilinya. Citra dan penampilan dalam
kaitannya dengan etika sudah disadari & dipermasalahkan sejak lama, sejak
humas dikonseptualisasikan. Lebih lebih setelah didirikan International Public
Assosiation.
IPRA Code of Conduct, yaitu kode etik dari organisasi humas
internasional itu, diterima dalam konvesinya di Venive Mei 1961

Ikhtisar kode etik :


a. Integritas pribadi dan profesional. Reputasi yang sehat, ketaatan pada
konstitusi dan kode IPRA
b. Perilaku kepada klien dan karyawan :
 Perilaku yang adil terhadap klien & karyawan
 Tidak mewakili kepentingan yang berselisih bersaing tanpa persetujuan
 Menjaga kepervayaan klien & karyawan

14
 Tidak menerima upah, kecuali dari klien atau majikan
 Tidak menggunakan metode yang menghina klien lain
 Menjaga kompensasi yang bergantung pada pencapaian suatu hasil
tertentu
c. Perilaku terhadap publik dan media
 Memperhatikan kepentingan umum dan harga diri seseorang
 Tidak merusak integritas media komunikasi
 Tidak menyebarkan secara sengaja informasi yang palsu atau
menyesatkan
 Memberikan gambaran yang dapat dipercaya mengenai organisasi yang
dilayani
 Tidak menciptakan atau menggunakan pengorganisasian palsu untuk
melayani kepentingan pribadi yang tidak terbuka
d. Perilaku terhadap teman sejawat
 Tidak melukai secara sengaja reoutasi profesional atau praktek anggota
lain
 Tidak berupaya mengganti anggota lain dengna karyawannya atau
kliennya
 Bekerja sama dengan anggota lain dalam menjunjung tinggi dan
melaksanakan kode etik ini

Menurut Ruslan (2001), kiat menjadi profesional, yaitu harus memiliki


ciri-ciri khusus tertentu yang melekat pada profesi oleh yang bersangkutan,
khususnya profesional public relation :
1. Memiliki skill atau kemampuan, pengetahuan tinggi oleh orang umum
lainnya pengalaman selama bertahun-tahun yang telah ditempuhnya
sebagai profesional

15
2. Mempunyai kode etik dan merupakan standar moral bagi setiap profesi
yang dituangkan secara formal, tertulis dan normatif dalam suatu bentuk
aturan main, dan perilaku ke dalam “kode etik” yang merupakan standar
atau komitmen moral perilaku dalam pelaksanaan tugas yang
memberikan arahan dan jaminan untuk tetap mematuhi kode etik
3. Memiliki tanggung jawab profesi & integirtas pribadi yang tinggi baik
terhadap dirinya sebagai penyandang profesi humas maupun terhadap
publik, iklim, pimpinan, media massa hingga menjaga martabat serta
nama baik bangsa dan negaranya.
4. Memiliki jiwa pengabdi kepada publik, dan dengan penuh dedikasi profesi
luhur yang disandangnya, yaitu dalam pengambil keputusan adalah
meletakkan kepentingan pribadinya demi kepentingan masyarakat
memiliki jiwa pengabdian dan semangat dedikasi tinggi dan tanpa pamrih
5. Otonomi organisasi profesional, yaitu memiliki kemampuan untuk
mengelola organisasi humas, yang mempunyai kemampuan dalam
perencanaan program kerja jelas, strategik, mandiri dan tidak ergantung
pihak lain serta yang sekaligus dapat bekerjasama dengan pihak terkait,
dapat dipercaya dalam menjalankan operasional, peran dan fungsinya.
6. Menjadi anggota salah satu organisasi profesi sebagai wadah untuk
menjaga eksistensinya, mempertahankan kehormatan dan menertibkan
perilaku standar profesi sebagai tolak ukur agar tidak dilanggar.

Kode Etik Profesi Kehumasan


1. Kode Etik Profesi Kehumasan berdasarkan Asosiasi Perusahaan Public
Relation
a. Penyebarluasan Informasi
b. Mencemarkan anggota-anggota lain
c. Kepentingan yang tersembunyi

16
d. Informasi Rahasia
e. Memberitahukan Kepentingan Keuangan

2. Kode Etik Profesi Kehumasan berdasarkan Perhumas Indonesia


Terdiri dari 4 Pasal :
a. Komitmen Pribadi
b. Perilaku terhadap Klien atau Atasan
c. Perilaku Terhadap Masyarakat dan Media Massa
d. Perilaku terhadap Sejawat
3. Kode Etik Kehumasan Berdasarkan International Public Relation
Association
a. Integritas pribadi dan profesional
b. Perilaku kepada klien dan karyawan
c. Perilaku terhadap publik dan media
d. Perilaku terhadap teman sejawat
4. Kode Etik Kehumasan Pemerintah
a. Hubungan Kerja
b. Tanggung Jawab Pengelola/ Anggota Kehumasan Pemerintah

17
Daftar Pustaka :

https://www.maxmanroe.com/vid/bisnis/pengertian-regulasi.html

https://id.wikipedia.org/wiki/Undang-Undang_Penyiaran

https://id.wikipedia.org/wiki/Undang-Undang_Keterbukaan_Informasi_Publik

https://id.wikipedia.org/wiki/Undang-undang_Pers

Inriyanti, Eka. Published on April, 2018, Etika Profesi Public Relations.


https://www.youtube.com/watch?v=E-Gg9GkWJO0.
Permendagri No.3 tahun 2017

Suyetti, Sri Endang R. Dan Sri Mulyani. 2002. Kearsipan C2. Jakarta :
Erlangga

18