Anda di halaman 1dari 16

KEMITRAAN

(Disusun untuk memenuhi salah satu tugas Mata Kuliah Keperawatan

Komunitas II)

Dosen Keperawatan Komunitas II :

Burdahyat, SKM, M.Kep.

Disusun oleh :

Ati Sumiati 1610105186

Diki Rudiana 1610105190

Egah Eriani 1610105192

Riani Listiani 1610105204

Siti Nurjanah 1610105210

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN (STIKes)

SEBELAS APRIL SUMEDANG

2017-2018
Kata Pengantar

Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Allah Swt, karena berkat rahmat

dan karunia-Nya penulis dapat menyusun dan menyelesaikan makalah yang

berjudul “Kemitraan” dengan sebaik-baiknya dan sesuai dengan waktu yang

ditentukan. Selawat serta salam senantiasa tercurah limpahkan kepada Nabi

Muhammad Saw, kepada keluarganya, sahabat-sahabatnya, dan seluruh umatnya.

Dalam penulisan makalah ini penulis menjelaskan tentang kemitraan

khususnya dalam bidang kesehatan. Dalam kesempatan kali ini penulis ingin

mengucapkan termakasih kepada semua pihak yang telah membantu dalam

penyusunan makalah ini. Secara khusus penulis mengucapkan terimakasih kepada

Bapak Burdahyat, SKM, M.Kep. selaku dosen mata kuliah Keperawatan

Komunitas II.

Tanpa dukungan dan bantuan dari semua pihak makalah ini tidak akan

terselesaikan dengan baik. Penulis sangat mengharapkan kritik dan saran yang

sekiranya bersifat membangun dari semua pihak untuk perbaikan dan

penyempurnaan di masa yang akan datang.

Sumedang, 01 April 2018

Penulis

i
Daftar Isi

Kata Pengantar .......................................................................................................i

Daftar Isi ................................................................................................................ii

BAB I PENDAHULUAN

1.1Latar Belakang Masalah .................................................................................1

1.2Rumusan Masalah ..............................................................................................

1.3Tujuan Penulisan ................................................................................................

BAB II LANDASAN TEORI DAN PEMBAHASAN

2.1

BAB III PENUTUP

3.1Simpulan .............................................................................................................

3.2Saran ....................................................................................................................

Daftar Pustaka

ii
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah

Kemitraan merupakan upaya melibatkan berbagai komponen baik

kelompok, masyarakat, lembaga pemerintah atau non pemerintah untuk bekerja

sama mencapai tujuan bersama berdasarkan atas kesepakatan, prinsip dan peran

masing-masing.

Pengembangan kesehatan masyarakat di Indonesia yang telah dijalankan

selama ini masih memperlihatkan adanya ketidaksesuaian antara pendekatan

pembangunan kesehatan masyarakat dengan tanggapan masyarakat, manfaat yang

diperoleh masyarakat, dan partisipasi masyarakat yang diharapkan. Meskipun di

dalam Undang-undang No. 23 Tahun 1992 tentang Kesehatan telah ditegaskan

bahwa tujuan pembangunan kesehatan masyarakat salah satunya adalah

meningkatkan kemandirian masyarakat dalam mengatasi masalah

kesehatannya. Oleh karena itu pemerintah maupun pihak-pihak yang memiliki

perhatian cukup besar terhadap pembangunan kesehatan masyarakat termasuk

komunitas perlu mencoba mencari terobosan yang kreatif agar program-program

tersebut dapat dilaksanakan secara optimal dan berkesinambungan.

Hingga saat ini, dan beberapa tahun yang akan datang di negara-negara

berkembang seperti Indonesia, masalah kesehatan masih menjadi prioritas utama

di kalangan masyarakat. Dan ini menjadi salah satu patokan keberhasilan program

kesehatan di negara-negara yang sedang berkembang. Langkah yang dapat

1
2

dilakukan demi tercapainya keberhasilan dalam penanganan masalah kesehatan di

masyarakat salah satunya adalah dengan suatu proses yang disebut kemitraan.

Maka dari itu penulis mengambil sebuah judul “Kemitraan” dalam penulisan

makalah ini.

1.2 Rumusan Masalah

1.3 Tujuan Penulisan


BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Kemitraan

Kemitraan pada esensinya adalah dikenal dengan istilah gotong royong atau

kerjasama dari berbagai pihak, baik secara individual maupun kelompok. Menurut

Notoatmodjo (2003), kemitraan adalah suatu kerja sama formal antara individu-

individu, kelompok-kelompok atau organisasi-organisasi untuk mencapai suatu

tugas atau tujuan tertentu.

Kemitraan adalah hubungan (kerjsama) antara dua pihak atau lebih,

berdasarkan kesetaraan, keterbukaan dan saling menguntungkan (memberikan

manfaat).

Ada berbagai pengertian kemitraan secara umum (Promkes Depkes RI)

meliputi :

1. Kemitraan mengandung pengertian adanya interaksi dan interelasi minimal

antara dua pihak atau lebih dimana masing-masing pihak merupakan

”mitra” atau ”partner”;


2. Kemitraan adalah proses pencarian/perwujudan bentuk-bentuk kebersamaan

yang saling menguntungkan dan saling mendidik secara sukarela untuk

mencapai kepentingan bersama;


3. Kemitraan adalah upaya melibatkan berbagai komponen baik sektor,

kelompok masyarakat, lembaga pemerintah atau non-pemerintah untuk

3
4

bekerja sama mencapai tujuan bersama berdasarkan atas kesepakatan,

prinsip, dan peran masing-masing;


4. Kemitraan adalah suatu kesepakatan dimana seseorang, kelompok atau

organisasi untuk bekerjasama mencapai tujuan, mengambil dan

melaksanakan serta membagi tugas, menanggung bersama baik yang berupa

resiko maupun keuntungan, meninjau ulang hubungan masing-masing

secara teratur dan memperbaiki kembali kesepakatan bila diperlukan.

(Ditjen P2L & PM, 2004)

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) arti kata mitra adalah

teman, kawan kerja, pasangan kerja, rekan. Kemitraan artinya perihal hubungan

atau jalinan kerjasama sebagai mitra.Kemitraan pada esensinya adalah dikenal

dengan istilah gotong royong atau kerjasama dari berbagai pihak, baik secara

individual maupun kelompok.

Kemitraan adalah upaya yang melibatkan berbagai sektor, kelompok

masyarakat, lembaga pemerintah maupun bukan pemerintah, untuk bekerjasama

dalam mencapai suatu tujuan bersama berdasarkan kesepakatan prinsip dan peran

masing-masing. Dengan demikian untuk membangun kemitraan harus memenuhi

beberapa persyaratan yaitu persamaan perhatian, saling percaya dan saling

menghormati, harus saling menyadari pentingnya kemitraan, harus ada

kesepakatan misi, visi, tujuan dan nilai yang sama, harus berpijak pada landasan

yang sama, kesediaan untuk berkorban.


5

2.2 Unsur-Unsur Kemitraan

Adapun unsur-unsur kemitraan adalah sebagai berikut :

1. Adanya hubungan (kerjasama) antara dua pihak atau lebih;


2. Adanya kesetaraan antara pihak-pihak tersebut;
3. Adanya keterbukaan atau kepercayaan (trust relationship) antara pihak-

pihak tersebut;
4. Adanya hubungan timbal balik yang saling menguntungkan atau memberi

manfaat.

Menurut Ansarul Fahruda, dkk (2005), untuk membangun sebuah

kemitraan, harus didasarkan pada hal-hal berikut :

1. Kesamaan perhatian (common interest) atau kepentingan;


2. Saling mempercayai dan saling menghormati;
3. Tujuan yang jelas dan terukur;
4. Kesediaan untuk berkorban baik, waktu, tenaga, maupun sumber daya yang

lain.
2.3 Prinsip Kemitraan

Terdapat 3 prinsip yang perlu dipahami dalam membangun suatu kemitraan

oleh masing-masing anggota kemitraan yaitu :

1. Prinsip Kesetaraan (Equity). Individu, organisasi atau institusi yang telah

bersedia menjalin kemitraan harus merasa sama atau sejajar kedudukannya

dengan yang lain dalam mencapai tujuan yang disepakati.


2. Prinsip Keterbukaan. Keterbukaan terhadap kekurangan atau kelemahan

masing-masing anggota serta berbagai sumber daya yang dimiliki. Semua

itu harus diketahui oleh anggota lain. Keterbukaan ada sejak awal dijalinnya

kemitraan sampai berakhirnya kegiatan. Dengan saling keterbukaan ini akan

menimbulkan saling melengkapi dan saling membantu diantara golongan

(mitra).
6

3. Prinsip Azas Manfaat Bersama (Mutual Benefit). Individu, organisasi atau

institusi yang telah menjalin kemitraan memperoleh manfaat dari kemitraan

yang terjalin sesuai dengan kontribusi masing-masing. Kegiatan atau

pekerjaan akan menjadi efisien dan efektif bila dilakukan bersama.

Prinsip-prinsip kemitraan menurut WHO untuk membangun kemitraan

kesehatan adalah sebagai berikut.

1. Policy-makers (pengambil kebijakan);


2. Health managers;
3. Health professionals;
4. Academic institutions;
5. Communities institutions.
2.4 Dasar Kemitraan

Terdapat 4 dasar kemitraan yaitu sebagai berikut.

1. Kesamaan perhatian (common interest) atau kepentingan. Dalam

membangun kemitraan, masing-masing anggota harus merasa mempunyai

perhatian dan kepentingan bersama. Tanpa adanya perhatian dan

kepentingan yang sama terhadap suatu masalah niscaya kemitraan tidak

akan terjadi.
2. Saling mempercayai dan saling menghormati. Kepercayaan (trust) adalah

modal dasar setiap relasi/hubungan antar manusia.


3. Tujuan yang jelas dan terukur. Arti penting dari kemitraan adalah

mewujudkan kebersamaan antar anggota untuk menghasilkan sesuatu yang

menuju kearah perbaikan kesejahteraan masyarakat pada umumnya.


4. Kesediaan untuk berkorban baik, waktu, tenaga, maupun sumber daya yang

lain.

Adapun dasar pemikiran kemitraan dalam kesehatan adalah sebagai berikut.


7

1. Kesehatan adalah hak azasi manusia, merupakan investasi, dan sekaligus

merupakan kewajiban bagi semua pihak.


2. Masalah kesehatan saling berkaitan dan saling mempengaruhi dengan

masalah lain, seperti masalah pendidikan, ekonomi, sosial, agama, politik,

keamanan, ketenagakerjaan, pemerintahan, dll.


3. Oleh sebab itu, masalah kesehatan tidak dapat diatasi oleh sektor kesehatan

sendiri, melainkan semua pihak juga perlu peduli terhadap masalah

kesehatan tersebut, khususnya kalangan swasta.


4. Dengan peduli pada masalah kesehatan tersebut, berbagai pihak khususnya

pihak swasta diharapkan juga memperoleh manfaat, karena kesehatan

meningkatan kualitas SDM dan meningkatkan produktivitas.


5. Pentingnya kemitraan (partnership) ini mulai digencarkan oleh WHO pada

konfrensi internasional promosi kesehatan yang keempat di Jakarta pada

tahun 1997.
6. Sehubungan dengan itu perlu dikembangkan upaya kerjsama yang saling

memberikan manfaat. Hubungan kerjasama tersebut akan lebih efektif

dan efisien apabila juga didasari dengan kesetaraan.


2.5 Landasan
Adapun landasan dalam proses kemitraan adalah sebagai berikut.
1. Memahami kedudukan , tugas fungsi masing-masing ( structure )
2. Memahami kemampuan masing – masing ( capacity )
3. Menghubungi ( linkage )
4. Mendekati ( proximity )
5. Terbuka / membuka ( opennes )
6. Mendorong / mendukung ( synergy )
7. Menghargai ( Reward )
2.6 Model-model Kemitraan dan Jenis Kemitraan

Secara umum, model kemitraan dalam sektor kesehatan dikelompokkan

menjadi dua (Notoadmodjo, 2003) yaitu:

1. Model I
8

Model kemitraan yang paling sederhana adalah dalam bentuk jaring kerja

(networking) atau building linkages. Kemitraan ini berbentuk jaringan kerja

saja. Masing-masing mitra memiliki program tersendiri mulai dari

perencanaannya, pelaksanaannya hingga evalusi. Jaringan tersebut terbentuk

karena adanya persamaan pelayanan atau sasaran pelayanan atau

karakteristik lainnya.

2. Model II

Kemitraan model II ini lebih baik dan solid dibandingkan model I. Hal ini

karena setiap mitra memiliki tanggung jawab yang lebih besar terhadap

program bersama. Visi, misi, dan kegiatan-kegiatan dalam mencapai tujuan

kemitraan direncanakan, dilaksanakan, dan dievaluasi bersama.

Menurut Beryl Levinger dan Jean Mulroy (2004), ada empat jenis atau tipe

kemitraan yaitu :

1. Potential Partnership. Pada jenis kemitraan ini pelaku kemitraan saling

peduli satu sama lain tetapi belum bekerja bersama secara lebih dekat.
2. Nascent Partnership. Kemitraan ini pelaku kemitraan adalah partner tetapi

efisiensi kemitraan tidak maksimal


3. Complementary Partnership. Pada kemitraan ini, partner/mitra mendapat

keuntungan dan pertambahan pengaruh melalui perhatian yang besar pada

ruang lingkup aktivitas yang tetap dan relatif terbatas seperti program

delivery dan resource mobilization.


4. Synergistic Partnership. Kemitraan jenis ini memberikan mitra keuntungan

dan pengaruh dengan masalah pengembangan sistemik melalui penambahan

ruang lingkup aktivitas baru seperti advokasi dan penelitian.


9

Bentuk-bentuk atau tipe kemitraan menurut Pusat Promosi Kesehatan

Departemen Kesehatan RI yaitu terdiri dari aliansi, koalisi, jejaring, konsorsium,

kooperasi dan sponsorship. Bentuk-bentuk kemitraan tersebut dapat tertuang

dalam :

1. SK bersama;
2. MOU (Memorantum of understanding);
3. Pokja;
4. Forum komunikasi;
5. Kontrak kerja atau perjanjian kerja.
2.7 Pelaku Kemitraan
Adapun pelaku kemitraan secara umum adalah sebagai berikut.
1. Sektor Swasta
2. Ynit/Program internal kesehatan
3. Sektor-sektor pemerintah
4. Lembaga Swadaya Masyarakat
5. Organisasi Berbagai Agama
6. Organisasi Berbasis Masyarakat
7. Lembaga Perwakilan Rakyat
8. Organisasi Wanita
9. Perguruan Tinggi
10. Organisasi Profesi
11. Organisasi Pemuda
12. Lembaga Adat Tradisional
13. Media Massa
14. Komponen Masyarakat Lainnya
15. Penyandang Dana
10

2.8 Tahap-Tahap Kemitraan Kesehatan

Untuk mengembangkan kemitraan di bidang kesehatan secara konsep terdiri

atas 3 tahap.

1. Kemitraan lintas program di lingkungan sektor kesehatan sendiri.


2. Kemitraan lintas sektor di lingkungan institusi pemerintah.
3. Membangun kemitraan yang lebih luas, lintas program, lintas sektor lintas

bidang dan lintas organisasi yang mencakup unsur pemerintah, unsur swasta

atau dunia usaha, unsur LSM dan organisasi massa, dan unsur organisasi

profesi.
2.9 Proses Kemitraan
Setiap kegiatan tentunya membutuhkan sebuah proses demi terlaksananya

kegiatan tersebut. Adapun langkah-langkah dalam kegiatan kemitraan adalah

sebagai berikut.
1. Penjajagan
2. Penyamaan persepsi
3. Pengaturan peran
4. Komunikasi intensif
5. Melaksanakan kegiatan
6. Pemantauan dan penilaian
2.10 Tujuan Kemitraan Kesehatan

Tujuan umun dari kemitraan kesehatan yaitu meningkatkan percepatan,

efektivitas dan efisiensi upaya kesehatan dan upaya pembangunan pada

umumnya. Sedangkan tujuan khusus dari kemitraan yaitu meningkatkan rasa

saling pengertian, meningkatkan rasa saling percaya, meningkatkan rasa saling

memerlukan, meningkatkan rasa kedekatan, membuka peluang untuk saling

membantu, meningkatkan daya, kemampuan, dan kekuatan, serta meningkatkan

rasa saling menghargai.

Tujuan Umum : Meningkatkan percepatan, efektivitas dan Efisiensi upaya

kesehatan dan upaya lainnya.


11

Hasil yang diharapkan : percepatan, efektifitas dan efisiensi berbagai upaya

termasuk kesehatan.

Tujuan Khusus :

Adalah peningkatan 7 saling :

1. saling pengertian

2. saling percaya

3. saling memerlukan

4. saling kedekatan

5. saling bantu

6. saling menghargai

7. saling dorong kemampuan

2.11 Peran Kemitraan


Adapun peran kemitraan adalah sebagai berikut.
1. Initiator
2. Motor / dinamisator
3. Fasilitator
4. Anggota aktif
5. Perserta kreatif
6. Pemasok input teknis
7. Dukungan sumber daya
2.12 Sistem Kemitraan Kesehatan
Sistem dalam kemitraan kesehatan berdasarkan urutan kegiatan meliputi

input, proses, output, dan outcome.


1. Input

Meliputi jenis dan jumlah instansi/sektor yang akan diajak bermitra,

mengkaji potensi masing-masing sektor, yang meliputi sumber daya manusia,

keuangan, tugas pokok dan fungsi masing-masing, serta memprediksi peran

masing-masing.

2. Proses
12

Diadakan pertemuan dengan tahapan penjajakan, sosialisasi/advokasi

kemudian dibangun kesepakatan. Dilanjutkan dengan pertemuan pendalaman dan

penyusunan rencana kegiatan.

3. Output

Tersusunnya rencana kerja yang berisi program, kegiatan, penanggung

jawab, peran masing-masing, lokasi, waktu, biaya. Dilanjutkan dengan

pelaksanaan kegiatan serta monitoring dan evaluasi.

4. Outcome

Indikator kesehatan membaik. Adapun indikator kesehatan yang dimaksud

yaitu sebagai berikut.

1. Angka kesakitan (IR, PR)


2. Angka kematian
3. Angka kelahiran
4. Umur harapan hidup
5. Perilaku kesehatan
6. Status gizi
BAB III
PENUTUP

3.1 Simpulan
3.2 Saran

13