Anda di halaman 1dari 26

Materi Inti 6.

Etnografi Kesehatan

MATERI INTI 6
ETNOGRAFI KESEHATAN
(BUDAYA DAN KEYAKINAN TENTANG KESEHATAN DAN
PELAYANAN KESEHATAN DI MASYARAKAT)

I. DESKRIPSI SINGKAT
Indonesia terdiri dari ribuan pulau dan dihuni oleh ratusan suku bangsa.
Selain itu bumi nusantara ini juga memiliki beranekaragam budaya
yang merupakan kekayaan dan kekhasan bangsa Indonesia.
Beranekaragamnya suku dab budaya yang tersebar di bumi nusantara
ini sangat mewarnai upaya kesehatan. Upaya kesehatan bisa berupa
pelayanan konvensional maupun tradisional dan komplementer berupa
kegiatan preventif, promotif, kuratif, dan rehabilitatif. Guna menjamin
tercapainya derajat kesehatan masyarakat setinggi-tingginya, maka
dalam hal pelayanan kesehatan harus meliputi pula pelayanan
kesehatan berbasis masyarakat, di dalamnya termasuk pengobatan
dan cara-cara tradisional yang terjamin keamanan dan khasiatnya.

Pola dasar kesehatan masyarakat tidak terlepas dari masalah sosial,


budaya, maupun lingkungan setempat. Orientasi budaya
menggambarkan sikap, pandangan, dan persepsi atas masalah
kehidupan, termasuk kesehatan, yang dapat memberikan dampak
positif maupun negatif terhadap status kesehatan masyarakat secara
umum. Pemahaman tentang budaya masyarakat terkait masalah
kesehatan sangat penting untuk diperhatikan sebagai faktor penentu
menuju keberhasilan gerakan masyarakat (GERMAS) dan program-
program kesehatan yang bertujuan meningkatkan kualitas hidup
individu maupun masyarakat. Gambaran tersebut dapat dimanfaatkan
oleh para petugas kesehatan untuk mengetahui, mempelajari, dan
memahami semua hal yang berlaku di masyarakat.

Melalui modul ini, Anda diajak belajar bagaimana dapat memahami


antara kesehatan dengan perspektif nilai-nilai dan etika (budaya) yang
ada di masyarakat.

SELAMAT BELAJAR !!!

Modul Pelatihan Pembekalan Penugasan Khusus Tenaga Kesehatan Individual 292


Materi Inti 6. Etnografi Kesehatan

II. TUJUAN PEMBELAJARAN


A. Tujuan Pembelajaran Umum
Setelah mengikuti pembelajaran, peserta mampu memahami antara
kesehatan dengan budaya (nilai-nilai dan etika) lokal di masyarakat.

B. Tujuan Pembelajaran Khusus


Setelah mempelajari materi ini peserta mampu:
1. Menjelaskan budaya lokal dan keyakinan di masyarakat tentang
penyakit dan kesehatan
2. Mengidentifikasi peran pemangku kepentingan layanan
kesehatan dalam pengambilan keputusan tentang pelayanan
kesehatan di masyarakat
3. Menelaah pengaruh sosial budaya terhadap kesehatan
masyarakat dan pelayanan kesehatan

III. POKOK BAHASAN DAN SUB POKOK BAHASAN


Pokok bahasan dan sub pokok bahasan pada materi ini terdiri atas :
A. Konsep Etnografi Kesehatan
1. Konsep dasar etnografi kesehatan
2. Hubungan budaya dengan kesehatan (konsep sehat dan sakit
menurut budaya masyarakat)
3. Model gunung es budaya (iceberg theory)
B. Analisis peran pemangku kepentingan layanan kesehatan dalam
pengambilan keputusan di masyarakat
1. Identifikasi stakeholder kesehatan di masyarakat
2. Analisis stakeholder kesehatan di masyarakat
C. Pengaruh sosial budaya terhadap kesehatan masyarakat dan
pelayanan kesehatan

IV. MEDIA DAN ALAT BANTU


a. Modul
b. Bahan Tayang
c. Video
d. Komputer/laptop
e. LCD
f. Flipchart
g. White Board
h. Spidol
i. Panduan Diskusi Kelompok
j. Lembar Kasus

Modul Pelatihan Pembekalan Penugasan Khusus Tenaga Kesehatan Individual 293


Materi Inti 6. Etnografi Kesehatan

V. URAIAN MATERI

POKOK BAHASAN 1.
KONSEP ETNOGRAFI KESEHATAN

A. Konsep Dasar Etnografi Kesehatan

Manusia pada dasarnya hidup sebagai makhluk budaya yang


memiliki akal, budi dan daya untuk dapat membuahkan suatu
gagasan dan hasil karya yang berupa seni, moral, hukum,
kepercayaan yang terus dilakukan dan pada akhirnya membentuk
suatu kebiasaan atau adat istiadat yang kemudian diakumulasikan
dan ditransmisikan secara sosial atau kemasyarakatan.

Etnografi berasal dari dua kata dari bahasa latin, yaitu "ethnos" yang
artinya bangsa, dan "graphy" atau "grafien" artinya lukisan,
gambaran atau uraian. Dari dua kata tersebut secara etimologis
etnografi yaitu gambaran suatu suku bangsa yang berkaitan erat
dengan kebudayaannya, atau dapat dikatakan etnografi adalah
uraian atau gambaran tentang bangsa-bangsa di suatu tempat dan
di suatu waktu.

Hasil Penelitian etnografi kesehatan oleh tim Balitbangkes yang


dipimpin oleh Tri Juni secara umum telah menunjukkan eratnya
hubungan antara kebudayaan suatu etnis dengan tingkat kesehatan
masyarakatnya. Penelitian telah menunjukkan, dimensi budaya
merupakan aspek yang sangat penting dalam menentukan status
kesehatan seseorang, masyarakat, bahkan suatu bangsa. Dalam hal
intervensi kesehatan, nilai-nilai budaya yang positif di masyarakat
akan didorong dan dikembangkan menjadi kekuatan dalam
peningkatan kualitas upaya pembangunan kesehatan. Sebaliknya,
nilai-nilai budaya yang dipandang negatif akan dimodifikasi sehingga
tidak merugikan kesehatan masyarakat.

Budaya adalah suatu cara hidup yang berkembang dan


dimiliki bersama oleh sebuah kelompok orang dan diwariskan dari
generasi ke generasi.
1. Budaya dapat terbentuk dari banyak unsur yang rumit, termasuk
sistem agama dan politik, adat istiadat, bahasa, perkakas,
pakaian, bangunan, dan karya seni

Modul Pelatihan Pembekalan Penugasan Khusus Tenaga Kesehatan Individual 294


Materi Inti 6. Etnografi Kesehatan

2. Budaya bersifat kompleks, abstrak, dan luas. Banyak aspek


budaya turut menentukan perilaku komunikatif.
3. Budaya terdiri dari pola-pola, eksplisit dan implisit, dari dan untuk
perilaku yang diperoleh dan disebarkan dengan simbol-simbol,
merupakan pencapaian khas kelompok manusia, termasuk
perwujudannya dalam artefak; inti penting dari budaya terdiri dari
ide-ide tradisional (yaitu berasal dan dipilih secara historikal) dan
terutama nilai-nilai yang melekat padanya; sistem budaya, di satu
sisi dapat dianggap sebagai produk dari tindakan, di sisi lain
sebagai elemen pengkondisian tindakan lanjutan. (Kroeber and
Kluckhold, 1952)
4. Budaya berarti keseluruhan kompleks perilaku tradisional yang
telah dikembangkan oleh umat manusia dan dipelajari oleh setiap
generasi. Suatu budaya tidak kaku. Hal ini dapat berarti bentuk
perilaku tradisional yang merupakan karakteristik dari suatu
masyarakat tertentu, atau kelompok masyarakat, atau ras
tertentu, atau dari daerah tertentu, atau periode waktu tertentu.
(Margaret Mead, 1973)
5. Budaya adalah perangkat lunak pikiran. (Hofstede 1997)

Bronislaw Malinowski mengatakan ada 4 unsur pokok budaya yang


diantaranya meliputi:
1. Sistem norma sosial yang memungkinkan kerja sama antara para
anggota masyarakat untuk menyesuaikan diri dengan alam
sekelilingnya
2. Organisasi ekonomi
3. Alat-alat, dan lembaga-lembaga atau petugas-petugas untuk
pendidikan (keluarga adalah lembaga pendidikan utama)
4. Organisasi kekuatan (politik)

Wujud budaya dapat berupa ide-ide, gagasan, nilai, norma,


peraturan, dan lain sebagainya atau sering diistilahkan sebagai adat
istiadat. Wujud budaya yang lain berupa sistem sosial, yaitu aktivitas
serta tindakan berpola manusia dalam masyarakat. Wujud budaya
bisa pula berupa benda atau hal-hal yang dapat dilihat, diraba, dan
difoto, yaitu hasil fisik dari aktivitas, perbuatan dan karya seperti alat
sunat, alat penumbuk jamu, dan lain sebagainya. Wujud budaya
tersebut merefleksikan budaya dan identitas sosial masyarakatnya.

Modul Pelatihan Pembekalan Penugasan Khusus Tenaga Kesehatan Individual 295


Materi Inti 6. Etnografi Kesehatan

B. Hubungan Budaya dengan Kesehatan


Kebudayaan-kebudayaan ini dapat dilihat dalam kehidupan sehari-
hari seperti halnya jika salah seorang anggota keluarga menderita
suatu penyakit (misal demam karena masuk angin) hal yang
pertama dilakukan sebelum pergi ke dokter pastilah mencoba
untuk menyembuhkannya. Misal dengan kerokan. Ini adalah ciri dari
sebuah kebudayaan yang sangaterat hubungannya dengan
kesehatan. Dimana anggapan masyarakat mengenai demam
karenamasuk angin ini akan hilang apabila angin di dalam tubuh
keluar. Maka kerokan adalah hal yang paling masuk akal bagi
mereka dan tanpa mereka ketahui pula bahwa kerokan ini
memilikidampak yang negatif bagi tubuh kita. Karena pori-pori dalam
tubuh akan terbuka dan terluka. Namun dibalik efeknya yang negatif
ini tidak bisa kita pungkiri bahwa jasanya sangat besar karena
terbukti dapat menyembuhkan. Akibat hal inilah banyak masyarakat
yang cenderung memegang kokoh prinsip ini. Dimana angin yang
terlalu banyak di dalam tubuh hanya dapat dikeluarkan dengan
kerokan yang bertujuan membuka pori-pori dan mengeluarkan
udara yang mengumpul di dalam tubuh.

Selain kerokan diatas masih banyak lagi contoh-contoh kebudayaan


yang memiliki hubungan dengan kesehatan Selain contoh terebut
unsur-unsur budaya juga mampu menciptakan suatu kebiasaan
makan penduduk yang kadang bertentangan dengan prinsip-prinsip
ilmu gizi. Permisalan yang lain dapat kita lihat dalam kehidupan
masyarakat yang masih tradisional. Jika anggota keluarga sakit
mereka akan mengunjungi dukun untuk menyembuhkan. Hal ini
dikarenakan keyakinan mereka terhadap si dukun tersebut sangatlah
tinggi.

Hal lainnya karena mereka takut dengan dokter. Sebab mereka


berpikir jika pergi ke dokter mereka pasti akan disuntik dengan jarum
yang besar. Sebab lainnya yakni karena masih menganggap bahwa
sakit yang mereka derita ada hubungannya dengan hal-hal yang
berbau mistis. Untuk menghindari hal tersebutlah mengapa mereka
lebih memilih untuk menggunakan dan mempercayakan
kesehatannya pada dukun tradisional yang notabene belum tentu
mengerti.

Modul Pelatihan Pembekalan Penugasan Khusus Tenaga Kesehatan Individual 296


Materi Inti 6. Etnografi Kesehatan

Aspek budaya yang mempengaruhi status kesehatan dan perilaku


kesehatan menurut G.M. Foster (1973) antara lain :
1. Pengaruh Tradisi
Ada beberapa tradisi di dalam masyarakat yang dapat
berpengaruh negatif terhadap kesehatan masyarakat
2. Sikap Fatalistis
Hal ini adalah sikap fatalistis yang juga mempengaruhi perilaku
kesehatan. Contoh: beberapa anggota masyarakat dikalangan
kelompok tertentu (fanatik) yang beragam tertentu percaya bahwa
anak adalah titipan tuhan, dan sakit atau mati adalah takdir,
sehingga masyarakat kurang berusaha untuk segera mencari
pertolongan pengobatan bagi anaknya yang sakit
3. Sikap Ethosentris
Sikap yang memandang kebudayaan sendiri yang paling baik jika
dibandingkan dengan kebudayaan pihak lain
4. Pengaruh perasaan bangga pada statusnya
Contoh: Dalam upaya perbaikan gizi, disuatu daerah pedesaan
tertentu, menolak untuk makan daun singkong, walaupun mereka
tahu kandungan vitaminnya tinggi. Setelah diselidiki ternyata
masyarakat beranggapan daun singkong hanya pantas untuk
makanan kambing, dan mereka menolaknya karena status
mereka tidak dapat disamakan dengan kambing
5. Pengaruh norma
Contoh: upaya untuk menurunkan angka kematian ibu dan bayi
banyak mengalami hambatan karena ada norma yang melarang
hubungan antara dokter yang memberikan pelayanan dengan
bumil sebagai pengguna pelayanan
6. Pengaruh nilai
Nilai yang berlaku didalam masyarakat berpengaruh terhadap
perilaku kesehatan. Contoh: masyarakat memandang lebih
bergengsi beras putih daripada beras merah, padahal mereka
mengetahui bahwa vitamin B1 lebih tinggi diberas merah daripada
diberas putih.
7. Pengaruh unsur budaya yang dipelajari pada tingkat awal dari
proses sosialisasi terhadap perilaku kesehatan
Kebiasaan yang ditanamkan sejak kecil akan berpengaruh
terhadap kebiasaan pada seseorang ketika dewasa kelak.
Misalnya saja, manusia yang biasa makan nasi sejak kecil, akan
sulit diubah kebiasaan makannya setelah dewasa.
8. Pengaruh konsekuensi dari inovasi terhadap perilaku kesehatan

Modul Pelatihan Pembekalan Penugasan Khusus Tenaga Kesehatan Individual 297


Materi Inti 6. Etnografi Kesehatan

Apabila seorang petugas kesehatan ingin melakukan perubahan


perilaku kesehatan masyarakat, maka yang harus dipikirkan
adalah konsekuensi apa yang akan terjadi jika melakukan
perubahan, menganalisis factor-faktor yang terlibat/berpengaruh
pada perubahan, dan berusaha untuk memprediksi tentang apa
yang akan terjadi dengan perubahan tersebut.

Modul Pelatihan Pembekalan Penugasan Khusus Tenaga Kesehatan Individual 298


Materi Inti 6. Etnografi Kesehatan

Dalam hal intervensi kesehatan, nilai-nilai budaya yang positif di masyarakat


akan didorong dan dikembangkan menjadi kekuatan dalam peningkatan
kualitas upaya pembangunan kesehatan. Sebaliknya, nilai-nilai budaya
yang dipandang negatif akan dimodifikasi sehingga tidak merugikan
kesehatan masyarakat.

1. Kelompok 1. Coba anda identifikasi dan sebutkan nilai-nilai budaya yang


positif di masyarakat yang dapat didorong dan dikembangkan

No Nilai Budaya/Tradisi Aspek yang didorong/


Budaya Masyarakat dikembangkan
1
2
3

2. Kelompok 2. Coba anda identifikasi dan sebutkan nilai-nilai budaya yang


negatif di masyarakat yang dapat dimodifikasi.

NO Nilai Budaya/Tradisi Aspek yang dimodifikasi


Budaya Masyarakat
1
2
3

Presentasikan hasil diskusi kelompok anda didepan kelas !

Modul Pelatihan Pembekalan Penugasan Khusus Tenaga Kesehatan Individual 299


Materi Inti 6. Etnografi Kesehatan

C. Model Gunung Es (Iceberg Theory)

Sumber gambar : adnmandala.blogspot.com

Sebuah metafora umum untuk budaya adalah gunung es. Gunung


es mengapung di atas air dan terlihat oleh mata, tetapi di bawah
permukaan mereka dapat memperpanjang ratusan kaki dan dapat
secara signifikan lebih besar daripada apa yang terlihat di atas air.
Sebagai metafora untuk budaya, bagian dari gunung es di atas
permukaan adalah budaya yang terlihat, termasuk hal-hal seperti
ritual dan perilaku yang tampilkan.

Ketika kita melihat di bawah permukaan, namun, kita menemukan


petunjuk untuk "cara hal-hal yang benar-benar dilakukan di sini" -
norma, aturan tak tertulis, asumsi bersama, diambil untuk diberikan
kepercayaan, proses kerja dan sebagainya. Apa yang di atas
permukaan tidak selalu konsisten dengan apa yang di bawah ini.
Itulah yang di bawah permukaan yang benar-benar mendukung atau
menghambat budaya organisasi dan kemampuan untuk berinovasi
atau menerima pembaruan.

Budaya dan perumpamaan gunung es dapat juga diumpamakan


menjadi tiga bagian yaitu budaya permukaan, budaya dalam, dan
budaya paling dalam.
1. Budaya permukaan
Berada di atas permukaan atau yang dapat diamati
2. Budaya dalam

Modul Pelatihan Pembekalan Penugasan Khusus Tenaga Kesehatan Individual 300


Materi Inti 6. Etnografi Kesehatan

Berada tepat dibawah permukaan dan termasuk aturan-aturan


dan perilaku yang tidak tersampaikan
3. Budaya paling dalam
Berdasarkan pada nilai dan bersifat emosional/meaning/spiritual

Salah satu konsep yang digunakan dalam berpikir sistem (System


Thinking) untuk melakukan analisis permasalahan adalah IceBerg
Theory atau yang dikenal dengan teori gunung es. Dengan sistem
ini, seorang Systems Thinker akan melihat bahwa sebuah kejadian
(Event) mungkin saja tidak berdiri sendiri. System Thinker melihat
permasalahan dalam 4 (empat) tingkatan:
1) Kejadian (event)
Peristiwa adalah kejadian yang dapat kita lihat, dengar atau
rasakan yang terjadi di dunia ini
2) Perilaku (System or pattern of Behavior)
Pola/pattern adalah sebuah pola tertentu yang menjadi pemicu
terjadinya sebuah peristiwa. Setiap peristiwa pasti memiliki

Modul Pelatihan Pembekalan Penugasan Khusus Tenaga Kesehatan Individual 301


Materi Inti 6. Etnografi Kesehatan

sebuah pola tertentu. Tidak ada hal yang kebetulan di dunia ini,
semua pasti terjadi karena ada pola tertentu
3) Struktur (Underlying/ Sistematic Structure)
Struktur adalah peristiwa yang menyebabkan atau mendorong
terjadinya sebuah pola tertentu
4) Mental Models
Mental model adalah nilai, kepercayaan atau asumsi
yang menopang atau menyangga pandangan masyarakat
mengenai sebuah structure

Sumber gambar: http://www.goodinnovation.co.uk/

Dari tingkat pemikiran yang paling dalam itu, akan ditemui


bagaimana struktur sistemik masalah, pola dan kecenderungannya,
yang menyebabkan mengapa hal itu dapat terjadi.

Contoh sederhana dari Iceberg Model ini adalah missal ketika


seseorang mengalami flu. Seseorang yang sedang terkena penyakit
flu merupakan apa yang kita lihat sehingga itu disebut sebagai
persitiwa. Setelah itu, kita perlu menemukan pola dari kejadian
tersebut. Salah satu kemungkinan pola yang terjadi adalah orang
tersebut sangat sering terkena flu ketika sedang mengalami
kelelahan atau dengan kata lain daya tahan tubuhnya sedang
menurun.

Dari pola tersebut, kita kemudian kembali berpikir untuk


menemukan struktur dari peristiwa tersebut. Struktur yang mungkin
dapat dipahami dengan mudah adalah orang tersebut mengalami
kelelahan karena sangat sering bergadang sehingga kurang tidur.
Kemudian yang terakhir setelah menemukan struktur dari
sebuah peristiwa, untuk lebih mengetahui dasar dari masalah

Modul Pelatihan Pembekalan Penugasan Khusus Tenaga Kesehatan Individual 302


Materi Inti 6. Etnografi Kesehatan

tersebut kita perlu menemukan mental model. Pada contoh kali


ini, mental model yang yang menjadi contoh adalah budaya
pedesaan, di mana bergadang dengan menjaga keamanan desa
(ronda) merupakan bakti dan pengadbdian pada warga.

Dari penjabaran Iceberg Model tersebut, kita dapat menentukan


solusi yang lebih komprehensif untuk sebuah masalah. Misalkan
untuk contoh kasus flu di atas, jika kita hanya melihat peristiwa dari
sebuah masalah kesehatan, maka kita cenderung untuk memberikan
solusi sederhana yaitu minum obat flu. Mungkin solusi tersebut
dapat menyelesaikan masalah tapi kemungkinan untuk jangka waktu
yang pendek. Dalam beberapa hari kemudian, kemungkinan besar
orang tersebut akan kembali mengalami flu karena pola-nya akan
kembali berulang.

Menanggapi suatu peristiwa jauh lebih mudah ketimbang pola dan


kecenderungan, struktur sistemik, serta mental models, meskipun
kita tahu bahwa peristiwa itu sesungguhnya ditimbulkan oleh mental
models. Namun, jika kita bisa melihat lebih dalam, maka kita akan
mengetahui jika yang perlu diperbaiki adalah cara berbakti dan
pengabdian dari orang tersebut. Dalam contoh peristiwa tersebut
berarti solusi yang diberikan dapat bersifat lebih jangka panjang dan
kemungkinan akan menyelesaikan masalah dari akarnya.
Bertingkatnya pemahaman masalah juga akan menghasilkan
perspektif pengertian yang bertingkat (level of understanding) pula
dan akhirnya akan memunculkan pola pikir dan jenis tindakan (action
mode) untuk mengantisipasinya. Pemikiran yang hirarkis itu akan
menggambarkan pula tingkat ungkitan (leverage) dan masa
berlakunya (fungsinya terhadap waktu). Tingkatan perspektif yang
berbeda itu merupakan kunci pemahaman karena kita hidup dalam
suatu kenyataan events oriented dan bahasa kita berakar pada
tingkatan peristiwa.

Modul Pelatihan Pembekalan Penugasan Khusus Tenaga Kesehatan Individual 303


Materi Inti 6. Etnografi Kesehatan

Bacalah cuplikan artikel berikut :

Modul Pelatihan Pembekalan Penugasan Khusus Tenaga Kesehatan Individual 304


Materi Inti 6. Etnografi Kesehatan

LATIHAN

Peristiwa : Berdasarkan artikel tersebut masih besar


kepercayaan masyarakat kepada dukun
beranak dalam membantu proses melahirkan,
begitu pula dengan dukun beranak yang kurang
memahami akibat dari penanganannya
membantu proses melahirkan tanpa bantuan
bidan.
Pola perilaku :…?
Struktur Sistemik : …?
Mental model : 1. … ?
2. … ?

- Coba anda analisis kasus tersebut diatas


menggunakan iceberg model (masalah dan solusi)
yang telah dijelaskan.
- Presentasikan hasil analisis kelompok.
(diharapkan setiap kelompok mampu memiliki persfektif
dan solusi yang berbeda untuk memperkaya kajian
diskusi)

Modul Pelatihan Pembekalan Penugasan Khusus Tenaga Kesehatan Individual 305


Materi Inti 6. Etnografi Kesehatan

POKOK BAHASAN 2.
PERAN PEMANGKU KEPENTINGAN LAYANAN KESEHATAN
DALAM PENGAMBILAN KEPUTUSAN DI MASYARAKAT

A. Identifikasi Pemangku Kepentingan

Menurut anda siapa saja steakholder


yang akan terlibat dengan anda
ketika nanti anda bertugas?

Sebelum anda mampu mengidentifikasi siapa pemangku


kepentingan yang akan terlibat dengan tugas anda, maka anda
harus memahami terlebih dahulu apa definisi dari pemangku
kepentingan atau stakeholder.

Pemangku kepentingan atau yang biasa disebut juga steakholder


adalah orang-orang, atau kelompok atau lembaga yang
kemungkinan besar terkena pengaruh dari suatu kegiatan/program
atau sebaliknya yang mungkin memberikan pengaruh terhadap hasil
dari kegiatan/ program baik pengaruh itu positif maupun negatif.

Singkatnya pemangku kepentingan yaitu perorangan, organisasi dan


sejenisnya yang memiliki andil atau perhatian dalam masyarakat.
Dalam konteks sektor kesehatan, pemangku kepentingan dapat
dikategorikan seperti kader, pemerintah (desa/dinas), organisasi
masyarakat (LSM/Ormas), tokoh agama, tokoh adat, pendidik dan
masyarakatnya sendiri.

Pemangku kepentingan perlu memutuskan bagaimana cara terbaik


mengatur peran masing-masing untuk menanggulangi suatu
masalah kesehatan di tempat anda ditugaskan. Anda dan mereka
akan bekerjasama untuk mengembangkan sebuah rencana dan
terlibat untuk menelusuri dan menangani masalah yang terjadi.

Modul Pelatihan Pembekalan Penugasan Khusus Tenaga Kesehatan Individual 306


Materi Inti 6. Etnografi Kesehatan

“Kuncinya adalah medayagunakan stakeholders menjadi mitra-


mitra di lokasi tempat ANDA ditempatkan. DAN pastikan bahwa
mereka berkepentingan di dalam keberhasilan anda.”

B. Analisis Pemangku Kepentingan / Stakeholder


Mengapa penting dilakukan analisis stakeholder ini?
 Untuk menentukan siapa yang seharusnya ikut berpartisipasi
dalam proses (kegiatan/program)
 Untuk menentukan bagaimana setiap pihak seharusnya
berperan/partisipasi
 Untuk menilai cara yang tepat dan kemampuan para pihak untuk
berpartisipasi

Analisis stakeholder ini merupakan instrumen yang sangat penting


untuk memahami konteks sosial dan kelembagaan dari satu
kegiatan program / kegiatan. Hal-hal yang diungkap dari tools ini
bisa memberikan informasi sangat penting seawal mungkin tentang:
1. siapa saja yang akan dipengaruhi oleh program / kegiatan baik
positif ataupun negatif;
2. siapa saja yang mungkin memberikan pengaruh terhadap
program / kegiatan baik positif ataupun negatif;
3. individu, kelompok, dan lembaga apa saja yang perlu dilibatkan
dalam program / kegiatan serta bagaimana caranya; dan siapa
saja yang perlu dibangun kapasitasnya agar turut berpartisipasi
aktif di dalamnya

Alat yang bisa anda gunakan untuk membantu proses identifikasi


yaitu “Matriks Pemangku Kepentingan”. Matriks tersebut dapat:
1. membandingkan dan memperbedakan informasi yang tersedia
terkait beragam pemangku kepentingan yang berbeda.
2. dapat mencakup berbagai jenis informasi.
3. tidak menjadikan proses bersifat “partisipatory”.
4. Informasi dapat dikumpulkan secara konsultatif, dianalisis dan
ditindaklanjuti; atau matriks tersebut dapat dibuat, dianalisis dan
diterapkan oleh pemangku kepentingan sendiri. Apakah suatu

Modul Pelatihan Pembekalan Penugasan Khusus Tenaga Kesehatan Individual 307


Materi Inti 6. Etnografi Kesehatan

proses itu bersifat partisipatif atau tidak, bukan tergantung pada


alat tetapi bagaimana itu digunakan.

Matriks ini memetakan posisi para pemangku kepentingan


bedasarkan komponen besarnya pengaruh dan tingkat kepentingan
pemangku kepentingan tersebut terhadap masalah yang dihadapi.
Pemangku kepentingan berasal dari berbagai sektor.

Terdapat dua hal penting, yaitu stakeholder yang mempunyai


pengaruh (influence) dan stakeholder yang sangat berkepentingan /
mempunyai arti penting (importance).
 Pengaruh/influence lebih menunjukkan tingkat kekuasaan yang
dimiliki stakeholder terhadap jalannya program / kegiatan. Hal ini
dapat diuji melalui cara-cara pengendalian dan penguasaan
mereka terhadap proses-proses pengambilan keputusan baik
secara langsung maupun melalui penguasaan terhadap jalannya
program / kegiatan atau sebaliknya melalui perintangan terhadap
jalannya program / kegiatan. Penguasaan ini bisa berasal dari
status atau kekuasaan yang memang dimiliki, ataupun melalui
hubungan informal dengan pemimpin-pemimpin formal yang dia
miliki selama ini.
 Kepentingan/importance berkaitan dengan tingkatan di mana
pencapaian tujuan program / kegiatan sangat tergantung pada
keterlibatan aktif yang diberikan oleh kelompok stakeholder
bersangkutan. Stakeholder yang berkepentingan terhadap
program / kegiatan pada umumnya adalah yang kebutuhan-
kebutuhannya bersesuaian dengan tujuan program / kegiatan.
Beberapa kelompok stakeholder mungkin sangat
penting/importance terhadap satu program / proyek (seperti:
kelompok perempuan perdesaan pada program kesehatan
reproduksi), namun boleh jadi pengaruhnya/influence sangat-
sangat terbatas terhadap program / kegiatan. Kelompok
stakeholder ini membutuhkan upaya-upaya khusus untuk lebih
meningkatkan partisipasi mereka serta lebih meyakinkan mereka
bahwa kebutuhan-kebutuhan mereka sungguh-sungguh sejalan
dengan program / kegiatan.

Baik pengaruh/influence maupun kepentingan/importance dari


berbagai stakeholder ini bisa diranking dengan skala sederhana dan
dipetakan satu sama lainnya, sebagai langkah awal untuk

Modul Pelatihan Pembekalan Penugasan Khusus Tenaga Kesehatan Individual 308


Materi Inti 6. Etnografi Kesehatan

menentukan strategi yang cocok bagi pelibatan mereka. Kedua


variabel utama ini juga bisa dilakukan assessment di tahap-tahap
awal berdasarkan pengetahuan/informasi yang dimiliki oleh pihak-
pihak yang sangat mengenal “kepedulian” para stakeholder tersebut
terhadap program/proyek. Namun demikian, assessment yang lebih
mendalam perlu dilakukan melalui wawancara-wawancara secara
langsung (diperlukan keterampilan bertanya).

Tabel 6.2.1. Contoh I Daftar Pemangku Kepentingan


Pemangku Pemangku Pemangku
Kepentingan Sektor Kepentingan Kepentingan
Swasta Sektor Publik Masyarakat Sipil
1. Pebisnis individu 5. Dinas 10. Media lokal
2. Pengusaha 6. Apparat 11. ustad
ternak desa/PNS 12. karang taruna
3. Pengusaha 7. Anggota 13. remaja mesjid
pertanian parlemen
4. Lembaga terpilih
finansial 8. Babinsa
9. Guru

Tabel 6.2.2. Contoh II Daftar Pemangku Kepentingan


NO STAKEHOLDER PERAN HAK TANGGUNG
JAWAB
1 Dinas Penanggung
jawab vertikal
2 Mayarakat adat
3 Ustad
4 Paraji/dukun
beranak
5
6

Modul Pelatihan Pembekalan Penugasan Khusus Tenaga Kesehatan Individual 309


Materi Inti 6. Etnografi Kesehatan

Tools : “Matriks Pemangku Kepentingan”

Sumber gambar: https://www.slideshare.net/CIFOR/identifikasi-stakehodler

Contoh beberapa pemangku kepentingan ditingkat puskesmas:


 Pemangku kepentingan pemerintah, seperti pemerintah
kecamatan (camat, sekcam), pemerintah desa (kades, rt, rw
kaur), dinas/uptd dsb.
 Pemangku kepentingan dari organisasi masyarakat (ormas/LSM):
Karang taruna
 Pemangku kepentingan dari masyarakat: tokoh adat, ustad,
dukun beranak dll

Modul Pelatihan Pembekalan Penugasan Khusus Tenaga Kesehatan Individual 310


Materi Inti 6. Etnografi Kesehatan

Sumber gambar: https://www.slideshare.net/CIFOR/identifikasi-stakehodler

Dengan memperhatikan kelompok steakholder di atas, strategi untuk


mempengaruhinya adalah:

1. PROMOTERS yaitu kelompok yang memiliki kepentingan


terhadap program dan juga memiliki kekuatan untuk membantu
keberhasilan atau kegagalan program/kegiatan.

Stakeholder yang mempunyai daya pengaruh tinggi dan


kepentingan yang tinggi pula, harus bisa dilibatkan sepenuhnya di
seluruh tahapan program /kegiatan demi untuk memberikan

Modul Pelatihan Pembekalan Penugasan Khusus Tenaga Kesehatan Individual 311


Materi Inti 6. Etnografi Kesehatan

keyakinan pada mereka bahwa keberhasilan program / kegiatan


adalah atas dukungan mereka.

Strategi yang dipersiapkan:


a. Komunikasi dengan memberikan informasi untuk menambah
keyakinan akan sangat diperlukan dan bergunanya
program/kegiatan
b. Menyampaikan maksud, tujuan, manfaat dari hasil serta
impactnya
c. Meminta dukungan secara penuh

2. DEFENDER yaitu kelompok yang memiliki kepentingan pribadi


dan dapat menyuarakan kepentingan dalam komunitas tetapi
kekuatannya kecil untuk mempengaruhi program/kegiatan.

Stakeholder dengan pengaruh yang kecil namun kepentingan /


arti penting terhadap proyek yang sangat tinggi membutuhkan
upaya-upaya khusus dan strategi-strategi khusus, agar mereka
menjadi yakin bahwa kebutuhan-kebutuhan mereka sejalan
dengan tujuan program / kegiatan dan keterlibatkan mereka
sungguh-sungguh sangat bermakna.

Strategi yang dipersiapkan:


a. Komunikasi dengan motivasi untuk membuktikan bahwa kita
bersama bisa
b. Menjaga semangat, motivasi, apresiasi, melibatkan

3. LATENS yaitu kelompok steakholder tidak memiliki kepentingan


khusus maupun terlibat dalam program/kegiatan, tetapi mereka
memiliki kekuatan besar untuk mempengaruhi program jika
mereka menjadi tertarik.

Stakeholder yang mempunyai daya pengaruh tinggi namun tidak


terlalu berkepentingan, bukanlah target utama program / kegiatan,
namun sangat mungkin menjadi penentang / opposan atau
minimal selalu mengintervensi. Dari sini, mereka perlu
mendapatkan perlakuan bahwa keberadaan mereka itu adalah
penting, selalu berikan pada mereka informasi-informasi, dan
berikan pengakuan terhadap pandangan-pandangan mereka, hal
ini perlu dilakukan agar tidak timbul keonaran dan konflik terbuka.

Modul Pelatihan Pembekalan Penugasan Khusus Tenaga Kesehatan Individual 312


Materi Inti 6. Etnografi Kesehatan

Strateginya :
a. Membangun komunikasi lebih intensif akan penting, manfaat
dan dampak program
b. Memperlakukan mereka dengan sangat baik

4. APATHETICS yaitu kelompok yang tidak memiliki kepentingan


atau kekuatan dan mungkin tidak mengetahui adanya
program/kegiatan.

Stakeholder dengan pengaruh dan kepentingan yang kecil atau


bahkan tidak sama sekali, mau tidak mau juga perlu dilibatkan
dalam program / kegiatan namun tidak memerlukan statregi
partisipasi / pelibatan mereka secara sangat khusus. Stretaginya:
Memberikan informasi seperlunya dan menjaga hubungan agar
tidak menjadi penghambat

Terdapat beberapa langkah yang mungkin dapat juga Anda lakukan dalam melakukan
analisis stakeholder yaitu:
Langkah I, identifikasilah stakeholder kunci antara lain:
1. Siapa saja penerima manfaat yang potensial dari program/kegiatan ini?
2. Siapa saja yang mungkin menerima dampak buruk dari program/kegiatan ini?
3. Apakah kelompok-kelompok yang rentan telah diidentifikasi? Siapa saja?
4. Apakah kelompok-kelompok pendukung dan kelompok-kelompok lawan juga telah
diidentifikasi? Siapa saja?
5. Apa saja hubungan-hubungan yang terjadi di antara stakeholder-stakeholder
tersebut?

Langkah II, lakukan assessment terhadap kepentingan-kepentingan para stakeholder dan


dampak-dampak potensial yang muncul dari kepentingan-kepentingan ini:
1. Apa saja harapan-harapan yang muncul dari para stakeholder terhadap program/
kegiatan ini?
2. Keuntungan-keuntungan / manfaat-manfaat apa saja yang mungkin akan diperoleh
para stakeholder?
3. Sumberdaya-sumberdaya apa saja yang bisa atau bahkan mungkin sangat ingin
dimobilisasi oleh para stakeholder?
4. Apa saja kepentingan-kepentingan para stakeholder yang berlawanan dengan
tujuan-tujuan program /kegiatan?
Modul Pelatihan Pembekalan Penugasan Khusus Tenaga Kesehatan Individual 313
Materi Inti 6. Etnografi Kesehatan

Langkah III, lakukan assessment terhadap pengaruh dan kepentingan para stakeholder ini:
Untuk setiap kelompok stakeholder lakukan assessment terhadap;
1. Kekuasaan dan statusnya (politik, sosial, dan ekonomi)
2. Derajat / level lembaga / organisasinya
3. Penguasaan terhadap sumber-sumber daya yang strategis
4. Pengaruh-pengaruh informal (seperti hubungan-hubungan personal)
5. Relasi kekuasaan dengan stakeholder lainnya
6. Arti penting terhadap keberhasilan program / kegiatan

Langkah IV, buatlah satu kerangka untuk menentukan strategi pelibatan stakeholder:
Rencana pelibatan stakeholder ini didasarkan pada:
1. Ketertarikan, pengaruh, dan kepentingan dari setiap kelompok stakeholder
2. Upaya-upaya khusus yang diperlukan untuk melibatkan stakeholder-stakeholder
yang penting / yang bekepentingan namun tidak mempunyai pengaruh.
3. Bentuk-bentuk partisipasi yang memadai pada keseluruhan siklus program /
proyek.

Modul Pelatihan Pembekalan Penugasan Khusus Tenaga Kesehatan Individual 314


Materi Inti 6. Etnografi Kesehatan

Latihan
Berlatihlah untuk memetakan para pihak pemangku
kepentingan pada suatu masalah kesehatan/penyakit yang
erat hubungannya akibat dari pengaruh budaya masyarakat.
Untuk latihan ini, bagilah kelas menjadi 2 kelompok.
a. Kelompok 1 identifikasi kasus (masalah
kesehatan/program) yang terjadi di masyarakat
perkotaan secara umum.
b. Kelompok 2 identifikasi kasus (masalah
kesehatan/program) yang terjadi di masyarakat
pedesaan Indonesia secara umum.

Petunjuk aktivitas:
 Buatlah daftar pemangku kepentingan yang mungkin dapat
dilibatkan!
 Buatlah grid di mana anda perkirakan pemangku kepentingan
akan dikelompokkan berdasarkan arti penting/pengaruhnya,
dengan menggunakan matriks !
 Di antara pemangku kepentingan yang ada, siapa yang dapat
menjadi mitra dalam memastikan keberhasilan program Anda?
 Bagaimanakah rencana Anda untuk dapat membangun kerjasama
dengan mereka?

Modul Pelatihan Pembekalan Penugasan Khusus Tenaga Kesehatan Individual 315


Materi Inti 6. Etnografi Kesehatan

C. Pengaruh Sosial Budaya terhadap Kesehatan Masyarakat dan


Pelayanan Kesehatan

Bab ini adalah bab yang berisi muatan lokal yang disesuaikan sesuai
konteks dan wilayah tugas anda. Anda akan menelaah isu-isu
sensitif tentang budaya di masyarakat yang berkorelasi dengan isu
kesehatan/ pelayanan kesehatan sesuai lokasi (wialayah) tugas
yang akan Anda tempati.

Sumber gambar:
https://play.google.com/store/apps/details?id=com.oktomo.nusantara

Latihan
1. Buatlah beberapa kelompok sesuai wilayah tugas yang berdekatan
(kabupaten/provinsi)
2. Setiap kelompok mengkaji isu tentang budaya di masyarakat sesuai
lokasi tugasnya nanti (lokal desa/kecamatan/kabupaten/provinsi), coba
anda identifikasi isu paling serius terkait dengan budaya dan kesehatan.
3. Buatlah analisis tentang apa pengaruh isu tersebut terhadap efektivitas
program-program kesehatan (nasional)?
4. Buatlah analisis dengan teori gunung es dan matrik pemangku
kepentingan terhadap isu yang kelompok anda angkat tersebut!
5. Apa rekomendasi anda terhadap isu tersebut?
6. Presentasikan hasil kajian (asumsi) anda tersebut menggunakan model
pembelajaran windows shooping

Modul Pelatihan Pembekalan Penugasan Khusus Tenaga Kesehatan Individual 316


Materi Inti 6. Etnografi Kesehatan

REFERENSI

Indohun, 2016, Pedoman Aplikasi Softskill OH Budaya Kepercayaan Nilai


dan Etika. Indohun National Coordinating Office

BBPK Ciloto, 2016, Modul Pelatihan Kesehatan Terpadu, BBPK Ciloto


BPPSDMK Kemenkes

Angkasawati, Tri Juni dkk. 2013. Simpang Jalan Pelayanan Kesehatan Ibu
dan Anak Sebuah Studi Etnografi. Kanisius. Pushum Balitbangkes

Iqbal Muhammad. Analisis Peran Pemangku Kepentingan Dan


Implementasi Dalam Pembangunan Pertanian.

SALADIN ACHMAD Participation and Social Assessment, Tools and


Techniques, http://training-saladin.blogspot.co.id/2012/07/analisis-
stakeholder.html

Yasmin, Puti Aini. 2016. Ini Kata Menkes Soal Dukun Beranak yang Masih
Jadi 'Andalan' di Beberapa Daerah.
http://health.detik.com/read/2016/08/16/093608/3276376/763/ini-kata-
menkes-soal-dukun-beranak-yang-masih-jadi-andalan-di-beberapa-
daerah

Ardi, Yusri. (2011). Teori IceBerg dalam Budaya Organisasi. [Online].


Tersedia: http://ardiyusri.blogspot.co.id/2011/12/teori-iceberg-dalam-
budaya-organisasi_29.html diakses pada 22 Mei 2017

Djunaedi, Ahmad. (2011). The IceBerg Theory atau Teori Gunung Es dan
Aplikasinya. [Online]. Tersedia : http://ahmad-
djuaeni.blogspot.co.id/2011/12/iceberg-theory-atau-teori-gunung-es-
dan_6071.html diakses pada 22 Mei 2017

Setiawan, Agus. (2008). Filosofi dari IceBerg. [Online]. Tersedia:


https://aguscen.wordpress.com/2008/03/31/filosofi-dari-ice-berg/
diakses pada 22 Mei 2017

http://kekecahyaningtyas.blogspot.co.id/2015/05/aspek-budaya-yang-
mempengaruhi-kesehatan.html

http://duniabaca.com/definisi-budaya-pengertian-kebudayaan.html
https://id.wikipedia.org/wiki/Budaya

Modul Pelatihan Pembekalan Penugasan Khusus Tenaga Kesehatan Individual 317