Anda di halaman 1dari 14

MAKALAH SWAMEDIKASI

“MABUK PERJALANAN”

Dosen pengampu :
Dr. Titik Sunarni, M.Si., Apt

Apoteker 38 B

Disusun Oleh :
1. RAMDHANY EKA PUTRI (1920384280)
2. REGITA AYU ISMARDIKASIWI (1920384281)
3. REHUELLA APVIA JUDITHLAKSITA (1920384282)
4. RENA MEUTIA (1920384283)

PROGRAM STUDI PROFESI APOTEKER


FAKULTAS FARMASI
UNIVERSITAS SETIA BUDI
SURAKARTA
2019
BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Latar belakang


Swamedikasi atau pengobatan sendiri merupakan bagian dari upaya masyarakat
menjaga kesehatannya sendiri. Pada pelaksanaanya, swamedikasi /pengobatan sendiri
dapat menjadi masalahterkait obat (Drug Related Problem) akibat terbatasnya
pengetahuan mengenai obat dan penggunaannya (Nur Aini, 2017). Dasar hukum
swamedikasi adalah peraturan Menteri Kesehatan No. 919 Menkes/Per/X/1993. Menurut
Pratiwi, et al (2014) swamedikasi merupakan salah satu upaya yang sering dilakukan
oleh seseorang dalam mengobati gejala sakit atau penyakit yang sedang dideritanya
tanpa terlebih dahulu melakukan konsultasi kepada dokter.
Swamedikasi yang tepat, aman,dan rasional terlebih dahulu mencari informasi
umum dengan melakukan konsultasi kepada tenaga kesehatan seperti dokter atau
petugas apoteker. Adapun informasi umum dalam hal ini bisa berupa etiket atau brosur.
Selain itu, informasi tentang obat bisa juga diperoleh dari apoteker pengelola apotek,
utamanya dalam swamedikasi obat keras yang termasuk dalam daftar obat wajib apotek
(Depkes RI., 2006; Zeenot, 2013).
Hasil penelitian di atas menunjukkan bahwa seseorang yang melakukan
swamedikasi karena menganggap penyakit yang diderita ringan. Swamedikasi juga
dilakukan karena faktor jauhnya dengan keluarga, atau kebiasaan yang sudah turun
temurun dari keluarga dan bahkan kepraktisan. Swamedikasi juga dipengaruhi oleh
biaya yang ringan karena hanya terbebani pembelian obat tanpa harus mengeluarkan
biaya tambahan lain.
Motion sickness atau kinetosis, juga dikenal sebagai penyakit perjalanan, adalah
suatu kondisi dimana ada perbedaan antara sinyal yang diterima otak dari mata dan
organ-organ sensitif terhadap posisi lainnya termasuk sistem vestibular mengenai posisi
tubuh. Penyakit ini bukan merupakan suatu keadaan patologis, tapi merupakan respon
yang normal untuk stimulasi terhadap individu yang tidak familiar yang karenanya harus
dilakukan adaptasi.

1.2. Tujuan
 Mengetahui cara swamedikasi pada pengobatan mabuk perjalanan
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Swamedikasi
Swamedikasi atau self medication adalah penggunaan obat-obatan tanpa resep
oleh seseorang atas inisiatifnya sendiri (FIP, 1999). Dasar hukum swamedikasi adalah
peraturan Menteri Kesehatan No. 919 Menkes/Per/X/1993. Secara sederhana, dapat
dijelaskan bahwa swamedikasi merupakan salah satu upaya yang sering dilakukan oleh
seseorang dalam mengobati gejala sakit atau penyakit yang sedang dideritanya tanpa
terlebih dahulu melakukan konsultasi kepada dokter. Namun penting untuk dipahami
bahwa swamedikasi yang tepat, aman,dan rasional tidak dengan cara mengobati tanpa
terlebih dahulu mencari informasi umum yang bisa diperoleh tanpa harus melakukan
konsultasi dengan pihak dokter. Adapun informasi umum dalam hal ini bisa berupa
etiket atau brosur. Selain itu, informasi tentang obat bisa juga diperoleh dari apoteker
pengelola apotek, utamanya dalam swamedikasi obat keras yang termasuk dalam daftar
obat wajib apotek (Depkes RI., 2006; Zeenot, 2013).
2.2 Faktor Penyebab Swamedikasi
Ada beberapa faktor penyebab swamedikasi yang keberadaannya hingga saat ini
semakin mengalami peningkatan. Beberapa faktor penyebab tersebut berdasarkan hasil
penelitian WHO; antara lain sebagai berikut :
2.2.1. Faktor sosial ekonomi
Seiring dengan meningkatnya pemberdayaan masyarakat, yang berdampak pada
semakin meningkatnya tingkat pendidikan, sekaligus semakin mudahnya akses untuk
memperoleh informasi, maka semakin tinggi pula tingkat ketertarikan masyarakat
terhadap kesehatan. Sehingga hal itu kemudian mengakibatkan terjadinya peningkatan
dalam upaya untuk berpartisipasi langsung terhadap pengambilan keputusan kesehatan
oleh masing-masing individu tersebut.
2.2.2. Gaya hidup
Kesadaran tentang adanya dampak beberapa gaya hidup yang bisa berpengaruh
terhadap kesehatan, mengakibatkan banyak orang memiliki kepedulian lebih untuk
senantiasa menjaga kesehatannya daripada harus mengobati ketika sedang mengalami
sakit pada waktu-waktu mendatang.
2.2.3. Kemudahan memperoleh produk obat
Saat ini, tidak sedikit dari pasien atau pengguna obat lebih memilih kenyamanan
untuk membeli obat dimana saja bisa diperoleh dibandingkan dengan harus mengantri
lama di Rumah Sakit maupun klinik.
2.2.4. Faktor kesehatan lingkungan
Dengan adanya praktik sanitasi yang baik, pemilihan nutrisi yang benar sekaligus
lingkungan perumahan yang sehat, berdampak pada semakin meningkatnya kemampuan
masyarakat untuk senantiasa menjaga dan mempertahankan kesehatannya sekaligus
mencegah terkena penyakit.
2.2.5.Ketersediaan produk baru
Semakin meningkatnya produk baru yang sesuai dengan pengobatan sendiri dan
terdapat pula produk lama yang keberadaannya juga sudah cukup populer dan 9
semenjak lama sudah memiliki indeks keamanan yang baik. Hal tersebut langsung
membuat pilihan produk obat untuk pengobatan sendiri semakin banyak tersedia
(Zeenot, 2013).
2.3. Mabuk Perjalanan
Mabuk perjalanan atau motion sickness (motion = gerakan, sikcness =
penyakit/gangguan), mabuk perjalanan adalah suatu gangguan yang disebabkan oleh
adanya gerakan. Hal ini muncul akibat adanya ketidaksesuaian informasi yang
dikirimkan oleh indra (pusat keseimbangan di telinga/vestibular) tubuh ke otak.
Sejumlah aktivitas dalam perjalanan dapat memicu keadaan ini, seperti melihat objek
yang bergerak cepat pada saat meliat keluar kendaraan, membaca didalam mobil, dll.
Atau bisa juga disebabkan kondisi kendaraan dan lintasan yang dilewati seperti sistem
suspensi mobil yang tidak nyaman dan menimbulkan guncangan, kondisi jalan yang
tidak rata dan berkelok-kelok. Tidak ketinggalan kondisi fisik anda juga yang paling
menentukan seperti kondisi tubuh yang kurang fit atau perut dalam kondisi kosong.
Motion sickness atau kinetosis adalah kondisi yang ditandai dengan pucat, mual,
dan muntah. Hal ini dikarenakan oleh kejadian yang benar-benar terjadi. Banyaknya
lingkungan yang berbeda yang terjadi disekitar kita dapat menyebabkan mual dan
muntah, dan hal ini diindentifikasikan dengan terminologi sebagai mabuk laut, mabuk
udara, mabuk darat, mabuk ski, dan bahkan mabuk gajah atau unta. Walaupun jelas
kelihatan keragaman stimulasi penyebab, terdapat ciri khas yang sama yang
memprovokasi stimulasi dan dalam hal gejala dan tanda. Pola dari perkembangan gejala
bergantung pada sifat dari kondisi terpapar dan sifat individualnya.
Setiap orang yang mempunyai fungsi vestibular yang normal mudah terkena
penyakit ini sampai kebeberapa derajat walaupun kepekaan mereka berbeda dalam
tingkat kekuatan yang melatarbelakanginya untuk pola yang sama dari gerakan tubuhnya
sendiri. Secara relatif, stimulasi yang diprovokasi seperti gerakan yang lembut gejala-
gejala dari kepala lebih dominan seperti rasa sakit kepala, mengantuk. Sedangkan untuk
stimulasi yang diprovokasi seperti membuat kepala berputar selama melakukan putaran
gejala dari pencernaan lebih dominan seperti rasa mual dan muntah.
2.3. Etiologi
Berdasarkan penelitian menunjukkan bahwa konflik berasal dari dua organ
penting keseimbangan yaitu mata dan koklea di telinga dalam menyesuaikan diri
terhadap kecepatan yang berbeda ketika terjadinya gerakan. Mata menyesuaikan diri
secara cepat sedangkan telinga dalam lebih lama. Sampai kedua organ ini menyesuaikan
diri dan menetapkan sinyal yang indentik untuk dikimkan ke otak maka kekacauan
pemusatan perhatian terhadap posisi tubuh dapat terjadi. Penyakit ini dapat diprovokasi
oleh gerakan yang tiba-tiba seperti saat berada diperjalanan yang tidak rata, penerbangan
yang berputar, dan pelayaran yang bergelombang.
2.4. Patofisiologi
Sekarang ini belum ada teori yang adekuat yang dapat menjelaskan perjalanan
penyakit ini. Dan ada banyak teori yang menjelaskan mengenai penyakit ini.
1. Teori darah dan sistem pencernaan. Teori ini menjelaskan bahwa muntah adalah
respon refleks dari iritasi mukosa lambung. Dan dari teori darah yaitu karena aliran
darah yang sedikit ke otak meyebabkan iritasi pada mata dan secara cepat
menyebabkan spasme kapiler otak yang menyebabkan muntah. Dan teori ini ditolak
karena individu yang kehilangan fungsi vestibular kebal terhadap penyakit ini.
2. Teori detektor toksin. Sistem vestibuler bertindak sebagai detektor toksin. Otak
berkembang untuk mengetahui setiap perubahan yang terjadi di sistem vestibular,
visual dan informasi kinetotik sebagi bukti dari malfungsi sistem saraf pusat.
Inisiasi muntah adalah sebagai pertahanan melawan neurotoksin yang mungkin
termakan. Sistem detektor toksin yang utama adalah kemoreseptor di nervus vagus
dan di batang otak.
3. Teori perbedaan sensori berhubungan dengan perangsangan penyakit sebagai
perbedaan antara sistem vestibular sebagai transduser dengan indera lain sebagai
sinyal atau antara kanalis semisirkularis dan otolith yang lebih spesifik terhadap
tubuh yang bergerarak. Bagaimanapun juga, teori ini kurang dapat menjelaskan dan
tidak dapat mengindentifikasi kenapa beberapa keadaan dapat memprovokasi dan
keadaan yang lain tidak.
Muntah disebabkan oleh aktivasi yang terkoordinir antara otot polos dan somatik
yang menghasilkan perubahan yang tepat sesuai dengan tekanan intrabadominal dan
tekanan intrathoracic yang membuka spinkter esofagus. Mekanisme koordinasi sistem
saraf pusat adalah kompleks dan sekarang ini sudah banyak dipahami secara baik.
Penyakit ini yang parah dengan serangan muntah yang hebat dan berulag dapat
mengakibatkan suatu keadaan alkalosis karena hilangnya ion hidrogen dan
menyebabkan peningkatan ekskresi ginjal terhadap bikarbonat yang mengakibatkan
defesiensi klorida yang dapat menyebabkan otot-otot melemah, konstipasi dan aritmia.
2.5. Gejala dan Tanda
Gejala dan tanda dari penyakit ini adalah :
1. Sindroma mual.
2. Gangguan epigastrik seperti rasa tidak nyaman epigastrik, mual dan muntah.
3. Gejala-gejala pada kulit seperti pucat, keringat dingin, mulut kering. Hal ini
disebabkan oleh terganggunya sistem keseimbangan tubuh, dimana komponen-
komponen sistem tersebut yaitu sistem syaraf pusat (otak), bagian dalam telinga,
mata dan jaringan terdalam permukaan tubuh (proprioceptors), tidak bekerja secara
sinkron.
4. Gejala-gejala SSP seperti sakit kepala, mengantuk, rasa tegang dimata, dan lesu.
2.6. Pengobatan
2.6.1 Secara Farmakologi
 Antikolinergik: scopolamine
 Antihistamin: dimenhydrinate oral, diphenhydramine, promethazine, meclizine,dan
cyclizine. Obat antihistamin umumnya digunakan dalam pencegahan dan
pengobatan penyakit. Obat-obatan ini untuk mencegah dan mengobati mual,
muntah, dan pusing. AH1 tertentu misalnya difenhidramin, dimenhidrinat, derivate
piperazin dan prometazin dapat digunakan untuk mencegah dan mengobati mabuk
perjalanan udara, laut dan darat. Dahulu digunakan skopolamin untuk mabuk
perjalanan berat dengan jarak dekat (kurang dari 6 jam), tetapi sekarang AH1 lebih
banyak digunakan karena efektif dengan dosis relative kecil. Karena AH1 seperti
juga skopolamin memiliki anti kolinergik yang kuat, maka diduga sebagian besar
efek terhadap mabuk perjalanan di dasarkan oleh efek antikolinergiknya. Untuk
mencegah mabuk perjalanan AH1 sebaiknya diberikan setengah jam sebelum
berangkat. AH1 terpilih untuk mengobati mabuk perjalanan ialah prometazin,
difenhidramin, siklizin, dan meklizin. Meklizin cukup diberikan sehari sekali. AH1
efektif diberikan untuk dua pertiga kasus vertigo, mual dan muntah. AH1 efektif
sebagai antimuntah pasca bedah, mual dan muntah waktu hamil dan radiasi. Pada
dosis terapi, semua AH1 menimbulkan efek samping walaupun jarang bersifat
serius. Efek samping yang paling sering ialah sedasi.
2.6.2. Secara Non Farmakologi
2.6.2.1. Tips Mencegah Mabuk Perjalanan
1. Sebelum melakukan perjalanan jauh sebaiknya berdoa untuk keselamatan dan
ketenangan selama di perjalanan, serta pastikan tubuh dalam keadaan prima atau
sehat.
2. Sebelum berangkat, sebaiknya perut tidak dalam keadaan kosong dan juga tidak
kenyang. Hindari makan besar, memakan makanan berat yang butuh waktu lama
dicerna, mengandung banyak lemak, pedas atau beraroma kuat, dan makanan yang
mengandung banyak kuah seperti soto. Isilah perut dengan makanan yang relatif
ringan seperti sedikit nasi dengan tempe atau tahu.
3. Di dalam kendaraan, usahakan untuk tidak terlalu fokus menatap objek yang dekat
misalnya menggunakan gadget dan membaca majalah, sesekali melihat objek-objek
jauh di luar kendaraan terutama pada pemandangan bagian depan kendaraan.
4. Pilihlah tempat duduk yang nyaman dan menghadap ke depan kendaraan, misalnya di
dekat jendela dan di samping supir.
5. Menghisap permen jahe, mint atau permen jamu.
6. Pehatikan dan siapkan tubuh mengikuti arah gerak kendaraan.
7. Jangan biarkan kendaraan tertutup, bukalah jendela secukupnya untuk sirkulasi udara.
8. Fokus dan menikmati musik dari media player sambil memejamkan mata.
9. Untuk kendaraan pribadi, berhenti dan beristirahatlah secara teratur setiap 4-5 jam
perjalanan.
10. Dan terakhir, tips terbaik adalah tidur, untuk itu sebelum berangkat sebaiknya minum
jamu yang menyebabkan kantuk dan obat-obatan anti mabuk, bisa juga meminum
obat sakit kepala yang dapat menyebabkan kantuk.
2.6.2.2 Tips Mengatasi Mabuk Perjalanan
Apabila gejala-gejala mabuk sudah terjadi:
1. Kalau memungkinkan hentikan kendaraan dan beristirahat.
2. Bila muntah, bersihkan mulut dari sisa muntahan dengan cara berkumur-kumur
dengan air putih.
3. Minumlah sedikit air putih atau minuman berkarbonasi atau meminum larutan
herbal (jahe-jahean) dan memakan sedikit kraker kering.
4. Bernafas secara teratur, melakukan pernafasan perut dengan cara menarik nafas
dalam-dalam dan menggembungkan perut, lepaskan melalui mulut perlahan-
lahan.
5. Mengoles minyak kayu putih di bagian leher dan sekitar dada.
6. Apabila kondisinya agak mengkhawatirkan, terutama pada anak-anak (2-5 tahun)
seperti yang pernah dialami anak balita dengan ciri-ciri keringat dingin yang
berlebihan, lemas, nyaris pingsan, sebaiknya hentikan dulu perjalanan, dan kalau
perlu konsultasi dengan dokter.
BAB III
PEMBAHASAN

3.1. Kasus
Kasus 1.
Seorang laki-laki, berusia 25 tahun datang ke apotek dan bercerita kepada
apoteker bahwa setiap melakukan perjalanan jauh dan duduk dikursi penumpang, dia
selalu merasakan pusing dan mual dan ingin muntah, sedangkan saat sedang
mengemudikan kendaraan dia tidak merasakan keluhan tersebut. Saat ini pasien ingin
melakukan perjalanan jauh namun dia tidak mampu untuk mengemudikan kendaraan,
sehingga dia ingin membeli obat untuk mengatasi keluhannya tersebut. Sebagai apoteker
obat apa yang akan direkomendasikan untuk pasien tersebut?
Jawab :
Menurut keluhan yang disampaikan oleh pasien, kemungkinan pasien mengalami
mabuk perjalanan, sehingga untuk mengatasi keluhan pasien maka disarankan untuk
menggunakan obat dimenhydrinat (50 mg) 1 tablet sehari digunakan 30 menit sebelum
melakukan perjalanan. Efek samping dari dimenhidrinat ini adalah dapat menyebabkan
kantuk, oleh karena itu tidak boleh digunakan oleh pilot atau supir kendaraan pada saat
akan mengendarai kendaraan, dan dikontraindikasikan untuk pasien yang mengalami
serangan asma akut, atau mengalami gagal jantung berat, obat ini tidak boleh digunakan
sama sekali. Kemudian pasien disarankan agar pada saat perjalanan hendaknya duduk
diposisi depan dalam kendaraan dan menjaga penglihatan tetap pada posisi datar serta
menghindari membaca selama dalam perjalanan, selain itu sebelum melakukan
perjalanan hindari makan terlalu banyak sehingga dapat mencegah terjadinya mabuk
perjalanan.
Kasus 2.
Seorang ibu berusia 35 tahun datang ke apotek mengeluhkan mual, sakit kepala
lemas, tidak dapat berkonsentrasi dan terkadang ingin muntah saat melakukan perjalanan
menggunakan bus, pasien ingin melanjutkan perjalanannya lagi dengan menggunakan
bust, untuk mencegah terjadinya keluhan yang sebelunya dirasakannya maka ibu
tersebut meminta rekomendasi obat dari apoteker, namun ibu tersebut mengatakan
bahwa dia tidak bisa menelan obat, sehingga dia bertanya kepada apoteker obat apa yang
diapat digunakan untuk menghilangkan keluahan yang dirasakan?
Jawab :
Menurut keluhan yang disampaikan oleh pasien, kemungkinan pasien mengalami
mabuk perjalanan, sehingga untuk mengatasi keluhan pasien maka disarankan untuk
menggunakan obat scopolamine dalam bentuk patch karena pasien ini tidak bisa
menelan tablet. Scopolamine patch digunakan 4 jam sebelum melakukan perjalanan
digunakan dibagian belakang telinga. Cara menggunakan patch yaitu cuci area
dibelakang terelinga, bersihkan area tersebut dengan tisu kering untuk memastikan area
tersebut kering. Hindari menepatkan patch pada area kulit yang memiliki luka. Lepaskan
patch dari kantong pelindungnya, lepaskan strip pelindung plastic bening dan buang.
Jangan neyentuh lapisan perekat yang terbuka dengan jari, tempatkan sisi perekat pada
kulit, lalu cuci kembali tangan dengan menggunakan sabun dan air. Efek samping dari
scopolamine patch adalah mulut kering, mengantuk, pusing, berkeringat, sakit
tenggorokan. Obat ini dikonraindikasikan untuk penderita glaucoma dan pendarahan
akut selain itu pasien disarankan agar pada saat perjalanan hendaknya duduk diposisi
depan dalam kendaraan dan menjaga penglihatan tetap pada posisi datar serta
menghindari membaca selama dalam perjalanan, selain itu sebelum melakukan
perjalanan hindari makan terlalu banyak sehingga dapat mencegah terjadinya mabuk
perjalanan. Untuk terapi nonfarmakologi pasien disarankan untuk menggunakan jahe,
bisa dibuat wedang jahe yang diminum 30 menit sampai 1 jam sebelum perjalanan, atau
bila tidak ingin minum jahe maka dapat juga dilakukan dengan menghirup aroma jahe
yaitu dengan cara meletakkan jahe pada tisu kemudian dihirup selama dalam perjalanan.
DAFTAR PUSTAKA

Departemen Kesehatan Republik Indonesia, 2006, Pedoman Obat bebas dan Bebas
Terbatas, Depkes RI. Jakarta.
FIP. 1999. Joint Statement By The International Pharmaceutical Federation and The
World Self-Medication Industry. Responsible Self Medication. FIP&WSMI.
Zeenot, S. 2013. Pengelolaan Penggunaan Obat Wajib Apotek. Yogyakarta. D-Medika.