Anda di halaman 1dari 17

LAPORAN

PEMASANGAN INFUS PADA Ny. N DENGAN G1P0A0 KALA 1


Disusun untuk memenuhi Tugas Praktik Klinik Kebidanan I

OLEH :
GITA PUTRI ARIANDINI
NIM : P07124118200

KEMENTRIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA POLITEKNIK


KESEHATAN BANJARMASIN
JURUSAN KEBIDANAN
TAHUN 2018/2019
DAFTAR ISI

DAFTAR ISI ................................................................................................................................. ii

BAB I ............................................................................................................................................ 1

PENDAHULUAN ........................................................................................................................ 1

A. Latar belakang ................................................................................................................ 1

B. Tujuan .............................................................................................................................. 1

C. Manfaat ............................................................................................................................ 1

BAB II ........................................................................................................................................... 2

TINJAUAN TEORI ...................................................................................................................... 2

A. Definisi .............................................................................................................................. 2

B. Tujuan Pemasangan Infus ................................................................................................. 2

C. Indikasi .............................................................................................................................. 2

D. Kontra Indikasi .................................................................................................................. 3

E. Jenis Cairan Infus .............................................................................................................. 3

F. Macam-macam Jenis Infus ................................................................................................ 4

G. Lokasi Pemasangan Infus .................................................................................................. 7

H. Standar Operasional Prosedur (SOP) Pemasangan Infus .................................................. 8

BAB III........................................................................................................................................ 11

PDOKUMENTASI SOAP .......................................................................................................... 11

BAB IV ....................................................................................................................................... 14

PENUTUP ................................................................................................................................... 14

DAFTAR PUSTAKA ................................................................................................................. 15

ii
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar belakang
Pemasangan infus adalah pemberian sejumlah cairan ke dalam tubuh
melalui sebuah jarum ke dalam pembuluh vena (pembuluh balik) untuk
menggantikan cairan atau zat-zat makanan dari tubuh yang mengalami gangguan
keseimbangan cairan, elektrolit, dan asam basa.
Infus merupakan salah satu produk kesehatan yang bermanfaat untuk
menggantikan zat makanan di dalam tubuh berupa cairan yang langsung
ditransfusikan ke dalam tubuh melalui saluran pembuluh darah. Infus berperan
penting dalam dunia kesehatan karena semua rumah sakit menggunakan produk
ini untuk suplai zat makanan ke dalam tubuh pasien. Sehingga pasien
mendapatkan nutrisi makanan, meskipun pasien tidak makan. Oleh karena itu
cairan infus berperan penting dalam kelangsungan hidup pasien.

B. Tujuan
Mempertahankan atau mengganti cairan tubuh yang mengandung air,
elektrolit, vitamin, protein, lemak, dan kalori yang tidak dapat dipertahankan
secara adekuat melalui oral.

C. Manfaat
Dapat mengetahui tentang pemasangan infus dan penjelasan lainnya serta
bagaimana cara pemasangan infus yang baik dan benar sesuai SOP yang ada

1
BAB II
TINJAUAN TEORI

A. Definisi
Pemasangan infus adalah pemberian srjumlah cairan ke dalam tubuh
melalui jarum ke dalam pembuluh vena (pembuluh balik) untuk
menggantikan cairan atau zat-zat yang ada dalam tubuh.

B. Tujuan Pemasangan Infus

1. Mempertahankan atau mengganti cairan tubuh yang mengandung air,


elektrolit, vitamin, protein, lemak, dan kalori yang tidak dapat
dipertahankan secara adekuat melalui oral.
2. Memperbaiki keseimbangan asam basa
3. Memperbaiki volume komponen-komponen darah
4. Memberikan jalan masuk untuk pemberian obat-obatan kedalam tubuh
5. Memonitor tekan vena central (CVP)
6. Memberikan nutrisi pada sistem pencernaan diistirahatkan

C. Indikasi
Keadaan-keadaan yang dapat memerlukan pemberian cairan infus adalah:
1. Perdarahan dalam jumlah banyak (kehilangan cairan tubuh dan
komponen darah)
2. Trauma abdomen (perut) berat (kehilangan cairan tubuh dan komponen
darah)
3. Fraktur tulang, khususnya di pelvis (panggul)
4. Kehilangan cairan tubuh pada dehidrasi
5. Diare dan demam
6. Luka bakar luas
7. Semua trauma kepala, dada dan tulang punggung

2
D. Kontra Indikasi
Pada pemasangan infus melalui jalur pembuluh darah vena:
1. Inflamasi (bengkak, nyeri, demam) dan infeksi di lokasi pemasangan
infus.
2. Daerah lengan bawah pada pasien gagal ginjal, karena lokasi ini akan
digunakan untuk pemasangan fistula arteri-vena (A-V shunt) pada
tindakan hemodialisis (cuci darah).
3. Obat-obatan yang berpotensi iritan terhadap pembuluh vena kecil yang
aliran darahnya lambat (misalnya pembuluh vena di tungkai dan kaki).

E. Jenis Cairan Infus


1. Cairan Hipotonik
Osmolaritas nya lebih rendah dibanding serum (konsentrasi ion Na+
lebih rendah dibandingkan serum), sehingga larut dalam serum, dan
menurunkan osmolaritas serum. Maka cairan ditarik dari dalam
pembuluh darah keluar ke jaringan sekitarnya (prinsip cairan berpindah
dari osmolaritas rendah ke osmolaritas tinggi), sampai akhirnya mengisi
sel-sel yang dituju. Digunakan pada keadaan sel mengalami dehidrasi,
misalnya pada pasien cuci darah (dialisis) dalam terapi diuretik, juga
pada pasien hipeglikemia (kasar guladarah tinggi).
2. Cairan Isotonic
Osmolaritas (tingkat kepekatan) cairannya mendekati serum (bagian
cair dari komponen darah), sehingga terus berada didalam pembuluh
darah. Bermanfaat pada pasien yang mengalami hipovolemi (kekurangan
cairan tubuh, sehingga tekanan darah terus menurun) memiliki risiko
terjadinya overload (kelebihan cairan), khususnya pada penyakit gagal
jantung kongestif dan hipertensi. Contohnya adalah cairan Ringer-laktat
(RL) dan normal saline/larutan garam fisiologis (NaCl 0,9%)
3. Cairan Hipertonik
Osmolaritasnya lebih tinggi dibandingkan serum, sehingga
“menarik” cairan dan elektrolit dari jaringan dan sel ke dalam pembuluh

3
darah. Mampu menstabilkan tekanan darah, meningkatkan produksi urin,
dan mengurangi edema (bengkak). Penggunaannya kontradiktif dengan
cairan hipotonik. Misalnya Dextrose 5%, NaCl 45% hipertonik, Dextrose
5%+Ringer-Lactate, Dextrose 5%+NaCl 0,9%, produk darah (darah), dan
albumin.
Pembagian cairan lain adalah berdasarkan kelompoknya:
a. Kristaloid:
bersifat isotonik, maka efektif dalam mengisi sejumlah
volume cairan (volume expanders) ke dalam pembuluh darah
dalam waktu yang singkat, dan berguna pada pasien yang
memerlukan cairan segera. Misalnya Ringer-Laktat dan garam
fisiologis.
b. Koloid:
ukuran molekulnya (biasanya protein) cukup besar sehingga
tidak akan keluar dari membran kapiler, dan tetap berada dalam
pembuluh darah, maka sifatnya hipertonik, dan dapat menarik
cairan dari luar pembuluh darah. Contohnya adalah albumin dan
steroid.

F. Macam-macam Jenis Infus


1. Asering
Indikasi:
Dehidrasi (syok hipovolemik dan asidosis) pada kondisi:
gastroenteritis akut, demam berdarah dengue (DHF), luka bakar, syok
hemoragik, dehidrasi berat, trauma.
2. KA-EN 1B
Indikasi:
a. Sebagai larutan awal bila status elektrolit pasien belum diketahui,
misal pada kasus emergensi (dehidrasi karena asupan oral tidak
memadai, demam)
b. < 24 jam pasca operasi

4
c. Dosis lazim 500-1000 ml untuk sekali pemberian secara IV.
Kecepatan sebaiknya 300-500 ml/jam (dewasa) dan 50-100
ml/jam pada anak-anak
d. Bayi prematur atau bayi baru lahir, sebaiknya tidak diberikan
lebih dari 100 ml/jam
3. KA-EN 3A & 3B
Indikasi:
a. Larutan rumatan nasional untuk memenuhi kebutuhan harian air
dan elektrolit dengan kandungan kalium cukup untuk mengganti
ekskresi harian, pada keadaan asupan oral terbatas
b. Rumatan untuk kasus pasca operasi (> 24-48 jam)
c. Mensuplai kalium sebesar 10 mEq/L untuk KA-EN 3A
d. Mensuplai kalium sebesar 20 mEq/L untuk KA-EN 3B
4. KA-EN MG3
Indikasi :
a. Larutan rumatan nasional untuk memenuhi kebutuhan harian air
dan elektrolit dengan kandungan kalium cukup untuk mengganti
ekskresi harian, pada keadaan asupan oral terbatas
b. Rumatan untuk kasus pasca operasi (> 24-48 jam)
c. Mensuplai kalium 20 mEq/L
d. Rumatan untuk kasus dimana suplemen NPC dibutuhkan 400
kcal/L
5. AMIPAREN
Indikasi:
a. Stres metabolik berat
b. Luka bakar
c. Infeksi berat
d. Kwasiokor
e. Pasca operasi
f. Total Parenteral Nutrition
g. Dosis dewasa 100 ml selama 60 menit

5
6. KA-EN 3A
Indikasi :
a. Merupakan larutan infus rumatan untuk bayi dan anak
b. Tanpa kandungan kalium, sehingga dapat diberikan pada pasien
dengan berbagai kadar konsentrasi kalium serum normal
c. Tepat digunakan untuk dehidrasi hipertonik
7. KA-EN 4B
Indikasi:
a. Merupakan larutan infus rumatan untuk bayi dan anak usia
kurang 3 tahun
b. Mensuplai 8 mEq/L kalium pada pasien sehingga
meminimalkan risiko hipokalemia
c. Tepat digunakan untuk dehidrasi hipertonik
8. OTSU NS
Indikasi:
a. Untuk resusitasi
b. Kehilangan Na > Cl, misal diare
c. Sindrom yang berkaitan dengan kehilangan natrium (asidosis
diabetikum, insufisiensi adrenokortikal, luka bakar)
9. OTSU RL
Indikasi:
a. Resusitasi
b. Suplai ion bikarbonat
c. Asidosis metabolik
10. MARTOS10
Indikasi:
a. Suplai air dan karbohidrat secara parenteral pada penderita
diabetik
b. Keadaan kritis lain yang membutuhkan nutrisi eksogen seperti
tumor, infeksi berat, stres berat dan defisiensi protein
c. Dosis: 0,3 gr/kg BB/jam

6
d. Mengandung 400 kcal/L
11. AMNOVEL 600
Indikasi:
a. Nutrisi tambahan pada gangguan saluran GI
b. Penderita GI yang dipuasakan
c. Kebutuhan metabolik yang meningkat (misal luka bakar, trauma
dan pasca operasi)
d. Stres metabolik sedang
e. Dosis dewasa 500 ml selama 4-6 jam (20-30 tpm)
12. PAN AMIN G
Indikasi:
a. Suplai asam amino pada hiponatremia dan stres metabolik
ringan
b. Nitrisi dini pasca operasi
c. Tifoid

G. Lokasi Pemasangan Infus


1. Pada lengan
a. Vena mediana cubiti / vena sefalika
b. Vena Basilika
2. Pada tungkai
a. Vena Saphenous
3. Pada leher
a. Vena Jugularis
1. Pada kepala
a. Vena Frontalis
b. Vena Temporalis

7
H. Standar Operasional Prosedur (SOP) Pemasangan Infus
Pengertian kegiatan memasang akses intra vena dengan menusukkan
IV canula kedalam pembuluh darah vena.
Melepas infus adalah kegiatan melepas akses intra vena
dengan mencabut IV canule dari dalam pembuluh darah.

Tujuan U 1. Untuk rehidrasi cairan yang hilang


2. 2. Memudahkan pemberian premedikasi narkosa
3. 3. Memberikan tranfusi darah
4. 4. Mntuk memasukkan obat yang diperlukan
.

Komplikasi 1,1.masalah lokal: Tromboplebitis (infeksi pada vena) dan


pembengkakan disisi injeksi (akibat keluarnya cairan kedalam
jaringan). Jika masalah ini terjadi, jarum harus dilepas dan
diinfus ulang pada vena yang lain.
2. 2. Masalah umum:
a. Septikemia (infeksi pada darah): infeksi ini dapat
dicegah dengan menggunakan jarum, selang dan infus
intravena steril.
b. Kelebihan beban sirkulasi (overload circulatory):
cairan intra vena yang diberikan terlalu banyakdan terlalu
cepat dapat menyebabkan gagal jantung dan paru-
paru. (WHO, 2002)

Prosedur A. PERENCANAAN
Persiapan alat :

1. 1. Alat Pelindung Diri (APD)


2. 2. Seperangkat infus set steril
3. 3. Cairan yang diperlukan
4. 4. Kain kasa steril dalam tempatnya (jika diperlukan)
5. 5. Kapas alkohol dalam tempatnya/alcohol swab
6. 6. Plester

8
7. 7. Gunting verband
8. 8. Bengkok (neirbekken)
9. 9. Infus set lengkap dengan gantungan botol (kolf)
10. 10. erlak kecil dan alas
11. 11. Tali pembendung (tourniquet)
12.12. Alat tulis ( untuk dokumentasi)

B. PENATALAKSAAN

1. 1. Lakukan identifikasi pasien


2. 2. Jelaskan tentang tujuan dan prosedur tindakan.
3. 3. Minta kesediaan pasien/keluarga untuk menandatangani
formulir persetujuan tindakan.
4. 4. Dekatkan alat yang akan digunakan
5. 5. Hubungkan infus set pada cairan infus, isi tabung reservoir
infus dan alirkan cairan hingga tidak ada udara pada infus set
6. Pilih vena yang akan dilakukan penusukan IV canule:
a. Bila akses diekstremitas, lakukan bendungan pada
daerah vena bagian atas dari vena yang akan
dilakukan penusukan.
b. Bila akses dibagian kepala, tidak dilakukan
bendungan pada daerah vena.
7. 6. Cuci tangan sesuai SPO kebersihan tangan
8. 7. Pakai APD sesuai kebutuhan.
9. 8. Desinfeksi daerah yang akan dilakukan penusukan dengan
arah melingkar/satu kali apusan dengan kapas alkohol/alcohol
swab.
10. 9. Tusukkan jarum IV canule dengan mata jarum menghadap
keatas dan lihat apakah ada darah yang keluar atau tidak di
indikator IV canule
11. 10. Bila tidak berhasil, lakukan penusukan ulang sampai
berhasil dengan tetap memperhatikan kondisi pasien (bila perlu
ada penggantian petugas)
12. 11. Jika indikator IV canule sudah terlihat darah, tarik jarum
sedikit-sedikit masukan canule sampai pangkal Canule dan
sambungkan ke infus set dan buka bendungan.

9
13. 12. Buka pengatur tetesan infus, hitung tetesan infus seuai
kebutuhan.
14. 13. Fiksasi IV canule dengan transparan IV dressing dengan
mencantumkan identifikasi (Nama pemasang, nama ruangan,
waktu pemasangan; tanggal dan jam), bila kurang kuat boleh
difiksasi dengan plester/pesangan spalk untuk anak dengan
tidak menutupi area penusukan.
15. 14. Rapikan pasien dan alat-alat yang sudah digunakan.
16. 15.Buang sampah benda tajam kedalam sampah benda
tajam/safety box.
17. 16. Buang alkohol swab ke tempat sampah medis benda non
tajam.
18. 17. Buang sampah plastik dan kertas ke tempat sampah umum
19. 18. Lepaskan APD dan buang ke tempat sampah medis.
20. 19. Cuci tangan sesuai SPO kebersihan tangan
21. 20. Dokumentasikan dalam simkep atau berkas rekam medis.

Unit Terkait Keperawatan dan dokter.

10
BAB III
PDOKUMENTASI SOAP

Pengkajian
Hari / Tanggal : kamis 10 Oktober 2019
Pukul : 16.30 WITA
No. RM :-

A. Data Subjektif
1. Identitass
Pasien Ibu
Nama Ny. N Tn. F
Umur 25 Tahun 27 tahun
Agama Islam Islam
Pendidikan SMA SMA
Pekerjaan IRT Swasta
Alamat Guntung Payung, Landasan Guntung Payung, Landasan ulin
ulin

2. Keluhan Utama
Ibu mengatakan perut mules-mules mulai hari ini pukul 14.00 wita dan
keluar lendir darah sejak pukul 17.00 wita
3. Riwayat Perkawinan
Ini adalah pernikahan ibu yang pertama , ibu menikah usia 24 tahun dan
menikah kurang lebih sudah 1 tahun.
4. Riwayat Kesehatan
Ibu mengatakna tidak peernah menderita penyakit menular seperti
TBC,Hepatitis,Campak,dan HIV/AIDS dan ibu juga tidak memiliki penyakit
turunan seperti assma,hipertensi,jantung dan diabetes.

11
5. Riwayat Kehamilan
Ini merupakan kehamilan ibu yang pertama. Iibu melakukan ANC pada
trimester pertama sebanyak 3 kali di tempat praktiki bidan dan imunisasi TT
sekali di puskesmas, pada trimester kedua ibu melakukan ANC sebanyak 2 kali
di praktik bidan dan 1 kali di dokter spesialis kandungan dan pada trimester
ketiga sebanyak 2 kali.di praktik bidan dan 2 kali di dokter spesialis kandungan.
6. Pola Kebutuhan Sehari-hari
Nutrisi: Ibu biasa mengkonsumsi nasi, lauk pauk sayur-sayuran dan buah-
buahan. Ibu tidak memiliki riwayat alergi. Eliminasi BAK frekuensi 6 kali
dalam sehari, urine berwarna kuning jernih. Frekuensi BAB 2 kali dalam sehari,
konsistensi lembek berwarna kuning kecoklatan dan tidak ada masalah.

B. Data Objektif
KU baik, TD: 130/90 x/menit, ,N: :84x/menit, RR : 22x/menit, Suhu
:36,70C, tinggi badan 155 cm, LILA 25,S cm. Inspeki kepala tampak bersih,
tidak berketombe dan tidak berbau. Muka tidak pucat, mata tidak tampak ikterik
pada sklera, konjungtiva tidak pucat, telinga tampak simetris, hidung tampak
simetris, bibir tampak tidak pucar dan gusi tampak bersih. Leher tidak ada
pembengkakan vena jugularis. Dada tampak simetris dan tidak ada benjolan
pada payudara. Abdomen tampak membesar sesuai umur kehamilan dan tidak
ada bekas luka oprasi dan terdapat linea alba. Tungkai tampak tidak ada varises
dan tidak ada oedem pada kanan dan kiri. Genetalia tampak pengeluaran lendir
darah dan tidak ada varises. Anus tidak tampak hemoroid
Pada leopold 1 TFU 3 jari di bawah prx 41cm, leopold II pada perut bagian
kiri ibu terba keras,memanjang seperti papan sedangkan perut bagian kanan
teraba bagian-bagian kecil. Leopold III pada perut ibu bagian bawah teraba
nulat,keras dan melenting. Leopold IV kepala sudah masuk PAP V 4/5. DJJ 142
x/menit, his 4 kali dalam 10 menit lama kontraksi 45 detik. Pemeriksaan dalam
O 6 cm, portio menipis, arah mendatar, selaput ketuban (+) Hot 1 sejajar tepi
atas simpisis dan promontotium.

12
C. Analisa
GIPOAO hamil 40 minggu, janin tunggal hidup intra uteri + letak kepala
dengan inpartu kala 1 fase aktif

D. Penatalaksanaan
1. Memberitahu ibu dan keluarga bahwa sudah dilakukan pemeriksaan.
2. Melakukan kolaborasi dengan dokter spesialis kandungan (SPOG)
Advice: -Observassi DJJ dan kemajuan persalinan, Cek darah rutin
3. Memberitahu ibu bahwa akan dilakukan pemasangan infus karna ibu sudah
pembukaan 6cm dan sudah mendekati proses persalinan
4. Menyiapkan peralatan untuk pemasangan infus (torniquet, surflo,infus
set,,plester, infus RL)
5. Melakukan pemasangan infus kepada ibu di bagian tangan kiri, infus yang
digunakan adalah RLdengan 20 TPM
6. Melakukan pendokumentasian dalam bentuk SOAP

13
BAB IV
PENUTUP

A. KESIMPULAN
Pada Ny. N dilakukan pemasangan Infus. Setelah dilakukan tindakan
pemasangan infus. Kondisi klien mulai membaik setelah 5jam pemasangan infus.

B. SARAN
Lalukan tindakan pemasangan infus sesuai SOP yang sudah ada selalu pastikan
tindakan yang kita lakukan sudah tepat terhadap indikasi pemasangan infus. Hindari
komplikasi atau kesalahan ssat prosedur pemasangan infus dilakukan. Pastikan
membuat inform consent di setiap tindakan pemasangann infus.

14
DAFTAR PUSTAKA

Kusmiyati, Yuni, 2007. Keterampilan Dasar Praktik Klinik Kebidanan, Yogyakarta :


Fitramaya
http://en.wikipedia.org/wiki/Nasogastric_intubation
http://www.medterms.com/script/main/art.asp?articlekey=9348
http://dying.about.com/od/glossary/g/NG_tube.htm
http://www.southtees.nhs.uk/UseFiles/pages/2249.pdf

15