Anda di halaman 1dari 13

CRITICAL JOURNAL REVIEW

Ilmu Kesejahteraan Keluarga

Dosen Pengampu :
Dra. Armaini Rambe, M.Si.

Oleh :

Yunike Bening Theresa (5181143002)

PROGRAM STUDI TATA BUSANA


FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS NEGERI MEDAN
2018
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kami ucapkan kepada Tuhan Yang Maha Esa atas berkat dan rahmat-Nya
saya dapat menyelesaikan tugas Critical Journal Review (CJR) mata kuliah Ilmu Kesejahteraan
Keluarga. CJR ini mengulas tentang pemberdayaan keluarga dalam peningkatan kesejahteraan
keluarga. Saya berterimakasih kepada seluruh pihak yang membantu penyelesaian CJR ini dan
kepada Ibu Dra. Armaini Rambe, M.Si yang telah membimbing saya dalam menyelesaikan tugas
ini .

Adapun tugas ini dibuat untuk memenuhi tugas CJR mata kuliah Ilmu Kesejahteraan
Keluarga. Saya berharap makalah ini bisa menjadi salah satu referensi bagi pembaca bila mana
hendak membaca isi journal dan menerapkannya dalam kehidupan keluarga.

Kritik dan saran yang membangun dari pembaca sangat saya harapkan agar CJR ini dapat
menjadi lebih baik. Akhir kata saya ucapkan terima kasih semoga dapat bermanfaat dan bisa
menambah pengetahuan bagi pembaca.

Medan, 29 Oktober 2018

Yunike Bening Theresa


(5181143002)

1
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR......................................................................................................................................... 1
DAFTAR ISI..................................................................................................................................................... 2
BAB I PENDAHULUAN ............................................................................................................................. 3
A. Latar Belakang Masalah.................................................................................................................... 3
B. Tujuan Penulisan CJR ....................................................................................................................... 3
C. Identitas Jurnal .................................................................................................................................. 3
BAB II RINGKASAN JURNAL .................................................................................................................. 4
Pengertian pemberdayaan ............................................................................................................................ 5
Tujuan Pemberdayaan .............................................................................................................................. 6
Tingkatan Pemberdayaan ......................................................................................................................... 7
Proses pemberdayaan ............................................................................................................................... 7
Deskripsi Pohon Pepaya Gantung ............................................................................................................ 8
Pemberdayaan Keluarga Om di Dusun Jlatreng, Desa Pengasinan Kecamatan Gunung Sindur
Kabupaten Bogor ...................................................................................................................................... 8
Hasil Assessment....................................................................................................................................... 8
BAB III RUMUSAN PEMBAHASAN HASIL ......................................................................................... 10
BAB IV PENUTUP ................................................................................................................................... 12
A. Kesimpulan ..................................................................................................................................... 12

2
BAB I
PENDAHULUAN

Critical Journal Review yang berbentuk makalah ini berisi tentang pembahasan dari sebuah
jurnal yang telah diverifikasi oleh dosen pengampu dengan judul Pemberdayaan Keluarga
Melalui Pemanfaatan Lahan Kosong Keluarga dan Tanaman Pepaya Gantung. Tema yang dipilih
adalah pemberdayaan keluarga untuk mencapai kesejahteraan.

A. Latar Belakang Masalah


Indonesia memiliki penduduk miskin absolut yang tidak sedikit dengan persentase
yang mengalami penurunan dari tahun ke tahun. Tetapi jika hal tersebut dibiarkan, ada
kemungkinan akan terjadi penurunan tingkat kehidupan penduduk tersebut menjadi fakir
miskin. Masalah ini perlu diatasi melalui pemberdayaan keluarga. Dengan menerapkan
kerangka proses dan pemecahan masalah pekerjaan sosial bidang kajian mikro (social
case work) pemberdayaan dalam kurun waktu tertentu dapat meningkatkan penghasilan
keluarga secara berkelanjutan.

B. Tujuan Penulisan CJR


Tujuan yang ingin dicapai dalam penulisan critical journal review ini adalah untuk
mengajak pembaca lebih memahami secara mendalam mengenai jurnal yang dibahas dan
menambah wawasan mengenai pemberdayaan keluarga untuk mencapai kesejahteraan.

C. Identitas Jurnal
1. Judul : Pemberdayaan Keluarga Melalui Pemanfaatan Lahan
Kosong Keluarga dan Tanaman Pepaya Gantung
2. Jurnal : Jurnal INSANI
3. Volume/Nomor : No 11/1 : 7-18
4. Tahun : Desember 2011
5. Penulis : MM Sri Dwiyantari
6. ISSN : 0216-0552

3
BAB II
RINGKASAN JURNAL

Jurnal ditulis dengan sifat deskriptif yang mengangkat pengalaman penulis dalam
melakukan pemberdayaan keluarga yaitu keluarga Om yang tinggal di Dusun Jletreng, Desa
Pengasinan, Kecamatan Gunungsindur Bogor. Som (suami Om) bekerja sebagai penjaga
pekaangan milik warga Jakarta. Ia mendapat upah sebesar Rp.1.200.00,- perbulan. Ia
menghidupi isteri dan 3 (tuga) anaknya. Om membantu suami dengan bekerja sebagai buruh cuci
di komplek perumahan didekat ia tinggal. Pendidikan 2 (dua) anak tertua adalah lulusan
SLTP/pesantren dan anak bungsu adalah drop out SLTP. Keluarga Om tinggal di wilayah yang
memiliki potensi alam berupa lahan kosong dan tanah yang subur karena di sekitarnya terdapat
peternak auyam sehingga dengan mudah penduduk setempat dapat memperoleh pupuk kandang.
Salah satu jenis tanaman yang memungkinakan tumbuh di wilayah ini ialah tanaman pepaya
selain singkong dan jenis tanaman keras seperti rambutan dan duku. Bahkan di daerah tersebut
tumbuh secara liar beberapa tanaman pepaya gantung (pepaya grende; - bahasa Jawa). Bagi etnis
tertentu, khususnya etnis Manado, masakan bunga pepaya gantung (gerandel) tersebut
merupakan salah satu jenis makanan favorit. Pada perkembangannya sekarang berbagai etnis
seperti Betawi, Jawa, Sunda, dan etnis lain pun sekarang menyukai makanan ini. Dari kondisi
tersebut dapat dilihat bahwa pemanfaatan lahan keluarga Om dan tanaman pepaya gantung dapat
dimanfaatkan untuk mendukung peningkatan ekonomi keluarga.

Merujuk pada pandangan Suharto (2011:4), berbagai kelemahan yang bisa terjadi
sehingga mengganggu keberfungsian sosial meliputi :

a. Fisik, yaitu orang dengan kecacatan dan kemampuan khusus


b. Psikologis, orang yang mengalami mesalah personal dan penyesuaian diri.
c. Finansial, orang yang tidak memiliki pekerjaan, pendapatan, modal dan aset yang
mampu menopang kehidupannya.
d. Struktural, orang yang mengalami diskriminasi deikarenakan status sosialnya, gender,
etnis, orientation seksual, dan pilihan politiknya.

4
Salah satu diantara kelemahan tersebut adalah kemiskinan yang identik dengan poin diatas.
Kemiskinan itu dapat digolongkan kedalam beberapa kategori berikut batasannya adalah sebgai
berikut :

a. Tidakmiskin
b. Rentan
c. Miskin
d. Fakir miskin

Kemiskinan keluarga sangat berpengaruh pada lemahnya kualitas hidup keluarga, antara lain
dalam hal kesehatan (fisik), pendidikan anak-anak yang berujung pada lemahnya kualitas hidup
dalam relasi sosialnya. Kondisi ini dapat teramati dari status sosial ekonomi keluarga, yang
terindikasi melalui :

a. Tingkat pendidikan yang minim


b. Jenis pekerjaan yang tidak tetap
c. Kondisi lingkungan tempat tinggal yang kurang memadai
d. Pendapatan keluarga yang pas-pasa, hanya cukup untuk pemenuhan kebutuhan dasar
yang minimal saja.

Apabila kondisi keluarga miskin tersebut dibiarkan berlarut-larut maka bisa terjasi keluarga yang
tidak mampu bertahan ia akan semakin lemah dan bahkan bisa jatuh pada tingkat yang lebih
rendah yaitu fakir miskin dan pada akhirnya tidak mampu menjalankan fungsi-fungsinya.
Sementara itu di lingkungan sekitar keluarga (rumah tangga) sring banyak sumber-sumber yang
dapat dimanfaatkan guna menekan kelemahan keluarga tersebut, khususnya dibidang
ekonominya. Oleh karena itu, diperlukan upaya-upaya pemberdayaan bagi keluarga tersebut.

Pengertian pemberdayaan
Mengacu pada pandangan Payne (1977) yang dikutip Adi (2001: 32) yang dimaksud
dengan pemberdayaan ialah proses yang ditujukan untuk membantu klien memperoleh daya
untuk mengambil keputusan dan menentukan tindakan yang akan ia lakukan terkait dengan diri
mereka, termasuk mengurangi efek hambatan pribadi dan sosial dalam melakukan tindakan. Hal
ini dilakukan melalui peningkatan kemampuan dan rasa percaya diri untuk menggunakan daya

5
yang ia miliki antara lain transfer daya dari lingkungannya. Ife (2008:510) mengemukakan
bahwa pemberdayaan seharusnya menjadi tujuan dari semua bentuk pengembangan
mansyarakat. Pemberdayaan berarti menyediakan sumber daya, kesempatan untuk meningkatkan
kemampuan mereka untuk menentukan masa depan mereka sendiri dan untuk berpartisipasi serta
mempengaruhi kehidupan masyarakatnya. Pada dasarnya pemberdayaan sebagai gagasan
tidaklah jauh berbeda dengan gagasan Biestek (1961) yang dalam bidang pendidikan Ilmu
Kesejahteraan Sosial dikenal dengan nama “Self Determination”, dimana setiap individu,
kelompok atau komunitas pada akhirnya harus mampu menentukan sendriri tentang langkah
kedepan yang harus diambil guna peningkatan kualitas kehidupannya.

Untuk pemberdayaan dapat ditempuh dengan menggunakan 2 cara. Hal ini dikemukakan oleh
Oakley & Marsden (1984) yang dikutip Himat (2001:44). Kedua cara tersebut adalah :

a. Proses pemberdayaan yang menekankan proses memberikan atau mengalihkan


kekuasaan, kekuatan atau kemampuan kepada masyarakat agar individu menjadi lebih
berdaya. Proses ini dapat dilengkapi pula dengan upaya menggali sistem sumber guna
mendukung pembangunan kemandirian mereka melalui organisasi
b. Proses pemberdayaan yang menekankan proses menstimulasi, mendorong atau
memotivasi individu agar mempunyai kemampuan atau keberdayaan untuk menentukan
apa yang menajdi pilihan hidupnya melalui proses dialog.

Tujuan Pemberdayaan
Sanim (1997:3) mengemukakan bahwa terdapat 5 (lima) tujuan pemberdayaan yaitu :

a. Meningkatkan kemampuan dan kekuatan masyarakat dari potensi yang dimilikinya


b. Pembinaan dan pemupukan masyarakat madani (civil society)
c. Meningkatkan peran masyarakat dalam setiap kegiatan pembangunan di berbagai sektor
d. Meningkatkan kesejahteraan masyarakat dengan mengembangkan usaha ekonomi
produktif
e. Memberikan kekuasaan atau wewenang dalam mengambil tindakan.keputusan dalam
melaksanakan tugas-tugasnya.
Pemberdayaan keluarga yang dimaksud dalam tulisan adalah penguatan bagi anggota
keluarga itu yaitu ayah, ibu, dan anak-anak.

6
Tingkatan Pemberdayaan
Mengacu pada pandangan Susiladiharti dalam Huraerah (2001:103), bahwa terdapat 5
(lima) tingkat keberdayaan masyarakat :
a. Tingkat keberdayaan pertama adalah terpenuhinya kebutuhan dasar (basic needs)
b. Tingkat keberdayaan kedua adalah keberdayaan pertama penguasaan dan akses
terhadap berbagai sistem dan sumber yang diperlukan.
c. Tingkat keberdayaan ketiga adalah dimilikinya kesadaran penuh akan berbagai
potensi, kekuatan dan kelemahan diri dan lingkungannya.
d. Tingkat keberdayaan keempat adalah kemampuan berpartisipasi secara aktif dalam
berbagai kegiatan yang bermanfaat bagi lingkungan yang lebih luas.
e. Tingkat keberdayaan kelima adalah kemampuan untuk mengendalikan diri dan
lingkungannya. Tingkatan kelima ini dapat dilihat dari keikutsertaan dan dinamika
masyarakat dalam mengevaluasi dan mengendalikan berbagai program dan kebijakan
institusi dan pemerintah.

Proses pemberdayaan
Dalam pemberdayaan keluarga dapat ditempuh dengan menerapkan proses dan metode
pekerjaan sosial bidang kajian mikro (social case work). Jadi terdapat 9 sel yang merupakan
paduan dari kedua proses permasalahan dan pemecahan masalah sosial: maka setidaknya
terdapat sembilan isu (persoalan) yang perlu ditelaah yaitu :

a. Studi sosial – cause (s)


b. Studi sosial – Social problems
c. Studi sosial – effect
d. Assessment (diagnosis) – cause (s)
e. Assessment (diagnosis) – social problems
f. Assessment (diagnosis) – effect
g. Treatment – Cause (s)
h. Treatment-social problems
i. Treatment – effect

7
Deskripsi Pohon Pepaya Gantung
Daging buah pepaya muda dimasak sebagai sayuran sedangkan daging buah masak
dimakan sebagai buah segar atau campuran koktail. Daun pepaya juga dimanfaatkan pula
sebagai sayuran atau pelunak daging. Daun pepaya muda dimakan sebagai lalap setelah
dilayukan dengan air panas atau dijadikan pembungkus buntil. Oleh etnis Menado bunga pepaya
yang diurap menjadi sayuran yang biasa dimakan. Pohon pepaya umumnya tidak bercabang atau
bercabang sedikit. Pohon ini tumbuh setinggi 5-10 meter dengan daun-daun yang membentuk
serupa spiral pada batang pohon bagian atas. Daunnya menyirip lima dengan tangkai panjang
dan berlubang di bagian tengah.

Pemberdayaan Keluarga Om di Dusun Jlatreng, Desa Pengasinan Kecamatan


Gunung Sindur Kabupaten Bogor
Dalam pemberdayaan keluarga Om, penulis mengacu pada konsep keluarga sebagai
sistem, dimana semua anggota keluarga adalah subsistem, demikian pula Om sebagai isteri Som.
Diharapkan upaya pemberdayaan ini berpengaruh pada keluarga tersebut.

Hasil Assessment
Kondisi Ekonomi
Som (suami Om) bekerja serabutan (tidak tetap) menjaga pekarangan seorang pengusaha di
Jakarta yang memiliki pekarangan di dekatnya tinggal. Sedangkan Om, istrinya, bekerja sebagai
pembantu rumah tangga di Kompleks Puspitek. Sekitar 2 km dari rumahnya. Ia membantu setiap
hari kecuali jika diperlukan tambahan waktu. Penghasilannya Rp.300.000,- per bulan ditambah
uang tanspor Rp.60.000,-.

Kondisi Pendidikan
Tingkat pendidikan keluarga Om rendah. Kondisi internal keluarga ini pula yang menyebabkan
R (anak terkecilnya) pada th 2010 drop out dari sekolah SLTP.

Som pada awalnya memiliki 3 pohon pepaya gantung, yang semuanya telah berbunga. Tanaman
ini awalnya adalah tanaman liar yang tumbuh sendiri dan bunganya tidak dimanfaatkan oleh
siapappun. Namun demikian, secara kebetulan adik Om (adik dari istri Som) bekerja di sebuah
rumah makan Manado di kawasan Tanah Abang. Berhubung rumah makan ini membutuhkan

8
bunga-bunga pepaya gantung untuk bahan masakan maka melalui adiknya ini bunga-bunga
tersebut dijual. Maka mulai saat itulah pohon pepaya gantung yang liar itu mulai dipelihara.
Dalam dua minggu Om dapat memetik sekitar 2 kg bunga pepaya tersebut. Ia menjual kepada
adiknya Rp.10.000,- per kg. Dari penjualan bunga ini keluarga Om bisa mendapat penghasilan
tambahan rutin setidaknya Rp.20.000,- setiap dua minggu. Secara insidental pedagang sayur
kelling juga mau membelinya, namun dengan harga yang lebih murah yaitu Rp.7.500,- per kg.
Jadi bagi keluarga Om terjadi penurunan pendapatan dari bunga ini dan kontinuitas pendapatan
tidak jelas.

Keluarga Ny. Mn :
Keluarga Mn adalah keluarga beretnis Manado. Ny Mn adalah salah satu anggota WKRI
Ranting St Martha.Dari interview mendalam pada Ny Mn, dapat dipahami bahwa Ny Mn pandai
memasak bunga pepaya (masakan khas mManado. Ny Mn seorang pensiunan guru sebuah
sekolah SLTP di Jakarta dan ada kemauan untuk memanfaatkan waktu luangnya.

Pada dasarnya mengelola tanaman pepaya itu bagi keluarga tidaklah sulit, jika keluarga memilii
lahan, maka setelah tanaman itu tumuh pemeliharaannya tidak sulit dan tidak memakan biaya
besar, hanya penggemburan tanah, mneyiram dan memberi pupuk. Jadi biaya (cost) sangatlah
kecil. Tambahan penghasilan dari hasil penjualan bunga pepaya berkisar Rp.60.000,-. Ketua
WKRI Ranting St Martha mendukung pemberdayaan keluarga ini. Secara insidental jika ada
acara tertentu maka salah satu menu masakan yang disajikan adalah masakan bunga pepaya.
Demikian pula secara rutin, mulai Februari 20112 dipesan bunga tersebut 1 kg. Dengan secara
rutin, Om mendapat pesanan 2 kg bunga, maka perhitungan pendaptannya adalah neriksar
Rp.100.000,-.

Untuk peningkatan keberdayaan keluarga, maka penting bagi keluarga untuk membangun
kerjasama dan jaringan kerja dengan pihak-pihak yanag potensia; bagi pemasaran bunga-bunga
pepaya gantung, daun dan buahnya. Upaya pemberdayaan keluarga melalui pemanfaatan lahan
kosong dan tanaman pepaya gantung ini menjadi salah satu model pemberdayaan yang bersifat
komprehensif dilihat dari perspektif pembangunan sosial dan lingkungan.

9
BAB III
RUMUSAN PEMBAHASAN HASIL

Dari wawancara mendalam pada Sdr Om, dapat disimpulkan bahwa usaha produktif
dengan pemanfaatan lahan kosong dan tanaman pepaya gantung dapat meningkatkan
penghasilan keluarga Om.

Ny Mn mengutarakan bahwa dengan kegiatan memasak bunga pepaya setiap minggu ini
lumayan untuk kesibukan dan menambah penghasilan keluarga.

Dari hasil assessment perkembangan usaha produktif ini, dapat dipahami bahwa usaha Om
dan Ny Mn dapat didorong untuk lebih produktif lagi. Oleh karena itu sebagian follow up
pemberdayaan ini dilakukan hal-hal sebagai berikut :

a. Pendamping berupaya menghubungkan pada sumber dana untuk meningkatkan usaha


produktif kedua keluarga ini
b. Mengingat relasi dengan keluarga Om sudah terjalin baik dan berdasarkan informasi dari
Om bahwa di lingkungan sekitar terdapat beberapa anak drop out sekolah, termasuk anak
Om, maka saat ini sedang dilakukan assessment untuk kemungkinan dikelola taman
bacaan di teras rumah Om. Diharapkan anak-anak senang membaca dan tumbuh minat
untuk kemabli sekolah formal, setidaknya menempuh jalur pendidikan paket B dan paket
C.

Hasil positif dari pemberdayaan keluarga dalam pembangunan manusia dan alam :

a. Melalui pemberdayaan ini keluarga dimobilisasi untuk mencintai dan memelihara


tanaman, bukan membunuh tanaman liar serta menjaga kesuburan tanah.
b. Hal ini dapat mendukung tercapainya gender harmony karena melalui kegiatan
sehari-hari ibu terjadi proses penguatan dalam diri Ibu-ibu. Dengan demikian
diharapkan mampu menumbuhkan semangat kerja samadan saling menghargai satu
sama lain dalam keluarga

10
c. Keluarga belajar membangun relasi dan kolaborasi dengan pihak-pihak lain,
terutama keluarga petani bunga pepaya, ibu yang mampu mengolah masakan dengan
bahan baku bunga, daun dan buah pepaya serta ibu-ibu lain pengelola usaha makanan.
Jadi dalam hal ini penguatan kemampuan membangun relasi sosial.

11
BAB IV
PENUTUP

A. Kesimpulan
Pemanfaatan lahan kosong sekitar rumah tinggal dan tanaman pepaya gantung
yang biasa tumbuh liar di pekarangan dapat menjadi salah satu alternatif pemberdayaan
keluarga. Dan hal ini dapat dikembangkan sebagai model pemberdayaan keluarga
khususnya bagi mereka yang bertempat tinggal di lingkungan pinggiran kota besar seperti
di Jakarta. Untuk peningkatan keberdayaan keluarga, maka penting bagi keluarga untuk
membangun kerja sama dan jaringan kerja dengan pihak-pihak yang potensial bagi
pemasaran bunga-bunga pepaya gantung, daun dan buahnya. Upaya pemberdayaan
keluarga melalui pemanfaatan lahan kosong dan tanaman pepaya gantung ini malah
menjadi salah satu model pemberdayaan yang bersifat komprehensif dilihat dari
perspektif pembangunan sosial dan lingkungan.
Dalam perspektif kewirausahaan dalam praktik pekerjaan sosial, keberhasilan
berwirausaha tidaklah identik dengan seberapa hasil seseorang mengumpulkan uang
tetapi esensinya adalah bagaimana memunculkan mental berusaha dengan tujuan sebesar-
besarnya untuk mengatasi masalah sosial yang terjadi karena kewirausahaan sejatinya
adalah sebuah nilai (enterpreneurship value) yang perwujudannya harus didukung oleh
semangat kewirausahaan (enterpreuner spirit).

12