LIBURAN KE RUMAH NENEK
Saya senang sekali karena semester ini nilai rapot saya bagus-bagus dan semester
depan saya sudah naik kelas IX SMP. Kesenangan saya bertambah karena selama
seminggu ke depan saya berlibur ke rumah kakek dan nenek di sumbar.
Nenek saya memang paling baik, beliau sudah selesai menyiapkan rendang ayam
ketika saya baru ke rumahnya. Melihat rendang ayam yang merupakan masakan
pamungkas dari nenek, tentu saya langsung kegirangan.
Ya, biasanya nenek hanya memasak rendang ayam saat ada acara keluarga besar
dan momen lebaran. Mungkin nenek memasak rendang ayam karena senang
dengan rencana saya menghabiskan libur disini, mengingat kami memang sudah
tidak bertemu hampir 8 bulan lamanya.
Saya memeluk nenek dan menanyakan kabar mereka. Alhamdulillah mereka
semua sehat. Kami pun makan bersama di lantai, karena memang kami tak biasa
makan di meja makan.
Sambil makan saya bercerita pengalaman saya di sekolah. Mereka turut senang
ketika tahu nilai rapot saya bagus. Tak terasa piring saya sudah bersih, saya pun
tak ragu untuk tambah. Memang ketika makan rendang ayam buatan nenek tak
akan cukup jika hanya makan satu porsi.
Setelah menambah dua kali lagi akhirnya saya kekenyangan. Kakek dan nenek pun
hanya tertawa melihat saya yang tak bisa bergerak. Saya memutuskan untuk
bergerak menuju tempat favorit saya di rumah nenek, yaitu disamping rumah
nenek tepat nya di sawah.
Sejak dulu, tak banyak perubahan di desa tempat nenek saya tinggal ini. Di depan
rumah nenek masih terdapat lapangan bola dan pohon beringin besar. Di
sekelilingnya masih banyak sawah, tak tergerus jaman. Berbeda dengan wilayah di
tempat saya tinggal yang sawahnya semakin habis untuk dibangung perumahan.
Pemandangan yang asri ditambah angin sepoi-sepoi yang berhembus
menyebabkan saya mengantuk. Entah sejak kapan saya sudah tertidur.
Bertepatan dengan adzan Dhuhur saya dibangunkan oleh nenek lalu kami pun
sholat berjamaah.
Selepas Ashar saya menuju sawah milik keluarga bersama nenek yang letaknya
sekitar 400 meter dari rumah. Saya begitu takjub melihat petak sawah kami yang
sudah kuning, indah sekali. nenek bilang, kemungkinan lusa sawah kami sudah
bisa dipanen.
Beliau berjanji akan mengajak saya melihat pemanenan padi di sawah. Tentu saja
saya menyetujui ajakan nenek, rasanya jadi tidak sabar menunggu besok lusa.pagi
pun dating aku sangat bersemagat untuk pergi kesawah bersama nenek ketika
dalam perjalanan menuju sawah aku asik dengan pemndangan yang indah tanpa
aku sadari aku menginjak ekor ular.
Nenek: Aaaaaaa……,dengan menunjukan muka panik yang di ikuti dengan
tangisan
SAKIIIIIIIIIT, ujar ku
nenek langsung menolong ku,sambil berkata
nenek:untung saja kau tak digigit tapi tampak nya kaki mu keseleo.aku dan nenek
pun pulang yang dibantu oleh salah satu petani di sana sampai nya di rumah kaki
ku yang terkilir di urut oleh tukang urut, tukang urut tersebut berkata:kaki mu
hanya keseleo sedikit kok jadi seminggu lagi kaki mu akan sembuh
setelah kaki ku sehat aku dan nenek pergi kesawah untuk panen,aku sangat
senang ketika melihat hamparan sawah yang hijau.
Waktu liburan memang terasa sangat cepat, tak terasa hari sudah malam. Kami
berdiam di rumah karena di luar hujan deras. Suasana jadi hangat ketika nenek
menyiapkan teh yang merupakan minuman favorit ayah dan juga saya.
Sambil minum teh, nenek mulai membuka album foto yang tersimpan rapi di
lemari. Terlihat foto-foto saya bersama kakek dan nenek. Saya tersenyum sendiri
melihat diri saya di masa kecil, masih polos dan lucu.
Nenek dan kakek bergantian menceritakan kisah yang ada di foto, mereka terlihat
begitu bersemangat. Tak jarang mereka tertawa ketika bercerita tentang tingkah
laku saya di masa kecil. Senang rasanya melihat mereka begitu bergembira saat
bercerita. Namun ada rasa sedih juga karena sekarang kami jarang bertemu,
mengingat rumah kami yang berbeda daerah.
Karena masa liburan kami telah habis,kami pun pulang.sebenarnya aku tak ingin
pulang kerena aku sangat betah di sana di hari terakhir liburan nenek menjadi
sedih kerena rindunya belum terobati tetapi kami harus pulang
Keesokan harinya kami pun bersiap siap merapikan barang untuk segera pulang
saat aku hendak naik ke mobil nenek memeluk ku dengan sebuah tangisan
dimana ia tak ingin kami pulang.
Saat aku masuk kemobil aku hanya melambaikan tanggan seraya mengucapkan
selama tinggal kepada nenek.
Berjumpa dengan adalah
BY:WELA AMALIA
KELAS:XI BAHASA DAN BUDAYA
BERLIBUR DI PANTAI MALING KUNDANG
Sudah sejak seminggu lalu orangtuaku berencana untuk liburan ke pantai,
mengingat aku dan adik sedang liburan sekolah, sekaligus sebagai hadiah karena
kemaren lusa adikku merayakan ulang tahun.
Jam masih menunjukkan pukul 04.56 pagi, tapi aku dan keluarga sudah bersiap
pergi ke pantai maling kundang. Kami berangkat sepagi ini karena jarak dari
rumah ke pantai sekitar 3 jam perjalanan. Untuk mengganjal perut kami, ibu telah
menyiapkan nasi goreng favoritku.
Perjalanan kami tempuh menggunakan mobil. Dalam mobil ada aku, adik
perempuanku, ayah dan ibu. Aku dan adik dilarang membawa handphone oleh
ayah dan ibu agar lebih menikmati perjalanan dan liburan itu sendiri. Untuk
menghabiskan waktu aku bermain “tebak nama berdasarkan huruf” bersama
adikku yang hanya terpaut 5tahun dariku.
Langkah pertama dalam permainan ini kami menentukan temanya dahulu, kali
itu tema yang kami pilih adalah hewan. Selanjutnya Kami meminta bantuan ibu
untuk menyebutkan huruf depan nama hewan yang akan kami tebak. Jika ibu
bilang huruf “M” maka aku dan adikku adu cepat dan adu banyak dalam
menyebutkan nama hewan yang memiliki awalan “M”, seperti monyet, merak,
merpati dll.
Setelah tema hewan kami mulai berganti tema menjadi nama buah, nama
karakter komik, nama negara, dll. Tak jarang ayah tiba-tiba ikut menjawab
walaupun dia bukan peserta resmi permainan. Tidak ku sangka jika permainan
sesederhana ini ternyata begitu menyenangkan dan menghibur.
Tak terasa dua jam sudah berlalu. Kami mulai memasuki daerah perbukitan. Aku
dan adik mulai memperhatikan pemandangan dengan seksama. Kami terpesona
karena melihat hamparan sawah di bawah yang begitu indah. Sayangnya aku
hanya bisa menikmati pemandangan tersebut sebentar saja, karena setelah itu
aku pusing dan mual akibat jalan yang berkelok-kelok, naik dan turun. Ibu
memberikanku minyak kayu putih. Aromanya benar-benar bisa mengurangi mual
yang aku alami.
Akhirnya kami sekeluarga tiba di Pantai malin kundang. Sambil menikmati angin
laut, kami makan bersama dulu. Menu kami kala itu adalah ayam goreng dan
sosis. Memang masakan ibuku rasanya enak sekali.
Aku tidak bisa berhenti takjub melihat indahnya pantai ini. Pantai Bajul Mati
memang belum terlalu terkenal, sehingga belum banyak pengunjung yang datang.
Namun pantainya masih sangat bersih yang membuat kami sekeluarga nyaman.
Aku dan adikku tak sabar untuk bermain, jadi kami langsung berlari ke arah tepi
pantai. Kami tidak mengindahkan perkataan ibu yang menyuruh kami memakai
sunblock terlebih dahulu. Rasanya segar ketika air laut mengenai kaki kami.
Di tepi pantai aku menemukan ranting kayu yang panjang. Akhirnya aku ambil dan
menyeretnya sepanjang perjalan. Setelah berjalan beberapa saat kami sampai di
muara, yaitu tempat pertemuan air sungai dan air laut. Kami berhenti dan melihat
ke belakang, terlihat garis panjang di pasir hasil ranting kayu yang aku seret
daritadi. Entah kenapa aku dan adikku merasa garis tersebut sangat keren.
Selanjutnya kami memutuskan untuk berenang dulu di muara. Karena arusnya
tenang tidak seperti di laut.
Kami berenang sekitar 15 menitan, sebelum orangtua kami memanggil, menyuruh
kami ke tepi laut. Kami sekeluargapun bermain air. Ayah mengajak kami duduk
bersila membelakangi laut. Saat ombak datang kami terseret ke pantai. Rasanya
sangat seru, karena kita tidak melihat kapan ombak datang. Sementara ibu hanya
bermain air di tepi pantai dan memotret kami melalui kameranya.
BY:INDRIANA
KELAS:XI BAHASA DAN BUDAYA