Anda di halaman 1dari 11

TUGAS KELOMPOK SKI

Nama Kelompok :

 Hana Hasyim
 Mohammad Anas Ardiansyah
 Nanda Kurnia Uli
 Salma Syifa Salsabila
 Siti Hanum Rizqia Utami
1
DAFTAR ISI

PENDAHULUAN 3

PEMBAHASAN 4

KESIMPULAN 10

DAFTAR PUSTAKA 11

2
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi Keempat, wayang adalah boneka tiruan yang
terbuat dari pahatan kulit atau kayu dsb, yang dapat dimanfaatkan untuk memerankan tokoh dalam
pertunjukan drama tradisional (Bali, Jawa, Sunda, dsb), biasanya dimainkan oleh seseorang yang
disebut dalang. Sedangkan menurut Kamus Umum Bahasa Sunda, wayang didefinisikan sebagai
boneka atau penjelmaan dari manusia yang terbuat dari kulit atau pun kayu. Namun ada juga yang
mengartikan bahwa perkataan wayang berasal dari bahasa Jawa, yang artinya perwajahan yang
mengandung penerangan.

Seni Wayang, merupakan salah satu bentuk teater tradisional yang paling tua di Indonesia.
Pada masa pemerintahan Raja Balitung pertunjukan wayang telah ada, hal tesebut ditemukan pada
prasasti Balitung tahun 907 Masehi. Sejarah perkembangan seni wayang di Indonesia, yaitu pada abad
ke-4 orang-orang Hindu datang ke Indonesia, melalui jalur perdagangan. Pada kesempatan tersebut
orang-orang Hindu membawa ajarannya dengan Kitab Weda dan epos cerita maha besar India yaitu
Mahabharata dan Ramayana dalam bahasa Sanskrit. Kemudian ,Abad ke-9, bermunculan cerita-cerita
dengan bahasa Jawa kuno dalam bentuk kakawin yang bersumber dari cerita Mahabharata atau
Ramayana, yang telah diadaptasi.

3
BAB II
PEMBAHASAN

Sejarah Wayang di Indonesia

Wayang, merupakan salah satu bentuk teater tradisional yang paling tua. Pada masa pemerintahan
Raja Balitung, telah ada petunjuk adanya pertunjukan wayang, yaitu yang terdapat pada prasasti
Balitung dengan tahun 907 Masehi, yang mewartakan bahwa pada saat itu telah dikenal adanya
pertunjukan wayang.

Wayang berasal dari kata wayangan yaitu sumber ilham dalam menggambar wujud tokoh dan
cerita sehingga bisa tergambar jelas dalam batin si penggambar karena sumber aslinya telah hilang, di
awalnya, wayang adalah bagian dari kegiatan religi animisme menyembah
‘hyang’, itulah inti-nya dilakukan antara lain di saat-saat panenan atau taneman dalam bentuk upacara
ruwatan, tingkeban, ataupun ‘merti desa’ agar panen berhasil atau pun agar desa terhindar dari segala
malapetaka. Pada tahun 898 – 910 M wayang sudah menjadi wayang purwa namun tetap masih
ditujukan untuk menyembah para sanghyang seperti yang tertulis dalam prasasti balitung sigaligi
mawayang buat hyang, macarita bhima ya kumara(menggelar wayang untuk para hyang
menceritakan tentang bima sang kumara) di zaman Mataram Hindu ini, Ramayana dari India berhasil
dituliskan dalam Bahasa Jawa kuna (kawi) pada masa raja darmawangsa, 996 – 1042 M.

4
B. JENIS-JENIS WAYANG

Wayang Golek

Asal mula wayang golek tidak diketahui secara jelas karena tidak ada keterangan lengkap, baik
tertulis maupun lisan. Kehadiran wayang golek tidak dapat dipisahkan dari wayang kulit karena
wayang golek merupakan perkembangan dari wayang kulit. Namun demikian, Salmun (1986)
menyebutkan bahwa pada tahun 1583 Masehi Sunan Kudus membuat wayang dari kayu yang
kemudian disebut wayang golek yang dapat dipentaskan pada siang hari. Sejalan dengan itu
Ismunandar (1988) menyebutkan bahwa pada awal abad ke-16 Sunan Kudus membuat bangun
'wayang purwo' sejumlah 70 buah dengan cerita Menak yang diiringi gamelan Salendro.
Pertunjukkannya dilakukan pada siang hari. Wayang ini tidak memerlukan kelir. Bentuknya
menyerupai boneka yang terbuat dari kayu (bukan dari kulit sebagaimana halnya wayang kulit). Jadi,
seperti golek. Oleh karena itu, disebut sebagai wayang golek.

Pada mulanya yang dilakonkan dalam wayang golek adalah ceritera panji dan wayangnya
disebut wayang golek menak. Konon, wayang golek ini baru ada sejak masa Panembahan Ratu (cicit
Sunan Gunung Jati (1540-1650)). Di sana (di daerah Cirebon) disebut sebagaiwayang golek
papak atau wayang cepak karena bentuk kepalanya datar. Pada zaman Pangeran Girilaya (1650-
1662) wayang cepak dilengkapi dengan cerita yang diambil dari babad dan sejarah tanah Jawa.
Lakon-lakon yang dibawakan waktu itu berkisar pada penyebaran agama Islam. Selanjutnya, wayang
golek dengan lakon Ramayana dan Mahabarata (wayang golek purwa) yang lahir pada 1840
(Somantri, 1988).

Kelahiran wayang golek diprakarsai oleh Dalem Karang Anyar (Wiranata Koesoemah III) pada
masa akhir jabatannya. Waktu itu Dalem memerintahkan Ki Darman (penyungging wayang kulit asal
Tegal) yang tinggal di Cibiru, Ujung Berung, untuk membuat wayang dari kayu. Bentuk wayang yang
dibuatnya semula berbentuk gepeng dan berpola pada wayang kulit. Namun, pada perkembangan
selanjutnya, atas anjuran Dalem, Ki Darman membuat wayang golek yang membulat tidak jauh
berbeda dengan wayang golek sekarang. Di daerah Priangan sendiri dikenal pada awal abad ke-19.
Perkenalan masyarakat Sunda dengan wayang golek dimungkinkan sejak dibukanya jalan raya
Daendels yang menghubungkan daerah pantai dengan Priangan yang bergunung-gunung. Semula
wayang golek di Priangan menggunakan bahasa Jawa. Namun, setelah orang Sunda pandai
mendalang, maka bahasa yang digunakan adalah bahasa Sunda.

5
Pembuatan Wayang golek
Wayang golek terbuat dari albasiah atau lame. Cara pembuatannya adalah dengan meraut dan
mengukirnya, hingga menyerupai bentuk yang diinginkan. Untuk mewarnai dan menggambar mata,
alis, bibir dan motif di kepala wayang, digunakan cat duko. Cat ini menjadikan wayang tampak lebih
cerah. Pewarnaan wayang merupakan bagian penting karena dapat menghasilkan berbagai karakter
tokoh. Adapun warna dasar yang biasa digunakan dalam wayang ada empat yaitu: merah, putih,
prada, dan hitam.

Nilai Budaya
Wayang golek sebagai suatu kesenian tidak hanya mengandung nilai estetika semata, tetapi
meliputi keseluruhan nilai-nilai yang terdapat dalam masyarakat pendukungnya. Nilai-nilai itu
disosialisasikan oleh para seniman dan seniwati pedalangan yang mengemban kode etik pedalangan.
Kode etik pedalangan tersebut dinamakan "Sapta Sila Kehormatan Seniman Seniwati Pedalangan
Jawa Barat". Rumusan kode etik pedalangan tersebut merupakan hasil musyawarah para seniman
seniwati pedalangan pada tanggal 28 Februari 1964 di Bandung.
Isinya antara lain sebagai berikut:
Satu: Seniman dan seniwati pedalangan adalah seniman sejati sebab itu harus menjaga nilainya.
Dua: Mendidik masyarakat. Itulah sebabnya diwajibkan memberi con-toh, baik dalam bentuk
ucapan maupun tingkah laku.
Tiga: Juru penerang. Karena itu diwajibkan menyampaikan pesan-pesan atau membantu
pemerintah serta menyebarkan segala cita-cita negara bangsanya kepada masyarakat.
Empat: Sosial Indonesia. Sebab itu diwajibkan mengukuhi jiwa gotong-royong dalam segala
masalah. Lima: Susilawan. Diwajibkan menjaga etika di lingkungan masyarakat.
Enam: Mempunyai kepribadian sendiri, maka diwajibkan menjaga kepribadian sendiri dan
bangsa.
Tujuh: Setiawan. Maka diwajibkan tunduk dan taat, serta menghormati hukum Republik
Indonesia, demikian pula terhadap adat-istiadat bangsa.

6
Wayang Kulit

Wayang kulit merupakan sejenis hiburan pementasan bayang yang terhasil dari patung yang
dibuat daripada belulang (kulit lembu/kerbau/kambing). Terdapat pelbagai jenis wayang kulit
bergantung kepada tempat asal mereka. Ia merupakan seni tradisional Asia Tenggara
merangkumi Thailand,Malaysia dan Indonesia, yang terutama berkembang di Phattalung wilayah
selatan Thailand, Jawa dan disebelah timur semenanjung Malaysia seperti di Kelantan
dan Terengganu.

Pembuatan Wayang Kulit


Bahan utama dalam pembuatan wayang kulit yaitu kulit kerbau yang sudah diproses menjadi kulit
lembaran. Ukuran kulit kerbau yang digunakan untkuk membuat satu buah wayang kulit yaitu sekitar
50x30 cm kulit lembaran yang kemudian dipahat denga peralatan yang terbuat dari besi yang
berujung runcing berbahan dasar dari baja kualitas terbaik. Besi baja ini dbuat terlebih dahulu dalam
berbagai bentuk dan ukuran, ada yang pipih, runcing, kecil, besar, dan berbagai macam bentuk serta
ukuran lainnya yang masing-masing mempunya fungsi yang bereda-beda.

Namun pada dasarnya, untuk menata atau membuat berbagai bentuk wayang lembaran kulit sengaja
dibuat hingga berlubang. Selanjutnya dilkukan pemasangan bagian-bagian tubuh seperti tangan, pada
bagian tangan terdapat dua buah sambungan, lengan atas dan juga siku, cara menyambungkannya
dengan menggunakan sekrup kecil yang terbuat dari tanduk sapi atau kerbau. Tangkai yang fungsinya
untuk menggerakan bagian lengan yang berwarna kehitaman juga terbuat dari bahan baku tanduk
kerbau dan warna keemasannya umumnya dengan menggunakan prada yaitu kertas warna emas yang
ditempel atau bisa juga dengan dibron, dicat dengan bubuk yang dicairkan. Wayang yang
menggunakan prada, hasilnya lebih baik, wananya bisa tahan lebih lama dibandngkan dengan yang
bron.

Dayang Wayang Kulit


Wayang kulit dimainkan oleh seorang dalang yang juga menjadi narator dialog tokoh-tokoh
wayang, dengan diiringi oleh muzik gamelan yang dimainkan sekelompok nayaga dantembang yang
dinyanyikan oleh para pesinden.

Dalang memainkan wayang kulit di balik kelir, iaitu layar yang terbuat dari kain putih, sementara
di belakangnya disuluhkan lampu eletrik atau lampu minyak (dian), sehingga para penonton yang
berada disebelah berlawanan layar dapat melihat bayangan wayang yang berada ke kelir. Untuk dapat
memahami cerita wayang (lakon), penonton harus memiliki pengetahuan akan tokoh-tokoh wayang

7
yang bayangannya tampil di layar. Wayang kulit lebih popular di Jawa bagian tengah dan timur,
sedangkan wayang golek lebih sering dimainkan di Jawa Barat.

Dalang-dalang wayang kulit yang mencapai puncak kejayaan dan melegenda antara lain
almarhum Ki Tristuti Rachmadi (Solo), almarhum Ki Narto Sabdo (Semarang, gaya Solo), almahum
Ki Surono (Banjanegara, gaya Banyumas), almarhum Ki Timbul Hadi Prayitno (Yogya), almarhum
Ki Hadi Sugito ( Kulonprogo, Yogyakarta), Ki Soeparman (gaya Yogya), Ki Anom Suroto (gaya
Solo), Ki Entus Susmono, Ki Agus Wiranto, almarhum Ki Suleman (gaya Jawa Timur). Sedangkan
untuk Peseinden yang legendaries adalah almarhumah Nyi Tjondrolukito.

Nilai-nilai Yang Terkandung Dalam Wayang Kulit

Cerita dalam pertunjukan wayang kulit sejatinya menampilkan ajaran moral, dimana manusia
hidup diharapkan dapat mengetahui mana yang lebih baik dan mana yang buruk. Pasan nilai-nilai
etika dalam wayang biasanya disampaikan secara tegas misalnya jangan membunuh, jangan berdusta,
jangan berkhianat, tidak boleh marah, tidak boleh munafik, dan lain sebagainya.

Hal lain yang ditampilkan dalam pangelaran wayang adalah soal dilema atau pilihan. Manusia
hidup ternyata selalu dihadapkan dengan pilihan. Tetapi apapun pilihanya, manusia pastinya akan
memilih, meskipun pilihan atau keputusan yang diambil tidak pernah sempurna. Hal ini menunjukkan
bahwa manusia secara psikologis dan fisiologis selalu dihadapkan dengan problema yang tidak pernah
terpecahkan secara sempurna. Kemudian manusia harus mampu berdiri di salah satu pihak, yang baik
maupun yang buruk misalnya Jamadagni harus memilih membunuh istrinya atau membiarkan istrinya
berdosa, Rama Parasu harus memilih membunuh Ibunya atau menentang perintah Ayahnya, Harjuna
Sasra harus memilih meninggalkan tahtahnya atau mencari Nirwana, Wibisana harus memilih ikut
angkara atau ikut kebenaran, dan Sri Rama harus memilih mengorbankan rakyatnya atau
mengorbankan cintanya.

8
Wayang Orang

Wayang orang atau wayang wong mungkin kurang populer dibandingkan dengan wayang kulit.
Namun sesungguhnya pertunjukan wayang wong tidak kalah menarik dengan wayang kulit. Wayang
wong terasa istimewa karena kita bisa menikmati cerita sembari melihat keindahan gerakan para
penari. Sama halnya dengan tari-tari tradisional, saat ini wayang wong sudah bisa disaksikan di luar
keraton atau kerajaan.

Pada dasarnya, cerita atau peran yang ditampilkan dalam pertunjukan wayang orang tidak berbeda
dengan wayang kulit. Biasanya lakon yang dibawakan adalah lakon dalam cerita epik seperti
Mahabrata dan Ramayana. Bedanya jika dalam wayang kulit peran itu ditampilkan dalam sosok
wayang, maka dalam wayang orang lakon atau peran semacam itu dibawakan oleh orang atau wong
dalam bahasa jawa.

Tugas dalang wayang wong tidak jauh berbeda dengan dalang wayang kulit. Namun tugas dayang
wong lebih ringan karena para pelakon melakukan percakapan sendiri. Dalang wayang wong hanya
menyampaikan sedikit narasi baik ketika membuka pertunjukan, di tengah pertunjukan atau di akhir
pertunjukan.

Wayang wong memiliki gerakan-gerakan tertentu yang harus dipatuhi oleh para penarinya. Untuk
para penari laki-laki, beberapa gerakannya adalah alus, gagah, kambeng,bapang, kalang
kinantang, kasar, gecul, kambeng dengklik, dan kalang kinantang dengklik. Sedangkan gerakan para
penari perempuan sering disebut nggruda atau ngenceng encot. Ada sembilan gerakan dasar atau
joged pokok yang ditampilkan para penari wanita serta dua belas joged gubahan atau gerakan
tambahan serta joged wirogo yang memperindah tarian yang ditampilkan.

Para penari yang membawakan lakon wayang biasanya adalah mereka yang sudah terbiasa menari
tarian klasik Jawa seperti bedhaya ketawang atau bedhaya srimpi. Hal ini pulalah yang menjadikan
wayang wong lebih istimewa dibanding dengan wayang jenis lain seperti kulit atau golek.

Menurut sejarah, wayang wong diciptakan setelah wayang kulit oleh Raden Panji Asmarabangun,
putra Lembu Amiluhur yaitu raja dari kerajaan Jenggala. Panji Asmarabangun sendiri merupakan
salah satu seniman yang hebat di masanya. Dia pula yang kerap kali menjadi dalang di setiap
pertunjukan wayang wong yang diciptakannya. Cerita yang diangkat pada masa itu adalah cerita
tentang kerajaan Jenggala. Pemilihan cerita itu tidak lain merupakan permintaan raja Airlangga, ayah
dari Lembu Amiluhur

9
BAB III
KESIMPULAN

Karya seni sebagai bahasa memiliki dua potensi, yaitu potensi sebagai bahasa simbolik dan potensi
sebagai bahasa rupa, gerak dan suara secara denotatif.
Setiap karya seni tidak tumbuh dari sesuatu kekosongan, melainkan tumbuh diantara dan dari
perjalanan sejarah serta dalam suatu konteks sosial budaya, maka sebenarnya sebuah karya seni
merupakan rekaman peristiwa yang dikomunikasikan oleh seniman kepada pembaca (penonton,
pendengar).

Salah satu karya seni yang berkembang di Indonesia adalah seni wayang, yang merupakan salah
satu bentuk teater tradisional yang paling tua. Pada masa pemerintahan Raja Balitung, telah ada
petunjuk adanya pertunjukan wayang, yaitu yang terdapat pada prasasti Balitung dengan tahun 907
Masehi, yang mewartakan bahwa pada saat itu telah dikenal adanya pertunjukan wayang.

Wayang berasal dari kata wayangan yaitu sumber ilham dalam menggambar wujud tokoh dan
cerita sehingga bisa tergambar jelas dalam batin si penggambar karena sumber aslinya telah hilang,
Seni wayang yang terkenal di Indonesia ada tiga, yaitu wayang golek, wayang kulit dan wayang
orang.

10
DAFTAR PUSTAKA
https://www.google.co.id/search?dcr=0&source=hp&ei=8mR2WpWQCIftvgS4m4fICA&q=makalah
+tentang+wayang&oq=makalah+tentang+wayang&gs_l=psy-
ab.1.0.0l8j0i22i30k1l2.4802.19499.0.21500.23.12.0.10.10.0.267.1345.0j5j2.7.0....0...1c.1.64.psy-
ab..6.17.1476.0..35i39k1j0i131k1.0.0d-GtzQPr9w#

https://www.google.co.id/search?dcr=0&ei=enF2WsTLDIj7vAS36JLgAg&q=makalah+tentang+way
ang+kulit&oq=makalah+tentang+wayang+kulit&gs_l=psy-
ab.3..35i39k1j0i22i30k1l9.5906.8740.0.9805.10.10.0.0.0.0.149.1288.0j10.10.0....0...1c.1.64.psy-
ab..0.10.1284...0j0i67k1.0.2z74knR7Yik#

https://www.google.co.id/search?dcr=0&ei=CWV2WoHlA4jUvATWsaGIAg&q=makalah+tentang+
wayang+golek&oq=makalah+tentang+wayang+golek&gs_l=psy-
ab.3..0j0i22i30k1l9.5875.12006.0.12516.16.6.10.0.0.0.143.799.0j6.6.0....0...1c.1.64.psy-
ab..0.16.948...35i39k1.0.QANUwVf2qZQ#

https://www.google.co.id/search?dcr=0&ei=enF2WsTLDIj7vAS36JLgAg&q=makalah+tentang+way
ang+kulit&oq=makalah+tentang+wayang+kulit&gs_l=psy-
ab.3..35i39k1j0i22i30k1l9.5906.8740.0.9805.10.10.0.0.0.0.149.1288.0j10.10.0....0...1c.1.64.psy-
ab..0.10.1284...0j0i67k1.0.2z74knR7Yik#

11