Universitas Sumatera Utara
Repositori Institusi USU http://repositori.usu.ac.id
Fakultas Keperawatan Tesis Magister
2018
Hubungan Supervisi Kepala Ruangan
dengan Kinerja Perawat Pelaksana di
Rumah Sakit Grand Medistra Lubuk Pakam
Syatriawati
Universitas Sumatera Utara
http://repositori.usu.ac.id/handle/123456789/12306
Downloaded from Repositori Institusi USU, Univsersitas Sumatera Utara
HUBUNGAN SUPERVISI KEPALA RUANGAN DENGAN
KINERJA PERAWAT PELAKSANA DI RUMAH
SAKIT GRAND MEDISTRA LUBUK PAKAM
TESIS
Oleh
SYATRIAWATI
147046054 / ADMINISTRASI KEPERAWATAN
PROGRAM STUDI MAGISTER
ILMU KEPERAWATAN FAKULTAS KEPERAWATAN
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN
2018
Universitas Sumatera Utara
CORRELATION BETWEEN WARD HEAD’S SUPERVISION
AND THE EXECUTING NURSES’ PERFORMANCES IN
GRAND MEDISTRA HOSPITAL, LUBUK PAKAM
THESIS
By
SYATRIAWATI
147046054 / NURSING ADMINISTRASION
MASTER IN NURSING SCIENCE STUDY PROGRAM
FACULTY OF NURSING
UNIVERSITY OF SUMATERA UTARA
MEDAN
2018
Universitas Sumatera Utara
Universitas Sumatera Utara
Universitas Sumatera Utara
Judul Tesis : Hubungan Supervisi Kepala Ruangan dengan
Kinerja Perawat Pelaksana di Rumah Sakit Grand
Medistra Lubuk Pakam.
Nama Mahasiswa : Syatriawati
Program Studi : Magister Ilmu Keperawatan
Minat Studi : Administrasi Keperawatan
ABSTRAK
Supervisi keperawatan merupakan suatu proses formal dan profesional yang
dilakukan oleh supervisier kepada pemimpin untuk mendukung, membimbing,
mengarahkan, mengevaluasi, serta mengembangkan pengetahuan dan kompetensi
perawat untuk menyelesaikan tugas dengan penuh tanggung jawab guna
mencapai tujuan rumah sakit dan keselamatan pasien. Kinerja perawat suatu
tindakan yang dilakukan oleh seorang perawat sesuai dengan wewenang dan
tanggung jawab masing-masing, tidak melanggar hukum, aturan serta sesuai
dengan moral dan etika, dimana kinerja yang baik dapat memberikan kepuasan
pada pengguna jasa. Hasil dari pelaksanaan supervisi diharapkan setiap perawat
dapat memberikan asuhan keperawatan dengan baik, terampil, aman, cepat dan
tepat. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui Hubungan Supervisi
kepala ruangan dengan Kinerja perawat pelaksana di rumah sakit Grand Medistra
Lubuk Pakam. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh kepala ruangan
sebanyak 15 orang dan perawat pelaksana di ruang rawat inap sebanyak 95 orang
dengan meggunakan teknik total sampling diperoleh sampel 115 orang. Data
dianalisis dengan uji korelasi Spearman. Hasil penelitian menunjukkan supervisi
kepala ruangan pada kategori baik berjumlah 95 orang (100%) dan untuk hasil
dari kinerja perawat berada pada kategori baik dengan berjumlah 12 orang (80%)
dengan nilai p-value= 0.71 artinya tidak ada hubungan yang signifikan antara
supervisi kepala ruangan dengan kinerja perawat pelaksana di Rumah Sakit
Grand Medistra Lubuk Pakam Kabupaten Deli Serdang. Saran pada penelitian ini
diharapkan kepada perawat untuk memanfaatkan kegiatan supervisi keperawatan
dengan baik untuk terus memperbaiki pelayanan kepada pasien dalam
memberikan asuhan keperawatan yang baik.
Kata kunci: supervisi kepala ruangan, kinerja perawat
i
Universitas Sumatera Utara
Universitas Sumatera Utara
KATA PENGANTAR
Puji dan Syukur Penulis ucapkan kepada Allah SWT yang telah
memberikan Rahmat dan Karunia Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan
tesis yang berjudul: “ Hubungan supervisi kepala ruangan dengan kinerja perawat
pelaksana di Rumah sakit Grand Medistra Lubuk Pakam”
Tesis ini disusun untuk melengkapi persyaratan dalam menyelesaikan
Program Studi Magister Ilmu Keperawatan di Fakultas Keperawatan Universitas
Sumatera Utara. Dengan selesainya tesis ini Penulis mengucapkan terima kasih
kepada yang terhormat:
1. Prof. Dr. Runtung Sitepu, S.H, M.Hum, Selaku Rektor Universitas
Sumatera Utara
2. Bapak Setiawan,S.Kp., MNS., Ph.D Dekan Fakultas Keperawatan
Universitas Sumatera Utara (USU) beserta jajarannya yang telah
memberikan kesempatan dan fasilitas untuk melanjutkan studi ke jenjang
Magister Keperawatan.
3. Ibu Dewi Elizadiani Suza, S.Kp., MNS., Ph.D selaku Ketua Program
Studi Magister Ilmu Keperawatan Fakultas Keperawatan Universitas
Sumatera Utara ,dosen pembimbing I tesis dan Selaku Penguji I yang
telah banyak memberikan masukan dan saran untuk dalam penyusunan
tesis ini.
iii
Universitas Sumatera Utara
4. Ibu Diah Arrum, S.Kep., Ns., M.Kep selaku Sekretaris Ketua Program
Studi Magister Ilmu Keperawatan Universitas Sumatera Utara an Selaku
Penguji II yang telah banyak memberikan masukan dan saran untuk dalam
penyusunan tesis ini.
5. Bapak Roymond H.Simamora, S.Kep, Ns, M.Kep, selaku Pembimbing II
yang telah banyak memberikan arahan dan bimbingan selama penyusunan
tesis.
6. Para dosen dan staff Program Studi Magister Ilmu Keperawatan Fakultas
Keperawatan Universitas Sumatera Utara yang telah membantu dalam
proses penyelesaian laporan tesis.
7. Ibu Diah Arrum, S.Kep,Ns, M.Kep, Ibu Liberta Lumbantoruan,
S.Kp.,M.Kep dan ibu Sriga banjanahor, S.Kep,.Ns,.MARS. selaku expert
dalam uji validitas kuesioner tesis ini.
8. dr.Arif Sujatmiko selaku pimpinan Rumah Sakit Grand Medistra Lubuk
Pakam sebagai lokasi penelitian tesis ini.
9. dr.Alprindo Sembiring selaku pimpinan Rumah Sakit Sembiring Deli Tua
sebagai lokasi uji reliabilitas tesis ini.
10. Drs. Johannes Sembiring.,M.Pd.,M.Kes dan Drs. David Ginting,
M.Pd.,M.Kes selaku pimpinan Yayasan MEDISTRA dan Ketua STIKes
MEDISTRA Lubuk Pakam yang telah banyak memberikan dukungan
materi dalam penyelesaian laporan tesis.
11. Kepada Orang tua : H. Suhaimi dan Hj. Syamsinar,Saudara/i: Lilis
Suhelmi,AM.Keb, Susi Helmi,S.Kom, Linda Warni.AM.Keb,S.Tr,Keb
iv
Universitas Sumatera Utara
Ilham Syddiq,S.H, yang telah banyak memberikan dorongan moril dalam
penyelesaian laporan tesis.
12. Rekan-rekan Program Studi Magister Ilmu Keperawatan Fakultas
Keperawatan Universitas Sumatera Utara Angkatan IV 2014/2016 dan
semua pihak yang tidak dapat disebutkan satu persatu yang telah banyak
membantu dan memberi dorongan untuk menyelesaikan laporan tesis ini.
Penulis menyadari tesis ini masih banyak kekurangan. Oleh karena itu,
penulis mengharapkan kritik dan saran demi kesempurnaan tesis ini dan harapan
penulis semoga tesis ini bermanfaat demi kemajuan ilmu pengetahuan khususnya
profesi keperawatan.
Medan, Juni 2018
Penulis,
Syatriawati
v
Universitas Sumatera Utara
DAFTAR ISI
Halaman
ABSTRAK ................................................................................................. i
KATA PENGANTAR............................................................................... iii
RIWAYAT HIDUP ................................................................................... vi
DAFTAR ISI.............................................................................................. viii
DAFTAR TABEL ..................................................................................... xi
DAFTAR SKEMA .................................................................................... xii
DAFTAR LAMPIRAN ............................................................................. xiii
BAB I PENDAHULUAN.......................................................................... 1
1.1. Latar belakang ............................................................................ 1
1.2. Permasalahan .............................................................................. 7
1.3. Tujuan penelitian ........................................................................ 7
1.3.1.Tujuan Umum..................................................................... 7
1.3.2.Tujuan Khusus.................................................................... 7
1.4. Hipotesa ...................................................................................... 7
1.5. Manfaat penelitian ...................................................................... 8
1.5.1.Bagi rumah sakit ................................................................. 8
1.5.1.1.Pihak managemen ................................................. 8
1.5.1.2.Kepala Ruangan .................................................... 8
1.5.1.3.Perawat Pelaksana................................................. 8
1.5.2.Bagi pendidikan keperawatan............................................. 8
1.5.3.Bagi Tim kesehatan lain ..................................................... 9
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA................................................................ 10
2.1.Supervisi ...................................................................................... 10
2.1.1.Pengertian supervisi........................................................... 10
2.1.2.Tujuan supervisi ................................................................ 12
2.1.3.Pelaksanaan supervisi keperawatan................................... 12
2.1.4.Teknik supervisi ................................................................ 13
2.1.5.Langkah-langkah supervisi................................................ 15
2.1.6.Model supervisi ................................................................. 16
2.1.7.Fungsi supervisi................................................................. 18
2.1.8.Supervisi ............................................................................ 20
2.1.9.Alat ukur supervisi kepala ruangan ................................... 23
2.1.10.Hasil Ukur ....................................................................... 23
2.2.Kinerja ......................................................................................... 23
2.2.1.Pengertian kinerja .............................................................. 23
2.2.2.Standar Instrumen penilaian kinerja .................................. 28
2.2.3.Faktor-faktor yang mempengaruhi kinerja ........................ 31
2.2.4.Penelitian terdahulu ........................................................... 32
2.2.5.Masalah dalam penilaian kinerja perawat ......................... 34
viii
Universitas Sumatera Utara
2.2.6.Kinerja perawat pelaksana ruang inap............................... 35
2.2.7.Alat ukur kinerja perawat .................................................. 36
2.2.8.Hasil Ukur ......................................................................... 38
2.2.9.Pengukuran Kinerja Perawat ............................................. 38
2.3.Landasan Teori ............................................................................ 38
2.4.Kerangka konsep ......................................................................... 41
BAB 3 METODE PENELITIAN............................................................. 43
3.1.Jenis penelitian............................................................................. 43
3.2.Lokasi dan waktu penelitian ........................................................ 43
3.3.Populasi dan sampel .................................................................... 44
3.4.Metode pengumpulan data........................................................... 44
3.4.1.Tahap persiapan................................................................. 44
3.4.2.Tahap pelaksanaan............................................................. 45
3.5.Variabel dan definisi operasional ................................................ 45
3.5.1.Variabel bebas ................................................................... 46
3.5.2.Variabel terikat .................................................................. 46
3.6.Metode pengukuran ..................................................................... 47
3.6.1.Prosedur penggunaan Instrumen ....................................... 47
3.6.2.Pengukuran variabel bebas dan variabel terikat ................ 48
3.6.2.1.Peran Supervisi Kepala Ruangan .......................... 48
3.6.2.2.Kinerja perawat ..................................................... 49
3.6.2.3.Uji validitas ........................................................... 50
3.6.3.4.Uji reabilitas .......................................................... 53
3.7.Metode pengumpulan data........................................................... 58
3.8.Analisa data ................................................................................. 59
3.9.Pertimbangan etik ........................................................................ 62
BAB 4 HASIL PENELITIAN .................................................................. 64
4.1.Deskripsi Lokasi Penelitian....................................................... 64
4.2.Hasil Penelitian ......................................................................... 69
4.2.1.Karakteristik Responden .................................................. 69
4.3. Analisis Univariat..................................................................... 71
4.3.1.Hasil Penelitian Supervisi ............................................... 72
4.3.2.Hasil Penelitian Kinerja .................................................. 73
4.4.Analisis Bivariat........................................................................ 74
4.4.1.Hasil Uji Korelasi........................................................... 74
BAB 5 PEMBAHASAN ............................................................................ 75
5.1.Supervisi Kepala Ruangan ........................................................ 75
5.2.Kinerja Perawat......................................................................... 76
5.3.Hubungan Supervisi .................................................................. 81
5.4.Kekuatan dan Keterbatasan....................................................... 84
ix
Universitas Sumatera Utara
BAB 6 KESIMPULAN DAN SARAN ..................................................... 85
6.1.Kesimpulan ............................................................................... 85
6.2.Saran.......................................................................................... 85
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN
x
Universitas Sumatera Utara
DAFTAR TABEL
Halaman
3.1. Variabel dan definisi operasional....................................................... 46
3.3. Hasil pilot study data demografi kepala ruangan............................... 54
3.4. Hasil pilot study data demografi perawat........................................... 55
4.1. Distribusi Frekuensi Karakteristik Supervisi Kepala Ruangan.......... 69
4.2. Distribusi Frekuensi Karakteristik perawat pelaksana....................... 70
4.3. Distribusi Frekuensi Kategori Supervisi Kepala Rungan .................. 72
4.4.Distribusi Frekuensi Kategori Kinerja Perawat .................................. 73
xi
Universitas Sumatera Utara
DAFTAR SKEMA
Halaman
2.3. Kerangka Teori................................................................................... 40
2.4. Kerangka Konsep ............................................................................... 42
xii
Universitas Sumatera Utara
DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran :
1. Lembar Persetujuan Menjadi Responden Penelitian Supervisi
2. Lembar Kuesioner Supervisi Kepala Ruangan
3. Lembar Persetujuan Menjadi Responden Penelitian Kinerja
4. Lembar Kuesioner Kinerja Perawat Pelaksana
5. Lembar Biodata Expert
6. Lembar Persetujuan Komisi Etik Penelitian Kesehatan F.Kep USU
7. Lembar Surat Ijin Reliabel dari F.Kep USU
8. Lembar Surat Ijin Reliabel dari RSU Sembiring Delitua
9.Lembar Surat Ijin Penelitian dari F.Kep USU
10. Lembar Surat Ijin Penelitian dari RS Grand Medistra Lubuk Pakam
11. Lembar Konsul
xiii
Universitas Sumatera Utara
BAB 1
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Rumah sakit merupakan suatu institusi perawatan kesehatan profesional
yang pelayanannya disediakan oleh dokter, perawat dan tenaga ahli kesehatan
lainnya. Saat ini kesehatan merupakan salah satu peluang bisnis yang cukup baik.
Hal ini terbukti dengan semakin banyaknya rumah sakit atau klinik swasta yang
berdiri. Bahkan di Indonesia juga telah berdiri beberapa rumah sakit bertaraf
internasional. Rumah sakit baik swasta maupun milik pemerintah berusaha
menjaring pasien sebanyak-banyaknya dengan meningkatkan pelayanannya.
Layanan yang diberikan rumah sakit di Indonesia masih kurang dibandingkan
dengan pelayanan yang diberikan rumah sakit di luar negeri. Sering kali
masyarakat mendengar bahwa rumah sakit menolak pasiennya dikarenakan tidak
ada tempat untuk merawat pasien (Sitonga, 2005).
Sistem manajemen di rumah sakit sangat penting, dimana supervisi klinis
merupakan suatu proses formal secara profesional dengan dukungan dan
pembelajaran yang memungkinkan praktisi individual nya untuk
mengembangkan pengetahuan dan juga kompetensi, menganggap tanggung
jawab untuk praktek sendiri dan meningkatkan perlindungan konsumen dan
keamanan perawatan dalam situasi klinis yang kompleks dirumah sakit dalam
suatu sistem manjemen yang sangat berpengaruh terhadap pelayanan yang
diberikan (Depkes RI,1999).
1
Universitas Sumatera Utara
Perawat merupakan salah satu profesi dalam pemberian asuhan
keperawatan di rumah sakit terhadap pasien, yang mana tenaga perawat
mempunyai kedudukan penting dalam menghasilkan kualitas dan kuantitas
pelayanan kesehatan di rumah sakit, karena pelayanan yang diberikannya
berdasarkan pendekatan bio-psiko-sosial-spiritual, merupakan pelayanan yang
unik, dilaksanakan selama 24 jam dan berkesinambungan yang merupakan
kelebihan tersendiri dibanding pelayanan kesehatan lainnya (Depkes RI, 2005).
Munculnya supervisi klinis pada saat ini karena adanya kegagalan yang
dalam pelayanan keperawatan ditahun 1990, termasuk kesalahan tragedi operasi
jantung Bristol dan skrining serviks di Kent Canterbury Hospital dan kejadian
tersebut berfungsi untuk menggambarkan potensi hasil yang merugikan ketika
sistem pelayanan kesehatan. Supervisi klinis menjadi salah satu yang kurang
dipahami dalam praktek keperawatan modern. Persepsi ini memberikan
pengasuhan dan layanan mendukung untuk perawat, membantu mereka untuk
merefleksikan secara kritis tindakan mereka dalam perawatan pasien untuk
mengeksplorasi dan menguji peran dan status supervisi klinis sebagai supervisor
walaupun perkembangan dalam perawatan lebih baik, dalam supervisi klinis tetap
menjadi salah satu kebanyakan praktek yang salah dipahami dikeperawatan.
Digambarkan sebagai pertukaran antara praktisi profesional untuk
memungkinkan pengembangan keterampilan profesional, menyediakan dukungan
layanan bagi perawat untuk membantu mereka merefleksikan tindakan mereka
atau mungkin infeksi dalam penyediaan perawatan pasien (Cottrell & Smith,
2000).
2
Universitas Sumatera Utara
Efektivitas dan kualitas pelayanan secara keseluruhan diperkirakan akan
meningkat melalui peningkatan profesional dan kesadaran terhadap tanggung
jawab pada tugas masing-masing. Supervisi adalah suatu proses dengan cara
perencanaan, pengarahan, bimbingan, motivasi, evaluasi dan perbaikan agar staf
dapat melaksanakan tugasnya secara optimal (Bush, 2005).
Supervisi klinik merupakan intervensi yang disediakan anggota senior
dari sebuah profesi untuk anggota junior atau anggota profesi yang sama.
Hubungan ini meluas dari waktu ke waktu dan memiliki tujuan untuk
meningkatkan fungsi profesional junior, pemantauan kualitas layanan profesional
yang ditawarkan untuk klien atau melayani sebagai juru kunci mereka yang
adalah untuk memasuki profesi tertentu (Bernard & Goodyear, 1998).
Menerapkan model supervisi klinis dalam keperawatan salah satu
penelitian yang dilakukan di Portugal melaksanakan secara studi eksplorasi,
deskriptif dan longitudinal bertujuan untuk mempublikasikan hasil tahap pertama
yang difokuskan pada pendapat kepala perawat pada supervisi klinis keperawatan.
Penelitian yang pernah dilakukan adalah dengan melakukan wawancara untuk
semua kepala perawat sebanyak 18 orang. Analisisnya digunakan untuk
data,tema dan kategori ditemukan seperti perspektif, relevansi, kondisi supervisi
klinik (Winstanley & White, 2002). Penurunan kinerja perawat akan
mempengaruhi mutu pelayanan kesehatan Studi oleh Direktorat Keperawatan dan
Keteknisian Medik Depkes RI bekerjasama dengan WHO tahun 2000 di 4
provinsi di Indonesia, yaitu DKI Jakarta, Sumatera Utara, Sulawesi Utara.
3
Universitas Sumatera Utara
Kemudian Kalimantan Timur, menemukan 47,4 persen perawat belum
memiliki uraian tugas secara tertulis, 70,9 persen perawat tidak pernah mengikuti
pelatihan dalam 3 tahun terakhir dan 39,8 persen perawat masih melaksanakan
tugas non keperawatan, serta belum dikembangkan system monitoring dan
evaluasi kinerja perawat (Basri, 2007). Hasil survei di RSU Swadana Tarutung,
terhadap 152 pasien rawat inap berkaitan dengan kinerja perawat pelaksana
menunjukkan bahwa sebanyak 65% menyatakan perawat kurang perhatian 53%
mengatakan perawat sering tidak di ruangan, 42% menyatakan perawat bekerja
tidak disiplin (Siregar, 2008). Penelitian yang dilakukan oleh Mulyono, Hamzah
dan Abdullah (2013) di Rumah sakit Tingkat III 16.06.01 Ambon terdapat
pengaruh yang signifikan antara supervisi dengan kinerja perawat, sejalan dengan
penelitian yang dilakukan di RSUD Liunkendage Tahuna pada 8 ruang rawat
inap dengan 69 responden diketahui bahwa ada hubungan antara supervisi dengan
kinerja perawat pelaksana (Tampilang, 2013).
Berdasarkan studi pendahuluan yang dilakukan oleh peneliti pada
Nopember 2015 dengan kepala bidang keperawatan diperoleh informasi bahwa
belum pernah dilakukan penelitian mengenai supervisi kepala ruangan terhadap
kinerja perawat pelaksana secara formal. Rumah sakit Grand Medistra merupakan
salah satu rumah sakit tipe B yang memberikan pelayanan kesehatan dari pasien
umum hingga spesialis. Data yang diperoleh pada pelaksanaan misi pelayanan
medis dan sistem kerja yang terstandar sudah berjalan optimal.
4
Universitas Sumatera Utara
Hal ini terlihat pada data rekam medis menunjukkan angka produktifitas
rumah sakit tahun 2014 sudah mencapai angka ideal menurut Depkes (2008)
yaitu BOR= 60-85%, a-LOS= 6-9 hari, TOI= 1-3 hari, BTO= 40-50 pasien per
tahun, NDR= 25 per 1000 pasien keluar, GDR= 45 per 1000 pasien keluar
(Rekam medis RS-GM, 2014). Peningkatan BOR akan berdampak terhadap
pelayanan yang diberikan oleh perawat khususnya dan akan mempengaruhi
peningkatan beban kerja dan mempengaruhi kinerja perawat yang membutuhkan
pelaksanaan supervisi kepala ruangan secara optimal (Gillies, 1994).
Hasil survei melalui observasi dan wawancara didapat data tentang sistem
kegiatan supervisi kepala ruangan berdasarkan pada aturan dari Rumah Sakit
Grand Medistra yaitu dari sisi kegiatan supervisi, jadwal kegiatan supervisi,
aspek yang disupervisi, juga teknik yang dilakukan oleh kepala ruangan yang
tidak dipahami oleh perawat yang disupervisi. Untuk itu dibutuhkan pengawasan
yang baik dari pimpinan dalam bentuk supervisi yang akan menghasilkan kinerja
perawat yang baik dan sesuai standar.
Standarisasi kegiatan pada supervisi kepala ruangan yaitu : Sebelum
pertukaran shift, (1) Mengecek kecukupan fasilitas/peralatan/sarana untuk hari itu,
(2) Mengecek jadwal kerja, pada waktu mulai shift, (3) Mengecek personil yang
ada, (4) Menganalisa keseimbangan tenaga, (5) Mengatur pekerjaan, (6)
Mengidentifikasikan kendala yang muncul, (7) Mencari alternatif penyelesaian
masalah supaya dapat diselesaikan sepanjang hari.
5
Universitas Sumatera Utara
Kemudian (8) Mengecek pekerjaan setiap perawat, mengarahkan,
mengintruksi, mengoreksi atau memberi latihan sesuai kebutuhan, (9) Mengecek
kemajuan pekerjaan, (10) Mengecek kemajuan rumah tangga, (11) Mengecek
personil, kenyamanan kerja terutama personil baru, (12) Berjaga di tempat bila
ada pertanyaan, permintaan bantuan lain-lain, (13) Mengatur jam istirahat
perawat, (14) Mendeteksi dan mencatat problem yang muncul pada saat itu dan
mencari cara memecahkannya, (15) Mengecek kembali kecukupan
alat/fasilitas/sarana sesuai kondisi operasional, (16) Mencatat fasilitas/sarana
yang rusak kemudian melaporkannya, (17) Mengecek kecelakaan kerja, (18)
Menyiapkan laporan mengenai pekerjaan secara rutin, (19) Mengobservasi satu
personil atau aneka kerja secara kontiniu untuk 15 menit sekali, (20) Melihat
dengan seksama hal-hal yang mungkin terjadi, seperti keterlambatan pekerjaan,
lamanya mengambil barang dan kesulitan pekerjaan, (21) Membuat daftar
masalah yang belum terpecahkan dan berusaha untuk memecahkan keesokan
harinya, (22) Pikirkan pekerjaan yang telah dilakukan sepanjang hari dengan
mengecek hasilnya, kecukupan material dan peralatannya, (23) Melengkapi
laporan harian dan (24) Membuat daftar pekerjaan untuk keesokan harinya
(Rekam medis RS-GM, 2014).
Berdasarkan latar belakang tersebut dan fenomena-fenomena dari hasil
penelitian sebelumnya yang terkait, peneliti tertarik untuk melakukan penelitian
tentang Hubungan supervisi kepala ruangan terhadap kinerja perawat pelaksanan
di Rumah Sakit Grand Medistra Lubuk Pakam sehingga dapat dimanfaatkan
untuk pelayanan yang lebih baik oleh perawat.
6
Universitas Sumatera Utara
1.2 Permasalahan
Berdasarkan fenomena dan permasalahan diatas, maka permasalahan dalam
penelitian ini adalah apakah ada hubungan supervisi kepala ruangan dengan
kinerja perawat pelaksana di Rumah Sakit Grand Medistra Lubuk Pakam ?
1.3 Tujuan Penelitian
1.3.1 Tujuan Umum
Tujuan umum dari penelitian ini adalah untuk menganalisis hubungan
supervisi kepala ruangan dengan kinerja perawat pelaksana di Rumah Sakit
Grand Medistra Lubuk Pakam.
1.3.2 Tujuan khusus
1.3.2.1 Mengidentifikasi pelaksanaan supervisi kepala ruangan di Rumah Sakit
Grand Medistra Lubuk Pakam.
1.3.2.2 Mengidentifikasi kinerja perawat pelaksana di Rumah Sakit Grand
Medistra Lubuk Pakam.
1.3.2.3 Mengidentifikasi hubungan pelaksanaan supervisi kepala ruangan dengan
kinerja perawat pelaksana di Rumah Sakit Grand Medistra Lubuk
Pakam.
1.4 Hipotesis Penelitian
Adanya hubungan supervisi kepala ruangan dengan kinerja perawat
pelaksana di Rumah Sakit Grand Medistra Lubuk Pakam.
7
Universitas Sumatera Utara
1.5 Manfaat Penelitian
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi yang positif untuk
pengembangan keilmuan baik secara teoritis dan praktik bagi dunia keperawatan
diantaranya :
1.5.1 Bagi Rumah sakit
1.5.1.1 Pihak Manajemen
Hasil penelitian ini dapat menjadi pedoman bagi rumah sakit khususnya
kepada administrator keperawatan dalam penyusunan kebijakan pelaksanaan
supervisi.
1.5.1.2 Kepala ruangan
Hasil penelitian dapat menjadi landasan bagi kepala ruangan dalam
melakukan supervisi kinerja ketua tim.
1.5.1.3 Perawat Pelaksanaan
Hasil penelitian dapat dijadikan oleh kepala ruangan sebagai bahan
pengarahan dan bimbingan dalam memberikan pelayanan yang optimal.
1.5.2 Bagi pendidikan keperawatan
Hasil penelitian ini dapat dijadikan sebagai fakta dilapangan dalam
pembelajaran terkait kondisi manajemen keperawatan khususnya tentang
supervisi kepala ruangan dan kualitas kinerja perawat pelaksana yang dapat
berkontribusi dalam pengembangan ilmu keperawatan.
8
Universitas Sumatera Utara
1.5.3 Bagi Tim Kesehatan lain
Hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai data dasar dan referensi oleh
peneliti selanjutnya yang berkaitan dengan supervisi dan kinerja perawat
pelaksana di rumah sakit.
9
Universitas Sumatera Utara
BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Supervisi
2.1.1 Pengertian Supervisi
Supervisi keperawatan merupakan suatu proses formal dan profesional yang
dilakukan oleh supervisier kepada pemimpin untuk mendukung, membimbing,
mengarahkan, mengevaluasi, serta mengembangkan pengetahuan dan kopetensi
perawat untuk menyelesaikan tugas dengan penuh tanggung jawab guna
mencapai tujuan rumah sakit dan keselamatan pasien (Gillies, 1999).
Gillies (1994) menyatakan supervisi atau pengawasan merupakan salah satu
dari prinsip perilaku kepemimpinan. Supervisi dilakukan untuk melihat pekerjaan
yang sedang berlangsung dan memperbaikinya apabila terjadi pelaksanaan yang
tidak baik. Menurut (Royal college of nursing, 2007), supervisi adalah proses
memastikan kegiatan dilaksanakan sesuai dengan tujuan organisasi, dengan cara
melakukan pengawasan terhadap pelaksanaan kegiatan.
Fayol (Swanburg 2010), mengemukakan bahwa supervisi merupakan
pemeriksaan apakah segala sesuatunya terjadi sesuai dengan rencana yang telah
disepakati, instruksi yang dikeluarkan serta prinsip-prinsip yang telah ditentukan
yang bertujuan untuk menunjukkan kekurangan dan kesalahan agar dapat
diperbaiki dan tidak terjadi lagi.
10
Universitas Sumatera Utara
Supervisi adalah melakukan pengamatan secara langsung dan berkala
oleh atasan terhadap pekerjaan yang dilakukan bawahan yang kemudian bila
ditemukan masalah segera dilakukan bantuan yang bersifat langsung untuk
mengatasinya (Suarli, 2012). Marquis dan Huston (2010) mengemukakan bahwa
supervisi adalah kegiatan yang direncanakan untuk membantu tenaga
keperawatan dalam melakukan pekerjaan mereka secara efektif. Supervisi tidak
hanya sekedar perawat dengan sabar, adil serta bijaksana.
Hasil dari pelaksanaan supervisi diharapkan setiap perawat dapat
memberikan asuhan keperawatan dengan baik, terampil, aman, cepat dan tepat
secara menyeluruh sesuai dengan kemampuan dan keterbatasan dari perawat
yang bersangkutan. Supervisi klinis adalah mekanisme dukungan untuk praktisi
professional klinis di mana mereka dapat berbagi pengalaman organisasi,
perkembangan dan emosional dengan aman dalam rangka meningkatkan
pengetahuan dan keterampilan. Proses ini akan menyebabkan peningkatan
kesadaran termasuk akuntabilitas dan praktek reflektif (Lynch & Happel, 2008).
Berdasarkan beberapa uraian pendapat diatas dapat ditarik kesimpulan
bahwa supervisi adalah suatu kegiatan profesional dalam pelayanan keperawatan
yang dilakukan oleh manajer kepada bawahan. Proses supervisi merupakan
kegiatan pembelajaran, pelatihan yang bertujuan untuk peningkatan pengetahuan
dan keterampilan serta memberikan dukungan kepada bawahan dan merupakan
pengawasan terhadap pelaksanaan pelayanan asuhan keperawatan.
11
Universitas Sumatera Utara
2.1.2 Tujuan Supervisi
Gillies (1994), tujuan dari supervisi adalah untuk memeriksa, menilai dan
memperbaiki penampilan kerja pegawai sesuai dengan kriteria yang telah
ditetapkan. Suarli (2012), tujuan supervisi adalah memberikan bantuan kepada
bawahan secara langsung sehingga dengan bantuan tersebut bawahan akan
memiliki bekal yang cukup untuk melaksanakan tugas atau pekerjaan dengan
hasil yang baik, supervisi yang baik adalah supervisi yang dilakukan secara
berkala.
2.1.3 Pelaksana Supervisi keperawatan
Suyanto (2008), supervisi keperawatan dilaksanakan oleh personil atau
bagian yang bertanggung jawab antara lain:
Kepala Ruangan
Kepala ruangan bertanggung jawab melakukan supervisi pelayanan
keperawatan yang diberikan kepada pasien diruang perawatan yang dipimpinnya.
kepala ruangan mengawasi perawat pelaksana dalam memberikan asuhan
keperawatan baik secara langsung maupun tidak langsung disesuaikan dengan
metode penugasan yang diterapkan di ruang perawatan tersebut.
Pengawas Perawatan (Supervisor)
Ruang perawatan dan unit pelayanan yang berada di bawah unit
fungsional mempunyai pengawas yang bertanggung jawab mengawasi jalannya
pelayanan keperawatan.
12
Universitas Sumatera Utara
Kepala Bidang Keperawatan
Kepala bidang keperawatan yang merupakan top manajer dalam bidang
keperawatan, bertanggung jawab untuk melakukan supervisi baik secara langsung
maupun tidak langsung melalui para pengawas perawatan. Suarli (2012)
mengemukakan bahwa yang bertanggung jawab melakukan supervisi adalah
atasan langsung yang memiliki kelebihan dalam organisasi tersebut.Karakteristik
yang harus dimiliki oleh pelaksana supervisi meliputi : 1) atasan langsung dari
yang disupervisi, apabila tidak memungkinkan, dapat ditunjuk staf khusus dengan
batas-batas dan wewenang dan tanggung jawab yang jelas, 2) Memiliki
pengetahuan dan keterampilan yang cukup untuk jenis pekerjaan yang akan
disupervisi, 3) Memiliki keterampilan melakukan supervisi artinya memahami
prinsip - prinsip pokok serta teknik supervisi, 4) Memiliki sifat edukatif dan
suportif bukan otoriter, 5) Mempunyai waktu yang cukup, sabar dan selalu
berupaya meningkatkan pengetahuan, keterampilan dan perilaku bawahan yang
disupervisi.
2.1.4 Teknik Supervisi
Arwani (2006), secara teknis supervisi dapat dilakukan secara langsung
dan tidak langsung. Supervisi langsung bertujuan untuk proses pembimbingan,
arahan dan pencegahan serta memperbaiki kesalahan yang terjadi, maka supervisi
langsung lebih tepat digunakan.
13
Universitas Sumatera Utara
Supervisi yang ditujukan untuk memantau proses pelaksanaan tugas
keperawatan yang telah dijalankan maka supervisi tidak langsung lebih tepat
digunakan. Supervisi langsung dilakukan pada kegiatan yang sedang berlangsung.
Supervisor terlibat dalam kegiatan agar pengarahan dan pemberian petunjuk tidak
dirasakan sebagai perintah. Supervisi tidak langsung dilakukan melalui laporan
tertulis seperti laporan pasien dan catatan asuhan keperawatan pada shift pagi,
sore dan malam. Dapat juga dengan menggunakan laporan lisan seperti saat
timbang terima shift, ronde keperawatan maupun rapat. Supervisor tidak melihat
langsung kejadian dilapangan sehingga memungkinkan terjadi kesenjangan fakta.
Hasil temuan dari supervisi tidak langsung memerlukan klarifikasi dan
umpan balik diberikan agar tidak terjadi salah persepsi dan masalah segera dapat
diselesaikan (Suyanto, 2008). Suarli (2012) teknik pokok supervisi mencakup
empat hal yaitu menetapkan masalah dan prioritasnya, menetapkan penyebab
masalah, melaksanakan jalan keluar dan menilai hasil yang dicapai untuk tindak
lanjut. Douglas (Swanburg, 2010) mengemukakan bahwa dalam pelaksanaan
aktivitas supervisi perlu mempertimbangkan hubungan interpersonal dan
komunikasi. Aktivitas tersebut meliputi teknis ataupun objektif yang meliputi
merumuskan tujuan perawatan realistis untuk klinik kesehatan, pasien dan
personel keperawatan, memberikan prioritas utama untuk kebutuhan pasien atau
klien sehubungan dengan tugas-tugas staf perawatan, melaksanakan koordinasi
untuk efisiensi pelayanan yang diberikan oleh bagian penunjang,
mengidentifikasi tanggung jawab untuk seluruh kegiatan yang dilakukan staf
perawatan.
14
Universitas Sumatera Utara
Dalam memberikan perawatan yang aman dan berkesinambungan,
mempertimbangkan kebutuhan terhadap tugas-tugas yang bervariasi dan
pengembangan staf perawatan, memberikan kepemimpinan terhadap anggota staf
untuk bantuan dalam hal pengajaran, konsultasi dan evaluasi, mempercayai
anggota untuk mengikuti perjanjian yang telah mereka sepakati,
menginterpretasikan protokol untuk berespon terhadap hal-hal incidental.
Menjelaskan prosedur yang harus diikuti dalam keadaan darurat,
memberikan laporan ringkas dan jelas, menggunakan proses kontrol manajemen
untuk mengkaji kualitas pelayanan yang diberikan dan mengawasi penampilan
kerja individu dan kelompok staf perawatan. Menurut Kirk, Eaton dan Auty
(2000) proses supervisi dapat dilakukan dengan cara self-supervision, one-to-one
supervision dan team supervision.
Bush (2005) mengemukakan supervisi dapat dilakukan dengan cara one-
to-one dengan expert berasal dari disiplin ilmu yang sama, one-to-one dengan
expert berasal dari disiplin ilmu yang berbeda, one-to-one yang dilakukan oleh
rekan, group supervision dan network supervision. Kegiatan tersebut
dilaksanakan dengan meningkatkan hubungan interpersonal sehingga tujuan dari
supervisi dapat tercapai (Heron, 1990).
2.1.5. Langkah-langkah Supervisi
2.1.5.1 Pra supervisi
Kegiatan yang dilakukan oleh supervisor pada pra supervisi adalah: 1)
supervisor menetapkan kegiatan yang akan disupervisi dan 2) supervisor
menetapkan tujuan
15
Universitas Sumatera Utara
2.1.5.2 Supervisi
Kegiatan yang dilakukan oleh supervisor pada supervisi adalah :1)
supervisor menilai kinerja perawat berdasarkan alat ukur atau instrumen yang
telah disiapkan, 2) supervisor mendapat beberapa hal yang memerlukan
pembinaan, 3) supervisor memanggil Perawat Primer dan Perawat Associste
untuk mengadakan pembinaan dan klarifikasi permasalahan, 4) supervisor
mengklarifikasi permasalahan yang ada, 5) supervisor melakukan tanya jawab
dengan perawat primer dan perawat associate, 6) supervisor memberikan
masukan dan solusi pada perawat primer dan perawat associate, 7) supervisor
memberikan reinforcement pada perawat primer dan perawat associate
2.1.6 Model Supervisi
Suyanto (2008), beberapa model supervisi dapat diterapkan dalam
kegiatan supervisi antara lain :
2.1.6.1 Model konvensional
Supervisi dilakukan melalui inspeksi langsung untuk menemukan masalah
dan kesalahan dalam pemberian asuhan keperawatan. Supervisi dilakukan untuk
mengoreksi kesalahan dan memata-matai staff dalam menjalankan tugas. Model
ini sering tidak adil karena hanya melihat sisi negatif dari pelaksanaan pekerjaan
yang dilakukan para perawat pelaksana sehingga sulit terungkap sisi positif, hal-
hal yang baik ataupun keberhasilan yang telah dilakukan.
16
Universitas Sumatera Utara
2.1.6.2 Model ilmiah
Supervisi dilakukan dengan pendekatan yang sudah direncanakan
sehingga tidak hanya mencari kesalahan atau masalah saja. supervisi yang
dilakukan dengan model ini memiliki karakteristik : 1) dilakukan secara
berkesinambungan, 2) dilakukan dengan prosedur, instrument dan standar
supervisi yang baku, 3) menggunakan data yang obyektif sehingga dapat
diberikan umpan balik dan bimbingan
2.1.6.3 Model klinis
Supervisi ini bertujuan untuk membantu perawat pelaksana dalam
mengembangkan profesionalisme sehingga penampilan kinerjanya dalam
pemberian asuhan keperawatan meningkat. Supervisi yang dilakukan secara
sistematis melalui pengamatan pelayanan keperawatan yang diberikan oleh
seorang perawat selanjutnya dibandingkan dengan standar keperawatan.
2.1.6.2 Model artistik
Model ini dilakukan dengan pendekatan personal untuk menciptakan rasa
aman sehingga supervisor dapat diterima oleh perawat pelaksana yang akan
disupervisi. Pendekatan interpersonal akan menciptakan hubungan saling percaya
sehingga hubungan antara perawat pelaksana dengan supervisor akan terbuka
yang mempermudah proses supervisi. Beberapa model supervisi telah
dikembangkan antara lain Model Proctor : model ini mengembangkan bahwa
seorang supervisor harus memenuhi tiga fungsi utama yaitu: restoratif, formatif
dan normatif.
17
Universitas Sumatera Utara
Model ini yang memandu praktek superviser tidak boleh terlalu
preskriptif, tetapi bertindak sebagai kerangka kerja yang didukung oleh prinsip
teori (Bush, 2005). Model lain adalah The CLEAR (integratif) model
menjelaskan tugas atau proses pengawasan meliputi beberapa komponen yaitu
kontrak, mendengarkan, mengeksplorasi, tindakan dan meninjau. Komponen
kontrak menggambarkan adanya proses sebelum pelaksanaan supervisi melalui
sesi negosiasi untuk mencapai hasil yang diinginkan. Komponen mendengarkan
meliputi adanya proses menjadi seorang pendengar yang aktif.
Komponen mengeksplorasi dilakukan dengan menggunakan pertanyaan
untuk mendapatkan informasi baru dalam kemajuan klinis sehingga komponen
tindakan dan meninjau yang dilakukan sebagai kegiatan terakhir. Dilakukan
dengan proses bimbingan secara bertahap berdasarkan teoritis supervisi yang
dilakukan berdasarkan kerangkan kerja yang bertujuan untuk pengembangan
superviser. Superviser harus menyadari elemen utama dalam model ini adalah :
murah hati, bermanfaat, bersikap terbuka, mau belajar, bijaksana dan pemikiran,
manusiawi, sensitif (Berggren & Severinsson, 2008).
2.1.7 Fungsi supervisi
Fungsi Supervisi mempunyai lima fungsi dalam upaya untuk
mencapai tujuan organisasi tersebut adalah:
1. Perencanaan, menunjuk perawat serta tugasnya masing-masing, mengikuti
serah terima pasien pada shift sebelumnya, mengidentifikasi tingkat
ketergantungan klien dibantu perawat, mengidentifikasi tingkat ketergantungan
klien dibantu perawat, mengidentifikasi jumlah perawat yang dibutuhkan
18
Universitas Sumatera Utara
berdasarkan aktifitas dan tingkat ketergantungan pasien dibantu oleh perawat,
dan merencanakan strategi pelaksanaan keperawatan.
2. Pengorganisasian, merumuskan metode penugasan yang digunakan,
merumuskan tujuan metode penugasan, membuat rincian tugas perawat secara
jelas, mengatur dan mengendalikan tenaga keperawatan, membuat proses dinas,
membuat rencana kendali, membawahi perawat dan mengatur tenaga yang ada
setiap hari.
3. Membimbing dan Mengarahkan, memberi pengarahan tentang penugasan
kepada perawat, memberikan pujian kepada perawat yang mengerjakan tugas
dengan baik dan memberi motivasi dalam peningkatan pengetahuan,
ketrampilan dan sikap perawat, membimbing bawahan yang mengalami
kesulitan dalam melaksanakan tugasnya, dan meningkatkan kolaborasi sesama
tim kerja.
4. Pengawasan dan Evaluasi, mengevaluasi upaya pelaksanaan dan
membandingkan dengan rencana keperawatan yang telah disusun bersama
melalui komunikasi, mengawasi dan berkomunikasi langsung dengan perawat
mengenai asuhan keperawatan yang diberikan kepada klien, melakukan audit
keperawatan, melalui supervisi pengawasan langsung melalui inspeksi,
mengamati sendiri atau melalui laporan langsung secara lisan dan
memperbaiki/mengawasi, pengawasan tidak langsung yaitu mengecek daftar
hadir, membaca dan memeriksa rencana keperawatan serta catatan yang dibuat
selama dan sesudah proses keperawatan dilakukan (didokumentasikan), dan
mendengar laporan dari perawat.
19
Universitas Sumatera Utara
5. Pencatatan dan Pelaporan, mencatat evaluasi tindakan keperawatan sesuai
batas kemampuan perawat, mengobservasi kondisi pasien, selanjutnya
melakukan tindakan yang tepat berdasarkan hasil observasi tersebut sesuai batas
kemampuannya dan melaporkannya pada pimpinan di atasnya, berperan serta
dengan anggota tim kesehatan dalam membahas kasus dan upaya meningkatkan
mutu asuhan keperawatan di rumah sakit dan mencatatnya untuk sebagai bahan
pembelajaran bersama, mengikuti pertemuan berkala yang diadakan oleh
pimpinan di rumah sakit dan pelaporan dari ruangan yang di bawah
kepemimpinan kepala ruangan melaksanakan sistem pencatatan dan pelaporan
asuhan keperawatan yang tepat dan benar sesuai standar asuhan keperawatan
(Sitorus & Panjaitan ,2011).
2.1.8 Supervisi
Kron (1987), menyatakan bahwa supervisi adalah merencanakan,
mengarahkan, membimbing, mengajar, mengobservasi, memotivasi,
memperbaiki, mempercayai, mengevaluasi secara terus menerus pada
setiapperawat dengan sabar, adil serta bijaksana. Hasil dari pelaksanaan supervisi
diharapkan setiap perawat dapat memberikan asuhan keperawatan dengan baik,
terampil, aman, cepat dan tepat secara menyeluruh sesuai dengan kemampuan
dan keterbatasan dari perawat yang bersangkutan. Supervisor adalah tingkah laku
seorang supervisor yang diharapkan oleh perawat pelaksana dalam melaksanakan
supervisi.
20
Universitas Sumatera Utara
Menurut Kron (1987) peran supervisor adalah sebagai perencana,
pengarah, pelatih, dan penilai.
1) Peran sebagai perencana. Seorang supervisor dituntut mampu membuat
perencanaan sebelum melaksanakan supervisi. Dalam perencanaan
seorang supervisor banyak membuat keputusan mendahulukan tugas dan
pemberian arahan, untuk memperjelas tugasnya untuk siapa, kapan
waktunya, bagaimana, mengapa, termasuk memberikan instruksi.
2) Peran sebagai pengarah. Seorang supervisor harus mampu memberikan
arahan yang baik saat supervisi. Semua pengarahan harus konsisten
dibagiannya dan membantu perawat pelaksana dalam menampilkan tugas
dengan aman dan efisien meliputi: pengarahan harus lengkap sesuai
kebutuhannya, dapat dimengerti, pengarahan menunjukkan indikasi yang
penting, bicara pelan dan jelas, pesannya masuk akal, hindari pengarahan
dalam satu waktu, pastikan arahan dapat dimengerti, dan dapat
ditindaklanjuti. Pengarahan diberikan untuk menjamin agar mutu asuhan
keperawatan pasien berkualitas tinggi, maka supervisor harus
mengarahkan staf pelaksana untuk melaksanakan tugasnya sesuai standar
yang ditentukan rumah sakit. Pengarahan sangat penting karena secara
langsung berhubungan dengan manusia, segala jenis kepentingan, dan
kebutuhannya. Tanpa adanya pengarahan, karyawan cenderung
melakukan pekerjaan menurut cara pandang mereka pribadi tentang tugas-
21
Universitas Sumatera Utara
tugas apa yang seharusnya dilakukan, bagaimana melakukan dan apa
manfaatnya.
3) Peran sebagai pelatih. Seorang supervisor dalam memberikan supervisi
harus dapat berperan sebagai pelatih dalam pemberian asuhan
keperawatan pasien. Dalam melakukan supervisi banyak menggunakan
keterampilan pengajaran atau pelatihan untuk membantu pelaksana dalam
menerima informasi. Prinsip dari pengajaran dan pelatihan harus
menghasilkan perubahan perilaku, yang meliputi mental, emosional,
aktivitas fisik, atau mengubah perilaku, gagasan, sikap dan cara
mengerjakan sesuatu.
4) Peran sebagai penilai. Seorang supervisor dalam melakukan supervisi
dapat memberikan penilaian yang baik. Penilaian akan berarti dan dapat
dikerjakan apabila tujuannya spesifik dan jelas, terdapat standar
penampilan kerja dan observasinya akurat. Dalam melaksanakan supervisi
penilaian hasil kerja perawat pelaksana saat melaksanakan asuhan
keperawatan selama periode tertentu seperti selama masa pengkajian. Hal
ini dilaksanakan secara terus menerus selama supervisi berlangsung dan
tidak memerlukan tempat khusus.
22
Universitas Sumatera Utara
2.1.9 Alat Ukur Supervisi kepala ruangan
Instrumen yang digunakan untuk mengukur supervisi kepala ruangan
dengan menggunakan kuesioner yang terdiri dari 32 pernyataan dari supervisi
klinik model yang sering digunakan pada profesi keperawatan. Instrumen ini
menggunakan Skala Likert yaitu : Tidak pernah = 1, Kadang-kadang = 2 dan
Selalu = 3. Instrumen ini diberikan kepada perawat pelaksana saat peneliti telah
mendapat izin enelitian dari tempat penelitian.
2.1.10 Hasil Ukur
Hasil ukur yang dilakukan terhadap supervisi kepala ruangan dikatakan
supervisi Baik jika > 50% dengan skor = (49-96) dan supervisi Kurang jika <50%
dengan skor = (1-48) yang mana supervisi sangat berpengaruh terhadap kinerja
perawat pelaksana dalam memberikan asuhan keperawatan.
2.2 Kinerja
2.2.1 Pengertian kinerja
Defenisi kinerja yang dikemukakan para ahli terdapat beberapa definisi,
yaitu mengemukakan bahwa kinerja adalah fungsi dari motivasi, kecakapan, dan
presepsi peranan. Secara umum, pengertian kinerja adalah hasil kerja secara
kualitas dan kuantitas yang dicapai oleh seseorang karyawan dalam kemampuan
melaksanakan tugas-tugas sesuai dengan tanggung jawab yang diberikan oleh
atasan kepadanya. Selain itu, kinerja juga dapat diartikan sebagai suatu hasil dan
usaha seseorang yang dicapai dengan adanya kemampuan dan perbuatan dalam
situasi tertentu.
23
Universitas Sumatera Utara
Tenaga keperawatan Rumah Sakit merupakan sumber daya manusia
berjumlah terbesar dan paling banyak berinteraksi dengan klien untuk
memberikan asuhan keperawatan yang komprehensif dan professional, sehingga
kinerja perawat terus menjadi perhatian berbagai pihak (Depkes R.I, 2004).
Kinerja adalah suatu proses dan hasil yang dicapai oleh seseorang menurut
ukuran yang berlaku untuk pekerjaan yang bersangkutan.
Kinerja perawat adalah tindakan yang dilakukan oleh seorang perawat
dalam suatu organisasi sesuai dengan wewenang dan tanggung jawabnya masing-
masing, tidak melanggar hukum, aturan serta sesuai dengan moral dan etika,
dimana kinerja yang baik dapat memberikan kepuasan pada pengguna jasa (Potter
& Perry,2005).
Penilaian kinerja merupakan alat yang paling dapat dipercaya oleh
manajer perawat dalam mengontrol sumber daya manusia dan produktivitas.
Proses penilaian kinerja dapat digunakan secara efektif dalam mengarahkan
pegawai dalam rangka menghasilkan jasa keperawatan dalam kualitas dan
volume yang tinggi. Perawat manajer dapat menggunakan proses aprassial kinerja
untuk mengatur arah kerja dalam memilih, melatih, bimbingan, perencanaan karir,
serta pemberian penghargaan kepada perawat yang berkompeten (Potter &
Perry,2005).
Pengertian kinerja karyawan menunjuk pada kemampuan karyawan dalam
melaksanakan tugas-tugas yang menjadi tanggung jawabnya. Tugas-tugas
tersebut biasanya berdasarkan indikator-indikator keberhasilan yang sudah
ditetapkan sebagai hasilnya akan diketahui bahwa seseorang karyawan masuk
24
Universitas Sumatera Utara
dalam tingkatan kinerja tertentu. Tenaga keperawatan Rumah Sakit merupakan
sumber daya manusia berjumlah terbesar dan paling banyak berinteraksi dengan
klien untuk memberikan asuhan ke perawatan yang komprehensif dan
professional, sehingga kinerja perawat terus menjadi perhatian berbagai pihak
(Depkes, 2004).
Prilaku individu dilihat dari respon terhadap stimulus dibagi menjadi dua
bagian yaitu prilaku tertutup dan perilaku terbuka dalam bentuk praktek atau
tindakan yang diamati. Jadi kinerja dalam keperawatan merupakan hasil karya
dari perawat dalam bentuk tindakan atau praktek yang diamati atau dinilai,
Kinerja perawat mencerminkan kemampuan perawat mengimplementasikan
proses asuhan keperawatan. Praktek keperawatan merupakan tindakan mandiri
atau kolaborasi dalam melaksanakan asuhan keperawatan yang terdiri dari
pengkajian, diagnosa keperawatan, perencanaan, implementasi dan evaluasi
(Gillies, 1999).
2.2.2 Standar Instrumen Penilaian Kinerja Perawat Dalam Melakasanakan
Asuhan Keperawatan Kepada Klien
Standar I : Pengkajian Keperawatan
Perawat mengumpulkan data tentang status kesehatan klien secara
sistematis, menyeluruh, akurat, singkat dan berkesinambungan. Rasional
pengkajian keperawatan merupakan aspek penting dalam proses keperawatan
yang menetapkan data dasar tentang tingkat kesehatan klien yang digunakan
dalam merumuskan masalah klien dan rencana tindakan.
25
Universitas Sumatera Utara
Kriteria struktur pengkajian keperawatan yaitu 1) Metode pengumpulan
data yang digunakan dapat menjamin, 2) Pengumpulan data yang sistematis dan
lengkap, 3) Diperbaharui data dalam pencatatan yang ada, 4) Kemudahan
memperolah data, 5) Terjaganya kerahasiaan, 6) Tatanan praktek mempunyai
sistem pengumpulan data keperawatan yang merupakan bagian integral dari suatu
sistem pencatatan pengumpulan data klien, 7) Sistem pencatatan berdasarkan
proses keperawatan, singkat, menyeluruh, akurat dan berkesinambungan, 8)
Praktek mempunyai sistem pengumpulan data keperawatan yang menjadi bagian
dari sistem pencatatan kesehatan klien, 9) Ditatanan praktek tersedia sistem
pengumpulan data yang dapat memungkinkan diperoleh kembali bila diperlukan
dan 10) Tersedianya sarana dan lingkungan yang mendukung.
Kriteria proses yaitu 1) Pengumpulan data dilakukan dengan cara
wawancara, observasi, dan mempelajari data penunjang, serta mempelajari data
lain, 2) Sumber data adalah klien, keluarga, atau orang terkait, tim kesehatan,
rekam medis, serta catatan lain, 3) Klien berpartisipasi dalam proses
pengumpulan data, dan 4) Data yang dikumpulkan difokuskan untuk
mengidentifikasi status kesehatan klien saat ini, status kesehatan klien masa lalu,
status biologis (fisiologis), status psikologis (pola koping), status spiritual, status
sosial kultural, respon terhadap terapi, harapan tentang tingkat kesehatan optimal,
resiko masalah potensial. Kriteria hasil adalah data dicatat dan dianalisis sesuai
standar dan format yang ada, data yang dihasilkan akurat, terkini dan relevan
sesuai kebutuhan klien.
26
Universitas Sumatera Utara
Standar II : Diagnosa Keperawatan
Perawat menganalisis data pengkajian untuk merumuskan diagnosa
keperawatan. Rasional diagnosa keperawatan sebagai dasar pengembangan
rencana intervensi keperawatan dalam rangka mencapai peningkatan, pencegahan,
dan penyembuhan penyakit serta pemulihan kesehatan klien. Kriteria struktur
yaitu 1) Tatanan praktek memberi kesempatan kepada teman sejawat, klien untuk
melakukan validasi diagnosa keperawatan, 2) Adanya mekanisme pertukaran
informasi tentang hasil penelitian dalam menetapkan diagnosa keperawatan yang
tepat dan 3) Untuk mengakses sumber-sumber dan program pengembangan
prfesional yang terkait.
Kriteria proses meliputi 1) Proses diagnosis terdiri dari analisis,
interpretasi data, identifikasi masalah klien dan perumusan diagnosa keperawatan,
2) Komponen diagnosa keperawatan terdiri dari masalah (P) penyebab, Etiologi
(E), gejala/ tanda (S) atau terdiri dari masalah dari penyebab (PE), 3) Bekerja
sama dengan klien, dekat dengan klien petugas kesehatan lain untuk menvalidasi
diagnosa keperawatan, dan 4) Melakukan kaji ulang dan revisi diagnosa
berdasarkan data terbaru. Kriteria hasil meliputi 1) Diagnosa keperawatan
divalidasi oleh klien bila memungkinkan, 2) Diagnosis keperawatan yang dibuat
diterima oleh teman sejawat sebagai diagnosis yang relevan dan signifikan dan 3)
Diagnosis didokumentasikan untuk mempermudah perencanaan, implementasi,
evaluasi dan penelitian.
27
Universitas Sumatera Utara
Standar III : Perencanaan Keperawatan
Perawat membuat rencana tindakan keperawatan untuk mengatasi
masalah kesehatan dan meningkatkan kesehatan klien. Rasionalnya perencanaan
dikembangkan berdasarkan diagnosis keperawatan. Kriteria stuktur yaitu 1)
Tatanan praktek menyediakan sarana yang dibutuhkan untuk mengembangkan
perencanaan, dan 2) Adanya mekanisme pencatatan, sehingga dapat
dikomunikasikan.
Kriteria proses yaitu 1) Perencanaan terdiri dari penetapan prioritas
masalah, tujuan dan rencana tindakan keperawatan, 2) Bekerja sama dengan klien
dalam menyusun rencana tindakan keperawatan, 3) Perencanaan bersifat
individual sesuai kondisi dan kebutuhan klien, 4) mendokumentasikan rencana
keperawatan. Kriteria hasil meliputi 1) Tersusun suatu rencana asuhan
keperawatan klien, 2) Perencanaan mencerminkan penyelesaian terhadap
diagnosis keperawatan, 3) Perencanaan tertulis dengan format yang singkat dan
mudah didapat, 4) Perencanaan menunjukkan bukti adanya revisi pencapaian
tujuan.
Standar IV : Pelaksanaan Tindakan (Implementasi)
Perawat mengimplementasikan tindakan yang telah diidentifikasi dalam
rencana asuhan keperawatan. Rasional perawat mengimplementasikan rencana
asuhan keperawatan untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan dan partisipasi
klien dalam tindakan keperawatan berpengaruh pada hasil yang diharapkan.
Kriteria struktur meliputi tatanan praktek menyediakan 1) Sumber daya untuk
pelaksanaan kegiatan, 2) Pola ketenagaan yang sesuai dengan kebutuhan, 3) Ada
28
Universitas Sumatera Utara
mekanisme untuk mengkaji dan merevisi pola ketenagaan secara periodik, 4)
Pembinaan dan peningkatan keterampilan klinis keperawatan dan 5) Sistem
konsultasi keperawatan. Kriteria proses meliputi 1) Bekerja sama dengan klien
dalam pelaksanaan tindakan keperawatan, 2) Kolaborasi dengan profesi lain
untuk meningkatkan status kesehatan klien, 3) Melakukan tindakan keperawatan
untuk mengatasi masalah kesehatan klien, 4) Melakukan supervisi terhadap
tenaga pelaksana keperawatan di bawah tanggung jawabnya, 5) Menjadi
koordinator pelayanan dan advokasi terhadap klien untuk mencapai tujuan
kesehatan, dan 6) Menginformasikan kepada klien tentang status kesehatan dan
fasilitas-fasilitas kesehatan yang ada, memberikan pendidikan kepada klien dan
keluarga mengenai konsep dan keterampilan asuhan diri serta membantu klien
memodifikasi lingkungan yang digunakannya, mengkaji ulang dan merevisi
pelaksanaan tindakan keperawatan berdasarkan respon klien.
Kriteria hasil meliputi 1) Terdokumentasi tindakan keperawatan dan
respon klien secara sistematik dan dengan mudah diperoleh kembali, 2) Tindakan
keperawatan dapat diterima klien, dan 3) Ada bukti-bukti terukur tentang
pencapaian tujuan.
Standar V: Evaluasi keperawatan
Perawat mengevaluasi perkembangan kesehatan klien terhadap tindakan
dalam pencapaian tujuan, sesuai rencana yang telah ditetapkan dan merevisi data
dasar dan perencanaan. Rasional : praktek keperawatan merupakan suatu proses
dinamis yang mencakup berbagai perubahan data diagnosa atau perencanaan
yang telah dibuat sebelumnya. Efektifitas asuhan keperawatan tergantung pada
29
Universitas Sumatera Utara
pengkajian yang berulang-ulang. Kriteria struktur meliputi 1) Tatanan praktek
menyediakan sarana dan lingkungan yang mendukung terlaksananya proses
evaluasi, 2) Adanya akses informasi yang dapat digunakan perawat dalam
penyempurnaan perencanaan dan 3) Adanya supervisi dan konsultasi untuk
membantu perawat dalam evaluasi secara efektif dan mengembangkan alternatif
perencanaan yang tepat.
Kriteria proses yaitu 1) Menyusun rencana evaluasi hasil tindakan secara
komprehensif, tepat waktu dan terus-menerus, 2) Menggunakan data dasar dan
respon klien dalam mengukur perkembangan ke arah pencapaian tujuan, 3)
Memvalidasi dan menganalisis data baru dengan sejawat dan klien, 4) Bekerja
sama dengan klien, keluarga untuk memodifikasi rencana asuhan keperawatan, 5)
Mendokumentasikan hasil evaluasi dan memodifikasi perencanaan, dan 6)
Melakukan supervisi dan konsultasi.
Kriteria hasil dinilai dengan 1) Adanya hasil revisi data, diagnosis,
rencana tindakan berdasarkan evaluasi, 2) Klien berpartisipasi dalam proses
evaluasi dan revisi rencana tindakan, 3) Hasil evaluasi digunakan untuk
mengambil keputusan, dan 4) Evaluasi tindakan terdokumentasi sedemikian rupa
yang menunjukkan kontribusi terhadap efektifitas tindakan keperawatan dan
penelitian.
30
Universitas Sumatera Utara
2.2.3 Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi kinerja perawat
Nursalam 2002, faktor yang mempengaruhi perkembangan perawat secara
profesional adalah sebagai berikut :
1. Antheical terhadap pekerjaan keperawatan.
Karena rendahnya dasar pendidikan profesi dan belum dilaksanakanya
pendidikan keperawatan secara profesional, perawat lebih cenderung untuk
melaksanakan perannya secara rutinitas dan menunggu perintah dari dokter.
2. Rendahnya rasa percaya diri
Perawat belum mampu menyediakan dirinya sebagai sumber informasi bagi
klien, rendahnya rasa percaya diri disebabkan oleh karena rendahnya
pendidikan, rendahnya pengetahuan dan teknologi-teknologi yang memadai.
3. Kurangnya pemahaman dan sikap untuk melaksanakan riset keperawatan.
Pengetahuan dan keterampilan perawat terhadap riset masih sangat rendah hal
ini ditunjukan dengan rendahnya hasil riset di bandingkan dengan profesi yang
lain.
4. Rendahnya standar Gaji
Bagi perawat yang bekerja pada institusi pemerintah di dalam negeri dirasakan
masih rendahnya bila dibandingkan dengan negeri lain. Rendahnya gaji
perawat berdampak pada asuhan keperawatan yang profesional.
5. Sangat minimnya perawat yang menduduki jabatan struktural di Institusi
kesehatan. Masalah ini sangat mempengaruhi dalam perkembangan profesi
keperawatan, karena sistim sangat berpengaruh terhadap terselenggaranya
pelayanan yang baik.
31
Universitas Sumatera Utara
2.2.4 Penelitian Terdahulu
Berdasarkan hasil penelitian Agung (2004) pelaksanaan supervisi yang
dilakukan kepala ruangan kepada perawat pelaksana di salah satu ruang rawat
inap RSUP dr. Wahidin Sudirohusodo bahwa terdapat pengaruh supervisi
terhadap kinerja perawat. Penelitian Siswana (2009) di Pekan Baru Riau tentang
hubungan peran supervisi kepala ruangan dengan kinerja perawat pelaksana di
Rumah Sakit Umum Daerah Petala Bumi, bahwa ada hubungan yang signifikan
antara peran kinerja kepala ruangan dalam melakukan supervisi dengan perawat
di ruangan yang mana hasil penelitian ini merekomendasikan untuk menetapkan
kebijakan tentang pelaksanaan supervisi klinis sebagai bentuk model akademik
supervisi klinis yang diterapkan di ruang rawat inap.
Penelitian yang dilakukan oleh Samad (2005) di salah satu perusahaan di
Malaysia tentang hubungan motivasi dan supervisi dengan kinerja. Hasil
penelitian menunjukkan bahwa motivasi kerja berperan dalam memoderasi
hubungan supervisi dan kinerja karyawan.
Penelitian Luthan (2007) menjelaskan bahwa kepuasan kerja mempunyai
pengaruh yang signifikan terhadap kinerja perawat pelaksana. Demikian juga
sama dengan hasil penelitian Suryanto (2011) dimana ada hubungan positif yang
sangat signifikan antara kepuasan kerja dan persepsi perawat tentang
kepemimpinan dengan kinerja. Kemudian penelitian Yustina (2011) menyatakan
motivasi dan kepuasan kerja berpengaruh terhadap kinerja. Gybson dalam
Wibowo (2011) menggambar secara jelas bahwa antara kepuasan kerja dengan
kinerja terdapat hubungan timbal balik dan dikatakan kepuasan kerja
32
Universitas Sumatera Utara
menyebabkan peningkatan kinerja, sehingga pekerja yang puas akan lebih
produktif. Penelitian Basri (2015) menjelaskan bahwa kepuasan kerja perawat
pelaksana dapat dipengaruhi oleh supervisi yang diberikan oleh kepala ruangan,
terdapat banyak faktor terkait dengan fungsi supervisi kepala ruangan yang dapat
menyebabkan kepuasan atau ketidakpuasan perawat dalam bekerja, dalam
penelitian ini menunjukkan bahwa ada hubungan antara supervisi dengan
kepuasan kerja perawat pelaksana dirumah sakit Imelda Medan.
Penelitian Anggeria (2015) penelitian yang dilakukan di Rumah sakit
Imelda Pekerja Indonesia (IPI) Medan, seorang supervisor memerlukan
pendidikan dan pelatihan managemen yang membantu mengembangkan iklim
organisasi yang tenang, bersahabat, solidaritas dan baik, pelaksanaan supervisi
yang bertanggung jawab di ruang perawatan adalah kepala ruangan. Hal ini
dikuatkan oleh penelitian Mayasari (2009) dimana kepemimpinan, insentif,
kesempatan promosi dan supervisi berpengaruh terhadap kinerja perawat.
Penelitian yang dilakukan oleh Mitchell (2009) di salah satu rumah sakit
di Arab Saudi, menyatakan bahwa ada hubungan antara motivasi dan kinerja
perawat yang bekerja yang ditambah dengan fasilitas-fasilitas yang
mempengaruhi motivasi perawat dalam melaksanakan asuhan keperawatan
terhadap pasien.
Penelitian yang dilakukan oleh Russell (2008) di salah satu rumah sakit di
Amerika Utara, bahwa ada hubungan teori motivasi menurut Hezberg terhadap
kinerja perawat transplantasi di rumah sakit di Amerika Utara dibuktikan dengan
kenyamanan dan kepuasan kerja perawat dengan baik. Penelitian Basri (2015)
33
Universitas Sumatera Utara
menjelaskan bahwa kepuasan kerja perawat pelaksana dapat dipengaruhi oleh
supervisi yang diberikan oleh kepala ruangan, terdapat banyak faktor terkait
dengan fungsi supervisi kepala ruangan yang dapat menyebabkan kepuasan,
ketidakpuasan perawat dalam bekerja, dalam penelitian ini menunjukkan bahwa
ada hubungan antara supervisi dengan kepuasan kerja perawat pelaksana di
rumah sakit Imelda Medan.
Hasil yang sama juga ditemukan oleh Ba’diah (2008) penelitian yang
dilakukan di salah satu rumah sakit di Cirebon yang menyatakan bahwa supervisi
berhubungan dengan kinerja perawat. Hal ini menggambarkan bahwa, apabila
kepala ruangan melakukan supervisi dengan baik maka perawat pelaksana juga
akan menghasilkan kinerja yang baik, begitu pula sebaliknya dengan pengawasan
yang terstandar.
2.2.5 Masalah Dalam Penilaian Kinerja Perawat
Dalam penilaian pelaksanaan kerja perawat sering ditemukan berbagai
permasalahan antara lain (Gillies, 1999) :
1. Pengaruh haloeffect
Pengaruh haloeffect adalah tendensi untuk menilai pelaksanaan kinerja
bawahannya terlalu tinggi karena salah satu alasan. Misalnya pegawai yang
dekat dengan penilai keluarga dekat akan mendapat nilai tinggi dan sebaliknya
pegawai yang sering menyatakan pendapat yang tidak sesuai dengan pendapat
penilai akan mendapat nilai yang rendah.
34
Universitas Sumatera Utara
2. Pengaruh horn
Pengaruh horn adalah kecenderungan untuk menilai pegawai lebih rendah dari
pelaksanaan kinerja yang sebenarnya karena alasan-alasan tertentu. Seorang
pegawai yang pelaksanaan kinerja diatas tingkat rata-rata sepanjang tahun
sebelumnya namun dalam beberapa hari penilaian pelaksanaan kinerja
tahunannya telah melakukan kesalahan terhadap perawatan pasien atau
supervisi pegawai, cenderung menerima penilaian lebih rendah daripada
sebelumnya.
2.2.6 Kinerja Perawat Pelaksana Rawat Inap
Praktik keperawatan adalah tindakan mandiri perawat profesional melalui
kerjasama berbentuk kolaborasi dengan klien dan tenaga kesehatan lain dalam
memberikan asuhan keperawatan atau sesuai dengan lingkungan wewenang dan
tanggung jawabnya (Depkes RI, 2004).
Praktik keperawatan profesional menurut Depkes RI, 2004 mempunyai
ciri-ciri sebagai berikut : Otonomi dalam pekerjaan, bertanggung jawab dan
bertanggung gugat, pengambilan keputusan yang mandiri, kolaborasi dengan
disiplin ilmu lain, pemberian pembelaan (advocacy) dan memfasilitasi
kepentingan pasien
Terbentuknya keperawatan sebagai suatu bidang profesi dapat terus
dikembangkan dan terintegrasi sepenuhnya dalam pelaksanaan pelayanan
kesehatan. Pelayanan keperawatan rawat inap merupakan kegiatan dilakukan
diruang rawat inap dalam upaya peningkatan kesehatan, pencegahan penyakit,
penyembuhan pemulihan serta pemeliharaan kesehatan penekanan pada upaya
35
Universitas Sumatera Utara
pelayanan kesehatan utama sesuai dengan wewenang, tanggung jawab dan kode
etik profesi keperawatan (Depkes RI, 2004). Sistem pelayanan perawatan rawat
inap terdiri dari :
a. Masukan, yaitu: perawat, pasien dan fasilitas perawatan
b. Proses, yaitu: intervensi keperawatan, interaksi tenaga perawat-pasien meliputi
keramahan, sopan santun, kepedulian, penampilan dan sebagainya. Kemudian
fasilitas keperawatan meliputi efisiensi, kenyamanan dan keamanan
c. Keluaran, yaitu: berupa kualitas pelayanan keperawatan meliputi kebutuhan
yang terpenuhi, aman nyaman, pasien puas, sesuai kaidah bio-psiko-sosio-
spiritual dan sistem informasi manajemen dan pengendalian.
2.2.7 Alat Ukur Kinerja Perawat
Penilaian sendiri (Self Assesment) Penilaian diri sendiri adalah pendekatan
yang paling umum digunakan untuk mengukur dan memahami perbedaaan
individu terdiri dari 25 item pernyataan. Ada dua teori yang menyarankan peran
sentral dari penilaian sendiri dalam memahami perilaku individu. Teori tersebut
adalah teori kontrol dan interaksi simbolik Menurut teori kontrol yang dijelaskan
oleh Carver dan Scheier (1981, dalam Ilyas, 2002).
Individu harus menyelesaikan tiga tugas untuk mencapai tujuan mereka
harus (1) menetapkan standar untuk perilaku mereka, (2) mendeteksi perbedaan
antara perilaku mereka dan standarnya (umpan balik) dan (3) berperilaku yang
sesuai dan layak untuk mengurangi perbedaan ini. Selanjutnya, disarankan agar
individu perlu melihat dimana dan bagaimana mereka mencapai tujuan mereka.
Dengan pengenalan terhadap kesalahan yang dilakukan, mereka mempunyai
36
Universitas Sumatera Utara
kesempatan melakukan perbaikan dalam melaksanakan tugas untuk mencapai
tujuan mereka. Inti dari teori interaksi simbolik adalah preposisi yaitu kita
mengembangkan konsep sendiri dan membuat penilaian sendiri berdasarkan pada
kepercayaan kita tentang bagaimana orang memahami dan mengevaluasi.
Instrumen ini menggunakan Skala Likert yaitu : Tidak pernah = 1, Kadang-
kadang = 2, dan Selalu = 3. Instrumen ini diberikan kepada perawat kepala
ruangan saat peneliti telah mendapat izin penelitian dari tempat penelitian.
Teori ini menegaskan pentingnya memahami pendapat orang lain
disekitar mereka terhadap perilaku mereka. Interaksi simbolik juga memberikan
peran sentral bagi interpretasi individu tentang dunia sekitarnya. Jadi individu
tidak memberikan respon secara langsung dan naluriah terhadap kejadian, tetapi
memberikan interpretasi terhadap kejadian tersebut Preposisi ini penting sebagai
pedoman interpretasi tentang penilaian sendiri.
Dapat digunakan dalam mengukur atau menilai kinerja personel dalam
organisasi. Penilaian sendiri dilakukan bila personel mampu melakukan penilaian
terhadap proses dari hasil karya yang mereka laksanakan sebagai bagian dari
tugas organisasi. Penilaian sendiri ditentukan oleh sejumlah faktor kepribadian,
pengalaman, dan pengetahuan, serta sosio-demografis seperti suku dan
pendidikan. Dengan demikian, tingkat kematangan personel dalam menilai hasil
karya sendiri menjadi hal yang patut dipertimbangkan (Ilyas, 2002).
37
Universitas Sumatera Utara
2.2.8 Hasil Ukur
Hasil ukur yang dilakukan dengan menggunakan Penilaian sendiri (Self
Assesment) bahwa ditemukan hasil Kinerja perawat Baik > 80% jika skor (34-50),
Kinerja perawat Cukup 60-80% jika skor (17-33) dan Kinerja perawat kurang
< 60% jika skor (1-16).
2.2.9 Pengukuran Kinerja perawat
Terdapat tiga cara untuk melakukan pengukuran kinerja perawat
(Greenberg dan Baron,2003 dalam Wibowo,2008),yaitu : 1) Rating scale dan
kuesioner merupakan pengukuran kinerja perawat yang paling umum dipakai
dengan menggunakan kuesioner di mana rating scale secara khusus disiapkan
dengan menggunakan metode ini responden menjawab pertanyaan yang
memungkinkan mereka melaporkan reaksi mereka pada pekerjaan, 2) Critical
incidents individu menjelaskan kejadian yang menghubungkan pekerjaan yang
mereka rasakan terutama memuaskan atau tidak memuaskan jawaban responden
dipelajari untuk mengungkapkan tema yang mendasari, 3) Observation
merupakan prosedur untuk melihat hasil dokumentasi dari responden pertanyaan
kuesioner yang telah dibagikan.
2.3. Landasan Teori
Sumber daya manusia terbesar pada rumah sakit adalah para perawat yang
dalam bekerja harus memiliki motivasi yang tinggi. Perawat dapat
mengaktulisasikan diri sesuai dengan kemampuan yang dimilikinya untuk lebih
berperan dalam pelayanan keperawatan memerlukan kondisi yang mendukung
baik dari dalam diri maupun dari luar perawat, berupa motivasi agar dapat
38
Universitas Sumatera Utara
bekerja dengan baik. Faktor lain yang juga turut mempengaruhi terhadap kinerja
perawat adalah supervisi kepala ruangan ruang rawat inap membuat peraturan
yang intinya untuk dipatuhi dan dilaksanakan oleh seluruh perawat dengan tujuan
agar para perawat melakukan pekerjaan dengan baik sesuai dengan pembagian
tugas masing-masing (Gibson, 2000).
Supervisi dapat menumbuhkan kemampuan kerja dan bekerja sama, maka
secara tidak langsung akan meningkatkan kinerja. Jadi apabila suatu ruangan
mampu meningkatkan supervisi, maka mereka akan memperoleh banyak
keuntungan, karena pekerjaan akan terselesaikan dengan cepat, kerusakan akan
dapat dikurangi dan absensi akan dapat diperkecil (Gillies, 1999).
Teori tentang kinerja perawat pelaksana Potter dan Perry (2005) terhadap
asuhan keperawatan yang dilakukan perawat diruangan yang terdiri dari 5 asuhan
keperawatan yaitu standar I pengkajian keperawatan, standar II diagnosa
keperawatan, standar III perencanaan keperawatan, standar IV
pelaksanaan/tindakan (Implementasi) keperawatan dan standar V evaluasi
keperawatan. Supervisi mendorong kinerja atau merupakan sarana penting untuk
mencapai kinerja dalam kondisi ini maka tindakan yang seharusnya dilakukan
meningkatkan kualitas pelayanan adalah dengan peningkatan kinerja karyawan
yaitu supervisi maka akan dapat merasakan hasil kerja yang selama ini ditekuni
dan akan mampu mencapai kinerja yang diharapkan bersama (Gibson, 2000).
39
Universitas Sumatera Utara
Fungsi pengarahan
dalam managemen
keperawatan :
- Motivasi Asuhan Keperawatan :
- Supervisi
- Delegasi - Standar I : Pengkajian
- Manajemen Keperawatan
- Konfilk - Standar II : Diagnosa
- Komunikasi Keperawatan
(Swansburg,2000; - Standar III :
Marquis & Perencanaan
Huston,2000) Keperawatan
- Standar IV :
Pelaksanaan/Tindakan
(Implementasi)
Supervisi kepala Keperawatan
ruangan : -Standar V : Evaluasi
- Merencanakan Keperawatan.
- Mengarahkan Kinerja (Potter & Perry, 2005)
- Membimbing
- Mengobservasi Perawat
- Mengevaluasi
(Thora Kron, 1987)
Faktor-faktor yang
mempengaruhi kinerja :
Pelaksanaan - Antheical terhadap pakerjaan
supervisi : Keperawatan
- Rendahnya rasa percaya diri.
- Kepala ruangan - Kurangnya pemahaman dan
-Pengawas sikap untuk melaksanakan riset
Perawatan keperawatan Inisiatif.
- Kepala Bidang - Rendahnya standar Gaji
Keperawatan -Sangat minimnya perawat
yang menduduki jabatan
(Suyanto,
struktural di Institusi
2008) kesehatan.
(Nursalam,2009)
Gambar 2.3 Kerangka Teori
40
Universitas Sumatera Utara
2.4 Kerangka Konsep
Penelitian ini menggunakan model supervisi dari Sitorus & Panjaitan yang
menyebutkan bahwa supervisor adalah tingkah laku seorang supervisor yang
diharapkan oleh perawat pelaksana dalam melaksanakan supervisi yaitu sebagai
sebagai perencanaan mengidentifikasi jumlah perawat yang dibutuhkan
berdasarkan aktifitas dan tingkat ketergantungan pasien, pengorganisasian
mengatur dan mengendalikan tenaga keperawatan, membuat proses dinas,
membimbing dan mengarahkan memberi pengarahan tentang penugasan kepada
perawat, pengawasan dan evaluasi mengevaluasi upaya pelaksanaan dan
membandingkan dengan rencana keperawatan yang telah disusun bersama,
pencatatan dan pelaporan mencatat evaluasi tindakan keperawatan sesuai batas
kemampuan perawat berperan serta dengan anggota tim kesehatan dalam
membahas kasus dan upaya meningkatkan mutu asuhan keperawatan di rumah
sakit (Sitorus & Panjaitan , 2011).
Teori Kinerja perawat yang digunakan yaitu menurut Teori tentang
kinerja perawat pelaksana Potter dan Perry (2005) terhadap asuhan keperawatan
yang dilakukan perawat diruangan yang terdiri dari 5 asuhan keperawatan yaitu
standar I pengkajian keperawatan,standar II diagnosa keperawatan,standar III
perencanaan keperawatan,standar IV pelaksanaan/tindakan (Implementasi)
keperawatan dan standar V evaluasi keperawatan.
41
Universitas Sumatera Utara
Asuhan Keperawatan :
- Standar I : Pengkajian
Supervisi kepala Keperawatan
ruangan : - Standar II : Diagnosa
Keperawatan
Supervisi kepala - Standar III : Perencanaan
ruangan : Keperawatan
- Merencanakan - Standar IV :
- Mengarahkan Pelaksanaan/Tindakan
- Membimbing (Implementasi)
- Mengobservasi Keperawatan
- Mengevaluasi -Standar V : Evaluasi
(Thora Kron, 1987) Keperawatan.
(Potter & Perry, 2005)
Gambar 2.4. Kerangka Konsep
42
Universitas Sumatera Utara
BAB 3
METODE PENELITIAN
3.1 Jenis Penelitian
Jenis Penelitian ini menggunakan penelitian kuantitatif dengan desain
penelitian deskriptif korelasi bertujuan untuk mengidentifikasi hubungan antara
dua variabel yaitu supervisi kepala ruangan dengan kinerja perawat pelaksana di
Rumah Sakit Grand Medistra Lubuk Pakam.
3.2 Lokasi dan Waktu Penelitian
Setting penelitian adalah tempat dan kondisi atau keadaan dimana studi
penelitian yang sebenarnya berlangsung (Polit & Beck, 2012). Penelitian ini
dilakukan di Rumah Sakit Grand Medistra. Waktu penelitian dimulai dari
penyusunan proposal penelitian sampai penyusunan hasil penelitian yaitu dari
bulan Januari s/d Oktober tahun 2016. Peneliti ingin mengetahui hubungan
supervisi kepala ruangan dengan kinerja perawat pelaksana dirumah sakit.
3.3 Populasi dan Sampel
3.3.1 Populasi
Populasi penelitian ini adalah seluruh kepala ruangan keperawatan dan
perawat pelaksana yang bekerja diruang rawat inap bangian keperawatan
sebanyak 115 orang perawat (Keperawatan Rumah Sakit Grand Medistra, 2015).
43
Universitas Sumatera Utara
3.3.2 Sampel
Sampel dalam penelitian ini adalah seluruh kepala ruangan keperawatan
sebanyak 15 orang dan perawat pelaksana yang bekerja diruang rawat inap
sebanyak 95 orang perawat, karena perawat pelaksana yang disupervisi oleh
kepala ruangan ketika bertugas dalam memberikan asuhan keperawatan kepada
pasien.
3.3.3 Pengambilan sampel
Pengambilan sampel menggunakan metode teknik total populasi yaitu
dengan mengambil semua anggota populasi menjadi sampel. Pada metode ini
jumlah unit sampel yang digunakan dipilih secara acak dengan elemen populasi
yang mempunyai peluang yang sama (Polit & Beck, 2012).
3.4 Metode Pengumpulan Data
3.4.1 Tahap Persiapan
Tahap pengumpulan data dilakukan setelah peneliti mendapat surat
ijin penelitian yang diperoleh dari Fakultas Keperawatan Universitas Sumatera
Utara dan selanjutnya menyampaikan surat ijin tersebut ke rumah sakit lokasi
penelitian. Selanjutnya peneliti akan memperkenalkan diri kepada responden
serta menjelaskan tujuan penelitian dan prosedur-prosedur intervensi dan
penandatangan informed consent peneliti meminta kesediaan responden untuk
berpartisipasi dalam penelitian dengan cara meminta responden menandatangani
lembar persetujuan menjadi responden yang telah disediakan.
44
Universitas Sumatera Utara
3.4.2 Tahap Pelaksanaan
Setelah mendapat persetujuan dari rumah sakit maka peneliti bertemu dan
melakukan kontrak dengan kepala ruangan dan perawat pelaksana yang berperan
menjadi responden kemudian peneliti menjelaskan tentang tujuan penelitian,
manfaat penelitian yang dilakukan serta cara-cara bagaimana mengisi kuesioner.
Peneliti menjelaskan bahwa jumlah kuesioner ada 57 item pernyataan dengan
rincian pernyataanan, untuk supervisi kepala ruangan ada 32 item pernyataan dan
untuk kinerja perawat ada 25 item pernyataan.
Setelah mendapat persetujuan responden, responden diharapkan dapat
mengisi kuesioner secara obyektif sesuai dengan kondisi yang sebenarnya.
Responden diberikan kesempatan untuk mengisinya selama satu minggu.
Kemudian seluruh instrumen penelitian dikumpulkan dan diperiksa jumlah,
kelengkapannya dan peneliti akan mengobservasi. Seluruh instrumen telah
kembali dan lengkap untuk supervisi 95 kuesioner dan kinerja perawat 15
kuesioner kemudian peneliti melanjutkan proses analisa data.
3.5 Variabel dan definisi operasional
Variable adalah perilaku atau karakteristik yang memberikan nilai beda
terhadap sesuatu yaitu benda dan manusia (Nursalam, 2009). Variable penelitian
terdiri dari dua yaitu :
45
Universitas Sumatera Utara
3.5.1 Variabel bebas (independent)
Variable bebas (independent) adalah variable yang mempengaruhi yaitu
supervisi agar perawat dapat melaksanakan tugasnya secara optimal di Rumah
Sakit Grand Medistra Lubuk Pakam dalam memberikan asuhan keperawatan
dengan baik demi mencapai tujuan yang diinginkan.
3.5.2 Variable terikat (dependent)
Variable terikat (dependent) adalah kinerja perawat. Kinerja perawat yang
dinilai adalah asuhan keperawatan yang dilakukan perawat pelaksana di Rumah
Sakit Grand Medistra Lubuk Pakam.
Table 3.1. Variabel dan Definisi Operasional
No Variable Definisi Cara ukur Alat ukur Hasil ukur Skala ukur
1. Supervisi Kegiatan inspeksi Dengan mengukur Kuesioner Skor 32 Skala
Kepala kepala ruangan variabel supervisi kepala
Ruangan terhadap hasil kerja ruangan sebanyak 32 (32 s/d 96 ) Interval
perawat, untuk pernyataan (no 1 s/d 32).
menilai kemampuan
kerja perawat dan
memperbaiki
npenampila kinerja
perawat dari
merencanakan
mengarahkan
membimbing
mengobservasi
mengevaluasi
46
Universitas Sumatera Utara
2. Kinerja Tindakan asuhan Dengan Self-Assessment Kuesioner Skor 25 (25 Skala
perawat keperawatan yang Questionnaire mengukur s/d 75) Interval
dilakukan perawat variabel kinerja perawat
Standar I :
sebanyak 25 pernyataan
Pengkajian
keperawatan (no 1 s/d 25).
Standar II :
Diagnosa
keperawatan
Standar III :
Perencanaan
keperawatan
Standar IV :
Pelaksanaa
(Implementasi)
Standar V :
Evaluasi
keperawatan.
3.6 Metode Pengukuran
3.6.1 Prosedur penggunaan Instrumen
Alat pengumpul data yang dipakai pada penelitian ini menggunakan
data demografi, kuesioner dan lembar observasi. Kuesioner merupakan
serangkaian atau daftar pernyataan yang disusun secara sistematis, kuesioner diisi
oleh responden, setelah diisi, kuesioner dikembalikan kepada peneliti (Bungin,
2006). Instrumen terdiri dari : karakteristik data demografi, pelaksanaan supervisi
kepala ruangan dan kinerja perawat pelaksana.
47
Universitas Sumatera Utara
Alasan peneliti memilih instrumen penelitian dengan menggunakan
kuesioner karena mendapat keuntungan, antara lain : 1) Dapat dibagikan secara
serentak kepada banyak responden, 2) Dapat dijawab oleh responden menurut
kecepatan masing-masing, dan menurut waktu senggang responden. Kemudian 3)
Dapat dibuat anonym sehingga responden bebas, jujur dan tidak malu-malu
menjawab dan 4) Dapat dibuat terstandar sehingga bagi semua responden dapat
diberi pertanyaan yang benar-benar sama.
3.6.2 Pengukuran variabel bebas dan variabel terikat
3.6.2.1 Supervisi kepala ruangan
Instrumen yang digunakan dalam pengumpulan data pada
penelitian ini adalah kuesioner dari supervisi terdiri dari 32 (tiga puluh dua) item
pernyataan dimana penelitian ini menggunakan instrumen berupa skala. Skala
yang dijadikan alat ukur dapat dengan mudah mengungkap indikator yang hendak
di ukur dengan stimulus berupa pernyataan tanpa disadari oleh subjek yang
bersangkutan karena jawaban yang diberikan subjek bersifat refleksi (Azwar,
2012).
Metode pengukuran menggunakan skala likert. Skala likert adalah skala
yang dapat dipergunakan untuk mengukur sikap, pendapat dan persepsi seseorang
atau sekelompok orang tentang suatu gejala atau fenomena sosial. Dimana setiap
pernyataan diberi range skor 1 sampai 3 dengan ketentuan sebagai berikut: untuk
pernyataan : (3) selalu, (2) kadang-kadang, (1) tidak pernah (Sugiyono, 2000).
48
Universitas Sumatera Utara
Ridwan (2006), mengatakan apabila skor tertinggi dan terendah sudah
dapat ditentukan, dilanjutkan dengan menggunakan range. Kemudian hasil
rentang dikelompokkan menjadi baik dan kurang. Selanjutnya jumlah rentang
cukup dibagi 2 (Dua) untuk mendapatkan batas nilai baik dan kurang.
3.6.2.2 Kinerja perawat
Instrumen yang digunakan dalam pengumpulan data dalam penelitian ini
adalah Self Assessment Questionnaire dan dikonsep dari teori Potter dan Perry
(2005) Kuesioner berjumlah 25 (dua puluh lima) item pernyataan. Penelitian ini
menggunakan instrumen berupa skala. Skala yang dijadikan alat ukur dapat
dengan mudah mengungkap indikator yang hendak di ukur dengan stimulus
berupa pernyataan tanpa disadari oleh subjek yang bersangkutan karena jawaban
yang diberikan subjek bersifat refleksi (Azwar, 2012). Metode pengukuran
menggunakan skala likert. Skala likert adalah skala yang dapat dipergunakan
untuk mengukur sikap, pendapat, dan persepsi seseorang atau sekelompok orang
tentang suatu gejala atau fenomena sosial. Dimana setiap pernyataan diberi range
skor 1 sampai 3 dengan ketentuan sebagai berikut: untuk pernyataan positif : (3)
selalu, (2) kadang-kadang, (1) tidak pernah dan untuk pernyataan negatif : (3)
tidak pernah, (2) kadang-kadang, (1) selalu (Sugiyono, 2000).
Dengan klasifikasi pernyataan pengkajian keperawatan terdiri dari 3
pernyataan positif pada nomor (1,2,5) dan 2 pernyataan negatif pada nomor (3,4),
diagnosa keperawatan terdiri dari 4 pernyataan positif pada nomor (6,7,8,9) dan 1
pernyataan negatif pada nomor (10), perencanaan keperawatan terdiri dari 2
pernyataan positif pada nomor (11,13) dan 3 pernyataan negatif pada nomor
49
Universitas Sumatera Utara
(12,14,15), pelaksanaan keperawatan terdiri dari 3 pernyataan positif pada nomor
(16,18,20) dan 2 pernyataan negatif pada nomor (17,19). Kemudian evaluasi
keperawatan terdiri dari 3 pernyataan positif pada nomor (21,22,23) dan 2
pernyataan negatif pada nomor (24,25). Ridwan (2006), mengatakan apabila skor
tertinggi dan terendah sudah dapat ditentukan, dilanjutkan dengan menggunakan
range. Kemudian hasil rentang dikelompokkan menjadi baik, cukup dan kurang.
Selanjutnya jumlah rentang cukup dibagi 3 (tiga) untuk mendapatkan batas nilai
baik, cukup dan kurang.
3.6.2.3 Uji Validitas
Uji validitas adalah suatu ukuran yang menunjukkan tingkat kevalidan
atau kesahihan suatu instrumen. Tujuan dari Content Validity Index (CVI) adalah
untuk menilai relevansi dari masing-masing item terhadap apa yang akan di ukur
oleh peneliti. Para ahli diberikan pertanyaan dan diminta pendapatnya tentang
kuesioner supervisi dan kinerja. Content Validity Index (CVI) merupakan
penilaian/beban maksimum melalui tenaga ahli dari tiap keterkaitan item. Suatu
prosedur yang dinilai tenaga ahli dengan item pada poin skala 4 (dari 1 = tidak
relevan sampai 4 = sangat relevan). Hasil CVI dari 32 item pernyataan supervisi
kepala ruangan dinyatakan relevan dengan nilai CVI untuk supervisi kepala
ruangan adalah 0,96. Hasil CVI instrumen kinerja perawat dari 25 item adalah 0,1.
50
Universitas Sumatera Utara
Peserta
Para ahli terdiri dari 3 orang magister keperawatan dengan rincian 1 orang
bekerja sebagai staf dosen pengajar keperawatan dasar Universitas Sumatera
Utara dan dari rumah sakit Adam Malik sebagai Ketua Komite Etik Keperawatan
kemudian sebagai Kabid Keperawatan Rumah sakit Umum Murni Teguh Medan.
Para expert menganalisa dan menilai kuesioner penelitian tentang supervisi
kepala ruangan dan kinerja perawat, masing-masing terdiri dari 3 kategori
menggunakan skala 1-3.
Skala 1 menyatakan tidak pernah, skala 2 menyatakan kadang-kadang dan
skala 3 menyatakan selalu dan kuesioner terdiri dari 32 item pernyataan valid
dengan nilai CVI 0.96 dan selanjutnya Instrumen penilaian kinerja perawat
dirumah sakit menggunakan skala Likert dengan 3 skala yaitu 1 sampai 3. Skala 1
menyatakan tidak pernah melakukan, skala 2 kadang-kadang melakukan dan
skala 3 selalu melakukan. Kuesioner terdiri dari 25 item pernyataan valid dengan
nilai CVI 0.1 dan selanjutnya peneliti dapat melakukan uji instrumen.
Prosedur
Validitas isi para ahli dilakukan di Rumah Sakit Sembiring, ketepatan
prosedur ditinjau kemudian dilengkapi format informent concent. Mereka akan
menilai instrumen tentang supervisi kepala ruangan dan kinerja perawat
pelaksana. Masing-masing terdiri dari empat kategori yaitu kategori 1 (relevan
untuk penelitian) dan kategori 2 (relevan untuk mengukur konsep) terdiri dari : 1
= item tidak relevan, 2 = item perlu banyak revisi, 3 = item relevan tetapi perlu
sedikit revisi, 4 = item sudah relevan. Kategori 3 (pengulangan item) terdiri dari 1
51
Universitas Sumatera Utara
= ada pengulangan item, 2 = tidak ada pengulangan item. Kategori 4 (tentang
kejelasan item) terdiri dari : 1 = item tidak jelas dan 2 = item jelas.
Hasil
Expert pertama diperoleh hasil CVI supervisi kepala ruangan = 0,1 tiga
puluh dua item yang dinilai diperoleh hasil 32 item dinilai relevan (3 atau 4).
Conten validitas indeks kinerja perawat pelaksana dan lembar observasi = 0,1
dimana 25 item pertanyaan yang dinilai dinyatakan relevan (nilai 3 dan 4).
Expert kedua diperoleh hasil CVI supervisi kepala ruangan = 0,94 dari
tiga puluh dua item yang dinilai 32 item dinilai relevan (3 atau 4). Conten
validitas indeks kinerja perawat pelaksana dan lembar observasi diperoleh nilai =
0,1 dimana 25 item pernyataan yang dinilai dinyatakan relevan (nilai 3 dan 4).
Expert ketiga ditemukan hasil CVI supervisi kepala ruangan = 0.94 dari
tiga puluh dua item yang dinilai ahli diperoleh hasil 30 item dinilai relevan (3
atau 4), Conten validitas indeks kinerja perawat pelaksana dan lembar observasi =
0,1 dimana 25 item pernyataan yang dinilai dinyatakan relevan (nilai 3 dan 4).
Berdasarkan penilain ke 3 expert tersebut dapat disimpulkan bahwa para
ahli mengerti tentang konsep supervisi kepala ruangan dengan kinerja perawat
pelaksana. Untuk supervisi terdiri dari 32 item, yang mana hasil dari 3 orang
expert adalah 0.96, dengan cacatan terdapat 2 item pertanyaan yang harus di
revisi yaitu pertanyaan 1 dan 2. Conten validity indeks yang didapat adalah 0.96.
Untuk kinerja semua expert memberikan nilai untuk CVI adalah 0.1 dimana tidak
ada cacatan yang harus untuk merevisi pertanyaan penelitian.
52
Universitas Sumatera Utara
3.6.2.4 Uji Reliabilitas
Koefisien reliabilitas adalah indikator yang penting dari suatu mutu
instrumen. Pengukuran tidak dapat dipercaya bila tidak menyediakan tes yang
cukup dari hipotesis peneliti. Jika data tidak benar terhadap konfirmasi dari
prediksi, kemungkinan adalah instrumen tidak reliabel sehingga tidak
memerlukan hubungan yang diharapkan tidak ada. Uji Reliabilitas ini dilakukan
di Rumah Sakit Umum Sembiring Delitua. Interpretasi untuk membandingkan
tingkatan kelompok, koefisien berkisar 0,70 pada umumnya adekuat, walaupun
koefisien 0,80 atau yang lebih besar sangat diinginkan (Polit & Beck, 2012).
Pilot Study
Uji instrumen ini dilakukan di Rumah Sakit Sembiring Delitua. Pada
pilot study ini menguji coba instrumen pada 30 responden untuk supervsi kepala
ruangan dengan hasil cronbach’s alpha 0.96 dan perawat dan untuk instrument
pada 30 responden untuk kinerja perawat pelaksana dengan hasil cronbach’s
alpha 0.96. Dari 60 kuesioner yang peneliti bagikan kepada responden semuanya
kembali dengan lengkap dan telah terisi sesuai dengan yang peneliti harapkan.
53
Universitas Sumatera Utara
Bahwa hasil dari pilot study, semua responden memahami instrument
dengan hal ini dijelaskan dengan tabel berikut :
Tabel : Supervisi Item-Total Statistics
Scale Mean if Scale Variance if Corrected Item- Cronbach's
Item Deleted Item Deleted Total Alpha if Item
Correlation Deleted
Supervisi 78.73 169.375 .536 .963
Supervisi 78.90 167.748 .566 .963
Supervisi 78.67 169.816 .528 .963
Supervisi 78.73 165.789 .825 .962
Supervisi 78.63 169.344 .504 .963
Supervisi 79.13 164.189 .678 .962
Supervisi 78.73 165.789 .825 .962
Supervisi 78.63 169.344 .504 .963
Supervisi 79.07 163.375 .760 .962
Supervisi 78.67 163.609 .819 .961
Supervisi 78.90 170.300 .445 .964
Supervisi 78.93 161.720 .676 .963
Supervisi 78.77 166.875 .724 .962
Supervisi 78.93 161.720 .676 .963
Supervisi 79.10 160.369 .778 .962
Supervisi 78.67 163.609 .819 .961
Supervisi 78.80 164.924 .692 .962
Supervisi 78.90 165.748 .583 .963
Supervisi 78.87 166.602 .730 .962
Supervisi 79.13 163.085 .690 .962
Supervisi 78.67 166.230 .832 .962
Supervisi 78.87 166.947 .620 .963
Supervisi 79.13 163.223 .601 .963
Supervisi 78.83 164.626 .649 .963
Supervisi 78.67 163.609 .819 .961
54
Universitas Sumatera Utara
Supervisi 78.73 166.478 .604 .963
Supervisi 78.50 172.397 .433 .964
Supervisi 78.67 163.609 .819 .961
Supervisi 78.73 167.099 .629 .963
Supervisi 78.93 167.237 .605 .963
Supervisi 78.80 163.131 .808 .961
Supervisi 78.93 167.237 .605 .963
Tabel : Kinerj Item-Total Statistics
Scale Mean if Scale Variance Corrected Item- Cronbach's
Item Deleted if Item Deleted Total Alpha if Item
Correlation Deleted
Kinerja 52.87 171.775 .731 .960
Kinerja 52.97 170.102 .758 .960
Kinerja 53.13 167.154 .812 .960
Kinerja 52.77 174.185 .623 .961
Kinerja 52.77 174.185 .623 .961
Kinerja 52.97 170.102 .758 .960
Kinerja 52.87 171.775 .731 .960
Kinerja 52.87 171.775 .731 .960
Kinerja 52.80 177.476 .536 .962
Kinerja 52.77 174.185 .623 .961
Kinerja 52.97 170.102 .758 .960
Kinerja 53.13 167.154 .812 .960
Kinerja 52.77 174.185 .623 .961
Kinerja 52.77 174.185 .623 .961
Kinerja 52.97 170.102 .758 .960
Kinerja 53.13 167.154 .812 .960
Kinea 52.77 174.185 .623 .961
Kinerja 52.77 174.185 .623 .961
Kinerja 52.97 170.102 .758 .960
Kinerja 53.13 167.154 .812 .960
Kinerja 53.20 173.476 .545 .962
Kinerja 53.13 167.154 .812 .960
Kinerja 53.20 173.476 .545 .962
55
Universitas Sumatera Utara
53.13 167.154 .812 .960
Kinerja
Kinerja 53.20 173.476 .545 .962
Tabel 3.2 menunjukkan data demografi kepala ruangan yang
diperoleh 30 responden dirumah sakit sembiring tersebut adalah 1 orang laki-laki
(3.3%), 29 orang wanita (96.7%), umur antara 25-35 tahun sebanyak 25 orang
(83.4 %) usia antara 36-45 tahun 4 orang (13.3%), usia 46-55 tahun 1 orang
(3.3%), pendidikan terakhir Ners sebanyak 5 orang (16.6%), D III sebanyak 25
orang (83.4%), Status perkawinan kawin sebanyak 13 orang (43.4%), belum
kawin 17 orang (56.6%) dan berdasarkan lama kerja diperoleh hasil pilot study 1-
5 tahun 22 orang (73.4%), 6-10 tahun 7 orang (23.3%), 11-15 tahun 1 orang
(3.3%).
Tabel 3.2
Hasil pilot study data demografi kepala ruangan Rumah Sakit Sembiring (n =30)
Data Demografi f %
Jenis kelamin
Laki-laki 1 3.3
Wanita 29 96.7
Umur responden
25-35 tahun 25 83.4
36-45 tahun 4 13.3
46-55 tahun 1 3.3
Pendidikan terakhir
Ners 5 16.6
D III Keperawatan 25 83.4
Status perkawinan
Kawin 13 43.4
Belum kawin 17 56.6
Masa kerja
1-5 tahun 22 73.4
6-10 tahun 7 23.3
11-15 tahun 1 3.3
56
Universitas Sumatera Utara
Tabel 3.3 menunjukkan data demografi perawat pelaksana yang diperoleh
30 responden dirumah sakit sembiring tersebut adalah 2 orang laki-laki (6.7%),
28 orang wanita (93.3%), usia antara 25-35 tahun sebanyak 28 orang (93.3%)
usia antara 36-45 tahun 2 orang (6.7%), D III sebanyak 30 orang (100%), status
perkawinan kawin sebanyak 8 orang (26.7%), belum kawin 22 orang (73.3%) dan
berdasarkan lama kerja diperoleh hasil pilot study 1-5 tahun 28 orang (93.3%)
6-10 tahun 2 orang (6.7%).
Tabel 3.3
Hasil pilot study data demografi Perawat pelaksana di Rumah Sakit Sembiring
(n=30)
Data Demografi f %
Jenis kelamin
Laki-laki 2 6.7
Wanita 28 93.3
Umur responden
25-35 tahun 28 93.3
36-45 tahun 2 6.7
Pendidikan terakhir
D III Keperawatan 30 100
Status perkawinan
Kawin 8 26.7
Belum kawin 22 73.3
Masa kerja
1-5 tahun 28 93.3
6-10 tahun 2 6.7
57
Universitas Sumatera Utara
3.7 Metode Pengumpulan Data
Data yang telah dikumpulkan diolah dengan cara manual dengan langkah-
langkah sebagai berikut:
1. Editing
Pada proses editing ini, peneliti memeriksa kuesioner untuk memastikan
bahwa tiap-tiap variabel penilaian dan memberikan hasil terhadap masalah
yang diteliti.
Setelah selesai dilakukan pengeditan/pengecekan data kemudian data
diklasifikasikan berdasarkan aspek pengukuran (Azwar & Prihartono, 2003)
pada tahap ini dilakukan pengecekan kelengkapan isian dan hasil kuesioner.
2. Coding
Peneliti memberikan simbol-simbol tertentu dalam bentuk angka untuk setiap
jawaban untuk mempermudah pengolahan data sesuai dengan definisi dan
kategori yang ditetapkan oleh peneliti.
3. Entry data
Pada langkah proses ini peneliti memasukkan data ke dalam komputer untuk
keperluan analisis dengan menggunakan program komputer.
4. Proccessing
Data hasil penilaian tiap-tiap variabel pada lembar observer dalam bentuk
“kode” (angka atau huruf) dimasukkan kedalam program atau software.
58
Universitas Sumatera Utara
5. Cleaning
Pemeriksaan semua data yang telah dimasukkan kedalam program komputer
guna menghindari terjadinya kesalahan pada pemasukkan data, untuk
selanjutnya dianalisis menggunakan komputer.
3.8 Analisa Data
Tahap selanjutnya adalah dilakukan analisis data, analisis ini bertujuan
untuk mengetahui hubungan variabel bebas terhadap variabel terikat. Pada
penelitian ini analisis data dilakukan secara bertahap yaitu :
1. Statistik univariat
Statistik univariat adalah suatu prosedur untuk menganalisa data dari suatu
variabel yang bertujuan untuk mendeskripsikan suatu hasil penelitian (Polit &
Hungler, 1999). Pada penelitian ini analisa data dengan metode statistik univariat
digunakan untuk mengidentifikasi supervisi dan kinerja perawat pelaksana.
2. Statistik bivariat
Analisis bivariat dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui hubungan
antara kedua variabel (Sugiyono, 2001). Variabel yang ingin dibuktikan adalah
hubungan supervisi kepala ruangan dengan kinerja perawat pelaksana hubungan
supervisi kepala ruangan dengan kinerja perawat pelaksana. Disimpulkan bila
p<0.05 berarti adanya hubungan supervisi kepala ruangan dengan kinerja perawat
pelaksana dan bila p>0.05 maka disimpulkan tidak ada hubungan supervisi
kepala ruangan dengan kinerja perawat pelaksana.
59
Universitas Sumatera Utara
Setelah data diolah kemudian dianalisa, sehingga hasil analisa data dapat
digunakan sebagai bahan pengambilan keputusan dalam penanggulangan masalah
penelitian. Tujuan dari pada analisa data adalah : 1) mengetahui komponen-
komponen yang mempunyai sifat menonjol dan mempunyai nilai yang ekstrim, 2)
membandingkan antara komponen dengan menggunakan nilai rasio, 3)
membandingkan antara komponen dengan keseluruhan dengan menggunakan
nilai proporsi (Setiadi, 2013). Sebelum analisis data dilakukan, terlebih dahulu
harus kita cek uji asumsi untuk korelasi normality, Outlier, Linierity, agar
diketahui apakah data penelitian terdistribusi normal dengan menggunakan teknik
uji parametrik korelasi spearman, dengan skala pengukuran interval untuk
mencari kekuatan hubungan antara kedua variabel supervisi kepala ruangan
dengan kinerja perawat pelaksana di rumah sakit.
Kekuatan hubungan dua variabel secara kuantitatif dapat dibagi dalam 3
kategori yaitu r positif 0.1-0.3 kekuatan hubungan lemah, 0.3-0.5 kekuatan
hubungan sedang, 0.5-1.0 kekuatan hubungan kuat. r negatif -0.1- -0.3 kekuatan
hubunga lemah, -0.3- -0.5 kekuatan hubungan sedang, -0.5- -1.0 kekuatan
hubungan kuat. Untuk uji hipotesis p < 0.05 Ha ditolak Hi diterima berarti ada
hubungan yang signifikan antara supervisi kepala ruangan dengan kinerja
perawat ( Polit & Beck, 2012 ).
60
Universitas Sumatera Utara
Pada uji ini ada dua jenis kelompok data yang berbeda dibandingkan
untuk menentukan derajat hubungan antara keduanya karena r berkisar antara -1
sampai +1. Kita dapat mengatakan bahwa kumpulan poin seperti itu saling
berhubungan baik secara positif atau negatif, di sisi lain jika koefisien korelasi
mendekati 0, kita dapat simpulkan bahwa poin tersebut memiliki hubungan yang
lemah atau berhubungan. Korelasi -1 sama kuatnya dengan korelasi +1, jika
koefisien korelasi bernilai 1 atau r = +1 maka terdapat hubungan antara kedua
variabel (hubungan positif), tapi jika koefisien korelasi bernilai r = 0 atau r = 1
maka kedua variabel tersebut tidak berhubungan (Polit & Beck, 2012).
3.8.1 Uji Asumsi
Normality
Uji asumsi normality adalah untuk melihat item supervisi kepala ruangan
dan kinerja perawat pelaksana teramati dan tidak akan menyimpang secara
signifikan dari distribusi normal. Distribusi dari 57 variabel telah diperiksa
masing-masing item untuk melihat nilai Kolmogorof-Smirnov, skewness dan
kurtosis. Data supervisi kepala ruangan yang terdiri dari 32 item, berdistribusi
normal nilai Shapiro-Wilk p = 0.29 (p<0.05), skewness -7.52, dan kurtosis = -
7.69. Data 25 item kinerja perawat pelaksana, nilai Kolmogorof-Smirnov p = 0.65,
skewness = -,5.45, kurtosis = 0.89. Kotak blox plot digunakan untuk mendeteksi
outlier yang muncul.
61
Universitas Sumatera Utara
Linierity
Uji asumsi linierity adalah menilai pemeriksaan pada scater plot Scater
plot adalah untuk memprediksi nilai yang memberikan informasi kemungkinan
yang tidak linier. Dalam penelitian ini scater plot menunjukkan hubungan linier
dengan semua linier yang berkorelasi, 32 item supervisi kepala ruangan dan 25
item kinerja perawat pelaksana data perawat mendekati garis linier yang dapat
dilihat secara visual ada grafik data.
Outlier
Outlier adalah untuk melihat apakah ada data yang menyimpang dari data
lainnya (data ekstrem). Outlier diperiksa menggunakan boxplot dimana data yang
menyimpang dapat mempengaruhi kenormalan distribusi data. Dilakukan
evaluasi yang berulang-ulang, sampai tidak ditemukan lagi outlier. Pada variabel
supervisi kepala ruangan yang muncul diblox spot adalah no : 6, 7, 8 dan 9. Data
yang muncul pada variabel kinerja perawat pelaksana adalah responden 5 dan 6 .
Uji asumsi outlier terpenuhi, dimana tidak ditemukan lagi outlier. Selanjutnya
dapat dilakukan uji korelasi product moment.
3.9 Pertimbangan Etik
Sebelum melakukan pengumpulan data, peneliti terlebih dahulu mengajukan
permohonan persetujuan ke komite etik penelitian keperawatan fakultas ilmu
keperawatan Sumatera Utara dengan memperhatikan pertimbangan-pertimbangan
antara lain ethical clearence.
62
Universitas Sumatera Utara
Pelaksanaan penelitian dilakukan oleh peneliti setelah mendapat izin dan
rekomendasi dari Fakultas Keperawatan Universitas Sumatera Utara dan izin dari
rumah sakit. Kemudian memberikan penjelasan kepada responden dalam
penelitian ini yaitu kepala ruangan dan perawat pelaksana di ruang rawat inap
Rumah Sakit Grand Medistra Lubuk Pakam bahwa responden dilindungi dari
berbagai aspek dalam penelitian ini (Polit & Hungler, 1999) yaitu :
(1) Self Determination yaitu peneliti memberi kesempatan kepada responden
untuk menentukan apakah bersedia atau tidak bersedia menjadi responden
(2) Privacy yaitu peneliti meyakinkan responden bahwa data yang terkumpul
tidak akan disebarluaskan oleh peneliti
(3) Anonimity yaitu peneliti menjaga kerahasiaan identitas responden dengan
memberikan kode pada setiap instrumen
(4) Confidentiality yaitu peneliti berjanji merahasiakan informasi yang
didapatkan dan data yang terkumpul hanya digunakan untuk penelitian
(5) Protection from discomfort yaitu peneliti mengupayakan kenyamanan
responden tidak terganggu
(6) Referred yaitu mengadakan rujukan jika diperlukan responden yang
memperlihatkan tanda-tanda keluhan psikososial yang diakibatkan kuesioner
(7) Informed Consent yaitu responden menyetujui maka responden diminta untuk
menandatangani surat persetujuan.
63
Universitas Sumatera Utara
BAB 4
HASIL PENELITIAN
Pengumpulan data dalam penelitian ini peneliti lakukan selama dua bulan
yaitu mulai dari bulan Agustus sampai dengan bulan Oktober tahun 2016 di
Rumah Sakit Grand Medistra Lubuk Pakam. Peneliti menjelaskan hasil penelitian
dengan pokok bahasan yaitu : 1) deskripsi lokasi penelitian, dan 2) hasil analisis
penelitian.
4.1 Deskripsi Lokasi Penelitian
Rumah Sakit Grand Medistra merupakan rumah sakit milik swasta di jalan
Medan Lubuk Pakam km. 25, No.66 Lubuk Pakam kabupaten Deli Serdang yang
mempunyai pendapatan asli daerah yaitu + 300 miliar dengan jumlah penduduk
sekitar 1.789.243 jiwa, sarana kesehatan yang ada di kabupaten ini adalah rumah
sakit (termasuk RS swasta) sebanyak 18 buah, puskesmas ada 33 buah, puskesmas
perawatan ada 18 buah puskesmas pembantu ada 104 buah, rumah bersalin ada
133 buah dan apotek ada 86 buah.
Rumah sakit ini terletak di ibukota kabupaten, dalam wilayah kerja pusat
pemerintahan daerah kabupaten Deli Serdang. Jarak Rumah Sakit Grand Medistra
ke ibukota Propinsi Sumatera Utara (Medan) berkisar ± 24 km. Rumah Sakit
Grand Medistra memiliki jumlah tempat tidur sebanyak 201 buah, berdiri diatas
lahan + 3.4 Ha dengan luas bangunan 17.513,512 m2 dengan kemampuan
pelayanan kelas B ini didirikan pada tahun 2009.
64
Universitas Sumatera Utara
Sejarah Rumah Sakit Grand Medistra tidak dapat terlepas dari sejarah
pendahulunya, yaitu Rumah Sakit Sembiring Delitua, bekal pengalaman
mengelola Rumah Sakit Sembiring Delitua tersebut akhirnya yayasan medistra
memutuskan untuk mendirikan rumah sakit lagi di Lubuk Pakam. Rumah Sakit
Grand Medistra berdiri pada tanggal 2 Desember 2009, sejalan dengan cita-cita
akan suatu universal konverage bagi seluruh penduduk Indonesia, maka Rumah
Sakit Grand Medistra memutuskan untuk menjadi rumah sakit yang bercirikan
pelayanan yang sebaik-baiknya bagi semua kalangan dan latar belakang
konsumen rumah sakit.
Selain melayani pasien umum, begitu didirikan rumah sakit ini telah
mengemban amanat dari pemerintah dengan kesediaan rumah sakit untuk
melayani peserta BPJS. Seiring dengan perkembangan waktu, asuransi-asuransi
besar baik yang berstatus BUMN seperti PT.Jamsostek, PT.Askes, PT.AJ IN
Health, serta asuransi yang berstatus swasta seperti Lippo Insurance, Astra Buana,
BNI Live, Jasindo mulai memberikan kepercayaan bagi Rumah Sakit Grand
Medistra untuk dapat melayani peserta mereka. Demikian pula perusahaan-
perusahaan yang menetapkan jaminan pelayanan kesehatan mandiri bagi
karyawannya seperti PT.Indofood, PT.KAI, PT.Mara Jaya dan beberapa
perusahaan lainnya mempercayakan kesehatan karyawannya kepada Rumah Sakit
Grand Medistra. Visi yang dimiliki oleh Rumah Sakit Grand Medistra adalah:
“Menjadi rumah sakit rujukan dengan kualitas pelayanan yang prima, didukung
sumber daya manusia yang berkualitas, serta sarana dan prasarana kesehatan
yang lengkap”.
65
Universitas Sumatera Utara
Dengan Misi Rumah Sakit Grand Medistra adalah :
1. Memberikan pelayanan kesehatan tingkat sekunder dan tertier yang bersifat
spesialistis dan subspesialistik dalam bentuk pelayanan preventif, kuratif, dan
rehabilitatif,
2. Menyediakan fasilitas pelayanan kesehatan yang lengkap bagi segenap
konsumen rumah sakit,
3. Mengembangkan Rumah Sakit Grand Medistra sebagai Pusat Rujukan Trauma
Center di Kawasan Deli Serdang dan sekitarnya,
4. Menciptakan kondisi kerja yang profesional dengan memberikan pelayanan
yang ramah dan informatif terhadap segenap konsumen rumah sakit,
5. Mengembangkan kemampuan dan profesionalitas segenap tenaga kesehatan di
rumah sakit yang berlandaskan etika profesi, etika pelayanan, serta keselarasan
dengan lingkungan,
6. Melakukan penelitian dan pengembangan dalam bidang kesehatan untuk dapat
lebih meningkatkan pelayanan kepada konsumen rumah sakit.
Motto Rumah Sakit Grand Medistra adalah “ Mitra Professional Menuju
Sehat”. Pelayanan Pasien di Rumah Sakit Grand Medistra Lubuk Pakam,
menerima beberapa golongan pasien rawat jalan dan rawat inap yaitu:
1. Pasien Umum
Pasien umum berasal dari masyarakat yang membayar sendiri biaya
pemeriksaan dan pengobatannya di RS.
66
Universitas Sumatera Utara
Sistem pembayarannya adalah out of pocket tidak seperti di beberapa rumah
sakit lain, pasien umum di RS Grand Medistra Lubuk Pakam tidak dibebani
uang muka pelayanan. Setelah selesai menjalani perawatan/pengobatannya,
pasien yang bersangkutan membayar di kasir. Sistem pembayaran
terkomputerisasi online yang diterapkan di kasir membuat biaya pelayanan di
Rumah Sakit Grand Medistra menjadi terstandarisasi dan tidak bisa ditambah
atau dikurangi oleh oknum tertentu.
2. Pasien Asuransi
RS Grand Medistra juga menjalin kerjasama dengan asuransi-asuransi yang
menjamin biaya perawatan kesehatan bagi pasien peserta asuransi. Pasien
yang ditanggung asuransi ini tidak dikenai biaya perawatan kesehatan, kecuali
pelayanan yang diterimanya melebihi ketentuan dan tarif yang ditanggung
oleh asuransinya. Asuransi-Asuransi yang sudah bekerja sama dengan RS
Grand Medistra sampai dengan saat ini adalah:
a. PT Askes Persero Indonesia. PT Askes mempercayakan RS Grand Medistra
untuk menjadi Penyelenggara Pelayanan Kesehatan rujukan tingkat II (PPK
II) bagi para PNS, pensiunan PNS, dan pensiunan TNI/Polri yang menjadi
peserta Program Askes Sosial. RS Grand Medistra menjadi PPK II Askes
Sosial sejak 1 Maret 2010.
b. PT Jamsostek Indonesia cabang Tanjung Morawa. PT Jamsostek Indonesia
menjalin kerjasama dengan RS Grand Medistra sejak tanggal 22 Oktober
2009 sehingga kami diperbolehkan melayani para karyawan dan pegawai
perusahaan yang dilindungi oleh program Jaminan Pelayanan Kesehatan.
67
Universitas Sumatera Utara
Jamsostek sejak tanggal 02 Nopember 2009. Saat ini, RS Grand Medistra
dipercaya oleh PT Jamsostek menjadi rumah sakit rujukan Trauma Center
untuk pasien-pasien kecelakaan kerja.
c. PT Asuransi Jiwa Inhealth. PT Asuransi Jiwa Inhealth menjalin kerjasama
dengan RS Grand Medistra, yang berarti kami dapat melayani para
eksekutif, karyawan, maupun pegawai perusahaan yang dilindungi oleh
program Inhealth sejak 01 Desember 2009.
3. Pasien Perusahaan
RS Grand Medistra Lubuk Pakam juga menjalin kerjasama dengan
perusahaan-perusahaan yang belum bergabung dengan program jaminan
pelayanan kesehatan untuk karyawannya, yang meminta supaya biaya
pelayanan dan pengobatan karyawannya ditagih setiap bulan kepada mereka,
sehingga karyawan tersebut tidak perlu mengeluarkan uang untuk pelayanan
pengobatan di RS Grand Medistra.
4. Pasien Jamkesmas
Sebagai wujud kepedulian RS Grand Medistra kepada pasien yang kurang
mampu, saat ini RS Grand Medistra telah mendapatkan ijin dari Dinas
Kesehatan Kabupaten Deli Serdang dan persetujuan Dinas Kesehatan Propinsi
Sumatera Utara untuk dapat melayani peserta program Jamkesmas yang
berdomisili di 32 wilayah Kabupaten Deli Serdang dan sekitarnya. Pelayanan
peserta Jamkesmas di RS Grand Medistra dimulai sejak Tanggal 1 Januari
2010.
68
Universitas Sumatera Utara
4.2 Hasil Penelitian
4.2.1 Karakteristik Responden
Karakteristik perawat dilihat dari usia, jenis kelamin, pendidikan,
status perkawinan dan masa kerja. Variabel umur didasarkan pada skala rasio dan
dikategorikan dengan terlebih dahulu menghitung median dan mean, berdasarkan
hasil penelitian diperoleh informasi bahwa mayoritas kepala ruangan di Rumah
Sakit Grand Medistra berusia 25-35 tahun dengan proporsi sebanyak 9 orang
(60.0%), kategori jenis kelamin seluruh perawat perempuan berjumlah 15 orang
(100%), dari aspek pendidikan D3 Keperawatan berjumlah 15 orang (100%),
perawat berstatus tidak menikah dengan jumlah 8 orang (53.3%) dan mayoritas
Frekuensi perawat yang memiliki masa kerja 1-5 tahun dengan jumlah 8 orang
(53.3%) . Dapat dilihat pada tabel 4.2.1 berikut dibawah ini :
Tabel 4.2.1
Distribusi Frekuensi Karakteristik Kepala ruangan di Ruang Rawat Inap
di RS Grand Medistra Lubuk Pakam (n=15)
Karakteristik Perawat f (%)
Umur responden
25-35 9 60.0
36-45 5 33.3
46-55 1 6.7
Jenis Kelamin
Perempuan 15 100
Pendidikan terakhir
D III Keperawatan 15 100
Status pernikahan
Kawin 7 46.7
Tidak Kawin 8 53.3
Masa Kerja
1-5 Tahun 8 53.3
6-10 Tahun 7 46.7
69
Universitas Sumatera Utara
Berdasarkan hasil penelitian diperoleh informasi bahwa mayoritas
perawat di Rumah Sakit Grand Medistra berusia 25-35 tahun dengan proporsi
sebanyak 90 orang (94,73%), dari kategori jenis kelamin mayoritas perawat
perempuan berjumlah 91 orang (95,78%), dari aspek pendidikan D3 Keperawatan
merupakan kelompok mayoritas berjumlah 95 orang (100%), mayoritas perawat
berstatus menikah dengan jumlah 49 orang (51,57%) dan Frekuensi perawat yang
memiliki masa kerja 1-5 tahun merupakan yang paling banyak dengan jumlah 61
orang (64,22%). Dapat dilihat pada tabel berikut dibawah ini :
Tabel 4.2. 2
Distribusi Frekuensi Karakteristik Perawat pelaksana di Ruang Rawat Inap di RS
Grand Medistra Lubuk Pakam (n=95)
Karakteristik Perawat f (%)
Umur responden
25-35 90 94.73
36-45 5 5.27
Jenis Kelamin
Laki-laki 4 4.22
Perempuan 91 95.78
Pendidikan terakhir
D III Keperawatan 95 100%
Status pernikahan
Kawin 49 51.57
Tidak Kawin 46 48.43
Masa Kerja
1-5 Tahun 61 64.22
6-10 Tahun 34 35.78
Selanjutnya distribusi frekuensi berdasarkan supervisi kepala ruangan dan
kinerja perawat dengan kategori supervisi baik, supervisi kurang dan kinerja
perawat dengan kategori kinerja baik, kinerja cukup dan kinerja kurang.
70
Universitas Sumatera Utara
4.3 Analisis Univariat
4.3.1 Tanggapan Perawat Pelaksana Terhadap Variabel Penelitian
Untuk menerangkan tanggapan responden terhadap variabel penelitian
maka dilakukan analisis jawaban yang diberikan responden berkaitan dengan
pernyataan tersebut. Pernyataan terdiri dari 32 item, untuk mengetahui lebih jelas
mengenai pernyataan berasal dari variabel supervisi kepala ruangan. Peneliti akan
mendeskripsikan masing-masing item pernyataan secara terpisah dan dari analisis
tersebut diketahui berapa banyak responden yang memilih alternatif jawaban
tertentu dan memperoleh nilai rata-rata tertinggi sampai dengan terendah. Untuk
menerangkan tanggapan responden terhadap variabel peneliti digunakan metode
rata-rata (mean) dan tabel distribusi frekuensi. Alat ukur tanggapan responden
terhadap variabel penelitian adalah : Supervisi Baik dengan Skor 49-96 dan
Supervisi Kurang dengan Skor 1-48. Pada hasil penelitian terhadap variabel
supervisi kepala ruangan berdasarkan hasil penyebaran kuesioner yang dilakukan
sesuai dengan skor jawaban yang tertera pada tabel 4.3.1 berikut :
Tabel 4.3.1 Tanggapan Perawat Pelaksana terhadap variabel Supervisi
Kuesioner f (%)
Fungsi Pengarahan 49 51.57
Fungsi Pengawasan 46 48.43
Total 95 100 %
Berdasarkan tabel 4.3.2 hasil penelitian diperoleh bahwa frekuensi
perawat berdasarkan supervisi kepala ruangan dengan kategori supervisi baik
berjumlah 95 orang (100%) dan kategori supervisi kurang tidak ada. Selanjutnya
71
Universitas Sumatera Utara
distribusi frekuensi karakteristik responden berdasarkan supervisi kepala ruangan
supervisi baik dapat dilihat pada tabel sebagai berikut :
Tabel 4.3.2
Distribusi Frekuensi Kategori Supervisi Kepala Ruangan di Rumah Sakit Grand
Medistra
Kategori f (%)
Supervisi Baik 95 100
4.3.3 Tanggapan Kepala Ruangan Terhadap Variabel Penelitian
Untuk menerangkan tanggapan responden terhadap variabel penelitian
maka dilakukan analisis jawaban yang diberikan responden berkaitan dengan
pernyataan tersebut. Pernyataan terdiri dari 25 item, untuk mengetahui lebih jelas
mengenai pernyataan berasal dari variabel kinerja perawat pelaksana. Peneliti
akan mendeskripsikan masing-masing item pernyataan secara terpisah dan dari
analisis tersebut diketahui berapa banyak responden yang memilih alternatif
jawaban tertentu dan memperoleh nilai rata-rata tertinggi sampai dengan terendah.
Untuk menerangkan tanggapan responden terhadap variabel peneliti digunakan
metode rata-rata (mean) dan tabel distribusi frekuensi. Alat ukur tanggapan
responden terhadap variabel penelitian adalah : Kinerja Baik dengan Skor 51-75,
Kinerja Cukup dengan Skor 26-50 dan Kinerja Kurang dengan Skor 1-25.
72
Universitas Sumatera Utara
Pada hasil penelitian terhadap variabel supervisi kepala ruangan
berdasarkan hasil penyebaran kuesioner yang dilakukan sesuai dengan skor
jawaban yang tertera pada tabel 4.3.3 berikut :
Tabel 4.3.3 Tanggapan Kepala Ruangan terhadap variabel Supervisi
Kuesioner f (%)
Pengkajian Keperawatan 4 26.7
Diagnos Keperawatan 2 13.4
Perencanaan Keperawatan 3 20
Pelaksanaan Keperawatan 3 20
Evaluasi Keperawatan 3 20
Total 15 100 %
Dari tabel 4.3.4 hasil penelitian ini diperoleh frekuensi perawat
berdasarkan kinerja perawat dengan kinerja perawat dengan kategori kinerja baik
berjumlah 12 orang (94,74%) sedangkan kategori kinerja cukup berjumlah 3
orang (5.26%). Hasil dari transform data supervisi kepala ruangan dan kinerja
perawat. Selanjutnya distribusi frekuensi karakteristik responden berdasarkan
kinerja perawat baik dan cukup dapat dilihat pada tabel 4.3.3 sebagai berikut :
Tabel 4.3.4
Distribusi Frekuensi Kategori Kinerja Perawat di Rumah Sakit Grand Medistra
Kategori f %
Kinerja Baik 12 80
Kinerja Cukup 3 20
Total 15 100%
73
Universitas Sumatera Utara
Hasil dari transform data supervisi kepala ruangan dan kinerja perawat,
selanjutnya dilakukan uji spearman untuk melihat hubungan antara kinerja
perawat dan supervisi kepala ruangan , supervisi kepala ruangan dengan kinerja
perawat.
4.4 Analisis Bivariat
4.4.1 Hasil uji korelasi supervisi kepala ruangan dengan kinerja perawat
pelaksana di Rumah Sakit Grand Medistra Lubuk Pakam
Hasil penelitian hubungan antara supervisi kepala ruangan dan kinerja
perawat pelaksana di Rumah Sakit Grand Medistra Lubuk Pakam nilai p = 0.71
Ha = diterima, yang makna adanya faktor-faktor lain yang mempengaruhi kinerja
perawat dalam bekerja bukan hanya dari supervisi kepala ruangan saja,
melainkan adanya pengaruh faktor lain yang menyertai.
Hasil penelitian dapat dilihat pada tabel 4.4.1 berikut dibawah ini :
Tabel 4.4.1 :
Hubungan Supervisi Kepala Ruangan dengan Kinerja Perawat pelaksana
Kinerja Perawat
p r
Supervisi kepala ruangan 0.71 0.40
74
Universitas Sumatera Utara
BAB 5
PEMBAHASAN
5.1 Supervisi Kepala Ruangan
Supervisi adalah intervensi yang diberikan oleh karyawan senior kepada
karyawan junior yang memiliki kesamaan profesi. Hubungannya bersifat
evaluatif, sepanjang waktu, mencapai tujuan yang berkelanjutan dalam
meningkatkan kemampuan juniornya, pemantauan kualitas layanan profesional
pada pasien (Bernard & Goodyear, 2004).
Berdasarkan hasil penelitian supervisi kepala ruangan diperoleh informasi
bahwa dengan kategori supervisi baik berjumlah 95 orang (100%). Berdasarkan
hasil penelitian Agung (2004) pelaksanaan supervisi yang dilakukan kepala
ruangan di salah satu ruang rawat inap RSUP Dr. Wahidin Sudirohusodo bahwa
supervisi kepala ruangan yang dilakukan terhadap perawat, bahwa bentuk
perhatian yang diberikan oleh kepala ruangan tidak hanya sebagai pemimpin saja
yang mempunyai jarak dengan anggotanya, tetapi menciptakan suasana kerja
yang nyaman dalam bekerja.
Penelitian Siswana (2009) Pekan Baru, Riau, supervisi kepala ruangan di
Rumah Sakit Umum Daerah Petala Bumi tidak hanya dari bagimana proses
asuhan keperawatan tetapi dari segi aspek yang mendampinginya baik dari sisi
penampilan, kedisiplinan, penyelesaian masalah, dan ketenagaan di ruangan.
Hasil penelitian ini merekomendasikan untuk menetapkan kebijakan tentang
pelaksanaan supervisi klinis sebagai bentuk model akademik supervisi klinis
diterapkan di ruang rawat inap.
75
Universitas Sumatera Utara
Sesuai dengan Standarisasi kegiatan pada supervisi kepala ruangan di
Rumah Sakit Grand Medistra Lubuk Pakam. Kepala ruangan bertanggung jawab
dalam supervisi pelayanan keperawatan diunit kerjanya. Kepala ruangan
merupakan ujung tombak penentu tercapai tidaknya tujuan pelayanan dalam
memberikan asuhan keperawatan dan pendokumentasian di unit kerjanya. Materi
supervisi atau pengawasan disesuaikan dengan uraian tugas masing-masing staf
perawat yang disupervisi. Untuk kepala ruangan materi supervisi adalah
kemampuan manejerial dan kemampuan dalam asuhan keperawatan.
Berdasarkan teori, hasil penelitian dan penelitian sebelumnya yang terkait
supervisi kepala ruangan, perawat yang disupervisi terkait dengan kemampuan,
agar supervisi dapat menjadi alat pembinaan dan tidak menjadi beban bagi
perawat, maka perlu disusun standar penampilan yang diharapkan dari masing-
masing perawat yang sudah dipahami dan jadwal pasti dalam supervisi.
5.2 Kinerja Perawat
Kinerja adalah suatu proses dan hasil yang dicapai seseorang menurut
ukuran yang berlaku untuk pekerjaan bersangkutan (Carthon et al., 2011). Prilaku
individu dilihat dari respon terhadap stimulus dibagi menjadi dua yaitu perilaku
terbuka dan tertutup dalam bentuk praktek atau tindakan yang diamati (Ilyas,
2002). Kinerja dalam keperawatan merupakan hasil karya dari perawat dalam
tindakan atau praktek yang diamati dan dinilai. Kinerja perawat mencerminkan
kemampuan perawat untuk mengimplementasikan proses asuhan keperawatan
(PPNI, 2010).
76
Universitas Sumatera Utara
Berdasarkan hasil penelitian diperoleh informasi bahwa mayoritas
perawat umur 20-35 tahun berjumlah 90 orang (94,73%). Secara fisiologis
pertumbuhan dan perkembangan seseorang dapat digambarkan dengan
pertambahan umur. Dengan peningkatan umur diharapkan terjadi pertumbuhan
kemampuan motorik sesuai dengan tumbuh kembangnya, yang identik dengan
idealisme tinggi, semangat tinggi dan tenaga yang prima (Sastrohadiwirjo &
Siswanto, 2002).
Perawat pelaksana di ruang rawat inap diperoleh informasi bahwa
mayoritas berjenis kelamin perempuan dengan proporsi responden yang berjenis
kelamin perempuan berjumlah 91 orang (95,78%). Menurut manajemen
keperawatan tidak ada batas ideal perbandingan antara perawat laki-laki dan
perempuan. Namun dalam manajemen keperawatan mengenai pengaturan jadwal
dinas, dianjurkan dalam satu shift ada perawat laki-laki dan perempuan, sehingga
apabila melakukan tindakan yang bersifat privacy bisa dilakukan oleh perawat
yang sama jenis kelaminnya misalnya personal higiyene, eliminasi, perekaman
EKG, pemasangan asesoris bed side monitor, dll (Swanburg, 2000).
Hasil penelitian juga menunjukkan diperoleh informasi bahwa mayoritas
pendidikan terakhir perawat adalah berpendidikan D3 Keperawatan berjumlah 95
orang (100%). Kriteria perawat profesional dapat mentaati kode etik, mampu
berkomunikasi dengan pasien dan keluarga, serta mampu memanfaatkan sarana
kesehatan yang tersedia secara berdaya guna dan berhasil guna.
77
Universitas Sumatera Utara
Mampu berperan sebagai agen pembaharu dan mengembangkan ilmu
serta teknologi keperawatan (Nursalam, 2007). Semakin tinggi tingkat pendidikan
akan lebih rasional dan kreatif serta terbuka dalam menerima adanya bermacam
usaha pembaharuan dan dapat menyesuaikan diri terhadap pembaharuan. Tingkat
pendidikan seseorang berpengaruh dalam memberikan respon terhadap sesuatu
yang datang dari luar (Notoatmodjo, 1993). Berdasarkan hasil penelitian
responden diperoleh informasi bahwa mayoritas masa kerja perawat 1-5 tahun
berjumlah 61 orang (62,44%). Semakin lama perawat bekerja semakin banyak
kasus yang ditanganinya sehingga semakin meningkat pengalamannya,
sebaliknya semakin singkat orang bekerja maka semakin sedikit kasus yang
ditanganinya. Pengalaman bekerja banyak memberikan keahlian dan ketrampilan
kerja (Sastrohadiwirjo, 2002).
Kinerja dalam penelitian ini berhubungan dengan kemampuan perawat
melaksanakan asuhan keperawatan di ruangan rawat inap Rumah Sakit Grand
Medistra Lubuk Pakam. Hasil penelitian menunjukkan diperoleh informasi
bahwa berdasarkan kinerja perawat dengan kategori baik berjumlah 12 orang
(94,74%). Keseluruhan indikator tersebut berimplikasi terhadap kinerja perawat
secara utuh. Hasil ini tidak sejalan dengan penelitian terkait pelayanan
keperawatan di provinsi Kalimantan Timur, Sumatera Utara, Sulawesi Utara,
Jawa Barat dan DKI Jakarta telah dilakukan oleh Direktorat Pelayanan
Keperawatan Depkes bekerja sama dengan WHO tahun 2000 menunjukkan hasil
70,9% perawat selama 3 tahun terakhir tidak pernah mengikuti pelatihan, 39,8%.
78
Universitas Sumatera Utara
Perawat masih melakukan tugas–tugas non keperawatan, 47,4% perawat
tidak memiliki uraian tugas secara tertulis, belum dikembangkannya monitoring
dan evaluasi kinerja perawat secara khusus (Dirjen YanMed, 2010). Rendahnya
kinerja perawat terlihat dimana ia selalu bertanya kepada dokter mengenai
tindakan keperawatan padahal semestinya ia memiliki kesempatan untuk dapat
merubah dan mengambil keputusan sendiri dalam hal asuhan keperawatannya
sesuai kebutuhan pasien berdasarkan standar operasional pekerjaannya yang juga
merupakan batasan otonomi seorang perawat yaitu standar pengkajian, standar
diagnosa keperawatan, standar perencanaan, standar pelaksanaan, dan standar
evaluasi. Sementara itu sebuah studi yang dilakukan oleh Mayasari (2009)
tentang pelaksanaan penerapan Standar Asuhan Keperawatan RSUD Kota
Semarang tahun 2007 menunjukkan bahwa perawat melakukan pengkajian
sebesar 56,97%, perumusan diagnosa 70,50%, perumusan rencana keperawatan
67,29%, melakukan tindakan keperawatan 62,10%, dan perawat yang melakukan
evaluasi 57,20%.
Menurut Manurung (2004), menyatakan bahwa faktor-faktor yang
mempengaruhi kinerja perawat antara lain yaitu faktor individu mencakup
kemampuan atau pengetahuan perawat dan keterampilan perawat serta faktor
psikologis yaitu sikap perawat dalam melaksanakan asuhan keperawatan dan
pendokumentasiannya. Berdasarkan teori di atas dapat disimpulkan bahwa
kinerja memerlukan indikator-indikator penilaian oleh berbagai faktor yaitu
faktor internal dan faktor eksternal.
79
Universitas Sumatera Utara
Beragam aspek yang dapat diukur dengan berpedoman pada standard
tertentu yang terdiri dari aspek kuantitatif dan aspek kualitatif yang berguna
untuk mendapatkan feedback guna keperluan perbaikan organisasi secara khusus
menejemen pengelolaan sumber daya manusia. Berdasarkan teori, hasil penelitian
dan penelitian sebelumnya yang terkait dengan kinerja perawat, implikasi dari
kinerja perawat adalah cerminan dari kinerja perawat secara umum. Keberhasilan
organisasi rumah sakit sebagai suatu organisasi dalam mencapai tujuannya, tidak
terlepas dari pegawainya, karena pegawai bukan semata-mata menjadi obyek
dalam mencapai tujuan organisasi tetapi juga menjadi subyek atau pelaku.
Mereka dapat menjadi perencana, pelaksana, pengendali yang selalu berperan
aktif dalam mewujudkan tujuan organisasi serta mempunyai pikiran, perasaan,
dan keinginan yang dapat mempengaruhi sikapnya terhadap pekerjaannya. Sikap
ini akan menentukan prestasi kerja, dedikasi, dan kecintaan terhadap pekerjaan
dan tanggung jawab yang dibebankan kepadanya.
Pendapat lain menyatakan bahwa keberhasilan suatu organisasi sangat
ditentukan oleh keberhasilan pegawai dan kelompok pegawai (Fanthoni, 2006).
Pendapat ini mempunyai konsekuensi adanya suatu tuntutan kepada organisasi
untuk lebih memperhatikan aspek-aspek kritis yang merupakan faktor penentu
keberhasilan kinerja pegawai sehingga pegawai melaksanakan semua tanggung
jawabnya dan memperoleh kepuasan kerja. Pendapat lain juga mengemukakan
bahwa kepuasan bawahan dipengaruhi oleh keterbukaan komunikasi dalam
kelompok, dan kinerja pimpinan itu sendiri (Ruky, 2004).
80
Universitas Sumatera Utara
5.3 Hubungan Supervisi Kepala Ruangan Terhadap Kinerja Perawat
Berdasarkan hasil penelitian diperoleh informasi menunjukkan p-value
0,71 > alpha (= 0,05) yang artinya tidak ada hubungan yang bermakna, Ha=
diterima, yang maknanya adanya faktor-faktor lain yang mempengaruhi kinerja
perawat dalam bekerja bukan hanya dari supervisi kepala ruangan saja,
melainkan adanya dipengaruhi faktor lain yang menyertainya.
Faktor yang mempengaruhi kinerja perawat ( Nursalam 2002) adalah :
Antheical terhadap pekerjaan keperawatan karena rendahnya dasar pendidikan
profesi dan belum dilaksanakanya pendidikan keperawatan secara profesional,
perawat lebih cenderung untuk melaksanakan perannya secara rutinitas dan
menunggu perintah dari dokter, Rendahnya rasa percaya diri perawat belum
mampu menyediakan dirinya sebagai sumber informasi bagi klien, rendahnya
rasa percaya diri disebabkan oleh karena rendahnya pendidikan, rendahnya
pengetahuan dan teknologi-teknologi yang memadai, Kurangnya pemahaman dan
sikap untuk melaksanakan riset keperawatan pengetahuan dan keterampilan
perawat terhadap riset masih sangat rendah hal ini ditunjukan dengan rendahnya
hasil riset di bandingkan dengan profesi yang lain, Rendahnya standar Gaji bagi
perawat yang bekerja pada institusi pemerintah di dalam negeri dirasakan masih
rendahnya bila dibandingkan dengan negeri lain. Rendahnya gaji perawat
berdampak pada asuhan keperawatan yang profesional, Sangat minimnya perawat
yang menduduki jabatan struktural di Institusi kesehatan. Masalah ini sangat
mempengaruhi dalam perkembangan profesi keperawatan, karena sistim sangat
berpengaruh terhadap terselenggaranya pelayanan yang baik.
81
Universitas Sumatera Utara
Kegiatan pada supervisi kepala ruangan yaitu; Sebelum pertukaran Shift, 1)
Mengecek kecukupan fasilitas/ peralatan/ sarana untuk hari itu, 2) Mengecek
jadwal kerja, Pada waktu mulai Shift, 3) Mengecek personil yang ada, 4)
Menganalisa keseimbangan tenaga, 5) Mengatur pekerjaan, 6)
Mengidentifikasikan kendala yang muncul, 7) Mencari alternatif penyelesaian
masalah supaya dapat diselesaikan, Sepanjang hari, 8) Mengecek pekerjaan setiap
perawat, mengarahkan, mengintruksi, mengoreksi atau memberi latihan sesuai
kebutuhan, 9) Mengecek kemajuan pekerjaan, 10) Mengecek kemajuan rumah
tangga, 11) Mengecek personil, kenyamanan kerja terutama personil baru, 12)
Berjaga di tempat bila ada pertanyaan, permintaan bantuan lain-lain, 13)
Mengatur jam istirahat perawat, 14) Mendeteksi dan mencatat problem yang
muncul pada saat itu dan mencari cara memecahkannya, 15) Mengecek kembali
kecukupan alat/ fasilitas/ sarana sesuai kondisi operasional, 16) Mencatat
fasilitas/ sarana yang rusak kemudian melaporkannya, 17) Mengecek kecelakaan
kerja, 18) Menyiapkan laporan mengenai pekerjaan secara rutin, 19)
Mengobservasi satu personil atau aneka kerja secara kontiniu untuk 15 menit
sekali, 20) Melihat dengan seksama hal-hal yang mungkin terjadi, seperti
keterlambatan pekerjaan, lamanya mengambil barang dan kesulitan pekerjaan, 21)
Membuat daftar masalah yang belum terpecahkan dan berusaha untuk
memecahkan keesokan harinya, 22) Pikirkan pekerjaan yang telah dilakukan
sepanjang hari dengan mengecek hasilnya, kecukupan material dan peralatannya,
23) Melengkapi laporan harian, dan 24) Membuat daftar pekerjaan untuk
keesokan harinya.
82
Universitas Sumatera Utara
Faktor-faktor yang mempengaruhi kinerja selain supervisi antara lain
yaitu efektifitas dan efisiensi, otoritas, disiplin, dan inisiatif menurut Robbins
(2002), kegiatan supervisi kepala ruangan yang dilakukan di Rumah Sakit Grand
Medistra Lubuk Pakam kepada perawat sudah dilakukan namun belum maksimal
karena perawat masih berusia muda dan beban kerja yang tinggi.
Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Qalbia (2013) di RS
Universitas Hasanuddin di Sulawesi Selatan tentang hubungan supervisi terhadap
kinerja perawat dalam menerapkan patient safety di rumah sakit menunjukkan
bahwa adanya hubungan efektifitas dan efisiensi, otoritas, disiplin, dan inisiatif
terhadap kinerja perawat dalam menerapkan patient safety, dapat diketahui bahwa
dalam penelitian ini terdapat hubungan terhadap kinerja perawat pelaksana dalam
menerapkan patient safety di RS universitas Hasanuddin.
Penelitian yang dilakukan oleh Bally (2007) di salah satu rumah sakit di
negara bagian di Amerika, bahwa kepemimpinan yang dilakukan oleh supervisor
(kepala ruangan), akan baik apabila memperhatikan dari sisi efektifitas dan
efisiensi, otoritas, disiplin, dan inisiatif dijalankan dengan seimbang, maka
kesuksesan dalam mengorganisir perawat akan tercapai dengan baik.
Berdasarkan teori, hasil penelitian dan penelitian sebelumnya yang terkait
dengan hubungan supervisi kepala ruangan terhadap kinerja perawat, peneliti
beramsumsi proses supervisi yang baik akan meningkatkan kinerja perawat yang
bertugas di ruangan dalam melakukan asuhan keperawatan terhadap pasien.
Supervisi sangat berhubungan dengan efektifitas dan efisiensi, otoritas, disiplin,
dan inisiatif dengan kinerja kerja perawat. Perawat yang mendapat dukungan dari
83
Universitas Sumatera Utara
supervisor dan disupervisi dengan baik dalam melakukan pekerjaannya merasa
lebih puas terhadap pekerjaannya.
5.4 Kekuatan dan Keterbatasan penelitian
Kekuatan dari penilaian ini adalah : 1) menggunakan istrumen supervisi
kepala ruangan yang telah banyak digunakan dalam penelitian supervisi terhadap
kepala ruangan dirumah sakit, Instrumen ini telahdapat diakses secara bebas.
Instrumen supervisi kepala ruangan oleh pakar yang memahami konsep supervisi
kepala ruangan dalam keperawatan, 2) dilakukan uji validitas oleh tiga expert
keperawatan, 3) pilot study untuk konsistensi item kuesioner, 4) menggunakan
sampel kepala ruangan dengan kualifikasi S 1 Keperawatan dan D III, 5)
menentukan sampel dengan total sampling, 4) menggunakan dua rumah sakit
swasta dikota medan dan 5) menggunakan analisa uji parametrik.
Adapun keterbatasan-keterbatasan dalam penelitian ini meliputi : 1)
instrumen Kinerja perawat kurang tepat pada skala pengukuran untuk mengukur
kinerja perawat dirumah sakit Grand Medistra Lubuk Pakam, sehingga
diperlukan wawancara dan observasi untuk menilai kinerja perawat pelaksana, 2)
lokasi penelitian yang menggunakan rumah sakit swasta yang telah memiliki
kebijakan dalam pelayanan kesehatan, dan 3) pada karakteristik pendidikan
resonden adalah S 1 Keperawatan, namun mayoritas perawat pelaksana kedua
rumah sakit tersebut memiliki pendidikan D-III Keperawatan. Hal ini
mempengaruhi hasil penelitian yang ada.
84
Universitas Sumatera Utara
BAB 6
KESIMPULAN DAN SARAN
6.1. Kesimpulan
1. Hasil penelitian dari variabel Supervisi kepala ruangan diperoleh bahwa
dengan kategori supervisi baik sebanyak 95 orang (100%).
2. Hasil penelitian dari variabel Kinerja perawat pelaksana diperoleh bahwa
mayoritas dengan kategori Kinerja baik sebanyak 12 orang (94,74%)
3. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai p Value > 0,05 yang berarti tidak
ada hubungan signifikan antara supervisi kepala ruangan dengan kinerja
perawat pelaksana di Rumah Sakit Grand Medistra Lubuk Pakam Kabupaten
Deli Serdang.
6.2. Saran
Bagi Rumah Sakit Grand Medistra Lubuk Pakam
Hasil penelitian ini diharapkan dapat digunakan sebagai masukan dan
informasi bagi perawat, supervisi kepala ruangan dan kinerja perawat dalam
melaksanakan asuhan keperawatan yang sesuai standar bagi pasien.
Bagi Pendidikan
Hasil penelitian ini diharapkan dapat digunakan sebagai masukan dan
informasi dalam bidang sumber daya manusia yang berhubungan dengan
supervisi dan kinerja perawat.
85
Universitas Sumatera Utara
Bagi Tim Kesehatan lain
Hasil penelitian ini diharapkan merupakan media bagi peneliti khususnya
dalam bidang kesehatan dalam menerapkan ilmu dan menambahkan
wawasan mengenai supervisi kepala ruangan dan kinerja perawat pelaksana.
86
Universitas Sumatera Utara
DAFTAR PUSTAKA
Abdurrahman, F. (2006). Metodologi Penelitian dan Teknik Penyusunan Skripsi.
Jakarta : PT Rineka Cipta.
Ahmad, S. (2004). Sistem Manajemen Kinerja. Cetakan Ketiga, PT. Gramedia
Pustaka Utama, Jakarta.
Agung, S. (2004). Hubungan pelaksanaan supervisi kepala ruangan kepada
perawat pelaksana di ruang rawat inap RSUP Dr.Wahidin Sudirohusodo,
diakses tanggal 10 Maret 2016; http:/www.FikKes Jurnal
Keperawatan.co.id/.
Arikunto, S. (2010). Prosedur penelitia n. Suatu pendekatan praktek. Edisi Revisi.
Jakarta: Rineka Cipta.
Arwani, S. (2006). Manajemen bangsal keperawatan, Jakarta: EGC Kedokteran.
Azwar, (2012). Sika Manusia : Teori dan Pengukurannya. Yogyakarta : Pustaka
pelajar.
Ba’diah. A. (2008). Hubungan supervisi kepala ruangan terhadap kinerja
perawat dengan kepuasan pasien di ruang rawat inap Rumah Sakit Umum
PKU Muhammadiyah Temanggung, diakses tanggal 18 Januari 2016;
http:/www.FikKes Jurnal Keperawatan.co.id/.
Berggren, I. dan Severinsson, E. (2008). The influence of clinical supervision on
nurses‟ moral decision making. Nursing Ethics, 7 (2) : 124-33.
Bernard, J.M., dan Goodyear, R.K. (2004). Fundamentals of clinical supervision
(3rd ed.). Alih bahasa: Suhartini; Editor Pearson, Jakarta: EGC.
Bush, T. (2005). Overcoming the barriers to effective clinical supervision.
Nursing Times; 101: 2, 38–41.
Bungin dan Burhan, (2006). Metodologi Penelitian Kuantitatif: Komunikasi,
Ekonomi dan Kebijakan Publik serta Ilmu-ilmu Sosial Lainnya. Jakarta:
Kencana
Carver,C.S dan Scheier,M.F., (1981). On the Self-Regulation of Behavior.
Cambridge,UK: Cambridge University Press.
Universitas Sumatera Utara
Corel, S., dan Smith, G. (2000). The development of models of nursing
supervisionintheUK.www.clinicalsupervision.com/Development%20%20cl
inical%supervision.htm.
Cristiansen, B., Bjork, I.T., Havnes, A., & Hessevaagbakke, E., (2011).
Developing supervision skills through peer learning partnership. Nurse
Education in Practice, 11, 104-108.
Cruz, S., Carvalho, L., dan Sousa, P., (2012). Clinical supervision in nursing: the
(un)known phenomenon. Elseiver Procedia - Social and Behavioral
Sciences 69, 864 – 873.
Dawson, M., Phillips, B., dan Leggat, S.G. (2012). Effective clinical supervision
for regional allied health professionals – the supervisee‟s perspective. Aust
Health Rev. 37(2):262-736(1):92-7.
Depkes RI (2005). Standar praktek keperawatan bagi perawat kesehatan, Jakarta.
Depkes RI (2007). Direktorat Bina Pelayanan Keperawatan & Pelayanan Medik.
Kementrian Kesehatan RI.
Depkes RI (2008). Standar praktek keperawatan bagi perawat kesehatan,
Jakarta.
Devellis, R.F. (1991). Scale development: Theory and applications, CA: Sage.
Depkes RI, (2010). Pedoman Pengelolaan Rekam Medis Rumah di indonesia.
Jakarta : Depkes
Dharma. (2003). Manajemen kinerja: Falsafah teori dan penerapannya.
Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Driscoll, J. (2008). Implementing supervision in the south eastern health and
social care trust: a report on three supervision inquiry workshops.
http://www.supervisionadcoaching.com.
Farington, A. (1995). Models of clinical supervision. British Journal of Nursing
4(15): 76-78.
Gibson, L. (1999). Organisasi, prilaku, struktur dan proses. Alih bahasa: Maya
Sari. Edisi ke-4. Cetakan ke-2. Jakarta: Penerbit Erlangga.
Universitas Sumatera Utara
Gibson. (2000). Organisasi, prilaku, struktur dan proses. Alih bahasa: Maya Sari.
Edisi ke-5. Cetakan ke-3. Jakarta: Penerbit Erlangga.
Gillies, D. A. (1994). Manajemen keperawatan, sebagai suatu pendekatan system.
Bandung: Yayasan IAPKP.
Gillies. (1999). Suatu pendekatan proses keperawatan, Edisi 2. Saunders
Company.
Greenberg, Jerald dan Baron, (2003 ). Behavior in Organizations ( understanding
and managing the human side of work ). Eight edition, Prentice Hall.
Ilyas, Yaslis. (2002). Kinerja: Teori, penilaian dan penelitian. Jakarta: Pusat
Kajian Ekonomi Kesehatan.
Mayasari, (2009). Hubungan kepemimpinan, insentif, kesempatan promosi dan
supervisi terhadap kinerja perawat, diakses tanggal 20 Desember 2012;
http:/www.FikKes Jurnal Keperawatan.co.id/
Manurung, Mandala dan Rahardja. (2004). Uang, Perbankan, dan Ekonomi
Moneter. Lembaga FEUI. Jakarta.
Mulyono., Hamzah,. dan Abdullah,. (2013). Hubungan supervisi terhadap
kinerja perawat pelaksana di Rumah Sakit Umum Makassar, diakses
tanggal 18 Februari 2016; http:/www.FikKes Jurnal Keperawatan.co.id/.
Hasanbasri. (2007). Pengembangan Manajemen Kinerja Perawat dan Bidan
Evaluasi Pelatihan di Kulon Progo.Diambil pada tanggal 10 Maret 2016
dari http://www.kinerjaklinik-perawatbidan.or.id/home/index.php.
Hawkins, P., dan Shohet, R., (2006). Supervision in the helping
profession.England: Open University Press.
Henderson, (1984). Prinsip Dasar Manajemen. Jurnal Evaluasi dan Monitoring.
Vol 3 hal 25 – 37.
Heron, J. (1990) Helping the client: A creative practical guide. London, Sage.
Joni, H dan Ollivia. (2009). Pengaruh Faktor Pelayanan Rumah Sakit, Tenaga
Medis, dan Kualitas Pelayanan Rumah Sakit Terhadap Intensi Pasien
Indonesia Untuk Berobat di Singapura, diakses tanggal tanggal 18
Desember 2016; http:/www.FikKes Jurnal Keperawatan.co.id/.
Universitas Sumatera Utara
Kozier, B. (2004). Fundamentals of nursing: concepts, process, and practice.
New Jersey: Pearson.
Kamus Besar Bahasa Indonesia Online. (2014). Defenisi kata. www://kbbi.web.id.
Kirk, S., Eaton, J., dan Auty L. (2000). Dietitians and supervision: should we be
doing more?. Journal Human Nutrition and Dietetics, 13: 323-332.
Kron, T. (1987). The management of patient care. Philadelphia: W.B. Saunders
Campany.
Lynn, M. R. (1986). Determination and quantification of content validity.
Nursing Research, 35, (6) p. 382-386.
Lynch, L., dan Happel, B. (2008). Implementing clinical supervision: part 1;
laying the ground work . International Journal of Mental Health Nursing
17, 57-64.
Mayasari. (2009). Hubungan kepemimpinan, insentif, kesempatan promosi dan
supervisi terhadap kinerja perawat, diakses tanggal 20 Desember 2016;
http:/www.FikKes Jurnal Keperawatan.co.id/.
Maryadi. (2006). Hubungan Kepuasan Kompensasi Jasa Pelayanan dengan
Kinerja Perawat di Ruang Rawat Inap Rumah Sakit Umum Daerah Sleman
Tahun 2006.Diambil pada tanggal 14 Desember 2016 dari
http ://www.fkm.undip.ac.id/data/index.php?action=4&idx=293.
Marquis, B. L., dan Huston, C. J. (2010). Kepemimpinan dan manajemen
keperawatan teori & aplikasi. Edisi 4. Jakarta: EGC.
Nursalam. (2009). Manajemen keperawatan: Aplikasi dalam praktik keperawatan
profesional (Edisi 2) Salemba Medika, Jakarta.
Notoatmodjo, (1993), Pengantar Pendidikan Kesehatan dan Ilmu Perilaku
Kesehatan, Andi Offiset: Yogyakarta.
Polit, Beck., dan Hungler. (1999). Essential of nursing research, methods,
appraisal and utilization, 5 th edition. Philadelphia: Lippincott.
Polit, D. F., dan Beck, C. T. (2012). Essential of nursing research, methods
appraisal and utilization, (sixt edition). Lippincott Williams & Wilkins.
Universitas Sumatera Utara
Potter, P.A., dan Perry, A.G. (2009). Buku ajar fundamental keperawatan :
Konsep, proses, dan praktik. Edisi 4. Alih Bahasa : Renata Komalasari, dkk.
Jakarta:EGC.
Pengurus Pusat Persatuan Perawat Nasional Indonesia. (2010). Konsep Dasar
Etika Keperawatan : Buku I. Jakarta : DPP PPNI
Qalbia, M. (2013). Hubungan motivasi dan supervisi terhadap kinerja perawat
pelaksana dalam menerapkan patient safety di Rumah Sakit Universitas
Hasanuddin di Sulawesi Selatan, diakses tanggal 23 Desember 2016;
http:/www.FikKes Jurnal Keperawatan.co.id/.
RCN dalam Sigit (2007) dalam (2009). Manajemen Supervisi. Jakarta.
Rekam medis RS-GM. (2015). Produktifitas rawat inap RS Grand Medistra
tahun 2012. Lubuk Pakam. Rekam Medis RS-GM.
Ridwan. (2006). Metode dan teknik menyusun tesis. Bandung: Alfabeta.
Russell., Cynthia L., Gelder., dan Frank Van. (2008). An international
perspective: job satisfaction among transplant nurses. Journal of Clinical
Nursing, 12, 32-40.
Samad. (2005). Unraveling the organizational commitment and job performance
relationship: exploring the moderating effect of job satisfaction. Journal of
Business and Management, 16, 79-84.
Sastrohadiwiryo, S. (2002). Manajemen Tenaga Kerja Indonesia Pendekatan
Administrasi dan Operasional. Jakarta : Bumi Aksara.
Severinsson, E. (2001). Confirmation, meaning, and self-awarness as core
concepts of the nursing supervision model. Nursing ethics, 8(1):36-44.
Siregar, (2008). Statistik parametrik untuk penelitian kuantitatif. Jakarta: Bumi
Aksara.
Siswana. (2009). Hubungan peran supervisi kepala ruangan dengan kinerja
perawat pelaksana di Rumah Sakit Umum Daerah Petala Bumi, Pekan
Baru, Riau, diakses tanggal 18 Maret 2016; http:/www.FikKes Jurnal
Keperawatan.co.id/.
Universitas Sumatera Utara
Sitonga, 2005 dalam Jony,Ollivia, 2009). Pengaruh Faktor Pelayanan Rumah
Sakit, Tenaga Medis, dan Kualitas Pelayanan Rumah Sakit Terhadap
Intensi Pasien Indonesia Untuk Berobat di Singapura. Jurnal Ekonomi
Bisnis No. 2 Vo. 14, Agustus 2009.
Soehartono. (2004). Motivasi dan gaya kepemimpinan berpengaruh terhadap
peningkatan kinerja pegawai, diakses tanggal 18 Maret 2016;
http:/www.FikKes Jurnal Keperawatan.co.id/.
Syaiin. (2008). Kepuasan kerja terhadap gaji (insentif) dan pengawasan
(supervisi) terhadap kinerja perawat, diakses tanggal 17 Januari 2016;
http:/www.FikKes Jurnal Keperawatan.co.id/.
Suarli, S., dan Bachtiar, Y. (2011). Manajemen keperawatan dengan pendekatan
praktis. Jakarta: Erlangga.
Suarli. (2012). Manajemen keperawatan dengan aplikasi pendekatan praktis.
Jakarta: Erlangga.
Sudjana. (2001). Metoda Statistika.Edisi keenam. Bandung : Tarsito.
Sugiyono. (2002). Metode Penelitian Administrasi. Bandung: CV Alfabeta
Suryanto. (2011). Hubungan antara kepuasan kerja dan persepsi perawat
tentang kepemimpinan dengan kinerja, diakses tanggal 18 Maret 2016;
http:/www.FikKes Jurnal Keperawatan.co.id/.
Suyanto. (2008). Mengenal kepemimpinan dan manajemenkeperawatan di rumah
sakit. Jogjakarta: Mitra Cendikia.
Swanburg, R.C. (2000). Pengantar kepemimpinan & manajemen keperawatan
untuk perawat klinis. Jakarta: EGC.
Swanburg, R.C. (2010). Pengantar kepemimpinan & manajemen keperawatan
untuk perawat klinis. Jakarta: EGC
Tampilang, R. M., Tuda, J. S. B., & Warouw, H. (2013). Hubungan supervisi
kepala ruangan dengan kepuasan perawat pelaksana di RSUD
Liunkendage Tahuna. Jurnal e-NERS (eNS)1, 21-26.
Thora Kron, (1987). The management of Patient care; Putting leadershi Skills
Work. Sixth Edition : W.b.Saunders Company.
Universitas Sumatera Utara
Yustina. (2011). Hubungan motivasi perawat dan kepuasan kerja terhadap
kinerja perawat di ruang rawat inap RSUD Semarang, diakses tanggal 17
Februari 2016; http:/www. Jurnal Keperawatan.co.id/.
White, E., Butterworth, T., Bishop, V., Carson, J., & Clements, A. (1998).
Clinical supervision: insider report of a private word. Journal of Advance
Nursing: Nursing and Health Care Management Issue, 28 (1): 185-192.
Wibowo. (2008). Kepemimpinan dan Motivasi keperawatan: teori & aplikasi.
Edisi 2. Jakarta: EGC
Wiyana. (2008). Performance appraisal: system yang tepat untuk menilai kinerja
karyawan dan meningkatkan daya saing perusahaan. Jakarta: PT. Raja
grafindo persada.
Universitas Sumatera Utara
RIWAYAT HIDUP
Nama : Syatriawati
Tempat/Tanggal Lahir : Pekan Baru, 29 Juli 1988
Alamat : Jl.Raya Pekanbaru Km.72 Desa Kualu Nenas
No. Telp./Hp : 082113580602
Email : atria.suhaimi@yahoo.co.id
Riwayat Pendidikan :
Jenjang pendidikan Nama Institusi Tahun Lulus
SD SDN Negeri No.007 1994
Kualu Nenas
SMP Pondok Pesantren Dharun Nahdha
Thawalib Bangkinang 2000
SMA Pondok Pesantren Dharun Nahdha
Thawalib Bangkinang 2003
Diploma III Akper Deli Husada Deli Tua 2006
S-1 S-1 Keperawatan Non-Reguler
Akper Deli Husada Deli Tua 2009
Profesi Ners S-1 Keperawatan Non-Reguler 2012
Akper Deli Husada Deli Tua
Magister Fakultas Keperawatan 2014
Universitas Sumatera Utara
vi
Universitas Sumatera Utara
Riwayat Pekerjaan :
Staff Dosen di Akademi Keperawatan Medistra Lubuk Pakam mulai tahun 2012
s.d sekarang.
Kegiatan Akademik Penunjang Studi :
Workshop Computer Assited Qualitative Data Analysis Software (CAQDAS) di
Fakultas Keperawatan Universitas Sumatera Utara, Medan tanggal 17
Desember 2014 sebagai Peserta.
Seminar Nasional Keperawatan yang diselenggarakan dalam rangka DIES
NATALIS ke -5 Fakultas Keperawatan Universitas Sumatera Utara di
Fakultas Keperawatan Universitas Sumatera Utara, Medan tanggal 15
April 2015 sebagai peserta.
Pelatihan Basic Life Support of Neonatus and Pediatric (BLSNP) yang
diselenggarakan oleh yayasan Pelatihan Ilmu Keperawatan Indonesia
(YPIKI) di Rumah Sakit MEDISTRA Lubuk Pakam Sumatera Utara,
tanggal 09 November 2016 s.d 11 November 2016 sebagai peserta.
Seminar Ilmiah Keperawatan Continuing Nurse Education : Wound Treatment
Update & Nuseprenuer di Aula RS USU, Tanggal 19 Februari 2017
sebagai peserta.
vii
Universitas Sumatera Utara
LAMPIRAN 1
INSTRUMEN PENELITIAN
Universitas Sumatera Utara
KUESIONER PENELITIAN
Petunjuk Pengisian
Isikan jawaban yang menurut anda benar.
Berikan jawaban anda atas setiap pernyataan/pertanyaan yang ada dengan
memberi tanda checklist (√) pada kolom pilihan jawaban yang telah
disediakan.
Partisipasi anda sangat diperlukan untuk mendukung kelancaran penelitian
ini.
I. Identitas Responden
1.1. No. Responden : ……
1.2. Umur Responden : …Tahun
1.3. Jenis Kelamin : ( ) Laki-laki ( )
Perempuan
1.4. Pendidikan terakhir : ( ) Ners ( ) DIII
Keperawatan
1.5. Status Perkawinan : ( ) Kawin ( ) Belum
Kawin
1.6. Masa Kerja di RS ini : … Tahun
Universitas Sumatera Utara
Kuesioner ini diisi oleh Responden
I. Supervisi Kepala Ruangan
Petunjuk:
1. Berilah tanda check list (√) pada kolom yang tersedia sesuai dengan
pilihan jawaban
2. Jawaban ada 3 (Tiga) alternatif :
TP : Tidak pernah
KK : Kadang-kadang
S : Selalu
No. Pernyataan TP KK S
A. Perencanaan
1. Kepala ruangan membimbing saya dalam merencanakan
prioritas masalah keperawatan pasien.
2. Kepala ruangan membimbing saya dalam merencanakan
tindakan keperawatan.
3. Kepala ruangan membimbing saya dalam merencanakan
dalam menganalisis kondisi pasien.
4. Kepala ruangan membimbing saya untuk melibatkan
pasien dan keluarga dalam menetapkan tujuan rencana
keperawatan.
5. Kepala ruangan membimbing saya merencanakan tujuan
jangka pendek dan jangka panjang.
6. Kepala ruangan membimbing saya dalam perencanaan
sebelum melakukan pendidikan kesehatan kepada pasien.
7. Kepala ruangan membimbing saya dalam perencanaan
kerjasama dalam melakukan tindakan keperawatan.
8. Kepala ruangan membimbing saya dalam membuat
rencana asuhan keperawatan yang berdasarkan pada
tindakan kolaborasi ex : Pemasangan infus
9. Kepala ruangan membimbing saya mendokumentasikan
rencana keperawatan yang saya tentukan.
10. Kepala ruangan membimbing saya perencanaan dalam
melakukan tindakan keperawatan sesuai standar prosedur
Universitas Sumatera Utara
operasional RS
No. Pernyataan TP KK S
B. Pengarahan
11. Kepala ruangan memberikan arahan pada saat melakukan
pemeriksaan fisik pada pasien.
12. Kepala ruangan mengarahkan untuk melengkapi data dari
hasil pemeriksaan laboratorium.
13. Kepala ruangan memberikan arahan dalam melakukan
wawancara pada pasien.
14. Kepala ruangan mengarahkan untuk memberikan
penjelasan kepada keluarga tentang prosedur yang akan
dilakukan.
15. Kepala ruangan mengarahkan dalam mengkaji status
psikososial-spiritual pasien.
16. Kepala ruangan mengarahkan untuk membuat diagnosa
keperawatan sesuai dengan prioritas masalah pasien.
17 Kepala ruangan mengarahkan dalam mendokumentasikan
diagnosa keperawatan pasien.
18. Kepala ruangan mengarahkan untuk melakukan
pengkajian secara lengkap dalam waktu 24 jam setelah
pasien masuk.
19. Kepala ruangan mengarahkan dalam mengobservasi
kondisi pasien.
20. Kepala ruangan mengarahkan saat mendokumentasikan
hasil pengkajian keperawatan pasien.
21. Kepala ruangan mengarahkan dalam memahami diagnosa
keperawatan yang dibuat berdasarkan pada data pasien
yang telah dikaji.
22. Kepala ruangan mengarahkan saya dalam perencanaan
ulang tindakan keperawatan pasien.
Universitas Sumatera Utara
No. Pernyataan TP KK S
C. Pengorganisasian dan Ketenagaan
23. Kepala ruangan merumuskan metode penugasan dalam
memberikan asuhan keperawatan.
24. Kepala ruangan dan pihak manajemen menerapkan shift
kerja tiga shift dalam sehari (24 jam).
25. Kepala ruangan menyusun jadwal shift kerja setiap
perawat di bagian masing-masing harus dilibatkan.
26. Kepala ruangan menyusun pola pengaturan shift kerja
yang baik menggunakan rotasi 2-2-2 atau 2-2-3 (du kali
pagi, dua kali siang dan dua kali malam) atau (dua kali
pagi, dua kali siang dan tiga kali malam).
27. Pengaturan shift kerja dapat mendorong perawat
pelaksana untuk bekerja lebih baik lagi.
28. Kepala ruangan dan perawat pelaksana memiliki uraian
tugas masing-masing.
29. Kepala ruangan bertanggung jawab untuk mengikuti
serah terima pasien di shift sebelumnya.
30. Kepala ruangan bertugas mengatur dan membuat jadwal
dinas perawat pelaksana.
31. Kepala ruangan bertugas merumuskan metode
penugasan dan membuat rincian tugas anggota tim
secara jelas.
32. Kepala ruangan merencanakan strategi pelaksanaan
asuhan keperawatan.
Universitas Sumatera Utara
Kuesioner ini diisi oleh Responden
II. Kinerja Perawat
Petunjuk:
1. Berilah tanda check list (√) pada kolom yang tersedia sesuai dengan pilihan
jawaban.
2. Jawaban ada 3 (tiga) alternatif, kalimat Positif yaitu : nilai (3 = Selalu), nilai (2
= Kadang-kadang) dan nilai (1 = Tidak pernah), sedangkan kalimat Negatif
yaitu : nilai (3 = Tidak pernah), nilai (2 = Kadang-kadang) dan nilai (1 =
Selalu).
3. Pernyataan dalam pengisian kuesioner Positif dimana persepsi semakin Sering
dilakukan dikategorikan Baik,Kadang-kadang dilakukan dikategorikan Cukup
dan Tidak pernah dilakukan dikategorikan Kurang.
4. Pernyataan dalam pengisian kuesioner Negatif dimana persepsi semakin Sering
dilakukan dikategorikan Tidak Baik,kadang-kadang dilakukan dikategorikan
Cukup dan Baik dikategorikan Kurang.
Keterangan : TP = Tidak pernah KK = Kadang-kadang S = Selalu
A. Standar I: Pengkajian Keperawatan
No Pernyataan TP KK S
1. Perawat pelaksana melakukan pemeriksaan fisik pada
pasien.
2. Perawat pelaksana melakukan wawancara pada pasien.
3. Perawat pelaksana tidak menggunakan hasil pemeriksaan
laboratorium untuk data dasar pengkajian pasien.
4. Perawat pelaksana tidak memberikan penjelasan kepada
keluarga agar mengikuti prosedur.
Universitas Sumatera Utara
5. Perawat pelaksana melakukan pengkajian secara lengkap
dalam waktu 24 jam setelah pasien masuk.
B. Standar II: Diagnosa Keperawatan
No Pernyataan TP KK S
6. Perawat pelaksana membuat diagnosa keperawatan
berdasarkan pada data pasien yang telah dikaji.
7. Diagnosa keperawatan yang ditentukan Perawat pelaksana
berfokus pada respon aktual atau resiko terhadap pasien.
8. Diagnosa keperawatan sesuai dengan prioritas masalah
pasien pada saat itu.
9. Diagnosa keperawatan yang dibuat berdasarkan pada
masalah kebutuhan pasien saat itu.
10. Perawat pelaksana tidak mendokumentasikan diagnosa
keperawatan pasien.
C. Standar III: Perencanaan Keperawatan
No Pernyataan TP KK S
11. Perawat pelaksana menetapkan prioritas masalah
keperawatan dengan melibatkan pasien.
12. Perawat pelaksana tidak merencanakan tindakan
keperawatan berdasarkan evaluasi diagnosa keperawatan
pasien.
13. Perawat pelaksana merencanakan tindakan keperawatan
berdasarkan kegawatan masalah pasien.
14. Perawat pelaksana tidak melibatkan pasien dan
keluarganya saat menetapkan tujuan rencana
keperawatan.
15. Perawat pelaksana tidak menetapkan tujuan jangka
pendek atau jangka panjang dalam proses keperawatan.
Universitas Sumatera Utara
D. Standar IV: Pelaksanaan (Implementasi) Keperawatan
No Pernyataan TP KK S
16. Perawat pelaksana melakukan tindakan keperawatan
berdasarkan pada standar prosedur operasional RS.
17. Perawat pelaksana tidak menyampaikan masalah pasien
secara jelas dalam memberikan asuhan keperawatan.
18. Perawat pelaksana berkolaborasi dalam melakukan
tindakan keperawatan.
19. Perawat pelaksana tidak melakukan pendidikan
kesehatan kepada pasien.
20. Perawat pelaksana mendokumentasikan implementasi
keperawatan yang telah dilakukan.
E. Standar V: Evaluasi Keperawatan
No Pernyataan TP KK S
21. Perawat pelaksana mengevaluasi respons pasien
terhadap asuhan keperawatan yang telah dilakukan.
22. Perawat pelaksana mengevaluasi berdasarkan pada
tujuan yang diharapkan/kriteria hasil.
23. Perawat pelaksana mengevaluasi berdasarkan data
subjektif dan objektif.
24. Perawat pelaksana tidak menginterpretasi dan
menyimpulkan kondisi pasien berdasarkan analisis data
pasien.
25. Perawat pelaksana tidak merencanakan ulang tindakan
keperawatan pasien.
Universitas Sumatera Utara
LEMBAR INFORMED CONSENT
Judul Penelitian : Hubungan Peran Supervisi kepala ruangan dengan
Kinerja perawat pelaksana dirumah sakit Grand
Medistra Lubuk Pakam
Nama Mahasiswa : Syatriawati
Program Studi : Magister Ilmu Keperawatan
Minat Studi : Administrasi Keperawatan
Berdasarkan penjelasan yang telah disampaikan oleh peneliti tentang
penelitian yang akan dilaksanakan sesuai judul diatas, saya mengetahui bahwa
tujuan dari penelitian ini adalah untuk melihat peran supervisi kepala ruangan.
Saya memahami bahwa keikutsertaan saya dalam penelitian ini sangat besar
manfaatnya bagi peningkatan kualitas pelayanan keperawatan. Saya berhak untuk
menghentikan keikutsertaan dalam penelitian ini tanpa adanya hukuman atau
kehilangan hak untuk tidak mendapatkan pelayanan keperawatan yang profesional.
Saya mengerti bahwa seluruh data mengenai penelitian ini akan dijamin
kerahasiaannya dan hanya digunakan untuk keperluan penelitian.
Demikianlah persetujuan ini saya buat dengan penuh kesadaran dan tanpa
unsur paksaan dari siapapun, saya bersedia berpatisipasi dalam penelitian ini.
Tanda Tangan partisipan ----------------------- Tanggal --------------
Tanda Tangan peneliti ------------------------ Tanggal ---------------
Universitas Sumatera Utara
Universitas Sumatera Utara
LEMBAR OBSERVASI KINERJA PERAWAT
A. Standar I: Pengkajian Keperawatan
No Pernyataan D TD
1. Perawat pelaksana melakukan pemeriksaan fisik pada
pasien.
2. Perawat pelaksana melakukan wawancara pada pasien.
3. Perawat pelaksana tidak menggunakan hasil pemeriksaan
laboratorium untuk data dasar pengkajian pasien.
4. Perawat pelaksana tidak memberikan penjelasan kepada
keluarga agar mengikuti prosedur.
5. Perawat pelaksana melakukan pengkajian secara lengkap
dalam waktu 24 jam setelah pasien masuk.
B. Standar II: Diagnosa Keperawatan
No Pernyataan D TD
6. Perawat pelaksana membuat diagnosa keperawatan
berdasarkan pada data pasien yang telah dikaji.
7. Diagnosa keperawatan yang ditentukan Perawat pelaksana
berfokus pada respon aktual atau resiko terhadap pasien.
8. Diagnosa keperawatan sesuai dengan prioritas masalah
pasien pada saat itu.
9. Diagnosa keperawatan yang dibuat berdasarkan pada
masalah kebutuhan pasien saat itu.
10. Perawat pelaksana tidak mendokumentasikan diagnosa
keperawatan pasien.
C. Standar III: Perencanaan Keperawatan
No Pernyataan D TD
11. Perawat pelaksana menetapkan prioritas masalah
keperawatan dengan melibatkan pasien.
12. Perawat pelaksana tidak merencanakan tindakan
keperawatan berdasarkan evaluasi diagnosa keperawatan
pasien.
13. Perawat pelaksana merencanakan tindakan keperawatan
Universitas Sumatera Utara
berdasarkan kegawatan masalah pasien.
14. Perawat pelaksana tidak melibatkan pasien dan
keluarganya saat menetapkan tujuan rencana
keperawatan.
15. Perawat pelaksana tidak menetapkan tujuan jangka
pendek atau jangka panjang dalam proses keperawatan.
D. Standar IV: Pelaksanaan (Implementasi) Keperawatan
No Pernyataan D TD
16. Perawat pelaksana melakukan tindakan keperawatan
berdasarkan pada standar prosedur operasional RS.
17. Perawat pelaksana tidak menyampaikan masalah pasien
secara jelas dalam memberikan asuhan keperawatan.
18. Perawat pelaksana berkolaborasi dalam melakukan
tindakan keperawatan.
19. Perawat pelaksana tidak melakukan pendidikan
kesehatan kepada pasien.
20. Perawat pelaksana mendokumentasikan implementasi
keperawatan yang telah dilakukan.
E. Standar V: Evaluasi Keperawatan
No Pernyataan D TD
21. Perawat pelaksana mengevaluasi respons pasien
terhadap asuhan keperawatan yang telah dilakukan.
22. Perawat pelaksana mengevaluasi berdasarkan pada
tujuan yang diharapkan/kriteria hasil.
23. Perawat pelaksana mengevaluasi berdasarkan data
subjektif dan objektif.
24. Perawat pelaksana tidak menginterpretasi dan
menyimpulkan kondisi pasien berdasarkan analisis data
pasien.
25. Perawat pelaksana tidak merencanakan ulang tindakan
keperawatan pasien.
Universitas Sumatera Utara
BIODATA EXPERT
1. Liberta Lumbantoruan, S.Kp., M.Kep.
Ketua Komite Etik Keperawatan RSUP H. Adam Malik Tahun
2. Diah Arrum, S.Kep., Ns., M.Kep
Magister Bidang Manajemen Keperawatan
Dosen Manajemen Keperawatan
Dosen Tetap di Stikes USU
3. Sriga Banjarnahor, S.Kp.Mars
Kepala Bidang Keperawatan Rumah Sakit Murni Teguh
Universitas Sumatera Utara
Universitas Sumatera Utara
Universitas Sumatera Utara
Universitas Sumatera Utara
Universitas Sumatera Utara
Universitas Sumatera Utara
Universitas Sumatera Utara
Universitas Sumatera Utara
Universitas Sumatera Utara
Universitas Sumatera Utara
Universitas Sumatera Utara
Universitas Sumatera Utara